Anda di halaman 1dari 1

angguan nyeri tulang belakang banyak dialami masyarakat khususnya kaum lanjut us ia.

Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengatasi gangguan tersebut. Salah satunya adalah metode nucleoplasty. Metode tersebut telah diterapkan untuk pertama kalinya di Indonesia yakni di Omni Medical Center (OMC), Tangerang pada 14 April lalu. "Nucleoplasty merupakan metode penanganan gangguan tulang belakang yang disebabk an kerusakan bantalan tulang belakang (disc). Tindakan itu tidak memerlukan obat -obatan dan tindakan operasi," ujar spesialis bedah saraf OMC dr Alfred Sutrisno . Bantalan tulang belakang, kata Alfred, merupakan sebuah jaringan yang terletak d i antara ruas-ruas tulang belakang. Bantalan tersebut memiliki banyak fungsi. An tara lain sebagai peredam gerakan antartulang belakang. Bantalan tersebut dapat mengalami kerusakan atau pecah karena beberapa sebab. An tara lain kecelakaan, kesalahan dalam posisi duduk, terlalu sering mengangkat be ban berat, dan bertambahnya usia. "Bertambahnya usia membuat bantalan yang tadin ya elastis menjadi kaku sehingga mudah pecah," ungkapnya. Ketika bantalan tersebut pecah, bantalan menjadi melebar sehingga bagian tepinya menekan saraf-saraf yang terdapat dalam susunan tulang belakang. Akibatnya, pen derita akan merasakan gangguan saraf terjepit. Gejala yang dirasakan bisa bersifat ringan seperti kesemutan dan pegal-pegal, hi ngga yang berat seperti nyeri hebat dan kelumpuhan. Tindakan operasi bisa mengatasi gangguan tersebut. Melalui tindakan operasi ters ebut, bantalan yang rusak diperbaiki atau diganti sehingga saraf yang tadinya te rtekan bisa dibebaskan. Sementara itu, penanganan dengan tindakan nucleoplasty menghindarkan tindakan op erasi. Metode ini dilakukan dengan pemberian energi radio frekuensi melalui sebu ah alat yang mirip dengan suntikan pada lokasi kerusakan. "Dengan alat itu, dilakukan tindakan coblation atau pemanasan bantalan yang rusa k dengan energi radio frekuensi," terang Alfred. Dengan pemanasan tersebut, bantalan yang pecah akan mengerut sehingga saraf yang tadinya terjepit bisa dibebaskan. Meski begitu, tidak semua kondisi kerusakan bantalan tulang belakang bisa ditang ani dengan metode itu. Pada kerusakan bantalan yang berat dan kompleks, penangan annya tetap membutuhkan tindakan operasi. Karena itulah, sebelum tindakan dilakukan, terlebih dulu pasien akan didiagnosis menggunakan CT scan atau MRI untuk melihat derajat kerusakan bantalan tulang.