Anda di halaman 1dari 29

BackgroundPaper

Tinjauan Umum Terhadap Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional

LembagaStudidanAdvokasiMasyarakat(Elsam) JlSiagaIINo31PejatenbaratJakartaSelatan12510 Email:elsam@nusa.or.id Website:www.elsam.or.id Telp:(021)7972662,79192564 Fax:79192519

2005
1

TinjauanUmumterhadapRancanganKUHP1

I.Pendahuluan
Rapat Paripurna Ke13 Dewan Perwakilan Rakyat, Masa Sidang III, 1 February 2005 menyetujui Program Legislasi Nasional yang disusun bersama antara badan legislasi DPR dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sebanyak 284 rancangan undangundangdisetujuijadiprioritasuntukperiode20052009. Dari 284 rancangan undang undang (RUU) tersebut, 55 RUU ditetapkan sebagai prioritas tahun 2005. Adapun RUU yang menjadi prioritas pembahasan adalah : RUU yang belum sempat dibahas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 19992004; RUU yang diamanatkanUUD1945;RUUterkaitdenganpelaksanaanundangundang(UU);terkait penggantiprodukkolonial;pembentukandaerah. KementerianHukumdanHAMsendiri,sebagaimanadisampaikan,HamidAwaluddin, akan memprioritaskan pembahasan Revisi RUU KUHP pada tahun 2005 ini. Hal ini disebabkankarena,KUHPyangberlakusekaranginimerupakanpeninggalankolonial2 dan belum dapat mengimbangi berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, pembaharuan Kitab UndangUndang Hukum Pidana(KUHP)secarakomprehensifmenjadisuatukeharusan. Sebenarnya berbagai usaha untuk melakukan perubahan dan pembaharuan terhadap Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP) telah dilakukan jauh sebelum masa reformasi bergulir3. Penyusunan terhadap rancangan Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP) Baru dimulai pada tahun 1981. Hal ini ditandai dengan dibentuknya Tim Pengkajian untuk melakukan pembaharuan terhdap Kitab Undangundang

Prepared as Discussion and Campaign Kit by Wahyu Wagiman, Staf Pelayanan Hukum LembagaStudidanAdvokasiMasyarakat(Elsam). 2Sebanyak284RUUAkanDibahasSampaiTahun2009,Kompas,2February2005. 3Sebelumnyapadatahun1963,dalamSeminarHukumNasionaldiFakultasKedokteran UniversitasIndonesiasejumlahpakarhukumsepertiRoeslanSaleh,Muljatno,danKadarusman sudahmenyatakanperlunyaKUHPbaru.ParapakarhukumIndonesiaitumenganggapKUHP yang dipakai saat itu (1963), yang lahir pada 1886, banyak bolongnya, sudah uzur dan harus dipermak.DalamSeminarHukumNasionaltersebutjugadikeluarkanresolusiyangmendesak segeradibentuknyaKUHPNasionaldalamwaktuyangsesingkatsingkatnya.
1

HukumPidana(KUHP).TimPengkajianinibertugasuntukmelakukanpengkajiandan membuatrancanganKitabUndangundangHukumPidana(KUHP)KUHPBaru. Setelah bekerja hampir satu dasawarsa, pada tahun 1993 akhirnya Tim Pengkajian yang berada dibawah Koordinasi Departemen Kehakiman (sekarang Dirjen Peraturan Perundangundangan), telah menghasilkan sebuah Rancangan KUHP Baru4. Namun, karena pada waktu itu jabatan Menteri Kehakiman Ismail Saleh segera berakhir, kebijakan terhadap keberadaan Rancangan KUHP Baru tersebut berada dibawah kendali Menteri Kehakiman yang baru, yaitu Oetoyo Usman. Dalam masa jabatannya Oetoyo Usman meminta kepada beberapa ahli hukum untuk menelaah dan mengkaji kembali Rancangan KUHP Baru yang dibuat pada masa menteri Kehakiman sebelumnya5. Tetapi pada masa Oetoyo Usman menjabat sebagai menteri kehakiman, ternyata tidak terdapat perubahan yang cukup berarti dan susbstansial terhadap Rancangan KUHP yang baru tersebut. Yang terjadi hanyalah perubahan redaksi terhadapbeberapapasaldalamRancanganKUHPBarutersebut6. Titik terang terhadap pembaharuan Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP) terasa kembali ketika Muladi menjabat sebagai Menteri Kehakiman. Muladi mulai melakukan pembahasan kembali terhadap Rancangan KUHP sebagaimana yang telah dirintis oleh Ismail Saleh7. Hasilnya, pada tahun 2000 Departemen Kehakiman telah menghasilkan draft Rancangan KUHP tahun 2000 yang merupakan hasil revisi

Tim berkerja hampir selama 12 tahun (19811993), hasil dari konsep KUHP Baru ini kemudiandiserahkankepadaMenteriKehakimanIsmailSaleh..Danhasiliniterndaphampir5 tahun dibiarkan tanpa proses lanjutan di bawah menteri Utoyo usman, dan baru di proses penyempurnaankembalidilanjutkanolehmenteriMuladi. 5SalahsatuhalyangmenyebabkanalasanOetoyoUsmanmelakukantelaahdankajian kembali terhadap Rancangan KUHP tersebut adalah adanya reaksi keras dari kalangan perbankan, termasuk Bank Indonesia. Ada kekhawatiran aliran investasi dari luar negeri (juga dalam negeri) menjadi seret. Reaksi keras tersebut datang setelah munculnya jenis kejahatan barudalamkhazanahKUHPyangmembuatsebagiankalanganperbankantakut.Delikbaruitu adalah pencucian uang atau money laundering.KoranTempo,Jumat,4February2005Hadirnya JenisKejahatanBaru 6 Prof. DR. Jur. Andi Hamzah, Beberapa Catatan Tentang DelikDelik Kesusilaan Di Dalam Rancangan KUHP, Makalah dalam Diskusi Panel Analisa Kritis Terhadap Delik KesusilaanDalamRUUKUHP(TinjauanPersfektifPerempuan),yangdiselenggarakanElsam, LBH APIK, PKWJ UI, Komnas Perempuan, Convention Watch, dan Jangka PKTP, 4 November 2003,hal1 7 Walaupun masa jabatan Muladi sebagai menteri Kehakiman hanya beberapa bulan, usaha yang dilakukannya ternyata cukup berhasil untuk dilakukannya pembaharuanterhadap KUHPyangberlakusaatini.
4

RancanganKUHPtahun19938.RancanganKUHPtahun2000tersebutmerupakandraft penyempurnaanterhadapdraftRancanganKUHPtahun1993. Sosialisasi terhadap draft RKUHP tahun 2000 tersebut dilakukan dibawah koordinasi Departemen Kehakiman (sekarang Departemen Hukum dan HAM)9. Namun Rancangan KUHP Baru tersebut mendapat kritikan dari berbagai pihak di kalangan masyarakat.MunculnyajenisjeniskejahatanbarudalamRKUHPmerupakansalahsatu hal yang mengakibatkan Departemen Hukum dan HAM untuk melakukan kembali revisiterhadapRancanganKUHPtahun2000tersebut10. Banyaknya masukan dan kritik terhadap keberadaan Rancangan KUHP tahun 2000 tersebut, serta berbagai perkembangan yang terjadi di dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia11, direspon Departemen Hukum dan HAM dengan melakukan revisi terhadapRancanganKUHPtahun2000tersebut. Pada akhir 2004, kerja besar dan melelahkan hampir dua dasawarsa dari Departemen HukumdanHAMitutelahmendekatiakhir.RancanganUndangUndang(RUU)Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang telah disusun Tim Penyusun telah diserahkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaluddin, awal

PadamasainiyangmenjabatsebagaiMenteriKehakimanadalahYusrilIhzaMahendra,

ProsespembaharuanKitabUndangUndangHukumPidana(KUHP)akhirnyaberjalan lagi dengan dilakukan perumusan ulang atas pembahasan KUHP yang dilakukan oleh DepartemenKehakimandanHakAsasiManusiadibawahMenteriYusrilIhzaMahendra.Tim inidibentukuntukmelanjutkandraftKUHPyangtelahberhasildibentukpadatahun2000,yang saatitudibawahMenteriKehakimanProf.Dr.Muladi. 10 Beberapa jenis kejahatan yang mengakibatkan mumnculnya kontroversi di kalangan masyarakat, antara lain mengenai perzinahan, santet, dan incest. Dalam draft revisi KUHP itu, delik permukahan atau perzinaan diatur terperinci. Bukan hanya hubungan seksual oleh dua orangyangsamasamaterikatperkawinandenganoranglainyangbisadijerat. Disamping itu, polemik juga muncul berkaitan dengan keberadaan santet. Yang sering menjadi bahan polemik adalah apakah santet perlu dan bisa diatur atau dirumuskan sebagai delikformal.Disetujuiatautidak,draftKUHPitumemangmengaturbentukperbuatanpidana yangadakaitannyadengansantet(magis).Padapasal225ayat1disebutkan,Setiaporangyang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan magis, memberitahukan, menimbulkan harapan, menawarkan perbuatannya dapat menimbulkan kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Kategori IV (Rp7.500.000). 11SalahsatunyadenganbanyaknyaUUKhususyangdikeluarkanpadamasa20002004, sepertiUUPengadilanHAM,UUKorupsi,UUMoneyLaundering,danUUTerorisme.
9

Januari lalu. Untuk selanjutnya diserahkan ke Presiden, dan diteruskan ke DPR untuk dilakukanpembahasan12. Tulisan ini berisi paparan mengenai upayaupaya yang telah dilaksanakan untuk melakukanpembaharuanhukumpidanadiIndonesia.Dalamtulisaniniakandiuraikan mengenai berbagai perkembangan yang terjadi selama proses pembaharuan hukum pidana, dimana salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan penyusunan Rancangan KUHP baru. Disamping itu, dalam tulisan ini akan diulas berbagai perubahan yang dilakukan Tim Penyusun RKUHP terhadap ketentuan ketentuanyangterdapatdalamKUHP.Adapunpersoalanyangdibahasdalamtulisan ini adalah berbagai aturan dan ketentuan dalam KUHP yang diperkirakan dapat mempengaruhi atau berimplikasi terhadap usaha penegakan dan perlindungan hak asasi manusia di Indonesia.Olehkarenaitu,tidaksemuaaturandanketentuandalam RKUHPiniterangkumdandibahasdalamtulisanini.

II.LatarBelakangPembaharuanKUHP
Pembaharuan hukum pidana di Indonesia sampai saat inibelummenujupadadasar dasar hukum yang berkembang secara modern dan komprehensif. Hal ini disebabkan karena sistem hukum pidana yang berlaku di Indonesia masih mendapat pengaruh yang sangat besar dari sistem hukum Belanda. Hal ini ditandai dengan masih dipergunakannya Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP), yang merupakan terjemahandariWetboekvanStrafrecht(WvS)buatanBelanda,dalampraktekhukumdi Indonesia,baikdiPengadilanmaupunperguruanperguruantinggihukum13. Disamping itu, selama ini pembentukan peraturan hukum pidana dilakukan dengan cara tambal sulam, sehingga bentuknya beraneka ragam, sesuai dengan hal yang diaturnya14. Pada awal perkembangannya, proses pembaharuan terhadapKUHPjugasematamata hanya didasari keinginan untuk menggantikan karakteristik kolonial dari KUHP yang
RUU KUHP Lebih Banyak, Lebih Berat, Majalah Tempo, No. 49/XXXIII/31 Jan 06 Feb2005. 13 Berdasarkan Staatsblad No. 732 1915, Wetboek van Strafrecht (WvS) berlaku di Hindia Belanda (Indonesia) sejak 1 Januari 1918. Setelah Indonesia merdeka, sesuai dengan Aturan Peralihan UUD 1945, Wetboek van Strafrecht dinyatakan tetap berlaku. Selanjutnya, berdasarkan UU No. 1 tahun 1946 Jo UU No. 73 tahun 1958, istilah Wetboek van Strafrecht diganti dengan sebutan Kitab Undangundang Hukum Pidana, dan berlaku untuk seluruh Indonesia, dengan perubahanperubahandanpenyesuaianpenyesuaian. 14AruanSakidjodanBambangPurnomo,HukumPidana(DasarAturanUmumHukum PidanaKodifikasi),GhaliaIndonesia,Jakarta,1988,hal55
12

berlaku saat ini15 dan dilakukan secara parsial, serta tidak menyeluruh sehingga tidak bisa menyelesaikan persoalanpersoalan baru, sehingga gejala yang muncul adalah banyaknya peraturan perundangundangan yang sifatnya sektoral dan tidak dikonsolidasikandalamKitabUndangundangHukumPidanaNasional16. Namun,dalamperkembangannyalatarbelakangpembaharuanKUHPtersebutberubah ke arah yang lebih maju dan terarah, yaitu untuk mewujudkan pembaharuan hukum nasional Negara Republik Indonesia yangberdasarkanPancasiladanUndangUndang Dasar 1945, serta untuk menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Disamping itu, tujuan pembentukan KUHP Nasional tersebut adalah untuk menyesuaikan materi Hukum Pidana nasional dengan politik hukum, keadaan, dan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia17. Jadi tidak sematamata hanya untuk menggantikan Kitab Undangundang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht) sebagai produk hukum pemerintahan zaman kolonial Hindia Belanda. Oleh karenanya apa yang dilakukan adalah suaturekodifikasiKUHPHindiaBelanda (terjemahan Indonesia) yang berlaku di Indonesia sejak tahun 1918. Rancangan berusaha untuk menegaskan (kembali) azasazas utama dan aturanaturan umum
KUHPyangberlakusekaranginimerupakanKUHPyangberasaldariKUHP(Wetboeks van Strafrecht) Belanda 1886, dan berlaku di Indonesia berdasarkan asas konkordansi. KUHP buatan Belanda ini lebih terinternalisasi dalam kehidupan hukum di Indonesia melalui yurisprudensi,doktrinsertabukubukuyangdipergunakandiperguruantinggihukum. 16 Hal ini dapat dilihat dari dikeluarkannya Undangundang yang berkaitan atau dibentukuntukmelengkapikeberadaanKUHP,sepertiUUNo.1tahun1946,yangmenyatakan berlakunya Wetboek van Strafrecht (WvS) di seluruh Indonesia; UU No. 73 tahun 1958 yang memperbaharui keberadaan UU No. 1 tahun 1946; UU No. 7 Drt 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi;UUNo.1tahun1960tentangPemberatanPidanaterhadapDelikCulpatertentudalam KUHP. Dalam UU ini sanksi pidana yang diancamkan terhadap delik culpa ditingkatkan menjadi maksimal 5 (lima) tahun penjara atau satu tahun kurungan, yaitu ancaman pidana dalam pasal 188 KUHP tentang kealpaan yang menyebabkan bahaya bagi umum, pasal 359 KUHP tentang kealpaan yang menyebabkan kematian, dan pasal 360 KUHP tentang kealpaan yang menyebabkan luka atau sakit; UU No. 18 tahun 1960 tentang Perubahan Sanksi Pidana Denda yang tercantum dalam KUHP dan Ketentuanketentuan Lainnya yang Dikeluarkan Sebelum tahun 1945, yang harus dibaca dalam mata uang rupiah dan jumlahnya dilipatgandakanmenjadilimabelaskali.;UUNo.11PNPStahun1963tentangTindakPidana Subversi;UUNo.1PNPStahun1965yangmenyisipkansatupasalkedalamKUHP,yaitupasal 156atentangdelikpenodaanterhadapagama;UUNo.3tahun1971JoUUNo.31tahun1999Jo UU No... Tahun tentang Tindak Pidana Korupsi; UU No. 7 tahun 1974 yang mengatur tentang perjudian,dimanaterhadapkejahatanperjudianancamanpidananyadiperberatmenjadiselama lama 10 tahun, dari semula 2 tahun penjara; UU No. 4 tahun 1976 tentang Kejahatan Penerbangan; UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM; UU No. 15 tahun 2003 tentang TindakPidanaTerorisme,dll. 17BagianMenimbangRKUHP,hal1
15

hukum pidana Indonesia. Serta diusahakan pula untuk merumuskan sebanyak mungkin tindak pidana yang dianggap penting oleh Tim Perumus dalam rangka pembangunan hukum di suatu masyarakat yang telah berkembang ke arah industrialisasi. Oleh karena itu, Tim Perumus berusaha untuk menambahkan aturan aturanbaruyangdisesuaikandenganperkembanganmasyarakat,sertamenghapuskan aturanaturan yang dianggap kuno (terutama dalam Buku Ketiga, yang kemudian digabungkedalamBukuKedua)18 Dengan demikian, pembaharuan hukum pidana nasional yang sudah sejak lama dirintis,dimaksudkanuntukmenghasilkansuatuKitabUndangundangHukumPidana yang komprehensif, berkepribadian Indonesia, menghormati nilainilai agamis dan adat, bersifat modern, serta sesuai dengan nilainilai, asasasas dan standar internasional.

III. RuangLingkupRancanganKitabUndangundangHukum Pidana


3.1 KetentuanketentuanyangdiaturdalamBukuI
Buku I Rancangan KUHP (selanjutnya RKUHP) merupakan ketentuan umum yang berisi mengenai asasasas hukum atau prinsipprinsip hukum19, dimana asasasas hukuminiakanmenjadititiktolakberlakunyaKUHPini,baikkedalamKUHPmaupun

Mardjono Reksodiputro, Meninjau RUU Tentang KUHP dalam konteks Perlindungan HAM, Disampaikan dalam Diskusi Panel Ahli yang diselenggarakan oleh Lembaga Studidan AdvokasiMasyarakat(ELSAM),Jakarta,1November2001,hal1.
18

MenurutNotohamidjoyosebagaimanadikutipProf.Dr,KomariahEmongSapardjaya, asas hukum adalah prinsipprinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum. Asasasas itu dapat disebut juga pengertian dan nilainilai yang menjadi titik tolak berfikir tentang hukum. Asasasas itu merupakan titik tolak juga bagi pembentukan undangundang dan interpretasi undangundangtersebut.
19

keluar KUHP, serta merupakan alat perekat dan pemersatu sistem hukum pidana nasionalyangtersebardiluarKUHP20. Secara umum tidak ada permasalahan dengan ketentuanketentuan yang tercantum dalam Ketentuan Umum Buku I RKUHP tersebut. Namun, ada beberapa ketentuan penting yang perlu mendapat perhatian secara khusus, mengingat bagianbagian tersebut akan mempengaruhi keberadaan dan keberlakuan RKUHP tersebut secara keseluruhan,terutamayangberkaitandenganpemenuhandanperlindunganhakasasi manusiadiIndonesia.Ketentuanketentuantersebut,antaralain: a. Tidakadanyapembedaanantarakejahatan(BukuII)danpelanggaran(BukuIII) RKUHPyangdihasilkantahun2004iniberbedadenganKUHP(WetboekvanStrafrecht) versi Belanda. Jika di dalam KUHP Belanda terdiri atas tiga bukuyakni ketentuan umum(bukukesatu),kejahatan(bukukedua),danpelanggaran(bukuketiga)didalam RKUHP yang baru ini hanya ada dua bagian, ketentuan umum (buku kesatu) dan kejahatan(bukukedua).Delikpelanggaranditiadakan. Dengan pembagian RKUHP menjadi dua buku tersebut, maka pada saat yang akan datang,dalamKUHPIndonesiatidakadalagipembedaanantarakejahatan(misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen), sebagaimana terdapat dalam KUHP yang berlaku sekarang, yaitu Buku II mengenai Kejahatan dan Buku III mengenai Pelanggaran. MenurutTimPenyusunRKUHP,alasanpenggabunganBukuIIdanBukuIIImenjadi satubukudandihilangkannyadelikpelanggaran,antaralainadalah: a. Tidak dapat dipertahankannya pembedaan antara rechtsdelict21 dan wetsdelict22, yangmelatarbelakangipenggolongankeduajenistindakpidanatersebut b. Penggolongan kedua jenis tindak pidana itu pada zaman Hindia Belanda memang relevan, mengingat kompetensi pengadilan pada waktu itu. pelanggaran pada dasarnya diperiksa oleh Landgerecht (Pengadilan Kepolisian), dengan menggunakan hukum acaranya sendiri, dan kejahatan diperiksa oleh Landraad (Pengadilan Negeri) atau Raad van Justitie (Pengadilan

Prof. Dr. Muladi, Beberapa Catatan Tentang RUU KUHP, Makalah yang disampaikan dalam Sosialisasi RUU KUHP yang diselenggarakan oleh Depkeh HAM RI di Hotel Sahid Jakarta,21Juli2004,hal3. 21 Rechtdelicten merupakan perbuatan dalam keinsyafan batin manusia yang dirasakan sebagai perbuatan tidak adil dan disamping itu juga sebagai perbuatan tidak adil menurut undangundang. 22 Wetsdelicten merupakan perbuatan yang menurut keinsyafan batin manusia tidak dirasakan sebagai perbuatan tidak adil, tetapi baru dirasakan sebagai perbuatan terlarang, karenaundangundangmengancamdenganpidana.
20

Tinggi), dengan hukum acaranya sendiri pula. Pembangian kompetensi seperti itutidakdikenallagipadasaatsekarangini23. c. Di dalam perkembangan, kejahatan dan pelanggaran hampir tidak bisa dibedakan lagi. Sebab, banyak inkonsistensi yang terjadi ketika sebuah perkara diputus. Kadang kala sebuah perkara pelanggaran (wetsdelict) ternyata dikenai hukumantinggisepertilayaknyakejahatan24. d. Disamping itu, palam kenyataannya pembedaan tersebut telah mengakibatkan persepsi atau praktek seolaholah ketika terjadi pelanggaran, maka terhadap perbuatandapatdikompromikanantarapelakupelanggarandenganpihakyang berwenang.Sedangkanuntukkejahatantidakbisadikompromikan25. Oleh karena itu, Tim Perumus RKUHP mengusulkan dianutnya satu sistem dalam merumuskan tentang kejahatan dan pelanggaran tersebut, dengan satu istilah tindak pidana. Namundemikian,walaupuntelahdilakukanpenggabunganantaraBukuIIdanBuku IIIKUHPyangberlakusaatini,TimPerumusRKUHPmasihtetapmenyisakancirikhas ataukriteriatindakpidanayangdikualifikasikansebagaiperbuatanpelanggaran.Ciri khas atau kriteria tersebut tampak dari ancaman pidana yang diancamkan terhadap perbuatanperbuatan yang dianggap sebagai pelanggaran tersebut, pidana denda atau kurungan. Kecuali untuk perbuatanperbuatan yang dikualifikasikan sebagai pelanggaranberat26. Olehkarenaitu,saatRKUHPiniberlaku,dimanatidakadalagiaturanmengenaidelik pelanggaranlagi,seluruhaturanaturanhukumdibawahKUHPharusmenyesuaikan, termasuk peraturan daerah yang menginduk pada KUHP. Penggabungan ini mengakibatnya terjadinya over criminalization yang luar biasa, karena semua pelanggaran yang terdapat di dalam Buku III, termasuk peraturanperaturan daerah yangmengaturmengenaipelanggaran,secaraotomatistidaklagimenjadipelanggaran, melainkan sebagai kejahatan atau tindak pidana. Tidak perduli apakah ancaman pidananya ringanatauberat.Yangpasti,setiaporangyangduludianggapmelakukan pelanggaran,kemudiansaatRKUHPiniberlaku,makaorangtersebuttelahmelakukan tindakpidana(kejahatan)ataumungkintindakpidanaringan. b. Tentangasaslegalitas
Prof. Dr. Barda Nawawi, Bunga Rampai Hukum Pidana, Citra Aditya Bhakti, Bandung 1996,hal271. 24Prof.Dr.Muladi,dalamRapatPerdanaPerumusRevisiKUHPImplikasiKUHPpada Perda,KompasSelasa,21Oktober2003 25 Sebagaimana dituturkan Prof. Dr Komariah Emong Sapardjaya dan Dr. Mudzakir, dalamwawancaraviatelponSenin14February2005 26BardaNawawi,OpCithal272
23

Asas legalitas (principle of legality) yangdapatdisimpulkandariketentuanpasal1ayat (1) RKUHP, memiliki makna Nullum Delictum, Noella Poena Sine Praevia Lege Poenali (Tiadadelik,tiadapidanatanpaperaturanyangmengancampidanalebihdulu). DalamKUHPIndonesia(yangberasaldariKUHPBelanda)inisebenarnyamerupakan peraturanyangtercantumdalamDeclarationDesDroitsDeLHommeEtDuCitoyentahun 1789yangberbunyi:Tidakadaorangyangdapatdipidanaselainataskekuatanundang undangyangsudahadasebelumnya.Jadi,asasinimemberikanperlindunganterhadap tuntutandanpenangkapansewenangwenangpenguasaterhadapseseorang. Asaslegalitasdipandangsebagaisuatupalladium(safeguard)darikepastianhukumdan merupakan asas fundamental dalam negara hukum, suatu penghubung antara rule of law dan Hukum Pidana, yang penyampingannya hanya dapat dibenarkan dalam keadaandarurat. AdanyaasaslegalitasdalamRKUHPsangatpentingdalamperlindunganhakhakasasi manusia,dimanaUUD1945amandemenIVmenyatakanbahwa,untukmenegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis,makapelaksanaanhakasasimanusiadijamin,diaturdandituangkandalam perundanganundangan. Oleh karenanya, setiap orang berhak untuk hidup tidak dituntutatasdasarhukumyangberlakusurut. Namundemikian,dalamprakteknyapenerapanasaslegalitasiniharusjugadisesuaikan dengan realitas yang terjadi dalam masyarakat, baik nasional maupun internasional. Dalamarti,untukbeberapatindakpidana,keberadaanasaslegalitasinitidaklahmutlak adanya. Masih dimungkinkan untuk dilakukan penyimpangan terhadap asas legalitas tersebut. Hal ini disebabkan karena, ada beberapa tindak pidana yang (mungkin) memiliki karakteristik yang berbeda dibanding tindak pidanatindak pidana yang diaturdalamRKUHP,dimanatindakpidanatersebuttidakbisadipersamakandengan kejahatan biasa. Disamping itu, penerapan asas legalitas juga harus tetap memperhatikanketentuanketentuanyangberlakudalamhukuminternasional,dimana dalam prakteknya ada penyimpangan terhadap penerapan dan pemberlakuan asas legalitasini.Contohyangpernahterjadidalamprakteknhukum,baiknasionalmaupun internasional, misalnya praktek di Pengadilan HAM Timtim dan Tanjung Priok. SelanjutnyadalamTokyoTribunal,ICTYdanICTR. Oleh karena itu, adanya penyimpangan terhadap asas legalitas adalah sebagai upaya untuk mensinkronkan ketentuan hukum nasional dengan instrumen HAM internasional. Hal ini dapat terlihat dari pengalaman pengadilan nasional dan

10

internasional terhadap pelaku pelanggaran HAM selama ini, dimana terhadap para pelakupelanggaranHAMtersebutditerapkanketentuanberlakusurut27. c. Kemungkinanberlakunyahukumadat Pasal 1 RKUHP juga memberi peluang berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat atau hukum adat. Pasal 1 ayat 3 yang menyatakan, Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup atau hukum adat yang menentukan bahwa menurut adat setempat seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundangundangan28. Dengan demikian, adanya ketentuan pasal 1 ayat 3 RKUHP ini dimungkinkan berlakunya sifat ajaran perbuatan melawan hukum secara materiil (materiele wederechtelijkheid)29, dimana suatu perbuatan dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana, tidak hanya berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang sudahada(nullumcrimensinelege),tetapijugaapabilaperbuatantersebutbertentangan juga dengan kesadaran hukum masyarakat, bertentangan dengan hukum adat, asas kepatutan atau hukum tidak tertulis (the living law). Dalam arti, walaupun belum ada suatu peraturan perundanganundangan yang menyatakan suatu perbuatan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam pidana, tetapi apabila perbuatan tersebut bertentangan dengan kesadaran hukum suatu masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dikualifikasikan sebagai suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana. Dengan kata lain, dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana. Dan pelakunya dapat diajukankepengadilanuntukdimintapertanggungjawabannya. Namun, penggunaan hukum yang hidup dalam masyarakat tersebut harus sesuai rambunilainilaiyangterkandungdalamPancaSiladanprinsipprinsiphukumumum yangdiakuiolehmasyarakatinternasional30. Konsekwensi logis dari kemungkinan diberlakukannya hukum adat atau hukum yang hidup di masyarakat adalah dalam hal proses pembuktian. Apabila terjadi seseorang dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum secara materiil, maka secara otomatis jaksa penuntut umum harus membuktikan bahwa seseorang itu telah
MenurutProf.Dr.RomliAtmasasmita,prinsiphukumnonretroaktiftersebutberlaku untuk pelanggaran pidana biasa. Sedangkan pelanggaran HAM bukan pelanggaran pidana biasa, prinsip non retroaktif tidak bisa dipergunakan. Kompas, Jumat, 18 Agustus 2000, Demi KeadilanPenerapanAsasRetroaktifBisaDiterima. 28 Dimana terhadap pelaku tindak pidana ini pidana yang dijatuhkan adalah berupa pemenuhankewajibanadatsetempatyangditetapkanolehhakim(Pasal93ayat1RKUHP). 29Prof.Dr.Muladi,OpCithal5 30CatatanterhadapketentuanPasal1ayat3RKUHP
27

11

melanggar hukum adat atau kesadaran hukum masyarakat. Jaksa penuntut umum harus dapat membuktikan bahwa secara sosiologis empirik hukum adat atau kesadaranhukummasyarakattersebutmemangbenaradanya.Masihdiakui,ditaati danditerapkandalamkehidupansuatumasyarakat. Hal ini penting untuk diperhatikan, mengingat dalam proses pembuktian, jaksa penuntut umum maupun hakim terikat dengan bukti minimal yang harus dapat dihadirkan,sebagaimanatercantumdalampasal183KUHAP31. d. Masihdiaturnyamengenaipidanamati(capitalpunishment) Ancaman hukuman mati tetap dipertahankan dalam Rancangan UndangUndang (RUU) Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang telah dipersiapkan pemerintah,sebagaipenggantiKUHPpeninggalankolonialBelandayangkinidipakai. Kurang lebih ada 13 pasal yang mencantumkan hukuman mati sebagai ancaman pidananya.MenurutRKUHPadasembilanmacamtindakpidanayangdiancampidana mati,yaitu: 1. Setiap orang yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkankorbanyangbersifatmassal,dengancaramerampaskemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objekobjek vital yang strategis atau lingkunganhidupataufasilitasumumataufasilitasinternasional(Pasal213(198 A)) 2. Setiap orang yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkankorbanyangbersifatmassal,dengancaramerampaskemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objekobjek vital yang strategis atau lingkunganhidupataufasilitasumumataufasilitasinternasional(Pasal214(198 B/6UUTerorisme)) 3. Setiaporangyangbermaksuduntukmelakukantindakpidanaterorisme(Pasal 216(198D/9UUTerorisme) 4. Setiaporangyangmenggunakanbahanbahankimia,senjatabiologis,radiologi, mikroorganisme,radioaktifataukomponennya,sehinggamenimbulkansuasana teror,ataurasatakutterhadaporangsecarameluas,menimbulkankorbanyang bersifatmassal,membahayakanterhadapkesehatan,terjadikekacauanterhadap kehidupan,keamanan,danhakhakorang,atauterjadikerusakan,kehancuran

Yang mensyaratkan adanya dua alat bukti yang sah dimana dari dua alat bukti tersebuthakimmemperolehkeyakinanbahwasuatutindakpidanatelahterjadi.
31

12

terhadap objekobjek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas umum, ataufasilitasinternasional(Pasal217(198E/10UUTerorisme)) 5. Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukantindakpidanaterorismesebagamanadimaksuddalamPasal214(198 B)sampaidenganPasal219(198G)(Pasal221(198I/14UUTerorisme)) 6. Setiaporangyangmelakukanpermufakatanjahat,percobaan,ataupembantuan untukmelakukantindakpidanaterorisme(Pasal222(198J/15UUTerorisme)) 7. Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kemudahan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana sebagaimanadimaksuddalamPasal214(198B)sampaidenganPasal219(198G) (Pasal223(198K/16UUTerorisme)) 8. MakardenganmaksudmembunuhataumerampaskemerdekaanPresidenatau WakilPresiden(Pasal228(199)) 9. Menghasutdanmemudahkanterjadinyahuruhara(Pasal249ayat3) 10. Permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana penghasutan dan memudahkanterjadinyahuruhara(Pasal250(219)) 11. Makarmengakibatkanmatinyakepalanegarasahabat(Pasal262ayat2(231)) 12. Terorisme yang menimbulkan bahaya bagi nyawa orang lain dan mengaki batkanmatinyaorang(Pasal334ayat3(302)) 13. Pembunuhanberencana(Pasal563(475A)) Tujuan dicantumkannya pidana mati dalam RKUHP adalah sebagai upaya terakhir dalamrangkamengayomimasyarakat,dimanadalampelaksanaannyapidanamatiini dijatuhkan secara alternatif (Pasal 80 RKUHP). Namun, pelaksanaan pidana mati tersebutdapatditundadenganmasapercobaanselama10(sepuluh)tahun,apabila: reaksimasyarakatterhadapterpidanatidakterlalubesar terpidanamenunjukkanrasamenyesaldanadaharapanuntukdiperbaiki kedudukanterpidanadalampenyertaantindakpidanatidakterlalupenting alasanyangmeringankan(Pasal82ayat1) Selanjutnya apabila selama masa percobaan terpidana menunjukkan sikap dan perbuatanyangterpuji,makapidanamatidapatdiubahmenjadipidanaseumurhidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dengan Keputusan Menteri KehakimandanHakAsasiManusia(Pasal82ayat2)32. Masih berlakunya hukuman mati dalam RKUHP merupakan bagian sistem hukum pidana sekaligus merupakan pelaksanaan State Policy atau Kebijakan Negara. Dari pendekatanhistoris,kebijakanhukuman(pidana)matimerupakanpengembangandari teori absolut yang mendekatkan diri dengan deterrent effect (efek jera). Namun, sejalan
Namun, apabila selama masa percobaan terpidana tidak menunjukkan sikap dan perbuatan yang terpuji serta tidak ada harapan untuk diperbaiki, maka atas perintah Jaksa Agungpidanamatidapatdilaksanakan(Pasal82ayat3RKUHP)..
32

13

dengan dinamika hukum pidana, pemidanaan lebih ditujukan kepada teori rehabilitation,yaitupemulihanterpidanaagardapatkembalikepadakehidupansemula denganmasyarakatnyaapabilaterpidanatersebuttelahmenjalanihukumannya. Dengan demikian, apabila diperhatikan secara seksama dari RKUHP, tampaknya para penyusun RKUHP tersebut masih menganut paham retentionist33, walaupun dalam RKUHP pidana mati tidak dicantumkan lagi sebagai pidana pokok, tetapi pidana khususdanpenerapannyaselalualternatifdenganpidanapokoklainnya. Namun, keberadaan pidana mati dalam RKUHP tersebut tetap saja menimbulkan kontroversi. Hal ini disebabkan, karena masih dianutnya pidana mati dalam KUHP yang akan datang merupakan suatu hal yang bertentangan dengan Undangundang Dasar (UUD) 1945. Sebab, sebagaimana diketahui, hukuman mati di Indonesia baru dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana bertahuntahun, bahkan puluhan tahun. Pelaksanaan hukuman mati pun masih tertunda. Padahal selama menanti eksekusi hukumannya, seorang terpidana tidak bisa lagi menikmati hakhak perdatanya.Bagiseorangterpidanamasapenantianmerupakankematianperdataatas kebebasanhidupnya. Disampingitu,undangundangdasar1945secarategasmenyatakanbahwahakuntuk hidupadalahhakasasiyangtidakdapatdikurangidalamkondisiapapundandengan alasan apa pun (non derogable rights). Amandemen kedua UUD 1945 Pasal 28 A menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Sebagai Hukum Dasar yang ditegaskan dalam Tata Urutan Perundangundangan yang merupakan pedoman dalam pembuatan aturan hukum di bawahnya sebagaimana Ketetapan MPR Nomor III/MPR/ 2000, maka seluruh aturan hukum di bawahnya, baik yang telah ada maupun yang akan dibentuk harus, sejalan denganUUDsebagaihukumdasartertinggiatauyangdisebutsebagaiStaatgrundgezet34. Oleh karena itu, sesuai asas konstitusionalitas, legalitas suatu produk perundang undangan yang masih mempertahankan hukuman mati, seharusnya menyesuaikan denganamandemenkonstitusiagartidakbertentangandenganasasketatanegaraanlex superiori derogat legi inferiori35, karena legalitas hukuman mati sebagai produk hukum yanglebihrendahbertentangandenganprodukhukumyanglebihtinggi. FilosofispidanamatibagibangsaIndonesiatidaklahterlepasdaripandangandansikap bangsa Indonesia sebagaimana dituangkan dalam Ketetapan MPR Nomor
Paham yang masih mempertahankan hukuman mati dalam peraturanperundang undangannya,maupundalampraktek.Kebalikannyaadalahpahamabolisionist. 34T.GayusLumbuun,HentikanPidanaMati,KompasJumat,28Februari2003. 35Pasal2JoPasal4ayat(1)TAPMPRNoIII/MPR/2000
33

14

XVII/MPR/1998 yang menyebutkan bahwa pandangan dan sikap bangsa Indonesia mengenaihakasasimanusiaadalahbersumberdariajaranagama,nilaimoraluniversal, dannilailuhurbudayabangsa,sertaberdasarkanPancasila.Sehinggahakasasimanusia dirumuskan secara substansi dengan menggunakan pendekatan normatif, empiris, deskriptif, dan analitis, antara lain disebutkan bahwa hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat pada diri manusia yang sifatnya kodrati dan universal sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa dan berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidup, kemerdekaan, perkembangan manusia dan masyarakat, yang tidak boleh diabaikan, dirampasataudiganggugugatolehsiapapun. Karenaitu,dalamKetetapanMPRNomorXVII/MPR/1998tersebutPasal1menugaskan kepada Lembagalembaga Tinggi Negara dan seluruh aparatur pemerintah, untuk menghormati, menegakkan, dan menyebarluaskan pemahaman hak asasi manusia kepadaseluruhmasyarakat.Denganpendekatanfilosofisyuridistersebutdiatas,maka seluruh produk hukum yang ada maupun yang akan ada, termasuk RKUHP, seharusnyatidakbolehbertentangandenganjiwa,pandangandansikapbangsa. e. Pengaturanmengenaicriminalcorporateresponsibility(pasal4449RKUHP) Adanya ketentuannya yang menyatakan bahwa korporasi dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan tindak pidana merupakan suatu perkembanganyangcukuppentingdalampembaharuanhukumpidanaIndonesia.Hal ini perlu dilakukan mengingat dampak yang timbul akibat tindak pidana yang dilakukan korporasi sangatlah besar, baik kerugian individu, masyarakat dan negara. Adapun kerugiankerugian yang ditimbulkan oleh korporasi dapat bersifat fisik, ekonomis dan sosial. Besarnya kerugian yang disebabkan kejahatan korporasi terjadi karena, bidang yang menjadi sasaran kejahatan korporasi sangatlah luas, meliputi kesehatan masyarakat (public health), kondisi atau persyaratan keamanan tenaga kerja (labour conditions) eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan (exploitation of natural resources and environmental) dan persyaratan pengadaan barang dan pelayanan konsumen(theprovisionsgoodsandservicestoconsumers)36. Oleh karena itu, mengingat dalam KUHP yang berlaku saat ini, tidak ada ketentuan yang dapat dijadikan alasan untuk meminta pertanggungjawaban terhadap kejahatan yang dilakukan oleh korporasi37, maka adalah hal yang wajar jika akibat yang

Hamzah Hatrik, S.H, M.H, Asas Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Raja Grafindo Persada,Jakarta1996,hal70. 37 Selama ini, ketentuan yang mengatur mengenai pertanggungjawaban korporasi adalah terdapat di dalam undangundang atau peraturan khusus, dan tersebar di dalam peraturanperundangundangan,belumdikodifikasikandidalamKUHPsepertiUULingkungan Hidup,UUPerbankan,UUTindakPidanaKorupsi.
36

15

merugikan dan membahayakan yang disebabkan kejahatan korporasi dirumuskan sebagaiperbuatanyangterceladandilarangdalamRKUHPIndonesia.

3.2 KetentuanketentuanyangdiaturdalamBukuII
Buku II Rancangan KUHPberisimengenaiperbuatanperbuatanyangdikualifikasikan sebagaitindakpidana,sertaancamanpidanayangdiancamkanterhadaptindakpidana tersebut.BukuIIRKUHPtersebutterdiridari33babserta748pasal. Secaragarisbesar,penyusunRKUHPmasihmempertahankansebagianbesarjenisjenis tindak pidana yang terdapat di dalam KUHP lama, seperti tindak pidana terhadap ketertibanumum,tindakpidanaterhadapkehidupanagamadankehidupanberagama, tindak pidana penadahan, tindak pidana pencurian, pembunuhan, tindak pidana terhadap ideologi negara dan tindak pidana yang berhubungan dengan keamanan negara. Namun demikian, Tim Penyusun RKUHP juga memasukkan jenisjenis tindak pidana baruyangsebelumnyatidakadaatautidakdiaturdalamKUHPyangberlakusaatini. Dimasukkannya jenisjenis tindak pidana ke dalam RKUHP tersebut adalah untuk menyesuaikanperkembanganperkembanganyangterjadidimasyarakat,baiknasional maupuninternasional. Pasca tahun 2000, banyak sekali undangundang khusus yang dibuat dan tidak dikodifikasikan ke dalam KUHP yang berlaku saat ini. Perkembangan hukum pidana diluarkodifikasiini,sangatsulituntukdihindarimengingatberkembangnyajenisjenis tindak baru yang dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes), dimanadiperlukancaracarayangluarbiasapulauntukmenanggulangi(extraordinary measures) terhadap tindak pidanatindak baru tersebut. Cara penanggulangan ini seringkali menyimpang dari asasasas hukum pidana, baik materiil (KUHP) maupun formil(KUHAP)38. Disamping itu, diratifikasinya beberapa konvensi internasional, secara significan telah berpengaruhpulaterhadaphukumpidanayangberlakudiIndonesia.Haliniberkaitan denganproseskriminalisasiterhadapsatujenistindakpidanatersebut39.

Prof.DrMuladi,OpCithal10. Seperti ratifikasi Convention Against Torture, Inhuman or DegradingTreatment or Punishment,yangdilakukandenganUUNo.5tahun1998.Disampingitu,diundangkannyaUU No. 26 tahun 2000 yang diadopsi dari Statuta Roma, telah juga mempengaruhi penyusunan RKUHPtersebut.
38 39

16

Adapun metode yang dilakukan tim penyusun RKUHP untuk memasukkan dan menetapkandelikdelikbarukedalamRKUHPdilaksanakandengancaracarasebagai berikut: a. Menetapkan/merumuskan/mengkriminalisasikan delik baru yang memang sejak semulatidakadadidalamKUHP(Wvs)maupundiluarKUHP. b. Menetapkan/merumuskan/mengkriminalisasikan delik baru yang semulatidakada didalamKUHP,tetapisebenarnyasudahadadiluarKUHP. c. Melakukanperumusanbaruataureformulasiterhadapdelikdelikyangsudahada selamaini,termasukantaralainmelakukanperubahanperumusanunsurdelik,sifat delikatauancamanpidana/aturanpemberianpidananya/polapemidanaannya40. DicantumkannyajenisjenistindakpidanabarutersebutadalahagarRKUHPyangbaru ini dapat merespon dan mengakomodasi perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat 41. Adapun jenisjenis tindak pidana baru yang dimasukkan ke dalam RKUHPtersebut,antaralain: 1. TindakPidanaTerorisme 2. TindakPidanaGenosida 3. TindakPidanaKejahatanTerhadapKemanusiaan 4. TindakPidanaKorupsi 5. TindakPidanaLingkunganHidup 6. TindakPidanaPencucianUang(moneylaundering) 7. TindakPidanaPers 8. TindakPidanaPenyiksaan(torture) 9. Incest 10. ContemptofCourt 11. Santet 12. Kekerasandalamrumahtangga 13. Tindakpidanakesusilaan Dengan demikian, melihat komposisi ketentuanketentuan yang diatur RKUHP tahun 2004ini,makapenyusunanRKUHPtersebutdisusundariataubersumber: 1. KUHPyangmasihberlaku

BardaNawawiArief,OpCithal273 Hal ini disebabkan karena perkembangan yang sangat pesat dalam hukum pidana. Pascatahun2000,banyaksekaliundangundangkhususyangdibuatdantidakdikodifikasikan kedalamKUHPyangberlakusaatini.Perkembanganhukumpidanadiluarkodifikasiini,sangat sulit untuk dihindari mengingat berkembangnya jenisjenis tindak baru yang dikategorikan sebagaikejahatanluarbiasa(extraordinarycrimes),dimanadiperlukancaracarayangluarbiasa pulauntukmenanggulangi(extraordinarymeasures)terhadaptindakpidanatindakbarutersebut. Cara penanggulangan ini seringkali menyimpang dari asasasas hukum pidana, baik materiil (KUHP) maupun formil (KUHAP). Disamping itu, diratifikasinya beberapa konvensi internasional, telah berpengaruh terhadap hukum pidana yang berlaku di Indonesia. Hal ini berkaitandenganproseskriminalisasiterhadapsatujenistindakpidanatersebut.
40 41

17

2. KonsepRKUHPtahun2000 3. UndangundangyangtersebardiluarKUHP. Untuk melihat sejauh mana RKUHP tersebut mengatur jenisjenis tindak pidana, baik yang lama maupun yang baru, berikut ini akan disajikan mengenai jenisjenis tindak pidana yang tercakup dalam RKUHP tersebut. Adapun tindak pidanatindak pidana yangdipaparkandisiniadalahjenisjenistindakpidana,baikyanglamamaupunyang baru, yang memiliki keterkaitan atau akan berimplikasi terhadap proses perlindungan danpenegakanhakasasimanusia.

1. TindakPidanaterhadapIdeologiNegara
Tindak Pidana terhadap Ideologi Negara ini dimasukkan ke dalam Buku II Bab I tentangTindakPidanaTerhadapKeamananNegara.TindakPidanaterhadapIdeologi Negara merupakan delik baru yang dicantumkan ke dalam RKUHP berdasarkan ketentuanTapMPRSNo.XXVtentang/1966mengenailaranganpenyebarluasanpaham komunismedanmarxisme/leninismediIndonesia42. Adapunperbuatanyangdilarangdidalamtindakpidanaterhadapideologiiniadalah: a. Setiapperbuatanyangsecaramelawanhukummenyebarkanataumengembangkan ajaran Komunisme/MarxismeLeninisme dengan maksud mengubah atau menggantiPancasilasebagaidasarnegara43. b. Setiap perbuatan yang secara melawan hukum menyatakan keinginan untuk meniadakan atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara. yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat atau menimbulkan korban jiwa atau kerugianhartabenda

Padahal keberadaan Tap MPRS ini telah menimbulkan kontroversi yang sangat berkepanjangan.TidakkurangAbdurrahmanWahid,padawaktumenjabatsebagaiPresidenRI telah mengusulkan agar Tap MPRS tersebut dicabut, Disamping itu, telah banyak pula kajian ataupenelitianyangmenyarankandicabutnyaTapMPRSNo.XXV/MPRS/1966ini.Hasilkajian yang dilakukan Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) mengusulkan pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Tim di bawah pimpinan Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH MH itu menilai, pembubaran PKI sebagaimana ditetapkandalamPasal1KetetapanMPRSXXV/1966dapatdicabutkarenabersifateinmaligdan final. Sementara itu, menyangkut Pasal 2 dan Pasal 3yang mengatur tentang larangan menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran komunis/marxisme, leninismekarena bersifatmengatur(regeling),makaperludiaturdalamundangundang. 43YangdimaksuddenganKomunisme/MarxismeLeninismeadalahpahamatauajaran KarlMarkyangterkaitpadadasardasardantaktikperjuanganyangdiajarkanolehLenin,Stalin, Mao Tse Tung, dan lainlain, mengandung benihbenih dan unsurunsur yang bertentangan denganfalsafahPancasila.PenjelasanPasal210RKUHP).
42

18

c. Setiap orang yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga keras menganutajaranKomunisme/MarxismeLeninisme; d. Setiap orang yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi, baik di dalam maupun di luar negeri, yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/MarxismeLeninisme atau dengan maksud mengubahdasarnegara;atau e. Setiap orang yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi, baik di dalam maupun di luar negeri, yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/MarxismeLeninisme atau dengan maksud menggulingkanpemerintahyangsah. Pada awalnya, tindak pidana terhadap ideologi negara ini dirumuskan secara formil. Namun, karena dianggap terlalu luas, kemudian rumusannya diubah menjadi delik materiil, dimana harus ada akibat dan tujuan dari perbuatan yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana terhadap ideologi negara tersebut. Di dalam RKUHP yang disebutkan sebagai akibat dari perbuatan yang dilarang tersebut adalah timbulnya kerusuhan dalam masyarakat atau menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda, dan tujuannya adalah untuk mengubah atau mengganti ideologi Pancasila sebagaidasarnegara44. Menurut Muladi, kejahatan terhadap ideologi negara ini disusun berdasarkan asas hukum proparte dolus proparte culpa, dimana setiap perbuatan yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana terhadap ideologi negara harus mengandung unsur kesalahan dolus(sengaja)danculpa(kealpaan)sekaligus45. Muladi juga menyatakan bahwa keberadaan asas proparte dolus proparte culpa dalam perumusan tindak pidana terhadap ideologi negara mengandung keuntungan bagi masyarakat. Pertama, menjadi early warning system, sehingga khalayak berhatihati dalam menulis dan mengkaji Komunisme/MarxismeLeninisme yang dilarang. Kedua, hakimharusmelakukanpendekatankasuistikdantidakmenyamaratakanperkarayang diterimanya. Namun demikian, dengan adanya ketentuan yang menyatakan bahwa, barangsiapa secara melawan hukum menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/MarxismeLeninismedalamsegalabentuk,danperwujudannyadansetiap orang yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga keras menganut ajaran Komunisme/MarxismeLeninisme dapat dipidana, mensiratkan bahwa ternyata RKUHPinimasihmenyisakanpasalkaretyangdapatditafsirkansesuaikepentingan penguasa. Artinya, materi yang diatur pada RUU Perubahan KUHP tidak lebih maju
Dr.Mudzakir,DalamDiskusiTerbatasPemetaanTerhadapRUUKUHPNasional,yang diselenggarakanElsam,23Desember2004,diHotelIbisTamarinJakarta. 45Kompas,Kamis15April1999
44

19

danmelindungirakyatdibandingUUSubversi46.Padahal,dalamhukumpidanadikenal asas praduga tak bersalah, dimana seseorang yangbelumterbuktibersalahtidakbisa dihukum asas cogatitionis poenam nemo patitur, tiada seorangpun yang dapat dipidana karenaapayangdibathinnyaatauyangdipikirkannya. Disamping itu, instrumen hak asasi manusia, baik nasional maupun internasional sangat melindungi hak untuk menganut suatu pikiran atau keyakinan agama setiap orang47. Oleh karena itu, pelarangan terhadap hak atas pikiran sama merupakan terhadaphakasasimanusia,karenahakinitermasukkategorihakhakyangtidakboleh ditundaataudikurangipemenuhannya(nonderogablerights). Dengandemikian,keberadaanketentuanmengenaitindakpidanaterhadapideologiini tidakrelevanlagidengankeadaandanperkembanganzaman48.

2. TindakPidanaterhadapKeamananNegara
Samasepertitindakpidanaterhadapideologinegara,tindakpidanaterhadapkeamanan negaradimasukkankedalamBukuIIBabItentangTindakPidanaTerhadapKeamanan

Kompas, 14 April 1999. Pada 1999 telah ada kesepakatan antara DPR bersama pemerintahuntukmencabutUndangUndang(UU)No11/PNPS/1963mengenaiPemberantasan KegiatanSubversi(UUSubversi). 47LihatPasal28EAyat(2)UUD1945dan18ayat1KovenanInternasionaltentangHak hakSipildanPolitik(ICCPR)menyatakanbahwa,Setiaporangberhakataskebebasanberpikir, keyakinandanagama.Hakinimencakupkebebasanuntukmenganutagamaataukepercayaan pilihannyasendiri,sertakebebasanbaiksecaraindividualmaupunbersamasamadenganorang lain, dan baik dalam masyarakat umum maupun di lingkungan pribadi dalam menyatakan agamaataukepercayaannyadenganibadah,kepatuhan,pengamalanataupengajaran. 48KenyataaninidiperkuatdenganpernyataanFransMagnisSuseno,seorangahlifilsafat dari STF Driyarkara yang menyatakan bahwa ideologi sosialisme, komunisme, marxisme leninismeitusekaranginisudahfinish.Halinidapatterlihatdariduaindikasi,yaitu:Pertama, tentusajasebuahideologiyangagresifdengansegalaklaimnyasepertimarxismeleninismeitu mendapat pukulan maut, kalau negaranegara yang berdiri dengan dasar ideologi itu ternyata malah ketinggalan zaman. Tahun 1950an, sistem komunisme masih bermimpiwaktu itu Kruschev mengklaim Soviet paling maju di dunia dan akan meninggalkan AS jauh di belakangnyanamun yang terjadi malah sebaliknya. Uni Soviet ibarat bangunan besi berkarat dan sebuah ideologi atau sistem politik yang berkarat, tidak akan bisa survive. Itu berarti, marxismeleninismeataukomunismeitusudahbarangusang. Kedua,daribegitubanyakgerakanrevolusionerterorisdalam20tahunterakhir,takada satu pun yang masih mendasarkan diri pada komunisme ataupun marxisme, atau sosialisme. Yang ada, semua gerakan itu sifatnya lebih primordialistikentah cenderung berafiliasi pada etnisitastertentuatauagamadandaerahtertentuataugabunganketiganya.Jadisosialismebisa dikatakan telah selesai. Prof Dr Franz MagnisSuseno SJ, MarxismeKomunisme Itu Sudah Finish,KompasSenin,17April2000.
46

20

Negara. Tindak Pidana terhadap Ideologi Negara merupakan delik baru yang dicantumkan ke dalam RKUHP. Tindak pidana yang dikelompokkan ke dalam jenis TindakPidanaterhadapKeamananNegara,adalahmakardanterorisme. Tindak pidana makar merupakan tindak pidana yang masih dipertahankan di dalam KUHP yang berlaku saat ini. Adapun perbuatan yang dikualifikasikan sebagai perbuatanmakaradalah: a. Setiap orang yang melakukan makar dengan maksud membunuh atau merampas kemerdekaanPresidenatauWakilPresiden,ataumenjadikanPresidenatauWakil Presidentidakmampumenjalankanpemerintahan b. Setiaporangyangmelakukanmakardenganmaksudsupayasebagianatauseluruh wilayah negara jatuh kepada kekuasaan asing atau dengan maksud untuk memisahkansebagianwilayahnegara c. Setiaporangyangmenggulingkanpemerintahyangsah Terhadap tindak pidana makar ini, tampaknya dirumuskan secara formil. Hal ini disebabkan, karena suatu perbuatan dapat dikualifikasikan sebagai makar, apabila sudahadapermulaanpelaksanaan.Walaupunbelummenimbulkanakibat. Berdasarkanpengertianini,makauntukterjadinyamakarharussudahadapermulaan pelaksanaan, sehingga apabila hanya berupa niat tidak termasuk pengertian makar. Walaupunkemudiansipelakumengundurkandirisecarasukarela,dantidakadaakibat yang menyebabkan presiden atau wakil presiden terbunuh atau tindak mampu menjalankan pemerintahan, tetap perbuatan tersebut dikatakan sebagai perbuatan makar49. Selanjutnya yang termasuk juga sebagai tindak pidana yang berhubungan dengan keamanannegaraadalahterorisme.Perbuatanperbuatanyangdikualifikasikansebagai terorisme,antaralain: a. Setiap orang yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap fasilitas umum dengan maksud menimbulkan suasana teror atau ketakutan yang besardanmengadakanintimidasipadamasyarakat,dengantujuanakhirmelakukan perubahandalamsistempolitikyangberlaku b. Setiap orang yang dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkankorbanyangbersifatmassal. c. Setiap orang yang dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkankorbanyangbersifatmassal d. Setiap orang yang menggunakan bahanbahan kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya, sehingga menimbulkan suasana

49

PenjelasanPasal228RKUHP.

21

teror, atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, membahayakan terhadap kesehatan, terjadi kekacauan terhadap kehidupan, keamanan, dan hakhak orang, atau terjadi kerusakan, kehancuran terhadap objekobjek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas umum, atau fasilitasinternasional Semuaperbuatantersebutdiatas,dikualifikasikansebagaiperbuatanterorismeapabila perbuatantersebutditujukan kepada target sipil, misalnya pasar, stasiun kereta api, terminal bus, kantor pos, rumah sakit, dan bangunan lainnya untuk pelayanan masyarakat, dengan tujuan menimbulkan suasana ketakutan dan panik pada masyarakatsebagaiusahauntukmelakukanperubahandalamsistempolitik50. Tindakpidanaterorismeinisebagiandiadopsidariundangundangterorisme.Namun, diadopsinya ketentuan yang berasal undangundang terorisme ini telah menimbulkan perbedaanpendapat.Halinidisebabkankarenaundangundangterorismeitumemuat kejahatanyangdiambildariUUDrt.No.1tahun1951tentangpemilikanbahanbahan senjata api, dan dari kejahatan penerbangan. Sehingga apabila mengenai terorisme itu merupakantindakpidanayangmenjadiperhatianinternasional,makasegalahalyang berhubungandengankonsepkonsepterorismeharusdimasukkankedalamkejahatan kejahatanmenurutkonsepinternasional51. Konsep internasional mengenai pembajakan sekarang tidak lagi disebut sebagai kejahatan terhadap pembajakan, tetapi sebagai terorisme. Akibatnya asas hukumnya akan bergeser. Jadi yang dulu dimuat di dalam kejahatan penerbangan, sejauh yang berhubungandenganterorismeharusdikatrolmenjadiperbuatanterorisme52. Disamping itu, ketentuan mengenai tindak pidana terorisme ini sangat berlebihan dalam menetapkan suatu perbuatan sebagai tindak pidana terorisme. Hal ini terkait denganketentuanyangmenyatakanperbuatanperbuatandibawahinidikualifikasikan sebagaitindakpidanaterorisme: Setiaporangyangmencegah,merintangi,ataumenggagalkansecaralangsungatau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme53, dikualifikasikan juga sebagai tindak pidanaterorisme;
PenjelasanRKUHPPasal304 Dr.Mudzakir,OpCit 52BandingkandenganketentuanpasalUndangundangNo.4tahun1976 53 Hal ini diperparah dengan ketentuan lainnya yang menyatakan bahwa Setiap orang yangmemberikankesaksianpalsu,menyampaikanalatbuktipalsuataubarangbuktipalsu,dan mempengaruhi saksi secara melawan hukum di sidang pengadilan, atau melakukan penyerangan terhadap saksi, termasuk petugas pengadilan dalam perkara tindak pidana terorisme; Setiap orang yang mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaandisidangpengadilandalamperkara
50 51

22

Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu, menyampaikan alat bukti palsu ataubarangbuktipalsu,danmempengaruhisaksisecaramelawanhukumdisidang pengadilan, atau melakukan penyerangan terhadap saksi, termasuk petugas pengadilandalamperkaratindakpidanaterorisme; Setiaporangyangmencegah,merintangi,ataumenggagalkansecaralangsungatau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalamperkaratindakpidanaterorisme; Setiap saksi dan orang lain yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme yang menyebutkan nama atau alamat pelapor atau halhal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya indentitas pelapor dalam penyidikan dan pemeriksaandisidangpengadilan.

Seharusnya dengan memperhatikan unsurunsur serta akibat yang diakibatkan oleh perbuatanperbuatan tersebut di atas, maka perbuatanperbuatan tersebut tidak dikualifikasikan sebagai tindak pidana terorisme, serta tidak diletakkan atau dimasukkan ke dalam bab mengenai Tindak Pidana Terhadap Keamanan Negara. Melainkan dikualifikasikan sebagai Tindak Pidana Terhadap Penyelenggaraan Peradilan dan diletakkan di dalam Bab mengenai Tindak Pidana Terhadap Penyelenggaraan Peradilan (contempt of court), yang di dalam RKUHP ini sudah dimasukkansebagaibabtersendiri.

3. TindakPidanayangberhubungandenganPers
Tindakpidanayangberhubungandenganpers,inidimasukkankedalambabmengenai Penghinaan dan Fitnah. Ketentuan yang terdapat di dalam bab ini merupakan ketentuanyangsudahadadidalamKUHPyangberlakusaatini.Adapunperbuatan perbuatanyangberhubungandenganPersini,antaralain: Perbuatanmenerbitkantulisanataugambaryangmenurutsifatnyadapatdipidana Perbuatanmencetaktulisanataugambaryangmenurutsifatnyadapatdipidana Perbuatan yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan/atau melalui media apa pun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/MarxismeLeninisme yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat Perbuatan apapun yang menyerang nama baik atau martabat Presiden atau Wakil Presiden di muka umum. Termasuk penghinaan adalah menista dengan surat, memfitnah,danmenghinadengantujuanmemfitnah.
tindak pidana terorisme; Setiap saksi dan orang lain yang berkaitan dengan tindak pidana terorisme yang menyebutkan nama atau alamat pelapor atau halhal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya indentitas pelapor dalam penyidikan dan pemeriksaan di sidang pengadilan; terhadap perbuatanperbuatan tersebut dikualifikasikan sebagai tindak pidanaterorisme.

23

Perbuatanmenyiarkan,mempertunjukkan,ataumenempelkantulisanataugambar sehingga terlihat oleh umum, atau memperdengarkan rekaman sehingga terdengar oleh umum, yang berisi penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden dengan maksud agar isi penghinaan diketahui atau lebih diketahui umum Setiaporangyangdimukaumummenghinakepalanegarasahabat. Salah satu hal yang patut diperhatikan dari tindak pidana yang berhubungan dengan pers, yaitu ketentuan mengenai penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden. Hal ini dikarenakan adanya klausul yang menyatakan bahwa penghinaan terhadap orang biasanya merupakan tindak pidana aduan, akan tetapi penghinaan terhadap PresidenatauWakilPresidendapatdituntutdengantidakperluadapengaduan. Ancaman pidana yang ditujukan terhadap perbuatan inipun sangat menakutkan, disamping dapat dikenai pidana paling lama 5 (lima) tahun, pelakunya juga dapat dikenaipidanatambahanberupapencabutanhakuntukmenjalankanprofesi,dalamhal ini wartawan. Sehingga keberadaan klausul ini dikhawatirkan dapat meniadakan atau mengurangi kebebasan mengajukan kritik ataupun pendapat yang berbeda dengan yang dianut Presiden atau Wakil Presiden, karena adanya ketentuan ini, sebagaimana terjadi pada masamasa sebelumnya, selalu digunakan sebagai alat negara untuk membatasikebebasanberekspresimasyarakat. Olehkarenaitu,untukmelindungirakyatdalamkehidupanberbangsadanbernegara, terutama untuk melakukan kontrol terhadap para penyelenggara negara dalam melaksanakantugasnya,salahsatuhalyangharusdilakukanpenyusunRKUHPadalah melakukan demokratisasi KUHP. Hal ini dapat dilakukan dengan meniadakan kriminalisasipers54.Disampingitu,didalamRKUHPtersebuttidakperluadarestriksi restriksi yang dapat mengganggu upaya penyelenggaraan demokrasi dan kebebasan pers.

4. PelanggaranHAMBerat
Dalam RKUHP tindak pidana yang dikualifikasikan sebagai pelanggaran HAM berat ada dua macam, yaitu genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kedua jenis tindak pidana ini dimasukkan ke dalam Bab Tindak Pidana Yang Membahayakan KeamananUmum,Kesehatan,BarangdanLingkunganHidup. Kedua jenis tindak pidana ini merupakan tindak pidana baru yang diadopsi dari instrumen hukum internasional. Tindak pidana genosida diadopsi dari International

54

LeoBatubara,RevisiKUHPuntukRakyatatauPejabat?,Kompas,Kamis,06November

2003.

24

ConventiononthePreventionandPunishmentofTheCrimeofGenocide(9Desember1948)55. Perbuatan yang dilarang dalam ketentuan ini adalah suatu perbuatan yang semata matabertujuanmeniadakaneksistensisuatukelompokmasyarakatberdasarkanwarna kulit,agama,jeniskelamin,umur,ataucacatmentalataufisik.Namun,perbuatanyang bertujuanuntukmengasimilasikankelompoktersebutkedalammasyarakatIndonesia, sepertimelaluipendidikan,pembinaan,danlainlain,sebagaiusahameningkatkantaraf hidup agar mereka dapat berperan secara wajar dalam kehidupan masyarakat pada umunya,tidaktermasukdalamketentuanini56. SatulagitindakpidanabaruyangdikualifikasisebagaipelanggaranHAMberatadalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Kejahatan terhadap kemanusiaan ini diadopsi dari Rome Statute of the International Criminal Court 1998, melalui UU No. 26 tahun 2000. Perbuatan yang dilarang oleh ketentuan ini adalah pembunuhan; pemusnahan; perbudakan; pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa; perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenangwenang yang melanggar asasasas atau ketentuan pokok hukum internasional; penyiksaan; perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan, atau sterilisasi secara paksa atau bentukbentuk kekerasan seksual lain yang setara; penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasaripersamaanpahampolitik,ras,kebangsaan,etnis,budaya,agama,jeniskelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional; penghilangan orang secara paksa. Kejahatan apartheid, yang dilakukansebagaibagiandariseranganyangmeluasatausistematikyangdiketahuinya bahwaserangantersebutditujukansecaralangsungterhadappenduduksipil. Namun, walaupun mengenai pelanggaran HAM berat ini telah dimasukkan ke dalam RKUHP, ternyata tidak semua instrumen seharusnya dapat digunakan untuk melakukanpenegakanhukumterhadapduajenistindakpidanatersebuttidakdiaturdi dalamRKUHP,sepertimasalahcommandresponsibility,superiororder,danelementof crimes dari masingmasing tindak pidana tersebut. Implikasi dari hal ini adalah, walaupun ketentuan ini diadopsi dari instrumen hukum internasional, tetapi karena tidak disediakannya sarana untuk melakukan penegakan hukumnya, maka aparat penegak hukum akan kesulitan untuk melakukan penegakan hukum dari kedua jenis tindakpidanaini.

5. TindakPidanaPenyiksaan

Yang sebelumnya telah diadopsi oleh Rome Statute of the International Criminal Court 1998, dan selanjutnya diadopsi juga oleh Indonesia melalui UU No. 26 tahun 2000 tentang PengadilanHAM. 56PenjelasanPasal336RKUHP
55

25

Tindak pidana penyiksaan ini merupakan tindak pidana baru yang dimasukkan ke dalamRKUHP.TindakpidanainiterdapatdidalambabmengenaiTindakPidanayang Membahayakan Keamanan Umum Bagi Orang, Kesehatan, Barang dan Lingkungan Hidup.MenurutPasal345RKUHP,yangdimaksuddengantindakpidanapenyiksaan adalah setiap perbuatan yang menimbulkan penderitaan atau rasa sakit yang berat, baik fisik maupun mental terhadap seseorang dengan tujuan untuk memperoleh dari orang tersebut atau pihak ketiga informasi atau pengakuan, menjatuhkan pidana terhadap perbuatan yang telah dilakukannya atau dicurigai telah dilakukan atau dengan tujuan untuk melakukan intimidasi atau memaksa orangorang tersebut atau atasdasarsuatualasandiskriminasidalamsegalabentuknya. Perbuatan yang dilarang disini adalah suatu perbuatan yang tidak manusiawi yang mengakibatkan penderitaan berat bagi seseorang baik secara fisik maupun mental. Sedangkan yang menjadi pelaku tindak pidana dalam penyiksaan ini adalah setiap pejabat publik atau orangorang lain yang bertindak dalam suatu kapasitas pejabat resmiatausetiaporangyangbertindakkarenadigerakkanatausepengetahuanseorang pejabatpublik. Ketentuan yang tercantum dalam Pasal ini mengatur tindak pidana yang dikenal dengan nama Torture. Tindak pidana ini sudah menjadi salah satu tindak pidana internasionalmelaluiInternationalConventionagainstTortureandotherCruel,InHumanor Degrading Treatment or Punishment, 10 December 1984. Indonesia sebagai anggota Perserikatan BangsaBangsa telah meratifikasi konvensi ini dengan Undangundang Nomor5Tahun1998,olehkarenaituperbuatantersebutdalamKitabUndangundang HukumPidanainidikategorikansebagaisuatutindakpidana.

6. TindakPidanaKesusilaan
Tindak Pidana Kesusilaan dimasukkan ke dalam Bab Tindak Pidana Kesusilaan. Ketentuan mengenai Tindak Pidana Kesusilaan mencakup dua jenis tindak pidana, yaitu tindak pidana kesusilaan dan perzinahan (permukahan). Perbuatanperbuatan yangdikualifikasikansebagaitindakpidanakesusilaan,antaralain; Setiapperbuatanmelanggarkesusilaandimukaumum. Setiapperbuatanyangmembuattulisan,suaraataurekamansuara,filmatauyang dapatdisamakandenganfilm,syairlagu,puisi,gambar,foto,dan/ataulukisanyang mengeksploitasidayatarikbagiantubuhtertentuyangsensualdariorangdewasa. Setiapperbuatanyangmembuattulisan,suaraataurekamansuara,filmatauyang dapatdisamakandenganfilm,syairlagu,puisi,gambar,fotodan/ataulukisanyang mengeksploitasidayatarikketelanjangantubuh. Setiapperbuatanyangmembuattulisan,suaraataurekamansuara,filmatauyang dapatdisamakandenganfilm,syairlagu,puisi,gambar,foto,dan/ataulukisanyang

26

mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagianbagian tubuh orang yang menari erotisataubergoyangerotis. Setiapperbuatanyangmembuattulisan,suaraataurekamansuara,filmatauyang dapatdisamakandenganfilm,syairlagu,puisi,gambar,foto,dan/ataulukisanyang mengeksploitasidayatarikaktivitasorangyangberciumanbibir. Setiap perbuatan Setiap orang yang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang melakukan masturbasiatauonani. Setiapperbuatanyangmembuattulisan,suaraataurekamansuara,filmatauyang dapatdisamakandenganfilm,syairlagu,puisi,gambar,foto,dan/ataulukisanyang mengeksploitasidayatarikaktivitasorangdalampertunjukanseks. Setiap perbuatan yang menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan, atau menempelkan tulisan, suara, atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan denganfilm,syairlagu,puisi,gambar,foto,dan/ataulukisanyangmengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa melalui media massacetak,mediamassaelektronikdan/ataualatkomunikasimedia.

Perbuatanperbuatan sebagaimana disebutkan di atas dikenal sebagai perbuatan pornografi/pornoaksi. Salah satu ketentuan yang perlu mendapat perhatian adalah dicantumkannya ketentuan berciuman bibir di tempat umum sebagai delik biasa. Menurutketentuanini,aparatpenegakhukumberhakmenangkapdanmengajukanke pengadilan siapa pun yang ketahuan melakukan perbuatan ini. Hukuman yang diancamkanterhadapperbuatanberciumandimukaumuminiadalah10tahunpenjara. Permasalahannya kemudian adalah dalam hal penegakan hukumnya, karena RKUHP ini tidak memberikan kekecualian bagi siapa pun, termasuk orang asing di Indonesia. Bagaimana dengan pelaksanaan soal ini di daerah wisata, dimana banyak orang atau turisasingberciumanbibir.Karenamemangdinegaranyaberciumanbibirmerupakan suatuperbuatanyangbiasa,bukantindakpidana. Disampingitu,ketentuanyangdiaturdidalambabtindakpidanakesusilaanini,sudah memasukiwilayahprivatbagisetiaporangyangberadadiwilayahIndonesia. Selanjutnya,tindakpidanalainyangtermasuksebagaitindakpidanakesusilaanadalah perzinahan(permukahan)57.Yangdimaksudsebagaiperzinahan(permukahan)adalah: Seorang Pria atau wanita yang melakukan persetubuhan dengan orang lain yang bukansuaminyaatauisterinya; Seseorangyangmelakukanpersetubuhandenganorangyangsudahkawin.

Selain kedua tindak pidana yang dibahas disini, Bab Mengenai Tindak Pidana Kesusilaanjugamengaturmengenaipelacuran,kumpulkebo,perkosaan,incestdanpencabulan.
57

27

Dalam RKUHP tindak pidana perzinahan (permukahan) ini dikualifikasikan sebagai delikaduan58.Artinyaterhadappelakunyabaruakandilakukanpenuntutanatasdasar adanya pengaduan suami, istri, atau pihak ketiga yang tercemar. Delik perzinahan ini dikategorikan sebagai delik aduan, karena adanya beberapa daerah di Indonesia yang mentolerirperbuatandemikian. Selain kedua tindak pidana yang dibahas disini, Bab mengenai Tindak Pidana Kesusilaan juga mengatur mengenai pelacuran, kumpul kebo, perkosaan, incest dan pencabulan. Namun, ketentuanketentuan yang diatur dalam bab Tindak Pidana Kesusilaan masih mengandung beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian serius,yaitu: a. Delikdelik yang dirumuskan dalam Bab Tindak Pidana Kesusilaan mengindikasikan adanya pembatasan terhadap hakhak pribadi warga negara, terutamadalamhubunganprivatnya. b. DelikdelikyangdirumuskandalamBabTindakPidanaKesusilaanmengindiksikan campurtangannegarayangcukupbesarterhadapkehidupanwarganegaranya. Oleh karena itu, dalam Tindak Pidana Kesusilaan ini seharusnya negara tidak terlalu turutcampurdalamkehidupanwarganegaranya.Sehingga,pembatasanterhadaphak hakprivatwarganegaradapatdikurangiataubahkanditiadakan.
Latar belakang dijadikannya perzinahan (permukahan) sebagai delik aduan adalah bahwa perbuatan tersebut tidak hanya mengenai orang yang bersangkutan, tetapi juga merupakan hal yang penting bagi negara. Jadi, tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi, tetapijugakepentinganumum.LengkapnyalihatBardaNawawiArief,BungaRampaiKebijakan HukumPidana,CitraAdityaBhakti,Bandung,1996,hal280281.
58

28

IV. KesimpulandanRekomendasi

29