Anda di halaman 1dari 9

Opini Publik

Opini publik merupakan bagian political agenda setting yang menentukan kebijakan
publik yang harus diambil dalam rangka menata kehidupan bersama. Opini publik merupakan
success indicator dari sebuah kebijakan publik dan indikator kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah. Banyaknya lapisan masyarakat yang menolak program konversi energi ditengarai
sebagai ketidakpercayaan masyarakat kepada kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro
rakyat. Penolakan masyarakat dengan berbagai alasan yang dinilai cukup reasonable dan
keras mementahkan alasan pemerintah yang digunakan sebagai alasan konversi, yaitu krisis
energi, kenaikan harga minyak dunia dan mengamankan APBN.
Opini publik memiliki berbagai dimensi yang disusun melalui saling pengaruh
mempengaruhi di antara proses personal, proses sosial dan proses politik yang diwujudkan
dalam bentuk kegiatan massa, kelompok, dan rakyat. Di dalam opini publik terdapat isi, arah
dan intensitas mengenai suatu pendapat/tujuan. Opini juga ditandai oleh kontroversi karena
tidak disepakati oleh seluruh rakyat, ada masyarakat yang menolak namun ada juga yang
mendukung dengan alasan yang sama kuat. Kontroversi itu sendiri menyentuh semua orang
yang merasakan konsekuensi langsung dan tidak langsung meskipun mereka bukan pihak
pada pertikaian semula1. Selain itu, opini publik yang menghasilkan kontroversi seringkali
relatif tetap, bertahan agak lama di masyarakat. Kontroversi konversi energi yang dimulai
dari naiknya harga minyak dunia misalnya. Kontrovesi ini dimulai sejak tahun 2006, dimana
pemerintah mulai merencanakan proyek konversi energi ke briket batubara yang biayanya
lebih murah namun tidak ditindak lanjuti.
Opini publik yang pluralis dapat berupa opini massa, opini kelompok, dan opini
rakyat2. Opini massa merupakan opini yang dikemukakan orang sebagai publik yang
sebagian besar tidak terorganisir. Persetujuan berbagai kelompok sebagai publik melalui alat
kontrol sosial yang terorganisir (propaganda, negosiasi, dll) dimunculkan sebagai opini
kelompok, sedangkan opini rakyat yaitu penjumlahan opini perseorangan yang dilihat dari
polling atau survey.
Media berperan besar dalam menciptakan opini publik mengenai apa yang seharusnya
dipikirkan rakyat dan elite dapat memanfaatkan hal ini untuk menciptakan mitos yang
diterima secara luas. Segelintir elite dapat memaksakan pendapat bahwa konversi energi

1
Dan Nimmo, 2001, Komunikasi Politik : Khalayak dan Efek, cetakan ketiga,Bandung : PT Remaja
Rosdakarya, hlm.25
2
Ibid, hlm 25-26
1
merupakan jalan keluar yang paling tepat untuk keluar dari krisis energi dan resiko akan hal
ini ditanggung seluruh lapisan. Di lain sisi, media juga dapat menggerakkan masyarakat
untuk bersikap lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah karena selain menyuarakan
kepentingan pemerintah ia juga memfasilitasi suara akar rumput.

Komunikasi Pemerintah

Information is the power, penguasa informasi adalah pemegang kekuasaan yang


sesungguhnya. Komunikasi bukanlah sekadar instruksi, perintah, atau berbicara. Komunikasi
adalah common understanding meski understandingnya adalah versi pimpinan3. Media massa
yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai enjoyable entertainment namun juga kebutuhan dan
telah mengakar di masyarakat dapat menciptakan informasi yang menstrukturkan pola pikir,
sikap dan preferensi masyarakat. Di lain sisi, pemerintah yang cenderung otoriter dan paham
mengenai kecenderungan ini akan menggunakan media massa atau mengatur pers untuk
menciptakan preferensi masyarakat seperti yang diharapkan pemerintah. Padahal, informasi
merupakan hal yang vital kedudukannya dalam proses pembangunan ekonomi dan politik.
Setiap individu memiliki hak asasi untuk memperoleh informasi secara benar, faktual dan
efektif.
Sistem komunikasi pemerintahan identik dengan sistem komunikasi organisasi yang
terdiri dari sistem komunikasi formal dan informal4. Sistem informasi formal hanya mampu
memastikan bahwa pesan telah berhasil dikirim, karena sifatnya yang top-to-bottom, seperti
hakikat organisasi birokrasi. Sementara sistem komunikasi informal merupakan mekanisme
yang mampu memastikan bahwa pesan dipahami sebagaimana dikehendaki, karena sistem
komunikasi ini bersifat egaliter dan mendasarkan diri kepada hubungan-hubungan
antarmanusia yang personal daripada hubungan-hubungan organisasional yang formal dan
impersonal. Dalam kaitannya dengan sosialisasi konversi energi, sistem komunikasi manakah
yang digunakan pemerintah Indonesia?
Terdapat pandangan di dalam masyarakat bahwa pemerintah kurang berhasil dalam
melakukan sosialisasi sehingga belum ada kesepahaman antara pemerintah dengan
masyarakat dalam memahami persoalan krisis energi dan konversinya. Komunikasi yang

3
Riant Nugroho Dwidjowijoto, 2004, Komunikasi Pemerintahan : Sebuah Agenda bagi Pemimpin
Pemerintahan Indonesia, Jakarta : Gramedia, hlm. 87
4
Ibid
2
dinilai kurang intensif dan kental akan unsur pemaksaan menafikkan kenyataan bahwa
pemerintah seharusnya pemerintah memberi kesempatan kepada rakyatnya untuk memilih,
kemudian mengambil keputusan sendiri secara perlahan-lahan atas pilihannya. Sosialisasi
mengalir satu arah, sekadar menanamkan keinginan pemerintah atas dalih perhitungan
ekonomi yang tidak dipahami oleh masyarakat awam.
Padahal, kesenjangan dua sistem komunikasi akan mereduksi suatu sistem
pemerintahan dimana pun ia berada, bagaimana pun struktur atau komposisinya.
Pemerintahan tidak akan berjalan secara efektif karena meski pesan telah tertransmisikan
namun belum tentu diserap sesuai dengan keinginan pengirim pesan. Jadi, terjadi perbedaan
persepsi maupun disebabkan oleh perbedaan kepentingan (politik) di antara pesan
penyelenggaraan pemerintahan. Perbedaan persepsi ini tidak menutup kemungkinan akan
timbulnya konflik di antara masyarakat dengan sesama warga masyarakat atau antara
masyarakat dengan pemerintah. Oleh karena itu, sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah
diharapkan tidak sekadar hanya mengirim informasi namun juga memastikan seluruh lapisan
masyarakat memahami maksud dan alasan pemerintah dalam mengimplementasikan suatu
kebijakan sehingga tidak terjadi mismatch komunikasi di lapangan.

Pandangan Pemerintah Terhadap Program Konversi

Pemerintah menerapkan kebijakan konversi energi melalui berbagai pertimbangan,


bukan sekadar proyek tanpa perencanaan. Konversi penggunaan minyak tanah memang harus
dilaksanakan secara berkesinambungan mengingat masih tingginya permintaan dan
ketergantungan nasional terhadap BBM. Padahal, seluruh dunia sedang mengalami krisis
energi akibat melambungnya harga minyak. Beban pemerintah akan membengkak jika harus
tetap mengikuti kemauan masyarakat untuk mensubsidi BBM.
Sebagai gambaran, harga minyak tanah di pasar adalah Rp 5.660/liter, sedangkan
pemerintah menjual dengan harga eceran tertinggi Rp 2.250/liter. Ini berarti terdapat selisih
sebesar Rp 3.410/liter yang harus ditanggung Pemerintah. Kebutuhan minyak tanah bagi 50
juta kepala keluarga Indonesia kurang lebih 9,9 juta kiloliter, atau hampir 10 miliar liter per
tahun. Artinya, tiap tahun pemerintah mengeluarkan tidak kurang dari Rp 34 triliun hanya
untuk menambal belanja minyak tanah5. Tentu saja ini merupakan pengeluaran yang tidak
sedikit dan harus diminimalisir demi efisiensi dan kesejahteraan bersama.
5
Anonim, 2007, Terlalu Lama Terlena, diunduh dari www.myrmnews.com tanggal 3 Juni 2008
3
Mengapa pemerintah memilih elpiji sebagai energi pengganti BBM? Sebelumnya
pemerintah berencana untuk mengganti BBM dengan briket batubara namun ternyata
batubara tidak lebih murah, langka di pasaran serta efek pembakarannya berakibat buruk bagi
lingkungan. Elpiji dinilai sebagai energi yang bersih, praktis, cepat memanaskan, hemat dan
aman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Energi dan Sumber Daya Mineral
Universitas Trisakti, untuk memasak jenis masakan yang sama, biaya yang dikeluarkan
dengan elpiji hanya 40% biaya memasak dengan minyak tanah6. Elpiji dinilai bukanlah
teknologi yang rumit atau mahal sehingga dapat dioperasikan dengan mudah oleh seluruh
lapisan masyarakat.

Tabel Perbandingan Jenis Energi dengan Nilai Rupiah yang dikeluarkan dalam Konsumsi
Rumah Tangga Sehari-hari Masyarakat
No Uraian Jenis Energi
Elpiji 3 Kg Elpiji 12 Kg Minyak Tanah Briket Batubara
(liter) (Kg)
1. Pemakaian : 0,6 0,6 1,5 6
Kg atau Liter/hari
2. Harga (Rp) / Kg 2.800,- 2.500,- 4.000,- 900,-
Rupiah / Hari 1.680,- 1.500,- 6.000,- 5.400,-
3. Perawatan Kompor mudah mudah sulit mudah
/ Tabung

4. Distribusi mudah mudah langka langka

sumber : wikimu.com, diunduh tangal 5 Juni 2008

Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa elpiji merupakan energi yang paling
murah, mudah didapatkan serta memberi keuntungan-keuntungan lain bagi masyarakat. Jadi,
program konversi minyak ke elpiji adalah langkah tepat untuk mengantarkan masyarakat kita
ke taraf sosial yang lebih baik. Masyarakat dapat menghemat, secara bersamaan pemerintah
dapat mengalokasikan anggaran untuk bidang lain (kesehatan, pendidikan, dll) yang dapat
mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Di lain sisi, pemerintah juga menyadari konversi energi bukan hal yang mudah
diterima masyarakat. Menteri ESDM berpendapat bahwa sikap masyarakat yang masih
cenderung antipati terhadap program elpiji lebih karena budaya masyarakat yang statis
6
Ibid
4
(www.menkokesra.go.id, diunduh tanggal 4 Juni 2008). Masyarakat selama ini terlanjur
terlena oleh bantuan subsidi BBM dari pemerintah sehingga enggan memilih alternatif energi
lain.
Oleh karena itu, diperlukan kampanye yang menyeluruh, konsisten, mengakar,
berkesinambungan dan efektif agar program konversi energi tak bersifat temporer. Sosialisasi
perlu ditingkatkan untuk mengatasi culture shock masyarakat yang puluhan tahun memakai
minyak tanah. Selain itu, pemerintah harus mengatur masa transisi yang tepat bersamaan
dengan perbaikan dan peningkatan infrastruktur pasar elpiji agar kelangkaan elpiji tidak
terjadi sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan daya beli masyarakat lapisan
bawah terlindungi.

Pandangan Masyarakat

Kebijakan konversi minyak tanah ke gas merupakan usaha efisiensi dalam pemakaian
energi. Rasionalisasi pemakaian energi merupakan upaya positif untuk menekan jumlah
subsidi yang sangat besar tetapi yang disesalkan rakyat, kelangkaan terjadi ketika sedang
berlangsung proses konversi. Kenyataannya, infrastruktur elpiji belum tertata sebaik
infrastruktur minyak tanah yang sudah puluhan tahun dikonsumsi. Masalah menjadi
bertambah rumit ketika beberapa pihak mencoba mengail keuntungan dengan cara menimbun
minyak tanah dalam jumlah besar dan menjual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Tidak dilindunginya kepastian kesediaan produk membuat masyarakat merasa cemas untuk
terus menggunakan elpiji. Beberapa orang bahkan kembali menggunakan kayu untuk
memasak.
Masalah yang timbul di lapangan mengenai kebijakan konversi sudah cukup banyak
dan agaknya pemerintah masih belum terlalu siap untuk menghadapi hal semacam ini karena
sampai sekarang belum ada mekanisme yang jelas dalam mengatasi masalah yang terjadi.
Masalah kelangkaan minyak tanah yang di sebabkan oleh kebijakan konversi ini seolah-olah
bukan disebabkan oleh kelalaian negara melaksanakan kewajibannya, tetapi sebagai masalah
rumah tangga belaka dan rendahnya perekonomian masyarakat. Seperti kita ketahui,
pemerintah menerapkan kebijakan mengurangi pasokan minyak tanah agar masyarakat
‘mematuhi’ mengikuti program konversi.

5
Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk daya beli yang rendah, kultur
masyarakat yang relatif belum siap, belum dilaksanakannya upaya sosialisasi secara
komprehensif dan aspek gejolak masyarakat yang akan timbul akibat kelangkaan atau bahkan
tidak tersedianya minyak tanah seperti yang terjadi di beberapa daerah. Bahkan di beberapa
daerah, pemerintah merasa ‘takut’ untuk menerapkan kebijakan konversi energi di daerahnya
karena menilai infrastruktur elpiji di daerah belum mencukupi, belum matangnya koordinasi
antar instansi pemerintah serta alasan-alasan kultural masyarakat yang memandang minyak
tanah bukan sekedar alat untuk memasak namun juga bagian dari gaya hidup yang sudah
terstruktur.
Masyarakat pun lebih nyaman membeli minyak tanah dengan cara mengecer, walau
pun pada akhirnya total uang yang mereka keluarkan lebih besar daripada dengan membeli
elpiji 3 kg. Hal ini disebabkan banyaknya masyarakat yang bekerja dengan sistem upah
harian dan atau tidak terbiasa dengan kebiasaan menyisihkan uang/menabung.
Selain itu, elpiji memiliki kesan negatif bagi sebagian masyarakat. Faktor keamanan,
yaitu resiko meledak atau terbakarnya tabung elpiji menciptakan ketakutan tersendiri bagi
masyarakat. Memang ada yang mengatakan bahwa perawatan elpiji mudah dan cukup aman
saat digunakan. Namun, beberapa kasus meledaknya elpiji oleh ketidaktahuan masyarakat
atau tabung yang bocor menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat pengguna. Belum lagi,
terdapat kecurigaan pemerintah akan menaikkan harga elpiji sewaktu-waktu, disaat
masyarakat sudah sangat tergantung dengan elpiji.

Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Sebuah kebijakan tidak akan berjalan atau akan mengalami hambatan yang besar jika
tidak sejalan atau tidak mampu memahami setting yang menjadi konteks dari tujuan
kebijakan tersebut. Kebijakan yang menurut pembuat kebijakannya memiliki kandungan isi
dan tujuan yang baik tetap tidak akan diterjemahkan yang sama oleh kelompok sasaran jika
mengabaikan aspek kontekstual dari lokasi kebijakan tersebut.
Pembangunan infrastruktur harus menjawab permasalahan yang dialami kelas atas,
kelas menengah maupun kelas bawah karena jika pembangunan infrastruktur hanya
memperhatikan kepentingan kelas atas maka kesenjangan sosial dengan kelas lainnya akan
semakin lebar karena kelas atas akan memperoleh fasilitas yang lebih besar dan layanan

6
publik yang lebih baik sehingga produktivitas dan pendapatan kelas bawah dan menengah
semakin menurun7.
Akses terhadap infrastruktur energi seharusnya dijaga agar kesejahteraan masyarakat
dapat terjamin. Kelangsungan program konversi hanya bisa dilaksanakan jika dimulai dari
perencanaan dan program pelaksanaannya dibenahi dari sekarang sebelum mengalami
kegagalan atau menciptakan dampak yang lebih buruk. Pemerintah harus cermat dalam
menentukan lapisan masyarakat yang akan menjadi sasaran konversi. Jangan sampai
pemberian kompor gas gratis dan tabung gas bersubsidi salah sasaran, bukan diterima oleh
masyarakat yang membutuhkan bantuan. Jika kebijakan infrastruktur tepat sasaran dan tepat
program, niscaya pendapatan masyarakat akan mangalami kenaikan dan akses mereka
terhadap kesejahteraan semakin lebar.
Persoalan infrastruktur energi sejatinya bukan semata persoalan ekonomi namun juga
politik, sosial dan budaya. Perencanaan infrastruktur seharusnya dapat membangun
objektivitas sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan dengan didasari oleh
pengetahuan, bukan sekedar mekanisme pasar. Simplifikasi persoalan energi hanya sebatas
persoalan ekonomi tidak bisa menyelesaikan gejolak di masyarakat yang masih gagap
teknologi, walaupun teknologi elpiji diklaim masih sangat sederhana. Sosialisasi, pelatihan
dan jaminan (garansi) yang menjamin keamanan penggunaan elpiji merupakan solusi yang
cukup menjawab kekhawatiran masyarakat.
Pemerintah harus mengusahakan program konversi energi dengan menilik
kepentingan dan kemampuan semua lapisan masyarakat. Pemerintah harus memahami bahwa
masyarakat sebagai subyek pembangunan dalam kenyataannya sangat kompleks dan
beragam, dalam arti terhimpun atas dasar berbagai kategori sosial8 dan di dalam masyarakat
terdapat berbagai kepentingan yang menyebabkan tingkat adaptasi terhadap pembangunan
infrastruktur bervariasi. Kebijakan yang dijalankan sebaiknya juga berkelanjutan, terencana
dan tidak bertentangan. Rencana konversi terasa mendadak dan tidak terencana secara
komprehensif. Dapat dilihat dari rencana konversi energi yang awalnya menggunakan briket
batubara yang dapat memberdayakan masyarakat kecil dalam pembuatan kompor tiba-tiba
diganti dengan elpiji yang kompor dan tabungnya hanya dapat diproduksi oleh pabrik besar.
Seharusnya kepentingan rakyat kecil lebih diutamakan daripada kepentingan kapital.
Infrastruktur dapat menstimulir munculnya kegiatan ekonomi atau mendukung

7
Disampaikan Derajad W dalam Kuliah Kapita Selekta Sosiologi tanggal 28 Februari 2008
8
Ibid, disampaikan tanggal 28 Februari 2008
7
berkembangnya suatu kegiatan ekonomi wilayah9. Konversi energi yang berbasis pada
masyarakat niscaya juga akan meminimalisir konflik dalam masyarakat, efisien serta
memberdayakan masyarakat secara ekonomi.
Terapi kelangkaan untuk membuat rakyat beralih dari menggunakan minyak tanah
menjadi menggunakan gas juga dinilai bukan solusi yang elegan karena sangat terburu-buru,
tidak melihat kemampuan masyarakat. Kisruh yang terjadi akibat konversi gas menunjukkan
fakta bahwa pemerintah tidak memiliki perencanaan dan implementasi yang baik karena
program yang baik semestinya diikuti dengan perencanaan serta implementasi yang baik
sehingga bisa memperkecil distorsi.
Di sisi lain, masyarakat juga harus lebih dewasa dalam menggunakan energi, tidak
memboroskan energi yang disubsidi oleh pemerintah. Masyarakat harus mandiri, realistis dan
tidak terus menerus terlena oleh fasilitas yang selama ini disediakan pemerintah.
Proses adaptasi memang tidak mudah, terlebih energi minyak tanah sudah menjadi
kultur selama puluhan tahun. Untuk lebih memudahkan proses adaptasi masyarakat,
pemerintah dapat bekerja sama dengan Pertamina dapat mengadakan penyuluhan pada
masyarakat grass root serta mewadahi aspirasi masyarakat dengan membuka hotline
pelanggan elpiji atau kotak saran. Jadi, dalam proses konversi masyarakat tidak ‘berjalan
sendiri’ namun senantiasa didampingi pemerintah dan perusahaan sebagai pihak yang
kompeten.

Referensi :

Angga. 2007. Kelangkaan Minyak Tanah, Siapa yang Salah? Diakses dari
www.hardianto.blogspot.com tanggal 4 Juni 2008 pukul 19:08

Anonim. 2007. Terlalu Lama Terlena. Diakses dari www.myrmnews.com tanggal 3 Juni 2008

Dwijowidjoto, Riant Nugroho. 2004. Komunikasi Pemerintahan : Sebuah Agenda Bagi


Pemimpin Pemerintahan Indonesia. Jakarta : Gramedia

9
Ibid, disampaikan tanggal 5 Maret 2008
8
Ha. 2007. Program Konversi Kedodoran, Rakyat Kembali Jadi Korban. Diakses dari
www.dpr.go.id tanggal 3 Juni 2008 pukul 19:14

Nimmo, Dan. 2001. Komunikasi Politik : Khalayak dan Efek. Cetakan ketiga. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya

Sartina, Etty. 2007. Konversi Minah ke Gas Bukan Solusi. Diakses dari www.waspada.co.id
tanggal 4 Juni 2008 pukul 18:59

Sastro, Yuli A. 2007. Model Kekuasaan pada Konversi Minyak Tanah. Diakses dari
www.joglosemar.co.id tanggal 4 Juni 2008 pukul 18:59

Satriya, Eddy. 2009. Menyoal Konversi Minyak Tanah ke Bahan Bakar Gas. Diakses dari
http://kolom.pacific.net.id tanggal 3 Juni 2008 pukul 19:04

Suradji. 2008. Konversi Minyak Tanah ke Bahan Bakar Gas : Antara Idealita dan Realitas.
Diakses dari www.pbhmi.com tanggal 3 Juni 2008 pukul 19:05

Sutisna, Nanang. 2007. Purwakarta Tunda Konversi Minyak Tanah ke Elpiji. Diakses dari
www.tempointeraktif.com tanggal 4 Juni 2008 pukul 18:53