Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KASUS SGD 1 PENYAKIT JANTUNG KONGENITAL (Untuk memenuhi tugas mata kuliah Cardiovascular System)

Disusun oleh: Kelompok 5 Asri Aqidah Danita Suci Lestari Elga Kristi Ginting Erwinda R. Silaban Evi Noviyani Fuji Lestari Ria Octaviany Syifa Khoerunnisa Yuli Annisa (220110100013) (220110100123) (220110100050) (220110100086) (220110100051) (220110100124) (220110100052) (220110100015) (220110100122)

Devi Puspasari(220110100087) Kamila Aziza Rabiula (220110100088) Rosi Akbar Budiman (220110100014)

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini membahas tentang kelainan jantung kongenital pada bayi dan anak. Dalam penulisan makalah ini, penulis menemui beberapa kendala, tetapi dapat teratasi berkat bantuan berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Cecep Eli Kosasih selaku dosen koordinator mata kuliah

Cardiovascular System.
2. Ibu Aat Sriati selaku dosen tutorial kelompok 5.

3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan belum mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini di waktu yang akan datang. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Amin.

Jatinangor, April 2011

Penulis Penyakit jantung bawaan (PJB) terjadi akibat gangguan perkembangan struktur jantung pada masa awal perkembangan janin. Menurut RS Jantung Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, jumlah penderita penyakit ini di Indonesia sekitar 10 dari 1.000 kelahiran. Belum diketahui pasti kenapa PJB bisa terjadi. Namun diduga akibat polusi, virus, rokok, Rubella, dan obat-obatan. Selain itu, kalau di dalam keluarga ada yang melahirkan anak dengan PJB, maka kemungkinan mempunyai anak dengan PJB akan lebih besar lagi. Anak-anak dengan Sindroma Down juga banyak yang disertai PJB. Kasus SGD Kelainan Jantung Kongenital Adhika, 18 bulan, dirawat di Ruang Perawatan Anak RSHS dengan keadaan sebagai berikut: Saat ini berat badan anak 7500 gram dan panjang badan 72 cm (BB lahir 3300 gram dengan panjang badan 50 cm), tampak anak tidak aktif, ekstremitas dingin, HR = 120X/menit, respirasi 44x/menit dangkal, tampak retraksi interkostal, bentuk dada kiri menonjol (asimetris), terdapat distensi vena jugularis, pada auskultasi terdengar bunyi jantung I normal, dan bunyi jantung II tertutup oleh suara bising kontinyu, pada apeks terdengar murmur mid-diastolik dengan derajat 2/6, terdengar irama Gallop, suara paru rales, pada palpasi dada teraba getaran bising pada parasternal kiri atas, tekanan darah 90/40 mmHg, palpasi abdomen pada kuadran kanan atas teraba hepar 4 cm. Berdasarkan riwayat kesehatan dari ibunya, perkembangan pada bulanbulan pertama normal-normal saja bahkan berat badannya sudah mencapai 4,7 kg tapi sejak sekitar usia 2 bulan tampak saat disusui terengah-engah, menghisap hanya sebentar-sebentar, tampak kelelahan dan berkeringat, juga sering mengalami ISPA. Pada pemeriksaan selanjutnya : pada EKG tampak hipertropi ventrikel kiri dan pembesaran atrium kiri, pada thoraxphoto tampak kardiomegali, corakan vaskuler paru bertambah. Diagnosa medis mengarah pada Patent Ductus Arteriosus dengan dekompensasi jantung kiri dan kanan. Anak mendapat terapi digoxin, furosemid, diet 120 kcal/kg BB dengan rendah atrium, intake cairan disesuaikan dengan diuresis dan saat ini harus memperbaiki kondisinya untuk menjalani operasi jantung.

I. ANATOMI FISIOLOGI JANTUNG Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Ukuran jantung panjangnya kira-kira 12 cm, lebar 8-9 cm serta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah. Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Dua pertiga jantung terletak di sebelah kiri garis midsternal. Jantung dilindungi mediastinum. Jantung dibungkus oleh membran perikardium. Perikardium adalah kantong berdinding ganda yang dapat membesar dan mengecil, membungkus jantung dan pembuluh darah besar. Kantong ini melekat pada diafragma, sternum dan pleura yang membungkus paru-paru. Perikardium terdiri atas tiga lapis. Lapisan luar adalah perikardium fibrosa. Dibawah perikardium fibrosa terdapat perikardium parietalis, suatu membran serosa. Lapisan yang terletak pada permukaan otot jantung dinamakan perikardium viseralis, yang juga disebut epikardium. Diantara membran perikardium parietalis dan viseralis terdapat cairan serosa, yang berfungsi mencegah gesekan pada saat jantung berdenyut. Dinding Jantung terdiri dari tiga lapisan. Epikardium luar tersusun dari lapisan selsel mesotelial yang berada di atas jaringan ikat. Miokardium tengah terdiri dari jaringan otot jantung yang berkontraksi utnuk memompa darah. Kontraksi miokardium menekan darah keluar ruang menuju arteri besar. Endokardium dalam tersusun dari lapisan endotellial yang melapisi pembuluh darah yang memasuki dan meninggalkan jantung (Ethel, 2003: 229). Ada empat ruang, atrium kanan dan kiri atas yang dipisahkan oleh septum intratrial, ventrikel kanan dan kiri bawah dipisahkan oleh septum interventrikular. Dinding atrium relatif tipis. Atrium menerima darah dari vena yang membawa darah kembali ke jantung. Atrium kanan terletak dalam bagian superior kanan jantung, menerima darah dari seluruh jaringan kecuali paru-paru. Atrium kiri di di bagian superior kiri jantung, berukuran lebih kecil dari atrium kanan, tetapi dindingnya lebih tebal. Atrium kiri menampung empat vena pulmonalis yang mengembalikan darah teroksigenasi dari paru-paru.Ventrikel berdinding tebal. Bagian ini mendorong darah ke luar jantung menuju arteri yang

membawa darah meninggalkan jantung. Ventrikel kanan terletak di bagian inferior kanan pada apeks jantung. Darah meninggalkan ventrikel kanan melalui trunkus pulmonar dan mengalir melewati jarak yang pendek ke paru-paru. Ventrikel kiri terletak di bagian inferior kiri pada apeks jantung. Tebal dindingnya 3 kali tebal dinding ventrikel kanan darah meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta dan mengalir ke seluruh bagian tubuh kecuali paru-paru. Katup trikuspid yang terletak antara atrium kanan dan ventrikel kanan. Katup bikuspid yang terletak antara atrium kiri dan ventrikel kiri. katup semilunar aorta dan pulmonary terletak di jalur keluar ventrikular jantung sampai ke aorta ke trunkus pulmonar. Sistem pengaturan jantung, diantaranya: Serabut purkinje adalah serabut otot jantung khusus yang mampu menghantar impuls dengan kecepatan lima kali lipat kecepatan hantaran serabut otot jantung.

Nodus sinoatrial (nodus S-A) adalah suatu masa jaringan otot jantung khusus yang terletak di dinding posterior atrium kanan tepat di bawah pembukaan vena cava superior. Nodus S-A mengatur frekuensi kontraksi irama, sehingga disebut pemacu jantung.

Nodus atrioventrikular (nodus A-V) berfungsi untuk menunda impuls seperatusan detik, sampai ejeksi darah atrium selesai sebelum terjadi kontraksi ventrikular.

Berkas A-V berfungsi membawa impuls di sepanjang septum interventrikular menuju ventrikel (Ethel, 2003: 231-232).\

Siklus jantung mencakup periode dari akhir kontraksi (sistole) dan relaksasi (diastole) jantung sampai akhir sistole dan diastole berikutnya. Kontraksi jantung mengakibatkan perubahan tekanan dan volume darah dalam jantung dan pembuluh utama yang mengatur pembukaan dan penutupan katup jantung serta aliran darah yang melalui ruang-ruang dan masuk ke arteri. Bunyi jantung secara tradisional digambarkan sebagai lup-dup dan dapat didengar melalui stetoskop. Lup mengacu pada saat katup A-V menutup dan dup mengacu pada saat katup semilunar menutup.

Bunyi ketiga atau keempat disebabkan vibrasi yang terjadi pada dinding jantung saat darah mengalir dengan cepat ke dalam ventrikel, dan dapat didengar jika bunyi jantung diperkuat melalui mikrofon. Murmur adalah kelainan bunyi jantung atau bunyi jantung tidak wajar yang berkaitan dengan turbulensi aliran darah. Bunyi ini muncul karena defek pada katup seperti penyempitan (stenosis) yang menghambat aliran darah ke depan, atau katup yang tidak sesuai yang memungkinkan aliran balik darah (Ethel, 2003: 235). Curah jantung adalah volume darah yang dikeluarkan oleh kedua ventrikel per menit. Curah jantung terkadang disebut volume jantung per menit. Volumenya kurang lebih 5 L per menit pada laki-laki berukuran rata-rata dan kurang 20 % pada perempuan. Jantung mempunyai sistem arus elektrik yang merangsang jantung untuk menguncup atau berdenyut. Setiap denyutan bermula dengan rangsangan elektrik yang berasal dari bagian khas di dalam atrium kanan yang dipanggil odus sinoatrial ataupun nodus SA. Nodus SA ini merupakan pencetus atau suis semula jadi jantung. Ia menerima maklumat daripada otak dan pusat-pusat kawalan lain di dalam sistem saraf yang mengarahkannya menyesuaikan kadar denyutan jantung yang optima bergantung kepada keperluan badan manusia. Setelah rangsangan tadi dihasilkan oleh nodus SA ia akan mengalir kepada atrium-atrium yang menyebabkan mereka menguncup dan mengepam darah masuk ke dalam ventrikel di bawah. Ransangan elektrik ini kemudiannya mengalir ke satu kumpulan sel khusus yang dikenali sebagai nodus atrioventrikular atau nodus AV. Dari sini ransangan tadi akan mengalir laju keseluruh bahagian jantung melalui rangkaian His, cabang kiri dan kanan [kesemuanya adalah sistem aliran rangsangan elektrik jantung]. Otot-otot jantung menguncup dan jantung berdenyut akibat daripada ransanganransangan ini. Selepas setiap denyutan, otot-otot jantung menguncup dan jantung berdebyut akibat daripada ransangan-ransangan tadi dan ia berlaku teramat pantas. Jantung kita berdenyut dengan kecepatan yang berbeda-beda, tergantung apa yang sedang dilakukan tubuh. Ketika sedang aktif, otot-otot membutuhkan energi dan oksigen yang lebih banyak. Sebab itu, jantung berdenyut lebih cepat, 120 kali atau lebih setiap menit. Ketika sedang berisitirahat, jantung kembali melambat dan berdenyut 60 sampai 80 kali per menit. Pada saat seseorang ketakutan atau stres, jantung berdenyut lebih cepat dari biasanya. Rata-rata sepanjang hidupnya, jantung manusia berdetak sebanyak 3 milyar kali tanpa berhenti

II. DEFINISI Penyakit jantung konginetal adalah penyakit jantung yang terjadi akibat kelainan dalam perkembangan jantung dan pembuluh darah, sehingga dapat mengganggu dalam fungsi jantung dan sirkulasi darah jantung atau yang dapat mengakibatkan sianosis dan asianosis. Pada kelompok sianosis tidak terjadi percampuran darah yang teroksigenasi dalam sirkulasi sistemik dan pada yang asianosis terjadi percampuran sirkulasi pulmoner dan sistemik. III. KLASIFIKASI a. Sianosis Tetralogi Fallot, adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi empat hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta dan hipertropi ventrikel kanan. b. Asianosis Cacat Sekat Ventrikel (VSD) merupakan kondisi dimana terjadi hubungan sekat (septem) yang memungkinkan darah mengalir antar ventrikel, pada umumnya dari kiri-kanan. Cacat Sekat Atrium (ASD) merupakan akibat kelainan anatomi pada daerah atrium. Terdapat tiga macam yakni cacat venosus dan cacat vena kava superior, cacat fossa ovalis, dan cacat atrium sprimum.

Pulmonari Stenosis (SP) adalah adanya penyempitan atau obstruksi pada muara arteri pulmonalis, dapat berdiri sendiri tetapi lebih sering merupakan bagian dari sindrom lain yaitu tetralogi fallot.

Koarktasio Aorta (CA) adalah suatu defek penyempitan setempat dari katup aorta, bias preduktal,juxta-duktus, atau post-duktus. Patent Ductus Arteriosus (PDA) : suatu kelainan di mana masih terbukanya duktus arteriosus setelah lahir sehingga aliran darah dapat mengalir secara langsung dari aorta ke dalam arteri pulmoner yakni tekanan yang lebih tinggi menuju ke tekanan yang lebih tinggi mengalir ke paru akhirnya menambah bebab jantung. Pada giliran mekanisme kerja jantung berupaya memenuhi kebutuhan tersebut yang akhirnya menyebabkan pelebaran dan hipertensi pada daerah atrium.

IV. ETIOLOGI Belum dapat diketahui secara pasti apa penyebabnya, tapi ada beberapa faktor risiko (predisposisi) yang diduga memiliki pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung kongenital khususnya PDA, yaitu: Faktor prenatal, diantaranya: Ibu menderita penyakit rubela, influenza, chiken fox Ibu alkoholisme dan perokok berat Umur ibu lebih dari 40 tahun Ibu penderita Diabetes Melitus yang memerlukan insulin Ibu yang meminum obat-obatan penenang atau jamu Gizi ibu jelek selama dan sebelum kehamilan Ibu keracunan logam berat karena mengonsumsi seafood yang terkontaminasi merkuri Mekanis; akibat trauma dan cairan ketuban yang kurang Radiasi Bayi prematur Ibu hamil mengalami stres Anak yang lahir sebelumnya menderita PJK Ayah atau ibu penderita PJK Kelainan kromosom, misalnya Sindrom Down Lahir dengan kelainan bawaan yang lain Kelainan perkembangan embrionik (sebab pada usia 5-8 minggu, jantung dan pembuluh darah besar dibentuk) V. MANIFESTASI KLINIS Murmur, karena duktus arteriosus yang masih terbuka sehingga darah mengalir dari aorta ke arteri pulmoner Tachicardia, karena beban kerja jantung yang meningkat Tachypnea

Faktor genetik, meliputi:

Tekanan nadi yang lebar Dyspnea Difficulty breathing Sianosis Fatigue, akibat kompensasi nafas cepat karena beban kerja jantung lebih besar Retraksi dada Hipoksemia Irama Gallop Bising kontinyu Dada asimetris, karena kardiomegali yang dialami oleh jantung Paru rales Distensi vena jugularis ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) Heavy Breathing Turun berat badan

VI. KOMPLIKASI Pasien dengan penyakit jantung congenital teramcam mengalami berbagai komplikasi antara lain: 1. Gagal jantung kongestif Suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh berkurangnya volume pemompaan Etiologi : Kelainan otot jantung Atrosklerosis koroner Hipertensi sistemik atau pulmonal Peradangan atau degeneratif Faktor sistemik : tirotoksikosis, hipokisa, anemia, asidosis dan jantung untuk keperluan relatif tubuh, disertai hilangnya curah jantung dalam mempertahankan aliran balik vena.

ketidakseimbangan elektrolit. Gagal Jantung (Heart Failure) adalah suatu keadaan yang serius,

2. Renjatan kardiogenik, Henti Jantung dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan. Kadang orang salah mengartikan gagal jantung sebagai berhentinya jantung. Sebenarnya istilah gagal jantung menunjukkan berkurangnya kemampuan jantung untuk mempertahankan beban kerjanya. Etiologi : Setiap penyakit yang mempengaruhi jantung dan sirkulasi darah dapat menyebabkan gagal jantung. Beberapa penyakit dapat mengenai otot jantung dan mempengaruhi kemampuannya untuk berkontraksi dan memompa darah. Penyebab paling sering adalah penyakit arteri koroner, yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dan bisa menyebabkan suatu serangan jantung. Kerusakan otot jantung bisa disebabkan oleh: - Miokarditis (infeksi otot jantung karena bakteri, virus atau mikroorganisme lainnya) - Diabetes - Kelenjar tiroid yang terlalu aktif - Kegemukan (obesitas). Penyakit katup jantung bisa menyumbat aliran darah diantara ruangruang jantung atau diantara jantung dan arteri utama. Selain itu, kebocoran katup jantung bisa menyebabkan darah mengalir balik ke tempat asalnya. Keadaan ini akan meningkatkan beban kerja otot jantung, yang pada akhirnya bisa melemahkan kekuatan kontraksi jantung. Penyakit lainnya secara primer menyerang sistem konduksi listrik jantung dan menyebabkan denyut jantung yang lambat, cepat atau tidak teratur, sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif. Jika jantung harus bekerja ekstra keras untuk jangka waktu yang lama, maka otot-ototnya

akan membesar; sama halnya dengan yang terjadi pada otot lengan setelah beberapa bulan melakukan latihan beban. Pada awalnya, pembesaran ini memungkinkan jantung untuk berkontraksi lebih kuat; tetapi akhirnya jantung yang membesar bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan memompa jantung dan terjadilah gagal jantung. Tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa menyebabkan jantung bekerja lebih berat. Jantung juga bekerja lebih berat jika harus mendorong darah melalui jalan keluar yang menyempit (biasanya penyempitan katup aorta). Penyebab yang lain adalah kekakuan pada perikardium (lapisan tipis dan transparan yang menutupi jantung). Kekakuan ini menghalangi pengembangan jantung yang maksimal sehingga pengisian jantung juga menjadi tidak maksimal. Penyebab lain yang lebih jarang adalah penyakit pada bagian tubuh yang lain, yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan oksigen dan zat-zat makanan, sehingga jatnung yang normalpun tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut dan terjadilah gagal jantung. Penyebab gagal jantung bervariasi di seluruh dunia karena penyakit yang terjadipun tidak sama di setiap negara. Misalnya di negara tropis sejenis parasit tertentu bisa bersemayam di otot jantung dan menyebabkan gagal jantung pada usia yang jauh lebih muda. 3. Aritmia Merujuk pada denyut jantung yang terlalu cepat, terlalu lambat, tidak teratur atau terlalu dini. Gangguan irama jantung, baik yang denyutnya menjadi lambat maupun cepat, sebaiknya tidak dianggap sepele. Sebab, aritmia jantung ini bisa meningkatkan risiko stroke atau kematian mendadak. Jantung yang tidak berdenyut normal tentunya tidak mampu memompa darah secara efisien. Jika sampai aliran darah ke otak tidak mencukupi, penderita akan pingsan. Sementara itu, jantung yang berdenyut sangat cepat untuk periode yang lama dapat menjadi lemah dan mengarah pada gagal jantung kongestif. Jenis aritmia tertentu, seperti fibrilasi aritmia, bisa mendorong terjadinya sejumlah kecil bekuan darah dalam serambi jantung. Jika salah

satu atau lebih bekuan darah ini terlepas dan terbawa aliran darah memasuki otak, bisa timbul serangan stroke. 4. Endokarditis bakterialistis Endokarditis bakterialis adalah infeksi yang mengenai lapisan dalam jantung (ondokardium) atau katup jantung. Infeksi ini dapat merusak atau menghancurkan katup jantung. Endokarditis bakterialis timbul jika bakteri dalam aliran darah (bakteriemia) tersangkut pada katup jantung abnormal atau kerusakan jaringan jantung lainnya. Sebenarnya bakteri secara normal berada pada beberapa bagian tubuh, misalnya mulut dan sistem pernapasan bagian atas, saluran cerna dan kemih, dan kulit. Beberapa prosedur pembedahan dan gigi dapat mengakibatkan bakteriemia. Bakteriemia dapat terjadi sesudah banyak prosedur invasif, tetapi hanya beberapa bakteri dapat menyebabkan endokarditis. Endokarditis jarang timbul pada orang yang mempunyai jantung normal. Namun, jika seseorang sudah mempunyai kelainan jantung, maka dia berisiko terkena bakteriemia. Beberapa penyakit jantung tersebut adalah katup jantung buatan, riwayat endokarditis sebelumnya, katung jantung yang rusak akibat penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan atau defek katup jantung, dan kardimiopati hipertrofi. Beberapa penyakit jantung bawaan, termasuk defek septum, ventrikel, defek septum atrium, atau duktus arteriosus persisten, dapat dikoreksi dengan cara pembedahan. Setelah itu, seseorang tidak lagi berisiko menderita endokarditis. 5. Hipertensi Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama). Berdasarkan faktor akibat Hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara: - Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya - Terjadi penebalan dan kekakuan pada dinding arteri akibat usia lanjut. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka

tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. - Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat. Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil. Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. 6. Tromboemboli dan abses otak Tromboemboli adalah kelainan pada masa nifas yaitu masa setelah melahirkan dimana terjadi sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh adanya darah yang membeku. Faktor penyebab tromboplebitis pada tungkai: 1. Perubahan susunan darah 2. Perubahan laju peredaran darah 3. Adanya pembekuan darah Faktor pendukung tromboplebitis pada tungkai: 1. Kurangnya aktivitas pada ibu ketika hamil dan setelah melahirkan 2. Dilakukan pembedahan (operasi saat melahirkan ) 3. Usia lanjut 4. Adanya varises 5. Multi parital (sering melahirkan) 6. Infeksi nifas (infeksi setelah melahirkan )

Tanda dan gejala tromboplebitis pada tungkai: 1. Keadaan umum tetap baik, suhu badan meningkat yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali 2. Nyeri pada kaki ketika berjalan 3. Kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas 4. Kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin 5. Nyeri pada betis (belakang tungkai) yang dapat terjadi secara spontan atau dengan memijit betis dengan menekan telapak kaki kearah belakang tubuh VII. PEMERIKSAAN DASAR, PENUNJANG DAN DIAGNOSTIK Untuk menegakkan diagnosis kelainan jantung diperlukan 5 pemeriksaan dasar sebagai berikut:
1. Anamnesis 2. Pemeriksaan fisik 3. Pemeriksaan elektrokardiografi 4. Pemeriksaan radiologi 5. Pemeriksaan ekokardiografi

Untuk memperjelas hemodinamik dan patologi anatomi kelainan jantung perlu ditambah 2 pemeriksaan: 1. 2. Kateterisasi Angikardiografi

PEMERIKSAAN DASAR
1. Anamnesis

Memberi kepada pemeriksa : Informasi tentang diagnosis Informasi tentang derajat kelainan dan penyakit Informasi tentang etiologi Informasi tentang interaksi kelainan jantung anak dan keluarganya Informasi mengarah ke Diagnosis

Riwayat artritis yang berpindah-pindah pada anak besar, sesak nafas, Demam tidak tinggi berminggu-minggu dengan penyakit struktural Gagal jantung dalam 10 hari pasca lahir hampir selalu obstruksi

berdebar-debar, Demam Rematik Endokarditis infektif jantung kiri Koartasio Aorta, Atresia Aorta Informasi Derajat Kelainan Derajat gangguan pertumbuhan, sianosis, berkurangnya toleransi latihan, kekerapan infeksi saluran nafas berulang, komplikasi neurologis petunjuk beratnya kelainan. Informasi tentang Eiologi Riwayat keluarga : ada kencendrungan familial baik penyakit jantung bawaan maupun didapat. Penyakit pada keluarga : DM, HT, riwayat kehamilan
1. Pemeriksaan Fisik

Merupakan bagian integral pemeriksaan fisik pediatrik Penting pemeriksaan secara sistematis Anak besar seperti orang dewasa Bayi tidur terlebih dahulu baru dilakukan pemerikasaan auskultasi.

Pola Pertumbuhan Anak Setiap pasien perlu diukur TB, BB, Lingkar Kepala, LLA TB mungkin terhambat, BB pasien lebih terhambat. Keadaan umum penting : dismorfia, wajah yang khas, kesan penampakan sakit, pucat, sianosis atau distress Terdapat Kelainan Bawaan Tertentu Beberapa sindrom yang sering disertai penyakit jantung bawaan : Down (Trisomi 21) DSV, DSA Trisomi 17-18 dan 13-15 DSV Turner (XO) Koartasio Aorta Turner lelaki (XO) dan mosaik PS Rubella PDA, PS, stenosis cabang a pulmonalis perifer
2. Pemeriksaan Nadi

Pemeriksaan ini harus dilakukan pada keempat ekstremitas : A. radialis (A. Brachialis pada bayi) Kedua A. Dorsalis pedis (A. Femoralis pada bayi) Frekuensi nadi normal bervariasi Takikardi sinus oleh karena aktivitas fisis, emosi, anemia, gagal jantung
3. Pengukuran Tekanan Darah

Pengukuran ini sangat penting. TD ini diukur dike-4 ekstremitas. Dianjurkan memilih lengan kanan. Manset sesuai dengan lebar 2/3 panjang lengan atas atau tungkai atas. Berbaring terlentang atau duduk reservoir air raksa setinggi jantung.
4. Pemeriksaan Jantung

Inspeksi : asimetri dada Palpasi : perabaan halus dengan ujung jari atau telapak tangan thrill, pulmonary tapping (detak pulmonal) pada PH, anak kurus. Perkusi penting pada orang dewasa , pada anak dan bayi tidak memberikan informasi yang akurat Auskultasi : harus sabar dan cermat Pada neonatus auskultasi berulang-ulang Menggunakan stetoskop sendiri Bunyi Jantung Bunyi jantung berhubungan dengan pembukaan dan penutupan katup jantung. Terdapat 4 bunyi jantung : BJ I, II, III, IV. BJ I penutupan katup mitral dan trikuspid Normal : mitral mendahului trikuspid Karakteristik : bersamaan dengan iktus kordis, bersamaan dengan denyut karotis, terdengar paling keras di apex (pada bayi dan anak kecil BJ I tunggal), frekuensi jantung lambat jarak BJ I dan II, lebih pendek pada jarak BJ II dan I.

BJ I mengeras pada : peningkatan arus pada katup AV, pada stenosis katup AV, pada keadaan interval P-R yang pendek, keadaan peningkatan curah jantung. BJ II akibat penutupan katup aorta dan katup pulmonal Terdapat 3 hal yang harus diidentifikasi pada BJ II : Intensitas Lebar split Variasi split pada respirasi BJ III Bernada rendah, harus didengar dengan sisi sungkup stetoskop. Apabila gagal jantung, BJ III keras sehingga terdengar irama gallop. BJ IV terjadi bersamaan dengan kontraksi atrium Bunyi terjadi sesaat sebelum BJ I Selalu patologis BJ IV bernada rendah, BJ I bernada tinggi Bising jantung Penetapan bising jantung pada bayi dan anak sangat penting. Bising jantung harus dideskripsi : Waktu terdengar bising pada siklus jantung Bentuk (kontour) bising jantung Intensitas bising Pungtum maksimum Penjalarannya Tinggi nada Kualitas Perubahan intensitas pada perubahan posisi Bising sistolik tdd : Derajat bising : Bising terlemah : pemeriksa berpengalaman Bising yang lemah tapi mudah didengar, penalaran minimal Bising cukup keras, tidak disertai getaran bising, penjalaran sedang Bising pansistolik Bising sistolik akhir

Terdengar antara BJ I dan BJ II Bising sistolik dini

Bising keras, disertai penjalaran luas Bising keras dapat didengar meski stetoskop hanya menempel sebagian pada dinding dada Bising yang terdengar meski stetoskop diangkat 1 cm dr dinding dada PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Elektrokardiografi

EKG adalah pencatatan aktifitas jantung atas dasar perbedaan potensial listrik. Berguna untuk menentukan hipertrofi, menentukan terdapat gangguan miokard, membantu diagnosis spesifik disritmia, membantu diagnosis perikarditis / efusi pericard. Mengetahui efek pelbagai obat terhadap kardiovaskular Menentukan terdapat gangguan metabolik atau elektrolit Ada 12 hantaran yang perlu dicatat pada EKG : I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1, V2, V3, V4, V5, V6. V3R dan V4R disebut hantaran dada kanan penting untuk menggambarkan keadaan ventrikel kanan.
2. Kertas Elektrokardiografi

Dicatat pada kertas khusus dengan kertas grafik garis horizontal dan vertikal. Setiap kotak kecil ukuran 11 mm, kotak besar 55 mm, kecepatan kertas diatur 25 mm/detik atau 50 mm/detik. Tiap kotak vertikal setinggi 10 mm 1 mV. 1 kotak kecil horizontal waktu0,04 detik apabila kecepatan kertas 25mm/dtk.
3. Radiologi

Berguna untuk menentukan ukuran jantung dan pembesaran jantung, mendeteksi bentuk jantung, status vaskularisasi paru, dan kelainan parenkim paru serta struktur ekstrakardiak lain. Penilaian foto dada mencakup : Pada foto PA batas kiri jantung dari superior ke inferior : A pulmonalis, apendiks atrium kiri, serta ventrikel kiri. Batas kanan jantung vena kava superior di atas dan atrium kanan di bawah.

Ventrikel kanan di depan, atrium kiri terletak di belakang tidak tampak pada foto PA. Ukuran jantung dinyatakan dengan Rasio Jantung Thoraks (RJT).
4. Ekokardiografi

Teknik pemeriksaan USG untuk jantung serta pembuluh darah besar. Ada 2 jenis pemeriksaan : M mode, B mode Teknik Doppler dan Doppler berwarna berguna untuk : Menegakkan diagnosis kelainan struktural jantung, menetapkan derajat kelainan, menyingkirkan kelainan penyerta, mengevaluasi fungsi KV, mengevaluasi pasien pra bedah, mengevaluasi hasil terapi medik, mengevaluasi hasil terapi bedah, menilai keterlibatan KV penyakit lain
5. Ekokardiografi M-Mode

Merupakan tayangan refleksi gelombang USG dari pelbagai kedalaman pada sumbu vertikal dan waktu sebagai sumbu horizontal. Ideal untuk pelbagai dimensi ruang jantung dan pembuluh darah. Transduser pada anak 2,5 5 megahertz. M mode standart potongan setinggi aorta, atrium kiri setinggi rongga ventrikel kiri dan setinggi ujung katup mitral.
6. Kateterisasi Jantung Dan Angiokardiografi

Adalah pemeriksaan jantung invasif dengan memasukkan kateter khusus yang menembus kulit dan jaringan lunak ke dalam pembuluh darah tepi yang besar untuk mencapai ruang jantung dan pembuluh darah besar. Indikasi : Ada atau tidaknya kelainan jantung, jenis kelainan jantung, derajat kelainan, para pengobatan yang tepat untuk kelainan jantung yang ada, hasil pengobatan yang diberikan Kontraindikasi : Ventrikel iritable, hipokalemia, hipertensi yang tidak dapat dikoreksi, penyakit demam berulang, gagal jantung dengan edema paru, gangguan pembekuan, gagal ginjal hebat, alergi kontras
7. Kateterisasi Jantung Kanan

Dapat memeriksa keadaan vena kava superior dan inferior, atrium kanan, ventrikel kanan. V femoralis V iliaka V kava inferior atrium kanan ventrikel kanan A pulmonalis kanan/kiri.
8. Kateterisasi Jantung Kiri

A,femoralis aorta abdominalis aorta torakalis arkus aorta valvula semilunaris aorta ventrikel kiri. ketempat tertentu seperti a.pulmonalis diukur tekanan dan saturasinya. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Foto Thorak : Atrium dan ventrikel kiri membesar secara signifikan (kardiomegali), gambaran vaskuler paru meningkat. 2. Ekhokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan). 3. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran darah dan arahnya. 4. Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.
5. Kateterisasi jantung : hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil

Pada waktu kateter masuk

atrium,ventrikel,a.pulmonalis,cabang2

ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya. (Betz & Sowden, 2002 ;377) VIII. PENATALAKSANAAN FARMAKOLOGI

Diuretik obat ini digunakan untuk membantu mengurangi cairan yang berlebihan. Contohnya Furosemide (Lasix). Antiaritma (antiarrhythmics) obat yang digunakan untuk mencegah rentak jantung yang tidak seragam. Contoh Amiodarone (Cordarone) Penghalang beta (beta-blockers) - obat ini digunakan untuk mengontrol tekanan darah dan mengendurkan otot jantung, juga digunakan untuk

membantu (Tenormin).

mengontrol

kadar

denyutan

jantung.

Contoh

Atenolol

Digoxin obat ini digunakan untuk meningkatkan kerja otot jantung juga digunakan untuk mengontrol kadar jantung yang cepat. Kerja obat ini adalah sebagai berikut :
1. Memperkuat kontraksi otot jantung yang berakibat menaikkan curah

jantung (cardiac output), sifat ini disebut inotropik positif. 2. Mengurangi frekuensi denyut jantung sehingga berakibat menambah fase diastole, dan memperbaiki perfusi koronaria, sifat ini disebut kronotopik negative. 3. Akibat 1 dan 2, desakan venosa diturunkan sehingga kongesti vena berkurang. Indikasi:

Sendiri atau dalam kombinasi dengan obat lain (diuretic, vasodilator) untuk pengobatan gagal jantung kongestif

Digunakan untuk memperlambat frekuensi ventrikel pada takiaritma,

seperti fibriasil atrial dan flutter atrial Digunakan untuk menghentikan takikardia atrial peroksismal Kontra indikasi: Hipersensitivitas Aritmia ventrikel yang tidak terkendali Blok AV Stenosis subaortik hipertrofik idiopatik Perikarditis konstriktif Diketahui intoleran terhadap alcohol (hanya ekslisir) Efek samping: Keletihan, kelemahan, sakit kepala, aritmia, bradikardia, anoreksia, mual, muntah, penglihatan kabur.

Antibekuan

(antikoagulan

blood

thinners)

digunakan

untuk

memanjangkan masa pembekuan darah. Perencat ACE (angiotensin converting enzyme inhibitors) Furosemid

Merupakan diuretik kuat yang bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi ion Na pada jerat Henle, menurtunkan reabsorpsi sodium dan klorida di ascending loop Henle dan tubulus distal ginjal, meningkatkan pengeluaran urin. Indikasi: Edema jantung, paru, ginjal, eklampsia (keadaan yang ditandai dengan kejang- kejang dan penurunan kesadaran pada wanita hamil atau pada masa nifas karena keracunan kehamilan) & edema pada kehamilan, asites/busung (pengumpulan cairan dalam rongga perut), hipertensi, komplikasi kehamilan, hiperkalsemia. Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap furosemid dan sulfonylurea, defisiensi elektrolit, anuria (tidak dibentuknya kemih oleh ginjal) atau azotemia, koma hepatikum, hamil muda, hipokalemia, sedang mendapat terapi Lithium, dan Diabetes mellitus. NONFARMAKO Pembedahan Tindakan bedah adalah ligasi atau deurisi PDA melalui torakotomi kiri. Angka mortalitas < 1 % Non pembedahan Penutupan dengan alat penutup yang dilakukan pada waktu kateterisasi jantung

IX. PATOFISIOLOGI

X. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian BIODATA Nama : An. Adhika Umur : 18 bulan Jenis Kelamin : Laki-laki Diagnosa Medis : Patent Ductus Arteriosus Keluhan Utama : sesak nafas ( anak terengah-engah saat menyusu )

Riwayat Sekarang : P : apa yang dapat memperberat dan memperingan sesak nafas klien? Q : Bagaimana rasanya sesak nafas klien ? apakah seperti ditimpa benda berat? R : saat klien merasa sesak nafas , menyebar bagian mana saja yang terasa nyeri saat sesak tersebut? S : kaji rasa sesak klien dengan member skala untuk mengukur rasa sesak klien T : apakah sesak nafas klien hilang timbul atau terus-terusan? Riwayat Kesehatan Masa Lalu (kaji apakah klien pernah menderita penyakit jantung dan pernafasan? apakah klien lahir secara normal atau premature? kaji berat badan klien setelah lahir dan 2 bulan setelah lahir?) Riwayat Kesehatan Keluarga (Kaji apakah ibu dari klien mengalami infeksi rubella? kaji apakah ada anggota keluarga seperti orang tua serta adik-kakak ada yang menderita penyakit jantung seperti klien ) PEMERIKSAAN FISIK Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas) Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung, nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan (machinery mur-mur), edera tungkai, hepatomegali. Kaji adanya hipoksia kronis : Clubbing finger Kaji adanya hiperemia pada ujung jari Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan Pengkajian psikososial meliputi : usia anak, tugas perkembangan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress. Hasil pemeriksaan Fisik pada An. Adhika : BB : 7500 gram HR :120 x/mnt TD : 90/60 mmHg

Tb : 72 cm Ekstremitas dingin

RR : 44 x/mnt

Bentuk dada kiri menonjol (asimetris) Tampak retraksi interkostal Distensi vena jugularis Auskultasi : 1. Bunyi jantung I normal dan bunyi jantung II tertutup oleh suara bising kontinyu 2. Apeks terdengar murmur mid-diastolik dengan derajat 2/6 3. Irama Gallop 4. Suara paru rales

1. Palpasi Dada : teraba getaran bising pada parasternal kiri atas 2. Palpasi Abdomen : pada kuadran kanan atas teraba hepar 4 cm ANALISA DATA
No 1. DATA DS : saat menyusu anak terengah-engah, sering mengalami ISPA DO : RR = 44x/mnt, pada foto thoraks tampak kardiomegali dan corakan vaskuler paru bertambah, ekstrimitas dingin, bentuk dada kiri menonjol (asimetris) ETIOLOGI Beban jantung kiri meningkat Ventrikel kiri berespon memenuhi kebutuhan Pelebaran dan hipertensi pada atrium kiri Edema paru Perfusi O2 menurun dan hipoksia Kontriksi arteriol Paru Pola nafas tidak efektif

MASALAH KEPERAWATAN Pola nafas tidak efektif

2.

DS : terengah-engah saat disusui, menghisap hanya sebentar-bentar DO : BB : 7500 gram TB : 72 cm

Beban jantung kiri meningkat Kebocoran dari kiri ke kanan Aliran ke paru meningkat ISPA Kelelahan, berkeringat, terengah saat disusui BB turun Ketidakseimbangan nutrisi < dari kebutuhan Beban jantung kiri meningkat Kebocoran jantung dari kiri ke kanan Makin besar cacat dan tekanan meningkat Dapat terjadi kebocoran dari kanan kekiri Aliran paru meningkat ISPA Stimulasi saraf simpatis HR meningkat Curah jatung menurun

Ketidakseimbangan nutrisi < dari kebutuhan

3.

DS : DO : - distensi vena jugularis -S2 bising kontinyu -murmur mid diastolic -hipertropi ventrikel kiri - HR : 120 x/mnt - TD : 90/40 mmHg

Penurunan curah jantung

NURSING CARE PROCESS Diagnosa : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perfusi O2 menurun dan hipoksia ditandai dengan terengah-engah saat menyusu, lelah, berkeringat, retraksi interkostal Tujuan No 1. Mandiri : Berikan posisi yang nyaman kepada 2. klien, posisikan klien semi-fowlers Kolaborasi : Berikan Oksigen tambahan Diagnosa Tujuan No 1. Mandiri : Memaksimalkan sediaan oksigen klien Klien dapat lebih nyaman dalam bernafas : mengefektifkan pola nafas INTERVENSI RASIONAL

: ketidakseimbangan nutrisi < dari kebutuhan berhubungan dengan asupan ASI menurun ditandai dengan berat badan tidak bertambah : nutrisi klien terpenuhi dengan baik berat badan klien meningkat dan ideal INTERVENSI RASIONAL 1. Pertahanan tubuh yang optimal meningkatkan kemampuan bernafas 2. ASI yang diberikan dapat diminum dengan mudah dan tidak mengganggu pernafasan Memenuhi asupan vitamin yang kurang sekunder dari penurunan asupan nutrisi

1. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh 2. Menempatkan klien pada posisi nyaman ketika sedang menyusu 2. Kolaborasi : Pemberian multivitamin Diagnosa

: penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakmampuan ventrikel kiri untuk memompa darah ditandai dengan distensi vena jugularis dan hipertropi ventrikel kiri

Tujuan

: dalam waktu24 jam penurunan curah jantung dapat teratasi dan menunjukan tanda-tanda vital dalam batas yang diterima ( pasien menunjukan perbaikan curah jantung )

XI. PENCEGAHAN

1. Sebelum mengandung seseorang wanita itu perlu memastikan ia telah mendapatkan imunisasi rubella.
2. Jangan merokok 3. Ibu-ibu yang mengalami penyakit kronik seperti diabetes, fenilketonuria

(PKU), sawan dan kecacatan jantung perlu berjumpa doktor sebelum mengandung 4. Ibu alkoholisme 5. Ibu hamil memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang dan kaya serat 6. Bile perlu, konsumsi tablet zat besi 7. Ibu hamil melakukan vaksinasi untuk perlindungan terhadap bakteri XII. LEGAL ETIK KEPERAWATAN 1. Autonomy Perawat memberikan penjelasan yang sebenarnya pada pasien tentang penyakitnya 2. Non-malificience Menghindari perawatan yang dapat membahayakan pasien
3. Beneficience

Melakukan hal yang terbaik bagi klien dan keluarga 4. Inform consent Memberikan informasi tentang penyakit yang diderita klien
5. Veracity

Bersikap jujur terhadap klien dan eluarga tentang penyakit yang di deritanya.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily L. dan Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta: EGC Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar ilmu keperawatan anak. Jakarta : salemba Medika Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. E/17. Jakarta: EGC. Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: EGC Rudolph, Abraham M. dkk. 2006. Buku Ajar Pediatri Volume 3. Jakarta: EGC Suriadi dan Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta:Sagung Seto. Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatri Edisi 4. Jakarta: EGC http://www.klinikindonesia.com/kamus-kedokteran-p.php http://medicastore.com/pjb/penyakit_pjb.htm http://www.infopenyakit.com/ http://www.indiastudychannel.com/ http://www.scribd.com/doc/6240224/Penyakit-Jantung-Kongenital http://artikelindonesia.com/aritmia-gangguan-irama-jantung-kenapa.html http://www.asuhan-keperawatan.co.cc/2009/09/askep-dengan-penyakit-jantungbawaan.html http://somelus.wordpress.com/2009/01/01/pemeriksaan-penunjang-pada-penyakitjantung-anak/ http://erfansyah.blogspot.com/2011/01/kep-anak-askep-pada-anak-dengandemam.html http://www.angelfire.com/biz7/mohdhafni/sains.htm http://didyouknow.org/graphics/body/heart.jpg