Anda di halaman 1dari 47

BEDAH RUMAH

Kemenpera Janjikan Bedah 250.000 Rumah


M.Latief | Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 11:13 WIB

KOMPAS.com/BANAR FIL ARDHI TABANAN, KOMPAS.com - Kementerian Perumahan Rakyat membidik Pulau Bali sebagai salah satu target program bedah rumah. Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengatakan, tahun ini sekitar 2400 rumah tidak layak huni di Pulau Dewata itu akan dibedah melalui program rumah swadaya.

Tahun lalu targetnya cuma 60 ribu rumah yang akan dibedah. Tapi tahun ini bertambah lebih dari empat kali lipat menjadi 250 ribu rumah yang akan dibedah. -- Djan Faridz

"Ditambah 1400 rumah lagi dalam proses peningkatan menjadi rumah swadaya," kata Djan Faridz usai melakkan kunjungan kerja ke Desa Batannyuh, Kecamatan Marga Perbekel, Tabanan, Bali, Rabu (8/3/2012), didampingi Bupati Tabanan I Putu Eka Wiriastuti. Dalam kunjungan tersebut Menpera menyambangi dua rumah swadaya yang telah menerima bantuan pemerintah. Menpera juga menempelkan stiker bertuliskan "Bantuan Hibah Dana Perumahan Pemerintah Republik Indonesia" dan logo Kemenpera, logo kabupaten Tabanan, logo Provinsi Bali, ke sebuah rumah swadaya yang baru setengah terbangun. Djan menjelaskan, untuk menentukan daerah mana saja yang akan dibedah, menjadi kebijakan gubernur masing-masing daerah. Setelah dipilih, bupati mengajukan rekomendasi ke gubernur, kemudian diteruskan ke Kemenpera. "Dalam pelaksaannya, gubernur menjadi pelaksana, bupati melakukan pembimbingan. Di sini pentingnya peran pemerintah daerah. Bahkan, anggaran yang akan diberikan Kemenpera bisa

bertambah karena peran serta pemerintah daerah. Jika dari Kemenpera memberikan anggaran Rp 6 juta, pemda-pemda pasti ikut berpartisipasi. Belum lagi partisipasi dana dari masyarakat dan swasta, Bazis dan lainnya," kata Djan. Terkait dengan bakal naiknya harga BBM, Djan menjamin bahwa program bedah rumah tidak akan berhenti. Untuk saat ini, pihaknya belum memprediksi jumlah kenaikan BBM. "Tapi, yang pasti, program bedah rumah yang dicanangkan pemerintahan SBY ini tidak akan berhenti. Justru di tahun 2012 ini bertambah. Tahun lalu targetnya cuma 60 ribu rumah yang akan dibedah. Tapi tahun ini bertambah lebih dari empat kali lipat menjadi 250 ribu rumah yang akan dibedah," jelas Djan. http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/03/08/11131662/Kemenpera.Janjikan.Bedah.250.000. Rumah

Kamis, 08 Maret 2012


Dialokasikan Rp7 Triliun Menata Warga Sekitar Ciliwung

Menpera: Ini Penggusuran Bermartabat


MERELOKASI tempat tinggal penduduk di kawasan rawan banjir dan di tepi kali, bukan persoalan yang mudah. Karena ada faktor keterikatan warga dengan daerah tersebut, terutama terkait dengan bidang usaha, sehingga kadangkala alot dalam pembahasannya. Begitu juga rencana merekolasi warga sepanjang Sungai Ciliwung, di Jakarta; perlu pendekatan, sosialisasi, dan penjelasan secara terus-menerus hingga masyarakat memahami tujuan relokasi. Pengalaman pemerintah saat memindahkan warga Kali Adem, Jakarta Utara, berhasil dipindah ke rumah susun (rusun), sehingga harkat dan martabat hidupnya semakin terangkat, barangkali dapat dijadikan solusi penangannya. Pemerintah sudah merancang pembangunan rumah susun umum sewa (rusunawa) di bantaran sungai untuk menggantikan perumahan yang tidak layak. Rencana kegiatan untuk menata pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung, antara lain melakukan relokasi penduduk sebanyak 34.051 kepala keluarga (KK). Untuk itu, pemerintah juga akan membangun rumah susun umum sewa sebanyak 22.806 unit di tujuh lokasi yang direncanakan. Selain itu, akan membangun dua sodetan di lokasi Kebon Baru dan Kalibata dengan total luasan perolehan 2,93 hektar. Pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung juga merupakan salah satu jawaban dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) yang baru diluncurkan pemerintah. Hal ini merupakan program sangat strategis dan harus dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Dalam rapat koordinasi tingkat menteri diharapkan bisa mempercepat implementasi program penataan pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung, di antaranya memperbaiki kualitas lingkungan melalui konsep "membangun tanpa menggusur". Program ini juga akan mengamankan daerah bantaran sungai dalam rangka menjaga kesinambungan daerah aliran Sungai Ciliwung. Selain itu, melakukan perancangan struktural terhadap daerah bantaran sungai yang menjadi kawasan pemukiman dengan tetap memperhatikan karakteristik dasar sungai. Hingga kini Kementerian Perumahan Rakyat masih mematangkan rumah susun sewa sebagai lokasi hunian layak bagi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta. Rencana pembangunan sebanyak 29 tower rusunawa di sekitar bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta, diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp7 triliun. "Komplek Zeni akan dipindah, lalu purnawirawan dan warga akan menempati rusunawa yang nantinya dengan sistem sewa, sementara pengelolaannya oleh Perumnas," kata Menteri Perumahan Rakyat

(Menpera) Djan Faridz. Menurut Menpera, program ini akan melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perumahan Rakyat, serta Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Pemilihan lokasi pembangunan rusunawa, di atas tanah milik TNI di kawasan Berlan, tak jauh dari Stasiun Manggarai, di Jakarta. Di kawasan ini terdapat komplek Zeni TNI AD yang dihuni sekitar 15 anggota TNI dan 20 KK Purnawirawan TNI. Melalui program penataan permukiman kumuh di bantaran Ciliwung, dipastikan kualitas lingkungan melalui konsep "Membangun Tanpa Menggusur". Anggaran untuk kegiatan ini, berasal dari APBN sejumlah kementerian terkait dengan metode tahun jamak mulai dari 2012 hingga 2014. Semula dirancang awal tahun 2012 dilakukan pembangunan, namun hingga kini belum teralisasi karena masih terus dikoordinasikan antara Kemenpera, Kemenko Kesra, Kemenhan, dan Pemda DKI Jakarta. Menurut Menpera, selain pembangunan fisik senilai Rp7 triliun juga dilakukan penguatan ekonomi dan kesehatan warga di rumah susun. "Kalaupun dikatakan penggusuran, ini penggusuran bermartabat," ucap Djan Faridz.(oto) http://www.pelitaonline.com/read-cetak/18591/menpera-ini-penggusuran-bermartabat/

Sebanyak 2.400 Rumah di Bali Akan Dibedah


Nur Januarita Benu - Okezone Kamis, 8 Maret 2012 11:31 wib

Menpera saat kunjungan kerja ke Tabanan, Bali (Foto: dok.Kemenpera)

JAKARTA - Salah satu daerah yang menjadi target program bedah rumah pemerintah adalah Bali. Di tahun ini, sekira 2.400 rumah tidak layak huni di Pulau Dewata akan dibedah melalui program rumah swadaya. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, saat melakukan kunjungan kerja ke Tabanan, Bali kemarin. "Jumlahnya sekira 2.400 rumah yang akan dibedah swadaya. Ditambah 1.400 rumah lagi dalam proses peningkatan menjadi rumah swadaya," katanya, seperti dilaporkan dalam keterangan resmi yang diterima okezone, Kamis (8/3/2012). Didampingi Bupati Tabanan I Putu Eka Wiriastuti, Menpera menyambangi dua rumah swadaya yang telah menerima bantuan pemerintah. "Ini salah satu contoh peran serta pemerintah daerah yang mendukung program pemerintah pusat dalam mewujudkan rumah swadaya," ujar Djan. Lebih lanjut, Djan menjelaskan, untuk menentukan daerah mana saja yang akan dibedah, menjadi kebijakan gubernur masing-masing daerah. Setelah dipilih, bupati mengajukan rekomendasi ke gubernur, kemudian diteruskan ke Kemenpera. "Dalam pelaksanaannya, gubernur menjadi pelaksana, bupati melakukan pembimbingan. Di sini pentingnya peran pemerintah daerah. Bahkan, anggaran yang akan diberikan Kemenpera bisa bertambah karena peran serta pemerintah daerah. Jika dari Kemenpera memberikan anggaran Rp6 juta, pemda-pemda pasti ikut berpartisipasi. Belum lagi partisipasi dana dari masyarakat dan swasta, Bazis dan lainnya, papar Djan. (rhs) http://property.okezone.com/read/2012/03/08/471/589288/sebanyak-2-400-rumah-di-bali-akan-dibedah

BBM Naik, Target Bedah Rumah pun Naik


Nur Januarita Benu - Okezone Kamis, 8 Maret 2012 10:53 wib

Rumah swadaya (foto: ist.)

JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan mempengaruhi jalannya program bedah rumah yang dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Terkait dengan bakal naiknya harga BBM, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz, menjamin bahwa program bedah rumah tidak akan berhenti. "Untuk saat ini, kita belum memprediksi berapa kenaikan BBM. Tapi yang pasti, program bedah rumah yang dicanangkan pemerintah tidak akan berhenti. Justru di 2012 ini jumlahnya bertambah. Tahun lalu targetnya cuma 60 ribu rumah yang akan dibedah. Tapi tahun ini bertambah lebih dari empat kali lipat menjadi 250 ribu rumah yang akan dibedah, jelas Djan saat kunjungan kerja ke Desa Batannyuh, Kecamatan Marga Perbekel, Tabanan, Bali, seperti dikutip dalam keterangan resmi yang diterima okezone, Kamis (8/3/2012). Bahkan, lanjut Djan, target akan terus bertambah bila peran serta pemerintahan provinsi, kabupaten dan masyarakat serta swasta semakin besar. Prinsip bedah rumah itu dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat, baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Bedah rumah dikelola kelompok masyarakat. Masyarakat Indonesia ini kan sudah terbiasa gotong royong. Jadi pelaksanaan bedah rumah secara swadaya sepenuhnya menjadi otoritas masyarakat itu. Pemda-pemda hanya membimbing. Dan pengawasannya pun dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Tidak oleh kontraktor atau pengembang, sehingga tidak ada penyimpangan," paparnya.

Djan juga menambahkan, sampai 2014 mendatang kementeriannya menargetkan pembangunan satu juta rumah swadaya. Agar program ini bisa berjalan cepat, Kemenpera berharap, seluruh elemen masyarakat dari tiap provinsi dan kabupaten ikut terlibat sebagai tenaga pendampingan. Program rumah swadaya ini dapat disosialisasikan ke seluruh pimpinan pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota. (rhs) http://property.okezone.com/read/2012/03/08/471/589255/bbm-naik-target-bedah-rumah-pun-naik

Menpera Pastikan Harga Rumah MBR Naik


Rabu, 7 Maret 2012 | 23:56

Sejumlah peminat rumah murah melihat konstruksi dan contoh rumah murah di halaman Kantor Kemanpera, Jakarta Selatan, Selasa (6/3). Kemenpera yakin harga rumah murah Rp 70 juta bisa dibangun di sekitar pinggiran Jakarta. Deputi Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo mengatakan, berdasarkan hasil prototipe rumah murah, harga untuk bangunan rumah murah mencapai Rp 25 juta di luar tanah. Apalagi, saat ini pemerintah memiliki subsidi prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) dengan nilai Rp 6,25 juta per unit. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN. DENPASAR - Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz memastikan kenaikan harga rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada April mendatang. "Untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM, kami pasti menyesuaikan dengan harga pasar," katanya sebelum membuka Rapat Konsultasi Regional III Kemenpera di Denpasar, Rabu malam. Kenaikan harga rumah MBR yang sebelumnya dipatok Rp70 juta per unit tidak bisa dihindari karena harga bahan bangunan dan komponen lainnya pasti mengikuti kenaikan harga BBM. Namun dia tidak bisa memperkirakan besaran kenaikan harga rumah MBR tersebut. "Besaran kenaikan BBM saja, kami belum tahu. Perhitungan kenaikan masih terus berjalan. Kami tidak bisa menjawab sebelum tahu persis kenaikan harga BBM," katanya saat didesak wartawan mengenai persentase kenaikan harga rumah MBR. Sebelumnya Kemenpera bersama sejumlah bank BUMN mengeluarkan kebijakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Bahkan, sebelumnya Kemenpera menurunkan suku bunga FLPP dari 8,15-9,95% menjadi 7,5% sehingga masyarakat yang berkeinginan memiliki rumah MBR seharga Rp70 juta bisa menyicilnya Rp575 ribu per bulan. Namun kebijakan tersebut dipastikan akan berubah lagi seiring dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Meskipun demikian, Kemenpera tetap akan merealisasikan program rumah murah seharga Rp25 juta per unit untuk masyarakat miskin. Ia menjamin kualitas rumah murah tersebut bagus. Apalagi konstruksi bangunan rumah murah itu lebih efisien dibandingkan dengan rumah yang dibangun secara konvensional dan para pengembang bisa mengadopsinya dari prototipe yang ada di kantor

Kemenpera. Bila konsep rumah murah itu diterapkan oleh pengembang, maka biaya pembangunan hanya Rp700 ribu per meter persegi, sedangkan rumah dengan teknologi konvensional mencapai Rp1,7 juta per meter persegi. "Bahan yang digunakan untuk rumah murah ini sama, yakni bahan pasir dan semen. Hanya pengerjaannya dicor dengan ketebalan 10 centimeter," kata Djan. Sampai saat ini Kemenpera sudah membangun 205 ribu unit rumah murah. Pembangunannya pun disesuaikan dengan permintaan pasar. "Permintaan tertinggi masih di Pulau Jawa," katanya dalam rapat konsultasi dengan sejumlah kepala daerah di Indonesia bagian timur itu. Untuk merealisasikan pembangunan rumah murah tersebut, Menpera meminta pemerintah daerah bersedia menghibahkan lahannya. Selain itu, dia juga meminta pembebasan IMB, biaya instalasi air, dan instalasi listrik. (ant/gor) http://www.investor.co.id/home/menpera-pastikan-harga-rumah-mbr-naik/31509

Menpera
Kamis, 8 Maret 2012 10:52 WIB | Dilihat 12 Kali

MenperaMenteri Perumahan Rakyat Djan Faridz memberikan bantuan pembangunan rumah swadaya

kepada warga di Tabanan, Bali, Rabu (7/3). Kementerian perumahan rakyat (kemenpera) akan memfasilitasi pembangunan 500 ribu unit rumah swadaya di Indonesia sebagai program nasional bedah rumah Kemenpera 2011. (FOTO ANTARA/Kholis) http://www.antaranews.com/foto/28158/menpera

Kamis, 08/03/2012 10:46 WIB

SBY Harus Realisasikan Rumah Murah & Cantik Rp 70 Juta


Whery Enggo Prayogi - detikFinance

Jakarta - Pengembang dengan Kementerian Perumahan Rakyat masih beda pendapat soal rumah murah tipe 36 seharga Rp 70 juta yang bisa dibangun di pinggiran Jakarta. Bagi Kemenpera, rumah dengan luas bangunan 36 m2 bisa terwujud asalkan pengembang tak ambil untung banyak. Pelaku bisnis properti justru apatis akan janji Menpera Djan Faridz, bahwa pemerintah akan memberi insentif berupa pembebasan perizinan, penyambungan listrik dan instalasi air. Pengembang menilai, pembebasan perizinan yang dananya masuk kas daerah tidak dapat diterima Pemda. Apalagi selama ini program rumah murah tidak melibatkan Pemda setempat. "Pembebasan yang ada saat ini asuransi. Kalau janji menteri itu adalah teori usang. Seringkali kita sudah dengar dan nggak akan bisa terlaksana. Nggak mudah karena melibatkan sektor lain, Pemkot, Pemda," jelas Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) Eddy Ganefo kepada detikFinance, Kamis (8/3/2012). Kenyataan ini, lanjut Eddy, memberi kesan tidak ada keselarasan kebijakan pada seluruh aparatur negara di bidang perumahan rakyat. Ia mengusulkan agar Presiden SBY harus turun tangan. Ia sebagai pemimpin pemerintah, dapat mengakomodir ide-ide Menpera dalam penurunan harga rumah namun tidak mengorbankan sektor lain. "Harus ada kemauan dari Presiden. Ia bisa memanggil menteri-menteri terkait. Menpera, PU (Menteri Pekerjaan Umum) dan Badan Pertanahan. Kan ia punya kuasa untuk itu," paparnya. "Karena jika ada yang dikorbankan, maka program tidak jalan. Pada akhirnya pengembang dan masyarakat yang dirugikan," tegas Eddy. Djan Faridz sebelumnya berjanji mengeluarkan kebijakan pembebasan biaya perijinan IMB ataupun SIPPT (surat izin penunjukan penggunaan tanah), pajak pertambahan nilai (PPN), penyambungan listrik, gambar instalasi listrik, hingga penyambungan air minum, kesemuanya itu bisa dihemat hingga 20%. Dengan demikian harga rumah bisa lebih dipangkas bisa dibawah Rp 70 juta termasuk bukan hanya bisa dibangun di luar Jawa tetapi di pinggiran Jakarta pun bisa direalisasikan. "Nanti akan ada pembebasan biaya. Seperti sertifikasi tanah di BPN (Badan Pertanahan Nasional)," kata Djan beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui Apersi merupakan salah satu pihak yang memprotes kebijakan kewajiban membangun rumah minimal tipe 36. Disisi lain kemenpera menghendaki agar pengembang banyak merealisasikan rumah-rumah murah dengan harga di bawah Rp 70 juta. Segmen pasar ini merupakan paling gemuk karena banyak peminatnya. (wep/hen) http://finance.detik.com/read/2012/03/08/104638/1861114/1016/sby-harus-realisasikan-rumah-murahcantik-rp-70-juta?f9911023

Kemenpera Targetkan 3.800 Rumah Layak Huni di Bali


Kamis, 8 Maret 2012 | 8:22

H Djan Faridz [SP/Luther Ulag] [DENPASAR] Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menyiapkan dana stimulan sebesar Rp 6 juta untuk perbaikan satu unit rumah kumuh sehingga menjadi rumah layak huni. Program tersebut juga juga akan digulirkan di Bali yang ditargetkan menjangkau 3.800 unit. "Kami sifatnya hanya menstimulasi untuk peningkatan kualitas rumah kumuh di daerah, termasuk di Bali ini. Kami berharap pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota bisa menambah dana stimulan dari pemerintah pusat yang dialokasikan Rp 6 juta per unit rumah tersebut," kata Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz di Denpasar, Rabu (7/3) malam. Djan Faridz mengharapkan, tambahan dana dari pemerintah daerah bisa didapat dari CSR, zakat, atau swadaya masyarakat sehingga rumah kumuh yang mendapatkan dana stimulan dari kami itu harganya bisa meningkat menjadi Rp15 juta hingga Rp20 juta. Ia menyebutkan bahwa pada 2009 terdata rumah tidak layak huni mencapai 4,8 juta unit. Sedangkan permukiman kumuh pada 2009 diperkirakan mencapai 57.800 hektare. "Dalam tiga tahun terakhir pemerintah sudah memperbaiki 250 ribu unit rumah tidak layak huni. Tahun ini diperkirakan ada 60 ribu unit rumah tidak layak huni diperbaiki oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota," katanya. Menurutnya, perbaikan rumah tidak layak huni itu dilakukan secara swadaya, sedangkan bahan bangunan dari pemerintah pusat sesuai nilai dana stimulan. Pemerintah provinsi nanti yang mengawasi, sedangkan pemerintah kabupaten/kota yang melakukan bimbingan. Untuk di Bali, keluarga miskin di daerah ini menjadi program prioritas Kemenpeta dengan memperbaiki rumah mereka yang sudah tidak layak huni. Pihaknya akan merealisasikan program 'bedah rumah' keluarga miskin di Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Karangasem. Kami harap pemerintah daerah setempat berperan aktif dalam mendukung program kerakyatan kami," kata Djan Faridz yang sempat meninjau lokasi perbaikan rumah di Kabupaten Tabanan, Rabu (7/3). Di kabupaten Tabanan, Kemenpera akan memperbaiki sekitar 3.800 unit rumah yang tidak layak huni. Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Tabanan, Menpera sempat berdiskusi dengan para pemilik rumah yang mendapat bantuan dari Kemenpera dan Pemerintah Kabupaten Tabanan. Bahkan,

Menpera juga memberikan bantuan langsung uang tunai sebesar Rp 800 ribu kepada pemilik rumah yang rumahnya akan diperbaiki. Ia minta kepada pemerintah daerah juga harus kembali meningkatkan gairah masyarakat setempat untuk bergotong-royong dan membantu masyarakat miskin yang rumahnya hendak diperbaiki oleh pemerintah. Selain program perbaikan rumah keluarga miskin, Kemenpera juga memiliki program rumah murah seharga Rp25 juta per unit yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Saat ini model rumah murah juga sudah bisa dilihat secara langsung oleh masyarakat di halaman kantor Kemenpera di Jakarta, katanya. Sementara itu, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti menyebutkan bahwa kebutuhan rumah untuk keluarga miskin di daerahnya masih cukup tinggi. Dari data yang dimiliki, setidaknya ada sekitar 3.800 keluarga yang rumahnya perlu diperbaiki agar mereka bisa hidup layak. "Kami sangat mendukung pelaksanaan program bedah rumah oleh Kemenpera di Tabanan. Kami juga mengajak peran aktif masyarakat luas untuk ikut serta membantu program ini," katanya. [137] http://www.suarapembaruan.com/home/kemenpera-targetkan-3800-rumah-layak-huni-di-bali/17943

Menpera Beri Lampu Hijau


Rabu, 07 Maret 2012 02:45 KPR BERPENGHASILAN TIDAK TETAP PADANG, HALUAN Langkah DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumbar memperjuangkan kredit pemilikan rumah (KPR) bagi masyarakat berpenghasilan tidak tetap/rendah (MBR) mendapat mendapat lampu hijau dari pemerintah pusat. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz merespon usulan REI tersebut untuk menekan angka MBR yang tidak memiliki rumah di tanah air. Bapak Menteri setuju langkah kita memperjuangkan KPR bagi MBR ini. Bahkan, pusat mengapresiasi usulan REI, karena memang dari 13,6 juta keluarga di Indonesia yang belum memiliki rumah, 80 persen disebabkan penolakan KPR oleh bank, karena tak ada jaminan atau slip gaji, kata Ketua DPD REI Sumbar, Alkudri kepada Haluan di ruang kerjanya, Selasa (6/3). Usulan tersebut disampaikan Alkudri saat pertemuan empat mata dengan Menpera Djan Faridz di rumah tipe 36, contoh rumah murah layak huni harga jual Rp25 juta di depan Kantor Menpera Jakarta, Senin (5/3). Pada pertemuan usai sosialisasi rumah murah dan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Menpera setuju memberikan pelayanan KPR bagi MBR. Kami sampaikan kepada Bapak Menteri, dari 13,6 juta keluarga yang belum memiliki rumah ini, 80 persen diantara mereka merupakan masyarakat berpenghasilan tidak tetap. Apakah kondisi kita biarkan terus?, ujarnya. Sementara mereka sanggup membayar angsuran. Seperti tukang bangunan, tukang ojek, sopir, nelayan, petani, buruh angkat san sebagainya ini sanggup membayar angsuran Rp500-600 ribu per bulan. Hanya saja mereka tak dapat kepercayaan dan ditolak bank gara-gara tak memiliki slip gaji sebagai syarat pengajuan KPR di bank. Nah, inilah yang harus kita perjuangkan, sehingga mereka bisa memiliki rumah, ujarnya lagi. Dari hasil pembicaraan dengan Menpera, lanjut Alkudri, pemberian KPR untuk MBR tersebut akan dilaksanakan bekerjasama antara pusat, pemerintah daerah dan REI. Pemda akan mendirikan lembaga penjamin yang nantinya mengelola KPR untuk MBR tersebut. Selama ini subsidi program FLPP yang dilaksanakan pemerintah disediakan untuk masyarakat kecil. Sementara kenyataannya di lapangan, bank pelaksana FLPP tidak semua masyarakat kecil yang disetujui usulan KPR-nya. Seperti yang tidak berpenghasilan tetap langsung ditolak bank, karena bank mempersyaratkan salah satunya punya slip gaji. Nah, untuk melayani yang tidak berpenghasilan tetap ini, kita upayakan melalui kerjasama pusat dan Pemda nanti, tambahnya. Pelayanan KPR untuk MBR tersebut merupakan perjuangan REI Sumbar ke sekian kalinya. Sebelumnya REI sukses menjalin kerjasama dengan PLN untuk listrik perumahan, kemudahan DP rumah bagi PNS senilai Rp15 juta, penurunan suku bunga KPR 8,25 persen tahun lalu menjadi 7,25

persen tahun ini. Setelah itu, REI bersama Menpera juga melaksanakan program rumah murah layak huni Rp25 juta. Semua perjuangkan kita sebelumnya sedang jalan sekarang. Tinggal KPR bagi MBR berpenghasilan tidak tetap ini segera kita wujudkan. Mohon dukungan semua pihak, sehingga Pemda juga cepat merespon, tambahnya. (h/vid)

http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=13260:menpera-berilampu-hijau&catid=1:haluan-padang&Itemid=70

Langkat Berharap Bantuan Pembangunan Perumahan Berlanjut


Berita Daerah, Berita Sumut, Langkat, Terkini no comments Langkat, Sumut, 8/3 (ANTARA) Pemerintah Kabupaten Langkat Sumatera Utara, berharap bantuan program pembangunan perumahan dari Kementerian Perumahan Rakyat dilanjutkan menyusul pernah menerima bantuan serupa untuk tahun 2011 mencapai Rp 13 Miliar. Untuk tahun 2012 ini kita jua berharap bantuan dari Menpera dapat pula dilanjutkan di bumi Langkat ini, kata Asisten Ekonomi, Pembangunan dan Sosial Pemkab Langkat, Indra Salahuddin di Stabat, Kamis. Berbagai bantuan dari pemerintah pusat tersebut, sebesar-besarnya dimamfaatkan buat kepentingan masyarakat yang kurang mampu, dan masyarakat nelayan, katanya. Untuk itu, Bupati Langkat, juga sudah bertemu dengan Menpera, berharap bantuan lainnya dapat pula diterima Langkat, di tahun mendatang. Menyangkut dengan bantuan Rp 13 Miliar yang sudah diterima tersebut, diperuntukkan buat program penanganan lingkungan perumahan dan pemukiman kumuh berbasis kawasan, kata Indra. Dimana program ini dialokasikan di desa Perlis dan Desa Kelantan Kecamatan Brandan Barat, berupa pembangunan jalan lingkungan dan jalan penghubung beton. Untuk kegiatan kedua proyek ini dialokasikan dana dari Kemenpera sebesar Rp 5,2 Miliar, katanya. Sedangkan pembangunan rumah khusus nelayan sebanyak 40 unit di kelurahan Sei Bilah Kecamatan Sei Lepan dengan nilai Rp 1,1 Miliar, kini sedang dikerjakan. Selain itu juga bantuan stimulant perumahan swadaya sebanyak 700 unit dan PSU yang tersebar di 11 kecamatan, dengan nilai mencapai Rp 7,05 Miliar. Upaya yang dilakukan Pemkiab Langkat, keemuanya bertujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi warga masyarakat, agar dapat hidup layak, sehat, untuk menatap masa depannya, kata Indra Salahuddin. Secara terpisah, pimpinan pesantren Ulumul Qur,an Stabat, Masri Zein, menjelaskan bahwa untuk tahun 2012 ini, pihaknya juga akan menerima bantuan dari Kemenpera. Bantuan diperuntukkan buat penmbangunan rusunawa bagi para santri yang ada di pesantren tersebut. Nilainya belum diketahui, namun berbagai survey, untuk pembangunan tersbeut sudah dilakukan, katanya.***3*** http://www.antarasumut.com/berita-sumut/berita-sumut/langkat-berharap-bantuan-pembangunanperumahan-berlanjut/

BBM Naik, Selamat Tinggal Rumah Murah....


M.Latief | Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 11:50 WIB

shutterstock DENPASAR, KOMPAS.com - Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz memastikan kenaikan harga rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada April 2012 mendatang.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM, kami pasti menyesuaikan dengan harga pasar. -- Djan Faridz

"Untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM, kami pasti menyesuaikan dengan harga pasar," katanya sebelum membuka Rapat Konsultasi Regional III Kemenpera di Denpasar, Rabu (7/3/2012) malam tadi. Kenaikan harga rumah MBR yang sebelumnya dipatok Rp 70 juta per unit tidak bisa dihindari karena harga bahan bangunan dan komponen lainnya pasti mengikuti kenaikan harga BBM. Namun, Menpera mengaku tidak bisa memperkirakan besaran kenaikan harga rumah MBR tersebut. "Besaran kenaikan BBM saja kami belum tahu. Perhitungan kenaikan masih terus berjalan. Kami tidak bisa menjawab sebelum tahu persis kenaikan harga BBM," katanya saat didesak wartawan mengenai persentase kenaikan harga rumah MBR. Sebelumnya, Kemenpera bersama sejumlah bank BUMN mengeluarkan kebijakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Bahkan, sebelumnya Kemenpera menurunkan suku bunga FLPP dari

8,15% - 9,95% menjadi 7,5% sehingga masyarakat yang berkeinginan memiliki rumah MBR seharga Rp 70 juta bisa menyicilnya Rp 575 ribu per bulan. Namun, kebijakan tersebut dipastikan akan berubah lagi seiring kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Meskipun demikian, Kemenpera menyatakan tetap akan merealisasikan program rumah murah seharga Rp 25 juta per unit untuk masyarakat miskin. Djan menjamin, kualitas rumah murah tersebut bagus. Apalagi konstruksi bangunan rumah murah itu lebih efisien dibandingkan dengan rumah yang dibangun secara konvensional dan para pengembang bisa mengadopsinya dari prototip yang ada di kantor Kemenpera. Djan mengatakan, bila konsep rumah murah itu diterapkan oleh pengembang, maka biaya pembangunan hanya Rp 700 ribu per meter persegi, sedangkan rumah dengan teknologi konvensional mencapai Rp1,7 juta per meter persegi. "Bahan yang digunakan untuk rumah murah ini sama, yakni bahan pasir dan semen. Hanya pengerjaannya dicor dengan ketebalan 10 sentimeter," kata Djan. Sampai saat ini Kemenpera sudah membangun 205 ribu unit rumah murah. Pembangunannya pun disesuaikan dengan permintaan pasar. Untuk merealisasikan pembangunan rumah murah tersebut, Menpera meminta pemerintah daerah bersedia menghibahkan lahannya. Selain itu, dia juga meminta pembebasan IMB, biaya instalasi air, dan instalasi listrik. "Rumah murah seharga Rp 25 juta itu berdasarkan perhitungan komponen bangunan, tidak termasuk lahan. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus bisa menyediakan lahannya. Rumah itu sangat cocok ditempati oleh PNS," katanya. Sumber : ANT http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/03/08/11505843/BBM.Naik.Selamat.Tinggal.Rumah.M urah.

Kamis, 08/03/2012 12:43 WIB

Masyarakat Ngebet, Kapan SBY Lakukan Terobosan Rumah Murah?


Suhendra - detikFinance

Jakarta - Bagi golongan menengah ke bawah harga rumah murah Rp 70 juta memang menjadi incaran mereka. Namun sayangnya suplai rumah segmen ini masih terbatas khususnya di pinggiran Jakarta. Tingginya minat masyarakat terhadap prototipe rumah murah Rp 70 juta yang dibuat Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yang berlokasi di kantor Kemenpera Jalan Raden Fatah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mungkin salah satu contohnya. "Saya berminat karena murah, kok ada di Jakarta, terobosan pemerintah jarang ada," kata Iin Indrawati salah satu pembaca detikFinance, Kamis (8/3/2012) Iin yang tinggal di Fatmawati Jakarta Selatan sangat ingin segera memiliki rumah meski hanya sederhana dengan harga di bawah Rp 70 juta. Menurutnya yang paling penting lokasinya masih disekitaran pinggir Jakarta agar lebih dekat dengan tempat kerja dan lingkungannya sehat untuk tumbuh kembang anaknya. "Saya tinggal Fatmawati, kantor saya di BEI," katanya. Menurutnya rumah dengan harga itu sangat dicari termasuk oleh rekan-rekan kerjanya. Ia berharap pemerintah bisa merealisasikan rumah dengan harga terjangkau bagi masyarakat termasuk pinggiran Jakarta. Dari sisi pengembang, untuk membangun rumah Rp 70 juta di pinggiran Jakarta sekalipun masih sangat berat. Selain ada kewajiban ukuran rumah harus minimal tipe 36, setiap biaya pembangunan rumah masih dibebani berbagai biaya administrasi seperti pembebasan biaya perijinan IMB ataupun SIPPT (surat izin penunjukan penggunaan tanah), pajak pertambahan nilai (PPN), BPHTB, penyambungan listrik, gambar instalasi listrik, hingga penyambungan air minum yang umumnya sebagian kewenangannya ada di pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Jika semua itu bisa dihapus maka harga rumah bisa ditekan paling tidak sebesar 20%. "Harus ada kemauan dari Presiden. Ia bisa memanggil menteri-menteri terkait. Menpera, PU (Menteri

Pekerjaan Umum) dan Badan Pertanahan. Kan ia punya kuasa untuk itu," kata Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) Eddy Ganefo. (hen/dnl) http://finance.detik.com/read/2012/03/08/123804/1861362/1016/masyarakat-ngebet-kapan-sbylakukan-terobosan-rumah-murah

Ini Dia Syarat Rumah yang Bisa Dibedah


Nur Januarita Benu - Okezone Kamis, 8 Maret 2012 12:34 wib

Menpera menempelkan stiker bantuan hibah pemerintah (Foto: Dok.Kemenpera)

JAKARTA - Melalui program bedah rumah yang dicanangkan pemerintah, diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang sangat signifikan dalam pembangunan rumah secara nasional dan penanggulangan kawasan kumuh atau penanggulangan rumah tidak layak huni (RTLH). Rumah yang layak huni itu rumah yang sehat, rumah yang nyaman, sangat berkorelasi dengan kondisi kesehatan jasmani dan rohani masyarakat. Seseorang akan sehat jasmani dan rohaninya apabila mendapat kenyamanan dalam hidupnya. Namun sebaliknya, bila kondisi rumah tidak sehat dan tidak layak, akan menimbulkan permasalahan baru," papar Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz, seperti dilaporkan dalam keterangan resmi yang diterima okezone, Kamis (8/3/2012). Djan melanjutkan, ada beberapa kriteria rumah tidak layak huni dan perlu mendapatkan progam bedah rumah. Pertama, luas lantai per kapita kota kurang dari empat meter persegi (m2), desa kurang dari 10 m2. Kedua, sumber air tidak sehat, akses memperoleh air bersih terbatas. Ketiga, tidak ada akses MCK. Keempat, bahan bangunan tidak permanen atau atap/dinding dari bambu, rumbia. Kelima, tidak memiliki pencahayaan matahari dan ventilasi udara. Keenam, tidak memiliki pembagian ruangan. Ketujuh, lantai dari tanah. Kedelapan, letak rumah tidak teratur dan berdempetan. Kesembilan, kondisi rusak. Ditambah lagi dengan lingkungan yang kumuh dan becek, saluran pembuangan air yang tidak memenuhi standar, jalan setapak menuju rumah pun tidak teratur dan pengeluaran biaya hidup tidak melebihi Rp62 ribu untuk perkotaan dan Rp50 ribu untuk perdesaan setiap orang per bulannya," jelasnya.

Menpera berharap, program perumahan swadaya sebaiknya dapat terintegrasi dengan program pembangunan sektor lain yang mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat. Program perumahan swadaya dapat terkonsentrasi dan tidak terpecah-pecah sehingga manfaatnya lebih dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), pungkas Djan. (rhs) http://property.okezone.com/read/2012/03/08/471/589350/ini-dia-syarat-rumah-yang-bisa-dibedah

RUSUNAWA

Rezim Berganti, Program 1.000 "Tower" Mandek


Natalia Ririh | Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 13:08 WIB

RIZA FATHONI/KOMPAS IMAGES Ilustrasi: Dari tugas Perumnas membangun 100 menara rumah susun sederhana sewa (rusunawa), saat ini baru terbangun 2 tower saja. JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Umum Perum Perumahan Nasional (Perumnas) Himawan Arif mengatakan, penyebab mendeknya program pembangunan 1.000 tower yang digulirkan pemerintah adalah bergantinya rezim pemerintahan. Karena itulah, dari tugas Perumnas membangun 100 menara rumah susun sederhana sewa (rusunawa), saat ini baru terbangun 2 tower saja.

Dari 100 menara yang ditugaskan oleh Wapres Jusuf Kalla waktu itu baru terbangun 2 tower di Kemayoran, Jakarta Pusat. Program mandek karena rezim berganti. -- Himawan Arif

"Dari 100 menara yang ditugaskan oleh Wapres Jusuf Kalla waktu itu baru terbangun 2 tower di Kemayoran, Jakarta Pusat. Program mandek karena rezim berganti. Wakil presidennya baru, Gubernur DKI Jakarta-nya juga baru," katanya dalam seminar nasional "Menyikapi Arah Kebijakan Perumahan Nasional" di Jakarta, Kamis (8/3/2012). Himawan mengatakan, awalnya kebijakan pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) digulirkan karena keprihatinan para pemangku kebijakan melihat rumah-rumah masyarakat menengah bawah terendam banjir hebat pada 2007. "Maka, diputuskan perlunya dibangun hunian vertikal untuk masyarakat menengah ke bawah, yaitu bagaimana mereka bisa tinggal di kota dengan harga terjangkau dan mengurangi kemacetan," ujarnya

Perumnas kemudian membangun tower di tanah milik Kementerian Sekretaris Negara seluas 26 hektar. Menurut Himawan, karena dukungan dan pantauan langsung Jusuf Kalla, kendala lahan juga pembangunannya dapat teratasi dengan baik. "Kami diminta membangun hunian layak huni, KLB-nya (Koefisien Luas Bangunan) dengan harga Rp 144 juta," jelasnya. Sayangnya, lanjut Himawan, di Indonesia itu terlalu sulit untuk menyamakan persepsi sehingga apa yang disebut dengan egosentral terjadi. "Berganti rezim, orang lalu bertanya ini program Presiden atau Wakil Presiden. Padahal, ini program bagus dan program pemerintah," kata Himawan. Adapun dari 26 hektar tanah yang diserahkan untuk 100 tower ini, kata Himawan, baru terbangun 1,7 hektare tanpa bangunan komersial. Setelah berganti kepemimpinan, Perumnas malah diminta membuat lagi rujukan dan disuruh pindah tempat. "Padahal, kalau mau melakukan resettlement tempat baru padat penghuni, katakanlah 15 hektare, membutuhkan Rp 300 miliar lagi," ujarnya. http://properti.kompas.com/read/2012/03/08/13080550/Rezim.Berganti.Program.1.000.Tower.Mandek

FLPP

Cosmas Batubara: Terapkan Konsep Rumah Tumbuh!


M.Latief | Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 14:27 WIB

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS Cosmas Batubara, Menteri Perumahan Rakyat (1978-1983 dan 1983-1988) JAKARTA, KOMPAS.com - Negara dinilai lebih mendorong penerapan konsep rumah tumbuh di atas lahan luas dibandingkan dengan secara langsung menetapkan tipe rumah untuk mendapatkan fasilitas likuiditas pembangunan perumahan (FLPP). Tak heran, penetapan rumah tipe 36 dipertanyakan.

Saya belum bisa memahami mengapa dalam Undang-Undang yang baru menetapkan secara fixed rumah tipe 36. -- Cosmas Batubara

"Saya belum bisa memahami mengapa dalam Undang-Undang yang baru (UU No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman) menetapkan secara fixed rumah tipe 36," kata mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat, Cosmas Batubara, pada seminar nasional "Menyikapi Arah Kebijakan Perumahan Nasional" di Jakarta, Kamis (8/3/2012). Cosmas mengatakan, dengan kemampuan sebagian besar masyarakat yang masih belum berpenghasilan tinggi sehingga sukar membeli rumah tipe 36, sehingga yang perlu diperkenalkan adalah konsep rumah tumbuh. Dengan konsep rumah tumbuh, lanjut dia, rumah yang dibangun tersebut lebih mengutamakan kelengkapan prasarana dan sarana dengan jumlah kavling seluas sekitar 60 - 120 meter persegi. Dengan begitu, tipe yang dibangun bisa lebih rendah atau lebih besar dari tipe 36. "Dengan pendekatan seperti itu diharapkan masyarakat menengah ke bawah juga bisa dipenuhi kebutuhan untuk perumahannya," katanya.

Menurut Cosmas, permasalahan yang timbul, menurut dia, adalah masih banyaknya orang beranggapan bahwa rumah harus terdiri dari banyak kamar. Padahal, bisa saja satu rumah pada awalnya hanya satu kamar tetapi kemudian berkembang dengan banyak kamar. Ia berpendapat, mengenalkan kembali konsep rumah tumbuh merupakan formula terbaik karena saat ini kenyataannya masih banyak masyarakat memiliki pendapatannya belum terlalu menjangkau untuk rumah tipe 36 ke atas. Namun, mantan menteri pada masa Orde Baru tersebut juga memahami, bahwa jika ada pendapat bahwa rumah layak minimal adalah rumah tipe 36. Hal itu karena terkait penelitian, bahwa satu kamar yang berisi dua orang diperlukan minimal 27 meter kubik udara sehingga bagi pasutri dengan dua anak memang seharusnya menempati rumah seluas 36 meter persegi. Sebelumnya, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) secara terbuka menolak ketentuan bahwa penyaluran kredit FLPP hanya diperuntukan bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36. "Kami menolak ketentuan itu karena tidak realistis. Peminat rumah di daerah itu, didominasi untuk mencicil rumah di bawah tipe tersebut seperti tipe 30, 21, dan sebagainya," kata Ketua Umum Apersi, Eddy Ganefo. Eddy memperkirakan, jika kebijakan itu diteruskan maka hampir bisa dipastikan akan banyak anggota Apersi yang umumnya membangun rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) akan gulung tikar karena umumnya mereka berkemampuan membangun rumah tipe kecil di bawah tipe 36. Karenanya, Apersi juga telah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap pasal dalam Undang-Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang terkait dengan penetapan rumah tipe 36 untuk mendapatkan kredit FLPP. Sumber : ANT http://properti.kompas.com/read/2012/03/08/14272264/Cosmas.Batubara.Terapkan.Konsep.Rumah.Tu mbuh.

PERKOTAAN

Peremajaan Kota Mendesak Dilakukan


M.Latief | Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 13:27 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Masalah keterbatasan lahan di daerah perkotaan harus diatasi dengan mendorong diterapkannya solusi peremajaan kota yang mengoptimalkan penggunaan lahan, baik untuk kawasan residensial maupun komersial yang lebih efisien.

Keterbatasan tanah di kota-kota menjadi masalah tersendiri sehingga seharusnya menjadi pemikiran kita bersama agar dapat efektif melakukan urban renewal atau peremajaan kota. -- Cosmas Batubara

"Keterbatasan tanah di kota-kota menjadi masalah tersendiri sehingga seharusnya menjadi pemikiran dari kita bersama untuk bagaimana agar kita dapat efektif melakukan urban renewal atau peremajaan kota," Cosmas Batubara dalam seminar nasional "Menyikapi Arah Kebijakan Perumahan Nasional" di Jakarta, Kamis (8/3/2012). Mantan Menteri Negera Perumahan Rakyat RI itu mengingatkan, pada saat ini terdapat sekitar 65 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan dan perkembangannya ke depan diperkirakan jumlah itu akan menjadi semakin besar. Ia menuturkan, program peremajaan kota juga harus menyentuh berbagai daerah di kawasan kumuh, yaitu dengan menggalakkan lebih banyak lagi rumah susun. Dengan menggunakan peremajaan kota, ujar dia, maka penggunaan lahan dalam pembangunan rumah susun tersebut juga dapat dioptimalkan dengan penggunaan sebagian ruang untuk kawasan bisnis atau komersial. Sementara itu, pihak yang seharusnya menjadi pendorong bagi pembangunan rumah susun yang selaras dengan konsep peremajaan kota adalah pihak swasta dan tidak lagi bergantung kepada Perum Perumnas seperti telah dilakukan pada masa dahulu. Sementara itu, Dirut Perum Perumnas Himawan Arief mengatakan, berbagai pihak pemangku kepentingan pada saat ini telah menyadari, bahwa Jakarta pada saat ini sudah termasuk sebagai salah satu kota besar dengan keterbatasan lahan untuk pembangunan kawasan perumahan. "Sehingga perlu pelaksanaan pembangunan hunian vertikal untuk pemanfaatan ruang," kata Himawan. Direktur Eksekutif Indonesian Property Watch Ali Tranghada menambahkan, berbagai program yang diluncurkan pemerintah, seperti program pembangunan rumah susun sederhana milik (rusunami) kerap dilakukan dengan tidak adanya perencanaan matang. Pemerintah harus bisa memperjelas mengenai target dari berbagai pemerintah seperti rusunami dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Sumber : ANT http://properti.kompas.com/read/2012/03/08/13271517/Peremajaan.Kota.Mendesak.Dilakukan.

PERUMAHAN NASIONAL

"Sepi Order", Peran Perumnas Serba Tanggung


Natalia Ririh | Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 14:59 WIB

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS Himawan Arief, Direktur Utama Perum Perumnas JAKARTA, KOMPAS.com - Peran Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perumnas) dalam menyediakan hunian bagi rakyat dinilai serba tanggung. Hal ini dikarenakan konsep perumahan rakyat di Indonesia yang masih belum jelas.

Harusnya pemerintah menentukan dulu mau konsep seperti apa, apakah dibuat seperti lembaga perumahan di Singapura atau seperti intervensi Pemerintah China atas tanah, atau diserahkan ke Perumnas. -- Himawan Arif

"Harusnya pemerintah menentukan dulu mau konsep seperti apa, apakah dibuat seperti lembaga perumahan di Singapura atau seperti intervensi Pemerintah China atas tanah, atau diserahkan ke Perumnas," kata Dirut Perum Perumnas, Himawan Arif, saat ditemui pada seminar nasional "Menyikapi Arah Kebijakan Perumahan Nasional" di Jakarta, Kamis (8/3/2012). "Kalau pemerintah mau bangun public housing seperti rusun atau rusunawa, sekalian saja membuat badan otoritas sendiri ketimbang peranan Perumnas seperti sekarang ini, tanggung," ujarnya. Himawan berharap, status Perumnas sebagai BUMN Properti diperjelas. Dengan berstatus Persero misalnya, lanjut dia, peran Perumnas bisa seperti BUMN lainnya. Perumnas bisa menjadi lebih besar kinerja dan fungsinya, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih berkembang lagi.

"Mengenai status persero itu tergantung pemerintah juga. Sebaiknya berdayakan Perumnas menjadi besar seperti pada zaman dulu atau statusnya seperti BUMN lainnya. Jadi persero, jika pemerintah kemudian memberikan penugasan, ya, tetap dikerjakan. Daripada sekarang, tidak diberi tugas apaapa," katanya. Pada kesempatan sama, Cosmas Batubara, mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat (1978-1983 dan 1983-1988) menyampaikan agar Perumnas jangan berkecil hati. Pasalnya, meski dulu pada zaman kepemimpinannya berjaya, saat ini telah berubah peraturannya. http://properti.kompas.com/read/2012/03/08/14594260/.Sepi.Order.Peran.Perumnas.Serba.Tanggung

Spesifikasi Bahan Dasar Rumah Rp70 Juta


Dengan spesifikasi dan teknologi dari pemerintah, harga rumah super murah bisa ditekan.
Kamis, 8 Maret 2012, 15:33 WIB Hadi Suprapto, Ronito Kartika Suryani

Contoh rumah murah (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Kementerian Perumahan Rakyat mengungkapkan bahan dasar rumah murah untuk tipe 36 hanya menggunakan semen, pasir cetak, besi beton, dan besi siku. Rumah-rumah yang saat ini dipatok Rp70 juta per unit, tak menggunakan bahan bermacam-macam. "Itu berlaku secara nasional," kata Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz saat ditemui di Gedung UKM Smesco, Jakarta, Kamis 8 Maret 2012. Dengan bahan-bahan itu, dia mengatakan, kenaikan harga rumah murah seiring dengan naiknya harga bahan bakar minyak bisa ditekan. Meskipun pemerintah juga akan menaikkan standar harga menjadi Rp80 juta. Djan yakin, dengan bahan-bahan standar pemerintah ini, kenaikan harga rumah khusus rakyat miskin ini tak bakal melambung. Namun, Djan menambahkan, bila para pengembang tetap menggunakan bahan tradisional dan tidak petunjuk pemerintah, justru akan menjadi susah. "Bahan bakunya terlalu banyak," katanya. "Kalau pemerintah kan simpel, besi beton, semen, dan pasir. Itu aja." katanya. Djan memastikan bahan baku standar pemerintah ini sudah memenuhi standar aman untuk dihuni masyarakat. Teknologi ini juga sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Pekerjaan Umum. "Kalau belum diberi izin PU, kami tidak berani. Kami sudah membangun ribuan unit," ujar Djan. Karena itu, dia yakin, dengan harga di bawah Rp80 juta rumah murah masih bisa diproduksi. "Kalau modalnya Rp25 juta, tambah tanah Rp20 juta, jadi Rp45 juta. Tambah biaya-biaya lain kan mustinya Rp70 juta," katanya. "Itu cukup, tapi teknologinya ikut Kemenpera." (eh) VIVAnews http://bisnis.vivanews.com/news/read/294533-spesifikasi-bahan-dasar-rumah-rp70-juta

Rumah Murah Naik Jadi Rp80 Juta


Saat ini harga rumah murah dipatok Rp70 juta
Kamis, 8 Maret 2012, 14:44 WIB Syahid Latif, Ronito Kartika Suryani

Contoh Rumah Murah Kemenpera (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) berencana menaikkan harga jual rumah murah dari semula Rp70 juta menjadi Rp80 juta. Namun, rencana itu masih harus menunggu persetujuan dari Kementerian Keungan. "(Keputusannya) belum tetap, tapi sudah diperkirakan. Bisa Rp80 juta, bisa lebih, bisa juga di bawah Rp80 juta. Tergantung perhitungan," kata Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz, saat ditemui di Gedung UKM Smesco, Jakarta, Kamis 8 Maret 2012. Djan menjelaskan, persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu) diperlukan karena pemerintah menggunakan anggaran negara untuk membiayai subsidi rumah murah tersebut. Terlebih lagi, pemerintah baru saja mengajukan usulan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Usulan kenaikan harga rumah muncul karena adanya kenaikan upah buruh, harga barang, dan rencana kenaikan BBM. Dengan usulan tersebut, Kemenpera berharap bisa mengantisipasi pertumbuhan rumah yang bisa saja mengalami perlambatan. "Maka dari itu perlu diantisipasi," kata Djan. Kendati mengusulkan kenaikan harga, Kemenpera memastikan pihaknya juga akan memberikan kompensasi dengan membebaskan pungutan pajak pertambahan nilai (PPn) terhadap rumah murah. Saat ini pengajuan pembebasan PPn tersebut sudah dalam proses pembahasan pemerintah. Sebelumnya, Kemenpera mengaku telah tercapai kesepakatan dengan bank penyalur program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dalam perjanjian kerja operasional (PKO) dengan suku bunga kredit 7,25 persen.

Sementara porsi dana antara pemerintah terhadap bank pelaksana dalam program FLPP tersebut disepakati sebesar 50:50. (eh) VIVAnews http://bisnis.vivanews.com/news/read/294521-rumah-murah-naik-jadi-rp80-juta

Terobosan Baru Atasi Kekurangan Rumah Murah


Pemerintah perlu membuat terobosan guna menjamin pembangunan perumahan murah bagi rakyat.
Kamis, 8 Maret 2012, 12:06 WIB Antique, Nina Rahayu

Pemerintah perlu membuat terobosan untuk menjamin pembangunan perumahan murah bagi rakyat. (www.presidensby.info)

VIVAnews - Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat Realestat Indonesia, F Teguh Satria, menyarankan agar pemerintah membuat terobosan berupa tabungan wajib perumahan. Tabungan ini sangat penting untuk menjamin kelangsungan pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Kami melihat, angka kebutuhan rumah sangat besar, maka diperlukan penyediaan dana yang sangat besar," kata Teguh di acara seminar nasional properti di Hotel Le Meredien, Jakarta, Kamis 8 Maret 2012. Saat ini, Teguh menambahkan, pembiayaan perumahan berjangka waktu panjang. Namun, pada umumnya bank mendapatkan dana dari masyarakat berupa dana jangka pendek dan relatif mahal, sehingga terjadi miss match pendanaan. "Untuk menghindari itu, diperlukan dana yang besar berjangka panjang dan murah," ujarnya. Ia menjelaskan, di beberapa negara seperti Singapura telah menerapkan tabungan perumahan yang diwajibkan bagi warganya dan dikelola oleh Central Provident Fund sejak 1955. "Kini, meskipun dengan jumlah penduduk kurang dari empat juta, tapi saat ini dana yang terkumpul mencapai Rp1.500 triliun. Dengan dana itu, semua warganya mampu tinggal di hunian yang layak dan terjangkau bagi semua lapisan," tegasnya.

Di Singapura, Teguh melanjutkan, warga yang berumur di bawah 55 tahun, harus menyisihkan sekitar 25 persen dari total pendapatannya untuk berbagai kebutuhan, termasuk tabungan perumahan. Sementara itu, warga berusia 55 tahun ke atas, dia menambahkan, potongan untuk tabungan perumahan jumlahnya lebih kecil. Dengan ketentuan itu, maka setiap bulannya Central Provident Fund Singapura memunggut iuran tabungan perumahan sebesar Sin$1,64 miliar atau sekitar Rp8,2 triliun. "Kebijakan ini sudah diterapkan di negara lain seperti Malaysia dan China," ujarnya. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Menurut Teguh, mengingat angka kekurangan rumah (backlog) yang semakin besar, maka tabungan wajib perumahan sebaiknya diberlakukan terhadap WNI yang sudah berpenghasilan di atas penghasilan tidak kena pajak sebesar Rp1,32 juta. "Bukan hanya terhadap karyawan yang berpenghasilan tetap, tetapi besarnya tabungan wajib perumahan juga ditetapkan. Misalnya, satu persen dari penghasilan bersih," ujarnya. Tabungan wajib perumahan bukan hanya dikenakan kepada karyawan, tapi juga diikuti oleh pemberi kerja berupa iuran wajib perumahan. "Misalnya, untuk PNS, TNI, dan Polri," ungkapnya. (art)
VIVAnews http://bisnis.vivanews.com/news/read/294457-terobosan-baru-atasi-kekurangan-rumah-murah

RI target bangun 205 ribu rumah murah


Kamis, 8 Maret 2012 10:08 wib

() Sindonews.com - Pemerintah berupaya untuk menyediakan rumah layak huni bagi warga kurang mampu yang ditargetkan tahun ini bisa mencapai 205 ribu unit rumah murah. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Farid mengatakan, masih banyak warga yang belum memiliki tempat tinggal layak yang diperkirakan mencapai 8,2 juta unit pada tahun 2011. Selain itu, ada kecenderungan pemukiman kumuh semakin meluas pada tahun 2009 lalu mencapai 57.800 hektar. "Pemerintah memperkuat komitmen dalam menempatkan sektor perumahan dan kawasan pemukiman sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional," tegas Farid di sela-sela rapat konsultasi regional (Rakonreg) Kemenpera di Sanur, Denpasar Bai, Rabu 7 Maret 2012 malam. Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan program dalam membantu penyediaan rumah murah di seluruh Indonesia. Dalam bantuan yang diberikan lewat program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM), pemerintah memberikan stimulan dana Rp6 juta. Sisanya, menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk menyiapkan lewat berbagai program yang telah dirancang seperti bedah rumah. "Dana pendamping itu bisa diupayakan dari dana CSR BUMN di masing-masing daerah maupun sumber dana daerah lainnya. Nantinya Kemenpera hanya melakukan pengawasan, pelaksanaanya diserahkan ke daerah masing-masing," katanya. Pemerintah daerah harus menyiapkan lahan atau lokasi dimana statusnya telah dihibahkan. Sedangkan untuk infrastruktur perumahan seperti air dan listrik, Kemenpera tengah berupaya melakukan pembicaraan dengan BUMN terkait, yang arahnya agar penyediaan listrik dan air bisa dibebaskan untuk program rumah murah tersebut. Setiap pemerintah kabupaten atau kota akan mengusulkan berapa jumlah rumah yang akan dibangun termasuk lokasi dan siapa saja penerima bantuan rumah murah itu. Dengan sistem sewa-kelola, nantinya rumah murah

yang telah dibangun itu bisa meningkat nilainya hingga Rp20 juta. Pemerintah, lanjut Farid telah menargetkan bisa membangun rumah murah hingga 205 ribu unit. Diharapkan daerah yang mendapat prioritas program ini masing-masing bisa membangun 60 ribu unit. Salah satu yang menjadi perhatian pemerintah adalah penyediaan rumah murah seharga Rp25juta di Provinsi Papua bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS). (ank)
Editor: Hariyanto Kurniawan Laporan: Rohmat (Okezone) http://www.sindonews.com/read/2012/03/08/450/589210/ri-target-bangun-205-ribu-rumah-murah

Korporasi

Demi BBM, anggaran Kemenpera dipotong Rp150 M


Kamis, 8 Maret 2012 16:19 wib

() Sindonews.com - Adanya instruksi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melakukan penghematan anggaran mencapai Rp22 triliun, membuat setiap Kementerian melakukan penghematan anggaran, guna dialihkan untuk subsidi. Untuk itu, anggaran Kementerian Perumahan Rakyat dipotong hampir Rp150 miliar. "Banyak yang dipotong. Kena hampir Rp150 miliar," ujar Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz saat ditemui wartawan di Gedung Smesco UKM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (8/3/2012). Dirinya memaparkan, dana yang dipotong dari kementeriannya diantaranya dana rutin, surat perintah perjalanan dinas dan konsultan. "Untuk konsultan hanya konsultan nonfisik," jelas dia. Seperti diketahui, pemerintah memotong anggaran belanja barang dan operasional seluruh kementerian atau lembaga untuk dimasukkan ulang dalam APBN-P 2012 yang diajukan pemerintah Februari lalu. Guna melakukan penghematan, pemerintah akan melakukan pemotongan anggaran-anggaran di berbagai Kementerian Lembaga (K/L). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, penghematan anggaran tersebut dilakukan pemerintah sebagai langkah antipasi melebarnya defisit sebagai akibat dari asumsi-asumsi makro yang berubah yang salah satunya adalah harga ICP yang rata-rata harganya sudah mencapai USD118 per barel. Menurut Hatta, akan diadakan review kembali belanja yang dirasakan memang masih bisa ditunda. Menurut

Hatta, mempertajam artinya akan diadakan review kembali belanja yang dirasakan memang masih bisa ditunda. (ank)
Editor: Hariyanto Kurniawan Laporan: Maikel Jefriando

http://www.sindonews.com/read/2012/03/08/452/589556/demi-bbm-anggaran-kemenpera-dipotong-rp150-m

APBN Direvisi, Anggaran Kemenpera Dipangkas Rp150 M


Gina Nur Maftuhah - Okezone Kamis, 8 Maret 2012 15:17 wib

Ilustrasi. AP. JAKARTA - Akibat instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengalihkan anggaran Kementerian Lembaga (K/L) pada untuk subsidi, maka dana anggaran Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) dipotong hampir Rp150 miliar. "Banyak yang dipotong. Kena hampir Rp150 miliar," ungkap Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, saat ditemui wartawan di Gedung Smesco UKM, Jakarta, Kamis (8/3/2012). Dia memaparkan, dana yang dipotong dari kementeriannya di antaranya dana rutin, surat perintah perjalanan dinas dan konsultan. "Konsultan hanya konsultan nonfisik." jelas dia. Seperti diketahui, pemerintah memotong anggaran belanja barang dan operasional seluruh kementerian atau lembaga untuk dimasukkan ulang dalam APBN-P 2012 yang diajukan pemerintah Februari lalu. Guna melakukan penghematan, pemerintah akan melakukan pemotongan anggaran-anggaran di berbagai K/L hingga mencapai Rp22 triliun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menuturkan, penghematan anggaran tersebut dilakukan pemerintah sebagai langkah antipasi melebarnya defisit sebagai akibat dari asumsi-asumsi makro yang berubah yang salah satunya adalah harga ICP yang rata-rata harganya sudah mencapai USD118 per barel. Menurut Hatta, akan diadakan review kembali belanja yang dirasakan memang masih bisa ditunda. Menurut Hatta, mempertajam artinya akan diadakan review kembali belanja yang dirasakan memang masih bisa ditunda. (mrt) http://economy.okezone.com/read/2012/03/08/320/589496/apbn-direvisi-anggaran-kemenpera-dipangkas-rp150m

Menpera janji pacu program bedah rumah


Online: Kamis, 08 Maret 2012 | 12:12 wib ET JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) optimistis program bedah rumah bisa terus meningkat pesatnya. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mematok unit rumah yang akan dibedah bakal meningkat pesat. "Tahun lalu targetnya cuma 60.000 rumah. Tapi tahun ini bertambah lebih dari empat kali lipat menjadi 250.000 rumah yang akan dibedah," ujar Djan dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis(8/3/2012). Bahkan, sambung Djan, target itu akan terus bertambah bila peran serta pemerintahan provinsi, kabupaten dan masyarakat serta swasta semakin besar. "Prinsip bedah rumah itu dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat, baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri. Pelaksanaan bedah rumah secara swadaya sepenuhnya menjadi otoritas masyarakat itu. Pemda-pemda hanya membimbing. Dan pengawasannya pun dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Tidak oleh kontraktor atau pengembang, sehingga tidak ada penyimpangan," paparnya. Djan juga menambahkan, sampai 2014 mendatang kementeriannya menargetkan pembangunan 1 juta unit rumah swadaya. Agar program ini dapat berjalan cepat, Kemenpera berharap, seluruh elemen masyarakat dari tiap provinsi dan kabupaten ikut terlibat sebagai tenaga pendampingan. Program rumah swadaya ini dapat disosialisasikan ke seluruh pimpinan pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota. kbc11 http://www.kabarbisnis.com/read/2828307

Apersi Minta Dukungan Menpera Soal Uji Materi


(IANN News) Jakarta - Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) minta dukungan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz terhadap uji materi UU No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. "Kementerian Perumahan Rakyat tidak usah malu-malu untuk mengubah kebijakan yang telah dikeluarkan, termasuk memberikan dukungan kepada kita terkait uji materi UU Perumahan di Mahkamah Konstitusi," kata Ketua Umum Apersi, Eddy Ganefo, di Jakarta, Kamis. Menurut Eddy, pada saat ini terdapat sejumlah regulasi terkait perumahan yang dapat dikatakan aneh dan tidak selaras satu sama lain, seperti adanya dua ketentuan tentang pembatasan kategori masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dalam mendapatkan kredit fasilitas likuiditas pembangunan perumahan (FLPP). Ia berpendapat bahwa seharusnya tidak terdapat batasan kecuali untuk mereka yang memang belum pernah memiliki rumah karena hal itu rawan diselewengkan. Ketua Umum Apersi juga mengutarakan harapannya agar Kementerian Perumahan Rakyat mengajak pihaknya untuk membahas secara bersama mengenai beragam regulasi yang akan dikeluarkan terkait perumahan. Sementara itu, Presiden Housing and Urban Development Institute Zulfi S Koto mengatakan, untuk mengatasi permasalahan di sektor perumahan adalah dengan meningkatkan kebersamaan antara berbagai pemangku kepentingan. Sedangkan Dirut Perum Perumnas Himawan Arief mengemukakan bahwa salah satu hal yang merugikan kelancaran pembangunan perumahan terutama perumahan murah untuk rakyat adalah karena masih adanya ego sektoral yang ditonjolkan oleh beragam instansi. Himawan mencontohkan, program "1.000 Tower" atau Pembangunan 1.000 Menara yang dulu berjalan lancar karena berada di bawah satu koordinasi yaitu Wakil Presiden Jusuf Kalla, kini dalam keadaan "mati suri" karena koordinasi di bawah Wapres itu kini tidak lagi seperti sebelumnya. Wakil Direktur Divisi Pengawasan Bisnis BNI Indrastomo Nugroho mengatakan, program pemerintah seperti pembangunan rumah susun sederhana milik (Rusunami) atau rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) harus memiliki target yang jelas agar kebijakan perumahan tersebut tidak dipolitisir. Menurut Indrastomo, akan lebih baik bila Kementerian Perumahan Rakyat membuat badan pelaksana yang bertugas khusus untuk membangun Rusunawa dan Rusunami. Sebelumnya, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) secara terbuka menolak ketentuan bahwa penyaluran kredit FLPP hanya diperuntukan bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36. "Kami menolak ketentuan itu karena tidak realistis. Peminat rumah di daerah itu, didominasi untuk mencicil rumah di bawah tipe tersebut seperti tipe 30, 21, dan sebagainya," kata Ketua Umum Apersi, Eddy Ganefo.

Eddy memperkirakan, jika kebijakan itu diteruskan maka hampir bisa dipastikan akan banyak anggota Apersi yang umumnya membangun rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) akan gulung tikar karena umumnya mereka berkemampuan membangun rumah tipe kecil di bawah tipe 36. Karenanya, Apersi juga telah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap pasal dalam Undang-Undang No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang terkait dengan penetapan rumah tipe 36 untuk mendapatkan kredit FLPP. http://www.iannnews.com/news.php?kat=2&bid=4606

Gubernur Respons Perusahaan Penjaminan Bantu Warga Berpenghasilan tak Tetap Miliki Rumah
Padang Ekspres Kamis, 08/03/2012 13:13 WIB (esg/a) 12 klik Padang, PadekPemerintah provinsi (Pemprov) Sumbar merespons permintaan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) bersama Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), agar pemda mendirikan perusahaan penjaminan kredit kepemilikan perumahan (KPR) bagi masyarakat berpenghasilan tidak tetap. Ketua DPD REI Sumbar Alkudri mengapresiasi langkah Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang dengan cepat merespons rencana tersebut. Menurutnya, pagi kemarin gubernur langsung menghubunginya untuk membahas soal itu. Karena kegiatan pak gubernur cukup padat, maka kami pun membahasnya di perjalanan, di dalam mobil dinasnya pak gubernur. Kami dari REI mengapresiasi gubernur yang bertindak cepat dan proaktif merespons kebijakan pembiayaan kredit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak tetap itu, ujar Alkudri kepada Padang Ekspres, kemarin. Saking aktifnya, kata Alkudri, di sela-sela pembicaraan itu, gubernur juga menghubungi pejabat Dinas Prasarana Jalan dan Tarkim Sumbar. Meminta agar dinas terkait menyurati kabupaten dan kota, guna menginvertarisir lahan untuk pembangunan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak tetap. Sebagaimana diberitakan Padang Ekspres kemarin, Menpera Djan Faridz mendorong pemda membentuk perusahaan penjaminan kredit rumah, guna membantu masyarakat berpenghasilan tidak tetap untuk memiliki rumah. Apalagi, dari 13,6 juta kekurangan rumah (backlog) di Indonesia, sebanyak 80 persen dialami masyarakat tidak berpenghasilan tetap. Mereka tidak bisa mendapatkan fasilitas kredit kepemilikan rumah (KPR) dari perbankan, karena diwajibkan menyerahkan syarat seperti slip gaji, NPWP, dan rekening koran tabungan. Di Sumbar data REI, ada sebanyak 129 ribu masyarakat yang belum memiliki rumah. Kita berharap pemprov mengadakan rapat koordinasi bersama pemerintah kabupaten dan kota untuk membahas ini, agar bisa terealisasi dan masyarakat menjadi terbantu. Kami dari REI dalam waktu dekat juga akan bertemu DPRD untuk membahas rencana ini, ujar Alkudri. Selain itu, juga mengundang organisasi tempat berhimpunnya masyarakat berpenghasilan tidak tetap seperti petani, buruh harian, tukang ojek, sopir angkot, tukang bangunan, pedagang kaki lima, dan karyawan honorer serta organisasi lainnya.

Terpisah, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan setuju dengan kebijakan Menpera dan REI. Namun, belum bisa ditentukan polanya, karena Pemprov baru akan membahas rencana tersebut dengan SKPD terkait dan stakeholders lainnya seperti REI. Kita setuju, rencana itu akan kita proses dan segera dibahas, ujarnya, kemarin. Pengamat ekonomi Universitas Bung Hatta, Syafrizal Chan menyebutkan, lembaga penjamin kredit daerah (LPKD) yang saat ini sedang digodok pemprov untuk diusulkan kembali dibahas menjadi Perda di DPRD bisa disinkronkan dengan rencana ini. Namun, dia mengingatkan agar LPKD yang didirikan nantinya memang mampu memberikan jaminan kepada masyarakat yang pada prinsipnya mampu atau punya kapasita membayar, tapi tidak memiliki persyaratan seperti slip gaji, SK pegawai, dan lainnya yang biasa diminta perbankan. Saya sarankan, LKPD yang akan diusulkan ke DPRD itu tidak hanya mengakomodir satu item untuk masyarakat yang ingin kredit rumah saj, tapi juga penjaminan, misalnya untuk nelayan yang butuh biaya membeli mesin atau perahu guna melaut, dan lainnya, paparnya. Soal polanya, Syafrizal menjelaskan, LKPD bekerja sama dengan perbankan. Pemerintah menawarkan kredit, lalu masyarakat berpenghasilan tidak tetap mengajukan kredit ingin memiliki rumah ke LPKD, lalu disurvei dan jika memenuhi syarat LKPD kemudian menyetujuinya. Namun demikian, prinsip kehati-hatian juga harus diperhatikan dalam penjaminan masyarakat yang mengajukan kredit nantinya. Salah satunya lewat persyaratan yang harus dipenuhi nasabah. Ini untuk antisipasi agar lembaga penjaminan tidak merugi, karena penjaminan menggunakan APBD, ujarnya. Apa yang diungkapkan Syafrizal, mirip dengan yang diterapkan Pemko Palembang. Di daerah itu, Pemko mendirikan sebuah LKPD bernama PT. Sarana Pembangunan Palembang Jaya (PT. SP2J). PT. SP2J adalah perusahaan milik Pemko yang bergerak di bidang pelayanan gas kota, bus kota Trans-Musi, Kapal Pesiar Kembang Dadar, dan pengelolaan rusunawa serta properti, termasuk penjaminan KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan tidak tetap. Saat akad kredit rumah, LKPD bekerja sama dengan bank pelaksana. (esg/a) [ Red/Redaksi_ILS ] http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=25443

Kamis, 08 Maret 2012 10:56:36 WIB

Tabanan dan Karangasem Jadi Target Bedah Rumah


Jakarta, SENTANAonline.com KEMENTERIAN Perumahan Rakyat (Kemenpera) menjadikan dua kabupaten di Bali yakni Tabanan dan Karangasem menjadi target lokasi program bedah rumah. Di Kabupaten Tabanan, Kemenpera setidaknya akan membedah sekitar 3.800 rumah yang tidak layak huni yang ada di daerah tersebut. Hal tersebut disampaikan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz kepada sejumlah wartawan disela-sela kegiatan peninjauan lokasi bedah rumah di Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (7/3). "Kami (Kemenpera-red) akan melakukan bedah rumah di dua Kabupaten di Bali yakni Kabupaten Tabanan dan Karangasem. Kami harap Pemda setempat bisa ikut aktif membantu untuk pelaksanaan program pro rakyat tersebut," ujar Menpera Djan Faridz. Dalam kunjungan kerjanya tersebut, Menpera Djan Faridz juga mengadakan diskusi langsung dengan para pemilik rumah yang mendapat bantuan dari Kemenpera dan Pemerintah Kabupaten Tabanan tersebut. Selain itu, Menpera juga sempat memberikan bantuan langsung uang tunai sebesar Rp 800.000 kepada pemilik rumah yang rumahnya di bedah. Lebih lanjut, Menpera Djan Faridz mengungkapkan, Kemenpera berharap pemerintah daerah dapat ikut mensukseskan pelaksanaan program tersebut dengan fokus pada program pembangunan perumahan di daerahnya masing-masing. Selain itu, Pemda juga harus kembali meningkatkan gairah gotong royong masyarakat setempat untuk saling membantu masyarakat miskin yang rumahnya akan dibedah. "Program rumah ini bukan hanya milik Kemenpera, tapi program ini merupakan bantuan pemerintah untuk membantu masyarakat miskin untuk memiliki rumah yang layak huni. Dan Bapak Presiden juga sangat mendukung program bedah rumah ini karena sangat pro rakyat," tandasnya. Selain memiliki program bedah rumah untuk masyarakat miskin, imbuh Djan Faridz, Kemenpera juga mempunyai program rumah murah Rp 25 juta yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Saat ini contoh rumah murah juga sudah bisa di lihat secara langsung oleh masyarakat luas di halaman kantor Kemenpera di Jakarta. Sementara itu, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengungkapkan, kebutuhan rumah untuk masyarakat miskin di daerahnya masih cukup tinggi. Dari data yang dimiliki, setidaknya ada sekitar 3.800 KK yang rumahnya perlu di bedah agar mereka bisa tinggal di rumah yang lebih layak. "Kami sangat mendukung pelaksanaan program bedah rumah Kemenpera di Tabanan. Kami juga mengajak peran aktif masyarakat luas untuk ikut serta membantu program ini," ujarnya.(PS) http://sentanaonline.com/detail_news/main/6425/1/08/03/2012/index.php

BBM Naik Beli Rumah Murah Bebas Pajak


Kamis, 8 Maret 2012 17:03 WIB

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adiatmaputra Fajar Pratama TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz menjanjikan akan membebaskan masyarakat dari PPN(Pajak Penghasilan Negara) saat membeli rumah nanti. Hal itu menyusul adanya kemungkinan kenaikan harga rumah murah tipe 36 sebagai imbas naiknya harga BBM. "Dengan adanya kenaikan itu jadi bebas PPN dan sekarang sedang dalam proses." kata Djan Faridz, di gedung SMESCO,Jakarta, Kamis (8/3/2012). Djan Faridz mengatakan apabila Pemerintah hendak memberikan bantuan melalui pembangunan rumah dengan teknologi canggih dengan bahan bangunan yang sederhana, murah, namun aman. Alasan harga rumah murah (tipe 36) bisa naik sampai Rp 80 juta, dikarenakan isu kenaikan harga BBM. Dari rencana tersebut, Djan Faridz menghimbau agar Pemerintah bisa cepat memberikan kompensasi dan bantuan, agar pertumbuhan pembangunan rumah tidak menurun. "Kalau tidak diantisipasi nanti pertumbuhan rumah nanti akan melambat. Maka dari itu perlu diantisipasi,"papar Djan Faridz.

Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama Editor: Willy Widianto http://m.tribunnews.com/2012/03/08/bbm-naik-beli-rumah-murah-bebas-pajak