Anda di halaman 1dari 1

22

SELASA, 31 JANUARI 2012

OPINI

Tragedi Tugu Tani, Momentum Berantas Narkoba di Tanah Air


Veronica Colondam
Founder/CEO YCAB Foundation

ELAKANGAN ini kita semua disentakkan maraknya pemberitaan mengenai tragedi Tugu Tani pada Minggu (22/1). Dalam tragedi itu, sembilan nyawa melayang dan empat korban lain terluka parah akibat kelalaian sopir mobil Daihatsu Xenia dengan pelat nomor B 2479 XI, yang ternyata positif menggunakan narkoba. Tragedi tabrakan mobil Xenia yang dikemudikan Afriyani Susanti itu menjadi peringatan kepada kita semua atas kejamnya bahaya narkoba di Tanah Air. Namun bila ditinjau lebih jauh, tragedi tersebut hanyalah puncak dari gunung es karena sebenarnya masih banyak kasus menyedihkan lain akibat efek penyalahgunaan narkoba di Indonesia yang perlu mendapat perhatian. Sebagai contoh, kasus tindak pidana yang timbul akibat penyalahgunaan narkoba pada 2011 meningkat sebanyak 40 kali lipat menjadi 26.560 kasus dari kasus tindak pidana pada 1997. Ibu kota negara ini menempati posisi teratas sebagai wilayah

yang memiliki tindak pidana narkoba tertinggi. Badan Narkotika Nasional (BNN) juga mencatat, pada 2008, kerugian negara akibat peredaran narkoba mencapai Rp32,5 triliun. Estimasi kerugian tersebut bahkan diperkirakan meningkat menjadi Rp57 triliun pada 2013, termasuk kerugian biaya individual dan biaya sosial. Kasus lain juga bisa dilihat dari angka kematian pecandu narkoba di Indonesia per tahun. Berdasarkan data survei 2010 oleh BNN, angka kematian pecandu narkoba mencapai 15 ribu jiwa per tahun dan mayoritas di antara mereka remaja. Banyaknya remaja yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba jelas sangat mengkhawatirkan, mengingat masa depan bangsa bergantung pada kualitas generasi mudanya. Maka, tentu sangat menyedihkan bila remaja Indonesia justru rusak akibat penyalahgunaan narkoba. Keprihatinan dan rasa tanggung jawab atas masalah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja itu pula yang mendorong Yayasan

Cinta Anak Bangsa (YCAB Foundation) berdiri sebagai organisasi nonprofit pada o 1999. YCAB Foundation me1 mulai upaya pemberantasan penyalahgunaan narkoba melalui pendidikan pencegahan preventif di bawah salah satu pilar programnya, Healthy Lifestyle Promotion (HeLP). HeLP berkampanye ke sekolah-sekolah untuk membangun pemahaman remaja mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba

dan membangun gaya hidup sehat yang jauh dari perilaku berisiko. Masyarakat juga bisa mendapat konseling bebas pulsa (Helpline) di nomor 0-800-1-66-3784 untuk berkonsultasi seputar masalah perilaku berisiko remaja, termasuk narkoba. Sepanjang perjalanan program, kami menyadari bahwa partisipasi banyak pihak dan inovasi menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam implementasi sebuah

program sosial. Setidaknya, salah satu pendekatan YCAB melalui metode ripple (mengambil analogi riak air yang menyebar) dan pembentukan duta remaja antinarkoba di bawah konsep kolaborasi trisektor sukses menjangkau 1.956.432 siswa pada 6.258 mitra sekolah aktif di seluruh Indonesia sampai dengan Desember 2011. Ripple merupakan program dari remaja untuk remaja yang disampaikan dengan

gaya mereka sendiri. Pendekatan semacam ini tampaknya menjadi salah satu cara ampuh untuk mengedukasi remaja tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta konsekuensi kesehatan dan sosial yang menyertainya. Dalam program ripple, kami melakukan pre dan post test untuk mengukur perubahan yang terjadi pada tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap perilaku berisiko. Pengukuran atas dampak program menunjukkan hasil yang sangat baik, terdapat peningkatan pengetahuan yang signikan dan sikap yang lebih negatif terhadap perilaku berisiko dalam hubungannya dengan penyalahgunaan narkoba dan HIV/AIDS. Selain itu, potensi setiap individu dalam menyebarluaskan informasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba menjadi satu hal yang terungkap dari inovasi tersebut. Bagaimanapun, upaya kecil yang dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan akan menghasilkan sebuah dampak signikan. Bila melihat sejumlah dampak negatif penyalahgunaan narkoba yang saat ini kita hadapi, pekerjaan rumah kita tentunya masih banyak. Kita tak bisa memungkiri, dengan sekian banyak pekerjaan rumah terkait dengan kasus penyalahgunaan narkoba, Indonesia butuh dukungan yang lebih besar dari sekadar upaya pemerintah dan lembaga sosial. Dukungan lebih besar tentu akan tercipta bila seluruh elemen di negara ini ikut berpartisipasi.

Partisipasi yang bisa dilakukan seluruh elemen ialah melakukan pencegahan dini penyalahgunaan narkoba dan pencegahan dini itu berawal dari rumah. Upaya kecil dari lingkungan terkecil di tingkat individu dan keluarga juga bisa membawa perubahan baik yang signikan. Apalagi bila melihat jumlah penduduk Indonesia yang kini lebih dari 241 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi besar dalam membangun negara yang bebas dari penyalahgunaan narkoba melalui partisipasi aktif keluarga dan individu dalam membangun kesadaran bahaya narkoba. Bila kembali melihat catatan BNN yang menyatakan prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, kita tidak bisa menutup mata bahwa momok penyalahgunaan narkoba memang belum terselesaikan. Oleh karena itu, tragedi Tugu Tani seyogianya menjadi peringatan bagi seluruh elemen masyarakat untuk turut berpartisipasi memberantas penyalahgunaan narkoba. Dalam hal ini, tak terkecuali ajakan kepada individu untuk melakukan aksi nyata sebagai agent of change dalam menyebarluaskan informasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, baik mengenai bahaya bagi penggunanya maupun bahayanya bagi orang lain, bahkan bahaya latennya bagi Tanah Air. Intinya ialah melakukan pencegahan secara holistis. Artinya, memasukkan unsur pendidikan dan kesejahteraan yang terintegrasi dalam pesan promosi gaya hidup sehat.

Dari Mesuji untuk Reforma Agraria?


S Rahma Mary H
Koordinator Program Pembaharuan Hukum dan Resolusi Konik pada Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis

Noer Fauzi Rachman


Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria

ada 16 Januari 2012, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji telah memaparkan temuan-temuan mereka. Tim ini, yang dibentuk 17 Desember 2011, bertugas mencari fakta yang relevan dan akurat terhadap semua aspek yang terkait dengan peristiwa hukum di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, dan Kabupaten Mesuji, Lampung. TGPF menemukan beberapa hal penting di areal kasus Register 45 yang melibatkan warga dan PT Silva Inhutani, kasus di Desa Sri Tanjung yang melibatkan warga dan PT BSMI, serta kasus Sungai Sodong yang melibatkan warga dan PT Sumber Wangi Alam. Pertama, TGPF menemukan ada konflik agraria di tiga daerah tersebut yang berujung pada terjadinya kekerasan. Kedua, TGPF meminta Komnas HAM menyelidiki dugaan pelanggaran HAM da-

lam kasus kematian seorang warga, yaitu Made Aste di Register 45, Mesuji, Lampung. Ketiga, TGPF meminta ada bantuan kepada korban luka yang masih memerlukan perawatan medis. Keempat, TGPF merekomendasikan agar pemda membantu anak korban, terutama di bidang pendidikan. Kelima, TGPF merekomendasikan LPSK memberi perlindungan kepada saksi dan korban. Keenam, TGPF merekomendasikan pemerintah menindak dan menertibkan badan usaha pengamanan, penanggung jawab, dan perusahaan pengguna pengamanan tersebut. Terakhir, melakukan langkah penegakan hukum kepada pembuat dan pengedar potongan video kekerasan di DPR yang tidak sesuai dengan temuan fakta TGPF di tiga tempat kejadian. Terhadap kepolisian, TGPF juga merekomendasikan Polri untuk meningkatkan kapasi-

tas penanganan konik dan mendorong pelarangan penerimaan dana dari pihak ketiga untuk menjaga netralitas dan profesionalitas kerja Polri. Di sisi kebijakan agraria, TGPF m merekomendasikan kepada P Presiden untuk mempertimbangkan penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) Reforma Agraria yang pelaksanaannya dipantau Unit Kerja Presiden.

lagi. Semua yang melakukan tindakan penyalahgunaan kewenangan dan penindasan mesti diproses secara hukum dan dipastikan ada tindakan hukum dalam rangka menciptakan efek jera, yakni selain si pelaku tidak akan mengulangi perbuatan tersebut, masyarakat luas menun-

Penanganan kegawatdaruratan
Temuan-temuan TGPF tersebut patut dihargai. Karena TGPF menangani kasus Mesuji itu sebagai suatu kasus, kita bisa mengerti rekomendasirekomendasinya. Untuk menangani kasus yang hadir di depan mata, yang harus didahulukan ialah penanganan kegawatdaruratan, ketika kebutuhan-kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang menjamin kelanjutan hidup rakyat korban dipastikan tersedia. Pemerintah (termasuk pemerintah daerah) mesti melakukan penanganan itu dengan cepat dan tepat sasaran. Selain itu, harus dipastikan pula para rakyat yang merupakan korban bebas dari rasa takut akan intimidasi yang mungkin saja bisa dialami

Pemerintah seharusnya mempunyai gambaran mengenai ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah serta kekayaan alam di seluruh wilayah kabupaten dan provinsi.
jukkan bahwa negara hadir dalam melindungi segenap rakyat. Dalam situasi kegawatdaruratan itu, pengategorian antara mana rakyat yang asli (adat) dan mana yang pendatang (migran)--yang dilakukan pihak perusahaan dan pemerintah--sama sekali tidak akan menolong korban. Pengategorian itu akan me-

nimbulkan eksklusivisme dan permasalahan baru. Konflik-konflik agraria semacam kasus Mesuji tentu tidak bisa diatasi dengan pemecahan tambal-sulam karena sifatnya yang kronis dan struktural. Apakah kita bisa belajar dan apa yang bisa kita pelajari dari cara penanganan kasus Mesuji ini? Perlu dicatat bahwa TGPF juga menemukan akar masalah di tiga kasus Mesuji itu ialah adanya konflik agraria, tetapi rekomendasi-rekomendasi yang mereka hasilkan ternyata tak mencakup audit kebijakan pemberian hak guna usaha (HGU) yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional dan hak pengusahaan hutan tanam an industri (HPHTI) yang dikeluarkan Kementerian Kehutanan. Hal itulah yang sesungguhnya perlu dipelajari dan diperiksa dengan saksama, bagaimana penggunaan (dan penyalahgunaan) kewenangan dalam proses pemberian konsesi kepada perusahaanperusahaan termaksud yang berakibat menutup kesempatan rakyat setempat untuk mendapatkan manfaat atas sebagian tanah dan kekayaan alam di sana. Dalam rangka penyelesaian kasus, Pemerintah seharusnya dapat menggunakan kewenangannya untuk mengoreksi pemberian HGU dan HPHTI tersebut de-

ngan memastikan tersedianya tanah untuk permukiman dan usaha pertanian rakyat korban itu, bukan justru melanggengkan proses pengeksklusifan itu.

Menuju reforma agraria?


Untuk melengkapi apa yang kami angkat dalam tulisan kami sebelumnya, Mesuji, Konik Agraria yang Kronis, pada Media Indonesia (26 Desember 2011), kami mengusulkan pemerintah segera melakukan audit menyeluruh kebijakan pemberian konsesi dan konsekuensinya pada ketersediaan tanah pertanian dan permukiman untuk rakyat miskin perdesaan. Prinsipnya, badan-badan pemerintahan berkewajiban melindungi, menghormati, dan memenuhi hak-hak warga negaranya termasuk di dalamnya hak atas tanah, hak atas hidup yang layak, sebagai bagian dari hak ekonomi, sosial, dan budaya. Pemenuhan hak-hak tersebut secara progresif merupakan kewajiban negara, dan sebaliknya, membiarkan terjadinya perampasan-perampasan tanah oleh perusahaan-perusahaan raksasa merupakan suatu bentuk pelanggaran hak asasi manusia by omission, yang terjadi karena negara abai pada upaya melindungi warganya dari pelanggaran HAM yang dilakukan perampas tanah.

Sementara itu, penggunaan kekerasan oleh aparat negara kepada korban jelas merupakan pelanggaran HAM yang langsung, by commission. Menggunakan perspektif keadilan transisional (transitional justice) untuk penyelesaian konflik agraria semacam kasus Mesuji akan memungkinkan kita memahami konik agraria ini sebagai suatu tanda dari krisis agraria yang meluas. Pemerintah mestinya secara sungguh-sungguh bisa memahami kecenderungan konsentrasi penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah serta kekayaan alam itu pada perusahaan-perusahaan raksasa. Di lain pihak, memperhatikan perhitungan mengenai kebutuhan akan tanah untuk permukiman dan usaha pertanian rakyat miskin perdesaan. Pemerintah seharusnya mempunyai gambaran mengenai ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah serta kekayaan alam di seluruh wilayah kabupaten dan provinsi. Hanya dengan gambaran itulah pemerintah bisa merancang program reforma agraria yang menyeluruh. Inpres tentang Reforma Agraria sebagaimana diusulkan TGPF seharusnya diefektifkan untuk menyiapkan gambaran dan desain itu.

PARTISIPASI OPINI

Kirimkan ke email: opini@mediaindonesia.com atau opinimi@yahoo.com atau fax: (021) 5812105, (Maksimal 6.000 karakter tanpa spasi. Sertakan nama. alamat lengkap, nomor telepon dan foto kopi KTP)

Pendiri: Drs. H. Teuku Yousli Syah MSi (Alm) Direktur Utama: Rahni Lowhur-Schad Direktur Pemberitaan: Saur M. Hutabarat Direktur Pengembangan Bisnis: Alexander Stefanus Dewan Redaksi Media Group: Saur M. Hutabarat (Ketua), Andy F. Noya, Bambang Eka Wijaya, Djadjat Sudradjat, Djafar H. Assegaff, Elman Saragih, Laurens Tato, Lestari Moerdijat, Rahni Lowhur Schad, Suryopratomo, Toeti P. Adhitama Redaktur Senior: Elman Saragih, Laurens Tato, Saur M. Hutabarat Deputi Direktur Pemberitaan: Usman Kansong Kepala Divisi Pemberitaan: Kleden Suban Kepala Divisi Content Enrichment: Gaudensius Suhardi Deputi Kepala Divisi Pemberitaan: Abdul Kohar Sekretaris Redaksi: Teguh Nirwahyudi Asisten Kepala Divisi Pemberitaan: Ade Alawi, Fitriana Siregar, Haryo Prasetyo, Ono Sarwono, Rosmery C.Sihombing Asisten Kepala Divisi Foto: Hariyanto

Redaktur: Agus Mulyawan, Anton Kustedja, Cri Qanon Ria Dewi, Eko Rahmawanto, Eko Suprihatno, Hapsoro Poetro, Henri Salomo Siagian, Ida Farida, Jaka Budisantosa, Jerome E. Wirawan, M. Soleh, Mathias S. Brahmana, Mochamad Anwar Surahman, Sadyo Kristiarto, Santhy M. Sibarani, Soelistijono, Windy Dyah Indriantari Staf Redaksi: Adam Dwi Putra, Agung Wibowo, Ahmad Punto, Akhmad Mustain, Andreas Timothy, Aries Wijaksena, Aryo Bhawono, Asep Toha, Asni Harismi, Bintang Krisanti, Bunga Pertiwi, Christine Franciska, Cornelius Eko, Denny Parsaulian Sinaga, Deri Dahuri, Dian Palupi, Dinny Mutiah, Dwi Tupani Gunarwati, Edna Agitta Meryynanda, Emir Chairullah, Eni Kartinah, Fardiansah Noor, Fidel Ali Permana, Gino F. Hadi, Heru Prihmantoro, Heryadi, Hillarius U. Gani, Iis Zatnika, Irana Shalindra, Irvan Sihombing, Iwan Kurniawan, Jajang Sumantri, Jonggi Pangihutan M., Mirza Andreas, Mohamad Irfan, Muhamad Fauzi, Nurulia Juwita, Panca Syurkani, Raja Suhud V.H.M, Ramdani, Rommy Pujianto, Selamat Saragih, Sidik Pramono, Siswantini Suryandari, Sitriah Hamid, Sugeng Sumariyadi, Sulaiman Basri, Sumaryanto, Susanto, Syarief Oebaidillah, Thalatie Yani, Tutus Subronto, Usman Iskandar, Vini Mariyane Rosya, Wendy Mehari, Zubaedah Hanum Biro Redaksi: Dede Susianti (Bogor) Eriez M. Rizal (Bandung); Kisar Rajagukguk (Depok); Firman Saragih (Karawang); Yusuf Riaman (NTB); Baharman (Palembang); Parulian Manulang (Pa-

dang); Haryanto (Semarang); Widjajadi (Solo); Faishol Taselan (Surabaya) MICOM Asisten Kepala Divisi: Tjahyo Utomo, Victor J.P. Nababan Redaktur: Agus Triwibowo, Asnawi Khaddaf, Basuki Eka Purnama, Edwin Tirani, Patna Budi Utami, Widhoroso, Yulius Martinus Staf Redaksi: Ahmad Maulana, Heni Rahayu, Nurtjahyadi, Prita Daneswari, Retno Hemawati, Rina Garmina, Rita Ayuningtyas, Wisnu Arto Subari Staf: Abadi Surono, Abdul Salam, Budi Haryanto, Charles Silaban, M. Syaifullah, Panji Arimurti, Rani Nuraini, Ricky Julian, Vicky Gustiawan, Widjokongko DIVISI TABLOID, MAJALAH, DAN BUKU (PUBLISHING) Asisten Kepala Divisi: Gantyo Koespradono Redaktur: Agus Wahyu Kristianto, Lintang Rowe, Regina Panontongan Staf Redaksi: Arya Wardhana, Rahma Wulandari CONTENT ENRICHMENT Asisten Kepala Divisi: Yohanes S. Widada Periset: Heru Prasetyo (Redaktur), Desi Yasmini S, Gurit Adi Suryo Bahasa: Dony Tjiptonugroho (Redaktur), Aam Firdaus, Adang Is-

kandar, Mahmudi, Ni Nyoman Dwi Astarini, Riko Alfonso, Suprianto ARTISTIK Asisten Kepala Divisi: Rio Okto Waas Redaktur: Annette Natalia, Donatus Ola Pereda, Gatot Purnomo, Marjuki, Prayogi, Ruddy Pata Areadi Staf Redaksi: Ali Firdaus, Ami Luhur, Ananto Prabowo, Andi Nursandi, Aria Mada, Bayu Aditya Ramadhani, Bayu Wicaksono, Briyan Bodo Hendro, Budi Setyo Widodo, Dedy, Dharma Soleh, Endang Mawardi, Fredy Wijaya, Gugun Permana, Hari Syahriar, Haris Imron Armani, Haryadi, Marionsandez G, M. Rusli, Muhamad Nasir, Muhamad Yunus, Nana Sutisna, Novi Hernando, Nurkania Ismono, Permana, Putra Adji, Tutik Sunarsih, Warta Santosi Olah Foto: Saut Budiman Marpaung, Sutarman PENGEMBANGAN BISNIS Kepala Divisi Marketing Communication: Fitriana Saiful Bachri Kepala Divisi Marketing Support & Publishing: Andreas Sujiyono Asisten Kepala Divisi Iklan: Gustaf Bernhard R Perwakilan Bandung: Arief Ibnu (022) 4210500; Medan: Joseph (061) 4514945; Surabaya: Tri Febrianto (031) 5667359; Semarang: Desijhon (024) 7461524; Yogyakarta: Andi Yudhanto

(0274) 523167; Palembang: Ferry Mussanto (0711) 317526, Pekanbaru: Bambang Irianto 081351738384. Telepon/Fax Layanan Pembaca: (021) 5821303, Telepon/ Fax Iklan: (021) 5812107, 5812113, Telepon Sirkulasi: (021) 5812095, Telepon Distribusi: (021) 5812077, Telepon Percetakan: (021) 5812086, Harga Langganan: Rp67.000 per bulan (Jabodetabek), di luar P. Jawa + ongkos kirim, No. Rekening Bank: a.n. PT Citra Media Nusa Purnama Bank Mandiri - Cab. Taman Kebon Jeruk: 117-009-500-9098; BCA - Cab. Sudirman: 035-306-5014, Diterbitkan oleh: PT Citra Media Nusa Purnama, Jakarta, Alamat Redaksi/Tata Usaha/Iklan/Sirkulasi: Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat - 11520, Telepon: (021) 5812088 (Hunting), Fax: (021) 5812102, 5812105 (Redaksi) e-mail: redaksi@mediaindonesia.com, Percetakan: Media Indonesia, Jakarta, ISSN: 0215-4935, Website: www.mediaindonesia.com, DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK, WARTAWAN MEDIA INDONESIA DILENGKAPI KARTU PERS DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA ATAU MEMINTA IMBALAN DENGAN ALASAN APA PUN