Anda di halaman 1dari 5

1.

pendahuluan
Gender adalah simbol yang menunjukkan kepribadian seseorang. Seorang laki-laki dikatakan laki-laki apabila terdapat kepribadian tersebut dalam dirinya, dan begitu juga dengan perempuan, ia dikatakan perempuan ketika ditemukan kepribadian perempuan dalam dirinya. Inhilah yang para ilmuan sosial menyebutnya sebagai gender. Gender dibentuk oleh budaya masyarakatnya melalui proses sosialisasi. Sehingga tidak menjadikan setiap orang maupun kelompok memiliki pemahaman yang sama dalam memaknai karakter laki-laki maupun perempuan, karena semua itu tergantung dari budaya dimana mereka tinggal. Berbeda dengan jenis kelamin, perbedaan laki-laki dan perempuan tampak jelas melalui biologisnya. Pandangan perbedaan dengan patokan biologis tidak menyebabkan perbedaan pemaknaan dalam memahami laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Perbedaan pandanga pada gender inilah yang menyebabkan study ini sangat penting untuk kita kaji. Gender menjadi study yang menarik karna didalamnya terdapat banyak permasalahan sosial. Perkembangan zaman menjadi salah satu pemicu terjadinya masalah dalam gender. Tidak seperti dahulu, kehidupan masyarakat terlihat sangat sederhana. kini Tidak sedikit perbedaan gender menjadi hambatan untuk mendapatkan hak-hak dalam kehidupan seseorang disebabkan tuntutan moderenisasi. Perempuan misalnya, nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat yang membatasi geraknya dalam dunia pendidikan menjadikannya lemah dalam pengetahuan, padahal pengetahuan atau ilmu sangat diperlukan untuk memudahkan aktifitas maupun menghindari masalah dalam kehidupan. Memahami gender berarti memahami masyarakat. Dengan memahami masyarakat, kita dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang terjadi dalamnya. Karena pandangan masyarakat terhadap gender merupakan cerminan dari budayanya. Sebagai contoh suku tschambuli, dari hasil penelitian margaret mead mengatakan bahwa dalam suku tersebut wanita perannya lebih dominan daripada laki-laki. Perannya wanita dalam suku ini jelas sangat berbeda dengan kebanyakan masyarakat di eropa yang menilai perempuan sebagai seorang yang lembut, dilindungi dan feminin. Perbedaan ini jelas menunjukan kepada kita bahwa gender ternyata dibentuk oleh budaya. Maka masalah sosial yang menyangkut genderpun berbeda dari masyarakat tschambuli dengan masyarakat eropa.

2. Rumusan masalah Perbedaan dalam gender antara laki-laki dan perepun sering kali menimbulkan masalah, salah satunya dalam dunia pekerjaan. Dengan alasan gender, wanita terbatas geraknya dalam dunia pekerjaan. Tidak seperti laki-laki yang dapat menggeluti setiap jenis pekerjaan maupun jabatan, wanita tidak memiliki kesempatan tersebut. Sehingga pembatasan ini menimbulkan rasa iri dan bahkan menimmbulkan dendam. Tidak hanya pembatasan dalam jabatan, tindak pelecehan juga sering dirasakan oleh kaum perempuan. Laki-laki yang merasa lebih kuat seringkali menindas perempuan yang dianggap lemah. Perlakuan tidak adidl ini menimbulkan aksi para perempuan yang menuntut keadilan maupun mengangkat drajat perempuan.

Jenis kelamin dan gender


Bahan acuan yang sering di gunakan untuk mengawali satu pembahasan mengenai masalah jenis kelamin dan gender ialah buku margaret mead mengenai seksualitas dan tempramen di tiga kelompok etnik di papua timur laut (1965). Dalam penelitiannya tersebut ia menemukan adanya perbedaan dari kebudayaab barat mengenai perbedaan lelaki yang cenderung berkepribadian keras, agresif, menguasai, dan seksualitas kuat, sedangkan perempuan dikaitkan dengan kepribadian keibuan, tidak agresif, feminin, dan lain-lain . namun Pada suku arapes yang tinggal di pegunungan, laki-laki maupun peremnnya cenderung saling tolong-menolong, disana tidak dijumpai seksualitas kuat maupun dorongan kuat ke arah kekuasaan. Pada suku mundugor, laki-laki maupun perempuannya sama-sama memiliki kepribadian yang kuat. Sedangkan pada suku tschambuli, perempuan lebih mendominasi ketimbang laki-laki. Dari hasil temuannya ini, mead menyimpulkan bahwa kepribadian laki-laki maupun perempuan tidak memiliki hubungan dengan jenis kelamin, melainkan di bentuk oleh budaya melalui proses sosialisasi. Jenis kelamin Jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis antara laki-laki dengan perempuan. Sebagaimana dikemukakan more dan sinclair (1995:117): sex refers to the biological between men and women, the result of differences in the cromosomes of the embryo. Defenisi konsep seks tersebut menekankan perbedaan yang disebabkan perbedaan kromosom pada janin. Gender

Menurut definisi (giddens, 1989:158), konsep gender menyangkut perbedaan psikilogis, sosial, dan budaya antara laki-laki dan perempuan. macionis (1996:240), gender sebagai arti penting yang diberikan masyarakat pada katagori laki-laki dan perempuan. Sedangkan lasswell dan lasswell (1987:51) mendefinisikan gender sebagai pengetahuan dan kesadaran, baik secara sadar maupun tidak, bahwa diri seseorang tergolong dalam jenis kelamin tertentu dan bukan dalam jenis kelamin lain.

Dari beberapa rumusan tersebut kita dapat melihat konsep gender tidak mengacu pada bentuk biologis, melainkan pada perbedaan psikologis, sosial, dan budaya yang dikaitkan masyarakat antara laki-laki dan perempuan. Gender dan sosialisasi Keluarga sebagai agen sosialisasi gender

Sebagaimana bentuk sosialisasi yang lain, maka sosialisasi gender juga dimulai dari keluarga. Melalui proses pembelajaran gender, yaitu proses pembelajaran femininitas dan maskulinitas yang berlangsung sejak dini, seorang mempelajari peran gender yang dianggap oleh masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya. Kelompok bermain sebagai agen sosialisasi gender

Dijumpainya segregasi menurut jenis kelamin anak perempuan bermain dengan anak perempuan, anak laki-laki bermain dengan anak laki-laki merupakan kebiasaan yang cenderung memperkuat identitas gender. Dikala berada dalam kelompok bermain laki-laki seorang anak laki-laki cenderung memainkan permainan yang lebih menekankan pada segi persaingan, kekuatan fisik, dan keberanian, sedangkan dalam kelompok bermain perempuan anak perempuan cenderung memainkan permainan yang cenderung menekankan pada kerja sama. Kelomok bermainpun menerapkan kontrol sosial bagi anggota yang tidak menaati aturannya. Seorang anak laki-laki yang memilih untuk bermain dengan anak perempuan misalnya akan dicap banci dan menghadapi resiko dikucilkan. Dan sebaliknya, perempuan yang bermain dengan laki-laki juga akan dicap tomboy dan beresiko dikucilkan. Sekolah sebagai agen sosialisasi gender

Sebagai agen sosialisasi gender, sekolah menerapkan sosialisasi gender melalui kurikulum formal, buku teks yang digunakan, apa yang oleh moore dan sinclair(1995) dinamakan sebagai kurikulum terselubung, dan pada saat siswa mulai dijuruskan ke bidang ilmu-ilmu tertentu. Media massa sebagai agen sosialisasi gender

Media masa, baik media cetak maupun media elektronik, sering membuat iklan yang menunjang streotip gender. Iklan yang memproduksikan beberapa keperluan rumah tangga

sering kali di tampilkan perempuan sebagai modelnya. Sedangkan iklan yang memproduksikan produk mewah yang merupakan simbol status dan simbol kesuksesan di bidang pekerjaan cenderung menampilkan model laki-laki.

Gender dan stratifikasi


Macionis (1996:245-246) mendefinisikan statifikasi gender sebagai ketimpangan dalam pembagian kekayaan , kekuasaan, dan priviles antara laki-laki dan perempun. Menurut macionis ketimpangan ini dijumpai dalam berbagai bidang: di dunia kerja, dalam pelaksanaan pekerjaan rumah tangga, di bidang pendidikan, dan di bidang politik. Adanya stratifikasi gender menyebabkan terlahirnya gerakan feminisme yang bertujuan membela dan memperluas hak-hak perempuan.

Gender dan pendidikan


Dalam masyarakat banyak kita jumpai nilai-nilai yang menghambat perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Ada yang mengatakan perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi krna akhirnya akan kedapu juga ada pula yang mengatakan seorang gadis sebaiknya menikah muda agar tidak menjadinperawan tua . semua anggapan ini menjadi penyebab terjadinya stratifikasi gende di dunia pendidikan. Gender dan pekerjaan

Gender dan penghasilan Gender dan politik Gender dan keluarga Kekerasan terhadap perempuan Perkosaan Kekerasan domestik Pelecehan seks