Anda di halaman 1dari 44

Fly Ash dalam Semen

Materi-materi mengenai pengaruh kandungan Fly Ash dalam semen

Fly Ash dalam Semen Materi-materi mengenai pengaruh kandungan Fly Ash dalam semen Sabtu, 04 September 2010Fly Ash dalam Semen Hy guys .... salam blogger. Baiklah sebelumnya saya dihadapkan pada sebuah pilihan, tujuannya satu yaitu membuat blog, tetapi yang menjadi plihan adalah tema yang akan saya bahas di blog saya ini. Ada 3 Pilihan, pertama mengutip suatu materi dari webpage lain dan memasukkannya di blog ini dengan sedikit modifikasi (mobil kalee mas). Kedua membuat isi blog ini asal-asalan, yang penting jadi (enak amat), Ketiga membuat blog yang didalamnya terdapat informasi yang bisa membantu orang lain dalam mencapai tujuannya. hayoo gan pilih yang mana???? yang pilih ketiga kelihatan sok jadi superhero tuh. hha Nah kan sudah pilih opsi yang ketiga, sekarang tinggal informasi apa yang kita masukkan, (*yah tentu saja informasi yang kita ketahui dan kita kuasai lah). Kebetulan background saya di bidang Kimia membuat saya memilih informasi ini, pengalaman saya di lapangan membuat saya berani mengulas materi ini (al4y am4t daH), saya juga mempunyai hak cipta dalam materi ini karena pembuat laporannya sendiri adalah satu-satunya orang.yang menautkan blog ini dengan situs jejaring sosialnya. hha Informasi yang saya berikan mungkin tak selengkap dengan file originnya, ini karena menyangkut aset dan kerahasiaan suatu perusahaan. OK, Here We Go BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah " id="pdf-obj-0-6" src="pdf-obj-0-6.jpg">

Sabtu, 04 September 2010

Hy guys

....

salam blogger.

Baiklah sebelumnya saya dihadapkan pada sebuah pilihan, tujuannya satu yaitu membuat blog, tetapi yang menjadi plihan adalah tema yang akan saya bahas di blog saya ini.

Ada 3 Pilihan, pertama mengutip suatu materi dari webpage lain dan memasukkannya di blog ini dengan sedikit modifikasi (mobil kalee mas). Kedua membuat isi blog ini asal-asalan, yang penting jadi (enak amat), Ketiga membuat blog yang didalamnya terdapat informasi yang bisa membantu orang lain dalam mencapai tujuannya. hayoo gan pilih yang mana???? yang pilih ketiga kelihatan sok jadi superhero tuh. hha

Nah kan sudah pilih opsi yang ketiga, sekarang tinggal informasi apa yang kita masukkan, (*yah tentu saja informasi yang kita ketahui dan kita kuasai lah). Kebetulan background saya di bidang Kimia membuat saya memilih informasi ini, pengalaman saya di lapangan membuat saya berani mengulas materi ini (al4y am4t daH), saya juga mempunyai hak cipta dalam materi ini karena pembuat laporannya sendiri adalah satu-satunya orang.yang menautkan blog ini dengan situs jejaring sosialnya. hha

Informasi yang saya berikan mungkin tak selengkap dengan file originnya, ini karena menyangkut aset dan kerahasiaan suatu perusahaan. OK, Here We Go

BAB I PENDAHULUAN

Kemajuan zaman yang sangat pesat menuntut adanya kemajuan dalam bidang Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi sebagai faktor penggerak utama, khususnya dalam memasuki pasar

global. Salah satu contoh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan adanya

pembangunan.

Salah satu contoh kebutuhan manusia sebagai dampak perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi adalah diantaranya mengenai semen. Manusia membutuhkan bangunan yang

memiliki kekuatan menahan tekanan dan dapat dibuat sesuai selera baik sebagai tempat untuk

beristirahat maupun untuk beraktifitas lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka diperlukan

bahan perekat, dalam hal ini semen.

Semen merupakan suatu perekat anorganik yang dapat merekatkan bahan-bahan padat

menjadi satu kesatuan massa yang kokoh dan dapat membentuk suatu bangunan dengan berbagai

macam model. Kemampuan semen sebagai perekat ini merupakan contoh konkrit perkembangan

ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dengan perlakuan tertentu bahan-bahan dari alam ( tanah

liat dan batu serta bahan-bahan pembantu lainnya ) dicampur dengan komposisi tertentu

sehingga membentuk semen.

Seiring dengan bertumbuhkembangnya industri semen yang dipacu oleh pertumbuhan

pembangunan maka semakin banyak pula industri semen yang ada di dunia. Tak dapat dihindari

pertumbuhan industri semen ini akan berdampak bagi lingkungan, khususnya mengenai limbah-

limbah industri yang akhir-akhir ini mendapatkan perhatian pemerintah. Oleh karena itu

pemerintah berusaha mengembangkan industri yang ramah lingkungan dan mengembangkan

penelitian dalam penggunaan dan peningkatan daya guna limbah industri serta pemanfaatan

sumber daya alam sebaik mungkin.

Masalah yang ditimbulkan dari adanya industri semen bukan hanya dari emisi karbon

dioksida yang dihasilkan dari berbagai proses, juga sumber daya alam yang terbatas. Alam tidak

selamanya dapat menyediakan bahan baku yang dibutuhkan. Untuk itu penggunaan sumber daya

alam harus seefektif mungkin.

Demi mengurangi emisi CO 2 dari pabrik semen, yaitu melalui produksi semen jenis baru

yaitu blended hydraulic cement jenis Portland Composite Cement PCC (semen portland

komposit). Semen komposit mulai diluncurkan tahun 2005, sejalan dengan mulai

dilaksanakannya proyek CDM (Clean Development Mechanism Mekanisme Pembangunan

Bersih) PT. Semen Tonasa (Persero) yang disebut sebagai Proyek Blended Cement, dalam

rangka partisipasinya sebagai warga dunia untuk menurunkan pemanasan global.

Sumber daya alam yang digunakan dalam proses pembuatan semen merupakan sumber

daya alam yang tak dapat diperbaharui. Sebagai perusahaan yang bijak, penggunaan sumber daya

ini harus secara efisien tanpa mengurangi kualitas dari hasil produksi yang dihasilkan. Untuk itu

pemilihan sumber daya yang tepat dinilai penting untuk produktivitas perusahaan. Tetapi tidak

selamanya alam memberikan sumber daya dengan komposisi sesuai keinginan.

  • 1.2. Identifikasi Masalah

Batubara merupakan salah satu bahan bakar yang digunakan dalam proses pembuatan

klinker (bahan campuran pembentuk semen) dalam kiln. Untuk memenuhi komposisi klinker

sesuai yang ditargetkan diperlukan pengaturan komposisi kiln feed.

Kandungan ash yang merupakan sisa pembakaran batubara dalam kiln yang bersifat

pozzolan dapat mempengaruhi kualitas klinker yang dihasilkan. Dengan menggunakan

komposisi yang tepat antara batubara dan kiln feed dapat menghasilkan klinker yang berkualitas.

Untuk itu pemilihan batu bara yang tepat dan pengaturan komposisi kiln feed dapat menjaga

target kualitas dari klinker.

  • 1.3. Batasan Masalah

Data ash batubara yang digunakan sebagai bahan analisa terdiri dari 12 variabel dengan kandungan yang berbeda. Metode yang digunakan sebagai bahan analisa hanya terbatas pada penetapan batubara.

BAB III LANDASAN TEORI

  • 3.1. TEORI SEMEN

    • 3.1.1. Sejarah Semen dan Perkembangan Semen

Kata “semen” berasal dari bahasa latin Caementum yang artinya perekat. Semen sudah dikenal sejak zaman dahulu kala yang dibuat dari kalsinasi kapur yang tidak murni oleh bangsa Mesir untuk konstruksi pyramid. Orang Yunani dan Romawi menggunakan slug vulkanik yang berasal dari gunung merapi yang letaknya dekat Vonselly disekitar gunung Visivius yang dicampur kapur gamping (Quicklime) dan gipsum sebagai semen, dan diberi nama “Pozzoluoana/ Pozzolan Cement”.

No

Nama Penemu

Tahun

Kebangsaan

Hasil Temuan

1

John Smeaton

1756

Inggris

Hydraulic Cement dan memakai

bahan tersebut untuk

membangun kembali gedung

Eddystone Light House.

2

Joseph Parker

 
  • 1796 Kent(Inggris)

Butiran-butiran (septaria) dari

batu kapur yang dipakai untuk

memproduksi semen.

Memproduksi semen dari butiran

  • 1802 Prancis

(nodule).

4

Edgar Dobbs

 
  • 1810 Inggris

Membuat semen dari batu kapur.

5

L.J Vicat

 
  • 1813 Prancis

Membuat semen yang tahan air,

harus ditambahan batuan yang

mengandung alumina silika yang

mempunyai komposisi tertentu.

6

James frost

 
  • 1822 Inggris

Mulai membuat semen dari batu

kapur dan tanah liat.

7

Joseph Aspidin

 
  • 1824 Inggris

Membuat semen modern yang

terbuat dari batu kapur dan tanah

liat setelah melalui proses

pembakaran.

8

James Frost

 
  • 1825 Swancombe

Mendirikan pabrik Semen

Portland yang pertama berdiri di

Inggris.

  • 1855 Pennsylavia

Mendirikan pabrik semen

Portland di Belgia dan Jerman

9

David O. Saylor

 
  • 1850 Pennsylavia

Menemukan

Semen

Alam

(Natural Cement)

yang berupa

       

batuan semen yang mengandung

alumina silika dan diproduksi

dengan tungku tegak di USA dan

lebih kuat dari pada Hidroaulic

Cement

1871

Pennsylavia

Memproduksi Semen Portland di

USA.

1875

Memproduksi Semen Portland di

Jepang.

10

Frederick

1885

 

Memperkenalkan Rotary Kiln

Ransome

dalam tekhnologi pembuatan

semen dengan kapasitas

produksi 50 ton Klinker per hari.

Panjang Kilnnya adalah 25 meter

dengan diameter 2 meter.

Pada tahun 1824, Joseph Aspidin (Inggris) yang mendapat hak paten pertama kali atau

proses pembuatan semen hasil penemuannya. Aspidin melakukan proses kalsinasi sampai tingkat

tertentu terhadap campuran batu kapur dan tanah liat. Semen ini dinamakan “Portland” karena

Beton yang dibuat dengan semen ini sangat menyerupai batuan-batuan alam yang terdapat di

pulau Portland, Inggris.

Di Indonesia pabrik semen pertama yaitu: Sumatera Portland Werk didirikan di Indarung,

Padang dan Sumetera Barat. Pada tahun 1910 kemudian menyusul di Gresik, Jawa Timur dan

pada tahun 1957 disusul dengan berdirinya pabrik Semen Tonasa, Sulawesi Selatan dan pada

tahun 1968, pabrik Semen Cibinong dan Indocement pada tahun 1975, Semen Bosowa pada

tahun 1998 dan pabrik semen lainnya, sehingga saat ini di Indonesia terdapat 10 pabrik semen

dengan kapasitas terpasang ± 27,5 juta ton pertahun.

  • 3.1.1. Defenisi dan Jenis-Jenis Semen Portland

    • A. Semen dapat didefenisikan sebagai berikut :

Secara umum semen merupakan suatu bahan perekat yang dapat menyatukan benda padat

menjadi satu kesatuan yang kokoh,yang terdiri dari senyawa oksida Calsium dengan oksida

Silika. Semen umumnya berbentuk tepung dengan warna, jenis dan type semen bermacam-

macam tergantung dari jenis bahan penyusunan serta kegunaan dalam konstruksi bangunan

Jika dalam pemakaiannya harus ditambah air, maka semen disebut semen hidrolis. Semen

adalah perekat suatu yang berbentuk halus jika ditambahkan air akan terjadi reaksi hidrasi dan

dapat mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan massa yang kokoh.

  • B. Adapun jenis-jenis semen antara lain sebagai berikut:

    • 1. Semen Portland

Menurut SNI No. 15-2049 tahun 1994, semen portland adalah semen hidrolis yang

dihasilkan dengan cara menggiling terak semen Portland yang terdiri atas kalsium silikat yang

bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih

bentuk kristal senyawa yang biasa adalah gypsum (CaSO 4 .2H 2 O) dan boleh ditambahkan bahan

tambahan lain.

Menurut SNI No. 15-2049 tahun 1994, semen Portland diklasifikasikan dalam 5 (lima)

jenis sebagai berikut :

Tipe I (Ordinary Portland Cement)

Ordinary Portland Cement adalah Semen Portland yang dipakai untuk segala macam

kontruksi apabila tidak diperlukan sifat-sifat khusus, misalnya ketahanan terhadap sulfat, panas

hidrasi, dan sebagainya. Ordinary Portland Cement mempunyai C 3 S 59,3%, C 2 S 17%, C 3 A 8%,

C 4 AF 11,9% dan komposisi limit sebgai berikut :

Tabel 3.3. Komposisi limit Semen Tipe I

 

Oksida

CaO

SiO 2

Al 2 O 3

Fe 2 O 3

MgO

SO 3

 

Komposisi

           

62.0

20.5

5.5

5.3

  • 3.9 2.8

% Berat

Tipe II (Moderat Heat Portland Cement)

 

Moderat Heat Portland Cement dalah Semen Portland yang dipakai untuk segala macam

kontruksi yang memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang, biasanya

digunakan untuk daerah pelabuhan dan bangunan sekitar pantai, batasan kandungan sulfat yang

direkomendasikan (sebagai SO 3 ) adalah 0,8 0,17 ppm unti ground water,125 ppm unit tanah.

Moderat Heat Portland Cement mempunyai C 3 A 8%, C 4 AF 11,9% dan komposisi limit sebagai

berikut :

Tabel 3.4. Komposisi limit Semen Tipe II

 

Oksida

CaO

SiO 2

Al 2 O 3

Fe 2 O 3

MgO

SO 3

 

Komposisi

           

66.0

21.5

5.5

5

  • 3.9 2.7

% Berat

Tipe III (High Early Portland Cement)

 

High Early Portland Cement dalah Semen Portland yang dipakai untuk keadaan-keadaan

darurat dan dipakai pada pengecoran untuk keadaan khusus musim dingin, juga dipakai untuk

produksi beton tekan. Semen tipe III ini mempunyai kandungan C 3 S lebih tinggi dibanding

semen tipe lainnya sehingga lebih cepat mengeras dan lebih cepat mengeras dan lebih cepat

mengeluarkan kalor juga mempunyai pengembangan kekuatan awal tinggi. High Early Portland

Cement mempunyai C 3 S 35%, C 2 S 40%, C 3 A 15%, dan komposisi limit sebagai berikut :

Tabel 3.5. Komposisi limit Semen Tipe III

 

Oksida

CaO

SiO 2

Al 2 O 3

Fe 2 O 3

MgO

SO 3

 

Komposisi

           
  • 65 20

0.55

  • 4 6

4

% Berat

Tipe IV (Low Heat Portland Cement)

 

Low Heat Portland Cement adalah Semen Portland yang dipakai untuk bangunan dengan

panas hidrasi rendah misalnya pada bangunan besar dan tebal, baik sekali untuk mencegah

keretakan. Semen tipe IV ini mempunyai kandungan C 3 S dan C 3 A lebih rendah tetapi belite

(C 2 S ) lebih banyak dibanding OPC. Sehingga beton yang dibuat dari semen ini mempunyai sifat

:

Panas hidrasi rendah, sehingga cocok untuk concerate construction. Kuat tekan awal

rendah, tetapi kuat tekan akhir hampir sama dengan OPC tahan terhadap sulfat. Low Heat

Portland Cement mempunyai C 3 S 35%, C 2 S 40%, C 3 A 7%, dan komposisi limit sebagai berikut

Tabel 3.6. Komposisi limit Semen Tipe IV

 

Oksida

CaO

SiO 2

Al 2 O 3

Fe 2 O 3

MgO

SO 3

 

Komposisi

  • 63 21

   
  • 5 6

6.5

 

2.3

% Berat
% Berat

Tipe V (Sulfate Resistance Portland Cement)

Sulfate Resistance Portland Cement adalah Semen Portland yang mempunyai kekuatan

tinggi terhadap sulfat dan mempunyai kandungan C 3 A lebih rendah dibandingkan semen tipe

lainnya. Sering digunakan untuk bangunan di daerah dengan kadar sulfat. (sebagai SO 3 ) tinggi

yaitu 0,17 1,67 ppm until ground water,125 1250 ppm unit tanah. Sulfate Resistance Portland

Cement mempunyai C 3 A 5%, dan komposisi limit sebagai berikut :

Tabel 3.7. Komposisi limit Semen Tipe V

Oksida

CaO

SiO 2

Al 2 O 3

Fe 2 O 3

MgO

SO 3

Komposisi

           

% Berat

65

21

5

6.5

6

2.3

Semen Turunan dari Semen Portland

Semen Non Portland terdiri atas :

  • a. Semen Portland Pozzoland

Pozzoland adalah bahan yang mengandung senyawa silica dan alumina dimana bahan

pozzoland itu sendiri tidak mempunyai sifat seperti semen, akan tetapi dalam bentuknya yang

halus dan dengan adanya air, maka senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi membentuk kalsium

aluminat hidrat yang bersifat hidraulis

3CaO.Al 2 O 3 + H 2 O

3CaO.Al 2 O 3. 3H 2 O

Semen Portland Pozzolan merupakan suatu bahan pengikat hidraulis yang dibuat dengan

menggiling bersama-sama terak semen Portland dan bahan yang bersifat pozzoland, atau

mencampur secara merata bibuk semen Portland dan bubuk bahan lain yang mempunyai sifat

pozzoland. Bahan pozzoland ditambahkan besarnya antara 15-40%

  • b. Portland Blast Furnace Slag Cement

Portland Blast Furnace Slag Cement adalah semen yang dibuat dengan cara menggiling

campuran klinker semen Portland dengan kerak dapur tinggi (Blast Furnace Slag) secara

homogen.

Semen Non Portland

Semen Alam (Natural Cement)

Semen Alam merupakan semen yang dihasilkan dari proses pembakaran batu kapur dan

tanah liat pada suhu 850 1000 o C yang dibuat didalam tungku putar maupun gerak, kemudian

tanah yang dihasilkan digiling menjadi semen halus.

Semen Alumina Tinggi

Semen Alumina Tinggi pada dasarnya adalah suatu semen kalsium aluminat yang dibuat

dengan melebur campuran batu gamping, bauksit, dan bauksit ini biasanya mengandung oksida

besi, silica, magnesia, dan ketakmurnian lain. Cirinya terhadap air laut dan air yang mengandung

sulfat lebih baik.

Semen Sorel

Semen Sorel adalah semen yang dibuat melalui rekasi eksotermik larutan magnesium

klorida terhadap suatu ramuan magnesia yang didapat dari kalsinasi magnesit dan magnesia dari

larutan garam.

3MgO + MgCl 2 + 11 H 2 O

3MgO.MgCl 2 .11 H 2 O

Semen Sorel mempunyai sifat yang keras dan kuat, mudah terserang air dan sangat korosif.

Penggunaaanya terutama sebagai lantai, dan sebagai dasar pelantai dasar seperti ubin atau teras.

3.1.3.

Komponen Penyusun Semen

  • A. Bahan Baku Semen

Pada prinsipnya Bahan Baku utama dalam proses pembuatan semen hanya ada 2 yaitu batu

kapur dan tanah liat sebab semua senyawa senyawa utama dalam semen berasal dari kedua

bahan tersebut. Bila digunakan bahan lainnya, maka bahan tersebut hanya sebagai bahan

pengoreksi komposisi saja.

  • 1. Batu Kapur

Batu Kapur merupakan sumber utama senyawa Kalsium. Batu kapur murni umumnya

merupakan kalsit atau aragonite yang secara kimia keduanya dinamakan CaCO 3 . Senyawa

Karbonat dan Magnesium dalam batu Kapur umumnya berupa dolomite (CaMg(CO 3 ) 2 . Dalam

proses pembuatan Semen, CaCO 3 akan berubah menjadi oksida Kalsium (CaO) dan dolomite

berubah bentuk menjadi kristal oksida magnesium (MgO) bebas (Periclase) yang dapat

merendahkan mutu semen yang dihasilkan, sebab jika jumlah MgO bebas melebihi 5%

(berdasarkan SNI No. 15-2049 tahun 2004) maka bangunan yang menggunakan semen tersebut

hasilnya akan pecah pecah.

  • 2. Tanah Liat

Tanah Liat merupakan sumber utama senyawa silikat. Disamping itu, juga merupakan

sumber senyawa senyawa penting lainnya seperti senyawa besi dan alumina. Dalam jumlah

amat kecil kadang kadang juga didapati senyawa senyawa alkali (Na dan K) yang dapat

mempengaruhi mutu semen. Senyawa-senyawa tersebut diatas dalam tanah liat umumnya

terdapat dalam bentuk kelompok-kelompok mineral, seperti :

1)

Kelompok kaolomit (Al 2 O 3. 2SiO 2 .2H 2 O) terdiri dari kaolinit dickit, rakit dan alloysit.

  • a) = Al 2 O 3 .4SiO 2 .H 2 O + NH 2

Montmorillonit

  • b) = (Al 2 ,Fe) 2 O 3 .3SiO 2 . NH 3

Nontronit

  • c) = 2MgO. 3SiO 2 . NH 2

Saponit

3)

Kelompok illit, K 2 O. MgO. Al 2 O 3 . SiO 2

Selain mineral-mineral tersebut diatas, dalam tanah liat sering dijumpai juga SiO 2 bebas

dalam bentuk kuarsa, kalsit, pirit dan lemonit.

  • B. Bahan Baku Korektif

Bahan Baku korektif adalah bahan baku yang dipakai hanya apabila pada pencampuran

bahan baku utama komposisi oksida oksidanya belum memenuhi persyaratan secara kualitatif

dan kuantitatif.

Pada umumnya, bahan baku korektif yang digunakan mengandung oksida silika, oksida

alumina dan oksida yang diperoleh dari pasir Silika (Sand), Tanah Liat (Clay), dan Pasir

Besi/Iron ore/ pyrite cinder. Misalnya, kekurangan:

  • - CaO

: bisa ditambahkan limestone, Marble (90% CaCO 3 ).

  • - Al 2 O 3 : bisa ditambahkan tanah liat

  • - SiO 2 : bisa ditambahkan quatz dan sand

  • - Fe 2 O 3 : bisa ditambahkan pasir besi, pyrite

    • a) Pasir Silika

: Digunakan sebagai pengoreksi kadar SiO 2 yang rendah dalam

tanah liat

Pasir Besi : Digunakan sebagai pengoreksi kadar Fe 2 O 3 atau pengoreksi perbandingan antara Al 2 O 3 dan

Fe 2 O 3 .

Bauksit : Digunakan sebagai pengkoreksi kadar Al 2 O 3 yang rendah dalam tanah liat.

Pada PT. Semen Tonasa bahan koreksi yang digunakan adalah pasir silika dan pasir besi.

Gypsum juga biasanya ditambahkan sebagai bahan tambahan setelah terbentuk klinker.

  • 3.1.4. Fungsi Senyawa Kimia Dalam Bahan Baku

Jika dinyatakan dalam bentuk oksidanya, ada 7 senyawa kimia penting yang terdapat dalam

bentuk bahan baku. Senyawa kimia tersebut adalah sebagai berikut:

  • 1. Oksida Kalsium (CaO)

Sumber utama oksida kalsium adalah CaCO 3 dalam batu kapur. Dalam proses semen CaO

merupakan oksida terpenting, sebab disamping merupakan senyawa terbesar jumlahnya juga

merupakan senyawa bereaksi dengan senyawa-senyawa silikat, aluminat dan besi membentuk

senyawa-potensial penyusun senyawa semen. CaO dalam batu kapur tidak semuanya berikatan

membentuk mineral potensial biasanya tidak berikatan dengan senyawa lain yang biasa disebut

CaO bebas.

  • 2. Oksida Silica (SiO 2 )

SiO 2 terutama diperoleh dari peruraian mineral-mineral kelompok montmorillonit yang

berasal dari tanah liat. Disamping itu juga SiO 2 bebas yang berasal dari pasir silika. Dalam

semen, SiO 2 selalu terdapat dalam keadaan berikatan dengan CaO.

  • 3. Oksida Alumunium (Al 2 O 3 )

Al 2 O 3 juga terdapat di dalam tanah liat yaitu pada kelompok mineral nontronik, bersama

CaO merupakan oksida pembentuk mineral potensial kalsium alumina, bersama CaO dan Fe 2 O 3

akan membentuk senyawa alumina ferri. Al 2 O 3 berperan sebagai fluks (penurunan titik leleh)

campuran bahan-bahan baku.

  • 4. Oksida ferrum (Fe 2 O 3 )

Fe 2 O 3 juga terdapat dalam tanah liat yaitu dalam kelompok mineral kaolonit. Bersama-

sama CaO dan Al 2 O 3 , Fe 2 O 3 akan bereaksi membentuk senyawa alumina ferrit. Selain berperan

dalam reaksi pembentuk mineral potensial juga berperan sebagai fluks.

  • 5. Oksida Magnesium (MgO)

MgO terutama diperoleh dari peruraian dolomite (CaCO 3 ) kadang-kadang MgO bisa juga

berasal dari mineral-mieneral tanah liat. MgO tidak berfungsi sebagai salah satu mineral

potensial sebab dalam proses pembuatan semen, MgO tidak bereaksi dengan oksida-oksida

lainnya. Peranannya hanya sebagai fluks dan pewarna semen.

  • 6. Oksida alkali (Na 2 O dan K 2 O)

Oksida alkali umumnya berasal dari dekomposisi mineral-mineral tanah liat yaitu

kelompok illit dan jumlahnya relative kecil. Oksida alkali bukan merupakan pembentuk mineral

potensial tetapi sebagai fluks saja.

  • 7. Oksida belerang (SO 3 )

Oksida belerang dalam semen terutama diperoleh dari penambahan senyawa CaSO 4 .2H 2 O.

Selain itu ada juga SO 3 yag berasal dari bahan bakar yang digunakan dalam proses pembuatan

semen. Senyawa oksida belerang sama sekali tidak berpengaruh dalam pembentukan mineral

potensial penyusun semen, tetapi fungsinya terutama pada pemakaian semen.

  • 8. Oksida Fosfar (P 2 O 5 )

Umumnya kandungan P 2 O 5 pada semen tidak lebih dari 0,2%. Adanya P 2 O 5 dapat

memperlambat pengerasan semen, karena turunnya kadar C 3 S dimana terbentuk P 2 O 5 dan CaO.

Kadar P 2 O 5 yang tinggi dapat menyebabkan unsoundness karena terbentuknya kapur bebas pada

P 2 O 5 2,5%.

Senyawa senyawa utama semen (mineral mineral potensial/penyusun semen adalah:

  • 1. Trikalsium Silikat (C 3 S).

Merupakan komponen penentu utama kekuatan awal semen. Hal ini disebabkan karena

selain jumlah yang besar, reaksi hidrasinya juga berlangsung cepat. Pemuaian C 3 S lebih kecil

dibanding dengan C 3 A tetapi lebih besar bila dibanding dengan C 4 AF. Panas Hidrasi yang

ditimbulkan oleh C 3 S adalah kedua terbesar setelah C 3 A.

  • 2. Dikalsium Silikat (C 2 S).

Merupakan Komponen penentu kekuatan akhir semen. Reaksi Hidrasinya yang lambat

menyebabkan pengembangan kekuatan juga berlangsung lambat, yakni baru terlihat 28 hari

setelah pengikatan. Seperti C 3 S, C 2 S juga tidak memberi pengaruh yang berarti pada pemuaian

semen. Panas hidrasinya adalah yang terendah dibandingkan dengan komponen-komponen

lainnya.

  • 3. Trikalsium Aluminat (C 3 A).

Merupakan komponen yang sangat menentukan ketahanan semen terhadap senyawa-

senyawa sulfat. Makin rendah kadar C 3 A dalam semen, makin tahan semen terhadap serangan

sulfat. Reaksi hidrasi C 3 A merupakan sumber panas terbesar diantara reaksi hidrasi senyawa-

senyawa lainnya.

  • 4. Tetrakalsium Aluminoferrit (C 4 AF)

C 4 AF hampir tidak berpengaruh terhadap kekuatan semen.Panas hidrasi yasng ditimbulkan

C 4 AF rendah,hanya sekitar 420 joule per gram.C 4 AF merupakan komponen yang menentukan

warna semen.Nilai C 4 AF dapat dihitung menurut persamaan sebagai berikut:

C 4 AF = 3,043.Fe 2 O 3

Negative komponen adalah senyawa-senyawa yang tidak dengan sengaja ditambahkan atau

terbentuk dalam proses dan menimbulkan pengaruh-pengaruh yang tidak menguntungkan, baik

pada proses pembuatan semen maupun dalam pemakaian semen.

  • 1. Pada proses pembuatan semen

Beberapa senyawa yang dapat menimbulkan gangguan-gangguan dalam proses

pembakaran terak antara lain:

  • 1. Alkali

Sebagian besar senyawa alkali berasal dari bahan baku tanah liat ataupun dari bahan bakar,

khususnya batu bara. Pada suhu sekitar 800 1000 o C, senyawa alkali dalam raw mill yang

masuk ke dalam tanur putar mulai menguap. Uap alkali ini akan bereaksi dengan gas-gas CO 3

(baik dari bahan baku atau dari bahan bakar), CO 2 dan klorida membentuk senyawa-senyawa

alkali sulfat (Na 2 SO 4 dan K 2 SO 4 ), alkali karbonat (Na 2 CO 3 dan K 2 CO 3 ) dan alkali klorida (NaCl

dan KCl). Tetapi pada suhu dibawah 700 0 C sebagian besar garam-garam alkali yang terbentuk

akan mengembun dan cairannya akan menempel pada butir-butir umpan tanur membentuk bahan

yang bersifat “sticky” (terutama alkali sulfat dan klorida). Bahan yang “sticky” ini dapat

menempel pada dinding preheater, sebagian akan ikut terbawa debu meninggalkan preheater dan

sebagian lagi terbawa kedalam tanur putar.

2.

Belerang

Seperti halnya alkali, senyawa-senyawa belerang kebanyakan berasal dari bahan baku

tanah liat ataupun bahan bakar yang digunakan. Dalam bahan bakar, senyawa belerang umumnya

berupa senyawa pirit dan markasit (FeS 2 ) dengan kadar 0,1 % dinyatakan sebagai SO 3 . Bahan

bakar sendiri, khususnya minyak bunker-C mengandung senyawa belerang dalam bentuk

senyawa merasptan (RSH), tiopen (C 4 H 4 S) dan lain-lain. Jika jumlah SO 3 cukup banyak, maka

kelebihan gas SO 3 akan bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO 3 ) umpan tanur di preheater

membentuk senyawa CaSO 4 . Senyawa ini kemudian masuk ke dalam tanur bersama lainnya, dan

sesampainya di burning-zone sebagian akan terurai.

CaSO 4

CaO

+

SO 3

SO 3 yang terbentuk akan menambah atau meningkatkan sirkulasi belerang. Sebagian CaSO 4

lainnya akan terbawa keluar bersama terak. Anhidrat CaSO 4 ini daya larutnya jauh lebih kecil

dibandingkan dengan daya larut gypsum, sehingga terak dapat berfungsi sebagai pengatur waktu

pengikatan semen. Selain itu, adanya anhidrat CaSO 4 menyebabkan jumlah gypsum yang

ditambahkan pada penggilingan terak menjadi berkurang. Persyaratan kadar maksimum SO 3

total bukan hanya berasal dari gypsum saja, lebih dari setengah jumlah belerang yang masuk ke

dalam proses keluar bersama terak dengan kadar 0,1 0,5 % jika dinyatakan sebagai SO 3 .

3. Klorida

Kadar senyawa klorida dalam umpan tanur bervariasi antara 0,001 0,10 %, sedangkan

dalam debu bahan bakar batu bara berkisar 0,4 %. Seperti yang telah dijelaskan di atas, senyawa

klorida bereaksi dengan senyawa alkali dalam tanur putar membentuk senyawa alkali klorida.

Senyawa ini keluar dari tanur bersama gas hasil pembakaran, dan kemudian mengembun di

preheater. Embun alkali klorida bersama umpan tanur masuk kembali kedalam tanur, dan

sesampainya di burning-zone hampir semuanya teruapkan, karena pengembunan alkali klorida di

preheater cukup sempurna maka senyawa ini akan selalu bersirkulasi ( naik-turun) antara

burning-zone dan preheater dengan jumlah yang semakin lama semakin banyak.

Coating yang terbentuk di preheater makin lama makin banyak. Untuk mencegah gas ini,

sebagian gas tanur (10 25 %) di by-pass dapat diperlukan bila kadar senyawa klorida dalam

raw mix melebihi 0,015%. “coating “ adalah massa padat yang terbentuk dan menempel pada

suatu permukaan bahan karena adanya daya tarik-menarik antara massa dengan bahan bahan.

  • 2. Pada pembakaran semen

    • 1. Kapur bebas (free lime)

Kapur bebas yang terdapat dalam terak atau semen adalah CaO yang tidak bersenyawa atau

berikatan dengan oksida-oksida lainnya, SiO 2 , Al 2 O 3 dan Fe 2 O 3 . adanya kapur bebas disebabkan

oleh 2 hal sebagai berikut:

  • a. Jumlah kapur yang digunakan berlebihan dengan kebutuhan untuk bereaksi dengan SiO 2 , Al 2 O 3 ,

dan Fe 2 O 3 .

b. Reaksi yang berlangsung dalam tanur putar kurang sempurna. Walaupun CaO sesuai

dengan kebutuhan, tetapi tidak dapat bersenyawa dengan oksida-oksida SiO 2 , Al 2 O 3 , dan

Fe 2 O 3 . Seperti telah diketahui, proses pembakaran dalam tanur putar berlangsung pada

suhu yang tinggi dari suhu disosiasi CaCO 3 (896 0 C lalu CaO hasil disosiasi dibakar keras

(hard-bund). Disamping itu CaO mengkristal dan tercampur bersama kristal-kristal materi

lainnya (intercristallised). Kedua kejadian ini menyebabkan CaO yang dihasilkan lambat

bereaksi dengan air. Pada waktu semen digunakan, selain reaksi hidrasi senyawa-

senyawa mineral potensial juga terjadi hidrasi CaO bebas.

CaO + H 2 O

Ca(OH) 2

Reaksi hidrasi berlangsung lambat sekali, baru selesai pada waktu pengikatan akhir semen sudah

terlampaui. Padahal Ca(OH) 2 yang terbentuk mempunyai volume lebih besar dari CaO.

Pertambahan volume ini (ekspansi) terjadi pada saat semen sudah tidak plastis lagi. Akibatnya

timbul keretakan yang dapat merendahkan mutu semen.

  • 2. Magnesium Oksida, MgO (“periclase”).

Dalam tanur MgCO 3 yang terdapat dalam umpan akan terdisosiasi menurut

reaksi:

MgCO 3

MgO + CO 2

MgO yang terbentuk tidak bereaksi dengan oksida-oksida utama seperti SiO 2 , Al 2 O 3 , dan

Fe 2 O 3 , sebagian akan terlarut dalam mineral-mineral potensial terak sebagian lagi membentuk

kristal perisicle. Seperti halnya CaO bebas, perisicle juga terkena hard-bund. Akibat reaksinya

perisicle dengan air berjalan sangat lambat dan pada suhu kamar akan berlangsung terus dalam

jangka waktu setahun. Pertambahan volume akibat terbentuknya Mg(OH) 2 , seperti halnya

Ca(OH) 2 akan menyebabkan keretakan-keretakan (cracking) pada semen yang digunakan.

Bentuk relative senyawa-senyawa silikat yang relatif dalam agregant, akan bereaksi dengan

senyawa-senyawa alkali semen. Hasil reaksi berupa gel alkali silikat dapat menyebabkan

terjadinya pemuaian ataupun keretakan-keretakan pada beton. Proses pemuaian ini berlangsung

lambat dan pengaruhnya baru terlihat dalam jangka waktu 1 tahun.

  • 3.1.7. Proses Pembuatan Semen

Proses pembuatan semen ada 2 (dua) macam yaitu:

  • A. Proses Basah

Disebut proses basah karena campuran bahan baku mulai dari proses penggilingan sampai

masuk ke dalam tanur putar berupa luluhan dengan kadar air sekitar 30-40%.

Adapun keuntungan dari proses basah :

  • - Komposisi umpan sangat homogen

  • - Debu yang keluar sangat sedikit

  • - Peralatan untuk feeding, sampling, penyimpanan, transport bahan dan alat untuk homogenisasi

lebih murah.

Adapun kerugian dari proses basah :

  • - Banyak memerlukan air

  • - Sangat korosif dipipa-pipa, digrinding media dan rantai kiln

  • - Kebutuhan bahan bakar relative banyak

  • - Kiln yang digunakan sangat panjang

    • B. Proses kering

Disebut proses kering karena campuran bahan baku mulai dari proses penggiling sampai

masuk ke dalam tanur putar ( Raw Mill) dengan kadar air kurang dari 1%.

Adapun keuntungan dari proses kering yaitu :

  • - Pemakaian kalori bahan bakar rendah (700-800 kkal/kg klinker)

  • - Tanpa putar lebih pendek

Adapun kerugian dari proses kering yaitu :

  • - Biaya untuk alat operasi, tempat penyimpanan, alat homogenisasi sangat mahal

  • - Banyak diperlukan alat penangkap debu dan menimbulkan polusi.

  • - Campuran kurang homogeny.

  • 3.1.8. Proses Pembuatan Semen PT. Semen Tonasa

  • A. Pemecahan/Crushing

Batu kapur yang berasal dari quarry mengalami dua tahap proses penghancuran, yakni

dengan primary crusher dan secondary crusher. Batu kapur yang keluar dari primary crusher

berukuran lebih kecil dari 125 mm dan setelah melawati secondary crusher berukuran lebih kecil

dari 80 mm. Bersamaan dengan itu, di lain pihak tanah liat yang berasal dari Ammessanggeng/

Bunga Eja juga mengalami proses penghancuran. Material batu kapur dan tanah liat yang telah

dihancurkan dicampur dalam mix crusher selanjutnya ditampung dalam mix pile strorage.

Disamping itu, bahan-bahan korektif seperti pasir silika dan pasir besi juga mengalami

proses penghancuran terlebih dahulu sebelum ditampung di additive strorage. Untuk

mengantisipasi kekurangan batu kapur dalam proses penggilingan maka di additive strorage juga

tersedia batu kapur murni yang juga melewati dua tahap penghancuran.

Semua material yang ada dalam gudang penyimpanan tersebut ditampung didalam empat

bin masing-masing untuk memudahkan pengontrolan komposisi pengumpanan pada saat

diumpankan ke dalam Raw Mill untuk proses penggilingan. Komposisi material yang

diumpankan ke dalam Raw Mill diatur sesuai rekomendasi Quality Assurance dan Control

Departement.

  • B. Penggilingan/homogenisasi

Di dalam Raw Mill semua material yang diumpankan mengalami proses penggilingan

material-material yang sangat halus (berbentuk tepung baku). Disamping mengalami proses

penggilingan, material yang ada di Raw Mill juga mengalami proses pengeringan (karena adanya

kontak langsung dengan gas tinggi yang keluar dari tanur bakar) sampai kandungan airnya

maksimal 1%.

Material tepung yang keluar dari Raw Mill ditampung di dalam Blending Silo dan

mengalami proses homogenisasi sebelum diumpankan ke dalam tanur (rotary kiln). Material

tepung (raw meal) yang keluar dari Blending Silo dan siap untuk diumpan ke dalam tanur bakar

(kiln) disebut Kiln feed.

  • C. Pembakaran

Kiln feed mula-mula mengalami pemanasan awal preheater yang dilengkapi dengan dua

buah calsiner (ILC dan SLC) sehingga Kiln Feed mengalami proses kalsinasi antara 85-95% di

dalam kedua kalsiner tersebut. Setelah mengalami proses kalsinasi (pelepasan CO 2 ), material

akan melewati masa transisi (reaksi antara oksida-oksida penyusun senyawa klinker) kemudian

dilanjutkan dengan proses klinkernisasi (perubahan fase dari padat ke fase cair untuk membentuk

senyawa-senyawa klinker yang lebih lanjut). Proses ini berlanjut pada suhu tinggi ± 1450 0 C.

Senyawa-senyawa utama pembentukan klinker dapat dilihat pada table 3.8:

Tabel 3.8 Senyawa-senyawa utama pembentukan klinker

Senyawa

Rumus

Singkatan

Nama Lain

Mineral Potensial :

     

Trikalsium Silikat

3CaO.SiO

2

C

3

S

Alite

Dikalsinasi Silikat

2CaO.SiO

2

C

2

S

Belite

Trikalsium Aluminat

3CaO.Al 2 O 3

C

3 A

-

Tetrakalsium Alumino ferrit

4CaO.Al 2 O 3. Fe 2 O 3

C

4 AF

Ferrite

Karena tingginya suhu dalam tanur putar, maka terjadilah reaksi-reaksi kimia antara

senyawa-senyawa yang terdapat dalam kiln feed. Reaksi-reaksi tersebut berlangsung secara

bertahap sesuai dengan tingkat suhu yang dilalui bahan dalam kiln (Tabel 3.9).

Tabel 3.9 Reaksi Pembentukan Klinker

Suhu ( o C)

Proses

Reaksi

<200

Pelepasan air bebas

 

100-400

Pelepasan air Kristal pada tanah liat

 

400-900

Penguraian metabolinit dan senyawa-senyawa

Al 2 O 3 .SiO 2

   

lainnya membentuk oksida-oksida reaktif

 

Al 2 O 3 +2SiO 2

 

600-1300

Penguraian batu kapur (kalsinasi) dan

 

CaCO 3

CaO dan

terbentuknya CaO.SiO 2 (CS) dan CaO, Al 2 O 3.

CO 2

2CaO+SiO 2 +Al 2 O 3

Pengikatan CaO oleh

CS

dan

CA

serta

CS+CA

 

terbentuknya 4CaO, Al 2 O 3 , Fe 2 O 3.

   

3CaO+CA+Fe 2 O 3

 

C

4 AF

2CaO+CA

C 3 A

CaO+CS

C 2 S

1200-1450

Pengikatan lebih lanjut CaO oleh C 2 S

   

CaO+C 2 S

C 3 S

  • A. Pengeringan

 

Proses pelepasan air bebas yang terkandung dalam kiln feed (0,5-1,0%), disebut proses

pengeringan.Proses ini berlangsung pada suhu sampai 200C, air yang terabsorpsi oleh mineral-

mineral tanah liat mulai terlepas. Kemudian pada suhu yang lebih tinggi lagi air-air yang terikat

secara kimia (air kristal) atau yang terbentuk gugus hidroksida juga mulai terlepas. Pada suhu

yang lebih tinggi mineral-mineral yang sudah kehilangan air kristal atau gugus hidroksinya akan

terurai menjadi oksida-oksida yang sifatnya reaktif.

  • B. Reaksi Dekomposisi Senyawa klinker (Dekarbonasi)

Senyawa kalsium karbonat yang jumlahnya dalam kiln feed 75-80%, secara teoritis akan

terurai (Terdekomposisi) pada suhu mulai 500-1000 o C

CaCO 3

CaO+CO 2

  • C. Reaksi Dekomposisi Senyawa Alumina silikat

Suhu 896 o C keatas adalah suhu terdekomposisinya kalsinat murni (CaCO 3 ) tetapi juga

senyawa-senyawa lain, maka dalam kenyataannya dekomposisi sudah mulai berlangsung antara

660C-950 o C. Hal ini dapat terlihat dari terjadinya reaksi dalam fase padat antara CaO dengan

SiO 2 , Al 2 O 3 , dan Fe 2 O 3 membentuk misalnya

-

CaO.Al 2 O 3 (CA)

  • - 12CaO.Al 2 O 3 (C 12 A)

  • - CaO.SiO 2 (CS)

  • - 2CaO.SiO 2 (C 2 S)

    • G. Reaksi Fase Padat

Pada suhu sekitar 550-1200 o C, reaksi-reaksi tersebut diatas berlanjut tetap dalam fasa padat

,membentuk senyawa-senyawa dengan kadar CaO yang lebih tinggi,seperti:

3CaO.Al 2 O 3 (C 3

  • - A)

4CaO.Al 2 O 3 (C 4

  • - AF)

Reaksi-reaksi ini berlangsung sangat lambat.

  • H. Reaksi Sinterisasi atau Klinkerisasi

Cairan atau lelehan pertama yang berasal dari kiln feed terbentuk pada suhu antara 1280-

  • 1450 0 C. Pembentukan cairan ini merupakan titik awal dari proses “klinkerisasi” pada waktu

pertama kali terbentuk cairan, ternyata CaO dan C 2 S lebih mudah terdifusi kedalam fase cair

tersebut dan bereaksi membentuk C 3 S yang mengkristal.

CaO+2CaO.SiO 2

(C 2 S)

  • I. Pendinginan Klinker

(C 3 S)

3CaO.SiO 2

Agar mutu semen yang dihasilkan baik maka klinker perluntuk didinginkan. Keuntungan

dari pendinginan klinker ini antara lain:

  • - Panas yang terkandung dalam klinker dapat dihemat sebesar kurang lebih 200 kkal /kg klinker

  • - Proses penggilingan semen dapat berlangsung lebih baik sebab kemungkinan terjadinya

dehidrasi gypsum dapat dikurangi

Pendingin klinker dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut seperti :

  • - Klinker disiram dengan air atau disemprot dengan udara pada waktu keluar dari tanur putar.

  • - Klinker didinginkan dengan bantuan alat-alat khusus seperti misalnya: rotary cooler, planetary

cooler dan grate cooler.

Bersama sama dengan sejumlah gypsum, terak lalu digiling dalam finish mill menjadi

semen. Semen hasil penggilingan kemudian disimpan ke dalam silo silo semen pada suhu 80 0

C. Semen di dalam silo siap untuk dikantongkan untuk diangkut ke pelabuhan selanjutnya

didistribusikan kepada konsumen.

3.1.9 Sifat sifat Semen

Sifat sifat semen terbagi atas 2 bagian yaitu Sifat Fisika dan Sifat kimia semen, yaitu :

Sifat sifat fisika semen:

  • 1. Panas Hidrasi semen

Panas Hidrasi dari komponen semen bersifat eksotermis, sehingga pada saat proses hidrasi

berlangsung, akan melepaskan sejumlah panas. Panas hidrasi dari masing masing komponen

penyusun semen dapat dilihat pada table 3.10.

Tabel 3.10 Panas Hidrasi komponen Penyusun Semen

No

Komponen

Panas Hidrasi, Joule/g

1

C

3 S

503

2

C

2 S

260

3

C

3 A

867

4

C

4 AF

419

Dari tabel atas menunjukkan bahwa semen yang kaya akan C 3 S dan C 3 A mempunyai panas

hidrasi yang tinggi, atau sebaliknya. Berdasarkan pengalaman, panas hidrasi dapat dihitung dari

panas hidrasi masing masing komponen penyusun dengan menggunakan persamaan :

Qh = a(C 3 S)+b(C 2 S)+c(C 3 A)+d(C 4 AF)

Dengan :

Qh = Panas Hidrasi Semen

a,b,c,d = Panas hidrasi masing masing komponen

(C 3 S)

= Fraksi C 3 S di dalam semen.

(C 2 S) = Fraksi C 2 S di dalam semen.

(C 3 A) = Fraksi C 3 A di dalam semen.

(C 4 AF) = Fraksi C 4 AF di dalam semen.

Tetapi pada prakteknya terdapat perbedaan hasil dengan pengukuran karena adanya

impurities di dalam semen yang mempengaruhi panas yang dihasilkan selama proses hidrasi

berlangsung. Biasanya panas hidrasi semen tipe 1 bervariasi antara 420 sampai 500 joule/gram.

Berlangsungnya proses hidrasi dapat digambarkan sebagai berikut :

Anhidrat (padatan) + Air

Dengan urutan proses :

Pemadatan/solidifikasi (pengikatan air)

Pembentukan fase baru (hidrat)

Hidrat (padatan) + panas

Penambahan volume pada fase padatan

Pengeluaran panas

Yang paling penting dalam pengontrolan panas hidrasi adalah pengontrolan komposisi

klinker, dimana yang potensial mengeluarkan panas hidrasi tinggi pada saat proses hidrasi

berlangsung adalah C 3 S dan C 3 A. Oleh karena itu untuk menghasilkan semen dengan panas

hidrasi rendah diperlukan klinker dengan kandungan C 3 S dan C 3 A yang rendah pula.

  • 2. Kuat Tekan Semen.

Kuat tekan semen salah satunya ditentukan oleh komponen penyusun, terutama oleh

kalsium silikat. Pada pengembangan kuat tekan awal (misalnya sampai umur 28 hari),

didominasi oleh hidrasi C 3 S yang didukung oleh C 3 A. Untuk C 2 S dan C 4 AF akan memberikan

kontribusi terhadap kuat tekan untuk umur yang lebih lama. Selain itu yang mempengaruhi

pengembangan kuat tekan adalah kehalusan semen terhadap pengembangan kuat tekan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pengembangan kuat tekan semen berasal dari

pengembangan kuat tekan masing masing komponen penyusun semen. Secara statistik, kuat

tekan semen dapat diperkirakan dengan mencari persamaan hubungan antara variabel yang

berpengaruh terhadap kuat tekan semen dengan regresi linear variabel yaitu:

P = a(C 3 S) + b(C 2 S) + c(C 3 A) + d(C 4 AF) + e(FcaO) + .......

Dengan :

P = kuat tekan

a,b,c,

....

= konstanta regresi multi variabel

C 3 S,C 2 S,

...

= Fraksi Komponen

  • 3. Shrinkage ( Pengerutan )

Pengaruh komposisi kimia semen terhadap shrinkage tidak diketahui secara pasti.

Gonnerman menemukan C 3 S dan C 2 S mempunyai tingkat pengaruh yang sama terhadap

terjadinya peristiwa shrinkage, sedangkan menurut Roper, naiknya kandungan C 3 A akan

mengakibatkan shrinkage menjadi lebih besar. Pengaruh C 3 A terhadap shrinkage ini dipengaruhi

oleh besarnya kadar gypsum dalam semen, dengan kata lain semen yang mempunyai kandungan

C 3 A sama akan mengakibatkan shrinkage yang berbeda bila kandungan gypsumnya berbeda.

Untuk pengaruh dari elemen yang lain dalam semen seperti kehalusan, distribusi ukuran

partikel, dan lain lainnya diketahui secara pasti.

  • 4. Ketahanan Terhadap Sulfat (Durability)

Salah satu hal penting dalam penggunaan semen dalam struktur beton adalah ketahanan

terhadap sulfat. Komponen penyusun semen yang mempengaruhi terhadap ketahanan terhadap

sulfat adalah C 3 A. Pada saat terjadi proses hidrasi semen, C 3 A akan bereaksi dengan sulfat dan

air membentuk ettringite. Ettringite ini mempunyai volume yang lebih besar dibandingkan

volume komponen penyusunnya sehingga bila berlebihan mengakibatkan terjadinya ekspansi

yang dapat menyebabkan kerusakan pada struktur beton.

Pada proses hidrasi semen dihasilkan juga Ca(OH) 2 yang akan bereaksi dengan sulfat yang

menghasilkan kalsium alumina hidrat. Reaksi ini juga mengakibatkan pengembangan volume.

Reaksi pembentukan calsium alumina hidrat dan ettringite adalah sebagai berikut :

Ca(OH) 2 + (SO 4 ) 2- + 2H 2 O

CaSO 4 .2H 2 O + 2NaOH

3CaSO 4. 2H 2 O + 4CaO.Al 2 O 3. 19H 2 O

3CaO.Al 2 O 3.3 CaSO 4. 31H 2 O + Ca(OH) 2.

Ettringitt

Ettringitte juga terbentuk sebagai hasil reaksi antara C 4 AF dengan sulfat, tetapi lebih kecil

bila dibandingkan dengan C 3 A. Dari uraian diatas, maka semen yang tahan terhadap sulfat

(semen type V) kandungan C 3 A-nya dibatasi maksimum 5 %.

5.

Soundness.

Soundness didefinisikan sebagai kemampuan pasta semen yang mengeras untuk

mempertahankan volumenya setelah proses pengikatan berakhir. Kestabilan volume ini dapat

terganggu karena adanya CaO bebas (free lime) dan MgO bebas (periclase) yang berlebihan

(mengakibatkan ekspansi). Reaksi reaksi yang mengakibatkan terjadinya ekspansi adalah :

  • C 3 A + SO 3 + H 2 O

Hidrasi C 3 A mengakibatkan terbentuknya ettringitte selama ion sulfat masih ada (dari

gypsum) dan berhenti saat gypsum dalam semen habis. Bila kandungan sulfat dalam semen

terlalu besar, berakibat proses pengerasan yang bertambah lama dan ekspansi yang dapat

menimbulkan keretakan.

  • CaO bebas + H 2 O

CaO bebas (free lime) sangat reaktif dengan air, sehingga selama proses penggilingan

maupun penyimpanan, CaO bebas yang ada akan mengikat air dari udara. Meskipun demikian,

CaO bebas akan bereaksi dengan cepat pada saat air ditambahkan ke dalam semen dan volume

akhir reaksi lebih besar bila di bandingkan sebelum reaksi.

  • MgO bebas + H 2 O

Efek adanya MgO bebas dan reaksi yang terjadi sama dengan efek adanya CaO bebas,

tetapi pada reaksi MgO bebas ini dihasilkan volume yang jauh lebih besar bila dibandingkan

reaksi CaO bebas.

Penentuan nilai Soundness semen dapat dilakukan dengan mengukur ekspansi pada

autoclave, Past test atau metode Le Chatelier.

  • 6. Waktu pengikatan.

Waktu pengikatan adalah waktu yang dibutuhkan oleh pasta semen dari mulai di

tambahkan air sampai didapatkan semen yang keras dan tidak dapat di bentuk lagi. Periode

waktu pengikatan ini dapat dibagi menjadi 4 yaitu dormant periode, initial set (pengikatan awal),

final set (pengikatan akhir), dan hardening (pengerasan).

Campuran semen dengan air akan membentuk adonan yang bersifat kenyal dan dapat di

bentuk (workable). Untuk beberapa saat sifat pasta tidak dapat berubah. Periode ini dikenal

dengan periode tidak aktif (dormant periode). Pada tahap selanjutnya, pasta yang terbentuk

menjadi semakin kaku hingga mencapai tingkat dimana pasta tetap lunak, tetapi sudah tidak

dapat dibentuk lagi. Periode ini disebut inital set,sedang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai

tingkatan ini disebut initial setting time(waktu pengikatan awal). Selanjutnya pasta menjadi

semakin kaku menjadi semakin padatan yang keras dan etas (rigid). Tahap ini disebut final set

dan waktu yang di butuhkan untuk mencapai tingkatan ini disebut final setting time (waktu

pengikatan akhir). Proses ini berlanjut terus hingga pasta semen menjadi semakin keras dan kuat

yang disebut dengan pengerasan atau hardening.

  • 7. Konsistensi

Konsistensi didefenisikan sebagai kemampuan pasta semen untuk mengalir. Pada

pengujian, konsistensi ditunjukkan dengan penetrasi jarum vicat sebesar 10±1 mm. Sifat ini

digunakan untuk mengatur perbandingan antara jumlah air dengan semen pada saat pembuatan

pasta semen.

  • Sifat sifat kimia semen

Beberapa sifat kimia yang penting dalam diskusi persemenan antara lain:

  • 1. Loss on Ignition (LOI)

LOI menyatakan bagian dari zat yang akan terbebaskan sebagai gas pada saat terpanaskan

atau dibakar (temperatur tinggi). Pada bahan baku umpan kiln ini berarti bahwa semakin tinggi

LOI-nya maka semakin sedikit umpan kiln yang menjadi produk klinker. Oleh karena itu, LOI

bahan baku maksimal di persyaratkan untuk mengurangi in-efisiensi proses karena adanya

mineral mineral yang dapat diuraikan pada saat pembakaran. Komponen utama LOI adalah uap

air yang berasal dari kandungan air (moisture) dalam bahan baku (raw mix) dan gas CO 2 yang

akan dihasilkan dari proses kalsinasi CaCO 3 .

  • 2. Insoluble Residue

Yaitu impuritis/zat pengotor yang tetap tinggal setelah semen tersebut direaksikan dengan

asam khlorida (HCl) dan natrium karbonat(Na 2 CO 3 ). Insoluble residue dibatasi untuk mencegah

tercampurnya semen Portland dengan bahan bahan alami lainnya yang tidak dapat dibatasi dari

persyaratan fisika

  • 3. Modulus modulus Semen

Modulus modulus semen digunakan sebagai dasar untuk menentukan jenis semen yang

akan diproduksi dan digunakan untuk menghitung perbandingan bahan baku yang dipakai.

  • a) Hydraulic Modulus (HM)

Modulus ini menunjukkan perbandingan antara CaO dengan ketiga oksida lainnya yang

dirumuskan:

Batasan nilai HM adalah 1,7-2,3, pengaruh nilai HM terhadap proses dan kualitas semen

adalah sebagai berikut:

  • Pengaruh HM >2,3

kiln feed suklit dibakar, kebutuhan energi tinggi. Karakteristik semen yang dihasilkan adalah

mempunyai kadar CaO bebas cenderung tinggi, kuat tekan awal dan panas hidrasi tinggi, tidak

tahan terhadap senyawa asam dan stabilitas volume yang rendah.

  • Pengaruh HM <1,7

Kiln feed mudah dibakar, kebutuhan energi rendah.

Karakteristik semen yang dihasilkan adalah mempunyai kadar CaO bebas rendah, kuat tekan

rendah.

  • b) Faktor penjenuhan kapur/lime saturation factor (LSF)

Faktor penjenuhan kapur adalah nilai yang menunjukkan perbandingan CaO maksimum

teoritis yang dapat mengikat senyawasenyawa SiO 2 , Al 2 O 3 ,dan Fe 2 O 3 . Perhitungan LSF

didasarkan pada anggapan kondisi pembakaran klinker yang optimal, homogenisasi tepung baku

baik dan CaO bebas pada klinker sama dengan nol, yang dirumuskan:

Batasan nilai LSF adalah 90-99 pengaruh nilai LSF terhadap proses dan kualitas semen

adalah sebagai berikut:

Pengaruh LSF > 99

  • Kiln feed sulit dibakar, kebutuhan energi tinggi.

    • Sulit membentuk coating, sehingga panas hidrasi yang hilang dari dinding tanur naik.

  • Temperatur gas keluar tanur naik

  • Kadar CaO bebas cenderung naik

  • Kadar C 3 S naik, sehingga kuat tekan awal dan panas hidrasi naik.

  • Batu bara yang tinggi.

  • Biasanya digunakan untuk mengantisipasi kadar abu dan komposisi kimia kadar abu batu bara

yang tinggi.

Pengaruh LSF <90

  • Kiln feed mudah dibakar, kebutuhan energi rendah.

  • Fase cair di burning zone berlebih, cenderung membentuk ring dan coating washing

  • Klinker berbentuk bola-bola dan sulit dingin.

  • Kadar CaO bebas rendah.

  • Kadar C 3 S turun dan kadar C 2 S naik secara proporsional.

  • Panas hidrasi semen cenderung rendah.

    • c) Silika Modulus (SM)

Silika modulus adalah nilai yang menunjukan perbandingan antara jumlah SiO 2 terhadap

jumlah Fe 2 O 3 dan Al 2 O 3. Modulus silika dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini:

SM=

Batasan nilai SM adalah 1,9-3,2. Pengaruh nilai SM terhadap proses dan kualitas semen

sebagai berikut:

Pengaruh SM >3,2

  • Kiln feed sulit dibakar dan memerlukan energi tinggi.

  • Fase cair rendah, thermal load tinggi, terak dusty dan kadar CaO bebas cenderung tinggi.

  • Sifat coating tidak stabil. Coating yang terbentuk tidak tahan terhadap thermal shock sehingga

radiasi dan dinding tanur tinggi.

  • Merusak bata tahan api.

  • Memperlambat pengerasan semen.

  • Kuat tekan semen cenderung tinggi.

Pengaruh SM < 1,9

  • Selalu membentuk ring.

  • Klinker terbentuk bola dan sulit dingin.

  • Waktu pengikatan semen pendek dan panas hidrasi naik.

  • Kuat tekan awal semen (3-7 hari) rendah.

  • Tanur tidak stabil, kebutuhan energi rendah.

  • Mudah dibakar, fase cair tinggi, dapat merusak bata tahan api.

    • d) Aluminium Modulus (AM) atau Iron Modulus (IM)

Alumina Modulus atau Iron Modulus adalah perbandingan antara Al 2 O 3 dan Fe 2 O 3 . Nilai

Alumina modulus/ iron Modulus dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

IM = AM =

Batasan nilai IM/AM adalah 1,5-2,5, pengaruh nilai IM/AM terhadap proses dan kualitas

semen adalah sebagai berikut :

Pengaruh IM > 2,5

  • Kiln feed sulit dibakar.

  • Viskositas fase cair pada temperatur tetap akan naik.

  • Semen yang dihasilkan mempunyai kuat tekan awal tinggi, waktu pengikatan pendek, panas

hidrasi tinggi, ketahanan terhadap sulfur rendah.

  • Kadar C 3 A naik, C 4 AF turun,sedangkan C 3 S dan C 2 S rendah.

Pengaruh IM <1,5

  • Fase Cair mempunyai viskositas rendah.

  • Semen yang dihasilkan mempunyai ketahanan terhadap sulfat tinggi, kuat awal rendah dan panas

hidrasi rendah.

  • IM yang rendah dan tidak adanya SiO 2 bebas dalam kiln feed menyebabkan terak menjadi lengket

dan membentuk bola bola besar.

Selain mengandung senyawa yang diperlakukan, kiln feed juga mengandung senyawa yang

tidak diinginkan. Kadar senyawa tersebut harus dibatasi sekecil mungkin. Pembatasan ini

dilakukan untuk menghindari gangguan yang dapat ditimbulkan oleh senyawa tersebut,baik

selama proses pembuatan semen maupun pada saat semen tersebut digunakan.

3.2

Teori Ash

  • 3.2.1 Definisi Ash

Ash atau abu sesuai yang tercantum dalam “Condensed Chemical Dictionary” adalah

serbuk abu yang sangat halus yang dihasilkan dari sisa pembakaran batubara bubuk.

Ash juga adalah hasil samping dari pembakaran batubara di boiler Pembangkit Listrik

Tenaga Uap (PLTU). Kecenderungan dewasa ini akibat naiknya harga minyak diesel industri,

maka banyak pembangkit listrik yang beralih menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam

menghasilkan steam (uap). Sisa hasil pembakaran dengan batubara menghasilkan abu yang

disebut dengan fly ash dan bottom ash (5-10%). Presentase abu (fly ash dan bottom ash) yang

dihasilkan adalah fly ash (80%-90%) bottom ash (10%-20%). Pembakaran batubara akan

menghasilkan abu, gas-gas oksida belerang (SO X ), oksida nitrogen (NO X ), gas hidrokarbon,

karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO 2 ).

Fly Ash merupakan campuran dari senyawa alumina, silika, karbon yang tidak terbakar

dan bermacam-macam oksida logam, yang mempunyai sifat pozolanik, yaitu sifat dari bahan

tertentu dimana bahan tersebut dapat bereaksi dengan kapur bebas dan membentuk suatu ikatan

seperti semen dengan adanya air, pada suhu kamar.

3.2.2

Sifat Fly Ash

Abu terbang atau yang biasa kita sebut dengan fly ash memiliki sifat pozzolan yang

terdiri dari unsur-unsur silikat dan atau aluminat yang reaktif. Komposisi kimia masing-masing

jenis abu terbang sedikit berbeda dengan komposisi kimia semen.

Abu batubara adalah bagian dari sisa pembakaran batubara pada boiler pembangkit listrik

tenaga uap yang berbentuk partikel halus amorf dan bersifat Pozzolan, berarti abu tersebut dapat

bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air membentuk senyawa yang bersifat

mengikat. Dengan adanya sifat pozzolan tersebut abu terbang mempunyai prospek untuk

digunakan berbagai keperluan bangunan.

Abu terbang sepertinya cukup baik untuk digunakan sebagai bahan ikat karena bahan

penyusun utamanya adalah silikon dioksida (SiO 2 ), alumunium (Al 2 O 3 ) dan Ferrum oksida

(Fe 2 O 3 ). Oksida-oksida tersebut dapat bereaksi dengan kapur bebas yang dilepaskan semen

ketika bereaksi dengan air. Clarence (1966: 24) menjelaskan dengan pemakaian abu terbang

sebesar 20 30% terhadap berat semen maka jumlah semen akan berkurang secara signifikan

dan dapat menambah kuat tekan beton. Pengurangan jumlah semen akan menurunkan biaya

material sehingga efisiensi dapat ditingkatkan.

Secara fisik sifat-sifat fly ash adalah :

  • - kehalusannya tinggi

  • - bentuk butir bulat

  • - tidak porous

Fly ash juga mengandung racun-racun lingkungan dalam jumlah yang banyak, termasuk

arsenik (43,4 ppm); barium (806 ppm); berilium (5 ppm); boron (311 ppm); kadmium (3,4 ppm);

kromium (136 ppm); krom VI ( 90 ppm); kobalt (35,9 ppm); tembaga (112 ppm); fluor (29

ppm); mangan (250 ppm); nikel (77,6 ppm); selenium (7,7 ppm); strontium (775 ppm ); talium

(9 ppm); vanadium (252 ppm), dan seng (178 ppm).

  • 3.2.3 Spesifikasi Fly Ash

Spesifikasi kimia abu terbang atau yang lebih dikenal dengan fly ash berkisar sebagai

berikut:

  • 3.2.4 Kandungan Ash

Komponen komponen pada fly ash batubara bergantung pada sumber dan susunan

batubara. Komponen fly ash sangat bervariasi mulai dari sejumlah besar silikon dioksida (SiO2),

Kalsium Dioksida (CaO) dan sejumlah kecil unsur-unsur lain seperti arsenik, berilium, boron,

kadmium, kromium, kromium VI, kobalt, timah, mangan, raksa, molibdenum, selenium,

strontium, talium, dan vanadium.

Fly ash batubara adalah material solid yang biasanya berbentuk bulat dan berdiameter

berkisar antara 0,5 μm sampai 100 μm. Mereka sebagian besar terdiri dari silikon dioksida

(SiO 2 ) , yang hadir dalam dua bentuk: amorf, yang bulat dan halus, dan kristal, yang tajam,

runcing dan berbahaya; aluminium oksida (Al 2 O 3 ) dan oksida besi (Fe 2 O 3 ) .

Tabel. Komposisi kimia berbagai jenis abu terbang

  • 3.2.5 Pengelompokan Fly Ash

Sumber: Ratmaya Urip, 2003

ASTM (America Standar Testing of Material) mendefinisikan jenis fly ash terbagi

menjadi kelas F dan kelas C. Perbedaan antara keduanya terletak pada kandungan kalsium,

silika, dan alumina serta unsur-unsur besi lainnya.

Kelas F fly ash

Pembakaran lebih keras, lebih tua batubara antrasit dan bitumen biasanya menghasilkan

Kelas F fly ash. Ini fly ash adalah pozzolanic di alam, dan mengandung kurang dari 10% kapur

(CaO). Pozzolanic memiliki properti, yang berkaca-kaca silika dan alumina Kelas F fly ash

membutuhkan penyemenan agen, seperti semen portland, kapur, atau kapur terhidrasi, dengan

kehadiran air untuk bereaksi dan menghasilkan senyawa cementitious. Atau, penambahan

penggerak kimia seperti natrium silikat (gelas air) ke Kelas F abu dapat mengarah pada

pembentukan geopolymer.

Kelas C fly ash

Fly ash yang dihasilkan dari pembakaran lebih muda subbituminous lignit atau batu

bara, selain memiliki sifat pozzolanic, juga memiliki beberapa sifat memperkuat diri. Dengan

keberadaan air, Kelas C fly ash akan mengeras dan memperoleh kekuatan dari waktu ke waktu.

Kelas C fly ash umumnya mengandung lebih dari 20% kapur (CaO). Berbeda Kelas F, diri

penyemenan fly ash Kelas C tidak membutuhkan penggerak. Alkali dan sulfat (SO 4) isinya

umumnya lebih tinggi di Kelas C terbang abu.

Setidaknya satu produsen AS telah mengumumkan fly ash bata yang mengandung

hingga 50 persen Kelas C fly ash. Pengujian menunjukkan batu bata memenuhi atau melebihi

standar kinerja yang tercantum dalam ASTM C 216 bata tanah liat konvensional, melainkan juga

dalam batas penyusutan yang dibolehkan bata beton dalam ASTM C 55, Standar Spesifikasi

Bangunan Bata Beton. Diperkirakan bahwa metode produksi yang digunakan dalam fly ash batu

bata akan mengurangi energi yang terkandung batu konstruksi hingga 90%.

Dalam SNI 03-6863-2002 (2002: 146) spesifikasi abu terbang sebagai bahan tambah

untuk campuran beton disebutkan ada 3 jenis abu terbang, yaitu;

Abu terbang jenis N, ialah abu terbang hasil kalsinasi dari pozolan alam, misalnya tanah

diatomite, shole, tuft dan batu apung.

Abu terbang jenis F, ialah abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara jenis antrasit

pada suhu kurang lebih 1560°C.

Abu terbang jenis C, ialah abu terbang hasil pembakaran ligmit/batubara dengan kadar karbon

sekitar 60%. Abu terbang jenis ini mempunyai sifat seperti semen dengan kadar kapur di atas

10%.

  • 4 Penggunaan Fly Ash

Dengan sifat dan karakteristik dari fly ash batubara, maka fly Ash dapat digunakan untuk

berbagai macam keperluan seperti:

Fly ash clay brick

Konstituen dalam semen Portland

Pengganti semen dalam concrete

Pengganti semen dalam produk concrete

Sebagai pozolan dalam Semen Portland Pozolan

Sebagai pozolan dalam stabilisasi tanah (soil stabilization)

Sebagai grouping agent dalam Oil Well Cement

Raw Material untuk ligthweight agregate

Filler dalam aspalt paving

Sebagai pengisi untuk land development atau compacted embankments Lain-lain, yaitu,

absorbent pada oil spilt (silicone-coated), pengganti lime untuk scrubbing sulfur dari flue gas,

sebagai filler dalam plastik, katalis untuk liquifaction batubara dan lain-lain.

Demikian Informasi yang dapat saya berikan, mengenai metoda penetapan dan data-data lainnya ,

tak bisa saya tampilkan secara langsung, mengingat menyangkut privasi suatu perusahaan

terkait. info lanjut silahkan ditanyakan, akan saya jawab sesuai kapabilitas saya sebagai seorang

mahasiswa.

Selamat mengerjakan tugas anda.

Total Tayangan Laman

Total Tayangan Laman 936 Mengenai Saya <a href=Dede Taufik Makassar, South Sulawesi, Indonesia just visit my social network sites http://facebook.com/dede.taufik or http://twitter.com/Dedta42 Lihat profil lengkapku Pengikut Arsip Blog  2010 (1) September (1) o  Fly Ash dalam Semen Laman  BerandaMy Jorney to the end of my life Breaking Info Apple Google Microsoft iPad 3 Dipasarkan 16 Maret? Okezone CALIFORNIA - Hanya hitungan jam untuk menunggu kejutan baru dari Apple , yang diduga adalah iPad 3. Tapi belum diluncurkan, tablet generasi ketiga Apple ini sudah dikabarkan akan dipasarkan pada 16 Maret mendatang. Laporan terbaru menyebutkan, akan ada ... Artikel Terkait » TELE Akuisisi Distributor Apple JPNN.com Teranyar perseroan bakal mengakuisisi salah satu distributor banner Perbesar PENIS dan TAHAN LAMA hanya 169rb Tanpa obat, 100% alami, - www.SUAMI- PERKASA.com OLES HERBAL UTK TAHAN LAMA SEX REKOMENDASI BOYKE! FOREDI Herbal Oles ANTI EJAKULASI DINI, BPOM, Aman " id="pdf-obj-41-4" src="pdf-obj-41-4.jpg">

936

Mengenai Saya

Total Tayangan Laman 936 Mengenai Saya <a href=Dede Taufik Makassar, South Sulawesi, Indonesia just visit my social network sites http://facebook.com/dede.taufik or http://twitter.com/Dedta42 Lihat profil lengkapku Pengikut Arsip Blog  2010 (1) September (1) o  Fly Ash dalam Semen Laman  BerandaMy Jorney to the end of my life Breaking Info Apple Google Microsoft iPad 3 Dipasarkan 16 Maret? Okezone CALIFORNIA - Hanya hitungan jam untuk menunggu kejutan baru dari Apple , yang diduga adalah iPad 3. Tapi belum diluncurkan, tablet generasi ketiga Apple ini sudah dikabarkan akan dipasarkan pada 16 Maret mendatang. Laporan terbaru menyebutkan, akan ada ... Artikel Terkait » TELE Akuisisi Distributor Apple JPNN.com Teranyar perseroan bakal mengakuisisi salah satu distributor banner Perbesar PENIS dan TAHAN LAMA hanya 169rb Tanpa obat, 100% alami, - www.SUAMI- PERKASA.com OLES HERBAL UTK TAHAN LAMA SEX REKOMENDASI BOYKE! FOREDI Herbal Oles ANTI EJAKULASI DINI, BPOM, Aman " id="pdf-obj-41-10" src="pdf-obj-41-10.jpg">

Makassar, South Sulawesi, Indonesia

just visit my social network sites http://facebook.com/dede.taufik or

http://twitter.com/Dedta42

Pengikut Arsip Blog

Breaking Info

Okezone CALIFORNIA - Hanya hitungan jam untuk menunggu kejutan baru dari Apple, yang diduga adalah iPad 3. Tapi belum diluncurkan, tablet generasi ketiga Apple ini sudah dikabarkan akan dipasarkan pada 16 Maret mendatang. Laporan terbaru menyebutkan, akan ada ... Artikel Terkait » TELE Akuisisi Distributor Apple JPNN.com Teranyar perseroan bakal mengakuisisi salah satu distributor

banner

Tanpa obat, 100% alami, -

www.SUAMI-

PERKASA.com

FOREDI Herbal Oles ANTI EJAKULASI DINI, BPOM, Aman

produk Apple terbesar di Indonesia. Akuisisi itu menurut klaim manajemen menyusul terus melonjaknya pertumbuhan produk Apple. ”Kami melihat produk-produk Apple terus melonjak dan penggunanya ... Butuh Layar Fleksibel untuk iPad, Apple Gandeng Samsung

KOMPAS.com KOMPAS.com - Meski sedang bersaing dan bahkan saling gugat di pengadilan, Apple diam-diam sedang bernegosiasi dengan Samsung. Pembicaraan rahasia dengan divisi Samsung Mobile Display itu dikabarkan seputar rencana penggunaan layar AMOLED fleksibel atau ... Google Play Store, Nama Baru Android Market

Media Indonesia

Android Market sejak Selasa (6/3) lalu diganti namanya oleh Google sebagai upaya pencitraan baru untuk bersaing dengan toko online milik Apple dan Amazon. Bagi pengguna yang masih mengakses Android Market pada URL Address Bar di perambahnya, ... Artikel Terkait »

diberdayakan oleh

produk Apple terbesar di Indonesia. Akuisisi itu menurut klaim manajemen menyusul terus melonjaknya pertumbuhan produk AppleButuh Layar Fleksibel untuk iPad, Apple Gandeng Samsung KOMPAS.com KOMPAS.com - Meski sedang bersaing dan bahkan saling gugat di pengadilan, Apple diam-diam sedang bernegosiasi dengan Samsung. Pembicaraan rahasia dengan divisi Samsung Mobile Display itu dikabarkan seputar rencana penggunaan layar AMOLED fleksibel atau ... Google Play Store, Nama Baru Android Market Media Indonesia Android Market sejak Selasa (6/3) lalu diganti namanya oleh Google sebagai upaya pencitraan baru untuk bersaing dengan toko online milik Apple dan Amazon. Bagi pengguna yang masih mengakses Android Market pada URL Address Bar di perambahnya, ... Artikel Terkait » diberdayakan oleh Referral Link  SMAK MakassarPT. Semen TonasaUniversitas HasanuddinForum Teknik Industri INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? KUNJUNGI WWW.MCUO.NET MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU KUNJUNGI WWW.MCUO.NET INVESTASI 95 RIBU HASIL 30 JUTA/BULAN, MAU ? KUNJUNGI WWW.MCUO.NET Perbesar PENIS dan TAHAN LAMA hanya 169rb Tanpa obat, 100% alami, - www.SUAMI- PERKASA.com MAU GAJI 20 JUTA ? KERJA 2 JAM MODAL CUMA 95RIBU KUNJUNGI WWW.MCUO.NET GASA UTK EREKSI KERAS, KUAT, LEBIH KENCENG!! GASA Herbal Rekom Boyke Bikin Istri Ketagihan Mlul METODE ALAMIAH TAMBAH UKURAN PENIS kunjungi web RESMI www.BESAR- PANJANG.com FOREDI UNTUK TAHAN LAMA SEX " id="pdf-obj-42-31" src="pdf-obj-42-31.jpg">

Referral Link

 

KUNJUNGI

WWW.MCUO.NET

KUNJUNGI

WWW.MCUO.NET

KUNJUNGI

WWW.MCUO.NET

Tanpa obat, 100% alami, -

www.SUAMI-

PERKASA.com

KUNJUNGI

WWW.MCUO.NET

GASA Herbal Rekom Boyke Bikin Istri Ketagihan Mlul

kunjungi web RESMI

www.BESAR-

PANJANG.com

Dede Taufik | industrial engineering |. Template Awesome Inc

..

Dijamin Bikin Istri Kewalahan Dan Ketagihan Mlulu

Foredi Herbal Oles Rekomendasi Boyke, BPOM, Aman!

Tanpa obat, 100% alami, -

www.SUAMI-

PERKASA.com

kunjungi web RESMI

www.BESAR-

PANJANG.com

Untuk EREKSI KERAS Rekomendasi Boyke, BPOM,

Aman

Dede Taufik | industrial engineering |. Template Awesome Inc .. <a href=REKOMENDASI BOYKE! Dijamin Bikin Istri Kewalahan Dan Ketagihan Mlulu SEX KUAT TAHAN LAMA REKOMENDASI BOYKE, MAU? Foredi Herbal Oles Rekomendasi Boyke, BPOM, Aman! Perbesar PENIS dan TAHAN LAMA hanya 169rb Tanpa obat, 100% alami, - www.SUAMI- PERKASA.com METODE ALAMIAH TAMBAH UKURAN PENIS kunjungi web RESMI www.BESAR- PANJANG.com GASA HERBAL BIKIN ISTRI KETAGIHAN MLULU! Untuk EREKSI KERAS Rekomendasi Boyke, BPOM, Aman KumpulBlogger.com Diberdayakan oleh Blogger . " id="pdf-obj-43-54" src="pdf-obj-43-54.jpg">

Diberdayakan oleh Blogger.