Anda di halaman 1dari 12

1. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun.

Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua. Seperti pada kebudayaan sunda, kebudayaan sunda termasuk kebudayaan tertua.kebudayaan sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebbudayaan raja raja sunda. Ada beberapa waTka dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup.Etos dan watak Sunda itu adalah cageur,bageur,singer dan pinter. Kebudayaan sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perludilestarikan. Hampir semua masyarakat sunda beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama islam, walaupun berebeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk alam semesta. Kebudayaan sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan kebudayaan lain. Secaraumum masyarakat Jawa Barat atau Tatar sunda , sering dikenal dengan masyarakat religius.Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah dan silih asuh, saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling malindungi.Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan,rendah hati terhadap sesama, kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih kecil.Pada kebudayaan sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya. Budaya sunda memiliki banyak kesenian , diantaranya adalah kesenian sisngaan, tarian khas sunda, wayang golek,permainan anak kecil yang khas,alat musik sunda yang bisanya digunakan pada pagelaran kesenian. Sisingaan adalah kesenian khas sunda yang menampilkan 2 4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu, seperti pada acra khitanan. Wayang golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita perwayangan. Wayang diamainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan. Jaipongan adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik . Tarian Ketuk Tilu , sesuai dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah. Alat musik khas sunda yaitu, angklung , rampak kendang, suling,kecapi,gong,calung. Angklung adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu , yang unik , enak didengar angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia. 1

Rampak kendang adalah salah satu instrumen musik tradisional yang di mainkan bersamma sama instrumen lainnya. Advertisement

Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas


Oleh Drs. REIZA D. DIENAPUTRA, M.Hum. W.S. Rendra dalam Kongres Kebudayaan IV di Jakarta, 29 Oktober - 3 November 1991, mengemukakan bahwa setidaknya ada tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan. Pertama, kemampuan bernapas. Kedua, kemampuan mencerna. Ketiga, kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi. Keempat, kemampuan beradaptasi. Kelima, kemampuan mobilitas. Keenam, kemampuan tumbuh dan berkembang. Ketujuh, kemampuan regenerasi. Kemampuan bernapas dalam kebudayaan dimaknai sebagai kemampuan untuk mengolah hawa menjadi prana, menjaga kebersihan udara, mengharmonikan kegiatan kehidupan dengan irama nafas, serta menghilangkan hal-hal yang menimbulkan ketegangan pada pikiran yang berarti menimbulkan kesesakan pada nafas kehidupan. Kemampuan mencerna dimaknai sebagai kemampuan untuk mencernakan berbagai pengalaman dalam kehidupan. Kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial. Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman, dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal. Kemampuan tumbuh dan berkembang diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas, dan dalam wawasannya selalu menawarkan paradigma-paradigma yang segar dan baru. Kemampuan regenerasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif. Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kewajaran. Adapun kewajaran dalam hidup manusia merupakan harmoni tiga mustika, yakni, tanggung jawab kepada kewajiban, idealisme, dan spontanitas. Tanggung jawab kepada kewajiban dimaknai sebagai sebuah kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya. Idealisme dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang. Spontanitas dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar. Daya hidup2

Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut? Kalaulah kemudian tujuh daya hidup kreasi Rendra digunakan untuk mengelaborasi kebudayaan Sunda kontemporer, setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda. Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda3

sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur. Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda. Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya. Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi. Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat. Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban. Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau4

tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda. Daya mati Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda. Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaankebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasankemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia? Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah. Menurut A. Chaedar Alwasilah (2003), setidaknya ada sebelas ayat sesat yang telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Pertama, anggapan bahwa literasi adalah kemampuan membaca. Kedua, anggapan bahwa mahasiswa tidak perlu diajari cara menulis. Ketiga, anggapan bahwa penguasaan teori menulis akan membuat siswa mampu menulis. Keempat, anggapan bahwa tidak mungkin mengajarkan menulis pada kelas-kelas besar. Kelima, anggapan bahwa menulis dapat diajarkan manakala siswa telah menguasai tata bahasa. Keenam, anggapan bahwa5

6karangan yang sulit dipahami memperlihatkan kehebatan penulisnya. Ketujuh, anggapan bahwa menulis hanya dapat diajarkan manakala siswa sudah dewasa. Kedelapan, anggapan bahwa menulis karangan naratif dan ekspositoris harus lebih dahulu diajarkan daripada genre-genre lainnya. Kesembilan, anggapan bahwa pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa. Kesepuluh, anggapan bahwa menulis mesti diajarkan lewat perkuliahan bahasa. Kesebelas, anggapan bahwa bacaan atau pengajaran sastra hanya relevan bagi (maha) siswa fakultas sastra. Budaya lisan dalam kebudayaan Sunda sebenarnya merupakan budaya yang telah lama akrab dengan komunitas Sunda, bahkan usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan budaya baca dan tulisan. Namun, budaya lisan dalam pengertian kapasitas untuk mengemukakan pendapat serta berjiwa besar dalam menghadapi pendapat yang berbeda masih merupakan barang yang masih amat sangat langka dalam Kebudayaan Sunda. Tradisi lisan Sunda tampaknya baru mampu menghargai komunikasi model monolog dan bukannya dialog. Akibatnya, kemampuan untuk menyampaikan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda dalam Kebudayaan Sunda merupakan barang yang teramat mewah. Padahal, kapasitas untuk mengemukakan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda ini menjadi salah satu dasar bagi munculnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan yang berkualitas. Kapasitas mengemukakan pendapat pada dasarnya merupakan representasi dari kemampuan bernafas dan mencerna, sementara kapasitas menerima dengan jiwa besar pendapat yang berbeda lebih merupakan representasi dari kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi
Pendahuluan Fenomena disintegrasi Bangsa (Indonesia) dan paling tidak desentralisasi yang terjadi pada era reformasi merupakan fenomena yang cukup unik: sesuatu yang menjanjikan sekaligus dilematis. Fenomena ini mencuat pada pasca jajak pendapat yang dilakukan di Timor-Timur. Wilayah termuda yang menimbulkan gejolakdan senantiasa pro dan kontra semenjak berintegrasinya dengan Indonesia. Negara Indonesia cukup disibukkan dan tersita perhatiannya direpotkan dengan adanya persoalan tersebut. Dan uang negara pun tersedot dengan jumlah yang sangat besar, dibandingkan dengan biaya pembangun dibandingkan dengan dana yang diperlukan untuk pembangunan provinsi lainnya yang lebih luas sekalipun. Sejak berdirinya Bangsa dan Negara Indonesia, sebagai negara kesatuan, yang dibentuk di atas kesamaan pengalaman historis, yaitu pengalaman sejarah penderitaan, yaitu kolonialisme Belanda dan Jepang. Di atas kesadaran kesamaan sejarah tersebut lahirlah sesuatu yang kemudian dikenal dengan kesadaran nasionalionalisme, yang melahirkan momen Sumpah Pemuda. Suatu momen yang mengesampingkan sejumlah perbedaan. Sejak itulah gaung Nasionalisme menjadi semakin keras, sebagai senjata yang sangat efektif untuk menumbangkan kolonialisme. Semangat Nasionalisme ini menjadi kekuatan yang sangat efektif hingga terbentuknya Negara Kesatuan Indonesia. Riak-riak perpecahan karena isu agama berapa saat pasca Proklamasi bisa teratasi.

Namun, perjuangan untuk menyatukan bangsa Indonesia , tampaknya belum bisa disebut selesai, karena tiba-tiba muncul gejolak yang berakar dari persoalan keterpisahan bangsa Indonesia oleh beberapa hal, antara lain: prluralitas suku bangsa, keterpisaha wilayah yang demikian luas oleh lautan, perbedaan agama, budaya dan bahasa dan lain sebagainya. Hal tersebut melahirkan gejolak yang cukup keras, antara lain terkristalisasi dengan munculnya ide pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS, di bawah tekanan Belanda) walaupun tidak bertahan lama; dan terjadinya gejolak ideologi, antara ideologi yang berakar pada agama (ideologisasi agama), kerakyatan dan nasionalisme. Untuk menyelesaikan tersebut, Presiden pertama Indeonesia, Soekarno melemparkan gagarasan NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) yang ditentang oleh berbagai kalangan, khususnya kaum agama. Fenomena ideologis ini sedikit mereda karena terjadinya penghianatan G30 SPKI, yang menelorkan Supersemar dan Ordebaru. Beberapa saat itu gejolak-gejolak Ideologi terkendali walau pun menyimpan bara dalam sekam, dengan cara meregulasi partai-partai politik. Demikian pula dengan persoalan-persoalan perbedaan Suku Bangsa. Orang menjadi gamang dan ketakutan untuk memunculkan identitas dan supremasi kesukuan walau sekedar menampilkan tradisi lokal, karena dianggap SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan). Suatu istilah yang apabila keseleo lidah , penjara telah disediakan baginya. Kekhawatiran Pemerintah Ordebaru terhadap gejolak kesukuan, agama dan golongan ini pun, khususnya persoalan kesukuan telah membelenggu perkembangan kebudayaan lokal, seperti tampak dalam upaya untuk mengurangi kuatitas dan kualitas pelajaran budaya daerah di sekolah-sekolah. Kebudayaan dan tradisi lokal hanya dipupuk dan dibiarkan hidup selama ia bisa dijadikan komoditi ekomoni (objek Wisata). Perbedaan performent budaya hanya legal dan boleh ditampilkan di Taman Mini atau pentas-pentas budaya di Luar Negeri. Sehingga, kebudayaan daerah lebih dikenal oleh para turis asing atau di luar negeri dari pada oleh pemiliknya. Dalam konteks ini terdapat paradoks, kebudayaan lokal dianggap sebagai aset nasional di satu sisi, dan dianggap sebagai ancaman bagi integrasi bangsa, di sisi lain. Upaya penghilangan sumber-sumber konflik melalui cara-cara tersebut, ternyata malah menjadi potensi laten bagi terjadinya disintegrasi bangsa. Karena selama ini potensi-potensi konflik tidak mendapatkan saluran yang memadai. Fenomena disintegrasi bangsa yang kini mengancam bangsa Indonesia, lebih banyak diasumsikan sebagai fenomena yang muncul karena persoalan politik dan ekonomi belaka. Tidak pernah dilihat sebagai persoalan emosi kedaerahan dan kesukuan karena secara efektif dan sistematis digiring pada suatu warna budaya dan tradisi kebudayaan kelompok budaya tertentu, yaitu pada kebuayaan Jawa (bisa dilihat pada penggunaan logat dan sosialisasi istilah-istilah Jawa yang digunakan oleh pejabat Orde Baru). Sementara persoalan ketidakmerataan kesejahteraan ekonomi dan politik (dengan tidak bermaksud mengecilkan aspek tersebut) lebih merupakan pemicu strategis. Ide, atau gagasan yang dimunculkan dalam sawala kali ini, dengan mengedepankan kemungkinan munculnya Negara Bagian Pasundan atau Negara Pasundan (untuk ide Provinsi tidak perlu dipersoalkan, toh selama ini Pasundan merupakan sebuah provinsi yaitu provinsi Jawa Barat) atau sekedar peralihan nama dari Provinsi Jawa Barat ke Provinsi Pasundan, bila kita simak, sepertinya berpijak di atas kerangka

pemikiran serta horison kedaerahan. Dengan demikian, inti persoaln yang dibicarakan, sesungguhnya, tidak terletak pada persoalan yang murni politik, akan tetapi pada kebudayaan atau paling tidak politik kebudayaan. Karena itulah, tulisan ini akan secara spesifik lebih memfokuskan pada perkisaran persoalan budaya Sunda. Trauma dan Obsesi Berkuasa pada Masyarakat Sunda Sejarah Peradaban Sunda, bila menggunakan matra dinamika hegemoni kekuasaan dapat bagi dalam empat babakan. Antara lain: pertama, masa kerajaan Sunda (dari masa Kerajaan Tarumanagara/Salakanagara hingga masa Kerajaan Pajajaran. Kedua, masa kekuasaan Islam-Sunda, yaitu masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sultan Hasanuddin (putra Sunan Gunung Jati) di Banten. Ketiga, masa Sunda-Islam-Mataram yang dilanjutkan dengan masa kolonialisme BelandaJepang. Dan akhirnya, keempat masa kemerdekaan. Dan, sejak masa ketiga, yaitu sejak masa SundaIslam-Matara sejarah Sunda dan kebudayaan Sunda mengalami pasang surut yang sesungguhnya. Pada dua masa yang awal, yaitu masa kerajaan Sunda dan masa Islam-Sunda, kebudayaan Sunda dalam berbagai aspeknya mengalami masa ke-emasannya. Selanjutnya, diawali dengan kelonialisme budaya dan politik Mataram dan dilanjutkan oleh kolonialisme Belanda-Jepang, kebudayaan Sunda mengalami pasang surut, secara bertahap namun pasti. Kemunduran itu, dapat dilihat dari berbagai indikasi, baik indikasi sosial, budaya maupun politik. Secara sosiologis, kehidupan masyarakat Sunda beralih dari pola kehidupan (budaya) huma dan berladang, beralih ke pola kehidupan (budaya) sawah. Peralihan pola kehidupan ini berpengaruh sangat kuat pada sistem sosial. Pola kehidupan huma dan ladang yang cenderung egaliter, karena pola penggarapan huma dan sawah biasanya dilakukan oleh seluruh keluarga (keluarga besar=banyak anak banyak rejeki) dengan tanpa menggunakan atau mengenal buruh dan tidak memerlukan badega (bodyguard) serta manor beralih pada sistem sosial yang mengenal buruh, mandor bahkan badega. Sistem sosial ini telah merubah sistem sosial egaliter ke sistem sosial berkelas. Peralihan sistem sosial ini diawali oleh masuknya hegemoni kekuasaan Mataram ke tatar Sunda. Suatu hegemoni kekuasaan yang ditegakkan di atas etika feodalisme khas Mataram. Jawa. Sistem stratatifikasi sosial, yang didukung oleh berkembangnya budaya bersawah, dan sistem pemerintahan yang ditegakkan di atas etika kekuasaan feodalistik, telah pula menuntut perubahahan sistem budaya. Salah satu aspek budaya yang menjadi alat interaksi sosial yang secara langsung menuntut perubahan karena adanya stratifikasi sosial adalah aspek bahasa. Bahasa Sunda, yang konon tidak mengenal tingkatan (panta-panta), pada akhirnya mendapat imbas paling efektif untuk berubah. Maka lahirlah sistem bahasa Sunda yang mengenal tingkatan, yaitu halus, sedang, dan kasar. Bahasa selain sebagai alat komunikasi, ia pun telah menjadi standar etika sosial, baik atau baiknya serta sopan dan tidaknya seseorang ditentukan oleh caranya berbahasa. Tingkatan bahasa yang sebetulnya bukan merupakan tuntutan gramatika bahasa, akan tetapi lebih merupakan tuntutan sistem nilai budaya dan sistem sosial. Perubahan sistem bahasa akan secara sistematis merubah struktur budaya lainnya, bahkan berubah pula sistem nilai budayanya. Bila sistem nilai budaya sebagai kristalisasi dari akumulasi pengalaman sejarah psikologis suatu bangsa telah berubah, maka tidak ada lagi yang tersisa pada bangsa tersebut.

Bila suatu bangsa mengalami suatu masa kolonial, ia tidak akan pernah kehilangan jati dirinya, bila budayanya tidak tersentuh; akan tetapi penjajahan yang menyentuh aspek-aspek budayanya, khususnya bahasanya (bahasa sebagai ciri suatu bangsa), maka sesunggunya bangsa itu telah kehilangan jati dirinya, suatu kondisi yang lebih parah dari sekedar kematian. Hilangnya jati diri Ki Sunda, tergambar dalam legenda Pun Boncel, yang sangat dikenal. Legenda yang menceritakan seorang anak dusun yang karena telah menjadi seorang priayi, ia sampai tega melupakan dan mengingkari ibunya sendiri. Dalam traadisi budaya (kosmologi Sunda) Seorang Ibu merupakan simbolisasi dari nilai-nilai primordial (ingat Dewi Sri dan Sunan Ambu). Salah satu nilai primordial yang paling substansial, selain nilai-nilai Ilahi, nilai-nilai budaya yang diwariskan sejak nenek moyang bangsa tersebut. Bila sosok ibu merupakan simbolisasi dari sistem nilai primordial yang terkristalisasi dalam sistem nilai budaya, maka pada kasus legenda Pun Boncel, dapat dilihat sebagai gambaran seorang priyayi Sunda yang kental dengan didikan budaya Sunda (sebagai seorang dusun) yang melupakan dan meninggalkan nilai budayanya sendiri hanya karena mendapatkan kedudukan sebagai seorang Dalem. Bila melihat simbol-simbol budaya dalam legenda Pun Boncel, maka dapat diperkirakan bahwa legenda Pun Boncel tersebut menceritakan kondisi masyarakat Sunda masa Sunda-Islam-Mataram, atau paling tidak masa awal penjajahan Belanda dan akhir masa kekuasaan Mataram. Legenda Pun Boncel, menceritakan secara radikal kebanggaan seorang manusia Sunda terhadap sistem nilai budaya dengeun (bangsa lain) dari pada budayanya sendiri. Legenda tersebut merupakan kritik dan evaluasi moralitas-sosial masyarakat Sunda yang mengalami budaya pop , budaya yang juga dialami opeh para priayi pada masa Ordebaru, budaya latah. Disintegralisasi Sunda-Indonesia, Sebuah Dilema Bila apa yang diteriakkan tokoh poros tengan dan Ketua MPR Amin Rais untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Federal, sebagai satu-satunya jalan keluar yang paling memungkinkan untuk menghindari disintegrasi bagsa, maka diperkirakan Sunda akan menjadi salah satu Negara Federal tersebut (Dalam hal ini, persoalan apakah Provinsi Jawa Barat dirubah menjadi Provinsi Pasundan, Negara Bagian
[Federal] maupun Negara Pasundan [Merdeka] tidak menjadi persoalan karena bagai Masyarakat Sunda memiliki persoalan yang sama). Hal ini bisa terjadi selain Sunda merupakan sebuah Provinsi (Jawa Barat), Sunda

pun memiliki latar historis yang berbeda (khas) dengan wilayah Jawa lainnya (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Kecuali bila masih ada asumsi bahwa Sunda atau Pasundan masih merupakan wilayah kekuasaan Mataram, paling tidak hingga masa kekuasaan Suharto yang gayanya sangat Mataramisme. Maka wilayah Sunda akan masuk pada wilayah Jawa yang lainnya. Berandai-andai Sunda menjadi salah satu Negara Federal di bawah naungan Negara Indonesia atau Nusantara, maka tampaknya terdapat beberapa persoalan yang perlu di dibenahi dan dipersiapkan. 1. Penegasan Identitas dan Referensi Sistem Nilai Budaya. Ini menjadi penting karena hal tersebut akan menjadi sandaran kepribadian bangsa Pasundan (atau apa pun namanya). Bila Aceh telah menggulirkan khas Acehnya, yang juga menjadi salah satu dasar tuntutan Aceh untuk menjadi wilayah otonom dan wilayah yang betul-betul istimewa (Daerah Istimewa) bahkan

Aceh Merdeka, maka Sunda pun tentunya harus memiliki landasan tersebut. Persoalannya pada landskap budaya dan sistem nilai budaya mana Negara Pasundan akan dipinjakkan. Apakah landskap Kerajaan Sunda dengan Pajajaran sebagai modelnya. Ataukah Sunda-Islam dengan masa Sunan Gunung Jati dan Sultan Hasanuddin yang berupaya mengkompromikan sistem nilai budaya lokal dengan Islam (juga sebaliknya), sebagai ladnskapnya. Atau landskap Sunda-Islam-Mataram, yang feodalistik? Atau barangkali baru akan kita rumuskan kemudian: suatu sistem budaya dan sistem nilai budaya baru yang kompromi dengan kemodernan bahkan ala modern yang belum dan tidak jelas bentuknya itu. Yang, kemudian disebut sebagak Sunda kiwari (Sunda kontemporer). Bila kita mengamati sistem nilai budaya yang kini hidup mengakar di kalangan masyarakat Sunda, khususnya kaum muda (nonoman Sunda kiwari), dapat dikatakan bahwa mereka hidup di bawah naungan sistem nilai budaya modern yang belum jadi. Dengan kata lain, masyarakat Sunda kiwari adalah masyarakat Sunda yang tidak nyunda , bukan pula Indonesia, dan modern pun belum jadi. Disebut tidak nyunda, karena terdapat sejumlah karakteristik ke-Sunda-an yang telah tercerabut dari dalam diri nonoman Sunda, tergilas oleh sistem nilai budaya Barat Modern. Disebut Indonesia juga bukan, karena mereka lebih cenderung menggunakan nilai-nilai budaya Barat modern, selain memang Indonesia (sebagai negara kesatuan) sampai sekarang belum memiliki sistem nilai budaya yang jelas. Bila orang Sunda ditakar oleh sistem nilai budaya dan kepribadian Barat Modern, maka masyarakat Sunda kiwari termasuk salah satu bangsa yang sulit untuk menjadi Barat Modern. Pada sikap keterusterangan (terbuka) sebagai contoh. Walau pun ada yang berpendapat bahwa orang Sunda itu merupakan bangsa yang terus terang (terbuka), seperti tampak pada karakteristik masyarakat Badui (Kanekes) atau Mayarakat Sirnarasa Cisolok-Sukabumi (sebagai prototipe Sunda lama), namun tampaknya pengaruh budaya Mataram telah terlalu kuat tertanam dalam kepribadian masyarakat Sunda. Masyarakat yang terlalu banyak menggunakan ungkapan silib sampir-sindang siloka, malapah gedang. Selain itu, masyarakat Sunda bukanlah masyarakat yang bisa bersikap radikal (dalam terminologi etik bukan epistemologis) dan prontal. Masyarakat Sunda sering lebih memilih menahan diri, uwuh pakewuh, ketika berhadapan dengan sejumlah gejolak politik. Hal ini dimungkinkan tiga hal: Pertama, trauma sejarah politik bangsa Sunda semenjak masa kolonialisme Mataram yang memposisikan bangsa Sunda sebagai abdi penguasa Mataram hingga masa kolonialisme Belanda dan Jepang. Bahkan pada masa kemerdekaan pun wilayah Pasundan (Jawa Barat) lebih sebagai wilayah perluasan penguasaan ekonomi yang sangat sedikit bisa dinikmati oleh komunitas Sunda sendiri. Kasus kecil dapat ditemukan, yaitu tersingkirnya orang Betawi (Sunda Kelapa) menjadi masyarakat pinggiran dan menjadi warga kelas dua . Kedua, suatu sikap dari sa;ah dimengertinya sikap dan kebijakan yang diambil Prabu Bunisora Suradipati (dengan karakteristik kematangan spiritualnya) oleh orang Sunda yang mengakibatkan dampak psikologis dalam mengahadapi trauma dari bencana besar perang Bubat. Suatu sikap yang secara tidak sadar menjadi kepribadian bangsa Sunda (masuk wilayah tidak sadar dalam benak masyarakat Sunda). Trauma-trauma tersebut telah membentuk kepribadian masyarakat Sunda bersikap sangat hati-hati. Sikap yang menimbulkan dua kemungkinan sikap politis yang diambil oleh masyarkat Sunda. Sikap

curiga atau sikap apriori (dingin) dan melakukan aksi diam terhadap persolan-persolan politik. Hal ini tampak ketika gejolak politik nasional memuncak, wilayah Jawa Barat merupakan wilayah yang relatif paling aman . Sikap tenang masyarakat Sunda yang menjadi ciri masyarakat masyarakat Jawa Barat telah menjadikan elite politik pusat dan masyarakat Indonesia pada umumnya terheran-heran bahkan kaget ketika terjadi gejolak di Tasik. Persoalan yang dipicu oleh ketersinggungan harga diri seorang ustadz/santri ketika wilayah kekuasaan dan otoritasnya diganggu. Gejolak ini secara langsung atau pun tidak telah memberikan inspirasi bagi munculnya gejolak di wilayah lainnya secara terbuka. Barangkali orang berpikir, bila masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang dikenal penyabar bisa sedemikian tersinggung apalagi yang lainnya. Maka muncullah gejolak-gejolak di wilayah lainnya. Ketiga, karena suatu kepribadian masyarakat, yaitu pribagi Kabayanisme . Suatu sikap dan pribadi anu teu nanaon ku nanaon . Pribadi yang teguh, seperti seekor ikan di lautan. Dalam tradisi spiritual (sufisme) kondisi ini dikenal sebagai kondisi puncak ketasawufan dalam sistem Martabat Tujuh, yaitu: Insan Kamil. Kondisi ini barangkali terlalu dianggap mengada-ada. Wallahu alam. 2. Membangun Jembatan Silaturahmi antar Elite Masyarakat Sunda Trauma dan perjalanan sejarah masyarakat Sunda, seperti dijelaskan di atas, telah melahirkan stratatifikasi sosial yang unik. Selain stratatifikasi sosial yang terlahir dari bingkai ekonomi (buruh dan majikan atau kaya dan miskin) yang hal ini sebenarnya tidak terlalu menonjol, dan strata sosial yang terlahir dari bingkai politik (rakyat dan penguasa) dan ini pun dalam masyarakt Sunda tidak terlalu menonjol karena sejak masa kemerdekaan jarang sekali orang Sunda yang berkuasa. Stratatifikasi sosial yang lebih menonjol sebenarnya muncul dalam bingkai budaya, yaitu terjadinya tiga strata sosial, yaitu strata santri, budayawan, dan skular atau ilmuwan. Pada masa Sunda-Islam yang dipelopori oleh Sunan Gunung Jati, kelompok santri dan budayawan ini sama sekali tidak terpilah, karena seorang santri adalah juga seorang budayawan, demikian juga sebaliknya. Bahkan dalam tataran politik pun bisa dilihat, bahwa seorang penguasa sekali pun ia adalah seorang santri sekaligus budayawan. Akan tetapi bila kita melihat pada masa modern, khususnya ketika terjadi gerakan modernisasi dan purifikasi dalam pemahaman keislaman. Masyarakat Sunda yang secara kultural bersifat egaliter, tentunya memiliki kecenderungan rasional dan individual, maka gerakan ini relatif mendapat sambutan yang spesifik dari masyarakat Sunda, khususnya masyarakat Sunda di perkotaan. Sementara itu gerakan modernisasi dan purifikasi dimana pun ia berada cenderung menolak nilai-nilai budaya lokal. Gerakan ini mendapat perlawanan dari kelompok masyarakat Islam yang tidak merasa cocok dengan moderniasasi dan purifikasi yang radikal, dengan cara mempertahankan tradisi beragama lokal (Arabisme klasik). Pertentangan menjadi seru, hingga tokoh yang memiliki pandangan yang berusaha yang mempertemukan kedua pandangan ini pun dieliminir oleh kedua kelompk tersebut. Salah seorang tokoh yang berusaha untuk menggabungkan kedua kelompok ini adalah K.H. Hasan Mustapa. Tokoh yang pemikirannya masih jarang dibicarakan. Pertentangan antara agamawan dan agamawan dengan budayawan tampaknya belum bisa terselesaikan secara tuntas. Belum lagi ketidakpedulian para elite politik Sunda yang masih mabuk oleh asesoris birokrasi feodalisme. Demikian pula dengan kelompok skular Sunda yang pada umunya masih

risi dan pobi dengan budaya lokalnya dan masih belum akrab dengan agamanya sendiri. Bila gap (baik disadari atau pun tidak) yang muncul dalam bentuk sikap saling tidak peduli dan kehilangan silaturahmi antara elite politik, elite budaya dan elite intelektual tidak pernah berusaha untuk dijembatani, maka sulit dibayangkan bentuk negara federal macam apa yang akan terbentuk. Masing-masing, pada akhirnya, akan mendahulukan kepentingannya masing-masing kelompok. Ketika itulah lahir masyarakat feodal yang lebih parah dari masa-masa sebelumnya. Ide Nurcholish Madjid dan Abdurahman Wahid, (pemikiran yang pernah diupayakan oleh K.H. Mustapa) barangkali bisa dijadikan jembatan, khususnya anatara elite agama dan budayawan. Ide yang dikenal dengan pribumisasi Islam . Upaya untuk mempertemukan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai budaya lokal. Suatu penafsiran terhadap Islam yang tidak mengabaikan karakteristik budaya lokal. Suatu cara pandang keagamaan yang dimiliki para Wali, khususnya Sunan Gunung Jati. Upaya yang dengan sendirinya diharapkan akan mampu menjembatani kedua elite dan lokal genius baik dalam bidang keagamaan atau budaya.