P. 1
IPM 2009

IPM 2009

|Views: 470|Likes:
Dipublikasikan oleh agoose_putra

More info:

Published by: agoose_putra on Mar 07, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2013

Sections

PERHITUNGAN DAN ANALISIS
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

KOTA LANGSA

2 0 0 8

KERJA SAMA BADAN PUSAT STATISTIK
DAN
BAPPEDA KOTA LANGSA

SAMBUTAN

Kota Langsa sebagai daerah yang sedang berkembang
memerlukan suatu data dan indikator dalam rangka menunjang proses
perencanaan pembangunan termasuk pembangunan manusia. Salah
satu indikator keberhasilan pembangunan manusia adalah Indeks
Pembangunan Manusia (IPM).
Penyusunan buku “Perhitungan dan Analisis Indeks
Pembangunan Manusia Kota Langsa Tahun 2008” dapat memberikan
gambaran tentang indikator keberhasilan pembanguanan manusia di
Kota Langsa, seperti angka harapan hidup, angka melek huruf dan
rata-rata lama sekolah, serta tingkat daya beli masyarakat. Hasilnya
diharapkan sebagai bahan acuan dalam perencanaan pembangunan
manusia Kota Langsa di masa mendatang.
Akhirnya, semoga buku “Perhitungan dan Analisis Indeks
Pembangunan Manusia Kota Langsa Tahun 2008” dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak yang terkait, umumnya kepada masyarakat
luas. Kepada semua pihak yang telah berpastisipasi dalam penyusunan
buku ini, saya ucapkan terima kasih.

Langsa, Oktober 2009
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kota Langsa
Kepala,

IR. SAID MAHDUM MAJID

NIP. 196502041994031003

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT dan
rahmat serta hidayah-Nya, hingga tersusun buku “Perhitungan dan
Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa Tahun 2008” yang
digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan manusia di Kota
Langsa.

Berbagai kebijakan yang mengarah pada peningkatan kualitas
manusia telah ditempuh oleh Pemerintah Kota Langsa. Data yang
tersaji pada buku ini kami jadikan sebagai alat pemantauan terhadap
perkembangan pembangunan manusia di Kota Langsa serta dapat
digunakan sebagai bahan akuntabilitas publik yang mengevaluasi
kinerja pemerintah.

Kepada tim penyusun, kami ucapkan terima kasih atas daya dan
upaya dalam penyusunan buku ini. Akhirnya saran dan kritik sangat
kami harapkan untuk penyempurnaan penyusunan buku ini di masa
mendatang

Langsa, Oktober 2009
Badan Pusat Statistik
Kota Langsa
Kepala,

Mughlisuddin, SE

NIP 196904241994011001

iii

DAFTAR ISI

Halaman

SAMBUTAN

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

v

DAFTAR GAMBAR

vi

BAB I

PENDAHULUAN

2

1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
1.4 Ruang Lingkup

2
7
7
7

BAB II

METODOLOGI

9

2.1 Metode Pengumpulan Data
2.2 Metode Pengolahan Data
2.3 Metode Analisis dan Penghitungan IPM
3.5.1 Rumus Umum IPM
3.5.2 Angka Harapan Hidup
3.5.3 Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah
3.5.4 Purchasing Power Parity (PPP)
3.5.5 Perubahan IPM
2.4 Metode Penyajian

9
10
11
12
14
17
19
23
24

BAB III GAMBARAN UMUM

28

3.1 Kondisi Geografis
3.2 Kondisi Pemerintahan
3.3 Kondisi Demografi
3.4 Kondisi Ketenagakerjaan
3.5 Kondisi Perekonomian
3.5.1 Struktur Ekonomi
3.5.2 Pertumbuhan Ekonomi

28
30
32
36
38
38
45

BAB IV INDIKATOR KESEHATAN

52

BAB V

INDIKATOR PENDIDIKAN

55

5.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat
5.2 Angka Melek Huruf
5.3 Rata-rata Lama Sekolah

56
57
58

BAB VI INDIKATOR DAYA BELI

61

6.1 Pengeluaran Konsumsi Per Kapita
6.2 Daya Beli Penduduk

61
64

iv

Halaman

BAB VII PERKEMBANGAN IPM

67

7.1 Indeks Pembangunan Manusia
7.2 Shortfall IPM

67
70

BAB VIII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

75

8.1 Kesimpulan
8.2 Implikasi Kebijakan
8.2.1 Identifikasi Permasalahan Pembangunan
8.2.2 Strategi dan Sasaran Pembangunan Manusia
8.2.3 Arah Kebijakan Pembangunan Manusia

75
76
76
78
80

v

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Nilai Ekstrim Komponen Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) yang Digunakan dalam Penghitungan

13

Tabel 2.2 Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk
Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS)

19

Tabel 3.1 Luas Wilayah Kota Langsa per Kecamatan

30

Tabel 3.2 Jumlah dan Tingkat Kepadatan Penduduk
di Kota Langsa Tahun 2008

32

Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Usia Produktif
di Kota Langsa Tahun 2008

33

Tabel 3.4 Jumlah Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja
di Kota Langsa Tahun 2008

37

Tabel 3.5 Ringkasan Indikator Ketenagakerjaan
Kota Langsa Tahun 2008

38

Tabel 3.6 Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB Kota Langsa Atas
Dasar Harga Berlaku
Menurut Sektor, 2003-2008 (persen)

44

Tabel 3.7 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Langsa Menurut Sektor,
2003–2008 (persen)

49

Tabel 5.1 Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut
Pendidikan Tertinggi dan Jenis Kelamin di Kota Langsa
Tahun 2006-2007

54

Tabel 6.1 Pendapatan Per Kapita Kota Langsa Tahun 2003-2008

63

Tabel 6.2 Pengeluaran Per Kapita Riil Disesuaikan
Kota Langsa Tahun 2004-2008

65

Tabel 8.1

Tabel 8.2

Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Lima Tahunan
Kota Langsa

Strategi Pembangunan Jangka Panjang Lima Tahunan
Kota Langsa

81

84

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 3.1 Piramida Penduduk Kota Langsa Tahun 2008

35

Gambar 3.2

Perkembangan Kontribusi Sektor Tersier Terhadap
Perekonomian Kota Langsa Tahun 2003-2008 (persen)

39

Gambar 3.3

Perkembangan Kontribusi Sektor Sekunder Terhadap
Perekonomian Kota Langsa Tahun 2003-2008 (persen)

41

Gambar 3.4

Perkembangan Kontribusi Sektor Primer Terhadap
Perekonomian Kota Langsa Tahun 2003-2008 (persen)

42

Gambar 3.5

Gambar 3.6

Struktur Perekonomian Kota Langsa Tahun 2008
(persen)

Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kota Langsa
Tahun 2003-2008

45

47

Gambar 4.1 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Kota Langsa 2004-2008

53

Gambar 5.1 Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut
Pendidikan Tertinggi dan Jenis Kelamin di Kota Langsa
Tahun 2008

57

Gambar 5.2 Perkembangan Angka Melek Huruf Penduduk Umur 15
Tahun ke Atas di Kota Langsa Tahun 2004-2008
(Persen)

58

Gambar 5.3 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Penduduk
Umur 15 Tahun ke Atas di Kota Langsa Tahun 2004-
2008 (Tahun)

59

Gambar 6.1 Pendapatan Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku di
Kota Langsa, 2003-2008

62

Gambar 7.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Langsa,
2004-2008

67

Gambar 7.2 Perkembangan Indeks Harapan Hidup, Indeks
Pendidikan, dan Indeks Daya Beli di Kota Langsa, 2004-
2007

69

vii

Gambar 7.3 Perbandingan Angka IPM dan ShortfallKabupaten/Kota
se-NAD

70

I. PENDAHULAUAN

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

2

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan

manusia

(human

development)
merupakan suatu paradigm yang menempatkan manusia
sebagai titik sentral sehingga setiap upaya pembangunan
mempunyai ciri dari, oleh, dan untuk rakyat. Dalam
kerangka ini maka pembangunan daerah ditujukan untuk
meningkatkan partisipasi penduduk dalam semua proses
pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah
melakukan upaya peningkatan kualitas penduduk sebagai
sumber daya baik dari aspek fisik (kesehatan), intelektualitas
(pendidikan), kesejahteraan ekonomi (berdaya beli) maupun
moralitas (iman dan takwa). Hal ini sesuai dengan tujuan
pembangunan yang termaktub dalam UUD 1945, yaitu

“memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa”, secara implicit juga mengandung makna
pemberdayaan manusia.
Dalam perspektif the United Nations Development
Programme
(UNDP), pembangunan manusia (human
development)
dirumuskan sebagai perluasan pilihan bagi
penduduk (enlarging the choices of people), yang dapat dilihat
sebagai proses upaya ke arah “perluasan pilihan” dan
sekaligus sebagai taraf yang dicapai dari upaya tersebut
(UNDP, 1990). Pada saat yang sama pembangunan manusia

I

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

3

dapat dilihat juga sebagai pembangunan (formation)
kemampuan manusia melalui perbaikan taraf kesehatan,
pengetahuan dan ketrampilan; sekaligus sebagai
pemanfaatan (utilization) kemampuan/ketrampilan mereka
tersebut.

Konsep pembangunan di atas jauh lebih luas
pengertiannya dibandingkan konsep pembangunan ekonomi
yang menekankan pada pertumbuhan (economic growth),
kebutuhan dasar (basic needs), kesejahteraan masyarakat
(social welfare), atau pembangunan sumber daya manusia
(human resource development). Karena konsep pembangunan
UNDP mengandung empat unsur yaitu: produktivitas

(productivity),

pemerataan

(equity),

kesinambungan

(sustainability), dan pemberdayaan (empowerment).
Pembangunan manusia dapat juga dilihat dari sisi
pelaku atau sasaran yang ingin dicapai. Dalam kaitan ini
UNDP melihat pembangunan manusia sebagai semacam
“model” pembangunan tentang penduduk, untuk penduduk,
dan oleh penduduk:

a. tentang penduduk; berupa investasi di bidang
pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial
lainnya;
b. untuk penduduk; berupa penciptaan peluang
kerja melalui perluasan (pertumbuhan) ekonomi
dalam negeri; dan
c. oleh penduduk; berupa upaya pemberdayaan
(empowerment) penduduk dalam menentukan

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

4

harkat manusia dengan cara berpartisipasi dalam
proses politik dan pembangunan.
Untuk melihat sejauh mana capaian pembangunan
manusia di suatu daerah, maka kehidupan masyarakat perlu
dipantau perkembangannya. Pemantauan dimaksud adalah
untuk mengevaluasi kemajuan hasil pembangunan. Selain
itu, juga sebagai kerangka akuntabilitas publik untuk
mengevaluasi kinerja pemerintah daerah sebagai
penyelenggara pemerintahan di tingkat kabupaten/kota.
Bidang kehidupan yang perlu dipantau meliputi seluruh
aspek kehidupan masyarakat, baik yang berkaitan dengan
individu dalam hal kelangsungan hidup secara individu
(kebutuhan dasar, kesehatan dan KB), tumbuh kembang
(pendidikan, gizi), partisipasi (ketenaga-kerjaan, politik),
perlindungan (kesejahteraan sosial, hukum dan ketertiban),
maupun yang berkaitan dengan wilayah seperti
kependudukan, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi.
Berbagai indikator dapat digunakan untuk memantau
kemajuan pembangunan di suatu daerah, baik indikator
ekonomi maupun indikator sosial. Dalam konteks
masyarakat sebagai obyek pembangunan, maka diperlukan
suatu

indikator

untuk

mengukur perkembangan
kehidupan/tingkat kesejahteraan masyarakat itu sendiri.
Jika ingin melihat tingkat kesejahteraan dari segi ekonomi
dalam arti umum, PDRB lebih tepat digunakan. Jika ingin
melihat gambaran kesejahteraan gambaran tingkat
kesejahteraan sosial dalam arti lebih sempit, IMH (Indeks

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

5

Mutu Hidup) lebih tepat digunakan, karena indikator IMH
hanya mempertimbangkan variabel-variabel sosial saja.
Sedangkan jika ingin melihat gambaran tingkat
kesejahteraan sosial dan ekonomi dalam arti luas IPM
(Indeks Pembangunan Manusia) tampaknya paling tepat
digunakan, karena IPM mempertimbangkan variabel-variabel
sosial dan ekonomi.

UNDP sejak tahun 1990 menggunakan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index
(HDI)
untuk mengukur keberhasilan atau kinerja
(performence) suatu negara atau daerah dalam bidang
pembangunan manusia.
Konsep pembangunan manusia memiliki dimensi yang

sangat luas. Menurut UNDP upaya ke arah “perluasan
pilihan” hanya mungkin dapat direalisasikan jika penduduk

paling tidak memiliki: peluang berumur panjang dan sehat,
pengetahuan ketrampilan yang memadai, dan peluang untuk
merealisasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kegiatan
yang produktif (misalnya dapat bekerja dan memperoleh
“uang” sehingga memiliki daya beli). Dengan kata lain,
tingkat pemenuhan ketiga unsur tersebut minimal sudah
dapat merefleksikan tingkat keberhasilan pembangunan
manusia suatu negara/daerah.
Untuk mengukur tingkat pemenuhan ketiga unsur di
atas, UNDP menyusun suatu indeks komposit berdasarkan
pada 3 (tiga) indicator, yaitu: Angka Harapan Hidup (life
expectancy at age o:
eo), Angka melek huruf penduduk

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

6

dewasa (adult literacy rate: Lit) dan Rata-rata lama sekolah
(mean years of schooling: MYS), serta Purchasing Power Parity
(merupakan ukuran pendapatan yang sudah disesuaikan
dengan paritas daya beli). Indikator pertama mengukur
“umur panjang dan sehat”, dua indikator berikutnya
mengukur “pengetahuan dan ketrampilan”, sedangkan

indikator terakhir mengukur kemampuan dalam mengakses
sumber daya ekonomi dalam arti luas. Ketiga indikator inilah
yang digunakan sebagai komponen dalam penyusunan
IPM/HDI.

Pengukuran tingkat pemenuhan ketiga indikator di atas
dilakukan dengan sistem pengukuran yang dipakai oleh
UNDP dalam menyusun IPM global. Hal ini didorong harapan
agar indeks yang dihasilkan terbanding secara nasional
maupun internasional.
Bagi daerah-daerah yang relatif baru seperti Kota
Lubuklinggau, kegiatan penyusunan IPM memiliki peran
sangat strategis dalam perencanaan pembangunan regional
khususnya pembangunan manusia. Dalam evaluasi
pembangunan manusia, IPM ini dapat diamati
perkembangannya setiap periode sehingga dapat diketahui
seberapa besar percepatan pembangunan manusia antar
periode. Di sisi lain, secara cross section IPM juga dapat
diperbandingkan antar wilayah untuk melihat posisi relatif
pembangunan manusia suatu wilayah terhadap wilayah lain.

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

7

1.2 Tujuan

Kegiatan

perhitungan

dan

analisis

Indeks
Pembangunan Manusia Kota Langsa bertujuan untuk
melihat kondisi pembanguanan manusia dan diharapkan
mampu tersaji sebagai perbandingan kinerja pembangunan
manusia antar waktu dan antar daerah.

1.3 Manfaat

Beberapa manfaat penting yang dapat diperoleh dari
perhitungan dan analisis Indeks Pembangunan Manusia
Kota Langsa adalah sebagai berikut:
1. Sebagai bahan Laporan Pembangunan Manusia
(Human Development Report) di Kota Langsa,
2. Sebagai alat bantu pemerintah dalam rangka
melakukan

perencanaan

dan

evaluasi

pembangunan daerah,
3. Sebagai bahan akuntabilitas publik terhadap
kinerja pemerintah daerah khususnya dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan
4. Sebagai basis data dan data acuan bagi pihak lain
yang berkepentingan.

1.4 Ruang Lingkup

Ruang lingkup bahasan dalam penyusunan publikasi
ini adalah wilayah administratif Kota Langsa.

II. METODOLOGI

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

9

METODOLOGI

2.1 Metode Pengumpulan Data

Informasi yang dicakup dalam kegiatan penyusunan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Lubuklinggau
adalah data sekunder yang diperoleh dari lembaga, institusi
maupun instansi pemerintah yang relevan. Data-data
tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Indiktor Kesehatan, yang meliputi angka harapan
hidup dan IMR, dengan data dasar adalah jumlah
wanita usia subur 15-49 tahun (wus), status
perkawinan wus, jumlah anak lahir hidup maupun
anak lahir mati dari wus, dan life table model
western dari UN (United Nations).
2. Indikator Pendidikan, yang meliputi rata-rata lama
sekolah (mean years school) dan angka melek huruf
(literacy rate), dengan data pokok jumlah penduduk
yang bersekolah, pendidikan tertinggi yang
ditamatkan, dan kemampuan baca tulis penduduk.
3. Indikator Daya Beli, yang meliputi indeks kemahalan
dan paritas daya beli yang menggunakan data
pokok:
a. Pengeluaran konsumsi makanan maupun non
makanan oleh penduduk

II

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

10

b. Harga 27 paket komoditi dasar di Kota
Lubuklinggau dan di Kota Palembang sebagai
pembanding.
Penggunaan harga-harga komoditi di Kota
Palembang

sebagai

angka

pembanding
dimaksudkan agar dapat terlihat kewajaran harga-
harga dari 27 komoditi tersebut, mengingat Kota
Palembang sebagai pusat perekonomian di wilayah
Propinsi Sumatera Selatan.
Tingkat daya beli penduduk menggambarkan
kondisi relatif daya beli antar wilayah dan antar
waktu. Sehubungan dengan hal tersebut daya beli
penduduk ini ahrus diadjust dengan komponen
lain seperti indeks harga dan indeks kemahalan
melalui formula atkinson. Angka daya beli yang
dihasilkan

tidak

dapat

diinterpretasikan
berdasarkan angka nominalnya, melainkan harus
diinterpretasikan

secara

riil

dengan

membandingkan antar wilayah dan antar waktu.
Harga 27 paket komoditi yang dimaksud di sini
adalah komoditi terpilih untuk menghitung paritas
daya beli.

2.2 Metode Pengolahan Data

Setelah tahap pengumpulan data selesai, tahap
berikutnya adalah pengolahan data. Pengolahan data

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

11

dilakukan dengan menggunakan cara manual dan dengan
bantuan komputer atau software.
- Tahap pertama pengolahan data, metode yang
digunakan adalah secara manual (pra komputer).
Pengolahan data secara manual ini terdiri atas tahap
pemeriksaan (verification) dan penyuntingan-
pengkodean (editing coding).
- Tahap kedua, setelah tahap manual selesai,
pengolahan data dilanjutkan dengan bantuan
komputer. Pada tahap ini dilakukan perekaman data
(entry data) dengan menggunakan paket program
SPSS (Statistical Program for Social Science),
pengecekan hasil entry (validasi), dan proses
tabulasi untuk mempermudah analisis.
Secara rinci tahapan dalam pengolahan data dalam

kegiatan ini adalah:
1. Data batching (pengelompokan data)
2. Pemeriksaan data hasil lapangan (verifikasi)
3. Perekaman data (entry)
4. Pengecekan konsistensi data (validasi)
5. Tabulasi

2.3 Metode Analisis dan Penghitungan IPM

Analisis yang dilakukan dalam penyusunan Indeks
Pembangunan Manusia Kota Langsa menggunakan metode
analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif
ditujukan untuk memperoleh gamabaran atau deskripsi dari

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

12

angka IPM dan berbagai indikator turunannya. Berbagai data
yang ada melalui analisis kuantitatif berupa perhitungan-
perhitunagn tertentu sangat diperlukan untuk pembentukan
indikator kesehatan, indikator pendidikan, dan indikator
daya beli sebgai pembentuk angka IPM.

2.3.1 Rumus Umum IPM

Seperti dikemukakan sebelumnya komponen IPM terdiri
dari angka harapan hidup (eo), angka melek huruf (Lit), rata-
rata lama sekolah (MYS), dan Purchasing Power Parity (PPP).
Masing-masing komponen tersebut terlebih dahulu dihitung
indeksnya sehingga bernilai antara 0 (keadaan terburuk) dan
1 (keadaan terbaik). Lebih kanjut komponen angka melek
huruf dan rata-rata lama sekolah digabung menjadi satu
sebagai indikator pendidikan dengan perbandingan 2:1.
Dalam laporan ini indeks tersebut dinyatakan dalam ratusan
(dikalikan 100) untuk mempermudah penafsiran. Teknik
penyusunan indeks tersebut pada dasarnya mengikuti
rumus sebagai berikut:

Xi – Xi min

Indeks Xi =

Xi maks – Xi min

di mana:

Xi

= Indikator ke-i (i=1,2,3)
Xi maks = Nilai maksimum Xi
Xi min

= Nilai minimum Xi

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

13

Ketiga indeks yang dihitung ini (X1,X2,X3) adalah:
1. Indeks Harapan Hidup (Indeks X1)
2. Indeks Pengetahuan (Indeks X2)
3. Indeks Daya Beli (Indeks X3)

Dengan nilai maksimum dan minimum sebagai berikut:
Tabel 2.1 Nilai Ekstrim Komponen Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang Digunakan dalam
Penghitungan

Komponen IPM (Xi)

Nilai
Maksimum

Nilai
Minimum

Angka Harapan Hidup (e0)

85

25

Angka melek Huruf (Lit)

100

0

Rata-rata Lama Sekolah (MYS)

15

0

Daya Beli (Real Per Capita
Expenditure/Real PPP Adjusted
)
(Rp 000)

792.720

360.000

Nilai maksimum dan minimum untuk komponen angka
harapan hidup, angka melek huruf dan rata-rata lama
sekolah sama seperti yang digunakan UNDP dalam
menyusun IPM global tahun 1994, kecuali untuk nilai real
PPP adj telah disesuaikan dengan keadaan negara Indonesia.
Setelah ketiga angka indeks tersebut dihasilkan, maka
dapat dihitung IPM secara global:
X1 + X2 + X3
3

IPM =

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

14

di mana:

X1 = Indeks Harapan Hidup
X2 = Indeks Pengetahuan (2/3 Indeks Melek Huruf
+ 1/3 Indeks Lama Sekolah)
X3 = Indeks Standar Hidup Layak

2.3.2 Angka Harapan Hidup

Angka harapan hidup pada waktu lahir (e0), yaitu rata-
rata jumlah tahun yang akan dijalani oleh sekelompok orang
yang dilahirkan pada suatu waktu tertentu dengan asumsi
pola mortalitas untuk setiap kelompok umur pada masa
yang akan datang tetap.

Variabel e0 diharapkan mencerminkan „lama hidup‟
sekaligus „hidup sehat‟ suatu masyarakat. Meskipun

sebenarnya angka morbiditas/kesakitan akan lebih valid

dalam mengukur „hidup sehat‟, akan tetapi hanya sedikit

negara yang memiliki data morbiditas yang dapat dipercaya,
maka variabel tersebut tidak digunakan untuk tujuan
perbandingan.

Untuk menghitung angka harapan hidup Kota
Lubuklinggau dilakukan dengan menggunakan bantuan
tabel kematian (Life Tables) dan software Mortpak-Lite. Angka
harapan hidup dihitung dengan metode tidak langsung yaitu:
Brass variant Trussel dan bantuan Life Tables model
Western. Data dasar yang digunakan untuk penghitungan
metode tidak langsung adalah “rata-rata anak lahir hidup”

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

15

dan “rata-rata anak masih hidup” dari wanita per kelompok
umur. Oleh karena itu, metode penghitungan tersebut
memerlukan data-data sebagai berikut:
1. Jumlah wanita per kelompok usia (15-19, 20-24, 25-
29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49)
2. Anak Lahir Hidup (ALH) dari wanita per kelompok
usia (15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-
49)

3. Anak Masih Hidup (AMH) dari wanita per kelompok
usia (15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-
49)

Melalui metode ini secara tidak langsung juga
menghasilkan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate-
IMR).
IMR merupakan suatu indikator kesehatan dan
kesejahteraan rakyat yang sangat penting. IMR didefinisikan
sebagai banyaknya atau tingkat kematian bayi sebelum
mencapai usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada suatu
daerah dalam waktu tertentu.
IMR dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Jika angka IMR < 40 (Hard Rock), berarti tingkat
kesehatan dan kesejahteraan ibu yang melahirkan
baik, namun pada level ini sangat sulit diupayakan
penurunan angka IMR-nya.
2. Jika angka IMR antara 40-70 (Intermediate Rock),
berarti tingkat kesehatan dan kesejahteraan ibu
yang melahirkan sedang (agak baik), namun pada

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

16

level ini agak sulit diupayakan penurunan angka
IMR-nya.
3. Jika angka IMR > 70 (Soft Rock), berarti tingkat
kesehatan dan kesejahteraan ibu yang melahirkan
buruk, namun pada level ini cukup mudah
diupayakn penurunan angka IMR-nya.
Adapun tahapan yang dilakukan untuk memperoleh
Angka Harapan Hidup adalah sebagai berikut:
1. Cari jumlah wanita per kelompok usia; 15-19, 20-
24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49 (Wi)
2. Cari jumlah anak lahir hidup dari wanita per
kelompok usia; 15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39,
40-44, 45-49 (ALHi)
3. Cari jumlah anak masih hidup dari wanita per
kelompok usia; 15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39,
40-44, 45-49 (AMHi)
4. Cari Pi = ALHi/∑Wi (i = kelompok umur)
5. Cari Si = AMHi/∑Wi (i = kelompok umur)
6. Cari Di = 1- (Si/Pi) (i = kelompok umur)
7. Cari xQ0 = Di x Ki (Ki untuk setiap kelompok umur
diperoleh dari table Trussel)
8. Cari IMR dari xQ0 untuk kelompok umur 20-24, 25-
29, 30-34 dengan bantuan Life Tables model
Western

9. Cari rata-rata ketiga IMR tersebut (=IMR)
10. Cari level dari IMR dengan bantuan Life Tables
model Western

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

17

11. Dari level yang diperoleh maka akan diperoleh pula

e0.

2.3.3 Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah

Untuk mengukur dimensi pengetahuan BPS
menggunakan kombinasi angka melek huruf dan rata-rata
lama sekolah penduduk dewasa (15 tahun ke atas). Kedua
indikator pendidikan ini diharapkan mencerminkan tingkat
pengetahuan dan ketrampilan penduduk.
Angka melek huruf didefinisikan sebagai mampu
membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya. Angka
ini diolah dari variabel kemampuan baca tulis Susenas kor.
Pentingnya angka melek huruf (Lit) sebagai komponen IPM
tidak banyak diperdebatkan. Permasalahannya hanya
sebatas kepekaan Lit sebagai ukuran dimensi pengetahuan
karena dinilai angkanya sudah cukup tinggi di semua
wilayah Indonesia. Dampak kelemahan tersebut berkurang
dengan dimasukkannya variabel rata-rata lama sekolah
(MYS) dalam penghitungan indeks pendidikan (IP) yang
menurut UNDP dihitung dengan cara sebagai berikut:

IP = 2/3 Indeks Lit + 1/3 Indeks MYS

Rata-rata lama sekolah dihitung dengan menggunakan
dua variabel dasar dalam kuesioner Kor-Susenas, yaitu kelas
tertinggi yang pernah/sedang diduduki dan pendidikan
tertinggi yang ditamatkan. Penghitungan MYS dilakukan

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

18

dengan cara penghitungan tidak langsung. Langkah pertama

adalah memberikan bobot variabel „pendidikan tertinggi yang
ditamatkan‟ kemudian langkah selanjutnya menghitung rata-
rata tertimbang dari variabel tersebut sesuai bobotnya.
Secara sederhana prosedur penghitungan tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut:

10

fi * LSi

i=1

MYS =

10

fi

i=1

di mana:
MYS

= rata-rata lama sekolah

fi

= frekuensi penduduk untuk jenjang
pendidikan i

Si

= skor untuk masing-masing jenjang
pendidikan i

LSi

= 0 (bila tidak/belum pernah sekolah)

LSi

= Si (bila tamat)

LSi

= Si + kelas yang diduduki-1 (bila masih
bersekolah dan pernah tamat)

LSi

= kelas yang diduduki-1 (bila jenjang yang
diduduki SD/SR)

i

= jenjang pendidikan (1,2,3,....,11)

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

19

Tabel 2.2. Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk
Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS)

Jenjang Pendidikan

Skor

(1)

(2)

1. Tidak/belum pernah sekolah
2. SD/MI/sederajat
3. SLTP/MTs/sederajat/Kejuruan
4. SMU/MA/sederajat
5. SM Kejuruan
6. Diploma I
7. Diploma II
8. Diploma III/Sarjana Muda
9. Diploma IV/S1
10. S2
11. S3

0
6
9
12
12
13
14
15
16
18
21

2.3.4 Purchasing Power Parity (PPP)

Dengan dimasukkannya variabel PPP sebagai ukuran

“paritas daya beli”, IPM secara konseptual jelas lebih
“lengkap” dalam merefleksikan taraf pembangunan manusia

daripada IMH atau PQLI. Karena IMH yang tinggi hanya
merefleksikan kondisi masyarakat yang memiliki peluang
hidup panjang (dan sehat) serta tingkat pendidikan (dan
ketrampilan) yang memadai. Menurut UNDP kondisi tersebut
belum memberikan gambaran yang ideal karena belum
memasukkan aspek peluang kerja/berusaha yang memadai
sehingga memperoleh sejumlah “uang” yang memiliki daya
beli (purchasing power). Pemenuhan kebutuhan seperti itulah
yang dicoba diukur dengan PPP.

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

20

Komponen standar hidup layak dihitung dengan rata-
rata konsumsi riil per kapita yang telah disesuaikan dengan
metode Atkinson. UNDP dalam menyusun IPM global,
menggunakan PDB per kapita untuk mengukur standar
hidup layak. Untuk kepentingan penghitungan IPM
Kabupaten/Kota, BPS tidak menggunakan pendapatan per
kapita. Alasannya pendapatan per kapita hanya mengukur
produksi suatu wilayah tidak mencerminkan daya beli riil
masyarakat yang merupakan fokus perhatian IPM. Sebagai
penggantinya BPS menggunakan indikator dasar rata-rata
pengeluaran per kapita.
Data pengeluaran per kapita dihitung dari data Susenas
KOR yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga
menjamin keterbandingan antar waktu dan antar wilayah di
Indonesia. Dalam tahapan penyesuaian ini dihitung juga

indeks kemahalan dengan tujuan menstandarkan nilai “beli
atau manfaat” rupiah di seluruh Indonesia dan didiscount
dengan formula Atkinson. Proses ini cukup penting,
ilustrasinya adalah bahwa kenaikan Rp 50.000,- bagi
kabupaten/kota yang memiliki pengeluaran per kapita RP
100.000,- akan memiliki nilai “beli” atau nilai “manfaat” yang
berbeda dengan kenaikan yang sama bagi kabupaten/kota
yang memiliki pengeluaran per kapita Rp 500.000,-
Secara garis besar, proses penyesuaian untuk
menghitung angka indeks daya beli adalah sebagai berikut:
1. Menghitung pengeluaran konsumsi per kapita dari
Susenas KOR (=A)

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

21

A =

Pengeluaran seluruh penduduk untuk barang dan
jasa
Jumlah seluruh penduduk

2. Menyesuaikan nilai A (mark-up) dengan data Susenas
modul sekitar 20 persen(=B). Penyesuaian ini
diperlukan karena data pengeluaran hasil survey,
dalam hal ini data konsumsi Susenas KOR
cenderung under estimate.

B = 1,2 x A
3. Mendeflasikan nilai B dengan IHK/Indeks Harga
Konsumsen (=C). Bagi daerah yang tidak memiliki
data inflasi, IHK bias didekati dengan IHK ibukota
propinsi (jika dekat) atau inflasi PDRB.

C =

B
IHK

4. Menghitung daya beli per unit (=PPP/unit) yang
disebut dengan indeks kemahalan. Indeks
kemahalan

(PPP/unit)

dimaksudkan

untuk
menstandarkan nilai rupiah di semua wilayah
Indonesia. Oleh karena itu, berdasarkan standar
baku penghitungan IPM secara nasional digunakan
harga-harga pada wilayah Jakarta Selatan sebagai
pembanding. Penghitungan PPP/unit dilakukan
sesuai rumus:

E(i,j)

j

PPP/Unit =

p(9,j) q(i,j)

j

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

22

di mana:
E(i,j) = Total pengeluaran untuk komoditi j di
kab/kota
p(9,j) = Harga komoditi j di Jakarta Selatan
q(i,j) = Total komoditi j (unit) yang di konsumsi di
kab/kota

5. Membagi nilai C dengan PPP/unit (=D)
6. Menyesuaikan (mendiscount) nilai D dengan formula
Atkinson sebagai upaya untuk memperkirakan nilai
marginal utility dari D (riil/PPPadj) (=D*). Rumus
Atkinson yang digunakan untuk penyesuaian rata-
rata konsumsi riil secara matematis dapat
dinyatakan sebagai berikut:

D(i)* = D(i)

jika D(i) Z

= Z+2(D(i) –Z)(1/2)

jika Z

= Z+2(Z)(1/2) +3(D(i)-2Z)1/3

jika 2Z = Z+2(Z)(1/2)+3(Z)(1/3)+4(D(i)-2Z)(1/4) jika 3Z

dimana:
D(i) = konsumsi per kapita riil yang telah disesuaikan
dengan PPP/unit (hasil tahapan 6)
Z = threshold atau tingkat pendapatan tertentu
yang digunakan sebagai batas kecukupan
(biasanya menggunakan garis kemiskinan) yang
dalam laporan ini Z ditetapkan sebesar Rp.
1.500,- per kapita sehari atau Rp. 547.500,- per
kapita setahun

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

23

2.3.5 Perubahan IPM

Pencapaian pembangunan manusia dapat dilihat dari

dua segi:

1. Kecepatan Perubahan IPM (“Shortfall”)
Kecepatan perubahan IPM dalam suatu periode
dapat dilihat dari angka “shortfall”. Angka tersebut
mengukur rasio pencapaian kesenjangan antara

“jarak yang sudah ditempuh” dengan yang “harus
ditempuh” untuk mencapai kondisi yang ideal

(IPM=100). Semakin tinggi angka shortfall, semakin
cepat kenaikan IPM. Secara formulasi reduksi
sortfall (r) adalah:

IPM t1 – IPM t0
R = x100
IPM ref – IPM t0

di mana:

IPM t0 = IPM tahun dasar
IPM t1 = IPM tahun terakhir
IPM ref = IPM acuan atau ideal yang dalam hal
ini sama dengan 100
2. Meningkatnya status pembangunan manusia
berdasarkan klasifikasi berikut:

Nilai IPM

Status Pembangunan
Manusia

< 50
50 IPM < 66
66 IPM < 80
80

Rendah
Menengah bawah
Menengah atas
Tinggi

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

24

2.4 Metode Penyajian

Penyajian data merupakan salah satu hal yang sangat
penting dalam penyusunan publikasi atau buku. Hal ini
berkaitan dengan kemudahan para pengguna atau
konsumen publikasi IPM Kota Langsa. Penyajian data dalam
penyusunan IPM ini akan berbentuk tulisan, grafik, dan
tabel. Penyajian isi materi akan disajikan secara terstruktur
dengan rincian sebagai berikut:

BAB I

PENDAHULUAN
Pada bagian pertama ini akan dijelaskan tentang
latar belakang, maksud, tujuan, dan ruang
lingkup dari penghitungan dan analisis IPM Kota
Langsa.

BAB II

METODOLOGI
Bagian ke dua ini menjelaskan berbagai metode
atau teknik yang digunakan dalam pengumpulan
data, pengolahan data, berbagai formulasi
penghitungan indikator, dan metode analisis.

BAB III

GAMBARAN UMUM WILAYAH
Bagian ke tiga ini menjelaskan secara ringkas
mengenai kondisi wilayah Kota Langsa, seperti
kondisi geografis, musim, pemerintahan,
kependudukan, perekonomian, dan sosial
budaya.

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

25

BAB IV

INDIKATOR KESEHATAN
Bagian ke empat ini merupakan bagian awal dari
substansi pblikasi IPM. Dalam bagian ini akan
dijelaskan secara rinci mengenai kondisi
kesehatan penduduk berdasarkan relevansinya
dengan penghitungan IPM, seperti kematian bayi
dan angka harapan hidup.

BAB V

INDIKATOR PENDIDIKAN
Bagian ini akan menjelaskan secara rinci
mengenai kondisi pendidikan masyarakat
berdasarkan relevansinya dengan penghitungan
IPM, seperti tingkat pendidikan penduduk, rata-
rata lama sekolah, dan angka melek huruf.

BAB VI

INDIKATOR DAYA BELI
Bagian ini merupakan bagian terakhir dari
substansi publikasi IPM. Di bagian ini akan
dijelaskan kondisi daya beli masyarakat
berdasarkan relevansinya dengan penghitungan
IPM, seperti variabel pengeluaran konsumsi
penduduk dan daya beli penduduk.

BAB VII PERKEMBANGAN IPM
Bagian ke tujuh ini merupakan bagian pokok
karena di dalamnya akan dijelaskan mengenai
kondisi pembangunan manusia di Kota Langsa
yang ditunjukkan oleh indikator IPM beserta

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

26

kecepatan perubahan pembangunan manusia
(shortfall).

BAB VIII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
Bagian penutup ini berisi tentang kesimpulan
hasil berbagai penghitungan indikator beserta
model

implikasi

kebijakan

yang

akan
direkomendasikan kepada Pemerintah Kota
Langsa.

III. GAMBARAN UMUM

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

28

GAMBARAN UMUM

Kota Langsa merupakan salah satu daerah daerah
otonom baru dalam Provinsi Naggroe Aceh Darussalam
(NAD). Kota Langsa pemekaran dari Kabupaten induknya
yaitu Kabupaten Aceh Timur yang dibentuk dengan Undang-
undang No. 3 Tahun 2001, tanggal 21 Juni dan
peresmiannya dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 17
Oktober 2001 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden
Republik Indonesia.

3.1 Kondisi Geografis

Kota Langsa adalah salah satu Kota setingkat
Kabupaten yang berada di wilayah Timur Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam. Terletak pada posisi Utara Pulau
Sumatera, yaitu 04⁰24’35,68” - 04⁰33’47,03” Lintang Utara
dan 97⁰53’14,59” - 98⁰04’42,16” Bujur Timur.
Kota Langsa secara administratife memiliki batas

sebagai berikut:

Sebelah Utara

: Berbatasan dengan Kabupaten Aceh
Timur dan Selat Malaka
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Aceh
Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang

Sebelah Barat

: Berbatasan dengan Kabupaten Aceh
Timur

III

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

29

Kota Langsa terletak pada dataran aluviasi pantai
dengan elevasi berkisar 8 meter dari permukaan laut. Di
bagian Barat Daya dan Selatan dibatasi oleh pegunungan
lipatan bergelombang sedang, dengan elevasi berkisar 75
meter, sedangkan di bagian Timur merupkan endapan rawa-
rawa dengan penyebaran cukup luas. Kota Langsa juga
mempunyai dataran rendah dan bergelombang, sungai-
sungai dengan iklim basah. Curah hujan rata-rata berkisar
1.850 – 4.013 mm pertahun setara dengan suhu udara
antara 28⁰C - 30⁰C. Wilayah Kota Langsa berada pada
ketinggian antara 0 – 25 meter dpl (di bawah permukaan
laut).

Luas wilayah Kota Langsa berdasarkan undang-
undang No. 3 Tahun 2001 seluas 262,41 Km² ata 26.241 Ha
yang meliputi 3 wilayah Kecamatan, 6 Kelurahan, dan 45
Desa, dimana tahun 2007 terjadi pemekaran wilayah
menjadi 5 wilayah Kecamatan dengan rincian perwilayah
kecamatan sebagai berikut:

Sebelah Timur

: Berbatasan dengan Kabupaten Aceh
Tamiang.

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

30

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->