Anda di halaman 1dari 6

PRESENTASI KASUS ANESTESI REGIONAL (SPINAL) PADA APENDISITIS

I.

IDENTITAS PASEIN Nama pasien Umur Berat Alamat :S : 24 tahun : 50 kg : Serepo timur RT 02/01 kutoarjo, Purworejo.

II.

KEADAAN UMUM Kesadaran Keadaan umum Tekanan darah Nadi Suhu Respirasi Nyeri : Compos Mentis : tenang : 130 / 90 mmHg : 98 x/menit : 36,5 oC : 20 x/menit : Regio abdomen kanan bawah

III.

ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 23 november 2006 kepada: Nama Umur Pekerjaan Hubungan Alamat a. :S : 24 tahun : Swasta :: Serepo timur RT 02/01 kutoarjo, Purworejo

Keluhan umum 3 hari SMRS perut bagian kanan bawah terasa nyeri, badan hangat. 1

b.

Riwayat penyakit sekarang 3 hari SMRS hari sebelum masuk rumah sakit, yaitu hari minggu

(19 november 2006), pasien merasakan nyeri pada perut bagian kanan bawah dan badannya hangat. Nyeri dirasakan tidak menjalar. Nyeri bertambah bila untuk menekukan kaki. Nyeri bersifat kumat-kumatan. Belum ada riwayat pengobatan apapun. Karena tidak ada perbaikan pada tanggal 22 Januari 2006 pasien dibawa ke RSUD Saras Husada Purworejo untuk menjalani rawat inap. Oleh dokter bedah didiagnosis appendisitis derajat I II dan direncanakan operasi pada tanggal 24 November 2006. c. Riwayat penyakit dahulu Pasien baru pertama kali menderita penyakit seperti ini. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asma. Pasien juga tidak memiliki riwayat alergi obat, HT, DM dan batuk lama. Pasien belum pernah menjalani operasi sebelumnya dan pasien belum pernah dirawat di rumah sakit. d. Riwayat penyakit keluarga Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa. Tidak ada riwayat penyakit asma, kencing manis dan hipertensi dalam keluarga. IV. PEMERIKSAAN FISIK Kepala : Mata Hidung Telinga Mulut Leher Thorak : Pembesaran lnn. leher (-) : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : simetris, tidak ada ketinggalan gerak thorak. : vocal fremitus normal, nyeri tekan (-). : sonor : wheezing (-), bising jantung (-). : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : deviasi (-), epistaksis (-), korpal (-) : sekret (-), tragus pain (-) : lidah tidak kering, bibir tidak kering

Abdomen

: Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : dinding perut sejajar dengan dinding dada. : bising usus normal. : nyeri tekan (-) pada titik Mc Burney : tympani.

Ektremitas : akral hangat (+), oedem (-)

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium Golongan darah : Hemoglobin Leukosit Trombosit GDS Ureum Kreatinin Trigliserid : 14,2 g% : 5.500 : 240.000 : 72 mg% : - mg% : - mg% : - mg% Protein total Albumin Globulin SGOT SGPT Kalium Na Cl : - g% : - g% : - g% : - U/L : - U/L : - mmol/L : - mmol/L : - mmol/L

2. Foto Thorak Besar Cor dan Pulmo normal

VI.

KESIMPULAN Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka: Diagnosis pre operatif Status operatif : Appendisitis derajat I - II : ASA I (pasien shat secara jasmni dan rohani, tidak ada gangguan sistemik) Jenis operasi : Appendiktomi 3

Jenis anestesi

: Regional (spinal)

VII.

TINDAKAN ANESTESI Keadaan pre operatif : Pasien menjalani puasa selama 8 jam sebelum operasi dimulai. Keadaan penderita tenang, kooperatif, tekanan darah 130 / 90 mmHg, nadi 98 kali / menit. Jenis anestesi : Anestesi regional (spinal). Premedikasi yang diberikan : 5 menit sebelum dilakukan induksi anestesi, pasien diberikan Ondancetron (Cedantron) 4 mg. Anestesi yang diberikan : Induksi anestesi (pukul 09.50): Dilakukan penyuntikan Lidocaine (Lidodex) 1 cc dengan jarum spinal ke ruang subarachnoid antara kanalis spinalis VL 4 VL 5. dan setelahnya diberikan phetidin 50 mg iv Pemeliharaan: Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan denyut nadi selalu dimonitor. Infus RL diberikan pada penderita sebagai cairan rumatan. Beberapa saat sebelum operasi selesai diberikan Ketorolac tromethamin (Remopain 3 %) 2,5 cc IV sebagai analgesik setelah operasi. Keadaan pasca operasi : Operasi selesai dalam waktu 35 menit (pukul 10.25). Ruang rumatan : Pasien dipindah ke ruang rumatan dan diawasi aktivitas motorik, sensorik dan kesadaran. Bila pasien tenang dengan Aldrette Score > 8 tanpa nilai nol, maka pasien dapat dipindah ke bangsal. Pada pasien ini, Aldrette Score bernilai 8, dengan rincian sebagai berikut: 1. Warna kulit merah muda (nilai 2) 4

2. Pasien dapat bernapas dalam dan teratur (nilai 2) 3. Tekanan darah + 20 % dari tekanan darah praanestesi (nilai 2) 4. Pasien bangun bila dipanggil (nilai 1) 5. Ekstremitas atas dapat digerakkan (nilai 1) Program pasca operasi : Setelah pasien memiliki Aldrette Score > 8, pasien dikirim ke bangsal dengan catatan: - Awasi tanda vital secara ketat - Awasi kesadaran - Infus cairan Ringer Laktat 1500 mL/24 jam - Cek Hb pasca operasi - Tidur terlentang dengan bantal - Jika kaki pasien dapat digerakkan dan pasien sadar penuh, minum bertahap - Pemberian analgesik (Remopain 3 % 3x1 ampul) - Pemberian antibiotik (Cefotaxim) - Lain-lain sesuai dokter bedah - Keadaan gawat darurat, hubungi dokter anestesi

VIII.

PEMBAHASAN Apendisitis pada anak dibagi menjadi 5 derajat. Pada kasus ini An. JWW, 4 tahun, dilakukan operasi appendiktomi dengan diagnosis preoperatif appendisitis derajat III IV. Pada kasus ini telah terjadi proses gangren dan ruptur apendiks. Hal ini dimungkinkan karena keterlambatan pasien dibawa ke rumah sakit. Gejala yang paling menonjol adalah demam dan nyeri tekan pada regio abdomen kanan bawah (titik Mc Burney). Pada operasi pasien ini, teknik anestesi yang digunakan adalah anestesi umum intravena dan anestesi regional (spinal). Sebagai premedikasi dipakai Midazolam (Miloz), Ketamin dan Ondancetron (Cedantron).

Midazolam dapat digunakan sebagai premedikasi dengan dosis sedatif (0,1 mg/kgBB) maupun sebagai analgesi anestesi dengan dosis 5-10 mg. Pada pasien ini digunakan Midazolam sebagai dosis sedatif yaitu sebanyak 1,5 mg. Ondancetron digunakan sebagai antiemetik sebanyak 4 mg yang diberikan secara intravena. Ketamin (ketalar) kurang digemari untuk induksi anestesi karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala dan mual-muntah pasca anestesia, pandangan kabur serta mimpi buruk. Ketamin juga dapat menimbulkan halusinasi, oleh karena itu sebelumnya perlu diberikan sedasi berupa Midazolam atau Diazepam dengan dosis 0,1 mg/kgBB dan untuk mengurangi salivasi diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kgBB. Dosis induksi intravena ialah 1-2 mg/kgBB dan untuk intramuskular 3-10 mg. Pada pasien ini Ketamin digunakan untuk analgesi dengan dosis 15mg, agar pada saat melakukan spinal anestesi, pasien tidak merasakan sakit. Induksi dilakukan dengan menggunakan Lidocaine (Lidodex) 1 cc dengan jarum spinal ke ruang subarachnoid antara kanalis spinalis VL 3 VL 4. Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan denyut nadi selalu dimonitor. Infus RL diberikan pada penderita sebagai cairan rumatan. Beberapa saat sebelum operasi selesai diberikan Ketorolac tromethamin (Remopain 1 %) 10 mg IV sebagai analgesik setelah operasi.