P. 1
6 Agung Nugroho, Mei 2011, REVISI SisInf Trafo GI (A4S)

6 Agung Nugroho, Mei 2011, REVISI SisInf Trafo GI (A4S)

|Views: 239|Likes:
Dipublikasikan oleh marganasmr
Abstrak
Konsumsi tenaga listrik setiap tahunnya terus meningkat sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonominasional. Oleh karena itu, prakiraan kebutuhan listrik jangka panjang sangat diperlukan agar dapat menggambarkan kondisi kelistrikan saat ini dan masa datang. Dengan diketahuinya perkiraan kebutuhanlistrik jangka panjang antara tahun 2009 hingga tahun 2014, akan dapat direncanakan pengembangan sarana penyediaan dan penyaluran tenaga listrik selama kurun waktu tersebut. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dipengaruhi besarnya aktivitas dan intensitas penggunaan tenaga listrik. Aktivitas penggunaan tenaga listrik berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tingkat perekonomian dan jumlah penduduk serta jumlah rumah tangga. Semakin tinggi tingkat perekonomian akan menyebabkanaktivitas penggunaan tenaga listriknya semakin tinggi, begitu juga untuk jumlah penduduk. Pertumbuhan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) merupakan pemicu pertumbuhan aktivitas penggunaan tenagalistrik. Data pengusahaan tenaga listrik meliputi data jumlah pelanggan, daya tersambung, energi terjual dan jumlah penduduk serta jumlah rumah tangga, dari pelanggan rumah tangga, bisnis, industri dan umum. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dilakukan dengan model DKL.Sistem Informasi mencakup komponen manusia, komputer, teknologi informasi, dan prosedur kerja;diaplikasikan untuk proses perkiraan kebutuhan tenaga
Melalui sistem informasi, dikelola keterkaitan antar variabel pengusahaan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk dalam prakiraan kebutuhan tenaga listrik. Hasil prakiraan mengarahkan pengambilan keputusan, antara lain persiapan pengadaan sarana tenaga listrik seperti pengembangan transformator gardu induk. Hasil analisamenggunakan model Capacity Balance pada UPJ Semarang Tengah yang dicatu gardu induk Tambaklorok dan Kalisari untuk tahun 2005-2014, menunjukkan waktu pengembangan transformator gardu induk.
Kata kunci: tenaga listrik, prakiraan, sistem informasi
Abstrak
Konsumsi tenaga listrik setiap tahunnya terus meningkat sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonominasional. Oleh karena itu, prakiraan kebutuhan listrik jangka panjang sangat diperlukan agar dapat menggambarkan kondisi kelistrikan saat ini dan masa datang. Dengan diketahuinya perkiraan kebutuhanlistrik jangka panjang antara tahun 2009 hingga tahun 2014, akan dapat direncanakan pengembangan sarana penyediaan dan penyaluran tenaga listrik selama kurun waktu tersebut. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dipengaruhi besarnya aktivitas dan intensitas penggunaan tenaga listrik. Aktivitas penggunaan tenaga listrik berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tingkat perekonomian dan jumlah penduduk serta jumlah rumah tangga. Semakin tinggi tingkat perekonomian akan menyebabkanaktivitas penggunaan tenaga listriknya semakin tinggi, begitu juga untuk jumlah penduduk. Pertumbuhan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) merupakan pemicu pertumbuhan aktivitas penggunaan tenagalistrik. Data pengusahaan tenaga listrik meliputi data jumlah pelanggan, daya tersambung, energi terjual dan jumlah penduduk serta jumlah rumah tangga, dari pelanggan rumah tangga, bisnis, industri dan umum. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dilakukan dengan model DKL.Sistem Informasi mencakup komponen manusia, komputer, teknologi informasi, dan prosedur kerja;diaplikasikan untuk proses perkiraan kebutuhan tenaga
Melalui sistem informasi, dikelola keterkaitan antar variabel pengusahaan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk dalam prakiraan kebutuhan tenaga listrik. Hasil prakiraan mengarahkan pengambilan keputusan, antara lain persiapan pengadaan sarana tenaga listrik seperti pengembangan transformator gardu induk. Hasil analisamenggunakan model Capacity Balance pada UPJ Semarang Tengah yang dicatu gardu induk Tambaklorok dan Kalisari untuk tahun 2005-2014, menunjukkan waktu pengembangan transformator gardu induk.
Kata kunci: tenaga listrik, prakiraan, sistem informasi

More info:

Published by: marganasmr on Mar 09, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2015

pdf

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No.

2 Mei 2011 ; 63 - 71

SISTEM INFORMASI PENGEMBANGAN TRANSFORMATOR GARDU INDUK DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK
Agung Nugroho Jurusan Teknik Elektro, FT. UNDIP Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH, Tembalang, Semarang 50329 Telp. Abstrak Konsumsi tenaga listrik setiap tahunnya terus meningkat sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, prakiraan kebutuhan listrik jangka panjang sangat diperlukan agar dapat menggambarkan kondisi kelistrikan saat ini dan masa datang. Dengan diketahuinya perkiraan kebutuhan listrik jangka panjang antara tahun 2009 hingga tahun 2014, akan dapat direncanakan pengembangan sarana penyediaan dan penyaluran tenaga listrik selama kurun waktu tersebut. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dipengaruhi besarnya aktivitas dan intensitas penggunaan tenaga listrik. Aktivitas penggunaan tenaga listrik berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tingkat perekonomian dan jumlah penduduk serta jumlah rumah tangga. Semakin tinggi tingkat perekonomian akan menyebabkan aktivitas penggunaan tenaga listriknya semakin tinggi, begitu juga untuk jumlah penduduk. Pertumbuhan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) merupakan pemicu pertumbuhan aktivitas penggunaan tenaga listrik. Data pengusahaan tenaga listrik meliputi data jumlah pelanggan, daya tersambung, energi terjual dan jumlah penduduk serta jumlah rumah tangga, dari pelanggan rumah tangga, bisnis, industri dan umum. Prakiraan kebutuhan tenaga listrik dilakukan dengan model DKL. Sistem Informasi mencakup komponen manusia, komputer, teknologi informasi, dan prosedur kerja; diaplikasikan untuk proses perkiraan kebutuhan tenaga listrik. Melalui sistem informasi, dikelola keterkaitan antar variabel pengusahaan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk dalam prakiraan kebutuhan tenaga listrik. Hasil prakiraan mengarahkan pengambilan keputusan, antara lain persiapan pengadaan sarana tenaga listrik seperti pengembangan transformator gardu induk. Hasil analisa menggunakan model Capacity Balance pada UPJ Semarang Tengah yang dicatu gardu induk Tambaklorok dan Kalisari untuk tahun 2005-2014, menunjukkan waktu pengembangan transformator gardu induk. Kata kunci : tenaga listrik, prakiraan, sistem informasi

1. Pendahuluan
Pada dasarnya perkiraan kebutuhan energi - termasuk tenaga listrik - selalu dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan masa mendatang, dan menciptakan strategi pengadaannya. Pertumbuhan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) dan pertumbuhan penduduk merupakan pemicu pertumbuhan aktivitas penggunaan tenaga listrik pada sektor rumah tangga, bisnis, umum dan industri. Penggunaan tenaga listrik di sektor rumah tangga dipengaruhi oleh jumlah penduduk, dan laju pertumbuhannya yang

tinggi serta dipicu oleh ratio elektrifikasi dari berbagai daerah yang masih relatif rendah. Berdasarkan publikasi, masih ada wilayah di Indonesia yang belum terlistriki terutama di daerah yang tidak dilewati listrik PLN (DESDM, 2004; Herman DI, 2006). Dalam upaya efektifitas dan efisiensi perkiraan kebutuhan tenaga listrik, yang melibatkan data dari PLN, BPM, PDRB, penduduk dan rumah tangga; serta mempercepat pengambilan keputusan untuk mengaplikasikan kegiatan seperti ditunjukkan dalam Gambar 1, diperlukan sistem informasi. 63

Sistem Informasi Pengembangan Transformator Gardu Induk

(Agung Nugroho)

Sistem informasi Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik dalam penelitian ini, melibatkan data pengusahaan PT PLN (Persero) APJ SEMARANG dan 9 UPJ di wilayah kerjanya, untuk tahun 2005 - 2009.
PRAKIRAAN BEBAN
PERENCANAAN PEMBANGKITA N

PERENCANAAN JARINGAN/GI/GD PROGRAM INVESTASI PERENCANAAN PENDANAAN

PROYEKSI DANA/TARIF PERENCANAAN KEPEGAWAIAN KONDISI KEUANGAN

b.Mengembangkan kemampuan dalam teknologi informasi di dalam jaringan informasi yang efektif, homogen dan efisien sebagai bagian dari jaringan sistem informasi tata usaha langganan. c.Merencanakan, mengembangkan dan memelihara pusat penyimpanan data dan informasi yang menyimpan direktori materi teknologi informasi yang komprehensif. d.Memanfaatkan teknologi informasi untuk mengkoleksi data tata usaha langganan, pengukuran tegangan, incoming-outgoing tenaga listrik dan pengukuran beban puncak. Sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, komputer, teknologi informasi, dan prosedur kerja), ada sesuatu yang diproses (data menjadi informasi), dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan. Aspek sistem informasi mempunyai fungsi sebagai gudang data, sistem basis data, aplikasi pengolahan data, sistem pendukung keputusan dan sistem informasi. Pengembangan sistem informasi dalam sebuah perusahaan dilakukan dengan pendekatan, seperti ditunjukkan Gambar 2.

Gambar 1. Fungsi Prakiraan Beban Sistem informasi prakiraan kebutuhan tenaga listrik terintegrasi bertujuan : a.Mensosialisasikan, mendorong pengembangan dan penggunaan teknologi informasi di dalam kelompok unit pelayanan dan jaringan, sebagai komponen sistem di masa depan.

Gambar 2. Alur Pengembangan Sistem Informasi dalam sebuah Perusahaan

64

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 2 Mei 2011 ; 63 - 71

Dalam prakiraan kebutuhan tenaga listrik diperlukan peramalan. Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi. Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk–produk yang diharapkan akan terealisasi untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi dari peramalan, terdapat langkah-langkah : a. Menentukan tujuan dari peramalan b. Memilih item independent demand c. Menentukan horizon waktu dari peramalan d. Memilih model–model peramalan e. Memperoleh data yang dibutuhkan f. Validasi model peramalan g. Membuat peramalan h. Implementasi hasil–hasil peramalan i. Memantau keandalan hasil peramalan Fungsi peramalan tidak hanya teknik khusus dan model, tetapi juga termasuk input dan output dari subyek peramalan. Pengembangan fungsi peramalan dibutuhkan untuk mengidentifikasi output, karena spesifikasi output dapat menyederhanakan pemilihan model peramalan, tetapi fungsi permalan tidaklah lengkap tanpa mempertimbangkan input. Peramalan meliputi beberapa pertimbangan : a. Item yang diramalkan b. Peramalan top-down atau buttom-up c. Model kuantitatif atau kualitatif d. Satuan yang digunakan e. Interval/horison waktu f. Komponen peramalan g. Ketepatan peramalan h. Pengecualian dan situasi khusus i. Perbaikan parameter model peramalan. Peramalan dipengaruhi faktor lingkungan yang saling berinteraksi. Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi peramalan kebutuhan tenaga listrik APJ Semarang adalah :

a. b. c. d. e. f. g.

Kondisi umum bisnis dan ekonomi Tindakan pemerintah Kecenderungan pasar Siklus hidup produk Gaya dan mode Perubahan permintaan konsumen Inovasi teknologi

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam peramalan, yaitu : 1. Peramalan mengandung kesalahan, peramal hanya bisa mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian tersebut. 2. Peramalan harus memberikan informasi mengenai berapa ukuran kesalahan. 3. Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan dengan peramalan jangka panjang. Kelemahan : tidak cocok untuk pola data trend atau pola data musiman. Prakiraan kebutuhan energi listrik termasuk dalam ranah perencanaan energi terpadu, dalam kontek rencana pembangunan sosial ekonomi. Pengembangan sumber daya energi didasarkan pada Kebijakan Energi Umum, yang memperhitungkan pertumbuhan permintaan energi, baik untuk ekspor dan keperluan dalam negeri, dan kemampuan untuk menyediakan pasokan energi dalam negeri yang strategis dalam jangka panjang. Perencanaan prakiraan kebutuhan tenaga listrik pada umumnya dipisahkan untuk area kecil dan area yang luas. Pemisahan tersebut diperlukan untuk perencanaan pengembangan sarana penyediaan tenaga listrik. Untuk menyesuaikan dengan programprogram ekonomi pemerintah, pembangunan nasional dan untuk memenuhi persyaratan permintaan pasar yang meningkat dengan pesat, maka dalam perkiraan kebutuhan energi listrik, dilakukan survei kekuatan pasar dan analisa data permintaan pasar dari tahun-tahun sebelumnya, dan juga mempelajari metodologi perkiraan beban yang digunakan di negaranegara lain. Perencanaan energi listrik tidak

65

Sistem Informasi Pengembangan Transformator Gardu Induk

(Agung Nugroho)

lepas dari program pengembangan pembangkit dan perluasan jaringan, yang disusun berdasarkan perkiraan beban, dan diproyeksikan dengan metode yang dikembangkan. Metode yang dikembangkan oleh PLN, disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi di setiap wilayah, dan revisi dilakukan setiap tahun dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Program-program pemerintah yang mempengaruhi kebijakan perencanaan energi listrik antara lain : 1. Ketidaktergantungan penggunaan minyak bumi, dan dapat melakukan diversifikasi sumber energi lainnya seperti tenaga air, batubara, energi panas bumi, nuklir, dan sumber energi lainnya; dilanjutkan dan dikembangkan. Penggunaan energi non minyak dalam rencana pengembangan tenaga listrik didasarkan pada pilihan biaya operasi terkecil. Seperti contoh PLTGU, yang mengkobinasi bahar bakar batubara dan gas, dapat memberikan efisiensi yang lebih baik daripada pembangkit konvensional lainnya. 2. Dalam mengelola pasokan listrik bagi masyarakat, harus diperhatikan bahwa kualitas layanan terus ditingkatkan dengan menjaga kualitas tegangan, frekuensi, keandalan layanan, dan sebagainya. 3. Ketidakpastian prakiraan permintaan energi listrik, meliputi : a. Situasi ekonomi internasional b. Situasi ekonomi dalam negeri c. Harga minyak dunia 2. Metoda Penelitian Dalam prakiraan kebutuhan energi listrik, dikembangkan metode perkiraan sesuai dengan kondisi setiap wilayah. Untuk tujuan estimasi, konsumen digolongkan menjadi empat sektor, yaitu sektor RT, komersial, publik dan industri. Di sektor rumah tangga, metode perkiraan berbeda dari tiga sektor lainnya, mencakup :

a. Data historis konsumsi kWh rata-rata per rumah tangga dan jumlah konsumen sektor RT di setiap wilayah PLN; b. Menentukan rasio elektrifikasi; dan c. Asumsi : terdapat 5 orang/rumah tangga. Metode yang diterapkan memperhitungkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB), koefisien elastisitas, dan energi listrik terjual. Langkah prakiraan kebutuhan energi listrik digambarkan dalam Gambar 3. Data-data penelitian yang diperlukan untuk prakiraan kebutuhan tenaga listrik PT PLN (Persero) APJ Semarang adalah : a. Data Pengusahaan 2005 – 2009 dari UPJ b. Jumlah Rumah Tangga, penduduk, dan PDRB tahun 2005 – 2009 : 1). Kota Semarang 2). Kabupaten Kendal 3). Kabupaten Demak 4). Kabupaten Grobogan Dalam prakiraan kebutuhan energi listrik, PLN menggunakan model DKL. Prakiraan kebutuhan energi listrik dilakukan proses : a. Mengelompokkan pelanggan dari data pengusahaan dalam empat sektor yaitu rumah tangga, bisnis, umum dan industri. b. Mengelompokkan data penduduk, rumah tangga dan PDRB tahun 2005 -2009 per UPJ, yaitu : Semarang Timur, Semarang Tengah, Semarang Selatan, Semarang Barat, Weleri, Kendal, Boja, Demak, Tegowanu, dan Purwodadi c. Melakukan proses prakiraan kebutuhan tenaga listrik menggunakan Model DKL. e. Pengembangan informasi dari hasil proses prakiraan sebagai acuan penentuan kebijakan selanjutnya.

66 Gambar 3. Langkah prakiraan

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 2 Mei 2011 ; 63 - 71

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian dalam jurnal ini merupakan bagian informasi hasil penelitian, yaitu : a. Grafik energi terjual UPJ Tegowanu b. Tabel 1 Pengusahaan UPJ Semarang Timur c. Tabel 2 Data penduduk 2010-2014 UPJ Boja d. Tabel 3 Perkiraan RT 2010-2014 UPJ Kendal e. Grafik daya tersambung UPJ Tegowanu f. Tabel 4 Data PDRB 2010-2014 UPJ Weleri g. Tabel 5 Prakiraan model DKL UPJ SMG Barat
E E G TE JU L U J T G W N N R I R A P E O A U
8 ,0 0 0 0 7 ,0 0 0 0 6 ,0 0 0 0 MWh 5 ,0 0 0 0 4 ,0 0 0 0 3 ,0 0 0 0 2 ,0 0 0 0 1 ,0 0 0 0 0 20 05 20 06 20 07 T u ah n 20 08 20 09
RM T G A U AH AN G B N IS IS UU MM IN U T I DSR

D Y T R A B N U JT G W N AA E S MU G P E O A U
6 ,0 0 0 0 5 ,0 0 0 0 kVA 4 ,0 0 0 0 3 ,0 0 0 0 2 ,0 0 0 0 1 ,0 0 0 0 0 20 05 20 06 20 07 T u ah n 20 08 20 09
R M HT N G UA A GA BS I I N S UU MM I DSR NUT I

Gambar 5. Grafik daya tersambung UPJ Tegowanu Hasil prakiraan menunjukkan kecenderungan meningkat, dan dilakukan penelahaan, serta pengambilan keputusan penyediaan sarana-sarana penyaluran tenaga listrik, antara lain pengembangan trafo gardu induk. Apabila terjadi pertumbuhan beban sistem distribusi tenaga listrik, perlu ditinjau kemampuan jaringan (JTM) dan porsentase pembebanan trafo gardu induk

Gambar 4. Grafik energi terjual UPJ Tegowanu

Tabel 1. PENGUSAHAAN UPJ SMG TIMUR

67

Sistem Informasi Pengembangan Transformator Gardu Induk

(Agung Nugroho)

TAHUN RUMAH TANGGA Jumlah Rumah Tangga Rasio Elektifikasi (%) Jumlah Pelanggan Daya Tersambung (kVA) Konsumsi Energi (MWh) BISNIS Jumlah Pelanggan Daya Tersambung (KVA) Konsumsi Energi (MWh) UMUM Jumlah Pelanggan Daya Tersambung (KVA) Konsumsi Energi (MWh) INDUSTRI Jumlah Pelanggan Daya Tersambung (KVA) Konsumsi Energi (MWh) TOTAL Jumlah Pelanggan Daya Tersambung (KVA) Konsumsi Energi (MWh) Beban Puncak (MW)

2005 105.347 92,97 81.204,120 141.936,968 4.929 25.081,215 30.594,026 2.198 10.176,026 29.857,858 479 67.502,065 184.176,365 105.544 183.963,426 386.565,217 73,93

2006 107.852 94,85 102.299 88.517,050 157.681,215 5.349 26.912,010 38.110,088 2.340 10.595,046 22.855,610 484 68.084,032 195.754,511 110.472 194.108,138 414.401,424 75,35

2007 109.373 98,15 107.345 94.777,350 169.083,286 5.747 28.678,600 38.703,021 2.525 11.873,200 24.929,378 484 69.196,600 204.730,285 116.101 204.525,750 437.445,970 79,18

2008 112.302 98,38 110.484 99.909,950 187.084,048 7.033 32.716,600 46.830,803 2.698 12.741,600 28.992,958 486 70.661,000 209.779,799 120.701 216.029,150 472.687,608 83,40

2009 113.429 98,39 112.144 106.909,350 193.518,977 7.812 38.314,600 56.268,775 2.852 13.882,550 29.951,461 488 75.087,400 217.436,079 123.296 234.193,900 497.175,292 89,87

Tabel 2. Prakiraan Penduduk UPJ BOJA
Tahun No 1 2 3 4 Keterangan MIJEN SINGOROJO LIMBANGAN BOJA JUMLAH ∑DS 14 14 16 18 62 2010 PDD 48.779 48.120 33.213 64.834 194.947 2011 PDD 49.492 48.362 33.940 65.228 197.022 2012 PDD 49.918 48.451 34.426 65.473 198.267 2013 PDD 50.466 48.665 35.140 65.821 200.092 2014 PDD 50.770 48.773 35.612 66.096 201.251

Tabel 3. Prakiraan Rumahtangga UPJ Kendal
Tahun No Keterangan 1 KALIWUNGU 2 BRANGSONG 3 PEGADON 4 GEMUH 5 KANGKUNG 6 CEPIRING 7 PATEBON 8 KENDAL JUMLAH ∑DS 15 12 12 8/16 8/15 15 18 20 108 2010 RT 30.966 13.319 10.670 7.158 7.350 14.294 17.664 16.361 117.782 2011 2012 RT RT 32.399 33.557 13.409 13.493 10.753 10.866 7.215 7.285 7.372 7.413 14.319 14.384 18.151 18.735 16.676 17.168 120.295 122.901 2013 RT 35.109 13.570 10.950 7.344 7.431 14.404 19.330 17.570 125.708 2014 RT 36.548 13.658 11.050 7.410 7.462 14.449 19.908 17.998 128.483

Tabel 4. Prakiraan PDRB UPJ Weleri (jt Rp)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Tahun PERTANIAN PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK. GAS & AIR MINUM BANGUNAN PERDAGANGAN. HOTEL DAN RESTORAN PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI KEUANGAN. PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN JASA-JASA TOTAL PERTUMBUHAN %

2010 306.096 14.131 523.154 14.345 34.713 238.992 32.013 35.894 99.515
1.298.853

2011 321.882 14.860 550.134 15.085 36.503 251.317 33.664 37.745 104.647
1.365.838

2012 337.819 15.596 577.372 15.832 38.311 263.760 35.331 39.614 109.828
1.433.462

2013 354.807 16.380 606.407 16.628 40.237 277.024 37.108 41.606 115.351
1.505.548

2014 372.335 17.189 636.363 17.449 42.225 290.709 38.941 43.662 121.050
1.579.923

0,63%

5,16%

4,95%

5,03%

4,94%

Tabel 5. Prakiraan Kebutuhan UPJ SMG BRT
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014

68

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 2 Mei 2011 ; 63 - 71

Jumlah RT ∆ PDRB (%) Rasio Elektrifisi (%) Kons Energi (MWh) -- Rumah Tangga -- Bisnis -- U m u m -- Industri Daya Tersbg (kVA) -- Rumah Tangga -- Bisnis -- U m u m -- Industri Jumlah Pelanggan -- Rumah Tangga -- Bisnis -- U m u m -- Industri Susut Energi (%) Prod Energi (MWh) Faktor Beban (%) Bbn Puncak (MW)

68.660 5,05 89,84 494.997,935 113.732,391 44.444,307 19.387,440 317.433,798 256.043,504 63.993,476 41.140,018 14.460,536 136.449,474 72.290 61.687 7.984 2.400 219 4,18 516.583,237 70,51 96,88

69.189 5,03 90,10 498.028,466 118.214,133 47.209,032 18.803,612 313.801,690 261.608,688 64.608,961 45.369,899 14.492,741 137.137,087 73.600 62.336 8.637 2.407 220 4,18 519.745,920 70,51 97,03

69.531 4,93 90,35 501.141,664 122.536,232 50.145,742 18.248,550 310.211,140 266.157,650 65.067,727 48.745,064 14.516,559 137.828,300 74.610 62.819 9.158 2.411 221 4,18 522.994,874 70,51 97,15

69.848 4,95 90,60 504.583,911 126.948,951 53.265,134 17.708,153 306.661,674 270.714,641 65.506,989 52.145,287 14.539,232 138.523,133 75.604 63.283 9.683 2.416 223 4,18 526.587,227 70,51 97,26

70.092 4,91 90,85 508.297,006 131.377,834 56.578,573 17.187,779 303.152,821 274.883,908 65.885,243 55.218,412 14.558,649 139.221,605 76.482 63.681 10.157 2.420 224 4,18 530.462,238 70,51 97,36

Tabel 6. Capacity Balance UPJ Semarang Tengah Tahun 2005-2015
Tahun Kap GARDU INDUK Trafo No MVA Unit BP UPJ Peak Load MW 97.79 22.16 I 56 47.23% 1 TAMBAK LOROK 30.15 II 60 71.79% III 21.51 I 2 KALI SARI II 60 42.58% 10 SPLIMA 5.86 I 60 12.21% 12.77% 13.48% 14.15% 13.41% 13.46% 13.49% 45.09% 6.13 46.98% 6.47 49.40% 6.79 48.91% 6.44 48.91% 6.46 48.93% 6.48 60 44.81% 19.16 47.52% 20.29 49.33% 21.14 52.38% 22.23 51.38% 22.01 51.42% 22.01 51.25% 22.02 22.81 23.68 75.93% 79.52% +60 41.86% 25.14 41.07% 24.66 41.10% 24.68 41.12% 24.60 41.86% 17.58 41.07% 17.25 41.10% 17.26 41.12% 17.27 49.91% 31.89 52.10% 33.40 54.67% 17.58 53.90% 17.25 53.93% 17.26 53.97% 17.27 + Tr Peak Load MW 103.48 23.36 + Tr Peak Load MW 108.03 24.34 + Trafo MVA Peak Load MW 113.81 25.49 + Tr Peak Load MW 111.80 25.15 + Tr Peak Load MW 111.87 25.16 + Tr Peak Load MW 111.95 25.18 + Tr 2005 2006 2007 2008 2012 2013 2014

Dalam peninjauan kemampuan jaringan, perlu diperkirakan arah pertumbuhan beban dan kapasitas trafo gardu induk pensuplai

tenaga listrik, serta mempertimbangkan tata ruang penggunaan tanah di wilayah UPJ yang bersangkutan. Untuk meninjau kemampuan

69

Sistem Informasi Pengembangan Transformator Gardu Induk

(Agung Nugroho)

trafo gardu induk, diperlukan data trafo gardu induk dan UPJ yang disuplai gardu induk tersebut, serta beban puncak dari trafo digardu induk tersebut. Model untuk melakukan ektensifikasi trafo dikenal dengan istilah Capacity Balance. Capacity Balance Transformator adalah cara mengetahui batas kapasitas transformator Gardu Induk dalam mendukung beban, yang dikaitkan peningkatan daya tersambung dan beban puncak tenaga listrik berdasarkan prakiraan. Dengan Capacity Balance, dapat ditentukan tahun persiapan ekstensifikasi transformator baru dan pengadaan GI baru. Syarat-syarat Gardu Induk adalah : 1. Dalam satu Gardu Induk (GI) hanya dijinkan 3 (tiga) buah transformator 2. Kapasitas transformator tertinggi dalam setiap GI adalah 60 MVA 3. Pembebanan transformator tidak boleh melebihi 80 % kapasitas transformator. 4. Bila beban transformator mendekati 80%, harus dipersiapkan : a. Uprating, bila kapasitas transformator masih di bawah 60 MVA b. Ditambahkan transformator baru, bila kapasitas transformator sudah 60 MVA dan di GI tersebut jumlah transformator masih kurang dari 3 (tiga), c. Pembangunan Gardu Induk baru dengan transformator baru. 5. Aplikasi pengembangan transformator gardu induk ditunjukkan dalam Tabel 6. Tahun 2007 terjadi pengembangan di gardu induk Tambak Lorok. Ditahuntahun berikutnya belum diperlukan pengembangan, karena kapasitas transformator seluruh gardu induk pensuplai UPJ Semarang Tengah masih mencukupi. 4. Kesimpulan 1. Hasil pengolahan prakiraan kebutuhan tenaga listrik menghasilkan informasi

bahwa kebutuhan tenaga listrik meningkat. 2. Penyediaan energi listrik untuk memenuhi permintaan perkiraan, diperlukan pengabilan keputusan pengembangan transformator gardu induk. 3. Pengembangan transformator gardu induk tergantung perkiraan pertumbuhan daya tersambung dan beban puncak energi listrik.

DAFTAR PUSTAKA 1. Abdul Kadir, et.al. (1992). The Electric Future of Indonesia. Resource Systems Institute Working Paper. East-West Center Honolulu, Hawaii, USA. 2. Abdul Kadir. (2003). Pengenalan Sistem Informasi. ANDI Offset, Yogyakarta. 3. Annonymous. (1992). Penyusunan Prakiraan Kebutuhan Listrik. Dinas Penelitian Kebutuhan Listrik, PT PLN (Persero), Pusat, Jakarta. 4. Annonymous. (2004). Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomer : 0954 K/30/MEM/2004, Jakarta. 5. Annonymus. (2005, 2006, 2007, 2008, 2009). Tata Usaha Langganan III07 dan III-09. PT PLN (Persero) APJ Semarang. 6. DESDM. (2003). Pedoman dan Pola Tetap Pengembangan Industri Ketenagalistrikan Nasional 20032020. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta. 7. DESDM. (2004). Kebijakan Energi Nasional 2003-2020, Rancangan. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 8. Herman, D.I. (2006). Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)

70

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 2 Mei 2011 ; 63 - 71

2006 – 2015. PT PLN (Persero) Pusat, Jakarta. 9. Kapplan, S . (2008). Modeling Efficiency in the Energy Commission Demand Forecast : Summary of Current Methods. Workshop Paper. Demand Analysis Office Califorrnia Energy Commission. http://energycenter.org 10.Mukhyi. (2008). Forecasting Model. http://mukhyi.staff.gunadarma.ac.id. 11. Indrajit, R.E. (2000). Manajemen Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Elex Media Komputindo, Jakarta. 12. Rahardjo. (2006). Merencanakan Pengembangan Sistem Keistrikan PLN ke Depan Secara Lebih Baik dan Lebih Efisien. PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

71

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->