Anda di halaman 1dari 2

Tanda Tanya Masa depan Mahasiswa adalah bagian dari kelompok masyarakat yang sering disebut sebagai kaum

intelektual yang memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh kaum lainnya di masyarakat. Sebagai contoh memiliki kepekaan yang tinggi terhadap fenomena yang terjadi di kehidupan berbangsa dan negara, terbuka dalam menyampaikan segala bentuk penyimpangan yang terjadi atau kritis, jujur, berani dan cepat dalam bertindak. Catatan-catatan sejarah telah menunjukan masa masa gemilang yang telah di buat oleh mahasiswa untuk bangsa ini sangatlah mengagumkan dan membanggakan dimulai dari sebelum kemerdekaan dengan lahirnya sumpah pemuda 1928 , peran mahasiswa di luar negeri yang dipimpin oleh Moh. Hatta dan kawan-kawan untuk kemerdekaan Indonesia, gerakan mahasiswa tahun 1960 sampai tahun 1998 untuk melepaskan bangsa ini dari kepemimpinan tirani yang semuanya telah memberikan perubahan yang signifikan bagi bangsa ini. Wajar jika mahasiswa mendapat perhatian dari semua pihak atas berbagai kemampuan dan kelebihan yang dimiliki sehingga tidak salah jika keberadaaan mahasiswa diperhitungkan sebagai anak bangsa yang akan menjadi penerus bagi bangsa yang besar ini. Itulah gambaran betapa besarnya peran mahasiswa terhadap ini tetapi bagaimana dengan kondisi saat ini. Apakah kepekaan dalam diri mahasiswa terhadap berbagai permasalahan bangsa ini masih ada? Apakah sifat kritis dan terbuka yang ada pada diri mahasiswa saat ini masih bisa di andalkan? Bagaimana dengan sifat jujur, berani dan cepat dalam mengambil sikap atau bertindak? Melihat kondisi kehidupan mahasiswa saat ini yang kurang mencerminkan sebagai kaum intelektual dimana mahasiswa banyak terjebak dalam problema problema yang dapat membuat kepercayaan dan harapan masyarakat sirna. Banyak orang yang saat masih berstatus mahasiswa berkoar koar menuntut keadilan. Berkoar koar meminta kesejahteraan. Tapi saat mereka sudah di kursi pemerintahan, DPR misalnya mereka malah melupakan apa yang mereka inginkan dulu. Mereka dibutakan oleh apa yang kita sebut surga dunia. Contoh yang lebih sering kita lihat, banyak mahasiswa yang kini sering terlihat tawuran, narkoba bahkan free sex. Lalu bagaimana dengan kampus kita, ITS tercinta? Sejak awal kita memasukinya kita sudah di berikan pemahaman tentang kesolidan, tapi apakah kita sudah solid? Sering kita lihat bahkan kita rasakan. Ada arogansi antara tiap tiap jurusan. Jurusan dengan grade lebih tinggi biasanya sering memandang rendah jurusan lain. Apa ini yang kita namakan kesolidan di ITS? Solid didalam jurusan, tetapi perang dingin antar tiap jurusan. Kita sejak awal diajarkan untuk tidak apatis? Tapi apakah kebanyakan mahasiswa kita benar benar tidak apatis? Mari kita ambil satu contoh. Di ITS ada begitu banyak beasiswa yang sebenarnya ditujukan kepada mahasiswa tidak mampu. Tapi kenyataan yang kita lihat jauh berbeda. Banyak beasiswa yang tidak tepat sasaran yang hingga hari ini masih terus berlanjut. Mereka yang sebenarnya mampu ikut ikutan mengambil beasiswa itu. Apa ini tidak apatis? Dengan keadaan yang sebenarnya sudah berkecukupan mereka malah mengambil sesuatu yang sebenarnya hak orang lain. Sifat ini sangat bertentangan dengan fungsi mahasiswa sebagai social control. Inilah yang kemudian akan menjadi bibit bibit manusia koruptor dimasa mendatang. Sejak kecil kita di ajari norma norma agama. Bahkan ketika kuliah, di beberapa jurusan di berikan mata kuliah Agama. Tapi apakah kampus kita benar benar sudah mengedapankan norma agama? Memang banyak mahasiswa agamis di kampus kita. Tapi banyak juga kenyataan miris yang kita temukan. Gaya pacaran yang mengesampingkan norma agama banyak bermunculan. Ini lah yang akan membuat fungsi mahasiswa yang selanjutnya yaitu agen of change menjadi salah tujuan. Perubahan yang dilakukan tidak didasari dengan norma norma agama. Sejak awal kita di haruskan menjadi mahasiswa yang beretika, tapi bukankah terkadang apa yang di ajarkan kurang sesuai dengan kenyataan. Senioritas sepertinya masih berlaku di ITS kita tercinta. Mahasiswa baru banyak yang lebih sopan dalam arti takut kepada senior nya ketimbang dosen. Terus terhadap semua yang terjadi ini siapa yang mesti kita salahkan? Mungkin jawabannya adalah sistem pendidikan. Mahasiswa baru yang masuk tiap tahunnya berbeda. Sistem untuk

mendidik mereka tentu saja berbeda. Memaksakan sistem yang lama hanya akan menghasilkan hasil yang kurang matang. Mencari sistem yang pas dan sesuai adalah pilihan yang seharusnya di ambil. Seperti halnya tujuan GERIGI yakni menyatukan satu ITS, tujuan ini hanya akan dicapai dengan sistem yang sesuai. Jika pertanyaan selanjutnya sistem seperti apakah yang sesuai? Pertanyaan ini hanya mampu dijawab oleh pemikrian sekolompok mahasiswa yang benar benar bertujuan selayaknya mahasiswa. Bukan hanya pemikiran seorang mahasiswa saja. Karna ITS tidak membutuhkan arogansi jurusan yang selalu menyatakan jurusan nya lah yang terbaik. Tetapi satu kesatuan ITS yang mampu membuktikan ITS lah yang terbaik.