Anda di halaman 1dari 4

1.

Gambar alat reproduksi sapi jantan

2. Cara kerja dan manfaat invitro fertilisasi dan inseminasi buatan a. Fertilisasi in vitro dilakukan dengan mengikuti beberapa tahap, yakni sel sperma dan sel telur dikoleksi dari pasangan suami istri. Sel sperma dan sel telur dievaluasi kualitasnya dan hanya sel sperma dan sel telur yang berkualitas excellent digunakan untuk fertilisasi. Fertilisasi dilakukan di dalam cawan petri yang mengandung media sesuai dengan kondisi in vivo, kemudian disimpan dalam inkubator sampai embrio berkembang. Embrio yang berkembang dengan kualitas excellent dipilih untuk ditransfer ke dalam rahim donor (mother hoster). Selanjutnya embrio dipelihara dalam rahim donor sampai dilahirkan. Dalam perkembangan teknik ini, sel sperma atau sel telur tidak hanya diperoleh dari pasangan yang menikah tetapi juga dapat diperoleh dari bank sperma atau pendonor sperma/sel telur. Disamping itu, embrio yang dihasilkan tidak hanya ditransfer kembali ke rahim ibunya tetapi dapat juga kerahim wanita lain. b. Fertilisasi in vitro dilakukan dengan mengikuti beberapa tahap pendahuluan, yakni semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu. Dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya di bawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. Setelah itu straw dikeluarkan kemudian dikeringkan dengan tissue. Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih. Setelah itu plastik sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw. Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat. Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus. Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan. Manfaatnya: Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan, Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik, Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding), Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama, Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati, Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar, Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.

3. Alat dan cara reproduksi pada a. Ikan hiu Organ Reproduksi Hiu Jantan: Claspers adalah tulang rawan yang menjadi menegang pada hiu dewasa. Claspers merupakan modifikasi sirip panggul dan memiliki fungsi mentransfer sperma ke kloaka betina, Sepasang testis terletak di ujung anterior tubuh di dalam rongga organ epigonal. Organ Reproduksi Hiu Betina: Cloaca sebagai tempat bermuaranya saluran reproduksi pada hiu betina, Sebuah ovarium yang menggantung sebelah dorsal dengan satu membrane, Dua buah oviduct yang menjulur sepanjang tubuh, pada bagian anteriornya mempunyai saluran besar dimana sel-sel telur akan masuk ke dalamnya, Glandulae shell terletak pada bagian anterior yang merupakan saluran reproduksi yang melebar. Cara Reproduksi: Ketika betina siap kawin, maka betina akan mengeluarkan zat feromon sebagai penarik perhatian atau perangsang untuk jantan. Ketika jantan mencium zat tersebut, maka jantan akan mengejar betina dan menangkapnya dengan giginya. Hal ini akan menyebabkan luka pada betina. Setelah menemukan posisi yang tepat, maka clasper jantan akan dipenetrasi ke dalam kloaka betina. Penetrasi ini terjadi secara vertikal dan akan berlangsung selama kurang lebih dua menit. Setelah itu jantan akan terbaring di dasar lautan selama satu menit kemudian berenang ke lautan yang lebih dalam. b. Buaya Organ Reproduksi Buaya Jantan: Testis berbentuk oval, relatif kecil, berwarna keputihputihan, berjumlah sepasang, dan terletak di dorsal rongga abdomen. Testis akan membesar saat musim kawin. Saluran reproduksi: duktus mesonefrus berfungsi sebagai saluran reproduksi, dan saluran ini akan menuju kloaka. Sebagian duktus wolf dekat testis bergelung membentuk epididimis. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen yang menghubungkan tubulus seminiferus testis dengan epididimis. Organ Reproduksi Buaya Betina: Ovarium berjumlah sepasang, berbentuk oval dengan bagian permukaannya benjol-benjol. Letaknya tepat di bagian ventral kolumna vertebralis. Saluran reproduksi: oviduk panjang dan bergelung. Bagian anterior terbuka ke rongga selom sebagai ostium, sedang bagian posterior bermuara di kloaka. Dinding bersifat glanduler, bagian anterior menghasilkan albumin yang berfungsi untuk membungkus sel telur, Bagian posterior sebagai shell gland akan menghasilkan cangkang kapur. Cara Reproduksi: Masa kawin buaya ini yakni pada awal musim ketika air hangat. Buaya menjadi sangat agresif dan mudah menyerang manusia atau hewan lain yang mendekat. Sebelum mengawini betinanya, buaya jantan biasanya berkelahi terlebih dahulu untuk memperlihatkan penguasaannya. Buaya jantan tidak suka dengan buaya betina yang lebih kuat darinya. Setelah buaya betina tak banyak bergerak, buaya jantan pun mengawini betinanya Fertilisasi terjadi secara internal 4. Teknologi yg dapat di kembangkan pada a. Katak: Katak memiliki beberapa kelenjar endokrin yang menghasilkan sekresi intern yang disebut hormone. Funginya mengatur atau mengontrol tugas-tugas tubuh, merangsang, baik yang bersifat mengaktifkan atau mengerem pertumbuhan, mengaktifkan bermacam-macam jaringan dam berpengaruh terhadap tingkah laku makhluk. Pada katak dewasa bagian anterior glandule pituitaria ini menghasilkan hormone yang merangsang gonad untuk

menghasilkan sel kelamin. Jika kita mengadakan inplantasi kelenjar ini dengan sukses pada seekor katak dewasa yang tak dalam keadaan berkembangbiak, maka mulai saat itu segera terjadi perubahan. Implantasi pada hewan betina mengakibatkan hewan itu menghasilkan ovum yang telah masak. Inplantasi pada hewan jantan mengakibatkan hewan itu menghasilkan sperma. b. Burung Salah satu teknologi reproduksi yang digunakan pada burung yaitu teknik inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan merupakan sarana yang praktis untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak secara kuantitatif maupun kualitatif. Melakukan pemijatan pada bagian punggung ayam, Pemijatan dilakukan mulai dari pangkal leher, punggung sampai pangkal ekor dengan telapak tangan membuat sudut 40o dari tulang belakang pejantan, Pemijatan dapat diulang beberapa kali sehingga ayam pejantan menunjukkan ereksi maksimal yang ditandai dengan merenggangkan bulu ekor ke atas dan mencuatnya penis keluar dari permukaan kloaka. Melakukan penampungan semen yang berwarna putih keruh dengan tabung setelah penis ayam mengeluarkan cairan bening. Penampungan dapat dilakukan setiap 15 menit dan dapat diulang 2-3 kali. 5. kekhasan sistem reproduksi pada a. kucing Testis kucing mengalami penurunan dari rongga perut ke dalam kantong skrotum (decensus testiculorum) ketika berumur 4 12 minggu dan mulai menghasilkan spermatozoa pada umur 6 - 7 bulan. Kemampuan berkopulasi kucing jantan dan menghasilkan spermatozoa fertil bila berumur lebih dari setahun. Penis pada kucing terbagi atas tiga bagian yaitu bagian pangkal, badan dan ujung tudung (glans) penis. Panjang glans penis sekitar 1 cm dan diselimuti oleh spina (papilla numerous) yang tajam pada kucing. Preputium merupakan selubung bagian ujung anterior penis, selubung ini merupakan suatu lipatan kulit. Tanda birahi kucing betina diketahui dari perubahan perilaku antara lain selalu mengeong, sering keluar sarang, menjepit ekor dengan kaki belakang, meregangkan kaki belakang dan sering kencing. Kucing jantan yang tertarik pada kucing betina birahi akan berteriak memanggil betina. Suara ini merupakan daya tarik agar kucing betina keluar dari sarang dan kucing jantan mengencingi sekitar sarang memberi bau spesifik yang menandakan kucing jantan sedang menanti dan menunjukkan daerah kekuasaannya. Bila keduanya bertemu dan melakukan ritual tersebut kemudian keduanya berkejar-kejaran untuk mendapatkan tempat untuk kawin. Ketika penis akan dicabut biasanya kucing betina akan menjerit kesakitan yang disebabkan pada glans penis kucing terdapat papilla yang sangat tajam. Kucing jantan setelah mencabut penis dikuti gerakan kucing betina untuk menjaga jarak dengan kucing jantan kemudian dilanjutkan membersihkan masing-masing genital dengan menjilat sampai bersih. Biasanya perkawinan selanjutnya dilakukan dengan kucing jantan lain sebab kucing bukan hewan monogamy. Selama satu siklus birahi kucing betina dapat melakukan kopulasi dengan beberapa kucing jantan sehingga anak yang dihasilkan berasal dari kucing jantan

yang berbeda. Maka dari itu kucing dinamakan hewan superfekunditas artinya dari satu kelahiran, anak kucing bisa saja mempunyai bapak yang berbeda-beda. b. Gajah Gajah tidak mempunyai musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun, namun biasanya frekuensinya mencapai puncak bersamaan dengan masa puncak musim hujan di daerah tersebut. Gajah jantan sering berperilaku mengamuk atau kegilaan yang sering disebut musht dengan tanda adanya sekresi kelenjar temporal yang meleleh di pipi, antara mata dan telinga, dengan warna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini terjadi 3-5 bulan sekali selama 1-4 minggu. Perilaku ini sering dihubungkan dengan musim birahi, walaupun belum ada bukti penunjang yang kuat. Sepasang gajah jantan dan betina terlihat sedang memainkan belalainya. Perilaku ini merupakan salah satu perilaku bercumbu. Hal ini terjadi ketika gajah betina memasuki masa estrus. Di masa ini, gajah betina akan mengeluarkan aroma khas sebagai hasil sekresi feromon seks yang dapat dirasakan oleh gajah jantan. Selain itu, pada masa ini gajah betina akan mengeluarkan sinyal suara spesifik untuk menarik perhatian gajah jantan. Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun, sementara gajah jantan setelah berumur 12-15 tahun. Gajah betina mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, lama kehamilan 19-21 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor anak dengan berat badan lebih kurang 90 kg. Seekor anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun.