PERHITUNGAN DAN ANALISIS INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA

KOTA LANGSA

2008

KERJA SAMA BADAN PUSAT STATISTIK DAN BAPPEDA KOTA LANGSA

SAMBUTAN
Kota Langsa sebagai daerah yang sedang berkembang

memerlukan suatu data dan indikator dalam rangka menunjang proses perencanaan pembangunan termasuk pembangunan manusia. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penyusunan buku “Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa Tahun 2008” dapat memberikan gambaran tentang indikator keberhasilan pembanguanan manusia di Kota Langsa, seperti angka harapan hidup, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, serta tingkat daya beli masyarakat. Hasilnya diharapkan sebagai bahan acuan dalam perencanaan pembangunan manusia Kota Langsa di masa mendatang. Akhirnya, semoga buku “Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa Tahun 2008” dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait, umumnya kepada masyarakat luas. Kepada semua pihak yang telah berpastisipasi dalam penyusunan buku ini, saya ucapkan terima kasih. Langsa, Oktober 2009

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Langsa Kepala,

IR. SAID MAHDUM MAJID

NIP. 196502041994031003

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT dan rahmat serta hidayah-Nya, hingga tersusun buku “Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa Tahun 2008” yang digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan manusia di Kota Langsa. Berbagai kebijakan yang mengarah pada peningkatan kualitas manusia telah ditempuh oleh Pemerintah Kota Langsa. Data yang tersaji pada buku ini kami jadikan sebagai alat pemantauan terhadap perkembangan pembangunan manusia di Kota Langsa serta dapat digunakan sebagai bahan akuntabilitas publik yang mengevaluasi kinerja pemerintah. Kepada tim penyusun, kami ucapkan terima kasih atas daya dan upaya dalam penyusunan buku ini. Akhirnya saran dan kritik sangat kami harapkan untuk penyempurnaan penyusunan buku ini di masa mendatang Langsa, Oktober 2009 Badan Pusat Statistik Kota Langsa Kepala,

Mughlisuddin, SE NIP 196904241994011001

DAFTAR ISI Halaman SAMBUTAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Manfaat 1.4 Ruang Lingkup METODOLOGI 2.1 Metode Pengumpulan Data 2.2 Metode Pengolahan Data 2.3 Metode Analisis dan Penghitungan IPM 3.5.1 Rumus Umum IPM 3.5.2 Angka Harapan Hidup 3.5.3 Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah 3.5.4 Purchasing Power Parity (PPP) 3.5.5 Perubahan IPM 2.4 Metode Penyajian GAMBARAN UMUM 3.1 Kondisi Geografis 3.2 Kondisi Pemerintahan 3.3 Kondisi Demografi 3.4 Kondisi Ketenagakerjaan 3.5 Kondisi Perekonomian 3.5.1 Struktur Ekonomi 3.5.2 Pertumbuhan Ekonomi INDIKATOR KESEHATAN INDIKATOR PENDIDIKAN 5.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat 5.2 Angka Melek Huruf 5.3 Rata-rata Lama Sekolah INDIKATOR DAYA BELI 6.1 Pengeluaran Konsumsi Per Kapita 6.2 Daya Beli Penduduk i ii iii v vi 2 2 7 7 7 9 9 10 11 12 14 17 19 23 24 28 28 30 32 36 38 38 45 52 55 56 57 58 61 61 64

BAB II

BAB III

BAB IV BAB V

BAB VI

iii

Halaman BAB VII PERKEMBANGAN IPM 7.1 Indeks Pembangunan Manusia 7.2 Shortfall IPM KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1 Kesimpulan 8.2 Implikasi Kebijakan 8.2.1 Identifikasi Permasalahan Pembangunan 8.2.2 Strategi dan Sasaran Pembangunan Manusia 8.2.3 Arah Kebijakan Pembangunan Manusia 67 67 70 75 75 76 76 78 80

BAB VIII

iv

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Nilai Ekstrim Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang Digunakan dalam Penghitungan Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Luas Wilayah Kota Langsa per Kecamatan Jumlah dan Tingkat Kepadatan Penduduk di Kota Langsa Tahun 2008 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Usia Produktif di Kota Langsa Tahun 2008 Jumlah Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja di Kota Langsa Tahun 2008 Ringkasan Indikator Ketenagakerjaan Kota Langsa Tahun 2008 Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB Kota Langsa Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Sektor, 2003-2008 (persen) Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Langsa Menurut Sektor, 2003–2008 (persen) Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi dan Jenis Kelamin di Kota Langsa Tahun 2006-2007 Pendapatan Per Kapita Kota Langsa Tahun 2003-2008 Pengeluaran Per Kapita Riil Disesuaikan Kota Langsa Tahun 2004-2008 Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Lima Tahunan Kota Langsa Strategi Pembangunan Jangka Panjang Lima Tahunan Kota Langsa 13 19 30 32 33 37

Tabel 3.5

38

Tabel 3.6

44 49

Tabel 3.7

Tabel 5.1

54 63 65 81 84

Tabel 6.1 Tabel 6.2 Tabel 8.1 Tabel 8.2

v

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Piramida Penduduk Kota Langsa Tahun 2008 Perkembangan Kontribusi Sektor Tersier Terhadap Perekonomian Kota Langsa Tahun 2003-2008 (persen) Perkembangan Kontribusi Sektor Sekunder Terhadap Perekonomian Kota Langsa Tahun 2003-2008 (persen) Perkembangan Kontribusi Sektor Primer Terhadap Perekonomian Kota Langsa Tahun 2003-2008 (persen) Struktur Perekonomian Kota Langsa Tahun 2008 (persen) Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Kota Langsa Tahun 2003-2008 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Langsa 2004-2008 Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi dan Jenis Kelamin di Kota Langsa Tahun 2008 Perkembangan Angka Melek Huruf Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas di Kota Langsa Tahun 2004-2008 (Persen) Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas di Kota Langsa Tahun 20042008 (Tahun) Pendapatan Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku di Kota Langsa, 2003-2008 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Langsa, 2004-2008 Perkembangan Indeks Harapan Hidup, Indeks Pendidikan, dan Indeks Daya Beli di Kota Langsa, 20042007 35 39 41 42

Gambar 3.5 Gambar 3.6 Gambar 4.1 Gambar 5.1

45 47 53

57

Gambar 5.2

58

Gambar 5.3

59 62 67

Gambar 6.1 Gambar 7.1 Gambar 7.2

69

vi

Gambar 7.3

Perbandingan Angka IPM dan ShortfallKabupaten/Kota se-NAD

70

vii

I. PENDAHULAUAN

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

PENDAHULUAN

I

1.1 Latar Belakang Pembangunan manusia (human development)

merupakan suatu paradigm yang menempatkan manusia sebagai titik sentral sehingga setiap upaya pembangunan mempunyai ciri dari, oleh, dan untuk rakyat. Dalam kerangka ini maka pembangunan daerah ditujukan untuk meningkatkan partisipasi penduduk dalam semua proses pembangunan. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah melakukan upaya peningkatan kualitas penduduk sebagai sumber daya baik dari aspek fisik (kesehatan), intelektualitas (pendidikan), kesejahteraan ekonomi (berdaya beli) maupun moralitas (iman dan takwa). Hal ini sesuai dengan tujuan pembangunan yang termaktub dalam UUD 1945, yaitu “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”, secara implicit juga mengandung makna pemberdayaan manusia. Dalam Programme perspektif (UNDP), the United Nations Development (human pembangunan manusia

development) dirumuskan sebagai perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging the choices of people), yang dapat dilihat sebagai proses upaya ke arah “perluasan pilihan” dan sekaligus sebagai taraf yang dicapai dari upaya tersebut (UNDP, 1990). Pada saat yang sama pembangunan manusia

2

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dapat

dilihat

juga dan

sebagai

pembangunan sekaligus

(formation) sebagai

kemampuan manusia melalui perbaikan taraf kesehatan, pengetahuan tersebut. Konsep pembangunan di atas jauh lebih luas pengertiannya dibandingkan konsep pembangunan ekonomi yang menekankan pada pertumbuhan (economic growth), kebutuhan dasar (basic needs), kesejahteraan masyarakat (social welfare), atau pembangunan sumber daya manusia (human resource development). Karena konsep pembangunan UNDP mengandung empat unsur yaitu: produktivitas (productivity), pemerataan (equity), kesinambungan ketrampilan; pemanfaatan (utilization) kemampuan/ketrampilan mereka

(sustainability), dan pemberdayaan (empowerment). Pembangunan manusia dapat juga dilihat dari sisi pelaku atau sasaran yang ingin dicapai. Dalam kaitan ini UNDP melihat pembangunan manusia sebagai semacam “model” pembangunan tentang penduduk, untuk penduduk, dan oleh penduduk: a. tentang penduduk; berupa investasi di bidang pendidikan, lainnya; b. untuk penduduk; berupa penciptaan peluang kerja melalui perluasan (pertumbuhan) ekonomi dalam negeri; dan c. oleh penduduk; berupa penduduk upaya dalam pemberdayaan menentukan (empowerment) kesehatan, dan pelayanan sosial

3

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

harkat manusia dengan cara berpartisipasi dalam proses politik dan pembangunan. Untuk melihat sejauh mana capaian pembangunan manusia di suatu daerah, maka kehidupan masyarakat perlu dipantau perkembangannya. Pemantauan dimaksud adalah untuk mengevaluasi kemajuan hasil pembangunan. Selain itu, juga sebagai kerangka akuntabilitas publik untuk mengevaluasi kinerja pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan di tingkat kabupaten/kota. Bidang kehidupan yang perlu dipantau meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik yang berkaitan dengan individu dalam hal kelangsungan hidup secara individu (kebutuhan dasar, kesehatan dan KB), tumbuh kembang (pendidikan, gizi), partisipasi (ketenaga-kerjaan, politik), perlindungan (kesejahteraan sosial, hukum dan ketertiban), maupun yang berkaitan dengan wilayah seperti kependudukan, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi. Berbagai indikator dapat digunakan untuk memantau kemajuan pembangunan di suatu daerah, baik indikator ekonomi suatu maupun indikator indikator untuk sosial. mengukur Dalam konteks masyarakat sebagai obyek pembangunan, maka diperlukan perkembangan kehidupan/tingkat kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Jika ingin melihat tingkat kesejahteraan dari segi ekonomi dalam arti umum, PDRB lebih tepat digunakan. Jika ingin melihat gambaran kesejahteraan gambaran tingkat kesejahteraan sosial dalam arti lebih sempit, IMH (Indeks

4

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Mutu Hidup) lebih tepat digunakan, karena indikator IMH hanya mempertimbangkan jika ingin variabel-variabel melihat sosial saja. Sedangkan gambaran tingkat

kesejahteraan sosial dan ekonomi dalam arti luas IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tampaknya paling tepat digunakan, karena IPM mempertimbangkan variabel-variabel sosial dan ekonomi. UNDP (HDI) sejak tahun 1990 menggunakan atau Indeks kinerja Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index untuk mengukur keberhasilan (performence) suatu negara atau daerah dalam bidang pembangunan manusia. Konsep pembangunan manusia memiliki dimensi yang sangat luas. Menurut UNDP upaya ke arah “perluasan pilihan” hanya mungkin dapat direalisasikan jika penduduk paling tidak memiliki: peluang berumur panjang dan sehat, pengetahuan ketrampilan yang memadai, dan peluang untuk merealisasikan pengetahuan yang dimiliki dalam kegiatan yang produktif (misalnya dapat bekerja dan memperoleh “uang” sehingga memiliki daya beli). Dengan kata lain, tingkat pemenuhan ketiga unsur tersebut minimal sudah dapat merefleksikan tingkat keberhasilan pembangunan manusia suatu negara/daerah. Untuk mengukur tingkat pemenuhan ketiga unsur di atas, UNDP menyusun suatu indeks komposit berdasarkan pada 3 (tiga) indicator, yaitu: Angka Harapan Hidup (life expectancy at age o: eo), Angka melek huruf penduduk

5

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dewasa (adult literacy rate: Lit) dan Rata-rata lama sekolah (mean years of schooling: MYS), serta Purchasing Power Parity (merupakan ukuran pendapatan yang sudah disesuaikan dengan paritas daya beli). Indikator pertama mengukur “umur panjang dan sehat”, dan dua indikator berikutnya sedangkan mengukur “pengetahuan ketrampilan”,

indikator terakhir mengukur kemampuan dalam mengakses sumber daya ekonomi dalam arti luas. Ketiga indikator inilah yang digunakan sebagai komponen dalam penyusunan IPM/HDI. Pengukuran tingkat pemenuhan ketiga indikator di atas dilakukan dengan sistem pengukuran yang dipakai oleh UNDP dalam menyusun IPM global. Hal ini didorong harapan agar indeks yang dihasilkan terbanding secara nasional maupun internasional. Bagi daerah-daerah yang relatif baru seperti Kota Lubuklinggau, kegiatan penyusunan IPM memiliki peran sangat strategis dalam perencanaan pembangunan regional khususnya pembangunan manusia, manusia. IPM ini Dalam dapat evaluasi diamati pembangunan

perkembangannya setiap periode sehingga dapat diketahui seberapa besar percepatan pembangunan manusia antar periode. Di sisi lain, secara cross section IPM juga dapat diperbandingkan antar wilayah untuk melihat posisi relatif pembangunan manusia suatu wilayah terhadap wilayah lain.

6

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

1.2 Tujuan Kegiatan Pembangunan perhitungan Manusia Kota dan Langsa analisis bertujuan Indeks untuk

melihat kondisi pembanguanan manusia dan diharapkan mampu tersaji sebagai perbandingan kinerja pembangunan manusia antar waktu dan antar daerah. 1.3 Manfaat Beberapa manfaat penting yang dapat diperoleh dari perhitungan dan analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa adalah sebagai berikut: 1. Sebagai bahan Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report) di Kota Langsa, 2. Sebagai alat bantu pemerintah dalam rangka evaluasi terhadap dalam melakukan 3. Sebagai kinerja bahan perencanaan akuntabilitas daerah dan publik

pembangunan daerah, pemerintah khususnya

meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan 4. Sebagai basis data dan data acuan bagi pihak lain yang berkepentingan. 1.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup bahasan dalam penyusunan publikasi ini adalah wilayah administratif Kota Langsa.

7

II. METODOLOGI

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

METODOLOGI

II

2.1 Metode Pengumpulan Data Informasi yang dicakup dalam kegiatan penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Lubuklinggau adalah data sekunder yang diperoleh dari lembaga, institusi maupun instansi pemerintah yang relevan. Data-data tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut: 1. Indiktor Kesehatan, yang meliputi angka harapan hidup dan IMR, dengan data dasar adalah jumlah wanita usia subur 15-49 tahun (wus), status perkawinan wus, jumlah anak lahir hidup maupun anak lahir mati dari wus, dan life table model western dari UN (United Nations). 2. Indikator Pendidikan, yang meliputi rata-rata lama sekolah (mean years school) dan angka melek huruf (literacy rate), dengan data pokok jumlah penduduk yang bersekolah, pendidikan tertinggi yang ditamatkan, dan kemampuan baca tulis penduduk. 3. Indikator Daya Beli, yang meliputi indeks kemahalan dan paritas daya beli yang menggunakan data pokok: a. Pengeluaran konsumsi makanan maupun non makanan oleh penduduk

9

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

b.Harga

27

paket

komoditi

dasar

di

Kota

Lubuklinggau dan di Kota Palembang sebagai pembanding. Penggunaan Palembang harga-harga sebagai komoditi angka di Kota pembanding

dimaksudkan agar dapat terlihat kewajaran hargaharga dari 27 komoditi tersebut, mengingat Kota Palembang sebagai pusat perekonomian di wilayah Propinsi Sumatera Selatan. Tingkat daya beli penduduk menggambarkan kondisi relatif daya beli antar wilayah dan antar waktu. Sehubungan dengan hal tersebut daya beli penduduk ini ahrus diadjust dengan komponen lain seperti indeks harga dan indeks kemahalan melalui formula atkinson. Angka daya beli yang dihasilkan tidak dapat secara diinterpretasikan riil dengan berdasarkan angka nominalnya, melainkan harus diinterpretasikan membandingkan antar wilayah dan antar waktu. Harga 27 paket komoditi yang dimaksud di sini adalah komoditi terpilih untuk menghitung paritas daya beli. 2.2 Metode Pengolahan Data Setelah berikutnya tahap adalah pengumpulan pengolahan data selesai, tahap data

data.

Pengolahan

10

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dilakukan dengan menggunakan cara manual dan dengan bantuan komputer atau software. - Tahap pertama pengolahan data, metode yang digunakan adalah secara manual (pra komputer). Pengolahan data secara manual ini terdiri atas tahap pemeriksaan - Tahap kedua, (verification) setelah dan penyuntinganmanual dengan selesai, bantuan pengkodean (editing coding). tahap pengolahan data dilanjutkan

komputer. Pada tahap ini dilakukan perekaman data (entry data) dengan menggunakan paket program SPSS (Statistical hasil Program entry for Social dan Science), proses pengecekan (validasi),

tabulasi untuk mempermudah analisis. Secara rinci tahapan dalam pengolahan data dalam kegiatan ini adalah: 1. Data batching (pengelompokan data) 2. Pemeriksaan data hasil lapangan (verifikasi) 3. Perekaman data (entry) 4. Pengecekan konsistensi data (validasi) 5. Tabulasi 2.3 Metode Analisis dan Penghitungan IPM Analisis yang dilakukan dalam penyusunan Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif ditujukan untuk memperoleh gamabaran atau deskripsi dari

11

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

angka IPM dan berbagai indikator turunannya. Berbagai data yang ada melalui analisis kuantitatif berupa perhitunganperhitunagn tertentu sangat diperlukan untuk pembentukan indikator kesehatan, indikator pendidikan, dan indikator daya beli sebgai pembentuk angka IPM. 2.3.1 Rumus Umum IPM Seperti dikemukakan sebelumnya komponen IPM terdiri dari angka harapan hidup (eo), angka melek huruf (Lit), ratarata lama sekolah (MYS), dan Purchasing Power Parity (PPP). Masing-masing komponen tersebut terlebih dahulu dihitung indeksnya sehingga bernilai antara 0 (keadaan terburuk) dan 1 (keadaan terbaik). Lebih kanjut komponen angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah digabung menjadi satu sebagai indikator pendidikan dengan perbandingan 2:1. Dalam laporan ini indeks tersebut dinyatakan dalam ratusan (dikalikan 100) untuk mempermudah penafsiran. Teknik penyusunan indeks tersebut pada dasarnya mengikuti rumus sebagai berikut:  Xi – Xi min  Indeks Xi di mana: Xi Xi maks Xi min = Indikator ke-i (i=1,2,3) = Nilai maksimum Xi = Nilai minimum Xi =  Xi maks – Xi min 

12

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Ketiga indeks yang dihitung ini (X1,X2,X3) adalah: 1. Indeks Harapan Hidup (Indeks X1) 2. Indeks Pengetahuan (Indeks X2) 3. Indeks Daya Beli (Indeks X3) Dengan nilai maksimum dan minimum sebagai berikut: Tabel 2.1 Nilai Ekstrim Komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang Digunakan dalam Penghitungan Komponen IPM (Xi) Angka Harapan Hidup (e0) Angka melek Huruf (Lit) Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Daya Beli (Real Per Capita Expenditure/Real PPP Adjusted) (Rp 000) Nilai Maksimum 85 100 15 Nilai Minimum 25 0 0

792.720

360.000

Nilai maksimum dan minimum untuk komponen angka harapan hidup, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah sama seperti yang digunakan UNDP dalam menyusun IPM global tahun 1994, kecuali untuk nilai real PPP adj telah disesuaikan dengan keadaan negara Indonesia. Setelah ketiga angka indeks tersebut dihasilkan, maka dapat dihitung IPM secara global: X1 + X2 + X3 3

IPM =

13

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

di mana: X1 = Indeks Harapan Hidup X2 = Indeks Pengetahuan (2/3 Indeks Melek Huruf + 1/3 Indeks Lama Sekolah) X3 = Indeks Standar Hidup Layak

2.3.2 Angka Harapan Hidup Angka harapan hidup pada waktu lahir (e0), yaitu ratarata jumlah tahun yang akan dijalani oleh sekelompok orang yang dilahirkan pada suatu waktu tertentu dengan asumsi pola mortalitas untuk yang akan datang tetap. Variabel e0 diharapkan mencerminkan „lama hidup‟ sekaligus „hidup sehat‟ suatu masyarakat. Meskipun sebenarnya angka morbiditas/kesakitan akan lebih valid dalam mengukur „hidup sehat‟, akan tetapi hanya sedikit negara yang memiliki data morbiditas yang dapat dipercaya, maka variabel tersebut tidak digunakan untuk tujuan perbandingan. Untuk menghitung angka harapan hidup Kota Lubuklinggau dilakukan dengan menggunakan bantuan tabel kematian (Life Tables) dan software Mortpak-Lite. Angka harapan hidup dihitung dengan metode tidak langsung yaitu: Brass variant Trussel dan bantuan Life Tables model Western. Data dasar yang digunakan untuk penghitungan metode tidak langsung adalah “rata-rata anak lahir hidup” setiap kelompok umur pada masa

14

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dan “rata-rata anak masih hidup” dari wanita per kelompok umur. Oleh karena itu, metode penghitungan tersebut memerlukan data-data sebagai berikut: 1. Jumlah wanita per kelompok usia (15-19, 20-24, 2529, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49) 2. Anak Lahir Hidup (ALH) dari wanita per kelompok usia (15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 4549) 3. Anak Masih Hidup (AMH) dari wanita per kelompok usia (15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 4549) Melalui IMR). metode ini secara tidak langsung juga dan menghasilkan angka kematian bayi (Infant Mortality RateIMR merupakan suatu indikator kesehatan kesejahteraan rakyat yang sangat penting. IMR didefinisikan sebagai banyaknya atau tingkat kematian bayi sebelum mencapai usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada suatu daerah dalam waktu tertentu. IMR dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu: 1. Jika angka IMR < 40 (Hard Rock), berarti tingkat kesehatan dan kesejahteraan ibu yang melahirkan baik, namun pada level ini sangat sulit diupayakan penurunan angka IMR-nya. 2. Jika angka IMR antara 40-70 (Intermediate Rock), berarti tingkat kesehatan dan kesejahteraan ibu yang melahirkan sedang (agak baik), namun pada

15

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

level ini agak sulit diupayakan penurunan angka IMR-nya. 3. Jika angka IMR > 70 (Soft Rock), berarti tingkat kesehatan dan kesejahteraan ibu yang melahirkan buruk, namun pada level ini cukup mudah diupayakn penurunan angka IMR-nya. Adapun tahapan yang dilakukan untuk memperoleh Angka Harapan Hidup adalah sebagai berikut: 1. Cari jumlah wanita per kelompok usia; 15-19, 2024, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49 (Wi) 2. Cari jumlah anak lahir hidup dari wanita per kelompok usia; 15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49 (ALHi) 3. Cari jumlah anak masih hidup dari wanita per kelompok usia; 15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49 (AMHi) 4. Cari Pi = ALHi/∑Wi 5. Cari Si = AMHi/∑Wi 6. Cari Di = 1- (Si/Pi) 7. Cari xQ0 = Di x Ki (i = kelompok umur) (i = kelompok umur) (i = kelompok umur) (Ki untuk setiap kelompok umur

diperoleh dari table Trussel) 8. Cari IMR dari xQ0 untuk kelompok umur 20-24, 2529, 30-34 dengan bantuan Life Tables model Western 9. Cari rata-rata ketiga IMR tersebut (=IMR) 10. Cari level dari IMR dengan bantuan Life Tables model Western

16

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

11. Dari level yang diperoleh maka akan diperoleh pula e0 . 2.3.3 Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah Untuk mengukur dimensi pengetahuan BPS

menggunakan kombinasi angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah penduduk dewasa (15 tahun ke atas). Kedua indikator pendidikan ini diharapkan mencerminkan tingkat pengetahuan dan ketrampilan penduduk. Angka melek huruf didefinisikan sebagai mampu membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya. Angka ini diolah dari variabel kemampuan baca tulis Susenas kor. Pentingnya angka melek huruf (Lit) sebagai komponen IPM tidak banyak diperdebatkan. Permasalahannya hanya sebatas kepekaan Lit sebagai ukuran dimensi pengetahuan karena dinilai angkanya sudah cukup tinggi di semua wilayah Indonesia. Dampak kelemahan tersebut berkurang dengan dimasukkannya variabel rata-rata lama sekolah (MYS) dalam penghitungan indeks pendidikan (IP) yang menurut UNDP dihitung dengan cara sebagai berikut: IP = 2/3 Indeks Lit + 1/3 Indeks MYS Rata-rata lama sekolah dihitung dengan menggunakan dua variabel dasar dalam kuesioner Kor-Susenas, yaitu kelas tertinggi yang pernah/sedang diduduki dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Penghitungan MYS dilakukan

17

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dengan cara penghitungan tidak langsung. Langkah pertama adalah memberikan bobot variabel „pendidikan tertinggi yang ditamatkan‟ kemudian langkah selanjutnya menghitung ratarata tertimbang dari variabel tersebut sesuai bobotnya. Secara sederhana prosedur penghitungan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
10

 fi * LSi
i=1

MYS =
10

 fi
i=1

di mana: MYS fi Si LSi LSi LSi LSi i = rata-rata lama sekolah = frekuensi penduduk untuk jenjang pendidikan i = skor untuk masing-masing jenjang pendidikan i = 0 (bila tidak/belum pernah sekolah) = Si (bila tamat) = Si + kelas yang diduduki-1 (bila masih bersekolah dan pernah tamat) = kelas yang diduduki-1 (bila jenjang yang diduduki SD/SR) = jenjang pendidikan (1,2,3,....,11)

18

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tabel 2.2. Jenjang Pendidikan dan Skor yang Digunakan untuk Menghitung Rata-rata Lama Sekolah (MYS) Jenjang Pendidikan
(1)

Skor
(2)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Tidak/belum pernah sekolah SD/MI/sederajat SLTP/MTs/sederajat/Kejuruan SMU/MA/sederajat SM Kejuruan Diploma I Diploma II Diploma III/Sarjana Muda Diploma IV/S1

0 6 9 12 12 13 14 15 16 18 21

10. S2 11. S3

2.3.4 Purchasing Power Parity (PPP) Dengan dimasukkannya variabel PPP sebagai ukuran “paritas daya beli”, IPM secara konseptual jelas lebih “lengkap” dalam merefleksikan taraf pembangunan manusia daripada IMH atau PQLI. Karena IMH yang tinggi hanya merefleksikan kondisi masyarakat yang memiliki peluang hidup panjang (dan sehat) serta tingkat pendidikan (dan ketrampilan) yang memadai. Menurut UNDP kondisi tersebut belum memberikan gambaran yang ideal karena belum memasukkan aspek peluang kerja/berusaha yang memadai sehingga memperoleh sejumlah “uang” yang memiliki daya beli (purchasing power). Pemenuhan kebutuhan seperti itulah yang dicoba diukur dengan PPP. 19

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Komponen standar hidup layak dihitung dengan ratarata konsumsi riil per kapita yang telah disesuaikan dengan metode Atkinson. UNDP dalam menyusun IPM global, menggunakan PDB per kapita untuk mengukur standar hidup layak. Untuk kepentingan penghitungan IPM Kabupaten/Kota, BPS tidak menggunakan pendapatan per kapita. Alasannya pendapatan per kapita hanya mengukur produksi suatu wilayah tidak mencerminkan daya beli riil masyarakat yang merupakan fokus perhatian IPM. Sebagai penggantinya BPS menggunakan indikator dasar rata-rata pengeluaran per kapita. Data pengeluaran per kapita dihitung dari data Susenas KOR yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga menjamin keterbandingan antar waktu dan antar wilayah di Indonesia. Dalam tahapan penyesuaian ini dihitung juga indeks kemahalan dengan tujuan menstandarkan nilai “beli atau manfaat” rupiah di seluruh Indonesia dan didiscount dengan formula Atkinson. Proses ini cukup penting, ilustrasinya adalah bahwa kenaikan Rp 50.000,- bagi kabupaten/kota yang memiliki pengeluaran per kapita RP 100.000,- akan memiliki nilai “beli” atau nilai “manfaat” yang berbeda dengan kenaikan yang sama bagi kabupaten/kota yang memiliki pengeluaran per kapita Rp 500.000,Secara garis besar, proses penyesuaian untuk menghitung angka indeks daya beli adalah sebagai berikut: 1. Menghitung pengeluaran konsumsi per kapita dari Susenas KOR (=A)

20

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

A=

Pengeluaran seluruh penduduk untuk barang dan jasa Jumlah seluruh penduduk

2. Menyesuaikan nilai A (mark-up) dengan data Susenas modul dalam sekitar hal ini 20 persen(=B). konsumsi Penyesuaian Susenas ini KOR diperlukan karena data pengeluaran hasil survey, data cenderung under estimate. B = 1,2 x A 3. Mendeflasikan nilai B dengan IHK/Indeks Harga Konsumsen (=C). Bagi daerah yang tidak memiliki data inflasi, IHK bias didekati dengan IHK ibukota propinsi (jika dekat) atau inflasi PDRB. C= disebut
B IHK

4. Menghitung daya beli per unit (=PPP/unit) yang dengan indeks rupiah kemahalan. dimaksudkan di semua Indeks untuk wilayah kemahalan (PPP/unit) nilai

menstandarkan

Indonesia. Oleh karena itu, berdasarkan standar baku penghitungan IPM secara nasional digunakan harga-harga pada wilayah Jakarta Selatan sebagai pembanding. sesuai rumus:  E(i,j)
j

Penghitungan

PPP/unit

dilakukan

PPP/Unit =  p(9,j) q(i,j)
j

21

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

di mana: E(i,j) = Total pengeluaran untuk komoditi j di kab/kota p(9,j) = Harga komoditi j di Jakarta Selatan q(i,j) = Total komoditi j (unit) yang di konsumsi di kab/kota 5. Membagi nilai C dengan PPP/unit (=D) 6. Menyesuaikan (mendiscount) nilai D dengan formula Atkinson sebagai upaya untuk memperkirakan nilai marginal utility dari D (riil/PPPadj) (=D*). Rumus Atkinson yang digunakan untuk penyesuaian ratarata konsumsi riil secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: D(i)* = D(i) = Z+2(D(i) –Z)(1/2) = Z+2(Z)(1/2) +3(D(i)-2Z)1/3 = Z+2(Z)(1/2)+3(Z)(1/3)+4(D(i)-2Z)(1/4) dimana: D(i) Z = konsumsi per kapita riil yang telah disesuaikan dengan PPP/unit (hasil tahapan 6) = threshold yang atau tingkat sebagai pendapatan tertentu batas kecukupan digunakan jika D(i)  Z jika Z<D(i)2Z jika 2Z<D(i)3Z jika 3Z<D(i)4Z

(biasanya menggunakan garis kemiskinan) yang dalam laporan ini Z ditetapkan sebesar Rp. 1.500,- per kapita sehari atau Rp. 547.500,- per kapita setahun

22

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

2.3.5 Perubahan IPM Pencapaian pembangunan manusia dapat dilihat dari dua segi: 1. Kecepatan Perubahan IPM (“Shortfall”) Kecepatan perubahan IPM dalam suatu periode dapat dilihat dari angka “shortfall”. Angka tersebut mengukur rasio pencapaian kesenjangan antara “jarak yang sudah ditempuh” dengan yang “harus ditempuh” cepat untuk mencapai kondisi IPM. Secara yang ideal (IPM=100). Semakin tinggi angka shortfall, semakin kenaikan formulasi reduksi sortfall (r) adalah: IPM t1 – IPM t0 R = IPM di mana: IPM t0 IPM t1 IPM
ref ref

x100 – IPM t0

= IPM tahun dasar = IPM tahun terakhir = IPM acuan atau ideal yang dalam hal ini sama dengan 100 status pembangunan manusia

2. Meningkatnya

berdasarkan klasifikasi berikut: Nilai IPM < 50 50  IPM < 66 66  IPM < 80  80 Status Pembangunan Manusia Rendah Menengah bawah Menengah atas Tinggi

23

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

2.4 Metode Penyajian Penyajian data merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam penyusunan publikasi atau buku. Hal ini berkaitan dengan kemudahan para pengguna atau konsumen publikasi IPM Kota Langsa. Penyajian data dalam penyusunan IPM ini akan berbentuk tulisan, grafik, dan tabel. Penyajian isi materi akan disajikan secara terstruktur dengan rincian sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Pada bagian pertama ini akan dijelaskan tentang latar belakang, maksud, tujuan, dan ruang lingkup dari penghitungan dan analisis IPM Kota Langsa. BAB II METODOLOGI Bagian ke dua ini menjelaskan berbagai metode atau teknik yang digunakan dalam pengumpulan data, pengolahan data, berbagai formulasi penghitungan indikator, dan metode analisis. BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH Bagian ke tiga ini menjelaskan secara ringkas mengenai kondisi wilayah Kota Langsa, seperti kondisi budaya. geografis, musim, pemerintahan, dan sosial kependudukan, perekonomian,

24

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

BAB IV

INDIKATOR KESEHATAN Bagian ke empat ini merupakan bagian awal dari substansi pblikasi IPM. Dalam bagian ini akan dijelaskan secara rinci mengenai kondisi kesehatan penduduk berdasarkan relevansinya dengan penghitungan IPM, seperti kematian bayi dan angka harapan hidup.

BAB V

INDIKATOR PENDIDIKAN Bagian ini akan kondisi menjelaskan pendidikan secara rinci mengenai masyarakat

berdasarkan relevansinya dengan penghitungan IPM, seperti tingkat pendidikan penduduk, ratarata lama sekolah, dan angka melek huruf. BAB VI INDIKATOR DAYA BELI Bagian ini merupakan kondisi variabel bagian beli terakhir dari substansi publikasi IPM. Di bagian ini akan dijelaskan IPM, daya masyarakat konsumsi berdasarkan relevansinya dengan penghitungan seperti pengeluaran penduduk dan daya beli penduduk. BAB VII PERKEMBANGAN IPM Bagian ke tujuh ini merupakan bagian pokok karena di dalamnya akan dijelaskan mengenai kondisi pembangunan manusia di Kota Langsa yang ditunjukkan oleh indikator IPM beserta

25

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

kecepatan perubahan pembangunan manusia (shortfall). BAB VIII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Bagian penutup ini berisi tentang kesimpulan hasil berbagai penghitungan indikator beserta model Langsa. implikasi kebijakan kepada yang akan Kota direkomendasikan Pemerintah

26

III. GAMBARAN UMUM

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

GAMBARAN UMUM

III

Kota Langsa merupakan salah satu daerah daerah otonom baru dalam Provinsi Naggroe Aceh Darussalam (NAD). Kota Langsa pemekaran dari Kabupaten induknya yaitu Kabupaten Aceh Timur yang dibentuk dengan Undangundang No. 3 Tahun 2001, tanggal 21 Juni dan peresmiannya dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2001 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia. 3.1 Kondisi Geografis Kota Aceh Langsa adalah Terletak salah pada satu posisi Kota setingkat Pulau

Kabupaten yang berada di wilayah Timur Provinsi Nanggroe Darussalam. Utara Sumatera, yaitu 04⁰ 24’35,68” - 04⁰ 33’47,03” Lintang Utara dan 97⁰ 53’14,59” - 98⁰ 04’42,16” Bujur Timur. Kota Langsa secara administratife memiliki batas sebagai berikut:  Sebelah Utara  Sebelah Selatan  Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan Selat Malaka : Berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Tamiang : Berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur

28

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

 Sebelah Timur

: Berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tamiang.

Kota Langsa terletak pada dataran aluviasi pantai dengan elevasi berkisar 8 meter dari permukaan laut. Di bagian Barat Daya dan Selatan dibatasi oleh pegunungan lipatan bergelombang sedang, dengan elevasi berkisar 75 meter, sedangkan di bagian Timur merupkan endapan rawarawa dengan penyebaran cukup luas. Kota Langsa juga mempunyai dataran rendah dan bergelombang, sungaisungai dengan iklim basah. Curah hujan rata-rata berkisar 1.850 – 4.013 mm pertahun setara dengan suhu udara antara 28⁰ C - 30⁰ C. Wilayah Kota Langsa berada pada ketinggian antara 0 – 25 meter dpl (di bawah permukaan laut). Luas wilayah Kota Langsa berdasarkan undangundang No. 3 Tahun 2001 seluas 262,41 Km² ata 26.241 Ha yang meliputi 3 wilayah Kecamatan, 6 Kelurahan, dan 45 Desa, dimana tahun 2007 terjadi pemekaran wilayah menjadi 5 wilayah Kecamatan dengan rincian perwilayah kecamatan sebagai berikut:

29

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tabel 3.1 Luas Wilayah Kota Langsa per Kecamatan No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Langsa Timur Langsa Lama Langsa Barat Langsa Baro Langsa Kota Jumlah
Sumber: Bappeda Kota Langsa

Luas Wilayah Km² 65,57 49,67 40,06 63,49 43,62 262,41 Ha 6.557 4.967 4.006 6.349 4.362 26.241

3.2 Kondisi Pemerintahan Berdasarkan Keputusan Walikota Langsa No: 5 Tahun 2007 tentang Pemekaran Kecamatan dalam Kota Langsa, secara Administrasi Kota Langsa terdiri dari: 5 ( Lima ) wilayah Kecamatan 3 ( Tiga ) wilayah Kelurahan 49 ( Empat puluh sembilan ) wilayah Desa

Rincian Kelurahan dan desa dalam masing-masing wilayah Kecamatan adalah sebagai berikut: 1. Kecamatan Langsa Timur (14 Desa) Simpang Wie Buket Pulo Matang Panyang Matang Setui Buket Rata Alue Pineung Alue Merbau Buket Meutuah Matang Cengai Cinta Raja Sukarejo Sungai Lueng Seunebuk Antara Buket Medang Ara

30

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

2. Kecamatan Langsa Lama (9 Desa) Pondok Keumuning Seulalah Pondok Pabrik Sidodadi Sidorejo (1 Kelurahan dan 8 Desa) Seuriget Paya Bujok Teungoh Paya Bujok Beuramo Simpang Lhee Lhok Banie Timbang Langsa Alue Dua Birem Puntong Paya Bujok Seulemak Pondok Kelapa (2 Kelurahan dan 8 Desa) Blang Seunibong Gampong Blang Alue Beurawe Gampong Teungoh Tualang Teungoh Gampong Meutia Gampong Daulat Gampong Jawa Paya Paseh Peukan Langsa Bujok Blang Karang Anyar Paya Bujok Tunong Gedubang Jawa Gedubang Aceh Matang Seulimeng Sungai Pauh Kuala Langsa Telaga Tujuh Gampong Baro Meurandeh Asam Peutik Baroh Langsa Lama

3. Kecamatan Langsa Barat

4. Kecamatan Langsa Baro (9 Desa) -

5. Kecamatan Langsa Kota

31

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

3.3 Kondisi Demografi Jumlah penduduk Kota Langsa pada tahun 2008 mencapai 140.267 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki sebanyak 68.175 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 72.092 jiwa. Jika dibandingkan dengan luas wilayah Kota Langsa yang seluas 262,41 km2, maka kepadatan penduduk di kota ini mencapai 534 jiwa per km2. Dari lima kecamatan yang ada di Kota Langsa, Kecamatan Langsa jiwa.
Tabel 3.2 Jumlah dan Tingkat Kepadatan Penduduk di Kota Langsa Tahun 2008 Kecamatan (1) Langsa Timur Langsa Barat Langsa Kota Langsa Lama Langsa Baro Jumlah Luas Wilayah (km2) (2) 65,57 40,06 43,62 49,67 63,49 262,41 Jumlah Penduduk (Jiwa) L (3) 6.048 14.144 18.058 11.409 18.516 68.175 P (4) 6.345 14.807 19.420 11.986 19.534 72.092 L+P (5) 12.393 28.951 37.478 23.395 38.050 140.267
Kepadatan (jiwa/km2)

Langsa

Baro

adalah

kecamatan dengan

dengan jumlah

penduduk terbanyak, mencapai 38.050 jiwa. Kecamatan Timur merupakan kecamatan penduduk paling sedikit, yaitu masing-masing hanya 12.393

(6) 188 722 858 470 598 534

Sumber: Langsa Dalam Angka 2008

32

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Kecamatan Langsa Kota memiliki tingkat kepadatan tertinggi, mencapai 858 jiwa per km2. Adapun Kecamatan Langsa Timur adalah wilayah yang memiliki tingkat kepadatan terendah, yaitu hanya 188 jiwa per km2. Komposisi penduduk Kota Langsa pada tahun 2008 untuk kelompok usia 0-14 tahun sebesar 29,42 persen. Kelompok usia 15-64 tahun 67,78 persen dan kelompok usia 65 tahun ke atas 2,80 persen. Rasio beban tanggungan (dependency ratio) sebesar 47,54 yang berarti sebanyak ± 47 penduduk usia non produktif ( usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) di Kota Langsa di tanggung oleh 100 penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun). Tingginya angka tersebut dapat menyebabkan pembangunan manusia di Kota Langsa terhambat. Hal ini dikarenakan sebagian pendapatan yang diperoleh golongan penduduk usia produktif terpaksa harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk usia non produktif.
Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Usia Produktif di Kota Langsa Tahun 2008 Kelompok Usia
(1)

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
(2) (3)

L+P
(4)

0 - 14 tahun 15 - 64 tahun 65+ tahun Tidak Terjawab Jumlah Angka Ketergantungan*)

21.133 43.443 1.953 1.646 68.175 53,14

22.064 46.258 2.013 1.757 72.092 52,05

43.197 89.701 3.966 3.403 140.267 52,58

Sumber: Kota Langsa dalam Angka 2009 Ket.:*) Penduduk dengan kelompok usia tidak terjawab tidak dimasukkan dalam penghitungan

33

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Perubahan

demografis

yang

selalu

mendapat

perhatian dalam analisis kependudukan adalah perubahan struktur umur. Perubahan struktur umur ini umumnya akibat dari menurunnya tingkat fertilitas dan mortalitas. Proporsi penduduk yang berumur muda akan mengalami penurunan, sedangkan proporsi penduduk yang berumur tua akan mengalami peningkatan. Keadaan struktur umur penduduk akan tampak jelas dengan menggunakan piramida penduduk. Piramida penduduk menggambarkan perkembangan penduduk pada setiap kelompok umur yang berbeda. Bentuk piramida penduduk dipengaruhi oleh tingkat kelahiran, tingkat kelangsungan hidup setiap kelompok umur, dan oleh perpindahan penduduk. Penduduk dengan tingkat kelahiran tinggi biasanya ditandai dengan bentuk piramida penduduk yang alasnya besar dan berangsur mengecil hingga puncak piramida. Tingkat kelahiran rendah ditandai oleh bentuk piramida dengan alas tidak begitu besar dan tidak langsung mengecil hingga puncaknya. Adapau tingkat kelangsungan hidup dan tingkat perpindahan penduduk pada setiap kelompok piramida. Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dijelaskan bahwa penduduk Kota Langsa tahun 2008 dapat digolongkan penduduk muda. Artinya, lebih banyak jumlah penduduk kelompok usia muda. umur akan mempengaruhi fluktuasi pada

34

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Sumber: BPS Kota Langsa Ket.:*) Tidak termasuk penduduk kelompok umur tidak terjawab

Batang piramida untuk kelompok umur 0-4 tahun dan 5-9 tahun masih lebih panjang dari kelompok umur lainnya, kecuali kelompok umur 15-19 tahun. Hal ini berarti fertilitas di kota ini masih cukup tinggi. Bahkan, apabila dibandingkan dengan batang piramida kelompok umur 1014 yang hampir sama, maka dapat ditafsirkan paling tidak dalam 15 tahun terakhir tidak terjadi penurunan fertilitas yang berarti. Hal lain yang menarik adalah perubahan panjang batang piramida yang cukup besar dari kelompok umur 2529 tahun ke kelompok umur 30-34 tahun untuk kedua jenis kelamin. Diduga kuat penyebabnya adalah tingginya migrasi keluar pada kelompok umur 30-34 tahun.

35

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

3.4 Kondisi Ketenagakerjaan Peningkatan jumlah penduduk di Kota Langsa

berakibat pada meningkatnya jumlah penduduk usia kerja (tenaga kerja). Dengan demikian jumlah penduduk yang memasuki angkatan kerja juga akan meningkat. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan memasuki pasar kerja, maka penciptaan dan perluasan lapangan kerja produktif diupayakan dapat terlaksanan secara mantap seirama dengan pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Dalam rangka memperluas lapangan kerja produktif dan mengurangi pengangguran, Pemerintah Kota Langsa harus mengupayakan berbagai kegiatan melalui beberapa program di bidang ketenagakerjaan. Program-program tersebut diharapkan dapat memperluas lapangan kerja maupun meningkatkan kualitas pekerja. Namun, upayaupaya tersebut harus dilakukan berkesinambungan karena pertumbuhan tenaga kerja baru yang memasuki pasar kerja ke depan akan semakin tinggi. Pada tahun 2008 jumlah penduduk usia kerja di Kota Langsa mencapai 97.646 jiwa. Secara rinci, penduduk yang bekerja sebanyak 49.351 jiwa, penganggur sebanyak 6.277 jiwa, penduduk bersekolah sebanyak 11.914, penduduk yang mengurus rumah tangga sebanyak 26.016, dan penduduk dengan kegiatan lainnya sebanyak 4.088 jiwa.

36

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tabel 3.4 Jumlah Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja di Kota Langsa Tahun 2008 Jenis Kegiatan
(1)

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
(2) (3)

Jumlah
(4)

I. Angkatan Kerja 1. Bekerja 2. Pengangguran II. Bukan Angkatan Kerja 1. Sekolah 2. Mengurus Rumah Tangga 3. Lainnya Jumlah
Sumber: BPS Kota Langsa

36.668 2.956 5.371 777 2.555 48.327

12.683 3.321 6.543 25.239 1.533 49.319

49.351 6.277 11.914 26.016 4.088 97.646

Perkembangan indikator ketenagakerjaan di suatu wilayah tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah penduduk bekerja saja. Indikator lain yang tak kalah penting untuk diamati adalah tingkat kesempatan kerja. Indikator ini menggambarkan kemampuan perekonomian wilayah dalam menyediakan daya tampung bagi penduduk yang memasuki pasar kerja. Pada tahun 2008 tingkat kesempatan kerja di Kota Langsa mencapai 86,90 persen. Hal ini berarti 86 dari 100 orang yang termasuk pekerjaan, dalam angkatan 14 kerja orang telah masih memperoleh sementara

menganggur. Kondisi ini menunjukkan bahwa pesatnya peningkatan jumlah penduduk yang terserap pasar kerja pada tahun 2007 belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja.

37

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tabel 3.5 Ringkasan Indikator Ketenagakerjaan Kota Langsa Tahun 2008 Indikator Ketenagakerjaan
(1)

L
(2)

P
(3)

L+P
(4)

1. Tingkat (TPAK)

Partisipasi

Angkatan

Kerja

81,99 92,54 7,46

32,45 73,25 26,75

56,97 88,72 11,28

2. Tingkat Kesempatan Kerja 3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Sumber: BPS Kota Langsa

3.5 3.5.1

Kondisi Perekonomian Struktur Ekonomi Struktur perekonomian menunjukkan besarnya

kontribusi masing-masing sektor ekonomi di suatu daerah. Dengan mengamati struktur perekonomian akan tampak seberapa besar kekuatan pengambilan keputusan ekonomi suatu negara atau untuk menentukan arah dan daerah. Indikator makro semacam ini sangat penting bagi sasaran kebijakan pembangunan di masa yang akan datang. Pola kegiatan ekonomi Kota Langsa sejak tahun 2003 dapat dikatakan sama. Kontribusi terbesar selalu disumbangkan oleh sektor tersier. Bahkan sampai tahun 2008 kontribusi tersebut selalu lebih dari 50 persen dan secara umum cenderung meningkat. Pada tahun 2003 kontribusi sektor tersier di Kota Langsa mencapai 53,52 persen. Sampai lima tahun berikutnya sektor ini semakin mengukuhkan dominasinya dalam perekonomian Kota Langsa dengan kontribusi mencapai 54,77 persen.

38

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Apabila dilihat dari sektor-sektor pembentuk sektor tersier, maka diketahui bahwa selama periode 2003 hingga 2008 sektor perdagangan, hotel, dan restoran mempunyai peranan paling besar, bahkan dalam struktur ekonomi Kota Langsa secara keseluruhan. Kontribusinya dalam kurun waktu tersebut pun cenderung meningkat dengan rata-rata peningkatan 0,68 persen tiap tahunnya. Kontribusi tahun 2003 mencapai 25,20 persen dan terus meningkat menjadi 28,59 persen padat tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perdagangan, hotel, dan restoran merupakan leading sector perekonomian wilayah tersebut.

Sumber: BPS Kota Langsa

Kontribusi terbesar kedua pada sektor tersier selama lima tahun terakhir diberikan oleh sektor jasa-jasa. Apabila ditinjau dari struktur perekonomian Kota Langsa secara keseluruhan, sektor jasa-jasa memberikan kontribusi terbesar ketiga setelah sektor perdagangan, hotel, dan

39

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

restoran serta sektor industri pengolahan. Namun, selama lima tahun terakhir kontribusi sektor ini cenderung menurun. Dari 17,65 persen di tahun 2003 turun sampai 14,75 persen di tahun 2008. Pada tahun 2008 kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi sebagai bagian dari sektor tersier sedikit menurun dibanding tahun 2007, dari 8,83 persen menjadi 8,66 persen. Namun, secara umum sejak tahun 2003 kontribusi sektor ini cenderung mengalami peningkatan. Adapun sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan memiliki peranan yang cenderung lima stabil tahun terhadap terakhir. perekonomian Langsa selama

Kontribusinya berkisar antara 2 sampai 3 persen. Kontribusi sektor sekunder menempati urutan kedua dalam perekonomian Kota Langsa. Namun, selama periode 2003 hingga 2008 peranan sektor sekunder cenderung stabil. Nilainya berkisar pada angka 30 persen. Hanya tahun 2004 saja yang sedikit berbeda, yaitu mencapai 31,32 persen. Sektor besar. Dalam industri pengolahan Kota sebagai Langsa salah sektor satu ini pembentuk sektor sekunder mempunyai andil yang paling perekonomian merupakan kontributor terbesar ke dua setelah sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Namun, selama periode tahun 2003 sampai 2008 kontribusinya cenderung menurun. Kontribusi pada tahun 2003 sebesar 21,32 persen dan sampai tahun 2006 bertahan di atas 20 persen, meskipun

40

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

menurun. Pada tahun 2007 kembali turun menjadi 19,17 persen dan sedikit naik menjadi 19,23 persen pada tahun 2008.

Sumber: BPS Kota Langsa

Pembentuk sektor sekunder yang lain adalah sektor listrik, gas, dan air bersih serta sektor bangunan. Peranan sektor listrik, gas, dan air bersih terhadap perekonomian Kota Langsa selama lima tahun terakhir kurang dari satu persen dan cenderung stabil. Besaran yang ditunjukkan antara 0,47-0,50 persen. Bahkan kontribusi antara tahun 2007 dengan 2008 tidak berubah, tetap 0,50 persen. Sektor bangunan selama kurun waktu 2003 hingga 2008 cenderung meningkat, meskipun peningkatan yang terjadi tidak signifikan. Rata-rata peningkatan kontribusi sektor ini adalah 0,34 persen tiap tahunnya. Dari 9,05 persen pada tahun 2003 menjadi 10,73 persen di tahun 2008. Peningkatan ini sebagai konsekuensi logis dari

41

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

kestabilan sektor sekunder selama kurun waktu tersebut di mana dua sektor pembentuk yang lain masing-masing cenderung turun dan stabil. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kontribusi sektor primer terhadap perekonomian Kota Langsa tetap menempati urutan ketiga dengan kecenderungan menurun. Hal ini sesuai dengan wilayah yang berstatus kota di mana konversi lahan pertanian semakin lama semakin besar. Apabila pada tahun 2005 kontribusi sektor primer masih 15,74 persen, maka pada tahun-tahun berikutnya menurun rata-rata 0,32 persen. Terakhir, yaitu pada tahun 2008, kontribusi sektor sekunder terhadap perekonomian Kota Langsa sebesar 14,77 persen. Atau dengan kata lain, selama tiga tahun terakhir kontribusi sektor ini turun sekitar satu persen.

Sumber: BPS Kota Langsa

42

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Sektor pertanian mempunyai andil terbesar dalam pembentukan sektor primer. Bahkan, apabila dilihat dari struktur perekonomian Kota Langsa secara keseluruhan sektor ini mempunyai andil yang cukup besar, yaitu menempati urutan ke empat setelah sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor industri pengolahan, serta sektor jasa-jasa, meskipun dengan kecenderungan menurun. Fakta ini menunjukkan bahwa konversi lahan pertanian yang terjadi sebagai konsekuensi dari wilayah yang berstatus kota memerlukan perhatian lebih. Konversi yang terjadi harus diusahakan ke sektor-sektor produktif agar perekonomian tetap stabil, bahkan meningkat. Berbeda dengan sektor pertanian, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian sebagai bagian dari sektor primer sangat kecil dan juga cenderung stabil. Kontribusi yang diberikan terhadap perekonomian Kota Langsa hanya sebesar 0,40 persen pada tahun 2003 dan lima tahun kemudian, yaitu tahun 2008 menunjukkan besaran yang sama. Berdasarkan struktur perekonomian yang terbentuk sepanjang periode 2003 hingga 2008, maka semakin mengukuhkan Kota Langsa sebagai kota perdagangan dan jasa dengan kontribusi kelompok sektor tersier mencapai lebih dari 50 persen. Kontribusi yang telah diberikan oleh masing-masing kelompok sektor tentunya harus lebih dioptimalkan, meskipun nantinya optimalisasi kontribusi ini

43

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

tentunya akan sangat tergantung pada kinerja ekonomi masing-masing sektor di tahun-tahun yang akan datang.
Tabel 3.6 Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB Kota Langsa Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Sektor, 2003-2008 (persen) Sektor (1) Primer 1. Pertanian 2. Pertambangan & Penggalian Sekunder 3. Industri Pengolahan 4. Listrik & Air Minum 5. Bangunan/Konstruksi Tersier 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 7. Pengangkutan & Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa PDRB
Sumber: BPS Kota Langsa Ket: r) Angka Revisi *) Angka Sementara

2003 (2) 15,65 15,24 0,40 30,84 21,32 0,47 9,05 53,52 25,08 7,46 3,08 17,65 100,0 0

2004 (3) 16,15 15,73 0,40 31,32 21,62 0,49 9,21 52,52 25,00 8,15 3,25 15,26 100,0 0

2005 (4) 15,74 15,32 0,40 30,34 20,54 0,49 9,31 53,91 25,20 8,22 2,44 15,76 100,0 0

2006 (5) 15,54 15,13 0,42 30,30 20,10 0,48 9,72 54,15 26,18 8,49 2,60 15,48 100,0 0

2007r)

2008*) (7) 14,77 14,37 0,41 30,46 19,23 0,50 10,73 54,77 27,29 8,66 2,73 14,75 100,0 0

(6) 15,09 14,69 0,42 30,09 19,17 0,50 10,42 54,82 26,73 8,71 2,72 15,21 100,0 0

44

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Sumber: BPS Kota Langsa

3.5.2

Pertumbuhan Ekononomi Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan salah

satu ukuran kinerja pembangunan daerah khususnya di bidang perekonomian. Pertumbuhan ekonomi ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan PDRB atas harga konstan, yaitu dengan menghilangkan faktor perubahan harga (inflasi) dan menggunakan faktor pengali harga konstan (at constant price inflation factor) sehingga diperoleh gambaran peningkatan produksi secara makro. Sesuai dengan panduan dari “The System of National Accounts 1993 (SNA)”, pembagian nilai pertumbuhan ekonomi untuk negara Indonesia dibagi ke dalam dua bagian, yaitu pertumbuhan PDRB Dengan Migas dan Tanpa Migas. Dengan demikian, maka nilai pertumbuhan PDRB

45

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Kota Langsa dengan dan tanpa migas adalah sama karena kegiatan sub sektor pertambangan dan industri pengolahan migas tidak ada di kota ini. Sepanjang positif dengan kurun level waktu 2003 Pada hingga tahun 2008 2004 perekonomian Kota Langsa menunjukkan pertumbuhan yang berbeda-beda. pertumbuhan ekonomi kota ini cukup tinggi, mencapai 6,29 persen. Hal ini mengindikasikan kinerja pembangunan daerah yang semakin baik. Namun, tahun 2005 dan 2006 pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, namun masih menunjukkan angka positif. Ada kemungkinan beberapa sektor mengalami kejenuhan produksi pada dua tahun tersebut. Selain itu, penurunan tersebut sedikit banyak merupakan dampak dari bencana tsunami yang melanda Aceh dan Nias di penghujung tahun 2004. Pada tahun 2007 perekonomian kemajuan Kota Langsa kembali memperlihatkan pertumbuhan dengan meningkatnya kembali

ekonomi. Dengan kata lain, kinerja pembangunan daerah mengalami kemajuan-kemajuan yang sangat berarti. Pada tahun 2007 tingkat pertumbuhan riil sektor ekonomi Kota Langsa sebesar 3,86 persen, lebih tinggi dari angka 2006 yang mencapai angka 3,65 persen. Meskipun belum mencapai tingkat pertumbuhan seperti tahun 2004, namun hal ini menggambarkan peningkatan nilai produksi secara makro pada tahun 2007 lebih besar dibandingkan tahun 2006. Di tahun 2008 perekonomian Kota Langsa semakin menunjukkan kemajuan dengan adanya

46

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

peningkatan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,28 persen. Empat sektor utama yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tersebut adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang menyumbang 1,85 persen, sektor industri pengolahan menyumbang 1,01 persen, sektor jasa-jasa menyumbang 0,45 persen, dan sektor bangunan menyumbang 0,41 persen.

Sumber: BPS Kota Langsa

Apabila dilihat secara sektoral, pada tahun 2008 pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 6,71 persen. Pertumbuhan sektor ini cenderung meningkat selama periode tahun 2003 hingga 2008. adalah tahun Hanya pada tahun 2005 yang sempat menjadikan peningkatan mengalami kegiatan kembali. penurunan menjadi 4,31 persen. Salah satu penyebabnya bencana berikutnya tsunami perdagangan, hotel, dan restoran sempat lesu. Namun, tiga menunjukkan

47

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan kinerja pada sektor tersebut. Selain itu, hal tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa sektor perdagangan, hotel, dan restoran mempunyai andil terbesar dalam perekonomian Kota Langsa dengan kecerendungan meningjat tiap tahunnya. Sektor pertambangan dan penggalian menempati posisi kedua dengan pertumbuhan tercatat sebesar 6,18 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya sebesar 6,10 persen. Walaupun pertumbuhannya tinggi, namun tidak mampu mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi Kota Langsa. Ini menunjukan suatu sektor belum tentu dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara total walaupun pertumbuhannya relatif tinggi. Besar kecilnya kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian berpengaruh. secara Apabila total juga menjadi faktor yang maka kontribusinya besar,

pertumbuhan suatu sektor yang relatif tinggi akan sangat mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara total. Pertumbuhan sektoral tahun 2008 yang relatif tinggi juga dialami sektor listrik, gas, dan air bersih, sektor industri pengolahan, dan sektor bangunan, yaitu masing-masing sebesar 4,80 persen, 4,75 persen, dan 4,46 persen. Ketiga angka petumbuhan tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Khusus sektor industri pengolahan, peningkatan tersebut cukup signifikan karena pertumbuhan pada tahun 2007 sebesar 3,73 persen.

48

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tabel 3.7 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Langsa Menurut Sektor, 2003–2008 (persen)

Sektor (1) 1. Pertanian 2. Pertambangan dan Penggalian 3. Industri Pengolahan 4. Listrik dan Air Minum 5. Bangunan 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 9. Jasa-jasa PDRB
Sumber: BPS Kota Langsa Ket: r) Angka Revisi *) Angka Sementara

2003 (2)
2,23 2,64 2,22 5,19 4,61 5,19 4,58 10,57 2,88 3,70

2004 (3)
2,86 3,86 3,26 1,86 5,22 5,58 3,79 5,22 16,35 6,29

2005 (4)
0,82 3,33 4,49 2,14 4,34 4,31 8,61 0,83 2,90 3,82

2006 (5)
1,74 5,66 3,76 4,29 3,84 5,82 2,83 2,31 2,19 3,65

2007r) (6)
1,86 6,10 3,73 4,74 4,19 6,27 2,54 3,29 2,32 3,86

2008*) (7)
1,97 6,18 4,75 4,80 4,46 6,71 2,28 3,22 2,51 4,28

Pertumbuhan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan cukup fluktuatif. Pada tahun 2005 mengalami penurunan drastis dari 5,22 persen di tahun 2004 menjadi hanya 0,83 persen. Kemudian beranjak naik menjadi 2,31 persen di tahun 2006 dan 3,29 persen pada tahun 2007. Tahun 2008 kembali sedikit turun, menjadi 3,22 persen. Artinya, tidak ada percepatan peningkatan kinerja di sektor ini pada tahun 2008. Sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan sekitar 2 persen pada tahun 2008. Sektor pengangkutan dalam dan komunikasi mengalami perlambatan pertumbuhannya.

Pertumbuhan tahun 2007 sebesar 2,54 persen sedikit turun

49

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

menjadi 2,28 persen pada tahun 2008. Sektor ini juga hanya menyumbang 0,17 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Langsa secara total. Sebaliknya, sektor jasa-jasa mengalami percepatan dalam pertumbuhannya. Pertumbuhan tahun 2007 sebesar 2,32 persen naik menjadi 2,51 persen di tahun 2008. Sektor pertanian yang mempunyai andil cukup besar dalam perekonomian dalam Kota Langsa juga selama mengalami tiga tahun percepatan pertumbuhannya

terakhir, meskipun relatif kecil. Apabila pada tahun 2006 pertumbuhannya sebesar 1,74 persen, maka pada tahun 2007 naik menjadi 1,87 persen dan kembali naik menjadi 1,97 persen di tahun 2008. Sektor ini menyumbang 0,26 persen terhadap pertumbuhan total. Penyumbang terbesar adalah subsektor tanaman perkebunan, yaitu 0,12 persen.

50

IV. INDIKATOR KESEHATAN

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

INDIKATOR KESEHATAN

IV

Kondisi kesehatan penduduk merupakan salah satu modal bagi keberhasilan pembangunban bangsa. Hal ini dikarenakan aspek kesehatan sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku pembangunan. Kondisi kesehatan penduduk dapat ditinaju dari dua sisi, yaitu sisi derajat kesehatan dan dari sisi status kesehatan. Derajat kesehatan penduduk dapat diukur melalui angka kematian bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) dan Angka Harapan Hidup (Life Expectancy at Birth). Dua ukuran ini merupakan indikator penting dalam penghitungan IPM. Angka harapan hidup memberikan banyak arti dalam kaitannya dengan berbagai faktor kehidupan masyarakat. Angka harapan hidup atau yang dikenal dengan istilah “Life Expectancy at Birth” merupakan rata-rata peluang hidup penduduk. Dari angaka harapan hidup tersebut tercermin tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya kualitas kesehatan penduduk di suatu wilayah. Sejalan dengan penurunan angka kematian bayi, maka angka harapan hidup penduduk di Kota Langsa pun mengalami peningkatan. Secara perlahan peluang hidup penduduk di Kota Langsa menunjukkan perbaikan pada tahun 2008. Angka harapan hidup penduduk kota ini pada

52

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

tahun 2008 mencapai 70,14 tahun, sedikit lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 69,96 tahun. Hal ini berarti pada tahun tersebut penduduk Kota Langsa memiliki harapan hidup sekitar 70 tahun.

Sumber: BPS Kota Langsa

53

V. INDIKATOR PENDIDIKAN

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

INDIKATOR PENDIDIKAN

V

Pada era globalisasi saat ini keberhasilan suatu bangsa di ajang internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif, seperti kekayaan sumber daya alam yang dimiliki. Akan tetapi, akan lebih ditentukan oleh keunggulan kompetitif yang dalam hal ini berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. bertitik pendidikan. upaya Peningkatan tolak Oleh untuk pada karena kualitas upaya itu, sumberdaya pembangunan pendidikan manusia bidang sebagai

suatu

meningkatkan

kualitas sumberdaya manusia (SDM) menjadi instrumen yang sangat penting. Melalui pendidikan diharapkan akan terbentuk SDM berkualitas dan berdaya guna bagi pembangunan. Bagi pemerintah keuntungan yang akan diperoleh dari investasi di bidang pendidikan antara lain bahwa pendidikan merupakan produktivitas salah satu cara memerangi bagi kemiskinan, masyarakat, mengurangi ketimpangan pendapatan, dan meningkatkan tenaga kerja. Adapun pendidikan yang semakin baik merupakan modal dalam memperebutkan kesempatan kerja sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan mereka. Untuk mengetahui perkembangan pembangunan pendidikan di Kota Langsa akan dijelaskan mengenai kondisi

55

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

pendidikan penduduk melalui pendekatan indikator turunan dari IPM. 5.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Kualitas sumberdaya manusia secara spesifik dapat dari tingkat pendidikan penduduk. Komposisi penduduk menurut gambaran pendidikan tentang yang kualitas ditamatkan sumberdaya memberikan manusia.

Kebutuhan akan tenaga kerja berpendidikan tinggi dirasakan sangat penting bagi kepentingan pembangunan. Hal ini berkaitan dengan daya saing SDM antar daerah dalam menghadapi era kompetisi global di masa mendatang. Penduduk Kota Langsa yang berumur 15 tahun ke atas pada tahun 2008 sebagian besar berpendidikan SD ke bawah, yaitu mencapai 25,58 persen. Penduduk umur 15 tahun ke atas dengan pendidikan SMP sederajat sebanyak 23,79 persen, SMA sederajat sebanyak 23,98 persen, dan perguruan tinggi sebanyak 6,72 persen. Berdasarkan fakta bahwa sebagaian besar penduduk berpendidikan SD ke bawah tersebut, maka pembangunan sumberdaya manusia di bidang pendidikan harus menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Kota Langsa. Hal ini berkaitan dengan daya saing dengan sumberdaya manusia daerah lain dalam menghadapi era kompetisi global di masa mendatang. Apabila kualifikasi penduduk masih rendah, maka akan berdampak pada beratnya tantangan menghadapi persaingan tersebut. Konsekuensi yang muncul 56

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

adalah

rendahnya

partisipasi

masyarakat

dalam

pembangunan daerah.

Sumber: BPS Kota Langsa

5.2 Angka Melek Huruf Pada tingkat makro ukuran yang sangat mendasar dari pendidikan adalah kemampuan baca tulis penduduk. Minimal penduduk harus mempunyai kemampuan membaca dan menulis agar dapat menerima informasi secara tertulis, dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan, dan dapat menikmati hasil-hasil pembangunan secara wajar. Dengan kata lain, kemampuan baca tulis merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan penduduk untuk dapat menuju hidup sejahtera. Dalam penghitungan IPM, kemampuan penduduk dalam membaca dan menulis dilihat

57

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dari angka melek huruf (Literacy Rate) penduduk umur 15 tahun ke atas. Pada tahun 2008 angka melek huruf penduduk Kota Langsa umur 15 tahun ke atas mencapai 98,75 persen. Dengan kata lain, sebesar 1,25 persen penduduk umur 15 tahun ke atas di kota ini belum atau tidak dapat membaca dan menulis. Namun, dapat dimaklumi karena pada umumnya penduduk yang belum atau tidak membaca dan menulis tersebut terkonsentrasi pada penduduk kelompok umur tua.

Sumber: BPS Kota Langsa

5.3 Rata-rata Lama Sekolah Ukuran lain dari pendidikan adalah rata-rata lama sekolah (Mean Years School). Secara umum indikator ini

58

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

menunjukkan jenjang pendidikan yang telah dicapai oleh penduduk dewasa (15 tahun ke atas). Semakin tinggi angka rata-rata lama sekolah penduduk, berarti semakin baik tingkat pendidikan tersebut. Pada tahun 2008 rata-rata lama sekolah penduduk umur 15 tahun ke atas di Kota Langsa mencapai 9,88 tahun. Artinya, mayoritas penduduk dewasa di kota ini pernah mengenyam pendidikan formal antara 9 sampai 10 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Kota Langsa umur 15 tahun ke atas telah mengenyam pendidikan sampai kelas 3 SMP. Program wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah dapat dikatakan telah terwujud.

Sumber: BPS Kota Langsa

59

VI. INDIKATOR DAYA BELI

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

INDIKATOR DAYA BELI

VI
variabel yang

Daya

beli

masyarakat

merupakan

mencerminkan kemampuan masyarakat dalam membeli barang-barang dan jasa. Tingkat daya beli masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pendapatan, pengeluaran konsumsi, indeks harga konsumen, dan indeks kemahalan. Oleh karena itu, pendapatan yang tinggi tidak menjamin daya beli masyarakat yang tinggi pula. Faktor inflasi merupakan salah satu faktor utama yang menentukan seberapa riil nilai uang yang dimilki masyarakat. Artinya, seberapa mampu masyarakat belanja dengan uang yang dipegangnya. Jika dilihat kemampuan membeli barang dan jasa (daya beli) antar wilayah, maka daya beli itu sendiri merupakan sesuatu yang relatif. Artinya, pertanyaan “Apakah daya beli masyarakat suatu wilayah lebih baik dari daya beli masyarakat di wilayah lain”, maka faktor relatif-nya daya beli tersebut melatarbelakangi penghitungan indeks kemahalan. 6.1 Pengeluaran Konsumsi Per Kapita Pengeluaran Regional Bruto konsumsi (PDRB). Oleh merupakan karena variabel yang

memiliki kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik itu, pengeluaran 61

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

konsumsi per kapita adalah variabel yang cukup penting sebagai alat pemantau perkembangan standar hidup penduduk di suatu wilayah. Sebagai contoh, penentuan jumlah penduduk miskin di suatu wilayah ditentukan berdasarkan pengeluaran konsumsi per kapita penduduk. Selain itu, pengeluaran konsusmsi per kapita ini juga merupakan proxy pendapatan per kapita penduduk suatu wilayah. Bagi penduduk dengan pendapatan menengah ke bawah penggunaan uang untuk pengeluaran konsumsi merupakan pengeluaran terbesar di banding pengeluaran non konsumsi.

Sumber: BPS Kota Langsa

Perkembangan pendapatan per kapita Kota Langsa atas dasar harga berlaku tahun 2003-2008 dengan atau tanpa migas memperlihatkan pola (trend) berbanding lurus dengan perkembangan pengeluaran konsumsi per kapita. 62

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Hal ini membuktikan bahwa pengeluaran konsumsi per kapita memang merupakan proxy penduduk dalam suatu wilayah.
Tabel 6.1 Pendapatan Per Kapita Kota Langsa Tahun 2003-2008 Tahun
(1)

pendapatan per kapita

Nilai (Rp)
(2)

ADHB Pertumbuhan (%)
(3)

ADHK 2000

Nilai (Rp)
(4)

Pertumbuhan (%)
(5)

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2003-2008 Rata-rata per Tahun

5.974.937 6.138.360 6.627.736 7.223.599 7.830.153 8.716.317

2,74 7,97 8,99 8,40 11,32 2,74 45,88 7,88

4.768.432 4.881.729 4.980.039 5.123.687 5.268.332 5.483.454

2,38 2,01 2,88 2,82 4,08 2,38 14,99 2,84

Sumber: BPS Kota Langsa

Untuk melihat seberapa besar tingkat pertumbuhan per kapita secara riil akibat peningkatan output adalah dengan memperhatikan perkembangan pendapatan per kapita atas dasar harga konstan. Atas dasar harga konstan 2000, pendapatan per kapita penduduk Kota Langsa selama kurun waktu 2003 sampai 2008 meningkat 14,99 persen. Tahun 2003 pendapatan per kapita tersebut sebesar Rp 4.768.432,- dan meningkat menjadi Rp 5.483.454,- pada tahun 2008. Jadi, secara rata-rata hanya mengalami peningkatan 2,84 persen per tahun. 63

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Khusus tahun 2008, laju pertumbuhan pendapatan per kapita atas dasar harga konstan 2000 sebesar 2,38 persen. Meskipun lebih rendah dari laju pertumbuhan ekonomi tahun 2007 yang mencapai 4,08 persen, namun hal ini menunjukkan bahwa output tumbuh lebih pesat jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk tahun 2008. Selain itu, dapat juga disimpulkan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk sangat mempengaruhi income per kapita. Jika jumlah pertumbuhan penduduk semakin tinggi diiringi dengan pertumbuhan output konstan, maka berakibat income per kapita akan berkurang. Strategi pokok dalam rangka peningkatan income per kapita adalah dengan cara memacu pembangunan ekonomi melalui peningkatan output yang dibarengi dengan langkah mengerem laju pertumbuhan jumlah penduduk. 6.2 Daya Beli Penduduk Berdasarkan data pengeluaran per kapita penduduk, maka dapat dilihat bagaimana tingkat daya beli penduduk di Kota Langsa. Tingkat daya beli penduduk ini menggambarkan kondisi relatif daya beli antar wilayah dan antar waktu. Pada penghitungan IPM, daya beli penduduk diadjust dengan komponen lain, seperti indeks harga dan indeks kemahalan melalui formula atkinson. Oleh karena itu, angka daya beli yang dihasilkan tidak apat diinterpretasikan berdasarkan angka nominal, melainkan harus diinterpretasikan secara riil dengan membandingkan antar 64

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

wilayah dan antar waktu. Angka daya beli ini dibaca sebagai nilai pada kondisi tahun 2000. Perkembangan daya beli masyarakat Kota Langsa berangsur menunjukkan peningkatan. Setelah ditimbang dengan indeks harga konsumen, indeks kemahalan, dan disesuaikan dengan formula Atkinson, maka daya beli penduduk Kota Langsa tahun 2008 mencapai Rp 599.510,-. Artinya, karena daya beli telah ditimbang dengan faktor indeks harga (tahun dasar 2000), maka kemampuan penduduk membeli barang dan jasa selama satu tahun tersebut setara dengan nilai uang sebesar Rp 599.510,- di tahun 2000. Besaran ini meningkat apabila dibandingkan dengan tahun 2007 yang mencapai Rp 595.180,-.
Tabel 6.2 Pengeluaran Per Kapita Riil Disesuaikan Kota Langsa Tahun 2004-2008 Tahun
(1)

Pengeluaran Per Kapita Riil Disesuaikan (Rp)
(2)

2004 2005 2006 2007 2008
Sumber: BPS Kota Langsa

582.800 588.400 591.520 595.180 599.510

65

VII. PERKEMBANGAN IPM

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

PERKEMBANGAN IPM

VII

7.1 Indeks Pembangunan Manusia Berdasarkan empat variabel, yaitu angka harapan hidup, tingkat melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan daya beli masyarakat diperoleh indeks harapan hidup, indeks pengetahuan, dan indeks standar hidup layak. Dari ketiga indeks ini dihasilkan indeks pembangunan manusia (IPM) Kota Langsa.

Sumber: BPS Kota Langsa

Angka IPM Kota Langsa relatif cukup baik. Selama kurun waktu 2004 sampai 2008 angka IPM kota ini menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Selain itu, selama lima tahun terakhir status pembangunan manusia di

67

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Kota Langsa masuk dalam kategori menengah atas. Hal ini ditunjukkan dari angka IPM yang selalu berada di atas angka 66. Pada tahun 2008 angka IPM Kota Langsa mencapai 72,79. Angka ini menempati peringkat 6 di wilayah NAD dan peringkat 133 secara nasional. Besar kecilnya angka IPM tidak terlepas dari unsurunsur pembentuknya, yaitu indeks harapan hidup, indeks pendidikan, dan indeks standar hidup layak. Dengan status yang disandang Kota Langsa tersebut, maka ada indikasi bahwa pembangunan manusia di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi (daya beli) relatif baik. Peningkatan IPM terjadi karena peningkatan angka harapan hidup penduduk, rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, dan tingkat daya beli masyarakat. Gambar 7.2 menjelaskan bahwa pembangunan manusia di Kota Langsa lebih banyak dialokasikan pada bidang pendidikan. Pada tahun 2008 indeks pendidikan sebesar 87,79 jauh mengungguli indeks harapan hidup dan indeks daya beli. Hal ini menunjukkan bahwa hasil pencapaian pembangunan manusia di bidang pendidikan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan bidang kesehatan dan ekonomi. Tingginya nilai indeks pendidikan ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan berbagai perguruan tinggi, meningkatnya jumlah sarana pendidikan, dan berkurangnya angka putus sekolah.

68

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Sumber: BPS Kota Langsa

Apabila dibandingkan antar kabupaten/kota di NAD, maka kondisi pembangunan manusia di Kota Langsa berada di bawah Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kota Sabang, Aceh Besar, dan Aceh Tengah. Jika dibandingkan dengan IPM rata-rata NAD, maka IPM Kota Langsa berada di batas rata-rata pembangnan manusia di NAD. Kondisi ini disebabkan pembangunan manusia di seluruh aspek, bidang kesehatan yang dicerminkan oleh angka harapan hidup, bidang pendidikan yang dicerminkan oleh rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf, serta bidang ekonomi yang dicerminkan oleh daya beli masyarakat, berada di atas ratarata NAD.

69

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Sumber: BPS Kota Langsa

7.2 Shortfall IPM Angka shortfall diilustrasikan sebagai rasio

pencapaian kesenjangan antara jarak yang sudah ditempuh terhadap jarak yang harus ditempuh untuk mencapai kondisi ideal (IPM=100). Jadi, semakin besar nilai shortfall, maka semakin cepat waktu yang akan ditempuh untuk menuju kondisi pembangunan manusia yang diharapkan.Nilai shortfall ini sangat erat kaitannya degan 70

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

evaluasi percepatan pembangunan manusia di suatu daerah. Berdasarkan angka IPM yang disajikan pada gambar 7.1 diketahui bahwa nilai shortfall (r) tahun 2008 sebesar 2,04. Nilai ini lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2007 (2,51). Hal ini berarti pada tahun 2008 terjadi perlambatan dalam pencapaian kondisi ideal dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan nilai shortfall masing-masing indeks, diketahui bahwa pada tahun 2008 pembangunan bidang pendidikan memiliki tingkat percepatan yang paling besar (r=3,13) di banding dengan bidang kesehatan dan pendidikan. Hal ini menunjukkan percepatan pembangunan di bidang pendidikan sebagai wujud kerja keras pemerintah Kota Langsa untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Adapun nilai shortfall indeks kesehatan dan indeks daya beli pada tahun 2008 masing-masing sebesar 1,20 dan 2,19. Sedangkan nilai shortfall kedua indeks tersebut pada tahun 2007 berturut-turut adalah 1,69 dan 1,82. Hal ini menunjukkan perlambatan pembangunan bidang kesehatan dalam mencapai kondisi ideal. Sebaliknya, pembangunan di bidang ekonomi terjadi percepatan. Meskipun berbagai program kesehatan diterapkan di Kota Langsa, penurunan nilai shortfall indeks kesehatan tersebut menunjukkan cakupan sasaran program-program tersebut belum maksimal.

71

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Untuk mencapai kondisi IPM ideal bukan merupakan hal yang mudah. Berbagai faktor harus diperhatikan oleh pihak pemerintah baik pusat maupun daerah. Pertama, masalah kesehatan, akses ke sarana kesehatan dan fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, bidan desa, dan tenaga kesehatan yang lain harus cukup. Selain itu, program imunisasi bayi dan penyuluhan bagi masyarakat maupun ibu hamil dan menyusui harus terus digalakkan. Kedua, masalah pendidikan, jumlah dan daya tampung sekolah, kualitas sekolah, kualitas pengajar, rasio murid guru yang ideal serta akses ke sarana pendidikan baik tingkat SD, SLTP, SLTA, maupun perguruan tinggi sudah harus ada dan memadai. Hal ini dikarenakan sebagai salah satu syarat kondisi ideal pembangunan manusia adalah pendidikan yang ditamatkan tiap penduduk minimal setingkat sarjana muda (MYS=15). Selain aspek kesehatan dan pendidikan, hal penting lainnya adalah masalah perekonomian penduduk. Tingkat perekonomian masyarakat yang berhasil tidak cukup hanya diukur dari tingginya PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), namun harus lebih menyentuh ke masyarakat, yaitu dengan tingginya daya beli. Diharapkan dengan pendapatan per kapita yang tinggi disertai inflasi yang rendah dan relatif stabil akan meningkatkan daya beli masyarakat. Pada dasarnya dalam pembangunan manusia tidak hanya pihak pemerintah saja yang berperan. Masyarakat

72

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

dituntut berpartisipasi aktif, sedangkan pihak pemerintah hanya sebagai fasilitator. Dengan kata lain, masyarakat tidak hanya sebagai obyek pembangunan, tetapi sekaligus sebagai subyek pembangunan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan pendidikan dapat membantu meningkatkan pembangunan manusia. Dengan kesehatan yang terjamin dan pendidikan yang tinggi masyarakat dapat dengan lancar beraktivitas menggali potensi-potensi yang ada dengan bekerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini berdampak pada tingginya pendapatan yang diperoleh. Pendapatan yang tinggi tentu akan mendongkrak daya beli masyarakat sehingga perekonomian dapat berjalan stabil.

73

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

VIII

8.1

Kesimpulan Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan

sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Angka harapan hidup di Kota Langsa mencapai 70,14 tahun yang berarti rata-rata usia hidup setiap penduduk Kota Langsa mencapai usia 70 tahun. 2. Angka melek huruf di Kota Langsa sebesar 98,75 menunjukkan masih ada 1,25 persen penduduk usia 15 tahun ke atas masih belum bisa baca tulis. Tidak ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. 3. Rata-rata lama sekolah penduduk di Kota Langsa sebesar 9,88 menunjukkan rata-rata lama sekolah penduduk kota ini 9 sampai 10 tahun atau setara dengan kelas 3 SMP. Hal ini menunjukkan program wajib belajar 9 tahun sudah terwujud. 4. Daya riil per beli penduduk di Kota tahun Langsa 2008 mencapai yang Rp direpresentasikan dari angka rata-rata pengeluaran kapita 599.510,-. 75

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

5. IPM Kota Langsa pada tahun 2008 mencapai 72,79; berarti tingkat pencapaian pembangunan manusia di Kota Langsa sudah di atas rata rata tingkat pencapaian pembangunan manusia di NAD (70,76). 6. Shortfall IPM di Kota Langsa pada tahun 2008 sebesar 2,04 menunjukkan tingkat percepatan pembangunan manusia di Kota Langsa termasuk tinggi dibanding beberapa kabupaten/kota lain di NAD. 8.2 Implikasi Kebijakan

8.2.1 Identifikasi Permasalahan Pembangunan Permasalahan-permasalahan manusia yang dapat pokok pembangunan penyebab

diidentifikasi

sebagai

rendahnya indikator IPM antara lain meliputi: 1. Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi, 2. Rendahnya pendapatan per kapita, 3. Semakin bertambahnya angka pengangguran, 4. Masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia dari sisi kesehatan dan pendidikan, serta 5. Adanya kenaikan beberapa harga barang-barang kebutuhan pokok yang dirasakan berat oleh masyarakat sehingga mengurangi tingkat daya beli. Permasalahan dan tantangan pembangunan manusia yang dihadapi ini akan menentukan agenda, sasaran, serta program pembangunan manusia yang juga harus bersifat

76

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

lintas

sektoral

dan

lintas

koordinasi.

Permasalahan-

permasalahn ini harus dicari penyelesaiannya secara tepat sasaran dan berangsur. Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita mengakibatkan rendah serta menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat yang dapat menimbulkan berbagai masalah sosial yang mendasar. Kesejahteraan kemampuan masyarakat ekonomi untuk sangat dipengaruhi oleh meningkatkan pendapatan

secara adil dan merata. Luasnya cakupan pembangunan manusia, maka peningkatan IPM sebagai manifestasi pembangunan manusia dapat ditafsirkan sebagai keberhasilan dalam meningkatkan kemampuan dalam mempeluas pilihan-pilihan (enlarging the choices of people). Untuk meningkatkan IPM, tidak hanya semata tergantung pada pertumbuhan sejalan dengan ekonomi sebab pertumbuhan ekonomi baru merpakan syarat perlu. Agar pertumbuhan ekonomi pembangunan manusia, maka petumbuhan ekonomi harus disertai dengan syarat ckup, yaitu pemerataan pembangunan. Pemerataan pembangunan diperlukan untuk menjamin semua penduduk dapat menikmati hasil-hasil pembangunan. Diketahui beberapa faktor penting dari hasil pembangunan yang sangat efektif bagi pembangunan manusia adalah pendidikan dan kesehatan. Dua faktor penting ini merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu dimiliki agar mampu meningkatkan potensinya.

77

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Umumnya semakin tinggi kapabilitas dasar yang dimiliki suatu daerah, semakin tinggi peluang untuk meningkatkan potensi wilayah tersebut. Ada dua hal pokok yang harus diperhatikan untuk mempercepat pembangunan manusia, yaitu (1) distribusi pendapatan yang merata dan (2) alokasi belanja publik yang memadai untuk pendidikan dan kesehatan. 8.2.2 Strategi dan Sasaran Pembangunan Manusia Berdasarkan nilai masing-masing indikator IPM dan beberapa identifikasi penyebabnya seperti telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka Pemerintah Kota Langsa diharap dapat membuat implikasi kebijakan yang tepat sasaran. Implikasi kebijakan yang dapat dibuat untuk perencanaan pembangunan adalah dititikberatkan kepada peningkatan atau pemberdayaan perekonomian rakyat dan tentunya dengan tidak mengesampingkan pembangunan di bidang kesehatan dan pendidikan. Diharapkan dengan sedikit lebih memacu pembangunan di bidang ekonomi, terutama yang lebih menyentuh peningkatan daya beli masyarakat, maka nantinya pencapaian ideal dalam rangka pembangunan manusia dapat tercapai secara bersamaan dengan pembangunan di bidang kesehatan dan pendidikan. Karena jika tidak, maka pembangunan manusia di bidang ekonomi akan tertinggal jauh dengan pencapaian pembangunan di bidang ksehatan dan pendidikan.

78

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa rendahnya pembangunan manusia yang dicerminkan oleh rendahnya taraf kesehatan dan pendidikan penduduk disebabkan atau daya oleh beli keterbatasan perekonomian

penduduk yang rendah. Untuk memiliki pendidikan yang tinggi dan memiliki drajat kesehatan yang baik diperlukan biaya yang besar. Hal ini akan sulit terealisasi jika daya beli penduduk masih rendah. Jika daya beli penduduk tinggi, maka pendidikan dan kesehatan penduduk dapat erjamin secara mandiri oelh penduduk itu sendiri. Sementara untuk meningkatkan daya beli, penduduk harus memiliki kesehatan yang terjamin dan pendidikan yang memadai. Sebagai konsekuensi logis, penduduk dapat beraktivitas dengan lancar dalam rangka menggali potensi-potensi yang ada sehingga akan memiliki tingkat pendapatan yang tinggi. Pendapatan yang tinggi tentu turut mendongkrak daya beli masyarakat sehingga perekonomian dapat berjalan stabil. Oleh karena itu, permasalahan ketiga indikator IPM ini saling berkaitan dan tidak dapat dibuat kebijakan secara parsial, tetapi harus simultan. Salah satu strategi yang cukup tepat dalam rangka meningkatkan beli rendah derajat adalah kesehatan melalui dan taraf pendidikan dan masyarakat di daerah yang memiliki penduduk dengan daya program pendidikan kesehatan gratis (bebas biaya). Hal ini memang cukup berat bagi pemerintah karena membutuhkan anggaran yang besar, terlebih sarana dan prasarana juga harus dilengkapi.

79

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Namun,

saat

ini

beberapa

daerah

kabupaten/kota

di

Indonesia sudah melaksanakan program tersebut. Artinya, program tersebut bukan merupakan hal yang mustahil untuk dilaksanakan. Pada jangka pendek mungkin hanya terjadi sedikit pergeseran positif pada beberapa indikator kesehatan dan pendidikan, namun paling tidak dapat mendongkrak rate daya beli penduduk. Hal ini dikarenakan pendapatan yang seharusnya dikelarkan untuk akses pendidikan dan kesehatan dapat berfungsi untuk jenis pengeluaran lain. Dalam jangka panjang akan tampak hasil yang diharapkan, yaitu tersedianya manusia Kota Langsa yang berkualitas, memiliki pendidikan yang memadai dan kesehatan yang terjamin. Hal tersebut pada akhirnya dapat menjadi modal dasar pembangunan yang baik dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. 8.2.3 Arah Kebijakan Pembangunan Manusia Pembangunan dan perekonomian manusia masyarakat di Kota Langsa pada

dasarnya diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan serta taraf pendidikan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut dan sesuai hasil identifikasi permasalahan pembangunan manusia, maka dapat disusun strategi beserta sasaran pembangunan manusia di Kota Langsa dalam 5 (lima) tahun ke depan. Strategi tersebut dapat direalisasikan dengan menentukan

80

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

arah kebijakan yang disertai berbagai program/kegiatan sebagai berikut:
Tabel 8.1 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG LIMA TAHUNAN KOTA LANGSA
Tahun 2007-2011 (1) A. BIDANG AGAMA 1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang syariat Islam, diikuti dengan pengamalan di dalam kesehariannya 2. Meningkatkan fungsi dan peranan MPU, pemuka agama, dan guru pesantren (ustadz dan ustadzah) 3. Menjadikan seluruh aparatur pemerintahan, pimpinan masyarakat, dan kepala keluarga sebagai teladan dalam pelaksanaan syariat Islam 4. Meningkatkan kualitas para santri dalam penguasaan agama/syariat Islam 5. Meningkatkan kemampuan keuangan daerah dalam pembiayaan pengembangan syariat Islam 6. Meningkatkan prasarana dan sarana keagamaan untuk kelancaran pengembangan syariat Islam 7. Memperkuat persatuan dan kesatuan ummat Islam serta memelihara perdamaian dan kerukukan hidup sesame ummat 2012-2016 (2) A. BIDANG AGAMA 1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang syariat Islam, diikuti dengan pengamalan di dalam kesehariannya 2. Meningkatkan fungsi dan peranan MPU, pemuka agama, dan guru pesantren (ustadz dan ustadzah) 3. Meningkatkan kualitas seleruh aparatur pemerintah, pimpinan masyarakat , dan kepala keluarga dalam menjalankan syariat Islam dalam seluruh segi kehidupan 4. Meningkatkan peran para santri ebagai pengembang syiar da Pembina syariat Islam 5. Memperbesar anggaran (biaya)buntuk pengembangan dan pembinaan syariat Islam 6. Meningkatkan kepedulian social antar sesame ummat 7. Memperkuat persatuan dan kesatuan ummat Islam serta memelihara perdamaian 2017-2021 (3) A. BIDANG AGAMA 1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang syariat Islam, diikuti dengan pengalaman di dalam keseharian. 2. Memantapkan fungsi dan peranan MPU, pemuka agama, dan guru pesantren (ustadz dab ustadzah) 3. Memantapkan implementasi nilai-nilai syariat Islan oleh para aparatur pemerintahan, pimpinan masyarakat dan kepala rumah tangga yang berkesinambungan. 4. Meingkatkan kemamouan pemahaman dan pengetahuan teknologi bagi seluruh anak didik (pelajar, siswa, dan mahasiswa) 5. Memperbesar anggaran (biaya) pengembangan syiar dan Syariat Islam. 6. Memperluas kepedulian sosial. 7. Memperkuat persatuan dan kesatuan umat Islam. 2022-2027 (4) A. BIDANG AGAMA 1. Mewujudkan Kota Langsa sebagai pusat syariay Islam. 2. Mewujudkan masyarakat Kota Langsa yang muslim secara kaffah. 3. Mengembankan informasi teknologi yang bernuansa islami. 4. Mewujudkan Kota Langsa yang Baldatun Thaibah.

81

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tahun 2007-2011 (1) B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. 2. Meningkatkan ketahanan ketersediaan pangan. 3. Memperluas kesempatan kerja dan kesempatan usaha. 4. Meningkatkan nili tambah hasil produksi masyarakat di sektorsektor potensial. 5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui pengembangan usaha produktif dengan bantuan modal usaha dan jiman hidup. 6. Mengurangi angka pengangguran. 7. Mengembangkan kawasankawasan tertinggal. 8. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian dan perkebunan, dan perikanan.’ 9. Mengembangkan industriindustri pengolahan (agro industri) 10.Meningkatkan kemampuan keuangan daerah dari sumber PAD. 11.Meningkatkan pemanfaatan dan pengelolaan potensi sumber daya alam secara optimal. 12.Meningkatkan fungsi pelabuhan Kuala Langsa dalam aktivitas perdagangan domestik dan luar negeri. 13.Mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah, koperasi, dan usaha industri lainnya. 14.Mengembangkan keterampilan pelaku usaha tani/nelayan. C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi 2. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat 3. Meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, terutama penyandang masalah sosial 4. Mengembangkan dan 2007-2011 (2) B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. 2. Memantapkan ketahanan ketersediaan pangan. 3. Memperluas kesempatan kerja dan kesempatan usaha. 4. Meningkatkan nilai tambah hasil produksi masyarakat. 5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bantuan modal usaha. 6. Mengembangkan kawasankawasan cepat tumbuh dan stategis. 7. Meningkatkan kuantitas komoditi ekspor hasil olahan. 8. Meningkatkan kemampuan PAD 9. Memanfaatkan potensi sumber daya alam yang optimal. 10.Memantapkan fungsi pelabuhan Kuala Langsa sebagai pelabuhan bertaraf Internasional. 11.Meningkatkan kualitas usaha mikro, kecil dan menengah, dan usaha industri lainnya. 12.Meningkatkan kualitas usaha industri yang berorientasi ekspor. 13.Meningkatkan kemampuan pemanfaatan teknologi. 14.Meningkatkan keterampilan dan kemampuan pelaku usaha/nelayan, pengelola koperasi, pelaku industri. 2007-2011 (3) B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Memelihara pertumbuhan ekonomi daerah yang tinggi 2. Memantapkan ketahanan pangan 3. Menjamin ketersediaan lapangan usaha dan lapangan kerja 4. Mengembangkan usaha perekonomian yang mengarah kepaa agribisnis berkualitas ekspor 5. Menjamin kesejahteraan masyarakat terutama golongan miskin 6. Menjadikan kawasankawasan cepat tumbuh menjadi sentra produksi yang berorientasi ekspor 7. Menjamin ketersediaan anggaran biaya pembangunan daerah yang memadai 8. Melakukan intensifikasi pemanfaatan sumberdaya alam 9. Mengoptimalkan aktivitas pelabuhan Kuala Langsa dalam perdagangan luar negeri 10. Menciptakan kemandirian usaha kecil dan menengah 11. Meningkatkan kualitas produksi industri orientasi ekspor 12. Peningkatan pemanfaatan teknologi modern 13. Mewujudkan kemandirian petani/nelayan, pengelola koperasi, pelaku industri 2007-2011 (4) B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Mewujudkan Kota Langsa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang strategis 2. Memantapkan ketahanan pangan 3. Mewujudkan petani modern dan tangguh 4. Menjamin kesejahteraan masyarakat miskin 5. Memajukan industri modern yang berbasis sumberdaya lokal dan berorientasi ekspor 6. Memantapkan eksistensi kawasan-kawasan sentrasentra produksi 7. Menjamin ketersediaan anggaran biaya pembangunan daerah yang memadai 8. Mengoptimalkan intensifikasi dan pembaharuan sumberdaya alam 9. Memantapkan pelabuhan Kuala Langsa sebagai pelabuhan internasional 10. Meningkatkan kualitas produksi yang berorientasi ekspor 11. Mewujudkan peningkatan dan pengembangan teknologi modern

C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Meningkatkan kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern 2. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat 3. Memberdayakan masyarakat penyandang masalah sosial 4. Mengawasi nilai-nilai budaya

C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Menjamin kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta kapasitas lembaga pendidikan 2. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat 3. Memberdayakan dan membina masyarakat

C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Memantapkan kualitas kelembagaan pendidikan 2. Memelihara kualitas derajat kesehatan masyarakat 3. Membina dan mensejahterakan masyarakat penyandang masalah sosial 4. Melestarikan nilai-nilai budaya daerah yang positif

82

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tahun 2007-2011 (1) melestarikan nilai-nilai budaya asli daerah 5. Meningkatkan peranan perempuan dalam pembangunan daerah 2007-2011 (2) asing yang bertentangan dengan syariat Islam 5. Menjamin peran perempuan dalam pembangunan daerah 2007-2011 (3) penyandang masalah sosial 4. Meningkatkan pengembangan nilai-nilai budaya daerah yang mengandung nilai-nilai positif dalam pembangunan daerah 5. Meningkatkan peranan perempuan dalam pembangunan daerah D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Memantapkan pengembangan prasarana pada sektor-sektor yang mempunyai nilai ekonomi dannilai sosial yang lebih tinggi 2. Melibatkan kalangan dunia usaha, terutama perusahaanperusahaan besar dalam pengembangan prasarana dan sarana 3. Memjamin ketersediaan anggaran biaya pembangunan prasarana dan sarana 4. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan prasarana dan sarana E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Memantapkan stabilitas politik dan keamanan 2. Melaksanakan penegakan hukum tanpa diskriminasi 3. Mengembangkan kesadaran hukum di kalangan masyarakat 2007-2011 (4) bagi pembangunan daerah 5. Meningkatkan peranan perempuan dalam pembangunan daerah

D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Memperlancar hubungan antar wilayah, antar kawasan sentra produksi, dan usaha perdagangan 2. Mempermudah akses masyarakat dalam mendapatkan informasi, pelayanan, dan kehidupan yang layak 3. Meningkatkan kualitas prasarana dan sarana pelayanan publik 4. Meningkatkan ketersediaan anggaran biaya pembangunan prasarana dan sarana

D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Memjamim kelancaran hubungan antar wilayah, antar kawasan sentra prodksi dan usaha perdagangan. 2. Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan pemerintah 3. Meningkatkan kualitas pelayanan publik 4. Meningkatkan ketersediaan anggaran biaya pembangunan

D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Menjamin ketersediaan prasarana (infrastruktur) yang memadai dan berdaya saing 2. Menyertakan keterlibatan pihak swasta dalam pengembangan prasarana dan sarana 3. Menjamin ketersediaan angaran/biaya pembangunan prasarana dan sarana 4. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan prasana dan sarana

E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Mewujudkan kestabilan politik dan keamanan 2. Menegakkan dan melaksanakan hukum tanpa diskriminasi 3. Menumbuhkan kesadaran hukum di kalangan masyarakat F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Menciptakan pemerintahan yang bersih, amanah, dan berwibawa (good governance) 2. Meningkatkan kualitas SDM aparatur 3. Meningkatkan kualitas pelayanan publik 4. Meningkatkan koordinasi antar lembaga pemerintah 5. Mengembangkan sistem penghargaan (insentif) dan sanksi di kalangan aparatur

E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Memantapkan kestabilan politik dan keamanan 2. Melaksanakan penegakan hukum tanpa diskriinasi 3. Mengembangkan kesadaran hukum di kalangan masyaakat

E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Memantapkan stabilitas politik dan keamanan 2. Melaksanakan penegakan hukum tanpa diskriminasi 3. Mengambnagkan kesadaran hukum di kalangan masyarakat F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Memelihara pemeriny\tahan yang bersih, amanah, dan berwibawa (good governance) 2. Memantapkan kualitas SDM aparatur 3. Menjamin kualitas pelayanan publik 4. Mengefektifkan koordinasi, sinkronisasi, dan sinergitas antar lembaga pemerintah

F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Menciptakan pemerintahab yang bersih, amanah, dan berwibawa (good governance) 2. Meningkatkan kualitas SDM aparatur 3. Meningkatkan kualitas pelayanan publik 4. Memperkuat koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga pemerintah daerah 5. Memantapkan penerapan sistem penghargaan (insentif) dan sanksi bagi terhadap aparatur

F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Memelihara pemerintahan yang bersh, amanah, dan berwibawa (good governance) 2. Memantapkan kualitas SDM aparatur 3. Memantapkan kualitas pelayanan publik 4. Mengefektifkan koordinasi, sinkronisasi, dan sinergitas antar lembaga pemerintah

83

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tabel 8.2 STRATEGI PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG LIMA TAHUNAN KOTA LANGSA
Tahun 2007-2011 (1) A. BIDANG AGAMA 1. Meningkatkan dakwah islamiah di seluruh desa 2. Membentuk majelis-majelis yaklim, baik di kecamatan maupun di desa-desa 3. Meningkatkan sarana pendukung bagi MPU, dan kesejahteraan pemuka agama, dan guru pesantren 4. Mengaktifkan shalat berjamaah lima waktu dan ceramah agama di setiap masjid dan meunasah 5. Mengaktifkan shalat berjamaah dhuhur dan ashar, dan ceramah agama di seluruh perkantoran dan sekolah-sekolah 6. Menyediakan perpustakaan bermateri pengetahuan agam dan umum, baik di masjid, meunasah, pesantren, dan balai pengajian (balee seumeubeut) 7. Membentuk Baitul Maal mulai dari kabupaten sampai ke desadesa 8. Meningkatkan kesadaran seluruh insur masyarakat untuk membayar zakat, serta berinfaq, dan bersadaqah 9. Membangun/merehab dan meningkatkan kualitas prasarana peribadatan 10.Menjalin dan memperkuat hubungan silaturrahmi sesama anggota masyarakat B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Meningkatkan nilai tambah produksi sektor sekunder, tersier, dan primer 2. Mendorong peningkatan kuantitas kualitas produksi pertanian, perkebunan dan perikanan 3. Menyediakan balai benih dan saprodi 4. Membangun dan mengembangkan prasarana ekonomi dan pertanian (tanaman pangan, perkebunan d 2012-2016 (2) A. BIDANG AGAMA 1. Meningkatkan kualitas dakwah islamiah di seluruh desa 2. Meningkatkan peranan majelismajelis taklim 3. Mengaktifkan shalat berjamaah lima waktu dan ceramahceramah agama selesai shalat 4. Meningkatkan kualitas sarana perpustakaan di lembagalembaga keagamaan 5. Meningkatkan peran Baitul Maal 6. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk beramal shalih 7. Memelihara kualitas prasarana ibadah 8. Memperkuat hubungan silaturrahim antar anggota masyarakat dan memelihara perdamaian yang abadi 9. Meningkatkan aktiviyasaktivtas MPU dan pemukapemuka agama dalam bidang keagamaan 10.Menimbuhkan kesadaran dan kepedulian sosial 2017-2021 (3) A. BIDANG AGAMA 1. Memantapkan kualitas dakwah islamiah di seluruh desa 2. Meningkatkan peranan majelis-majelis taklim 3. Mengaktifkan shalat berjamaah lima waktu dan ceramah-ceramah agama selesai shalat 4. Memantapkan kualitas sarana perpustakaan di lembagalembaga keagamaan 5. Meningkatkan kualitas keterampilan para santri di bidang teknologi 6. Memantapkan kesadaran masyarakat dalam untuk beramal shalih 7. Memantapkan peran MPU dan pemuka-pemuka agama di dalam bidang keagamaan 8. Menjaga dan memperkuat hubungan silaturrahim antar anggota masyarakat dan memelihara perdamaian yang abadi 9. Meningkatkan kesadaran terhadap kepedulian sosial 2022-2027 (4) A. BIDANG AGAMA 1. Meningkatkan fungsi masjidmasjid dan meunasahmeunasah sebagai pusat pengembangan syariat Islam 2. Menyemarakkan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan hari-hari besar Islam 3. Mewujudkan suasana kehidupan kota yang bernuansa islami 4. Memelihara kualitas sarana perpustakaan dan materinya, baik pengetahuan umum (duniawi) maupun pengetahuan agama (ukhrawi) 5. Mewujudkan kehidupan keseharian masyarakan atas dasar ridha Allah (Minallahi Ridhwana)

B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Memantapkan nilai tambah produksi sektor sekunder, tersier, dan primer 2. Memelihara kualitas prasarana ekonomi dan pertanian di kawasan sentra-sentra produksi 3. Menyediakan benih dan bibit unggul untuk sektor pertanian 4. Membuka peluang untuk para investor domestik dan asing 5. Mengembangkan industri pengolahan hasil-hasil pertan

B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Memantapkan nilai tambah produksi sekunder, tersier, dan primer 2. Meningkatkan kemampuan petani untuk menghasilkan bibit/benih unggul 3. Mendatangkan para investor baik domestik maupun asing untuk memanfaatkan potensi SDA dengan mengusahakan berbagai kemudahan (insentif)

B. BIDANG EKONOMI DAN SDA 1. Memelihara nilai tambah produksi sektor sekunder, tersier, dan primer 2. Menumbuhkembangkan usaha wiraswasta 3. Menginfestasikan usaha perkebunan, tanaman pangan, dan perkebunan 4. Meningkatkan kemampuan petani untuk berinovasi dan bermitra dengan usaha-usaha besar yang ada

84

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tahun 2007-2011 (1) dan perikanan) 5. Mengidentifikasi peluang investasi di sektor ekonomi yang potensial 6. Mendorong pembangunan indistri pengolahan (agro industri) 7. Membangun tempat pengolahan dan pengawetan ikan 8. Mambantu dan memberdayakan masyarakat miskin 9. Meningkatkan keterampilan tenaga kerja/angkatan kerja yang menganggur 10.Mengidentifikasi potensi kawasan cepat tumbuh yang produktif 11.Menginventarisir permasalahan dan kebutuhan pembangunan kawasan tertinggal dan kawasan-kawasan kumuh 12.Meningkatkan keterampilan petani/pekebun/nelayan dan pengelola koperasi, serta menyediakan bantuan modal usaha 13.Menganalisis dan menghitung potensi Pendapatan Asli Daerah 14.Membuat rancana qanun tentang sumbangan pihak ketiga 15.Mengidentifikasi potensi SDA yang mungkin dikembangkan 16.Menjalin kerjasama dengan Pelindo I dalam pembangunan pelabuhan Kuala Langsa 2007-2011 (2) pertanian, perkebunan, dan perikanan 6. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan untuk komoditi ekspor 7. Membantu dan memberdayakan masyarakat miskin 8. Membangun balai latihan kerja yang berkualitas 9. Membina pengembangan sektor ekonomi di kawasankawasan cepat tumbuh 10.Membangun prasarana dasar di kawasan-kawasan tetinggal dan kawasan-kawasan kumuh 11.Memperluas jaringan pasar bagi komoditas ekspor 12.Memperluas objek-objek sumber Pendapatan Asli Daerah 13.Memanfaatkan potensi-SDA secara produktif 14.Mmenjalin kerjasama perdagangan luar negeri 15.Meningkatkan kualitas usaha mikro, kecil dan menengah dan koperasi 16.Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi industri 17.Meningkatkan penggunaan teknologi modern di bidang pertanian dan industri Membangn infrastruktur ekonomi yang memadai C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Meningkatan kualitas prasarana dan sarana pendidikan mulai dar TK sampai dengan Perguruan Tinggi 2. Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan 3. Meningkatkan kegiatan praktikum 4. Mengembangkan pendidikan kejuruan 5. Mengenbangkan teknologi pendidikan 6. Mengalokasikan anggaran sesuai dengan prioritas pembangunan pendidikan 2007-2011 (3) 4. Menjamin iklim yang kondusiif bagi pengembangan investasi 5. Meningkatkan kualitas berbagai jenis komoditi ekspor 6. Membardayakan masyarakat miskin 7. Memantapkan eksistensi industri-industri pengolahan dan koperasi 8. Mengembangkan dan meningkatkan fungsi balai latihan kerja 9. Mengembangkan sektor ekonomi berkapasitas ekspor di kawasan-kawasan cepat tumbuh 10.Memperluas objekobjek/sumber Pendapatan Asli Daerah 11.Memanfaatkab potensi SDA secara produktif 12.Meningkatkan aktivitas perdagangan antar pulau dan antar negara melalui pelabuhan Kuala Langsa 13.Memantapkan kesinambungan kuantitas dan kualitas produksi industri (agro industri) 14.Meningkatkan penggunaan teknologi modern di bidang pertanian dan industri Meningkatkan infrastruktur ekonomi yang memadai dan menunjang peluang investasi C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Meningkatkan kerjasama luar negeri dalam pengembangan teknologi modern di semua jenjang pendidikan 2. Memanfaatkan teknologi modern dalam pelayanan kesehatan 3. Meningkatkan kemampuan tenaga medis dalam penggunaan teknologi modern untuk pelayanan 4. Mewujudkan kehidupan mandiri bagi masyarakat penyandang masalah sosial 5. Membina dan memberdayakan anak-anak yatim, fakir misin, dan para 2007-2011 (4) 5. Memajukan industry-industri pengolahan dengan penerapan teknologi modern 6. Menjalin kerjasama luar negeri di bidang industri modern 7. Memproritaskan pengembangan dan pembangunan kawasan cepat tumbuh 8. Meningkatkan kemampuan keuagan, kualitas pelaku usaha ekonomi daerah dan koperasi 9. Menjalin hubungan kerjasama internasional, bidang perdagangan, dan jasa bagi pengembangan pelabuhan Kuala Langsa Penggunaan teknologi modern di bidang pertanian dan industri

C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Meningkatkan kualitas prasarana dan sarana pendidikan mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi 2. Meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan 3. Melengkapi peralatan laboratorium sekolah menengah dan PT 4. Mengembangkan kegiatan praktikum 5. Merekrut tenaga pendidik yang berkualitas di bidang bahasa Inggris dan matematika 6. Meningkatkan anggaran biaya pembangunan pendidikan

C. BIDANG SOSIAL BUDAYA 1. Menjalin kerjasama dengan universitas-universitas luar negeri terutama di bidang pertanian dan indusrti 2. Menggunakan teknologi modern dalam pelayanan kesehatan 3. Meningkatkan kuantitas tenaga dokter dan tenaga medis yang menguasai teknologi bidang kesehatan 4. Meningkatkan kemandirian penyandang masalah sosial 5. Membna dan memberdayakan anak-anak yatim dan para janda 6. Meningkatkan kepedulian

85

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tahun 2007-2011 (1) 7. Meningkatkan kualitas prasarana dan sarana kesehatan baik Rumah Sakit umum maupun Puskesmas/Puskesmas Pembantu 8. Merekrut tenaga dokter (spesialis dan umum) dan tenaga kesehatan yang bermutu dan profesional 9. Meningkatkan kesejahteraan hidup tenaga kerja 10.Mendistribusikan/menempatkan tenaga kesehatan secara merata 11.Memberdayakan masyarakat penyandang masalah sosial 12.Membina dan menyantuni anakanak yatim dan para janda 13.Menginventarisasi anggota masyarakat yang menyandang masalah sosial, serta menyediakan prasarana dan sarana untuk penampungan, pemberdayaan, dan pembinaannya 14.Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kepedulian sosial 15.Meningkatkan peranan LAKA 16.Mengadakan fetival budaya daerah 17.Meningkatkan kualitas sumberdaya perempuan D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Menyediakan/membangun dan merehabilitasi prasarana jalan di kawasan perkotaan 2. Membangun prasarana jalan dan jembatan yang mempercepat pembangunan kawasan-kawasan cepat tumbuh/sentra-sentra produksi 3. Meningkatkan kualitas pelayanan listrik, air bersih, dan telekomunikasi 4. Membantu membangun perumahan layak huni kepada kaum dhuafa dan kawasankawasan kumuh 5. Menyediakan/membangun prasarana dan sarana yag mendukung kebersihan, keindahan, dan kenyamanan 2007-2011 (2) 7. Meningkatkan ketersediaan prasarana dan sarana kesehatan yang berkualitas 8. Menggunakan teknologi bidang kesehatan 9. Meningkatkan kualitas tenaga dokter dan tenaga kesehatan berikut penempatan secara merata 10.Mewujudkan kemandirian masyarakat penyandang masalah sosial 11.Membina dan memberdayakan anak-anak yatm, fakir miskin, dan para janda 12.Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan menjaga lengkungan yang sehat 13.Memberdayakan masyarakat yang menyandang masalah sosial 14.Membina dan menyantuni para anak yatim, janda, dan orangorang jompo 15.Meningkatkan kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai budaya asli daerah 16.Meningkatkan peranan LAKA Memberikan peluang bagi perempuan untuk berperan dalam setiap proses pembangunan daerah 2007-2011 (3) janda 6. Meninkatkan kepedulian sosial bagi seluruh masyarakat 7. Meningkatkan ketersediaan anggaran biaya untuk pembinaan dan pelayanan sosial 8. Melestarikan nilai-nilai budaya asli daerah dan nilai-nilai budaya asing yang bedampak negatif bagi kehidupan masyarakat Memanfaatkan sumberdaya perempuan sesuai dengan fitrah dan kodratnya dalam pembangunan daerah 2007-2011 (4) sosial bagi seluruh masyarakat 7. Melestarikan nilai-nilai budaya asli daerah dan membatasi nilai-nilai bdaya asing yang berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat 8. Memanfaatkan sumberdaya perempuan sesuai dengan fitrah dan kodratnya dalam pembangunan masyarakat dan daerah

D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Memelihara/merehabilitasi prasarana jalan di kawasan perkotaan 2. Meningkatkan kualitas prasarana jalan dan jembatan dalam kawasan cepat tumbuh/sentra-sentra produksi 3. Meningkatkan kualitas jaringan pelayanan listrik, air bersih, dan telekomunikasi 4. Meningkatkan kualitas perumahan kaum dhuafa dan kawasan-kawasan kumuh 5. Memelihara kualitas prasarana dan sarana yang mendukung kebersihan, keindahan dan kenyamanan lingkungan permukiman 6. Memelihara kualitas prasarana

D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Memelihara kualitas prasarana jalan dan jembatan di kawasan perkotaan 2. Memelihara/merehabilitasi prasarana jalan dan jembatan dalam kawasan-kawasan cepat tumbuh/sentra-sentra produksi 3. Menjalin kerjasama drngan pihak swasta dalam bidang pengembangan prasarana dan sarana 4. Memantapkan kualitas prasarana dan sarana pelabuhan Kuala Langsa

D. BIDANG PRASARANA DAN SARANA 1. Mengoptimalkan penyediaan prasarana dan sarana 2. Memperkuat hubungan kerjasama dengan para pengusaha/investor asing dalam pembangunan prasarana dan sarana 3. Mengalokasikan anggaran/biaya yang memadai untuk pengembangan prasarana dan sarana

86

Perhitungan dan Analisis Indeks Pembangunan Manusia Kota Langsa 2008

Tahun 2007-2011 (1) lingkungan pemukiman 6. Menyediakan prasarana dan sarana yang memadai bagi pemadam kebakaran 7. Membangun prasarana dan sarana pelabuhan Kuala Langsa E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman politik selruh masyarakat 2. Mewujudkan perdamaian yang abadi 3. Memelihara kesatuan dan persatuan 4. Menjaga keamanan dan ketertiban 5. Menegakkan hukum yang adil 6. Menyediakan sarana/prasarana yang memadai 7. Menumbuhkan pemahaman yang baik tentang hukum (produk-produknya) di kalangan masyarakat 8. Meningkatkan kualitas aparatur penegak hukum 2007-2011 (2) dan sarana pemadam kebakaran 7. Meningkatkan kualitas prasarana dan sarana pelabuhan Kuala Langsa’ 2007-2011 (3) 2007-2011 (4)

E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman politik seluruh masyarakat 2. Melestarikan perdamaian yang abadi 3. Memelihara kesatuan dan persatuan 4. Memelihara keamanan dan ketertiban 5. Menegakkan dan menjalankan hukum yang adil 6. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana 7. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dalam memeluhara stabilitas politik dan keamanan 8. Meningkatkan pemahaman tentang hukum (produkproduknya) di kalangan masyarakat 9. Meningkatkan kualitas aparatur penegak hukum

E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Memantapkan pengetahuan dan pemahaman politik seluruh masyarakat 2. Memelihara perdamaian yang abadi 3. Memelihara kesatuan dan persatuan 4. Memelihara keamanan dan ketertiban 5. Melaksanakan hukum yang adil 6. Memelihara kualitas sarana dan prasarana 7. Memantapkan partisipasi anggota masyarakat dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan 8. Memantapkan pemahaman tentang hukum (produkproduknya) di kalangan masyarakat 9. Memantapkan kualitas aparatur penegak hukum dan meningkatkan kerjasamanya F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Meningkatkan pemantapan disiplin kinerja aparatur pemerintah 2. Memberikan peluang untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan serta bantuanbantuan lainnya 3. Memantapkan kualitas infrastruktur pemerintah 4. Menjamin kesejahteraan aparatur 5. Memantapkan pengawasan dan evaluasi 6. Memantapkan koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga pemerintah

E. BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN 1. Memantapkan pengetahuan dan pemahaman politik seluruh masyarakat 2. Memelihara perdamaian yanga abadi 3. Memelihara kesatuan dan persatuan 4. Memelihara keamanan dan ketertiban 5. Melaksanakan hukum yang adil 6. Memelihara kualitas sarana dan prasarana 7. Membudayakan partisipasi masyarakat dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan 8. Memantapkan pemahaman masyarakat tentang produkproduknya 9. Mewujudkan aparatur penegak hukum yang profesional, jujur, dan disiplin

F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Meningkatkan disiplin kinerja aparatur pemerintah 2. Memberikan peluang untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan serta bantuan-bantuan lainnya 3. Meningkatkan ketersediaan infrastruktur pemerintahan yang memadai 4. Meningkatkan kesejahteraan aparatur 5. Melibatkan tenaga independen dalam monitoring, evaluasi, dan pengawasan 6. Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga pemerintah

F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Memantapkan disiplin kerja aparatur pemerintah 2. Memberikan peluang untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan serta bantuanbantuan lainnya 3. Memantapkan kualitas infrastruktur pemerintah 4. Menjamin kesejahteraan aparatur 5. Memantapkan pengawasan dan evaluasi 6. Meningkatkan koordinasi da sinkronisasi antar lembaga pemerintah

F. BIDANG PEMERINTAHAN 1. Meningkatkan pemantapan disiplin kinerja aparatur pemerintah 2. Memberikan peluang untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan serta bantuanbantuan lainnya 3. Memelihara kualitas infrastruktur pemerintah 4. Memantapkan pengawasan dan evaluasi 5. Memantapkan koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga pemerintah

87

BADAN PUSAT STATISTIK KOTA LANGSA Jl. Tgk Chik Ditunong No. 28 Langsa 24415 Telp. (0641) 21277
email: bps1173@mailhost.bps.go.id

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful