Anda di halaman 1dari 2

TV, Boleh, dan Tidak Boleh

Tergelitik dari sebuah obrolan di sebuah warung wedangan tempat saya dan teman2 seper-pengajian (yang mayoritas bapak2) berkumpul. Warung wedangan/ angkringan/ hik /kucingan yang menjadi basecamp hampir setiap malam, sekedar bercengkrama, maupun membahas apa yang baru saja disampaikan pak ustadz. Salah seorang teman bercerita bahwa tadi ada yang meminta tanggapan pak ustadz terkait sebuah program kajian kini sedang booming yang disiarkan di TV setiap pagi, namun pak ustdaz tidak bisa memberi jawaban karena tidak pernah menonton acara acara televisi di rumahnya. -------------------------------------------------------------------Kasus di atas bukan yang pertama saya temui. Beberapa waktu yang lalu saat berkunjung ke rumah salah seorang teman senior, TV di ruang tengahnya tertutup kain yang dari penampilannya menandakan bahawa kain tersebut tidak pernah dibuka, atau dengan kata lain, TV tidak pernah dinyalakan. -------------------------------------------------------------------Bagi masyarakat kebanyakan, tentu ini merupakan sebuah hal yang sedikit aneh. Hampir setiap rumah di Indonesia mempunyai kotak hiburan yang bernama televisi ini. Melalui TV ini pula, informasi dapat disampaiakan kepada jutaan pasang mata dalam waktu yang bersamaan, baik itu informasi dengan muatan positif maupun negatif. Program program televisi, ternyata begitu dahsyat pengaruhnya terhadap perilaku orang yang menontonnya, tontonan tontonan yang disuguhkan lambat laun menjadi tuntunan bagi yang melihatnya, gaya hidup artis, musik, bahkan ide melakukan kejahatan dari tayangan kriminal. Kalau melihat isi program TV di Indonesia, memang tidak sedikit yang hanya menyuguhkan tayangan kurang berisi dan tidak mendidik. Acara musik, hampir tiap hari, sore, malam, bahkan pagi. Pernah suatu saat lewat di jalan, anak kecil, mungkin TK aja belum, sudah melafazkan cinta satu malam, oh indahnya dengan bahasa yang masih cadel atau pelo (dalam bahasa jawa). Selain itu, saya kadang berpikir, mereka yang biasa di pinggir panggung acara musik yang tayang pagi hari, joget-joget, apa pada ga sekolah....??? Selain musik, ada acara yang bikin kecanduan ibu2 mulai maghrib sampai larut malam, apa itu, ya benar, S.I.N.E.T.R.O.N. Kalau dulu waktu saya amsih SD, biasanya kalau udah jam9, acaranya tinggal Dunia Dalam Berita yang bikin males nonton dan akhirnya pilih tidur, lha sekarang, sinetron sampai jam 10 malam. Dari maghrib sampai jam 10, sekitar 4 jam, kita disuguhi cerita di luar nalar, tak jauh dari cinta, rebutan warisan, konflik yang tidak logis, air mata, plus musik pengiring yang mendayu dayu membumbui setiap adegannya. Semakin miris tatkala mendengar ibu-ibu mengrumpikan isi cerita certa tadi malam sampai menebak nebak bagaimana kelanjutannya nanti. Jika hal yang melenakan atau memabukkan itu dilarang, minuman keras dan narkoba misalnya, dua tayangan di atas tak jauh beda. Ada dampak psikologis yang diterima para penikmat

acara tersebut. Ada teman yang kuliah di psikologi bilang, terlalu banyak menonton sinetron, membuat porsi berpikir otak menjadi berkurang karena dipakai untuk menerima input yang berupa angan-angan belaka. Kembali pada kotak bernama televisi. Kalau begitu apakah kita ga usah pasang TV aja di rumah. Bahkan ada yang ekstrim, TV haram, karena banyak mudharatnya. Its up to you. Kuncinya adalah pada diri kita sendiri, itu yang saya pahami. Kalau memang bisa memilah dan memilih tontonan dengan konsisten, saya rasa tidak masalah. Saat menonton TV dengan anak misalnya, lebih bijak jika didampingi. Tapi kalau kita sebagai orang tua merasa kurang bisa mendampingi dan menyaring, meniadakan TV di rumah sepertinya juga pilihan yang cukup bijak, setidaknya berjagajaga untuk kemungkinan terburuk. Tak bijak kalau menjadikan televisi sebagai kambing hitam. Manusia saja tidak mempunyai dosa bawaan, apalagi TV yang benda mati. Seperti hal nya motor, motor dapat dipandang bermanfaat oleh para pedagang karena penggunaannya memang tepat untuk membantu pekerjaan, namun dapat dipandang mudharat oleh orang tau yang anaknya gemar balapan liar. Segala kenyataan membutuhkan kedewasaan dalam penyikapan. Correct me if i wrong.