Anda di halaman 1dari 40

LABORATORIUM KIMIA FARMASI JURUSAN FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA DASAR PERCOBAAN pH DAN LARUTAN BUFFER

OLEH : KELOMPOK GELOMBANG ASISTEN : II (DUA) : II (DUA) : RISYAD ABDILLAH

SAMATA GOWA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kata pH dan larutan buffer (peyangga) sering di jumpai ketika kita mempelajari materi asam dan basa. Suatu larutan yang dapat

mempertahankan nilai pH dengan penambahan sedikit asam, basa, dan pengenceran oleh air di sebut larutan penyangga (buffer). Larutan penyangga dapat dibuat dari campuran asam lemah dan basa konjugasinya serta basa lemah dan asam konjugasinya. Larutan penyangga dapat pula dibuat dari capuran asam atau basa kuat dengan basa atau asam lemah, dengan ketentuan jumlah asam tau basa lemahnya harus lebih besar dari basa atau asam kuatnya. Ada beberapa fungsi dari larutan penyangga, salah satunya dalam bidang kesehatan. Dalam bidang farmasi (obat-obatan), banyak zat aktif yang harus berada dalam keadaan pH stabil. Perubahan pH akan menyebabkan khasiat zat aktif tersebut berkurang atau hilang sama sekali. Untuk obat suntik atau obat tetes mata, pH obat-obatan tersebut harus disesuaikan dengan pH cairan tubuh. Obat tetes mata harus memiliki pH yang sesuai dengan pH air mata agar tidak menimbulkan iritasi yang mengakibatkan rasa perih pada mata. Begitu juga obat suntik harus disesuaikan dengan pH darah agar tidak menimbulkan alkalosis atau asidosis pada darah. Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan pH dan larutan buffder agar sebagai mahasiswa farmasi kita dapat mengetahui dan menerapkan prinsip pH dan larutan buffer ini dalam pembuatan sedian-sedian farmasi, pembuatan obat, dan lain-lain. Serta percobaan ini sebagai dasar untuk percobaanpercobaan selanjutnya.

B. Maksud dan Tujuan Percobaan 1. Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara kerja pengukuran pH dan kerja sistem larutan buffer. 2. Tujuan Percobaan a. b. Mengetahui berbagai metode penentuan pH. Menentukan keasaman atau kebasaan suatu larutan sampel dengan menggunakan metode pengukuran pH tertentu. c. Memahami cara kerja dari sistem buffer.

C. Prinsip Percobaan Penentuan pH asam-basa dari suatu sampel (KBr, (NH4)2SO4, Na2CO3, H2SO4, H3BO3, dan asam oksalat dengan menggunakan kertas lakmus, indikator universal, dan pH meter. Serta memahami sistem kerja buffer klorida (HCl+KCl) dan buffer nitrit (HNO2+NaNO2) setelah ditambahkan asam/basa lalu diukur perubahan pH dengan menggunakan indikator universal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum 1. Asam-Basa Asam dan basa adalah sifat kimia suatu zat yang sangat penting untuk diketahui. Ada tiga teori dasar mengenai asam dan basa, yaitu : a. Arrhenius (1888) Asam adalah zat yang bila dilarutkan dalam air terionisasi menghasilkan ion H+. HCl menghasilkan ion OH-. NaOH b. Bronsted dan Lowry Asam adalah baik ion atau molekul yang dapat memberikan (H+) proton kepada basa atau disebut akseptor proton. Proton adalah inti atom H yang tidak mempunyai elektron. HCl + NH3 c. Lewis (1923) Asam adalah suatu spesies yang dapat menerima pasangan elektron bebas (akseptor elektron) dalam reaksi kimia. Basa adalah suatu spesies yang dapat memberi pasangan elektron (donor pasangan elektron). AlCl3 + :PCl3 Asam (Tim dosen kimia, 2003: 1) Berikut beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan asam atau basa serta pH suatu larutan. basa Cl3Al PCl3 NH4+ + ClNa+ + OHH+(aq) + Cl (aq)

Basa adalah zat yang bila dilarutkan dalam air terioniasi

a.

Kertas lakmus Ada dua macam kertas lakmus yang biasa digunakan untuk mengenali senyawa asam atau basa, yaitu kertas lakmus merah dan lakumus biru. Kertas lakmus biru berubah menjadi merah jika bereaksi dengan senyawa asam, sedangkan kertas lakmus merah berubah menjadi biru jika bereaksi dengan senyawa basa. Perubahan Warna Larutan Lakmus merah Tidak berubah Tidak berubah Tidak berubah Biru Biru Tidak berubah Tidak berubah Tidak berubah Biru Lakmus biru Tidak berubah Merah Merah Tidak berubah Tidak berubah Tidak berubah Merah Merah Tidak berubah Kesimpula sifat zat Netral Asam Asam Basa Basa Netral Asam Asam Basa

Air sumur HCl Air jeruk NaOH NH4OH Glukosa Minuman softdrink Air aki Air kapur (Sutresna, 2006: 14)

www.google.com

Gambar kertas lakmus.

b.

Indikator Universal Indikator universal adalah suatu zat yang warnanya berbedabeda sesuai dengan konsentrasi ion hidrogen (Svehla, 1999: 56). Warna pada Indikator pH dimana terjadi perubahan warna pH lebih rendah (asam) Metal jingga Metal merah Lakmus Bromotimol biru Fenoltalin Alizarin 9 11 Tak berwarna Kuning Merah Merah 4 5 7 Merah Merah Merah Warna pada pH lebih tinggi (basa)

Kuning Kuning Biru

Kuning

Biru

(Sastrohamidjojo, 2008: 201)

www.google.com

Gambar indikator universal.

c.

pH meter pH meter adalah suatu voltmeter elektronik dengan resistant input yang tinggi. pH meter merupakan alat untuk mengukur pH suatu larutan dengan tingkat ketelitian yang tinggi (Sastrohamidjojo, 2008: 201).

www.google.com

Gambar pH meter Kekuatan asam dan basa tergantung pada kemampuannya

berionisasi. Kekuatan basa tergantung dari ukuran ion positifnya. Jika ion positifnya bertambah besar dan muatannya lebih kecil maka kecenderungannya mengadakan pemisahan antara ion positif dan OHbesar. Basa dari logam alkali adalah basa kuat. Karena ukuran ion positifnya besar dan muatannya kecil. Contoh : KOH adalah basa kuat dibanding dengan NaOH karena ion K+ lebih besar dari ion Na+ . Dalam periode yang sama pada susunan berkala di jumpai NaOH adalah basa kuat dari Mg(OH2). Susunan kebasaannya adalah Na+ > Mg2+ > Al3+. Untuk asam-asam yang berasal dari unsur yang sama, maka kekuatan asamnya bergantung dari bilangan oksidasi dari unsur tersebut. Bilangan oksidasi yang lebih tinggi mempunyai asam yang lebih besar. Contoh : H2SO4 dan H2SO3

Jumlah S pasa H2SO4 mempunyai biloks +6, sedangkan S pada H2SO3 mempunyai biloks +4, maka H2SO4 bersifat asam lebih kuat daripada H2SO3 karena atom S pada H2SO4 mempunyai gaya tarik terhadap elektron lebih besar pada elektron yang dipakai bersama antara atom O dan ataom H sehingga H mudah lepas. (Tim dosen kimia, 2003: 2) Dalam analisis kimia, kita sering berhadapan dengan konsentrasikonsentrasi ion hidrogen yang rendah. Untuk menghindari kerumitan penulisan angka-angka dengan faktor 10 berpangkat negatif, Sorensen memperkenalkan eksponen ion-hidrogen (pH), yang didefinisikan sebagai berikut : PH = - log [H+] = log atau [H+] = 10-pH.

Jadi besarnya pH adalah sama dengan logaritma dari konsentrasi ion hidrogen dengan diberi tanda negatif, atau logaritma dari kebalikan konsentrasi ion-hidrogen. Untuk larutan asam, pH < 7 Untuk larutan basa, pH > 7 Untuk larutan netral, pH = 7 Istilah pOH kadang-kadang dipakai secara analog untuk eksponen ion hidroksi, yaitu: pOH = -log [OH-] = log pH + pOH = 14 Untuk setiap asam dengan tetapan disosiasi ka pKa = - log ka = log Begitu pula, untuk setiap basa dengan tetapan disosiasi kb pKb = - log kb = log log = 10-pOH

Untuk setiap ion I dengan konsentrasi [I] pI = - log [I] = log log (Sventa, 2000: 38-39) pH adalah suatu bilangan yang menyatakan keasaman atau kebasaan suatu zat yang larut dalam air (Dirjen POM, 1979 : 756). Kesetimbangan pada reaksi protolisis Protolisis dapat berlangsung sebagai berikut: a. Kesetimbangan dalam air murni b. Kesetimbangan dalam larutan asam lemah c. Kesetimbangan dalam larutan basa lemah d. Kesetimbangan dalam asam lemah dan basa lemah yang berkonjugasi e. Kesetimbangan dalam asam lemah dan basa lemah yang sama banyak yang tidak berkonjugasi. Air murni H2O + H2O Konstanta kesetimbangan H3O+ + OH-

(Tim dosen kimia, 2003: 4) Asam monoprotik ialah asam yang memberikan satu protonnya per unit. Asam kuat ialah asam yang dapat memberikan hampir semua protonnya pada air meskipun berada dalam larutan yang encer. Reaksi asam monoprotik (lemah) dalam air HA + H2O
-

H3O+ + A-

Atau
-

Keasaman sebenarnya ialah menentukan konsentrasi ion H+ dalam larutan. Maka pH larutan menentukan keasaman yang sebenarnya. Keasaman potensial tidak ditentukan oleh konsentrasi ion H+, tapi oleh jumlah ion H+ yang dapat digantikaan oleh ion hidroksil (OH-). Jadi keasaman potensial dapat ditentukan dengan cara netralisasi oleh suatu basa. Hukum pengenceran astwal adalah sebagai berikut : HA + H2O (1 ) c Dimana = derajat potensial c = konsentrasi (mol/L)
( - ) ( - ) -

H3O+ + Ac c

Harga ka lebih kecil dari 10-4 maka nilai kecil ini menyebabkan 1 =1
-

Sehingga persamaan reaksi HA + H2O (1 ) c ( ) ( -) H3O+ + Ac c

( -

) (

( (

) )

Basa monoprotik adalah senyawa yang perunitnya dapat menerima satu proton. Rumus umum suatu basa monoprotik (lemah) sebagai berkiut: (1 )
-

(Tim dosen kimia, 2003: 5 7) 2. Larutan Penyangga a. Pengertian Larutan Penyangga Suatu larutan yang dapat menahan perubahan pH yang besar ketika ion-ion hidrogen atau hidroksida ditambahkan, atau ketika larutan itu diencerkan, disebut larutan penyangga (Day dan Underwood, 2001: 148). Larutan penyangga adalah suatu larutan yang bila ditambah sedikit asam, basa, atau air tidak mengubah pH secara berarti (syukri, 1999: 418). Larutan buffer didefinisikan sebagai campuran asam lemah dengan basa konjugasinya atau basa lemah dengan asam konjugasinya (Achmad, 1996: 152). Larutan buffer adalah larutan yang menunjukkan ketahanan tertentu baik terhadap asam maupun basa (Svehla, 1999: 52) Larutan buffer adalah larutan yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan pH-nya pada penambahan asam, ataupun basa (Tim Dosen Kimia, 2003: 9).

Suatu larutan yang bertahan terhadap perubahan pH, bila suatu asam atau basa ditambahka atau bila larutan diencerkan disebut larutan dapar (penyangga) (Day dan Underwood, 1981: 149). b. Pembuatan Larutan Penyangga Cara membuat larutan penyangga ada dua, yaitu sebagai berikut: 1) Campuran asam lemah dengan garamnya (yang berasal dari asam lemah dan basa kuat). Contohnya: a) HNO2 dengan NaNO2 b) CH3COOH dengan CH3COOK c) CH3COOH dengan CH3COONa 2) Campuran basa lemah dengan garamnya (yang bersal dari basa lemah dan asam kuat) Contohnya: a) NH4OH dan NH4Cl b) N2H5OH dan N2H5NO3 (syukri, 1999: 418) c. Mekanisme Larutan Penyangga Larutan penyangga mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan basa konjugasinya, sehingga dapat mengikatbaik ion H+ maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat tidak mengubah pH-nya secara signifikan. Berikut ini mekanisme kerja larutan penyangga:
1) Larutan penyangga asam

Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung CH3COOH dan CH3COO- yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut:

a) Pada penambahan asam Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri. Dimana ion H+ yang ditambahkan akan bereaksi dengan ion CH3COO- membentuk molekul CH3COOH. CH3COO-(aq) + H+(aq) CH3COOH(aq) b) Pada penambahan basa Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OHdari basa itu akan bereaksi dengan ion H+ membentuk air. Hal ini akan menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa menyebabkan berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa yang ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH3COOH membentuk ion CH3COO- dan air. CH3COOH(aq) + OH-(aq) CH3COO-(aq) + H2O(l)
2)

Larutan penyangga basa Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+ yang mengalami

kesetimbangan. Dengan proses sebagai berikut: a) Pada penambahan asam. Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH-. Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Disamping itu penambahan ini menyebabkan berkurangnya komponen basa (NH3), bukannya ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa NH3 membentuk ion NH4+. NH3(aq) + H+(aq ) NH4+(aq) b) Pada penambahan basa Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka kesetimbangan bergeser ke kiri, sehingga konsentrasi ion OH-

dapat dipertahankan. Basa yang ditambahkan itu bereaksi dengan komponen asam (NH4+), membentuk komponen basa (NH3) dan air. NH4+(aq) + OH-(aq) NH3(aq) + H2O(l) Konsentasi larutan dapat dicari dengan rumus sebagai berikut atau * Keterangan: ka = konsentarsi asam kb = konsentrasi basa ca = konsentrasi asam cg = konsentrasi garam cb = konsentrasi basa pH dari larutan buffer dapat dihitung dari persamaan HendersonHasselbach atau persamman Henderson. Untuk buffer asam lemah dan garamnya.
-

Untuk buffer basa lemah dan garamnya

Sifat larutan buffer sebagai berikut : 1) Mempunyai pH tertentu 2) PH-nya relatif tidak berubah jika di tambah sedikit asam, basa dan pengenceran dengan air. 3. Hidrolisis Garam Hidrolisis garam adalah reaksi antara ion-ion yang berasal dari asam lemah atau basa lemah suatu garam. Hidrolisis garam merupakan reaksi kesetimbangan larutan yang homogen.

Reaksi hidrolisis tidak terlalu berbeda dengan reaksi asam basa Bronsted Lowry. Reaksi antara kation atau anion garam dan air akan menghasilkan H3O+ atau OH-. Reaksi demikian disebut sebagai reaksi hidrolisis garam. Akan tetapi, tidak semua garam dapat terhidrolisis. Perhatikan penjelasan berikut: a. Garam yang Berasal dari Asam Lemah dan Basa Kuat. CH3COONa CH3COO-(aq) + Na+(aq)

Anion dari asam lemah akan bereaksi dengan air (terhidrolisis) sesuai dengan persamaan reaksi berikut. CH3COO- + H2O CH3COOH + OH-

Adanya ion OH- dalam hasil reaksi menunjukkan bahwa larutan tersebut bersifat basa. Ion Na+ yan berasal dari basa kuat tidak bereaksi dengan air, artinya tidak mengalami hidrolisis. Hidrolisis yang terjadi pada anion saja atau pada kation saja disebut hidrolisis parsial (hidrolisis sebagian). Jadi, garam jenis ini mengalami hidrolisis parsial. b. Garam yang Berasal dari Basa Lemah dan Asam Kuat. NH4Cl NH4+ + ClKation dari basa lemah (NH4+) akan terhidrolisis dengan reaksi sebagai berikut. NH4+ + H2O NH4OH + H+

Adanya ion H+ dalam hasil reaksi menunjukkan bahwa larutan garam tersebut bersifat asam. Adapun ion Cl- yang berasal dari asam kuat, tidak bereaksi dengan air (tidak terhidrolisis) sehingga terjadi hidrolisis parsial. c. Garam yang Berasal dari Asam Lemah dan Basa Kuat. CH3COONH4 CH3COO- + NH4+

Kedua ion tersebut akan terhidrolisis , sehingga garam ini mengalami hidrolisis sempurna. CH3COO- + H2O CH3COOH + OH-

NH4+ + H2O

NH4OH + H+

Pada hasil reaksi, terdappat ion OH- dan ion H+. jadi, garam ini mungkin bersifat asam, basa, atau bersifat netral. Konsentrasi ion OH- atau ion H+ serta nilai pH yang dihasilkan sangat bergantung pada harga Ka dan Kb. 1) Jika ka > Kb, berarti konsentrasi ion H+ yang dihasilkan lebih banyak daripada ion OH- sehingga garam tersebut bersifat asam. 2) Jika ka < Kb, berarti konsentrasi ion H+ yang dihasilkan lebih sedikit daripada ion OH- sehingga garam tersebut bersifat basa. 3) Jika ka = Kb, berarti konsentrasi ion H+ dan ion OH- yang dihasilkan sama sehingga garam tersebut bersifat netral. (Sutresna, 2006: 109-112)

B. Uraian Bahan 1. Aquades (Dirjen POM, 1979: 96) Nama resmi Nama lain : : AQUA DESTILLATA air suling, aqua despurata, aqua baterig, aqua purificata, hydrogen oxide. Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun Pemerian : : : : 18,02 H2O HOH Cairan jernih, tidak berwarna, tidak

berbau, dan tidak mempunyai rasa. Penyimpanan Kegunaan : : dalam wadah tertutup baik. sebagai bahan untuk kalibrasi dari

elektroda pH meter. 2. Asam Klorida (Dirjen POM, 1979: 53) Nama resmi Nama lain : : ACIDUM HYDROCHLORIDUM asam klorida, asam hidroclorida, asam garam, acidum hydro-chloricum, acidum muria-ticum, HCl,Zoutzuur Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun Pemerian : : : : 36,46 HCl H Cl tidak berwarna, berasap, bau

merangsangg, jika diencerkan dengan 2 bagian air asap dan bau hilang. Penyimpanan Kegunaan : : dalam wadah tertutup rapat sebagai komposisi buffer dan pengujian penambahan asam pada buffer 3. Natrium Hidroksida (Dirjen POM, 1979: 412) Nama resmi : NATRII HYDROXIDUM

Nama lain

natrium hidroksida, caustid soda, hydras natricus, natrium causticum, sodium

hydroxide, soda api. Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun Pemerian : : : : 40,00 NaOH Na OH bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping, kering, keras, rapuh dan putih,

menunjukkan

susunan

hablur:

mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap karbondioksida. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P. Penyimpanan Kegunaan : : dalam wadah tertutup baik. sebagai zat larutan buffer 4. Kalium Bromida (Dirjen POM, 1979: 328) Nama resmi Nama lain : : KALII BROMIDUM kalium bromida, brometum calcium, KBr, potassium bromide. Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun Pemerian : : : : 119,01 KBr K Br hablur tidak berwarna, transparan atau buram atau serbuk butir; tidak berbau; rasa asin dan agak pahit. Kelarutan : larut dalam lebih kurang 1,6 bagian air dan dalam lebih kurang 200 bagian etanol (90%) P. Penyimpanan Kegunaan : : dalam wadah tertutup baik. sebagai sampel pada percobaan pH. yang ditambahkan pada

5. Kalium Klorida ( Dirjen POM, 1979: 329) Nama resmi Nama lain : : KALII CHLORIDUM kalium klorida, KCl, Chloretum kalicum, potassium chloride, Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun Pemerian : : : : 74,55 KCl K Cl hablur berbentuk kubus atau berbentuk prisma: tidak berwarna atau serbuk butir putih: tidak berbau: rasa asin, mantap di udara. Kelarutan : larut dalam 3 bagian air; sangat mudah larut dalam air mendidih; praktis tidak larut dalam etanol mutlak P dan dalam eter P Penyimpanan Kegunaan : : dalam wadah tertutup rapat. sebagai sampel pada percobaan larutan buffer 6. Natrium Karbonat (Dirjen POM, 1979: 400) Nama resmi Nama lain : : NATRII CARBONAS natrium karbonat, alkali minerale,

carbonas natricus, carbonate of sudae, natrium carboniccum, sal sodae, sodium carbonate. Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun : : : 124,00 Na2CO3

Pemerian

hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih.

Kelarutan

mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih.

Penyimpanan Kegunaan

: :

dalam wadah tertutup baik. sebagai sampel pada percobaan pH.

7. Amonium Sulfat (Dirjen POM, 1997: 645) Nama resmi Nama lain Berat molekul Rumus molekul Pemerian Kelarutan : : : : : : AMONII SULFAS ammonium sulfat 132,1392 (NH4)2SO4 hablur tidak berwarna atau butiran putih. sangat mudah larut dalam air,praktis tidak larut dalam etanol Kegunaan : sebagai sampel dalam percobaan pH.

8. Asam Sulfat (Dirjen POM,1979: 58) Nama resmii Nama lain : : ACIDUM SULFURICUM Asam sulfat, minyak vitriol, asam

sulfuricum-anolicum, air keras belerang, sulfurid acid, zwavelzuur. Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun : : : 98,07 H2SO4

Pemerian

cairan kental, seperti minyak, korosif tidak berwarna. Jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas.

Kelarutan

bercampur dengan air dan dengan etanol menimbulkan panas.

Penyimpanan Kegunaan

: :

dalam wadah tertutup rapat. sebagai sampel dalam percobaan pH.

9. Asam Borat (Dirjen POM,1979: 49) Nama resmi Nama lain : : ACIDUM BORICUM asam borat, crystallisatum, boric acidum acid,

boracicum,boorzuur,

sedatiuum hombergii, asam borakat. Berat molekul Rumus molekul Pemerian : : : 61,83. H3BO3 hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilap berbau; tidak agak berwarna;kasar;tidak asam dan pahit

rasa

kemudian manis. Kelarutan : larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol (95 %) P dan dalam 5 bagian gliserol P. Penyimpanan Kegunaan : : dalam wadah tertutup baik. sebagai sampel dalam percobaan pH.

10. Asam Oksalat (Dirjen POM, 1979: 651) Nama resmi Nama lain Berat molekul Rumus molekul Rumus bangun : : : : : ACIDUM OXALICUM asam oksalat, oxalzuur, zuringzuur. 126,07 C2O4H2.2H2O

Pemerian Kelarutan Kegunaan

: : :

hablur; tidak berwarna. larut dalam air dan dalam etanol. sebagai sampel dalam percobaan pH.

11. Natrium Nitrit (Dirjen POM, 1979: 714) Nama resmi Nama lain : : NATRII NITRIT natrium nitrit

Berat molekul Rumus molekul Pemerian

: : :

69,00 NaNO2 hablur atau granul, tidak berwarna atau putih atau kekuningan; merapuh.

Kelarutan

larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut dalam etanol (95%) P

Kegunaan

sebagai sampel dalam percobaan larutan buffer.

C. Prosedur Kerja 1. Masukkan 1 tetes 0,1 M HCl pada plat tetes, celupkan 2 cm kertas pH universal ke dalam larutan. Keluarkan kelebihan cairan dari kertas dengan menyentuhkan ke plat. Bandingkan warna kertas dengan warna yang disediakan. Catat pH pada lembar laporan Anda (1). 2. Ulangi prosedur yang sama dengan 0.1 M asam asetat, 0,1 M natrium, 0,1 M asam karbonat, 0,1 M natrium bikarbonat, 0,1 M amonia, dan 0,1 M NaOH. Untuk setiap larutan, gunakan lubang yang berbeda dari plat tetes. Catat hasilnya pada lembar laporan (1). 3. Tergantung pada ketersediaan jumlah pH meter ini mungkin menjadi percobaan untuk satu kelas (demonstrasi), atau 6-8 praktikan dapat menggunakan satu pH meter. Tambahkan 5 ml 0,1 M asam asetat untuk sebuah gelas kimia 10 ml kering dan bersih. Masukkan elektroda kering ke dalam larutan asam asetat. pH meter Anda telah dikalibrasi oleh instruktur Anda. Switch ON pH meter dan baca pH dari posisi jarum pada skala Anda. Atau, jika Anda memiliki pH meter digital, angka yang sesuai dengan pH akan muncul. 4. Ulangi prosedur yang sama dengan natrium asetat 0,1 M, 0,1 M asam karbonat, 0,1 M natrium bikarbonat, dan ammonia 0,1 M. pastikan bahwa untuk setiap larutan Anda menggunakan gelas kimia yang kering dan bersih, dan sebelum setiap pengukuran cuci elektroda terlebih dahulu dengan air suling dan keringkan dengan kimwipes. Catat data anda pada lembar laporan (2). 5. Siapkan empat sistem buffer dalam empat gelas kimia 50 ml secara terpisah, berlabel, kering, dan bersih, sebagai berikuut: a. b. c. 5 ml 0,1 M asam asetat + 5 ml 0,1 M natrium asetat. 1 ml 0,1 M asam asetat + 10 ml 0,1 M natrium bikarbonat 5 ml 0,1 M asam karbonat + 5 ml 0,1 M natrium bikarbonat

d.

1 ml 0,1 M asam karbonat + 10 ml 0,1 M natrium bikarbonat. Ukur pH setiap sistem buffer dengan bantuan kertas pH universal. Catat data Anda pada lembar laporan. (3), (6), (9), dan (12).

6.

Bagi masing-masing buffer Anda (a-d) menjadi dua bagian (masing-masing 5 ml) dan masukkan ke dalam gelas kimia 10 ml yang kering dan bersih. Untuk sampel pertama dari buffer (a), tambahkan 0,5 ml 0,1 M HCl. Campur dan ukur pH dengan bantuan kertas pH universal. Catat data Anda pada lembar laporan (4). Untuk sampel kedua buffer (a), tambahkan 0,5 ml 0,1 M NaOH. Campur dan ukur pH dengan kertas pH. Merekam data Anda pada lembar laporan. (5).

7.

Ulangi pengukuran yang sama dengan buffer (b), (c), dan (d). catat data Anda pada lembar laporan.

8.

Masukkan 5 ml air suling pada dua gelas kimia 10 ml. ukur pH air suling dengan bantuan kertas pH universal. Catat data pada lembar laporan (15). Untuk sampel pertama air suling tambahkan 0,5 ml 0,1 M HCl. Campur dan ukur pH dengan bantuan kertas pH universal dan mencatatnya pada lembar laporan (16). Untuk sampel air suling yang kedua tambahkan 0,5 ml 0,1 M NaOH. Campur dan ukur pH seperti sebelumnya dan mencatatnya pada lembar laporan (17).

(Tim dosen kimia dasar, 2011: 14-15)

BAB III METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan 1. Alat Alat yang digunakan pada percobaan yakni gelas kimia (Pyrex) 3 buah, gelas ukur (Pyrex) 10 ml dan 5 ml 2 buah, gunting 1 buah, pinset 1 buah, pipet tetes 6 buah, pH meter 1 buah, rak tabung reaksi 1 buah, dan tabung reaksi (Pyrex) 8 buah. 2. Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan yakni aquades, amonium sulfat 0,1 M, asam borat 0.1 M, asam klorida 0,1 M, asam nitrit 0,1 M, asam sulfat 0,1 M, asam oksalat 0,1 M, indikator universal, kertas lakmus, kalium bromida 0,1 M, kalium klorida 0,1 M , natrium karbonat 0,1 M, dan natrium nitrit.

B. Cara Kerja 1. Percobaan pH a. b. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan Disimpan masing-masing sampel (KBr 0,1 M; (NH4)2SO4 0,1 M; H3BO3 0,1 M; H2SO4 0,1 M; Na2CO3 0,1 M; dan C2O4H2.2H2O 0,1 M) ke dalam plat tetes menggunakan pepet tetes sekitar 2 atau 3 tetes. c. Di potong kertas lakmus kecil-kecil menggunakan gunting, kemudian dimasukkan ke dalam plat tetes tadi. d. e. Di ambil perubahan warna yang terjadi dan di catat hasilnya. Kemudian masing-masing sampel di ukur pH-nya dengan

menggunakan indikator universal, lalu di catat hasilnya. f. Salah satu dari 6 sampel yang ada di ukur pH-nya dengan menggunakan pH meter dan di catat pula hasilnya.

2. Percobaan larutan penyangga (buffer) a. b. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Di ukur volume (HCl dan KCl) masing-masing 3 ml dengan menggunakan gelas ukur. c. Dicampurkan antara HCl dan KCl ke dalam gelas kimia, lalu di kocok-kocok agar larutannya dapat bercampur dengan baik. d. Di ukur kembali volume HCl dan KCl masing-masing 1 ml dan 5 ml. e. f. Di lakukan perlakuan yang sama seperti perlakuan bagian c. Di ukur pH dari sampel HCl dan KCl tadi menggunakan indikator universal. g. Dipisahkan larutan tersebut menjadi 2 bagian yang kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah di beri label (+ NaOH dan + HCl). h. i. Di simpan tabung reaksi di rak tabung reaksi. Kemudian sampel HCl dan KCl yang telah di ukur tadi, di ukur pHnya menggunakan indikator universal kemudian dilakukan perlakuan yang sama seperti bagian g. j. Dimasukkan sedikit NaOH dan HCl ke dalam tabung reaksi yang telah berisi sampel (HCl dan KCl). k. l. Di ukur pH-nya menggunakan indikator universal. Untuk mengukur pH dari sampel kedua (HNO2 dan NaNO2), dilakukan perlakuan yang sama seperti perlakuan pada sampel (HCl dan KCl)

BAB IV HASIL PENGAMATAN

A. Tabel Pengamatan. 1. Menggunakan kertas lakmus No. Sampel Lakmus Merah 1. 2. 3. 4. 5. 6. KBr 0,1 M (NH4)2SO4 0,1 M Na2CO3 0,1 M H2SO4 0,1 M H3BO3 0,1 M C2O4H2 Tetap Tetap Biru Tetap Tetap Tetap Biru Tetap Merah Tetap Merah Merah Merah Netral Asam Basa. Asam Asam Asam Asam/Netral/Basa

2. Menggunakan indikator universal. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sampel KBr 0,1 M (NH4)2SO4 0,1 M Na2CO3 0,1 M H2SO4 0,1 M H3BO3 0,1 M C2O4H2 pH 7 6 8 1 5 1

3. Menggunakan pH meter. Sampel pH

H3BO3 0,1 M 4. Larutan buffer

6,7

pH penambahan No. Larutan Buffer Klorida (3 ml HCl + 3 ml 1. KCl) Klorida (1 ml HCl + 5 ml ml KCl) Nitrit (3 ml HNO2 + 3 ml 2. NaNO2) Nitrit (1 ml HNO2 + 5 ml NaNO2) pH NaOH 1 2 HCl 0

B. Reaksi Pembentukan 1. 2. 3. 4. KBr H2SO4 H3BO3 (NH4)2SO4 NH4+ + H2O K+ + Br2H+ + SO423H+ + BO332NH4+ + SO42NH4OH + H+

SO42- tidak terhidrolisis. 5. 6. C2H2O4 Na2CO3 2H+ + C2O422Na+ + CO32HCO3 + OH-

CO32- + H2O

2Na+ tidak terhidrolisis. 7. Buffer klorida HCl a. H+ + ClBuffer klorida ditambah dengan asam (HCl) Cl- + H+ b. HCl

Buffer klorida ditambah dengan basa (NaOH) HCl + NaOH NaCl + H2O.

8.

Buffer nitrit HNO2 a. H+ + NO2HNO2 + ClNO2- + Na+ + H2O

Buffer nitrit ditambah dengan asam (HCl) NO2- + HCl

b.

Buffer nitrit ditambah dengan basa (NaOH) HNO2 + NaOH

BAB IV PEMBAHASAN

PH adalah suatu bilangan yang menyatakan keasaman atau kebasaan suatu zat yang larut dalam air. Berikut beberapa kelebihan dan kekeurangan metode-metode penentuan pH, sebagai berikut: a. Kertas lakmus Kelebihannya yakni dapat mengetahui sifat asam atau basa suatu larutan. Sedangkan kekurangannya yakni tidak dapat menentukan nilai pH suatu larutan. b. Indikator universal Kelebihan yakni dapat menentukan nilai pH. Sedangkan kekurangannya yakni tidak dapat digunakan berulang kali. c. PH meter Kelebihannya yakni dapat menentukan nilai pH secara akurat atau secara teliti. Sedangkan kekurangannya yakni harga dari pH meter cukup mahal. Perbedaan antara asam kuat dan asam lemah serta basa kuat dan basa lemah sebagai berikut: 1. Asam kuat a. Sangat korosif b. Lebih mudah terionisasi secara sempurna c. Bereaksi dengan basa kuat menghasilkan garam netral. d. Elektrolit kuat e. pKa < -1,54 (Ion hidronium/H3O+) 2. Asam lemah a. Kurang korosif b. Lebih sukar terionisasi sempurna c. Bereaksi dengan basa kuat menghasilkangaram basa d. Elektrolit lemah

e. pKa > -1,54 3. Basa kuat a. Bereaksi dengan asam kuat membentuk garam netral b. Elektrolit kuat 4. Basa lemah a. Bereaksi dengan asam kuat membentuk garam asam b. Elektrolit lemah. Berikut adalah reaksi asam, netral dan basa dari sampel pada percobaan penentuan pH : 1. Reaksi asam a. H2SO4 b. H3BO3 c. C2H2O4 d. (NH4)2SO4 2H+ + SO423H+ + BO332H+ + C2O422NH4+ + SO42-

Asam sulfat, asam borat, dan asam oksalat merupakan senyawa yang bersifat asam karena senyawa ketiga senyawa tersebut menghasilkan H+ dalam air. Senyawa amonium sulfat merupakan senyawa garam yang bersifat asam yang terdiri dari komponen basa lemah (NH4OH) dan komponen asam kuat (H2SO4). Senyawa yang dapat terhidrolisis dalam air adalah senyawa yang berasal dari komponen asam atau basa lemah. Jadi SO42- tidak dapat terhidrolisis dalam air, maka reaksinya: NH4+ + H2O NH4OH + H+

H+ tersebut menunjukkan bahwa (NH4)2SO4 bersifat asam. 2. Reaksi netral KBr K+ + Br

Kalium bromida bersifat netral karena KBr berasal dari asam kuat (HBr) dan basa kuat (KOH). HBr + KOH KBr + H2O.

3.

Reaksi basa Na2CO3 2Na+ + CO32-

Natrium karbonat merupakn senyawa garam yang bersifat basa yang terdiri dari komponen basa kuat (NaOH) dan komponen asam lemah (H2CO3). Senyawa yang dapat terhidrolisis dalam air adalah senyawa yang berasal dari komponen asam atau basa lemah. Jadi 2Na+ tidak dapat terhidrolisis dalam air, maka reaksinya: CO32- + H2O HCO3- + OH-

OH- tersebut menunjukkan bahwa Na2CO3 bersifat basa. Pada percobaan menggunakan pH meter didapatkan hasil bahwa H3BO3 memiliki pH 6,7. Jadi H3BO3 merupakan senyawa yang bersifat asam. Hal ini sesuai dengan reaksi yang ada di atas bahwa H3BO3 merupakan senyawa yang menghasilkan H+ dalam air (bersifat asam). H3BO3 merupakan senyawa asam lemah tapi relatif kuat. Buffer yang digunakan untuk obat tetes mata adalah buffer dari campuran asam lemah dihidrogen fosfat (H2PO4-) dan basa konjugasinya, yaitu monohidrogen fosfat (HPO42-). H2PO4- dan HPO42- dapat bereaksi dengan asam atau basa sehingga penyangga tersebut dapat menjaga pH darah (cairan) agar tetap konstan yaitu sekitar 7,4. Adapun cara kerja dalam percobaan ini yakni yang pertama untuk menentukan nilai pH. Untuk menentukan nilai pH yang pertama-tama, siapkan alat dan bahan yang akan digunakan, kemudian disimpan masing-masing sampel (KBr 0,1 M; (NH4)2SO4 0,1 M; Na2CO3 0,1 M; H2SO4 0,1 M, H3BO4 0,1 M dan (CO2H)2.2H2O 0,1 M). Ke dalam plat tetes. Teteskan sekitar 2 atau 3 tetes, kemudian kertas kertas lakmus di potong kecil-kecil menggunakan gunting. Hal itu dilakukan untuk menghemat penggunaan kertas lakmus. Kemudian masukkan kertas lakmus ke dalam plat tetes, kemudian amati perubahan warnanya dan catat hasilnya. Lalu masing-masing sampel di ukur pH-nya menggunakan indikator universal dan di catat hasilnya. Di ukur pH salah satu sampel menggunakan pH meter dan di catat pH-nya. Sedangkan untuk menentukan larutan buffer yakni,

pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Di ukur volume sampel pertama (HCl dan KCl) masing-masing 3 ml dengan menggunakan gelas ukur. Kemudian kedua sampel tersebut dicampur ke dalam gelas kimia dan di kocok agar larutannya dapat bercampur dengan baik. Setelah itu di ukur lagi volume dari HCl dan KCl masing-masing 1 ml dan 5 ml. kemudian campurkan kedua larutan dalam gelas kimia kedua. Kemudian larutan yang ada pada gelas kimia 1 dan gelas kimia 2 di ukur pH-nya dan di catat hasilnya. Setelah itu masing-masing sampel (HCl dan KCl 3:3 serta HCl dan KCl 1:5), dipisahkan menjadi 2 bagian kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah di beri label (+ NaOH dan + HCl). Tabung reaksi tersebut di simpan sementara di rak tabung reaksi. Setelah itu masukkan sedikit HCl dan NaOH ke dalam masingmasing sampel, setelah itu ukur pH-nya menggunakan indicator universal. Untuk menetukan nilai pH dari sampel yang kedua (HNO2 dan NaNO2), dilakukan perlakuan yang sama seperti pada sampel HCl dan KCl. Dari hasil pengamatan, diperoleh KBr adalah senyawa yang bersifat netral dengan pH 7, hal ini sesuai dengan literatur bahwa KBr merupakan senyawa yang netral yang memiliki pH 7. Natrium sulfat adalah senyawa garam yang bersifat asam yang memiliki pH 6, ini sesuai dengan literatur bahwa natrium karbonat adalah senyawa garam yang bersifat asam yang memiliki pH dibawah 7. Natrium karbonat adalah senyawa garam yang bersifat basa dan memiliki pH 8, ini sesuai dengan literatur bahwa natriumn karbonat merupakan senyawa garam yang bersifat basa dan memiliki pH di atas 7. Asam sulfat memiliki pH 1, ini sesuai dengan literatur bahwa asam sulfat memiliki pH 1. Asam oksalat memiliki pH 1, ini tidak sesuai dengan literatur karena pada literatur asam oksalat merupakan senyawa asam lemah yang artinya pH-nya sekitar 3 atau di atas 3. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor kesalahan. Asam borat memiliki pH 5, ini sesuai dengan literatur bahwa asam borat merupakan senyawa yang memiliki pH di bawah 7. Dan didapatkan pula pH asam borat yakni 6,7 dengan menggunakan pH meter. Hasil yang ditunjukkan oleh pH meter dan menggunakan kertas lakmus ternyata hasilnya berbeda. Yang disebabkan adanya faktor kesalahan.

Dari percobaan larutan buffer didapatkan pula bahwa pH buffer klorida saat HCl 0,1 M dicampurkan dengan KCl 0,1 M adalah 1. Setelah ditambahkan HCl pH-nya menjadi 0 dan yang ditambahkan NaOH pH-nya menjadi 2. Selain itu pH NaNO2 0,1 M yang dicampurkan dengan HNO2 0,1 M adalah 1. Setelah ditambahkan HCl pH-nya menjadi 0 dan ditambahkan dengan NaOH pH-nya tetap 1. Hasil yang diperoleh ini tidak sesuai dengan literatur karena larutan buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan pH-nya dari penambahan oleh asam, basa, maupun pengenceran oleh air. Sementara hasil yang diperoleh hasilnya berbeda-beda atau nilai pH-nya tidak tetap. Hal ini karena dipengaruhi oleh faktor kesalahan. Untuk larutan buffer dengan perbandingan 1:5 menghasilkan pH 1, setelah ditambahkan NaOH pH-nya menjadi 2 dan ditambah HCl pH-nya menjadi 0. Hasil ini juga tidak sesuai dengan literatur. Sama halnya dengan buffer klorida, buffer nitrit juga menunjukkan pH yang berbeda setelah ditambah NaOH dan HCl. Buffer klorida memiliki pH 4, namun setelah ditambah NaOH pH-nya menjadi 8 dan setelah di tambah HCL pH-nya menjadi 3. Menurut literatur asam kuat dan basa konjugasinya (garamnya) tidak dapat membentuk larutan penyangga. Jadi asam klorida (HCl) dan kalium klorida (KCl) tidak dapat membentuk larutan penyangga. Serta dalam percobaan diperoleh hasil bahwa pH larutan tersebut berubah-ubah atau tidak tetap. Sedangkan untuk asam lemah dan basa konjugasinya (garamnya) dapat membenntuk larutan penyangga, maka HNO2 dan NaNO2 dapat membentuk larutan penyangga. Artinya pH larutan ini akan tetap jika ditambahkan sedikit asam,basa, maupun pengencerran oleh air. Namun, hasil yang didapatkan di laboratorium ternyata berbeda. PH buffer nitrit tidak tetap atau berubah-ubah. Perbedaan hasil ini disebabkan karena adanya faktor kesalahan. Adapun faktor-faktor kesalahan dalam percobaan yakni kerusakan dari pH meter sehingga nilai pH yang ditunjukkan tidak akurat; jumlah asam (HCl) maupun basa (NaOH) yang ditambahkan terlau banyak sehingga melebihi kapasitas buffer, akibatnya tidak terjadi kesetimbangan sehingga mempengaruhi konsentrasi komponennya dan menyebabkan pH-nya berubah. Serta bahan

(sampel) yang digunakan sudah kadaluarsa atau tidak layak pakai sehingga mempengaruhi keakuratan hasil yang di peroleh. Melalui percobaan ini, dapat disimpulkan hubungan antara pH dan larutan penyangga (buffer), dengan dunia farmasi yaitu kita dapat mengetahui dan memahami kadar keasaman suatu obat dengan meggunakan sistem pengukuran pH dan dalam membuat obat, kita dapat mengetahui senyawa-senyawa yang bisa ditambahkan pada larutan obat yang kita buat. Misalnya dalam pembuatan obat tetes mata yang disesuaikan dengan pH cairan tubuh yaitu 7,4. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi iritasi pada saat menggunakan obat tetes mata tersebut. Selain itu dalam larutan buffer juga digunakan dalm pembuatan obat jarum suntik, pH obat harus disesuaikan dengan pH darah agar tidak terjadi alkalosis atau asidosis dalam darah.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, diperoleh data dengan menggunakan kertas lakmus dan indikator universal yakni KBr bersifat netral dengan pH 7, ammonium sulfat garam yang bersifat asam dengan pH 6, asam oksalat bersifat asam dengan pH 1, asam sulfat bersifat asam dengan pH 1, asam borat bersifat asam dengan pH 5, dan natrium karbonat garam yang bersifat basa dengan pH 8. Serta didapatkan pula pH dari asam borat sebesar 6,7 dengan menggunakan pH meter. Untuk percobaan larutan buffer, diperoleh data bahwa pH dari buffer klorida dan buffer nitrit berubah-ubah (tidak tetap) setelah penambahan asam maupun basa. Jadi dapat disimpulkan bahwa kedua buffer tersebut tidak baik digunakan sebagai larutan penyangga.

B. Saran 1. Untuk Laboratorium Sebaiknya alat-alat di laboratorium dilengkapi agar percobaan dapat berjalan dengan baik. 2. Untuk Asisten Sekiranya lebih memperhatikan praktikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. Kimia Larutan, Citra Aditnya Bakti: Bangdung, 1996. Day, R.A. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi keempat, Erlangga: Jakarta, 2001 Day, R.A. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi keenam, Erlangga: Jakarta, 1981. Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga, Depkes RI, Jakarta, 1979. Sastrohamidjojo, Hardjono. Kimia Dasar Edisi Kedua, Gadjah Mada Universitas Press: Yogyakarta, 2008. Sutresna, Nana. Kimia Dasar, Grafindo: Bandung, 2006. Svehla,G, dkk. Vogel bagian 1 Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimakro, Erlangga: Jakarta, 1999. Tim Dosen Kimia. Kimia Dasar, Universitas Hasanuddin, Makassar, 2003. Tim Dosen Kimia Dasar. Penuntun Praktikum Kimia Dasar, UIN Alauddin: Makassar, 2011.

LAMPIRAN
Skema Kerja 1. Penentuan pH

KBr 0,1 M

H2SO4 0,1 M

H3BO3 0,1 M

Na2CO3 0,1 M

(NH4)2SO4 0,1 M

C2H2O4 0,1 M

Diteteskan

Di ukur pH

Diamati perubahan warnanya Di catat hasilnya

2. Larutan Buffer Sampel Yang Digunakan (Buffer Klorida, Buffer Nitrit)

3:3 ( Ukur PH )

1:5 ( Ukur PH )

+ NaCl

+ NaOH

+ NaCL

+ NaOH

Diukur pH

Diukur pH

Dimasukkan pada tabel

Gambar Percobaan

H2SO4 0,1 M

Na2CO3 0,1 M

KBr 0,1 M

H2SO4 0,1 M

Na2CO3 0,1 M

KBr 0,1 M

pH awal

Setelah penambahan NaOH

Setelah penambahan HCl

Buffer klorida (3 ml HCl + 3 ml KCl)