Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TUMOR TULANG By : Ana Rizqiatul Fatmawati BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Mereka secara umum dibagi kedalam dua kelompok yaitu tulang dan jaringan lunak. Sarkoma jaringan lunak merupakan tumor yang jarang tumbuh dan berkembang dalam jaringan yang diturunkan dari embrionik mesoderm. Sarcoma ini mungkin terjadi dimana-mana tetapi terbesar atau paling sering terjadi pada daerah paha. Sarcoma tulang tidak begitu umum dan hanya sekitar 0,2% dari semua jenis tumor malignansi di Amerika Serikat. Kira-kira ada sekitar 2-100 kasus terdiagnosa setiap tahunnya. Insiden tersebut lebih tinggi terjadi pada orang kulit putih dan diantaranya adalah pria. Sarcoma jaringan lunak merujuk pada satu kelompok lebih dari 50 jenis kanker yang mana berjumlah hanya sekitar 1% dari semua malignansi pada pria dan sekitar 0,6% pada wanita. Ada sekitar 5000 kasus baru terdiagnosis stiap tahunnya di Amerika Serikat dan kirakira 3000 orang meninggal dari sarcoma ini setiap tahunnya. Tumor ini lebih besar terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa, yang berjumlah sekitar 6% dari semua jenis malignasi sebelum usia 25 tahun. Pasien dengan diameter tumor kurang dari 5 cm mempunyai prognosis yang lebih baik saat didiagnosis pada sarcoma ekstremitas. Pasien tanpa keterlibatan dari nodus limfa dan tumor diploid juga mempunyai prognosis lebih baik. Karena kedua kelompok ini begitu berbeda, maka masing-masing akan didiskusikan secara terpisah. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Konsep Dasar Tulang A. Anatomi Fisiologi Tulang 1. Struktur Tulang Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut Kanal Haversian. Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antara lamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang

mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari tulang.Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism Syndrom (FES). Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen, protein, karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi, oksigen, dan sampah metabolisme antara tulang daengan pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan aliran darah dalam tulang antara 200 400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang. 2. Tulang Panjang Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius, Donna. D, 1995). Tulang panjang terdiriatas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diafisis adalah bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang. Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. Periosteum merupakan penutup tulang sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis. 3. Tulang Humerus Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus, dan ujung bawah. a. Kaput Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur. b. Korpus Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis. c. Ujung Bawah Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial.

B. Fungsi Tulang Fungsi tulang secara umum : 1. Formasi kerangka: tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan bentuk dan ukuran tubuh, tulang-tulang menyokong struktur tubuh yang lain. 2. Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang bergerak dan tidak bergerak tergantung dari kebutuhan fungsional, sendi yang bergerak menghasilkan bermacam-macam pergerakan. 3. Perlengketan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk tempat melekatnya otot, tendon dan ligamentum untuk melaksanakan pekerjaanya. 4. Sebagai pengungkit: untuk bermacam-macam aktivitas selama pergerakan. 5. Menyokong berat badan: memelihara sikap tubuh manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang, dapat menjadi kaku dan menjadi lentur. 6. Proteksi: tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur yang halus seperti otak, medulla spinalis, jantung, paru-paru, alat-alat dalam perut dan panggul. 7. Hemopoiesis: sumsum tulang pembentukan sel-sel darah, terjadinya pembentukan sel-sel darah sebagian besar pada sumsum tulang merah. 8. Fungsi imunologi: limfosit B dam makrofag dibentuk dalam system retikuloendotel sumsum tulang. Limfosit B diubah menjadi sel-sel plasma membentuk antibodi guna keperluan kekebalan kimiawi, sedangkan makrofag merupakan fagositotik. 9. Penyimpanan kalsium: tulang mengandung 97% kalsium yang tedapat dalam tubuh baik dalam bentuk anorganik maupun garam-garam terutama kalsium fosfat. Sebagian besar fosfor disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila dibutuhkan. Fungsi tulang secara khusus : 1. Sinus-sinus paranasalis dapat menimbulkan nada khusus pada suara. 2. Email gigi dikhususkan untuk memotong, menggigit dan menggilas makanan, email merupakan struktur yang terkuat dari tubuh manusia. 3. Tulang-tulang kecil telinga-dalam mengkonduksi gelombang suara untuk fungsi pendengaran 4. Panggul wanita dikhsuskan untuk memudahkan proses kelahiran bayi. C. Perkembangan Dan Osifiksi Tulang Perkembangan tulang berasal dari jenis pekambangan membranosa dan perkembangan kartilago. Proses peletakan jaringan tulang (histogenesis) tulang disebut osfikasi (penulangan). Jika hal ini terjadi dalam bentuk suatu model selaput dinamakan penulangan intra-membranosa dan tulang yang dibentuk dinamakan tulang membrane atau tulang dermal. Karena tulang ini berasal dari suatu membran. Tulang-tulang endokhondral (tulang kartilago) merupakan tulang-tulang yang berkembang oleh penulangan suatu model tulang rawantulang ini dinamakan kartilaginosa (penulangan tidak langsung). Jenis-jenis penulangan intramembranosa merupakan suatu proses yang nendesak sedangkan penulangan intra-kartilaginosa merupakan proses yang berjalan perlahan dan berencana. D. Pusat Osifikasi (Penulangan) Awal pembentukan tulang terjadi pada bagian tengah dari suatu tulang yang disebut pusat penulangan primer selanjutnya terjadi penulangan sekunder. Pusat primer timbul sangat dini pada kehidupan janin hal ini terjadi akibat perangsangan genetic. Pusat penulangan sekunder tampak pada ujung tulang panjang dan tulang besar selalu tampak setelah kelahiran,perangsangan pusat sekunder dilaksanakan oleh tekanan atau tarikan ujung-ujung tulang.

Bila anak mulai bergerak, tekanan pada sendi terjadi pada ujung sendi yang menimbulkan tarikan tendon pada tempat terjadinya tarikan. Hal ini paling banyak pada masa pubertas dan hanya sedikit setelah umur 20 tahun. Pada bagian yang paling ujung dari epifise tersisa selapis tulang rawan hialin yang tidak menjadi tulang keras tetapi selalu tampak seperti rawan. Persendian ini tidak dibungkus oleh selaput apapun, merupakan suat permukaan yang licin guna pembentukan sendi-sendi sinovial. E. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tulang 1. Herediter (genetic) Tinggi badan anak secara umum bergantung pada orang tua, anak-anak dari orang tua yang tinggi biasanya mepunyai badan yang tinggi juga. 2. Faktor nutrisi Suplai bahan makanan yang mengandung kalsium, fosfat, protein, vitamin A, C, D penting untuk generasi pertumbuhan tulang serta untuk memelihara rangka yang sehat. 3. Faktor endokrin a) Hormon paratiroid (PTH) satu sama lain saling berlawanan dalam memelihara kadar kalsium darah. Sekresi PTH terjadi dengan cara: Merangsang osteoklast,reabsorbsi tulang dan melepas kalsium kedalam darah Merangsang absorbs kalsium dan fosfat dari usus Meresorbsi kalsium dari tubulus renalis b) Tirokalsitonin, hormon yang dihasilkan oleh sel-sel parafolikuler dari kelenjar tiroid, cara kerjanya menghambat resorbsi tulang. c) Hormon pertumbuhan yang dihasilkan dari hipofise anterior penting untuk proliferasi secara normal dari rawan epifisealis untuk memelihara tinggi badan yang normal dari seseorang. d) Tiroksin bertanggung jawab untuk pertumbuhan tulang yang layak, remodeling tulang dan kematangan tulang. 4. Faktor persarafan Gangguan suplai persarafan mengakibatkan penipisan tulang seperti terlihat pada kelainan polioemielitis. a) Faktor mekanis.Kekuatan dan arah dari tuberkula tulang ditentukan oleh gaya-gaya mekanis yang bekerja padanya. b) Penyakit mempunyai pengauh yang kurang baik terhadap pertumbuhan tulang.

F. Metabolisme Tulang 1) Metabolisme Kalsium Tubuh manusia dewasa muda mengandung 1100gr kalsium. Sembilan puluh sembilan persen kalsium berada di kerangka tubuh. Kalsium plasma yang pada keadaan normal sekitar 10mg/dl sebagian terikat pada protein dan sebagian dapat berdifusi. Kalsium dalam tulang terdiri dari 2 tipe: cadangan yang cepat dipertukarkan dan cadangan kalsium stabil yang jauh lebih besar yang dipertukakan secara lambat. Terdapat dua system homeostatic yang independen tetapi saling berinteraksi yang mempengaruhi kalsium dalam tulang. Salah satunya adalah system yang mengatur ca2+/hari berpindah masuk dan keluar dari cadangan yang mudah dipertukarkan. Sistem lain adalah system lain yang berperan dalam remodeling tulang melalui resorpsi dan deposisi tulang yang konstan, yang da pada orang dewasa, menentukan 95% pembentukan tulang.namun, pertukaran ca2+ antara plasma dan cadangan stabil kalsium tulang hanyalah sekitar 7,5 mmol/hari.

2) Metabolisme fosfor Fosfor tubuh total adalah 500-800 gr (16,1 - 25,8 mol), 85-90% berada dalam kerangka. Fosfor plasma total adalah sekitar 12 mg/dl dengan dua pertiga dari total ini berada sebagai senyawa organik dan sisanya fosfor inorganik (Pi). Jumlah fosfor yang secara normal masuk ke dalam tulang adalah sekitar 3mg (97 mol)/kg/hari, dengan jumlah yang sama meninggalkan tulang melalui reabsorpsi. Fosfor inorganik dalam plasma di saring glomerulus, dan 85-95% dari fosfor inorganik yang disaring akan direabsopsi.transpor aktif ditubulus proksimal merupakan penyebab utama reabsopsi dan proses transport aktif ini di hambat dengan kuat oleh hormon paratiroid. Fosfor inorganik diserap di duodenum dan usus halus oleh traspor aktif dan difusi pasif. Namun tidak seperti penyerapan ca2+, penyerapan fosfor inorganik secara linier setara dengan masukan makanan.banyak rangsangan yang meningkatkan penyerapan ca2+, termasuk 1,25-dehidroksikolekasiferol, yang juga meningkatkan penyerapan fosfor inorganik. 3) Metabolisme Vitamin D Transfer aktif kalsium dan fosfor dari usus di tingkatkan oleh suatu metabolik vitmin D. Istilah vitamin D digunakan untuk mengacu kepada kelompok senyawa yang berkaitan erat dengan sterol, yang dihasilkan oleh efek sinar ultraviolet pada provitamin tertentu. Vitamin D mengalami metabolisme oleh enzim-enzim yang merupakan anggota super family sitokrom P450 (CYP). Dihati, vitamin D diubah menjadi 25-hidroksikolekasiferol dan akan di ubah di sel-sel tubulus proksimal ginjal menjadi metabolit yang lebih aktif yang disebut kalsitriol. Vitamin D dan turunannya berupa sekosteroid, yaitu juga merupakan steroid yang salah satu cincinnya telah terbuka. Kalsitriol adalah suatu hormon karena dihasilkan didalam tubuh dan mengalir dalam darah untuk menimbulkan efek di sel-sel sasaran. 4) Metabolisme Hormon paratiroid (PTH) Hormon paratiroid disintesis sebagai bagian dari melekul yang lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (preproPTH). Pada saat preproPTH masuk kedalam retikulum endoplasma, maka suatu leader sequence disingkirkan dari terminal amino untuk membetuk polipeptida proPTH yang terdiri dari 90% asam amino. Enam residu asam amino lainnya juga di singkirkan dari terminal amino proPTH di apparatus golgi dan polipeptide PTH terdiri dari 84 asam amino dikemas di dalam granula sekretolik, dan dilepaskan sebagai produk sekretorik utama chief cells. 5) Metabolisme Kalsitonin Sekresi kalsitonin meningkat bila kelenjar tiroid di perfusi dengan larutan yang mengandung konsentrasi ca2+ tinggi. Pengukuran kalsitonin dalam darah dengan radioimunoesai menunjukkan bahwa hormon ini tidak disekresi sampai kadar kalsium plasma mencapai sekitar 9,5 mg/dl dan bahwa diatas kadar kalsium ini, kalsitonin plasma bebanding lurus dengan kalsium plasma.Kadar kalsitonin plasma meningkat pada sindrom zollinger-ellison dan pada anemia pernisiosa, dengan kadar gastrin yang juga meningkat. Kalsitonin manusia memiliki waktu paruh kurang dari 10 menit. 2.2. Konsep Dasar Penyakit Rangka matang terdiri dari tulang,jaringan fibrosa dan rawan. Dari sel-sel ini atau jaringan mesenkim primitif asalnya, bisa berkembang neoplasma rangka primer jinak atau ganas. Neoplasma system muskulus skeletal bisa berbentuk macam-macam seperti tumor osteogenik, konrogenik, fibrogenik, otot atau rabdomiogenik dan sel sumsum (reticulum) bisa juga tumor saraf, vaskuler dan sel lemak. Biasanya merupakan tumor primer atau tumor metaststik dari kanker primer di tempat lain. Tumor tulang metastatik lebih sering dibanding tumor tulang primer. Terdapat dua tipe tumor tulang atau neoplasma yaitu primer dan metastatik. Tumor yang

berasal dari tulang (primer) mencakup tulang tidak berbahaya seperti ostioma, kondroma, tumor sel raksasa, kista dan osteid osteoms. Tumor primer yang jinak tumbuh dengan lambat pada area terbatas dan jarang skali meluas. Tumor primer yang ganas sangat jarang menyerang orang dewasa dan jika menyerang tumor ini akan mencakup osteosarcoma dan multiple myeloma tumor maligna sering bermetastase sampai paru-paru selama tahap awalnya. Osteosarkoma merupakan keganasan tulang yang utama, sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Tumor tulang metastatik awalnya terdapat pada paru-paru, payudara, prostat, ginjal, ovary, atau tiroid. Tumor ini lebih sering terjadi daripada tumor tulang primer dan memiliki prognosis yang buruk. Carsinoma akan lebih sering termetastasikan ke tulang daripada sarcoma. A. Tumor Tulang Primer Merupakan tumor yang berasal dari tulang itu sendiri 1. Tumor Tulang Benigna (Jinak) Biasanya tumbuh lambat dan berbatas tegas, gejalanya sedikit dan tidak menimbulkan kematian. Neoplasma ini meliputi osteoma osteoid, osteoblastoma, osteokondroma, enkondroma, kondroma, tumor sel raksasa, kista tulang dan ganglion. Tumor benigna tulang dan jaringan lunak lebih sering daripada tumor maligna. Beberapa tumor benigna seperti tumor sel raksasa mempunyai potensial mengalami tranformasi maligna. 1.1 Osteoma osteoid Osteoma osteoid dibedakan melalui tampilannya yang bergranular bersemu merah jambu, yang dihasilkan dari proliferasi osteoblas. Tidak seperti tumor lainnya, lesi tunggalnya berdiameter kurang dari 0,4 inci (1 cm). Setiap tulang dapat terkena, tapi femur dan tibia adalah yang paling sering. Bila osteoid osteoma terjadi pada kolumna spinalis dan sakrum, manisfestasi klinis yang muncul menyerupai sindrom diskus lumbalis. Klien mengeluhkan nyeri yang terputus-putus, mungkin disertai oleh peningkatan kadar prostaglandin yang diasosiasikan dengan tumor. Kira-kira 10% dari semua tumor benigna adalah osteoid osteoma. Lesi terjadi pada anak dan dewasa muda dengan predominan pada pria. 1.2 Osteoblastoma Sering disebut juga osteoma osteoid raksasa, osteoblastoma yang menyerang vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar daripada osteoid osteoma dan terletak pada tulang berongga. Tumor ini berwarna kemerahan, dan tampakan yang granular memfasilitasi diagnosis. Lesi yang terjadi kurang dari 1% dan menyerang remaja pria serta dewasa muda pada kedua jenis kelamin. 1.3 Osteokondroma Tumor tulang yang paling umum ditemukan adalah osteokondroma. Meskipun awitannya biasanya dimulai pada masa anak, tumor ini berkembang sampai maturitas skeletal dan mungkin tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor ini mungkin tumbuh tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang manapun. Femur dan tibia adalah yang paling sering terkena. Pada tampilan makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus dengan tunas tulang menembus dari tulang. Seiring perkembangan tudung, tumor menulang dan mungkin menjadi maligna. Kira-kira 10% osteokondroma berkembang menjadi sarkoma. Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna dan ini diterapi melalui cenderung terjadi pada pria. 1.4 Enkondroma Endokondroma merupakan tumor tulang primer paling lazim pada tangan.Timbul pada orang muda (10-40 tahun), paling sering pada falang proksimalis serta biasanya asimtomatik sampai

fraktur timbul melalui lesi. Rontgenogram menunjukkan lesi radiolusen dalam diafisis dan metafisis dengan korteks tipis dan bintik-bintik kalsium. Tumor rawan jinak ini diterapi melalui kuretase dengan penggantian graft tulang. Jarang timbul kekambuhan. 1.5 Kondroma Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat kaitannya dengan presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi pada kartilago hialin matur yang terutama mengenai tangan dan kaki. Iga, sternum, spinal, dan tulang panjang juga mungkin terkena. Kondroma lambat berkembang dan sering mengakibatkan fraktur patologis setelah cedera ringan. Kondroma ditemukan pada semua usia, terjadi pada pria dan wanita serta dapat mengenai semua tulang. 1.6 Tumor Sel Raksasa Asal tumor sel raksasa masih belum bisa ditentukan. Lesi ini agresif dan dapat meluas.Nodulus bervariasi ukurannya,kenyal,biasanya nyeri tidak tekan. Pada pemeriksaan makro lesi tampak kelabu sampai coklat kemerahan dan mungkin melibatkan jaringan lunak sekiarnya. Meskipun diklasifikasikan sebagai tumor benigna, tumor ini dapat bermetastasis ke jaringan paru. Tidak seperti kebanyakan tumor benigna lainnya, tumor ini menyerang wanita yang berumur lebih dari 20 tahun dengan puncak insiden pada klien usia 30-an. Kira-kir 18% dari seluruh tumor benigna adalah tumor ini. 1.7 Kista Tulang Kista tulang merupakan lesi yang invasive dalam tulang. Kista tulang aneurisma sering terlihat pada dewasa muda dan ditandai dengan terabanya massa yang nyeri pada tulang panjang, vertebra atau tulang pipih.kista tulang unikamera terjadi pada anak-anak dan menyababkan rasa ketidaknyamanan ringan dan kemungkinan fraktur patologis pada humerus dan femur atas. Kadang dapat sembuh spontan. 1.8 Ganglion Ganglion merupakan massa jaringan lunak yang paling lazim dalam tangan. Ganglion lebih lazim pada wanita (3:1) dan paling sering timbul pada dewasa muda. Kista jaringan ini mempunyai kapsula halus yang mengandung musin kental dan terfiksasi ke struktur profunda. Tempat paling lazim adalah artikulatio karpri dorsalis, artikulasio karpri volaris, lipatan digitalis palmaris, dan sendi.

2. Tumor Tulang Maligna (Ganas) Tumor muskuloskeletal maligna primer relative jarang dan tumbuh dari sel jaringan ikat dan penyokong (sarcoma) atau dari elemen sumsum tulang (myeloma). Tumor muskuloskeletal primer maligna meliputi osteosarkoma, kondrosarkoma, sarcoma ewing dan fibrosakoma. Sarkoma jaringan lunak meliputi liposarkoma, fibrosarkoma, jaringan lunak dan rabdomiosarkoma. Tumor tulang biasa bermetastase ke tulang. 2.1 Mieloma multiple Mieloma Multipel merupakan tumor tulang primer yang paling sering ditemukan, yang berasal dari sel sumsum tulang yang menghasilkan sel darah. Umumnya terjadi pada orang dewasa. Tumor ini dapat mengenai satu atau lebih tulang sehingga nyeri dapat muncul pada satu tempat atau lebih. Pengobatannya rumit, yaitu meliputi kemoterapi, terapi penyinaran dan pembedahan. 2.2 Osteosarkoma Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa remaja. Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada

umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. Penyebab yang pasti tidak diketahui. Bukti-bukti mendukung bahwa osteosarkoma merupakan penyakit yang diturunkan. 2.3 Kondrosarkoma Kondrosarkoma adalah tumor yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang rawan) ganas yang merusak tulang dan mengkalsifikasinya. Kebanyakan kondrosarkoma tumbuh lambat atau merupakan tumor derajat rendah, yang sering dapat disembuhkan dengan pembedahan. Tetapi, beberapa diantaranya adalah tumor derajat tinggi yang cenderung untuk menyebar. Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi. Kondrosarkoma harus diangkat seluruhnya melalui pembedahan karena tidak bereaksi terhadap kemoterapi maupun terapi penyinaran. Amputasi tungkai atau lengan jarang diperlukan. Jika tumor diangkat seluruhnya, lebih dari 75% penderita bertahan hidup. Kebalikan dari osteosarkoma, klien dengan kondrosarkoma mengalami nyeri tumpul dan pembengkakan dalam waktu yang lama. Mempunyai prognosis yang lebih baik dari pada sarkoma osteogenik. Kondrosarkoma terjadi pada usia paruh baya dan usia yang lebih tua, dengan predominansi ringan pada pria dan terjadi kurang dari 10% dari seluruh tumor tulang maligna. 2.4 Sarkoma Ewing Sarkoma Ewing muncul pada masa pubertas, dimana tulang tumbuh sangat cepat. Jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 10 tahun. Meskipun sarkoma Ewing tidak seumum tumor tulang lainnya, tumor ini yang paling maligna. Seperti tumor lainnya, tumor ini juga menyebabkan nyeri dan pembengkakan. Sebagai tambahan manifestasi klinis; demam derajat rendah tertentu, leukositosis, dan anemia; memberikan karakter pada lesi ini. Pelvis dan ektremitas bawah adalah yang paling sering diserang. Serangan pada pelvis memberikan tanda prognosa yang buruk. Pada tingkat selular tumor ini serupa dengan limfoma tulang. Pada hasil Rontgen karakteristiknya berbintik pola destruktif dan tampakan kulit bawang pada permukaan tulang membedakan neoplasma sarkoma Ewing. Seperti tumor maligna lainnya tumor ini juga tidak mempunyai tudung dan sering meluas ke jaringan lunak. Kematian terjadi karena metastasis ke paru atau tulang lainnya. Lima persen dari seluruh tumor tulang maligna adalah sarkoma Ewing. Meskipun tumor ini dapat dilihat pada klien berbagai usia, biasanya terjadi pada anak dan dewasa muda pada usia 20-an. Pria mempunyai kecenderungan yang lebih besar. 2.5 Fibrosarkoma Kanker ini biasanya berasal dari jaringan lunak (jaringan ikat selain tulang, yaitu ligamen, tendon, lemak dan otot dan muncul dari jaringan fibrosa. Muncul dari jaringa fibrosa, fibrosakoma dapat dibagi menjadi beberapa subtipe. Subtipe yang paling maligna adalah histiositoma fibrosa maligna (MFH). Kebanyakan presentasi klinisnya rendah dan insidious, tanpa manifestasi spesifik. Nyeri lokal, dengan atau tanpa masa teraba, terjadi pada tulang panjang ekstremitas bawah. Seperti kanker tulang lainnya, lesi dapat bermetastasis ke paru. Meskipun MFH menyerang pada semua usia, umumnya terjadi pada pria usia paruh baya. Untungnya lesi ini tidak umum. 2.6 Limfoma Tulang Maligna Limfoma Tulang Maligna (Sarkoma Sel Retikulum) biasanya timbul pada usia 40- 50 tahun. Bisa berasal dari tulang manapun atau berasal dari tempat lain di tubuh kemudian menyebar ke tulang. Biasanya tumor ini menimbulkan nyeri dan pembengkakan, dan tulang yang rusak lebih

mudah patah. Pengobatan terdiri dari kombinasi kemoterapi dan terapi penyinaran, yang sama efektifnya dengan pengangkatan tumor.

B. Tumor Tulang Sekunder Tumor tulang sekunder atau tumor tulang metastatic merupakan tumor dari organ lain yang menyebar ke tulang. Tumor tulang metastatic lebih sering daripda tumor tulang maligna primer. Tumor yang muncul dari jaringan tubuh dimana saja bisa menginvasi tulang dan menyebabkan destruksi tulang local dengan gejala yang mirip dengan yang terjadi pada tumor primer. Tumor yang sering bermetastase ke tulang adalah karsinoma ginjal, prostat, paru-paru, payudara, ovarium dan tiroid. Tumor metastatic paling sering menyerang cranium, vertebra, pelvis, femur dan humerus. C. Klasifikasi Tumor Tulang Menurut TNM T : Tumor induk TX : Tumor tidak dapat dicapai T0 : Tidak ditemukan tumor primer T1 : Tumor terbatas di dalam periosteum T2 : Tumor menembus periosteum T3 : Tumor masuk organ dan struktur sekiatar tulang N : Kelenjar limfe regional N0 : Tidak ditemukan tumor dikelenjar limfe N1 : Tumor dikelenjar limfe regional M : Metastatik jauh M0 : Tidak ditemukan metastatic jauh M1 : Metastarik jauh. D. Tanda Dan Gejala Nyeri dari tumor tulang biasanya mempunyai awitan bertahap. Mungkin timbul berbulanbulan dan digambarkan sebagai nyeri tumpul, dalam, dan perasaan seperti dilakukan pemboran pada tulang. Akan tetapi, awitan nyeri tajam dan kasar mungkin tampak dan dirasakan jika timbul fraktur tulang patologis. Tanda dan gejala lainnya meliputi terang atau pembengkakan pada atau diatas tulang atau persendian. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun, dan malaise. E. Patofisiologi Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa tulang sering terjadi dan lainnya sangat jarang. Beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang segera mengancam jiwa. F. Manifestasi Klinis Pasien dengan tumor tulang datang dengan masalah yang berhubungan dengan tumor tulang yang sangat bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri (ringan dan kadang-kadang sampai konstan dan berat), pembengkakan, gerakan ymag terbatas, linu, kecacatan yang bervariasi dan pada suatu saat terdapat pertumbuhan tulang yang jelas. Bila terjadi kompresi corda spinalis dapat berkembang lambat atau cepat. Defisit neurologic (misalnya nyeri progresif, kelemahan, paratesia, paraplegia, retensio urine) harus diidentifikasi awal dan ditangani dengan laminektomi dekompresi untuk mencegah cedera korda spinalis permanen. Studi radiografikal, scan MRI dan CT pada tulang yang terkena

penyakit akan memberikan informasi diagnostic. Biopsi jarum merupakan prosedur definitive. pemotretan sinar-X pada dada dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan metastasis. G. Pemeriksaan Perawat harus memeriksa pasien untuk mengetahui factor predisposisi (seperti: diabetes, implantasi sendi prostetik, infeksi oral dan sinus), rasa sakit terlokalisir, erythema, pembegkakan dan demam. Jika diduga adanya suatu tumor maka biasanya dilakukan pemeriksaan untuk menentukan lokasi dan penyebaran tumor, seperti: Rontgen tulang kerangka tubuh Rontgen dada CT scan tulang CT scan dada untuk melihat penyebaran ke paru-paru Pemeriksaan dada termasuk kimia serum Biopsi tumor Screning tulang untuk melihat penyabaran tumor.

H. Evaluasi Diagnostik Diagnostik diferensial didasaarkan pada riwayat,pemeriksaan fisik dan penunjang diagnostic seperti CT, pemindahan tulang, mielogram, arteriografi, MRI, biopsy dan essai biokimia darah dan urine. Fosfatase alkali biasanya meningkat pada sarcoma osteogenik. Pada karsinoma metastasis dari prostat akan terjadi peningkatan fosfatase asam serum. Hiperkalemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara, paru dan ginjal. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histolgik. Biopsi harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah penyebaran dan kekambuhan setelah eksisi tumor. Foto sinar-X dilakukan untuk menentukan adanya metastasis paru. Selama periode diagnostic, perawat harus menjelaskan uji diagnostic yang akan dilakukan dan memberikan dukungan psikologik dan emosional kepada pasien dan keluarganaya. Dikaji kemampuan mengatasi masalah dan disarankan untuk memanfaatkan system pendukung. I. Penatalaksanaan Sasaran penatalaksanaan adalah pengangkatan dan penghancuran tumor yang dapat dilakuka dengan eksisi bedah (berkisar dari eksisi local sampai amputasi dan disartikulasi), radiasi bila tumor bersifat radiosensitifdan kemoterapi (preoperative, pascaoperatif dan ajufan untuk mencegah mikrometastasis). Sasaran utama dapat dilakukan dengan eksisi luas dengan teknik grafting restorative. Pengangkatan tumor secara bedah sering memerlukan amputasi ekstremitas yang sakit, dengan tinggi amputasi diatas tumor agar dapat mengontrol lokal lesi primer. Prosedur mempertahankan ekstremitas hanya mengangkat tumor dan jaringan disekitarnya. Bagian yang direseksi diganti dengan prostesa yang telah diukur, artoplasti sendi total atau jaringan tulang dari pasien sendiri (autograft) atau dari donor kadafer (allograft). Karena adanya bahaya metastasis pada tumor maligna, maka kombinasi metastase dimulai sebelum dan dilanjutkan setelah pembedahan. Sebagai usaha mengeradikasi lesi mikrometastase. Beberapa diantaranya adalah : Metroteksat dosis tinggi dengan leukoerin Dexorubicin (Adriamicin) Vincristin Cisplatin Daktinomicin

Cyclophospamide (sitoksan) Bleomicin Ifosfamia Etoposia BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian 1. Beri saran kepada pasien untuk membicarakan masalah dan perjalanan gejala. Perhatikan pemahaman pasien dan keluarga tentang penyakit dan proses penyakit, koping terhadap masalah, dan penatalaksanaan nyeri. 2. Palpasi massa dengan lembut saat melakukan pemeriksaan fisik. Perhatikan ukuran dan pembengkakan jaringan lunak yang berkaitan, nyeri, dan nyeri tekan. 3. Kaji status neuromuskuler dan rentang gerak ekstremitas. 4. Evaluasi mobilitas dan kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. 3.2 Diagnosa Keperawatan Berdasar pada data pengkajian, diagnosis utama meliputi : 1. Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan program terapeutik 2. Nyeri b/d proses patologik dan pembedahan 3. Resiko terhadap cidera: fraktur patologik b/d tumor 4. Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat 5. Gangguan harga diri b/d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. 3.3 Rencana Keperawatan 1. Dx 1 : Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan program terapeutik Tujuan : pasien memahami proses penyakit dan program terapi Kriteria Hasil : Pengetahuan yang tepat mengenai proses penyakit dan menggambarkan program pengobatannya. Intervensi : 1. Kenali tingkat pengetahuan pasien saat ini tentang kanker atau tumor R/ Data akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi 2. Gambarkan proses penyakit tumor sesuai dengan kebutuhan R/ Membantu pasien dalam memahami proses penyakit 3. Berikan informasi mengenai terapi dan atau pilihan pengobatan yang potensial terjadi dan atau keuntungan dari setiap terapi tersebut R/ Membantu pasien dalam membuat keputusan pengobatan 4. Gunakan brosur, gambar, video tape dalam penyuluhan pasien atau keluarga R/ Alat visual memberikan penguatan pada instruksi yang diberikan 5. Anjurkan pasien untuk menyampaikan pilihannya atau mendapatkan pilihan kedua sesuai kebutuhan R/ Meningkatkan advokasi pasien dalam pelayanan medis 6. Instruksikan pasien untuk melaporkan tanda dan gejala pada pemberi pelayanan kesehatan; member nomor telepon yang penting R/ Meningkatkan keamanan dalam upaya penyembuhan

2. Dx 2 : Nyeri b/d proses patologis dan pembedahan Kriteria hasil : nyeri tidak ada atau terkontrol Intervensi : 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif R/ Memberikan informasi untuk membuat perencanaan 2. Kaji adanya nyeri fantom, adanya perasaan terbakar, kram atau kaku dimana anggota tubuh tersebut berada R/ Meningkatkan identifikasi nyeri fantom dan memberikan informasi untuk membuat perencanaan 3. Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri R/ Meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan mobilisasi

3. Dx 3 : Resiko terhadap cidera: fraktur patologik b/d tumor Kriteria Hasil : tidak adanya cidera akibat tumor yang dialami pasien Intervensi : 1. Sangga tulang yang sakit dan tangani dengan lembut selama pemberien asuhan keperawatan R/ Tumor tulang akan melemahkan tulang sampai ke titik dimana aktivitas normal atau perubahan posisi dapat mengakibatkan fraktur 2. Gunakan sanggahan eksternal (mis. Splint) untuk perlindungan tambahan R/ Penyangga luar (mis. bidai) dapat dipakai untuk perlindungan tambahan 3. Ikuti pembatasan penahanan berat badan yang dianjurkan R/ Adanya pembatasan akan membantu klien dalam penahanan berat badan yang tidak mampu ditahan oleh tulang yang sakit 4. Ajarkan bagaimana cara untuk menggunakan alat ambulatory dengan aman dan bagaimana untuk menguatkan ekstremitas yang tidak sakit R/ Penggunaan alat ambulatory dengan aman mampu menguatkan ekstremitas yang sehat 4. Dx 4 : Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat Kriteria Hasil : Ansietas, kekhawatiran, dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat diatasi: mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan Intervensi : 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan satu suasana lingkungan yang dapat diterima R/ Membantu pasien dalam membangun kepercayaan kepada tenaga kesehatan 2. Evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan R/ Membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan 3. Kaji sikap harapan yang realistis R/ Meningkatkan kedamaian diri 4. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai R/ Meningkatkan kemampuan untuk menguasai masalah 5. Nilai kebutuhan atau keinginan pasien terhadap dukungan social R/ Memenuhi kebutuhan pasien 6. Kenalkan pasien pada seseorang atau kelompok yang telah memiliki pengalaman penyakit

yang sama R/ Memberikan informasi dan dukunagn dari orang lain dengan pengalaman yang sama 7. Berikan sumber-sumber spiritual jika diperlukan R/ Untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien 5. Dx 5 : Gangguan harga diri b/d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. Kriteria Hasil : harga diri klien meningkat Intervensi : 1. Dukung keluarga dalam mengupayakan melewati penyesuaian yang harus dilakukan; kenali perubahan dalam citra diri akibat pembedahan dan kemungkinan amputasi R/ Kemandirian versus ketergantungan merupakan isu pada pasien yang menderita keganasan. Gaya hidup akan berubah secara dramatis, paling tidak sementara 2. Berikan kepastian yang realistis tentang masa depan dan perjalanan kembali aktivitas yang berhubungan dengan peran; beri dorongan untuk perawatan mandiri dan sosialisasi R/ Peyakinan yang masuk akal mengenai masa depan dan penyesuaian aktivitas yang berhubungan dengan peran harus dilakukan untuk memandirikan pasien 3. Libatkan pasien dan keluarga sepanjang pengobatan untuk meningkatkan rasa tetap memiliki control dalam kehidupan seseorang R/ Keterlibatan pasien dan keluarganya sepanjang terapi dapat mendorong kepercayaan diri, pengembalian konsep diri, dan perasaan dapat mengontrol hidupnya sendiri

3.4 Evaluasi 1. Klien mampu menerangkan proses penyakit dan program terapi a) Menerangkan proses patologik b) Menentukan program sasaran terapeutik c) Mencari penjelasan informasi 2. Mampu mengontrol nyeri a) Memanfaatkan teknik pengontrolan nyeri termasuk obat yang diberikan b) Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari atau tempat operasi 3. Tidak mengalami patah tulang patologik a) Menghindari stress pada tulang yang lemah b) Mempergunakan alat bantu dengan aman c) Memperkuat ekstremitas yang sehat 4. Memperlihatkan pola penyelesain masalah yang efektif a) Mengemukakan persaannya dengan kata-kata b) Mengidentifikasi ketakutan dan kemampannya c) Membuat keputusan d) Meminta bantuan bila perlu 5. Memperlihatkan konsep diri positif a) Mengidentifikasi tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang mampu ditanggungnya b) Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuannya c) Memperlihatkan penerimaan citra diri d) Memperlihatkan kemandirian dalam aktivitas hidup 6. Memperlihatkan tiadanya komplikasi a) Memperlihatkan penyembuhan luka b) Tidak mengalam kerusakan kulit c) Mempertahankan atau meningkatkan berat badan d) Tidak mengalami infeksi

e) Mengatasi efek samping terapi f) Melaporkan gejala toksisitas obat atau komlikasi pembedahan 7. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan berkelanjutan di rumah a) Mamatuhi regimen yang ditentukan (misalnya; menelan setiap obat yang diresepkan, tetap mejalankan terapi fisik dan okupasi) b) Menyetujui perlunya superfisi kesehatan jangka panjang c) Rajin memenuhi janji perawatan kesehatan tindak lanjut d) Melaporkan bila ada gejala atau komplikasi

BAB 4 PENUTUP

4.1 Kesimpulan Dalam tubuh manusia terdapat rangka matang yang terdiri dari tulang, jaringan fibrosa dan rawan. Dari sel-sel ini atau jaringan mesenkim primitif asalnya, bisa berkembang neoplasma rangka primer jinak atau ganas. Neoplasma juga bisa muncul dari jaringan tubuh mana saja yang nantinya akan menginvasi tulang dan menyebabkan destruksi tulang local, hal ini lah yang dinamakan neoplasma sekunder. Pada pasien dengan neoplasma, tujuan perawatan yang diberikan adalah untuk menyembuhkan tulang yang terserang penyakit dan tentu saja menghilangkan tumor jika tumor tersebut dianggap berbahaya. Terapi mencakup pembedahan, kemoterapi, dan radiasi yang tergantung pada tipe tumor dan penyebarannya. Perawatan tumor tulang metastatic sering bersifat palliative, yaitu hanya meredakan tetapi tidak untuk menyembuhkan. 4.2 Saran Sebagai seorang perawat, sedah menjadi kewajiban untuk memberikan tindakan perawatan dalam asuhan keperawatan yang diarahkan kepada pembentukan tingkat kenyamanan pasien, manajemen rasa sakit dan keamanan. Perawat harus mampu mamahami faktor psikologis dan emosional yang berhubungan dengan diagnosa penyakit, dan perawat juga harus terus mendukung pasien dan keluarga dalam menjalani proses penyakitnya.

DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C dan JoAnn C. Hackley. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Brunner & Suddart. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah; editor Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare; alih bahasa, Agung Waluyo [et. al.]; editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester. Ed. 8-. Jakarta: EGC Gale, Danielle dan Jane Charette. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran; alih bahasa, Brahm U. Pendit [et. al.]; editor edisi bahasa Indonesia, H. M. Djauhari Widjajakusumah. Ed. 20-. Jakarta: EGC http://askep.blogdetik.com/2008/12/07/fraktur/ http://abuddin.blog.co.uk/2009/02/07/kanker-tulang-primer-5523032/

http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html http://irmanthea.blogspot.com/2008/12/blog-post.html Setyono, Joko. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Sjamsuhidajat, R dan Wim Dejong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keparawatan. Edisi 3-. Jakarta: EGC Diposkan oleh anna di 22:29 0 komentar Posting Lebih Baru Beranda Langgan: Entri (Atom)

Pengikut Mengenai Saya Arsip Blog

anna aku adalah aku Lihat profil lengkapku

2010 (1) o April (1) askepku