Anda di halaman 1dari 8

Audiometri & Rontgen

Audiometri nada murni


Suatu alat elektronik yang menghasilkan bunyi yg relatif bebas bising ataupun energi suara pada kelebihan nada, karenanya disebut nada murni . Ambang dengar (AD) :
AD 500Hz + AD 1000Hz+AD 2000HZ+AD 4000HZ

Telinga Kiri : Tuli Konduktif Sedang , Ambang Dengar : 50 dB

Interpretasi audiogram : 1. Telinga yang mana 2. Jenis ketuliannya 3. Derajat ketuliannnya Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanya ambang dengar hantaran udaranya (AC) saja.

Derajat Ketulian ISO (International Standard Organization) 1. 0 - 25 dB : Normal 2. >25 40 dB : tuli ringan 3. >40 55 dB : tuli sedang 4. >55 70 dB : tuli sedang berat 5. >70 90 dB : tuli berat 6. >90 dB : tuli sangat berat

Telinga kanan : Tuli Campur berat, Ambang dengar 80 dB

AC & BC sama atau < 25 dB AC & BC berimpit, tidak ada GAP

BC : Normal atau < 25 dB AC : > 25 dB Antara AC & BC terdapat GAP

AC & BC > 25 dB AC & BC berimpit (tidak ada GAP)

Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi koklea. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bisa membantu : 1. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB 2. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila disertai perforasi. 3. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB. 4. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah. Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengaran dengan menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur dengan masking adalah dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur.

Pemeriksaan Radiologi otitis media


1. Proyeksi Schuller Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. 2. Proyeksi Mayer atau Owen, Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. 3. Proyeksi Stenver Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang. 4. Proyeksi Chause III Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom.

Rontgen Schuller