Anda di halaman 1dari 34

MATERI I SATUAN PENGELOLAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR HASIL PENGAMATAN LAPANG PENILAIAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN SPL

1 Faktor Pembatas Tekstur tanah Lereng Drainase Kedalaman Efektif Tingkat Erosi Batu/Kerikil Bahaya banjir Klasifikasi Hasil pengamatan di lapangan Lempung berdebu Sangat curam (85%) Agak Buruk >90 Berat Tidak ada Tidak pernah kelas Masuk kelas VIII denagan faktor t3 l6 d2 k0 e3 b0 O0 Kelas

kemampuan lahan pembatas kelerengan + Faktor Pembatas Macam Rekomendasi Penggunaan Lahan Macam Rekomendasi Vegetative : Penanaman menurut strip, Pertanaman lorong, Hutan lindung

Konservasi Tanah Mekanis : teras bangku,teras guludan secara vegetatif dan mekanis

SPL 2 Faktor Pembatas Tekstur tanah Lereng Drainase Kedalaman Efektif Tingkat Erosi Batu/Kerikil Bahaya banjir Klasifikasi Hasil pengamatan di lapangan Lempung berdebu (Sedang) Curam (50%) Agak Buruk Dalam (>90) Berat Tidak ada Tidak pernah kelas Masuk kelas VII dengan faktor t3 l5 d2 k0 e3 b0 O0 Kelas

kemampuan lahan pembatas kelerengan + Faktor Pembatas

Macam Rekomendasi Penggunaan Lahan Macam Rekomendasi

Hutan

Lindung,

Hutan

Produksi,

Agroforestry, dan Lahan Padangan

Vegetative : Penanaman menurut strip, Pertanaman lorong,

Konservasi Tanah Mekanis : teras bangku,teras guludan secara vegetatif dan mekanis

SPL 3 Faktor Pembatas Tekstur tanah Lereng Drainase Kedalaman Efektif Tingkat Erosi Batu/Kerikil Bahaya banjir Klasifikasi Hasil pengamatan di lapangan Sedang Curam (58%) Baik Dangkal (25-50) Berat Tidak ada Tidak pernah kelas Masuk kelas VII denagan faktor t3 l5 d0 k2 e3 b0 O0 Kelas

kemampuan lahan pembatas kelerengan + Faktor Pembatas Macam Rekomendasi Penggunaan Lahan Macam Rekomendasi Vegetative : Penanaman menurut strip, Pertanaman lorong, Hutan Lindung, Hutan Produksi,

Agroforestry, dan Lahan Padangan

Konservasi Tanah Mekanis : teras bangku,teras guludan secara vegetatif dan mekanis

Deskripsi pengamatan dan upaya pengelolaan Pada lokasi pengamatan kelas kemampuan lahan di desa gubuk klakah Poncokusumo lahan yang kami gunakan di bagi menjadi 3 SPL yaitu SPL 1 (apel), SPL 2 (sengon) dan SPL 3 (talas) .pada umumnya di ketiga SPL tersebut mempunyai factor pembatas yang sama yaitu kelerengan. Kelerengan dilokasi pengamatan berkisar antara 50 - 85% . SPL 1 dngan vegetasi tanaman apel masuk pada kelas VIII dengan factor pembatas lereng, Begitu pula dengan SPL 2 dan SPL 3 masuk pada kelas VII dengan factor pembats lereng, jika dilihat dari kelas kemampuan lahannya maka penggunaan lahan tersebut seharusnya hutan lindung bias digunakan untuk agroforestry atau hutan produksi namaun dengan perlakuan khusus. Teknik konservasi tanah secara vegetative yang dapat dilakukan adalah: penghutanan kembali (reforestation), wanatani (agroforestry) termasuk

didalamnya adalah pertanaman lorong (alley cropping), pertanaman menurut strip (strip cropping), strip rumput (grass strip) barisan sisa tanaman, tanaman penutup tanah (cover crop), penerapan pola tanam termasuk di dalamnya adalah pergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (intercropping), dan tumpang gilir (relay cropping). Dalam penerapannya, petani biasanya memodifikasi sendiri teknikteknik tersebut sesuai dengan keinginan dan lingkungan agroekosistemnya sehingga teknik konservasi ini akan terus berkembang di lapangan. Keuntungan yang didapat dari system vegetatif ini adalah kemudahan dalam penerapannya, membantu melestarikan lingkungan, mencegah erosi dan menahan aliran permukaan, dapat memperbaiki sifat tanah dari pengembalian baha organik tanaman, serta meningkatkan nilai tambah bagi petani dari hasil sampingan tanaman konservasi tersebut. Wanatani (agroforestry) adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara tanaman pohon- pohonan, atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian. Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim. Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi

tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim. Pada Gambar 1 disajikan hubungan proporsi tanaman tahunan dan semusim yang ideal pada lereng yang berbeda pada sistem wanatani.

Konservasi tanah dan air secara vegetative a. Teras bangku Teras bangku dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usahatani lahan kering, fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan; (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak; (3) meningkatkan laju infiltrasi; dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang

horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli), dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani. Tipe teras bangku dapat dilihat dalam Gambar 1.

Gambar 1. Sketsa empat tipe teras bangku

Teras bangku miring ke dalam (goler kampak) dibangun pada tanah yang permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agar air yang tidak segera

terinfiltrasi menggenangi bidang olah dan tidak mengalir ke luar melalui talud di bibir teras. Teras bangku miring ke luar diterapkan di areal di mana aliran permukaan dan infiltrasi dikendalikan secara bersamaan, misalnya di areal rawan longsor. Teras bangku goler kampak memerlukan biaya relatif lebih mahal dibandingkan dengan teras bangku datar atau teras bangku miring ke luar, karena memerlukan lebih banyak penggalian bidang olah. Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan teras bangku adalah: Dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan >40% karena bidang olah akan menjadi terlalu sempit. Tidak cocok pada tanah dangkal (<40 cm) Tidak cocok pada lahan usaha pertanian yang menggunakan mesin pertanian. Tidak dianjurkan pada tanah dengan kandungan aluminium dan besi tinggi. Tidak dianjurkan pada tanah-tanah yang mudah longsor.

b.

Teras gulud Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air di bagian istilah belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan

guludan bersaluran. Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas

guludan, saluran air, dan bidang olah (Gambar 2)

Gambar 2. Sketsa penampang samping teras gulud

Fungsi dari teras gulud hampir sama dengan teras bangku, yaitu untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah. Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud dalam menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanaman penguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras bangku juga dapat digunakan sebagai tanaman penguat teras gulud. Sebagai kompensasi dari kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula ditanami dengan tanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dan sebagainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud: Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif. Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah

MATERI II MENGENAL JENIS-JENIS EROSI DI LOKASI PENGAMATAN

1. Erosi massa Deskripsi kondisi Erosi yang paling banyak terjadi ialah erosi massa (longsor) dengan

tingkatan yang rendah. Erosi massa tersebut terjadi di ujung dari terasteras yang telah dibuat oleh petani di daerah tersebut. Meskipun para petani telah melakukan tindakan konservasi berupa teras bangku, namun, terdapat beberapa kesalahan pada teras bangku yang dibuat oleh para petani tersebut. Pertama, bidang olahnya datar dan cenderung miring keluar. Teras bangku yang demikian akan menyababkan erosi masa pada ujung teras. Erosi masa menyebabkan beberapa bagian dari tanah berpindah dari bagian atas ke bagian yang lebih bawah dan meninggalkan sedimen atau endapan di bagian bawahnya. Erosi ini tidak meninggalkan bekas berupa aliran maupun cekungan. Faktor penyebabnya yang kedua ialah kurangnya tanaman penguat teras di lahan tersebut. Sehingga apabila hujan turun dengan deras, dan terjadi runoff dengan membawa partikel-partikel tanah, tidak ada yang akan menahan partikel-partikel tanah tersebut. Akibatnya tanah akan terbawa ke daerah yang lebih bawah lagi.

Upaya pengendalian Upaya untuK mengurangi tingkat erosi massa, dapat dilakukan dengan membuat teras-teras bangku datar. Mengingat permeabilitas tanah tersebut sangat cepat, maka teras yang paling tepat ialah teras bangku datar. Teras bangku datar memiliki efektivitas menahan erosi yang lebih baik dari pada teras bangku miring

keluar, namun, biaya yang dikeluarkan dan pemeliharaannya tidak sesulit teras bangku miring ke dalam. Selain teras bangku datar, untuk mengurangi erosi massa, dapat ditanami tanaman penguat teras pada bibir dan tampingan teras. Hal ini juga akan meningkatkan efektivitas teras bangku dalam menahan erosi. Dengan dilakukaannya penanaman tanaman penguat teras, akan didapat nilai tambah lainnya dari teras bangku, yaitu sebagai sumber pakan ternak dan bahan organik tanah. Jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai tanaman penguat teras adalah tanaman legum seperti hahapaan (Flemingia congesta), gamal (Gliricidia sepium), dan rumput seperti bahia (Paspalum notatum), bede (Brachiaria decumbens), setaria (Setaria sphacelata), gajah (Penisetum purpureum), atau akar wangi (Vetiveria zizanioides).

2. Erosi alur Deskripsi kondisi Erosi yang lainnya adalah erosi alur. Pada tanah yang mengalami erosi alur terdapat bekas aliran air selain jalan atau saluran air. Ukuran alur tersebut hanya beberapa cm dan mengarah pada daerah yang letaknya lebih rendah. Pada lahan yang terdapat erosi alur, biasanya terbuka atau tidak terdapat penutup lahan berupa

tanaman cover crop maupun naungan dari tanaman utamanya. Upaya pengendalian Upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi erosi alur adalah dengan menanam tanaman cover crop pada permukaan tanah yang terbuka. Cover crop selain berguna untuk mengurangi erosi, juga dapat untuk memperbaiki sifatsifat tanah. Penanaman tanaman covercrop sebenarnya sangat efektif untuk mengurangi erosi percikan, namun, upaya ini juga dapat dilakukan untuk mengurangi erosi alur.

3. Erosi percikan Deskripsi Kondisi Pada lahan tersebut juga banyak ditemui adanya erosi percikan. Erosi percikan dapat dilihat dari adanya cekungan-cekungan di permukaan tanah yang menunjukkan bahwa ada beberapa partikel tanah yang terangkut sekitarnya. disebabkan ke Erosi oleh bagian di

percikan kurangnya

tutupan lahan di lahan tersebut. Kurangnya tutupan lahan

menyebabkan air hujan dapat memukul partikel-partikel tanah dengan keras dengan energi yang besa. Apabila terdapat tutupan lahan, maka air akan mengenai tutupan lahan tersebut dahulu sebelum memukul partikel tanah. Dengan demikian energi yang memukul tanah juga lebih kecil. Upaya pngendalian Teknik konservasi yang umum dilakukan untuk mengurangi erosi percikan akibat jatuhnya tetesan air hujan adalah dengan tanaman penutup tanah atau cover crop. Tanaman penutup tanah harus memenuhi persyaratan, antara lain: mudah diperbanyak terutama dengan biji, tumbuh cepat dan menghasilkan banyak daun, toleran terhadap pemangkasan dan injakan, bukan tanaman inang hama dan penyakit, sistem perakaran tidak berkompetisi berat dengan tanaman pokok, dan mampu menekan gulma. Jenis tanaman penutup tanah yang umu digunakan adalah rumput dan kacang-kacangan / leguminosa.

4. Erosi selokan Deskripsi pengamatan Erosi selokan memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan erosi alur, yaitu terdapat alur yang merupakan bekas aliran air dari daerah yang letaknya tinggi ke tempat yang lebih rendah. Namun, ukuran erosi selokan lebih besar dari pada erosi alur, yaitu mencapai beberapa puluh cm atau bahkan mencapai lebih dari 1 m. Upaya pengendalian Untuk mengurangi erosi selokan, perlu dibuat bangunan terjunan pada selokan-selokan yang terbentuk akibat aliran air tersebut. Bangunan terjunan terbuat dari susunan batu atau bambu atau bahan lainnyapada selokan yang berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran air pada selokan. Bangunan terjunan juga perlu dilengkapi dengan gorong-gorong untuk memperkecil tingkat erosi.

MATERI III MENETAPKAN FAKTOR-FAKTOR EROSI TANAH METODE USLE 4.8 Menetapkan Indeks Erosivitas 1. Menggunakan Metode Bols (1979) ( Keterangan: Hb = Rata-rata Hujan Bulanan (cm) HH = Rata-rata Hari Hujan I24 = Hujan Maksimum 24 Jam dalam Bulan Tersebut (cm) R = Indeks Erosivitas 2. Menggunakan Metode Utomo ) ( ) ( )

Keterangan: Hb = Rata-rata Hujan Bulanan (cm) R = Indeks Erosivitas

Data Hujan Stasiun Poncokusumo Curah Hujan Bulanan (mm) Tahun 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 Total Average (mm) Average cm Jan 276 581 452 417 390 230 514 478 691 394 4423 442,3 44,23 Feb 155 359 444 450 452 398 331 531 408 424 3952 395,2 39,52 Mar 256 276 336 99 121 504 261 627 464 460 3404 340,4 34,04 Apr 215 177 277 0 164 374 430 534 254 307 2732 273,2 27,32 Mei 10 14 23 0 49 79 101 168 84 39 567 56,7 5,67 Jun 0 0 79 0 6 203 0 54 40 0 382 38,2 3,82 Jul 0 0 0 25 0 272 0 0 36 0 333 33,3 3,33 Agst Sept 2 0 0 126 0 37 0 114 0 0 279 27,9 2,79 0 0 0 0 0 140 0 0 0 0 140 14 1,4 Okt 0 0 24 121 39 209 123 285 254 0 1055 105,5 10,55 Nop 202 114 427 189 97 402 477 662 235 365 3170 317 31,7 Des 361 220 492 437 333 530 346 98 292 706 3815 381,5 38,15

Hujan Maksimum 24 jam (mm) Tahun 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 Hmax bulanan (mm) Hmax bulanan (cm) Jan 42 62 76 41 63 37 51 61 67 43 54,3 5,43 Feb 32 48 73 62 62 49 60 70 72 44 57,2 5,72 Mar 45 32 42 39 32 51 41 62 47 54 44,5 4,45 Apr 41 43 62 0 38 49 52 58 56 49 44,8 4,48 Mei 8 14 16 0 24 27 38 9 49 21 20,6 2,06 Jun 0 0 26 0 6 42 0 2 22 0 9,8 0,98 Jul 0 0 0 25 0 68 0 0 28 0 12,1 1,21 Agst Sept 2 0 0 41 0 18 0 3 0 0 6,4 0,64 0 0 0 0 0 31 0 0 0 0 3,1 0,31 Okt 0 0 11 37 39 31 35 47 36 0 23,6 2,36 Nop 41 29 35 43 28 44 46 59 41 48 41,4 4,14 Des 69 58 110 68 39 74 36 32 39 91 61,6 6,16

Hari Hujan Tahun 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 Average Jan 22 25 23 22 18 17 20 24 19 18 20,8 Feb 13 17 23 17 18 19 18 17 17 22 18,1 Mar 15 18 22 8 6 24 15 22 16 21 16,7 Apr 15 14 12 0 12 21 15 22 10 18 13,9 Mei 3 1 4 0 3 7 6 43 4 3 7,4 Jun 0 0 10 0 1 13 0 43 13 0 8 Jul 0 0 0 2 0 10 0 0 2 0 1,4 Agst Sept 1 0 0 4 0 3 0 47 0 0 5,5 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0,8 Okt 0 0 3 9 1 13 9 10 11 0 5,6 Nop 14 7 23 13 9 19 20 18 10 18 15,1 Des 20 10 18 17 19 21 21 8 14 23 17,1

Bulan HB (cm) Jan HH H24 HB Feb HH H24 HB Mar HH H24 HB Apr HH H24 HB Mei HH H24 HB Jun HH H24 HB Jul HH H24 HB Agst HH 5,5 44,23 20,8 5,43 39,52 18,1 5,72 34,04 16,7 4,45 27,32 13,9 4,48 5,67 7,4 2,06 3,82 8 0,98 3,33 1,4 1,21 2,79

R (Bols)

R (utomo)

251,76

194,35

238,59

174,81

190,40

152,07

159,41

124,18

24,75

34,33

11,58

26,65

23,85

24,62

8,20

22,38

H24 HB Sept HH I24 HB Okt HH H24 HB Nop HH H24 HB Des HH H24 R per tahun

0,64 1,4 0,8 0,31 10,55 5,6 2,36 31,7 15,1 4,14 38,15 17,1 6,16 1397,5 1136,06 240,63 169,12 178,84 142,36 62,55 54,58 6,94 16,61

Berdasarkan data erosivitas hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Bols dan Utomo, dapat dilihat bahwa perhitungan dengan rumus Bols menghasilkan angka erosivitas yang lebih besar dibandingkan Utomo pada saat curah hujan tinggi. Namun, pada bulan-bulan dengan curah hujan rendah, metode Utomo menghasilkan hasil yang lebih besar. Hal ini dikarenakan, dalam rumus Bols, faktor yang diperhitungkan bukan hanya curah hujan bulanan, tetapi juga curah hujam maksismum selama 24 jam serta hari hujan. Rumus Bols menggunakan data jangka panjang curah hujan bulanan rata-rata sedikitnya untuk 10 tahun dan akan lebih baik jika lebih dari 20 tahun. Rumus Bols ini dibuat untuk Jawa dan Madura dan karena itu mungkin tidak sesuai untuk daerah lain di Indonesia, terutama daerah yang beriklim lebih kering. Alternatif termudah untuk Jawa dan Madura adalah menggunakan peta Bols, terutama apabila tidak tersedia data jangka panjang. Dengan

demikian, pendekatan yang paling optimal digunakan untuk menghitung indeks erosivitas ialah pendekatan Bols, dan pada lahan yang diamati, besar erosivitasnya adalah 1397,5.

4.9 Menetapkan Indeks Erodibilitas Tanah 1. Menetapkan Indeks Erodibilitas Tanah dengan Nomograph Persentase debu-pasir halus = 60%, Persentase pasir = 5% Bahan organik = rendah (0,5%), Struktur = granuler halus (2) Permeabilitas = cepat (1)

Berdasarkan perhitungan indeks erodibilitas dengan menggunakan Nomograf di atas, dapat dilihat bahwa erodibilitas pada lahan tersebut adalah sebesar 27,9%.

2. Perhitungan Indeks Erodibilitas dengan Rumus Persentase debu-pasir halus = 60% Persentase pasir = 5% Struktur = granuler halus (2) Permeabilitas = cepat (1) Bahan organik = rendah (0,5%) ( ( ( ( ( ) ) ) ) ( ) ( ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ) )

3. Perbandingan Hasil Perhitungan Erodibilitas Tanah dengan Rumus dan Nomopgraf Berdasarkan perhitungan indeks erodibilitas tanah dengan menggunakan Nomograf, erodibilitas tanah di daerah Poncokusumo adalah sebesar 27,9%. Sedangkan dengan rumus, indeks erodibilitas yang didapatkan adalah 28,9%. Hal ini menunjukkan bahwa Perhitungan dengan rumus menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan Nomograf. Namun, perbedaan yang dihasilkan tidak begitu signifikan, yaitu hanya 0,01 atau 1%. 4. Perhitungan Panjang dan Kemiringan Lereng SPL Panjang Lereng (L) Kemiringan (S) I 31,64 m 85% II 22,64 m 50% III 22,64 m 58%

1. Perhitungan Panjang dan Kemiringan Lereng SPL I

( )

) )

2. Perhitungan Panjang dan Kemiringan Lereng SPL II

( )

) )

3. Perhitungan Panjang dan Kemiringan Lereng SPL III

( )

) )

4.11 Perhitungan Faktor Tanaman (C) dan Faktor Pengelolaan 1. Perhitungan Faktor Tanaman dan Pengelolaan pada SPL I Kebun: Kebun CxP = 0,070 2. Perhitungan Faktor Tanaman dan Pengelolaan pada SPL II

Kebun: Kebun CxP = 0,070 3. Perhitungan Faktor Tanaman dan Pengelolaan pada SPL III Tanaman Pertanian: Umbi akar CxP = 0,630 3.5 Perhitungan Edp

Deskripsi Lokasi Pengamatan

Kondisi tanah di daerah pengamatan memiliki kedalaman efektif untuk komoditas apel yaitu >90 cm, sengon >90 cm dan talas 50-60 cm. Dai kedalaman efektif ini, tanah terhitung memiliki kedalaman yang baik, karena akar dapat bergerak bebas untuk mendapatkan hara tanah. Masing-masing komoditas memiliki kesesuaian tanah yang beragam, kondisi ini dapat dilihat dari produktivitas tanaman yang dibudidayakan. Pada komoditas apel, tanaman tampak tumbuh dengan baik, sama halnya dengan komoditas sengon dan talas. Tanah di daerah ini memiliki tekstur debu yang sangat mencolok, hingga diperoleh tekstur

lempung berdebu. Tanah di daerah ini jika dilihat dari kondisi tekstur dan bahan induk

pembentuknya memiliki ordo inceptisol, dan sub ordo andept. Nilai Edp Lokasi Pengamatan Kedalaman tanah Sub Ordo SPL I >90 cm Andept SPL II >90 cm Andept SPL III <50 cm Andept

Faktor Kedalaman Kedalaman Ekivalen Kelestarian tanah Edp

1,00 900 mm 400 tahun

1,00 900 mm 400 tahun

1,00 500 mm 400 tahun

2,25 mm/tahun 2,25 mm/tahun 1,25 mm/tahun

3.6 Menetukan Erosi di Lapangan SPL Nilai Edp R K LxS CxP I 2,25 mm/tahun 1397,5 0,289 16,9 0,070 II 2,25 mm/tahun 1397,5 0,289 9 0,070 III 1,25 mm/tahun 1397,5 9,289 9,5 0,630

1. Menentukan Erosi di Lapang pada SPL I

2. Menentukan Erosi di Lapang pada SPL II

3. Menentukan Erosi di Lapang pada SPL III

Perbandingan

besarnya Semakin besar kemiringan lereng, maka akan semakin pula nilai erosi yang didapatkan. Dapat

nilai erosi (perhitungan) besar dengan kemiringan lereng

disimpulkan bahwa besarnya erosi berbanding lurus dengan besar kemiringan lereng.

Perbandingan

besarnya Semakin panjang lereng, maka semakin besar pula nilai

nilai erosi (perhitungan) erosi yang didapatkan. Dapat disimpulkan bahwa dengan panjang lereng Perbandingan besarnya erosi berbanding lurus dengan panjang lereng.

besarnya Semakin tinggi Edp dari suatu lahan, maka semakin

nilai erosi (perhitungan) besar tingkat erosinya. Dapat disimpulkan bahwa dengan Edp besarnya erosi yang diperbolehkan berbanding lurus dengan besar Edp. Kelas bahaya erosi VI, VII

Klasifikasi tingkat bahaya SPL I dan SPL II memiliki klasifikasi tingkat bahaya erosi erosi berat (B), sedangkan SPL III memiliki klasifikasi tingkat bahaya erosi sangat berat (SB). Usaha penurunan bahaya Untuk mengurangi bahaya erosi, dapat dilakukan upaya erosi teknik konservasi tanah dan air secara mekanik dan vegetatif. Secara mekanik, yang diantaranya adalah teras gulud dan teras bangku. Teras gulud merupakan guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat dan saluran air pada bagian lereng atasnya. Teras gulud dapat

difungsikan sebagai pengendali erosi dan penangkap aliran permukaan dari permukaan bidang olah. Teras bangku atau tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Macam-macam teras bangku dapat diterapkan untuk mencegah erosi massa, dan mempertahankan vegetasi yang

dibudidayakan di atasnya. a. Teras bangku datar adalah teras bangku yang bidang olahnya datar memebentuk sudut 0 derajat

dengan bidang horizontal. b. Teras bangku miring keluar adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah lereng asli, namun kemiringannya sudah berkurang dari

kemiringan lereng asli. c. Teras bangku miring ke dalam adalah teras bangku yang bidang olahnya miring ke arah berlawanan dengan lereng asli. Pembuatan teras bangku ini sangat efektif untuk mengurangi erosi terutama pada lahan yang memiliki tingkat erosi dan kelerengan yang curam. Sedangkan

secara vegetatif adalah dengan pertanaman lorong, strip rumput, dan pemberian mulsa. Pertanaman lorong (alley cropping) adalah system bercocok tanam dan konservasi tanah dimana barisan tanaman perdu leguminosa ditanam rapat (jarak 10-25 cm) menurut garis kontur sebagai tanaman pagar dan tanaman semusim ditanam pada lorong diantara tanaman pagar. Sistem pertanaman ini ditujukan untuk mengurangi resiko erosi dan menjaga stabilitas air tanah. Strip rumput diberikan untuk mengurangi erosi dan penyedia pakan ternak. Strip rumput digunakan untuk menguatkan teras sehingga dapat mengurangi tanah yang hilang dari lahan. Teknik ini juga dapat memudahkan petani untuk membuat teras secara alami. Mulsa akan sangat menunjang vegetasi yang dibudidayakan. mulsa merupakan teknik

pencegahan erosi yang cukup efektif.

MATERI IV PETLAP MENGENAL DAMPAK EROSI DALAM DAS 4.1 Pengamatan Erosi Tebing Sungai dan Kekeruhan Air Sungai Deskripsi Kondisi Tebing Sungai dan Kekeruhan Air Sungai Permasalahan yang Dijumpai di Lokasi Pada lokasi pengamatan yang berada di daerah Pengamatan Poncokusumo, pada SPL 1 penggunaan lahannya dimanfaatkan sebagai perkebunan apel, pada SPL 2 ditanami talas, dan pada SPL 3 ditanami sengon, di mana ketiga SPL tersebut memiliki tingkat erosi yang dikategorikan cukup tinggi. Besarnya tingkat erosi pada lahan tersebut dapat dilihat pada bab sebelumnya, di mana besarnya tingkat erosi tersebut diduga dengan menggunakan rumus dengan memperhatikan faktorfaktor yang berpengaruh. Sumber Permasalahan Besarnya tingkat erosi pada daerah tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya: Pada lahan tersebut tekstur tanaa bagian atasnya didominasi oleh debu. Dan perlu diketahui bahwa tekstur tanah yang paling peka terhadap erosi adalah debu. Selain itu, dapat dilihat pula bahwa tingkat kemantapan tanah pada bentang lahan tersebut cukup rendah. Tanah yang tidak mantap sangat mudah hancur oleh pukulan air hujan menjadi butir-butir halus sehingga menutupi pori-pori tanah. Sehingga tanah yang tidak mantap, seperti pada lahan tersebut dapat memicu terjadinya erosi. Sifat utama dari topografi yang mempengaruhi erosi adalah derajat kemiringan lereng dan panjang lereng.

Pada bentang lahan tersebut memiliki kemiringan lereng yang cukup curam. Erosi akan meningkat apabila lereng semakin curam. Perlu diketahui di sini bahwa vegetasi dari tanaman tahunan memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengendalikan erosi. Pengaruh vegetasi terhadap erosi adalah: (1) Menghalangi air hujan agar tidak langsung jatuh di permukaan tanah, sehinga kekuatan untuk mengahancurkan tanah dapat dikurangi. Hal ini tergantung dari kerapatan dan tingginya vegetasi; (2) Makin rapat vegetasi yang ada, maka makin efektif mencegah terjadinya erosi; (3) Menghambat aliran permukaan dan memperbanyak air infiltrasi; (4) Penyerapan air kedalam tanah diperkuat oleh transpirasi melalui vegetasi. Apabila kita lihat dari ketiga SPL yang diamati, maka SPL 3 yang didominasi tanaman tahunan berupa sengon

dimungkinkan memiliki tingkat erosi yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan kedua SPL lainnya. Selain ketiga faktor yang telah disebutkan di atas, faktor manusia juga memiliki andil yang cukup besar terhadap tingkat terjadinya erosi. Perlu diketahui di sini bahwa sebelumnya penggunaan lahan pada lokasi tersebut adalah dimanfaatkan sebagai hutan. Akan tetapi, pada saat ini terjadi alih fungsi lahan, di mana pada lahan tersebt dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Dengan pengelolaan lahan yang dapat dikatakan kurang baik tersebut, maka dapat memicu terjadinya erosi pula. Dampak Permasalahan Lingkungan: berdasarkan uraian yang telah

dijelaskan di atas telah diketahui bahwa pada

awalnya lahan tersebut dimanfaatkan sebagai hutan, tetapi karena mungkin terjadinya desakan kebutuhan masyarakat, sehingga lahan tersebut dialihfungsikan untuk usaha pertanian. Dalam hal ini, kemungkinan besar dapat memicu terjadinya degradasi lahan yang dikarenakan penggunaan lahan yang tidak sesuai Masyarakat: dengan penggunaan lahan yang kurang sesuai, maka sudah dapat dipastikan bahwa tingkat produksi yang dihasilkan dari penggunaan lahan tersebut juga kurang sesuai dengan yang diharapkan. Kesehatan: Dari segi kesehatan tanamannya, maka

kemungkinan besar tanamannya terlihat kurang sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dimungkinkan karena tanaman-tanaman tersebut ditanam pada tempat yang kurang sesuai. Sedangkan dari segi kesehatan masyarakatnya, juga kurang terjamin. Dengan kemungkinan terjadinya erosi yang cukup besar, hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas air akibat

terjadinya limpasan air. Selain itu, karena daerah tersebut berada tak jauh dari gunung berapi, maka udara yang terhirup pun kadang

kualitasnya juga rendah akibat abu vulkanik yang diakibatkan oleh aktivitas gunung berapi. Politik: Sosial: -

4.2 Tabel Hasil Miniatur Hujan untuk Mengetahui Dampak Erosi Vol. Limpasan (air Air Warna Sedimentasi

Volume No. SPL Vegetasi Tutupan lahan hujan miniatur Makro (apel) Mikro, Makromikro Ket:

yang Limpasan

tertampung) 3 liter 0,525 liter 0,075 liter Hitam keruh Keruh Jernih Banyak Sedikit -

1. 2. 3.

I II III

- (terbuka) Semak belukar Sengon, semak,seresah

9 liter 9 liter 9 liter

Jarak pemberian air miniatur hujan = 60 cm Luas daerah miniatur = p x l = 75 x 60 cm = 4500 cm2 Kemiringan = 150 Data di atas digunakan sebagai bentuk pengukuran seberapa besar dampak

erosi yang terjadi di Poncokusumo dengan beberapa titik pengamatan. Percobaan hujan miniatur dilakukan pada daerah yang terbuka dan tertutup (terdapat tutupan lahan). Hasil dari ketiga titik ini dapat kita bandingkan, dimana pada lahan terbuka yang hanya ada tanaman apel, didapatkan jumlah air limpasan dan sedimentasi yang lebih banyak dan warna air yang hitam keruh. Berbeda dengan hasil yang didapat pada titik percobaan berupa lahan tertutup sengon, semak, seresah yang dapat menahan limpasan air hingga air yang ditampung (air limpasan) hanya 0,075 liter atau 75 ml dari 9 liter air yang diberikan (air hujan miniatur) dengan tingkat sedimmentasi yang sangat kecil dan warna air yang jernih.

MATERI VI TEKNIK KONSERVASI YANG DIUSULKAN

Lokasi Konservasi

Desa

Gubugklakah,

Kecamatan

Ponco

Kusumo,

Kabupaten Malang

Teknik

Konservasi Cara vegetatif/biologi - Penanaman secara kontur Dalam metode vegetatif dapat dilakukan

Yang diusulkan

penanaman searah dengan kontur, sehingga ada keseimbangan tanah dalam menahan laju erosi. Penanaman tanaman ini dilakukan degan

penggabuangan pembuatan teras yang searah dengan kontur. Akar tanaman sebagai penyangga mekanik, sehingga dapat mengurangi pencucian tanah. Dengan penanaman searah dengan kontur, tanaman dapat tertata dengan rapi, sehingga memperlihatkan nilai estetika suatu lahan.

- Alley cropping (tanaman lorong) Metode Vegetatif adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan dan sisa-sisa panen komoditas pertanian untuk mengurangi jumlah dan daya rusak tanah oleh air hujan yang jatuh, yaitu dengan sistem budidaya lorong, tanaman pangan (semusim) sebagai tanaman utama ditanam pada bidang olah di lorong-lorong (alleys) antara barisan-barisan tanaman pagar (hedgerow crops) dari semak berkayu atau pohon legum, yang secara berkala dipangkas untuk mengurangi naungan dan sebagai

sumber bahan organik. Tanaman pohon yang ditanam sebagai pagar tersebut tetap mempunyai fungsi seperti pada sistem bera dengan semak belukar (bush-fallow system), yaitu mendaur ulang unsur hara, sumber mulsa dan pupuk hijau, menekan pertumbuhan gulma dan mengendalikan erosi, selain itu juga dapat berfungsi sebagai pengikat air yang ada dalam tanah. Selain dapat menekan erosi dan aliran permukaan, budi daya lorong juga menekan kehilangan unsur-unsur hara dari bidang olah. Sistem budidaya lorong dapat menekan kehilangan hara N, P, dan K hingga menjadi seperlimanya.

Cara mekanik - Pembuatan jalur-jalur bagi pengaliran air Melihat kondisi daerah yang di survey terlihat jalur pengaliran air tidak terawat. Jalur-jalur tersebut tidak ada bedanya dengan jalan setapak, sehingga sulit dikenali. Untuk perbaikan dapat dibuat jalur-jalur air yang bersifat semi permanen, dimana dilakukan penyemenan terhadap salauran air yang dibagun. Jalur air tersebut dibuat tangga dengan 2 tahapan, yakni tahap terjunan dan aliran lurus. Tahap terjunan ini dibangun untuk meminimkan nilai sedimentasi dari aliran atas, sehingga tingkat sedimentasi berkurang. Tahap lurus dibagun agar air dapat mengalir dengan mudah. Dengan pembangunan jalur air yang semi permanen, kita dapat dengan mudah membedakan antara jalur air dengan jalan setapak untuk petani.

- Pembuatan teras bangku (bangku lebar)

Teras bangku yang direkomendasikan berupa bangku yang memiliki permukaan lebar. Karena dalam aplikasinya akan dipadukan dengan sistem penanaman allay cropping. Teras bangku ini dibangun dengan searah kontur, agar lebih kokoh.

- Pembuatan selokan dan parit atau rorak Selokan dan parit berfungsi sebagai tempat penyimpanan air maupun pembuangan air. Dalam kondisi musim hujan, rorak berfungsi sebagai tempat pembuangan air. Tetapi, pada musim kemarau rorak berfungsi sebagai tempat penyimpan air untuk

tetersediaan irigasi.

- Pengolahan tanah searah menurut kontur Dengan indeks erosi yang tinggi, diperlukan konservasi yang ekstra. Pembuatan teras siring yang tidak searah dengan kontur serta tidak beraturan akan

berakibat tanah mudah mengalami pemindahan. Teras yang searah dengan kontur akan membantu dalam pengurangan laju tanah yang hilang.

Sket Pola Konservasi (Mekanik+Vegetatif)

LAPORAN FIELDTRIP M.K. Teknologi Konservasi Sumberdaya Lahan Desa Gubugklaka, Kecamatan Ponco Kusumo, Kabupaten Malang

Oleh: Agroekoteknologi C09 Kelompok 3 Ghufrillah Navratilova Gita Isma Pratiwi Hardi Yanto Wibowo Inputri Edyanti Rochmana Intan Puspita H. Nilasari Martha D. Muhammad Fahrudin I. Muhammad Kharisma Nunik Anggraeni P 0910480073 0910480075 0910480081 0910480091 0910480092 0910480123 0910480119 0910480254 0910480126

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULATAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011