Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKU (BI-3201)

PERILAKU NYANYIAN JANGKRIK (Gryllus sp.)


Tanggal percobaan Tanggal pengumpulan : 24 Februari 2012 : 2 Maret 2012

Disusun oleh : Dias Mandala Nurhutama ( 10609056 )

Kelompok : 10

Asisten : Pascal Sebastian ( 10608002 )

PROGRAM STUDI BIOLOGI SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Jangkrik adalah serangga yang termasuk family Grilydae dari ordo arthropoda. Serangga jenis ini memiliki komunikasi yang unik, yaitu melalui suara yang berasa dari sayap jangkrik jantan, atau yang disebut dengan perilaku nyanyian jangkrik. Terdapat beberapa jenis nyanyian jangkrik yang masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda-beda, yaitu mating call untuk menarik perhatian betina dan nyanyian jangkrik berupa ancaraman agonistik untuk mengancam jangkrik jantan yang lainnya apabila dalam keadaan terancam ( Paolet&Hedwig, 2002 ). Tujuan dari penelitian mengamati perilaku jangkrik adalah untuk mengetahui informasi-informasi tentang jangkrik tersebut. Informasi-informasi yang didapatkan dari hasil penelitian dapat dijadikan referensi untuk memudahkan aktivitas kehidupan manusia, khususnya petani. Contoh perilaku jangkrik yang memudahkan aktivitas manusia adalah nyanyian jangkrik yang berupa agonistik, dikarenakan apabila terdapat hama di suatu lahan pertanian maka jangkrik tersebut akan merasa terancam lalu mengeluarkan nyanyian jangkrik yang bersifat agonistik. Kemudian dalam dunia budidaya angkrik, peningkatan reproduksi jangkrik dapat meningkat berdasarkan nyanyian courtship-nya, karena budidaya jangkrik merupakan bisnis yang potensial yang digunakan utuk pakan burung atau ikan dimana saat ini terdapat peningkatan masyarakat yang memelihara burung dan/atau ikan baik untuk budidaya atau hanya koleksi semata.

1.2 Tujuan

1. Menentukan morfologi jangkrik Gryllus sp dan membedakan anatomi jangkrik jantan dan betina 2. Menentukan perilaku jangkrik Gryllus sp jantan dan betina 3. Mendeskripsikan perilaku agonistic dan matting jangkrik jantan 4. Menentukan urutan hirarki jagkrik percobaan dan preferensi shelter atau betina 5. Menentukan perilaku fonotaksis pada jangkrik ( Gryllus sp. ) baik jantan maupun betina

1.3 Hipotesis 1. Secara umum morfologi tubuh jangkrik terbagi menjadi tiga, yaitu cepal, toraks dan abdomen, yang membedakan antara jantan dan betina adalah ovipositornya 2. Perilaku dominan jangkrik adalah freezing, grooming, feeding, dan jumping 3. Perilaku agonistik merupakan perilaku jangkrik saat keadaannya terancam atau untuk memperebutkan teritori sedangkan mating call adalah perilaku jangkrik untuk menarik perhatian betina yang merupakan proses awal untuk bereproduksi 4. Jangkrik yang paling dominan adalah jangkrik jantan yang menarik perhatian betina, sedangkan yang lainnya memilih untuk berdiam diri di dalam shelter. 5. Jangkrik akan menghampiri ke sumber suara.

BAB II TEORI DASAR

2.1 Taksonomi Jangkrik Berikut adalah taksonomi jangkrik menurut bugguide.net ( 2010 ) :
Tabel 2.1 Taksonomi Jangkrik

Kingdom Philum Kelas Ordo Famili Genus Spesies

Animalia Arthropoda Insecta Orthroptera Gryllidae Gryllus Gryllus sp.

2.2 Biologi Jangkrik ( Gryllus sp. ) 2.2.1 Morfologi Jangkrik Morfologi jangkrik pada umumnya adalah badan berwarna cokelat gelap dan terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat sepasang antenna pajang. Pada bagian anterior, terdapat sepasang mata majemuk. Pada bagian ventral terdapat mulut yang terbagi menjadi labrum, mandibles, maxillae, dan labium. Pada bagian toraks dibagi menjadi tiga, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Terdapat dua pasang sayap yang terdapat pada mesotoraks dan metatoraks. Sayap depan memiliki panjang yang bervariasi tetapi hal yang pasti adalah sayap depan menutupi setidaknya setengah hingga seluruh bagian abdomen dan berbentuk datar terhadap badan jangkrik kemudian sayap belakang lagi tertutupi oleh sayap depan dan terlipat. Pada betina tampak ovipositor yang lebih panjang dibandingkan jantan. Baik betina dan jantan memiliki cerci ( University of Arizona, 1997 ).

Gambar 2.1 Morfologi Jangkrik ( Gryllus sp. ) Sumber : heightstechnology.edublogs.org//cricket.jpg

2.2.2 Siklus Hidup Jangkrik Kekerabatan jangkrik sangat dekat sekali dengan belalang, begitu juga dengan siklus hidupnya. Siklus hidup jangkrik termasuk dalam golongan metamorfosis tidak sempurna dikarenakan tidak terdapat fase pupa tetapi terdapat fase nimfa. Berdasarkan gambar 2.2, siklus hidup jangkrik adalah fase telur yang menetas dalam 26 hari kemudian menjadi larva lalu menjadi nimfa dan selanjutnya menjadi fase dewasa ( J.R.S.C, 1879 ).

Gambar 2.2 Siklus Hidup Jangkrik ( Gryllus sp. ) Sumber : telusplanet.net/ /lifecycle.jpeg

2.2.3 Habitat Habitat jangkrik adalah daerah yang intensitas cahayanya rendah sehingga sering kali dapat dijumpai di bawa bebatuan, tumpukan kayu-kayu, celah-celah perabotan rumah, dan di bawah naungan dedaunan atau rerumputan seperti di bawah padang rumput, ladang pertanian, dan sebagainya. Persebaran jangkrik cukup luas meliputi Eropa tengah dan selatan, Asia, dan Afrika Utara ( University of Arizona, 1997 ). 2.3 Sistem Syaraf Jangkrik Seperti halnya serangga yang lainnya, sistem syaraf jangkrik terdiri dari cerebral ganglion, ganglionated nerve chord, dan peripheral nerve system. Cerebral ganglion terbagi menjadi tiga, yaitu thoracix ganglia, abdominal ganglia, dan terminal ganglion ( Fox, 2006 ).

Gambar 2.3 Sistem Saraf Pada Jangkrik Sumber : http://www.infovisual.info/02/ /046%20Internal%20anatomy%20of%20a%20cricket.jpg

Jangkrik juga memiliki organ sensori lain pada ujung posteriornya, organ ini disebut cerci. Terdapat sepasang cerci yang ditutupi oleh rambut-rambut. Rambut ini berfungsi untuk mendeteksi arah angina, seperti untuk mendeteksi udara yang bergerak dari lidah katak yang akan memangsanya, sehingga jangkrik bisa melakukan respon yang lebih cepat. Ganglion dan sistem syaraf jangkrik dapat menghantarkan impuls dengan cepat karena diameter interneuronnya yang besar. Hal itu juga yang menyebabkan jangkrik sulit ditangkap ( Edwards, 1974 ).

2.3.1 Organ Sensori Jangkrik Organ sensori dapat ditemui pada individu jantan. Organ tersebut bernama organ stridulasi yang berfungsi untuk menghasilkan suara. Karakteristik chirping tersebut dihasilkan dari gesekan antara bagian kasar ( scraper ) di balik sayap depan dan bagian kasar ( file ) dari permukaan sayap belakang. Pada sayap depan juga terdapat struktur yang disebut harp, struktur ini berperan dalam memperbesar suara yang dihasilkan oleh file dan scarper. Resultan dari bunyi tersebut dinamakan stridulasi. Bunyi jangkrik akan menghasilkan rangkaian nada yang berfungsi untuk menarik perhatian betina atau perilaku agonistik. Saat bunyi dihasilkan, sayap jangkrik jantan akan terangkat. Modifikasi bentuk sayap ini diperlukan untuk menghasilkan stridulasi sehubungan dengan adanya dimorfisme seksual pada venasi sayap depan. Struktur penghasil bunyi tidak akan ditemukan pada jangkrik yang belum dewasa ( nimfa ) (Fox, 2006 ). 2.4 Jenis dan Mekanisme Nyanyian Terdapat organ stridulasi yang berfungsi untuk menghasilkan suara. Karakteristik chirping tersebut dihasilkan dari gesekan antara bagian kasar ( scraper ) di balik sayap depan dan bagian kasar ( file ) dari permukaan sayap belakang. Pada sayap depan juga terdapat struktur yang disebut harp, struktur ini berperan dalam memperbesar suara yang dihasilkan oleh file dan scarper. Resultan dari bunyi tersebut dinamakan stridulasi. Bunyi jangkrik akan menghasilkan rangkaian nada yang berfungsi untuk menarik perhatian betina atau perilaku agonistik. Saat bunyi dihasilkan, sayap jangkrik jantan akan terangkat. Modifikasi bentuk sayap ini diperlukan untuk menghasilkan stridulasi sehubungan dengan adanya dimorfisme seksual pada venasi sayap depan. Struktur penghasil bunyi tidak akan ditemukan pada jangkrik yang belum dewasa ( nimfa ) (Fox, 2006 ). Perilaku nyanyian jangkrik akan menghasilkan pola bunyi yang berbeda-beda tergantung kondisi jangkrik tersebut. Terdapat tiga pola suara, yaitu calling, matting call, dan agonistic. Setiap suara tersebut menghasilkan pola yang terdiri dari beberapa chirp, yaitu kumpulan 4-5 syllable yang menyusun suara jangkrik ( Simmons&Young, 2010 ). Satu chirp adalah satu suara krik yang kita dengar saat jangkrik berbunyi tiga chirp seperti krik, krik, krik .

BAB III METODOLOGI 3.1. Alat dan Bahan


Tabel 3.1.1 Alat dan Bahan yang Digunakan

Alat Akuarium Stopwatch Type-X kuas Shelter Styrofoam Mikroskop bedah Rekaman suara jangkrik earphone Gryllus sp. Tanah Karton hitam Bulir rumput

Bahan

3.2. Metode Kerja 3.2.1. Pengamatan Morfologi Gryllus sp. Diletakkan di dalam cawan petri lalu diamati morfologinya di bawah mikroskop bedah. Pengamatan dilakukan terhadap jantan dan betina. Dilakukan pencatatan morfologi serta perbedaan antara jantan dan betina. Gryllus sp. kemudian diamati bagian kaki depannya untuk melihat adanya bagian membran timpaniform. Pemotongan kaki depan dapat dilakukan untuk mempermudah dalam pengamatan membran timpaniform. Hasil pengamatan bagian kaki depan dan membran timpaniform digambar. 3.2.2. Pengamatan Perilaku Gryllus sp. Jantan dan Betina Sebelum pengamatan dilakukan, akuarium dipersiapkan terlebih dahulu. Akuarium dilapisi dengan karton hitam disetiap sisi, kemudian akuarium diisi dengan tanah dan bulir rumput. Buat dua kompartemen dengan membagi dua menjadi dua kompartemen dengan menggunakan styrofoam yang diletakkan secara diagonal di

dalam akuarium. Jangkrik yang akan digunakan ditandai terlebih dahulu dengan menggunakan type-x kuas di bagian thoraks. Dilakukan pengamatan perilakunya dengan durasi tiga puluh menit. Setelah tiga puluh menit, shelter kemudian diletakkan di dalam setiap kompartemen. Perilaku diamati dan kemudian dihitung frekuensi perilaku yang dihasilkan. Hasil pengamatan kemudian dicatat ke dalam data pengamatan. 3.2.3. Pengamatan Perilaku Ekor Gryllus sp. Jantan- Jantan dan Betina Dua ekor jangkrik jantan masing-masing ditandai berbeda dengan jangkrik jantan yang digunakan sebelumnya. Kemudian ditambahkan ke dalam kompartemen satu individu jantan yang baru sehingga didapatkan dua kompartemen berisi masingmasing jangkrik jantan-jantan dan jangkrik jantan-betina. Pengamatan dilakukan terhadap perilaku kedua jangkrik di masing-masing kompartemen. Kompartemen yang berisi dua ekor jantan-jantan diamati perilaku agonistiknya, sedangkan di kompartemen lainnya diamati perilaku mating-nya. Masing-masing individu diamati dengan metode Focal Sampling. Diamati juga pengeluaran suara jika perilaku mating terjadi pada kompartemen kedua (jantam-betina). 3.2.4.Pengamatan Tiga Individu Jantan dan Satu Individu Betina Gryllus sp. dan Preferensi Styrofoam yang membatasi dua kompartemen diambil sehigga didapatkan akuarium sebagai satu kompartemen berisi empat ekor jangkrik, tiga ekor jangkrik jantan dan satu ekor jangkrik betina. Shelter dimasukkan ke dalam kompartemen lalu diamati perilaku masing-masing jangkrik dan preferensi ketiga jantan terhadap shelter dan jangkrik betina. Aklimatisasi dilakukan selama sepuluh menit, lalu dilanjutkan dengan pengamatan selama tiga puluh menit. Setelah pengamatan dilakukan, ditentukan hierarki pada setiap individu berdasarkan dari prilaku agonistic nya.

3.2.5 Pengamatan Perilaku Bernyanyi dan matting stimulus Tiga ekor jangkrik jantan dijadikan ke dalam satu kompartemen dengan satu ekor betina. Diberikan stimulus ransangan tiga jenis nyanyian jangkrik melalui earphone. Dilakukan pengamatan prilaku pada setiap jangkrik masing-masing dua kali pengulangan selama enam menit pemberian stimulus nyanyian jangkrik, enam menit setelah stimulus diberhentikan. Dilakukan pencatatan terhadap tingkah laku dari masing-masing jangkrik

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Morfologi GAMBAR TANGAN GAMBAR LITERATUR

Gambar 4.1 Morfologi Jangkrik Sumber: http://www.flukerfarms.com/pdfs/cricket.pdf)

Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat tiga bagian pada jangkrik, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat antenna panjang yang berfungsi sebagai sensor sentuhan dan bau. Bagian-bagian antenna pada jangkrik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu scape, pedicel, dan flagellum. Di bagian anterior terdapat sepasang mata majemuk yang tersusun dari ribuan ommatidia. Pada bagian ventral, terdapat mulut yang terbagi menjadi labrum, mandible, maxillae, dan labium. Selanjutnya pada bagian toraks terbagi menjadi tiga bagiam, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Ada dua sepasang sayap yang terdapat pada mesotoraks (

sayap depan ) dan pada bagian metatoraks ( sayap belakang ). Pada bagian abdomen, terdapat 7-8 pasang spirakel. Yang berfungsi sebagai sistem pernafasan jangkrik. Pada bagian ujung abdomen, terdapat sepasang pemanjangan yang disebut cerci dan ovipositor ( pada betina terlihat lebih panjang dibandingkan pada jantan ), ovipositor tersebut digunakan untuk menyimpan telur ( Farms, 2011 ).

4.2 Perilaku Jangkrik

Perilaku Jangkrik Betina


14 12 10 8 6 4 2 0 Freezing Feeding Climbing Jumping Exploring Digging Agonistic Grooming Walking Grafik 4.1 Grafik Rata-Rata Frekuensi Tipe Perilaku Jangkrik Betina Perilaku Jangkrik Betina

Perilaku Jangkrik Jantan


14 12 10 8 6 4 2 0 Perilaku Jangkrik Jantan

Grafik 4.2 Grafik Rata-Rata Frekuensi Tipe Perilaku Jangkrik Jantan

Pada hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan data yang telah dianalisis dengan software SPSS menggunakan uji analisis one-way ANNOVA dengan selang kepercayaan 95% yang tertera dalam bentuk grafik sesuai dengan grafik 4.1 dan 4.2. Berdasarkan grafik 4.1 dan 4.2 diketahui tipe perilaku dominan yang dominan baik pada jankgrik jantan maupun betina adalah freezing. Diketahui berdasarkan grafik 4.1 frekuensi freezing pada betina mencapai 13 kali, hal tersebut paling sering dilakukan dibandingkan tipe perilaku yang lainnya. Sedangkan pada jantan, diketahui berdasarakan grafik 4.2 perilaku yang paling sering juga merupakan freezing yang frekuensinya mencapai 12 kali, hal tersebut juga paling banyak dilakukan dibandingkan tipe perilaku yang lainnya. Freezing adalah perilaku jangkrik yang berdiam diri untuk bersembunyi atau menghindari ancaman. Perilaku freezing jangkrik biasanya dilakukan di tempattempat yang dirasanya aman ( Kortet, 2007 ). Hal tersebut dapat terjadi pada saat dilakukan penelitian dikarenakan terdapat beberapa faktor, diantaranya keadaan lingkungan pada saat penelitian dilakukan termasuk ramai, intensitas cahaya yang masih tergolong terang walaupun jendela kaca sudah tertutup dikarenakan waktu penelitian dilakukan pada pagi hari, dan faktor perlakuan yang dapat meningkatkan stress. Hal hal tersebut menyebabkan perilaku jangkrik lebih banyak berdiam diri

4.3 Perilaku Agresif pada Jangkrik Jantan

Grafik 4.3 Grafik Keagresifan Jangkrik Jantan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data berupa frekuensi rata-rata dari 14 kelompok dalam bentuk grafik 4.3. Perilaku agresif pada jangkrik jantan timbul dari keinginan pejantan pada saat kondisi tertentu, seperti untuk memperebutkan teritori, memperebutkan betina, atau merasa terancam sehingga melakukan pertarungan dengan pejantan yang lain ( Simmons, 2010 ). Terdapat tiga jenis tipe perilaku agresif pada jangkrik jantan, yaitu mengeluarkan suara ( bunyi ), agonistic, dan mendekat. Ketiga hal tersebut tertera pada grafik 4.3 beserta frekuensinya. Berdasarkan grafik 4.3, hal yang paling sering dilakukan adalah agonistic dengan frekuensi lebih dari 30 kali, tipe perilaku tersebut paling tinggi dibandingkan dengan dua lainnya. Pada saat bertarung ( agonistic ), kedua jantan akan saling menyentuhkan antenannya dan akhirnya kedua jantan tersebut akan menaikkan kaki depannya. Pada proses bertarung, tiap jantan akan berusaha untuk mendorong dan menarik lawannya. Selain itu jangkrik juga akan mengeluarkan suara yang berasal dari gesekan sayapnya dan bersuara lebih rapat dan nyaring ( Simmons, 2010 ). Adapun kelompok yang tidak terdapat perilaku agonistiknya disebabkan karena jangkrik yang digunakan pada saat penelitian dalam fase nimfa. Menurut Adamo et al.,( 2003 ) jangkrik jantan akan memulai memunculkan karakter agonistiknya pada usia antara 10-14 hari.

4.4 Perilaku Kawin

Frekuensi Mating Behavior


0.08 0.07 0.06 0.05 0.04 0.03 0.02 0.01 0 Suara Mating Grafik 4.4 Grafik Frekuensi Mating Behavior Frekuensi Mating Behavior

Hasil penelitian terhadap perilaku jangkrik ( Gryllus sp. ) yang telah dilakukan didapatkan data perilaku kawin jangkrik yang tertera pada grafik 4.4 dalam frekuensi rata-rata dari 14 kelompok. Pada grafik 4.4 menunjukkan frekuensi perilaku jangkrik jantan yang lebih memilih untuk mengeluarkan suara berupa tipe mating call dibandingkan proses mating. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan pejantan sudah mencoba untuk menarik perhatian betina dengan cara mengeluarkan bunyi berupa mating call namun jangkrik betina tidak tertarik pada jangkrik jantan tersebut.

Gambar 4.2 Oscillogram Chirping Jangkrik Jantan Sumber : Murphey, 1984

Pada saat jangkrik jantan mengeluarkan bunyi bertipe mating call , jangkrik jantan tersebut menaikkan sayapnya dengan sudut berkisar 20 lalu menggesekgesekkan kedua sayapnya. Terdapat file pada bagian sayap depan. Bunyi tersebut keluar ketika file dari sayap pertama bergesekan dengan sayap lainnya. Bunyi yang timbul dapat dilihat pada gambar 4.2 dan terlihat adanya kelompok-kelompok kecil saat mengeluarkan suara. Kelompok-kelompok kecil tersebut disebut chirp yang didalamnya terdapat 4-5 syllable. Saat mating, chirp biasanya berfrekuensi tinggi awalnya, tetapi pada saat betina mendekat frekuensi suara chirp akan menjadi lebih lembut dan pelan ( Murphey, 1984 ).

Gambar 4.3 Mekanisme Bunyi Pada Jangkrik Jantan Sumber : http://crawford.tardigrade.net/bugs/BugofMonth31.html

4.5 Hierarki Jangkrik Jantan

Grafik 4.5 Grafik Hierarki Jangkrik Jantan

Pada grafik 4.5 menunjukkan data hasil penelitian pengamatan hierarki tiga individu jangkrik jantan yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu dominan yang merupakan kategori tertinggi, kemudian ordinat yang merupakan kategori kedua, dan yang terakhir adalah subordinat yang merupakan kategori terendah. Penggolongan kategori tersebut berdasarkan perilaku agonistik pada jangkrik jantan, terlihat pada grafik 4.5 kategori dominan memiliki frekuensi agonistik tertinggi ( hampit 100 ) dibandingkan perilaku agonistik kategori ordinat maupun subordinat. Penggolongan kategori tersebut berdasarkan perilaku agonistik dikarenakan terdapat tiga individu jangkrik yang berbeda dan satu individu betina pada satu teritori, sehingga jangkrik jantan harus bertarung dengan dua individu jangkrik yang lainnya untuk menguasai teritori maupun menarik perhatian betina. Menurut Rohlin ( 2010 ), perilaku dominansi disebabkan karena adanya perilaku mempertahankan teritori dan mendapatkan betina.

4.6 Preferensi Terhadap Betina dan Shelter

Preferensi Terhadap Betina dan Shelter


3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Betina Shelter Preferensi Terhadap Betina dan Shelter

Grafik 4.6 Grafik Preferensi Jangkrik Jantan Terhadap Betina dan Shelter

Berdasarkan grafik 4.6 menunjukkan hasil penelitian tentang pengamatan preferensi jangkrik jantan terhadap jangkrik betina dan sheleter . Pada grafik 4.6 merepresantasikan data kompilasi dari 14 kelompok. Kesimpulan berdasarkan grafik tersebut adalah jangkrik jantang lebih memilih menghampiri jangkrik betina ketimbang menuju ke shelter. Menurut Wagner&Reyser (2002) jangkrik jantan akan menghampiri jangkrik betina daripada menuju ke tempat yang ternaungi cahaya apabila jangkrik jantan tersebut merasa dirinya termasuk kategori dominan dalam hierarki. Hal tersebut sesuai dengan kondisi saat penelitian dilakukan, dimana hanya terdapat satu individu jangkrik jantan dan satu individu jangkrik betina dalam arti lain tidak terdapat individu jangkrik jantan yang lainnya, maka jangkrik jantan tersebut merasa dirinya aman atau tidak dalam kondisi terancam secara fisik dan teritorinya tidak diganggu sehingga jangkrik jantan tersebut lebih memilih menghampiri jangkrik betina ketimbang shelter.

4.7 Perilaku Fonotaksis

Grafik 4.7 Respon Jangkrik Terhadap MP3 Nyanyian Jangkrik

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan perilaku jangkrik ( Gryllus sp. ) baik jantan maupun betina terhadap suara mp3 didapatkan data yang tertera pada grafik 4.7. Suara mp3 tersebut merupakan nyanyian jangkrik tipe mating call sehingga berdasarkan grafik 4.7 adalah frekuensi jangkrik betina menhampiri earphone tersebut paling tinggi dikarenakan suara mp3 tersebut nyanyian jangkrik tipe mating call disamping itu dikarenakan suara mp3 tersebut berdasarkan dari literature percobaan yang telah dilakukan maka dapat dipastikan bahwa suara tersebut memliki frekuensi suara yang baik dan sesuai untuk matting call sehingga jangkrik betina akan mengira bahwa suara tersebut berasal dari jangkrik jantan ideal. Grafik 4.7 juga menunjukkan perilaku jangkrik jantan yang menghampiri earphone tersebut. Hal tersebut sesuai menurut Simmons ( 2010 ) bahwa apabila terdapat jangkrik jantan yang lain dalam satu teritori maka akan ada pejantan yang akan menghampiri pejantan yang lain untuk menguasai teritori dan memperebutkan betina. Maka didapatkan analisa dari grafik 4.7 kenapa frekuensi jangkrik jantan menghampiri earphone tertinggi kedua setelah frekuensi jangkrik betina menghampiri earphone. Alasan tersebut dikarenakan jangkrik jantan merasa terdapat pejantan lain dalam teritorinya sehingga jangkrik jantan yang menghampiri ke earphone tersebut ingin melakukan perilaku agonistik.

BAB V KESIMPULAN

1. Terdapat tiga bagian pada jangkrik, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian kepala terdapat antenna panjang dan sepasang mata majemuk. pada bagian toraks terbagi menjadi tiga bagiam, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Ada dua sepasang sayap yang terdapat pada mesotoraks ( sayap depan ) dan pada bagian metatoraks ( sayap belakang ). Pada bagian

abdomen, terdapat 7-8 pasang spirakel. Pada bagian ujung abdomen, terdapat sepasang pemanjangan yang disebut cerci dan ovipositor ( pada betina terlihat lebih panjang dibandingkan pada jantan ). 2. Perilaku jangkrik ( Grylus sp ) baik pada jantan maupun betina adalah freezing. 3. Perilaku bertarung (agonistic) adalah kedua jantan akan saling menyentuhkan antenannya dan akhirnya kedua jantan tersebut akan menaikkan kaki depannya. Pada proses bertarung, tiap jantan akan berusaha untuk mendorong dan menarik lawannya. Sedangkan, perilaku matting call adalah jangkrik jantan tersebut menaikkan sayapnya dengan sudut berkisar 20 lalu menggesek-gesekkan kedua sayapnya hingga mengeluarkan suara ( chirping ). 4. Terdapat urutan dominansi dari hirarki jangkrik jantan berdasarkan kompetisi terhadap jangkrik jantan untuk mendapatkan teritori dan betina. 5. Jangkrik jantan maupun betina menghampiri ke sumber suara ( earphone ).

DAFTAR PUSTAKA

Edwards, JS. 1974. The Cerci and Abdominal Giant Fibres of The House Cricket. Anatomy And Physiology of Normal Adult. Proc. Roy. Soc. London 185, 83-103

Farms, F. 2011. Flucker's Cricket. [online]. www.fluckerfarms/cricket.pdf diakses tanggal 1 Maret 2012

Fox, R. 2006. House Cricket. [online]. webs.lander.edu/invertebrates/acheta.html diakses pada tanggal 1 Maret 2012

J.R.S.C. (1879). Journal of Horticulture and Practical Gardening, Volume 37, p.503.

Murphey, W. 1984. Neurospecificity In The Cricket Cercal System. Neurobiology Research Center. Journal Exp. Biol. 112, 7-25.

Simmons, P J. 2010. Nerve Cell And Animal Behavior. New York : Cambridge University Press.

University

of

Arizona.

1997.

Cricket

Info.

[online].

www.

insected.arizona.edu/cricketinfo.html diakses pada tanggal 1 Maret 2012

Wagner, W.E.,2002. The Importance of Calling Song And Courtship Song In Female Mate Choice In The Variable Field Cricket. Animal Behavior 59, 1219-122

Anda mungkin juga menyukai