Anda di halaman 1dari 44

BAB I LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH

I. IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA a. Identitas Pasien Nama Jenis kelamin Usia Status Pernikahan Alamat : Ny. Jumiyati : Perempuan : 42 tahun : Menikah : Tuksongo 1 RT/RW 001/004 Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan : Islam : Jawa : SD / Sederajat : Ibu Rumah Tangga

b. Identitas Kepala Keluarga Nama Jenis Kelamin : Tn. Bukhori : Laki-laki

Umur Status Pernikahan Alamat

: 44 tahun : Menikah : Tuksongo 1 RT/RW 001/004 Desa Tuksongo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang

Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan

: Islam : Jawa : SD / Sederajat : Buruh tani

II. PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga Kandung

No

Nama

Kedudukan JK Umur dalam (th) L P L P 42 44 25 10 Keluarga KK Istri KK Anak I Anak II

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

1 2 3 4

Bukhori Jumiyati Hermawanto Safira

SD/Sederajat SD/Sederajat SMA/Sederajat Belum tamat SD

Buruh Tani Ibu rumah tangga Swasta Siswa

Sehat Sakit Sehat Sehat

Tabel 2. Daftar Anggota Yang Tinggal Serumah

No

Nama

Kedudukan JK Umur dalam (th) L P L P 42 44 25 10 Keluarga KK Istri KK Anak I Anak II

Pendidikan

Pekerjaan

Keterangan

1 2 3 4

Bukhori Jumiyati Hermawanto Safira

SD/Sederajat SD/Sederajat SMA/Sederajat Belum tamat SD

Buruh Tani Ibu rumah tangga Swasta Siswa

Sehat Sakit Sehat Sehat

Bukhor i

Jum iyati

Herm awant

Safira

oo

Keterangan : : laki-laki

: perempuan

: riwayat DM

Gambar 1. Pohon Keluarga

III. RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN YANG SUDAH DILAKUKAN Anamnesis Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 18 Januari 2012 pukul 09.00 WIB hingga 10.30 WIB di rumah pasien di Desa Tuksongo RT/TW 001/004 Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang.

a. Keluhan Utama Nyeri pada jempol kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu b. Riwayat Penyakit Saat Datang Pertama (18 Januari 2012) Pasien mengeluh nyeri pada jempol kaki kiri sejak 1 minggu yang lalu. Nyeri dirasakan pada luka yang terdapat di jempol kaki kiri, selain itu muncul nanah yang berbau busuk dan kadang keluar sedikit darah. Sebelumnya pasien pernah berobat ke Puskesmas Borobudur lalu dirujuk ke RSUD Muntilan 1 bulan yang lalu setelah sebelumnya merasakan nyeri hilang timbul dan terasa agak kesemutan pada jempol kaki kiri. Pasien mengaku bahwa sebelumnya terdapat luka kecil di jempol kaki kiri sejak 1 minggu sebelum berobat ke Puskesmas namun tidak mengetahui sebab dari luka tersebut (pasien juga bercerita bahwa sudah terdiagnosi kencing manis oleh dokter Puskesmas). Kemudian luka makin meluas, bengkak dan terdapat bagian yang berwarna putih kekuningan. Di RSUD Muntilan, luka pasien di Debrideman dan pasien dirawat selama 5 hari. Pasca rawat inap, bekas luka dibalut perban dan pasien diberi obat minum yaitu; Tetrasiklin (2x/hari), Metformin (3x/hari), Tablet Vitamin (1x/hari) dan Rivanol untuk ganti perban. Pasien mengaku sudah datang ke RSUD Muntilan untuk kontrol, namun poli Bedah sudah tutup dikarenakan pasien datang terlalu siang. Karena luka dirasa makin mengganggu, pasien membuka balutan perban namun tidak menutup kembali, hanya dibersihkan dengan air keran dan dibiarkan terbuka. Pada saat kunjungan, pasien mengaku makin merasa lemas, mudah lelah, sering haus dan kencing terutama pada malam hari. Pasien hanya minum obat 1x/hari dan menu makanan harian pasien hanya talas yang direbus (kadang kentang) serta hanya minum air rebusan

Demam, mual, muntah, batuk dan pilek disangkal oleh pasien. Pasien adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah serta tidak pernah aktif dalam kegiatan desa, pasien tidak pernah olahraga, tidak minum minuman beralkohol serta kopi. BAB satu kali sehari, konsistensi lunak berwarna coklat dan tidak ada darah. BAK > 6 kali sehari, berwarna kuning jernih, tidak berpasir, tidak nyeri serta tidak ada darah. c. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak memiliki riwayat seperti ini namun pasien telah memiliki riwayat gejalan sering haus, sering kencing terutama pada malam hari dan sering lelah sejak 1 tahun yang lalu, kemudian pasien didiagnosis kencing manis (Diabetes Mellitus) oleh dokter Puskesmas setelah pasien berobat. Pasien sudah diberi obat (Metformin 2x/hari), namun pasien jarang minum obat. Riwayat darah tinggi, penyakit jantung, asma dan alergi disangkal.

d. Riwayat Penyakit Keluarga Ayah pasien mengalami gejala serupa dengan pasien dan sudah meninggal, namun pasien tidak mengetahui penyebabnya. tinggi, penyakit jantung, asma dan alergi disangkal. Riwayat darah

Pemeriksaan Fisik Tanggal Keadaan umum Kesadaran : Tampak Sakit sedang : Compos mentis

Tanda vital: Tekanan darah : 120/70 mmHg Nadi Suhu Pernapasan : 88 x/menit : 36,30 C : 28x/menit TB : 155 cm BB : 44 kg

Status Generalis
Kepala Mata

: Normocefali : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Telinga: Normotia, benjolan (-), oedem (-), nyeri tekan (-) Hidung Bibir Tenggorok Leher Thoraks

: Normosepti, sekret (-), deviasi septum (-) : pucat (-), sianosis (-) : T1-T1, faring hiperemis (-), granulasi (-), nyeri telan (-) : Trakhea di tengah, pembesaran KGB (-/-) :

Paru - paru
-

Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris, gerak thoraks pada pernafasan

simetris, sama tinggi, tidak ada bagian yang tertinggal, retraksi (-/-) Palpasi : Gerak nafas simetris, sama tinggi, tidak ada bagian yang

tertinggal, vokal fremitus simetris, sama kuat

Perkusi : Kedua hemitoraks berbunyi sonor, batas paru hepar setinggi

ics V, peranjakan paru positive kira-kira satu sela iga


-

Auskultasi : Suara napas vesikuler, rhonchi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris, iktus kordis terlihat pada ICS

V 2 cm lateral dari garis mid klavikularis kiri Palpasi : Iktus cordis teraba di ics V 2 cm lateral dari garis mid

klavikularis kiri Perkusi : Tidak ada nyeri ketuk, batas jantung kanan pada garis sternalis

kiri setinggi ics IV, batas paru lambung sekitar ics VI, batas jantung kiri setinggi ics V 2 cm garis midklavikularis kiri, batas atas jantung kiri setinggi ics III pada garis sternalis kiri Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Inspeksi : Bentuk abdomen simetris, mendatar pada keadaan

statis/dinamis, rata. Palpasi : Teraba lemas, defense muscular (-), tidak teraba benjolan,

tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas, tidak ada pembesaran hepar dan lien, ballotemem ginjal kanan dan kiri (-). Perkusi : Timpani di seluruh lapangan abdomen. Auskultasi : Bising usus 3x/menit.

Ekstremitas
-

Inspeksi : Bentuk normal simetris, deformitas (-), sianosis (-/-), edema

(-/-). Terdapat ulkus di jari I kaki kiri dengan ukuran 2X3 cm , tampak pus dan sedikit darah pada ulkus,tampak kemerahan di sekitar ulkus
-

Palpasi : Suhu hangat, edema (-/-).

Gambar 2. Ulkus Diabetikum pada Digiti 1 pedis sinistra pasien Ny.Jumiyati

Diagnosis Banding
Ulkus diabetikum wagner II ec DM tipe II tidak terkontrol

DM tipe II

Hasil Laboratorium dan Pemeriksaan Penunjang Belum dilakukan pemeriksaan laboratorium

Diagnosis Kerja Ulkus diabetikum wagner II ec DM tipe II tidak terkontrol

Rencana Penatalaksanaan Tatalaksana medikamentosa (oral) yang telah diberikan :


Tetracyclin 500 mg (2x/hari) Metformin 500 mg (2x/hari) Rivanol Vitamin

Tatalaksana nonmedikamentosa Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah: Mengikuti pola makan sehat Meningkatkan kegiatan jasmani Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusussecara aman, teratur Melakukan perawatan kaki secara berkala Hasil Penatalaksanaan Medis Pasien rutin minum obat namun luka tidak dibalut perban kembali, luka hanya dicuci dengan air keran, pola makan pasien tidak teratur dan jenis makanannya tidak

10

beranekaragam, serta tidak pernah melakukan aktifitas fisik seperti olahraga. Pasien masih sering lemas dan mudah lelah, sering haus dan sering kencing terutama malam hari. Selain itu, luka makin bernanah dan berbau busuk, namun pasien mengaku masih merasakan rasa nyeri yang hilang timbul. Faktor pendukung : Pasien selalu minum obat secara teratur. Kondisi rumah yang kurang sehat Pencahayaan kurang Ventilasi kurang Rumah yang berdebu Lantai tanah Sumber air dan kamar mandi di luar rumah : ulkus diabetic membaik, gejala 3P berkurang, hasil

Faktor penghambat:

Indikator keberhasilan

pemeriksaan laboratorium (GDS, GDP, GD 2jam PP) membaik. IV. TABEL PERMASALAHAN PADA PASIEN

Tabel 3. Tabel Permasalahan Pada Pasien

No. 1.

Resiko & masalah kesehatan Luka di jempol kaki kiri akibat diabetes

Rencana pembinaan Pemberian obat dan edukasi untuk merawat lukanya dan menjaga kadar gula agar tetap stabil

Sasaran Pasien dan kelurga

11

2.

Lingkungan rumah yang berdebu, ventilasi dan pencahayaan yang kurang, lantai tanah

Edukasi mengenai cara membersihkan dan menata rumah.

Pasien dan keluarga

3.

Pasien tidak mengetahui secara jelas tentang penyakit yang dideritanya

Edukasi mengenai penyakit DM, faktor resiko, dan cara penanganannya serta komplikasi nya

Pasien dan keluarga

V. IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA a. Fungsi Biologis Dari wawancara dengan penderita diperoleh keterangan bahwa ayah penderita pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. b. Fungsi Psikologis Penderita tinggal bersama suami dan kedua anaknya. Dimana hubungan penderita dengan keluarga baik. Penderita bekerja sebagai ibu rumah tangga, sehingga banyak menghabiskan waktu di rumah, dan banyak waktu bersama keluarga. c. Fungsi Ekonomi Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh suami dan anak pertamanya. Sedangkan penderita yang mengelola penghasilan keluarga. Pendapatan perbulan kira-kira Rp. 700.000. Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan rumah tangga seperti listrik dan makan. Pasien mempunyai kartu Jamkesmas. d. Fungsi Pendidikan Penderita bersekolah sampai kelas 6 SD. Semua anak penderita juga bersekolah,paling tinggi sampai jenjang SMA.

12

e. Fungsi Religius Penderita dan keluarga memeluk agama Islam, menjalankan ibadah agama secara rutin (sholat). f. Fungsi Sosial dan Budaya Penderita dan keluarga tinggal di Desa Tuksongo di kawasan pemukiman kumuh yang penduduknya tidak terlalu padat. Penderita dan keluarga dapat diterima dengan baik di lingkungan rumahnya. Komunikasi dengan tetangga baik. Keluarga penderita tidak aktif dalam kegiatan di lingkungan masyarakat desa. POLA KONSUMSI PENDERITA Frekuensi makan rata-rata 2x sehari. Penderita biasanya makan di rumah. Jenis makanan dalam keluarga ini kurang bervariasi. Karena penderita mempunyai DM, maka variasi makanan sebagai berikut : kentang dan talas, untuk minumnya air putih atau teh tawar. Air minum berasal dari air sumur galian yang dimasak sendiri.

VI. IDENTIFIKASI KESEHATAN a.

FAKTOR

FAKTOR

YANG MEMPENGARUHI

Faktor Perilaku

Penderita seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan tidak aktif mengikuti kegiatan d lingkungan desa. b. Faktor Lingkungan

Tinggal dalam lingkungan kumuh, dimana kebersihan di dalam rumah sangat kurang. Pencahayaan di dalam rumah sangat kurang dan sirkulasi udara tidak berjalan lancar. Sumber air minum berasal dari sumur pompa dan dimasak

13

sebelum diminum. Buang air besar menggunakan jamban leher angsa di wc umum dekat rumah yang langsung dibuang ke septictank. Untuk pembuangan limbah, dibuang ke got dan mengalir ke sungai, dan tidak tersedianya tempat pembuangan sampah di luar rumah. c. Faktor Sarana pelayanan kesehatan

Terdapat Puskesmas Borobudur yang berjarak > 5 km. d. Faktor keturunan

Ayah penderita memiliki riwayat DM.

VII.

IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH

a. Gambaran Lingkungan Rumah Rumah pasien terletak di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur,

Kabupaten Magelang, dengan ukuran rumah 7 x 7 m2, bentuk bangunan 1 lantai. Rumah tersebut ditempati oleh 4 orang.Secara umum gambaran rumah terdiri dari 2 kamar tidur. 1 dapur di bagian belakang rumah. Rumah tidak mempunyai langit-langit, dinding kayu, lantai dari tanah. Penerangan dalam rumah dan kamar kurang sehingga rumah gelap dan terasa lembab. Ventilasi dan jendela yang kurang memadai, yaitu dengan luas < 10 % dan jarang dibuka. Cahaya matahari masuk lewat pintu dan jendela. Tata letak barang di rumah cukup rapi. Sumber air bersih dari sumur pompa tangan untuk minum maupun cuci dan masak. Air minum dimasak sendiri. Fasilitas MCK menggunakan jamban berleher angsa dan sudah memiliki septic tank yang berada di wc umum yang berjarak 3 m. Kebersihan dapur kurang, tidak ada lubang asap dapur. Pembuangan air limbah ke got dan saluran limbah mengalir lancar.Tidak ada tempat pembuangan sampah. Jalan di

14

depan rumah lebarnya 6 meter terbuat dari tanah . Kebersihan lingkungan di sekitar rumah cukup

KAMAR TIDUR I

DAPUR

KAND ANG AYAM KAMAR TIDUR II

GUDANG

RUANG KELUARGA

RUANG TAMU

WC umum

Gambar 3. Denah Rumah

VIII. DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA a. Fungsi Biologis

Pasien baru pertama kali mengalami penyakit ini. Ayah pasien memiliki riwayat DM

b. Fungsi Psikologis Hubungan pasien dengan keluarga terjalin baik Hubungan sosial dengan tetangga dan kerabat baik.

c. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan

15

Kesan sosial ekonomi kurang dilihat dari pendapatan Rp 700.000 per bulan. d. Fungsi Religius dan Sosial Budaya Termasuk keluarga yang taat beragama. Hubungan keluarga dan pasien dengan tetangga baik, komunikasi berjalan dengan lancar. Tidak terdapat keterbatasan hubungan antara pasien dan masyarakat. e. Faktor Perilaku Pasien tinggal di rumah yang pencahayaannya kurang baik dan ventilasi udara di rumah kurang sehingga sirkulasi udara kurang baik dan lantai yang tidak kedap air (tanah) sehingga kebersihan kurang terjaga. f. Faktor Non Perilaku Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup jauh. Jarak antara rumah pasien dengan puskesmas > 5 km.

IX. DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA

16

GENETIK

Ayah kandung memiliki riwayat DM LINGKUNGA N Pencahayaan kurang

YANKES Dokter puskesmas Bidan

STATUS KESEHATAN

PERILAKU

Ventilasi kurang Lantai tanah

Gambar 4. Diagram Realita

X.

PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN


Tabel 4. Pembinaan dan Hasil Kegiatan

Tanggal

Kegiatan yang dilakukan

Keluarga yang terlibat

Hasil Kegiatan

18 januari 2012

Melakukan pemeriksaan kepada pasien dan mengamati keadaan kesehatan rumah dan lingkungan sekitar

Pasien dan keluarga

Mendapatkan diagnosis kerja pasien, data keluarga pasien, gambaran perilaku kesehatan dan mendapatkan foto foto keadaan rumah pasien.

21 Januari 2012

Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit DM, faktor risiko DM, penatalaksanaan DM, modifikasi pola hidup pasien DM, pola makan pasien DM

Pasien dan keluarga

Pasien dan anak pasien dapat memahami penjelasan yang diberikan dan diharapkan dapat merubah pola hidup

17

serta komplikasi yang mungkin terjadi. Selain itu juga menjelaskan cara perawatan luka dan menganjurkan untuk rutin kontrol ke Rumah Sakit 1x/bulan untuk cek laboratorium

XI. KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA


1. Tingkat pemahaman

: Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan

cukup baik. 2.Faktor pendukung :

- Penderita dan keluarga dapat memahami dan menangkap penjelasan

yang diberikan tentang DM dan pola hidup sehat untuk penderita DM


- Keluarga yang kooperatif dan adanya keinginan untuk hidup sehat 3. Faktor penyulit : keadaan ekonomi yang kurang dan sifat pasien yang malas. 4. Indikator keberhasilan : pasien mengetahui tentang penyakit DM, mengetahui

perilaku yang tidak baik untuk kesehatan dan hubungannya dengan penyakit yang diderita pasien, mengetahui dan dapat melakukan perawatan luka secara mandiri, serta berusaha untuk mencegah pada keadaaan yang lebih buruk.

18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


I. DEFINISI
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik yang terjadi karena kelaian sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam suau jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin.1

II.

EPIDEMIOLOGI Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit endokrin yang paling

sering ditemukan dan diperkirakan diderita oleh 120 juta orang di seluruh dunia. Saat ini angka kejadian DM diperkirakan akan terus meningkat. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan peningkatan prevalensi dari 1.5-2.3% menjadi 5.7% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun.2 Diabetes Melitus (DM) sering disebut sebagai the great initator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. DM yang tidak ditangani dapat mengakibatkan berbagai penyulit atau komplikasi yang meliputi komplikasi akut dan kronik.3 Dari data ini dapatlah disimpulkan bahwa faktor lingkungan terutama peningkatan kemakmuran suatu bangsa akan meningkatkan terjadinya Diabetes melitus (DM).

19

Tabel 5.Urutan 10 negara dengan jumlah pengidap Diabetes terbanyak pada penduduk dewasa di seluruh dunia 1995 dan 2025 Urutan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Negara India Cina Amerika Serikat Federasi Russia Jepang Brazil Indonesia Pakistan Meksiko Ukraine Semua negara lain Jumlah 135,3 300 6,3 4,9 4,5 4,3 3,8 3,6 49,7 5 6 7 8 9 10 Indonesia Federasi Russia Meksiko Brazil Mesir Jepang 11,7 11,6 8,8 8,5 103,6 12.4 12,2 8,9 4 1995 (juta) 19,4 16,0 13,9 1 2 3 India Cina Amerika Serikat Pakistan 14,5 Urutan Negara 2025 (juta) 57,2 37,6 21,9

Prevalensi Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia, terjadinya DM di Indonesia berkisar antara 1,4 dengan 1,6 %, kecuali di dua tempat yaitu di Pekajangan, suatu desa dekat Semarang, 2,3 % dan di Manado 6%. Di Pekajangan prevalensi ini agak tinggi disebabkan di daerah itu banyak perkawinan antara kerabat. Sedangkan di Manado, Waspadji menyimpulkan mungkin angka itu tinggi karena pada studi itu populasinya terdiri dari dari orang-orang yang datang dengan suarela, jadi agak lebih selektif. Tetapi kalau dilihat dari segi geografi dan budayanya yang dekat dengan Filipina, ada

20

kemungkinan prevalensi di Manado tinggi karena prevalensi di Filipina juga tinggi, yaitu sekitar 8,4%-12% di daerah urban dan 3,85-9,7% di daerah rural. Penelitian terakhir antara tahun 2001 dan 2005 di daerah Depok didapatkan prevalensi DM tipe 2 sebesar 14,7%, demikian juga di Makassar, prevalensi terakhir tahun 2005 mencapai 12,5%.3 Jangka waktu 30 tahun penduduk Indonesia akan naik sebesar 40% dengan peningkatan jumlah pasien Diabetes Melitus (DM) yang jauh lebih besar yaitu 86138%. Melihat tendensi kenaikan kekerapan diabetes secara global seperti disebutkan di atas, maka dengan demikian dapat dimingerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan Diabetes Melitus (DM) di Indonesia akan meningkat dengan drastis. Faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan tersebut diantaranya:4 a. Faktor demografi : 1) Jumlah penduduk meningkat 2) Penduduk usia lanjut betambah banyak 3) Urbanisasi makin tak terkendali
b. Gaya hidup yang kebarat-baratan : 1) Penghasilan per capita tinggi

2) Restoran siap santap


3)Teknologi canggih menimbulkan sedentary life, kurang gerak badan

c. Berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi d. Meningkatnya pelayanan kesehatan hingga umur pasien diabetes menjadi lebih panjang.

III.KLASIFIKASI Klasifikasi DM dapat dilihat seperti berikut:1

21

Tabel 6. Klasifikasi etiologis DM Tipe Tipe 1 Penerangan Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut. Tipe 2 Autoimun Idiopatik Bevariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi Tipe spesifik lain insulin disertai resistensi insulin. Defek genetik fungsi sel beta DM Gestasional Defek genetik kerja insulin Penyakit eksokrin pankreas Endokrinopati Karena obat atau zat kimia Infeksi Sebab imunologi yang jarang Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM

IV.PATOFISIOLOGI Tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Di samping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh berfungsi dengan baik. Energi pada mesin tubuh manusia berasal dari bahan makanan yang dimakan sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. 4 Supaya dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat makanan harus masuk dulu ke dalam sel untuk dapat diolah. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses kimia yang rumit, yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Proses

22

ini disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme itu insulin memegang peranan yang sangat penting yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin ini adalah suatu zat atau hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas.4 Diabetes Melitus (DM) tipe 1 disebabkan adanya reaksi otoimun yang disebabkan oleh peradangan pada sel beta. Ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel beta yang disebut Islet Cell Antibody (ICA). Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) menyebabkan hancurnya sel beta.4 Pada Diabetes Melitus (DM) tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk akan sedikit, sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukosa) dan glukosa dalam pembuluh darah meningkat. Keadaan ini disebut sebagai resistensi insulin.4 Penyebab resistensi insulin pada NIDDM sebenarnya tidak begitu jelas tetapi faktor-faktor di bahwa ini banyak berperan :4 Obesitas terutama yang berbentuk sentral Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat Kurang gerak badan Faktor keturunan (herediter)

23

Gambar 5. Mekanisme siklus gula darah (DM Tipe 2) V.MANIFESTASI KLINIK Gejala klasik Diabetes Melitus (DM) adalah rasa haus yang berlebihan (polidipsi), sering kencing terutama pada malam hari (poliuri), banyak makan (polifagi) serta berat badan yang turun dengan cepat. Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal, penglihatan kabur, gairah seks menurun, luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg . 4

24

Gambar 6: Manifestasi Klinis Diabetes Melitus Perjalan penyakit antara Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan DM tipe 2 tidak sama. Demikian juga pengobatannya. Oleh karena itu ada baiknya bila diketahui sedikit tentang perbedaannya, karena ada dampaknya pada rencana pengobatan. VI.DIAGNOSIS Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah lemah, kesemutan, gatal, mata kabur dan difungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada pasien wanita. Jika keluhan khas, pemeriksaan glukosa darah sewaktu 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM. untuk kelompok tanpa keluhan khas DM, hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM. diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi angka abnormal, baik kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl, kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dl pada hari yang lain, atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa darah pasca pembebanan 200 mg/dl.1 Berdasarkan American Diabetes Association (ADA) Recommendation 2010, kriteria diagnosis diabetes mellitus, yaitu:

25

a) A1C 6,5%. Tes ini dilaksanakan pada laboratorium yang menggunakan metode bersertifikat National Glycohemoglobin Standardization Program (NGSP) dan berstandaridisasi Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) b) Glukosa puasa 126 mg/dl (7,0 mmol/l). Puasa didefinisikan sebagai tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam. c) Glukosa plasma 2 jam 200 mg/dl (11,1 mmol/l) selama tes toleransi glukosa oral (TTGO). Tes ini dilakukan sesuai protocol WHO menggunakan glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa dilarutkan dalam air. d) Pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia: glukosa plasma sewaktu 200 mg/dl (11,1 mmol/l). Tabel 7. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dL) Bukan DM Kadar darah (mg/dL) Kadar darah (mg/dL) glukosa Plasma vena Darah Kapiler sewaktu glukosa Plasma vena Darah Kapiler puasa <100 <90 <100 <90 Belum pasti DM 100-199 90-199 100-125 90-99 DM 200 200 126 100

Gambar 7. Langkah-langkah diagnostic DM dan gangguan toleransi glukosa

26

VII. PENATALAKSANAAN Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup penyandang diabetes. Pilaar dari penatalaksaan bisa dibagikan berdasarkan berikut:1 1. Edukasi 2. Terapi gizi medis 3. Latihan jasmani 4. Intervensi farmakologis

27

Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien, sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus. VII.1. Edukasi Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi.1 VII. 2. Terapi Gizi Medis Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri).Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada penyandang diabetes perlu

28

ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin.1 A. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari: Karbohidrat

Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi.

Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain. Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi. Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake) Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari

Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi. Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori dan lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain : daging berlemak dan susu penuh (whole milk).

Anjuran konsumsi kolesterol < 300 mg/hari.

29

Protein Dibutuhkan sebesar 10 20% total asupan energi.Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi,dll), daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu, tempe. Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi.1 Natrium Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1 sendok teh) garam dapur. Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400mg garam dapur.Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda,dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.1 Serat Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena mengandung vitamin, mineral, serat dan bahan lain yang baik untuk kesehatan. Anjuran konsumsi serat adalah 25 g/1000 kkal/hari. Pemanis alternatif Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis bergizi dan pemanis tak bergizi. Termasuk pemanis tidak bergizi adalah gula akohol dan frukstosa. Kebutuhan Kalori

30

Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori / kg BB ideal, ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yai tu jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dll. Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sbb: Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg. Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, rumus dimodifikasi menjadi : Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg. BB Normal : BB ideal 10 % Kurus : < BBI - 10 % Gemuk : > BBI + 10 % Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh. Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus: IMT = BB(kg)/ TB(m2) Klasifikasi IMT*

BB Kurang <18,5 BB Normal 18,5-22,9 BB Lebih >23,0 Dengan risiko 23,0-24,9 Obes I 25,0-29,9 Obes II >30

* Berdasarkan WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: RedeningObesity and its Treatment.

31

Berdasarkan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006:1 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain : 1. Jenis Kelamin: Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/kg BB. 2. Umur: Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk usia 60 s/d 69 tahun dan dikurangi 20%, di atas 70 tahun. 3. Aktivitas Fisik atau Pekerjaan: kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat, 20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas sedang, dan 50% dengan aktivitas sangat berat. 4. Berat Badan: Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% ber-gantung kepada tingkat kegemukan. Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000 - 1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200 -1600 kkal perhari untuk pria. Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien, sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya. VII.4. Latihan jasmani

32

Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 . Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan. Dapat disimpulkan latihan jasmani yang dituntut pada penderita DM mempunyai syarat-syarat seperti berikut:1,6 Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama + 30 menit yang sifatnya CRIPE ( Continous Rhytmical Interval Progressive Endurace training ). 1.Continous Latihan harus berkesinambungan dan dilakukan terus-menerus tanpa henti. Contoh : bila dipilih jogging 30 menit, maka selama 30 menit pasien melakukan jogging tanpa istirahat. 2.Rytmical Latihan olah raga harus dipilih yang berirama, yaitu otot-otot berkontraksi dan berelaksasi secara teratur. 3.Interval Latihan dilakukan selang-seling antara gerak cepat dan lambat. Contoh : jalan cepat diselingi dengan jalan lambat. 4.Progressive

33

Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringan sampai hingga mencapai 30-60 menit. Sasaran Heart Rate = 75-85 % dari Maksimum Heart Rate

Maksimum Heart Rate= 220-umur 5.Endurance Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi, seperti jalan (jalan santai/cepat, sesuai umur), jogging, berenang dan bersepeda. Hal yang perlu diperhatikan dalam latihan jasmani ini adalah jangan sampai memulai olah raga sebelum makan, harus menggunakan sepatu yang pas, didampingi oleh orang yang tahu bagaimana cara mengatasi hipoglikemia, harus membawa permen, membawa tanda pengenal sebagai pasien DM dalam pengobatan, dan memeriksa kaki dengan cermat setelah berolahraga. Sedapat mungkin mencapai zona sasaran atau zona latihan yaitu 75-85% denyut nadi maksimal yang dapat dihitung dengan cara sbb :

DNM = 220 Umur ( dalam Tahun ) Kegiatan jasmani sehari hari dan latihan jasmani secara teratur ( 3 4 kali seminggu selama 30 menit ) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas malasan.

34

VII.5. Intervensi Farmakologis Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. 1. Obat hipoglikemik oral (OHO)1 Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan: A. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid B. penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin, tiazolidindion C. penghambat glukoneogenesis (metformin) D. penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa.

A. Pemicu Sekresi Insulin 1. Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. 2. Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat

35

fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. B. Penambah sensitivitas terhadap insulin Tiazolidindion Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala. C. Penghambat glukoneogenesis Metformin Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 diabetes gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis, renjatan, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.

36

D. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. 1.Cara Pemberian OHO, terdiri dari: OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat diberikan sampai dosis hampir maksimal

Sulfonilurea generasi I & II : 15 30 menit sebelum makan Glimepirid : sebelum/sesaat sebelum makan Repaglinid, Nateglinid : sesaat/ sebelum makan Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan Penghambat glukosidase (Acarbose) : bersama makan suapan pertama Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan.

2. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan:

Penurunan berat badan yang cepat Hiperglikemia berat yang disertai ketosis Ketoasidosis diabetik Hiperglikemia hiperosmolar non ketotikHiperglikemia dengan asidosis laktat

Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006.

Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal.

37

Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Jenis dan lama kerja insulin Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni:
a. Insulin kerja cepat (rapid acting insulin) b. Insulin kerja pendek (short acting insulin) c. Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin) d. insulin kerja panjang (long acting insulin).

Terapi Kombinasi Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan OHO kombinasi, harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang

berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi dengan kombinasi tiga OHO. Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau

38

insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya.1 Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali, maka obat hipoglikemik oral dihentikan dan diberikan insulin saja.
VII.6.Promosi Perilaku Sehat Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan kesehatan. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan perubahan perilaku. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk pengetahuan dan peningkatan motivasi. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter, ahli diet, perawat, dan tenaga kesehatan lain. VII.6.1. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah: Mengikuti pola makan sehat Meningkatkan kegiatan jasmani Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman, teratur Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan data yang ada

39

Melakukan perawatan kaki secara berkala Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes.

Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

VII.6.2. Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes) Dalam menjalankan tugasnya, tenaga kesehatan memerlukan landasan empati, yaitu kemampuan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah: Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal yang sederhana Lakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulas Diskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan keinginan pasien Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima Berikan motivasi dengan memberikan penghargaan terjadinya kecemasan.

VIII. KOMPLIKASI1,6

40

Dalam perjalanan penyakit DM, dapat terjadi penyulit akut dan menahun I. Penyulit akut Penyulit akut DM sampai saat ini masih merupakan kegawatan yang harus ditangani dengan tepat dan benar karena hanya dengan cara itulah angka kematiannya dapat ditekan serendah mungkin. Ketoasidosis diabetik Hiperosmolar nonketotik Hipoglikemia

II. Penyulit menahun 1. Makroangiopati, yang melibatkan : Pembuluh darah jantung Pembuluh darah tepi Pembuluh darah otak

2. Mikroangiopati: 3. Neuropati Retinopati diabetik Nefropati diabetik

IX.PENGENDALIAN DM Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik, diperlukan pengendalian DM yang baik yag merupakan sasaran terapi. DM terkndali baik, apabila kadar glukosa darah mencapai kadar yang diharapkan serta kadar lipid dan A1C juga mencapai kadar yang diharapkan. Demikian pula status gizi dan tekanan darah .

41

Tabel 8.Kriteria pengendalian DM Baik GD puasa GD 2 jam pp A1C Kolesterol total LDL HDL Trigliserida IMT Tekanan darah 80 - 109 80 - 144 < 6,5 < 200 < 100 >45 < 150 18,5 22,9 < 130/80 150 199 23 25 130 140 / 80 - 90 200 >25 >140/90 Sedang 110 125 145 179 6,5 8 200 239 100 129 Buruk 126 180 >8 240 130

Sumber : Sudoyo Aru 7 X. PROGNOSIS Sekitar 60% pasien DM yang mendapat insulin dapat bertahan hidup seperti orang normal, sisanya dapat mengalami kebutaan, gagal ginjal kronis, dan kemungkinan untuk meninggal lebih cepat.5

Daftar Pustaka

42

1.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan

Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. PB Perkeni, Jakarta : 2002; hal 28-58.
2. Subekti I (2004). Penatalaksanaan diabetes mellitus terpadu. Balai

Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004; Hal 217-23. 3. Supartondo, Waspadji S. Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2003; hal 375-7. 4. Suryono S. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Penerbit

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2007; Hal 7-14. 5. Mansjoer Arif, dkk. Kapita selekta kedokteran ed III jl I. Media

Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta : 2001

6.

Indria P. Diabetes Melitus Tipe 2. Fakultas Kedokteran Universitas

Yarsi Indonesia.Jakarta:2011.
7. Sudoyo Aru.W, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed IV, jl III.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2006. 8. Yunir Em, Soebardi Suharko. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 4th. Pusat

Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2006; 1864-7. 9. Ariani Y. Pengaruh Senam Diabetes Terhadap Kadar Gula Darah[Website].

Universitas Sumatera Utara Repository.Sumatera:2011.Accessed on 8th February 2011.Available at http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/28497

43

LAMPIRAN

44