Anda di halaman 1dari 9

22

BAB III PERMASALAHAN


1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat? 2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat? 3. Apakah faktor predisposisi karsinoma serviks pada pasien ini? 4. Apakah prognosis pada pasien ini?

23

BAB IV ANALISIS KASUS


4.1 Diagnosis Penegakan diagnosis pada kasus ini didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis diketahui bahwa penderita mempunyai keluhan perdarahan dari kemaluan. Perdarahan pada umumnya terjadi segera sehabis senggama (perdarahan kontak), namun pada tingkat klinik yang lebih lanjut perdarahan spontan dapat terjadi. Pada kasus ini didapatkan riwayat post-coital bleeding (+), dimana perdarahan segera sehabis senggama (perdarahan kontak merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%). Dari hasil pemeriksaan fisik, dari status ginekologis penderita didapatkan : Pemeriksaan Luar Abdomen datar, lemas, simetris, massa (-), nyeri tekan (-),tinggi fundus uteri teraba 1/2 pusat simfisis, tanda cairan bebas (-), massa (-) Inspekulo Porsio eksofitik, berdungkul-dungkul, rapuh, mudah berdarah, ukuran 5 x 5 cm, flour (-), fluxus (-), infiltrasi vagina (-). Vaginal toucher Mukosa vagina licin, porsio eksofitik berdungkul-dungkul, rapuh, mudah berdarah, 5 x 5 cm, cavum Douglas tidak menonjol Rectal touche Tonus sfingter ani baik, ampula recti kosong, mukosa licin, massa intralumen (-), AP kanan/kiri lemas, cavum Douglas tidak menonjol, CFS kanan 100%, CFS kiri 70%. Hasil pemeriksaan darah rutin menunjukkan Hb 8,2 mg/dl, leukosit 27.300 /mm dan trombosit 581.000/mm3. Berdasarkan hasil laboratorium tersebut, didapatkan nilai Hb yang rendah (anemia). Penyebab anemia pada kasus ini kemungkinan akibat perdarahan terus-menerus dari kemaluan. Untuk mengetahui penyebab pasti dari anemia pada kasus ini dapat dilakukan pemeriksaan apusan
3

24

darah tepi. Nilai leukosit yang tinggi menunjukkan kemungkinan adanya infeksi dan perlu diberikan antibiotik sampai keadaan umum membaik. Hasil pemeriksaan kimia klinik menunjukkan hasil: BSS 102 mg/dL Ureum 22 mg/dl Kreatinin 0,9 mg/dl Protein total 5,2 mg/dl Albumin 2,8 mg/dl Globulin 2,4 mg/dl Bilirubin total 0,45 mg/dl Bilirubin direk 0,17 mg/dl Bilirubin indirek 0,28 mg/dl SGOT 21 mg/dl SGPT 16 mg/dl Natrium137 mmol/L Kalium 4,8 mmol/L Hasil pemeriksaan kimia darah yang normal menunjukkan bahwa karsinoma belum menyebabkan gangguan fungsi organ lainnya seperti hepar dan ginjal. Dari hasil pemeriksaan foto thorax didaptkan kesan normal thorax dan tak tampak metastasis di paru. Hasil pemeriksaan foto BNO-IVP didapatkan kesan normal BNO-IVP. Hal ini menunjang diagnosis karsinoma serviks stadium IIB. Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor. Untuk menegakkan diagnosis pasti dari karsinoma serviks diperlukan pemeriksaan biopsi.

4.2 Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada kasus ini dimulai dengan memperbaiki keadaan umum penderita. Setelah itu direncanakan penatalaksanaan yang diberikan bagi penderita karsinoma serviks stadium IIB :

25

Jika stadium awal (IB1-IIA <4 cm), mempunyai prognosis baik, dan dapat dikontrol dengan operasi atau radioterapi. Pengobatan dipilih berdasarkan sumber daya, umur, dan keadaan umum. Morbiditas dapat meningkat bila dilakukan terapi kombinasi operasi dan radioterapi. 1. Pembedahan Pembedahan standar untuk stadium ini adalah dengan histerektomi radikal (kelas II atau kelas III) dan limfadenektomi pelvis. Bila penderita masih muda, ovarium dapat dipertahankan dan digantungkan di luar rongga pelvis bila direncanakan terapi radiasi. Dapat pula dilakukan histerektomi pervaginam dengan limfadenektomi laparoskopi. 2. Radioterapi Radiasi yang dilakukan adalah radiasi eksternal ditambah brachiterapi. Dosis radiasi eksterna dan brachiterapi LDR adalah 80-85 Gy pada titik A dan 50-55 Gy pada titik B. Dosis radiasi eksternal pelvis adalah 40-50 Gy dalam 180-200 Gy (fraksinasi). 3. Terapi adjuvan pasca pembedahan Risiko untuk rekurensi karsinoma serviks pasca pembedahan akan meningkat bila hasil pembedahan didapatkan KGB positif atau parametrium positif, atau batas sayatan yang positif mengandung sel kanker. Didapatkan tumor besar, capillary like space involvement, invasi ke stroma sampai 1/3. Diberikan kemoterapi adjuvan dengan kombinasi berbasis cisplatin atau cisplatin tunggal, lebih baik daripada radiasi.

4.3 Faktor Predisposisi Beberapa hal yang menjadi faktor risiko terjadinya karsinoma serviks adalah sebagai berikut : 1. Human Papilloma Virus (HPV) Merupakan grup yang terdiri dari lebih dari 100 tipe yang menginvasi kulit, genitalia, anus, mulu dan tenggorokan, namun tidak menginvasi darah dan sebagian besar organ internal lainnya seperti paru dan hati. Tipe yang berpotensi tinggi menimbulkan HPV dikemudian hari adalah

26

HPV 16, HPV 18, HPV 31, HPV 33, dan HPV 45. Dua pertiga kasus disebabkan oleh HPV 16 dan 18. 2. Merokok Wanita yang merokok memiliki risiko dua kali lebih tinggi untu terkena karsinoma serviks daripada wanita yang tidak merokok. 3. Imunosupresi Keadaan imunosupresi dikaitkan dengan keterlibatan HIV. Pada penderita AIDS, terjadi kerusakan sistem imun tubuh yang meningkatkan risiko terjadinya infeksi HPV. 4. Infeksi Klamidia Klamidia merupakan bakteri yang kerap kali mengivasi sistem reproduksi. Infeksi klamidia ditularkan melalui kontak seksual. Pada beberapa penelitian, ditemukan peningkatan risiko terjadinya karsinoma serviks pada wanita yang terinfeksi klamidia. 5. Diet Wanita dengan diet yang tidak mengandung buah dan sayur secara adekuat memilki risiko terjadinya karsinoma serviks. 6. Kontrasepsi oral (pil KB) Berdasarkan studi terbaru, risiko terkena karsinoma serviks adalah dua kali lebih besar pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dalam waktu lebih dari 5 tahun. 7. Multiparitas dan jarak kehamilan terlalu dekat Wanita dengan multiparitas berisiko mengalami karsinoma serviks. Belum ditemukan penjelasan yang sebenarnya terhadap hal ini. Salah satu teori yang digunakan adalah wanita multiparitas merupakan wanita yang aktif berhubungan seks sehingga meningkatkan risiko terinfeksi HPV. 8. Berhubungan seks pertama di usia sangat muda Hal ini berhubungan dengan trauma yang terjadi pada saat hubungan seksual dan ketidakmatangan serviks dalam menerima trauma tersebut. Wanita yang berhubungan seks sebelum usia 17 tahun memiliki risiko 2

27

kali lebih besar untuk menderita karsinoma serviks daripada wanita yang koitus pertamanya pada usia 25 tahun atau lebih. 9. Diethylstilbestrol (DES) Obat ini digunakan sebagai obat pencegah keguguran pada tahun 19401971. Diperkirakan berhubungan dengan kejadian karsinoma serviks. Namun, sudah tidak digunakan lagi. 10. Sosial ekonomi rendah Sosial ekonomi rendah cenderung mengarahkan kepada higien yang buruk dan tidak melakukan Paps smear. 11. Riwayat karsinoma serviks pada keluarga Wanita dengan riwayat keluarga yang menderita karsinoma serviks berpotensi terkena 2-3 kali lipat lebih tinggi daripada yang tidak ada riwayat. Pada kasus ini, usia pertama koitus adalah 16 tahun, sehingga coitus pada usia muda merupakan faktor predisposisi pada kasus ini. Faktor predisposisi lain yang mungkin pada kasus ini adalah sosial ekonomi yang rendah, perokok pasif, serta multiparitas dan kontrasepsi oral.

4.4 Prognosis Data dari National Cancer Data Base pada tahun 2000-2002, 5 year survival rate penderita karsinoma serviks adalah sebagai berikut :3 Stage 5-years Survival Rate 0 93% IA 93% IB 80% IIA 63% IIB 58% IIIA 35% IIIB 32% IVA 16% IVB 15% Five years survival rates pada penderita Ca.Cervix stadium IIB adalah sekitar 58% sehingga prognosis pada pasien ini, untuk quo ad vitam adalah dubia, sedangkan untuk quo ad functionamnya adalah malam, karena setelah tindakan

28

yang telah dilakukan, tidak ada kemungkinan kembalinya fungsi organ seperti semula.

29

BAB V KESIMPULAN
Diagnosis karsinoma serviks stadium IIB sudah tepat pada kasus ini, karena: Hasil anamnesis yaitu keluhan os berupa sering keluar darah dari kemaluan terutama setelah senggama. Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan ginekologis dengan hasil sebagai berikut: Pemeriksaan Luar Abdomen datar, lemas, simetris, massa (-), nyeri tekan (-),tinggi fundus uteri teraba 1/2 pusat simfisis, tanda cairan bebas (-), massa (-) Inspekulo Porsio eksofitik, berdungkul-dungkul, rapuh, mudah berdarah, ukuran 5 x 5 cm, flour (-), fluxus (-), infiltrasi vagina (-). Vaginal toucher Mukosa vagina licin, porsio eksofitik berdungkul-dungkul, rapuh, mudah berdarah, 5 x 5 cm, cavum Douglas tidak menonjol Rectal touche Tonus sfingter ani baik, ampula recti kosong, mukosa licin, massa intralumen (-), AP kanan/kiri lemas, cavum Douglas tidak menonjol, CFS kanan 100%, CFS kiri 70%. Penatalaksanaan penderita pada kasus ini sudah tepat, yaitu berupa pembedahan dan kemoterapi. Faktor predisposisi yang mungkin pada kasus ini adalah usia coitus pertama yang masih sangat muda, sosial ekonomi yang rendah, perokok pasif, multiparitas dan penggunaan kontrasepsi hormonal. Prognosis pada pasien ini adalah untuk quo ad vitam adalah dubia dan quo ad functionam adalah malam.

30

DAFTAR PUSTAKA
1. Gde. Ida Bagus dan Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. jakarta: EGC. 2. AY.Sutedjo,SKM. 2006. Buku saku mengenal penyakit melalui pemeriksaan laboratorium.Yogyakarta: Amara books. 3. Lefever. Joyce and Kee. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik.Edisi 6. Jakarta: EGC. 4. Mardjikoen, Prastowo. 1997. Karsinoma Servisis Uteri. Dalam :

Wiknjosastro, Hanifa. Ilmu Kandungan . Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 5. Murtiastutik, Dwi. 2008. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. Surabaya: Airlangga university press. 6. Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi 2. Jakarta. Yayasan bina pustaka sarwono prawiroharjo. 7. Price, Sylvia A, 2006. Gangguan Sistem Reproduksi Perempuan. Dalam : Patofisiologi, 6th ed volume 2. Jakarta: EGC