Anda di halaman 1dari 12

PERAN INDUSTRI ROKOK PADA PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA:

Studi ditinjau dari aspek keuangan Pada Perusahaan Rokok yang telah terdaftar di BEJ Tahun 2005-2011 THE ROLES OF CIGARETTE INDUSTRY IN INDONESIAN ECONOMY Reviewed Studies Of The Financial Aspects Of The Cigarette Companies Listed On The BEJ In The Year 2005-2011 Tugas ini disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Metodologi Penelitian Dosen Pengampu : Perminas Pangeran Ph.D

Disusun Oleh: Nama: Bary Hastomo Kristyadi NIM: 11094841 Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah


Akhir-akhir ini perbincangan tentang tembakau dan produk turunannya masih sangat hangat diperdebatkan. Pada titik yang lain paling tidak pada tahun 2008 dikeluarkan tentang fatwa haram rokok, tahun 2009 dikeluarkan undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan tahun 2010 (masih dalam bentuk RPP) akan dikeluarkan tentang RPP pengamanan produk tembakau. Senada dengan fatwa MUI, maret 2010 fatwa haram rokok juga dikeluarkan oleh organisasi masa Muhammadiyah. Data menunjukkan pada kita bahwa paling tidak masih terdapat eksistensi penglohan komoditas tembakau yang begitu luar biasa. Terlihat dari hamparan luas areal tembakau di Indonesia dengan ratarata 185.785 ha dan mampu berproduksi sebesar 150.305 ton per tahun (Pusdatin Deptan, 2008). Secara spasial juga terlihat bahwa dominasi spasial tembakau tersebar dibeberapa wilayah Indonesia. Dari luas wilayah tersebut, 60% diantaranya berada di di Jawa Timur, 16% di Jawa Tengah dan DIY, 15% berada di Nusa Tenggara Barat, dan sisanya menyebar di seluruh Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa tembakau merupakan komoditas spesifik Indonesia. Tulisan ini mengangkat tembakau dari segi on-farm, of-farm termasuk kelembagannya. Tembakau merupakan tanaman yang spesific dan localize. Yang pertama terkait dengan jenis dan varietas sangat berpengaruh terhadap hasil. Sama-sama tembakaunya, akan berpengaruh terhadap perlakuan dalam usahatani dan pasca panennya. Sebagai contoh tembakau rajangan (cara pengairan, topping-nya, dan pengolahannya) berebeda dengan tembakau Virginia dan juga tembakau lainnya. Selanjutnya yang kedua tembakau jenis yang sama memberikan hasil yang berbeda saat ditanam di lahan yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa petani memiliki cara-cara tertentu dalam memproduksi tembakau.

Santoso dkk (2008) mengisyaratkan bahwa tembakau merupakan tanaman yang memiliki benefeciary tertinggi dibandingkan dengan tanaman semusim lainnya. Di wilayah lahan tembakau rotasi tanaman yang dipilih masyarakat adalah padi-padi tembakau, padi-tembakau, padi-palawijo-tembakau, padi-padi-palawijo. Dari empat pola rotasi tanaman tersebut, tiga diantaranya memasukkan tembakau dalam usahataninya, hanya satu yang tidak memasukkannya. Selanjutnya jika dibandingkan dengan palawijo lainnya, usahatani tembakau memiliki keuntungan tertinggi dibandingkan dengan tanaman kacang tanah, kedelai, jagung dan lainnya.

Hal-hal tersebut di atas merupakan faktor yang menyebabkan pengusahaan tembakau mempunyai basis yang kuat. Usaha untuk mengurangi areal tembakau sulit dilakukan karena tembakau hanya dapat ditanam pada wilayah-wilayah tertentu dengan kondisi kesesuaian lahan yang spesifik dan memberikan keuntungan bagi petani. Penggantian tembakau dengan tanaman alternatif seperti bawang merah, semangka dan melon pada awalnya memberikan hasil yang baik, tetapi pada saat komoditas tersebut makin berkembang pasar menjadi kendalanya, sehingga petani cenderung bertahan untuk menanam tembakau. Beberapa hal yang termasuk dalam off-farm tembakau adalah pengolahan pasca panen, pemasaran dan industri hasil tembakau. Dua hal pertama (pengolahan pasca panen, dan pemasaran) sangat terkait dengan jenis tembakau dan asal wilayah, sedangkan yang ketiga sangat terkait dengan struktur perekonomian nasional. Secara makro produksi rokok nasional rata-rata 215.671 juta batang (2000-2004), sejumlah 187.331 juta batang (87%) adalah rokok kretek yang 85% bahan baku tembakaunya dari dalam negeri. Penerimaan negara dari cukai selalu naik dari tahun ke tahun; pada tahun 2004 sebesar Rp. 28,6 triliun, tahun 2005 Rp. 33,2 triliun dan 2006 sebesar Rp. 38,5 triliun, tahun 2008 50 triliun dan tahun 2009 sebesar 56 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa tembakau memberikan sumbangan besar dalam

perekonomian Indonesia. Jika dikomparasikan dengan RAPBN tahun 2009 sebesar 1,014 triliun, sektor industri hasil tembakau memberikan sumbangan 5%. Sumbangan ini terlihat kecil jika dilihat persentasenya, akan tetapi akan terlihat besar jika dibandingkan dengan sektor lain yang ada di dalam struktur perekonomian (Tabel Input-Output 66 sektor). Suatu sektor dikatakan standar dalam perekonomian nasional jika menyumbang sebesar 1,5% (100%/66 sektor). Itu semua jika keadaan lain dikatakan ceteris paribus (artinya semua RAPBN hanya dibiayai dari penerimaan masing-masing sektor dalam perekonomian). Lebih lanjut dari ketenaga kerjaan, sektor industri tembakau (on-farm dan off-farm) menyumbang 18 juta serapan tenaga kerja, 8 juta dan on-nya dan 10 juta dari off-farmnya. Serapan tenaga kerja ini sangat mampu mengurangi beban negara dalam meningkatkan kesejahteraan warganya. Upah yang berlaku di industri hasil tembakau sudah sesauai dengan upah minimum regional daerah (Santoso, 2008) baik dengan sistem pengupahan kerja bulanan atau borongan. Di Industri hasil tembakau sudah ada asosiasi pengusaha rokok yang memberikan aturan tentang sistem kerja karayawan yang bekerja pada industri rokok yang dengan hal tersebut hak karyawan dapat terlindungi. Integrasi dalam Sektor Pertembakuan Per definisi, integrasi dalam sektor pertembakauan mengkaitkan antara sektor yang terlibat dalam pertembakauan yang dalam istiliah ekonomi dikenal dengan backward (keterkaitan ke belakang) dan keterkaitan ke depan (foreward linkage). Dalam usahatani tembakau sektor-sektor yang menyumbang adalah sektor pupuk, sektor sarana pertanian dan sektor tenaga kerja. Dalam dimensi ekonomi sektor-sektor tersebut dapat memutar roda perekonomian negara atau daerah dalam bentuk nilai tambah, kesempatan kerja, surplus usaha, dan penyusutan. Sedangkan dalam dimensi perdagangan luar negeri, sektor-sektor tersebut mampu menghasilkan devisa negara. Selanjutnya usahatani tembakau juga mampu menghidupkan sektor lain seperti sektor hasil tembakau (industri rokok), sektor angkutan, dan sektor perdagangan. Dalam dimensi sumbangan terhadap pendapatan negara sektor-sektor penunjang tersebut mampu menghasilkan pajak dan cukai.

Oleh karenanya, sektor pertembakauan harus berjalan dengan saling integrated. Tidak bisa usahatani tembakau berjalan dengan sendiri (stand alone sector), tanpa sektor industri, demikian juga sektor industri tembakau tidak bisa berdiri sendiri tanpa sektor usahatani tembakau dan sektor perdagangan, angkutan, prasarana dan lain-lain. Kondisi ini yang memperkuat sektor tembakau tetap eksis di negeri kretek ini.

Kiranya, akhir-akhir ini serangan yang menyudutkan keberadaan sektor pertembakuan di Indonesia memerlukan sikap bijaksana semua pihak terkait dengan pendapatan nasional, berjalannya ekonomi daerah, serapan tenaga kerja, kesejahteraan petani. Oleh karenanya perlu kebijakan bijaksana untuk mengatur sektor ini. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah meminimalisir efek negative (baca: kesehatan yang masih debatable) dari adanya sektor ini. Jangan sampai negeri kretek ini hilang gara-gara kebijakan sepihak.

1.2 Perumusan Masalah Perlu diketahui bahwa industri tembakau merupakan kesatuan industri dari usaha tani, industri pengolahan, pemasarannya dan industri hasil tembakaunya. Masalah tembakau dapat diartikulasikan dalam domain yang terintegrasi dengan semua elemen yang ada di didalamnya baik dari on farm business-nya maupun dari off-farm business-nya. Tembakau sangat terkait dengan petani sebagai penghasil tembakau dan juga industri rokok sebagai penyerap tembakau untuk dibuat dalam industri hasil tembakau. Sebagai gambaran usahatani tembakau rajangan per hektarnya dapat menghasilkan kurang lebih 900 kg tembakau kering dengan harga rata-rata Rp 21.000/kg, dengan demikian penerimaan petani sebesar Rp 18.900.000. Dari penerimaan tersebut, keuntungan yang didapatkan kurang lebih Rp 7,000,000, belum lagi tembaku jenis lain yang mendapatkan kauntungan lebih besar. Dibandingkan

dengan usahatani kedelai yang tiap hektarnya mendapatkan keuntungan Rp 3.000.000,-, dengan asumsi produksi tiap hektarnya 1.200 kg dengan harga Rp7.500 dengan biaya produksi sebesar Rp 6.000.000/hektarnya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor tembakau dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Lebih dari itu, usahatani tembakau sabagai pendorong bergeraknya roda perekonomian di daerah. Sebagai contoh di wilayah Pulau Madura, uang kartal yang disediakan oleh Bank Indonesia pada musim panen tembakau di Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep meningkat menjadi Rp. 750 juta sampai Rp. 1 triliun per bulan, sedangkan pada bulan-bulan biasa hanya Rp. 100 juta (Kompas, 2003). Sebagai tambahan usahatani tembakau membutuhkan biaya sekitar Rp 12.000.000 untuk tiap hektarnya, hal ini berarti ada sejumlah input yang digunakan untuk memproduksi tembakau tersebut baik dari sarana dan prasarana (lahan, pupuk) dan tenaga kerja. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa di daerah pengembangannya, tembakau memberikan sumbangan 60-80% dari total pendapatan petani, sehingga merupakan komoditas unggulan. Santoso dkk (2008) mengisyaratkan bahwa tembakau merupakan tanaman yang memiliki benefeciary tertinggi dibandingkan dengan tanaman semusim lainnya. Di wilayah lahan tembakau rotasi tanaman yang dipilih masyarakat adalah padi-padi tembakau, padi-tembakau, padi-palawijo-tembakau, padi-padi-palawijo. Dari empat pola rotasi tanaman tersebut, tiga diantaranya memasukkan tembakau dalam usahataninya, hanya satu yang tidak memasukkannya. Selanjutnya jika dibandingkan dengan palawijo lainnya, usahatani tembakau memiliki keuntungan tertinggi dibandingkan dengan tanaman kacang tanah, kedelai, jagung dan lainnya. Terkait dengan tenaga kerja di sektor pertembakauan di jelaskan bahwa tembakau dapat menyerap tenaga kerja. Alokasi waktu menanam tembakau sebesar 220 HOK - 320 HOK untuk tiap hektarnya dan bahkan untuk tembakau virginia membutuhkan 473 HOK. HOK tersebut senilai dengan 5 orang yang bekerja dalam 58 80 hari. Tenaga kerja (buruh) yang bekerja pada usahatani tembakau mendapat upah Rp.20.00035.000 perHOK. Sedangkan untuk tanaman padi dan tanaman palawija lain

masing-masing memiliki HOK sebesar 85 HOK 115 HOK dan 50 HOK 90 HOK untuk tiap hektarnya. HOK tersebut senilai dengan 3 tenaga kerja selama 26 hari dengan upah sebesar Rp15.00025.000/HOK. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tembakau sangat bermanfaat dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

1.3 Tujuan Penelitian Dalam studi ini Peneliti bertujuan untuk membuktikan adanay issu-issu diatas yang cukup emncengangkan bagi masyarakat Indonesia. Namun penelitian ini dibuat ketika adanya masalah yang timbul dalam sebuah kejanggalan yang cukup lugas dan tidak pernah bisa dipecahkan secara murni akademis. Masalah yang timbul seperti yang sudh ditulis diatas, Industry Rokok setidaknya menghidupi lebih dari 824 Ribu pekerja rokok farm maupun non farm (Fahmi Idris 2010). Tentunya ini berkaitan dengan perkembangan perekonomian Indonesia. Namun dalam kenyatannya sekarang ini muncul dan sudah terlihat dipermukaan bahwa perekonomian Indonesia semakin meningkat seiring dengan kekuatan Indoensia dalam industry sector-sektor riil. Sehingga

muncul sebuah pemikiran kalau-kalau ada sesuatu dibalik legalisasi Rokok secara bebas dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam penelitian ini peneliti menyebutkan bahwa riset ini tidak dikembangkan dalam teori dan pandangan secara ilmu Ekonomi, namun peneliti ingin memposisikan riset ini dari sudut pandang ilmu manajemen Keuangan. Jadi jelas penelitian ini masih memiliki space kosong serta mengambil bagian dalam keanekaragaman ilmu yang ada. Sehingga tujuan dari penelitian ini jelas untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengaruh atau peran industry rokok terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun dilihat dari sudut pandang (aspek) keuangan. Selain itu lepas dari tujuan peneliian yang terkait dengan Judul penelitian ini, Penelitian ini juga bisa dipakai mempelajari atau melihat, bahkan mengetahui 1. Eksistensi Emiten Industri Rokok dikalangan Investor

2. Perkembangan konsumsi Rokok di Indonesia 3. Apakah perusahaan rokok memiliki andhil besar dalam naik turunnya IHSG 4. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan perusahaan rokok dalam investasi 5. Forcaseting keadaan (kemajuan/kemunduran) Industri Rokok dimasa Mendatang Dalam Penelitian Ini peneliti betjuan untuk bisa memberikan satu warna baru dalam industry penelitian yang selama ini sudah banyak beredar tentang topic ini. Adanya issu dan masalah diatas bisa merangsang pertumbuhan atau penurunan industry Rokok di Indonesia. Namun Tujuan Penelitian ini juga bisa dipakai untuk membuktikan teori tentang Naik turunnya Harga Saham dan perkembangannya yang di pengaruhi oleh Harga Saham Emiten Yang tinggi. Namun dalam kasus penelitian ini, peneliti juga akan membahas tentang seberapa besar pengaruh Harga Saham pada emiten yang tinggi bisa mempengaruhi fluktuasi Indeks Saham Gabungan IHSG.

1.4 Keterbatasan Masalah Pada Studi ini bisa kita kaitkan dengan pola logika Manusia yang selama ini mungkin menjadi tanda Tanya besar bagi kalangan non akademis yang ingin mengetahui tingkat peran Rokok pada Perekonomian Indonesia. Namun Penelitian ini juga memiliki kelemahan serta keterbatasan. Penelitian ini hanya bisa melihat keadaan perekonomian Indonesia dari sudut pandang atau dari satu donator yaitu industry rokok. Tidak bisa melihat dari industry lain. Selain itu juga penelitian ini juga memiliki keterbatasan yang di sinyalir adalah dari sudut data. Data yang tidak banyak akan mengurangi tingkat kefektifitasan dan menambah bias yang nantinya terjadi pada Data maupun analisis secara Statistik. Selain keterbatasan masalah diatas, penelitian ini juga hanya bisa diaplikasikan di wilayah Indonesia saja, yang merupakan masyarakat konsumen rokok terbesar didunia dan juga pemilik perusahaan rokok dengan jumlah terbanyak di Dunia. Sehingga peneltitian ini hanya bisa diaplikasikan khusus di Indonesia. Meskipun samar data yang selama ini kita bisa lihat bahwa masyarakat Indonesia

disetiap lingkungan di lini masyarakat pasti ada perokok aktif dengan penghasilan atau dari kalangan bawah ataupun atas.

1.5 Manfaat Penelitian Kegunaan/manfaat penelitian umumnya dipilah menjadi dua kategori, yaitu teoritis/akademis dan praktis/fragmatis. Pada penelitian ini Kegunaan teoritis/akademis terkait dengan kontribusi ilmu pengetahuan pada penelitian di bidang keuangan serta perkembangan teori dan ilmu pengetahuan serta dalam dunia keuangan dan Investasi. Sedangkan kegunaan praktis/fragmatis berkaitan dengan kontribusi praktis yang diberikan dari peneliti terhadap para Investor dan pengamat pertumbuhan perekonomian Indonesia dan Juga masyarakat Indonesia yang selama ini ingin mengetahui keadaan pertumbuhan industry rokok dalam Negri. Contohnya : Merujuk pada tujuan penelitian diatas, maka penelitian ini sekurang-kurangnya diharapkan dapat memberikan dua kegunaan, yaitu :

Manfaat teoritis, dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan manajemen Keuangan, khususnya yang terkait dengan Investasi dan portofolio serta naik turunnya Indeks Harga Saham Gabuangan (IHSG) Indonesia sebagai indicator berlangsungnya/bertumbuhnya perekonomian Indoensia yang dilihat dari sudut pandang ilmu keuangan. Karena kita tahu bahwa IHSG adalah indicator yang selama ini digunakan oleh ahli Ekonomi meramalkan dan memutuskan pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Manfaat praktis, dapat memberikan masukan yang berarti bagi Investor dalam menganalisis tentang perusahan Rokok yang telah listing di BEJ sebagai bahan pertimbangan investasi. Selain itu juga untuk membantu Investor dalam menentukan bentukan Investasi.

BAB II Kajian Teori Dan Pengembangan Hipotesis

2.1 Kajian Teori Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah (Wikipedia). Hal ini menunjukkan bahwa rokok sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi masyarakat, khususnya Indonesia, karena mereka mendapatkan edukasi informal mengenai rokok. This house believes that cigarette industry should be developed in order to raise the performance of Indonesias economy. The writer would explain two main arguments relating to motion above. The first is its important contributions toward Gross Domestic Product of Indonesia. The second is the multipliers effect which influences its economic environment. Pertama adalah kontribusi indutstri rokok terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. PDB adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu (Wikipedia). Indonesia menggunakan PDB sebagai salah satu indikator perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menggunakan dua pendekatan menghitung PDB, yaitu pengeluaran (E) dan lapangan usaha (S). Formulasi untuk penghitungan PDB ini adalah, (E) PDB = Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Ekspor Impor) (S) PDB = Jumlah total produksi menurut lapangan usaha Analisis awal didasarkan pada kedua pendekatan penghitungan PDB, yaitu lapangan usaha (sektoral) dan pengeluaran. Dari data BPS, PDB (S) Indonesia terdiri dari sembilan sektor, diantaranya Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan (S1) dan Industri Pengolahan (S3). Kedua sektor inilah yang berkaitan dengan industri rokok. Perkebunan (termasuk tembakau) menyumbang 2% (S1) dan industri makan, minuman, dan tembakau 7% (S3) dari total PDB 2004-2009. Ini berarti bahwa industri rokok memang memiliki kontribusi dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data BPS, tingkat konsumsi makanan berkontribusi paling besar untuk Indonesia. Selama tiga tahun terakhir (2008-2010), konsumsi makanan menyumbang 28% dari PDB. Dari dua penjelasan di atas, industri rokok memang berperan aktif dalam aktivitas perekonomian Indonesia. Teori kedua adalah efek pengganda dari industri rokok yang mempengaruhi lingkungan ekonominya. Dampak Industri rokok bagi lingkungan ekonominya, yaitu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, mendorong pergerakkan perekonomian suatu daerah dan memberikan kontribusi

pendapatan melalui bea cukai rokok. lebih luas lagi, melalui Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan rokok berpartisipasi aktif berupa pelatihan, pembangunan fasilitas daerah, pendidikan masyarakat dan berbagai bentuk lainnya, meningkatkan pergerakkan kegiatan ekonomi suatu daerah. Peningkatan pegerakkan ekonomi suatu daerah secara umum juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusi industri rokok pada pertumbuhan ekonomi nasional tercermin pada penerimaan negara yang meningkat tiap tahun yaitu pada tahun 2007 sebesar Rp 43,54 triliun , meningkat pada tahun 2010 menjadi Rp 59 triliun dan pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 60 triliun. Bukti nyata peran industri rokok membangun lingkungan ekonomi positif yaitu seperti yang dilansir media online Metro TV, bahwa Perusahaan rokok Mitra Produksi Sigaret (MPS) milik PT HM Sampoerna menciptakan lapangan pekerjaan bagi 4.061 warga setempat dan memberikan kontribusi pendapatan daerah sebanyak Rp 302 miliar pada semester pertama tahun 2010. Beberapa orang berpikir bahwa rokok adalah hal yang harus dibumihanguskan. Menurut analisis penelitian terdahulu, tidak ada hal yang benar-benar buruk, begitu juga dengan rokok. Jika dilihat dari konstribusinya terhadap PDB, rokok memang menjanjikan sebagai industri potensial. Animo masyarakat akan rokok juga diakui besar dengan melihat kontribusi konsumsi makanan. Selain itu, multiplier effect dari industri rokok ini juga besar meliputi penyerapan tenaga kerja, khususnya masyarakat sekitar, mendorong pergerakan perekonomian suatu daerah, dan yang paling penting adalah industri rokok memberikan konstribusi pendapatan nasional melalui bea cukai. Berdasarkan dua argumen di atas, penulis sangat yakin bahwa industri rokok memang berperan positif terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi makro maupun mikro Indonesia.

2.2 Pengembangan Hipotesis

( rondhi_mp@yahoo.co.id )

Anda mungkin juga menyukai