Anda di halaman 1dari 80

KARYA TULIS ILMIAH FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS PEMBINA

PLAJU PALEMBANG TAHUN 2009

OLEH : AULIA DWI NATALIA NIM. PO.71.20.1.06.044

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES DEPKES PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2009

65

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS PEMBINA PLAJU PALEMBANG TAHUN 2009

OLEH : AULIA DWI NATALIA PO.71.20.1.06.044

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES DEPKES PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2009

65

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH, AGUSTUS 2009 AULIA DWI NATALIA FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI PADA LANSIA DIPUSKESMAS PEMBINA PLAJU PALEMBANG TAHUN 2009. xx + 66 halaman + 12 tabel + 7 lampiran ABSTRAK Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan pada kelompok usia lanjut. Sebagai hasil pembangunan yang pesat dewasa ini dapat meningkatkan umur harapan hidup, sehingga jumlah lansia bertambah setiap tahunnya. Ironisnya peningkatan usia sering dibarengi dengan meningkatnya penyakit degeneratif dan masalah kesehatan lain pada kelompok ini.. Profil Puskesmas Pembina Palembang Tahun 2009 menunjukan bahwa hipertensi menduduki peringkat kedua 10 besar penyakit lansia. Tingginya penyakit hipertensi di Puskesmas Pemmbina diduga berhubungan dengan faktor resiko antara lain : umur, jenis kelamin, berat badan, genetik dan kurang olahraga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. Penelitian ini merupakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah penderita hipertensi yang berusia berusia 60 tahun keatas dan terdiagnosa penyakit hipertensi. Penelitian diambil dengan cara Non random sampling dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Pengambilan data dilakukan dengan kuisioner dan pemeriksaan fisik berupa pengukuran berat badan, tinggi badan dan tekanan darah sistolik. Hasil analisis bivariat didapatkan bahwa p value < (0,05) adalah variabel umur (0,010), dan olahraga (0,033). Sedangkan p value > (0,05) adalah jenis kelamin (0,217), genetik (0,067), dan berat badan (0,281). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada para lansia dan keluarga agar selalu menjaga pola makan dan menjalani pola hidup yang sehat, mempertahankan berat badan, pentingnya mengontrol tekanan darah. dan kepada petugas kesehatan terutama di Puskesmas Pembina Plaju Palembang agar selalu memberikan bimbingan dan penyuluhan dalam meningkatkan informasi tentang hipertensi pada kelompok lansia, komplikasi dan penanggulangannya
Daftar Pustaka : 18 (2001-2009)

65

DEPARTEMENT OF HEALTH REPUBLIC INDONESIAN POLYTECHNIC OF HEALTH PALEMBANG NURSING STUDY PROGRAM SCIENTIFIC WRITING TAKS, AULIA DWI NATALIA THE FACTOR THAT RELATED TO THE BLOOD PRESSURE OF HIPERTENSION RELATING TO THE ON ELDERLY IN PLAJU PEMBINA HEALTH CENTRE PALEMBANG 2009. xl + 59 Pages + 12 Tables + 7Appendix ABSTRACT Hypertension is still a health problem in the elderly group. as a result of rapid development today could increase life expectancy, so the number of elderly increases every year. Ironically increasing age is often accompanied with an increase in degenerative diseases and other health problems in this group. Profil Puskesmas coach Palembang Year 2009 showed that hypertension was ranked second of 10 hypertension lansia.Tingginya diseases in health center associated with the coach suspected risk factors include: age, sex, weight, genetics, and lack of exercise. Purpose of this study was to determine the factors associated with incident hypertension in the elderly in the health center palembang Plaju coach in 2009. This research is an analytical survey with cross sectional approach. Research sample is hypertension aged 60 years and over, and diagnosed hypertension. Research is taken by way of non-random sampling using Accidental Sampling techniques. Data retrieval is done by questionnaire and physical examination of the measurement of weight, height, and systolic blood pressure Bivariate analysis found that P value <(0.05) is the variable of age (0.010). and lack of exercise (0.033). while the p value> (0.05) is the sex (0.217), offspring (0.067), and weight (0.281) Based on research results, recommended to the elderly and families in order to always maintain your diet and live a healthy lifestyle, maintaining weight, the importance of controlling blood pressure. And to health workers, especially in Palembang Plaju coaches clinic in order to always provide guidance and counseling in improving information about hypertension in the elderly, complications and handling. Literature: 18 (2001-2009) AUGUST 2009

65

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS PEMBINA PLAJU PALEMBANG TAHUN 2009

Karya Tulis Ilmiah Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar AHLI MADYA KEPERAWATAN

OLEH :

AULIA DWI NATALIA PO.71.20.1.06.044

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES DEPKES PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2009

65

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena termasuk penyakit yang mematikan, tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Kalaupun muncul, gejala tersebut seringkali dianggap gangguan biasa, sehingga korbannya terlambat menyadari akan datangnya penyakit (Sustrani, 2006). Hipertensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena jika tidak terkendali akan berkembang dan menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Akibatnya bisa fatal karena sering timbul komplikasi, misalnya stroke (perdarahan otak), penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal (Gunawan, 2001). Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar merupakan hipertensi sistolik terisolasi (HST), meningkatnya tekanan sistolik menyebabkan besarnya kemungkinan timbulnya kejadian stroke dan infark myocard bahkan walaupun tekanan diastoliknya dalam batas normal (isolated systolic hypertension). Isolated systolic hypertension adalah bentuk hipertensi yang paling sering terjadi pada lansia. Pada suatu penelitian, hipertensi menempati 87% kasus pada orang yang berumur 50 sampai 59 tahun. Adanya hipertensi, baik HST maupun kombinasi sistolik dan diastolik merupakan faktor risiko morbiditas dan mortalitas untuk orang lanjut usia. Hipertensi masih merupakan faktor risiko utama untuk stroke,

65

gagal jantung penyakit koroner, dimana peranannya diperkirakan lebih besar dibandingkan pada orang yang lebih muda (Kuswardhani, 2007) Kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. Dinding, yang kini tidak elastis, tidak dapat lagi mengubah darah yang keluar dari jantung menjadi aliran yang lancar. Hasilnya adalah gelombang denyut yang tidak terputus dengan puncak yang tinggi (sistolik) dan lembah yang dalam (diastolik) (Wolff , 2008). Prevalensi HST adalah sekitar berturut-turut 7%, 11%, 18% dan 25% pada kelompok umur 60-69, 70-79, 80-89, dan diatas 90 tahun. HST lebih sering ditemukan pada perempuan dari pada laki-laki. Pada penelitian di Rotterdam, Belanda ditemukan: dari 7983 penduduk berusia diatas 55 tahun, prevalensi hipertensi (160/95mmHg) meningkat sesuai dengan umur, lebih tinggi pada perempuan (39%) dari pada laki-laki (31%). Di Asia, penelitian di kota Tainan, Taiwan menunjukkan hasil sebagai berikut: penelitian pada usia diatas tahun dengan kriteria hipertensi berdasarkan The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and treatment of High Bloodpressure (JNC VI),ditemukan prevalensi hipertensi sebesar 60,4% (laki-laki 59,1% dan perempuan 61,9%), yang sebelumnya telah terdiagnosis hipertensi adalah 31,1% (laki-laki 29,4% dan perempuan 33,1%), hipertensi yang baru terdiagnosis adalah

65

29,3% (laki-laki 29,7% dan perempuan 28,8%). Pada kclompok ini, adanya riwayat keluarga dengan hipertensi dan tingginya indeks masa tubuh merupakan faktor risiko hipertensi (Kuswardhani, 2007). Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan pada kelompok lansia. Sebagai hasil pembangunan yang pesat dewasa ini dapat meningkatkan umur harapan hidup, sehingga jumlah lansia bertambah tiap tahunnya, peningkatan usia tersebut sering diikiuti dengan meningkatnya penyakit degeneratif dan masalah kesehatan lain pada kelompok ini. Hipertensi sebagai salah satu penyakit degeneratif yang sering dijumpai pada kelompok lansia (Abdullah.2005). Data WHO tahun 2000 menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4% penghuni bumi mengidap hipertensi dengan perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara sedang berkembang, temasuk Indonesia (Andra,2007). Umur Harapan Hidup (UHH, proporsi penduduk Indonesia umur 55 tahun ke atas pada tahun 1980 sebesar 7,7% dari seluruh populasi, pada tahun 2000 meningkat menjadi 9,37% dan diperkirakan tahun 2010 proporsi tersebut akan meningkat menjadi 12%, serta UHH meningkat menjadi 65-70 tahun. Dalam hal ini secara demografi struktur umur penduduk Indonesia bergerak ke arah struktur penduduk yang semakin menua (ageing population). Peningkatan UHH akan menambah jumlah lanjut usia (lansia) yang akan berdampak pada pergeseran pola

65

penyakit di masyarakat dari penyakit infeksi ke penyakit degenerasi. Prevalensi penyakit menular mengalami penurunan, sedangkan penyakit tidak menular cenderung mengalami peningkatan. Penyakit tidak menular (PTM) dapat digolongkan menjadi satu kelompok utama dengan faktor risiko yang sama (common underlying risk faktor) seperti kardiovaskuler, stroke, diabetes mellitus, penyakit paru obstruktif kronik, dan kanker tertentu. Faktor risiko tersebut antara lain mengkonsumsi tembakau, konsumsi tinggi lemak kurang serat, kurang olah raga, alkohol, hipertensi, obesitas, gula darah tinggi, lemak darah tinggi Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001, di kalangan penduduk umur 25 tahun ke atas menunjukkan bahwa 27% laki-laki dan 29% wanita menderita hipertensi, 0,3% mengalami penyakit jantung iskemik dan stroke, 1,2% diabetes, 1,3% laki-laki dan 4,6% wanita mengalami kelebihan berat badan (obesitas), dan yang melakukan olah raga 3 kali atau lebih per minggu hanya 14,3%. Laki-laki umur 25-65 tahun yang mengkonsumsi rokok sangat tinggi yaitu sebesar 54,5%, dan wanita sebesar 1,2%

(http://www.dinkesjatengprov.go.id/ dinkes08/screeningdinkes.pdf). Profil kesehatan Puskesmas Pembina tahun 2008 menunjukkan bahwa ISPA menduduki peringkat pertama dan hipertensi menduduki peringkat ke dua dari 10 besar penyakit pada lansia (Profil Kesehatan Puskesmas Pembina Tahun 2008). Berdasarkan data dari Puskesmas Pembina Plaju Palembang diperoleh jumlah penderita hipertensi pada lansia tahun 2006 tercatat 657 lansia. Pada tahun 2007 tercatat 483 lansia. Pada tahun 2008 tercatat 290 lansia. Dan data pada bulan

65

Januari- Maret tahun 2009 tercatat 77 orang lansia dengan laki-laki 45 orang dan perempuan 32 orang. Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Hipertensi pada Lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009.

B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini masiah tingginya angka kejadian (prevalensi) hipertensi pada lansia yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, genetik, berat badan, dan kurang olahraga.

C. Pertanyaan Penelitian 1. Apakah terdapat hubungan antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009? 2. Apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009? 3. Apakah terdapat hubungan antara keturunan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009?

65

4. Apakah terdapat hubungan antara obesitas

dengan tekanan darah

penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009? 5. Apakah terdapat hubungan antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009?

D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya hubungan antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. b. Diketahuinya hubungan antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009.

65

c. Diketahuinya hubungan antara keturunan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. d. Diketahuinya hubungan antara obesitas dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. e. Diketahuinya hubungan antara olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Instansi Puskesmas Pembina Plaju Palembang Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau informasi dalam upaya menanggulangi penyakit hipertensi pada Lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang. 2. Bagi Pendidikan a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran yang berhubungan dengan penyakit hipertensi. b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi perpustakaan untuk mengembangkan wawasan serta pengetahuan.

65

3.

Bagi Peneliti Hasil penelitian dapat digunakan sebagai tambahan wawasan ilmu pengetahuan serta keterampilan didalam menganalisa permasalahan kesehatan yang ada dimasyarakat terutama mengenai penyakit hipertensi pada Lansia.

F. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan pendekatan analitik menggunakan rancangan cross sectional, dan dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia. Lokasi penelitian ini

dilakukan di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009 dengan subjek peneliti yaitu lansia berusia 60 tahun keatas dan terdiagnosa hipertensi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2009, dengan dilakukan wawancara dari data primer, pengukuran, dan kuisioner.

65

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi 1. Pengertian Hipertensi Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Sustrani, 2006). Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. WHO (World Health Organization) memberikan batasan tekanan darah normal adalah 140/90 mmHg, dan tekanan darah sama atau diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Batasan ini tidak membedakan antara usia dan jenis kelamin (Marliani, 2007). Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg (Rohaendi, 2008).

65

2. Etiologi Menurut Sutanto (2009), penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan- perubahan pada : a. b. c. Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dikelompokkan menjadi dua. Yang pertama hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya. Yang kedua hipertensi sekunder, disebabkan kelainan ginjal dan kelainan kelenjar tiroid. Yang banyak terjadi adalah hipertensi primer, sekitar 92-94% dari kasus hipertensi. Dengan kata lain, sebagian besar hipertensi tidak dapat dipastikan penyebabnya (Marliani, 2007).

65

3. Jenis Hipertensi Hipertensi dapat didiagnosa sebagai penyakit yang berdiri sendiri, tetapi lebih sering dijumpai terkait dengan penyakit lain, misalnya obesitas, dan diabetes melitus. Berdasarkan penyebabnya, hipertpensi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer Yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya (Gunawan, 2001). Sebanyak 90-95 persen kasus hipertensi yang terjadi tidak diketahui dengan pasti apa penyebabnya. Para pakar menunjuk stress sebagai tuduhan utama, setelah itu banyak faktor lain yang mempengaruhi, dan para pakar juga menemukan hubungan antara riwayat keluarga penderita hipertensi (genetik) dengan resiko untuk juga menderita penyakit ini. Faktor- faktor lain yang dapat dimasukkan dalam daftar penyebab hipertensi jenis ini adalah lingkungan,dan faktor yang meningkatkan resikonya seperti obesitas, konsumsi alkohol, dan merokok. b. Hipertensi renal atau hipertensi sekunder Yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain (Gunawan, 2001). Pada 5-10 persen kasus sisanya, penyebab spesifiknya sudah diketahui, yaitu gangguan hormonal, penyakit jantung, diabetes, ginjal, penyakit pembuluh darah atau berhubungan dengan kehamilan. Garam dapur akan memperburuk hipertensi, tapi bukan faktor penyebab.

65

4.

Patofisiologi Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang

mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah

65

menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan

struktural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Rohaendi, 2008).

5. Klasifikasi Hipertensi a. Klasifikasi hipertensi menurut WHO (World Health Organization) dalam Rohaendi (2008): 1) Tekanan darah normal, yakni tekanan sistolik kurang atau sama

dengan 140 mmHg dan tekanan diastoliknya kurang atau sama dengan 90 mmHg.

65

2) Tekanan darah borderline (perbatasan), yakni tekanan sistolik 140159 mmHg dan tekanan diastoliknya 90-94 mmHg 3) Tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni sistolik 1ebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih besar atau sama dengan 95mmHg.

b.

Menurut Salma Elsanti (2009), klasifikasi penyakit hipertensi terdiri dari: Tekanan sistolik: 1) < 119 mmHg : Normal 2) 120-139 mmHg : Pra hipertensi 3) 140-159 mmHg : Hipertensi derajat 1 4) > 160 mmHg : hipertensi derajat 2 Tekanan diastolik 1) < 79 mmHg : Normal 2) 80-89 mmHg : pra hipertensi 3) 90-99 mmHg : hipertensi derajat 1 4) >100mmHg : hipertensi derajat 2 Stadium 1: Hipertensi ringan (140-159 mmHg 90-99 mmHg) Stadium 2: Hipertensi sedang (160-179 mmHg 100-109 mmHg) Stadium 3: Hipertensi berat (180-209 mmHg 110-119 mmHg)

65

6. Gejala Hipertensi Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala khusus. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah diamati antara lain yaitu : a. Gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala b. Sering gelisah c. Wajah merah d. Tengkuk terasa pegal e. Mudah marah f. Telinga berdengung g. Sukar tidur h. Sesak napas i. Rasa berat ditengkuk j. Mudah lelah k. Mata berkunang-kunang l. Mimisan ( keluar darah dari hidung).

7. Faktor resiko yang mempengaruhi Hipertensi Menurut Elsanti (2009), faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat dikontrol, antara lain:

65

a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol: 1) Jenis kelamin Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun. Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%. (Anggraini dkk, 2009). Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause (Marliani, 2007).

65

2) Umur Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun, karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada kebanyakan kasus , hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. Pada wanita, hipertensi sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. Hanns Peter (2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Peningkatan kasus hipertensi akan berkembang pada umur lima puluhan dan enampuluhan. Dengan

65

bertambahnya

umur,

dapat

meningkatkan

risiko

hipertensi

(http://www.dinkesjatengprov.go.id/ dinkes08/screeningdinkes.pdf). 3) Keturunan (Genetik) Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini

berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu didapatkan 70-80% kasus hipertensi esensial dengan riwayat hipertensi dalam keluarga (Anggraini dkk, 2009). Seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi (Marliani, 2007). Menurut Rohaendi (2008), mengatakan bahwa Tekanan darah tinggi cenderung diwariskan dalam keluarganya. Jika salah seorang dari orang tua anda ada yang mengidap tekanan darah tinggi, maka anda akan mempunyai peluang sebesar 25% untuk mewarisinya selama hidup anda. Jika kedua orang tua mempunyai tekanan darah tingi maka peluang anda untuk terkena penyakit ini akan meningkat menjadi 60%.

65

b. Faktor resiko yang dapat dikontrol: 1) Obesitas Pada usia pertengahan ( + 50 tahun ) dan dewasa lanjut asupan kalori sehingga mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi (Rohendi, 2008). Untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas atau tidak, dapatdilakukan dengan mengukur berat badan dengan tinggi badan, yang kemudian disebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut: Berat Badan (kg) IMT = -----------------------------------------------Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m) IMT berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih. Obesitas beresiko terhadap munculnya berbagai penyakit jantung dan pembuluh darah. Disebut obesitas apabila melebihi Body Mass

65

Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). BMI untuk orang Indonesia adalah 25. BMI memberikan gambaran tentang resiko kesehatan yang berhubungan dengan berat badan. Marliani juga mengemukakan bahwa penderita hipertensi sebagian besar mempunyai berat badan berlebih, tetapi tidak menutup kemungkinan orang yang berat badanya normal (tidak obesitas) dapat menderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dibandingkan dengan berat badannya normal.

(Marliani,2007). 2) Kurang olahraga Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang lebih berat karena adanya kondisi tertentu (http://www.dinkesjateng prov.go.id /dinkes08/ screening dinkes.pdf). Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk. Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuaan

65

yang mendesak arteri. Latihan fisik berupa berjalan kaki selama 30-60 menit setiap hari sangat bermanfaat untuk menjaga jantung dan peredaran darah. Bagi penderita tekanan darah tinggi, jantung atau masalah pada peredaran darah, sebaiknya tidak menggunakan beban waktu jalan. Riset di Oregon Health Science kelompok laki-laki dengan wanita yang kurang aktivitas fisik dengan kelompok yang beraktifitas fisik dapat menurunkan sekitar 6,5% kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) faktor penting penyebab pergeseran arteri (Rohaendi, 2008). 3) Kebiasaan Merokok Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis. Dalam penelitian kohort prospektif oleh dr. Thomas S Bowman dari Brigmans and Womens Hospital, Massachussetts terhadap 28.236 subyek yang awalnya tidak ada riwayat hipertensi, 51% subyek tidak merokok, 36% merupakan perokok pemula, 5% subyek merokok 1-14 batang rokok perhari dan 8% subyek yang merokok lebih dari 15 batang perhari. Subyek terus diteliti dan dalam median waktu 9,8 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu kejadian hipertensi terbanyak pada kelompok subyek dengan kebiasaan merokok lebih dari 15 batang perhari (Rahyani, 2007).

65

4) Mengkonsumsi garam berlebih Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk

menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan

ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. (Wolff, 2008). 5) Minum alkohol Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi (Marliani, 2007). 6) Minum kopi Faktor kebiasaan minum kopi di dapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.

65

7) Pil KB Pil KB : Risiko meninggi dengan lamanya pemakaian ( 12 tahun berturut-turut) 8) Stress Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota (Rohaendi, 2003). Menurut Anggraini dkk, (2009) menagatakan Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal

8. Komplikasi Hipertensi Menurut Sustrani (2006), membiarkan hipertensi membiarkan jantung bekerja lebih keras dan membiarkan proses perusakan dinding pembuluh darah berlangsung dengan lebih cepat. Hipertensi meningkatkan resiko

65

penyakit jantung dua kali dan meningkatkan resiko stroke delapan kalindibanding dengan orang yang tidak mengalami hipertensi. Selain itu hipertensi juga menyebabkan terjadinya payah jantung, gangguan pada ginjal dan kebutaan. Penelitian juga menunjukkan bahwa hipertensi dapat mengecilkan volume otak, sehingga mengakibatkan penurunan fungsi kognitif dan intelektual. Yang paling parah adalah efek jangka panjangnya yang berupa kematian mendadak. a. Penyakit jantung koroner dan arteri Ketika usia bertambah lanjut, seluruh pembuluh darah di tubuh akan semakin mengeras, terutama di jantung, otak dan ginjal. Hipertensi sering diasosiasikan dengan kondisi arteri yang mengeras ini. b. Payah jantung Payah jantung (Congestive heart failure) adalah kondisi dimana jantung tidak mampu lagi memompa darah yang dibutuhkan tubuh. Kondisi ini terjadi karena kerusakan otot jantung atau system listrik jantung. c. Stroke Hipertensi adalah faktor penyebab utama terjadinya stroke, karena tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah yang sudah lemah menjadi pecah. Bila hal ini terjadi pada pembuluh darah di otak, maka terjadi perdarahan otak yang dapat berakibat kematian. Stroke juga dapat terjadi akibat sumbatan dari gumpalan darah yang macet di pembuluh yang sudah menyempit.

65

d. Kerusakan ginjal Hipertensi dapat menyempitkan dan menebalkan aliran darah yang menuju ginjal, yang berfungsi sebagai penyaringkotoran tubuh. Dengan adanya gangguan tersebut, ginjal menyaring lebih sedikit cairan dan membuangnya kembali kedarah. Gagal ginjal dapat terjadi dan diperlukan cangkok ginjal baru. e. Kerusakan penglihatan Hipertensi dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di mata, sehingga mengakibatkan mata menjadi kabur atau kebutaan.

9. Pencegahan Hipertensi Agar terhindar dari komplikasi fatal hipertensi, harus diambil tindakan pencegahan yang baik (stop High Blood Pressure), antara lain menurut bukunya (Gunawan, 2001),dengan cara sebagai berikut: a. Mengurangi konsumsi garam. Pembatasan konsumsi garam sangat dianjurkan, maksimal 2 g garam dapur untuk diet setiap hari. b. Menghindari kegemukan (obesitas). Hindarkan kegemukan (obesitas) dengan menjaga berat badan (b.b) normal atau tidak berlebihan. Batasan kegemukan adalah jika berat badan lebih 10% dari berat badan normal.

65

c.

Membatasi konsumsi lemak. Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak terlalu tinggi. Kadar kolesterol darah yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol dalam dinding pembuluh darah. Lama kelamaan, jika endapan kolesterol bertambah akan menyumbat pembuluh nadi dan menggangu peredaran darah. Dengan demikian, akan memperberat kerja jantung dan secara tidak langsung memperparah hipertensi.

d.

Olahraga teratur. Menurut penelitian, olahraga secara teratur dapat meyerap atau menghilangkan endapan kolesterol dan pembuluh nadi. Olahraga yang dimaksud adalah latihan menggerakkan semua sendi dan otot tubuh (latihan isotonik atau dinamik), seperti gerak jalan, berenang, naik sepeda. Tidak dianjurkan melakukan olahraga yang menegangkan seperti tinju, gulat, atau angkat besi, karena latihan yang berat bahkan dapat menimbulkan hipertensi.

e.

Makan banyak buah dan sayuran segar. Buah dan sayuran segar mengandung banyak vitamin dan mineral. Buah yang banyak mengandung mineral kalium dapat membantu menurunkan tekanan darah.

f.

Tidak merokok dan minum alkohol.

65

g.

Latihan relaksasi atau meditasi. Relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stress atau ketegangan jiwa. Relaksasi dilaksanakan dengan mengencangkan dan mengendorkan otot tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai, indah, dan menyenangkan. Relaksasi dapat pula dilakukan dengan mendengarkan musik, atau bernyanyi.

h.

Berusaha membina hidup yang positif. Dalam kehidupan dunia modern yang penuh dengan persaingan, tuntutan atau tantangan yang menumpuk menjadi tekanan atau beban stress (ketegangan) bagi setiap orang. Jika tekanan stress terlampau besar sehingga melampaui daya tahan individu, akan menimbulkan sakit kepala, suka marah, tidak bisa tidur, ataupun timbul hipertensi. Agar terhindar dari efek negative tersebut, orang harus berusaha membina hidup yang positif. Beberapa cara untuk membina hidup yang positif adalah sebagai berikut: 1) 2) Mengeluarkan isi hati dan memecahkan masalah Membuat jadwal kerja, menyediakan waktu istirahat atau waktu untuk kegiatan santai. 3) Menyelesaikan satu tugas pada satu saat saja, biarkan orang lain menyelesaikan bagiannya.

65

4) 5) 6)

Sekali-sekali mengalah, belajar berdamai. Cobalah menolong orang lain. Menghilangkan perasaan iri dan dengki.

B. Lanjut usia (Lansia) 1) Pengertian Lanjut Usia (Lansia) Usia lanjut merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Usia Lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade (Notoatmojo,2007). Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam, 2008). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam buku

(Wahjudi,2000) lanjut usia meliputi: 1. 2. 3. 4. Usia pertengahan (Middle Age) kelompok usia 45-59 Usia lanjut (Ederly) antara 60-70 tahun Usia lanjut tua (Old) antara 75-90 tahun Usia sangat tua (Very old) diatas 90 tahun

65

2. Klasifikasi Lansia Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia menurut (Maryam, 2008): 1. Pralansia (prasenilis) Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun 2. Lansia Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih 3. Lansia Resiko Tinggi Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/ seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan. 4. Lansia potensial Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/ jasa 5. Lansia tidak potensial Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain

3. Karakteristik Lansia Menurut Budi Anna Keliat (1999),dalam bukunya (Maryam, 2008) lansia memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No. 13 tentang kesehatan).

65

b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi maladaptif. c. Lingkungan tempat tinggal bervariasi.

4. Definisi Menua Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Dan proses menua merupakan proses yang teru-menerus (berlanjut) secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Wahjudi, 2000).

5. Perubahan-perubahan yang terjadi pada Usia Lanjut Masa lanjut usia dimulai sejak seseorang menginjak usia 60 tahun, akan tetapi proses pelayanan fisik sudah dimulai pada usia 40 tahun. Biasanya menginjak lanjut usia ditandai oleh kemunduran-kemunduran biologis yang terlihat sebagai kemunduran fisik menurut Maryam (2008) antara lain: a. Kulit mulai mengendur dan pada wajah mulai timbul keriput serat garisgaris menetap karena tonus otot berkurang. b. Rambut mulai beruban

65

c. Gigi mulai ompong d. Penglihatan dan pendengaran mulai berkurang e. Kulit menjadi kering f. Gangguan pencernaan dan absorpsi makanan didalam usus yang menyebabkan lebih sensitif terhadap makanan pedas dan berbumbu.

65

C. Kerangka Teoritis Menurut Elsanti (2009), kerangka terori dari faktor-faktor resiko terjadinya hipertensi, antara lain: Faktor yang tidak dapat dikontrol: 1. Umur 2. Jenis Kelamin 3. Genetik (Keturunan) Tekanan Darah Penderita Hipertensi Lansia Faktor yang dapat dikontrol: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Berat Badan Kurang Olahraga Merokok Konsumsi garam berlebih Minum alkohol Minum Kopi Pil KB Stres

Sumber: Salma Elsanti, 2009

65

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang diteliti (Notoadmodjo, 2005). Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, maka kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Variabel Independen
Umur Jenis Kelamin Genetik Berat Badan Olahraga Konsumsi garam Merokok Minum Alkohol Minum Kopi Pil KB Stres Tekanan Darah Penderita Hipertensi Hipertensi pada

Variabel Dependen

Lansia

Keterangan: = Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti

65

B. Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional No Variabel Definisi Cara Ukur 1. Tekanan darah penderita hipertensi lansia Suatu keadaan Wawan cara darah batas yakni Kuisioner dan Pengukuran TD 1. Tekanan Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur darah Ordinal

peningkatan tekanan melebihi normal,

tinggi, jika nilai sistole >160

mmHg dan nilai diastole mmHg. 2. Tekanan perbatasan, darah jika >95

nilai sistole >140 mmHg dan nilai diastole mmHg. >90

nilai sistole 150159 mmHg dan nilai diastole 9094 mmHg. (Rohaendi, 2008)

2.

Umur

Umur responden Wawan yang ulang terakhir. terhitung cara tahun

Kuisioner

1. Lansia

resiko Ordinal

tinggi, jika 70 tahun 2. Lansia, antara tahun jika 60-69

65

(Maryam, 2008)

1. 3.

Jenis Kelamin

Jenis responden

kelamin Wawan saat cara

Kuisioner

1. Laki-laki. 2. Perempuan

Nominal

diwawancara

4.

Genetik

Suatu dimana

keadaan Wawan adanya cara

Kuisioner

1. Ada hipertensi Jika riwayat hipertensi keluarga.

riwayat Nominal

riwayat hipertensi dalam keluarga

terdapat penyakit dalam

dimasa lalu yakni dari: bapak, ibu, saudara kandung, kakek dan nenek.

2. Tidak ada riwayat hipertensi Jika tidak terdapat riwayat hipertensi keluarga. penyakit dalam

5.

Berat Badan

Kelebihan jumlah Penguk berat badan yang uran dihitung IMT Massa dimana: IMT = Berat dalam (Indeks Tubuh)

Timbangan dan meteran badan

1.

Kelebihan badan

berat Nominal

Jika nilai IMT > 25 kg/m

2.

Tidak

kelebihan

berat badan Jika nilai IMT <

badan (kg) dibagi

65

Tinggi (m).

badan

25 kg/m (Marliani, 2007)

Olahraga

Aktivitas olahraga Wawan yang dilakukan cara

Kuisioner

1. Tidak Jika melakukan aktivitas olahraga setiap harinya. tidak

Ordinal

responden dengan menyisikan waktu khusus

2. Ya Jika melakukan

aktivitas olahraga setiap harinya.

65

C. Hipotesis 1. Ada hubungan antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 2. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 3. Ada hubungan antara keturunan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 4. Ada hubungan antara obesitas dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 5. Ada hubungan antara olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009.

65

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Desain penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dimana data variabel-variabel yang termasuk variabel dependen dan variabel independen yang dikumpulkan dalam waktu bersamaan (Notoatmodjo, 2005).

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. (Notoatmojo, 2005). Didalam populasi penelitian ini adalah semua lansia hipertensi yang berumur 60 tahun keatas yang berkunjung ke

Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 2. Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan cara Non Random Sampling yang menggunakan teknik Accidental sampling dimana pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia pada saat penelitian (Notoatmodjo, 2005 ).

65

3.

Kriteria Subjek Penelitian Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah kriteria sampel: a. Lansia (berusia 60 tahun keatas) b. Bersedia menjadi responden c. Jika responden tidak bisa membaca dan menulis peneliti memandu responden menjawab kuisioner melalui wawancara secara langsung. orang dengan

C. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009.

D. Waktu Penelitian Waktu penelitian dilakukan pada bulan Juni 2009, dari tanggal 10 Juni - 30Juni 2009.

E. Etika Penelitian Sebelum dilakukan penelitian responden akan menandatangani format persetujuan sebagai responden penelitian ini. Hal ini dilaksanakan sebelum peneliti menyerahkan kuisioner untuk wawancara. Peneliti akan menjaga kerahasiaan data atau keterangan yang diperoleh dari responden, apabila diperlukan.

65

F. Pengumpulan Data 1. Sumber Data a. Data Primer Adalah data yang diperoleh langsung dari responden melalui wawancara dan pengisian kuisioner yang telah disiapkan, serta pengukuran dengan alat ukur (tensimeter dan meteran badan). b. Data Sekunder Data yang diperoleh dari dokumen-dokumen tertulis yang didapat dari Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009. 2. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara pada responden. 3. Alat/ Instrumen Pengumpulan data a. Kuisioner Data yang dikumpulkan mengunakan kuisioner yang telah disiapkan dengan cara wawancara kepada responden. Penulis melakukan sendiri wawancara secara sistematis dengan lembar kuisioner yang berisi tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada Lansia. b. Alat Tensimeter, stetoskop,timbangan dan meteran badan.

65

G. Pengolahan Data 1. Editing (Pengeditan) adalah untuk meneliti apakah kuisioner sudah lengkap atau belum sehingga ada kekurangan dapat segera dilengkapi. Editing dapat dilakukan ditempat pengumpulan dan sehingga jika terjadi kesalahan, maka upaya perbaikan dapat dilaksanakan. 2. Coding (pengkodean) adalah suatu usaha memberikan kode atau menandai jawaban responden atas pertanyaan yang ada pada kuisioner. 3. Entry/ processing (pemasukan data) adalah pemasukan data-data penelitian tabel sesuai dengan kriteria. 4. Cleaning (pembersihan data) adalah suatu kegiatan yang melihat apakah suatu data sudah benar-benar bebas dari kesalahan.

G. Analisis Data Data yang disajikan dengan mendistribusikan melalui analisis univariat dan bivariat. 1. Analisis Univariat Analisa univariat yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian, tujuan dari analisa ini hanya untuk menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variable. (Notoatmodjo, 2005)

65

2. Analisis Bivariat Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dan variabel independen menggunakan uji Chi Square dengan derajat kemaknaan 0,05. Bila nilai p value (0,05) berarti hasil perhitungan statistik bermakna (signifikan), dan apabila nilai p value < (0,05) berarti hasil perhitungan statistik tidak bermakna (tidak signifikan).

65

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Gambaran Umum Lokasi Puskesmas Pembina Palembang Puskemas Pembina Palembang terletak di Kelurahan Silaberanti Kecamatan Seberang Ulu I Kota Palembang. Puskesmas ini terletak di Jl. A. Yani No. 62A, berada di pinggir jalan sehingga masyarakat yang memerlukan mudah untuk menjangkaunya. Selain itu banyak juga dilalui kendaraan umum. Wilayah kerjanya meliputi 2 kelurahan, yaitu Kelurahan Silaberanti dengan luas wilayah 381 hektar dan Kelurahan 8 Ulu dengan luas wilayah 297 hektar. Maka luas wilayah kerja Puskesmas Pembina Palembang adalah + 678 hektar. Berdasarkan SK Walikota Palembang tertanggal 1 April 1994, nama Puskesmas 8 Ulu diganti dengan menjadi Puskesmas Pembina Palembang dengan wilayah kerja meliputi kelurahan 8 Ulu dan Kelurahan Silaberanti. Sejak tanggal 17 Juli 2003 berdasarkan SK Walikota Palembang No. 599 Tahun 2003, Puskesmas Pembina Palembang ditetapkan menjadi Puskesmas Uji Coba Swakelola.

65

Wilayah kerja Puskesmas Pembina Palembang berbatasan dengan : a. b. c. d. Sebelah utara berbatasan dengan 9/10 Ulu. Sebelah selatan berbatasan dengan 13 Ulu. Sebelah timur berbatasan dengan 7 Ulu. Sebelah barat berbatasan dengan Plaju Ilir.

2. Visi Tercapainya Kelurahan 8 Ulu dan Kelurahan Silaberanti Sehat Yang Optimal Tahun 2008. 3. Misi Adapun misi Puskesmas Pembina Palembang adalah : a. b. Memasyarakatkan paradigma sehat pada semua pihak. Meningkatkan profesionalisme seluruh petugas kesehatan yang

berorientasi pada standar kesehatan. c. d. Pengadaan sarana dan prasarana keseatan yang bermutu prima. Memberdayakan masyarakat dan keluarga dalam mengatasi ksehatan yang ada. 4. Motto Motto Puskesmas Pembina Palembang adalah : Tanpa Anda Kami Tiada Berarti, Anda Sehat Kami Puas.

65

B. Analisis Univariat Dalam analisis univariat dihasilkan distribusi frekuensi (jumlah dan persentase) dari masing-masing kategori variabel dependen (tekanan darah penderita hipertensi pada lansia) dan variabel independen (umur, jenis kelamin, genetik, berat badan, dan kurang olahraga) sebagaimana berikut ini: Tabel 5.1 Distribusi frekuensi berdasarkan Tekanan Darah Penderita Hipertensi pada Lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009 No Tekanan darah N 1 Tekanan darah tinggi 2 Tekanan darah perbatasan Jumlah 42 100% 26 61,9% 16 Jumlah % 38,1% terlihat pada tabel

Berdasarkan tabel 5.1 dilihat bahwa dari 42 responden terdapat 16 responden (38,1%) dengan tekanan darah tinggi, dan terdapat 26 responden (61,9%) dengan tekanan darah perbatasan.

65

Tabel 5.2 Distribusi frekuensi berdasarkan Umur di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009 No Umur N 1 2 >70 tahun 60-69 tahun Jumlah 14 28 42 Jumlah % 33,3% 66,7% 100%

Berdasarkan tabel 5.2 dilihat bahwa dari 42 responden terdapat 14 responden (33,3%) yang berusia >70 tahun (66,7%) yang berusia 60-69 tahun. dan terdapat 28 responden

Tabel 5.3 Distribusi frekuensi berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009 No Jenis Kelamin n 1 2 Laki-laki Perempuan Jumlah 14 28 42 Jumlah % 33,3% 66,7% 100%

65

Berdasarkan tabel 5.3 dilihat bahwa dari 42 responden terdapat 14 responden (33,3%) yang berjenis kelamin laki-laki dan terdapat 28 responden (66,7%) yang berjenis kelamin perempuan.

Tabel 5.4 Distribusi frekuensi berdasarkan Genetik di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009 No Genetik N 1 2 Ada Tidak ada Jumlah 22 20 42 Jumlah % 52,4% 47,6% 100%

Berdasarkan tabel 5.4 dilihat bahwa dari 42 responden terdapat 22 responden (52,4%) yang disebabkan adanya faktor genetik dan terdapat 20 responden (47,6%) yang disebabkan tidak adanya faktor genetik.

65

Tabel 5.5 Distribusi frekuensi berdasarkan Berat Badan di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009 No Berat Badan n 1 2 Kelebihan BB Tidak Kelebihan BB Jumlah 42 100% 11 31 Jumlah % 26,2% 73,8%

Berdasarkan tabel 5.5 dilihat bahwa dari 42 responden terdapat 11 responden (26,2%) yang memiliki kelebihan BB dan terdapat 31 responden (73,8%) yang tidak kelebihan BB.

Tabel 5.6 Distribusi frekuensi berdasarkan kurang olahraga di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009 No Kurang Olahraga n 1 2 Tidak Ya Jumlah 27 15 42 Jumlah % 64,3% 35,7% 100%

65

Berdasarkan tabel 5.6 dilihat bahwa dari 42 responden terdapat 17 responden (64,3%) yang tidak melakukan aktivitas olahraga dan terdapat 15 responden (35,7%) yang melakukan aktivitas olahraga.

C. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan dengan tabulasi silang (Crosstabs) dan Uji ChiSquare untuk menetukan bentuk hubungan statistik anatara variabel independen ( umur, jenis kelamin, genetik, berat badan,dan kurang olahraga) dengan variabel dependen (tekanan darah penderita hipertensi pada lansia). Hasil analisis bivariat menemukan hubungan antara masing-masing variabel independen dan variabel dependen sebagai uraian pada tabel berikut ini: 1. Hubungan Umur dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia Tabel 5.7 Hasil Tabulasi Silang Antara Umur Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009. No Umur Tekanan Darah Tinggi N 1. 2. >70 tahun 60-69 tahun 1 15 % 7,1% 53,6% Perbatasan N 13 13 % 92,9% 46,4% 14 28 42 100% 100% 100% 0,010 N Total % P value

Total

65

Berdasarkan tabel 5.7 diatas, diketahui bahwa hasil tabulasi silang (crosstabs) antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, menunjukkan bahwa dari 28 responden yang berusia 60-69 tahun ada 15 orang lansia (53,6%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 14 responden yang berusia > 70 tahun ada 1 orang lansia (7,1%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 28 responden yang berusia 60-69 tahun ada 13 orang lansia (46,4%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 14 responden yang >70 tahun ada 13 orang lansia (92,9%) yang tekanan darah perbatasan. Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa nilai signifikan (P) hubungan antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia adalah p value = 0,010 (p value < 0,05), hal ini berarti bahwa ada hubungan bermakna antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia.

65

2. Hubungan jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia

Tabel 5.8 Hasil Tabulasi Silang Antara Jenis Kelamin Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009. No Jenis Kelamin n 1. 2. Laki-laki Perempuan 3 13 Total Tekanan Darah Tinggi % 21,4% 46,6% Perbatasan N 11 15 % 78,6% 53,6% 14 28 42 100% 100% 100% 0,217 N Total % P value

Berdasarkan tabel 5.8 diatas, diketahui bahwa hasil tabulasi silang (crosstabs) antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, menunjukkan bahwa dari 28 responden yang berjenis kelamin perempuan ada 13 orang lansia (46,6%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 14 responden yang berjenis kelamin laki-laki ada 3 orang lansia (21,4%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 28 responden yang berjenis kelamin perempuan ada 15 orang lansia (53,6%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 14 responden yang berjenis kelamin laki-laki ada 11 orang lansia (78,6%) yang memiliki

65

tekanan darah perbatasan. Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa nilai signifikan (P) hubungan antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia adalah p value = 0,217 (p value > 0,05), hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia.

3. Hubungan antara keturunan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia Tabel 5.9 Hasil Tabulasi Silang Antara Genetik Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009. No Genetik Tekanan Darah Tinggi n 1. 2. Ada Tidak ada 5 11 Total % 22,7% 55,0% Perbatasan N 17 9 % 77,3% 45,0% 22 20 42 100% 100% 100% 0,067 N Total % P value

Berdasarkan tabel 5.9 diatas, diketahui bahwa hasil tabulasi silang (crosstabs) antara genetik dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, menunjukkan bahwa dari 22 responden yang ada faktor genetiknya ada 5 orang lansia (22,7%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 20

65

responden yang tidak ada faktor genetiknya ada 11 orang lansia (55,0%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 22 responden yang ada faktor genetiknya ada 17 orang lansia (77,3%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 20 responden yang tidak ada faktor genetiknya ada 9 orang lansia (45,0%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa nilai signifikan (P) hubungan antara genetik dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia adalah P value = 0,067 (p value > 0,05), hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan bermakna antara genetik dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia.

65

4.

Hubungan antara obesitas dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia Tabel 5.10 Hasil Tabulasi Silang Antara Obesitas Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009. No Berat badan n 1. Kelebihan BB 2. Tidak Kelebihan BB Total 42 100% 10 32,3% 21 67,7% 31 100% 6 Tekanan Darah Tinggi % 54,5% Perbatasan N 5 % 45,5% 11 100% 0,281 N Total % P value

Berdasarkan tabel 5.10 diatas, diketahui bahwa hasil tabulasi silang (crosstabs) antara berat badan dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, menunjukkan bahwa dari 31 responden yang tidak kelebihan BB ada 10 orang lansia (32,3%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 11 responden yang memiliki kelebihan BB ada 6 orang lansia (54,5%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 31 responden yang tidak kelebihan BB ada 21 orang lansia (67,7%) yang memiliki tekanan darah

65

perbatasan, sementara dari 11 responden yang memiliki kelebihan BB ada 5 orang lansia (45,5%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Hasil uji

statistik dengan uji Chi-Square menunjukkan bahwa nilai signifikan (P) hubungan antara berat badan dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia adalah P value = 0,281 (p value > 0,05), hal ini berarti bahwa tidak ada hubungan bermakna antara berat badan dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia.

5.

Hubungan antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia Tabel 5.11 Hasil Tabulasi Silang Antara Kurang Olahraga Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Pembina Plaju Palembang Tahun 2009. No Kurang Olahraga n 1. 2. Tidak Ya 14 2 Tekanan Darah Tinggi % 51,9% 13,3% Perbatasan N 13 13 % 48,1% 86,7% 27 15 42 100% 100% 100% 0,033 N Total % P value

Total

Berdasarkan tabel 5.11 diatas, diketahui bahwa hasil tabulasi silang (crosstabs) antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi

65

lansia, menunjukkan bahwa dari 27 responden yang tidak melakukan aktivitas olahraga ada 14 orang lansia (51,9%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 15 responden yang melakukan aktivitas olahraga ada 2 orang lansia (13,3%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 27 responden yang tidak melakukan aktivitas olahraga ada 13 orang lansia (48,1%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 15 responden yang melakukan aktivitas olahraga ada 13 orang lansia (86,7%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Hasil uji statistik dengan uji ChiSquare menunjukkan bahwa nilai signifikan (P) hubungan antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia adalah P value = 0,033 (p value < 0,05), hal ini berarti bahwa ada hubungan bermakna antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia.

65

BAB VI PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dibahas hasil penelitian dan perbandingan dengan teori yang sudah dikemukan pada BAB II mengenai Tinjauan Pustaka. A. Keterbatasan Penelitian 1. Jumlah sampel yang masih sedikit untuk memperoleh hasil analisis pada setiap kategori dari variabel yang memenuhi persyaratan uji statistik yang memadai 2. Kuisioner pada variabel independen tidak dilakukan uji validitas dan reabilitas terlebih dahulu. 3. Alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah hanya menggunakan tensimeter biasa. Agar angka yang diperoleh lebih akurat seharusnya menggunaka tensimeter digital.

B.

Pembahasan Hasil Penelitian a. Hubungan Antara Umur Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia

65

Dari hasil penelitian diperoleh analisis hubungan antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, menunjukkan bahwa dari 28 responden yang berusia 60-69 tahun ada 15 orang lansia (53,6%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 14 responden yang berusia > 70 tahun ada 1 orang lansia (7,1%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 28 responden yang berusia 60-69 tahun ada 13 orang lansia (46,4%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 14 responden yang >70 tahun ada 13 orang lansia (92,9%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Berdasarkan hasil uji ChiSquare menunjukkan bahwa, ada hubungan bermakna secara statistik antara umur dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, dengan nilai P value = 0,010 dimana P< (0,05). Hal ini sesuai dengan teori Hanns Peter (2009), yang menyatakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. Dan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Dinkes Jateng didapatkan bahwa risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun.

65

Dengan demikian peneliti menyimpulkan hasil penelitian bahwa, kelompok lansia yang berumur 60 tahun keatas dapat meningkatkan resiko hipertensi. Ini disebabkan adanya perubahan alami pada jantung, pembuluh darah, dan hormon. Bila disertai faktor-faktor lain seperti

obesitas, dan pengaruh pola makan, maka bisa memicu terjadinya hipertensi. Oleh karena itu, bagi lansia dan keluarga hendaknya menjaga pola hidup agar tidak muda terkena penyakit hipertensi. Dan bagi petugas kesehatan agar selalu menjelaskan tentang adanya pengaruh faktor umur terhadap penyakit hipertensi.

b.

Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Dari hasil penelitian diperoleh analisis hubungan antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia, menunjukkan bahwa dari 28 responden yang berjenis kelamin perempuan ada 13 orang lansia (46,6%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 14 responden yang berjenis kelamin laki-laki ada 3 orang lansia (21,4%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 28 responden yang berjenis kelamin perempuan ada 15 orang lansia (53,6%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 14 responden yang berjenis kelamin laki-laki ada 11 orang lansia (78,6%) yang

memiliki tekanan darah perbatasan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square

65

menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia, dengan nilai P value = 0,217 dimana P> (0,05). Hal ini sejalan dengan pendapat Marliani (2007) bahwa hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause. Dan berdassarkan penelitian

Anggraini dkk (2009), didapatkan lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%. Oleh karena itu, bagi responden perempuan maupun laki-laki hendaknya menjaga pola makannya dan harus tetap rutin mengontrol tekanan darahnya, agar tekanan darah tetap dan tidak meningkat sewaktu-waktu, Dan bagi petugas kesehatan agar selalu menjelaskan tentang pentingnya menjaga pola makan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

c.

Hubungan Antara Genetik Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi pada Lansia Dari hasil penelitian diperoleh analisis hubungan antara genetik dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, menunjukkan bahwa dari 22 responden yang ada faktor genetiknya ada 5 orang lansia (22,7%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 20 responden yang

65

tidak ada faktor genetiknya ada 11 orang lansia (55,0%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 22 responden yang ada faktor genetiknya ada 17 orang lansia (77,3%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 20 responden yang tidak ada faktor

genetiknya ada 9 orang lansia (45,0%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna secara statistik antara genetik dengan kejadian hipertensi pada lansia, dengan nilai P value = 0,067 dimana P>( 0,05). Hal ini tidak sejalan dengan Marliani (2007) bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Berdasarkan Anggraini (2009) bahwa adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Dengan demikian peneliti menyimpulkan hasil penelitian bahwa penderita hipertensi banyak terjadi karena adanya faktor keturunan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada lansia yang tidak adanya faktor keturunan. Faktor lingkungan lain juga bisa mempengaruhi

65

seperti stres, kegemukan (obesitas) dan kurang olahraga dapat memicu hipertensi esensial Oleh karena itu, bagi para lansia dan keluarga hendaknya menjaga pola hidup yang sehat agar tekanan darahnya tidak meningkat dan bisa kembali normal. Dan bagi petugas kesehatan agar menjelaskan tentang adanya pengaruh faktor keturunan dan bukan faktor keturunan terhadap penyakit hipertensi.

d. Hubungan Antara Berat Badan Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Dari hasil penelitian analisis hubungan antara berat badan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia, menunjukkan bahwa dari 31 responden yang tidak kelebihan BB ada 10 orang lansia (32,3%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 11 responden yang kelebihan BB ada 6 orang lansia (54,5%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 31 responden yang tidak kelebihan BB ada 21 orang lansia (67,7%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 11 responden yang kelebihan BB ada 5 orang lansia (45,5%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara berat badan dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, dengan nilai P value = 0,281 dimana P> (0,05).

65

Berdasarkan pendapat Marliani (2007), mengemukakan bahwa penderita hipertensi sebagian besar mempunyai berat badan berlebih, tetapi tidak menutup kemungkinan orang yang berat badanya normal (tidak obesitas) dapat menderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi

dibandingkan dengan berat badannya normal. Hal ini tidak sejalan dengan pendapat Rohaendi (2008) yang mengatakan bahwa pada usia pertengahan ( + 50 tahun ) dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa selain obesitas, faktor lain juga bisa mempengaruhi kejadian hipertensi pada lansia tidak obesitas yaitu dari pola makan lansia itu sendiri. Oleh karena itu, bagi lansia dan keluarga hendaknya menjaga berat badannya dengan pola makan yang teratur. Dan bagi petugas kesehatan agar memberikan penjelasan tentang pengaruh obesitas serta komplikasi dari penyakit hipertensi.

e.

Hubungan Antara Kurang Olahraga Dengan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Lansia Dari hasil penelitian analisis hubungan antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, yang menunjukkan

65

bahwa dari 27 responden yang tidak melakukan aktivitas olahraga ada 14 orang lansia (51,9%) yang memiliki tekanan darah tinggi, sementara dari 15 responden yang melakukan aktivitas olahraga ada 2 orang lansia (13,3%) yang memiliki tekanan darah tinggi. Kemudian dari 27 responden yang tidak melakukan aktivitas olahraga ada 13 orang lansia (48,1%) yang memiliki tekanan darah perbatasan, sementara dari 15 responden yang melakukan aktivitas olahraga ada 13 orang lansia (86,7%) yang memiliki tekanan darah perbatasan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa ada hubungan antara kurang olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi lansia, dengan niai P value = 0,033 dimana P< (0,05). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penderita hipertensi pada lansia banyak terjadi pada responden yang tidak melakukan aktivitas olahraga setiap harinya, hal ini sesuai dengan pendapat Rohaendi (2008), bahwa kurang aktivitas berpengaruh terhadap kerja detak jantung lebih cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar pula kekuatan yang mendesak arteri. Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 didapatkan hasil bahwa yang melakukan olah raga 3 kali atau lebih per minggu hanya 14,3%.

65

Dengan demikian peneliti menyimpulkan untuk mengurangi meningkatnya tekanan darah, bagi lansia dan keluarga agar mulai melakukan aktivitas olahraga secara rutin. Karena dengan olahraga teratur, tekanan darah tidak mudah meningkat.

65

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan penelitian sebagai berikut: 1. Ada hubungan bermakna antara faktor umur dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009 (p-Value (0,010) < (0,05)). 2. Tidak ada hubungan bermakna antara faktor jenis kelamin dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009 (p-Value (0,217) > (0,05)). 3. Tidak ada hubungan bermakna antara keturunan dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009 (p-Value (0,067) > (0,05)). 4. Tidak ada hubungan bermakna antara obesitas dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009 (p-Value (0,281) > (0,05)). 5. Ada hubungan bermakna antara olahraga dengan tekanan darah penderita hipertensi pada lansia di Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2009 (p-Value (0,033) < (0,05)).

65

B. SARAN Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat diajukan saran sebagai berikut: 1. Diharapkan bagi petugas kesehatan terutama di Puskesmas Pembina Plaju Palembang dapat memberikan penyuluhan terutama mengenai faktor yang berhubungan dengan hipertensi bagi lansia 2. Diharapkan kepada para lansia dan keluarga agar sedini mungkin untuk selalu menjaga pola makan dan pola hidup yang sehat agar tidak mudah terkena hipertensi. 3. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat memanfaatkan karya tulis ini sebagai bahan masukan dan dapat melanjutkan penelitian ini dengan variabel yang berbeda dikemudian hari.

65

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Masqon. 2005. Faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada kelompok usia lanjut dikecamatan pengandon kabupaten Kendal,

http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=2701,diakses tanggal 11April 2009. Andra, 2007. Ancaman Serius Hipertensi di Indonesia. (http ://www.majalah-

farmacia.com/rubric/one_news.asp?IDNews=256), diakses 27 Maret 2009.

Anggraini dkk, 2009. Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada kelompok lansia. (http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/kedokteran/hipertensi kelompok lansia) diakses tanggal 17 April 2009

Elsanti, Salma. 2009. Panduan Hidup Sehat Bebas Kolesterol, Stroke, Hipertensi & Serangan Jantung, Araska, Yogyakarta.

Gunawan, Lanny. 2001. Hipertensi Tekanan Darah Tinggi, Kanisius, Yogyakarta.

Kuswardhani,Tuty.2007. Penatalaksanaan Hipertensi pada Lansia. (http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/ penatalaksanaan%20hipertensi%20pada%20usia%20lanjut.pdf.), April 2009. diakses 8

65

Marliani Lili, dkk. 2007. 100 Question & Answers Hipertensi, PT Elex Media Komputindo, Gramedia, Jakarta.

Maryam, R Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya, Salemba Medika, Jakarta.

Notoatmodjo,Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, Rineka Cipta, Jakarta.

Notoatmodjo,Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

Nugroho,Wahjudi. 2008. Keperawatan Gerontik & Geriatrik; Edisi ke-3. EGC,Jakarta.

Profil Kesehatan Puskesmas Pembina Plaju Palembang tahun 2008

Rohaendi, 2003 Hipertensi dan faktor resiko, http://rohaendi.blogspot.com/2008_06_01_archive.html diakses tanggal 23 April 2009.

Rahyani. 2007 Faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi pada pasien yang berobat dipoliklinik dewasa puskesmas bangking periode januari-juni 2007, http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/02/files-of-drsmed-faktor-yang

65

berhubungan-dengan-kejadian-hipertensi.pdf , diakses tanggal 27 Maret 2009 jam18:09

Sustrani, Lanny, dkk. 2006. Hipertensi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sutanto. 2009. Awas 7 Penyakit Degeneratif, Paradigma Indonesia,Yogyakarta.

Wolff, Hanns Peter, 2008. Hipertensi, PT Bhuana Ilmu Populer, Gramedia, Jakarta.

Hipertensi dan Diabetes Melitus, (http://www.dinkesjatengprov.go.id/dinkes08/screening dinkes.pdf). diakses tanggal 23 April 2009

65

KUISIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSKESMAS PEMBINA PLAJU PALEMBANG TAHUN 2009

Petunjuk Pengisian Kuisioner:

a. Bacalah pertanyaan dibawah ini dengan cermat dan teliti. b. Berilah tanda silang (x) berdasarkan pilihan jawaban pada pertanyaan dibawah ini. c. Kerahasiaan responden terjamin d. Selamat mengisi

A. Identitas Responden Hari / tanggal Nama Inisial Umur Alamat Pekerjaan : : : : :

Tekanan Darah :

65

B. Data Khusus 1. Hipertensi Berapakah tekanan darah anda saat ini (setelah dilakukan pemeriksaan)? a. >160 mmHg />95 mmHg. 2. Umur Berapakah umur bapak atau ibu saat ini? a. >70 tahun b. 60-69 tahun b. 150-159 mmHg/ 90-94mmHg.

3. Jenis Kelamin a. Laki-laki 4. Keturunan Apakah didalam keluarga bapak atau ibu terdapat riwayat keluarga hipertensi (mulai dari 2 keturunan)? a. Ya b. Tidak b. Perempuan

Jika ya, berapa orang yang menderita hipertensi selain bapak atau ibu didalam keluarga? a. 1orang b. >1 orang

Selain riwayat hipertensi, apakah ada didalam keluarga terdapat riwayat, (seperti: serangan jantung, stroke, penyakit ginjal, diabetes mellitus ) a. Ya b. Tidak

65

5. Berat Badan Pengukuran BB dan TB (IMT): Tinggi Badan = Berat Badan =

6. Aktivitas Olahraga Apakah bapak atau ibu sering melakukan aktivitas seperti olahraga dalam seminggu? a. Ya b. Tidak

Jika ya, aktivitas olahraga yang seperti apa yang bapak atau ibu sering ikuti: (seperti: lari pagi, jalan santai, aerobik, jogging, bersepeda, yang lainnya sebutkan) a. Ya b. Tidak

65

DAFTAR TABEL PENGHITUNGAN IMT (INDEKS MASSA TUBUH)

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

TB 165 160 160 165 154 156 164 159 160 165 155 150 165 160 158 152 156 160 155 163 159 156 158 165 165 156 164 160 154 166 164 160 165

BB 54 52 65 58 50 63 53 64 51 68 48 68 50 50 47 65 48 52 50 58 48 48 47 54 58 62 53 53 60 52 53 46 50

IMT = 19,85 20,31 25,39 21,32 21,09 25,93 19,70 25,29 19,92 25,00 20,00 30,02 18,38 19,53 18,87 28,14 19,75 20,31 20,83 21,80 18,97 19,75 18,87 19,85 21,32 25,51 19,70 20,70 25,32 18,90 19,70 17,97 18,38

SKALA UKUR Tidak Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas

65

34 35 36 37 38 39 40 41 42

165 160 160 159 158 160 155 159 160

48 45 49 51 46 66 67 64 52

17,65 17,58 19,14 20,16 18,47 25,78 27,92 25,29 20,31

Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Tidak Obesitas Obesitas Obesitas Obesitas Tidak Obesitas

65