Anda di halaman 1dari 2

Ign.

Widanta Kristyo Adhy 13307047 / Teknik Fisika Resume Seminar MetDay

Pendahuluan Pada tanggal 23 maret diperingati hari meteorologi sedunia, maka HMME Atmosphaira mengadakan seminar ini untuk memperingatinya. Acara ini memiliki serangkaian acara seperti kampanye mitigasi bencana, lomba fotografi awan, pembagian bibit pohon gratis dan diakhiri dengan seminar adaptasi dan bencana meteorologi. Tema seminar ini adalah Adaptasi dan Mitigasi Bencana Meteorologi di Indonesia yang diisi oleh Dr. Edvin Aldrian, B. Eng, MSc. Selaku Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Dra. Atika Lubis, MS. Selaku dosen Meteorologi dan Sdr. Sawung sebagai perwakilan Walhi. Dimulainya cara ini adalah persembahan dari anak-anak SD Plesiran, dilanjutkan oleh sambutan dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kembumian dan selanjutanya adalah presentasi dari seluruh narasumber yang berlanjut ke sesi tanya jawab. Acara MetDay (Meteorological Day) ini bertujuan untuk menambah wawasan kita sebagai masyarakat terkait hal meteorologi, terutama pada masalah mitigasi bencana, yaitu persiapan sebelum terjadi bencana. Hal ini disebabkan dari alam Indonesia yang berada pada zona yang rawan bencana, baik itukondisi atmosfer laut, maupun bagian daratannya, sehingga kegiatan MetDay ini dapat membantu masyarakat untuk bersikap lebih baik lagi sebelum dan saat bencana akhirnya terjadi.

Hasil dari kegiatan ini adalah sebagai berikut: Indonesia memiliki 3 tipe curah hujan, yakni: tipe ekuatorial, tipe monsun dan tipe lokal. Tipe ekuatorial dicirikan oleh dua kali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun, wilayah sebarannya adalah Sumatra dan Kalimantan, tipe monsun hanya mengalami satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun, wilayah sebarannya adalah di pulau Jawa, Bali dan Nusa tenggara, dan tipe lokal hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam waktu satu tahun, dan terjadi beberapa bulan kering yang bertepatan dengan bertiupnya angin Muson Barat, sebarannya meliputi Papua, Maluku dan sebagian Sulawesi Yang dimaksud dengan musim kemarau basah adalah ketika tahun berjalan tidak ada dampak El Nino, La Nina atau Indian Ocean Dipole.

Tiga faktor yang menentukan curah hujan di Indonesia, yaitu : El Nino/La Nina, SST Indonesia, dan Dipole Mode Positif/Dipole Mode Negatif. Bencana meteorologi dibagi menjadi dua berdasarkan penyebabnya, yaitu faktor dari alam yang berarti alami dan ulah dan kesalahan manusia. Nilai bencana meteorologi dikatakan dahsyat atau besar apabila terjadi kontaminasi udara total atau penurunan kualitas atmosfir bumi dimana komposisi gas (terutama Oksigen dan Nitrogen) diudara berubah secara tidak proporsional yang nantinya mengakibatkan kemungkinan punahnya spesies tertentu yang rentan terhadap gejala perubahan udara ini.

Wilayah dengan tipe iklim atau curah hujan ekuatorial lebih mendapat pengaruh dari kemarau basah atau ada kecendrungan peningkatan curah hujan pada iklim mendatang. Sedangkan wilayah dengan tipe pola monsoonal dan lokal akan lebih mendapat bencana kekeringan akibat dampak tahun tahun El Nino.

Manfaat kegiatan MetDay ini dijelaskan dibawah ini: Mengetahui kondisi, penyebab, ciri khas, jenis, dan pembagian wilayah iklim yang ada di Indonesia. Menambah informasi dan wawasan baru tentang kondisi iklim saat ini, seperti tahun 2010 merupakan tahun dimana iklim ekstrim terjadi di Indonesia dan penjelasan mengenai banjir bandang yang terjadi di Australia. Menambah informasi tentang bagaimana cara penentuan iklim yang selama ini dilakukan di Indonesia. Memberikan pengetahuan tentang berbagai jenis bencana meteorologi baik yang disebabkan oleh manusia maupun faktor alam sehingga dapat meminimalisir di masa mendatang. Membuka pengetahuan baru seperti aktivitas yang dilakukan oleh organisasi lingkungan hidup seperti walhi.