Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN BAB VIII MENCINTAI DAN MENAATI RASULULLAH DALAM BUKU FILSAFAT DAN TEOSOFAT AKHLAK

Oleh Ayundha Nabilah 1101291

1A PGSD

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS CIBIRU 2011

VIII

MENCINTAI DAN MENAATI RASULULLAH


Bukti rasa cinta kita kepada Rasulullah, merupakan salah satu bukti bahwa kita mencintai Allah yang telah mengutusnya untuk menyebarkan dakwah Islam di dunia ini. Mendengar dan menaati segala seruan Nabi Muhammad saw adalah wujud dari penghargaan yang besar kepada Allah Swt Allah Taala telah merintahkan umat Islam ini untuk bershalawat kepada Nabi Saw., setelah Allah menetapkan bahwa Dia pun bershlawat kepada Nabi dan Rasul-Nya, bahkan para Malaikat pun bershalawat kepada beliau. Allah Taala juga menjanjikan pahala yang sangat agung bagi orang-orang yang banyak mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasylullah Saw. Oleh karena itu, pengetahuan tentang sifat shalawat Nabi Saw menjadi suatu yang begitu penting untuk dipahami dan diamalka oleh kaum Muslimin. Akan tetapi dewasa ini banyak orang yang lupa akan pentingnya bershalawat kepada Nabi Saw., dapat dikatakan kaum muslim saat ini banyak yang lupa atau pura-pura lupa kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam selaku hamba yang telah membawa umat Islam dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang dengan cahaya Islam. Shalawat merupakan salah satu bukti ketundukan kita selaku umatnya dan kecintaan kita terhadap Rasulullah Saw. Kebanyakan umat Islam tidak tahu aka kedudukan shalawat, keutamaan shalawat, dan sifat shalawat tersebut dan lain sebagainnya. Bagian ini akan membeberkan tentang pentingnya mencintai rasul, mengikutinya, dan mentaati seruan beliau. Di antara bentuk kecintaan dan ketaatan kepada rasul yaitu dengan senantiasa menjalankan sunnah-sunnahnya termasuk mengucapkan shalawat dan salam kepadanya. Materi yang akan dikaji pada bagian ini adalah : 1. Mencintai dan Memuliakan Rasul Saw; 2. Mengikuti dan Menaati Rasul Saw; 3. Mengucapkan Shalawat dan Salam kepada Rasul Saw A. MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL SAW Orang yang bersyahadat Rasul mengakui bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah Nabi dan Utusan Allah, maka sudah menjadi kewajibannya untuk

berkomitmen sebagai konsekuensi atas persaksiannya. Dan inilah konsekuensi yang harus dijalankan, yakni: mengimaninya, menghidupkan sunnahna,

memperbanyak shalawat, dan mengikuti manhaj-nya. Penjelasannya sebagai berikut. Pertama, mengimaninya. Banyak ayat yang menyebut iman kepada Allah dan Rasul secara bersamaan. Ini artinya bahwa iman kepada Rasul tidak bias dipisahkan dengan iman kepada Allah. Keislaman seseorang akan batal bila hanya iman kepada Allah tapi tidak iman kepada Rasul, hal ini yang disebut inkaru sunnah. Kedua, menghidupkan sunnahnya. Bukan hanya sunnah dalam ibadah khusus, bahkan termasuk aktivitas sehari-hari yang kecil dan sederhana. Bila aktivitas tersebut dimaksudkan untuk Ittiba rasul. Maka pasti bernilai ibadah. Ketiga, memperbanyak shalawat kepadanya. Satu shalawat nabi yang diucapkan seorang muslim dengan ikhlas akan dibalas dengan sepuluh kali doa dari Rasul untuknya. Keempat, mengikuti manhaj-nya. Manhaj yang dimaksud tidak lain adalah system Islam yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, yakni mengikuti (mentaati) ucapan dan perbuatannya, perintah dan larangannya, ilmu dan amalnya, serta lahir dan batinnya, terutama lagi menaayi wasiat-wasiatnya.

B. MENGIKUTI DAN MENAATI RASUL SAW Salah satu amal ibadah yang sangat penting yang diperintahkan Allah kepada orang-orang beriman dalam Al-Quran adalah menaati Rasul-Nya. Allah berfirman bahwa Dia telah mengirim para rasul-Nya untuk ditaati, dan orangorang beriman, dalam setiap zaman, telah diuji ketaatan mereka terhadap para rasul tersebut. Para rasul adalah orang-orang yang menyampaikan pesan Allah dan perintah-Nya kepada manusia, dan mengingatkan mereka tentang hari perhitungan dan tentang ayat-ayat-Nya. Para rasul adalah orang-orang yang lrus dan dirahmati, yang dipilih Allah di antara seluruh manusia; dan perbuatan, sikap, dan kesempurnaan akhlak mereka sebagai teladan. Mereka adalah para kekasih Allah yang sangat dekat dengan-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut ini, orang yang menaati Rasul berarti menaati Allah swt.

Baragsiapa yang menaati rasul, maka sesungguhnya ia telah menaati Allah; dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Qs.4/An-Nisa:80) Rasulullah saw juga bersabda bahwa orang yang bersaksi terhadap hal ini akan memperoleh berita gembira. Sabda beliau : Tidakkah kamu telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa saya adalah utusan-Nya? Jika demikian, maka kabar gembira bagi kamu Quran adalah sebuah tali yang satu ujungnya sampai kepada Allah dan ujung lainnya sampai kepadamu. Berpegang teguhlah kepadanya. Jika kamu melakukan itu, kamu tidak pernah terjerumus dalam kesalahan atau bahaya. Mendurhakai seorang rasul adalah mendurhakai Allah dan agama-Nya. Ini merupakan salah satu rahasia penting yang diungkapkan Allah dalam Al-Quran. Dalam sebuah ayat, Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menaati rasul dan orang-orang yang mendurhakainya : Itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allh dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surge yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan. (Qs.4/An-Nisa:13-4) Allah telah mengungkapkan dengan jelas dalam Al-Quran tentang ketentuan kepada rasul, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar taat dan berserah diri juga akan diterima di sisi-Nya. Sebagaimana yang terlihat dalam ayat-ayat in, dipenuhinya semua syarat agama dan melakukan banyak ibadah belumlah mencukupi. Jika seseorang tidak menerapkan sikap dan akhlak yang menunjukkan ketaatan kepada rasul sesuai dengan yang dijelaskan Allah dalam Al-Quran dan hanya setengah-setengah dalam menaati-Nya, mungkin Allah akan menjadikan semua perbuatannya sia-sia. Sebuah rahasia yang sangat peting dalam Surat An-Nisa:

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Qs.4/An-Nisa : 65) Dalam ayat ini diungkapkan sebuah rahasia penting tentang ketaatan yang sempurna kepada rasul. Hampir semua orang mengetahui apakah ketaatan itu. Namun, ketaatan kepada rasul sangat berbeda dibandingkan dengan bentukbentuk ketaatan sebagaimana yang diketahui orang banyak. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang beriman haruslah menaati rasul dengan sepenuh hati, tanpa ada sedikitpun perasaan ragu di dalam hati. Jika seseorang merasa ragu-ragu terhadap apa yang dikatakan oleh rasul dan menganggap pikirannya sendiri lebih benar daripada pikiran rasul, maka sebagaimana dinyatakan oleh ayat tersebut, pada hakikatnya ia bukanlah orang yang beriman. Orang-orang yang benar-benar beriman dan berserah diri mengetahui bahwa apa yang disabdakan oleh rasul adalah yang terbaik bagi mereka. Sekalipun sabdanya tersebut bertentangan dengan kepentingan pribadi mereka, mereka menerima dan menaati dengan penuh gairah dan semangat. Sikap seperti ini merupakan tanda bahwa ia adalah orang yang benar-benar beriman, dan Allah memberikan kabar gembira berupa keselamatan kepada orag-orang yang menaati rasul dengan ketaatan yang sempurna. Inilah sebagian dari ayat-ayat yang menyatakan kabar gembira dari Allah : Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiqin. (Qs. An-Nisa:69) Dalam ayat-ayat lain Allah swt., berfirman : Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Qs. An-Nur:52)

Katakanlah, Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat keadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan dengan terang. (Qs. An-Nur :54) Sebagaimana dinyatakan di atas, orang-orang yang menaati rasul akan memperoleh petunjuk. Di sepanjang sejarah, semua orang diuji atas ketaatan mereka terhadap para rasul. Allah selalu memilih Rasul-rasul-Nya dari kalangan manusia. Dalam hal ini, orang-orang yang berpikiran sempit dan tidak memiliki hikmah tidak mampumemahami bagaimaa menaati seorang manusia dari kalangan mereka sendiri, atau seseorng yang tidak lebih kaya daripada diri ereka sendiri. Namun, Allah telah memilih Rasul-rasul-Nya, menolong mereka dari sisi-Nya, dan memberikan kepada mereka ilmu dan kekuatan. Hakikat dari persoalan ini yang tidak mampu dipahami oleh orang-orang adalah bahwa Allah memilih siapa saja yang Dia kehendaki. Orang beriman yang ikhlas dengan sepenuh hati menaati dan menghormati orang yang telah dipilih Allah, lalu ia mengikutinya dengan sepenuh hati. Ia mengetahui bahwa jika ia menaati rasul, sesungguhnya ia menaati Allah. Orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan melaksanakan agama dengan demikian juga menyerahkan diri kepada rasul. Allah menceritakan keadaan orang-orang yang menyerahkan diri kepadaNya sebagai berikut : Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang iaberbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Qs. Al-Baqarah:112) Dalam sebuah ayat lain, Allah menyatakan sebagai berikut : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara NAbi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebgaiman kerasnya sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus amalan-amalanmu sedangkan kamu tidak

menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (Qs.49/Al-Hujarat:2-3) Rasulullah selalu menyeru orang-orang beriman kepada jalan yang lurus dan kepada kebaikan. Tentu saja ada saat-saat ketika seruan para rasul ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang diseur. Namun, orang-orang yang beriman dan menaati rasul tidak menuruti pikirannya sendiri, tatapi berserah kepada firman Alla, Rasulnya, dan Al-Quran. Dalam pada itu, orang-orang yang imannya lemah, yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsu mereka menunjukkan kedurhakaan atau kelemahan terhadap seruan rasul. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, suara mereka, pembicaraan mereka, dan kata-kata yang mereka ucapkan, dapat mengungkapkan penyakit yang ada dalam hati mereka dan lemahnya mereka dala ketaatan. Perbuatan mereka yang menentang apa yang dikatakan oleh NAbi dan sikap mereka yang meninggikan suaranya tersebut, sesungguhnya menunjukkan kebodohan mereka. Allah memberitahu bahwa perbuatan orang-orang seperti ini akan menjadi terhapus. Lah menyatakan bahwa semua perbuatan orang seperti ini, sekalipun ia berusaha siang malam untuk menyebarkan agama, hanyalah sia-sia karena kedurhakaannya tersebut. Ini merupakan rahasia penting yang dungkapkan dalam beberapa ayat dalam Al-Quran. Allah telah memerintahkan manusia agar mengerjakan amala saleh, berjuang dengan sungguh-dungguh dan teguh untuk kepentingan Islam, bertingkah laku sesuai dengan akhlak mulia sebagimana yang dijelaskan dalam Al-Quran, dermawan, sabar, menjaga perasaan orang lain, jujur, dan dapat dipercaya. Tidak diragukan lagi, semua ini merupakan bentuk ibadah yang penting yang akan mensyafaati orang yang melakukannya di akhirat kelak. Namun, sebgaimana yang tercantumdalam surat Al-Hujurat, satu sikap yang tidak menghormati Rasulullah dapat menyebabkan semua perbuatan orang itu sia-sia. Sekali lagi, hal ini meningkatkan kita betapa pentingnya menaati dan menghormati Rasulullah. Allah akan mencabut kekuatan orang-orang yang tidak menaati Rasul.

Kisah tentang Thalut dan bala tentaranya yang diceritakan dalam AlQuran merupakan peringatan lain, yang sangat menekanan pentingnya menaati Rasulullah. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran, ketika Tahlut

memberangkatkan pasukannya untuk melawan musuh, ia memperingatkan pasukannya agar jangan minum air sungai yang aka mereka sebrangi. Berikut ini adalah ayat yang menceritakan kisah tersebut : Maka ketika Thalut membawa tentaranya, ia berkata Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa diantara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengiktuku. Dan barangsiapa tidka meminumnya, kecuali menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang diantara mereka. Maka ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyebrangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. Orang-orangyang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Berapa banyak terjaid golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Qs. 2/Al-Baqarah:49) Sebagaimana terlihat dari ayat tersebut, orang-orang yang tidak menaati perintah Thalut menjadi lemah, sedangkan orag-orang yang menaati Thalut diberi kekuatan olah Alla, dan atas kehendak-Nya mereka dapat mengalahkan musuh meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Ini merupakan rahasia yang diungkapkan Allah dalam Al-Quran kepad manusai. Kekuatan, kemenangan, dan keunggulan tidak tergantung pada kekayaan materi, kedudukan yang bergengsi, jumlah yang banyak, atau kekuatan jasmani. Barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, menaati Dia dan Rasul-Nya, Allah menjadikan mereka lebih kuat dibandingkan semuanya, dan Allah akan memberi pahala kepada mereka dengan karunia yang sangat banyak seperi hikmah, kekayaan, kebaikan, kenikmatan, dan kekayaan. Bagi orang-orang yang siap untuk mengikuti Rasulullah disediakan kenikmatan yang kekal abadi di akhirat kelak.

C. MENGUCAPKA SHALAWAT DAN SALAM 1. Anjuran Bershalawat kepada Nabi

Diantara hak Nabi shallallahualaihi wa slam yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Taala atas umatnya dalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Subhanahu wa Taala dan para Malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau shallallahualaihi wa sallam, dan Allah Subhanahu wa Taala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan tasli (mengucapkan salam) kepada belia. Allah Subhanhu wa Taala berfirman :

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Qs. Al-Ahzab:56) Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para malaikat-Nya, sedang shalawat malaikat berarti mendoakan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau shallallahualaihi wa sallam pada tepat yang tertinggi, bahwasannya Dia memuji beliau di hadapan para malaikat yang terdekat, dan bahwa para malaikatpun mendoakan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni ala mini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi). Adapun makna: Ucapkanlah salam untuknya adalah berilah penghormatan kepada belai shallallahualaihi wa sallam dengan penghormatan Islam. Dan jika bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahualaihi wa sallam hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan: Shalallaahualaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya) atau hanya mengucapkan: alaihi salaam (semoga keselamatan dilipahkan untuknya).

Hal itu karea Allah memerintahkanuntuk mengucapkan keduanya. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan memebrikan balasan shalawat kepadanya sepuluh kali (HR Muslim) Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda : Orang yang bakhil adalah orang yang apabila namaku disebut, dia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. (HR Tirmidzi)

2.

Keutamaan-keutamaan Shalawat Dalam kitab Jalaa-ul Ahaam, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

rahimahullah telah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalaawat untuk Nabi shallallahualaihi wa sallam, dimana beliau menyebut 40 mafaat. Diantara manfaat itu adalah : a. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah Taala. Sebab, Allah Taala berfirman : Susungguhnya Allah dan mlaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kam untk nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Qs. Al-Ahzab:56) b. Mendapat 10 kali shalawta dari Allah bagi orang yang bershalawat sekali untuk beliau shallallahualaihi wa sallam Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan memebalasan shalawat kepadanya sepuluh kali (HR Muslim) c. Diharapkan dikabulkan doa apabila doa itu didahuli dengan shawalat tersebut. Berdasarkan sabda NAbi shallallahualaihi wa sallam : Setiap doa itu terhalang hingga diucapkan shalawat kepada nabi shallallahualaihi wa sallam. (lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahih [no.2035]. d. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi shallallahualaihi wa sallam, jika ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan wasilah kepada beliau shallallahualaihi wa sallam. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda:

Apabila

kalian

mendengar

muadzin

(menyerukan

adzan),

maka

ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, lalu bershalawatlah kepadaku. Sebab, siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah Taala akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kamudian mohonkanlah alwasilah kepadaAllah, karena itu adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak akan diperoleh kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah orangnya. Maka, siapa saja yang memohonkan al-wasilah untukku, maka ia berhak mendapatkan syafaat. (THR Muslim) e. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa dan diangkatnya derajat. f. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi shallallahualaihi wa sallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya. g. Shalawat sebagai sebab tetapnya Allah Taala memberikan pujian yang baik bagi orang yang bershalawat atas beliau shallallahualaihi wa sallam di antara penduduk langit dan bumi. h. Shalawat mendatangkan keberkahan bagi orang yang bershalawat, baik atas perbuatannya, usianya, maupun sebab-sebab kebaikannya. i. Shalawat atas Nabi shallallahualaihi wa sallam sebagai sebab kecintaan beliau kepada hamba. j. Shalawat sebagai sebab seorang hamba memperoleh hidayah dan kehidupan hatinya. 3. Tempat dan Waktu yang Disyariatkan Mengucapkan Shalawat dan Salam kepada NAbi saw Mengucapkan shalwat untuk Nabi shallallahualaihi wa sallam diperintahkan oleh syariat pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah muakkadah. Didalam kitab Jalaa-ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat), beberapa diantaranya: a. Ketika shalat, yaitu pada tasyahud awal dan akhr. Ibnu Qayyim rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat pada tasyahud awal dan akhir. Di waktu tersebut para ulama sepakat

tentang disyariatkannya bershalawat untuk Nabi shallallahualaihi wa sallam, namun mereka berselisih tentang hukumnya. Berdasarkan hadist dari Fadhalah bin Ubaid Al-Anshari bahwasannya Nabi shallallahualaihi wa sallam menegur seseorang yang tidak bershalawat (dalam shalatnya) kepada beliau. (HR Abu Dawud) b. Di dalam shalat jenazah sesudah takbir yang kedua. Disunnahkan membaca shalawat dalam shalat jenazah sesudah takbir yang kedua berdasarkan riwayat yang masyhur dari sahabat Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. (Diriwayatkan oleh Imam asy-SyafiI dalam Al-Umm) c. Di dalam khutbah. Seperti khutbah Jumat, khutbah Idhul Fitri, khutbah Idhul Adh-ha, khutbah shalat Istiqa dan lain-lain. d. Setelah menjawab adzan. Dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: Barangsiapa setiap panggilan (adzan) mengucapkan, Ya Allah, Rabb panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan. Berikanlah kepada Muhammad al-wasiilah dan keutamaan, serta tempatkanlah dirinya pada maqam terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya. Maka ia berhak mendapat syafaatku di hari kiamat. e. Ketika berdoa. Ada tiga cara bershalawat ketika berdoa, yaitu: (1) sebelum berdoa. Yaitu memuji Allah lalu bershalawat kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam, (2) shalwat di awal, di pertengahan dan akhir doa, dan (3) shalawat di awal dan di akhir doa. Berdasarkan hadist Fadhalah bin Ubaid radhiyallahuanhu bahwasannya ada orang yang melakukan shalat kemudian ia menyanjung dan memuji Allah, serta bershalwat kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam, maka Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda kepadanya,

Wahai orang yang sedang shalat, berdoalah niscaya doamu akan dikabulkan, dan memohonlah niscaya permohonanmu akan dipenuhi. (HR Ahmad)

f. Ketika msuk dan keluar masjid. Disunnahkan mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahualaihi wa sallamketika masuk masjid dan keluar darinya. Berikut doa masuk masjid: Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untukku. Dan ketika keluar masjid, maka membaca : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu kepada-Mu. (HR Abu Dawud) g. Setiap duduk di majelis, juga ketika berkumpul beberapa orang, dan sebelum berpisah. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: Tidaklah suatu kaum duduk di sebuah majelis, mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalwat kepada Nabi mereka, melainkan hal itu menjadi kekurangan atas mereka. Maka, jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksa mereka. Dan jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuni mereka. (HR At-Tirmidzi) h. Setiap kali disebut nama Nabi shallallahualaihi wa sallam. Disunnahkan mengucapkan shalwat dan salam setiap nama beliau shallallahualaihi wa sallam disebut. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: Hina dan rugi serta kecewalah seseorang yang disebut namaku disisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku. (HR At-Tirmidzi) i. Pada waktu malam Jumat dan hari Jumat. Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: Perbanyaklah oleh kalian membaca shalwat kepaaku, pada hari Jumat dan malam Jumat, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali (shalawat saja), niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali. (THR Al-Baihaqi) j. Ketika berada di bukit Shafa dan bukit Marwah. Berdasarkan atsar dari Ibnu Umar radiyallahuanhuma yang diriwayatkan dariNafi radiyallahuanhu bahwasannya Ibnu Umar radiyallahuanhu bertakbir di atas bukit Shafa tiga kali, lali ia mengucapkan : Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya-lah segala kerajaan dan milik-Nya-lah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Kemudian

Ibnu

Masud

bershalawat

kepada

NAbi

shallallahualaihi wa sallam, lalu ia berdoa dengan memanjangkan berdiri dan doanya, lalu ia melakukan hal yang sama di bukit Marwah. (Lihat Jalaa-ul Afhaam, hal. 537-538)

4.

Bentuk-bentuk Shalawat dan Salam kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam Rasulullah shallallahualaihi wa sallam telah megajarkan kepada kamu

Muslimin tentang tata cara mengucapkan shalwat. Diantaranya adalah: Pertama, membaca: Ya Allah, berikanlah shalwat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau telah memberikan shalwat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha mulia. Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah member berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha mulia. (HR Al-Bukhari)

Kedua, atau membaca: Ya Allah, berikanlah shalwat kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah berkah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, seagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha mulia. (HR Malik dalam Al-Muwathatha)

Ketiga, atau membaca: Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebgaimana Engkau telah member shalwat kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhmmad sebagaimana

Engkau telah memberikan keberkahan kepada keluarga Ibrahim atas sekalian alam, sesungguhnya Engkau Maha terpuji (lagi) Maha mulia. (HR. malik) Imam an-Nawawi rahimatullah berkata, Apabila seseorang dari kalian bershalwat kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam hendaklah ia

menggabungkan antara shalawat dan salam, tidak boleh ia hanya mengucapkan .. saja atau .. saja (Shahih al-Adzkaar) Yang perlu diperhatikan dalam masalah shalawat kepada Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bahwa tidak boleh seseorang membuat shalawatshalawat yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahualaihi wa sallam. Dan tidak mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau shallallahualaihi wa sallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari AlQuran dan As-Sunnah.

Nama : Ayundha Nabilah NIM : 1101291 Kelas : 1A PGSD INTISARI BAB Sebagai umat Islam kita harus mencintai dan menaati Rasulullah sebagai bukti cinta kita terhadap Allah swt. Orang yang beriman haruslah menaati rasul dengan sepenuh hati, tanpa ada perasaan ragu di dalam hati. Jika seseorang merasa ragu-ragu terhadap apa yang dikatakan oleh Rasulullah dan menganggap pikirannya sendiri lebih benar daripada pikiran rasul, maka sebenarnya ia bukanlah orang yang beriman. Kecintaan kita kepada Rasulullah dapat dilakukan dengan beberapa cara. Diantaranya yaitu : (a) Mengimaninya, karena keislaman seseorang akan batal bila ia hanya beriman kepada Allah tetapi tidak beriman kepada Rasulullah. (b) Menghidupkan sunnahnya. (c) Memperbanyak shalawat kepadanya. (d) Mengikuti manhajnya yaitu system Islam yag mengatur segala aspek kehidupan manusia. Salah satu hak Nabi shallallahualaihi wa sallam yang diperintahkan Allah swt atas ummatnya adalah agar mereka bershalawat kepada beliau. Bahkan Allah swt dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau. Maka kita sebagai ummatnya haruslah bershalwat kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam. Shalawat yang diberikan oleh Allah swt berarti pujian Allah atas Nabi shallallahualaihi wa sallam, sedangkan shalawat yang diberikan para malaikat berarti mendoakan Nabi shallallahualaihi wa sallam, dan shalawat yang diberikan ummat Nabi shallallahualaihi wa sallam berarti permohonan ampun bagi beliau shallallahualaihi wa sallam. Keutamaan membaca shalawat antara lain : (a) Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah Taala. (b) Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi orang yang bershalawat sekali untuk Nabi shallallahualaihi wa sallam. (c) Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi shallallahualaihi wa sallam. (d) Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa dan diangkatnya derajat. Ada beberapa waktu yang disyariatkan untuk membaca shalawat, diantaranya ketika shalat yaitu pada tasyahud awal dan akhir, di dalam shalat jenazah sesudah takbir yang kedua, dalam khutbah, ketika berdoa, ketika menjawab adzan, ketika masuk masjid.

ANALISIS Bab ini menjelaskan tentang kewajiban kita sebagai seorang muslim yang harus mencintai dan menaati Rasulullah sebagai salah satu aplikasi kecintaan kita terhadap Allah swt. Dalam bab ini juga dijelaskan secara mendalam tentang shalawat. Dijelaskan bahwa Allah swt dan para malaikatpun bershalawat kepada Rasulullah shallallahualaihi wa sallam. Menurut saya, ada beberapa kekurangan yang terdapat dalam bab ini. Diantaranya hal yang terus menerus dibahas adalah mengenai shalawat kepada Nabi shallallahualaihi wa sallam. Memang salah satu bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah adalah dengan mengucapkan shalawat dan salam. Tetapi bab ini tidak membahas aplikasi lain dalam mencintai Rasulullah. Sehingga materi yang ada tidak variatif dan hanya tentang shalawat saja. Padahal jika ditambahkan aplikasi lain dalam mencintai dan menaati Rasulullah, mungkin materi yang ada akan lebih berkorelasi dengan judul bab ini. Jadi pembacapun bisa mengambil lebih banyak contoh aplikasi dalam meneladani dan menaati Rasulullah. Tetapi di balik kekurangannya, bab ini juga mempunyai kelebihan. Diantaranya adalah bab ini membahas secara detail tentang shalawat dari mulai alasan bershalawat, manfaatnya,dan waktu yang disyariatkan untuk bershalwat. Hal ini menjadikan ilmu tentang shalawat yang kita dapat tidak setengah-setengah, jadi pembaca akan lebih memahami mengenai shalawat. Bab ini juga menyajikan beberapa dalil-dalil dari Al-Quran dan hadist tentang shalawat yang membuat kita menjadi lebih yakin tentang hal-hal yang dikatakan oleh penulis.

Contoh yang lain, perdukunan merupakan hal yang terlarang di dalam Islam, maka menuntut upah-nya pun terlarang (haram hukumnya). Hal ini berdasarkan hadist rosulullah sholallhu alayhi wasallam: Abu Masud al-Anshori berkata, Rasulullah melarang uang hasil penjualan anjing, imbalan pelacur, serta upah dukun (HR. Bukhori dan Muslim)