Anda di halaman 1dari 6

Suara lantang kokok ayam jantan yang saling bersahutan perlahan-lahan membawaku ke alam sadar setelah semalaman bermain

di alam mimpi. Segera aku bangun dan merapikan tempat tidur untuk kemudian bergegas keluar dari kamar tidurku. Eh, anak ayah sudah bangun. Sapa ayah saat melihatku keluar dari kamar. Hehe.. iya yah, maaf Fanny agak telat bangunnya, tadi malam ngerjain tugas sampe larut sih yah. ujarku. Ga apa sayang, ini juga baru jam 5.30 pagi kok. Yasudah, ayah nyapu halaman depan dulu ya, kamu jangan lupa nanti bangunin Vina tuh. ujar ayah lalu menuju ke halaman depan rumah. Oke boss! sahut ku sambil meletakkan tangan pada posisi hormat layaknya tentara yang akan menjalankan tugas. Ayah hanya tertawa kecil melihat ulahku. Namaku Fanny Kinasih Vassilenka, orang biasa memanggilku Fanny. Aku kini berumur 13 tahun dan duduk dibangku kelas 2 SMP Harapan Bangsa. Dirumah, aku tinggal bersama Ayah dan Adik perempuanku yang bernama Vina. Aku dan Ayah bersama-sama mengurusi rumah dan si kecil Vina yang baru masuk SD. Ibu pergi meninggalkan kami sejak 2 tahun lalu setelah berjuang melawan kanker rahim yang dideritanya selama lebih dari 1 tahun. Setiap pagi tugas rutinku adalah membersihkan rumah, menyiapkan sarapan dan mengurus keperluan Vina. Untuk itu, setelah membersihkan rumah dan bersiap sekolah, aku menuju kamar Vina untuk membangunkannya. Jam sudah menunjukkan pukul 5.50 pagi. Vina, ayo bangun. Udah siang nih, tadi kakak kesiangan bangunnya. aku membangunkan Vina sambil mengusap kepala adik semata wayangku ini. Iya kak. Ayah udah bangun? Tanya Vina sambil mengusap-usap matanya. Udah dong. Sekarang Vina mandi ya. Jawabku lembut. Iya deh kak, Vina mandi dulu ya. Saat Vina mandi, aku membereskan kamarnya dan mempersiapkan segala keperluan sekolahnya. Aku memang harus menggantikan posisi Ibu untuk mengurusi Vina. Terkadang

ada perasaan sedih melihat Vina yang sudah kehilangan kasih sayang Ibu sejak dia masih berusia 4 tahun. Tak berapa lama kemudian Vina telah selesai mandi. Aku udah kak. Ucap si kecil Vina. Sekarang Vina pake baju ya, kakak mau siapin sarapan dulu. Oke kak. Jawab Vina. Lalu aku bergegas menuju dapur. Aku menyiapkan sarapan untuk Ayah dan Vina. Diatas meja telah terhidang 3 buah piring dengan roti diatasnya. Roti berlapis selai coklat milik ayah, dan roti berselai strawberry merah milik aku dan Vina. Tak lupa secangkir teh hangat kesukaan ayah serta segelas susu hangat untuk Vina. Udah disiapkan bekal Vina, Fan? Tanya ayah sembari duduk dan meminum tehnya. Sudah yah. Jawabku sambil mengangguk dan deduk disamping ayah. Kakak, tolong ikatin rambut Vina. Rengek Vina saambil membawa 2buah pita berwarna pink kesukaannya. Iya, sini kakak bantu. Aku pun menyisir dan mengikat rambut Vina dengan lembut. Aku, Vina dan Ayah menyantap roti sambil bercanda hangat. Kami selalu membiasakan sarapan dan makan malam bersama untuk menjaga komunikasi. Walau pun ayah sibuk bekerja, tetapi beliau selalu menyempatkan untuk makan bersama kami. Setelah selesai sarapan, aku bersiap berangkat ke sekolah. Saat ini jam tanganku menunjukkan pukul 6.30. Aku pun berpamitan pada Ayah dan Vina. Aku menuju sekolah menggunakan sepeda kesayanganku karena jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Sedangkan Vina diantar ayah menggunakan motor. Tiba disekolah, aku disambut para sahabat dengan ceria. Aku memiliki 3 orang sahabat yang cukup akrab. Sejak awal masuk SMP Harapan Bangsa kami sudah sekelas, mereka adalah Audi, Acha dan Ovie. Aku duduk sebangku dengan Acha, Ovie dan Audi dibarisan belakang kami.

Hey Fan, tumben dateng siang. Acha bertanya padaku. Iya nih, Biasanya kan kamu yang paling pagi nyampe. Ovie menimpali. Haha.. Iya tadi aku kesiangan, semalam begadang ngerjain tugas sama belajar untuk ulangan Biologi nanti. jelasku. Wah, rajin amat kamu Fan! Haha.. sahut Audi, dan kami pun tertawa bersama. Tak berapa lama kemudian bel pun berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Jam pertama hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ibu Tuti mulai menjelaskan bermacam jenis majas dan beberapa contohnya. Diakhir pelajaran, Bu Tuti menugaskan kami untuk membuat karangan dengan menggunakan majas-majas yang telah diajarkan. Dan tema dari karangan itu adalah tentang orang yang paling menginspirasi kita dan ingin kita temui. Saat istirahat, dikantin sekolah, aku bersama acha, audi dan ovie membahas mengenai tugas mengarang sambil menikmati sepiring somay favorit kami. Kalian mau bikin karangan tentang siapa nih? Ovie memulai pembicaraan. Uhm, aku masih bingun mau nulis tentang siapa. jawabku jujur. Aku kayaknya bakal bikin tentang presiden kita aja deh. kata Audi. Kalo aku pengen ketemu presiden Obama. Haha.. Sahut Acha sambil tertawa. Tanpa terasa bel tanda berakhirnya jam istirahat pun berbunyi. Kami berempat segera berlari kecil menuju kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya. Tetapi otak ku tak bisa berhenti memikirkan tugas mengarang yang kami bicarakan tadi. Tepat pukul 14.00 bel pulang pun berbunyi nyaring. Semua murid bersorak riang dan segera menghambur keluar kelas. Aku pun segera ke tempatku memarkir sepeda dan langsung meninggalkan sekolah untuk menjemput Vina. Ya, memang sudah menjadi tugasku untuk menjemput Vina karena ayah bekerja dikantor hingga pukul 17.00.

Jarak dari sekolahku menuju sekolah Vina cukup jauh. Cuaca yang terik dan panas menyengat membuatku mempercepat laju sepeda agar segera sampai. Sekolah Vina sudah mulai sepi. Siswa kelas 1 SD pulang pukul 11.00, tetapi para guru sudah mengerti tentang kondisi aku dan Vina. Aku baru bisa dating menjemput sekitar pukul 14.20 sepulang sekolah. Maka para guru pun bergantian menjaga Vina sampai aku dating. Kakaaakkk Vina langsung berlari kearahku. Hai sayang, udah lama nunggunya? aku tersenyum. Lumayan kak. Vina menjawab sambil tersenyum. Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada guru yang menjaga Vina, kami pun segera pulang. Disepanjang perjalanan Vina berceloteh riang menceritakan hal-hal yang terjadi selama disekolah. Setiba dirumah, aku segera memasukkan sepeda ke garasi dan menggandeng Vina masuk ke rumah. Lalu Vina langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Sementara Vina berganti pakaian, aku memasakkan telor mata sapi kesukaan Vina. Sebenarnya badanku sudah sangat lelah, tapi aku mencoba untuk tidak mengeluh dan terlihat lelah di depan Vina. Lagi pula ini memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang kakak yang juga harus menggantikan posisi ibu dirumah ini. Vin, makanannya dimeja ya. Kakak ganti baju dulu. Aku berkata dari luar kamar Vina. Iya kak. Sahut Vina dari dalam kamar. Aku pun segera menuju kamar untuk berganti pakaian. Setelah mengganti seragam dengan baju kaos dan celana pendek, aku membaringkan tubuh sejenak untuk melepas sedikit lelah. Ingin rasanya aku tidur untuk menghilangkan lelah yang menyerang, tapi aku tak tega membiarkan Vina sendiri. Akhirnya setelah berbaring sebentar, aku ssegera keluar dari kamar. Loh, kok belum di makan Vin? tanyaku melihat Vina belum menyentuh hidangan di meja. Vina ga suka ya sama lauknya/ tanyaku lagi.

Bukan kak. Vina mau makan bareng kakak, makanya Vina nungguin kakak dulu. Jawab Vina polos. Mendengar jawaban Vina aku tersenyum dan memeluknya. Kakak kira Vina ga suka lauknya. Yaudah yuk kita makan. Ucapku sambil mengambilkan nasi untuk Vina. Vina kembali bercerita kegiatan disekolahnya dengan lucu dan penuh ekspresi. Aku pun tersenyum-senyum melihat cara dia bercerita. Semua lelah dan rasa letih seperti hilang melihat wajah ceria adik kesayanganku ini. Kakak daritadi senyum terus. Ujar Vina dengan mata bulatnya yang memandangiku. Soalnya kakak senang dengerin Vina cerita. Jawabku kembali tersenyum. Kakak, Vina kangen sama Ibu. Tadi teman sekolah Vina semuanya dijemput sama Ibunya. Kenapa ibu kita ga pernah pulang kak? Vina juga pengen Ibu yang jemput Vina di sekolah. Tanya Vina dengan nada polos. Aku terdiam. Mataku mulai berkaca-kaca. Apa yang harus aku katakana pada Vina? Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Eh, habisin dulu makannya. Abis itu kita istirahat. Vina pasti capek dari sekolah tadi. Aku mengalihkan pembicaraan. Iya deh. Jawab Vina dan ia kembali menghabiskan nasi dipiringnya. Pertanyaan Vina menghilangkan nafsu makanku. Pikiranku terbang entah kemana. Hanya menatap piring didepanku yang masih berisi separuh. Kak, Vina udah nih. Kata Vina membuyarkan lamunanku. Oh, udah ya. Yaudah Vina istirahat dikamar ya, kakak beresin ini dulu. Ucapku sedikit terbata karena kaget. Pukul 17.30 ayah tiba dirumah. Aku dan Vina menyambutnya dengan senang. Setelah ayah mandi dan berganti pakaian, kami pun makan malam bersama. Suasana hangat sangat terasa disaat berkumpul seperti ini.

Setelah makan dan mengobrol, aku menemani Vina belajar dan mengerjakan PR. Hingga waktu menunjukkan pukul 20.15, mata Vina mulai mengantuk. Aku pun berbaring bersamanya ditempat tidur kecilnya. Kak, Ibu kapan pulang kesini sama kita lagi? Vina kembali bertanya. Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban yang cocok untuk Vina. Coba Vina liat bulan itu tuh. Kataku sambil menunjuk kearah bulan yang malam ini bersinar sangat indah. Bulannya bagus ya kak. Mata Vina langsung membulat melihat bulan yang terang. Iya, bulannya bagus. Ibu sekarang lagi ngeliat kita dari atas sana. Karena ibu sayang sama Vina, jadi ibu mau ambilin bulan yang bagus itu buat Vina. Vina mau ga? aku bertanya. Wah, mau banget kak. Jawab Vina dengan semangat. Kalo mau, Vina harus sabar nunggunya, karena bulan itu letaknya jauuhh banget dari sini. Makanya Ibu lama belum bisa pulang. Aku menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. Ohh.. pantesan ibu lama ya kak. Tapi Vina mau kok sabar nunggu ibu pulang. Ujar Vina polos. Gitu dong. Sekarang kita nyanyi aja yuk. Vina tau kan lagu Ambilkan Bulan Bu? Tau kak, Vina pernah diajarin disekolah. Ayo kita nyanyi kak, biar ibu bisa cepat ambilin bulannya buat Vina. Vina berkata dengan antusias. Aku hanya bisa tersenyum dan terharu melihat wajah Vina. Lalu kami bernyanyi bersama sambil menatap bulan yang bersinar terang. Dalam hati aku pun sudah mendapat ide untuk tugas mengarangku. Aku akan menulis tentang Ibu, dialah orang yang paling menginspirasiku. Semoga suatu hari nanti Vina bisa mengerti jawaban yang sebenarnya dari pertanyaannya tadi. Dan semoga Ibu bahagia disana.