Anda di halaman 1dari 20

HUTANG DAN KEWAJIBAN LAINNYA

1. DEFISI KEWAJIBAN Menurut IAI(2007) dalam PSAK 57 mengenai kewajiban dietimasi, kewajiban kontingensi, dan asset kontingensi,kewajiban adalah kewajiban kini perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan mengakibatkan pengeluaran sumber daya perusahaan. Kewajiban yang belum jelas statusnya tidak di akui oleh perpajakan.

2. KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam satu tahun atau satu siklus oerasi normal perusahaan yang lebih lama. Kewajiban jangka pendek mencakup: utang bank,utang usaha, biaya yang masih harus dibayar, utang pajak, utang dividen, utang wesel,dan pendapatan diterima di muka. 2.1 utang bank dalam perpajakan, utang bank tidak dibedakan antara hutang bank jangka pendek maupun utang bank jangka panjang. Peminjaman uang di bank dapat dilakukan dengan membuka tabungan/deposito/jasa giro dalam bank tersebut dengan nilaiyang sudah ditentukan sebelumnya oleh pihak bank. Disatu pihak, bank akan memberikan bunga atas tabungan/deposito yang ada, tetapi di pihak lain akan memungut biaya bunga atas pinjaman yang telah diberikan kepada nasabah. Sesuai SE-46/PJ.4/1995 tanggal 5 oktober 1995 tentang perlakuan Biaya Bunga yang dibayar atau terutang dalam hal wajib pajak menerima atau memperoleh penghasilan berupa bunga deposito atau bunga lainnya (Seri PPh umum nomor 20 ) dijelaskan,dapat terjadi bahwa dana yang

ditempatkandalam bentuk deposito berjangka atau tabungan lainnyalangsung atau tidak langsung berasal dari pinjaman atau dana yang berasal dari pihak ketiga yang dibebani biaya bunga. Apabila hal tersebut terjadi, WP dapat memperkecil pengahasilan kena pajak secaratidak wajar, karenabunga yang terhutang atau dibayar atas pinjaman tersebut dikurangkankan sebagai biaya,sedangkan bunga yang diterima atau diperoleh yang berasal dari

penempatan dana dalam bentuk deposito berjangka atau tabungan lainnyatidak ditambhakan dalam perhitungan penghasilan kena pajak karena telah dikenakan PPh yang bersifat final sebesar 20%. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, dengan ini diberikan penegasan sebangai berikut . 1. Apabila jumlah rata-rata pinjaman sama besarnya dengan atau lebih kecil dari jumlah rata-rata yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya, maka bunga yang dibayar atau berutang atas pinjaman tersebut seluruhnya tidak dapat dibebankan sebagai biaya. 2. Apabila jumlah rata-rata pinjama lebih besar dari jumlah rata-rata dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya, maka bunga atas pinjaman yang boleh dibebankan sebagai biaya adlah bunga yang dibayar atau terutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi jumlah ratarata dana yang ditempatkan sebagai deposito berjangka atau tabungan lainnya. Contoh : Pada tahun 1993, PT Ako mendapatkan pinjaman dari pihak ketiga dengan batas maksimum sebesar Rp.200.000.000 dan tingkat bunga pinjaman 20%. Dari jumlah tersebut telah di ambil pada bulan februari sebesar Rp.125.000.000,pada bulan juni diambil lagi sebesar Rp.25.000.000, dan sisanya Rp.50.000.000 diambil pada bulan Agustus. Selain itu, WP mempunyai dana yang ditempatkan dalam bentuk deposito dengan perincian sebagai berikut. Bulan Februari s/d Maret sebesar Bulan April s/d Agustus sebesar Bulan September s/d Desember sebesar Rp.25.000.000 Rp.46.000.000 RP.50.000.000

Dengan demikian, bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya adalah : Bulan January Februari s/d Mei Juni s/d Juli Agustus s/d Desember Jumlah Pinjaman 0 125.000.000 150.000.000 200.000.000 Jangka Waktu 1 Bulan 4 Bulan 2 Bulan 5 Bulan Jumlah Rata-rata pinjaman perbulan RP.1.800.000.000:12=Rp.150.000.000 Bulan January Februari s/d Mei April s/d Agustus September s/d Desember Jumlah Rata-rata deposito perbulan= RP.480.000.000:12=Rp.40.000.000 Jadi, bunga yang dapat dibebankan sebagai biaya = 20% X (Rp.150.000.000Rp.40.000.000)=Rp.22.000.000. Menyimpan dari ketentuan tersebut, bunga yang dibayarkan atau terulang atas pinjaman WP dari pihak ketiga dapat dibebankan sebagai biaya sesuai pasal 6ayat (1) uu pph nomor 36 tahun 2008, dalam hal: 1. dana pinjaman terseb ut disimpan/ditempatkan dalam bentuk rekening giro yang atas jasanya dikenakan pph yang bersifat final; 2. adanya keharusan bagi wp untuk menempatkan dana dalam jumlah tertentu pada suatu bank dalam bentuk deposito berdasarkan ketentuan perundangundangan yang berlaku, sepanjang jumlah deposito dan tabungan sematamata untuk memenuhi keharusan tersebut, misalnya cadangan biaya reklamasi yang harus ditempatkan dalam bentuk deposito atau tabungan di bank pemerintah; Jumlah Pinjaman 0 25.000.000 46.000.000 50.000.000 Jangka Waktu 1 Bulan 2 Bulan 5 Bulan 4 Bulan Rata-rata Pinjaman 0 50.000.000 230.000.000 200.000.000 480.000.000 Rata-rata Pinjaman 0 500.000.000 300.000.000 1.000.000.000 1.800.000.000

3. dapat dibuktikan bahwa penembatan deposito atau tabungan tersebut dananya berasal dari patambahan modal dan sisa laba setelah kena pajak.

2.2 Utang Usaha Utang usaha umunya muncul karena ada pembelian barang atau jasa yang digunakan dalam kegiatan usaha normal perusahaan. Utang usaha dapat dicatat berdasarkan metode bruto ataupun neto. Apabila digunakan metode bruto, maka utang dicatat sebesar nilai yang harus dibayarkan tanpa potongan tunai. Namun jika digunakan metode neto maka diasumsikan perusahaan akan selalu mengambil diskon sehingga nilai yang dicatat adalah sebesar nilai yang telah dikenakan potongan tunai. Setiap pembelian Barang Kena Pajak akan dikenakan PPN dan juga PPnBM apabila ada.

Contoh : Pada tanggal 31 januari 2009 perusahaan akan melakukan pembelian barang dagang sebesar Rp.15.000.000 dan utang tersebut dilunasi pada tanggal 28 februari 2009. Jika pencatatan dilakukan dengan metode utang bruto(system periodik), maka di jurnal sebagai berikut .

Tanggal 31 jan 09

keterangan Pembelian PPN Masukan utang Usaha

Debit 15.000.000 1.500.000

Kredit

16.500.000 16.500.000 16.500.000

28 feb 09

Utang Usaha Kas/Bank

PPN Masukan yang wajib dibayar tersebut diatas oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) dapat dikreditkan dengan PPN Keluaran yang dipungut dalam masa pajak yang sama. Apabila dalam suatu masa pajak,PPN keluaran lebih besar dari pada PPN masukan, maka selisihnya merupakan PPN yang harus dibayar oleh PKP.

Apabila dalam suatu masa pajak, PPN Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar dari PPN keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dimintakan kembali atau dikompensasikan kemasa pajak berikut. Tanggal 31 jan 09 keterangan PPN Keluaran PPN Masukan Kas/Bank Debit 22.000.000 18.000.000 4.000.000 Kredit

2.3 Biaya yang harus dibayar Akutansi menganut prinsip akrual, sehingga biaya-biaya yang telah terjadi yang akan dibayar pada kemudian hari tetap dicatat pada peiode terjadinya biaya tersebut. Utang biaya dapat berupa utang gaji/upah,utang sewa,bunga,utang biaya air PAM, dan utang biaya listrik. Listrik merupakan jenis barang yang tidak dikenakan PPN, kecuali listrik untuk perumahan dengan daya 6.600 watt lebih. Utang biaya ini biasanya diketahui pada saat penutupan buku.

3. UTANG PAJAK Utang pajak terdiri atas PPh 21, PPh 23, PPh 26, dan PPn Keluaran. 3.1 Pajak Penghasilan 21 PPh 21 dikenakan kepada karyawan yang telah dipotong oleh perusahaan, tetapi belum disetor ke Kas Negara akhir bulan pemotongan. PPh atas gaji, upah, honorarium, tunjangan, uang pension, kegiatan, dan imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa (termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas) dipungut melalui system pemotongan( withholding system) pada saat penghasilan tersebut dibayarkan. Potongan PPh 21 dilakukan terhadap WP orang pribadi dalam negeri. Potongan atas PPh 21 ini mengakibatkan timbulnya utang pajak bagi perusahaan pada saat pembayaran ngaji kepada pengawai.

Penghasilan pengawai tetap yang dipotong pajak setiap bulan adalah jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi dengan biaya jabatan, iuran pensiunan yang dibayar sendiri oleh pegawai termasuk iuran THT/JHT yang dibayar sendiri oleh pegawai, dan Pengahasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

4. PAJAK PENGHASILAN 23 Utang PPh 23 merupakan PPh 23 yang telah dipotong oleh pemotongan akan tetapi belum disetorkan ke kas Negara pada akhir bulan pemotongan. Berdasarkan UU PPh nomor 36 tahun 2008 pasal 23 ayat (Ia), besarnya pungutan dibedakan antara WP yang memiliki NPWP dengan WP yang tidak memiliki NPWP. Tarif WP yang tidak memiliki NPWP lebih tinggi 100% daripada tarif yang diterapkan terhadap WP yang dapat menunjukan NPWP.

4.1 Dividen Menurut UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham/pemegang polis asuransi/pembagian sisa hasil usaha koperasi yang diperoleh anggota koperasi. Termasuk dalam pengertian dividen (Penjelasan pasal 4 (1) huruf g UU PPh Tahun 2008) adalah: 1. Pembagian laba, baik secara langsung atau tidak langsung, dengan nama dalam bentuk apapun; 2. Pembayaran kjembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor; 3. Pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran, termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham; 4. Pencatatan penambahan modal yang dialkukan tanpa penyetoran ; 5. Jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya akan diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang besangkutan; 6. Pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun sebelumnya diperoleh keuntungan, kecuali jika

pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar yang dilakukan secara sah; 7. Pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut; 8. Bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi; 9. Bagian laba yang diterima oleh pemegang polis; 10. Pembagian yang berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi, dan 11. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya usaha.

Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 209, dividen yang dikenakan pajak adalah dividen yang diterima oleh orang pribadi, dengan tarif sebesar 10% bersifat final. Namun, dividen yang dikecualikan oleh objek PPh 23 adalah dividen yang diterima oleh PT sebagai WP dalam negeri, koperasi, BUMN/BUMD dari pnyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan tempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat dividen yang dibagikan berasal dari cadangan laba ditahan dan kepemilikan saham paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor. Contoh: Pada bulan maret 2009 PT Wisata melakukan pembayaran dividen 2008 kepada pemiliknya, yaitu PT jaya (20%), PT Ancol (30%), PT Pembangunan (40%), dan sisanya kepada masyarakat umum (orang pribadi). Jumlah seluruh dividen yang dibayar Rp. 200.000.000. PPh 23 yang harus di potong, disetorkan dan dilaporkan atas: Dividen ke PT jaya 15% x (20% x Rp.200.000.000)= Rp.6.000.000 Sementara itu, dividen ke PT Ancol dan PT Pembangunan tidak dipotong PPh 23 karena kepemilikan saham > 25%.

Untuk dividen kemasyarakat,PPh pasal 17 ayat (2c)10% x (10% x Rp.200.000.000)= Rp.2.000.000. bersifat final sehingga tidak dapat dikreditkan pada akhir tahun pajak. Jurnal bagi PT Wisata: Tanggal Mar 09 Keterangan Dividen-PT jaya Dividen-PT Ancol Dividen-PT Pembangunan Dividen-masyarakat Utang PPh 23 Utang PPh Ps. 17 ayat (2c) Kas/Bank Sementara itu, jurnal bagi PT jaya: Tanggal Mar 09 Keterangan Kas/Bank PPh 23 dibayar dimuka Pendapatan dividen PPh 23 atas dividen dapat dikreditkan oleh PT jaya: Sementara itu, pencatatan untuk PT Ancol: Tanggal Mar 09 Kas/Bank Investasi dalam saham PT Wisata Keterangan Debit 60.000.000 60.000.000 Kredit Debit 34.000.000 6.000.000 40.000.000 Kredit Debit 40.000.000 60.000.000 80.000.000 20.000.000 6.000.000 2.000.000 192.000.000 Kredit

4.2 Bunga Berdasarkan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 23 ayat (4), bunga yang bukan merupakan objek PPh adalah bunga yang diterima bank karena dimasukan sebagai penghasilan bank.

Contoh :

Pada April 2009 PT Wisata membayar bunga pinjaman kepada Bank Mama Rp.70.000.000 dan kepada PT Sinar (memiliki NPWP) sebesar Rp.40.000.000. PPh 23 yang harus dipotong, disetorkan dan dilaporkan atas: Bunga ke Bank Mama tidak dipotong PPh 23 karena bungan yang diterima Bank bukanlah objek PPh 23. Sementara itu, bunga ke PT Sinar di potong PPh 23=15% x Rp.40.000.000 = Rp.6.000.000

Jurnal bagi PT Wisata: Tanggal Apr 09 Keterangan Biaya Bunga Utang PPh 23 Kas/Bank Debit 40.000.000 60.000.000 34.000.000 Kredit

Jurnal bagi PT Sinar: Tanggal Apr 09 Keterangan Kas/Bank PPh 23 dibayar dimuka Pendapatan bunga Debit 34.000.000 60.000.000 40.000.000 Kredit

4.3 Royalti/imbalan atas penggunaan Hak Royalty adalah suatu jumlah yang dibayarkan/terutang denga cara/perhitungan apapun, baik dilakukan secara berkala maupun tidak.

Contoh : PT Kankan sebagai penerbit yang membayar royalty kepada RonRon (Memiliki NPWP) salah seorang pengarangnya sebesar Rp.40.000.000 dan diotong PPh 23 sebesar 15%. Maka perusahaan akan mencatat transaksi tersebut sebagai berikut :

Keterangan Beban royalty Utang PPh 23 Kas/Bank

Debit Rp.40.000.000

Kredit

6.000.000 34.000.000

4.4 Hadiah, Penghargaan,Bonus, dan Sejenisnya. Hadiah yang termasuk sebagai objek pajak PPh 23 adalah hadiah perlombaan, penghargaan, dan prestasi tertentu, hadiah yang sehubungan dengan pekerjaan atau pemberian jasa selain yang telah dipotong PPh 21 ayat(1) huruf e, kecuali hadiah yang diberikan kepada semua pembeli/konsumen akhir tanpa di undid an hadiah yang diterima langsung oleh konsumen akhir pasa saat pembelian barang/jasa.

4.5 Sewa Mulai 1 januari 2009, sewa kendaraan angkutan darat dan sewa harta lainnya dikenakan PPh 23 sebesar 2%. Sementara itu, untuk tahun 2007 dan 2008 (PER70/PJ/2007), sewa kendaraan angkutan darat dengan presentase penghasilan neto sebesar 30% dari penghasilan bruto. Persewaan tanah dan atau bangunan dikecualikan dari PPh 23 karena telah dikenakan PPh Pasal 4 ayat (2).

Contoh: PT Winnie mneywakan Bus kepada PT Pooh untuk jangka waktu 6 bulan dengan biaya sewa perbulan Rp.10.000.000 pada 1 Mei 2009. Berikut ini adalah jurnal yang dilakukan oleh kedua perusahaan.

PT Winnie Tanggal 01 mei 09 Keterangan Kas/Bank PPh 23 dibayar dimuka PPN Keluaran Pendapatan Sewa Debit 64.800.000 1.200.000 6.000.000 60.000.000 Kredit

PT Pooh Tanggal 01 mei 09 Keterangan Sewa dibayar dimuka PPN Masukan Utang PPh 23 Kas/Bank Debit 60.000.000 6.000.000 1.200.000 64.800.000 Kredit

4.6 Imbalan Jasa Menurut UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 pasal 23 ayat (1) huruf c, imbalan jasa yang menjadi objek PPh 23 adalah imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain yang ditetapkan oleh dirjen pajak, selain yang telah dipotong PPh 21. PMK-244/PMK.03/2008 imbalan jasa yang menjadi objek pasal23 ayat (1) huruf c UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 dikenakan PPh sebesar 2% x penghasilan bruto tidak termasuk PPN. PPh 26 adalah PPh yang dikenakan atau dipotong atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh WP luar negeri selain Bentuk Usaha Tetap(BUT) di Indonesia. Namun, tidak semua pembayaran kepada WP Luar Negeri harus dpotong PPh 26, karena harus memperhatikan ada atau tidaknya perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Negara asing. WP luar negeri adalah: 1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12(dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia;

2. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal diindonesia atau berada diindonesia tidak lebih dari 183(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12(dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia. Menurut UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 28 ayat (5) BUT adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribdai yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12(dua belas) bulan, dan badan yang didirikan dan tidak bertempat kedudukan diindonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa : 1. Tempat kedudukan manajemen; 2. Cabang perusahaan; 3. Kantor perwakilan; 4. Gedung kantor; 5. Pabrik; 6. Bengkel; 7. Gudang; 8. Ruang untuk promosi atau penjualan; 9. Pertambangan dan penggalian sumber alam; 10. Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumui; 11. Perikanan,perternakan,pertanian,perkebunan, atau kehutanan; 12. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan; 13. Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjanga yang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12(dua belas) bulan; 14. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;

15. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan diindonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung resiko diindonesia; dan 16. Computer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet. Pemotong PPh 26 adalah : 1. Badan pemerintah; 2. Subjek pajak dalam negeri; 3. Penyelenggara kegiatan;

4. BUT; 5. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya selain BUT di Indonesia. Tarif dan objek PPh 26 adalah : 1. 20% (dua puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh WP luar negeri berupa: a. Dividen; b. Bunga,termasuk premium,diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang; c. Royalty,sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta; d. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan dan kegiatan; e. Hadiah dan penghargaan; f. Pension dan pembayaran berkala lainnya;

g. Premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan atau h. Keuntungan karena pembebasan utang. 2. 20%(dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto berupa : a. Pengahasilan dari penjualan atau pengalihan harta diindonesia; b. Premi asuransi, premi reasuransi yang dibayarkan langsung maupun melalui pialang kepada perusahaan asuransi di luar negeri.

3. 20%(dua puluh persen) dari Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu BUT di Indonesia, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali ke Indonesia. 4. Tarif berdasarkan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda(P3B) antara Indonesia dengan Negara pihak pada persetujuan. Pada prinsipnya, pemotongan pajak atas WP luar negeri adalah bersifat final, tetapi atas penghasilan WP orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi WP dalam negeri atau BUT, pemotongan pajaknya tidak bersifat final, sehingga potongan pajak tersebut dapat di kreditkan dalam surat pemberitahuan Tahunan PPh. Saat terutang,cara pemotongan, penyetoran, dan SPT Masa PPh 26: 1. PPh 26 berutang pada saat dilakukannya pembayaran atau akhir bulan terutangnya penghasilan, tergantung yang mana terjadi lebih dahulu. 2. Pemotongan PPh 26 wajib membuat buku pemotongan PPh 26 rangkap 3(tiga): a. Lembar pertama untuk WP luar negeri; b. Lembar kedua untuk Kantor Pelayanan Pajak(KPP); c. Lembar ketiga untuk arsip pemotong; 3. PPh 26 wajib disetorkan ke Bank persepsi atau kantor pos dengan menggunakan Surat Setoran Pajak(SSP), paling lambat tanggal 10(sepuluh) bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak.

4.7 Bukan objek pemotongan PPh 26 1. BUT dikecualikan dari pemotongan PPh 26 apabila penghasilan seluruh kena pajak sesudah dikurangi PPh dari BUT ditanamkan kembali di Indonesia dengan syarat : a. Dilakukan dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri;

b. Dilakukan dalam tahun pajak berjalan atau selambat-lambatnya tahun pajak berikutnya dari tahun pajak yang diterima atau dieroleh penghasilan tersebut; dan c. Tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut paling sedikit dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sesudah perusahaan tempat penanaman dilakukan, berproduksi komersil. 2. Badan-badan internasional yang ditetapkan oleh menteri keuangan.

4.8 Pajak Pertambahan Nilai Keluaran (PPN Keluaran) Pengusaha yang melakukan : 1. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean; 2. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean; dan 3. Ekspor Barang Kena Pajak Wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan Pajak Penjualan atas barang mewah yang terutang. PPn keluaran adalah PPN yang terutang yang wajib di pungut oleh PKP yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak,penyerahan Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak. Tarif PPN umumnya adalah 10%, tetapi dengan peraturan pemerintah dapat diubah serendah-rendahnya 5% an setinggitingginya 15%, sedangkan tariff PPN atas ekspor Barang Kena Pajak adalah 0%. Untuk mencatat jumlah pajak dalam praktiknya sering digunakan pendekatan neto-neto, dimana baik dalam jumlah pembelian maupun penjualan tidak termasuk PPN.

4.9 Utang Dividen Pengumuman pembagian laba akan menimbulkan utang dividen, tetapi apabila pembagian laba dilakukan tanpa diumumkan terlebih dahulu maka tidak akan menimbulkan uang dividen. Terutangnya dividen akan menimbulkan kewajiban pemotongan PPh 23 sebesar 15% dari jumlah bruto apabila penerima dividen adalah WP dalam

negeri dan BUT, dan sebesar 20% atau sesuai dengan ketentuan Tax Treaty dari jumlah bruto apabila penerimaan dividen adalah WP luar negeri selain But di Indonesia. Sementara itu, untuk WP dalam negeri orang pribadi dikenakan potongan PPh pasal 17 ayat (2c) sebesar 10%. Akan tetapi, dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaan modal pada modal usaha yang didirikan bertempat ke dudukan di Indonesia dengan syarat : 1. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan 2. bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang meberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima) dari jumlah modal yang disetor.

4.10 Utang Wesel Utang wesel merupakan suatu surat utang yang diserta dengan dokumen perjanjian. Utang wesel ini dapat muncul akibat utang usaha yang tidak dibayar pada jatuh tempo sehingga muncul perjanjian atau kesepakatan maupun dikeluarkan untuk mendapatkan pinjaman. Wesel harus selalu dicatat sebesar nominalnya dan apabila terdapat bunga (diskonto) harus dicatat terpisah.

Contoh: Pada tanggal Mei 2007 PT Dolly meminjam uang dari bank dengan menyerahkan promes dengan nominal Rp.8.000.000, bunga diskonto 15% dan jangka waktu 12 bulan, berikut pencatatannya:

Tanggal 05 mei 07 Bank

Keterangan

Debit 8.000.000

Kredit

Wesel Bayar 31 des 07 Biaya Bunga Diskonto wesel bayar Saldo laba Biaya bunga Pada saat Wesel bayar Bank 8.000.000 800.000 800.000

8.000.000

800.000

800.000

pelunasan

8.000.000

Untuk transaksi di atas, diskonto wesel bayar merupakan penghasilan bagi bank.penghasilan ini karena merupakan penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank maka sesuai pasal 23 ayat (4) huruf a UU PPh bukanlah termasuk penghasilan yang harus di potong PPh 23 oleh pihak yang wajib membayarkan.

4.11 Pendapatan diterima di Muka Penghasilan yang diterima dari penjualan barang ataupuun penyerahan jasa yang diterima sebelum terjadinya penyerahan barang atau jasa maka akan dilaporkan dalam kelompok kewajiban karena setelah pemberi ajasa atau penjual barang tersebut menerima uang maka akan timbul kewajiban baginya untuk menyerahkan barang maupun jasa dikemudian hari. Seduai UU PPN Nomor 18 Tahun 2000 Pasal (2), dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak, atau dalam hal pembayaran sebelum di mulainya pemanfaatan Barng Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean sebagaimana saat terutangnya pajak adalah saat pembayaran.

5. KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Kewajiban jangka panjang adalah utang yang jatuh temponya lebih dari satu tahun buku dan sumber pembiayaannya tidak di ambil dari asset lancar. Kewajiban jangka panjang mencakup utang obligasi dan utang hipotek.

5.1 Utang Obligasi Obligasi adalah janji tertulis untuk membayar bunga secara periodic dan sejumlah nilai nominal pada tanggal jatuh tempo. Pada obligasi dapat terjadi adanya agio (premium) dan juga disagio (discount). Agio terjadi apabila surat obligasi dijual denganharga di atas nominal. Disagio terjadi apabila surat obligasi di jual dengan harga dibawah nilai nominal. Agio ataupun disagio terjadi karena perbedaan suku bunga pasar dengan suku bunga yang terdapat dalam obligasi. Apabila suku bunga pasar lebih tinggi daripada suku bunga dari kontrak obligasi, maka obligasi menjadi tidak menarik dan dijual dengan harga diskon, tetapi apabila suku bunga pasarlebih rendah daripada suku bunga kontrak obligasi, maka obligasi menjadi lebih menarik sehingga dapat dijual dengan harga di atas nominal obligasi. agio dan disagio merupakan penyesuaian terhadap tarif bunga nominal; agio mengurangi biaya bunga dan disagio menambah biaya bunga sehingga perlu dilakukan amortisasi tahunan atas jumlah agio atau disagio tersebut. Terdapat dua alternative amortisasi, yaitu dengan garis lurus dan bunga efektif. Untuk perpajakan, bunga obligasi di atur dalam PP Nomor 16 Tahun 2009 menurut PP tersebut, yang dimaksud dengan obligasi adalah surat utang Negara yang berjangka waktu lebih dari 12 bulan. Dan obligasi adalah imbalan yang diterima dan/ atau diperoleh pemegang obligasi dalam bentuk bunga dan/ atau diskonto. Atas penghasilan yanga diterima dan/atau diperoleh WP berupa bunga obligasi dikenai pemotongan PPh yang bersifat final, kecuali apabila diterima oleh WP dana pension yang pendiriannya disahkan oleh menteri keuangan dan WP Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia. Besarnya PPh adalah sebagai berikut. 1. Bunga dari obligasi dengan kupon sebesar: a. 15% bagi WP dalam negeri dan BUT; b. 20% atau sesuai tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda(P3B) yang berlaku, bagi WP luar negeri selain BUT; Dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan obligasi.

2. Diskonto dari obligasi dengan kupon sebesar; a. 15% bagi WP dalam negeri dan BUT; b. 20% atau sesuai tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda(P3B) yang berlaku, bagi WP luar negeri selain BUT; Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal diatas harga perolehan obligasi, tidak termasuk bunga berjalan. 3. Diskonto dari obligasi tanpa bunga besar : a. 15% bagi WP dalam negeri dan BUT; b. 20% atau sesuai tarif berdasarkan persetujuan penghindaran pajak berganda(P3B) yang berlaku, bagi WP luar negeri selain BUT; Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal diatas harga perolehan obligasi; dan 4. Bunga dan/atau diskonto dari obligasi yang diterima dan / atau diperoleh WP reksadana yang terdaftar pada Bapepam dan lembaga keuangan sebesar: a. 0% untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010; b. 5% untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013; dan c. 15% untuk tahun 2014 dan seterusnya. Pemotongan PPh sebagaimana yang dimaksud di atas dilakukan oleh: 1. Penerbit obligasi atau custodian yang ditunjuk selaku agen pembayaran, atas bunga dan/atau diskonto yang diterima pemegang obligasi dengan kupon pada saat jatuh tempo bungan obligasi, dan diskonto yang diterima pemegang obligasi tanpa bunga pada saat jatuh tempo obligasi; 2. Perusahaan efek, dialer, atau bank, selaku pedangang perantara dan/atau pembeli, atas bunga dan diskonto yang diterima penjual obligasi pada saat transaksi.

5.2 Utang Hipotek Utang hipotek pada umumnya hamper sama dengan obligasi,tetapi utang hipotek tidak memiliki agio maupun diskonto. Pinjaman hipotek terutama untuk pembelian tanah dan bangunan umunya merupakan pinjaman dengan beban

bunga tetap dan di tutup pada waktu yang lama. Biaya penutupan hipotek umumnya langsung merupakan beban pada periode tersebut.