Anda di halaman 1dari 9

Peristiwa Pemberontakan di Tibet

Kompasianer menilai menarik Dalam Harian Kompas hari ini dimuat berita tentang Tibet. Fidel Castro memuji laporan Pemerintah RRT yang mengeritik keras penegakan HAM di Amerika. Hal ini berkenaan dengan memanasnya kembali situasi di Tibet, dimana baru-baru ini pasukan RRT menggerebek sebuah vihara dan terjadi dua korban. Untuk mengetahui masalah Tibet ini, maka kiranya perlu juga mengetahui peristiwa yang terjadi di Tibet ketika akhir PD.II. Pemerintah Tiongkok menganggap masalah ini disebabkan interfensi Barat terhadap urusan dalam negerinya. Dan menuduh Barat mengunakan Tibet, Xinjiang, Fat Lun Gong sebagai alat untuk Anti Tiongkok-Tonghoa. Untuk membahas masalah Tibet ini, marilah kita kembali pada tahun akhir 1942, saat itu Intelijen Pertahan AS (agen OSS) mengirim Kol. Ilya Tolstoy dan Kapten Dolan utk menyusup ke Tibet melakukan kegiatan subversib. Kol. Tolstoy adalah cucu dari penulis terkenal Tolstoy. Tahun 1946 Presiden AS Truman memerintahkan untuk menyumbang pembangkit listrik kepada pemerintahan daerah Tibet. Tahun 1949 atas bantuan agen rahasia dari Inggeris Mr. Ford mendirikan Pemancar Radio Tibetuntuk memnyiarkan berita-berita Kemerdekaan Tibet. Saat jatuhnya pemerintahan Kuo Ming Tang, dengan tiba-tiba Amerika mengubah sikap resminya, yang tadinya mengakui Tibet sebagai bagian dari Tiongkok, kini tidak. Dan mulai secara rahasia menyokong pemda Lhasa-Tibet untuk menuntut kemerdekaan, dan menghalangi pemerintahan Tiongkok baru untuk mempersatu Tibet. Pada Pebruari 1949 atas pengaturan Ilya maka utusan kemerdekaanTibet bertemu dengan Jend. Essenhower. Pada Sept. 1949 kabinet Amerika menetapkan anggaran USD.75juta khusus utk melakukan kegiatan intelijen di Tiongkok. Tahun kedua atas dukungan Menhan Johson diturunkan dana USD.30 juta utk mendukung kemerdekaan Tibet dan dana darurat Taiwan. Pada 23 Mei 1951 setelah melalui perundingan satu bulan. Pemerintah Pusat Tiongkok dan utusan pemda Tibet menanda tangani Perjanjian Kerjasama dan Kesepakatan Damai 17 pasal tentang Tibet. Ketika kabar tersebut terdengar di Amerika, maka sebagian pejabat tinggi Amerika mengadakan provokasi melalui Tangchai Lama ( Kakak tertua Dalai Lama ) untuk menentang perjanjian tersebut. Pada saat bersamaan sebagian pejabat Amerika dan CIA mengikat perjanjian dengan Tangchai untuk persiapan melakukan perang gerliya dan melakukan kegiatan intelijen militer, dan mendirikan Posko intelijen di Bukit Tajrin Tibet. Bahkan beberapa personil Kedutaan Amerika di India telah dengan detail membuat Perencanaan Pelarian, untuk persiapan melarikan Dalai Lama ke India. Pemerintah Pusat Tiongkok berhasil mengembalikan usaha pelarian Dalai Lama yang pertama, dimana dia telah berhasil mencapai perbatasan Tibet & Sikkim di Distrik Yatong. Dan dikembalikan ke Lhasa, tapi ketika itu Tangchai Lama berhasil menyeberang perbatasan dan dibawa ke Inggris. Pada 1952 Tangchai diterbangkan ke Amerika utk berunding dengan CIA utk merencanakan dengan pesawat terbang melarikan Dalai Lama. Dengan mencari daerah yang

lapisan esnya tebal untuk pendaratan & takeoff di danau Yangchohungchou & Namuzho. Setelah rencana matang Tangchai Lama menulis surat rahasia kepada Dalai Lama. Namun Dailai Lama membalas suratnya dengan mengatakan bahwa dia tidak berkeinginan keluar negeri, dan menyatakan bahwa Pemerintah Komunis Tiongkok tidak akan mengadakan revolusi kekerasan yang akan merugikan kepentingannya, tapi beliau tetap menyarankan Tangchai untuk terus menjalin hubungan dengan Amerika. Menurut laporan Harian Los Angels Time pada tgl.15 Sept. 1998, (Menurut laporan CIA yg belum lama dibuka utk umum), pada abad 20 tahun 60an Amerika telah mengucurkan dana kepada pelarian Tibet sebesar USD 17 juta, dengan tujuan utk mengadakan perlawan terhadap Pemerintah Tiongkok dalam membangun Tibet. Diantaranya termasuk memasok Dalai Lama USD.1,8 juta per tahun. Untuk dana bantuan tersebut Dalai Lama dalam Autobiographinya tahun 1990 mengakui sbb: bantuan tersebut bukanlah perhatian Amerika terhadap kemerdekaan Tibet, tapi hanyalah sebagian rencana strategis global Amerika dalam memerangi Komunis. Tahun 1954 Dalai Lama pertama mengikuti Kongres Rakyat Tiongkok I, dan terpilih sebagai Wakil Ketua Kongres. Ketika beliau disambut dengan hangat, dan ketika Mao Zhe Tung secara pribadi menyambut dan menghantar dia. Dalai Lama merasa sangat terharu dan menangis. Bahkan beliau mengarang sebuah puisi untuk Mao Zhe Tung Pencipta Agung Brahma /. Pada abad 20 tahun 90an Dalai Lama dalam pengasingan mengakui bahwa puisi ini benar-benar merupakan perasaan dari lubuk hatinya. Setelah Tibet berhasil dibebaskan dan damai, Amerika tetap saja mencoba melakukan kegiatan subversib dengan segala cara untuk mendukung para pembangkang merongrong ketenangan Tibet secara rahasia. Dan memprovokasi Tiongkok. Semenjak tahun 1951 CIA telah melatih para pembangkang untuk melakukan kegiatan subversib di Tibet. Almo dijadikan salah satu pangkalan/posko kegiatan intelijen Tibet. Tahun 1956 musim semi, pemerintah Tiongkok sedang mengadakan persiapan reformasi demokrasi di daerah Sichuan dan Tibet ( bagian daerah Gangba ). Beberapa Juragan-juragan tani dan petani kaya sekitar bulan Maret mengumpulkan ribuan gang mencoba mengadakan huruhara di Litang. Kemudian di-ikuti oleh daerah Kan Mi dan Gangba mengadakan pemberontakan bersenjata. Setelah peristiwa ini terjadi, CIA mengumumkan bahwa pemberontak bersenjata Gangba adalah sekutu Amerika yang dapat dipercaya. Direktur CIA mengira bahwa situasi Tibet merupakan kesempatan yang sangat tepat dan akan susah ditemui lagi. Maka pada November tahun itu, seorang pedagang bernama Kompot Tashi mengutus 6 orang dari Gangba menyelusup ke India. Dan dengan pesawat Amerika mereka diangkut ke pulau Saipan di Pacific utk diberi pelatihan. Orang-orang yang dilatih tersebut mulanya tidak mengetahui akan dibawa kemana, hanya mengikuti perintah, diharuskan berjalan keluar dari Kalimpong. Di tengah jalan dengan sebuah mobil yang dikemudikan langsung oleh Gylo Toninzhub/ Chiatursi dikirim keperbatasan IndiaPakistan. Seorang Amerika memberi mereka jubah dan sorban, utk berpakai seperti suku Sieg, kemudian ke Dacca Pakistan Timur ( sekarang Bengaldes ). Disini mereka mendapat pelatihan selama 4 bulan. Pada 1957 Agustus, orang-orang ini disusupkan lagi ke Gangba untuk memimpin pembrontakan. Dan mendesak Dalai Lama untuk secara terbuka meminta bantuan

kepada Amerika. Diantaranya dua orang berhasil menghubungi Kompot Tashi. Pada bulan Januari 1958 di Istana musim panas Dalai Lama Norbulingka mengadakan rapat rahasia dengan pengurus keluarga istana Lhasa - Para Dengweideng/ . Pada musim gugur 1958, CIA menyusupkan 4 orang terlatih lagi ke daerah Sichuan dan Tibet ( bagian daerah Gangba ). Diantara 4 orang tsb satu orang tertembak mati, sisanya yang tiga orang ketika baru menemukan teman gerombolannya terkepung oleh Tentara Pembebasan Tiongkok, dua orang tertembak mati. Dan tersisa seorang ketua kelompoknya Wangdui Gyatso/ berhasil menyusup ke Tibet. Karena pemancar berhasil direbut tentara pembebasan Tiongkok, CIA tidak dapat mendrop dengan tepat ke titik yang di-inginkan di daerah Gangba. Berturut-turut Juli 1958 & Pebruari 1959 Kompot Tashi telah mengadakan pendropan senjata berupa 403 pucuk senjata laras panjang, 20 pucuk senjata mesin dan 60 box granat tangan serta beberapa kantong uang Rupee India ke daerah bagian tengah Tibet. Tetapi berhubung gerombolan tersebut dipimpin oleh beberapa suku Tibet, masing-masing kelompok melihat uang yang begitu banyak menjadi merah mata, akhirnya mereka saling berperang dengan sengit untuk memperebutkannya. Sejak tahun 1958, CIA telah mengrekrut 170 orang dari pemberontak Gangba untuk dilatih di Kyushu dan Saipan serta tempat lainnya. Tapi berhubung orang-orang tersebut tidak terbiasa hidup di pulau dan udara laut, maka CIA memutuskan memindah tempat pelatihan ke Camp Hull, di Rocky Mountain, Colorado Amerika yang berketinggian dari permukaan laut 10 ribu feet/ 3000m daerah yang hampir mirip kondisinya seperti di Tibet. Dan menjadikan tempat ini Pusat Pelatihan Gerlya Gangba . Untuk mengelabuhi public pada 16-07-1957 Denver Post memberitakan bahwa Camp Hull akan dijadikan pusat percobaan senjata militer. Digerbang camp tersebut diberi papan peringatan Bahaya! Jangan Mendekat! , para pendaki gunung mengira tempat pembuangan limbah nuklir. Penjaga camp diperintah untuk menembak mati siapa saja yang masuk tanpa izin. Selama itu Amerika telah mendrop logistik sebanyak lebih dari 30 kali kepada pemberontak di daerah Shichuan, Tibet, Qinghai. Total lebih dari 250 ton, senjata M1 puluhan ribu pucuk, dan senjata berat lainnya. 40 orang yang telah dilatih dicamp ini diterjunkan berserta dengan alat perhubungan ( PHB ). 10 orang agen berhasil melarikan diri ke India, 2 orang tertangkap ( kemudian 1979 dibebaskan ) dan 37 orang terbunuh atau mati karena kedinginan dan kelaparan di padang salju. Setelah pemberontak 1959 gagal, Dalai Lama kabur ke India. CIA melihat bahwa pemberontakan bersenjata Tibet tidak mempunyai harapan utnuk berhasil, maka 1960 mendirikan Pemerintah Pengasingan, Gylo Toinzhub sebagai Menlu dan Kompot Tashi/sebagai Menperdag, dengan harapan mereka bisa merongong Tibet dari perbatasan. Setelah mempertimbangkan segala aspek maka dipilihlah Negara Nepal yang setengah merdeka didaerah hutan gunung yang masih feodal Mustang, didaerah ini Agama Lama tidak dikontrol oleh pemerintah setempat, lebih-lebih daerah yang dekat dengan perbatasan Tibet, daerah ini jarang penduduknya juga mudah utk melakukan penyelundupan. Karena jarang penduduk jadi segala keperluan logistic mengadalkan bantuan Amerika. Maret 1961 Pres. Kennedy menyetujui anggaran puluhan ribu USD per bulan untuk mendukung kebutuhan ini. CIA bahkan di Nepal mendirikan perusahaan penerbangan Alisan Helicopter,

utk mendukung logistic & peralatan militer. Hingga akhir 1961 tempat terpencil Mustang, disini telah terkumpul 2000 pemberontak bersenjata. Dan Mustang sebagai pangkalan militer pemberontak, dari mencoba untuk menyerang Tibet secara perang gerilya, tapi berhubung banyak yang jadi korban, akhirnya semangat mereka menurun. Walaupun demikian CIA tetap mendorong mereka utk beperang, namun mereka tidak memberi respon apa yang diharapkan oleh Amerika. Akhirnya sejak 1965 pendropan logistik dan alat militer dihentikan. Tapi Amerika masih tetap mengirim dana terbatas kepada mereka. Karena dana yang diberikan menyusut, pemimpin pemberontak Gangba Baba Yeshe/, Gylo Toinzhub dan keponakan Kompot Tashi - Wangdui terjadi bentrok bersenjata. Pendropan logistic dan militer Amerika membuat Negara sekitar Tibet menjadi tidak nyaman. Pada akhir Juni 1960 pemerintah India menyatakan bahwa meliter India akan mengambil tindakan militer untuk pelanggaran udara yang dilakukan pesawat Amerika. Berhubung kegiatan Amerika di Mustang tidak pernah berkonsulatsi dengan pemerintah Nepal, maka ketika pemerintah Tiongkok mengadakan pendekatan tentang masalah tersebut kepada pemerintah Nepal, mereka menyata tidak tahu menahu. Setelah beberapa kali didesak, akhirnya pemerintah Nepal menindak pemberontak Gangba diperbatasan mereka, dan mem-persona non-garatakan diplomat Amerika bagian luar negeri Rocky Stone , dan melarang Amerika menggunakan lapangan terbang Nepal utk mendrop logistic kepada pemberontak Gangba. Tahun 1973, Raja Nepal Pilande mengujungi Tionkok. Dalam pertemuannya dengan Mao Zhe Tung, beliau mendesak Nepal bisa cepat mengatasi pemberontak Gangba di perbatasan. Bulan Juli 1974 tentara Nepal mengepung pangkalan Mustang. Sebagian besar pemberontak ini menyerahkan senjatanya, tapi panglima perangnya dan pemberontak gelombang kedua yang dilatih di Saipan Wangdui Gyatso tidak mau menyerah, dan mencoba menerobos kepungan untuk menyelusup ke India, namun di muka gunung terbunuh oleh tentara Nepal. Nopember 1995, Dalai Lama yang telah di Peng-asingan-Damsala, bertemu dengan bekas pejabat CIA John Keneth Greham penanggung jawab pendropan logistic. Mengenang saat bekerjasama , Dalai Lama dengan sedih mengatakan : Pemerintah Amerika melibatkan diri dengan masalah Tibet bukanlah karena akan membantu Tibet, tapi hanyalah keperluan strategis global dalam perang dingin Bahan: Kompas.com

Abad ke-18 dan ke-19


Dalai Lama ke-6 menikmati gaya hidup yang merangkumi minum arak, main perempuan, dan menulis lagu cinta. Selepas mengisytiharkan bahawa Dalai Lama itu tidak wajar menjadi sami, Lha-bzang Khan, ketua Mongol, menyerang Tibet dengan kebenaran maharaja Kangxi China pada tahun 1705. Dalai Lama itu meninggal dunia tidak lama kemudian, mungkin dibunuh. Orang Tibet dengan marah menolak calon Dalai Lama yang palsu yang dibawa oleh Lha-bzang, dan meminta bantuan daripada puak Dzungar (atau Oyrat), salah satu puak Mongol. Puak Dzungar menewaskan dan membunuh Lha-bzang, tetapi kemudian mula menjarah Lhasa dan merampas barang-barang makam Dalai Lama ke-5. Mereka kekal di Tibet sehingga diusir oleh sebuah ekspedisi Qing China pada tahun 1720. Tentera Qing melantik Kelzang Gyatso sebagai Dalai Lama ke-7 dan dialu-alukan sebagai pembebas dan penaungnya. Selepas pengunduran tentera Qing dari Tibet Tengah pada tahun 1723, suatu tempoh perang saudara menyusul. Pada masa yang sama, Amdo diisytiharkan sebagai sebuah wilayah Cina yang dinamai Koko Nor (tasik biru). (Kawasan ini kemudian menjadi provinsi Qinghai pada tahun 1929.) China mula menugasi dua orang amban (pesuruhjaya tinggi) untuk bekerja di Lhasa in 1727. Para ahli sejarah yang menyokong China memperdebatkan bahawa kehadiran amban merupakan kedaulatan China, sedangkan mereka yang menyokong Tibet cenderung menyamakan amban dengan duta. "Hubungan antara Tibet dan China (Qing) adalah antara sami dan penaung, dan tidak berdasarkan pengetepian antara satu sama lain", menurut Dalai Lama ke-13. Pho-lha-nas memerintah Tibet dengan bantuan China antara tahun-tahun 1728-1747. Beliau memindahkan Dalai Lama dari Lhasa ke Litang supaya menyusahkan Dalai Lama mempengaruhi kerajaannya. Selepas kematian Pho-lha-nas, anak lelakinya memerintah sehingga dibunuh oleh para amban pada tahun 1750. Ini mencetuskan sebuah rusuhan yang mengakibatkan para amban dibunuh. Sebuah angkatan tentera Cina masuk ke Tibet dan memulihkan ketenteraman. Pada tahun 1751, Maharaja Qianlong mengeluarkan sebuah dekri 13perkara yang membubarkan jawatan rejen (desi) yang ditubuhkan oleh kerajaan Tibet dan sebagai ganti, menubuhkan kashag, majlis negara yang terdiri daripada empat orang menteri, serta memberikan kuasa yang rasmi kepada para amban. Dalai Lama dikembalikan ke Lhasa untuk mengetuai kerajaan yang baru. Pada tahun 1788, Raja Prithvi Narayan Shah, raja Gurkha, menyerang Tibet. Tidak berupaya menewaskan tentera Gurkha, Tibet meminta bantuan daripada Dinasti Qing di China. Tentera Qing-Tibet menewaskan tentera Gurkha dan menyerang Nepal. Maharaja Qianlong kecewa akan keputusan yang dicapai oleh dekri yang dikeluarkannya pada tahun 1751, serta prestasi para amban. "Hal-ehwal tempatan Tibet ditinggalkan kepada kehendak hati Dalai Lama dan ahli-ahli Kashag," baginda bertitah. "Para Pesuruhjaya tidak berupaya melakukan tanggungjawab mereka, dan juga dikekalkan dalam kejahilan. Keadaan ini mengurangkan jawatan Pesuruhjaya Tetap di Tibet menjadi suatu jawatan pada nama sahaja."

Pada tahun 1792, maharaja China mengeluarkan sebuah dekri 29-perkara yang kelihatan bertujuan untuk mengetatkan kawalan Cina ke atas Tibet. Ia mengukuhkan kuasa para amban yang secara teori, diberikan pangkat yang setanding dengan Dalai Lama dan Panchen Lama, serta kuasa untuk hal-ehwal kewangan, diplomasi, dan perdagangan. Dekri itu juga menggariskan suatu kaedah yang baru untuk memilih kedua-dua Dalai Lama dan Panchen Lama melalui sebuah loteri yang dikendalikan oleh para amban di Lhasa. Dalam loteri ini, nama-nama calon yang bersaing ditulis dalam kertas-kertas yang dilipat dan diletakkan ke dalam sebuah pasu emas. Dalai Lama ke-10, ke-11, dan ke-12 dipilih melalui kaedah pasu emas. Dalai Lama ke-9, ke-13, dan ke-14 dipilih oleh labrang, rombongan pengiring penjelmaan semula yang dahulu, dengan pilihannya diluluskan oleh Beijing selepas pemilihan. Tentera British memaksa tentera Tibet supaya berundur dari Nepal. Pada abad ke-19, kuasa kerajaan Qing mula merosot. Ketika askar-askar Cina yang ditempatkan di Lhasa mula mengabaikan tugas ketenteraan mereka, para amban hilang pengaruh. Selepas serangan Tibet oleh Jeneral Zorawar Singh, perang-perang ditempur di Kemaharajaan Jammu di India, dan diselesaikan dengan perjanjian-perjanjian perdamaian dengan Maharaja Gulab Singh di Ladakh pada tahun 1841, serta dengan Nepal pada tahun 1856, tanpa sebarang penglibatan Beijing. Perjanjian dengan Nepal itu memperuntukan sebuah perutusan Nepal di Lhasa yang kemudian membenarkan Nepal untuk menuntut hubungan diplomatik dengan Tibet dalam permohonan keahliannya kepada Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu pada tahun 1949.

Campur tangan dan pendudukan British


Rencana utama: Ekspedisi British ke Tibet

Pihak berkuasa di India British membaharui minatnya terhadap Tibet pada akhir abad ke-19, dan sebilangan orang India masuk ke negara Tibet, mula-mula sebagai penjelajah, dan kemudiannya sebagai pedagang. Perjanjian-perjanjian mengenai Tibet diikat antara Britain dengan China pada tahun 1886 , 1890, dan 1893, tetapi kerajaan Tibet enggan memberikan sebarang pengiktirafan terhadap perjanjian-perjanjian itu dan masih menghalang utusan-utusan British dari wilayahnya. Semasa "Permainan Agung", tempoh persaingan antara Rusia dengan Britain, Britain hendak seorang wakil di Lhasa untuk mengawal dan mengimbangi pengaruh Rusia. Pada tahun 1904, mereka menurunkan seangkatan tentera India di bawah Leftenan Kolonel Francis Younghusband yang selepas beberapa pertempuran, menduduki Lhasa. Sebagai gerak balas, kementerian luar negeri Cina menegaskan kedaulatan China terhadap Tibet, kenyataan jelas yang pertama tentang tuntutan tersebut.

Sebuah perjanjian kemudian diikat antara Britain dan Tibet yang memerlukan Tibet:

membuka sempadannya dengan India British supaya membenarkan pedagang-pedagang British dan India dapat membuat perjalanan secara bebas; tidak mengenakan duti kastam ke atas perdagangannya dengan India; membayar 2.5 juta rupee kepada Britain sebagai ganti rugi; dan tidak memulakan sebarang hubungan dengan kuasa-kuasa asing tanpa kebenaran British.

Dalai Lama ke-13 melarikan diri ke Mongolia dan oleh itu, mohornya dicap oleh Ga-den TiRimpoche. Apabila Parti Liberal kembali untuk berkuasa, London mengubah dasar pra-1904nya, dan membenarkan China untuk berunding bagi pihak Tibet. Oleh itu, perjanjian Anglo-Tibet disahkan oleh sebuah perjanjian China-British pada tahun 1906 yang menyebabkan "Great Britain berjanji tidak akan mengilhakkan wilayah Tibet atau masuk campur dalam pentadbirannya." Di samping itu, Beijing bersetuju untuk membayar London sebanyak 2.5 juta rupee yang Lhasa dipaksa bersetuju untuk membayar dalam perjanjian Anglo-Tibet pada tahun 1904. Pada tahun 1907, Britain dan Rusia bersetuju tidak akan berunding secara langsung dengan Tibet dan mengisytihar "pertuanan China terhadap Tibet." (Sebuah negara dipertuan ialah sebuah negara yang mempunyai setakat kuasa terhadap sebuah wilayah tanggungan.) Pada tahun 1910, kerajaan Qing menurunkan sebuah ekspedisi ketenteraan diri untuk mengasaskan pemerintahan Cina yang langsung dan menggulingkan Dalai Lama melalui sebuah edik empayar. Dalai Lama sekali lagi melarikan diri, kini ke India. "Dengan memasuki dan kemudian keluar, kami menjatuhkan Tibet dan meninggalkannya untuk pendatang pertama menendang", tulis Charles Albert Bell, pegawai diplomatik British yang ditempatkan di Sikkim serta pengkritik dasar kerajaan Liberal.

Tentera Cina diusir


Menyusul sebuah pemberontakan di China, tentera awam tempatan Tibet melancarkan sebuah serangan yang terkejut terhadap garison Cina yang ditempatkan di Tibet. Selepas itu, pegawaipegawai Cina di Lhasa dipaksa memeterai "Perjanjian Tiga Perkara" yang memperuntukkan penyerahan dan pengusiran angkatan tentera Cina dari Tibet Tengah. Pada awal tahun 1913, Dalai Lama kembali ke Lhasa dan mengeluarkan sebuah pengisytiharan yang diedarkan ke seluruh Tibet. Pengisytiharan itu mengutuk "niat Cina untuk menjajah Tibet di bawah hubungan penaung-sami" dan menyatakan bahawa "Kami adalah sebuah negara yang kecil, beragama, dan merdeka". Tibet dan Mongolia dikatakan memeterai sebuah perjanjian pada tahun 1913 yang mengiktiraf kemerdekaan satu sama lain; bagaimanapun, tidak terdapat sebarang cara untuk mengesahkan kewujudan dokumen itu. Pada tahun 1913-14, sebuah persidangan diadakan di Simla antara Britain, Tibet, dan Republik China. Great Britain mencadangkan pembahagian kawasan-kawasan Tibet yang dihuni oleh penduduk-penduduk menjadi Tibet Luar dan Tibet Dalam (berdasarkan model sebuah perjanjian yang lebih awal antara China dan Rusia tentang Mongolia). Tibet Luar yang kawasannya lebih kurang sama dengan Kawasan Autonomi Tibet moden, akan mencapai autonomi di bawah pertuanan Cina, dan China berjanji tidak akan "masuk campur dalam pentadbirannya". Di Tibet Dalam yang terdiri daripada Kham timur dan Amdo, Lhasa hanya akan mengekalkan kuasa terhadap perkara-perkara keagamaan. Pada tahun 1908-18, terdapat sebuah garison Cina di Kham, dengan putera-putera tempatan dikuasai oleh komandernya. Dalam sebuah sidang yang dihadiri oleh wakil-wakil Tibet, Henry McMahon, ketua perunding British, melukiskan garis yang menetapkan sempadan Tibet-India. Kerajaan-kerajaan Cina yang berikutan menuntut bahawa Garisan McMahon memindahkan banyak kawasan wilayah secara haram kepada India. Wilayah yang dipertikaikan itu dipanggil Arunachal Pradesh oleh India dan

dipanggil Tibet Selatan oleh China. Pada tahun 1912, pihak British mengikat perjanjianperjanjian dengan para ketua puak tempatan untuk menubuhkan sebuah Kawasan Sempadan Timur Laut agar mentadbirkan kawasan tersebut. Konvensyen Simla dimeterai oleh ketiga-tiga perutusan, tetapi ditolak dengan serta-merta oleh Beijing kerana ketakpuasannya terhadap cara sempadan Tibet Luar dan Tibet Dalam ditetapkan. McMahon dan Tibet kemudian memeterai sebuah perjanjian dwipihak, dengan nota dilampirkan yang tidak membenarkan China sebarang hak dalam perjanjian itu kecuali China memeterainya. Kerajaan India yang dikendalikan oleh pihak British pada mula-mulanya menolak perjanjian dwipihak McMahon yang tidak selaras dengan Konvensyen Inggeris-Rusia 1907. Menjelang tahun 1918, Lhasa telah memperoleh semula kuasanya terhadap Chamdo dan Kham barat. Sebuah kedamaian sementara menetapkan Sungai Yangtze sebagai sempadan. Pada waktu itu, kerajaan Tibet menguasai seluruh -Tsang dan Kham di sebelah barat Sungai Yangtze yang sempadannya lebih kurang sama dengan Kawasan Autonomi Tibet pada masa kini. Kham barat diperintah oleh putera-putera Tibet tempatan yang terdiri daripada berbagai-bagai kesetiaan. Di Amdo (Qinghai), Ma Bufang, hulubalang kelompok etnik Hui serta penyokong Kuomintang, menguasai kawasan Xining. Kawasan-kawasan provinsi yang lain berada di bawah kuasa tempatan. Pada sepanjang dekad 1920-an dan 1930-an, China dibahagikan oleh perang saudara dan kemudian, perhatiannya dialih oleh perang anti-Jepun, tetapi ia tidak pernah melepaskan sebarang tuntutan terhadap kedaulatannya ke atas Tibet dan membuat percubaan sekali-sekali untuk menuntutnya. Semasa pemerintahan Dalai Lama ke-13, Beijing tidak mempunyai sebarang wakil di wilayah itu. Bagaimanapun pada tahun 1934, selepas kemangkatan Dalai Lama, China menghantar sebuah "perutusan takziah" yang diketuai oleh Jeneral Huang Musong ke Lhasa. [44] Sejak tahun 1912, Tibet telah mencapai kemerdekaan de facto daripada China, tetapi kekadang menunjukkan kerelaan untuk menerima status bawahan sebagai "sebahagian China", asalkan sistem-sistem dalamannya tidak dikacau dan asalkan China melepaskan kawalannya terhadap sebilangan kawasan etnik Tibet yang penting di Kham dan Amdo. Pada tahun 1938, pihak British akhirnya menerbitkan Konvensyen Simla sebagai sebuah perjanjian dwipihak dan menuntut bahawa biara Tawang yang terletak di selatan Garisan McMahon menghentikan pembayaran cukai kepada Lhasa. Dalam sebuah percubaan untuk mengubah sejarah, salah sebuah jilid Himpunan Perjanjian (A Collection of Treaties) yang ditulis oleh C.U. Aitchison yang pada asalnya mengandungi nota yang menyatakan bahawa tidak adanya sebarang perjanjian yang dicapai di Simla, ditarik balik daripada semua perpustakaan. Jilid yang berkenaan digantikan dengan sebuah jilid baru yang mengandungi tarikh penerbitan 1929 yang palsu dan yang merangkumi Simla, bersama-sama nota editor yang mengatakan bahawa Tibet dan Britain, tetapi bukan China, menerima perjanjian itu sebagai mengikat. Perjanjian Inggeris-Rusia 1907 yang pada awalnya menyebabkan pihak British menyoal kesahan Simla, telah ditolak oleh Rusia pada tahun 1917 dan oleh kedua-dua Rusia dan Britain pada tahun 1921. Bagaimanapun, Tibet mengubah pendiriannya terhadap Garisan McMahon pada dekad 1940-an. Pada akhir tahun 1947, kerajaan Tibet menulis sebuah nota yang disampaikan kepada Kementerian Hal-ehwal Luar Negeri India yang baru mencapai kemerdekaan dan menuntut daerah-daerah Tibet di selatan Garisan McMahon. Selain itu, dengan enggan

memeterai dokumen-dokumen Simla, Kerajaan Cina melepaskan diri daripada diperlukan memberi sebarang pengiktirafan kepada kesahan Garisan McMahon. Tibet mengasaskan sebuah Kementerian Luar Negeri pada tahun 1942 dan pada tahun 1946, menghantar perutusan-perutusan tahniah ke China dan India (berkaitan dengan keakhiran Perang Dunia II). Perutusan ke China diberikan surat yang ditujukan kepada Presiden Chiang Kai-sek yang menyatakan bahawa "Kami akan meneruskan kemerdekaan Tibet sebagai sebuah negara yang diperintah oleh para Dalai Lama yang berturut-turut melalui sebuah pemerintahan keagamaan-politik yang tulen." Perutusan itu bersetuju untuk menyertai dewan undangan perlembagaan Cina di Nanjing sebagai pemerhati. Pada tahun 1947-49, Lhasa menghantar sebuah "Perutusan Perdagangan" yang diketuai oleh Tsepon (iaitu Menteri Kewangan) W.D. Shakabpa ke India, Hong Kong, Nanjing (ketika itu ibu negara China), Amerika Syarikat, dan Britain. Negara-negara yang dilawati berhati-hati supaya tidak menyatakan sebarang sokongan terhadap tuntutan Tibet sebagai sebuah negara yang merdeka daripada China dan tidak membincangkan sebarang persoalan politik dengan perutusan itu. Pegawai-pegawai Perutusan Perdagangan tersebut masuk ke China melalui Hong Kong dengan pasport-pasport baru yang dikeluarkan oleh Konsulat China di India atas permohonan mereka, dan mereka tinggal di China selama tiga bulan. Bagaimanapun, negara-negara yang lain membenarkan perutusan itu untuk membuat perjalanan dengan menggunakan pasport-pasport yang dikeluarkan oleh kerajaan Tibet. Amerika Syarikat secara tidak rasmi menerima Perutusan Perdagangan tersebut. Perutusan Perdagangan Tibet bertemu dengan Clement Attlee, Perdana Menteri British, di London pada tahun 1948.