Anda di halaman 1dari 258

HADIS-HADIS NABAWI SEPUTAR FADHILAH AL-QURAN

AHMAD UBAIDI HASBILLAH, MA


Dosen Pembimbing

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA FAKULTAS USHULUDDIN III TAFSIR HADIS TAHUN AKADEMIK 2011 - 2012

HADIS-HADIS NABAWI SEPUTAR FADHILAH AL-QURAN

Fakultas Ushuluddin Semester III


INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA SELATAN

2011-2012

Salam Redaksi
Kritik dan Saran :
(ushuluddin40th.iptiq@gmail.com). Bagi yang Berminat Memiliki Kajian Takhrij Ini dalam bentuk File (Word, PDF, XPS, JPQ) dapat di dapatkan dengan free dengan ketentuan: Alamat, Melampirkan biodata diri (Nama,

Fakultas, NO. Hp, Email) kemudian di Kirim ke (ushuluddin40th.iptiq@gmail.com). Team kami segera mengirim permintaan Anda ke alamat Email yang Anda Cantumkan. Join With Us in :

(http://www.facebook.com/groups/1862501014
81849/) dan (http://www.facebook.com/groups/1034824764 09962/). Akun Terkait yang Anda dapat Kunjungi : (http://www.scribd.com/zsultra).

Terima Kasih !

UNITY 40TH IPTIQ JAKARTA

Team Redaksi

Prakata
Puji syukur kehadirat Tuhan semesta Alam. Tuhan yang menciptakan,

memelihara dan mengadakan segala sesuatu serta hanya kepada-Nyalah semua akan kembali. Segala bentuk pujian hanyalah untuk-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Berkat segala limpahan Rahmat dan Hidaya-Nya sehingga kita semua masih dapat melakukan beragai macam aktivitas dalam hidup ini. Harapan kita, mudahan-mudahan kehidupan ini senantiasa penuh dengan Ridha dan Kasih Sayang-Nya serta menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang selamat di Dunia dan di Akhirat. Amin !!! Slawat dan Salam semoga senantiasa dihanturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, keluarga, dan para pengikutnya sampai dihari kiamat. Dalam sejarah awal perjuagan Islam di Makkah, Kehidupan manusia penuh dengan corak hidup Jahiliyah. Berkat risalah Nabi Muhammad-lah yang Beliau emban dengan penuh ketabahan dan kegigihan dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan ketika itu. Akhirnya, Ketentraman dan kedamaian hidup dapat dirasakan olah masyarakat Arab ketika itu. Kita semua sebagai ummat Nabi Muhammmad memiliki kewajiban untuk tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman tersebut yaitu dengan senantiansa berpedoman pada Al-Quran Hadis serta menyampaikannya kepada

sesama. Rasulullah SAW bersabda :

.
Hadis merupakan sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al-quran. Karena itu, mempelajari Hadis merupakan salah satu kewajiban bagi ummat Islam. Sebagai realisasi dari hal itu, kami dari UNITY 40th IPTIQ mempersembahkan Kumpulan Hasil Penelitian Makalah Takhrij Hadis Sekilas Fadhilah al-Quran kepada seluruh Insan yang berminat memperdalam pengetahuan tentang hadis khususnya mengenai keotentikan dan keabsahannya serta hukum pengamalannya. Sebagian isi dan penjelasan dalam karya ini merupakan hasil diskusi kami dalam mata kuliah Takhrij Hadis. Karya ini merupakan realisasi atas usaha dan kesungguhan kami dalam memenuhi Satuan Kredit Semester (SKS) sekaligus tugas UAS pada studi tafsir hadis semester tiga. Prakata V

Harapan

kami

untuk

merealisasikan

karya ini agar setiap

muslim

lebih

mengenal alasan serta landasan dalam beramal khususnya mengamalkan hadis-hadis Fadhailul Quran. Karya ini juga merupakan sebuah latihan bagi kami untuk dapat

berkarya di masa depan yang lebih baik lagi demi Agama, Bangsa, Negara dan Dunia. Usaha ini juga tidak lepas dari partisipasi teman-teman ushuluddin serta bimbingan dari para Dosen kami. Segala bimbingan yang sangat berharga dalam dan pengarahan mereka adalah bekal

menyelesaikan karya ini. Khususnya kami sampaikan

kepada Bapak Ahmad Ubaidi Hasbillah, MA selaku pembimbing mata kuliah Takhrij Hadis. Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kami hanturkan dan semoga jasa-jasa mereka bernilai Ibadah di sisi Allah SWT. Uraian karya ini memuat berbagai ragam Hadis Nabawi yang berkaitan dengan Fadhailul Quran. Kajian dan uraiannya dalam proses penelitian sangat bertumpuh dengan metode digital saat ini, yaitu Maktabah Syamilah. Walaupun demikian, kami tidak melupakan analisa manual melalui kitab-kitab klasik sebagai bahan perbandingan.

Adapun syarah dari hadis masing-masing disajikan dengan semaksimal mungkin memadukan berbagai referensi dalam setiap materi pembahasannya. Hadis yang menjadi tumpuan penelitian dalam karya ini berjumlah 24 yang dapat diklasifikasikan berdasarkan isi matannya sebagai berikut: 1) Hadis tentang Keutamaan al-Quran (4 Hadis), 2) Hadis tentang Tilawah dan Tartil (7 Hadis), 3) Hadis tentang Menghafal al-Quran (3 Hadis), 4) Hadis tentang Keutamaan Surah dalam al-Quran (5 hadis), 5) Hadis tentang Surah yang dibaca dalam Shalat (3 Hadis), 6) Hadis tentang Surah yang Memuat Kisah Umat Terdahulu (1 Hadis), dan 7) Hadis Tentang Keutamaan Asmaul Husna (1 Hadis). Semoga karya ini dapat menjadi salah satu media dan sumber pembelajaran

Takhrij hadis. Kami menyadari atas segala keterbatasan dalam menyusun karya ini. Oleh karena itu, hal-hal yang berupa kritikan, saran dan masukan sangat kami nantikan dari segenap pembaca, pelajar, mahasiswa dan khusunya para ahli dalam bidang hadis.

Jakarta, 15 Februari 2012 22 Rabiul Awwal 1433 USHULUDDIN 40TH IPTIQ JAKARTA Prakata VI

Daftar Isi
SALAM REDAKSI.... III TEAM REDAKSI .... IV PRAKATA.... V DAFTAR ISI.... VI ISI

BAB I Fadhilah Orang yang Ahlul Quran akan Menjadi Keluarga Allah [oleh : Ali Muzakkir]
A. PENDAHULUAN... 2 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ). 2 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN... 4 D. SKEMA SANAD.. 7 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT.... 8 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD..... 12 G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS.. 12 H. HUKUM SANAD HADIS. 12 I. FIQHUL HADIS. 12

BAB II Fadhilah Membaca Al-Quran [Oleh : Muhammad Arwani]


A. PENDAHULUAN. 14 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .. 14 C. ANALISIS BIOGRAFI. 15 D. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD 21 E. ANALISIS MATAN... 21 F. DAFTAR PUSTAKA. 22

Daftar Isi

VII

BAB III Fadhilah Membaca Al-Quran [Oleh : Muhammad Muslihan]


A. PENDAHULUAN.. 24 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .. 24 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN. 25 D. SKEMA SANAD. 26 E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERIWAYAT... 27 F. ANALISIS KETERSAMBUNGAN SANAD.. 29 G. ANALISIS KUALITAS PARA PERIWAYAT... 29 H. KANDUNGAN HADITS.. 29 I. PENUTUP... 30

BAB IV Membaca 100 Ayat dalam Semalam Dicatat sebagai Orang yang Tidak Lalai [Oleh : Nafiul Ibad]
A. PENDAHULUAN. 32 B. HASIL PENELUSURAN... 32 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN.... 33 D. SKEMA SANAD. 34 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT 35 F. HASIL ANALISIS SAND 38 G. KONTRIBUSI HADIS 38

BAB V Perintah Melagukan al-Quran [Oleh : Muhammad Saharuddin]


A. PENDAHULUAN.. 41 B. TEKS HADIS.. 41 C. URAIAN SINGKAT SEPUTAR NAGHAM AL-QURAN.. 41 D. PERBANDINGAN SANAD DAN MATAN HADIS 42 E. SKEMA SANAD. 43 F. PENELITIAN (KRITIK) SANAD HADIS. 44

Daftar Isi

VIII

G. HUKUM SANAD HADIS 48 H. KANDUNGAN HADIS 49 I. DAFTAR PUSTAKA. 53

BAB VI Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama [Oleh : Al-Fauzi]


A. PENDAHULUAN.. 55 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .. 55 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN. 56 D. SKEMA SANAD. 57 E. PENELITIAN (KRITIK) SANAD HADIS. 58 F. ANALISIS KETERSAMBUNGAN SANAD HADIS...... 60 G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD.... 61 H. KANDUNGAN HADIS.... 61 I. PENUTUP... 61 J. DAFTAR PUSTAKA. 62

BAB VII Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil [Oleh : Fathu Rozi]
A. PENDAHULUAN.. 64 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .. 64 C. PERBANDINGAN SANAD DAN MATAN 64 D. SKEMA SANAD. 65 E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI 66 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD. 68 G. HUKUM SANAD HADIS 68 H. FIQHUL HADIS 68 I. KANDUNGAN HADIS. 69 J. PENUTUP... 69

Daftar Isi

IX

BAB VIII Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya [Oleh : Muhammad Masrur]
A. PENDAHULUAN.. 71 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .. 71 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN. 73 D. SKEMA SANAD. 74 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT.... 75 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD.... 76 G. KESIMPULAN... 76

BAB IX Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran [Oleh : Muhammad Zaky Fathony]
A. PENDAHULUAN.. 78 B. PENELUSURAN HADIS BESERTA PERBANDINGAN MATANNYA.... 78 C. SKEMA SANAD. 80 D. ANALISIS PARA PERIWAYAT... 81 E. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD YANG DITELITI. 82 F. KANDUNGAN HADIS.... 83 G. PENUTUP... 84 H. DAFTAR PUSTAKA.... 85

BAB X Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik [Oleh : Saofi Ahmadi]


A. PENDAHULUAN. 87 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .. 87 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN..... 88 D. SKEMA SANAD.... 90 E. BIOGRAFI RAWI HADIS YANG DITELITI.. 90 F. HASIL ANALISIS KETERSAMBUNGAN DAN KUALITAS SANAD 93 G. FIQHUL HADIS 93

Daftar Isi

BAB XI Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharapkan Balasan Duniawi [Oleh : Abdus Samik]
A. PENDAHULUAN... 95 B. PERBANDINGAN MATAN.... 96 C. PENJELASAN MATAN... 97 D. SKEMA SANAD.. 97 E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI HADIS... 98 F. RANGKUMAN HASIL ANALISIS SANAD.. 100 G. KUALITAS HADIS. 101 H. PENUTUP..... 101 I. DAFTAR PUSTAKA...... 102

BAB XII Keutamaan Para penghafal al-Quran [Oleh : Ahmad Zulki]


A. PENDAHULUAN.... 104 B. KONTEKS HADIS.. 104 C. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) .... 105 D. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN... 105 E. SKEMA SANAD... 106 F. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI.. 107 G. KANDUNGAN HADIS.. 111 H. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD.. 113 I. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD.. 113 J. HUKUM SANAD HADIS.. 113

BAB XIII Perintah Memelihara Hafalan al-Quran [Oleh : Sodik]


A. PENDAHULUAN... 115 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ). 115 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN... 116 D. SKEMA SANAD...... 116

Daftar Isi

XI

E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERIWAYAT 116 F. KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD YANG DITELITI. 119 G. KANDUNGAN HADIS. 119 H. PENUTUP 119 I. DAFTAR PUSTAKA. 120

BAB XIV Dosa Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran Kemudian Melupakannya [Oleh : Muhammad Sani Abdul Malik]
A. PENDAHULUAN... 122 a) Latar belakang. 122 b) Permasalahan.. 123 c) Metode dan Sistematika.. 123 B. PENELUSURAN... 124 a) Hasil Penelusuran Manual. 124 b) Hasil Penelusuran Digital.. 125 c) Perbandingan Matan. 126 C. PENELITIAN DAN TRANSMISI HADIS. 127 a) Perbandingan dan skema Transmisi Periwayatan. 127 b) Biografi Perawi... 128 c) Penilaian Ulama Terhadap Perawi. 130 d) Ringkasan.. 133 D. PENUTUP.... 134 Pendapat Para Ahli. 134 Kesimpulan..... 134 E. DAFTAR PUSTAKA. 136

BAB XV Fadhilah al-Kahf sebagai Perlindungan dari Fitnah Dajjal [Oleh : Andi Purnomo]
A. PENDAHULUAN.. 138 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ).... 138 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN.. 140 D. SKEMA SANAD. 143 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT 144 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD. 149

Daftar Isi

XII

G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS. 149 H. KANDUNGAN HADIS. 149

BAB XVI Fadhilah Membaca Yasin seperti Membaca al-Quran 10 Kali [Oleh : Hasrul]
A. MATAN HADIS..... 151 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)... 151 a) Metode al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy.... 151 b) Metode Digital (Maktabah as-Syamilah)..... 152 c) Kesimpulan Hasil Penelusuran (Takhrij)... 153 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN..... 155 D. SKEMA SANAD.... 156 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT....... 157 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD.... 162 G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD.... 163 H. HUKUM SANAD HADIS.... 163 I. FIQHUL HADIS.... 164 J. HUKUM MENGAMALKAN HADIS DHAIF.. 165 K. DAFTAR PUSTAKA.... 166

BAB XVII Fadhilah Surah al-Mulk sebagai Pemberi Syafaat [Oleh : Idham Cholid]
A. PENDAHULUAN... 168 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ). 168 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN.. 170 D. SKEMA SANAD.. 171 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT. 172 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD. 175 G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS. 175 H. HUKUM SANAD HADIS. 175

Daftar Isi

XIII

BAB XVIII Fadhilah Surah al-Zalzalah, Surah al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas [Oleh : Muhammad Muslim]
A. PENDAHULUAN.. 177 B. TEKS HADISB... 177 C. HASIL PENELUSURAN 177 D. SKEMA SANAD. 178 E. PENELITIAN (KRITIK SANAD).... 178 a) Data biografi Para Rawi..... 178 b) Analisis Ketersambungan Sanad. 180 F. ANALISIS KUALITAS RAWI HADIS 181 G. HUKUM SANAD MATAN HADIS... 182 H. KANDUNGAN HADIS. 182 I. DAFTAR PUSTAKA. 183

BAB XIX Fadhilah Surah Muawwizatain sebagai Rukyah [Oleh : Anas Mujahidin]
A. PENDAHULUAN... 185 B. HASIL PENELUSURAN HADIS.. 185 Metode Manual.. 185 Metode Digital 186 C. SKEMA SANAD.. 187 D. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN.. 188 E. ANALISIS BIOGRAFI PERAWI.. 188 F. ANALISIS KETERANGAN SANAD DAN KUALITAS PARA PERAWI 190 G. KANDUNGAN HADIS. 190 H. KUALITAS HADIS 191 I. DAFTAR PUSTAKA.. 192

Daftar Isi

XIV

BAB XX Fadhilah Ayat Kursi Ketika dibaca dalam Shalat [Oleh : Abdul Hakim]
A. PENDAHULUAN... 194 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ) 194 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN.. 195 D. SKEMA SANAD. 196 E. BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT... 196 F. KANDUNGAN HADIS..... 198 G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD.... 199 H. HUKUM SANAD HADIS.... 199

BAB XXI Bacaan Surah dalam Shalat Fajar pada Hari Jumat [Oleh : Alit Nurhidayat]
A. PENDAHULUAN.. 201 B. PERBANDINGAN SANAD DAN MATAN HADIS 201 C. SKEMA SANAD. 203 D. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI 204 E. RINGKASAN ANALISIS PARA PERAWI DAN KESIMPULAN 205 F. KANDUNGAN HADIS 206 G. PENUTUP... 207 H. DAFTAR PUSTAKA 208

BAB XXII Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur [Oleh : Badri]


A. MUQADDIMAH 210 B. TEKS HADIS YANG DITAKHRIJ. 210 C. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)... 210 D. PERBANDINGAN MATAN HADIS... 211 E. SKEMA SANAD 212 F. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERAWI 213 G. ANALISIS KETERSAMBUNGAN SANAD. 215 H. BAGAIMANA BERHUKUM DENGAN HADIS INI. 215

Daftar Isi

XV

I.

PENUTUP.. 216

J. SUMBER RUJUKAN..... 217

BAB XXIII Kisah-Kisah dalam Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Prihatin pada Umatnya [Oleh : Akbar Ramdan D]
A. PENDAHULUAN.. 219 B. PEMBAHASAN.. 220 a) Matan Hadis.. 220 b) Perbandingan Matan..... 220 c) Analisis Biografi Perawi...... 221 d) Kandungan Matan.. 222 C. KESIMPULAN... 224

BAB XXIV Asmaul Husna dan Keutamannya [Oleh : Safidin]


A. PENDAHULUAN 226 B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ). 226 C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN... 227 D. SKEMA SANAD.. 228 E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT..... 229 F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD.. 232 G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS.. 232 H. HUKUM SANAD HADIS. 233 INDEKS RAWI.... 235 PENULIS ISI BUKU..... 239 TENTANG EDITOR.. 240

Daftar Isi

XVI

HADIS PERTAMA

Fadhilah Orang yang Ahlul Quran akan Menjadi Keluarga Allah OLEH
ALI MUZAKKIR
(NPM: 10.31.0256)

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhanturkan kepada Zat yang Mahakuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para Rasul-Rasulnya sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk

kehidupan dunia dan akhirat. Slawat dan salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat. Amin. Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendirinya atas selesai karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis melalui metode Mujam (al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy)1 Syamilah). Adapun dan metode Digital (Maktabah aspendekatan

dalam penelusuran kedua metode ini melalui

mujam.2 Hadis yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:

, : :
Hadis diatas mengabarkan tentang fadhilah bagi orang-orang yang ahlul Quran. Untuk lebih lanjut mengenai keotentikan atau keabsahannya, penulisan semaksimal

mungkin menyajikan penjelasannya dibawah ini.


B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Penelusuran matan hadis diatas melalui

al-Mujam al-Mufahras

li Alfazh

al-Hadits al-Nabawiy dan maktabah syamilah dapat disimpulakan dengan beberapa bentuk matan yang berbeda namun maknanya tetap sama. Bentuk-bentuk matan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

.. , : : .. , : : .. .. .. : :

Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur. 2 Pendekatan mujam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak populer di masyarakat.

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

Selanjutnya dalam penelusuran maktabah syamilah, kami menemukan juga pada .beberapa sumber lain serta mencakup juga dari sumber yang telah disebutkan diatas Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis :dapat dilihat sebagai berikut ) ( 1) Sunan Ibnu Majah

: : , : : 3 . ( )
) ( 2) Sunan ad-Darimi

, 4 : , : : . ( )

) ( 3) Musnad Ahmad bin Hanbal

: : 5 : . ( )
)( 4) Mustadrak

: : : :
6

: . ( )

) ( 5) Sunan an-Nasai

: . ( )

3 4

78 Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Beirut : Darr al-Fikr, _______), Juz 1, Hal 525 .Imam Darimi, Sunan ad-Draimi (Kairo : Dar al-Kitab al-Arabi, 1407), Juz 2, Cet. I, Hal 5 721 .Imam Ahmad, Musnad Ahmad (Kairo : Muassah Qurtubah, _______), Juz 3, Hal 151 .Imam Hakim, Mustadrak (Beirut : Darr Kitab al-Ilmiah, 1411 H / 1990 M), Jus 5, Cet. I, Hal 71 ,5 Imam an-Nasai, Sunan an-Nasai (Beirut : Darr Kitab al-Ilmiah, 1411 H / 1991 M), Jus

6 7

| )Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

6) Musnad Bazzar ()

: : : : 8 ) . (
7) Marifah al-Sahabah ()

: : : :
9

) : . (

C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

1) Sunan Ibnu Majah ()

, : :
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga dari manusia, mereka bertanya, siapa mereka itu, wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, Ahlul Quran, mereka adalah keluarga (kekasih) Allah yang terpilih. 2) Sunan ad-Darimi ()

, : :
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga dari manusia, mereka bertanya, siapa mereka itu, wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, Ahlul Quran. 3) Musnad Ahmad bin Hanbal ()


Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga dari manusia, dan sesungguhnya Ahlul Quran ialah keluarga (kekasih) Allah yang terpilih.
8 9

Imam Bazzar, Musnad Bazzar (Madinah : Maktabah al-Ulum wal al-Hakim, 2009), Jus 13, Cet. I, Hal. 520 Asbihani, Marifah al-Sahabah (Riyadh : Darr al-Watan, 1419 H), Jus 18, Hal. 338

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

4) Mustadrak ()

: :
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga dari manusia, mereka bertanya, siapa mereka itu, wahai Rasulullah ? Beliau menjawab, Ahlul Quran mereka itulah keluarga (kekasih) Allah yang terpilih. 5) Sunan-Nasai ()

.
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga pada sisinya, para Sahabat bertanya siapa mereka, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Ahlul Quran mereka itulah keluarga (kekasih) Allah yang terpilih. 6) Musnad Bazzar ()

. : :
Artinya:

Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga dari manusia, para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, siapa mereka itu? Beliau menjawab : Ahlul Quran mereka itulah keluarga (kekasih) Allah yang terpilih. 7) Marifah al-Sahabah ()

. : :
Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa keluarga dari manusia, para sahabat berkata, siapa mereka itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab : Ahlul Quran

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

Berdasarkan berbagai redaksi matan dari hadis diatas, maka dapat disimpulkan bahwa redaksi hadis tersebut tidak ada perbedaan yang signifikan. Perbedaanperbedaannya masih dimaklumi dan tetap menunjukan makna yang sama antara satu redaksi dengan redaksi yang lainnya. Secara umum, hadis diatas menyampaikan pelajaran kepada kita bahwa diantara keluarga Allah dari manusia ialah Ahlul Quran. Imam Ibnu (01.) Majah dalam Kitab Sunannya memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ( ) ialah orang yang menghafal Al-Quran dan mengamalkannya

10

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Beirut : Darr al-Fikr, _______), Juz 1, Hal 87

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah


D. SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran diatas, maka dapat dibuat skema sanad sebagai :berikut

Mukharrij : Hadis )1 )2 )3 )4 )5 )6 )7 Ad-Darimi Ahmad Ibnu Majah Hakim Bazzar Nasai Asbihani

| )Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah


E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Redaksi Hadis dari ketujuh sumber diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam Nasa`i, dengan komposisi sanad; Anas bin Malik, Budail bin Maysarah, Abdurrahman bin Budail, Abdurrahman bin Mahdi, Ubaidillah bin Sa`id: a) Anas bin Malik (w. 93 H) Anas bin Malik merupakan urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits. Ketika ia berusia 10 tahun, ibunya Ummu sulaiman membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk berkhidmat. Ayahnya bernama Malik bin an-Nadlr. Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya Dia adalah anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah. Sedangkan Komentar Abu Hurairah tentangnya Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik). Ibn Sirin berkata Dia (Anas) paling bagus Shalatnya baik di rumah maupun ketika sedang dalam perjalanan. Pada hari hari terakhir masa kehidupannya, Anas pindah ke Basrah. Itulah sebabnya para Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di Basrah. Pada wafatnya Muwarriq berkata Telah hilang separuh ilmu. Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang pernah mendenganr dari Rasululah Shallallahu alaihi wassalam. Anas bin Malik wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui seratus tahun. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya. Seluruh sahabat adalah adil. b) Budail bin Maysarah (w 125/130 H) Nama lengkapnya adalah Budail bin Maysarah Al U`qaili Al Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-5 ( ) yang wafat pada tahun 125 H / 130 H. Berikut pendapat para ulama terhadap Budail bin Maysarah Al U`qaili Al Bashary:
No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Zahabi Yahya bin Main Abu Hatim Jarh Tadil Keterangan -

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 11 No 1 2 3 Guru ) ( ) ( ) ( Murid ) ( ) (

c) Abdurrahman bin Budail (w. 150 H) Abdurrahman bin Budail bin Maysarah Al U`qaili Al Bashary. Beliau tergolong dalam tabaqah ke-8( Abdurrahman bin Budail beliau: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil : Keterangan .) Berikut pendapat para ulama terhadap

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 12 No 1 2 3 Guru ) ( ) ( ) ( Murid

d) Abdurrahman bin Mahdi Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Mahdi bin Hasan bin Abdurrahman Al A`bary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-9 ( ) yang lahir pada tahun 135 H dan wafat Qutaibah: No Kritikus Jarh Tadil : : : Keterangan pada tahun 198 di basrah. Berikut pendapat para ulama terhadap

Ibnu Hajar

Al-Zahabi

11 12

Rawah at-Tahzibain Rawah at-Tahzibain

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 13 No 1 2 3 Guru ) ( ) ( ) ( Murid

e) U`baidillah bin Sa`id Nama lengkapnya adalah U`baydillah bin Sa`id bin Yahya bin Burda Yasykuri. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-10 ( ) dan wafat pada tahun 241 H. pendapat para ulama terhadap Ubaidillah: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

Guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 14 No 1 2 3 f) Imam an-Nasai Nama lengkap Imam al-Nasai adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa pada tahun 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa (al-Nasai), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber dunia. Beliau berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadis, yakni al-Mujtaba yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan al-Nasai. Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh dikalangan para Imam Hadis. Semua imam hadis, terutama enam imam hadis, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulamaulama hadis, termasuk Imam al-Nasai.
13 14

Guru ) (

Murid

Rawah at-Tahzibain Rawah at-Tahzibain

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

10

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah

Seperti para pendahulunya: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasai juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para guru beliau yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Said, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), al-Tirmidzi (penyusun al-Jami/Sunan al-Tirmidzi). Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan ceramahceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mujam), Abu Jafar al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan yang disebut terakhir, disamping dalam sebagai Abu murid Bakrbin juga serta Imam Abu Isa

Ahmad al-Sunni. Nama

tercatat sebagai penyambung lidah Imam al-Nasai Sunan al-Nasai.

meriwayatkan kitab

Imam al-Nasai merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadis. Beliau juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadis-hadis yang diterimanya. Abu Ali al-Naisapuri pernah mengatakan, Orang yang meriwayatkan hadis kepada kami adalah seorang imam hadis yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abd al Rahman al-Nasai. Lebih jauh lagi Imam al-Naisapuri mengatakan, Syarat-syarat yang yang digunakan Muslim bin al-Hajjaj. Ini ditetapkan al-Nasai dalam menilai para periwayat hadis lebih ketat dan keras ketimbang syarat-syarat merupakan komentar subyektif Imam al-Naisapuri terhadap pribadi al-Nasai yang berbeda dengan komentar ulama pada umumnya. Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-Uqbi al-Mishri. Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasai meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasai meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina. Inna lillah wa Inna Ilai Rajiun. Semoga jerih payahnya dalam mengemban wasiat Rasullullah guna menyebarluaskan hadis mendapatkan balasan yang setimpal di sisi Allah. Amiiin.

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

11

Hadis tentang Orang yang Ahlul Quran adalah Ahlullah


F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Tinjauan Penulis terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa semua sanad sanadnya memenuhi kriteria seorang rawi. Kemudian juga, melalui pendekatan tahun maupun pendekatan guru-murid, secara tersirat Nampak pada uraian diatas. Hal ini menunjukkan koetentikan dan keabsahan dari sanad hadis ini.
G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Berdasarkan data diatas, tinjauan kuantitas sanad dari hadis diatas menunjukkan hadis Ahad. Adapun dari segi kualitas sanadnya, sama sekali tidak ada rawi yang mengalami kecacatan. Sebagaimana yang kami teliti melalui jalur an-Nasai, semua

rawi-rawinya adalah tsiqah sehingga hadisnya dapat diterima dan diamalkan.


H. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad diatas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis ini adalah Shahih. Oleh karena itu, hadis ini dapat diterima dan diamalkan.
I. FIQHUL HADIS

Hadis diatas mengabarkan kepada manusia bahwa diantara orang-orang yang akan menjadi keluarga Allah ialah mereka yang Ahlul Quran. Mereka termasuk

kekasih-kekasih Allah yang terpilih. Imam Ibnu

Majah dalam Kitab Sunannya

memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ( ) ialah orang yang menghafal Al-Quran dan mengamalkannya (51.) Keterangan Ibnu Majah tersebut, menunjukkan jalan untuk menjadi keluarga Allah, yaitu dengan menghafal al-Quran dan mengamalkannya. Hal ini sebenarnya memiliki makna mendalam jika kita menjabarkannya, apalagi jika dikaitkan dengan masa sekarang ini. Satu pelajaran yang tersirat di dalamnya agar jangan menjual ayat-ayat Allah dengan murah (kenikmatan duniawi). Pada zaman sekarang ini, banyak yang menghafal al-Quran tetapi tidak mengamalkannya dengan semestinya karena tergiur dengan godaan duniawi. Lebih dari itu, hadis diatas menyampaikan kepada umat manusia bahwa akhirat itu lebih penting daripada kehidupan duniawi. Kita berharap agar Allah senantiasa mencurahkan

rahmat-Nya kepada kita semua sehingga termasuk hamba-hamba Allah yang akan menjadi keluarga-Nya kelak di akhirat. Amin !!! Wallahu Alam bi as-Shawab !!!
15

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Beirut : Darr al-Fikr, _______), Juz 1, Hal 87

Oleh : Ali Muzakkir (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

12

HADIS KEDUA

Fadhilah Membaca Al-Quran


OLEH
MUH. ARWANI
(NPM: )

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhanturkan kepada Zat yang Maha Kuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para Rasul-Rasulnya sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk

kehidupan dunia dan akhirat. Shalawat dan salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat. Amin. Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendirinya atas selesai karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis melalui metode Mausuatu athrafil al-Hadist an-Nabawi, dan metode digital Maktabah as-Syamilah. Adapun penelusuran kedua metode ini melalui dalam

pendekatan Athraful al- Hadist, Hadis yang ini dapat dilihat dengan matan sebagai

menjadi subjek pembahasan dalam makalah berikut:

.
Artinya: Orang yang membaca Al-Quran dan ia pandai (hafal) dalam membacanya, ia akan bersama para malaikat yang menjadi utusan, yang mulia lagi suci. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran tetapi ia terbata-bata kesulitan, serta kesukaran dalam membacanya, ia akan memperoleh dua pahala.
B. HASIL PENELUSURAN HADIS

Penelusuran matan hadis diatas melalui mausuatu athrafil al-hadist an-nabawi dan maktabah syamilah dapat disimpulakan dengan beberapa bentuk matan yang ikhtilaf. Bentuk Matan yang kami sebutkan diatas adalah matan yang bersifat umum. Secara lebih rinci, beberapa bentuk ikhtilaf matan tersebut dapat dilihat dibawah ini yang bersumber dari dua kitab hadis:

) : 1 . .

. Sunan Abi Daud, No: 1454.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

14

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

) : :
2

C. ANALISIS BIOGRAFI

Dari ketujuh hadis tersebut diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam Abu-Daud, dengan komposisi sanad: Aisya, Saed bin Hisyam, Zararah bin Auf, Qatadha, Hammam dan Hisyam, Muslim bin Ibrahim, Sunan Abu-Daud. a. Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu 'anha (wafat 57 H) Aisyah adalah istri Nabi Shallalahu alaihi Wassalam putri Abu Bakar ash-Shiddiq teman dan orang yang paling dikasihi Nabi, Aisyah masuk Islam ketika masih kecil sesudah 18 orang yang lain. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam memperistrinya pada tahun 2 H. Beliau mempelajari bahasa, Syair, ilmu kedokteran, nasab nasab dan hari hari Arab . Berkata Az-Zuhri Andaikata ilmu yang dikuasai Aisyah dibandingkan dengan yang dimiliki semua istri Nabi Shallallahu alaihi Wassalam dan ilmu seluruh wanita niscaya ilmu Aisyah yang lebih utama. Urwah mengatakan aku tidak pernah melihat seorangpun yang mengerti ilmu kedokteran, syair dan fiqh melebihi Aisyah. Aisyah meriwayatkan 2.210 hadits, diantara keistimewaannya beliau sendiri kadang kadang mengeluarkan beberapa masalah dari sumbernya, berijtihad secara khusus, lalu mencocokannya dengan pendapat pada sahabat yang alim. Berkenaan dengan keahlian Aisyah, Az-Zarkasyi mengarang sebuah kitab khusus berjudul Al-Ijabah li Iradi mastadrakathu Aisyah ala ash Shahabah. Aisyah meriwayatkan hadits dari ayahnya Abu Bakar, dari Umar, Saad bin Abi Waqqash, Usaid bin Khudlair dan lain lain. Sedangkan sahabat yang meriwayatkan dari beliau ialah Abu Hurairah, Abu Musa al-Asyari, Zaid bin Khalid al-Juhniy,Saad bin Hisyam, Syafiyah binti Syabah dan beberapa yang lain. Tabiin yang mengutip beliau ialah: Said bin al-Musayyab, alqamah bin Qais, Masruq bin al-Ajda, Aisyah binti Thalhal, Amran binti Abdirrahman, dan Hafshah binti Sirin. Ketiga wanita yang disebutkan terakhir adalah murid murid Aisyah yang utama Ilmu Fiqh.

. Sunan al-Baihaqi, Juz:2, hal:338 maktabah syamilah.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

15

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

b. ) (Saad bin Hisyam Nama lengkap beliau adalah Saad bin Hisyam bin amir al-Ansori, al-Mandani, beliau masih saudara-Nya Anas bin Malik dari anak paman-Nya. Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 3 No 1 2 3 Guru ) ( Berikut pendapat para ulama terhadap beliau: 1. An-Nasai berpendapat : tsiqah 2. Ibnu Habban dan Ibnu Saad, Saad bin Hisyam adalah tergolong tsiqah4 c. ) (Zurarah bin Auf Nama beliau adalah Zurarah bin Aufa al-Amiri, al-Harisyi, Abu Hajib al-Busyra, beliau termasuk seorang hakim di Basrah ) ( ) ( Kritikus tentang beliau: 5 1. Abu Daud at-Thayalisi :dia hanya mendengar dari Ibnu Masud, beliau adalah hakim Bazrah,wafat dalam keadaan sujud. 2. An-nasai berkata : Tsiqah 3. Ibnu Habban dlm redaksinya berkata: beliau seorang Ubad ( orang ahli dlm beribadah) 4. Muhammad bin Saed: zurarah bin Auf dari bani al-Huraisy bin Kaab bin Rabiah bin Amir bin Shasha. Wafat 93 H. Pada Masa khalifah Walid bin Abdl Malik, beliau dari golongan Tsiqah, dan mempunyai beberapa hadist. ) ( ) ( 1 2 3 4 Murid ) ( ) ( ) (

3 4

. Rawah at-Tahzibain, Hal. 5522 . Al-Hafidz Jamaluddin abi Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tagdzib al-Kamal, Juz: 10,hal: 307,Cet: Muasasah arRisalah-Bairut Thn:1983 H. 5 . Jamaluddin abi Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tagdzib al-Kamal, Juz:09, hal: 339-341.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

16

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

d. ) (Qatadah Beliau adalah Qatadah bin Diamah bin Qatadah bin aziz bin Amru Ibnu Rabiah bin amru bin al-Harist bin Sudus, dan ada yang mengatakan: Qatadah bin Diamah Ibnu ukabah bin Aziz bin Karim bin Amru bin al-Harist bin Sadus bin Syaiban bin Dzal bin Tsalabah bin Ukabah bin Sabi bin Ai bin Bakar Ibnu Wail al-Sadusiu, Abi al-Khatab alBasyri, dan beliau adalah pemetik cendawan dan penjual. Nama guru dan murid beliau: ) ( ) ( Kritik tentang beliau: 1. Abu Bakar al-Atsram berkata: saya mendengar dari Ahmad bin Hambal berkata: Qatadah lebih ahfadz ahli Bazrah beliau tidak mendengar sesuatu kecuali apa yang ada dalam hafalan-Nya, dia pernah di bacakan selembar kertas dari jabir hanya sekali, lalu dia hafal. 2. Ishaq bin Mansur dari Yahya bin Muin : Tsiqah 3. Abu Zurah Berkata : Qatadah Sahabat dgn itelegensi yang tinggi. 4. Sufyan bin Uyainah berkata: dari Mamar : Tidak satupun aku Melihat Orang yg sangat Faqih kecuali dari Az-zuhri, Hamad, dan Qatadah. 5. Abu Bakar bin Abi Haitam berkata: dari Yahya bin Main: beliau lahir Tahun 60H. 6. Dari Ahmad bin Hambal dari Yahya bin Saed: Beliau wafat 17 atau 118 H. Catatan Mengenai beliau: Kritik tentang beliau hanya sepintas bahwasan-Nya sebegian kecil hadist yang diriwayatkan dari perawi-perawi tertentu itu tidak dapat dishahihkan seperti yang dikatakan oleh Ali al-Madani dari Yahya bin Saed: Syuba berkata: hadist Qatadah dari Anas tentang perempuan dalam tidurnya dia melihat ....,atau ada juga dari abu bakar bin abi khaitsam, saya mendengar Yahya bin Main, Beliau berkata : saya tidak mendengar adanya Hadist Qatadah dari Sulaiman bin Yasar.6 ) ( ) ( 1 2 3

. Jamaluddin abi Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tagdzib al-Kamal, Juz: 23,hal: 498 sampai 593.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

17

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

e. Hisyam bin abi Abdillah () Beliau adalah Hisyam bin Abi Abdullah al-Dastuiyu, abu-Bakar al-Basyriu, Walid bin Hisyam, dan Nama Bapak beliau adalah Abdullah Sanbar a-Rabaiu dari Bakar bin Wail, dan ada yang mengatakan: al-Jahdariu dan Dastukurah dari Kuari al-Ahwaz, Beliau adalah penjual pakaian yang maka dinisbatkan kepadanya, dan dari didapatkan sebuah panggilan kepadaNya sahabat al-Dastui. Nama guru dan murid beliau: ) ( ) ( ) ( Kutipan dari para kritikus tentang beliau: 7 1. Salah satu kutipan dari Abu Hatim berkata: aku bertanya kepada Ali ibnu ) ( ) ( ) ( 1 2 3

al-Madani: Siapakah yang lebih jujur dari para sahabat-sahabat Yahya bin Abi Katsir? Beliau berkata: Hisyam al-Dastuni...... 2. Ali bin al-Mubarak dalam pendapat-Nya, apabila dia mendengar dari Hisyam dari Yahya Maka beliau tidak menginginkan dengannya, seorang penganti. 3. Al-Ijliu berkata: Hisyam al-Dastuiu Bisriu, dia adalah orang yang jujur ( Tsiqoh). Tsabat dalam Hadist. 4. Muhammad bin Saed berkata: Hisyam ad-Dastui, Maula Bani Sadus, beliau adalah orang yang tsiqoh tsabat dalam Hadist. 5. Abu Hasan al-Maimuni dari Ahmad bin Hambal dari Abdul as-Shomad bin Abdl al-Waris, berkata: Hisyam wafat pada tahun 152 H. 6. Dan dari riwayat lain dari ahmad bin Hambal dari abdu Shamad : wafat 51 H. Dan begitu juga pendapat Muhammad bi saad. f. Muslim bin Ibrahim. Beliau adalah Muslim bin Ibrahim al-Azdiu, al-Farhidiu, beliau adalah masih temen dekat dengan Abu Amru al-Basri dan Farahid dari al-Azd. Adapun guru dan murid beliau adalah:
7

) ( ) (

1 2 3

. Jamaluddin abi Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tagdzib al-Kamal, Juz:30, hal: 215 sampai 222.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

18

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

Pendapat ulama tentang beliau adalah: 8 1. Abu Bakar bin Abi Khaitsam berkata: dari Yahya bin Main: beliau adalah golongan tsiqoh mamamun. 2. Al fadhal bin Sahel al-Araj: Yahya bin Main itu mendahulukan Muslim bin Ibrahim terhadap Muad bin Hisyam. 3. Al-ajliu berkata: beliau tinggal di Bazrah di rumah yang sangat besar, dan sungguh beliau hidup bersama saudari perempuan-Nya, adapun saudari beliau sangat tua, beliau adalah sosok seorang muhadizt, beliau bertanya apakah saudarimu Mampu, dengan tegas beliau menjawab? Tidak,dan al-Ijliu berkata: beliau adalah orang yang tsiqah. 4. Abdurrahman bin Abi Hatim berkata: saya bertanya kepada bapakku tentang Muslim Ibrahim? Bapakku Menjawab, beliau adalah orang yang jujur dan jujur tsiqah soduq. 5. Al-bukhari berkata: beliau wafat 222 H. g. Abu Daud Beliau lahir sebagai seorang ahli urusan hadits, juga dalam masalah fiqh dan ushul serta masyhur. Akan kewaraannya dan kezuhudannya: Kefaqihan beliau terlihat ketika mengkritik sejumlah hadits yang bertalian dengan hukum, selain itu terlihat dalam penjelasan bab-bab fiqih atas sejumlah karyanya, seperti Sunan Abu Dawud. Al-Imam al-Muhaddist Abu Dawud lahir pada tahun 202 H dan wafat pada tahun 275 H di Bashrah. Sepanjang sejarah telah muncul para pakar hadist yang berusaha menggali makna hadist dalam berbagai sudut pandang dengan metoda pendekatan dan sistem yang berbeda, sehingga dengan upaya yang sangat berharga itu mereka telah membuka jalan bagi generasi selanjutnya guna memahami as-Sunnah dengan baik dan benar. Di samping itu, mereka pun telah bersusah payah menghimpun hadits-hadits yang dipersilisihkan dan menyelaraskan di antara hadits yang tampak saling menyelisihi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kewibawaan dari hadits dan sunnah secara umum. Abu Muhammad bin Qutaibah (wafat 267 H) dengan kitab beliau Tawil Mukhtalaf al-Hadits telah membatah habis pandangan kaum Mutazilah yang mempertentangkan beberapa hadits dengan al-Quran maupun dengan rasio mereka.
8

. Jamaluddin abi Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tagdzib al-Kamal, Juz:27, hal:488 sampai 492.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

19

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

Selanjutnya upaya untuk memilahkan hadits dari khabar-khabar lainnya yang merupakan hadits palsu maupun yang lemah terus dilanjutkan sampai dengan kurun al-Imam Bukhari dan beberapa penyusun sunan dan lainnya. Salah satu kitab yang terkenal adalah yang disusun oleh Imam Abu Dawud yaitu sunan Abu Dawud. Kitab ini memuat 4800 hadits terseleksi dari 50.000 hadits. Beliau sudah berkecimpung dalam bidang hadits sejak berusia belasan tahun. Hal ini diketahui mengingat pada tahun 221 H, beliau sudah berada di baghdad. Kemudian mengunjungi berbagai negeri untuk memetik langsung ilmu dari sumbernya. Beliau langsung berguru selama bertahun-tahun. Diantara guru-gurunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, al-Qanabi, Abu Amr adh-Dhariri, Abu Walid ath-Thayalisi, Sulaiman bin Harb, Abu Zakariya Yahya bin Main, Abu Khaitsamah, Zuhair bin Harb, ad-Darimi, Abu Ustman Said bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain. Sebagai ahli hukum, Abu Dawud pernah berkata: Cukuplah manusia dengan empat hadist, yaitu: Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya; termasuk kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat; tidaklah keadaan seorang mukmin itu menjadi mukmin, hingga ia ridho terhadap saudaranya apa yang ia ridho terhadap dirinya sendiri; yang halal sudah jelas dan yang harampun sudah jelas pula, sedangkan diantara keduanya adalah syubhat. Beliau menciptakan karya-karya yang bermutu, baik dalam bidang fiqh, ushul,tauhid dan terutama hadits. Kitab sunan beliaulah yang paling banyak menarik perhatian, dan merupakan salah satu diantara kompilasi hadits hukum yang paling menonjol saat ini. Tentang kualitasnya ini Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah berkata: Kitab sunannya Abu Dawud Sulaiman bin Asyats as-sijistani rahimahullah adalah kitab Islam yang topiknya tersebut Allah telah mengkhususkan dia dengan sunannya, di dalam banyak pembahasan yang bisa menjadi hukum diantara ahli Islam.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

20

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


D. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Tinjauan Penulis terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa hadist tersebut dapat diterima dan kredibilitasnya dapat diketahui, karna menurut penelitian di atas tidak ada satupun perawi mendapata kritik-kritik yang negative dari ulama-ulama jarkh wa tadil. Jadi bisa disimpulkan hadist ini Shahih al-Isnad.
E. ANALISIS MATAN

Melihat dari kualitas sadan yang sangat kapabel kebenaran dan kejujuran para perawiNya, maka dapat disimpulkan kualitas sanad ini adalah sebuah anjuran atau perkara yang di sunnah muakkadkan kepada setiapa muslim.

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

21

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

Daftar Pustaka

Abu Hajir Muh Saed bin Basyuni Zalul,at-Thraf, Dar-Kutub Lebanon. Al-Hafidz Jamaluddin abi Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tagdzib al-Kamal, Muasasah ar-Risalah-Bairut Thn:1983 H. Rawah at-Tahzibain, (Maktabah Syamilah) Imam Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah. Abu Daud, Sunan Abi Daud.

Oleh : Muh. Arwani (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

22

HADIS KETIGA

Fadhilah Membaca Al-Quran


OLEH
MUH. MUSLIHAN
(NPM: 10.31.0287)

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


A. PENDAHULUAN

Puji Syukur semoga senantiasa terhaturkan kepada Allah Subhanahu wa Taala Zat yang Maha Kuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan Al-Kitab melalui para Rasul-NYA sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk kehidupan dunia akhirat. Shalawat dan salam tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau kelak kita dapatkan di akhirat. Amiiin. Alhamdulillah, satu kepuasan tersendiri atas selesainya karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadits melalui metode Mujam (Al-Mujam al Mufahras li Alfadz al-Hadits an-Nabawy)1 dan metode Digital (Al-Maktabah Syamilah). Hadits yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:

.
Artinya: Orang yang membaca Al-Quran sedangkan ia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat dalam surga bersama-sama dengan Rasul-Rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran tetapi ia tidak mahir , membacanya terteguntegun dan tampak agak berat (belum lancar), ia akan mendapat dua pahala.
B. HASIL PENULUSURAN (TAKHRIJ)

1. Musnad Ahmad

2. Sunan Ad-Darimi

:
3

Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J Wensinck (w.1939 M), karya ini menghimpun 9 kitab Hadits yang termasyhur 2 Musnad Ahmad, Juz:49, no:23080 Hal;236

Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

24

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

3. Sunan Abu Daud

4 .
4. Sunan At-Tirmidzi

5 .
C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

1. Musnad Ahmad

.
2. Sunan Ad-Darimi

.
3. Sunan Abu Daud

.
4. Sunan At-Tirmidzi

3 4

735:, Juz:2, no:3368, Hal ,Sunan Ad-Darimi 742:, Juz:4, no:1242, Hal ,Sunan Abu Daud 5 441:, Juz:10,no:2829, Hal ,Sunan At-Tirmidzi

| )Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta

52

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


D. SKEMA SANAD

Berdasarkan beberapa sumber hadis di atas yang kami dapatkan melalui penelusuran melalui metode manual dan metode digital, skema sanadnya dapat dilihat sebagai berikut:

Mukharrij Hadis:

Abu Daud Ad-Darimi At-Tirmidzi Ahmad bin Hanbal

Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

26

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERIWAYAT

Dari keempat hadits diatas yang kami teliti sanadnya adalah hadits riwayat Musnad ,Ahmad, dengan komposisi sanad (Aisyah, Sad bin Hisyam, Zuroroh bin Aufa, Qotadah :Hisyam, Ismail). Uraiannya sebagai berikut 1) Aisyah binti Abu Bakar

) : 1 : : 57 57 : - - - - - ) : : ) : : )
2) Saad bin Hisyam

) : ) : 3 : : : - - - - - ) : :
3) Zurarah bin Aufa

) : : 3 : : 33 : - - - - ) : :
4) Qatadah

) : : 60 10 : 4 :
| )Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta

72

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran

: 661 : - - - - - ) : :
5) Hisyam bin abi Abdillah

) : : : 05 : 5 : : 471 : - - - - - ) : : :
6) Ismail bin Ibrahim

) : ) : 611 : 5 : : 331 : - - - - - ) : :
7) Ahmad bin Hanbal

) : : 401 : 61 : : 141 : - - - - - ) : :
| )Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta

82

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


F. ANALISIS KETERSAMBUNGAN SANAD

Tinjauan penulis terhadap kontruksi sanad diatas bahwa hadits tersebut dapat diterima dan dapat dijadikan hujjah, karena sanadnya bersambung (bertemu antara guru dengan murid). Menurut hemat penulis setelah meneliti dari kontruksi sanadnya yang tidak ada syad di dalamnya maka penulis menyimpulkan bahwa hadits ini shahih.
G. ANALISIS KUALITAS PARA PERIWAYAT

Dari rangkaian yang diteliti, maka dapat dilihat kehujjahan semua perawi hadits dalam rangkaian sanad tersebut. Namun menurut kritikus Imam Az-zahabi ada dua perawi yang tidak sebutkan kualitasnya yaitu Sad bin Hisyam dan Zurarah bin Aufa, menurut hemat penulis ketika imam Az-Zahabi tidak menyebutkan pendapatnya terhadap kualitas perawi tersebut berarti imam Zahabi sudah tidak meragukan lagi kualitasnya (Tsiqoh). Menurut Imam At-Tirmidzi hadits ini tergolong hadits Hasan Shahih dan menurut Imam Ad-Darimi hadits ini masuk dalam kategori hadits Shahih. Menurut penulis hadits ini shahih karena para perawi yang meriwayatkan hadits ini tidak ada yang bermasalah.
H. KANDUNGAN HADITS

Orang yang membaca Al-Quran sedangkan ia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat dalam surga bersama-sama dengan Rasul-Rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran tetapi ia tidak mahir, membacanya terteguntegun dan tampak agak berat (belum lancar), ia akan mendapat dua pahala. Sebagai orang Islam yang kitab pedomannya Al-Quran sepertinya kurang sempurna apabila membacanya pun enggan karena tidak bisa. Hadits ini menunjukkan bahwa sangat mulianya Al-Quran meskipun tidak mahir atau belum lancar dalam membacanya kalaupun orang tersebut punya kemauan untuk bisa membaca Al-quran dengan fasih, maka Allah memberikan apresiasi kepada orang tersebut dengan memberikan dua pahala yaitu pahala dia membaca dan pahala kesungguhan yang dia lakukan untuk bisa membaca. Jadi tidak ada alasan enggan membaca Al-quran karena tidak bisa, sebab dijelaskan dalam hadits ini usaha untuk bisa membaca pun Allah sudah memberikannya pahala. Apalagi yang sudah mahir atau lancar dalam membacanya kelak akan memdapatkan tempat dalam surga berkumpul dengan Rasul-Rasul yang mulia.

Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

29

Hadis tentang Pahala Membaca al-Quran


I. PENUTUP

Demikianlah hasil laporan takhrij hadits yang telah kami susun mengenai hadits balasan untuk orang yang membaca Al-Quran. Dan kami menyadari bahwa hasil laporan ini pastilah tidak sempurna dan masih banyak kekurangan, maka dari itu kami mohon maaf. Semoga hasil laporan takhrij ini bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua mengenai takhrij hadits.

Oleh : Muh. Muslihan (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

30

HADIS KEEMPAT

Membaca 100 Ayat dalam Semalam Dicatat sebagai Orang yang Tidak Lalai

OLEH
NAFIUL IBAD
(NPM: 11.31.0331)

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai
A. PENDAHULUAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan inayahnya kepada hamba-hambanya yang berfikir untuk selalu berada dijalannya, Di jalan yang selalui di Ridhoinya. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang seperti itu. Sholawat serta salam kepada baginda Rasulullah SAW yang atas perjuangan dan

pengorbanannya sehingga Islam sebagai agama akhir zaman tersiar di seluruh pelosok Dunia. Dalam kesempatan yang berbahagia ini saya akan membahas hasil yang telah saya telusuri sebagai contoh takhrij hadist dan metode digital (maktabah syamilah) serta dalam penelusurannya saya menggunakan pendekatan mujam. Hadist yang akan kita bahas mengenai orang yang membaca seratus ayat dalam semalam maka dia tidak dicatat

sebagai orang-orang yang lalai, berikut matan hadisnya:


Barangsiapa yang membaca seratus ayat pada malam hari maka ia tidak tercatat sebagai orang-orang yang lalai
B. HASIL PENELUSURAN

Dalam penelusurannya saya mendapatkan beberapa hadist yang bisa dijadikan pijakan (sumber) untuk meneliti hadis ini dari segi sanad dan matan: 1) Sunan ad-Darimi ()

:
1

) . (

2) Al matholib al aliyah lilhafidz (Ibnu Hajar)

:
2

1 2

Sunan Addarimi, Bab man qoroa bimiati ayatin, juz 2, hal. 555 Ibnu Hajar, Al matholib al aliyah lilhafidz, Bab man qoroa bimiati ayatin, juz 10, hal. 133

Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

32

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai
C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

1) Sunan ad-Darimi ()

.
Artinya: Barangsiapa yang membaca seratus ayat di malam hari tidak tercatat (termasuk) orangorang yang lalai 2) Sunan ad-Darimi ()

.
Artinya: Barangsiapa yang membaca seratus ayat di malam hari tidak tercatat sebagai orang-orang yang lalai, dan barangsiapa yang membaca seratus ayat di catat sebagai orang-orang yang taat, dan barangsiapa yang membaca lima ratus sampaiseribu ayat maka baginya seribu seratus gram emas dari balasannya, al qirat darinya seperti bukit yang sangat besar

.
Artinya: Barangsiapa yang bangun dan membaca dalam sholatnya sepuluh ayat maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai, dan Barangsiapa yang bangun dan membaca dalam sholatnya seratus ayat dicatat sebagai orang-orang yang taat


Artinya: Barangsiapa yang bangun dan membaca dalam sholatnya sepuluh ayat maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai, dan Barangsiapa yang bangun dan membaca dalam sholatnya seratus ayat dicatat sebagai orang-orang yang taat, Barangsiapa yang bangun dan membaca dalam sholatnya seribu ayat dicatat sebagai seribu seratus gram emas
Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

33

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai
D. SKEMA SANAD


:Mukharrij Hadis Ad-Darimi Ibnu Hajar

| )Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta

43

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai
E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Dari kelima hadist tersebut diatas, yang saya teliti sanadnya adalah hadist riwayat; Abu Darda, Umu Darda, Salim (saudara laki umu darda), Yuhannas Maula Zubair, Muhammad Ibnu Ibrohim, Musa Ibnu Ubaidah, dan Muhammad Ibnul Qosim. a) Abu Darda Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda mengenai dirinya Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud. Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Abu Darda diangkat menjadi Hakim di daerah Syam, Ia adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan ahli Fiqh penduduk Palestina. Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah dan Zaid bin Tsabit, sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah anaknya sendiri Bilal dan istrinya Ummu Darda. Hadits yang dia riwayatkan mencapai 179 hadits. Tentang dia Masruq berkata: Aku mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada enam orang diantaranya dari Abu Darda. Ia wafat pada tahun 32 H di dasmaskus. b) Ummu Darda Ummu Darda As shugro namanya Hujaimah ada yang mengatakan Juhaimah binti hayyin, dan ada yang mengatakan bintu hayyil aushobiyah dikatakan al washobiyah addamasqiyyah al asariyah Istri Abu Darda wafat tahun 81 hijriah. Berikut pendapat para ulama terhadap Ummu Darda: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adzahabi Jarh Tadil

c) Salim (saudara laki laki Ummu Darda) Salim Ibnu abil judi tingkatan pertengahan dari tabiin dan wafat tahun 97 atau 98 hijriah ada yang mengatakan 100 hijriah.
Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

35

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai Berikut pendapat para ulama terhadap Salim No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar adzahabi Jarh Tadil

d) Yuhannas tuan Zubair Nama aslinya yuhannas ibnu abi musa, dikatakan ibnu abdillah al quraisy al asady, abu musa almadani, maula musab ibnu zubair. Tingkatan ketiga dari pertengahan dari tabiin. No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar adzahabi Jarh Tadil

e) Muhammad Ibnu Ibrohim Nama aslinya Muhammad Ibnu Ibrohim Ibnu Harist Ibnu Kholid alkurasy attaimi, Abu Abdillah Al Madani ia anak dari pamannya Abu Bakar Asshiddiqie, ia tingkatan keempat tingkatan pertengahan dari Thabiin, wafat tahun 120 hijriah Berikut pendapat para ulama terhadap Muhammad Ibnu Ibrohim: No Kritikus 1 Ibnu Hajar 2 Adzahabi 3 Yaqub Ibnu Syaibah f) Musa Ibnu Ubaidah Nama aslinya Musa Ibnu Ubaidah Ibnu Nasyit Ibnu Amru Ibnu Haris, Abu Abdul Aziz Al Madaniyyi, dari tingkatan ke tujuh dari pembesar At baut Thabiin, wafat tahun 153. Berikut pendapat para ulama terhadap Musa Ibnu Ubaidah: No Kritikus 1 Ibnu Hajar 2 3 4 Adzahabi Abu Bakar Al Bazzar Abu Ahmad Hakim Jarh Tadil Jarh Tadil

Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

36

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai g) Muhammad Ibnu Qosim Nama aslinya Muhammad ibnu Qosim, Abu Ibrohim Al kufi, laqobnya KW (Samil Asli) dari tingkatan ke sembilan dari shigoru atbaut thabiin, wafatnya tahun 207 hijriah. Berikut pendapat para ulama terhadap Muhammad Ibnu Qosim: No 1 2 3 4 5 6 Kritikus Ibnu Hajar Adzahabi Attirmidzi Annisai Abu Hatim Abu Bakar Ibnu abi Khoisumah Jarh Tadil

h) Imam Addarimi Beliau adalah Al-Hafizh al-Imam Abdullah bin Abdul Rahman bin Fadhl bin Bahram bin Abdillah abu Muhmad ad-Darimi as-Samarqandi. ad-Darimi adalah nama lengkapnya Darim bin Malik bin Handalah bin Zaid bin Munah bin Tamim. Ia di lahirkan pada taun 181 H (ada juga yang berpendapat 182) atau bertepatan dengan tahun 797 M Sebagai seorang yang bertekad menjadi penyebar hadits dan sunnah, maka syaratsyarat sebagai seorang rawi sejati menjadi satu kemestian untuk dimiliki. Diantaranya ia mesti terlebih dahulu belajar dan berguru. karenanya menjadi tidak mengherankan jika kemudian para ulama memuji dan menyanjung keilmuan beliau. Imam Ahmad bin Hanbal memuji beliau dan menggelarinya dengan gelar imam dan berpesan agar menjadikannya rujukan (seraya ucapannya diulang-ulang). Muhamad bin Basyar (bundar) berkata : penghapal kaliber dunia ada empat: Abu Zurah ar-Razi, Muslim an-Nasaiburi, Abdullah bin Abdul Rahman di Samarqandi dan Muhamad bin Ismail di Bukhari. Abu Harits ar-Razi berkata: dan Abdullah bin Abdurrahman paling kuat (atsbat) di antara mereka (Bukhari, Muhamad bin Yahya dan Muhamad bin Aslam). Sebagai seorang imam (barangkali profesor/guru besar sekarang) ilmu yang dikuasainya tidak terbatas kepada satu macam saja. Pantas saja jika para ulama menempatkan beliau sebagai seorang ahli tafsir yang sempurna mumpuni dan seorang ahli fiqh yang alim. Sudah barang tentu, penghargaan ulama seperti ini kepada beliau bukanlah datang dengan tiba-tiba bim salabim. Hal ini merupakan buah atau hasil dari sebuah proses panjang dalam hidup rabbani.
Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

37

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai
F. HASIL ANALISIS SANAD

Setelah melakukan penelitian terhadap sanad dalam hadist ini, penulis menemukan ada 2 riwayat yang dihukumi kedhoifannya yaitu Musa Ibnu Ubaidah dan Muhammad Ibnu Qosim, yang pertama diketahui dhoif karena bukan seorang penghapal hadist yang kuat ingatannya dan yang kedua diketahui dhoif karena ia seorang yang suka dusta atau bohong. Dari sini saya menyimpulkan bahwa hadist ini mengandung sanad yang lemah atau dhoif terlebih hadist ini tidak terkenal dikalangan ulama salafiyyun dan jumlah hadist yang mengatakan barangsiapa yang membaca seratus ayat ini juga sangat sedikit kita temukan dikalangan para perawi yang menulis hadis ini. Disisi lain ada hadist yang bertentangan dengan hadist yang kita bahas ini yang menyatakan barangsiapa yang membaca sepuluh ayat maka ia tidak termasuk orang-orang yang lalai yang berbunyi:

: - - : .
Artinya: Barangsiapa yang bangun pada malam hari (tahajjud) lalu membaca sepuluh ayat maka ia tidak termasuk orang-orang yang lalai dan barangsiapa yang membaca seratus ayat maka ia termasuk orang-orang yang taat dan barangsiapa yang membaca seribu ayat maka ia termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan emas sebesar bukit.
G. KONTRIBUSI HADIST

Al-Qur`an adalah firman (ucapan) Allah dan dia merupakan zikir yang paling utama. Karenanya, walaupun Al-Qur`an bersama sunnah keduanya adalah wahyu, akan tetapi Allah Taala memberikan pahala khusus kepada setiap orang yang membaca Al-Qur`an, yang pahala ini tidak sama besarnya dengan yang didapatkan orang yang membaca hadits, walaupun itu hadits qudsi. Yaitu bahwa setiap huruf dari Al-Qur`an bernilai minimal 10 pahala, dan bisa lebih daripada itu sampai 700 kali lipat berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang pelipatgandaan pahala. Selain keutamaan berupa pahala itu, Allah Taala menambahkan keutamaan besar lainnya, yaitu bahwa orang yang mahir (lancar dan benar) dalam membaca Al-Qur`an akan ditempatkan bersama para malaikat yang mulia. Adapun bagi
Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

38

Hadis tentang Membaca 100 Ayat al-Quran dalam Semalam adalah tidak Lalai mereka yang baru belajar Al-Qur`an sehingga masih kesulitan dalam membacanya, maka bagi mereka dua pahala: Pahala atas bacaannya dan pahala yang kedua atas kesusahan yang dia alami. Dari sini kita mengetahui setiap orang yang membaca satu huruf dikenakan ganjaran sepuluh apalagi bagi orang yang membaca sepuluh ayat setiap malam dengan dikalikan huruf yang ada dalam setiap ayat yang di baca, maka gan jarannya akan berlipatlipat sesuai jumlah huruf dalam setiap sepuluh ayat yang kita baca. Walaupun hadist diatas tergolong hadist yang lemah tapi ada hadist yang menyatakan barangsiapa yang bangun tengah malam dan membaca sepuluh ayat maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai apalagi bagi orang yang bangun ditengah malam dan membaca seratus ayat maka ia mendapat ganjaran lebih dari apa yang didapatkan orang yang membaca sepuluh ayat. Berikut beberapa dalil lainnya tentang keutamaan membaca dan mempelajari Al-Qur`an. Dari Umar radhiallahu anhu secara marfu:


Artinya: Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur`an ini sebagian kaum dan merendahkan sebagian lainnya juga dengannya. (HR. Muslim no. 817) Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu secara marfu:


Artinya: Yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan yang mengajarkannya. (HR. Al-Bukhari no. 5027)

Wallahu Alam bi as-Showab !!!

Oleh : Nafiul Ibad (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

39

HADIS KELIMA

Perintah Melagukan al-Quran OLEH


MUH. SAHARUDDIN
(NPM: 10.31.0269)

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran


A. PENDAHULUAN

Al Quran adalah kalam Allah yang memiliki banyak ilmu dan hikmah. Kandungannya mencakup segala hal. Oleh karena itu, kitab Al Quran dituntut untuk dibaca, dikaji dan dipelajari. Hal ini karena hanya dengan membacanya, kita sudah mendapatkan banyak keutamaan, apalagi sampai mengkaji, memahami dan mengamalkan isinya. Di dalam membaca Al Quran pun kita diharuskan untuk membacanya dengan baik dan benar, bahkan kita dianjurkan untuk memperindah bacaan itu, dengan kata lain membacanya dengan lagu dan irama. Hal itu karena dengan membaca dengan lagu dan irama maka keindahan Al Quran semakin terasa dan semakin mempesona. Hanya saja, kita mesti perlu tahu apakah benar ada keterangan yang mutlak yang bersumber dari Nabi shallallhu alaihi wasallam tentang perintah melagukan Al Quran? Insya Allah MAKALAH singkat inilah jawabannya. Selamat membaca !!!
B. TEKS HADIS


Artinya: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Hiasilah Al Quran dengan suaramu.
C. URAIAN SINGKAT SEPUTAR NAGHAM AL-QURAN

Salah satu penyebab timbulnya kebosanan dalam membaca Al Quran adalah karena ia dibaca tanpa disenandungkan (tanpa irama). Padahal membaca Al Quran dengan irama mampu menggetarkan hati. Lihatlah bagaimana alunan Al Quran mampu membangkitkan sensivitas fitrah ilahiyah seorang Umar bin Khattab. Ketika Umar bin Khattab mendengar alunan suara Al Quran surah Thaha yang dibacakan oleh adiknya, Fatimah, hati umar langsung bergetar. Semula Umar bermaksud menghajar adiknya yang telah masuk Islam, tiba-tiba hatinya berbalik seratus delapan puluh derajat. Ketika mendengar bacaan ayat-ayat Al Quran tersebut, saat itu juga Umar langsung meminta diantarkan menemui Rasulullah untuk bersyahadat masuk Islam. Demikianlah alunan ayat suci Al Quran mampu menggetarkan hati, sekalipun hati yang amat keras. 1

Irfan Abdul Adzhim, Agar Bacaan Al Quran Anda Tidak Sia-sia, Solo: Pustaka Iltizam, 2009, hal. 109-110

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

41

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran


D. PERBANDINGAN SANAD DAN MATAN HADIS

: : ( )

) : , : : :
3

: ( )

)
4

: ( )

) : : (
5

) .

)
6

: : ( ) .

) : : , : , , ) : ( , .
7

,Al Imam Al Hafidz Al Mushannif Abu Dawud Sulaiman ibn Al Asyats Al Azdiy, Sunan Abu Dawud ,(Kitab Ash Shalah, bab: Istihbab At Tartil fi Al Qiraah), (Kairo: Dar Al Hadits, 1420 H/ 1999 M.) jilid II .8641 hal. 637, no. hadis 3 Al Hafidz Abu Abdillah ibn Muhammad ibn Yazid Al Qazwiniy, Sunan Ibnu Majah, (Kitab: Iqamah Ash 8991 /.Shalah Wa As Sunnah fiiha, bab: Fii Husni Ash Shaut bi Al Quran), (Kairo: Dar Al Hadits, 1419 H .2431 M.), jilid 1, hal. 505, no. hadis 4 :Al Imam Al Hafidz Abdullah ibn Abdirrahman Ad Darimi As Samarqindi, Sunan Ad Darimi, (Kitab .Fadhail Al Quran, bab: At Taghanni bi Al Quran), (Kairo: Dar Al Hadits, 1420 H/ 2000 M.), jilid 2, hal .0053 347, no. hadis 5 .1053 Ibid, no. hadis 6 ,Al Imam Al Hafidz Al Mushannif Abu Dawud Sulaiman ibn Al Asyats Al Azdiy, Sunan Abu Dawud ,(Kitab Ash Shalah, bab: Istihbab At Tartil fi Al Qiraah), (Kairo: Dar Al Hadits, 1420 H/ 1999 M.) jilid II .0741 hal. 638, no. hadis 7 Al Hafidz Abu Abdillah ibn Muhammad ibn Yazid Al Qazwiniy, Sunan Ibnu Majah, (Kitab: Iqamah Ash 8991 /.Shalah Wa As Sunnah fiiha, bab: Fii Husni Ash Shaut bi Al Quran), (Kairo: Dar Al Hadits, 1419 H .405 .M.), jilid 1, hal

| )Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta

24

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran


E. SKEMA SANAD

Berdasarkan berbagai sumber hadis di atas, berikut uraian skema sanadnya:

Mukharrij Hadis Ibnu Majah, Abu Daud, Ad-Darimy

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

43

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran


F. PENELITIAN (KRITIK) SANAD HADIS

a. Al Barraa Ibnu Azib Nama lengkap beliau adalah Al Barra Ibn Azib Ibn Al Harits Ibn Adiy Al Anshari Al Haritsiy Al Ausiy. Nama laqab beliau adalah Abu Umarah. Beliau juga sering dipanggil Abu Umar. Demikian pula beliau biasa dipanggil Abu Tufail. Beliau salah seorang sahabat yang merupakan kalangan Anshar yang tinggal di Madinah. Kualitas beliau tidak perlu diragukan lagi kedhabitan dan keadilannya. Demikianlah keterangan Ibnu Hajar. Demikian pula menurut Adz Dzahabi. Al Barra wafat pada tahun 72 H. di Kufah. Beliau termasuk tabaqat I (pertama). 8 Beberapa guru dan murid dari Al Barra dapat kita lihat dalam tabel berikut:

1 2 3 4 5

dll

dll

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara Al Barra dan Rasulullah SAW adalah guru-murid, maka dapat dipastikan bahwa sanadnya muttashil. b. Abdur Rahman Ibnu Ausajah Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman Ibnu Ausajah Al Hamdani An Nahmi Al Kufi. Beliau merupakan seorang tabiin dan merupakan tabaqat III ( ketiga). Beliau wafat pada tahun 82 H. kami tidak menemukan tahun kelahirannya. Namun, disamping tahun wafatnya sangat dekat dengan tahun wafat gurunya yakni Al Barra hanya selisih sekitar 10 tahun, beliau juga merupakan murid dari Al Barra. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut ini: 9

1 2 3 4 5

dll.

dll

Dari tabel di atas, tampak bahwa antara Al Barra dan Abdurrahman adalah guru-murid, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa sanadnya muttashil.

8 9

Maktabah Syamilah. Ibid.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

44

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran Adapun mengenai kualitas Abdurrahman Ibnu Ausajah, dapat kita lihat keterangan berikut: No. 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adz Dzahabi Kesimpulan: Tsiqah. c. Thalhah Ibnu Nafi Nama lengkap beliau adalah Thalhah bin Nafi Al Qurasyi Al Wasati Al Makki. Nama laqab beliau adalah Abu Sufyan Al Iskaf. Beliau merupakan salah seorang tabiin dan termasuk tabaqat ke-4 (empat). Mengenai siapa guru dan muridnya, dapat kita lihat dalam tabel berikut: Jarh Tadil Tsiqah Tsiqah Keterangan

1 2 3 4 5

dll

dll

Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa antara Thalhah bin Nafi merupakan murid dari Abdurrahman ibn Ausajah, sehingga dapat kita menyimpulkan bahwa hubungan antara Thalhah dan Abdurrahman adalah muttashil. Adapun mengenai kualitas Thalhah bin Nafi, dapat kita lihat dalam tabel di bawah ini: 10 No. 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adz Dzahabi Jarh Tadil Shaduq Laisa bihi bas Keterangan

Kesimpulan: Shaduq, maka diterima. d. Syubah Ibnu Al Hajjaj Nama lengkap beliau adalah Syubah Ibnu Al Hajjaj Ibnu Al Ward Al Azdiy. Nama laqab beliau adalah Abu Bustam Al Bashri. Beliau merupakan pembesar tabiin dan termasuk tabaqat ke-7 (tujuh). Beliau meninggal dunia di Bashrah pada tahun 160 H. adapun mengenai guru dan muridnya. Kita dapat melihat tabel di bawah ini:

1 2
10

Ibid.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

45

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

3 4 5

dll

dll

Berdasarkan tabel di atas, hugungan antara Syubah dan Thalhah adalah guru-murid, maka dapat dipastikan beliau saling bertemu, sehingga kita dapat menyimpulkan sanadnya muttashil. Adapun mengenai kualitas Syubah, dapat kita lihat dalam keterangan berikut:

No. 1 2 3

Kritikus Ibnu Hajar Adz Dzahabi Ats Tsauriy


Kesimpulan: Shaduq.

Jarh -

Tadil ,

Keterangan

e. Muhammad Ibnu Jafar Nama lengkapnya adalah Muhammad Ibnu Jafar Abu Abdillah Al Hadzli Al Bashri. Beliau termasuk min shigharit tabiin dan termasuk tabaqat ke-9 (kesembilan). Beliau wafat pada tahun 293 H. ada juga yang mengatakan beliau wafat pada tahun 294 H.11 Perhatikan tabel di bawah ini:

1 2 3 4 5

dll

dll

Berdasarkan tabel di atas, menunjukkan bahwa Muhammad ibn Jafar merupakan murid dari Syubah Al Hajjaj. Dengan demikian,dapat disimpilkan bahwa sanadnya bersambung (Muttashi). Perhatikan tabel berikut:
No. 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adz Dzahabi Jarh Tadil Shaduq Hafidzh Keterangan

Kesimpulan: Shaduq, maka kami simpulkan beliau diterima hadisnya.

11

Ibid.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

46

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran f. Yahya Ibnu Said Nama lengkap beliau adalah Yahya Ibnu Said Ibnu Farukh Al Qathani At Tamimi. Nama laqab beliau adalah Abu Said Al Bashri. Beliau lahir pada tahun 120 H. Beliau termasuk dalam kategori shigharut Tabiin dan termasuk tabaqat ke-9 (kesembilan). Beliau wafat pada tahun 198 H.12 Mengenai guru dan murid beliau, kita dapat melihat tabel di bawah ini:

1 2 3 4 5

dll

dll

Tabel di atas telah menunjukkan bahwa Yahya ibn Said merupakan salah seorang murid dari Syubah Al Hajjaj dan merupakan sahabat dari Muhammad ibn Jafar, sehingga wajar jika keduanya menerima hadis yang sama dari Syubah Al Hajjaj. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sanad hadis ini muttashil.
No. 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Adz Dzahabi Ahmad Jarh Tadil Tsiqah, Hafidzh Keterangan

Bundaar Kesimpulan: Tsiqah.

g. Muhammad bin Basysyar Nama lengkap beliau adalah Muhammad ibnu Basysyar ibnu Utsman Abu Bakar Al Abdiy Al Bashriy. Beliau lahir pada tahun 160 H. beliau salah seorang senior di kalangan tabiut tabiin, dan termasuk tabaqat ke-10 (kesepuluh). Beliau wafat di Bashrah pada tahun 252 H.13 Perhatikan tabel berikut ini: 1 2
12 13

Ibid. Ibid.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

47

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

3 4 5

dll

dll

Dalam tael di atas disebutkan bahwa Muhammad ibn Basysyar merupakan salah seorang murid dari Yahya ibn Said. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa mereka saling bertemu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sanadnya muttashil.
No. 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adz Dzahabi Jarh Tadil Tsiqah Hafidzh, Tsiqah Keterangan

Kesimpulan: Tsiqah. h. Ibnu Majah Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah Ar Rabiy Al Qazwiniy. Beliau seorang hafidz terkenal dan penulis kitab sunan. Beliau dinisbatkan kepada golongan Rabiah dan bertempat tinggal di Qazwin, salah satu kota di Iraq yang sangat terkenal dan banyak mengeluarkan ulama. Beliau meriwayatkan hadis dari ulama Iraq, Bashrah, Kufah, Baghdad, Makkah, Syiria, Mesir dan sebagainya. Di antara gurunya adalah sahabat-sahabat Malik dan sahabat-sahabat Al Laitsi, termasuk Muhammad bin Basysyar. Hadis-hadisnya diriwayatkan oleh segolongan ulama, di antaranya Abu Hasan Al Qaththani. 14 Ibnu Majah dilahirkan pada tahun 209 H, dan wafat pada bulan Ramadhan tahun 273 H. jenazahnya dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Sedang pemakamannya dilakukan oleh dua orang saudaranya Abu Bakar dan Abdullah serta putranya Abdullah. 15
G. HUKUM SANAD HADIS

Berdasarkan penelusuran kami di atas, maka kami dapat mengambil kesimpulan sendiri, bahwa sanad hadis di atas adalah shahih. Adapun alasanya, adalah: a. Sanadnya bersambung, hubungan antara para perawi adalah guru-murid, sehingga dapat dipastikan mereka saling bertemu. b. Tahammul yang mereka gunakan adalah samitu, yang memberikan indikasi bahwa sanadnya muttashil, karena antara satu perawi dengan perawi berikutnya saling mendengarkan hadis itu.
14

Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddiqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009, hal. 254. 15 Ibid, hal. 255.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

48

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

c. Semua perawinya adil, sehingga dapat disipulkan bahwa hadis di atas adalah shahih. Di samping itu, terdapat pula keterangan para Ulama hadis yang menyatakan akan keshahihan hadis ini. Di antaranya: a. Imam Abu Dawud juga dalam kitab Sunannya ketika menngomentari hadis di atas mengataakan bahwa hadis ini adalah shahih.16 b. Imam Nashiruddin Al Albani juga dalam Sunan Abu Dawud berkomentar bahwa hadis ini adalah shahih17. c. Imam Ad Darimi juga dalam Sunannya ketika berkomentar akan hadis ini mengatakan bahwa hadis ini adalah shahih.18 Bahkan Imam Abu Dawud dalam Sunannya bahwa hadis ini juga dikeluarkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Khalqu Afalil Ibad terdapat pada halaman 72 dengan nomor hadis 195 dari jalur Al Amasy. Selai itu, terdapat pula lafadz yang lain yang semakna dengan hadis ini yang terdapat dalam Shahih Bukhari. Yakni hadis yang bersumer dari Abu Hurairah: Bukanlah golongan kami orang yang tidak melagukan Al quran.19 sehingga kesimpulan akhir dari kami menyimpulkan bahwa hadis ini adalah shahih.
H. KANDUNGAN HADIS

Al Quran yang merupakan kitab suci umat Islam dianjurkan supaya dibaca dan dihiasi dengan suara yang merdu sehingga dapat memberi kesan kepada pembaca dan pendengarnya. Melagukan bacaan Al Quran dengan suara yang indah merupakan seni baca yang paling tinggi nilainya dala ajaran agama. Sehingga Nabi pun dalam banyak sabdanya menganjurkan hal itu. 20 Telah sepakat para ulama radhiyallahu anhum baik dari kalangan salaf dan khalaf, sahabat dan tabiin, dan orang-orang setelah mereka tentang anjuran dan kesunnahan meperindah suara dalam membaca Al Quran. Perkataan dan perbuatan mereka dalam hal

16

Al Imam Al Hafidz Al Mushannif Abu Dawud Sulaiman ibn Al Asyats Al Azdiy, Sunan Abu Dawud, ( Kitab Ash Shalah, bab: Istihbab At Tartil fi Al Qiraah), (Kairo: Dar Al Hadits, 1420 H/ 1999 M.) jilid II, hal. 637. 17 Ibid. 18 Al Imam Al Hafidz Abdullah ibn Abdirrahman Ad Darimi As Samarqindi, Sunan Ad Darimi, (Kitab: Fadhail Al Quran, bab: At Taghanni bi Al Quran), (Kairo: Dar Al Hadits, 1420 H/ 2000 M.), jilid 2, hal. 347. 18 Ibid, no. hadis 3501. 19 HR. Bukhari, no. 6.973 20 Muhsin Salim, Ilmu Nagham Al Quran, Jakarta: Yayasan Tadris Al Quran Pusat, 2008, hal. 9.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

49

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

ini telah banyak diketahui oleh banyak orang. Demikian pula sangat banyak dalil yang bersumber dari Nabi shallahu alaihi wasallam, seperti hadis Hiasilah Al Quran dengan kemerduan suaramu.21 Berkata Abdul Baqi: Maksud hadis ini adalah memperindah suara dalam membaca (Al Quran), karena sesungguhnya ucapan (kalimat) yang indah akan bertambah keindahannya dan semakin mempesona jika dibaca dengan suara yang indah22 Barra radhiyallahu anhu berkata Aku mendengar Rasulullah SAW dalam shalat isya membaca Wattini wazzaituun aku tidak pernah mendengar seseorang yang lebih bagus suaranya dari beliau.23. Para ulama rahimahumullah berkata : Disunnahkan membaguskan suara membaca Al Quran sesuai dengan ketentuannya, asal tidak keluar dari batas aturan panjangnya. Jika berlebihan sehingga menjadi bertambah satu huruf atau menghilangkan satu huruf maka hal itu yang diharamkan. Adapun membaca Al Quran dengan irama lagu, telah berkata Imam Syafii rahimahullah tentang hal ini: Jika berlebihan dalam memanjangkannya sehingga melebihi batas, inilah yang dimakruhkan, tetapi jika tidak melebihi batasnya maka tidak dimakruhkan. Qadhi Al Mawardhi berkata dalam kitabnya Al Hawii : Membaca Al Quran dengan irama yang dibuat sendiri, jika mengeluarkan lafadz Al Quran dari bentuk aslinya dengan memasukkan harakat baru padanya, mengurangi harakatnya, memanjangkan pendek dan memendekkan yang panjang, mengulur-ulur sehingga samar sebagian lafadznya atau menjadikan maknanya kabur, maka hal inilah yang haram dan menjadikan orang yag membacanya termasuk dalam golongan orang yang fasiq dan berdosa. 24 Hal ini karena dia telah merubah dari susunannya yang lurus kepada yang bengkok, pada hal Allah taala berfirman:

.
Artinya: (Inilah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertaqwa.25

21 22

Perawi lengkap dengan sanadnya sudah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya. Al Hafidz Abu Abdillah ibn Muhammad ibn Yazid Al Qazwiniy, Sunan Ibnu Majah, (Kitab: Iqamah Ash Shalah Wa As Sunnah fiiha, bab: Fii Husni Ash Shaut bi Al Quran), (Kairo: Dar Al Hadits, 1419 H./ 1998 M.), jilid 1, hal. 505. 23 HR. Bukhari dan Muslim. 24 Abu Zakariyah Yahya bin Syaraf bin Hazam An Nawawi, At Tibyan fii Adabil Hamlatil Quran (Penerjemah:Ali in Muhammad bin Abdul Aziz), Jakarta: Maktabul Ghazali, 2002, hal. 98-99. 25 Al Quran Surah Az Zumar: 28.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

50

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

Tetapi jika irama itu tidak menyebabkannya keluar dari lafadznya dan dari bacaan yang tartil, maka hal itu mubah (boleh), karena ia telah menjadika dengan iramanya semakin bagus bacaannya dan semakin enak didengar. Inilah penjelasan Qadhi Al Mawardi. 26 Imam Syafii juga berkata di dalam kitab Mukhtashar Al Muzanni: Usahakan membaguskan suaraya dengan caranya yang dia mampu, dan aku menyukai jika membacanya dengan agak cepat dan dengan suara yang sedih. Ahli Bahasa mengatakan Dikatakan aku mempercepat bacaan apabila melakukannya dengan tidak mengulurulurkannya, dan dikatakan dia membaca dengan sedih jika dia melembutkan suaranya.. Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah RA, bahwasanya dia membaca surah idzasy syamsu kuwwirat dengan suara yang menyedihkan hampir menyerupai ratapan duka cita. Dan dalam sunan Abu Dawud, dikatakan kepada Ibnu Abi Malikah: Bagaimana menurutmu jika orang itu tidak mempunyai suara yang bagus? Dia menjawab: Baguskanlah semampunya.27 Pada suatu ketika Rasulullah SAW menyuruh Ibnu Masud untuk membacakan Al Quran kepadanya. Maka Ibnu Masud pun bertanya Ya Rasulullah, bagaimanakah aku membacakan untukmu, padahal Al Quran diturunkan kepadamu? Beliau menjawab: Aku ingin mendengar dari orang lain. Ibnu Masud berkata: Maka aku pun membacakan surah An Nisa hingga sampai pada ayat, fakaifa idzaa jinaa ka alaa haaulaai syahiidaa Nabi bersabda: Cukup sampai di situ. Ketika aku menoleh ke arah Nabi SAW kulihat beliau bercucuran air mata.28 Demikian pula, suatu saat Rasulullah SAW mengatakan kepada Abu Musa bahwa semalam beliau mendengarkan bacaannya. Maka Abu Musa kaget, lalu berkata: Andaikan aku mengetahuinya, tentu aku akan membacanya lebih merdu lagi dari itu untukmu Ya Rasulullah. Dari dua riwayat di atas tampak bahwa betapa Rasulullah SAW menikmati bacaan orang lain. Beliau sangat khusu hingga larut hatinya dalam alunan Al Quran dan beliau sangat terharu, bahkan beliau menangis sampai bercucuran air mata, karena tergugah oleh Al Quran. Beliau sangat menikmati, meresapi dan menghati. Sungguh nikmat jika Al Quran dibaca dengan bersenandung. Apa lagi jika yang membacanya bersuara merdu, membuar hati rindu. Rangkaian kata Al Quran telah mampu melantakkan keangkuhan
26

Abu Zakariyah Yahya bin Syaraf bin Hazam An Nawawi, At Tibyan fii Adabil Hamlatil Quran (Penerjemah:Ali in Muhammad bin Abdul Aziz), Jakarta: Maktabul Ghazali, 2002, hal. 100. 27 Ibid, hal. 101. 28 Irfan Abdul Adzhim, Agar Bacaan Al Quran Anda Tidak Sia-sia, Solo: Pustaka Iltizam, 2009, hal. 110111.

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

51

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

orang-orang yang berjalan di muka bumi. Inilah beberapa keterangan dari rasulullah SAW betapa beliau sangat menyukai bacaan yang indah dan suara yang merdu di dalam membaca Al Quran. Dari uraian singkat ini, kami dapat menyimpulkan bahwa hukum membaca Al Quran dengan suara yang merdu dan indah atau melagukan Al Quran adalah sunnah berdasarkan beberapa hadis yang telah kami sajikan di atas. Adapun lafadz Zayyinuu yang berbentuk perintah di dalam hadis di atas, itu tidak menunjukkan wajib, tetapi sunnah. Jadi jika seseorang membaca Al Quran tanpa melagukan maka tidak berdosa. Adapun membacanya dengan tajwid yang benar adalah wajib berdasarkan ayat: Dan bacalah Al Quran dengan setartil-tartilnya. (QS. Al Muzzammil: 4)

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

***************Hasbunallah*****************

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

52

Hadis tentang Perintah Melagukan al-Quran

Daftar Pustaka

Adzim, Irfan Abdul. Agar Bacaan Al Quran Anda Tidak Sia-sia, Solo: Pustaka Iltizam, 2009. Al Khatib, Muhammad Ajaj. Ushul Al Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007. Al Shaiddiqiy, Teungku Muhammad Hasbih. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: An Nawawi, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hazam. At Tibyan Fii Aadabi Hamlatil Quran Digital, Maktabah Syamilah. Pustaka Rizki Putra, 2009. Salim, Muhsin. Ilmu Nagham Al Quran, Jakarta: Yayasan Tadris Al Quran Pusat, 2008. (Penerjemah: 2002. Ali bin Muhammad bin Abdul Aziz), Jakarta: Maktabah Ghazali,

Oleh : Muh. Saharuddin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

53

HADIS KEENAM

Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama OLEH


AL-FAUZI
(NPM: 10.31.0255)

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama


A. PENDAHULUAN

Segala puji dan syukur kita pulangkan kepada sang pencipta yaitu Allah Swt atas segala kenikmatan yang ia curah limpahkan kepada kita semua sehingga dengan nikmat itulah kita masih bisa duduk manis diruangan ini untuk manambah sedikit banyak wawasan ilmu mengenai Takhrij Hadis. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda rasullah Saw, keluarga nya, sahabatnya, dan ummatnya yang senantiasa berapa di jalan nya hingga hari kiamat kelak . Amin. Pada kesempatan yang mulia ini perkenankan kami untuk menyampaikan sebuah karya tulis tentang contoh Takhrij Hadis melaui metode Mujam dan digital (Maktabah Syamilah). Adapun dalam penelusuran kedua metode ini melalui pendekatan Mu'jam. hadis yang menjadi pembahsan kita ialah sebagai berikut:


Hadis di atas mengisyaratkan kepada kita kesunahan membaca al-Quran dengan berirama. Untuk lebih lanjut mengenai keotentikan dan keabshahannya, kami sebagai penulis semaksimal mungkin akan menyajikan penjelasannya di bawah ini.
B. HASIL PENULUSURAN (TAKHRIJ)

Penulusuran matan hadis diatas melalui al-Mujam al-Mufahras li alfazh al- Hadis alnabawi1 dan maktabah syamilah dapat disimpulkan dengan dua bentuk matan yang berbeda namun maknanya tetap sama kedua matan hadis itu ialah:

) )
Berdasarkan penelusuran al- Mujam al- Mufahras li Alfazh al-Hadis al-Nabawi, penulis menemukan pada tiga sumber, yaitu:2
.44 : .12 : ) )

.171 ,171 ,171 ,1 :)

Selanjutnya dalam penelusuran Maktabah Syamilah, kami menemukan juga dalam beberapa sumber lain serta mencakup juga sumber yang telah disebutkan diatas , secara detail sanad dan matan serta sumber- sumber hadis di atas dari berbagai kitab hadis dapat dilihat sebagai berikut:

Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A . J.Wensinck (W. 1939), karya ini menghimpun sembilan hadis yang termasyhur. 2 Al- Mujam al-Mufahras, juz. 5, h. 16

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

55

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama

() 1. Musnad Ahmad

) ( 2. Sunan Abi Daud

3 . 4 . 5 .

) ( 3. Shahih Bukhari

) (4. Sunan Baihaqi al- Kubra

: .

C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

) ( 1. Musnad Ahmad

Artinya: Tidaklah sempurna menjadi golongan kami yaitu orang yang tidak membaca al.Quran dengan berirama ) ( 2. Sunan Abi Daud

Artinya: seperti redaksi hadis sebelumnya ) ( 3. Shahih Bukhari

Artinya: Tidaklah sempurna menjadi golongan kami yaitu orang yang tidak membaca al.Quran dengan berirama
3 4

.604 .Imam Ahmad, Musnad Ahmad, juz.3. h ,) Abi Thayyib Muhammad Syamsul Haqqil Adhim, Aunul Mabud ( Bairut: Daarul Kutub al-Ilmiyyah .122 . juz. 3, h ,Bab 5 .674 .Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari. ( Daarul Fikri), juz. 15, h 6 ,Jilid ,Imam Baihaqi, Sunan al- Kubra , ( Bairut : Daarul Kutub al-Ilmiyyah ), Bab 883.10. h

| )Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta

65

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama

4. Baihaqi al-Qubra ()

. :
Artinya: Tidaklah tidaklah sempurna menjadi golongan kami yaitu orang yang tidak membaca al-Quran dengan berirama. Berdasarkan berbagai macam redaksi hadis di atas, maka kami menyimpulkan bahwa redaksi hadis tersebut tidak ada perbedaan yakni semua imam meriwayatkan dengan matan:

. :
D. SKEMA SANAD

Mukharrij hadis (Bukhari) - (Ahmad) (Abu Dad) - (Baihaqi)

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

57

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama


E. PENELITIAN (KRITIK) SANAD HADIS

Dari

keempat hadis di atas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis yang

diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dengan komposisi sanad; Saad bin Abi Waqqash, Ubaidillah bin Abi Nahik, Ibnu Abi Mulaikah, Saad bin Hasan al-Makhzumi, Waqi bin al-Jarrah.
a) Saad bin Abi Waqqash. ( w. 55 H. )

Nama lengkapnya adalah Saad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan julukan Abu Ishaq, Ia adalah salah seorang diantara sepuluh orang sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga, dan orang yang pertama dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat lebih dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun. Saad bin Abi Waqqash mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dalam peperangan itu ia bergabung dalam pasukan berkuda. Ia berasal dari bani Zuhrah seasal dengan ibu Nabi (Aminah). Khilafah Umar bin Khaththab mengangkatnya menjadi komandan pasukan yang dikirimkan untuk memerangi orang Persia dan berhasil mengalahkannya pada tahun 15 H di Qadisiyah. Setahun setelahnya 16 H di Julailak ia menaklukan Madain dan Bani al-Kuffa pada tahun 17 H. Saad bin Abi Waqqash adalah penguasa Irak dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab yang berlanjut pada masa pemerintahan Utsman bi Affan. Ia adalah seorang diantara enam sahabat orang yang dicalonkan menjadi Khalifah, sejak bencana besar atas terbunuhnya Utsman. Saad bin Abi Waqqash meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan Khaulah binti Hakim. Orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah Mujahid, Alqamah bin Qais as saib bin Yazid, Sanad paling shahih berpangkal darinya adalah yang diriwayatkan oleh Ali bin Husain bin Ali, dari Said bin al-Musayyab, darinya (Saad bin Abi Waqqash). Ia wafat pada tahu 55 H di Aqiq. 7 Mengingat posisi beliau sebagai seorang sahabat, para ulama sepakat bahwa beliau tidak perlu dikritik apalagi diragukan kredibilitasnya karena seluruh sahabat adalah adil.

Ibn Hajar Asqalani Thadzib at Thadzib, ( Daarul Kutub Ilmiyyah) jilid.3 h.483.

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

58

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama

b) Ubaidillah bin Abi Nahik Nama beliau sebenarnya adalah Abdurrahman bin Saib bin Abi Nahik al-Qursyi al-Makhzumi dan ada juga yang memanggil beliau dengan Ubaidillah bin Abi Nahik dan dengan Abdulla saja8. Beliau berada pada Thabaqat ke tiga dari masa pertengahan tabiin. Hanya imam abi Daud yang meriwayatkan hadis dari beliau. Imam ibnu Hajar berkata( member komentar) tentangnya: tsiqoh sebagai mana imam Nasai, dan begitu juga al-dzahabi yang mentsiqohkannya. c) Ibnu Abi Mulaikah Nama asli beliau ialah Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Mulaikah. Beliau berada pada thabaqat ketiga dari masa pertenghan tabiin dan wafat pada tahun 117 H. ada beberapa imam yang meriwayatkan hadis dari beliau diantaranya ialah: Imam Bukhari, Imam Tirmizi, Imam Muslim, Imam Nasai, Imam Abi Daud, dan Imam ibnu Majah mereka semua ialah imam kutub al-Sittah. Imam Ibnu Hajar memberikan komentar bahwa Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang yang tsiqoh dan faqih, tetapi imam al-dzahabi tidak memberikan komentar apa-apa ( menganggap baik), Abu Zurah dan Abu Hatim berkata bahwa beliau adalah tsiqah. 9
d) Said bin Hasan al- Makhzumi

Nama sebenarnya adalah said bin Hasan al-Qursyi al- Makhzumi al- Makki beliau adalah salah seorang yang hidup pada thabaqat ke 6 yaitu satu masa dengan shigharu al-Tabiin. Ada beberapa imam yang meriwayatkan hadis dari beliau diantaranya ialah: Imam Nasai, Imam Tirmizi, Imam Muslim dan Imam ibnu Majah. Beberapa ulama member komenter tentang derajat beliau: Menutut Ibnu Hajar beliau memiliki kedudukan yang shaduq dan menurut Al-Dzahabi bahwa Ibnu Main menstiqahkannya. 10 e) Wakie bin al-Jarrah (Wafat 197 H) Nama sebenarnya adalah Abu Sufyan Wakie bin al Jarrah bin Malikh bin Adiy, Ia dilahirkan pada tahun 127 H, Ia seorang ulama dari tabiit tabiin dan seorang hafidh ahli hadist yang besar, Imam dari ulama ulama Kufah dalam bidang hadist dan lainnya. Ia menerima hadits dari al-AMasy Hisyam bin Urwah, Abdullah bin Aun, Ats Tsaury, Ibnu Uyainah dan yang lainnya.

8 9

Ibid. jili.5 h.51. Ibnu Hajar asqalani Thahzib at Thahzib, ( Bairut: Libanun)juz.2. hal. 379. 10 Ibnu Hajar asqalani Thahzib at Thahzib, ( Bairut: Libanun )juz.2. hal.11.

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

59

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama

Para ulama hadits mengakui ketinggian ilmunya Waki dalam bidang hadits dan kuat hapalannya. Ahmad bin Hanbal berkata, Telah diceritakan kepadaku oleh orang yang belum pernah mata anda melihatnya yang seperlunya, yaitu Wakie ibn al-Jarrah. Ahmad berkata pula, Belum pernah saya melihat seorang ulama tentang hal ilmu, hapalan sanad adalah Wakie, dia menghapal hadist, mendalami fiqih dan ijtihad, dan dia tidak pernah mencela seseorang. Ibnu Main berkata, Belum pernah aku melihat orang yang meriwayatkan hadist semata mata karena Allah selain daripada Wakie. Ibnu Amar berkata, Tidak ada di Kufah orang yang lebih alim dari pada Waki dan lebih hapal, semasa dengan Al-Auzaiy. Ia wafat pada tahun 197 H.11
F. ANALISIS KETERSAMBUNGAN SANAD HADIS

a) Redaksi periwayatan ( shigat al-tahammul wa al- ada) Jika kita memperhatikan hadis yang kami teliti ini , ada dua cara periwatan hadis yang dipakai perawi; shighah al- tahdis dan shighah ananah. Kategori perawi yang menggunakan shighah al- tahdis dapat dipastikan bahwa sanadnya bersambung kepada

gurunya, bahkan harus bertemu dan bertatap muka langsung dengannya. Sedangkan bentuk redaksi perawi dengan menggunakan shighah ananah masih ada kemungkinan terjadinya tadlis, meskipun tidak selalu demikian. Dari sanad hadis tersebut di atas, dapat kita jumpai bahwa hanya mukarrij ( imam ahmad) gurunya Waqi dan gurunya Said bin Hasan al-Makhzumi saja yang menggunakan bentuk shighah ( haddatsana ), sedangkan empat rawi lainnya menggunakan shighah ananah dimana konsekuensinya ada kemungkinan terjadinya tadlis walaupun tidak selamanya demikian seperti yang telah dijelaskan diatas. b) Tahun wafat Berdasarkan data biografi rawi di atas, tidak dapat kita simpulkan ketersambungan sanad berdasarkan tahun wafat, karena ada beberapa perawi yang tidak disebutkan tahun lahir dan wafatnya. Namun keterambunag sanad dapat dibuktikan dengan cara yang ke tiga ini. c) Keterangan para ulama rijal mengenai terjadinya guru murid Berdasarkan keterangan para ulama rijal, seluruh rawi dalam sanad ini adalah bersambung dengan dasar terjadinya hubungan guru murid.

11

Ibn Hajar asqalani Tahdzib at Tahdzib 11/144.

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

60

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama


G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Setelah kita mengetahui biografi para perawi dan beserta komentar para ulama, maka kita dapat menyimpulkan bahwa hadis diatas adalah shahih isnad seperti komentarnya

:
H. KANDUNGAN HADIS

Didalam kitab tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa hadis diatas menunjukkan kepada kesunahan membaca Al-Qura dengan tartil dan memperindah suara tatkala membaca-nya. lalu bagaimana jika suaranya tidak bagus. Rasulullah pernah bersabda:


Maka hendaknya ia memperindah suaranya seindah mingkin atau semampunya. Tapi ada sebuah kelompok tapi tidak dijelaskan siapa nama kelompoknya yang memaknai kalimat laisa minna: yakni bukanlah dari golongan kaum muslimin dan ini merupakan ancaman bagi yang tidak melaksanakan perintah hadis di atas.
I. PENUTUP

Demikianlah kajian yang dapat kami sampaikan, walaupun masih banyak kekurangan yang kita temukan itu semua kami sadari karena kami hanyalah makhluk biasa yang tidak pernah luput dari kekurangan dan kesalahan untuk itu kritik dan saran saudara sangat kami harapkan.

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

61

Hadis tentang Perintah Membaca al-Quran dengan Berirama

Daftar Pustaka
Al- Mufahras, Mujam, li Al-Fadzi Al- Hadis Al-Nabawi Ibn Hajar Asqalani Thadzib at Thadzib, ( Daarul Kutub Ilmiyyah dan Bairut: Libanun) Imam Ahmad, Musnad Ahmad. Abi Thayyib Muhammad Syamsul Haqqil Adhim, Aunul Mabud . ( Daarul Kutub Al-Ilmiyyah Bairut; 2007 ) Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari. ( Daar Al-Fikri; 1995) Imam Baihaqi, Sunan Al- Kubra , ( Daarul Kutub Al-Ilmiyyah Bairut; 2010)

Oleh : Al-Fauzi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

62

HADIS KETUJUH

Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil OLEH


FATHU ROZI
(NPM: 10.31.0261)

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil


A. PENDAHULUAN

Puji syukur kehadirat Allah karena dengan nikmatnya penulis bisa mencoba untuk mentakhrij sebuah hadis dengan tujuan untuk memeberikan penjelasan mengenai kualitas sanad dan kehujjahannya bagi kita semua, meskipun penulis menyadari masih banyak kekurangan didalamnya.
B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Penelusuran matan hadis dengan menggunakan metode al-Mujam al-Mufahras li alfazh al-Hadits al-Nabawy1 dan al-maktabah al-syamilah dapat disimpulkan dengan empat bentuk matan. Empat matan itu adalah:

. . . .
C. PERBANDINGAN SANAD DAN MATAN

Berikut ini kita akan melihat secara detail perbandingan sanad dan matan hadis dari beberapa kitab hadis sebagai berikut:

2 3 ) ) (

) (

Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur. 2 Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-ihya at turast al-arabi), Bab , Juz 5, Hal. 177, 3 Abu dawud, Sunan abu Daud (Beirut : Dar al-kitab al-arabi, Bab , Juz 1, Hal. 547,)

Oleh : Fathu Rozi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

64

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil

) ( )

5
D. SKEMA SANAD

4 5

).291 al-kutub, juz 2 HalImam Ahmad, Musnad ahmad (Mesir : Dar ),22 . , Juz 5 Hal Imam NasaI, Sunan an-Nasai (Beirut : : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, Bab

| )Oleh : Fathu Rozi (Mahasiswa PTIQ Jakarta

56

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil


E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI

Abdullah bin Amr bin Al-Ash Beliau adalah seorang dari Abdillah yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah Shallahllahu alaihi Wassalam. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 700 hadits, sesudah minta izin Nabi Shallahu alaihi Wassalam untuk menulis, ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata Tak ada seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash. Karena ia mencatat sedangkan aku tidak. Abdullah bin Amr meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab, as-Saib bin Yazid, Saad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah. Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syuaib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah. Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 H. Pada malam pengepungan Al-Fusthath. Zirin Nama lengkapnya adalah Zirin bin Habasyah bin Uwais bin Bilal. Beliau termasuk dalam thabaqat ke-2 ( ( beliau wafat pada tahun 81 H. Beliau meriwayatkan hadis dari Ubai bin Kaab, Abdullah bin Masud, Abdullah bin Amr Al-Ash dan lain-lain. Adapun yang meriwayatkan hadis dari beliau antara lain ialah Zubaid Al-Yami, Talhah bin Musraf, Ashim bin Bahdalah dan yang lain. Berikut pendapat para ulama terhadap Zirrin: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan

Ashim bin Abu Nujud Nama lengkap beliau adalah Ashim bin Bahdalah al-Asdi, al-Kufi. Beliau termasuk thabaqat ke-6 ( .( Beliau wafat pada tahun 128 H. Beliau meriwayatkan hadis dari Ziyad bin Qais Al-Madani, Abi Wail Syaqiq bin Salmah, Zirin bin Habasyah Al-Asdy dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau ialah Haris bin Nubhan, Hamad bin Salmah, Abu Abdillah Sufyan bin Said bin Masruq al Kufi dan lain sebagainya.
Oleh : Fathu Rozi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

66

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil

Dan berikut pendapat para ulama terhadap Ashim bin abu Nujud: No 1 Kritikus Ibnu Hajar Jarh Tadil 2 Az-Zahabi : Sufyan Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Sufyan bin Said bin Masruq al Kufi, ia seorang Al-hafidh Adl Dlabith (Penghapal yang cermat). Ia lahir di Kufah pada tahun 97 H. Ayahnya Said salah seorang ulama Kufah, Ia cermat dalam periwayatan hadis sehingga Syubah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Main menjulukinya Amirul Muminin fi al-Hadits, gelar yang sama disandang oleh Malik bin Anas. Beliau meriwayatkan hadis dari Ibrahim bin Uqbah, Ibrahim bin Muhajir, Hakim bin Jabir, Ashim bin Bahdalah dan lain- lain. Sedangkan yang meriwayatkan hadis dari beliau ialah Aburahman AuzaI, Abdurahman bin Mahdi, Abban bin Abdullah al-Ahmasi. Adapun orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Ali bin al-Jad. Beliau wafat di Basrah pada tahun 161 H. Beliau termasuk thabaqat ke-7 ( ) dan berikut pendapat para ulama terhadap Sufyan: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan Keterangan -

Abdurrahman Nama lengkapnya adalah Abu Said Abdurahman ibn Mahdy bin Hasan bin Abdurahman al-Ambari al-Bashry, Ia dilahirkan pada tahun 135 H, Seorang imam hadis yang menjadi peganggan umat di masanya. Ia menerima hadits dari Khalid bin Dinar, Malik bin Makhul, Malik bin anas, Sufyan ats Tsaury, Sufyan bin Uyainah dan dari yang lainnya. Diantara yang menerima hadis darinya adalah Ibnu Wahab, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Main, Ibnu Madiny, Ishaq bin Rahawaih, Abu Ubaid al Qasim, Ibn Salam dan lainnya. Beliau termasuk thabaqat ke-9 ( ) beliau wafat di Basrah pada tahun 198 H. Dan berikut pendapat Ulama tentang Abdurrahman:
Oleh : Fathu Rozi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

67

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil

No 1 2

Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi

Jarh

Tadil

Keterangan

Ahmad bin Hanbal Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H. Dan beliau wafat pada tahun 241 H. Guru-guru beliau di antaranya adalah Ibrahim bin Said, Hasyim bin Yasyir, Ibad bin Ibad al-Mulhiby, Abu Muawiyah, Hafsh bin Ghiyats. Sedangkan murid-murid beliau di antaranya adalah Bukhari, Ahmad bin Hasan, Muslim, Abu Daud, Hanbal bin ishaq, Yahya bin Muin, dan lain-lain. Komentar para ulama ahli hadis tentang Ahmad adalah: No 1 2 3 4 5 Kritikus Ibnu Sad berkata Al-Ijly Ibnu Hibban An-Nasai Abu Zurah ar-Razi Jarh Tadil Keterangan

F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan terhadap sanad-sanad hadis yang sedang penulis teliti, maka dapat dianalisis bahwa sanad hadis tersebut bersambung karena antara guru-murid saling bertemu dengan redaksi tahammul ada memakai metode as-sama.
G. HUKUM SANAD HADIS

Setelah mempertimbangkan sanad hadis yang bersambung maka dapat dipastikan secara jelas bahwa kualitas hadis ini shahih secara sanad berdasarkan riwayat dari Ahmad bin Hanbal. Namun menurut Imam Nawawi dalam kitab Riyadlus Shalihin, hadis ini kualitasnya adalah Hasan Shahih sebagaimana ia kutip perkataan At-Tirmidzi.
H. FIQHUL HADIS

Hadis diatas bisa dijadikan hujjah untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, hadis ini menginformasikan pada kita, bahwa orang yang membaca al-Quran kedudukannya kelak di surga sesuai dengan banyaknya ayat atau akhir ayat yang ia baca.
Oleh : Fathu Rozi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

68

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dengan Tartil


I. KANDUNGAN HADIS

Hadis diatas bisa dijadikan hujjah untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, hadis ini menginformasikan pada kita, bahwa orang yang membaca al-Quran kedudukannya kelak di surga sesuai dengan banyaknya ayat atau akhir ayat yang ia baca Membaca al-Quran adalah merupkan ibadah yang sangat mulia, sehingga tidak heran banyak kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan berlomba-lomba membaca al-Quran karena mereka mengetahui keistimewaan atau kedudukannya kelak di akhirat bagi para pembacanya. Dismping itu al-Quran juga merupakan kitab yang sangat mulia sehingga dengannya kita bisa mendapatkan petunjuk ataupun ketenangan jika kita banyak

membacanya dan merenungkannya. Hal ini tidak bisa dijumpai di kiab manapun yang pernah ada sebelumnya.
J. PENUTUP

Demikianlah hasil laporan penelusuran takhrij hadis yang telah kami teliti mengenai hadis yang berbunyi bacalah al-Quran dan naiklah kamu kesurga sebagaimana kamu baca di dunia karena kedudukanmu di akhirat sesuai banyaknya ayat yang telah kamu baca. Dan kami menyadari bahwa hasil laporan ini pastilah tidak luput dari kesalahan yag terdapat didalmnya kurang lebihnya kami pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya karena ada sebuah pepatah yang berbunyi Tidak ada gading yang tak retak. Semoga hasil penelusuran takhrij hadis ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

----) ------)

Oleh : Fathu Rozi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

69

HADIS KEDELAPAN

Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya OLEH


MUH. MASRUR
(NPM: 10.31.0271)

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhanturkan kepada Zat yang Mahakuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para Rasul-Rasulnya sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk

kehidupan dunia dan akhirat. Slawat dan salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat. Amin. Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendirinya atas selesai karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis dan metode Digital (Maktabah as-Syamilah). Adapun dalam penelusuran metode ini melalui pendekatan mujam. Hadis yang

menjadi subjek pembahasan dalam makalah berikut:

ini dapat dilihat dengan matan sebagai


Hadis diatas mengabarkan tentang orang yang membaca Alquran dan keutamaannya. Untuk lebih lanjut mengenai keotentikan atau keabsahannya, penulisan semaksimal mungkin menyajikan penjelasannya dibawah ini.
B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Selanjutnya dalam penelusuran maktabah syamilah, kami menemukan pada beberapa sumber. Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis dapat dilihat sebagai berikut: 1) Sunan at-Tirmidzi ()

: : : 1 ) (
2) Sunan IbnuMajah

:
1

Sunan Tirmidhi .Bab ma jaa fi fadli qoriil quran juz 10 no145

Oleh : Muh. Masrur (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

71

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya

: 2 . ( )
)( 3) Syabu al-Iman

: : : " 3 ". ( )

4) Mujam al-Aushat at-Tabrani

5) Musnad Ahmad

: : 5 .

2 3

.Kitab ibnu majah bab fadilah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkanya 923.Sukbatul iman. Imam baihaki. Bab. Fi talimil quran. Juz2. No 4 712Mujam ausat.abu qosim sulaiman bin ahmad at-tabrani bab. Min ismihi Muhammad. Juz 5 no 5 902.Musnad ahmad. Imam ahmad bin hanbal. Bab. Wa min musnad Ali bin Abi tolib RA. Juz 3. No

| )Oleh : Muh. Masrur (Mahasiswa PTIQ Jakarta

27

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya


.C PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

)( 1) Sunan at-Tirmidzi

.
2) Sunan Ibnu Majah

.
)( 3) Syabu al-Iman


. 4) Mujam al-Aushat at-Tabrani

.
5) Musnad Ahmad

| )Oleh : Muh. Masrur (Mahasiswa PTIQ Jakarta

37

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya


.D SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran diatas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut

| )Oleh : Muh. Masrur (Mahasiswa PTIQ Jakarta

47

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya


E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Dari keempat hadis tersebut diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam al-Tirmidzidengan komposisi sanad,Ali bin Abi tolib, Asim bin Dhomiroh, Katsir :bin Zadan, Hafs bin Sulaiman,dan Ali bin Hujrin. Penjelasannya sebagai berikut
1) Ali bin Abi Tholib

: ( ) : 1 : : 40 : ( - - - - - )

: ( : ) : ( : )
2) Asim bin Dhomiroh

: ( : ) 3 : : 174 : ( - - - )
3) Katsir bin Zadan

: : ( ) : 7 : : ( - )

: :
4) Hafs bin Sulaiman

( )

57

: 90

: 8 :
| )Oleh : Muh. Masrur (Mahasiswa PTIQ Jakarta

Hadis tentang Fadhilah Membaca al-Quran dan Menghayatinya

: 984 ) : ( - -

: : :
5) Ali bin Hijr bin Iyas

: ( : 9 : : 004 ) : ( - - -

: : :
F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Tinjauan Penulis terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa ada satu sanad yang majhul menurut ibnu hajar ( Kasir bin Zadan ) sehingga kredibilitasnya tidak dapat dapat diketahui yang mengakibatkan sanad hadis menjadi tertolak. Disamping itu, ada juga riwayat yang dihukumi dhaif oleh para ulama hadis yaitu (Hafs bin Sulaiman), sehingga tinjauan sanadnya secara keseluruhan tertolak karena adanya rawi yang Majhul dan dhoif G . KESIMPULAN Dari uraian sanad hadis di atas, kami menyimpulkan bahwa hadis ini tidak boleh di gunakan hujah dalam masalah akidah dan syari karena hadis ini termasuk dalam kategori hadis dhoif disebabkan ada perawi yang majhul dan tertolak periwayatanya. Tetapi masih bisa di amalkan dalam fadhoilul amal karena tidak tergolong hadis yang sangat dhaif. Wallahu Alam bi Ash-Showab !!!

Oleh : Muh. Masrur (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

76

HADIS KESEMBILAN

Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran OLEH


MUH. ZAKY FATHONY (NPM: 10.31.0270)

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran


A. PENDAHULUAN

Untuk melakukan takhrij hadis, tentunya kita membutuhkan hadis-hadis yang akan kita takhrij. Dalam mencari dan menelusuri hadis yang akan kami takhrij berikut ini, disini kami menggunakan dua metode manual takhrij yang kami pahami, yaitu: Metode pencarian dan penelusuran dalam Mujam Metode Maudui dalam beberapa kitab Sunan Setelah kami temukan beberapa hadis yang kami cari, kemuadian kami melakukan pen-takhrij-an hadis dan anlisis sanad yang kami uraikan pada poin selanjutnya.
B. HASIL PENELUSURAN HADIS BESERTA PERBANDINGAN MATANNYA

Adapun beberapa hadis nabi yang kami temukan menggunakan dua metode di atas yaitu antara lain berikut dengan perbandingan matannya: Dalam Sunan Ibnu Majah:

1 . :
Dalam Sunan ad-Darimi:

: 2 .
Dalam Sunan Abu Daud:

: :( ) :( 3 . ) : :
Dalam Musnad Ahmad bin Hambal:

) : 4
1

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Juz I, Kitab mendirikan Shalat dan Sunnah-sunnahnya, Bab 178, No Hadis 1347, hal. 508 2 Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, Juz II, Kitab Fadhailil Quran, Bab 33, hal. 344 3 Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz II, Kitab Shalat, Bab 325, No Hadis.1390, hal. 603 4 Musnad Ahmad bin Hambal, juz II, hal. 164

Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

78

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran

) :
5

6 ) :
7

)
8

Demikianlah beberapa hadis yang kami temukan dari hasil penelusuran, kemudian kita bisa membandingkan perbedaan matan-matan hadis tersebut dan bisa kita temukan .banyak sekali perbedaan

5 6

.561.Musnad Ahmad bin Hambal, juz II, hal .981 .Ibid, hal 7 .391.Ibid, hal 8 .591.Ibid, hal

| )Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta

97

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran


C. SKEMA SANAD

Berdasarkan beberapa sumber hadis di atas, skema sanadnya dapat dilihat sebagai :berikut

Mukharrij Hadis Imam Ahmad Imam Abu Daud Imam Ibnu Majah Imam Darimy

| )Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta

08

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran


D. ANALISIS PARA PERIWAYAT

Disini kami meneliti sanad dari periwatan Ibnu Majah: a) Abdullah bin Amru bin al-Ash bin Wail9 Beliau dari kalangan Sahabat. Nama kunyah beliau adalah Abu Muhammad, beliau lahir di kota Maru dan wafat pada tahun 63H. Banyak meriwayatkan hadis langsung dari Nabi saw, Abu Bakar, Umar, Abdurrahman bin Auf, Muaz bin Jabal, Abi Darda, dll. Dan adapun yang meriwayatkan hadis dari beliau antara lain: Anas bin Malik, Abu Umamah bin Sahal bin Hanif, Abdullah bin Haris bin Naufal, dll. Beberapa komentar ulama terhadap beliau antaralain: Adz Zahabi: Abdullah bin Amru adalah Sahabat, Ibn hajar alAtsqalani: Sahabat. b) Yazid bin Abdullah bin Syikhkhir10 Beliau dari kalangan Tabiin kalangan tua. Nama kunyah beliau adalah Abu al-Alaa, tinggal di kota Bashrah dan wafat pada tahun 108H. Yazid bin Abdullah bin Syikhkhir banyak meriwayatkan hadis dari ayahnya, saudaranya, Abdullah bin Utsman bin Abi alAsh as-Saqafi, dll. Beberapa komentar ulama terhadap beliau antara lain: Al-Ajli: mengatakan bahwa Yazid bin Abdullah bin Syikhkhir tsiqah, An nasai: tsiqah, Ibn Hajar al Asqalani: tsiqah, Ibn Hibban: disebutkan dalam ats tsiqaat, ibn Sad: tsiqah. c) Qatadah bin Daamah bin Qatadah11 Beliau dari kalangan tabiin kalangan biasa. Nama kunyah beliau adalah al Khatthab. Dimasa hidupnya beliau tinggal di kota Bashrah dan wafat pada tahun 177H. adapun komentar beberapa ulama yang mengomentari beliau antara lain: Adz Zahabi: mengatakan bahwa Qatadah bin Daamah bin Qatadah Adalah seorang yang hafiz, ibn Hajar al Atsqalani: tsiqah tsabat, Muhammad bin Saad: tsiqah mamun, Yahya bin Main: tsiqah. d) Syubah bin al Hajjaj bin al Warad12 Beliau dari ari kalangan tabiut tabiin kalangan tua. Nama kunyah beliau adalah Abu Bistham. Semasa hidup beliau tinggal di Bashrah dan wafat pada tahun 160H. beberapa ulama yang mengontari beliau antara lain: Abu daud: tidak ada seorangpun yang lebih baik hadisnya, adz Zahabi: tsabat hujjah, al Ajli: tsiqah tsabat, ats Sauri: amirul mukminin filhadis, ibn Hajar al Atsqalani: tsiqah hafidz, Abu Sad: tsiqah mamun.

Tahzibuttahzib, (____:Ahyaitturasilarabi, 1991), juz III, hal. 218 Ibid, juz VI, hal. 210 11 Ibid, juz IV, hal. 540 12 Ibid, juz II, hal. 498
10

Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

81

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran

e) Muhammad bin Jafar13 Beliau dari kalangan tabiut tabiin kalangan biasa. Nama kunyah beliau adalah Abu Abdullah, semasa hidupnya beliau juga tinggal di Bashrah, dan wafat pada tahun 193H. salah satu guru beliau adalah Syubah, dan beliau berguru dengannya selama kurang lebih 20 tahun. Komentar ulama terhadap beliau antara lain: Abul Fatah al Azdi: shaduq, al Ajli: tsiqah, ibn Hibban: disebutkan dalam ats tsiqaat, Muhammad bin Sad; tsiqah. f) Muhammad bin Basysyar bin Utsman14 Beliau dari kalangan tabiul atba kalangan tua. Nama kunyah beliau adalah Abu Bakar. Beliaupun semasa hidupnya tinggal di Bashrah, dan wafat pada tahun 252H. beberapa komentar ulama terhadap beliau antara lain: Abu Hatim: shaduq, adz Zahabi: hafidz, an Nasai: la basa bih, ibn Hajar al Atsqalani: stiqah, ibn Hibban: disebutkan dalam ats Tsiqaat. g) Imam ibn Majah15 Nama asli beliau adalah Muhammad bin Yazid bin Maajah al Qazwana. Sedangkan nama familiar beliau adalah ibn Majah (yaitu laqab bapaknya bukan nama kakek beliau). Nama kunyah Abu Abdullah. Qazwana adalah nama yang terkenal di Iraq, beliau menuturkan bahwa beliau lahir pada tahun 209 H, namun tempat lahir beliau tidak ada keterangan yang pasti. Akan tetapi masa pertumbuhan beliau di Qazwin maka bisa jadi beliau dilahirkan di sana. Beliau wafat pada tahun 273 H. Beberapa Persaksian ulama terhadap beliau antara lain: Al Hafidz al Khalili: bahwa beliau adalah orang yang tsiqah kabir, muttafaq alaih, dapat dijadikan hujjah, memiliki pengetahuan dalam masalah hadis dan kuat hafalannya. Al Hafidz az Zahabi mengomentari bahwa ibn Majah adalah seorang hafiz yang agung, hujjah dan ahli tafsir.
E. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD YANG DITELITI

Dari rangkaian sanad yang diteliti, maka dapat dilihat kehujjahan semua perawi hadis dalam rangkaian sanad tersebut. Dan sanad hadis ini pun dapat diterima. Dan di dalam keterangan hadis dalam Sunan Abu Daud hadis ini dianggap sebagai hadis Shahih, dan di dalam keterangan yang sama disebutkan seorang ulama yang bernama Abu Isa mengatakan bahwa hadis tersebut adalah hadis hasan shahih. 16 Sedangkan ad-Darimi pun mengatakan dalam sunannya bahwa hadis tersebut adalah hadis Shahih. 17
13 14

Ibid, juz V, hal. 64 Op Cit, juz V, hal. 47 15 Ibid, juz V, hal. 339 16 Abu Daud, Loc Cit, Juz II, Kitab Shalat, Bab 325, No Hadis. 1390, hal. 603 17 Ad-Darimi, Loc Cit, Juz II, Kitab Fadhailil Quran, Bab 33, hal. 344

Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

82

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran


F. KANDUNGAN HADIS

Arti matan hadis yang diambil dari riwayat ibn Majah: tidak akan memahami orang yang membaca al Quran kurang dari tiga hari Kandungan hadis ini adalah larangan untuk tergesa-gesa dalam membaca al Quran karena membaca al Quran haruslah juga disertai dengan memahami dan mentadabburinya. Oleh karena itu menghatamkan al Quran kurang dari dua hari berarti tidak dapat memahami isi dan kandungannya. Selain itu dalam hadis yang sama dari periwayatan Abu Daud menjelaskan tentang etika dan tempo yang baik untuk menghatamkan al-Quran. Dalam hadits tersebut terdapat perintah Nabi saw agar mengkhatamkan Al Quran paling lambat dalam sebulan dan paling cepat 3 hari. Ada hadits-hadits lain yang memerintahkan agar mengkhatamkan dalam 7 hari, ada pula dalam 10 hari. Ada hadits dari Aisyah ra yang menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak mengkhatamkan Al Quran kurang dari 3 hari (riwayat Abu Dawud dan At Turmudzi). Tiga hari inilah periode mengkhatamkan Al Quran yang dipilih oleh Imam Ahmad, Abi Ubaid, dan Ishaq bin Rahawaih. Adapun Imam Nawawi berpendapat bahwa periode mengkhatamkan Al Quran itu tergantung kondisi masing-masing orang. Apabila orang tersebut memiliki kemampuan merenungkan Al Quran secara mendalam, maka sebaiknya ia mengkhatamkan Al Quran dalam kadar yang tidak mengurangi perenungannya. Atau apabila ia sibuk dengan urusan ilmu untuk kepentingan umat Islam secara umum, maka sebaiknya ia mengkhatamkan Al Quran dengan kadar yang tidak mengurangi kinerjanya itu. Adapun orang yang tidak demikian, maka sebaiknya ia memperbanyak mengkhatamkan Al Quran selama tidak sampai menjadi malas dan tidak sampai membaca dengan kecepatan yang berlebihan. Meskipun yang di anggap ibadah dari al-Quran adalah membacanya, karna di dalam al-Quran dijelaskan bahwa Allah akan memberi pahala dari setiap huruf al-Quran yang dibaca oleh hamba-Nya, namun memahami isi al-Quran itu juga lebih utama karna dengan memahami al-Quran kita akan mendapat hidayah dan ilmu-ilmu yang sangat banyak. Selain itu beberapa yang dijadikan prtimbangan penting dilarangnya membaca alQuran dengan tergesa-gesa antara lain untuk menjaga tajwid dan makharijul huruf agar tetap benar. Kalau kita pikirkan secara logis, memang penting sekali mengucapkan huruf-huruf Al Quran dengan tepat dan membacanya sesuai dengan hukum tajwid agar tidak terjadi perubahan kata yang dibaca yang mengakibatkan cacat arti. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, pengucapan huruf "r" pada kata "rupa" harus tepat. Kalau tidak, bisa menjadi
Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

83

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran

kata yang lain, misalnya "lupa" atau "dupa". Demikian pula dalam bahasa Arab Al Quran. Sebagai contoh, dalam Surat Al Fatihah terdapat kata ( baca : an'amta) yang artinya : Engkau telah memberi nikmat. Berbeda sekali dengan ( baca : an'amtu), yang artinya Aku telah memberi nikmat. Apabila kesalahan semacam ini tidak disengaja, tentu tidak masalah. Tapi apabila sesorang sengaja melakukannya, atau sengaja membiarkan kesalahannya padahal ia mampu memperbaiki, tentu ia berdosa. Karena itu, apabila kita merasa belum bisa membaca huruf Al Quran dengan baik, sebaiknya kita segera belajar dengan maksimal agar kita dapat terhindar dari kesalahan dalam membaca Al Quran. Begitu pula agar kita membaca al-Quran dan mengkhatamkannya dengan tidak tergesagesa.18
G. PENUTUP

Demikianlah hasil laporan takhrij hadis yang telah kami susun di sini, semoga bermanfaat dan menjadi bahan yang perlu untuk dipertimbangkan dan ditindak lanjuti, karna sudah tentu semua yang tertulis di sini penuh dengan kekurangan dan kehilapan dari penulis yang mungkin tanpa disadari.

Wallahu Alam bi Ash-Showab !!!

18

http://kammi-jepang.org/index.php?option=com_content&view=article&id

Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

84

Hadis tentang Larangan Tergesa-gesa dalam Membaca al-Quran

Daftar Pustaka

Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz II, Darul Hadis, 1999 Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, Juz II, Darul Hadis, 2000 Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Juz I, (Darul HAdis, 1998) Musnad Ahmad bin Hambal Tahzibuttahzib, (Ahyaitturasilarabi, 1991) http://kammi-jepang.org/index.php?option=com_content&view=article&id

Oleh : Muh. Zaky Fathony (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

85

HADIS KESEPULUH

Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik OLEH


SAOFI AHMADI
(NPM: 10.31.0279)

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik


A. PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah. Kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan serta .perlindungan kepadaNya dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kami Kemudian semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi kita Nabi .Muhammad saw, para keluarga, para sahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman kelak : Pada makalah ini penulis mencoba mentakhrij sebuah hadits Nabi saw., yaitu


Adapun metode yang penulis gunakan disini adalah metode Mujam dan digital .(Maktabah Syamilah). Semoga makalah yang kami sajikan ini bermanfaat. Amiin
)B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ

.Setelah kami meneliti hadits tersebut, kami menemukannya di beberapa kitab : Diantaranya terdapat dalam ) ( 1. Musnad Ahmad bin Hambal

.
) ( 2. Imam Al-Baihaqi


) ( 3. Imam Ath-Thabrani

: .


) ( 4. Ibnu Abi Syaibah

.
| )Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta

78

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik


C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

Dari penelusuran di atas kami mendapati sedikit perbedaan matan, yakni ada perbedaan di dalam Musnad Ahmad yang menggunakan sedangkan di dalam riwayat Imam Baihaqi, At-Thabrani, Ibnu Abi Syaibah tidak menggunakan lebih jelasnya dapat dilihat dibawah ini: 1) Musnad Ahmad bin Hambal (

2) Imam Al-Baihaqi ()


3) Imam Ath-Thabrani ()


4) Ibnu Abi Syaibah ()

Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

88

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik


D. SKEMA SANAD

:Skema sanad dari keempat hadis di atas dapat dulihat sebagai berikut

: Mukharrij Hadis
Imam Ahmad Imam Ibnu Abu Syaibah Imam al-Baihaqi Imam at-Thabrani

| )Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta

98

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik


E. BIOGRAFI RAWI HADIS YANG DITELITI

Dari keempat hadits tersebut di atas, yang kami teliti sanad/perawinya adalah hadits riwayat Imam Ahmad Ibnu Hambal dengan perinciaan sanad Abdullah bin AMr bin Ash, Abdurrahman bin Jubair, Darraj, Ibnu Lahiah, Hasan. Berikut uraian penjelaqsannya masing-masing dari sanad tersebut: Abdullah bin Amru bin Ash Dia adalah seorang dari Abadilah yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah Shallahllahu alaihi Wassalam. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 700 hadits, Sesudah minta izin Nabi Shallahu alaihi Wassalam untuk menulis, ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata Tak ada seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash. Karena ia mencatat sedangkan aku tidak. Abdullah bin Amr meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab, as-Saib bin Yazid, Saad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah. Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syuaib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah. Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 H pada malam pengepungan Al-Fusthath. Abdurrahman bin Jabir Nama lengkap beliau adalah Jabir bin Nafir bin Malik bin Amir Al-Hadhrami. Beliau termasuk thabaqat ke dua ( ,) beliau wafat pada tahun 80 Hijriah. Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Bukhari, Muslim, Abu Daud dll. Diantara guru-guru beliau adalah Basyar bin Juhasy, Tsauban maula Rasulullah saw, Khalid bin Walid dll. Kemudian murid-murid beliau yaitu Tsabit bin Said Ath-ThaI, AlHarits bin Yazid al-Hadhrami al-Mishri, Habib bin Ubaid dll. No. 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adz-Dzahabi Jarh Tadil Keterangan Hadits yang bersumber dari Abdurrahman bin Jabir dapat diterima.

Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

90

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik

Darraj Nama lengkap beliau adalah Darraj bin Saman. Dikatakan juga nama asli beliau adalah Abdurrahman dan Darraj itu adalah laqab. Beliau termasuk thabaqat ke empat ( ) dan wafat pada tahun 126 Hijriah. Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Adapun guru-guru beliau adalah Abi Qabil hayyi bin Hani Al-Maafiri, As-Saib, Abi Al-Haitsam dll. Dan muridmurid beliau diantaranya Hayah bin Syarih, Khallad bin Sulaiman Al-Hadhramy, Salim bin Ghailan At-Tajibi dll. No. 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Adz-Dzahabi Jarh Tadil Keterangan Hadits yang bersumber dari Darraj dapat diterima.

Ibnu Lahiah Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Lahiah bin Uqbah Al-Hadhrami AlAduli. Beliau termasuk thabaqat ke 7 ( ) dan wafat pada tahun 174 Hijriah. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Diantara guru-guru beliau adalah Ahmad ibn Khazim al-Maafiry, Bakr bin Suadah al-Jadzami dll. Adapun murid beliau diantaranya Asad bin Musa, Asyhab bin Abdul Aziz dll. No. 1 Kritikus Ibnu Hajar Jarh Tadil Keterangan Sekalipun Adz-Zahabi mengatakan dhafun akan tetapi Ibnu Hajar dan 2 Adz-Dzahabi beberapa ulama mentadilkan beliau, jadi haditsnya diterima. Hasan Nama lengkap beliau adalah beliau termasuk thabaqat ke sebelas ( ) wafat pada tahun 250 Hijriah. Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Bukhari dan at-Tirmidzi. Diantara guru-guru beliau adalah Imam Ahmad Ibnu Hanbal, Adam bin Abi Iyas al-Atsqalany, Al-Aswad bin Amir dll. Kemudian murid-murid beliau yaitu Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ibrahim bin Abi Thalib An-Naisaburi. Dikatakan bahwa Hasan adalah sahabat dekat Imam Ahmad.

Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

91

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik

No. 1. 2.

Kritikus Ibnu Hajar Adz-Dzahabi

Jarh -

Tadil

Keterangan Hadits yang bersumber dari Hasan dapat diterima.

Ahmad Ibnu Hanbal Ahmad ibn Hanbal adalah Abu Abdullah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad asy-Syaibany al-Marwazy, berasal dari Maru, lahir di Baghdad pada bulan Rabiul awal tahun 163 H. dan meninggal pada bulan Rabiul awal tahun 241 H. Beliau mula-mula belajar di Baghdad kemudian melawat ke berbagai kota untuk mencari hadits. Beliau meriwayatkan hadits dari Basyar ibn al-Mufadhdhal, Ismail ibn Ulaiyah, Sufyan ibn Uyainah, Yahya ibn Said al-Qaththan, Abu Daud ath-Thayalisy, AsSyafiI, Mutamir ibn Sulaiman, dan lain-lain. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh tokohtokoh besar dalam ilmu hadits, di antaranya al-Bukhary, Muslim, Abu Daud, Ibnu Mahdy, Asy-SyafiI, Abul Walid, Abdurrazaq, Waqi, Yahya Ibnu Main, Ali Ibn Al-Madiny, dan Al-Husain Ibn Al-Manshur. Perawi-perawi hadits beliau ada yang menjadi guru-gurunya, teman sejawatnya dan muridnya. Ibnu Main berkata : saya tidak pernah melihat orang yang lebih cakap dari Ahmad dalam bidang Arabiyah. Abrurrazzaq berkata, saya tidak pernah melihat orang yang lebih ahli dalam bidang fiqih daripada Ahmad dan tidak ada orang yang lebih wara As-SyafiI berkata, saya keluar dari kota Baghdad dan saya tidak meninggalkan disitu orang yang lebih ahli dalam bidang fiqih, lebih zahid, lebih wara daripada Ahmad ibn Hanbal. Beliau adalah salah seorang ulama yang mengetahui benar-benar madzhab sahabat-sahabt dan tabiin. Qutaibah berkata Ahmad adalah imam di dunia ini. Beliau telah menyusun sebuah musnad, yang di dalamnya terkumpul hadits-hadits yang tidak diketemukan oleh orang lain. Musnad ini berisi 40.000 buah hadits. Beliau mempunyai dua orang anak yang terkenal dalam bidang hadits, yaitu Shalih dan Abdullah yang lebih banyak menerima hadits daripada ayahnya dan memasukkan sejumlah hadits ke dalam kitab musnad ayanya itu. No. 1 2 Kritikus Ibnu Sadin Al-Ijly Jarh Tadil Keterangan Hadits yang bersumber dari Imam Ahmad dapat diterima.

Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

92

Hadis tentang Pembaca al-Quran Kebanyakan Munafik


F. RINGKASAN HASIL ANALISIS KETERSAMBUNGAN DAN KUALITAS SANAD

Adapun Ibnu Lahiah adalah salah seorang yang kuat hafalannya di masa muda dan beliau sangat rajin menulis hadits, catatan-catatan hadits beliau sangat banyak, akan tetapi catatan tersebut terbakar ketika beliau berusia senja. Berdasarkan hasil analisis penulis di atas maka kami berkesimpulan bahwa hadits tersebut bersambung karena antara guru dan murid saling bertemu yang ditandai dengan redaksi tahammul ada memakai metode assama, maka dapat dikatakan bahwa hadits di atas shahih secara sanad berdasarkan riwayat Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian juga menurut pendapat Al-Albani.
G. FIQHUL HADIS

Hadits ini dapat dijadikan hujjah dan dapat di amalkan dalam kehidupan sehari-hari dan untuk memperingati kita supaya al-Quran tidak hanya sekedar di baca akan tetapi untuk di amalkan isi dan kandungannya. Sehingga kita terjebak kedalam orang-orang yang munafik. Allah berfirman:


artinya: Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".


Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

Oleh : Saofi Ahmadi (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

93

HADIS KESEBELAS

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharapkan Balasan Duniawi

OLEH
ABDUS SAMIK
(NPM: 10.31.0251)

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat


A. PENDAHULUAN

Awal mula dari segala sesuatu yang Allah ciptakan sebelum menciptakan bumi dan seisinya adalah Nur nya Muhammad SAW. bahkan Allah SWT. tidak akan menciptakan bumi dan seisinya jika tidak untuk untuk Muhammad SAW. bahkan telah disebutkan dalam Nash bahwa seluruh seisi langit dan bumi, para malaikat, para jin, dan para umat manusia telah diperintahkan untuk bersholawat kepada beliau. Begitu besar cinta Allah SWT untuk Nabi kita Muhammad SAW. sehingga Allah pun mengabulkan semua keinginan beliau, bahkan Allah telah menjamin beliau padanya surga yang lebih luasnya lebih luas dari seisi langit dan bumi. Tapi dengan semua jaminan kenikmatan tersebut tidaklah membuat beliau malas dan sombong, malahan hal itu menjadikan beliau semakin bersemangat untuk beribadah kepada sang Khaliq sebagai bentuk rasa syukur yang luar biasa kepada sang Khaliq. Dan beliau di utus ke bumi untuk mengajarkan manusia tentang Akhlak karena cintanya beliau kepada kita, bahkan tidak hanya kepada umatnya yang telah beliau kenal tetapi kepada semua umat muslim di dunia maupun di Akhirat kelak. Karena dengan syafa`at beliaulah kita bisa mendapatkan pertolongan dan kemudahan di akhirat. Jika sudah seperti itu dan bahkan telah dipahami oleh sebagian orang terutama oleh para pencari ilmu yang sedang berjihad dijalan Allah, Maka sudah seharusnyalah untuk menanamkan dalam sanubari kita rasa cinta kepada Rasulullah. Terutama lagi bagi seseorang yang sedang mengkaji ilmu Hadis. Agar ilmu Yang kita pelajari ini tidak hanya sampai pada pemahaman yang mendalam tetapi juga kepada kemanfa`atan ilmu tersebut.

Jakarta,5 januari 2012

The Presentator

Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

95

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat


B. PERBANDINGAN MATAN

.
1

. 2 . 3 .
4

) 5 )

753 .Ahmad bin Hanbal Abu Abdullah As Syibani, Musnad Ahmad Bin Hanbal juz3 ,hlm 753 .Musnad Ahmad Muwafiqan Lissaalist Thoba`at, juz.3 hlm 3 441.Musnad Ahmad ar-Risalah, juz.22 hlm 4 041.Ahmad bin Ali Bin Al Mastna Abu Ya`la Al Maushuli, Musnad Abi Ya`la, juz.4 hlm 5 502.Ahmad bin Husayn, Shu`bul Iman, juz.4 hlm 6 16.Abu Bakar Muhammad bin Abi Ishaq, Bahrul Fawaidh al Masyhur Bima`nal Akhbar, juz.1 hlm
2

| )Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta

69

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat


C. PENJELASAN MATAN

Dari berbagai redaksi matan kami simpulkan sebuah hadis yang bermakna, Ketika Rasulullah memasuki sebuah masjid, beliau melihat ada sekelompok orang yang membaca Al Qur`an lalu beliau bersabda," Bacalah Al Qur`an,dan dekatkan dirimu pada Allah, sebelum datang segerombolan kaum yang datang untuk melemparkan panah dari busurnya7 maka kamu tergesa-gesa (karena yang dicari dari baca`anya adalah balasan materi dan martabat) dan kamu tidak segera melaksanakanya (tidak mengaharap balasan pahala dari Allah)8
D. SKEMA SANAD

7 8

Zaenuddin Muhammad, Faydhul Qadhir Syarh Jami`us Shaghir, juz.2 hlm.85 Imam Hafidz Zaenuddin Abdur Rauf, Taysir Bisyarhi Jami` Shaghir, juz.1 hlm.390

Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

97

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat


E. ANALISA BIOGRAFI PARA PERAWI HADIS

a) Jabir bin Abdillah (w.74H) Jabir bin Abdullah merupakan salah seorang sahabat yang menempati Thabaqah pertama dari para Sahabat yang meriwayatkan 1.540 hadis, Ayahnya bernama Abdullah bin Amr bin Hamran Al-Anshari as-Salami. Ia bersama ayahnya dan seorang pamannya mengikuti Baiat al-Aqabah kedua di antara 70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama Islam. Jabir juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan pleh Nabi, kecuali perang Badar dan Perang Uhud, karena dilarang oleh ayahnya. Jabir bin Abdullah pernah melawat ke Mesir dan Syam dan banyak orang menimba ilmu darinya dimanapun mereka bertemu dengannya. Di Masjid Nabi Madinah ia mempunyai kelompok belajar , disini orang orang berkumpul untuk mengambil manfaat dari ilmu dan ketakwaan. Ia wafat di Madinah pada tahun 74 H. Abbas bin Utsman penguasa madinah pada waktu itu ikut mensholatkannya. Sanad terkenal dan paling Shahih darinya adalah yang diriwayatkan oleh penduduk Makkah melalui jalur Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah. b) Muhammad bin al Munkadir (w.130H) Putra dari Abdullah al Hudairi al Qurasy at Ataimi, putra dari Abu Abdullah al Madany (saudara dari Abu Bakar al Mungkadir) Thabaqah ke-3 dari golongan Tabi`in tetapi, Muhammad bin Said menyatakan bahwa beliau merupakan Thabaqah ke-4 dari ahli Madinah9. Imam enam meriwayatkan hadis dari perowi ini. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa beliau merupakan perowi yang Tsiqah. Imam Bukhori mengatakan bahwa beliau telah meriwayatkan ratusan hadis. Guru-guru beliau yakni Ibrahim bin Abdullah bin Hunain, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Hamrani maula Ustman, `, Sa`id bin Musayab, Salman Al Farisi, Abdullah bin Hunain, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Abbas, dst. Abdullah bin Zubair al Humaidi berpendapat bahwa beliau adalah perawi yang Hafidz (telah mengetahui lebih banyak tingkatan (Thabaqah) perawi hadis daripada ketidaktahuanya)10. Ishaq bin Mansur dari Yahya bin Mu`in berpendapat bahwa beliau adalah perawi yang Tsiqah. Ibrahim bin Mundzir berpendapat beliau adalah perawi yang benar-benar Hafidz,Zuhud,Hujjath(bias diandalkan). Al Waqidi dan dalam kitab Muhammad bin Sa`di beliau meninggal pada tahun 130H. Imam Bukhori berpendapat dari Harun Muhammad bin farwi beliau meninggal pada tahun 131H.
9

10

Rawattut Tahdzibayn DR. Mahmud Thahan, Taysir Mustholahul Hadis hlm.15

Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

98

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat

c) Usamah bin Zaid Al Laisy (w.153H.) Tahun ketujuh sebelum hijrah Rasulullah bersuka-cita dengan kelahiran bayi yang baru lahir tersebut. Karena, mereka mengetahui kedudukan kedua orang tuanya di sisi Rasulullah. Ibu bayi tersebut seorang wanita Habsyi yang diberkati, terkenal dengan panggilan Ummu Aiman. Sesungguhnya Ummu Aiman adalah bekas sahaya ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yang merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu, dalam kehidupan Rasulullah, beliau hampir tidak mengenal ibunda yang mulia, selain Ummu Aiman. Rasulullah menyayangi Ummu Aiman, sebagaimana layaknya sayangnya seorang anak kepada ibunya. Beliau sering berucap, Ummu Aiman adalah ibuku satusatunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada. Itulah ibu bayi yang beruntung ini. Adapun bapaknya adalah kesayangan Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya sebelum ia memeluk Islam. Dia menjadi sahabat beliau dan tempat mempercayakan segala rahasia. Dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga beliau dan orang yang sangat dikasihi dalam Islam. Usamah sebaya dengan cucu Rasulullah, Hasan bin Fatimah az-Zahra. Hasan berkulit putih tampan bagaikan bunga yang mengagumkan. Dia sangat mirip dengan kakeknya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Usamah kulitnya hitam, hidungnya pesek, sangat mirip dengan ibunya wanita Habsyi. Namun, kasih sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeda. Beliau sering mengambil Usamah, lalu meletakkan di salah satu pahanya. Kemudian, diambilnya pula Hasan, dan diletakkannya di paha yang satunya lagi. Kemudian, kedua anak itu dirangkul bersama-sama ke dadanya, seraya berkata, Wahai Allah, saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pulalah mereka! Dalam Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun. Dalam Perang Mutah, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah al Madany. Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Jafar bin Abi Thalib hingga Jafar syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid. Kemudian, komando dipegang oleh
Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

99

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat

Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum. Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah Subhanahu wa taala. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syiria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum. Keturunan dari Abu Zaid al Madany berada pada Thabaqah ke-7 dari Kibarut Tabi`in/ tabi`in senior. Imam Bukhori, Imam Muslim, Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa`iy, Ibnu Majjah meriwayatkan pula dari beliau. Imam Ibnu Hajar menetapkan bahwa beliau adalah perawi yang Shoduq Yahim (masih terdapat keraguan). Adz Dzahabi menuturkan "Imam Nasa`iy dll menyatakan bahwa ia merupakan perawi yang tidak memiliki hafalan yang kuat". Yahya bin Mu`in berpendapat bahwa beliau tidak memilki kecacatan/masalah dalam meriwayatkan Hadis. d) Abdul Wahhab ibnu Atha`(w.133H/111H) Putra dari Bakht al Qurasy al Umury abu Ubaidah, dari golongan ke-5 Tabi`in junior. Beliau belajar dari Anas bin Malik, Salim bin Habib al Maharibi, Abdullah bin Umar bin Khattab, Abu Hurairah dan para Ulama` yang hidup masa itu. Dan murid-murid beliau adalah Usamah bin Zaid al Laisy, Isma`il bin Rafi` al Madany, Zaed bin abi Anisah, Su`eb bin Abi Hamzah, Ubaidillah bin Amir, Malik bin Anas, Muhammad bin Ajilani, Mu`awiyah bin Sholeh Al Hudromy, Hisyam bin Sa`id , Yahya bin Sa`id al Anshori. Abu Dawud, Imam Nasa`iy, Ibnu Majjah juga meriwayatkan hadis dari beliau. Imam ibnu Hajar menetapkan bahwa beliau adalah perowi yang Tsiqqah
F. RANGKUMAN HASIL ANALISIS SANAD

Dalam kitab karangan Ahmad bin Hanbal Abu Abdillah As Syibani, Musnad Ahmad bin Hanbal disana diterangkan bahwa Hadis ini merupakan hadis Shohih dengan para perowi atau rijal yang Tsiqqah (yang melalui jalur Abdul Wahhab) terkecuali Usamah bin Zaed Al Laisy maka turun menjadi Hasan. Juga disebutkan di dalam kitab Musnad Abi Ya`la disebutkan bahwa periwayatan melalui jalur Sufyan adalah Dho`if. Walaupun terdapat berbagi bentuk periwayatan matan

yang bervariasi dari perbandingan matan pada awal pembahasan, akan tetapi, isi dari matan sendiri merupakan suatu bentuk kesunnahan yang di anjurkan oleh Rasulullah (bukanlah suatu hal yang difardlukan), sehingga perbeda`an matan, juga dalam periwayatanya, atau bahkan terdapat kelemahan dari sisi sanad perowi (seperti pada perawi Usamah bin Zaed al Laisy yang memiliki kelemahan dalam hafalan), tidaklah berakibat fatal.

Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

100

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat


G. KUALITAS HADITS

Menurut analisa kami simpulkan bahwa Hadis tersebut merupakan Hadis Muttasil yang bersambung pada nabi dengan melalui jalur Abdul Wahhab. Karena terdapat salah satu dari para perawi Hadits tersebut yang memiliki kelemahan dalam hafalan yakni pada perawi Usamah bin Zaed al Laisy sehingga derajat Hadis turun menjadi Hadis Hasan. Rasulullah menyarankan kepada kita untuk membaca Al Qur`an dengan mendekatkan diri kepada Allah untuk mengharapkan ridhanya, sebelum datang (suatu

masa) dimana terdapat banyak orang yang membacanya dengan terburu-buru seperti halnya (Iqamatal Qidakhi) atau panah yang lepas dari busurnya, dan mereka atau kaum tersebut membaca Al qur`an dengan tergesa karena ingin mendapatkan balasan di dunia tanpa mengharapkan balasan Akhirat hanya untuk mendapatkan martabat, harga diri, dan materi, tanpa mengharapkan balasan yang tak terhingga di sisi Allah SWT. 11
H. PENUTUP

Kami rasa tidak ada yang perlu untuk ditutup karena dalam makalah kami ini, kami menyadari akan adanya kekeliruan yang masih sangat perlu untuk kembali diperbaiki. Sehingga jika terdapat suatu kekurangan dalam makalah ini, maka itu merupakan suatu kelebihan tersendiri. Assallahu Anyanf`ana Hadza ilman nafiatan lana. Amiin.

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

11

Imam Hafidz Zaenuddin Abdur Ra`uf Al Manawi, At Taysir bi Jamius Shaghir, hlm.390 juz.1

Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

101

Ancaman Membaca al-Quran untuk Mengharap Balasan Materi dan Martabat

Daftar Pustaka
Dr. Thahan, Mahmud.Tarjamah Taysir Mustholahul Hadis, Pustaka Thariqul Izzah 2010 Muhammad, Abu Bakar., Bahrul Fawa`id al Masyhur bi Ma`na al Akhbar., Pentahqiq: Muhamad Hasan., Cet.1.,Dar el Kottob al Ilmiyah, Beirut/libanon 1420 Bin hanbal, Ahmad.,Musnad al Imam Ahmad bin Hanbal., Muasasah qurtubah Cairo Bin Ali, Ahmad .,Musnad Abi Ya`la.,pentahqiq: Husain salim Assad Dar el Ma`mun Liturats Damsik Cet.1 1440-1989 Ahmad,Abu Abdillah.,Musnad Ahmad bin Hanbal., pentahqiq: Sayid Abu Mu`thiy.,Cet.1 Alimul Kitab 1419H/1998M. Muhammad, Zaenuddin., Faydhul Qadhir Syarh Jami`us Shaghir., Cet.1. Dar al-Kottob el Ilmiyah Beirut/Libanon 1415H/1994M. Abdur Ra`uf, Zaenuddin., at Taysir bis Syarhi Jami`us Shaghir.,Cet.3 Maktabah el Imam As Syafi`iy Riyadh 1480H/1988M

Oleh : Abdus Samik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

102

HADIS KEDUA BELAS

Keutamaan Para Penghafal al-Quran OLEH


AHMAD ZULKI
(NPM: 10.31.0253)

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran


A. PENDAHULUAN

Allah menurunkan Al-Quran untuk kita baca dengan penuh perenungan, untuk kita perhatikan dengan penuh kecermatan, agar kita bahagia dengan senantiasa mengingatnya, agar kita pahami pengertiannya yang paling baik, agar kita yakini, agar kita berusaha menegakkan semua perintah dan larangannya, agar kita bisa memetik berbagai buah pengetahuan yang bermanfaat yang dapat mengantarkan kita menuju Allah lewat pohon-pohonnya, serta lewat taman dan bunganya. Ia merupakan kitab suci-Nya yang menjadi petunjuk bagi orang yang ingin mengenal-Nya. Ia merupakan jalan-Nya yang mengantarkan sang salik untuk sampai kepada-Nya. Ia merupakan cahaya-Nya yang menerangi segala kegelapan. Ia merupakan rahmat-Nya yang menjadi asas kebaikan seluruh makhluk. Ia merupakan sebab yang menghubungkan antara diri-Nya dan para hamba-Nya jika semua sebab terputus. Ia merupakan pintu-Nya yang paling agung yang menjadi tempat masuk. Pintu tersebut terbuka kala semua pintu lainnya tertutup. Ia adalah jalan lurus yang menyelamatkan semua pandangan dari penyimpangan, zikir bijaksana yang mengendalikan nafsu, serta karunia yang selalu dibutuhkan para Ulama. Berbagai keajaibannya yang tidak pernah lenyap, bagian-bagiannya tidak terlepas, ayat-ayatnya tidak pernah pudar, serta petunjuk-petunjuknya tidak pernah bertentangan. Setiap kali mata hati ini merenungkannya, ia makin mendapat petunjuk dan makin melihat. Setiap kali dikaji, ia dengan sangat deras memancarkan mata air kearifan. Ia adalah cahaya hati dari berbagai penyakit, serta kehidupan kalbu, kenikmatan jiwa, taman kalbu, dan pendorong ruh menuju alam bahagia. Itulah kalbu yang telah berinteraksi dengan Al-Quran.1
B. KONTEKS HADITS

Adapun konteks hadits yang akan kami telesuri adalah salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang menginformasikan tentang keutamaan serta kelebihan yang dimiliki oleh para penghafal serta para pecinta Al-Quran. Adapun konteks hadits sebagai berikut:


Artinya: sebaik-baik umatku adalah orang yang menghafal Al-Quran. Hadits diatas mengidentifikasikan bahwa manusia terbaik itu adalah mereka yang menghafal serta yang mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-harinya.
1

Dr. Amr Khaled, Karunia Beribadah dalam bab keutamaan Al-Quran, hal: 262-263

Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

104

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran


)C. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ

Dalam penelusuran kami di dalam kitab digital Al maktabah Syamilah, kami hanya menemukan beberapa matan serta sanad yang berbeda, adapun rinciannya dapat dilihat :sebagai berikut

( )

) )
D. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

Berdasarakan sumber hadis dia atas, berikut analisa perbandingan redaksi :matannnya :1. Didalam kitab Al-Mujamul Kabiir Lit Thobraniy

( )
:2. Dan didalam Syabul Iman Lil Baihaqiy

) (
Melihat konteks hadits diatas, dapat kita simpulkan bahwa konteks keduanya tidaklah jauh berbeda sehingga tujuan utamanya hanya satu yakni dalam mencapai tingkat manusia yang mulia harus ditempuh dengan mentadabburi Al-Quranul Karim dan dilain .riwayat ditambahkan lagi dengan Qiyamul Lail

| )Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta

501

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran


E. SKEMA SANAD


:Mukharrij Hadis

Imam al-Baihaqi Imam at-Tabrani

| )Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta

601

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran


F. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI

Dari jalur sanad yang telah kami tampilkan diatas, maka kami simpulkan untuk meneliti sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ath-thabrani, melalui jalan: Ibnu Abbas, Adh-Dhahhak, Said bin said al-Jarjani, Ismail bin Ibarahim Ath-Tharjamani, Muhammad bin Abdullah bin Bakr as-Siraj al-Ashkari. Berikut rincian biografinya: 1. Abdullah bin 'Abbas (Wafat 68 H) Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadis sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits. Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti Harits saudari ummul mukminin Maimunah. Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fiqih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Thaif sampai akhir hayatnya. Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir). Allah mengabulkan doa Nabi-nya dan Ibnu Abbas belakangan terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fiqihnya yang mendalam, menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting sesudah Abdullah bin Masud, selama kurang lebih tiga puluh tahun. Tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata : Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi Shallallahu alaihi Wassalam serta keputusan-keputusan yang dibuat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Begitu pula tentang ilmu fiqih ,tafsir ,bahasa arab, syair, ilmu hitung dan faraid. Orang suatu hari menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusu nya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya.
Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

107

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran

Menurut An-Nasai, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utba, dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang paling Dhaif adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan asSuddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih. Rangkaian ini disebut silsilah AlKadzib (silsilah bohong). Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Makkah dan haji wada. Ia menyaksikan penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib. Ia wafat di Thaif pada tahun 68 H. Ibnu al-Hanafiyah ikut menshalatkannya. Kredibilitasnya dalam pandangan ulama (Jarh wa Tadil): 1. Ibnu Hajar: Dia adalah sahabat 2. Az-Zahabi: Dia adalah sahabat Oleh karena semua sahabat itu adalah adil, sehingga kredibilitasnya sudah tidak diragukan lagi dalam meriwayatkan sebuah hadits. 1 2 3 4 5 dll dll

Berdasarkan uraian diatas, kami dapat menyimpulkan bahwa ketersambungan antara Ibnu Abbas dengan Rasulullah SAW adalah Muttasil, dan begitu pula dengan ketersambungan dengan muridnya, disana kita bisa lihat dalam daftar muridnya terdapat nama Adh-Dhahhak, sehingga, kesimpulannya adalah Muttasil. 2. Adh-Dhahhak bin Muzhahim (setelah 100 H) Nama lengkapnya adalah Adh-Dhahhak bin Muzhahim al-Hilali, Abul Qosim, dan dikatakan Abu Muhammad Al Hirhosani, dan saudaranya adalah Muhammad bin Muzhahim, dan Muslim bin Muzhahim. Beliau merupakan tabiin dan berada dalam thabaqat yang kelima. Kredibilitasnya dalam pandangan ulama Jarh wa Tadil 1. Ibnu Hajar: shodukun katsirul irsal Ibnu hajar memberikan penilaian bahwa beliau termasuk shoduq tetapi banyak memutuskan sesuatu dalam periwayatan.

Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

108

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran

2. Az-Zahabi: Tsiqoh (dalam hal ini disepakati oleh Ahmad dan Ibnu Muain, dan Syubah berkata beliau disisi kami adalah Dhaif.

1 2 3 4 5

dll Dalam uraian diatas, kita bisa

dll mengidentifikasi ketersambungan antara

Adh-Dhahhak dengan Abdullah bin Abbas, tetapi ketika kita melihat daftar muridnya, disana kita tidak melihat nama periwayat selanjutnya, sehingga benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar bahwa beliau banyak keterputusan sanad yang satu dengan yang lain. 3. Sadun bin Said al-Jarjani Nama lengkap beliau adalah al-Hasan bin Yahya bin Al-Judi bin Nasyitul abdi, Abu Ali bin Abi Rabi al-Jarjani. Beliau lahir sekitar 180 H atau sebelumnya, dan beliau bertempat tinggal di baghdad, dan beliau wafat pada tahun 263 H, dan beliau termasuk golongan tabiul atba dan tingkat/thobaqat ke 11. Kredibilitasnya dalam pandangan ulama Jarh wa Tadil 1. Ibnu Hajar: Dia adalah Shoduq 2. Az-Zhahabi: Dia adalah Muhaddisun Shoduq

1 2 3 4 5

Dalam uraian diatas, kita bisa melihat bahwa dalam ketersambungan sanad dengan Sadun bin Said al-Jarjani dengan Adh-Dhahhak adalah disana kami hanya menenmukan nama Abi Ashim Adh-Dhahhhak, dan ketersambungan antara dengan muridnya kami menemukan nama Ismail bin Ibrahim Att-tarjamani.
Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

109

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran

4. Ismail bin Ibrohim Ath-Tarjamani Nama lengkap beliau adalah Ismail bin Ibrahim bin Bisamil Baghdadhi, Abu Ibrahim Ath-Tarjamani (dari anak Khurasan). Beliau wafat pada tahun 236 H, kami tidak menemukan tahun kelahiran beliau. Dan beliau termasuk dalam tabaqhat yang ke 10. Kredibilitasnya dalam pandangan ulama Jarh wa Tadil 1. Ibnu Hajar: La Basa bih ( ) 2. Azh-Zahabi: Shoduuq ()

1 2 3 4 5

Melihat bagan diatas disimpulkan bahwa mereka adalah Muttashil. 5. Muhammad bin Abdullah bin Bakr As- Siraj al-Askari Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Bakr bin Sulaiman al-KhuzaI dikatakan Al-Haasyimi, Guru mereka Abul Hasan Ash-ShinaI Al-Muqhaddisii Al- Khulanji, beliau bertempat tinggal di Baitul Maqdis, beliau berada dalam Atbaul Atba dari thobaqat yang ke 10. Kredibilitasnya dalam pandangan ulama Jarh wa Tadil 1. Ibnu Hajar: beliau menilainya sebagai Shoduq 2. Azh-Zahabi: beliau tidak menyebutkannya.( Lam Yazkuruha).

1 2 3 4 5

Melihat uraian diatas, kita bisa mengklarifikasi bahwa Muhammad bin Abdullah bin Bakr ini kami tidak menemukan disana nama rawi yang ada diatas yaitu Ismail bin Ibrohim Ath-Tarjamani, dan bahkan dalam daftar nama muridnya kami tidak menemukan pula nama Ath-Thobarani, namun kami bisa membandingkan tahun atau masa hidup Ath-Thobrani dengan An-Nasai, keduanya adalah merupakan ulama setelah
Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

110

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran

Atbaut Atba. Sehingga kami bisa menyimpulkan bahwa keduanya dapat didentifikasikan keduanya bisa saja bertemu. 5. Ath-Tabrani ( Wafat 360 H) Nama sebenarnya adalah Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrany, ia seorang hafidz yang terkenal di abad ke empat Hijriah, Ia menyusun 3 buah Mujam yaitu Al Kabier, Ash Shagier dan Al Ausath. Didalam al Kabier dikumpulkan musnad musnad sahabat, diterbitkan menurut haraf mujam, selain dari pada musnad Abu Hurirah yang disusun dalam sebuah kitab, menurut riwayat didalam al Kabier ditulis 520.000 hadits dan apabila dikatakan al Mujam, maka yang dimaksud adalah al Kabier. Al-Ausath disusun berdasarkan nama guru gurunya dan didalam al Ausath terdapat 320.000 hadits. Menurut perkataan adz Dzahaby didalamnya terdapat hadits shahih dan hadits mungkar. Sedangkan kitab Ash Shagier terdiri dari satu jilid, didalamnya ditulis hadits yang diterima dari gurunya, isinya sebanyak 15.000 hadits.
G. KANDUNGAN HADITS

Allah SWT telah menjanjikan kelebihan & keutamaan kepada mereka yang menghafal al Quran, antara lain: 1. Mereka adalah keluarga Allah SWT Sabda Rasulullah s.a.w: Dari Anas ra. Ia berkata bahawa Rasulullah S.A.W bersabda, Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia. Kemudian Anas bertanya: Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: yaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah. 2. Ditempatkan didalam surga yang paling tinggi Sabda rasulullah s.a.w: Dari Abdullah Bin Amr Bin Al Ash ra dari nabi s.a.w, baginda bersabda; Diakhirat nanti para ahli Al Quran di perintahkan, "Bacalah dan naiklah kesyurga. Dan bacalah Al Quran dengan tartil seperti engkau membacanya dengan tartil pada waktu di dunia. Tempat tinggalmu di syurga berdasarkan ayat paling akhir yang engkau baca. 3. Menghormati orang yang menghafal Al-Quran adalah seperti mengagungkan Allah SWT Sabda rasulullah s..a.w dari Abu Musa Al Asyaari r.a, Ia berkata bahawasanya Rasulullahs.a.w. bersabda: Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati
Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

111

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran

Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Quran tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil. 4. Mereka lebih berhak menjadi Imam dalam sholat Sabda rasulullah s.a.w. : "Dari Ibnu Mas ud ra. Dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca Al Quran." 5. Dapat memberikan syafaat bagi keluarga Sabda rasulullah s.a.w.: Dari Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah ia berkata, "Barangsiapa membaca Al Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam syurga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka. 6. Para penghafal Al-Quran akan mendapatkan mahkota kemuliaan Sabda rasulullah s.a.w.: "Dari Abu Hurairah ra.dari nabi s.a.w. baginda bersabda: "orang yang hafal Al Quran nanti pada hari kiamat nanti akan datang dan Al Quran akan berkata; "Wahai Tuhan ,pakaikanlah dia dengan pakaian yang baik lagi baru. Maka orang tersebut di berikan mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi: Wahai Tuhan tambahlah pakaiannya. Maka orang itu di beri pakaian kehormatannya. Al Quran lalu berkata lagi, "Wahai Tuhan, ridhoilah dia." Maka kepadanya di katakan; "Bacalah dan naiklah." Dan untuk setiap ayat, ia di beri tambahan satu kebajikan. 6. Hafal Al-Quran adalah merupakan bekal yang baik Sabda rasulullah s.a.w.: "Dari jabir bin nufair, katanya rasulullah s.a.w. bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu Al Quran. 7. Orang tua akan memperoleh pahala khusus jika anaknya Penghafal Al Quran. Sabda rasulullah s.a.w.: "Dari Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?". Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Quran berkata; "saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka
Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

112

Hadis tentang Kemulian Para Penghafal al-Quran

penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Quran." Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil). 8. Akan menempati tingkatan tertinggi di dalam syurga. Sabda rasulullah s.a.w.: "Dari Aisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan syurga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu. Semoga dengan memahami hal ini, kita semua bisa lebih terpacu untuk bisa menghafal Al Quran setiap harinya, semampu kita. Amin ya robbal alamin.
H. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Dalam peninjauan penulis tentang hadis yang mengungkapkan tentang fadhilah orang yang menghafal Al-Quran ini, kami bisa menyimpulkan bahwa sanad hadits ini shahih karena tidak ada seorang perawi pun yang masuk dalam kategori dhaif, walaupun Adh-Dhahhak disana disebutkan kasiirul Irsaal.tapi menurut penulis hal itu masih bisa tolerir dengan adanya kata shaduq yang mengiringinya.
I. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Berdasarkan riwayat diatas, penulis menyimpulkan bahwa hadits ini masuk dalam kategori hadis shahih, dan melihat kenyataan di dalam masyarakat para ahli Al-Quran itu sangatlah mulia berkat adanya cahaya keal-quran di dalam aura kewibawaannya dalam kehidupan sehari-hari.
J. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad diatas kami menyimpulkan hadits ini adalah termasuk hadits shahih. Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

Oleh : Ahmad Zulki (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

113

HADIS KETIGA BELAS

Perintah Memelihara Hafalan al-Quran

OLEH
SODIK
(NPM: 10.31.0288)

Hadis tentang Perintah Memelihara Hafalan al-Quran


A. PENDAHULUAN

Puji Syukur semoga senantiasa terhaturkan kepada Allah Subhanahu wa Taala Zat yang Maha Kuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan Al-Kitab melalui para Rasul-NYA sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk kehidupan dunia akhirat. Sholawat dan salam tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau kelak kita dapatkan di akhirat. Amiin !!! Alhamdulillah, satu kepuasan tersendiri atas selesainya karya tulis ini.

Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadits melalui metode Mujam (Al-Mujam al Mufahras li Alfadz al-Hadits an-Nabawy) dan metode Digital (Al-Maktabah Syamilah). Hadits yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:


Artinya: Peliharalah hafalan Al-Quran itu. Sebab, demi Dzat yang menguasai jiwa Muhamad, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dalam ikatanya
B. HASIL PENULUSURAN (TAKHRIJ)

1) Musnad Ahmad

1
2) Shohih Muslim

1 2

Musnad Ahmad, , Jus 40, hal.42 Shohih Muslim, , Jus 4, hal.202

Oleh : Sodik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

115

Hadis tentang Perintah Memelihara Hafalan al-Quran


C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

1) Musnad Ahmad


2) Shohih Muslim


D. SKEMA SANAD

Mukharrij Hadis
Imam Muslim Imam Ahamd

E. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERIWAYAT

Dari kedua hadits diatas yang kami teliti sanadnya adalah hadits riwayat Ahmad, dengan komposisi sanad Abi Musa, Abi Burdah, Buraid, Abu Usamah, Abu Kuraib, dan Abdullah bin Barrad.
Oleh : Sodik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

116

Hadis tentang Perintah Memelihara Hafalan al-Quran

1) Abu Musa

: : 1 : : 50 : : ( - - - - - ) : : ( : ) : , , : ( ), ,
2) Abu Burdah

: ( ) : 3 : : 151 : ( - - - - - ) : : : , , : ( ,
3) Buraid

: : 6 : : ( - - - - - ) : : : , ( , ( ) : , ,

| )Oleh : Sodik (Mahasiswa PTIQ Jakarta

711

Hadis tentang Perintah Memelihara Hafalan al-Quran

4) Abu Usamah

: ( ) : 9 : : 151 : ( - - - - - ) : : : , : , ,
5) Abu Kuraib

: ( ) : 561 : 51 : : 211 : ( - - - - - ) : : : : , , : , ,
6) Abdullah bin Barrad

: ( ) : 51 : : ( - ) : : : , , : , ,
| )Oleh : Sodik (Mahasiswa PTIQ Jakarta

811

Hadis tentang Perintah Memelihara Hafalan al-Quran


F. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD YANG DITELITI

Tinjauan penulis terhadap kontruksi sanad diatas bahwa hadits tersebut dapat diterima dan dapat dijadikan hujjah, karena sanadnya bersambung (bertemu antara guru dengan murid). Menurut hemat penulis setelah meneliti dari kontruksi sanadnya yang tidak ada syad di dalamnya maka penulis menyimpulkan bahwa hadits ini shahih. Dari rangkaian sanad yang diteliti, maka dapat dilihat kehujjahan semua perawi hadits dalam rangkaian sanad tersebut. Dan sanad hadits ini pun diterima. Karena sanad hadis tersebut bersambung antara guru dan murid bertemu.Didalam di jelaskan bahwa hadits ini tergolong hadits Shahih dan dalam Musnad Ahmad juga hadits ini dimasukkan dalam kategori hadits Shahih.
G. KANDUNGAN HADIS

Menghafal Al-Quran itu adalah karunia besar dari Allah kepada seorang muslim. Karunia yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang memahami pentingnya menghafal. Oleh karena itu hadis ini mengatakan pandai-pandailah mengatur waktu bagi seorang penghafal Al-Quran dalam memelihara hafalanya, mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang senantiasa terus berkelanjutan harus terus dilakukan oleh seorang penghafal Al-Quran. Karena Rasullah telah memeringatkan bahwa hafalan Al-Quran akan lebih cepat hilang dan lepas bila dibadingkan dengan seekor onta yang terikat kuat apabila dia tidak selalu mengulang-ulang hafalanya tersebut, seperti bunyi hadis di bawah ini: Peliharalah hafalan Al-Quran itu. Sebab, demi Dzat yang menguasai jiwa Muhamad, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dalam ikatanya
H. PENUTUP

Demikianlah hasil laporan takhrij hadits yang telah kami susun mengenai hadits Hafalan Al-Quran Itu Mudah Hilang. Dan kami menyadari bahwa hasil laporan ini pastilah tidak sempurna dan masih banyak kekurangan, maka dari itu kami mohon maaf. Semoga hasil laporan takhrij ini bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua mengenai takhrij hadits.

Oleh : Sodik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

119

Hadis tentang Perintah Memelihara Hafalan al-Quran

Daftar Pustaka

Musnad Ahmad, Shohih Muslim,

Oleh : Sodik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

120

HADIS keempat belas

Dosa Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran Kemudian Melupakannya

OLEH
MUH. SANI ABDUL MALIK

(NPM: 10.31.0272)

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sebagian pakar ilmu hadits menyatakan bahwa takhrij hanya merupakan suatu usaha untuk mempertemukan suatu matan hadits dengan sanadnya yang sampai kepada Rasulullah dalam berbagai sumber asli. Namun menurut Mahmud Tahhan, selain menunjukkan materi hadist pada berbagai sumber pokok, dalam takhrij juga dilakukan penjelasan tentang kualifikasi beberapa perawi pada transmisi hadits tersebut sesuai keperluan1. Seiring begitu banyaknya informasi hadits yang merebak di kalangan masyarakat, maka takhrij hadits merupakan salah satu cabang ilmu hadits yang begitu urgent, mengingat sifat ilmu takhrij bagi para pelajar sebagai ilmu dharuri (primer) untuk dikuasai dan diamalkan dalam verifikasi berbagai hadits tersebut. Tidak terkecuali dengan pelajar hadits pada masa kini, karena dengan melalui takhrijlah dapat ditemukan ragam hadis dengan muatannya yang terdapat dalam berbagai buku sumber yang ditulis oleh para ahli pada masa-masa awal Islam. Dalam perihal keutamaan al-Qur`an, banyak tersebar di kalangan umat Islam terutama para pelajar dan penghafal al-Qur`an- informasi hadits ataupun makna hadits yang mensugesti untuk selalu berinteraksi dengannya. Salah satunya adalah hadits yang menyatakan dosa bagi orang yang menghafal al-Qur`an kemudian melupakannya. Namun sayangnya, dari sekian banyak hadits tersebut hanya sejumlah kecil yang berkualitas shahih. Berbeda dengan penelusuran dan penelitian pada abad kedua sampai abad keenam atau pada masa para Imam dan Huffadz hadits, pada masa modern ini kita hampir tidak menemukan hadits yang belum diketahui oleh para ahli hadits tersebut, atau dengan kata lain kita dapat katakana bahwa pada saat ini tidak ada satu pun hadits yang belum ditakhrij. Maka dari itu, sebagai pelajar hadits pada masa modern ini, peneliti mencoba menulusuri sebuah hadits dengan metode dan tujuan yang selaras dengan masa kini.

Ahmad Ubaydi Hasbillah, Pengantar Ilmu Takhrij, makalah disampaikan pada mata kuliah Takhrij Hadits, (Ciputat, 2011), hal. 1.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

122

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya
B. PERMASALAHAN

Di kalangan para penghafal al-Qur`an banyak informasi yang dikatakan merupakan hadits menyatakan dosa bagi orang yang melupakan atau lupa dengan hafalan al-Qur`an. Salah satu redaksi muatan hadits tersebut adalah yang diterjemahkan sebagai berikut:
Tiada dosa yang lebih besar daripada melupakan al-Qur`an, Telah diperlihatkan kepadaku semua pahala amalan umatku hingga kotoran yang dikeluarkannya dari masjid. Aku juga telah ditunjukkan dosa-dosa umatku, maka tidak aku lihat dosa yang lebih besar dari orang yang mengetahui ayat atau surat al-Qur`an kemudian melupakannya.

Dari pemaparan redaksi hadits dan hubungannya dengan urgensinya sebagai argumentasi suatu tuntunan bagi umat Islam, timbul beberapa permasalahan, diantaranya: 1. Siapakah yang meriwayatkan hadits tersebut? 2. Bagaimanakah skema transmisi periwayatan hadits tersebut? 3. Bagaimana kualitas para perawi hadits tersebut? 4. Apa hipotesa hukum hadits dari penelitian salah satu jalur transmisi? 5. Bagaimana hubungan kandungan hadits tersebut dengan berbagai hadits lain?
C. METODE DAN SITEMATIKA

Dalam penelusuran sumber dan asal-usul hadits tersebut, peneliti mengunakan pendekatan dan metode sebagai berikut: 1. Pendekatan redaksional dan tema dengan bertumpu pada methode mujami (alfazhi), fihrisi, dan istiqra`i maudhui (Manual). 2. Pendekatan deskripsional dengan metode istiqrai isnadi wa matni (analisis transmisi dan analisis materi, isi atau muatan dengan media Digital). Sedangkan dalam penelitian biografi, keadaan, dan kedudukan para perawi, peneliti menggunakan metode: 1. Penelusuran biografi para rawi pada suatu runtutan transmisi dengan manual maupun digital. 2. Penulusuran berbagai pendapat pakar ilmu hadits tentang para rawi pada transmisi tersebut. Adapun sistematika penulisan, laporan penelitian ini terdiri dari: Bab I merupakan Pendahuluan, meliputi; Latar Belakang, Permasalahan, Metode dan Sistematika. Bab II Penelusuran, terdiri dari; Hasil Penelusuran Manual, Hasil Penelusuran Digital, dan Perbandingan Matan Hadits. Bab III Penelitian Transmisi Hadits, meliputi; Perbandingan dan Skema Transmisi Periwayatan, Biografi Perawi, Penilaian Ulama Terhadap Perawi, Ringkasan. Bab IV Penutup terdiri dari Pendapat Para Ahli dan kesimpulan dari penelitian kualifikasi transmisi hadits.
Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

123

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

BAB II PENELUSURAN
A. HASIL PENELUSURAN MANUAL

Dalam menelusuri hadits dengan pendekatan redaksional metode mujami (alfazhi), maka diperlukan penerjemahan kembali ujung (tharf) redaksi pada matan kedalam bahasa aslinya (Arab). Hingga kemudian dapat ditelusuri sesuai penertiban abjad dalam mujam. Dalam proses ini dilakukan penerjemahan ujung kalimat dari terjemahan hadits sebagai berikut: Bahasa Indonesia
Telah diperlihatkan kepadaku semua amalan umatku

Bahasa Arab

Ketika ditelusuri dalam al-Mujam

al

Mufahrasy,

ditemukan hasil yang

menunjukkan bahwa redaksi tersebut terdapat pada hadits yang tercantum dalam2;

Selanjutnya diteruskan dengan proses penelusuran dengan metode fihrisi dan istiqra`i maudhui , dengan menelusuri hadits pada kitab-kitab yang tertera di mujam secara meneliti daftar isi dan tema-tema yang berkaitan dengan keutaman al-Qur`an. Adapun hasil penelusurannya adalah sebagai berikut:

3 . 4 .
2 3

Dr. A, J. Wersinck, Al-Mujam al-Mufahrasy, Juz IV, hal. 181. Sunan at-Tirmidzi, Kitab Fadhil al-Qur`an, Bab 19, No. 2916 , (Kairo: Dr al-Hadts, 2005) , Juz V, hal. 25. 4 Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab F Kans al-Masjid, No. 461, (Kairo: Dr al-Hadts, 1999) , Juz I, hal. 230.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

124

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya
B. HASIL PENELUSURAN DIGITAL

Setelah ditemukan redaksi hadits dengan metode mujami (alfazhi), kemudian dilanjutkan penelusuran redaksional dengan penggalan redaksi khusus pada matan dalam ,mutn al-Hadts .)( adalah kata Maka muncul hasil penelusuran menerangkan bahwa hadist tersebut terdapat pada berbagai sumber. Karena sumber yang dipakai hanya yang berupa kitab induk saja, yakni kiteb yang menampilkan transmisi perawi secara lengkap, maka hasil penelusurannya :adalah sebagai berikut al-Maktabah as-Symilah, penggalan redaksi khusus yang diambil

- ( / ( . - ( / ( : . - ( / ( : .
| )Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta

- ( / (

521

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

- - ( / ) :
C. PERBANDINGAN MATAN

.Adapun dalam perbandingan matan, seluruh jalur periwayatan tidak ada perbedaan :Yakni semua Imam meriwayatkan dengan matan

| )Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta

621

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

BAB III PENELITIAN TRANSMISI HADIS


A. PERBANDINGAN DAN SKEMA TRANSMISI PERIWAYATAN - - - - - - - - - - - - - - - -

- - - - - - -

- - - - - -

| )Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta

721

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

B. Biografi Perawi Adapun para perawi yang diteliti ialah para perawi yang terdapat pada transmisi riwayat at-Tirmidzi. Mereka itu adalah: 1. Anas bin Malik Nama lengkapnya adalah Anas bin Malik bin an-Nadhar bin Dhamdham bin Zaid bin Haral bin Jundab bin Amir bin Ghanm bin Adi bin an-Najjar al-Anshari, nama panggilannya Abu Hamzah al-Madini. 5 Ia adalah sahabat, perawi tingkat pertama yang kemudian tinggal di Basharah dan wafat tahun 92 H/93 H pada umur 103. Kedekatannya dengan Rasulullah karena ia berkhidmat kepada Rasulullah sejak pertama kalinya beliau hijrah ke Madinah pada tahun 1H hingga sepuluh tahun, sesuai dengan anjuran ibunya. Menurut az-Zuhri, Anas bin Malik pernah bertutur: Ketika Rasulullah datang ke Madinah aku berumur 10 tahun, sedangkan ketika beliau wafat umurku 20 tahun. Jafar bin Sulaiman meriwayatkan dari Tsabit dari Anas bin Malik, semasa aku kecil, Ummu Sulaim (ibunya) membawanya kepada Rasulullah dengan kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini si kecil Anas, doakanlah ia. Kemudian Rasulullah pun berdoa: Ya Allah perbanyaklah hartanya dan anaknya, dan masukkanlah ia ke surga. 6 Dan aku (Anas) mengharapkan yang ketiga itu dari pada dua yang lain. Selain dari Rasulullah, ia juga meriwayatkan hadits dari para sahabat, diantaranya; Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdullah bib Rawahah, Fatimah, Tsabit bin Qais, Abdurrahman bin Auf, ibnu Masud, dan para sahabat lain yang jumlahnya sampai 30 orang lebih. Adapun para perawi yang menjadi murid dan meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik jumlahnya begitu banyak yang kemudian periwayatannya sampai pada alBukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah. Namun dari sekian banyak daftar murid Anas bin Malik, tidak terdapat nama al-Muththalib bin Hanthab. 7

Ahmad bin Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, (Bairut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1993), Juz I, hal. 237-238; Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, (Bairut: ar-Risalah, 1998), Juz I, hal. 289. 6 Menurut ibnu Hajar ada redaksi lain yang diriwayatkan oleh Hamad bin Zaid dengan tambahan: panjangkanlah umurnya dan ampuni dosanya. Lihat catatan kaki pada Tahdzib at-Tahdzib, hal. 238. 7 Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz I, hal. 290. Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib,Juz I, hal. 237-238.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

128

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

2. Al-Muththalib bin Hanthab Ialah al-Muththalib bin Abdullah bin al-Muththalib bin Hanthab bin al-Harits bin Ubaid bin Umar bin Makhzum al-Makhzumi. Pendapat lain mengatakan dengan menghapus nama al-Muthathalib yang kedua. 8 Ia merupakan perawi tingkat 4, yaitu tingkat setelah pertengahan tabiin. Ia meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Musa al-Asyari, Zaid bin Tsabit, Aisyah, Ummu Salamah, Abu Hurairah, Abu Rafi, ibn Abbas, ibn Umar, ibn Amr bin al-Ash, Anas bin Malik, Jabir, dan para sahabat yang lain. Adapun para perawi yang meriwatkan darinya, diantaranya adalah; Anaknya alHakam, Khalid bin Rabah, Zuhair bin Muhammad at-Tamimi, Abdul Malik bin Juraij, dll. Periwayatannya sampai pada al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa`I, dan ibn Majah. 3. Ibnu Juraij Ia adalah Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij al-Qurasyi al-Umawi, biasa dipanggil Abu Walid dan Abu Khalid al-Makki. Ia wafat pada tanggal 10 Dzulhijjah tahun 150 H pada umur 70 tahun, dan merupakan perawi tingkat 6, yakni mereka yang sezaman dengan tabiin junior. Ia meriwayatkan hadits dari para tabiin yang diantaranya; bapaknya Abdul Aziz, Aban bin Shalih al-Bashri, Ismail bin Umayah al-Qurasyi, al-Muththalib bin Hanthab, dll. Periwayatannya sampai kepada al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, anNasa`i, dan ibn Majah. 9 Selain dari jalur al-Muththalib bin Hanthab, dalam periwayatan hadits ini dari Anas bin Malik, ia mempunyai jalur lain dari az-Zuhri. Dalam daftar murid-muridnya terdapat nama Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Ruwad. Yang konon katanya ia merupakan orang yang paling tahu dengan hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Juraij. 4. Abdul Majid bin Abdul Aziz Ia mempunyai nama lengkap Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abu Rawwad alAzdi. Biasa dipanggil Abdul Hamid al-Makki. Merupakan perawi tingkat 9, yakni atba tabiin junior yang wafat pada tahun 206 H.10

8 9

Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz V, hal. 459; Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz VII, hal. 131-132. Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 501-502; Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz IV, hal. 559-560. 10 Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 488.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

129

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

Meriwayatkan hadits dari bapaknya Abdul Aziz bin Abu Rawwad, Aiman bin Nabil, ibn Juraij, dll. Sedangkan yang meriwayatkan darinya diantaranya, asy-Syafii, Ahmad dan terdapat pula dalam daftar nama murid-muridnya Abdul Wahhab bin Abdul Hakam yang periwayatannya diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, selain itu haditsnya juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, an-Nasa`I, dan ibnu Majah. 5. Abdul Wahhab bin Abdul Hakam Nama lengkapnya adalah Abdul Wahhab bin Abdul Hakam bin Nafi al-Waraq, biasa dipanggil dengan Abu al-Hasan al-Waraq al-Baghdadi, an-Nasa`I dan Ahmad memanggilnya dengan sebutan Ibnu al-Hakam. Ia merupakan perawi tingkat 11, yaitu generasi pertengahan para pengambil hadits dari tabi tabiin. wafat pada tahun 250 H.11 Abdul Wahhab bin Abdul Hakam meriwayatkan hadits dari Hajaj bin Muhammad al-Mashishi, Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Rawwad, Muadz bin Muzdz al-Anbari, Yahya bin Said al-Umawi, Yahya bin Salim at-Thaifi, dan Yazid bin Harun. Riwayat tersebut sampai kepada para Imam, yakni Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa`i. 6. At-Tirmidzi Ialah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahak as-Sulami al-Bughi at-Tirmidzi. Lahir pada tahun 209 H Merupakan perawi tingkat 12, yaitu generasi pengambil hadits dari atba tabiin junior yang wafat pada tahun 279 H. 12 Dalam daftar guru-guru at-Tirmidzi terdapat nama Abdul Wahhab bin Abdul Hakam yang menjadi perawi yang meriwayatkan hadits ini padanya.
C. PENILAIAN ULAMA TERHADAP PERAWI

1. Anas bin Malik Abu Hurairah berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya menyerupai Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam kecuali ibnu Ummi Sulaim (Anas bin Malik).13 Begitu pula Menurut Anas bin Sirin, Anas bin Malik merupakan orang yang terbaik shalatnya, ketika safar dan hadhar. 14 Sebagaimana kesepakatan para ulama bahwa para sahabat semuanya adil,15 maka Anas bin Malik dapat dijamin kredibilitasnya karena ia merupakan salah seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam.
11 12

Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 529. Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal,Juz V hal. 17. Sunan at-Tirmidzi, Juz I, hal. 62. 13 Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz I, hal. 238 14 Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz I, hal. 293. 15 Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, (Riyad: Maktabah Riyad Hadits,___), Juz II, hal. 214.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

130

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

2. Al-Muththalib bin Hanthab Menurut Yaqub bin Sufyan, ad-Daruqutni, ibn Hibban al-Muththalib ialah tsiqah. Sebagaimana Ibn Abu Hatim berkata: Abu Zarah ditanya tentang kualitas alMuththalib, kemudian beliau menjawab, ia merupakan orang yang tsiqah. Ibn Hajar berkata bahwa ia merupakan perawi yang terpercaya (shaduq), namun banyak menyamarkan identitas (tadlis) dan meriwayatkan hadits secara mursal. 16 Menurut al-Mizzi, dalam periwayatan at-Tirmidzi dan Abu Dawud terdapat hadits yang diriwayatkan al-Muththalib dari Anas bin Malik, yang dalam hal ini diriwayatkan oleh muridnya Abdul Malik bin Juraij. Namun at-Tirmidzi dan Ali bin al-Madini mengingkari bahwa al-Muththalib pernah mendengar hadits dari Anas bin Malik. 17 Muhammad bin Sad menilai bahwa al-Muththalib bin Hanthab banyak meriwayatkan hadits, namun haditsnya tidak dijadikan hujjah karena ia banyak meriwayatkan hadits dengan mursal. 18 3. Ibnu Juraij Menurut ibnu Hajar, ibnu Juraij adalah tsiqah, faqh, fdhil. Bahkan Ahmad bin Hanbal berkata bahwa ibnu Juraij merupakan seorang perawi yang tsabat, shahih alHadits, ia tidak pernah meriwayatkan hadits kecuali dengan ketekunan. 19 Ibn Hibban pun memasukkannya pada golongan ats-Tsiqat.20 Sedangkan pendapat Yahya bin Said, ibnu Juraij merupakan orang terpercaya (Shaduk), jika ia meriwayatkan dengan redaksi tahdits ( )maka itu adalah sima , jika dengan ikhbar ( ,)/maka itu adalah qira`ah, namun jika dengan redaksi qaul ( ,)maka anggap saja angin berlalu. 21 Ibn Hajar menilai bahwa ibn Juraij meriwayatkan hadits secara mursal, melakukan tadls (menyamarkan identitas) dan merupakan perawi mudallis stadium 3. 22 Menurut Yahya bin Main, ia tidak mempunyai periwayatan apapun dari az-Zuhri.
23

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Quraisy bin Anas, ibn Juraij berkata, Aku tidak mendengar sesuatu pun dari az-Zuhri, tetapi aku diberi salah satu bagian yang kemudian

16 17

Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz V, hal. 459- 460; Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz VII, hal. 132. At-Tirmidzi, 2916; Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz VII, hal. 132. 18 Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz VII, hal. 132. 19 Riwayat Abu Thalib dalam al-Jarh wa Tadil; Catatan kaki pada Tahdzib al-Kamal, Juz IV, hal. 561. 20 Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 503. 21 Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal, Juz IV, hal. 562. 22 Ahmad bin Hajar al-Asqalani, Thabaqat al-Mudallisin, (Jordan: Maktabah al-Manar,___), hal. 41. 23 Riwayat Utsman bin Said ad-Darimi; Tahdzib al-Kamal, Juz IV, hal. 561.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

131

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

aku tulis dan aku ijazahkan kepadanya. Bahkan ad-Daruqutni dalam hal ini berkata, Hati-hatilah dengan tadlsnya ibnu Juraij karena ia buruk dalam tadls, ia tidak mentadlis kecuali pada apa yang ia dengar dari perawi majruh.
24

Sehingga dengan

kata lain dapat dipastikan bahwa apa yang ia riwayatkan dengan tadls, itu merupakan riwayat yang ia dengar dari perawi majruh. 4. Abdul Majid bin Abdul Aziz Menurut Yahya bin Main dan Ahmad bin Hanbal, Abdul Majid bin Abdul Aziz adalah perawi yang tsiqah. Selain itu, ia juga merupakan perawi yang paling tahu dan paling tsabat dalam periwayatan ibnu Juraij. Ibnu Hajar menilai bahwa ia merupakan orang yang terpercaya (shaduk) namun tersalah dalam periwayatannya. Abu Hatim berkata, ia bukanlah perawi yang kuat. Ibn Abi Maryam menyatakan bahwa ia merupakan perawi yang meriwayatkan dari orang-orang lemah. Menurut al-Bukhari, Abdul Majid bin Abdul Aziz meriwayatkan dengan irja`, atau meriwayatkan hadits yang bercorak ideologi kaum murji`ah. Ad-Daruqutni berpendapat bahwa hadits Abdul Majid tidak menjadi hujjah, namun ia tetap dianggap (yutabar bih). Bahkan menurut ibnu Hibban ia adalah perawi matruk, karena ia merupakan perawi yang membolak-balikan hadits, meriwayatkan hadits-hadits munkar dari para perawi masyhur.25 5. Abdul Wahab bin Abdul Hakam An-Nasa`i, ad-Daruqutni, ibn Hibban, dan ibnu Hajar Abdul Wahab bin Abdul Hakam merupakan perawi tsiqah. Bahkan adz-Dzahabi menilainya sebagai orang tsiqah, shalih, dan punya kemampuan yang besar. Selain itu menurut Abu bakar alKhatib, ia adalah orang tsiqah, shalih, wara, dan zahid.26 6. At-Tirmidzi Al-Idrisi menilai at-Tirmidzi sebagai salah satu Imam yang diikuti dalam ilmu hadits, ia menulis kitab al-Jami, at-Tawarikh, al-Ilal dengan ketelitian. Menurut

adz-Dzahabi ia merupakan al-Hafidz. Al-Mizzi juga menilainya sebagai al-Hafidz dan merupakan salah satu Huffadz yang Allah menjadikannya manfaat bagi kaum muslimin.27

24 25

Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 503. Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 488. 26 Ibn Hajar, Tahdzib at-Tahdzib, Juz III, hal. 529; Al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal,Juz V hal. 17. 27 Sunan at-Tirmidzi, Juz I, hal. 67-68.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

132

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya
D. RINGKASAN

NO 1 2 3 4 5 6 7 Rasulullah

NAMA

WAFAT 11 H 93 H 150 H 206 H 250 H 279 H

SELISIH

KET

Hasil

Anas bin Malik Al-Muththalib bin Hanthab Ibnu Juraij Abdul Majid bin Abdul Aziz Abdul Wahab bin Abdul Hakam At-Tirmidzi

82 th 56 th 44 th 29 th

Bertemu Mungkin bertemu Mungkin bertemu Mungkin bertemu

Tersambung Tersambung Tersambung Tersambung

NO 1 2 3 4 5 6 7

NAMA Rasulullah Anas bin Malik Al-Muththalib Ibnu Juraij Abdul Majid Abdul Wahab At-Tirmidzi

MURID Anas bin Malik Ibnu Juraij Abdul Majid Abdul Wahab At-Tirmidzi -

GURU

Hasil

Rasulullah Anas bin Malik Al-Muththalib Ibnu Juraij Abdul Majid Abdul Wahab

Tersambung Terputus Tersambung Tersambung Tersambung Tersambung

NO 1

NAMA Anas bin Malik

Tingkat 1

JARH Mursil, Mudallis, tidak menjadi hujjah Mursil, Mudallis Murji`ah, tidak

TADIL Semua Sahabat Adil Tsiqah, Shaduk Tsiqah, Faqih

Hasil Pasti diterima

2 3

Al-Muththalib Ibnu Juraij

4 6

Tidak diterima Tidak diterima

Abdul Majid

menjadi hujjah, bukan perawi yang kuat.

Tsiqah,Tsabat, Shaduk

Tidak diterima, Dianggap

5 6

Abdul Wahab At-Tirmidzi

11 12

Tsiqah, Shalih, Wara Al-Imam, Al-Hafidz

Diterima Diterima

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

133

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

BAB IV PENUTUP
A. PENDAPAT PARA AHLI

Adapun pendapat para ulama ahli hadits dalam periwayatan hadits ini diantaranya adalah: 1. At-Tirmidzi berpendapat bahwa hadits ini gharib. 2. Al-Bukhari tidak mengetahui hadits ini dan menganggapnya gharib. Ia tidak mengetahui bahwa al-Muthalib bin Hanthab pernah mendengar hadits dari sahabat kecuali hanya satu periwayatan saja. 28 3. Ad-Darimi menyatakan bahwa al-Muththalib tidak mendengar hadits dari sahabat satupun. 4. Al-Qurtubi menilai hadits ini sebagai hadits gharib tsabit. 5. Al-Albani menilai bahwa transmisi hadits ini dhaif karena al-Muththalib dan ibn Juraij mudallis dan ia telah meriwayatkan hadits ini dengan ananah. Maka pastinya, hadits ini mempunyai cacat pada dua tempat; pertama, keterputusan periwayatan diantara ibn Juraij dan al-Muththalib; kedua, keterputusan diantara alMuththalib dan Anas bin Malik. 29
B. KESIMPULAN

Dari penelitian singkat di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kualitas transmisi pada periwayatan at-Tirmidzi dalam hadits ini adalah Dhaif, Mardud (lemah, tidak diterima) karena beberapa sebab, diantaranya: 1. Terdapat perawi yang kredibilitasnya diragukan dan tidak diterima periwayatannya, yakni: a. Al-Muththalib bin Hanthab adalah perawi yang majruh karena ia merupakan perawi mursil dan mudallis dan dapat dipastikan bahwa ia tidak meriwayatkan hadits ini langsung dari Anas bin Malik karena ia bukan termasuk salah satu murid Anas bin Malik dan periwayatannya dari Anas bin Malik telah diingkari oleh Ali al-Madini dan at-Tirmidzi. b. Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (ibn Juraij) adalah perawi majruh karena merupakan perawi mursil dan mudallis stadium 3, yakni perawi yang

28 29

Sunan at-Tirmidzi, Juz V, hal. 25. Muhammad Nashiruddin al-Albani, Dhaif Abu Dawud, (Kuwait: Muassasah Ghuras, 1423H), Juz I, hal. 164.

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

134

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

menyamarkan periwayatan dari para perawi lemah dengan menggantinya dengan para perawi yang kuat. c. Abdul Majid bin Abdul Aziz adalah perawi majruh karena ia berideologi murji`ah dan ia merupakan perawi matruk yang sering membolak-balikan hadits munkar menjadi masyhur. 2. Terdapat keterputusan samar (saqt khafi) pada transmisi hadits tersebut yang disebabkan oleh penyamaran identitas perawi (tadlis) oleh beberapa perawi yang meriwayatkan hadits ini dengan redaksi ananah. Demikianlah laporan penelitian ini ditulis dengan sekemampuan peneliti. Semoga dapat diambil manfaat darinya walaupun disajikan dengan begitu singkat dan jauh dari kesempurnaan. Peneliti sangat mengharapkan saran dan kritik membangun yang kiranya dapat menyempurnakan penelitian ini. Memang tiada yang pernah bisa sempurna karena kesempurnaan seutuhnya milik Allah Azza wa Jalla, wa huwa alam bis sawab

Sabtu, 12 Rabiul Awwal 1433 5 Februari 2012

Peneliti Moh. Sani Abdul Malik NPM: 10.31.0272

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

135

Dosa Orang yang Mengetahui Ayat atau Surah al-Quran kemudian Melupakannya

Daftar Pustaka
Abu Dawud, Sulaimn bin al-Asyats as-Sajastani, Sunan Ab Dud, (Dr al-Hadts: Kairo 1999) At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa bin Saurah, Sunan At-Tirmidzi, (Kairo: Dr alHadts 2005) Ibn Hajar, Ahmad bin Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, (Bairut: Dar Ihya atTurats al-Arabi, 1993) Al-Mizzi, Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf, Tahdzib al-Kamal, (Bairut: ar-Risalah, 1998) As-Suyuthi, Abdurrahman bin Abu Bakar, Tadrib ar-Rawi, (Riyad: Maktabah Riyad Hadits,___) Al-Albani, Muhammad Nashiruddin, Dhaif Abu Dawud, (Kuwait: Muassasah Ghuras, 1423H) Wersinck, Dr. A, J., Al-Mujam al-Mufahrasy li Alfadz al-Hadits. Ubaydi, Ahmad Hasbillah, Pengantar Ilmu Takhrij, makalah disampaikan pada mata kuliah Takhrij Hadits, (Ciputat, 2011)

Oleh : Muh. Sani Abdul Malik (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

136

HADIS KELIMA BELAS

Fadhilah al-Kahf sebagai Perlindungan dari Fitnah Dajjal OLEH


ANDI PURNOMO
(NPM: 10.31.0259)

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhaturkan kepada Zat yang Maha Kuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para Rasul-Rasulnya sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk

kehidupan dunia dan akhirat. Shalawat dan salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat. Amin. Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendirinya atas selesai karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis melalui metode Mujam (alMujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy)1 dan metode Digital (Maktabah asSyamilah). Adapun dalam penelusuran kedua metode ini melalui pendekatan mujam.2 Hadis yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:


Hadis diatas mengabarkan tentang salah satu fadilah dari beberapa ayat dalam Surah al-Kahf yaitu akan mendapatkan perlindungan dari fitnah Dajjal. Untuk lebih lanjut mengenai keotentikan atau keabsahannya, penulisan semaksimal mungkin menyajikan penjelasannya dibawah ini.
B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Penelusuran matan hadis diatas melalui

al-Mujam al-Mufahras

li Alfazh

al-Hadits al-Nabawiy dan maktabah syamilah dapat disimpulakan dengan beberapa bentuk matan yang ikhtilaf. Bentuk Matan yang kami sebutkan diatas adalah matan yang bersifat umum. Secara lebih rinci, beberapa bentuk ikhtilaf matan tersebut dapat dilihat dibawah ini yang bersumber dari Sunan an-Nasai:
3

: ) . (

. . : ) (
1

Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur. 2 Pendekatan mujam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak populer di masyarakat. 3 Imam an-Nasai, Sunan an-Nasai (Beirut : Darr Kitab al-Ilmiah, 1411 H / 1991 M), Jus 6, Hal 235-236

Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

138

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

: . ( )
Selanjutnya dalam penelusuran maktabah syamilah, kami menemukan juga pada .beberapa sumber lain serta mencakup juga dari sumber yang telah disebutkan di atas Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis :dapat dilihat sebagai berikut ) ( 1) Sunan an-Nasai

:
4

. ( )

) ( 2) Sunan Abu Daud

) ( 3) Musnad Ahmad bin Hanbal

- - 5 . ( )

: ( )

) ( 4) Shahih Ibnu Hibban

: ( ). (
7

4 5

532 Imam an-Nasai, Sunan an-Nasai (Beirut : Darr Kitab al-Ilmiah, 1411 H / 1991 M), Jus 6, Hal 002 .Sunan Abu Daud, (Beirut : Dar al-Kitab al-Arabi, Juz 4, Hal 6 644 .Imam Ahmad, Musnad Ahmad (Kairo : Muassah Qurtubah, Juz 6, Hal
7

.Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban (Beirut : Muassasah ar-Risalah, 1414 H / 1993 M), Juz 3, Cet II, Hal 56

| )Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta

931

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

) ( 5) Musnad Abi Uwanah

( ) ( )
) ( 6) Sunan at-Tirmidzi

) ( 7) Shahih Muslim

- - 9 . ( ) - - 01 . ( )

C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

) ( 1) Sunan an-Nasai

. ( )
:Artinya Siapa yang membaca 10 ayat dari Surah al-Kahf akan mendapatkan perlindungan dari fitnah Dajjal ) ( 2) Sunan Abu Daud

. ( )

:Artinya Siapa yang menghafal 10 ayat awal surah al-Kahf akan mendapatkan perlindungan dari fitnah Dajjal ) ( 3) Musnad Ahmad bin Hambal

( )
:Artinya

8 9

784 .Abu Uwanah, Musnad Abi Uwanah (Beirut : Dar al-Marifah, Juz II, Hal 41 .At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Garb al-Islam, 1998 M), Juz 5, Hal 01 991 .Imam Muslim, Shahih Muslim (Beirut : Dar al-Jabil, Juz 2, Hal

| )Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta

041

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

Siapa yang membaca 10 ayat dari akhir surah al-Kahf perlindungan dari fitnah Dajjal 4. Shahih Ibnu Hibban ()

akan

mendapatkan

) ). (
Artinya: Siapa yang membaca 10 ayat dari surah al-Kahf akan mendapatkan perlindungan dari fitnah Dajjal 5. Musnad Abi Uwanah ()

) ) (
Artinya: Siapa yang membaca 10 ayat akhir dari surah al-Kahf perlindungan dari fitnah Dajjal 6. Sunan at-Tirmidzi () akan mendapatkan

) . (
Artinya: Siapa yang membaca 3 ayat dari awal surah al-Kahf akan mendapatkan perlindungan dari fitnah Dajjal 7. Shahih Muslim ()

) . (
Artinya: Siapa yang menghafal 10 ayat dari awal surah al-Kahf perlindungan dari fitnah Dajjal Berdasarkan perbandingan redaksi matan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Dajjal sebagaimana disebutkan dalam hadis diatas ialah sebagai berikut: 1. Orang yang membaca 10 ayat dari surah al-Kahf yang tidak terkait dengan ayat mana saja dengan syarat ayatnya tetap berurutan, 2. Orang yang menghafal 10 ayat awal dari surah al-Kahf. Berikut lafal ayatnya:
Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

akan mendapatkan

141

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

( -).
:3. Orang yang membaca 10 ayat akhir dari surah al-Kahf. Berikut lafal ayatnya

( -).
4. Orang yang membaca 3 ayat dari awal Surah al-Kahf


Pada konteks penelusuran berbagai sumber hadis di atas, diantaranya ialah terdapat di dalam Shahih Muslim. Dalam kitab shahih ini, menegaskan tentang fadhilah surah Kahfi bagi yang menghafal 10 ayat dari awal surah al-Kahf dengan ganjaran akan mendapatkan perlindungan dari Dajjal. Mengenai hadis ini (HR. Muslim), penulis tidak menafikan akan keshahihannya, namun pencapaian kami pada penelusuran matan lain dari hadis ini yang memiliki redaksi lain sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Pada sisi lain, kegiatan ini untuk memberikan kejelasan maksud dari berbagai lafal yang ikhtilaf sebagiamana .disebutkan dalam sunan an-Nasai
| )Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta

-).

241

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf


D. SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran diatas, maka dapat dibuat skema sanad sebagai :berikut

Mukharrij Hadis : an-Nasai, at-Tirmidzi, Ahmad, Abu Uwanah, Ibnu Hibban, dan .Imam Muslim
| )Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta

341

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf


E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Dari ketujuh hadis tersebut diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam an-Nasai, dengan komposisi sanad; Abu Darda, Madan bin Abi Talhah, Salim bin Abi al-Jadi al-Ghatafani, Qatadah, Syubah, Muhammad bin Jafar, Amru bin Ali, Sunan an-Nasai a) Abu Darda (w. 32 H) Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda mengenai dirinya Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud. Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Abu Darda diangkat menjadi Hakim di daerah Syam, Ia adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan ahli Fiqh penduduk Palestina. Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah dan Zaid bin Tsabit, sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah anaknya sendiri Bilal dan istrinya Ummu Darda. Hadits yang dia riwayatkan mencapai 179 hadits. Tentang dia Masruq berkata: Aku mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada enam orang diantaranya dari Abu Darda. Uwaimir bin Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama Abu Darda bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu, dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah, yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya. Abi Darda wafat 32 H di Damaskus. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya. Seluruh sahabat adalah adil. b) Madan bin Abi Talhah Madan bin Abi Talhah al-Yamari tergolong dalam tabaqah ke-6 () dan hadistnya di riwayatkan - - - - dan penulis belum menemukan waktu kelahiran dan wafatnya. Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah:
Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

144

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

No 1 2 3

Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Muhammad bin Sirrin

Jarh -

Tadil

Keterangan -

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau: No 1 2 3 Guru Murid

c) Salim bin Abi al-Jadi al-Ghatafani (w. 150 H) bin Abi al-Jadi al- Ghatafani tergolong dalam tabaqah ke-3 (.) Ia wafat pada tahun 97/98 H. Berikut pendapat para ulama terhadap beliau: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau: No 1 2 3 Guru Murid

d) Qatadah (wafat. 100 H) Nama lengkapnya adalah Qatadah bin Diamah bin Qatadah. Sebagian juga mengatakan Qatadah bin Diamah bin Akabah, as-Sudusy, Abu Khattab al-Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-4 ( ) yang lahir pada tahun 60 / 61 dan wafat pada tahun 100. Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah bin Diamah bin Qatadah: No 1 2 3 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Muhammad bin Sirrin Jarh Tadil Keterangan -

Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

145

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:11 No 1 2 3 Guru Murid

Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah. e) Syubah (wafat 160 H) Nama lengkapnya: dan beliau termasuk dari Kibar atbau at-Tabiin dalam thabaqah ke 7 wafat pada tahun 160 H di Bashrah dan hadistnya di riwayatkan oleh - - - - . - Pandangan kritikus terhadap beliau: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:12 No 1 2 3 Guru Murid

f) Muhammad bin Jafar Nama lengkapnya ( .) Beliau termasuk dalam tabaqah ke-6 ( ) yang wafat setelah tahun ke-100 H. Tadil -

Berikut pendapat para ulama terhadap beliau: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Keterangan

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau: No 1 2 3


11 12

Guru
Rawah at-Tahzibain, Hal. 5518 Rawah at-Tahzibain, Hal. 2790

Murid

Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

146

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

g) Amru bin Ali Nama sebenarnya adalah ( ) yang wafat pada tahun 249 H. Ia seorang ulama dari tabaqah ke 10 (. ) No 1 2 3 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Abu Hatim Jarh Tadil Keterangan -

Adapun di antara guru-guru beliau sebagai berikut: No 1 2 3 h) Imam an-Nasai Nama lengkap Imam al-Nasai adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa pada tahun 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa (al-Nasai), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber monumental dunia. Beliau berhasil menyusun sebuah kitab kondang Guru Murid

dalam kajian hadis, yakni al-Mujtaba yang di kemudian hari

dengan sebutan Sunan al-Nasai.

Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam, Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan hal yang aneh dikalangan para Imam Hadis. Semua imam hadis, terutama enam imam hadis, yang biografinya banyak kita ketahui, sudah gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas ulamaulama hadis, termasuk Imam al-Nasai. Seperti para pendahulunya: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasai juga tercatat mempunyai banyak pengajar dan murid. Para guru beliau yang nama harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah bin Said, Ishaq bin Ibrahim, Ishaq bin Rahawaih, al-Harits bin Miskin, Ali bin Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami/Sunan al-Tirmidzi).
Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

147

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

Sementara

murid-murid

yang

setia

mendengarkan

fatwa-fatwa

dan

ceramah-ceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani (pengarang tiga buku kitab Mujam), Abu Jafar al-Thahawi, al-Hasan bin al-Khadir al-Suyuti, Muhammad bin Muawiyah bin al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakrbin Ahmad

al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid juga tercatat sebagai penyambung lidah Imam al-Nasai dalam meriwayatkan kitab Sunan al-Nasai. Ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat (hadis-hadis palsu), mengatakan bahwa hadis-hadis yang ada di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas shahih, namun ada yang maudhu (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan sepuluh hadis maudhu di dalamnya, sehingga memunculkan kritik tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Seperti yang telah disinggung dimuka, hadis itu semua shahih menurut Imam al-Nasai. Adapun orang belakangan menilai hadis tersebut ada yang maudhu, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Imam al-Nasai merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadis. Beliau juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadis-hadis yang diterimanya. Abu Ali al-Naisapuri pernah mengatakan, Orang yang meriwayatkan hadis kepada kami adalah seorang imam hadis yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abd al Rahman al-Nasai.Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-Uqbi al-Mishri. Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasai meninggal di Ramallah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Jafar al-Thahawi (murid al-Nasai) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasai meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina. Inna lillah wa Inna Ilai Rajiun. Semoga jerih payahnya dalam mengemban wasiat Rasullullah guna menyebarluaskan hadis mendapatkan balasan yang setimpal di sisi Allah. Amiiin.

Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

148

Hadis tentang Keutamaan Surah Al-Kahf

F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD Tinjauan Penulis terhadap berbagai keterangan sanad di atas bahwa hadist tersebut dapat diterima dan kredibilitasnya dapat diketahui, terdapat satu pendapat dari kritikus al-Zahabi yang menyatakan tidak terdapat kesalahan. Demikian hadis diatas dapat diterima.
G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Uraian sanad diatas dapat kami simpulkan bahwa sanad hadis ini kualitasnya Hasan Shahih dan dapat diterima serta diamalkan.
H. KANDUNGAN HADIS

Umat islam mempunyai petunjuk yang Allah turunkan melalui kitab suci al-Qur an untuk menjadikan sebagai pedoman dan tuntunanSalah satunya Sabda Rasulullah SAW yang di riwayatkan oleh Abu Darda: Siapa yang membaca 10 ayat dari Surah al-Kahf akan mendapatkan perlindungan dari fitnah Dajjal. Para ulama sepakat baik dari kalangan salaf dan khalaf tentang keutamaan membaca surat al-Kahf Dan di dalam hadits lain dijelaskan maksud daripada perlindungan dan penjagaan dari fitnah Dajjal ialah sebagaimana wasallam: maka barangsiapa di antara kalian yang menjumpai Dajjal, hendaknya ia membacakan di hadapannya ayat-ayat pertama surat Al-Kahf, karena ayat-ayat tersebut (berfungsi) sebagai penjaga kalian dari fitnahnya. Surat Al-Kahf yang merupakan salah satu surat Al-Quran Al-Karim yang mempunyai keagungan dan keutamaan dibanding beberapa surat yang lain. Adapun keutamaan dan keagungan surat Al-Kahf, maka akan didapatkan oleh setiap muslim dan muslimah yang membacanya dengan niat ikhlas demi mengharap wajah dan ridho Allah, mengimani dan hukum dan pelajaran menghayati makna-maknanya yang terkandung di serta berusaha mengamalkan sesuai tuntunan Nabi sabda Nabi shallallahu alaihi

dalamnya

shallallahu alaihi wasallam. Wallahu Alam bi as-Showab !!!

Oleh : Andi Purnomo (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

149

HADIS KEENAM BELAS

Fadhilah Membaca Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali OLEH HASRUL


(NPM: 10.31.0264)

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
A. MATAN HADIS

Al-hamdulillah,

satu

kepuasaan

tersendiri atas selesainya karya tulis ini.

Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis yang penelusurannya melalui pendekatan mujam (al-fazh).1 Walaupun demikian, dalam tataran aplikasinya kami juga

menggunakan pendekatan Sanad dan Atraf demi meraih hasil yang lengkap dan sempurna. Metode yang digunakan dalam pembahasan ini ialah metode Mujam2 yaitu Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy3 dan metode Digital yaitu Maktabah as-Syamilah. Penulis juga dalam memberikan syarah memadukan dari beberapa sumber untuk melengkapi keterangan yang bersangkutan dan penjelasan dalam beberapa bagian yang dibutuhkan. Hal ini demi menunjukkan kualitas ilmiahnya dan memberikan pemahaman yang lebih serta pertimbangan studi komparatif dengan sumber lain yang sama. Hadis yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:

,
Hadis diatas mengabarkan setiap sesuatu memiliki hati dan hati al-Quran adalah Yasin. Pemahaman lain yang dapat dipetik dan inilah yang menjadi pokok kandungan hadis ini ialah fadhilah surah Yasin mengenai orang membacanya akan mendapatkan

pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali. Mengenai keotentikan atau keabsahan hadis ini, penulisan semaksimal mungkin menyajikan penjelasannya dibawah ini.
B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Penelusuran melalui al-Mujam

matan

hadis

diatas sebagaimana yang kami telah sebutkan yaitu li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy dan maktabah

al-Mufahras

syamilah. Hasil penelusuran hadis di atas dengan menggunakan kedua metode ini dapat dilihat sebagai berikut: a) Metode al-Mujam al-Mufahras Melalui metode al-Mujam li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy yang al-Mufahras

dalam praktinya menggunakan pendekatan al-Fash, kami menemukan hadis diatas pada dua sumber dengan hasil penelusuran tercantum sebagai berikut:
Pendekatan mujam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak populer di masyarakat. (dalam Makalah Pengantar Ilmu Takhrij oleh Ahmad Ubaydi Hasbillah 24 Feb 2011) 2 Metode Mujam ialah metode takhrij hadis yang mengandalkan buku-buku mujam (buku hadis yang secara sistematis ditulis berdasarkan urut-urutan huruf alfabet) dalam melakukan kerja takhrijnya. Metode ini, sesuai dengan kebutuhannya, dibagi menjadi dua yaitu: mujami shakhsi dan mujami alfazi. 3 Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur.
1

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

151

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali [ ] dan [ ] Hasil penelusuran di atas menunjukkan keterangan asalnya dalam kitab induknya yang dapat dirinci sebagai berikut:4
[ ] yaitu: ( )menunjukkan terdapat dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, (

) menunjukkan ada dalam kitab Keutamaan al-Quran, () menunjukkan nomor urut bab ke-9.
[ ] yaitu: ( )menunjukkan terdapat dalam kitab Sunan ad-Darimi,

( ) menunjukkan ada nomor urut bab ke-21.

dalam

kitab Fadhilah al-Quran, () menunjukkan

Demikianlah beberapa hasil yang dapat kami paparkan melalui penelusuran metode al-Fashi dengan pendekatan Mujam. b) Metode Digital (Maktabah as-Syamilah) Melalui metode digital yaitu Maktabah syamilah yang merupaka sebuah software mutakhir yang memiliki kapasitas tinggi dalam search engine khususnya kumpulan hadis Nabawi. Software ini diterbitkan oleh jaringan Da'wah Islamiyah al-Misykat yang memuat kurang lebih 26.080 kitab pada versi barunya tahun 2012 serta dikelompokkan dalam 29 bidang keilmuwan Isalam.5 Penelusuran melalui metode digital ini sangat simple dan dapat memanfatkan semua pendekatan seperti pendekatan sanad, atraf, mujam, maudui maupun sifat atau hukum hadis. Hal ini juga serupa pada praktik metodenya karena kitab ini memuat beragam kitab sesuai kebutuhan. Search engine ini sistematika penyusunan jamii dan yang lainnya. Selanjutnya dalam penelusuran metode digital ini, yaitu maktabah syamilah. Kami menemukan juga pada beberapa sumber lain serta mencakup juga dari sumber yang telah kami temukan melalui metode mujam al-Fash. Sebagaimana tema dalam hadis ini tentang orang membaca Yasin akan mendaptkan pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali namun, terdapat juga penelusuran yang menemukan hanya sekedar menyebutkan bahwa Yasin adalah hati al-Quran yang serupa diungkap diawal redaksi matan hadis ini. Untuk lebuh jelasnya dapat dilihat pada uraian dibawah ini. kitab seperti memuat berbagai macam kitab-kitab shahih, sunan, musnad, mujam,

4 5

Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), hal. 111 http://www.pesantrenvirtual.com/shamila

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

152

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali )c) Kesimpulan Hasil Penelusuran (Takhrij Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis melalui penelusuran metode Mujam dan penelusuran metode digital dapat dilihat :sebagai berikut ) ( 1) Sunan at-Tirmidzi

: : : . 6 ( ) , , : : 7 . ( ) : 8 ". ( )

) ( 2) Sunan ad-Darimi

) ( 3) Syabu al-Iman

) ( 4) Mujam Ibnu al-Araby

: : . 9 ( )
6

Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Bab 176 ., Cet I, Hal 7 ,2 , Juz Imam Darimi, Sunan ad-Draimi (Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M), Bab 923 .Cet. I, Hal 8 Imam Baihaqi, Syabul Iman (Riyadh : Dar al-Salaf, 1423 H / 2003 M), Juz 4, Hal. 94, Cet I 9 ,Ibnu Arabi, Mujam Ibnu al-Araby (Dar Ibnu al-Jawazi, 1418 H / 1997 M), Jus 5, Cet. I 151 .Hal

| )Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta

351

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali Selanjutnya dalam penelusuran ini, kami menemukan juga beberapa hadis yang serupa yang letak persamaanya dalam redaksi yang menyatakan bahwa Yasin adalah hati al-Quran. Walaupun demikian, hadis ini hanya kami paparkan sebagai pertimbangan karena memiliki tema fadhilah yasin yang berbeda dengan tema pada pembahasan ini. Uraian hadis tersebut dapat dilihat sebagai berikut: 1) Sunan al-Kubra an-Nasai ()

: : : 10 ) . (
2) Musnad Ahmad Hanbal ))

: { } . ( 11 )
Kedua hadis di atas menjelaskan juga tentang fadhilah surah Yasin untuk dibacakan kepada orang-orang yang yang menghadapi sakaratul maut. Penafsiran lain mentebutkan bahwa yang dimaksud ( ) ialah orang yang telah wafat sehingga maksudnya mengirimkan bacaan surah Yasin kepada si mayyit seperti pada umumnya dilakukan dalam tardisi umat Islam di Indonesia, Wallahu Alam. Matan kedua hadis di atas adalah sama yang artinya dapat di lihat dibawah ini: Dan Yasin adalah hati al-Quran. Tidak ada seseorang yang membacanya yang mengharapkan Ridha Alah dan pahala taman sorga kecuali ia akan diampuni, dan bacakanlah Yasin itu untuk mayit kalian.

Imam an-Nasai, Sunan al-Kubra an-Nasai (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411 H / 1991 M), Bab , Juz 9, Hal. 394 11 Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Bab , Cet I, Hal. 671

10

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

154

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

1) Sunan at-Tirmidzi ()

Artinya:

Sesungguhnya bagi setiap sesuatu memiliki hati dan hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membaca Yasin maka Allah mencatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan al-Quran sepuluh kali 2) Sunan ad-Darimi ()

Artinya:

Sesungguhnya bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membacanya maka sesungguhnya ia seperti membaca al-Quran sepuluh kali 3) Syabu al-Iman ()

Artinya: Bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Barang siapa yang membaca Yasin maka Allah mencatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan al-Quran sepuluh kali 4) Mujam Ibnu al-Araby ()

Artinya: Bagi setiap sesuatu memiliki hati dan sesungguhnya hati al-Quran adalah Yasin. Maka barang siapa yang membaca Yasin maka dicatat baginya untuk bacaannya dengan bacaan al-Quran sepuluh kali Berdasarkan berbagai redaksi matan dari hadis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa redaksi hadis tersebut tidak ada perbedaan yang signifikan. Perbedaanperbedaannya masih dimaklumi dan tetap menunjukan makna yang sama antara satu redaksi dengan redaksi yang lainnya. Oleh karena itu, hadis di atas kemungkinan besar disampaikan kepada kita oleh para perawi dengan riwayat bil makna.
Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

155

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
D. SKEMA SANAD

:Berdasarkan hasil penelusuran di atas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut

Mukharrij Hadis, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Arabi dan al-Baihaqi


| )Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta

651

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Berdasarkan skema sanad dari keempat hadis diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam al-Tirmidzi,dengan komposisi sanad; Anas bin Malik, Qatadah, Mukatil bin Hayyan, Harun Abi Muhammad, Hasan bin Shalih, Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy, Qutaibah bin Said dan Sofyan bin Waki. a) Anas bin Malik (w. 93 H) Anas bin Malik memiliki nama lengkap Anas bin Malik bin Nadhar Abu

Hamzah al-Anshary al-Madny.12 Beliau termasuk urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits. Ketika ia berusia 10 tahun, ibunya Ummu sulaiman membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk berkhidmat. Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya Dia adalah anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah. Komentar Abu Hurairah tentang Anas Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik). Pada hari hari terakhir masa kehidupannya, Anas pindah ke Basrah. Itulah sebabnya para Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di Basrah. Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang pernah mendenganr dari Rasululah Shallallahu alaihi wassalam. Anas bin Malik wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui seratus tahun. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya.13 Ulama telah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil dan ini mendapat legitimasi dari banyak dalil, baik al-Quran maupun Hadis.14 Adapun guru-guru dan murid Anas bin Malik dapat dilihat pada tabel berikut:15 No 1 2 3
12

Guru

Murid

As-Suyuty, Thabaqah al-Huffash (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H / 1994 M), Cet. I,

Hal 19 Rawah at-Tahzibain, 3/319 M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad M (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), Hal. 390 15 Rawah at-Tahzibain, Hal. 565
14 13

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

157

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali b) Qatadah (w. 100 H) Nama lengkapnya adalah Qatadah bin Diamah bin Qatadah. Sebagian juga mengatakan Qatadah bin Diamah bin Akabah, as-Sudusy, Abu Khattab al-Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-4 ( ) yang lahir pada tahun 60 H / 61 H dan wafat pada tahun 100 H.16 Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah: No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Muhammad bin Sirrin Syabi Jarh Tadil Keterangan

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau:17 No 1 2 3 4 5 Guru Murid

Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah. c) Mukatil bin Hayyan (w. 150 H) Mukatil bin Hayyan memiliki nama Mukatil bin Hayyan bin Dawala Dura Abu Bistham al-Nabty. Beliau tergolong dalam tabaqah ke-6 ( .) Ia wafat pada tahun 150 di India, kabil.18 Berikut pendapat para ulama terhadap Mukatil bin Hayyan: No 1 2 3 4 5 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Yahya bin Main Abu daud Abduas-Salam bin Atiq
16

Jarh -

Tadil - -

Keterangan -

Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-NublaI (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Hal. 269-272 17 Rawah at-Tahzibain, Hal. 5518 18 Ibid, Hal. 8686

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

158

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali Adapun guru-guru dan murid-murid Mukatil bin Hayyan dapat dilihat sebagai berikut:19 No 1 2 3 Guru Murid Muslim; Abu Daud;

Berikut Imam hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah. d) Harun Abi Muhammad

Harun Abi Muhammad memliki identitas yang kurang diketahui. Ia termasuk dalam thabaqah ke-7 ( .) Perawi hadis yang mengambil hadis darinya hanya Imam at-Tirmidzi.20 Untuk kritikus ulama terhadap beliau dapat dilihat dibawah ini: No Kritikus 1 Ibnu Hajar 2 Az-Zahabi 3 Abu Isa Jarh Tadil Keterangan -

Untuk jarh Harun Abu Muhammad diatas pada nomot 3, kami nukil dari syarah Sunan at-Tirmidsi yang dikemukakan oleh Abu Isa. Di dalam rawah at-Tahzibain halaman 7249 dicatumkan hanya ada satu guru Harun, yaitu Mukati bin Hayyan dan juga hanya memiliki satu murid, yaitu Hasan bi Shalih bin Hayyin. e) Hasan bin Shalih Nama lengkapnya adalah Hasan bin Shalih bin Shalih bin hayyin. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-7 ( ) yang lahir pada tahun 100 H dan wafat pada tahun 169 H. Berikut pendapat para ulama terhadap Hasan bin Shalih: 21 No Kritikus 1 Ibnu Hajar 2 3 4 Al-Zahabi Ahmad bin Hanbal Yahya bin Main
19 20

Jarh -

Tadil - - - -

Keterangan -

Rawah at-Tahzibain, Hal. 7249 Ibid. 5518 21 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Hal. 361-372

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

159

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali Adapun guru-guru dan murid-murid Hasan bin Shalih bin Hayyin diantaranya seperti dibawah ini: No 1 2 3 Guru Murid

f) Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy Nama lengkapnya adalah Humaidi bin Abdirrahman bin Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-8 ( ) dan wafat pada tahun 189 H atau 190 H dan atau setelahnya. Diantara imam hadis yang meriwaytkannya hadisnya ialah Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, NasaI dan Ibnu majah. Berikut pendapat para ulama terhadap Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy:22 No 1 2 3 4 5 Kritikus Ibnu Hajar Ibnu Abi Syaibah Yahya bin Main Ibnu Saad Ajaly Jarh Tadil Keterangan -

Adapun guru-guru dan murid-murid Humaidi bin Abdirrahman ar-Rawasy diantaranya seperti dibawah ini: No 1 2 3 Guru Murid

Berikut Imam hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.23 g) Qutaibah bin Said Nama lengkapnya Qutaibah bin Said Jamil bin Tharif al-Sakafy. Ia juga memiliki nama lakab Abu Raja al-Balhy al-Baglany dan namanya juga biasa dipanggil Yahya. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-10 ( ) yang lahir pada tahun 150 dan wafat pada tahun 240. Berikut mukharij hadis yang meriwatkan hadis dari beliau: Bukhari; Muslim; Abu Daud; Tirmidzi; Nasai dan Ibnu majah.24
Rawah at-Tahzibain, Hal. 1551 Ibid, Hal. 1551 24 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-NublaI (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 111, Hal. 15-17
23 22

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

160

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali Berikut pendapat para ulama terhadap Qutaibah bin Said: No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Yahya bin Main Ibnu Harisy Jarh Tadil Keterangan -

Adapun guru-gurunya dan murid-muridnya sebagai berikut: 25 No 1 2 3 h) Sofyan bin Waki Nama sebenarnya adalah Sufyan bin Waki bin Jarrah ar-Ruaasi, Abu Muhammad al-Kufy. Ia seorang ulama dari tabaqah ke 10 ( ) yang wafat pada tahun 247 H. Imam hadis yang meriwayatkan hadisnya ialah Majah.26 Berikut pendapat para kritikus terhadap beliau: No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Ibnu Hibban Abu Zaruah Jarh - Tadil Keterangan at-Tirmidzi dan Ibnu Guru Murid

Adapun guru-guru dan murid-murid beliau sebagai berikut:27 No 1 2 3 4 5 Guru Murid

Rawah at-Tahzibain, Hal. 5522 Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 11, Hal. 152-153 27 Rawah at-Tahzibain, Hal. 2456
26

25

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

161

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali i) Imam at-Tirmidzi Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyur. Beliau tergolong dalam thabaqah ke-12 ( ) yang lahir pada tahun 210 H di kota Tirmiz, Iran. 28 Semenjak kecilnya Abu Isa sudah gemar mempelajari ilmu dan mencari hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Irak, Khurasan

dan lain-lain. Ia wafat di Tirmiz pada malam S enin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.29 Diantara guru beliau ialah Imam bukhari, Imam muslim dan Abu Daud bahkan Tirmidzi belajar pula hadits dari sebagian guru mereka.Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabiaid, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar dan lainnya. Abu Isa aat-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi ke dalam kelompok Siqah. Abu Yala al-Khalili dalam kitabnya Ulumul Hadits menerangkan bahwa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya dan imam yang menjadi ikutan banyak orang.
F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Menganalisa berbagai rawi yang telah diuraikan diatas, sebagian besarnya adalah memenuhi standar seorang rawi dan dapat diterima hadisnya. Adapun kriteria yang lainnya, diantaranya ada satu rawi yang majhul. Jati diri dan identitasnya tidak Melalui

diketahui sehingga sifat-sifat keadilan dan kedhabitannya tidak dapat dipastikan.

analisa kami, hadis ini termasuk Majhul Ayn karena perawi (Harun Abi Muhammad) tidak ada yang mengambil periwayatannya selain satu orang, yaitu Hasan bin Shalih. Hal ini kami landaskan dengan kutipan dalam kitab Rawah at-Tahzibain yang
menyebutkan satu murid dari Harun Abi Muhammad. hanya

Pada sanad yang lain, ada juga riwayat yang dihukumi dhaif, yaitu Sofyan bin Waki namun masih dapat ditolerir melalui jalur Qutaibah bin Said karena Imam Tirmidzi meriwayatkan hadis ini dari keduanya. Dengan demikian, cacat hadis ini terletak pada salah satu sanadnya yang tidak diketahui identitasnya.
Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai (______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M), Cet. III, Juz 11, Hal. 152-153 29 Dr. Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), hal.262-263
28

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

162

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Berdasarkan data diatas, terdapat rawi yang majhul dan ada juga yang dhaif serta terdapat pula rawi yang yang kadang tersalah dalam pendapatnya, yaitu Mukatil bin Hayyan sehingga Imam Bukhari tidak meriwaytkan hadis darinya. Namun, dua cacat terakhir (dhaif dan Khata) masih dapat dimaklumi dengan adanya keterangan-keterangan yang melegitimasinya. Hal ini berbeda dengan cacat pertama, yaitu kemajhulan rawi yang menunjukkan hadis ini menjadi Dhaif karena catat keadilan. Mengenai jalur hadis diatas, letak kemajhulannya terletak pada jalur yang tunggal dari sanadnya sehingga tidak ada kemungkinan mendapat legitimasi dari jalur lain. Walaupun demikian, analisa kami menganggap hadis ini tidak terlalu dhaif karena sebab kedhaifannya terjadi karena catat keadilan. Pada sisi lain, kasus Rawi yang majhul ada hadisnya yang diriwayatkan oleh seorang yang Tsiqah dan bahkan Imam bukhari meriwayatkan hadisnya dan meletakkan dalam sebuah kitabnya yaitu ( ) dan begitu juga Imam hadis yang lain. Imam yang kami maksud di sini ialah Hasan bin Shalih yang meriwayatkan hadis ini dari Harun Abi Muhammad yang di jarh dengan Majhul oleh beberapa kritikus. Simpulan akhir yang dapat dipetik terkait sanad hadis ini ialah termasuk hadis Ahad dari tinjauan kuantitas sanad dan termasuk hadis dhaif dari tinjauan kualitas sanad. Kedhaifannya karena ada rawi yang majhul yang berdasarkan berbagai analisa diatas masuk dalam kategori cacat keadilan, bukan cacat kedhabitan sehingga derajat kedhaifannya tidak tergolong dhaif tingkat rendah. Kemudian yang terakhir, hadis ini dapat disebut hadis majhul dalam kategori majhul al-Ayn.30
H. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad diatas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis ini Dhaif karena ada rawi yang Majhul tetapi tidak sampai pada derajat yang paling rendah. Tingkatan dhaifnya disebabkan cacat keadilan pada salah satu rawinya, bukan cacat kedhabitan seperti Hadis Mungkar yang menempati hadis dhaif paling rendah. Dengan demikian, hadis ini dapat diamalkan dalam batasan-batasan tertentu dengan tetap berlandaskan pada sumber-sumber hukum syariat yang lebih qati. Keterangan pengamalan hadis dhaif, akan diuraikan lebih lanjut di bawah ini. lebih lanjut mengenai

Majhul al-Ayn, yaitu seorang perawi disebutkan dalam sanad tetapi tidak tidak ada yang mengambil periwayatannya selain satu orang perawi. Lihat : Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis (Jakarta: AMZAH, 2009), Cet. II, Hal. 185

30

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

163

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
I. FIQHUL HADIS

Setelah menguraikan secara rinci dari uraian sanad di atas, berikut ulasan mengenai matan hadis ini. Ada dua informasi penting yang terkandung dalam hadis ini, yaitu mengabarkan bahwa yasin adalah hati al-Quran dan keutamaan membaca Yasin seperti membaca al-Quran sepuluh kali. Pada hadis lain dengan sanad dan matan yang berbeda, ada juga yang menyebutkan bahwa Yasin adalah Hati al-Quran yang dihubungkan dengan fadhilahnya ketika dibacakan kepada orang yang sakarat (masa naza) atau orang mati (Yasin Fadhilah). Oleh karena itu, sisi keutamaan Yasin sebagai salah satu surah al-Quran adalah sebagai pusat atau inti al-Quran sebagaimana peranan hati dalam diri manusia. Hadis ini banyak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir seperti, Tafsir Haqqi 422 (Hal.) /11 (Juz); Assirajul Munir; Tafsir Ibnu Katsir 257 / 13; Ruhul Maani 103/1, Tafsir Manar 234/8 serta tafsir-tafsir lainnya.31 Seperti disebutkan di dalam Tafsir yang serupa dengan pernyataan Imam Ghazali menyebutkan Yasin di katakan sebagai hati al Qur`an

karena maksud al-Quran di turunkan untuk menjelaskan bahwa manusia akan di kumpulkan di mahsyar , lalu mereka yang patuh akan mendapatkan balasan yang layak dan mereka yang suka dengan perbuatan kemaksiatan tidak akan lepas dari sangsi dan adzab.32 Analisa kami terhadap keterangan diatas menunjukkan bahwa yang disebutkan dalam hadis mengenai keutamaan surah Yasin yaitu, membacanya seperti membaca

al-Quran sepuluh kali dan untuk bacaan Yasin fadhilah atau untuk orang yang sakarat. Selain itu, Surah ini dapat diamalkan dari berbagai segi kehidupan seperti yang telah menjadi tradisi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dipahami dari redaksi kedua hadis yang telah kami sebutkan di atas menunjukkan (1) Yasin adalah Hati al-Quran teks ini berlaku secara umum; (2) Membacanya Yasin dituliskan pahala seperti membaca al-Quran sepuluh kali adalah teks yang khusus sebagai penjabaran makana dari teks umum, yaitu Yasin adalah Hati al-Quran. Poin kedua ini serupa dengan teks bacalah Yasin pada orang yang sakarat atau orang yang tealah mati. Dengan demikian, Surah Yasin dapat diamalkan sebagai washilah atau doa untuk mengharap Ridha Ilahi sesuai dengan niat niat masing-masing. Terakhir, diantara kita jangan sampai muncul persepsi adanya perbedaan antara satu surah dengan surah lainnya karena hakikatnya adalah sama sebagai bahagian dari kitab suci al-Quran.
31 32

Lihat (Maktabah Syamilah) Imam Haqqi, Tafsir Haqqi, Juz 11, Hal. 422

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

164

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali
J. HUKUM MENGAMALKAN HADIS DHAIF

Ada tiga pendapat dikalangan ulama mengenai pengamalan hadis dhaif:

33

a) Hadis dhaif tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik mengenai fadhail maupun ahkam. Ini diceritakan oleh Yahya ibnu Main dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu al-Araby. Tampaknya ini juga merupakan pendapat imam Bukhari dan imam Muslim serta Ibnu Hazm. b) Hadis Dhaif bisa diamalkan secara mutlak menurut Abu Daud dan Imam Ahmad. Keduanya berpendapat bahwa hadis dhaif lebih kuat dari pada rayu perseorangan. c) Hadis Dhaif bisa digunakan dalam maslah fadhail amal, mawaidz atau yang sejenis bila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: Kedhaifannya tidak terlalu sehingga tidak tercakup di dalamnya seorang pendusta atau tertuduh berdusta. Ruang lingkupnya bukan dalam ruang lingkup Aqidah dan hakum syariat Mengamalkannya tidak menyakini bahwa ia berstatus kuat dan juga tetap dinaugi oleh dasar hukum islam lainnya. Contoh, Seorang ayah berkata kepada anaknya: Nak : belajar dan berdoalah agar bisa mencapai cita-cita mejadi Sarjana al-Quran? Ketika Anak tersebut mengamalkannya karena takut kepada orang tuanya dan semata-mata agar dapat menggapai cita-citanya, maka perbuatannya telah keluar dari ajaran syariat. Tetapi, Setidaknya anak tersebut menjalankan perintah orang tuanya untuk berbakti karena perintah berbakti ada landasannya di dalam al-Quran. Begitupun belajar dan berdoa, banyak nash-nash yang qati memerintahkan untuk mengerjakan keduanya. Jadi, poin ketiga ini menuntut pengamalan hadis dhaif agar tidak bertentangan dengan nash-nash Syariat. Analisa terakhir, M. Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Ushul al-Hadis

menyebutkan bahwa pendapat pertamalah yang yang paling selamat. Menurut beliau, banyak hadis-hadis Nabi yang shahih tentang fadhail, targhib, dan tarhib yang sudah cukup agar kita tidak perlu meriwayatkan hadis-hadis dhaif mengenai masalah fadhail dan sejenisnya. Untuk kesimpulan kami mengenai pengamalan hadis dhaif ini, tidak ada larangan bagi ahli ilmu. Adapun bagi orang awam, sebaiknya mengamalkannya demi kehati-hatian.
34

tidak

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!


33 34

M. Ajaj al-Khatib, Ushul al-Hadis (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), Hal. 315-316 Ibid, Hal. 316

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

165

Hadis tentang Keutamaan Membaca Surah Yasin Seperti Membaca al-Quran 10 Kali

Daftar Pustaka
Arabi, Ibnul, Mujam Ibnu al-Araby. _____ : Dar Ibnu al-Jawazi, 1418 H / 1997 M, Cet. I Ubaydi, Ahmad Hasbillah. Pengantar Ilmu Takhrij, makalah disampaikan pada mata kuliah Takhrij Hadits, (Ciputat, 2011) Adz-Zahabi, Sirah Ialamu an-Nublai. ______ : Muassasah ar-Risalah, 1405 H / 1985 M, Cet. III Asqalani, Ibnu Hajar. Tahdzibut Tahdzib, Bairut, Lebanon, 1993 As-Suyuty, Thabaqah al-Huffash. (Beirut : Darr al-Kitab al-Ilmiyah, 1414 H / 1994 M), Cet. I, Hal 19 Az-Dzahabi, Jarah wa at-Tadil Baihaqi, Syabul Iman. Riyadh : Dar al-Salaf, 1423 H / 2003 M, Cet I Darimi, Sunan ad-Daraimi. Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M, Cet. I Haqqi. Tafsir Haqqi (Maktabah Syamilah) Khatib, M. Ajaj, Ushul al-Hadis; Penerjemah, H.M. Nur Ahmad. M. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007 Khon, Dr. Abdul Majid, Ulumul Hadis. Jakarta: AMZAH, 2009 Nasai, Sunan al-Kubra an-Nasai. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1411 H / 1991 M Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi. Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Cet I Wersinck, Dr. A, J., Al-Mujam al-Mufahrasy li Alfadz al-Hadits._______, 1965

Oleh : Hasrul (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

166

HADIS KETUJUH BELAS

Fadhilah Surah al-Mulk sebagai Pemberi Syafaat OLEH


IDHAM CHOLID
(NPM: 10.31.0265)

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhanturkan kepada Zat yang Mahakuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para Rasul-Rasulnya sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk

kehidupan dunia dan akhirat. Slawat dan salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat. Amin. Al-hamdulillah, satu kepuasaan tersendirinya atas selesai karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah contoh Takhrij Hadis melalui metode Mujam (al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy)1 Syamilah). Adapun dan metode Digital (Maktabah aspendekatan

dalam penelusuran kedua metode ini melalui

mujam.2 Hadis yang menjadi subjek pembahasan dalam makalah ini dapat dilihat dengan matan sebagai berikut:

.
Hadis diatas mengabarkan tentang surah Al-Mulk dan keutamaannya. Untuk lebih lanjut mengenai keotentikan atau keabsahannya, penulisan semaksimal mungkin

menyajikan penjelasannya dibawah ini.


B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Penelusuran matan hadis diatas melalui

al-Mujam al-Mufahras

li Alfazh

al-Hadits al-Nabawiy dan maktabah syamilah dapat disimpulakan dengan tiga bentuk matan yang berbeda namun maknanya tetap sama. Kedua matan itu ialah:

.. . . {. , {
Berdasarkan penelusuran melalui al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy, penulis menemukan pada dua sumber, yaitu:

Buku karya seorang sarjana Belanda, Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur. 2 Pendekatan mujam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak populer di masyarakat.

Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

168

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk

] dan [

] [

Selanjutnya dalam penelusuran maktabah syamilah, kami menemukan juga pada .beberapa sumber lain serta mencakup juga dari sumber yang telah disebutkan di atas Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis :dapat dilihat sebagai berikut ) ( 1) Sunan at-Tirmidzi

- - 3 ( )
) ( 2) Musnad Abdu bin Humaid

: 4 ..( )
) ) 3) Musnad Ahmad Hanbal

: : {
5

}.( )

) ( 4) Sunan an-Nasai

: : : , 6 { }.( )
Imam Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi (Beirut : Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1424 H / 2003 M), Bab 96 ., Cet I, Juz 11, Hal 4 ,923 ., Juz 2, Hal Imam Darimi, Sunan ad-Draimi (Kairo : Dar al-Hadis, 1420 H / 2000 M), Bab
3

Cet. I Imam Ahmad, Musnad Ahmad (Beirut : alim al-Kitab, 1419 H / 1998 M), Juz 2, Hal. 321, Cet I 6 903 .Imam an-Nasai, Sunan an-Nasai, , Jus10, Hal
5

| )Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta

961

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk


C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

1) Sunan at-Tirmidzi ()


Artinya: Sesungguhnya di dalam al-Quran terdapat surat yang terdiri dari tiga puluh ayat. surat itu dapat memberikan syafaat kepada seseorang hingga diampuni dosanya ; yaitu surah Tabarakal-ladzi biyadihil mulk 2) Musbad Ahmad ()

} : {
Artinya: Sesungguhnya di dalam al-Quran terdapat surat yang terdiri dari tiga puluh ayat . surat itu dapat memberikan syafaat kepada seseorang hingga diampuni dosanya ; yaitu surah Tabarakal-ladzi biyadihil mulk 3) Sunan an-Nasai ()

} , {
Artinya: Sesungguhnya di dalam al-Quran terdapat surat yang terdiri dari tiga puluh ayat . surat itu dapat memberikan syafaat kepada pembacanya hingga diampuni dosanya ; yaitu surah Tabarakal-ladzi biyadihil mulk 4) Muntakhab min Musnad Abdu bin Humaid ()


Artinya: Sesungguhnya di dalam al-Quran terdapat surat yang terdiri dari tiga puluh ayat . surat itu dapat memberikan syafaat kepada seseorang lalu ia mengeluarkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga; yaitu surah Tabarak Berdasarkan berbagai redaksi matan dari hadis diatas, maka dapat disimpulkan bahwa redaksi hadist tersebut hanya ada perbedaan pada lafazh. Tapi tetap menunjukkan makna yang sama antara satu redaksi dengan redaksi yang lainnya. Oleh karena itu, hadis di atas kemungkinan besar disampaikan kepada kita oleh para perawi dengan riwayat bil makna.
Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

170

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk


D. SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran d iatas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut:

Mukharrij Hadis : At-Tirmidzi Ahmad An-NasaI - Humaid

Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

171

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk


E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Dari keempat sumber hadis tersebut di atas, yang kami teliti sanadnya hadis riwayat Imam al-Tirmidzi dengan komposisi sanad; Abu Hurairah, al-Jusyamy, Qatadah, Syubah, Imam at-Tirmidzi. a) Abu Hurairah (w. 57 H)

adalah Abbas

Muhammad bin Jafar, al-Hajjaj bin Muhammad dan

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist. Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, Rasulullah sendirilah yang memberi julukan Abu Hurairah, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau kepadanya. Allah Subhanahu wa taala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya. Abu Hurairah meriwayatkan hadist dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin Kaab, Utsman bin Zaid, Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri dari para sahabat dan tabiin. diantara lain dari sahabat yang diriwayatkan adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik, sedangkan dari kalangan tabiin antara lain Said bin alMusayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha, Mujahid dan Asy-Syabi. Sanad paling shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibnu Shihab az-Zuhr, dari Said bin al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah). Adapun yang paling Dlaif adalah as-Sari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah. Abu Hurairah wafat pada tahun 57 H di Aqiq. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya. Seluruh sahabat adalah adil. b.) Abbas al-Jusyamy Nama lengkapnya Abbas al-Jusyamy tapi di sebut juga Abbas bin Abdullah atau Abdullah bin Abbas, beliau termasuk dalam thabaqah ke 3 dan hadistnya diriwayatkan - - - dan penulis belum menemukan waktu kelahiran dan wafatnya. Berikut beberapa pandangan Ulama t erhadap Abbas al-Jusyamy.

Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

172

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk

No 1 2 2

Kritikus Ibnu Hibban Al-Zahabi Ibnu Hajar

Jarh -

Tadil

Keterangan

c.) Qatadah (wafat. 100 H) Nama lengkapnya adalah Qatadah bin Diamah bin Qatadah. Sebagian juga mengatakan Qatadah bin Diamah bin Akabah, as-Sudusy, Abu Khattab al-Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-4 ( ) yang lahir pada tahun 60 / 61 dan wafat pada tahun 100. Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah bin Diamah bin Qatadah: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

d) Syuabah (wafat 160 H) Nama lengkapnya: dan beliau termasuk dari Kibar atbau at-Tabiin dalam thabaqah ke 7 wafat pada tahun 160 H di Bashrah dan hadistnya di riwayatkan oleh - - - - - No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

e) Muhammad bin Jafar Beliau juga di sebut Abu Abdullah al-Bashri dan dikenal juga dengan dan beliau dari kalangan Shighar at-Baut tabiain pada Thabaqah ke 9 wafat 293 atau 294 yang meriwayatkan hadistnya . - - - - - pendapat kritikus ulama terhadap beliau sebagaimana berikut:

Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

173

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk

No 1 2

Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi

Jarh -

Tadil

Keterangan -

f) Al-Hajjaj bin Muhammad Nama lengkapnya beliau dari kalangan Shighar at-Baut tabiain pada Thabaqah ke 9 wafat 206 H di Baghdad yang meriwayatkan hadist beliau - - - - - . No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

g) Imam at-Tirmidzi

Nama lengkapnya adalah Imam al-Hafidz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan dan pengarang berbagai kitab yang masyur yang lahir pada tahun 209 di kota Tirmiz. Semenjak kecilnya Abu Isa mencari hadits. Untuk Hijaz, keperluan sudah gemar mempelajari ilmu dan ke berbagai negeri:

inilah ia mengembara

Irak, Khurasan dan lain-lain. Ia wafat di Tirmiz pada malam Senin 13

Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun. Diantara guru beliau ialah Imam bukhari, Imam muslim dan Abu Daud. Bahkan Tirmidzi belajar pula hadits dari sebagian guru mereka.Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi Arabiaid, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin Abdur Rahman, Muhammad bin Basysyar, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni, Muhammad bin al-Musanna dan lain-lain. Hadits-hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya ialah Makhul ibnul-Fadl, Muhammad binMahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Ai-bd bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab Al-Jami daripadanya, dan lain-lain.

Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

174

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Mulk

Abu Isa aat-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi ke dalam kelompok Siqat. Abu Yala al-Khalili dalam kitabnya Ulumul Hadits menerangkan; Muhammad bin Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadits yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas.
F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Tinjauan Penulis terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa ada satu sanad yang di anggab maqbul (Abbas al-Jusyamy) tapi itu tidak dapat dapat mengurangi kredibilitas yang lain sehingga tidak mengakibatkan sanad hadis menjadi tertolak. Hanya saja di kitab sunan Tirmizi hadist ini di hukumi Hasan tapi karena penulis melihat dari jalur lain dan semuanya tidak didapati kelemahannya maka dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim hidist ini Shahih.
G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Berdasarkan data diatas karena tidak terdapat rawi yang tertolak meskipun ada rawi yang dianggap hanya Maqbul saja tapi hadist ini Muttashil as-Sanad.
H. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad diatas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis ini SHAHIH meskipun ada sanad yang di hukumi Maqbul.

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

Oleh : Idham Cholid (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

175

HADIS KEDELAPAN BELAS

"Fadhilah Surah al-Zalzalah, Surah al-Kafirun & Surah al-Ikhlas OLEH


MUH. MUSLIM
(NPM: )

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhaturkan kepada dzat yang Maha kuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Shalawat dan salam bagi baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat-sahabat serta semua pengikutnya.mudah-mudahan syafaat beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat Amiin. Alhamdulillah, atas terselesaikannya makalah ini yang berjudul KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-ZALZALAH, AL-KAFIRUN, DAN SURAT AL-IKHLAS. semoga apa yang pemakalah paparkan bermanfaat bagi semua yang membaca dan khususnya bagi pemakalah sendiri. Masih ada banyak kesalahan dalam makalah ini untuk itu pemakalah banyak membutuhkan kritik dan saran dari teman-teman semua.
B. TEKS HADIS

C. HASIL PENELUSURAN

Dengan melalui dua metode mujam dan metode digital, penulis menemukan teks hadis tersebut dengan sanad lengkap dalam dua kitab hadis yakni, kitab Sunan at-Tirmidzi dan syubul Iman karangan Al-Baihaqi. Teks-teks hadis tersebut adalah sebagai berikut : 1. Sunan At-Tirmidzi

2. Syuabul Iman

: " 2
1 2

. Abi Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Sunan At-Tirmidz,(Bairut: Darul Fikr), jilid 4, h. 408. . Makatabah Syamilah

Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

177

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas


D. SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran diatas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut:

E. PENELITIAN (KRITIK SANAD(

Dari kedua sanad hadis diatas, penulis meneliti sanad hadis dari Jalur Imam Tirmidzi yaitu: Anas bin Malik,Tsabit al-Banani, Hasan bin Salim bin Shalih Al-Ijly, dan Muhammad bin Musa al-Harasy al-Bashry. a. Data biografi para rawi 1. Anas bin Malik Lahir dari seorang ibu bernama Umm Sulaiman dan ayah bernama Malik bin anNadhir pada tahun 8 sebelum hijrah. Beliau adalah urutan ketiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Ketika berusia 10 tahun ibunya membawanya kepada Rasulullah untuk berkhidmat kepadanya. Beliau wafat pada tahun 99 H.

Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

178

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas

Sanad paling sahih yang bersumber awalnya darinya ialah Malik, dari Az-Zuhri, dari dia. Sedangkan yang paling dhaif adalah Dawud bin al-Mudabbir,dari ayahnya dari Abban bin Abi Iyasy dari Dia. Mengingat beliau adalah seorang sahabat, tentu tidak perlu dikritik dan diragukan kredibilatasnya karena para ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. 2. Tsabit al-Banani Nama lengkapnya adalah Tsabit bin Aslam al-Banany. Nama laqob beliau adalah Abu Muhammad al-Basry. Beliau termasuk golongan Tabiin tingkatan yang ke-4. Menurut Al-Bukhari dalam kitabnya Tarikhul Ausat dikatakan bahwasanya beliau wafat pada tahun 123 H. Beliau mendapatkan hadis dari beberapa guru yang diantaranya adalah Ishaq bin Abdullah bin Al-Haris bin Naufal, Anas Bin Malik, Bakar bin Abdullah al-Mazani dan lain-lain. Sedangkan murid-murid beliau diantaranya adalah Asas bin Baraz al-Hajimy, Aghlab bin Tamim As-Suudzy, Hasan bin Salim bin Salih al-Ijly dan lain-lain. Pendapat ulama(kritikus) tentang beliau : No 1 2 3 4 5 6 Kritikus Abu Tayyib Ahmad bin Abdillah al-ijly An-Nasai Ibnu Hajar Adz-dzahabi Ibnu Hibban Jarh Tadil ket Shaihul hadis tsiqah tsiqah Tsiqatun abidun Kana rasan fil ilmi wal amal Kana min abudi Tergolong ahli Basrah orang ahli ibadah Tsiqah

kesimpulan 3. Hasan bin Salim bin Shalih Al-Ijly

Nama lengkapnya adalah Al-Hasan bin Salim bin Salih al-Ijly al-Basry. Beliau dipanggil juga dengan nama Al-Hasan bin Sayyar bi Salih atau Hasn bin Salih. Ia adalah termasuk tabaqat dari golongan tabiut tabiin yang ke-8. Menurut Al-Mizzi, ia seorang syaih yang tidak dikenal atau majhul, yang hanya memiliki satu hadis saja. Yakni; hadis yang didiriwayatkannya dari tsabit dari Anas bin Malik. Dalam hal periwayatan hadis ia memiliki seorang guru yaitu Tsabit dan seorang murid bernama Muhammad bin Musa al-Harasy.
Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

179

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas

Pendapat ulama(kritikus) tentang beliau : No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Adz-Dzahabi Al-Uqaily Al-Ajiry Jarh Majhul Lam yadzkurhu Haditsuhu ghairu mahfudz Khufia alina amruhu kesimpulan Tadil ket Munkar3

Daif karena majhulul ain

4. Muhammad bin Musa al-Harasy Nama lengkapnya adalah Muhamamad bin Musa binNafi Al-Harasy. Nama laqab beliau adalah Abu Abdillah al-Basry. Beliau merupakan dari kalangan kibarul akhidzin min tubai atbaa dari thabaqah ke-10. Ia wafat pada tahun 248 H. Diantara gurguru yang meriwayatkan hadis kepadanya adalah Jafar bin Sulaiman Ad-Dhubai, Hisan bin Sayah, Al-Hasan bin Salim Al-Ijly dan lain-lain. Sedangkan yang meriwayatkan hadis darinya adalah At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Bakar bin Amrun bin Abdul Khaliq al-Bazaz. Pendapat ulama(kritikus) tentang beliau : No 1 2 3 4 Kritikus Ibnu Hajar Ad-Dzahabi Abu Khatim An-Nasai Jarh lyyinun kesimpulan Tadil swailikhun syaikhun shalikhun Saikhun/shalikhun ket

b. Analisis ketersambungan sanad 1) Redaksi periwayatan( shighat al-tahammul wa al-ada) Berkaitan dengan redaksi periwayatannya,hadis ini bentuk periwayatan

menggunakan sighat tahdis (haddatsa). Hal ini menunjukkan bahwa hadis tersebut adalah bersambung sanadnya. Artinya adanya pertemuan antara guru dan murid (mendengar langsung dari gurunya). 2) Tahun wafatnya Berdasarkan biografi rawi hadis diatas, dapat diketahui bahwasanya dari keempat rawi hadis ini hanya tiga yang dapat diketahui tahun wafatnya yaitu Anas bin Malik., wafat tahun 99 H, Tsabit AL-Bananiy, wafat tahun 123 H dan Muhammad bin Musa al-Harasy, wafat Tahun 248 H. Bila dianalisis, bisa disimpulkan bahwa tidak dimungkinkan terjadinya ketersambungan sanad.
. Nurruddin Atar, Al-Mugni fi Dhuafa lil Imam Al Hafidz Syamsuddin bin Ahmad Usman Adzahabi,( Qatar: Idarah Ihyaul turats Al-Islamy)
3

Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

180

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas


F. ANALISIS KUALITAS RAWI HADIS

Berdasarkan sumber yang penulis peroleh, diantara perawi-perawinya, ada salah satu perawi yang daif. Dikarenakan perawi tersebut tidak dikenal (majhul).
G. HUKUM SANAD MATAN HADIS

Berdasarkan hasil penelitian diatas, penulis dapat, mengambil kesimpulan bahwasanya sanad hadis diatas adalah dhaif. Karena ada salah satu rawi yang kualitasnya daif, karena tidak diketahui identitasnya. Sehingga karena terdapat kecacatan dalam

periwayatanya, maka hadis ini termasuk dalam kategori hadis mardud. Artinya hadis ini tidak bisa diamalkan. Namun dalam penelusuran penulis, ada beberapa riwayat yang berkaitan dengan membaca surat al-Ikhlas sama sebanding dengan sepertiga al-Quran. Diantaranya adalah hadis hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu darda Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia bersabda: Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca dalam satu malam (saja) sepertiga al Qur`an? Mereka pun berkata: Dan siapa (di antara kami) yang mampu membaca sepertiga al Qur`an (dalam satu malam, Red)? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: sebanding dengan sepertiga al Qur`an.

: : ' . / : : ( )
Hadis yang diriwayatkan oleh oleh Imam Bukhari dari said al-Khudri dari Nabi muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga al Qur`an dalam satu malam (saja)? Hal itu membuat mereka keberatan, (sehingga) mereka pun berkata: Siapa di antara kami yang mampu melalukan hal itu, wahai Rasulullah? Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allahul Wahidush Shamad (surat al Ikhlash, Red), (adalah) sepertiga al Qur`an. Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, seperti hadits Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu 'anh ,Abu Masud al Anshari Radhiyallahu 'anhu , dan lain-lain. Dengan demikian, berdasarkan hadis-hadis tersebut, khususnya membaca surat Al-Ikhlas, menurut penulis boleh diamalkan.

Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

181

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas


H. KANDUNGAN HADIS

Hadis ini mengandung pelajaran bahwasanya membaca al-Zalzalah itu sama dengan membaca setengah al-Quran, membaca al-kafirun sama dengan seperempat

al-Quran dan membaca surat Ikhlas sama dengan membaca sepertiga al-Quran.

Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

182

Hadis tentang Fadhilah Surah al-Zalzalah, al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas

Daftar Pustaka

Muhammad bin Isa, Abi Isa , Sunan At-Tirmidz,(Bairut: Darul Fikr), jilid 4.t5 Maktabah Syamilah Subhi shalih, Dr Membahas kitab-kitab hadis, (Pustaka Firdaus: Jakarta,2007)
Nurruddin Atar, Al-Mugni fi Dhuafa lil Imam Al Hafidz Syamsuddin bin Ahmad Usman Adzahabi,( Qatar: Idarah Ihyaul turats Al-Islamy).

Oleh : Muh. Muslim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

183

HADIS KESEMBILAN BELAS

Fadhilah Surah Muawwizatain sebagai Rukyah OLEH


ANAS MUJAHIDIN
(NPM: 10.31.0258)

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain


A. PENDAHULUAN

Alhamdulillah puji syukur penyusun haturkan kehadirat Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalam meneliti hadis ini, penyusun menggunakan dua metode, yaitu: 1. Metode Manual, untuk menemukan hadis yang akan ditakhrij dengan menggunakan kitab Athraf. 2. Metode Digital, untuk mencari biografi perawi yang akan kami takhrijkan dalam hal ini penulis menggunakan Maktabah Syamilah. Adapun hadis yang ditakhrij adalah:

.
Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa sallam jika mengeluh sakit akan membaca surat Al-Muawwidzat lalu meniupkannya. Ketika sakitnya bertambah parah, maka akulah yang membacakannya dan mengusapkannya dengan menggunakan tangan beliau dengan berharap berkahnya.
B. HASIL PENELUSURAN HADIS

a. Berikut akan penulis cantumkan beberapa hadis hasil dari pentakhrijan dengan menggunakan metode manual:

) / ( - 1 .

). / ( / :
2

1 2

Sunan Abi Dawud, juz 4, bab kaifa ar-raqiy, hadis no. 3902, Darul Qahirah, Kairo, 1999. Sunan Ibnu Majah, juz 3, Kitab Ath-Thibbi, bab an-Nafatsu fi ar-Ruqiyah, hadis no. 3529, hal.

247.

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

185

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain

/ ( )

3 . . / ( ) 4 .
:b. Adapun hadis yang penulis takhrij dengan menggunakan metode Digital adalah

/ ( ) :

. :

3 4

.044 .Ahmad bin Hambal, juz 18, hadis no. 24712, hal .414 Ahmad bin Hambal, juz 17, hadis no. 24609, hal

| )Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta

681

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain


C. SKEMA SANAD

Berdasarkan beberapa sumber hadis di atas yang kami dapatkan melalui penelusuran melalui metode manual dan metode digital, skema sanadnya dapat dilihat sebagai berikut:

Mukharrij Hadis: Ahmad bin Hanbal Ibnu Majah Abu Daud

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

187

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain


D. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

Dalam perbandingan matan ini pemakalah hanya mencantumkan dua hadis yang memiliki perbedaan dengan hadis yang lain, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Abu Salamah rahmatullah alaih, dan hadis dari jalur Ibrahim bin Abi al-Abbas. Adapun bunyi kedua hadis tersebut adalah:

.. . .
Hadis ini memiliki perbedaan dengan hadis-hadis yang lain. Tempat perbedaannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Abu Salamah ini redaksinya menggunakan () dan (. )
E. ANALIS BIOGRAFI PERAWI

Dalam menganalisis Perawi, penulis hanya menganilisis perawi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dari jalur Abu Salamah. a. Aisyah radhiallahu Anha Beliau adalah Ummul Muminin Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq, Salah satu istri Nabi SAW., dan termasuk dari kalangan sahabat yang menempati peringkat pertama. Beliau wafat pada tahun 57 hijriah. Para Imam Hadis yang meriwayatkan dari beliau, di antaranya, Imam Bukhari, Imam Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah. b. Urwah bin az-Zubair Nama lengkap beliau, Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam bin khuwailin bin Asad bin Abdul Aziz al-Asadi, wafat pada tahun 94 hijriah. Menurut Harun bin Muhammad, beliau wafat antara tahun 99, 100, dan 101 hijriah. Beliau dari kalangan tabiin yang menempati posisi ke 3. Komentar Ibnu Hajar tentang beliau: tsiqat, dan dari az-Dzahabi dari Ibnu Saad: Adalah Urwah bin Zubair seorang yang sangat faqih, alim, banyak menghafal hadis yang tsiqah dan terpercaya. Beliau meriwayatkan dari: bapaknya, saudaranya Abdullah, bibinya Aisyah binti Abu Bakar. Yang meriwayatkan dari beliau: anak-anaknya, Abdullah bin Urwah, Utsman bin Urwah, Umar bin Abdul Aziz az-Zuhri. 5

Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, juz 4, hal. 117.

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

188

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain

c. Ibnu Syihab. Nama lengkap beliau Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin al-Harits az-Zuhri. Wafat pada tahun 124 hijriah. Menurut Yahya bin Said al-Qaththan dan Yahya bin Muyin beliau wafat pada tahun 123 atau 124 hijriah. Beliau dari kalangan tabiin generasi ke 2, dan menempati peringkat ke 3. Imam an-NasaI berkata, sebaik-baik sanad adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab. Komentar Ibnu Hajar tentang beliau: Beliau adalah seorang yang faqih, alHafizh, dan telah disepakati akan ketaqwaannya. Adz-Dzahabi menambahkan beliau adalah salah seorang yang banyak pengetahuannya. Baliau meriwayatkan hadis dari: Abdullah bin Umar bin al-Khatthab, Abdullah bin Jafar, Abdullah bin Aamir, Urwah bin az-Zubair. Dan yang meriwayatkan dari beliau: Atha bin Abi Rabah, Abu Uwais. 6 d. Abu Uwais. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Abdullah bin Uwais bin Malik bin Abi Amir al-Ashbahi. Beliau termasuk generasi ke 3 dari kalangan tabiin, dan berada di peringkat ke 3. Wafat pada tahun 197 hijriah. 7 Beliau meriwayatkan dari: Jafar bin Muhammad as-Shadiq, Rabiah bin Abi Abdurrahman, Muhammad bin Muslim bin Shihab az-Zuhri, Muhammad bin alMungkadir. Yang meriwayatkan dari beliau: Ismail bin Shabiih, anaknya Ismail bin Uwais, Ibrahim bin Abu Abbas. Imam hadis yang meriwayatkan dari beliau: Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah. 8 e. Abu Salamah al-Khuzai. Nama lengkap beliau, Mansur bin Salamah bin Abdul Aziz bin Shaleh al-KhuzaI alBagdadi. Peringkat ke 10 dari ( .( Beliau wafat pada tahun 207 atau 209 menurut Imam Bukhari. Sedangkan menurut Muhammad bin Abdullah alHadhrami beliau wafat pada tahun 209. Muhammad bin Maad mengatakan 210. Beliau meriwayatkan dari: Bakar bin Mudhar al-Mishri, Khallad bin Sulaiman, Sulaiman bin Bilal. Dan yang meriwayatkan dari beliau: Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar bin Abi Khaitsamah, Ismail bin Abi al-Harits.
6 7 8

Al-Mazzi, Tahdzibul Kamal, juz 6, hal. 507. Tahdzib at-Tahdzib, hal. 184. Al-Mazzi, hal. 508.

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

189

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain

Imam ad-Daruquthni mengatakan beliau tsiqat. Kemudian Yahya bin Main juga mengatakan beliau tsiqat. Imam Ahmad menambahkan beliau adalah dari Ulama Bagdad yang tsiqat.9 f. Ahmad bin Hanbal. Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal. Beliau lahir di Baghdad pada tahun 164 H, dan wafat pada tahun 241 H. Beliau meriwayatkan dari Abu Salamah al-Khuzai, Ibrahim bin Abi al-Abbas, Tsabit bin al-Walid Hammad bin Khalid, dan lain-lain. Sementara yang meriwayatkan dari beliau Muhammad bin Yahya bin Abi Saminah, Abu Hatim bin Idris ar-Razi, Abu Ismail Muhammad bin Ismail at-Tirmidzi, Yaqub bin Syaibah as-Sadusi, dan yang lain-lain. 10 Semua ulama yang mengomentari beliau menyatakan beliau adalah tsiqat. Ibnu Sadin berkata tsiqat, shaduq, katsir al-hadis. Kemudian Ibnu Hibban berkata beliau adalah seorang yang hafizh muttaqin faqih. Ahmad bin Salamah an-Naisaburi meriwayatkan dari Qutaibah dari Said berkata Imam Ahmad adalah Imam Dunia. 11
F. ANALISIS KETERANGAN SANAD DAN KUALITAS PARA PERAWI

Setelah penulis melakukan takhrij hadis dan meneliti biografi para perawi hadis. Penulis simpulkan bahwa hadis ini diriwayatkan dengan makna, karena masing-masing hadis memiliki redaksi yang berbeda-beda, namun maksud dan tujuan hadis-hadis tersebut adalah sama. Kemudian untuk keterangan sanad, penulis simpulkan bahwa sanad hadis ini mutawatir karena setelah menganalisis biografi para perawi, dan mengetahui tahun wafat dan guru atau pun murid-muridnya mereka besar kemungkinan antara perawi bertemu langsung. Dan redaksi yang digunakan adalah dengan menggunakan redaksi atau

yang menunjukkan bersambungnya hadis tersebut hingga ke Rasulullah.


G. KANDUNGAN HADIS

Hadis yang diriwayatkan oleh Ummul Muminin Aisyah di atas terjadi ketika Nabi shallahu alaihi wa sallam sakit berat yang mengakibatkan beliau meninggal dunia. Hadis di atas juga menerangkan kepada kita tentang kelebihan surat al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas yang dalam hadis ini disebut dengan al-Muawwidzat. Dan mengajarkan kepada
9

Tahdzibu al-Kamal, juz 7, hal. 231. Ibid., 230. 11 Ibid., 238.


10

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

190

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain

kita bahwa apabila kita diserang oleh suatu penyakit hendaknya kita membaca surat alMuawwidzat dan mengusapkan ke sekujur tubuh kita. Para pensyarah hadis menggunakan hadis ini untuk dijadikan sebagai dalil tentang Ruqiyah. Jadi, ketika salah seorang keluarga kita atau tentangga yang kesurupan atau sering diganggu oleh Jin dan makhluk ghaib lainnya, hendaknya kita membanyakan dan mengusapkan ke sekujur tubuhnya setelah kita membacakan atasnya surat al-Muawwidzat tersebut. Dan Ruqiyah diperbolehkan oleh agama dan syariat karena Nabi pernah melakukannya. Baik digunakan untuk diri sendiri atau kepada orang lain. Sementara hadis yang menggunakan redaksi ( ) maksudnya adalah bahwa Aisyah r.ha mengharap barakah dari tangan Nabi yang mulia. Ini berbeda dengan redaksi di atas yang mengharapkan barakah dari surat al-Muawwidzat. Dan orang-orang yang berobat dengan menggunakan surat al-Muawwidzat akan mendapatkan barakah.
H. KUALITAS HADIS

Dari hasil penelitian penulis tentang hadis di atas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui jalur Abu Salamah al-Khuzai adalah hadis yang Shahih. Karena selain para perawinya tsiqat dan tidak diragukan lagi oleh semua kalangan kritikus sanad, hadis ini juga dibantu oleh hadis-hadis yang lain yang juga diriwayatkan oleh para Imam hadis yang tsiqat, seperti Imam Bukhari dan Muslim. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari:

12 .
Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:

13 .

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

12

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Kitab Fadhail al-Quran, Bab Fadhlu al-Muawwidzat, hadis no.

506. Imam Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an- Naisaburi, Shahih Muslim, kitab as-Salam, bab ath-Thibbi, juz 4, hadis no. 2196.
13

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

191

Hadis tentang Fadhilah Surah Muawwizatain

Daftar Pustaka
Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, Tbk. al-Hidayah, Surabaya. Adz-Dzahabi, Jarah wa at-Tadil. Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzibut Tahdzib, Bairut, Lebanon, 1993. Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mazzi, Tahdzibul Ar-Risalah, Bairut, Lebanon, 1998. Musnad Ahmad bin Hambal. Sunan Abi Dawud, Darul Qahirah, Kairo, 1999. Sunan Ibnu Majah. Kamil fi Asma al-Rijal,

Oleh : Anas Mujahidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

192

HADIS KEDUA PULUH

Fadhilah Ayat Kursi Ketika dibaca dalam Shalat OLEH


ABDUL HAKIM
(NPM: 10.31.0249)

Hadis tentang Fadhilah Ayat Kursi


A. PENDAHULUAN

Puji syukur semoga senantiasa terhanturkan kepada Zat yang Mahakuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para Rasul-Rasulnya sebagai petunjuk bagi umat manusia .kehidupan dunia dan akhirat Solawat dan salam untuk ,baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya untuk

sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak .kita dapatkan di akhirat. Amin
)B. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ

Penelusuran maktabah syamilah, kami menemukan juga pada beberapa macam sanad dan dengan matan berbeda. Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber :hadis diatas dari berbagai kitab hadis dapat dilihat sebagai berikut ) ( 1) Sunan an-Nasai . ) ( 2) Sunan ath-Thobroni Mujam Kabir * . ) ( 3) Sunan ath-Thobroni Mujam Kabir * . ) ( 4) Ath-Thabrani * 1 .


| )Oleh : Abdul Hakim (Mahasiswa PTIQ Jakarta

491

Hadis tentang Fadhilah Ayat Kursi

) ( 5) Al-Baihaqi : : : .
C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

) ( 1. Sunan an-Nasai ) ( 2. Sunan ath-Thobroni Mujam Kabir ) ( 3. Sunan ath-Thobroni Mujam Kabir ) ( 4. Ath-Thobroni ) ( 5. Al-Baihaqi Berdasarkan berbagai redaksi matan dari hadis diatas, maka dapat disimpulkan bahwa matan hadis yang sampai kekita sedikit berbeda-beda, walaupun tidak terlalu jauh .yang mana disana menunjukan ada beberapa tambahan dari para perawi

| )Oleh : Abdul Hakim (Mahasiswa PTIQ Jakarta

591

Hadis tentang Fadhilah Ayat Kursi


D. SKEMA SANAD

Berdasarkan hasil penelusuran diatas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut:
MUHAMMAD SAW

) (

E. BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Dari keempat hadis tersebut diatas, yang kami teliti sanadnya adalah hadis riwayat Imam an-Nasai,dengan komposisi sanad; Abi umamah, Muhammad bin Ziad, Muhammad bin Himyar, Al-husain bin Basyar dan An-Nasai.

a. Abu Umamah (w. 86 H) Nama asli beliau adalah Iyas bin Salabah berada di thobaqot pertama, ada pula yang mengatakan nama asli beliau adalah Tsalabah bin Abdullah, Halif bin harisah, dan berkata pula Abu Hatim bahwa beliau adalaha Tsalabah bin Sahl. Ash-Shanani berkata tentang kaidah yang berkenaan dengan Abu Umamah, bahwa apabila disebutkan didalam riwayat itu Abu Umamah tanpa ada penisbatan maka yang
Oleh : Abdul Hakim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

196

Hadis tentang Fadhilah Ayat Kursi

dimaksud disana yaitu Iyas bin Salabah dan ketika yang diinginkan adalah al-Bahiliy maka akan di cantumkan pula.2 Telah berkata Abu Masyar as-Sanadi aku melihat Abu Umamah seperti aku melihat Nabi, dan berkata pula az-Zuhri Abu Umamah telah memberi khabar kepadaku, dan dia termasuk pemuka kaum anshor dan ulama mereka. 3 Dan telah berkata al-Hafiz didalam Tahzibut Tahzib telah berkata Ahmad al-Hakim bahwa ia tidak mengikuti perang badar atas izin dari Rasul dikarnakan ibunya sakit dan ketika ia sampai disana ternyata ibunya telah wafat lalu ia menshalatinya.4 Beberapa orng yang telah menerima hadis dari beliau adalah, Abdullah bin abi umamah, Abdullah bin anas, Muhammad bin ziad, Abdullah bin kaab.Mengingat posisinya asebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya. Seluruh sahabat adalah adil. b. Muhammad bin Ziad (w. 100 H) Nama asli beliau adlah Muhammad bin Ziad al-Alhani, Dari tobaqot ke-4. Telah berkata Solih bin Ahmad bahwa beliau tsiqoh, dan tealh berkata pula Abdullah bin Ahmad bin Hambal, dia telah menanyakan ayahnya tentang Ismail bin Iyasy dan ayahnya berkata apabila berkata benar seperti perkataan Muhammad bin Ziyad, perkataannya selalu benar. Dan telah berkata pula usman bin said yang mana ia menanyakan kepada Yahya bin Main tentang Muhammad bin Ziad dan beliau berkata tsiqoh. Beberapa guru Muhammad bin Ziad yaitu Abi Umamah, Abdullah bin Bisr Abdullah bin Abi Qiys, Abdurrahman bin Amr. Adapun murid-murid beliau adalah Ibrohim bin Muhammad, Idris bin Ziad, Muhammad bin Himyar, Muhammad bin Harb Wahb bin Kholid dll. Menurut abi hatim beliau tentang beliau . Dan telah berkata pula Ibnu Hibban, tidak ada yang didatangkan oleh beliau melainkan orang yang tsiqoh. c. Muhammad bin Himyar Muhammad bin Himyar bin Unais al-QudhoI dari tobaqot ke- 9, beliau dari sighor Atbaut Tabiin, wafat ditahun 200. Telah berkata Abdullah bin Ahmad bin Hammbal, yang telah menayakan kepada ayahnya tentang Muhammad bin Himyar, beliau berkata , tidak ada yang aku ketahui melainkan kebaikan, telah berkata pula Yahya bin Main bahwa beliau adalah tsiqoh, salah seorang murid beliau adalah al Husain bin Basyr dan Sofyan ats-Tsauri dan menurut Abu Hatim,.

2 3

Syamillah, Subulussalam, bab, sifat solat, juz I, hal. 200 Syamillah, Siyar aalam an-nubala, juz III, hal.518 4 Syamillah, Tahzibut Tahzib, Juz. 12. Hal. 13

Oleh : Abdul Hakim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

197

Hadis tentang Fadhilah Ayat Kursi

d. Husain bin Bisyr Beliau dari thobaqot ke-11, menurut ibnu hajr dan adapun imam az zahabi tidak mngomentarinya, menurut an-NasaI mentsiqohkan. Salah seorang murid beliau adalah Imam an-NasaI dan adapun guru beliau seperti Hajjaj bin Muhammad dan Muhammad bin Himyar. e. Imam al-Nasai Nama lengkap Imam al-Nasai adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Ali bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Qadi. Lahir di daerah Nasa pada tahun 215 H. Ada juga sementara ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun 214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa (al-Nasai), daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadis kaliber dunia. Beliau berhasil menyusun sebuah kitab monumental dalam kajian hadis, yakni al-Mujtaba yang di kemudian hari kondang dengan sebutan Sunan al-Nasai.
F. KANDUNGAN HADIS

namun dilain tempat beliau

Dipembahasan kali ini kita membahas tentang ayat kursi. Kalimat kursi sendiri di ambil dari potongan kata yang ada di dalam ayat itu. Yang dimaksud dengan ayat kursi adalah satu ayat itu yang mana sebelum dan sesudah ayat itu, bukanlah ayat kursi. Para ulama telah berbeda pendapat tentang kata yang menyebabkan kapan Ayat Kursi ini di baca. Sebagian mengatakan bahwa ketika sehabis tahiyyat akhir dan sebelum di baca ayat kursi, dan sebagian lain mengatakan setelah salam. Apapun itu pembahasannya adalah di maksud si pembaca. Apabila yang dimaksud membaca ayat kursi adalah doa, maka dapat dibaca sebelum salam didukung dengan hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairoh di Sohih Bukhori yaitu tentang pencurian yang digagalkan oleh Abu Hurairoh5. Dihadis itu dijelaskan bahwa setan mengajarkan doa kepadanya. Namun ketika yang dimaksud adalah zikir, maka bisa dibaca setelah salam. Ayat kursi sendiri merupakan ayat yang paling mulia didalam kitabulloh sebagaimana telah dijelaskan dihadist Ubai bin Kaab. 6

5
6

Sohih muslim. No. 1343


Oleh : Abdul Hakim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

198

Hadis tentang Fadhilah Ayat Kursi


G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Tinjauan penulis terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa ada satu sanad yang dianggap tidak bisa dijadikan hujjah menurut abu hatim yaitu Muhammad bin Himyar, namun menimbang banyaknya perawi yang menguatkat Muhammad bin Himyar maka kesimpulan yang kami dapatkan adalah hadis ini memiliki sanad yang kuat.
H. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad di atas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis ini Hasan.

Wallahu Alam bi ash-Showab !!!

Oleh : Abdul Hakim (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

199

HADIS KEDUA PULUH SATU

Bacaan Surah dalam Shalat Fajar pada Hari Jumat OLEH


ALIT NURHIDAYAT
(NPM: 10.31.0257)

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat


A. PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadikan kegelapan dan cahaya yang terang, sementara orang kafir tetap dalam pengingkaran terhadap Rabb mereka. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Alaihi shalatu Wassalam yang telah menyampaikan risalah yang harganya tidak bisa dibandingkan dengan langit dan bumi. Merupakan kebahagiaan bagi setiap Muslim ketika mereka mengikuti orang yang dicintainya, yaitu Nabi Muhammad Alaihi shalatu Wassalam dari segala aspek kehidupannya, baik ibadah maupun muamalah. Pada makalah yang jauh dari kesempurnaan ini, pemakalah mencoba memaparkan sebuah hadis keutamaan membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan pada shalat pada jumat subuh serta analisis sanadnya dengan harapan semoga kita dapat mengikuti sunnah yang shahih dari Nabi Muhammad Alaihi shalatu Wassalam. Adapun metode yang digunakan dalam kajian hadis ini adalah dengan metode mujam dan digital (maktabah syamilah). Semoga apa yang kami sajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat. Amin.
B. PERBANDINGAN SANAD DAN MATAN HADIS

) : { )} { }. ( ) .) - -. ( ) ( ) - - ( ) ( ) - ) - . ( - ) ( - ( ) ) ). (
Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

)(

201

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat

) - - ( ). ( ) ) : : { } { }. ( ) ) : . ( ) ) : . ( ) ) : { * : } [ : 251 ] { } [ : 2 ]. ( )

| )Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta

202

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat


C. SKEMA SANAD

Hasil penelusuran dari berbagai sumber hadis di atas, skema sanadnya dapat dilihat :sebagai berikut

:Mukharrij Hadis

Imam Bukhari Imam Muslim Imam Ahmad Imam Abu Daud Imam Ibnu Majah

| )Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta

302

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat


D. ANALISIS BIOGRAFI PARA PERAWI

Adapun para perawi yang kami analisa yaitu para perawi yang terdapat pada hadis riwayat Bukhari dengan perincian sebagai berikut: 1. Abu Hurairah Radiyallahuanhu. Para ulama berbeda pendapat tentang nama Abu Hurairah Radiyallahuanhu sebelum masuk Islam, dikataka: Abdu Syams bin Shar, dan dikatakan pula: Abdu Amr bin Abdu Ghanam. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya dia berkata: sesungguhya namaku ketika jahiliah: Abdu Syams bin Shar, maka Rasulullah memberi namaku Abdur Rahman, akan tetapi namanya telah dikalahkan kemasyhurannya oleh kunyahnya, yaitu Abu Hurairah, dan menjadilah namanya tidak dikenal kecuali dengan sebutan Abu Hurairah. Adapun nasab beliau dari Qobilah Daus Al-yamani, beliau wafat pada tahun 57 H. di Madinah Al-Munawwarah dan dimakamkan di Baqi. 1 Kredibilitas beliau dalam ilmu hadis tidak diragukan lagi. Sebagaimana pendapat para ulama Shahabah Kulluhum Udul dan beliau pernah di doakan juga oleh Rasulullah supaya hafalannya menjadi kuat. 2. Abdurrahman bin Harmuz al-Araji, kunyahnya Abu al-Madani, beliau adalah maula Rabiah bin Harits bin Abdul Muthalib. Beliau berada pada thabaqot ke-3 dari tabiin pertengahan dan wafat pada tahun 117 H. di Iskandariyah. Yang meriwatkan dari beliau diantaranya al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkata dia seorang yang tsiqot, tsabit dan alim. 2 Abu Zarah dan Ibnu Kharasyi berkata: beliau adalah tsiqot.3 3. Said bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf al-Qurasyi az-Zuhri, kunyahnya Abu Ishaq atau Abu Ibrahim al-Madani. Beliau berada pada thabaqat ke-5 yaitu Thabiin kecil dan wafat pada tahun 125 H, juga yang berkata setelah tahun itu. Hadis beliau diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu imam.4 Al-Mizi berkata Majah. Ad-Dzahabi berkata Ia seorang yang tsiqot dan

di dalam tahdzibul kamal: Muhammad bin Said menyebutkannya pada tabaqat ke-4 dari ahli madinah, dan berkata Said bin Ibrahim adalah seorang yang tsiqot dan banyak hadisnya.5
1

DR. Harits Sulaiman Ad-Dhari, Abu Hurairah Shahibu Rasulullah wa Khadimuhu (Maktabah Syamillah), hal. 6. 2 Ruwaatu Tahdzibaini (Maktabah Syamillah) 3 Al-hafidzh Al-Mizy, Tahdzibul Kamal (Maktabah Syamillah),hal. 4033 4 Ruwaatu Tahdzibaini,op. cit. 5 Al-hafidzh Al-Mizy, op. cit., hal. 2227.

Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

204

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat

4. Sufyan bin Said bin Masruq ats-Sauri, kunyahnya Abu Abdullah al-Kufy. Lahir pada tahun 97 H. Berada pada Thabaqat ke-7 dari pembesar Atba Tabiin dan wafat pada tahun 161 H. Yang meriwayatkan dari beliau adalah al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkata tentangnya: tsiqot, hafidzh, faqih, abid, imam dan hujah, akan tetapi tekadang juga dari Mansur, dari Ibrahim, dari Alqomah, dari Abdullah. 7 5. Abu Nuaim, beliau adalah Amar bin Hamad bin Zuhair al-Qurasy. Ia lahir pada tahun 130 H, tabaqat ke-9 dari atba tabiin kecil, Wafat pada tahun 218 H. Dikatakan pula 219 H di Kufah. Hadis-hadisnya diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasai dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkomentar tentangnya: tsiqot tsabit dan adz-Dzahabi berkata beliau seorang hafidz. Yaqun bin Syaibah berkata Abu Nuaim tsiqoh, tsabit, shoduq. 8 6. Imam Bukhari, beliau adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin bazdizabah, Abu Abdullah bin Abi al-Hasan al-Bukhari al-Hafidz. Bakr bi Munir berkata: aku mendengar Aba al-Hasan bin Husain al-Bazzari di Bukhara berkata: Aku melihat Muhammad bin Ismail bin Ibrahim syaikh yang kurus badannya, tidak tinggi dan tidak pendek. Lahir pada hari jumat setelah shalat jumat tigabelas malam setelah bulan syawwal pada tahun 194 H. dan meninggal pada malam sabtu ketika shalat isya pada malam fitri. Beliau dikuburkan pada hari fitri setelah shalat dzuhur pada hari sabtu.9
E. RINGKASAN ANALISIS PARA PERAWI DAN KESIMPULAN

dia mentadlis. 6 Ahmad bin

Abdullah Al-Ajali berkata: sebaik-baiknnya sanad dari kufah adalah Sufyan At-Tsauri,

Setelah mengetahui biografi para perawi serta komentar para Ulama dan melalui pendekatan sejarah maka kami menyimpulkan bahwa seluruh perawi hadis di atas kemungkinan bertemu bahkan bertemu satu sama lain berdasarkan analisa tahun kelahiran dan wafatnya serta metode yang dipakai oleh Imam Bukhari. Jadi kami menyimpulkan bahwa hadis di atas shahih isnadnya dan dapat dijadikan hujjah dalam pengamalannya. Hanya saja, al-Hafizdh Ibnu Hajar berkata terkadang Sufyan mentadlis hadis. Akan tetapi, komentar al-Hafizdh Ibnu Hajar tidak menurunkan hadis di atas karena beliau seorang yang tsiqoh dan banyak syawahid dari jalur lain yang menguatkan hadis di atas, serta diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya.
6 7

Ruwaatu Tahdzibaini (Maktabah Syamillah),op. cit. Al-hafidzh Al-Mizy, op. cit., hal. 2445. 8 Al-hafidzh Al-Mizy,op. cit. hal. 5401. 9 Imam Zainuddin Ahmad bin Abdalatif, Mukhtashar Shahih Bukhari, hlm. 5

Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

205

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat


F. KANDUNGAN HADIS

Para ulama telah berbeda pendapat dalam membaca surat tertentu pada shalat tertentu. Dari mereka ada yang membenci, ini pendapat dari Abu Hanifah dan Malik. Akan tetapi kebanyakan para fuqoha hadis tidak memakruhkannya, bahkan mencintai darinya apa yang diriwayatkan dari Nabi. Dan dari siapa yang membolehkan membaca surat Sajdah dan al-Insan pada shalat fajar hari jumat adalah: at-Tsauri, Syafii, Ahmad, Ishaq, Abu khaitsamah, Ibnu Abi Syaibah, Sulaiman bin Daud al-Hasyimi, al-Jauzani dan yang lainnya. Dan hadis ini diriwayatkan oleh tiga sahabat, yaitu: Abu Hurairah, Ali dan Ibnu Abbas. Kemudian para ulama berbeda pendapat apakah boleh mendawamkan setiap shalat subuh hari jumat? Menurut sebagian ulama tidak boleh mendawamkan yang demikian. Akan tetapi dilaksanakan kadang-kadang saja. Yang demikian perkataan at-Tsauri, Ahmad dalam salah satu pendapat yang masyhur darinya- dan Ishaq. Mereka beralasan khawatir dengan mendawamkannya keyakinan orang jahil bahwa yang demikian itu wajib. Adapun kebanyakan para ulama dibolehkan mendawamkannya. Dan yang demikian adalah perkataan Syafii dan yang lainnya. Mereka beralasan dengan apa yang dinukil Ismail bin Said dari Ahmad, kemudian dia bertanya kepada Ahmad tentang bacaan pada shalat fajr hari jumat? Maka beliau menjawab kami melihatnya baik, agar kamu membaca as-Sajdah dan al-Insan. Penulis kitab Bahrul Muhith dari madzhab Hanafi berkata, Membaca kedua surat tersebut pada shalat subuh di hari jumat adalah disunnahkan, dengan syarat hendaknya pada kesempatan yang sama juga membaca ayat lain, agar orang awam tidak mempunyai keyakinan bahwa membaca selain kedua surat ini (As-Sajdah dan Al-Insan) tidak sah. Ibnu hajar berkata: Hikmah mengkhususkan hari jumat dengan membaca surat AsSajdah adalah unutk melaksanakan sujud tambahan, sehingga orang yang belum membaca surat ini dianjurkan untuk membaca surat lain yang ada ayat Sajdahnya. Ada sebagian ulama yang tidak membolehkan melakukan sujud Sajdah dengan sengaja (memilih surat yang terdapat ayat Sajdah, agar dapat melakukan sujud Sajdah). Tetapi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih disebutkan bahwa Ibrahim An-Nakhai berkata, Disunnahkan membaca surat yang terdapat ayat Sajdah pada shalat Subuh. Beliu juga berkata, kaum muslimin membaca surat yang terdapat ayat Sajdah pada shalat Subuh di hari jumat.10

10

Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Bari, juz.5 hlm.384

Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

206

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat


G. PENUTUP

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan dalam makalah yang sederhana ini, kami memohon perlindungan kepada Allah dari kesalahan yang tidak disengaja serta kami haturkan rasa terima kasih kepada dosen kami Ust. Ahmad Ubaidillah Hasbillah, MA yang telah membimbing kami menjaganya. Wassalam. dalam pelajaran takhrij ini, semoga Allah

Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

207

Bacaan Surah Shalat Fajar pada Hari Jumat

Daftar Pustaka
Ibnu Hajar Al-Atsqolani, Fathul Baari syarhu shahih Bukhari, Beirut: Darul Marifat, 1379 H. Imam Zainuddin Ahmad bin Abdalatif, Mukhtashar Shahih Bukhari, Beirut: Darul Ibnu Hazm, 2003 M. Maktabah Syamillah.

Oleh: Alit Nurhidayat (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

208

HADIS KEDUA PULUH DUA

Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur OLEH BADRI


(NPM: 10.31.0260)

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur


A. MUQADDIMAH

Islam diwahyukan kepada Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umatnya. Apa yang Allah wahyukan kepada beliau selalu disampaikan; adakalanya disampaikan dalam suatu majlis ilmu, adakalanya pada saat para sahabat bertanya kepada beliau pada suatu masalah maka turun wahyu, dan beliau menjawab, atau sahabat yang menjawab karena pernah mendengar Rasulullah saw. Berkata demikian. Rasulullah hidup tidak sekali dalam suatu peristiwa, tetapi beliau selalu dihadapkan dengan masalah-masalah, mulai dari masalah kecil sampai masalah yang besar penyelesaiannya. Contoh dalam bacaan shalat saja beliau tidak hanya sekali dalam

membaca suatu surat tertentu, tetapi beliau kadang membaca surat atau ayat yang lain. Nah, dalam mengikuti bacaan yang seperti ini apabila kita mengikutinya maka kita mendapatkan pahala sunnah, kalau hadits itu bernilai shahih, maka dalam tahkrij ini kita akan dapat mengetahui apakah nilai hadits itu shahih, hasan, dhaif, maqbul, mardud, ataukah hadits palsu.
B. TEKS HADITS YANG DITAKHRIJ

Teks hadis yang kami takhrij sebagai berikut:

. .
C. HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

1) Sunan an-Nasai ()

. .
Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

2) Shahih Ibnu Khuzaimah ()

210

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur Dengan menggunakan metode al-Mujam al-Mufahras li alfazh al-Hadits alNabawy kami hanya menemukan satu hadits di sunan An-NasaI ( ) dan kemudian kami menelusuri dengan menggunakan al-maktabah al-syamilah kami temukan haditsnya di shahih Ibnu Huzaimah ( . ) Jadi hasil penelusuran kami dalam mencari hadits tentang ini yakni bacaan Nabi pada saat shalat zuhur, sejauh ini kami hanya mendapatkan dua redaksi hadits yang sama-sama diriwayatkan dari Anas bin Malik, yang bercabang menjadi dua dari periwayatan Abu Bakar ibn an-Nadr dan tiga orang perawi sekaligusi; Qatadah, Tsabit dan Humaid. Dari Abu Bakar.
D. PERBANDINGAN MATAN HADIS

1) Sunan an-Nasai ()


Ketika kami berada di Thiffi bersama Anas, maka Anas shalat zuhur dengan mereka, kemudian ketika Anas telah selesai berkata sesungguhnya aku telah shalat zuhur bersama Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw membaca dua surat di dua rakaat (sabbihis marabbokal ala) dan (hal ata ka haditsu gasyiah). 2) Shahih Ibnu Khuzaimah ()


Sesungguhnya mereka mendengar suara (lagu) pada shalat zuhur dari Nabi saw. Dengan (sabbihis marabbokal ala) dan (hal ata ka haditsu gasyiah). Kalau kita melihat matan hadist yang pertama, seakan para jamaah shalat zuhur mendengar suara Anas, kemudian Anas menjelaskannya bahwasanya beliau pernah shalat dibelakang Rasulullah, beliau membaca dua surat tersebut. Kemudian pada matan hadits yang kedua juga sama mereka mendengar Rasulullah membaca dua surat tersebut. Melihat redaksi matan hadits ini dari kami sendiri mengidentifikasi bahwa kedua matan hadits ini tidak jauh berbeda, pada hadits pertama hanya saja dijelaskan dengan nama tempat dimana shalatnya.

Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

211

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur


E. SKEMA SANAD

Mukharrij Hadis: Imam Ibnu Huzaimah Imam an-Nasai

Pada Proses penelitian keotentikan sanad hadis di atas, kami memilih Sanad dari jalur Imam an-Nasai. Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada penjelasan selanjutnya dibawah ini.
Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

212

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur


F. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERAWI

a. Anas bin Malik (93 H) Anas bin Malik merupakan sahabat terbanyak ketiga meriwayatkan hadits, ia meriwayat sebanyak 2.286 hadits. Ketika ia berusia 10 tahun, ibunya telah membawanya kepada Rasulullah Shallallah Alaihi Wa Sallam untuk berkhidmat. Ayahnya bernama Malik bin An-Nadr. Sedangkan komentar Abu Hurairah tentangnya Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Anas bin Malik. Ibnu Sirin berkata Dia (Anas) paling bagus shalatnya baik di rumah maupun di perjalanan. Pada masa akhir hidupnya, Anas pindah ke Bashrah. Itulah sebabnya dia adalah sahabat yang terakhir meninggal di Bashrah. Anas bin Malik wafat pada tahun 93 H dalam usia di atas seratus tahun. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya, karena seluruh sahabat adil. 1 b. Abu Bakar ibn An-Nadhr Nama lengkap Abu Bakar bin An-Nadhr bin Anas bin Malik al-Anshary al-Bashry. Beliau adalah cucunya Anas bin Malik. Beliau termasuk dalam thabaqat ke-5 ( ( ,beliau meriwayatkan haditsnya kepada An-Nasai. Berikut para ulama terhadap Abu Bakar ibn An-Nadhr: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan

c. Abdullah ibn Ubaid Nama lengkap Abdullah bin Ubaid al-Hamiry al-Bashry. Beliau termasuk thabaqat ke-7 ( . ( Dan berikut para ulama terhadap Abdullah ibn Ubaid: 2 No 1 2 3 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Ishaq Bin Manshur Dari Yahya bin Muayyan Jarh Tadil Keterangan

1
2

Abdul Majid Khan, Ulumul Hadits, Jakarta: AMZAH, 2009, hal. 252. Rawah at-Tahzibain.

Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

213

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur d. Abu Ubaidah Nama lengkap Abu Ubaidah a-Haddad al-Bashry, beliau thabaqat ke-9 ( ,) beliau wafat 190 H. Dan berikut para ulama terhadap Abu Ubaidah: 3 No 1 Kritikus Ibnu Hajar Jarh Tadil 2 3 Az-Zahabi Abu Dawud Keterangan

e. Muhammad bin Syuja al-Marruzy Nama lengkap beliau Muhammad bin Syuja al-Marruzy al-Bakindiy, beliau termasuk thabaqat ke-10, wafat pada bulan Syaban dan yang mengatakan Ramadhan tahun 244 H.Dan berikut para ulama terhadap Muhammad bin Syuja al-Marruzy:4 No 1 2 3 f. An-Nasai Nama lengkap Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan Al-Khurrasani an-NasaI, beliau dilahirkan di kota Nasa suatu kota masuk daerah Khurasan pada tahun 215 H. dan wafat pada tahun 303 H di Palestina ada yang mengatakan di Makkah. Cukup banyak karangan beliau kurang lebih 15 kitab, yang paling popular adalah as-Sunan disusun dalam bentuk bab fiqh. Dari segi kualitas haditsnya terdapat hadits shahih, hasan dan dhaif kemudian beliau namakan As-Sunan Al-Kubra. Beliau pernah ditanya oleh seorang amir di Ramalah apakah semua hadits didalamnya semuanya shahih? Beliau menjawab: didalamnya ada yang shahih, hasan dan ada yang mendekatinya. Tuliskan yang shahih saja jawab amir, maka beliau menyaring dari kitab itu hadits-hadits An-Nasai:5
3 4

Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Abu Khaitsamah

Jarh -

Tadil

Keterangan

shahih

saja

yang kemudian disebut dengan As-Sunan Al-Shugra dan berikut para ulama terhadap

Rawah at-Tahzibain. Rawah at-Tahzibain. 5 Abdul Majid Khan, Ulumul Hadits, Jakarta: AMZAH, 2009, hal. 263.

Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

214

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur No 1 Kritikus Ibnu Hajar Jarh Tadil 2 3 Az-Zahabi Abu Said bin Yunus Keterangan

G. ANALISIS KETERSAMBUNGAN SANAD

Penulis meninjau terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa ada satu sanad yang mastur (Abu Bakar ibn An-Nadhr) tidak ada yang menjelaskan ketsiqahannya, sehingga kredibilitas hadits ini mardud (tertolak), sehingga hadits ini dihukum hadits majhul dan menurut kesepakatan ulama hadits bahwa hadits majhul itu mardud (tertolak). Ada perawi yang tidak disebutkan dalam hal ini majhul al-hal ada perawi yang tidak disebutkan identitasnya, sifat-sifat keadilannya dan kedhabitannya, hal ini ada beberapa factor yang menyebabkan itu. a. Seorang perawi mempunyai nama terlalu banyak atau sifat, baik nama asli nama panggilan, gelar, sifat, profesi, suku mauppun bangsa, sementara perawi tersebut hanya dikenal nama panggilannya saja b. Terkadang perawi itu, meriwayatkan hadits tidak begitu banyak, tidak banyak seorang perawi lain meriwayatkan hadits darinya, makanya nama tidak begitu terkenal. c. Terkadang perawi (muridnya) menyebutkan nama dengan ringkas saja, karena dengan tujuan tertentu.6
H. BAGAIMANA BERHUKUM DENGAN HADITS INI

Untuk sementara kualitas sanad hadits ini masih diperselisihkan karena kemungkinan ada periwayatan lain yang lebih shahih atau hasan, kemudian dalam pengamalan Hadits yang statusnya majhul sanad, maka dalam hal ini menjelaskan kepada kita bahwa membaca dua surat yakni sabbihis marabbikal alaa dan hal ataa ka hadisulgasyiah adalah dalam pengamalannya mardud, karena ada perawi yang majhul alhal menurut pendapat mayoritas ulama bahwa mengamalkan hadits yang seperti ini maka mardud. 7

6 7

Abdul Majid Khan, Ulumul Hadits, Jakarta: AMZAH, 2009, hal. 184. Ibid, hal. 186.

Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

215

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur


I. PENUTUP

Setelah sedikit melihat, memperhatikan, menelaah hadits tentang bacaan nabi ketika shalat zuhur bahwa menggunakan hadits tersebut untuk berdalil maka tidak sah (mardud), mungkin ada hadits yang menerangkan demikian. Kemudian hadits yang lain itu lebih shahih atau lebih kuat. Maka berdalillah dengan hadits tersebut. Kalau hanya mengamalkan saja, maka tidak apa-apa, berarti telah mengamalkan ayat paqrau ma tayassara min al-Quran. Hukum orang yang mengamalkan hadits yang matruk adalah tidak boleh, artinya kalau kita menggunakan dalil hadits yang matruk berarti kita telah menyandarkan perbuatan kita kepada sesuatu yang tidak jelas. Maka agama menyuruh kita untuk bergantung kepada yang pasti asal-usulnya, lebih-lebih dalam segala perbuatan kita, maka kita harus menggantungkannya kepada Allah dalam hal ini wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw.

Wallahu Alam bi as-Shawab !!!

Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

216

Hadis tentang Bacaan Surah dalam Shalat Dhuhur

Sumber Rujukan

Abdul Majid Khan, Ulumul Hadits, Jakarta: AMZAH, 2009 Rawah at-Tahzibain (Maktabah Syamilah).

Oleh : Badri (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

217

HADIS KEDUA PULUH TIGA

Kisah-Kisah dalam Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Prihatin pada Umatnya

OLEH
AKBAR RAMDAN D
(NPM: 10.31.0254)

Hadis tentang Surah-Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Beruban

BAB I PENDAHULUAN

Alhamdulillah puji syukur penyusun haturkan kehadirat Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atas baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalam makalah ini alfaqir ingin membahas salah satu hadist nabi yg ditinjau baik dari segi sanad maupun matan beserta biografi sebagian para perawi yg meriwayatkan hadist tersebut. Adapun hadist tersebut adalah:

: { .1} } {
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata: berkata abu bakar asshidiq ra : wahai

rasulullah engkau telah beruban . rasul menjawab: telah membuatku beruban disebabkan oleh surat huud, surat waqiah, surat al mursalat, an-naba,dan surat at-takwir.

At-tirmidzi, shahih sunan tirmidzi jld.5 hal.193.

Oleh : Akbar Ramdan D (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

219

Hadis tentang Surah-Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Beruban

BAB II PEMBAHASAN
A. MATAN HADIS

Berikut kami penulis aka mencantumkan beberapa hadits hasil dari pentakhrijan :hadist

: { } { } 2.

) : :" : 3 { }" . ) : : : { } {
4

) : 5 : .
B. PERBANDINGAN MATAN

{ } { }. ( ).

. :" : { }. ( ). . : : { } { }. ( ).
2 3 4 5

.391.At-tirmidzi, shahih sunan tirmidzi jld.5 hal .At-thabrani, mujam al-kabir 674.Al-hakim, mustadrak ala shahihain jld.2 hal At-thabrani, mujam al-kabir

| )Oleh : Akbar Ramdan D (Mahasiswa PTIQ Jakarta

022

Hadis tentang Surah-Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Beruban

. : : . ( .)

C. ANALISIS BIOGRAFI PERAWI

Pada pembahasan analisis biografi perawi insya Allah al faqir akan menjelaskan tentang biografi perawi perawi hadist tentang tema diatas dgn melewati jalur abu kuraib yg diriwayatkan oleh imam tirmidzi. Berikut biografi perawi perawinya: a. Abu kuraib beliau adalah Muhammad bin ala bin kuraib, beliau lahir pada tahun 161 hijriyah dan wafat pada tahun 247 hijriyah.6 Beliau berada di thobaqot ke 10 (

.) Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah imam bukhari, imam


muslim, imam abu daud, imam tirmidzi, dan imam ibnu majah. adapun guru guru beliau yg mana beliau menerima hadist adalah Ibrahim bin yusuf bin abi ishaq, sufyan bin uyaynah, Abdullah bin Mubarak, muawiyah bin hisyam, dll. Adapun komentar para ulama tentang beliau menurut imam ibnu hajar al asqolani berkata tsiqoh hafidz, sedangkan imam dzahabi berkata hafidz. Dan ibnu uqdah berkomentar bahwa abu kuraib hafal 300.000 hadist.7 b. Muawiyah bin Hisyam beliau adalah muawiyah bin hisyam al asadi, beliau mempunyai kunyah abu hasan al kufi dan biasa dipanggil muawiyah bin abu abbas.beliau wafat pada tahun 204 dan berada di thobaqot ke-9 (

.)

Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah imam ahmad bin hanbal, abu bakar Abdullah bin Muhammad bin abi syaibah, qosim bin zakaria bin dinar, abu kuraib Muhammad bin ala, dll. Adapun beliau menerima hadist dari abu sufyan atsauri, syaiban bin Abdurrahman annahwi, ali bin sholih bin hayyi, hisyam bin saad al madani, dll.adapun komentar para ulama tentang beliau, imam ibnu hajar al asqolani berkata shoduq. Sedangkan imam dzahabi berkata tsiqohn dan imam yahya bin main berkata sholih.8 c. Syaiban beliau adalah syaiban bin Abdurrahman at tamimi an nahwi. Beliau wafat pada tahun 164 hijriyah dan ada pada thobaqot ke-7 (

.) Adapun yang

meriwayatkan hadist dari beliau adalah Abdurrahman bin abi hammad, Abdullah bin katsir ad dimasyqo, abu hanifah numan bin tsabit, muawiyah bin hisyam, dll. Beliau

6 7 8

Az-dzahabi, siyar alam nubala jld.11 hal.394 ibnu hajar al-asqolani, tahdzib tahdzib jld.9 hal.386 ibnu hajar al-asqolani, tahdzib tahdzib jld.10 hal.218

Oleh : Akbar Ramdan D (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

221

Hadis tentang Surah-Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Beruban

menerima hadist dari yahya bin abi katsir, sulaiman al amasy, imam hasan bashri, abu ishaq as sibaii, dll. Komentar para ulama tentang beliau, imam ibnu hajar al asqolani berkata tsiqoh dan imam dzahabi berkata hujjah. 9 d. Abu ishaq beliau adalah amr bin Abdullah bin ubaid al hamdani, beliau mempunyai kunyah yaitu abu ishaq as sibaii. beliau wafat pada tahun 129 hijriyah dan ada pada thobaqot ke-3 (

.) Adapun yang meriwayatkan hadist dari beliau

adalah suhail bin abi sholih, hasan bin sholih bin hayyi, abu syaibah Ibrahim bin ustman, syaiban bin Abdurrahman at tamimi,dll. Beliau menerima hadist dari Abdullah bin zubair bin awwam, Abdullah bin uthbah bin masud, Abdullah bin umar bin khattab, ikrimah maula ibnu abbas, dll. Komentar para ulama tentang beliau, imam ibnu hajar al asqolani berkata tsiqoh abid dan imam dzahabi berkata ahadul alam.10 e. Ikrimah beliau adalah ikrimah al qurasyi al hasyimi. Beliau mempunyai kunyah Abdullah al madani dan beliau sekaligus maula(budak) dari sahabat nabi yaitu Abdullah bin abbas. Beliau wafat pada tahun 104 hijriyah dimadinah dan ada pada thobaqot ke-3 (

.)

11

Adapun yang meriwayatkan hadist dari beliau adalah yala bin

muslim al makki, yunus bin yazid, yazid bin abi ziyad, yazid bin abi said an nahwi, abu ishaq as sibaiI, dll. Beliau menerima hadist dari muawiyah bin abi sufyan, ali bin abi thalib, abi said al khudriyyi, abu hurairah, Abdullah bin abbas, dll. Dan komentar ulama tentang beliau, imam ibnu hajar al asqolani berkata tsiqoh alim bi tafsir dan imam dzahabi tsabat.12 f. Abdullah bin Abbas beliau adalah Abdullah bin abbas bin abdul muthallib bin hasyim bin abdul manaf al qurasyi al hasyimi yaitu anak paman nya nabi sekaligus sahabat rasulullah. Beliau wafat pada tahun 68 hijriah tepatnya di thaif dan ada pada thobaqot ke-1 yaitu sahabat nabi saw. Adapun yang meriwayatkan hadist dari beliau adalah Ibrahim bin Abdullah bin mabad bin abbas, anas bin malik (pembantunya nabi), hasan bin abu hasan al bashri, Abdullah bin harist bin naufal, amir bin watsilah al laist, ikrimah (budaknya sendiri), dll. Beliau mengabil hadist lansng dari rasulullah saw, dan maupun melewati sahabat yg lain seperti ubay bin kaab, kholid bin walid, dri ayahnya sendiri yaitu abbas bin abdul muthallib, dll. Komentar para ulama tentang beliau,imam ibnu hajar berkata sahabat dan imam dzahabi berkata sahabat, mufassir. 13
9

ibnu hajar al-asqolani, tahdzib tahdzib jld.4 hal.374 Al mazi, tahdzib al-kamal hal.5065 dan ibnu hajar al-asqolani, tahdzib tahdzib jld.8 hal.65 11 ibnu hajar al-asqolani, tahdzib tahdzib jld.7 hal.271 12 Az-dzahabi, siyar alam nubala jld.5 hal.12 13 Az-dzahabi, siyar alam nubala jld.3 hal.332 dan al-mazi, tahdzib al-kamal hal.3409
10

Oleh : Akbar Ramdan D (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

222

Hadis tentang Surah-Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Beruban

g. Abu Bakar Shiddiq beliau adalah Abdullah bin abu quhafah. Beliau adalah sahabat nabi sekaligus khalifah pertama dalam islam yang ditunjuk langsung oleh nabi saw. Beliau wafat pada tahun 13 hijriah dan ada pada thobaqot ke-1.14
D. KANDUNGAN MATAN

Di dalam kandungan matan hadist yang artinya: : wahai rasulullah engkau telah beruban . rasul menjawab: telah membuatku beruban disebabkan oleh surat huud, surat waqiah, surat al mursalat, an-naba,dan surat at-takwir. Adapun makna hadist yg diatas seperti mana yang telah dijabarkan di dalam kitab tuhfatul Ahwadzi syarah dari sunan imam Turmudzi bahwa tumbuhnya uban rasul bukan lah tumbuh uban yang sering kita ketahui yaitu rambut putih yang tumbuh diatas kepala dan bukan pula tumbuh uban yang banyak dikepala rasul akan tetapi tampak kelihatan agak sedikit lemah difisik dan wajah rasul yang muncul di diri rasul sebelum waktunya, hal itu bisa terjadi di diri rasul dikarenakan atau disebabkan pikiran rasul yang memikirkan akan tentang gambaran kejadian kejadian dihari kiamat, tentang perlakuan azab Allah terhadap umat umat terdahulu diakibatkan karena membangkangnya mereka kepada Allah. 15 Sedangkan

surah-surah yang menjelaskan atau menceritakan tentang itu semua adalah surah hud, waqiah, mursalat, an-naba, at-takwir. Sedangkan hadist diriwayat lain hanya disebutkan surah hud dan saudara-saudaranya. Surah surah inilah yang membuat rasul menjadi terasa agak lebih lemah di dirinya nabi saw. Dan di dalam hadist ini menunjukan bahwa betapa sayang dan cinta kepada umatnya, memikirkan umatnya sampai didirinya terasa lemah dan tumbuh dari kepalanya dari rambut berwarna putih (ada sebagian ulama yang berpendapat seperti ini bahwa yg dimaksud hadist ini yaitu menunjukan akan kebenaran tumbuhnya uban nabi ,dikarenakan sangking memikirkan keadaan umatnya di akhir zaman maupun di hari kiamat nanti) itu semua adalah salah satu tanda bukti kasih sayang nabi terhadap umatnya.

14 15

Al-baghawi, mujam sahabat jld.3 hal.446 dan ibnu al-asqolani, tahdzib tahdzib jld.5 hal.316 Muhammad Abdurrahman bin abdurrahim, tuhfah ahwadzi jld.8 hal.158

Oleh : Akbar Ramdan D (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

223

Hadis tentang Surah-Surah al-Quran yang Membuat Rasulullah Beruban

BAB III KESIMPULAN Kesimpulan dimakalah ini di bagi menjadi 2 yakni kesimpulan status hadist (ditinjau dari segi jalur-jalur sanad yg ada dihadist itu sendiri) dan kesimpulan matan hadist. Status hadist: status hadist tentang tumbuhnya uban nabi dikarenakan surah huud dan saudara-saudaranya seperti yg telah diriwayatkan imam Turmudzi, imam Thabrani, imam Hakim jika ditinjau dri segi jalur sanadnya terlihat ada yg muttasil dan ada yg mursal dan ada juga yg munqothi. Adapun jalur sanad yg melewati jalur imam Hakim, muttasil dan kredibilitas para perawinya pun dapat dipercaya semua dan tidak ada yang cacat oleh karenanya imam Turmudzi berkomentar tentang status hadist ini bahwa hadis ini hasan dan gharib (ketika hadist ini diriwayatkan melewati jalur sahabat Ibnu Abbas). Begitu juga imam Hakim yang meriwayatkan hadist melewati jalur Muhammad bin jafar yang berakhir pula di ibnu abbas pada rantai sanadnya, bahkan imam hakim mengeluarkan hadist ini di dalam kitabnya mustadrak ala shahihain dan berkata hadist ini memenuhi syarat imam Bukhari akan tetapi imam Bukhari tidak mengeluarkannya. Adapun Imam Tahbrani meriwayatkan hadist ini ada dua jalur atau lebih, tetapi hanya ada salah satu jalur yg diriwayatkan imam thabrani yg mursal yaitu jalur Muhammad Bin Ustman Bin Abi Syaibah bahkan dijalur itu sendiri ada salah satu perawi yg bernama Amar Bin Tsabit mempunyai status matruk. Walaupun ada satu jalur yg cacat tidak mempengaruhi kekuatan hadist ini karena imam Thabrani sendiri masih ada jalur yang laen yg tidak cacat dari segi mata rantai maupun perawinya, ditambah lagi dgn hadist yang diriwayatkan oleh imam Turmudzi dan imam Hakim di mustadraknya. Oleh sebab itu hadist ini boleh dijadikan hujjah walaupun masih ada perbedaan pendapat diantara para ulama tentang kategori hadist ini hasan atau shahih. Kesimpulan matan adalah di dalam hadist ini menunjukan salah satu bukti kasih sayang nabi tiada henti-hentinya memikirkan umatnya sampai itu berdampak kepada diri nabi sendiri. Begitu juga hadist ini menunjukan betapa dasyatnya keadaan di hari kiamat nanti. Dan yang terakhir menunjukan nabi tidak mau sampai umatnya seperti umat terdahulu yang mendapatkan azab begitu pedih tetapi keselamatan umatnya lah yang nabi harapkan.
Oleh : Akbar Ramdan D (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

224

HADIS KEDUA PULUH EMPAT

Asmaul Husna dan Keutamannya OLEH SAFIDIN


(NPM: 10.31.0278)

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya


A. PENDAHULUAN

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Zat yang Mahakuasa, pencipta manusia dan alam semesta serta seluruh isinya. Dialah Tuhan yang menurunkan Islam dan al-kitab melalui para rasul-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Solawat dan salam untuk baginda Nabi Muhammad SAW, keluarganya,

sahabat-sahabatnya serta semua pengikutnya. Mudah-mudahan syafaat Beliau dapat kelak kita dapatkan di akhirat. Amin. Al-hamdulillah terucapkan, atas Alfazh al-Hadits al-Nabawiy)1 selesainya karya tulis ini. Tulisan ini memaparkan sebuah Takhrij Hadis melalui metode Mujam (al-Mujam al-Mufahras li dan metode Digital (Maktabah as-Syamilah). Adapun pendekatan mujam.2 Hadis yang

dalam penelusuran kedua metode ini melalui menjadi subjek pembahasan dalam makalah berikut:

ini dapat dilihat dengan matan sebagai


Hadis diatas mengabarkan tentang Asmaul Husna dan keutamaannya. Untuk lebih lanjut
B.

mengenai keotentikan atau keabsahannya, penulisan semaksimal mungkin

menyajikan penjelasannya dibawah ini.


HASIL PENELUSURAN (TAKHRIJ)

Melalui penelusuran maktabah syamilah, kami menemukan beberapa sumber dari matan hadis diatas. Secara detail, sanad dan matan serta sumber-sumber hadis diatas dari berbagai kitab hadis dapat dilihat sebagai berikut: 1) Musnad al-Bazzar ()

, , , , , , : :
3

) . (

2) Musnad Syamiyyin ()

4 ) . (
1 2

Buku karya , Dr. A.J. Wensinck [w. 1939 M], karya ini menghimpun 9 kitab hadis yang termasyhur. Pendekatan mujam, yaitu dengan cara mencari lafal kalimat tertentu yang tidak populer di masyarakat. 3 Imam Bazzar, Musnad al-Bazzar (Madinah : Maktabah al-Ulum wa al-Hukm, 2009 M), Cet I, Juz 17, Hal. 266 4 Imam Tabrani, Musnad Syamiyyin (Beirut : Muassasah ar-Risalah, 1984 M), Cet I, Juz 4, Hal. 384

Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

226

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya


C. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN

Pada kedua hadis yang kami tampilkan diatas, kami tidak menemukan perbedaan atau perselisihan pada matan, secara jelas dapat kami katakan bahwa dari segi matan maka hadis diatas kedua-duanya adalah sama. Untuk lebih jelasnya, uraian matan dan sanadnya dapat dilihat sebagai berikut: Hadis Pertama:

: : ) . (
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Marzuq, dan Muhammad bin Mamar dan Muhammad bin Abdurrahim, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Rouhu bin Ubadah, dari Said dari Qotadah,dari Muhammad dari Abi Hurairah RA dia berkata; telah bersabda rosulullah SAW ; Bagi Allah 99 Nama, 100 kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya maka ia akan masuk Sorga[HR.Bazzar]. Hadis Kedua:

. ( )
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Sadin AlAskariy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar al-Aisyiy, telah menceritakan kepada kami Hummad bin Isa Al-Juhaniy, dari Ibnu Juraij, dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dari Mak-hul dari Irok bin bin Malik, dari Abi Hurairah RA berkata, telah bersabda rosulullah SAW; Bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, serstus kurang satu, barang siapa yang menghafalkannya maka dia masuk sorga. [HR. Tabrani].

Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

227

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya


D. SKEMA SANAD

:Berdasarkan hasil penelusuran diatas dapat dibuat skema sanad sebagai berikut

) ( Mukharrrij Hadis : Imam at-Thabrani ) ( Imam al-Bazzar

| )Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta

822

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya


E. ANALISIS BIOGRAFI LENGKAP PARA PERIWAYAT

Sanad dari kedua hadis tersebut diatas yang kami teliti adalah hadis riwayat Imam al-Bazzar,dengan komposisi sanad; Abu Hurairah, Muhammad, Qatadah, Said, Rauh bin Ubadah, Muhammad bin Marzuq, Muhammad bin Mamar, Muhammad bin Abdu Rahim, dan Imam al-Bazzar. a) Abu Hurairah (w. 57 H) Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam, Ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist. Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khaibar. Rasulullah sendirilah yang memberi julukan Abu Hurairah, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau kepada kucing. Allah Subhanahu wa taala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Abu Hurairah meriwayatkan hadist dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin Kaab, Utsman bin Zaid, Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri dari para sahabat dan tabiin. Kalangan tabiin yang meriwayatkan hadis dari beliau antara lain Said bin al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha, Mujahid dan Asy-Syabi. Sanad paling shahih yang berpangkal daripadanya adalah Ibnu Shihab az-Zuhri, dari Said bin al-Musayyab, darinya (Abu Hurairah). Adapun yang paling Dhaif adalah asSari bin Sulaiman, dari Dawud bin Yazid al-Audi dari bapaknya (Yazid al-Audi) dari Abu Hurairah. Abu Hurairah wafat pada tahun 57 H di Aqiq. Mengingat posisinya sebagai sahabat, para ulama sepakat bahwa tidak perlu dikritik dan apalagi diragukan kredibilitasnya karena seluruh sahabat adalah adil. b) Muhammad (w. 110 H) 5 Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Sirin al-Anshari, ia adalah seorang ahli fiqh yang zuhud dan tekun beribadah, ayahnya bekas sahaya Anas bin Malik yang membelinya dari Khalid bin al-Walid yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Ia berada pada Tabaqah Ke-3 ( .) Sebelumnya, Anas menjanjikan kebebasan bagi budaknya itu bila Sirin membayar sejumlah uang. Sirin melunasinya dan bebaslah ia. Ibu Muhammad bin Sirin bernama Shaffiyah yang pernah menjadi sahaya Abu Bakar.
5

Biografi Ibnu Sirin dalam Tahdzib at Tahdzib 9/241 karya Ibnu Hajar Asqalani.

Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

229

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya Muhammad bin Sirin lahir dua tahun menjelang masa pemerintahan Utsman, ia sempat bertemu dengan 30 orang sahabat, tetapi tidak pernah melihat abu Bakar dan Abu Dzarr al-Ghifari. Ia juga tidak mendengar langsung hadits dari Ibnu Abbas atau Abu Darda atau Imran bin Hushain, atau sayyidah Aisyah. Namun ia meriwayatkan dari beberapa hadist musnad dari Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Hudzaifah bin al-Yaman dan beberapa lainnya. Orang yang meriwayatkan dari Ibnu Sirin adalah Asy-Syabi, al-AuzaI, Ashim al-Ahwal, Malik bin Dinar dan Khalid al-Hadzdza. Hisyam bin Hisan berkata tentangnya: Dia Orang Paling Jujur yang pernah aku jumpai, Abu Awanah menambahkan Aku pernah meliha Ibnu sirin dan tak seorangpun melihatnya tanpa sedang berzikir kepada Allah Taala. Dan komentarnya Abu Saad adalah Dia dipercaya memang teguh amanat, tinggi kedudukannya dan banyak ilmunya. Ia wafat pada tahun 110 H. Berikut pendapat para ulama terhadap Muhammad bin Sirrin: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau: No 1 2 3 c) Qatadah (w. 100 H) Nama lengkapnya adalah Qatadah bin Diamah bin Qatadah. Sebagian juga mengatakan Qatadah bin Diamah bin Akabah, as-Sudusy, Abu Khattab al-Bashary. Beliau termasuk dalam tabaqah ke-4 ( ) yang lahir pada tahun 60 / 61 dan wafat pada tahun 100. Berikut pendapat para ulama terhadap Qatadah: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan Guru Murid

Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

230

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya :Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau No 1 2 3 Guru Murid

)d) Said (w. 156 H / 157 H : ( Nama lengkapnya ialah ). Ia wafat pada ( 6-). Beliau tergolong dalam tabaqah ke .tahun 156 H, pendapat lain menyebutkan 157 H :Berikut pendapat para ulama terhadap Said No 1 2 3 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Yahya bin Main Jarh Tadil Keterangan

:Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau No 1 2 3 Guru Murid

)e) Rauh bin Ubadah (w. 206 H / 207 H ). Ia ( Nama lengkapnya ialah ( 9-). Beliau tergolong dalam tabaqah ke ( termasuk .). Ia wafat pada tahun 205 H atau 207 H :Berikut pendapat para ulama terhadap Said No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Az-Zahabi Jarh Tadil Keterangan

:Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau No 1 2 3 Guru Murid 132

| )Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya f) Muhammad bin Abdur Rahim (w. 255 H) Nama lengkapnya adalah ( ) dan ia merupakan ( .) Beliau lahir 185 H dan termasuk termasuk dalam tabaqah ke-11 ( ) yang wafat pada tahun 255 H. Berikut pendapat para ulama terhadap Hasan bin Shalih: No 1 2 Kritikus Ibnu Hajar Al-Zahabi Jarh Tadil Keterangan -

Berikut Guru-guru dan Murid-murid beliau: No 1 2 g) Bazzar Nama lengkapnya adalah ( .) Beliau dilahirkan pada : (.):
F. RINGKASAN HASIL ANALISIS SANAD

Guru

Murid

Tinjauan Penulis terhadap berbagai keterangan sanad diatas bahwa ada satu sanad yang dinyatakan mudallis oleh Ibnu Hajar, yaitu Said. namun beliau juga menetapkannya sebagai orang yang siqah dan hafid, dan disamping itu adanya pernyataan Ibnu Main yang menilai bahwa Said merupakan orang yang paling sabit dari murid Qatadah, maka sepanjang penelitian dari satu jalur ini kami berpendapat bahwa hadis tersebut adalah Muttasil dan dapat diterima, dan secara tersirat kami telah menampilkan hubungan antara murid dan guru yang bertemu secara langsung pada bagan yang kami tampilkan diatas. Dasar inilah yang kami jadikan alasan bahwa walaupun ada sanad yang dinilai banyak mentadlis, namun masih dapat diterima.
G. KESIMPULAN KUANTITAS DAN KUALITAS SANAD

Mengenai kualitas sanadnya, kami menyimpulkan bahwa hadis ini adalah bersambung/muttasil. Walaupun terdapat satu perawi yang dinilai mudallis, namun hal ini masih dimaklumi karena adanya keterangan diatas yang membuktikan ketersambungannya melalui pendekatan guru dan murid. Pada sisi lain, padanya juga menyandang status siqah dan hafid. Dengan demikian, kami simpulakan bahwa sanad hadis diatas adalah Muttasil dan dapat diamalkan.
Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta) |

232

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya


H. HUKUM SANAD HADIS

Uraian sanad diatas dapat kami simpulakan bahwa sanad hadis ini Shahih. Adapun .analisa kami mengenai tadlis seorang rawi yang disebutkan diatas masih dapat dimaklumi Mukharrij hadis ini juga berpendapat, yaitu al-Bazzar bahwa meriwatkan hadis tadlis diterima jika tidak diketahui melakukan tadlis kecuali dari orang yang tziqah. Hal serupa .disampaikan oleh al-Azdi, asy-Shayrafi, Ibnu Hibban dan Ibnu Abdul Barr Setelah uraian diatas, kami ingin menunjukkan beberapa hadis yang memiliki

kandungan yang hampir sama. Hadis-hadis berikut dalam penelusuran awal kami tidak menemukannya sehingga kami hanya lampirkan dibawah ini. Hadis-hadis tersebut adalah :sebagai berikut ) ( Musnad Abi Yala

:
6

( )

) ( Sunan Ibnu Majah

, : : ( ).
6

.Imam Abu Yala, Musnad Abi Yala (Damaskus : Darr al-Mamun at-Turas, 1984 M), Cet I, Juz 11, Hal 061

| )Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta

332

Hadis tentang Asmaul Husna dan Keutamaannya ) ( Musnad Ahmad bin Hanbal

. : .

) ( Shahih Bukhari

: { } .
) ( Shahih Ibnu Hibban

: : :

: :

: (

). : .

!!! Wallahu Alam bi as-Shawab

| )Oleh : Safidin (Mahasiswa PTIQ Jakarta

432

Keterangan Indeks

Indeks Ini Hanya Menampilkan Nama Para Rawi yang Diteliti pada Masing-Masing Uraian Hadis

Indeks Rawi yang Diteliti


A Asim bin Dhomirah 75 Abbas al-Jusamy 172 Abdul Majid bin Abdul Aziz 129 Abdul Wahab bin Atha 100 Abdul Wahhab bin Abdul Hakam 130 Abdullah bin Abbas 222 Abdullah bin Amru 66, 81, 90 Abdullah bin Barrad 118 Abdullah bin Ubaid 213 Abdurrahman bin Auf 204 Abdurrahman bin Budail 9 Abdurrahman bin Harmuz al-Araji 204 Abdurrahman bin Jubair 90 Abdurrahman bin Mahdi 9, 67 Abdurrahman Ibnu Ausajah 44 Abu Bakar as-Shiddiq 223 Abu Bakar bin An-Nadhar 213 Abu Burdah 117 Abu Darda 35, 144 Abu Daud, 19 Abu Hurairah 172, 204, 229 Abu Ishaq 222 Abu Kuraib 118, 221 Abu Musa 117 Abu Nuaim 205 Abu Salamah al-Khuzai 189 Abu Ubaidah 214 Abu Umamah 196 H Hafs bin Sulaiman 75 Hajjaj bin Muhammad 174 Harun Abi Muhammad 159 Hasan bin Salim bin Shalih Al-Ijly 179 Hasan bin Shalih 159 Hasan bin Yahya bin Al-Judi 109 Indeks 236 Darimi 37 Darraj 91 Dhahhak 108 D Abu Usamah 118 Abu Uwais 189 Ahmad bin Hanbal 28, 68, 92, 190 Ahmad bin Hasan 91 Aisyah binti Abu Bakar 15, 27, 188 Ali bin Abi Thalib, 75 Ali bin Hijr bin Iyas 76 Amru bin Ali 147 Anas bin Malik 8, 128, 157, 178, 213 Ashim bin Abu Nujud, 66 B Barraa Ibnu Azib 44 Bazzar 232 Budail bin Maysarah 8 Bukhari 205 Buraid 117

Hisyam bin abi Abdillah 18, 28 Humaidi bin Abdirrahman 160 Husain bin Basyar 198 I Ibnu Abbas 107 Ibnu Abi Mulaikah 59 Ibnu Juraij 129 Ibnu Lahiah 91 Ibnu Majah 48, 82 Ibnu Syihab 189 Ikrimah 222 Ismail bin Ibarahim ath-Tharjamani 110 Ismail bin Ibrahim bin Muksim 28 J Jabir bin Abdillah 98 K Katsir bin Zadan 75 M Madan bin Abi Talhah 144 Muawiyah bin Hisyam 221 Muhammad bin Abdullah 110 Muhammad bin Abdurrahim 232 Muhammad bin al-Munkadir 98 Muhammad bin Basysyar 47, 82 Muhammad bin Himyar 197 Muhammad bin Ibrohim 36 Muhammad bin Jafar 46, 173 Muhammad bin Jafar * 82 Muhammad bin Jafar ** 146 Muhammad bin Musa 180

Muhammad bin Sirin 229 Muhammad bin Syuja al-Marruzy 214 Muhammad bin Ziyad 197 Muhammad Ibnul Qosim 37 Mukatil bin Hayyan 158 Musa bin Ubaidah 36 Muslim bin Ibrahim 18 Muththalib bin Hanthab 129 N Nasai 10, 147, 198, 214 Q Qatadah 17, 27, 81, 145, 158, 173, 230 Qutaibah bin Said 160 R Rauh bin Ubadah 231 S Saad bin Abi Waqqash 58 Saad bin Hisyam 16, 27 Said bin Abi Arubah 231 Said bin Hasan al-Makhzumi 59 Salim (saudara laki umu darda) 35 Salim bin Abi al-Jadi al-Ghatafani 145 Sofyan bin Waki 161 Sufyan bin Said bin Masruq 67, 205 Syaiban bin Abdurrahman 221 Syubah bin Al Hajjaj 45, 81, 146, 173 T Thabrani 111 Thalhah Ibnu Nafi 45 Indeks 237

Tirmidzi 130, 162, 174 Tsabit al-Banani 179 U Ubaidillah bin Abi Nahik 59 Ubaidillah bin Said 10 Ummu Darda 35 Urwah bin az-Zubair 188 Usamah bin Zaid al-Laisy 99 W Waqi bin al-Jarrah 59

Y Yahya Ibnu Said 47 Yuhannas Maula Zubair 36 Yazid bin Abdullah bin Syikhkhir 81 Z Zurarah bin Aufa 16, 27 Zirin bin Habasyah, 66

Indeks

238

PENULIS ISI BUKU


1) Ali Muzakkir, asal Palembang 2) Muhammad Arwani 3) Muhammad Muslihan, asal Pati - Jawa Tengah 4) Nafiul Ibad, asal Bekasi - Jawa Barat 5) Muhammad Saharuddin, asal Makassar - Sulawesi Selatan 6) Al-Fauzi, asal Aceh 7) Fathu Rozi, asal Madura - Jawa Timur 8) Muhammad Masrur, asal Bayuwangi - Jawa Timur 9) Muhammad Zaky Fathony, asal Inhil - Riau 10) Saofi Ahmadi, asal Lombok 11) Abdus Samik, asal Surabaya 12) Ahmad Zulki, asal Bone - Sulawesi Selatan 13) Sodik, asal Cirebon - Jawa Barat 14) Muhammad Sani Abdul Malik, asal Bandung - Jawa Barat 15) Andi Purnomo, asal Tegal - Jawa Tengah 16) Hasrul, asal Kendari - Sulawesi Tenggara 17) Idham Cholid, asal Palembang 18) Muhammad Muslim 19) Anas Mujahidin, asal Sumbawa - Nusa Tenggara Barat 20) Abdul Hakim, asal Bireuen - Aceh 21) Alit Nurhidayat, asal Bandung 22) Badri, asal Lombok - Nusa Tenggara Barat 23) Akbar Ramdan D, asal Jakarta 24) Safidin, asal Jawa

Hasrul, seorang pemuda dari pasangan ayahanda Bancong dan Ibunda Suharti. Ia adalah anak kedua dari lima bersaudara yang lahir pada tanggal 10 Juni 1992 di Enrekang, Sulawesi Selatan tepatnya di Dante Koa. Keempat saudara beliau ialah Putri Nawiati, Hasmiar, Hasni dan Hamsah. Namun kakaknya, Putri Nawiati meninggal setelah kelahirannya belum genap sebulan. Paras yang ramah senyum ini karib juga dipanggil dengan Asrul, Zulhas, Rullah serta Srul atau Rul. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Institut PTIQ Jakarta pada Fakultas Ushuluddin Konsentrasi Tafsir al-Quran dan Hadis. Sejak tahun 1998, keluarga beliau menempuh hidup baru di Kolaka, Sulawesi Tenggara sampai saat ini setelah sebelumnya pernah juga bermukim selama setahun di Palopo (1997-1998), Sulawesi Selatan. Setelah menamatkan Pendidikan dasar (1998-2004) di SDN 2 Bou lambandia saat ini, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren al-Mawaddah Warrahmah Kolaka untuk memperdalam Ilmu-Ilmu agama serta untuk menghafalkan al-Quran. Ia menghabiskan usia mudanya selama enam tahun di pesantren tersebut dengan rincian, tahun 2004-2007 menyelesaikan pendidikan menengah pada MTS PPAW Kolaka dan pada tahun 2007-2010 menuntaskan pendidikan aliyah pada MAS PPAW Kolaka. Pada tahun 2010 menjelang pelaksanaan Wisuda Santri dan Santriwati PPAW angkatan tahun tersebut, ia akhirnya dapat menyelasaikan misi utamanya untuk mengkhatamkan hafalan al-Quran. Semoga hafalan al-Quran beliau senantiasa melekat dalam Hati Sanubarinya, Amin !!! Pengalaman organisasi beliau turut serta mewarnai jalan hidupnya. Beliau seorang yang suka menjelajah yang ia baktikan melalui Ekstrakurikuler Pramuka semenjak SD sampai Madrasah Aliyah. Ia juga aktif dalam pembinaan bahasa asing semenjak bergabung dengan Organisasi ASSET Tahun 2008 yang merupakan kumpulan warga Sulawesi yang menuntut Bahasa Asing di Pare, Kediri. Tahun 2009-2010, Ia terpilih sebagai Ketua Umum AISSEL Mahkamah Bahasa PPAW. Dunia keorganisasian seorang Zulhas nampak menempati peranan penting ketika ia menempuh pendidikan Kuliah di Institut PTIQ Jakarta pada tahun 2010. Pada ruang lingkup kampus, ia bergabung dengan FoKUs (Forum Kajian Ushuluddin) serta UNITY (Ushuluddin Community). Untuk organisasi yang berskala Nasional, ia menggabungkan diri dalam Organisasi HmI-MPO. Adapun yang berskala daerah, ia aktif dalam beberapa Orda, diantaranya PMBM Institut PTIQ-IIQ Jakarta, IKAMI Cabang Ciputat, IKAS PPAW serta FKMB. Terakhir, beliau juga giat dalam melakukan pembinaan Pemuda-Pemudi di daerah asalnya saat ini yang berada di bawah Naugan Remaja Masjid Hikmah al-Muhajirin dan Enrekang SulTra Community.

Tentang Editor

Selamat Membaca !!!

Sekian

MAU TAHU ISINYA !!! BERIKUT JAWABANNYA


Informasi mengenai hadis-hadis Nabawi sekilas Fadhilah al-Quran Mengetahui sumber Hadis dan letaknya dalam Kitab Induknya (Kitab Shahih, Sunan, Musnad, Mujam dan lain-lain) Wawasan mengenai para Rawi Hadis Kajian Fiqhul Hadis dan Hukumnya (Shahih, Hasan, Dhaif) serta Pengamalannya Wacana sistem Sanad dalam studi Keilmuan yang hanya dimiliki Islam