Anda di halaman 1dari 6

TUGAS RESENSI

PENDIDIKAN AGAMA

Disusun Oleh: Adela Veneta Kisti 09.70.0018

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG
2012

Agama Bukan Pedoman Mati


Oleh Hamid Basyaib Artikel ini menceritakan tentang santri senior dan santri junior. Santri senior tidak mau menolong wanita yang ketakutan ingin menyeberang karena wanita itu bukan muhrimnya. Sedangkan santri junior menolongnya lalu menggendong wanita tersebut untuk menyeberangi sungai. Santri senior menilai bahwa santri junior telah berbuat dosa karena telah melanggar peraturan bahwa pria wanita yang belum menikah dilarang bersentuhan. Tetapi santri senior menilai bahwa agama itu bukan pedoman mati, tetapi pedoman hidup. Ia hidup di dunia ini untuk saling membantu. Kisah tersebut memperlihatkan dua sisi pemahaman agama yang saling bertolak belakang. Santri senior memahami agama dari sudut kondisi normal sehingga semua kehidupan didunia ini harus diatur dengan hukum agama yang normal pula. Sementara Santri junior memahami agama dari sudut darurat sehingga aturan agama bisa ditanggalkan demi kehidupan didunia. Saya sepakat dengan pemikiran Hamid Basyaib, bagaimananpun agama harus tetap diinterpretasikan dengan menggunakan asas rasionalitas. Karena jika agama dipahami sebagai hal yang bersifat dogmatis maka tragedi seperti yang terjadi diarab saudi itulah yang akan muncul. Banyak wanita penghuni sekolah putri mati terpanggang karena ingin menyelamatkan diri tetapi tidak diijinkan keluar dikarenakan tidak memakai jilbab. Petugas pemadam pun dilarang menyelamatkan dikarenakan bukan muhrimnya. Padahal Tuhan semua agama itu mengajarkan menolong sesama sebagai dasar.

KAFIR
Oleh Saidiman Ahmad Artikel ini menceritakan tentang salahnya penafsiran tentang kafir. Kekeliruan yang pertama, Abu Bakar Basyir menyebut Presiden Susilo Bambang-Yudoyono kafir. Bagi Baasyir, negara dengan sistem pemerintahan yang tidak Islamis atau tidak menerapkan syariat Islam pastilah dipimpin oleh seorang kafir. Selain itu di Cirebon, Muhammad Syarif, melakukan aksi bom bunuh diri dengan target polisi. Alasan yang digunakan oleh Muhammad Syarif persis sama dengan argumen takfir yang dikemukakan Baasyir. Kekeliruan definisi tampak pada implikasi lanjutan setelah seseorang atau kelompok dicap kafir, yakni kekerasan bahkan pembunuhan. Hal ini menunjukkan bahwa cap kafir digunakan untuk menyingkirkan seseorang atau kelompok dari suatu komunitas, yakni komunitas Islam. Kafir diartikan sama dengan orang yang berada di luar Islam, yang oleh karenanya adalah musuh. Dan itu adalah kekeliruan yang terus dipelihara oleh sekelompok orang Islam sendiri. Kedua, Abu Bakar Baasyir, Muhammad Syarif dan kawan-kawanya acapkali secara sengaja mengabaikan prinsip utama bagaimana seorang bisa disebut Muslim. Prinsip-prinsip itu sesungguhanya sangat sederhana yang tertuang dalam apa yang disebut lima pilar Islam (arkaanul Islam/rukun-rukun Islam), yakni syahadat, salat, puasa, zakat, dan naik haji bagi yang mampu. Sejauh seseorang melaksanakan lima prinsip dasar ini, ia adalah seorang Muslim. Tidak pernah ada satu doktrin Islam yang valid menyatakan bahwa salah satu rukun Islam adalah mendirikan negara Islam. Ketiga, kalau pengkafiran yang dilakukan oleh Baasyir dan kawankawannya ini bertujuan untuk mengagungkan Islam, maka sebenarnya yang mereka lakukan justru mengkerdilkan Islam. Islam yang sedemikian luas menjadi begitu terbatas hanya pada kelompok Baasyir. Keempat, kekeliruan juga terjadi pada implikasi pengkafiran tersebut. Ketika seseorang dianggap kafir maka seolah-olah kekerasan dan bahkan pembunuhan menjadi halal dilakukan terhadapnya. Ini adalah kekeliruan yang sangat fatal karena tidak ada sandaran doktrin Islam yang mendukung kekerasan atau pembunuhan terhadap mereka yang berada di luar Islam. Kekeliruan semacam ini juga bisa merusak hubungan antar sesama manusia.

Hamid Basyaib : Otonomi Individu Harus Diperjuangkan

Artikel ini berisi tentang pro dan kontra terhadap Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Di dalam artikel ini terdapat perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIl) dengan Hamid Basyaib, peneliti Freedom Institute. Hamid Basyaib mengatakan bahwa yang pertama undang-undang kita banyak yang masih bermasalah dari sudut teknis. Masalah teknis itu misalnya mencakup soal definisi. Dalam suatu produk perundang-undangan, rumusan-rumusannya harus dibuat sejelas mungkin. Kalau Anda menyebut buah mangga, buah mangganya harus jelas betul. Sehingga ketika di tiap pasal disebut kata buah mangga, ia akan mengacu pada buah mangga yang sama. Karena itu, dari awal saya katakan, RUU ini tidak memenuhi syarat untuk dibahas, karena begitu acak-acakan, begitu sembarangan. Kedua, istilah pornoaksi yang ada RUU ini juga hanya ada di Indonesia dan tak pernah ada di bumi manapun. Di kamus-kamus bahasa Indonesia pun tidak ada. Jadi, kita kadang-kadang suka membikin hal-hal yang aneh dan tak ada referensinya di manapun di dunia ini. Sebab yang namanya undang-undang itu bermaksud mengatur kehidupan bersama dengan cakupan seluas mungkin warga negara. Justru karena itu, harus diambilkan prinsip-prinsip yang paling umum, sembari tidak terlalu umum sehingga bisa disalahgunakan semau-mau orang. Di situlah seni sekaligus tantangan membuat undang-undang. Karena semua itu tak ada dalam RUU ini, saya dapat mengatakan bahwa RUU ini dibuat dalam suasana kalap dan membabi buta. Hanya karena pornografi seolah-olah sudah begitu rupa, kita tidak lagi bisa berpikir jernih. Pornografi tentu saja masalah. Di seluruh dunia, tidak terkecuali di negara-negara liberal di Eropa Barat, ia tetap jadi masalah. Karena itu, ia diatur sedemikian cermat agar tak lagi jadi masalah. Tidak ada negara modern, maju, dan beradab di dunia ini yang tak mengatur soal pornogarafi meski tak menggunakan undangundang khusus. Hanya saja, mereka tak sedang berfantasi dapat menghilangkannya sama sekali. masak kita tak percaya pada kemampuan diri sendiri. Mau jadi apa kita kalau semua urusan mau dilimpahkan pada negara? Maksud saya, pornografi itu memang masalah. Tapi kan bisa diatasi saja dengan wajar. Selama masyarakat ini beradab, dan sebagian besar masyarakat di dunia ini memang beradab dan semakin banyak yang makin beradab, soal itu bisa diatur dengan kepala dingin. Yang jadi soal bukanlah pro atau anti pengaturan, tapi bagaimana definisi dan ruang lingkup pornografi itu dirumuskan agar

tidak melebar ke arah-arah yang tidak semestinya. Salah satu prinsip yang harus diperjuangkan dalam menjaga etika kebebasan adalah otonomi individu, tanpa harus bersikap individualistis atau egoistis, yaitu keyakinan bahwa setiap orang punya hak untuk bertindak atau tidak bertindak, dan bertanggung jawab atas tindakannya itu. Dalam dunia politik, otonomi individu menjadi salah satu syarat tegaknya system demokrasi. Namun, banyak orang yang tidak suka dengan prinsip otonomi individu karena dianggap sebagai bagian dari budaya Barat. Pertanggungjawabannya pun individual. Tidak bisa, misalnya, seseorang merasa terjerat kasus korupsi dengan menyalahkan system, atau aturan main yang koruptif. Di dalam system yang sekorup apa pun, seorang pemilik otonomi individu yang kuat tidak akan terbawa arus ikut-ikutan korupsi atau korupsi berjamaah. Selain itu, dalam ajaran Islam juga tidak dikenal adanya doktrin dosa warisan atau turunan. Setiap orang hanya akan memikul dosa dari kejahatan yang dilakukannya sendiri. Artinya, tanpa tanpa harus bercermin ke Barat, otonomi individu sudah ada dalam ajaran agama yang diyakini mayoritas penduduk negeri ini.

Developing Our Religious education


Oleh Saidiman Ahmad Artikel ini berisi tentang pengembangan ilmu agama. Ilmu-ilmu agama telah berkembang jauh melampaui batas-batas teologi dan doktrin. Ilmu sosial dalam perilaku umat beragama adalah semacam studi agama.Baru-baru ini, studi tentang Islam telah muncul di seluruh dunia.Topik yang paling menarik tidak berhubungan dengan doktrin Islam, tetapi menyangkut perilaku Muslim dan persepsi mereka tentang iman mereka. Friedrich Neumann Foundation (FNF) mengadakan seminar internasional tentang Agama dan Pendidikan di Jerman pada Maret 2010. Beberapa delegasi dari Rusia, Belarusia, Slovenia, Kyrgyzstan dan Ukraina yang menghadiri seminar mengusulkan masuknya agama ke dalam kurikulum sekolah. Mereka berpendapat bahwa agama adalah bagian penting dari kehidupan manusia dan bahwa tidak mungkin berbicara tentang kemanusiaan tanpa agama. , Pendidikan agama di lembaga-lembaga akademik harus memenuhi standar ilmiah, akan lebih baik bagi siswa untuk belajar tentang penelitian ilmiah ke dalam agama. Dengan demikian siswa akan memperoleh pengetahuan obyektif yang tidak hanya didasarkan pada pengetahuan subjektif dan iman. Bagi para guru kurikulum tersebut harus ulama dari berbagai latar belakang agama, bukannya terbatas pada ulama agama. Saat ini, pendidikan agama di lembaga-lembaga akademik bahasa Indonesia masih dianggap sebagai bagian dari misi agama. Oleh karena itu, guru agama dituntut untuk ulama, pendeta, dll. Pendidikan agama di Indonesia, baik di dalam keluarga dan sekolah, digunakan untuk menjadi doktrin. Tujuan ilmiah yang harus menjadi fokus lembaga pendidikan publik telah terbentur oleh tujuan misionaris. Lembaga akademis formal harus mengajari siswa tentang pengetahuan agama dan akademik sementara orang tua harus memberikan anak-anak mereka hak untuk menentukan keyakinan mereka sendiri saat mereka mencapai pubertas. Orang tua memberi nasihat dan memotivasi mereka, tetapi anak-anak yang harus memberikan keputusan akhir. Oleh karena itu, harapan pemuliaan individu sangat baik, baik dalam hal pengetahuan dan iman akan segera terpenuhi. Masyarakat religius dewasa ini akan muncul dari generasi baru. Jika tidak, itu adalah generasi orang percaya yang fanatik membabi buta mengklaim kebenaran mutlak dan tunggal yang akan muncul di masa depan.