Anda di halaman 1dari 3

Padi Tipe Baru dan Padi Hibrida Mendukung Ketahanan Pangan

Oleh : Irsal Las, B. Abdullah, dan Aan A. Daradjat


Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) telah mengembangkan teknologi perakitan varietas unggul padi berpotensi hasil tinggi melalui perakitan padi tipe baru (PTB) dan padi hibrida. Teknologi budi dayanya dikembangkan antara lain melaui pendekatan Pengelo1aan TanamanTerpadu (PTT) terutama pada 1ahan sawah irigasi. Padi tipe baru (PTB) memiliki sifat penting, antara lain (a) jumlah anakan sedikit (7-12 batang) dan semuanya produktif, (b) malai lebih panjang dan 1ebat (>300 butir/malai), (c) batang besar dan kokoh, (d) daun tegak, tebal, dan hijau tua, (e) perakaran panjang dan lebat. Potensi hasil PTB 10-25% tebih tinggi dibandingkan dengan varietas unggul yang ada saat ini. Kalau IR64 dan varietas unggul lainnya dihasilkan melalui persilangan antarpadi jenis indica (padi bulu), PTB dihasilkan melalui persilangan antara padi jenis indica dengan japonica. Padi hibrida juga berpotensi dikembangkan untuk dapat mengatasi kemandekan produktivitas padi saat ini. Padi hibrida dihasilkan melalui pemanfaatan fenomena heterosis turunan pertama (F1) dari hasil persilangan antara dua induk yang berbeda. Fenomena heterosis tersebut menyebabkan tanaman F1 lebih vigor, tumbuh lebih cepat, anakan lebih banyak, dan malai lebih lebat sekitar 1 t/ha lebih tinggi daripada Varietas unggul biasa (inbrida). Namun keunggulan tersebut, tidak diperoleh pada populasi generasi kedua (F2) dan berikutnya. Oleh karena itu produksi benih F1 dalam pengembangan padi hibrida memegang peran penting dan strategis. Ditinjau dari aspek genetik, PTB dan padi hibrida memiliki potensi hasil yang lebih tinggi, tetapi sistem dan teknologi produksinya berbeda dengan varietas unggul biasa. Perakitan Padi Tipe Baru Program perakitan padi tipe baru (PTB) diinisiasi oleh IRRI sejak tahun 1989. Materi genetik yang digunakan sebagai tetua persilangan adalah varietas introduksi, varietas lokal Indonesia dan padi liar, Balitpa telah merintis pembentukan PTB sejak 1995, namun baru diintensifkan pada tahun 2000. Kini telah dihasilkan varietas dan sejumlah galur PTB dalam beberapa generasi.

Generasi pertama. Dalam program awal pembentukan PTB telah dihasilkan sejumlah galur semi PTB, yang sebagian sifat-sifatnya menyerupai sifat PTB yang sebenarnya, antara lain jumlah anakan yang relatif sedikit (10-12 Batang/rumpun) dan potensi hasil 5-10% lebih tinggi dibanding varietas IR64 dan Ciherang. Galur-galur tersebut antara lain adalah BP-10384-MR-1-8-3 yang dilepas pada tahun 2001 dengan nama Cimelati dan BP-50F-MR-30-5 yang dilepas pada tahun 2002 dengan nama Gilirang (aromatik). Varietas Gilirang cukup pesat pengembangannya. Generasi kedua. Beberapa galur PTB yang potensial antara lain adalah BP138E-KN-23, BP-364-MR-33-PN-5-1, BP364B-MR-33-2-PN-2-5-5-1, BP342B-MR-30-1, dan BP140F-MR-1. Galur-galur ini umumnya masih memerlukan pengujian lanjutan untuk menentukan teknologi budi daya yang paling tepat. Meskipun tingkat kehampaan gabahnya masih tinggi, tetapi galur PTB generasi kedua ini mempunyai jumlah gabah isi yang tetap lebih banyak (149-188 butir/malai) dibandingkan dengan gabah isi varietas lR64 (112 butir/malai). Galur yang telah memenuhi syarat untuk dilepas adalah BP-364B-33-3-PN-5-1. Selain berdaya hasil lebih tinggi, galur-galur PTB generasi kedua tahan terhadap hama wereng coklat biotipe 2, tetapi relatif peka terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh sebab itu, pengembangannya harus secara selektif di daerah yang benar-benar sesuai dan dilengkapi dengan rekomendasi teknologi budi daya yang tepat, terutama jarak tanam dan pemupukan yang didasarkan pada pendekatan PTT. Generasi ketiga dan seterusnya. Saat ini terdapat sekitar 80 galur harapan PTB generasi meenengah yang masih dalam tahap pengujian. Beberapa diantara galur tersebut diharapkan dapat dilepas pada tahun 2004-2005. Hasil pengujian menunjukkan galur harapan terbaik PTB generasi ketiga ini mampu berproduksi lebih dari 8 t/ha, atau 20% lebih tinggi daripada hasil varietas IR64. Perakitan Padi Hibrida Penelitian padi hibrida di Indonesia dimulai pada tahun 1984 dan lebih diintensifkan sejak 2001. Berbagai galur padi hibrida telah dihasilkan melalui persilangan dengan melibatkan galur mandul jantan sitoplasmik (CMS) atau galur mandul jantan (A), galur pelestari (B), dan galur pemulih kesuburan (restorer, R). Dari pengujian dan evaluasi galur tetua dan hibrida introduksi diperoleh beberapa hibrida harapan. Pada awal tahun 2002, galur IR58025N BR827 dan IR58025NIR53942 masing-masing dilepas menjadi padi varietas Maro dan Rokan. Kedua varietas ini relatif peka terhadap beberapa hama dan penyakit utama. Oleh sebab itu, pengembangannya perlu diarahkan pada lahan subur dengan pengairan terjamin dan bukan daerah endemik hama dan penyakit. Padi hibrida Rokan dan Maro telah diuji dalam kegiatan program penelitian dan pengkajian (Litkaji) PTT dibeberapa propinsi dan kemudian dikembankan di 10 propinsi melalui Kegiatan Percontohan Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) pada tahun 2002-2003.

Dalam program Litkaji, varietas Maro mampu menghasilkan 8,6 ton gabah/ha dan varietas Rokan 9,24 ton/ha atau 8-16% lebih tinggi dibandingkan dengan varietas unggul biasa. Dalam program P3T, kedua padi hibrida ini masing-masing mampu berproduksi 1 ton/ha lebih tinggi(10-20%) dibandingkan dengan varietas unggul biasa. Saat ini tersedia beberapa galur hibrida potensial, tiga di antaranya berpeluang untuk dilepas setelah 2-3 musim ke depan. Galur-galur harapan tersebut mampu berproduksi >8 ton/ha atau 14-22% lebih tinggi dibanding IR64. Ketiga galur ini akan diuji daya hasilnya di berbagai lokasi (multilokasi) pada MK 2003, sehingga 1-2 galur di antaranya diharapkan dapat dilepas pada akhir tahun 2003 atau awal 2004. Berbeda dengan varietas Maro dan Rokan, ketiga galur hibrida lebih tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Padi tipe dan padi hibrida yang di hasilkan diharapkan dapat segera meluas pengembangannya guna mendukung upaya pemacuan produksi padi melandai. Irsal Las, B. Abdullah, dan Aan A. Daradjat Penulis dari Puslitbang Tanaman Pangan (Dimuat pada Tabloid Sinar Tani, 30 Juli 2003)