Anda di halaman 1dari 6

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No.

3 September 2011 ; 72 - 77

PENGATURAN PENDISTRIBUSIAN PASOKAN DAYA KE BEBAN DENGAN MENGGUNAKAN PLC


Dwiana Hendrawati Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH., Tembalang, Kotak Pos 6199/SMS, Semarang 50329 Telp. 7473417, 7466420 (Hunting), Fax. 7472396 Abstrak Mekanisme pengaturan pada alat ini adalah pendistribusian beban secara proporsional ke pemasok daya, agar mendapatkan pasokan daya listrik sesuai kriteria yang dibutuhkan untuk pengoperasian peralatanperalatan tersebut. Pengaturan pasokan daya diatur dengan menggunakan PLC (Programable Logic Control). Instalasi peralatan input dan output dilaksanakan setelah simulasi pemrograman dengan software simulator berhasil. Selanjutnya pengujian secara total dilakukan dengan mensinkronkan Kerja generator dengan mekanisme pengaturan dari PLC. Alat dikatakan berfungsi jika deviasi tegangan dengan pengoperasian sensor beban adalah 10 % dari tegangan kerja nominal, dan terputusnya suplai daya tidak lebih dari 5 detik sesuai dengan ketentuan pemutusan daya yang diijinkan. Hasil pengujian menunjukkan alat pengontrol ini dapat mendistribusikan daya generator secara proporsional. Kata kunci Beban, Pengaturan, Pendistribusian, PLC

1. PENDAHULUAN Energi listrik tidak dapat disimpan dalam skala besar, karenanya tenaga ini harus disediakan pada saat dibutuhkan. Akibatnya timbul persoalan dalam menghadapi kebutuhan daya listrik yang tidak tetap dari waktu ke waktu, bagaimana pasokan energi listrik dapat selalu memenuhi permintaan; yaitu dengan kuantitas (kontinuitas pencatuan) dan kualitas (sistem tegangan) yang sesuai [Chaeru Abdul Kadir, 1995] Permasalahan utama kuantitas adalah apabila daya yang disediakan dan dikirimkan lebih rendah atau tidak memenuhi kebutuhan beban konsumen, maka akan terjadi pemadaman lokal pada busbus; dan Apabila daya yang dikirim jauh lebih besar daripada permintaan daya pada busbus beban, maka akan timbul persoalan pemborosan energi.[Kondang Hadisasono,2001] Di sisi lain adalah permasalahan kualitas; yaitu : penurunan tegangan yang disebabkan gangguan starting beban besar seperti motor listrik. Hal ini akan menghasilkan penurunan tegangan secara cepat (dikenal dengan istilah tegangan jatuh, dengan amplitude tegangan lebih kecil dari 10 %) atau bahkan pemutusan tegangan. Pemutusan sesaat yang berlangsung sangat singkat (2 sampai 5 detik)

menyebabkan kehilangan tegangan dan ini akan menyebabkan kehilangan memori dari pengaturan yang menggunakan komputer dan beban-beban yang sensitif lainnya (misalnya pada industri, perkantoran dan perumahan). Kontinutas (kuantitas) dan kualitas dari pasokan energi listrik sangat diperlukan untuk melayani konsumen agar peralatan yang digunakan tidak mengalami gangguan/kerusakan. [Deni Almanda,2000] Laboratorium konversi energi mendapat pasokan daya dari PLN (utama) dan dari generator (pada saat suplai dari PLN terganggu). Untuk memenuhi daya listrik pada saat suplai PLN terganggu ,diperlukan beberapa generator dioperasikan secara paralel atau paralel generator dengan sumber PLN. Pasokan daya listrik di laboratorium sering mengalami pemutusan dan tegangan jatuh. Dan tentu saja akan berdampak pada rusaknya peralatan laboratorium, dan ujungnya akan bermuara pada terhambatnya kegiatan PBM (Proses Belajar Mengajar). Hal ini dapat terjadi karena kuantitas dan kualitas yang tidak terpenuhi,terutama pada saat kerja parallel dari sumber daya. Pasokan listrik ke beban pada saat generator bekerja parallel harus memperhitungkan 72

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 72 - 77

kontribusi suplai dari tiap-tiap generator; Saat generator kedua diparalelkan dengan generator pertama yang sudah memikul beban diharapkan terjadinya pembagian beban yang semula ditanggung generator pertama, sehingga terjadi kerjasama yang meringankan sebelum beban-beban selanjutnya.Apabila tidak terbagi maka salah satu generator menanggung beban lebih, dan dampaknya generator akan rusak. Pada beban yang terhubung ke suplai tersebut akan mengalami pengurangan tegangan atau bahkan hilang tegangan [Usman Saleh Baafai,2004]. Kondisi inilah yang dikenal dengan Tegangan Jatuh. Sehingga perlu mekanisme pengaturan pembagian beban yang boleh ditanggung oleh pemasok daya (PLN maupun Generator yang bekerja parallel). Seberapa besar pembagian beban yang ditanggung oleh masing-masing pemasok daya listrik (generator atau PLN yang bekerja parallel) untuk mencegah adanya beban lebih pada salah satu pemasok daya [Kondang Hadisasono,2001], yang berdampak pada kerusakan pemasok maupun beban; menjadi permasalahan dalam upaya penyediaan daya yang berkualitas. Dalam hal ini penyediaan daya yang berkualitas untuk pengoperasian peralatan laboratorium dengan kriteria : - Deviasi tegangan tidak melebihi 10 % (syarat kualitas) - Terputusnya suplai tidak melebihi 5 detik (syarat kontinuitas/kuantitas) Permasalahan dalam penyediaan daya listrik yang berkualitas dengan ketentuan tersebut, dapat diselesaikan dengan penyediaan peralatan yang dapat membagi beban secara proporsional ke pemasok daya (PLN dan Generator). Untuk meminimalkan kerusakan peralatan di laboratorium konversi energi akibat kualitas daya yang tidak terpenuhi sebagai dampak dari pembagian beban yang tidak merata ke pemasok daya; dibuat alat kontrol beban yang dapat mendistribusikan beban secara proporsional ke sumber daya (pada saat kerja parallel).

2. METODE PENELITIAN Untuk mewujudkan tujuan utama tersebut, akan dibuat alat kontrol (pembagi) beban; kemudian diujikan ke 2 generator set 600 VA/220 Volt dengan kerja paralel. Tahapantahapan dalam penelitian ini adalah Inventarisasi kebutuhan alat dan bahan Pembuatan dan pengoperasian rangkaian control Koneksi atau Instalasi peralatan InputOutput ke Kontroler Pengujian dan Pengambilan data Analisa dan kesimpulan 2.1 Pembuatan dan Pengoperasian rangkaian Kontroler Pembuatan alat kontrol harus menagcu pada diagram alir kerja alat kontrol yang mencakup kerja perangkat lunak, untuk memastikan peralatan yang dibuat dapat mencapai tujuan yang ditentukan. Gambar 1 menunjukkan diagram alir kerja alat kontrol.

2.2 Pengujian dan Pengambilan data Pengujian yang dilakukan meliputi : Gambar 1 Diagram Alir Kerja Alat Kontrol Terdapat lima model atau metode yang telah distandardisasi penggunaannya oleh IEC , tetapi yang lebih sering dipergunakan adalah diagram ladder. Dengan demikian diagram 73

Pengaturan Pendistribusian Pasokan Daya Ke Beban Dengan Menggunakan PLC

(Dwiana)

alir dalam gambar 1 tersebut dibuat diagram ladder sebagai translator ke CPU PLC. 2.2 Koneksi atau Instalasi peralatan InputOutput ke Kontroler Peralatan input berupa sensor beban (Load Sensor) dihubungkan ke PLC sesuai dengan alamat yang ditunjuk pada saat pemrograman PLC. Peralatan output berupa relay dihubungkan ke PLC sesuai dengan alamat yang ditunjuk pada saat pemrograman PLC. Relay ini dihubungkan dengan dua generator yang akan dikontrol pengoperasiannya

inputnya berupa toggle switch dan outputnya berupa lampu (LED). Pengujian pada perangkat output dilakukan pada kedua generator set 600 VA/220 Volt yang akan digunakan untuk kerja parallel. Pengujian dilakukan dengan memberikan nilai antara 0 persen sampai dengan 100 persen pada tegangan dan frekuensi yang konstan.

Gambar 4. Rangkaian Generator ke beban 2.4 Pengujian Alat Pengontrol Beban Tegangan keluaran kedua generator dibuat dengan tegangan dan frekuensi yang sama, kemudian beban diberikan ke generator parallel tersebut hingga mencapai 50 % di atas nilai arus (beban) nominal kedua generator. Dengan menaikkan arus setiap 10 %, nilai tegangan jatuh dicatat. Alat ukur, digunakan untuk mengukur parameter-parameter yang diperlukan dalam pengujian yang meliputi - Amperemeter yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui nilai arus (ampere) dalam pengujian yang dilakukan Ohmmeter, yang digunakan untuk menentukan keberhasilan penyambungan rangkaian dengan mengetahui nilai tahanan (Ohm) - Voltmeter, alat ukur untuk mengetahui nilai tegangan (volt) listrik dari power suplai dan rangkaian 2.5 Pengolahan Data dan Analisa Pengambilan data dilakukan untuk variasi parameter arus beban 0 150 % nilai nominal dan mencatat besarnya tegangan keluaran generator - Arus beban dinaikkan tiap 20 % dari arus nominal generator; dan dari setiap kenaikan dicatat nilai tegangan keluaran generator

. Gambar 2 Koneksi peralatan input ke PLC

Gambar 3 Diagram Pengawatan instalasi Relay ke PLC. 2.3 Pengujian dan Pengambilan Data Pengujian perangkat lunak PLC dilakukan untuk mengetahui apakah program yang telah dirancang dapat bekerja atau berfungsi dengan baik sebagaimana yang diinginkan. Perangkat lunak berfungsi dengan baik, apabila nilai tegangan berkisar 24 Volt, sesuai tegangan kerja pada output PLC. Pengujian ini dilakukan dengan simulator PLC yang

74

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 72 - 77

- Dengan data kenaikan arus beban ( prosentase) tersebut, dapat diketahui besarnya jatuh tegangan (prosentase) dari nilai tegangan keluaran generator. Data-data pengukuran dari hasil pengamatan untuk selanjutnya disajikan dalam tabel dan grafik untuk memudahkan analisa. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Dengan pertimbangan keamanan dan fleksibilitas, maka digunakan desain ladder gambar 5, mempunyai kelebihan dan

kekurangan antara lain sebagai berikut : program dapat langsung dimatikan bila terjadi keadaan darurat/ gangguan mendadak, sehingga lebih aman jika terjadi keadaan darurat/ gangguan mendadak dan dapat digunakan pada berbagai setting. b. Kekurangannya, katika relay bekerja terus menerus akan cepat panas

Gambar 5. Diagram Ladder Dengan sensor dan saklar foto elektris, keluaran sensor diubah menjadi perubahan tegangan. Apabila output sensor digunakan untuk mengetahui besarnya beban yang terhubung dalam generator, sinyal keluaran sensor tersebut harus diperkuat untuk menyesuaikan dengan masukan PLC pada tegangan kaki-kaki input PLC. Pengujian karakteristik sensor menunjukkan sensosr yang digunakan cukup linear dari tabel 1. Tabel 1. Karakteristik sensor

75

Pengaturan Pendistribusian Pasokan Daya Ke Beban Dengan Menggunakan PLC

(Dwiana)

tachometer, sehingga masing-masing tegangan masih dalam batas toleransi pembacaan alat ukur yaitu 10% . Catu daya ini dapat digunakan untuk beban pada sistem kontrol ini. Tabel 2. Tabel pengujian catu daya Gambar 6. Grafik Karakteristik Sensor Titik pengukuran tegangan keluaran rangkaian catu daya yang sebelum berbeban dan setelah berbeban adalah sama. Pengujian sebelum berbeban adalah pengujian dimana catu daya belum diberi beban. Sedangkan pengujian setelah berbeban adalah pengujian catu daya setelah ada beban (motor berputar). Yang dilakukan dalam pengujian catu daya ini adalah dengan cara mengecek tegangan keluaran yang dihasilkan oleh catu daya, apakah tegangan keluaran tersebut dapat menghidupkan motor DC sebagai beban ataukah tidak. Jika ternyata tegangan catu daya tidak bisa menghidupkan motor DC, maka yang harus kita lakukan adalah mengganti rangkaian catu daya dengan rangkaian catu daya yang lain dengan merek lain dan speknya sama. Tabel 2 adalah hasil pengukuran tegangan keluaran catu daya menggunakan multimeter analog dan digital. Pada power suplai terjadi penurunan tegangan (voltage drop) yang diakibatkan karena motor DC memerlukan arus yang besar saat start sehingga terjadi rugi-rugi yang membuat nilai tegangan power suplai menurun saat motor berputar. Dengan menggunakan multimeter analog, pada saat power suplai belum berbeban nilai tegangan keluaran rata-rata adalah 12,5 volt dan saat berbeban tegangan keluaran rata-rata 5,8 volt dengan putaran kurang lebih 47 rpm yang diukur menggunakan tachometer, nilai ini adalah hasil pembulatan pada pembacaan alat ukur. Dengan menggunakan multimeter digital, pada saat power suplai belum berbeban nilai tegangan keluaran rata-rata 12,5 volt 0,4 volt dan saat berbeban adalah 5,8 volt 0,2 volt dengan putaran kurang lebih 47 rpm yang diukur menggunakan

4. KESIMPULAN Dengan pengujian dan analisa data yang didapat, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Perancangan dan pembuatan sistem kontrol menggunakan PLC relatif lebih mudah dipahami karena menggunakan pemrograman yang bersifat visual (diagram ladder) dan umumnya terdapat simulator berupa software, sehingga simulasi dapat dilakukan dengan mudah. 2. Sensor mengkonversikan nilai arus beban generator menjadi tegangan dengan penambahan 0,04 volt setiap kenaikan beban, sehingga sensor secara linear dapat dimanfaatkan sebagal alat ukur pada control beban. 3. Deviasi tegangan dengan pengoperasian sensor beban maksimal 45 volt atau 7,5 % dari tegangan kerja nominal, sehingga system pengaturan yang dibuat dapat mencapai tujuannya karena di bawah batas kualitas (10 % ) 4. Terputusnya suplai daya yang terjadi berkisar 5 detik sesuai dengan ketentuan pemutusan daya yang diijinkan. DAFTAR PUSTAKA Chaeru Abdul Kadir, 1995, Energi, UI Pers, Jakarta Deni Almanda , Agustus 2000, Menekan kerusakan lingkungan PLTU Batu

76

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 72 - 77

bara, , Majalah Patra PropenPertamina, Jakarta. Kondang Hadisasono, Meningkatkan Efisiensi PLTU Batu bara, Elektro IndonesiaVI/35(Februari2001) Padly Febrian ,2011, Alat Pembagi Beban Generator, http:// padlyfebrian . blogspot.com, diunduh 5 Januari 2011 Usman Saleh Baafai.2004. Sistem Tenaga Listrik : Polusi dan Pengaruh Medan Elektromaknetik terhadap Kesehatan Masyarakat.Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Zuhal, April 1995, Ketenagalistrikan Indonesia, PT. Ganeca Prima, Jakarta

77