Anda di halaman 1dari 10

Panas-Dingin Keberadaan

Hubungan Kelompok

AS-Pakistan Terkait di Taliban

Semenjak Tragedi nine eleven

Perbatasan Afghanistan dan Pakistan

Oleh: Palar Siahaan (0806352372)

Latar Belakang Pakistan merupakan negara berdaulat di kawasan Asia Selatan yang berbatasan langsung dengan India (sebelah timur), Cina (di sebelah utara), dan Afghanistan (di sebelah barat). Pakistan juga merupakan negara Islam dengan kekuatan militer yang besar. Bahkan Pakistan juga disebut sebagai negara military dominant yaitu negara yang kekuatan militernya besar dan berperan aktif dalam ranah politik dan pemerintahan. Semenjak memisahkan diri dari India pada Agustus 1947 oleh peran kolonialisme Inggris, Pakistan terus menjadi negara yang bertentangan baik secara ideologi, politik, terutama agama dengan India sehingga turut mempengaruhi keamanan kawasan Asia Selatan.1 Awalnya, ketegangan antara Pakistan dan India hanya bersifat internal kawasan Asia Selatan. Namun, konflik yang terjadi berulang antara Pakistan dan India semakin dikenal karena adanya peran Amerika Serika (AS) terkait kepentingan negara Paman Sam yang cukup besar di Asia Selatan. Adapun kepentingan AS tersebut ialah menjalin kerjasama dengan semua negara Asia Selatan serta mengadakan cooperation in the war on terrorism, menerapkan institusi demokrasi, mengupayakan pertumbuhan ekonomi, juga termasuk di dalamnya meredakan tensi antara Pakistan dan India.2 Selain itu, AS juga berusaha keras menjalin kerjasama keamanan dengan Pakistan guna mengamankan daerah Asia Selatan dan juga perbaikan politik di Afghanistan. Dari semua kepentingan tersebut, sudah menjadi rahasia
1

Perlu diingat bahwa India dan Pakistan dipertimbangkan oleh dunia internasional sebagai dua pemain utama kawasan Asia Selatan. Selain karena kekuatan militer yang besar yang didukung oleh kepemilikan senjata nuklir, India dan Pakistan secara historis merupakan ujung tombak kawasan tersebut.
2

Assistant Secretary of State for South Asian Affairs Christina Rocca before the House of Representatives International Relations Committee Subcommittee on Asia and Pacific, March 20, 2003, as reported at http://usinfo.state.gov

umum bahwa kepentingan AS di Pakistan ialah terkait terorisme; AS sempat sangat geram pada tragedi nine eleven pada 11 September 2001. Kekhawatiran AS diperkuat oleh pergerakan Taliban ekstrem yang menganut ideologi keras dan anti ideologi modern. Taliban membangun pergerakan Islam radikal di daerah Pakistan termasuk Afghanistan. Taliban juga dianggap telah melindungi Osama bin Laden sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas peristiwa nine eleven. Dalam hal ini, penulis ingin memaparkan dampak yang terjadi kepada hubungan Pakistan dan AS terkait keberadaan kelompok taliban, pasalnya, kelompok teroris tersebut tersebar mulai dari daerah Afghanistan bagian selatan dan timur hingga Pakistan. Yang menarik ialah bahwa di satu sisi Pakistan dituding oleh dunia internasional terutama AS sebagai negara teroris sementara di sisi lain Pakistan juga menjadi korban serangan yang gencar dilakukan kelompok Taliban yang didukung jaringan al-Qaeda. Faktanya, pemerintah Pakistan dan dunia internasional berusaha keras untuk melumpuhkan bahkan menghancurkan kelompok Taliban tersebut yang bermarkas di daerah perbatasan Afghanistan dan Pakistan. AS sendiri akhirnya bersedia membantu Pakistan karenaTaliban berusaha menguasai perbatasan kedua negara Afghanistan dan Pakistan.3 Dengan demikian, yang menjadi pusat perhatian penulis dalam tulisan ini ialah Bagaimana dampak keberadaan kelompok Taliban di perbatasan Afghanistan dan Pakistan terhadap hubungan Pakistan dan AS, serta bagaimana kerjasama yang dilakukan ASPakistan dalam memerangi kelompok Taliban?

Deskripsi Hubungan AS dan Pakistan Secara historis sejak memperoleh kemerdekaan pada tanggal 14 Agustus 1947, Pakistan mengalami hubungan yang pasang-surut dengan AS. Contohnya, setelah sempat berhubungan harmonis sejak 2001, pada tahun 2008 hubungan tersebut kembali tegang terkait isu penangkapan agen CIA Raymon Davis yang dituding membunuh dua warga Pakistan.4 Setelah masalah ini selesai, hubungan kedua negara kembali memanas pada tahun 2011 terkait
3

Profil Taliban diakses dari http://www.republika.co.id/berita/41441/Profile_Taliban

CIA Makin Larut dalam Hubungan AS-Pakistan diakses dari http://www.suaramedia.com/berita-dunia/asia/12970-cia-makin-larut-dalam-hubungan-aspakistan.html

pembunuhan Osama bin Laden. Osama yang merupakan gembong al-Qaeda dinyatakan tewas terbunuh saat pasukan AS menyergapnya di kota Abottabad, Pakistan. AS spontan mengkritik Pakistan terlalu lemah dan menerapkan standar ganda karena Osama bisa berada di dalam Pakistan. AS pun menuding Pakistan telah bermain mata dengan jaringan terorisme.5 Tudingan tersebut lantas memicu reaksi keras Pakistan dan hubungan kedua negara kembali panas. Saat ini, ketegangan antara kedua negara telah mereda, akan tetapi eskalasi ketegangan diproyeksikan akan kembali terjadi karena berbagai hal, seperti isu Kashmir yang melibatkan Pakistan dan India (sekutu AS), isu nuklir yang juga merupakan sala satu isu prioritas AS, dan juga isu terorisme yang hingga saat ini tidak terselesaikan.

Politik Luar Negeri dan Keamanan AS (masa pemerintahan Barrack Obama) Politik Luar Negeri dan Keamanan suatu negara bersifat dimanis, tidak pernah sama. Dalam tulisan ini, penulis mengambil fokus pada masa pemerintahan Obama karena masa pemerintahan AS saat pemerintahan Obama dianggap paling jelas mengalami perubahan. Jika sebelumnya AS sangat suka menggunakan hard power dalam menjalankan politik LN, sejak pemerintahan Obama AS justru lebih suka menggunakan soft power. Hanya saja, prioritas kebijakan LN AS tidaklah berubah. Adapun priorotas utama Kebijakan LN dan Keamanan AS di kawasan Asia Selatan ialah masalah terorisme.6 Berdasarkan Sekretaris Negara Christina Rocca, kebijakan tersebut diambil karena AS sangat geram dengan peristiwa nine eleven.7 Kebijakan AS lainnya membahas isu nuklir yang dimiliki oleh Pakistan. Senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) ini sempat menjadi ketakutan terbesar AS karena Pakistan bisa saja memulai perang nuklir yang pertama di kawasan Asia Selatan dan dunia, pasalnya India (yang merupakan seteru abadi Pakistan) juga memiliki senjata nuklir. Pakistan berdalih bahwa kepemilikan senjata nuklir adalah sebagai penyeimbang kekuatan (balance of power) agar tidak
5

Menganalisa Politik Tarik Ulur Pakistan-AS diakses dari http://indonesian.irib.ir/telisik/-/asset_publisher/k0Z8/content/id/4914156


6

South Asia: The United States Foreign Policy Predicaments diakses dari http://www.southasiaanalysis.org/%5Cpapers20%5Cpaper1968.html
7

John E. Peters, War and Escalation in South Asia, (RAND, 2006), hlm. 5

diserang oleh India maupun negara-negara lain. Akan tetapi, pernyataan tersebut disambut kekhawatiran besar oleh AS; AS khawatir jika Pakistan menjadi negara nakal yang menjual senjata nuklir dengan teroris, dalam hal ini Taliban. Opsi lain kekhawatiran AS ialah bahwa Pakistan tidak cukup mapan dalam menjaga senjata nuklirnya jika Taliban menyerang dan berusaha mengambilnya.8 Kebijakan AS lainnya ialah membangun stabilitas keamanan di Afghanistan yang notabene berbatasan langsung dengan Pakistan. Upaya ini sendiri didukung oleh Pakistan karena situasi Afghanistan yang tidak stabil akan berdampak langsung dengan keamanan Pakistan. AS juga mengupakan dialog perjanjian damai antara Pakistan dengan India. Pakistan dan India terlibat dalam perseteruan panas terutama terkait isu Jamu dan Kashmir di mana baik Pakistan maupun India masing-masing mengklaim bahwa Jamu-Kashmir adalah wilayah negaranya.

Kecurigaan AS dan NATO terhadap Pakistan9 Mengapa AS dan NATO memberikan sikap curiga kepada pemerintahan Pakistan? Berdasarkan beberapa pemberitaan tentang tidak stabilnya hubungan kerjasama antara Pakistan dan AS, dapat dilihat melalui berbagai tema dan judul berita. Dari sana kita dapat mengambil kesimpulan apa sebetulnya pandangan Barat terhadap Pakistan sekarang ini dalam hal perang melawan Terorisme dunia. Pada tahun 2007, sebetulnya Intelejen AS telah mendapatkan gambaran jelas bahwa orang paling dicari di seluruh dunia, Osama bin Laden melarikan diri dari pasukan AS dan Inggris dengan bantuan seorang panglima perang Pakistan perlindungan di timur laut Afghanistan. Laksamana Mullen menuduh pejabat intelijen Pakistan ISI melindungi pejuang dari kelompok Jalaluddin Haqqani, yang menjadi sekutu Taliban, yang telah lama menjabat sebagai perpanjangan tangan militer Pakistan dan intelijen di Afghanistan. membawa dia ke dalam

Ibid

Soal Teroris: Pakistan Maju Kena, Mundur Kena..! diakses dari http://politik.kompasiana.com/2011/05/06/soal-teroris-pakistan-maju-kena-mundur-kena/

Komandan Amerika di Afghanistan timur mengatakan mereka telah membunuh atau menangkap lebih dari 5.000 militan di tahun lalu. Namun pejuang Taliban Pakistan terus melintasi perbatasan dari ke Paktia dan Khost di Afghanistan. Inilah yang membuat marah AS kata Mullen. Mullen mengatakan kepada sebuah surat kabar Pakistan bahwa hubungan yang dijalin dinas intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), dengan jaringan Haqqani menjadi inti permasalahan hubungan antara Pakistan dengan Amerika Serikat. Menurut berita yang dilansir Wall Street Journal, AS telah menyediakan miliaran dolar bantuan pembangunan dan militer untuk Pakistan sebagai balasan atas dukungannya untuk perang Afghanistan, tapi beberapa pejabat Pakistan mengacaukan strategi itu. Bahkan Agen Intelijen Pakistan (ISI) dilaporkan menekan komandan-komandan Taliban untuk berperang melawan AS dan sekutu-sekutunya di Afghanistan. Pakistan kabarnya mendukung rencana memperbolehkan Taliban membuka kantor politik di Turki untuk membantu proses dialog guna mengakhiri perang di Afghanistan. Hal itu disampaikan seorang pejabat Pakistan saat Presiden Pakistan Asif Ali Zardari berkunjung ke Ankara, Kamis, 14 April 2011. Pakistan dan Afghanistan menjadi inkubator yang menetaskan terorisme dan merupakan ancaman bagi negara-negara persemakmuran independen (CIS - asosiasi negaranegara pecahan Uni Soviet), kata kepala dinas keamanan Rusia. Direktur Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia Alexander Bortnikov menyampaikan hal tersebut dalam sebuah konferensi pers pada pengujung pertemuan para pemimpin dinas keamanan dan intelijen CIS yang berlangsung di Dushanbe, Tajikistan. Informasi lainnya yang berhasil didapatkan intelejen AS adalah adanya laporan bahwa pemimpin Taliban Mullah Omar menjalani operasi bedah jantung di sebuah rumah sakit di Karachi, Pakistan, dengan bantuan dari dinas inteijen Pakistan. Meskipun berita ini ditampik oleh Duta Besar Pakistan untuk AS Hussain Haqqani yang menyebut laporan iu sama sekali tidak berdasar, tetap saja Barat menuduh Pakistan belum dapat beridiri di atas dua kakinya dalam hal kerjasama memerangi terorisme. Seorang pejabat NATO yang megklaim bahwa pemimpin tertinggi Al-Qaeda tersebut hidup nyaman di sebelah barat laut Pakistan, sang duta besar mengatakan, AS semestinya 5

berbagi data intelijen dengan pemerintah Pakistan jika Osama bin Laden disebut bersembunyi di suatu tempat di Pakistan.

Respon AS terhadap Terorisme Dalam merespon terorisme, kalkulasi kebijakan keamanan, pertahanan, dan luar negeri AS dapat dikatakan berubah secara signifikan, yang pada gilirannya telah mempengaruhi konstelasi politik internasional. Pertama dengan sikapnya yang keras, AS tampaknya ingin melahirkan semacam struktur "bipolar" baru yang memperumit pola-pola hubungan antar negara. Pernyataan Presiden George W. Bush, "either you are with us or you are with the terrorists," secara hitam putih menggambarkan dunia yang terpilah dalam sebuah pertarungan antara kekuatan baik (good) dan kekuatan jahat (evil). Pemilahan dunia demikian mempersulit posisi banyak negara, khususnya negara-negara pasca kolonial yang tidak ingin dipersepsikan oleh konstituennya berada dalam orbit AS. Lagipula, tampaknya sulit bagi AS untuk menerima pendapat negara-negara lain bahwa perang melawan terorisme tidak harus dilakukan dibawah pimpinan AS. Sementara itu bagi banyak negara berkembang, masalah kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan, dan konflik antar-etnik dilihat lebih berbahaya ketimbang masalah terorisme sebagai ancaman utama bagi kelangsungan hidup mereka sebagai sebuah negara. Kedua, tragedi 11 September juga telah membuka kemungkinan berubahnya

parameter yang gunakan AS dalam menilai sebuah negara. Sekarang ini, AS cenderung lebih hirau kepada masalah terorisme ketimbang isyu demokrasi dan hak asasi manusia (HAM). Kenyataan bahwa Presiden Pervez Musharraf di Pakistan naik ke panggung kekuasaan melalui kudeta militer, misalnya, tidak lagi menjadi penghalang bagi AS untuk menjalin aliansi anti-terorisme dengan negara itu. Dengan kata lain, AS tampaknya cenderung menjadikan komitmen melawan terorisme, ketimbang komitmen terhadap demokrasi dan HAM, sebagai alat menilai siapa lawan dan kawan. Akibatnya, telah terjadi pergeseran agenda global dari demokrasi dan HAM menjadi perang khususnya terorisme yang dianggap mengancam kepentingan dan keamanan AS secara langsung.

Ketiga, ditambah dengan adanya kecenderungan yang mengaitkan Islam dengan terorisme di kalangan para pengambil kebijakan di AS, tatanan politik global semakin diperumit oleh ketegangan antara AS dengan negara-negara Islam ataupun negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Kehati-hatian dari negara-negera berpenduduk mayoritas Muslim dalam merespon persoalan terorisme ini kerap menimbulkan kecurigaan dari AS, dan bahkan tidak jarang melahirkan tekanan-tekanan politik yang tidak mudah untuk dihadapi. Akibatnya, pemerintah di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim kerap dihadapkan kepada dilema antara "kewajiban" memberantas terorisme di satu pihak dan keharusan untuk menjaga hak-hak konstituen domestik di lain pihak. Dengan kata lain, kebijakan "perang terhadap terorisme" yang dijalankan AS telah menimbulkan keteganganketegangan baru dalam hubungan antara pemerintah dan kelompok-kelompok Islam di banyak negara Muslim. Sampai sekarang, AS tampaknya masih mengalami kesulitan dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan perang melawan terorisme yang tidak menimbulkan komplikasi dalam hubungannya dengan dunia Islam. Keempat, untuk mengantisipasi kemungkinan serangan-serangan teroris di masa depan, AS juga telah mengadopsi sebuah doktrin baru, yakni doktrin preemption. Melalui doktrin ini, AS secara sepihak memberikan hak kepada dirinya sendiri untuk mengambil tindakan terlebih dahulu, khususnya melalui tindakan militer unilateral, untuk menghancurkan apa yang dipersepsikannya sebagai kemungkinan ancaman teror terhadap kepentingan AS di mana saja. Doktrin preemption tersebut jelas meresahkan banyak negara, dan dapat mengubah tatanan, nilai dan norma-norma hubungan antar-negara secara fundamental. Dalam konteks doktrin preempition dan kecenderungan unilateralis itu, prinsip kedaulatan negara, arti penting dan peran institusi-institusi multilateral seperti PBB dan organisasi regional, serta ketentuan-ketentuan hukum internasional dapat saja diabaikan. Dengan kata lain, unilateralisme AS, yang didukung dengan kekuatan ekonomi dan militer yang tidak tertandingi, akan menjadi faktor penentu yang sangat dominan bagi tatanan politik global di waktu mendatang. Kelima, AS kini tampil sebagai negara adidaya tunggal yang sangat yakin bahwa pendekatan militer merupakan pendekatan terbaik dalam memenuhi dan melindungi kepentingan-kepentingan keamanannya. Aksi serangan militer ke Afghanistan, dan invasi ke Irak, merupakan contoh nyata dari keyakinan demikian. Penekanan kepada pendekatan militer itu terlihat juga melalui peningkatan anggaran pertahanan yang signifikan sejak 7

11 September, peran Pentagon yang dominan dalam menjalankan kebijakan luar negeri, dan peningkatan bantuan militer kepada pemerintah di negara-negara yang diharapkan AS dapat menjadi mitra dalarn perang melawan terorisme, seperti Pakistan, Filipina, dan negara lainnya di Timur Tengah. Kecenderungan demikian juga terlihat dalam upayanya membangun koalisi internasional melawan terorisme, dimana AS tidak segan-segan mengucurkan dana milyaran dolar untuk memperkuat hubungan militer dengan negaranegara yang diharapkan dapat menjadi mitra dalam perang terhadap terorisme. Bagi AS, upaya untuk menghancurkan kelompok-kelompok yang dituduh menjadi organisasi teroris tampaknya jauh lebih penting ketimbang mencari dan menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya terorisme itu sendiri. Serangan teroris terhadap AS dalam tragedi nine eleven juga telah mengubah Politik LN dan Keamanan AS yang sebelumnya ramah menjadi keras. Pernyataan Presiden Bush saat itu, "either you are with us or you are with the terrorists," menggambarkan dengan jelas bahwa AS ingin menjadikan terorisme sebagai musuh internasional.10 Selain itu, dapat pula disimpulkan bahwa musuh utama Barat terutama AS pasca tragedi 11 September ialah Islam militan, dan defenisi Islam militan dapat meluas ke mana saja, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, baik radikal maupun fundamental.11

Kerjasama AS-Pakistan Dalam Memerangi Taliban Sebelum menjalin kerjasama, dua atau lebih negara harus memiliki kepentingan (interest) yang sama, begitu juga persepsi negara-negara tersebut terhadap kepentingannya, haruslah sama. Untuk itu, perlu kita ketahui pandangan Pakistan terhadap Taliban. Taliban ditetapkan oleh Barat sebagai kelompok teroris dan merupakan al-Qaeda dalam bentuk berbeda di perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Pandangan umum melihat bahwa
10

Keamanan Internasional Pasca 11 September: Terorisme, Hegemoni AS, dan Implikasi Regional, diakses dari http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=kerjasama%20aspakistan%20melawan%20terorisme&source=web&cd=8&ved=0CEcQFjAH&url=http%3A %2F%2Fwww.lfip.org%2Fenglish%2Fpdf%2Fbali-seminar%2FKeamanan%2520Intl%2520%2520rizal %2520sukma.pdf&ei=PToQT8eKFsXsrAe3gon7AQ&usg=AFQjCNHMINyYa8yvz0eMIM4QX0A 9rbX-Og&sig2=Ex0yqCfcyruQupY_HPwWEg&cad=rja
11

Herdi Sahrasad, Bush, Huntington, dan Indonesia, diakses dari http://www.tempo.co/read/news/2006/11/20/05588032/Bush-Huntington-dan-Indonesia

Pakistan sendiri tidak terlalu mengkhawatirkan keberadaan Taliban. Sebaliknya, Pakistan justru menganggap India lebih berbahaya dari al-Qaeda.12 AS sendiri menuding Pakistan memainkan peran ganda, yakni mendekati Barat dan AS sekaligus mendekati Taliban untuk kepentingan dalam negerinya. Kenyataannya, Pakistan juga tidak luput dari serangan taliban. Taliban tidak jarang menyerang kantor-kantor pemerintahan, mengebom, dan menewaskan banyak warga sipil Pakistan. Selain itu, menurut pakar Asia Selatan Conrad Shetter, Pakistan mempunyai kepentingan yang besar di Afghanistan sebagai pendukung dan saudara yang bertetangga/berbatasan langsung. Pakistan dinilai membutuhkan Afghanistan sebagai sekutu melawan India.13 Akan tetapi, Afghanistan tidak akan memberi dukungan jika masih menjadi arena tempur AS-Taliban. Oleh karena itu, Pakistan dengan setengah hati menerima tawaran AS untuk bekerjasama melawan Taliban di Afghanistan, bahkan Pakistan menjadi negara garis depan yang memimpin upaya AS tersebut di wilayah Asia Selatan. Bentuk kerjasama AS-Pakistan dalam melawan Taliban ialah berupa bantuan ekonomi, militer, dan military assistance oleh AS kepada Pakistan. Bantuan ekonomi yang diberikan AS ialah dalam bentuk investasi atau yang dikenal denan US Foreign Direct Investment (US FDI). Pakistan dan negara-negara Asia Selatan lainnya menerima ratusan juta dolar setiap tahunnya.

Gambar: US FDI pada tahun 199-2002 (dalam puluh-juta dolar Amerika)14

12

Diakses dari http://international.okezone.com/read/2011/06/22/413/471403/pakistananggap-india-lebih-bahaya-dari-al-qaeda


13

Peristiwa 9/11: Pakistan Mainkan Peran Ganda? diakses dari http://www.dwworld.de/dw/article/0,,15295771,00.html


14

Op. Cit., John. E. Peters, hlm. 10

Selain bantuan ekonomi, AS juga memberikan military assistance kepada pasukan Pakistan. Military assistance tersebut terdiri dari dua bentuk: bantuan ekonomi dalam bentuk investasi seperti dalam gambar di atas, dan pelatihan pasukan untuk berperang melawan Taliban di lapangan.15 Bantuan AS dalam bidang military assistance semakin signifikan sejak tahun 2003 di mana AS telah memperhitungkan Pakistan sebagai negara kunci pencapaian kepentingannya di Asia Selatan.

Kesimpulan Pakistan dan Amerika Serikat mempunyai hubungan yang terus berubah-ubah. Kemudian, munculnya isu terorisme yand ditandai oleh tragen 11 September menjadikan hubungan kedua negara kembali Panas. Baik AS maupun Pakistan memiliki pandangannya masing-masing mengenai terorisme, dalam hal ini Taliban di Pakistan. AS melihat keberadaan Taliban di Pakistan sebagai ancaman keamanan internasional karena kedekatannya dengan Taliban di Afghanistan dan mengganggu upaya AS untuk membangun institusi demokrasi di Afghanistan. Masih terkait isu keamanan, AS juga khawatir jika kawasan Asia Selatan khususnya India yang merupakan sekutu terkena imbas keganasan kelompok Taliban. Yang menjadi ketakutan terbesar AS ialah jika suatu saat senjata nuklir Pakistan jatuh ke tangan Taliban, terlepas dari adanya perdagangan senjata Pakistan-Taliban maupun pencurian. Sementara itu, Pakistan tidak terlalu khawatir dengan keberadaan Taliban. Pakistan tidak beranggapan Taliban akan menyerangnya. Sebaliknya, yang menjadi ancaman utama Pakistan ialah India yang secara historis memiliki rekam jejak hubungan buruk dan pernah terlibat tiga kali perang fisik dengan Pakistan pada tahun 1947, 1971, dan 1999. Adanya perbedaan persepsi tersebut membuat AS berpikir bahwa Pakistan memainkan peran ganda dan tidak mampu menjaga diri dari Taliban. Keadaan demikianpun kembali memperlebar jarak antara AS dan Pakistan. Adapun kerjasama keamanan yang dijalin kedua negara kembali rusak mengingat terbunuhnya Osama bin Laden saat penyergapan pasukan AS di kota Abottabad, Pakistan.

15

Ibid

10