Anda di halaman 1dari 2

Waspada Online

Memahami Rahasia-rahasia Ibadah Haji<br />(Renungan Haji 1428 H)


Friday, 28 December 2007 00:51 WIB

Manakala jamaah haji berbondong-bondong pulang ke Makkah, setelah menyelesaikan rukun dan wajib di Arafah dan Mina maka Baitullah (Ka'bah) dipadati kembali oleh ribuan manusia untuk melakukan tawaf, yaitu Tawaf Ifadah yang merupakan salah satu dari rukun haji yang enam Tawaf Ifadah ini berbeda dengan Tawaf Qudum dan Tawaf Wada'. WASPADA Online

Oleh H.M. Nasir, Lc., MA

Manakala jamaah haji berbondong-bondong pulang ke Makkah, setelah menyelesaikan rukun dan wajib di Arafah dan Mina maka Baitullah (Ka'bah) dipadati kembali oleh ribuan manusia untuk melakukan tawaf, yaitu Tawaf Ifadah yang merupakan salah satu dari rukun haji yang enam Tawaf Ifadah ini berbeda dengan Tawaf Qudum dan Tawaf Wada'.

Tawaf Qudum adalah tawaf yang dilakukan orang-orang yang melaksanakan haji ifrod atau haji qiran, ketika datang ke Makkah sebagai penghormatan kepada Baitullah, sedangkan Tawaf Wada' adalah tawaf perpisahan yang mana dilakukan oleh para jamaah haji ketika mau meninggalkan tanah haram Makkah sebagai pamitan terhadap Baitullah dan Tawaf Wada' ini hanya dilakukan ole orang yang datang dari luar tanah haram. Adapun Tawaf Ifadah merupakan rukun haji, dan wajib dilakukan oleh semua jamaah haji, sama ada yang melakukan haji tamattu', ifrad, atau hai qiran, baik bagi penduduk Makkah atau bagi tamu Allah yang datang dari luar tanah Makkah. Tawaf artinya berkeliling, mengitari Ka'bah dimulai dari sudut Hajar al Aswad, dan kembali ke titik semula dengan posisi mengirikan Ka'bah kebalikan dari perputaran jarum jam.

Perilaku tawaf ini sebenarnya telah diawali oleh Tawaf Maknawi pada hakikatnya hati yang menggerakkan jasmani untuk bergerak mengelilingi ka'bah karena rasa cinta yang telah terpaut, berputar-putar di tempat yang sama, dilakukan berulang-ulang tanpa bosan, bukankah bila kita melihat seorang kekasih mencintai kekasihnya tidak ingin beranjak dari rumahnya, dan ingin lama berada di samping kekasihnya. Jasad hanya mengikuti apa yang komandokan hati, oleh sebab itu, tawaf orang Jahiliah tidak bernilai apa-apa karena tawaf mereka, hanya tawaf jasmani seperti robot yang berputar-putar, Allah Swt. berfirman : Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan, maka rasakan azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. al-Anfal : 35).

Berkeliling disekitar ka'bah (tawaf) juga mencerminkan kehidupan ini, berasal dari satu titik akan kembali ke titik semula, dalam durasi perputaran itu bermacam-macam tingkah laku manusia yang kita lihat. Ada yang ingin cepat sampai ketujuan tidak menghiraukan cara apapun yang ditempuh meskipun harus menyakiti orang lain, yang penting sampai ketujuan. Ada pula yang merangkak-rangkak terkadang terinjak orang lain, namun sampai juga ketujuan, dan ada pula yang berjalan menurut koridor yang ditentukan tidak menyusahkan orang lain, lebih banyak mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan pribadi, bahkan ada pula yang digotong oleh orang lain, namun kesemuanya itu baik lambat atau cepat, lancar atau tersendat-sendat bertujuan yang sama akan kembali ke titik semula, barangkali gambarangambaran pelaksanaan tawaf ada relevansinya dengan gambaran kehidupan yang sedang kita jalani ini semua kita tanpa kecuali berasal dari tanah dan akan kembali ke asal yang sama yaitu tanah. Allah Swt. berfirman: Dari tanah itulah kami ciptakan kamu, kepada tanah kamu akan kami kembalikan, dan daripada tanah kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. Thaha : 55).

Ketika mencium Hajar al aswad di sela-sela putaran tawaf, di sana terlihat keegoan manusia itu, demi untuk mendapatkan pahala tambahan terkadang terjebak kepada yang haram yaitu menyakiti orang lain, atau ikhtilath (bercampur aduk antara laki-laki dan perempuan) sehingga pahala sunat yang diharapkan justru menjadi perbuatan haram bahkan lebih dari itu, ada yang menggunakan jasa "preman" untuk dapat mencium Hajar al aswad. Maka tidak heran kalau kita lihat di tiang-tiang Masjidil al Haram berkeliaran calo-calo menawarkan diri untuk membawa siapa yang berminat untuk mencium Hajaral aswad dengan imbalan rial. Praktek-praktek seperti ini tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan ibadah, karena bertolak belakang dengan syariat dan nilai filosofis dari mencium haral aswad itu sendiri.
http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 6 April, 2009, 07:56

Waspada Online

Padahal apabila direnungkan mencium Hajaral aswad mempunyai hikmah yang cukup dalam, walaupun dia hanya berbentuk 7 batu kerikil kecil-kecil yang dibingkai dalam timah putih yang ditempelkan pada batu yang menjorak ke dalam, dia adalah merupakan tangan kanan Allah yang ada di bumi. Rasul Saw. bersabda : Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah yang ada di bumi dengan nyalah Dia menjaba tangan makhluk-Nya, sebagaimana seorang laki-laki menjabat tangan saudaranya, (al hadits). Dia memberikan kesaksian kepada orang yang datang mengelilingi Baitullah. Mencium Hajar al aswad bukan hanya sekedar mencium tanpa makna, ciuman itu ibaratkan "bai'ah ikrar" seseorang kepada Allah Swt.

Inilah yang dibantah oleh Ali bin Abi Thalib kepada Umar bin Khattab, yang mengatakan, seandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah mengecupmu, aku tidak akan mengecupmu!, agaknya Umar beranggapan bahwa mencium Hajar al aswad itu hanya semata-mata mengikut perbuatan Nabi Saw. tanpa ada makna di balik itu, ketika Umar mengatakan Wahai Abul Hasan (panggilan untuk Ali bin Abi Thalib) di sinilah diungkapkan kalimat baik dan dikabulkan do'a. Ali mengimpali, Wahai Amirul Mukminin. Bahkan ia dapat memberikan manfaat dan mudarat. Umar bertanya bagaimana bisa demikian? Ali menjawab: Sesungguhnya manakala Allah mengambil janji dan ruh-ruh yang marah berada di alam rahim, bahwa dia telah menulis atas mereka sebuah kitab lalu Dia telah memperlihatkan kepada batu itu, maka batu itupun memberi kesaksian terhadap orang-orang yang beriman bahwa dia akan memenuhi janji tersebut.

Lalu Hajar al aswad memberikan kesaksian terhadap orang-orang kafir bahwa dia akan ingkar. Maksud dari ucapan seorang haji ketika dia mengucapkan salam kepada Hajar al aswad: Ya Allah aku semata-mata karena iman kepadamu, membenarkan kitabmu, dan memenuhi janjimu. (Hikmah Tasyri' wa Fissafatwahu: Syekh Ali Ahmad Al Janjawi: 1997). Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa mencium Hajar al aswad tidak ada faedahnya, bahkan orang-orang Barat menuding orang Islam mensakralkan batu atau menyembah batu. Perlu diberikan jawaban tegas kepada mereka, Allah Swt. pemilik alam semesta ini berhak memuliakan siapa saja, walaupun batu, sebagai bukti dan tanda kekuasaan-Nya, bukahlah Ka'bah itu terbuat dari batu, dan kitapun bisa membuat bentuk yang sama bahkan lebih cantik. Setelah thawaf dilakukan, tinggal satu kewajiban lagi yang wajib diselesaikan oleh orang yang mengerjakan haji yaitu Sa'i (berjalan) antara Sofa dan Marwa.

Walaupun perbuatan itu seperti orang yang mondar mandir mencari sesuatu, di sinilah tempat Siti Hajar mencari air ketika anaknya Islail kehausan, akhirnya air yang dicari bukan didapat di tempat sa'i, tapi air keluar dari tumit Nabi Ismail as. Dan pesan moral yang diambil dalam pelaksanaan sa'i ini adalah agar kita berusaha sesuai arti dari kata "Sa'i" yaitu berusaha, namun hasil usaha itu tidak menjadi ketentuan kita. Berusaha wajib, keberhasilan hanya di tangan Allah Swt. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Hajar mondar mandir dari Sofa ke Marwa, hasilnya didapati di bawah tumit Nabi Ismail as., yaitu air Zam-zam. Coba kita renungkan betapa banyak orang yang berusaha dan sukses dalam usahanya tapi tidak datang mengerjakan haji, dan banyak juga orang yang berangkat haji walaupun tidak dari hasil usahanya. Akhirnya mendapatkan haji mabrur sangat berat, tetapi menjaga kemabruran haji jauh lebih berat, mudah-mudahan para jamaah haji 1428 H. ini mendapat haji mabrur dan bisa mempertahankannya dan jangan menjadi haji "Tomat" (berangkat tobat pulang kumat). Meminjam istilah seorang muballigh. Wallahua'lam

Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batu Bara.

http://www.waspada.co.id

Menggunakan Joomla!

Generated: 6 April, 2009, 07:56