Anda di halaman 1dari 66

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang Pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk membantu

menegakkan diagnosis penyakit. Agar hasil pemeriksaan laboratorium akurat dan dapat dipercaya harus dilakukan pengendalian terhadap pra analitik, analitik, dan pasca Tahap pra analitik: persiapan pasien, pengambilan sampel darah, persiapan sampel, penyimpanan sampel, persiapan kertas kerja, tahap analitik: persiapan alat, kalibrasi alat, pengolahan sampel, interpretasi hasil, tahap pasca analitik: pencatatan hasil dan pelaporan. Pemeriksaan kolesterol dan pemeriksaan Kreatin kinase adalah merupakan salah satu pemeriksaan untuk menegakkan diagnose penyakit jantung, diabetes mellitus (DM), adanya penyumbatan arteri (arteriosklerosis), penyumbatan pada pembuluh darah otak (strok) hipertensi. Kreatin kinase (CK) atau juga dikenal dengan nama kreatin fosfokinase (CPK) merupakan enzim yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada otot jantung dan otot rangka, dan dalam konsentrasi rendah pada jaringan otak. Pemakaian utama CK untuk kepentingan klinis adalah untuk mendeteksi infark miokardium akut (IMA). Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan CK (kreatinin Kinase) dan kolesterol dalam sampel serum sebagai pemeriksaan penunjang untuk

mengetahui fungsi jantung dalam hal ini untuk menegakkan diagnosis penyakit jantung. I. 2. Maksud dan Tujuan Percobaan I. 2. 1. Maksud Percobaan Untuk mengetahui dan memahami cara pemeriksaan kreatin kinase dan kolesterol dalam sampel serum secara fotometri I. 2. 2. Tujuan Percobaan a. Mengidentifikasi adanya kelainan fungsi jantung dengan pemeriksaan kreatin kinase (CK) pada sampel serum secara fotometri. b. Mengidentifikasi adanya kelainan fungsi jantung dengan pemeriksaan kolesterol pada sampel serum secara fotometri. I. 3. Prinsip Percobaan a. Pemeriksaan CK Mengidentifikasi adanya kelainan fungsi jantung dengan pemeriksaan kreatin kinase (CK) dimana kreatin fosfat akan berikatan dengan ADP dengan bantuan enzim CK sehingga menghasilkan kreatin dan ATP. Glukosa akan berikatan dengan ATP dengan bantuan enzim HK menghasilkan glukosa-6-fosfat ditambah dengan ADP. Selanjutnya glukosa-6-p akan berikatan dengan NADP dengan bantuan G6p-DH menghasilkan glukonat-6p ditambah dengan NADPH dan H+.

b. Pemeriksaan kolesterol Mengidentifikasi adanya kelainan fungsi jantung dengan pemeriksaan kolesterol dimana kolesterol ester akan berikatan dengan H 2O dengan bantuan CHE menghasilkan kolesterol dan asam lemak. Kolesterol akan berikatan dengan O2 dengan bantuan CHO menghasilkan kolesten-3-one ditambah peroksidase. H2O2 akan berikatan dengan 4-aminophenazone dan phenol dengan bantuan POD menghasilkan quinonemine dan air.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Teori Umum A. Anatomi Jantung Manusia Sistem kardiovaskuler merupakan sistem yang memberi fasilitas proses pengangkutan berbagai substansi dari, dan ke sel-sel tubuh. Sistem ini terdiri dari organ penggerak yang disebut jantung, dan sistem saluran yang terdiri dari arteri yang mergalirkan darah dari jantung, dan vena yang mengalirkan darah menuju jantung (1). Jantung manusia merupakan jantung berongga yang memiliki 2 atrium dan 2 ventrikel. Jantung merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai bagian tubuh. Jantung manusia berbentuk seperti kerucut dan berukuran sebesar kepalan tangan, terletak di rongga dada sebalah kiri. Jantung dibungkus oleh suatu selaput yang disebut perikardium. Jantung bertanggung jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya. Untuk mejamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodic (1). Otot jantung berkontraksi terus menerus tanpa mengalami kelelahan. Kontraksi jantung manusia merupakan kontraksi miogenik, yaitu kontaksi yang diawali kekuatan rangsang dari otot jantung itu sendiri dan bukan dari syaraf (1).

Terdapat beberapa bagian jantung (secara anatomis) akan kita bahas dalam makalah ini, diantaranya yaitu : a. Bentuk Serta Ukuran Jantung Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Jantung dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung panjangnya kirakira 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah (1).

Gambar 1. Anatomi Jantung

Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Pada tepi kanan cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars cartilaginis costa II sinistra di tepi lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di kiri linea medioclavicularis (1). Selaput yang membungkus jantung disebut perikardium dimana terdiri antara lapisan fibrosa dan serosa, dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak ada gesekan antara perikardium dan epikardium. Epikardium adalah lapisan paling luar dari jantung, lapisan berikutnya adalah lapisan miokardium dimana lapisan ini adalah lapisan yang paling tebal. Lapisan terakhir adalah lapisan endokardium (1). b. Ruang Dalam Jantung Ada 4 ruangan dalam jantung dimana dua dari ruang itu disebut atrium dan sisanya adalah ventrikel. Pada orang awam, atrium dikenal dengan serambi dan ventrikel dikenal dengan bilik.

Gambar 2. Ruang dalam Jantung

Kedua atrium merupakan ruang dengan dinding otot yang tipis karena rendahnya tekanan yang ditimbulkan oleh atrium. Sebaliknya ventrikel mempunyai dinding otot yang tebal terutama ventrikel kiri yang mempunyai lapisan tiga kali lebih tebal dari ventrikel kanan. Kedua atrium dipisahkan oleh sekat antar atrium (septum interatriorum), sementara kedua ventrikel dipisahkan oleh sekat antar ventrikel (septum inter-ventrikulorum). Atrium dan ventrikel pada masing-masing sisi jantung berhubungan satu sama lain melalui suatu penghubung yang disebut orifisium atrioventrikuler. Orifisium ini dapat terbuka atau tertutup oleh suatu katup atrioventrikuler (katup AV). Katup AV sebelah kiri disebut katup bikuspid (katup mitral) sedangkan katup AV sebelah kanan disebut katup tricuspid (1).

c. Katup-Katup Jantung Diantara atrium kanan dan ventrikel kanan ada katup yang memisahkan keduanya yaitu katup trikuspid, sedangkan pada atrium kiri dan ventrikel kiri juga mempunyai katup yang disebut dengan katup mitral/ bicuspid (1).

Gambar 3. Katup Jantung

Kedua katup ini berfungsi sebagai pembatas yang dapat terbuka dan tertutup pada saat darah masuk dari atrium ke ventrikel. 1) Katup Trikuspid

Gambar 4. Katup Trikuspid

Katup trikuspid berada diantara atrium kanan dan ventrikel kanan. Bila katup ini terbuka, maka darah akan mengalir dari atrium kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid berfungsi mencegah kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup pada saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid terdiri dari 3 daun katup. 2) Katup pulmonal

Gambar 5. Katup Pulmonal

Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan mengalir dari dalam ventrikel kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang akan berhubungan dengan jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal trunkus pulmonalis terdapat katup pulmonalis yang terdiri dari 3 daun katup yang terbuka bila ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila ventrikel kanan relaksasi, sehingga

memungkinkan darah mengalir dari ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis (1).

3) Katup bikuspid

Gambar 6. Katup bikiuspid

Katup bikuspid atau katup mitral mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri.. Seperti katup trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel. Katup bikuspid terdiri dari dua daun katup. 4) Katup Aorta

Gambar 7. Katub Aorta

Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang terdapat pada pangkal aorta. Katup ini akan membuka pada saat ventrikel kiri berkontraksi sehingga darah akan mengalir keseluruh tubuh. Sebaliknya katup akan menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi, sehingga mencegah darah masuk kembali kedalam ventrikel kiri (1). d. Komponen Sistem Induksi Jantung 1). Sinoatrial

2). Atrioventrikular 3). RA, LA, RV, LV e. Peace Meker ( Pusat Picu Jantung ) Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh dimana pada saat memompa jantung otot-otot jantung (miokardium) yang bergerak. Untuk fungsi tersebut, otot jantung mempunyai kemampuan untuk menimbulkan rangsangan listrik. Aktifitas kontraksi jantung untuk memompa darah keseluruh tubuh selalu didahului oleh aktifitas listrik. Aktifitas listrik ini dimulai pada nodus sinoatrial (nodus SA) yang terletak pada celah antara vena cava suiperior dan atrium kanan. Pada nodus SA mengawali gelombang depolarisasi secara spontan sehingga menyebabkan timbulnya potensial aksi yang disebarkan melalui sel-sel otot atrium, nodus

atrioventrikuler (nodus AV), berkas His, serabut Purkinje dan akhirnya ke seluruh otot ventrikel (1).

Gambar 8. Pusat Picu Jantung

f. Struktur Anatomi Jantung

Gambar 9. Struktur Anatomi Jantung

Ket :

9. Right Atrium 1. Right Coronary 2. Left Anterior Descending 3. Left Circumflex 4. Superior Vena Cava 5. Inferior Vena Cava 6. Aorta 7. Pulmonary Artery 8. Pulmonary Vein 10. Right Ventricle 11. Left Atrium 12. Left Ventricle 13. Papillary Muscles 14. Chordae Tendineae 15. Tricuspid Valve 16. Mitral Valve 17. Pulmonary Valve Aortic Valve (Not pictured)

1. Arteri Koroner Karena Jantung adalah terutama terdiri dari jaringan otot jantung yang terus menerus kontrak dan rileks, ia harus memiliki pasokan oksigen yang konstan dan nutrisi. Arteri koroner adalah jaringan pembuluh darah yang membawa oksigen dan darah kaya nutrisi ke jaringan otot jantung (1). Darah meninggalkan ventrikel kiri keluar melalui aorta, yang arteri utama tubuh. Dua arteri koroner, disebut sebagai Kiri dan kanan arteri koroner, muncul dari awalaorta, di dekat bagian atas jantung (1). Segmen awal dari arteri koroner kiri disebut koroner utama kiri. Ini pembuluh darah adalah sekitar lebar dari jerami soda dan kurang dari satu inci panjang. Ini cabang-cabang menjadi dua arteri sedikit lebih kecil: anterior kiri turun arteri koroner dan arteri koroner kiri sirkumfleksa. Anterior kiri arteri koroner menurun tertanam di permukaan sisi depan jantung. Kiri lingkaran arteri koroner sirkumfleksa sekitar sisi kiri jantung dan tertanam di permukaan bagian belakang jantung (1). Sama seperti cabang pohon, cabang arteri koroner ke dalam kapal semakin kecil. Kapal yang lebih besar perjalanan sepanjang permukaan hati, namun cabang-cabang yang lebih kecil menembus otot jantung. Cabang terkecil, kapiler disebut, sangat sempit bahwa sel darah merah harus perjalanan dalam file tunggal. Dalam kapiler, sel-sel darah merah menyediakan oksigen dan nutrisi ke jaringan otot jantung dan ikatan dengan

karbon dioksida dan produk sampah metabolik, membawa mereka pergi dari hati untuk pembuangan melalui paru-paru, ginjal dan hati (1). Ketika plak kolesterol berakumulasi sampai titik memblokir aliran darah melalui arteri koroner, otot jantung jaringan diberi makan oleh arteri koroner melewati titik penyumbatan adalah kekurangan oksigen dan nutrisi. Daerah ini jaringan otot jantung berhenti berfungsi dengan baik. Kondisi ketika arteri koroner menjadi tersumbat menyebabkan kerusakan pada otot jantung melayani jaringan disebut infark miokard atau serangan jantung (1). 2. Superior Vena Cava Vena kava superior adalah salah satu dari dua pembuluh darah utama yang membawa darah de-oksigen dari tubuh ke jantung. Vena dari kepala dan tubuh bagian atas umpan ke v. kava superior, yang bermuara di atrium kanan jantung (1). 3. Inferior Vena Cava Vena kava inferior adalah salah satu dari dua pembuluh darah utama yang membawa darah de-oksigen dari tubuh ke jantung. Vena dari kaki dan umpan dada rendah ke v. kava inferior, yang bermuara di atrium kanan jantung (1). 4. Aorta Aorta adalah pembuluh darah tunggal terbesar di tubuh. Ini adalah kira-kira diameter ibu jari Anda. kapal ini membawa darah yang kaya oksigen dari ventrikel kiri ke berbagai bagian tubuh (1).

5. Pulmonary Artery Arteri paru adalah pembuluh darah transportasi de-oksigen dari ventrikel kanan ke paru-paru. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa semua arteri membawa darah yang kaya oksigen. Hal ini lebih tepat untuk mengklasifikasikan sebagai pembuluh arteri yang membawa darah dari jantung (1). 6. Pulmonary Vein Vena paru adalah pembuluh darah mengangkut oksigen yang kaya dari paru ke atrium kiri. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa semua urat membawa darah de-oksigen. Hal ini lebih tepat untuk mengklasifikasikan sebagai pembuluh vena yang membawa darah ke jantung (1). 7. Atrium Kanan Atrium kanan menerima darah de-oksigen dari tubuh melalui vena kava superior (kepala dan tubuh bagian atas) dan inferior vena kava (kaki dan dada lebih rendah). Simpul sinoatrial mengirimkan impuls yang menyebabkan jaringan otot jantung dari atrium berkontraksi dengan cara yang terkoordinasi seperti gelombang. Katup trikuspid yang memisahkan atrium kanan dari ventrikel kanan, akan terbuka untuk membiarkan darah deoksigen dikumpulkan di atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan (1). 8. Ventrikel Kanan Ventrikel kanan menerima darah de-oksigen sebagai kontrak atrium kanan. Katup paru menuju ke arteri paru tertutup, memungkinkan untuk

mengisi ventrikel dengan darah. Setelah ventrikel penuh, mereka kontrak. Sebagai kontrak ventrikel kanan, menutup katup trikuspid dan katup paru terbuka. Penutupan katup trikuspid mencegah darah dari dukungan ke atrium kanan dan pembukaan katup paru memungkinkan darah mengalir ke arteri pulmonalis menuju paru-paru (1). 9. Atrium Kiri Atrium kiri menerima darah beroksigen dari paru-paru melalui vena paru-paru. Sebagai kontraksi dipicu oleh node sinoatrial kemajuan melalui atrium, darah melewati katup mitral ke ventrikel kiri (1). 10. Ventrikel Kiri Ventrikel kiri menerima darah yang mengandung oksigen sebagai kontrak atrium kiri. Darah melewati katup mitral ke ventrikel kiri. Katup aorta menuju aorta tertutup, memungkinkan untuk mengisi ventrikel dengan darah. Setelah ventrikel penuh, mereka kontrak. Sebagai kontrak ventrikel kiri, menutup katup mitral dan katup aorta terbuka. Penutupan katup mitral mencegah darah dari dukungan ke atrium kiri dan pembukaan katup aorta memungkinkan darah mengalir ke aorta dan mengalir ke seluruh tubuh (1). 11. Otot Papiler Otot-otot papiler melampirkan ke bagian bawah dinding bagian dalam ventrikel. Mereka menyambung ke korda tendinea, yang melekat pada katup trikuspid dalam ventrikel kanan dan katup mitral di ventrikel kiri. Kontraksi

otot-otot papiler membuka katup-katup ini. Ketika otot papiler santai, katupkatup dekat (1). 12. Korda tendinea The korda tendinea adalah tendon yang menghubungkan otot papiler ke katup trikuspid dalam ventrikel kanan dan katup mitral di ventrikel kiri. Sebagai kontrak otot papilaris dan rileks, korda tendinea mengirimkan Kenaikan dan penurunan tegangan ke masing-masing katup, menyebabkan mereka untuk membuka dan menutup. The korda tendinea adalah string seperti dalam penampilan dan kadang-kadang disebut sebagai jantung string. (1). 13. Katup trikuspid Katup trikuspid yang memisahkan atrium kanan dari ventrikel kanan. Ini membuka untuk memungkinkan darah de-oksigen dikumpulkan di atrium kanan mengalir ke ventrikel kanan. Ini menutup sebagai kontrak ventrikel kanan, mencegah darah dari kembali ke atrium kanan; demikian,

memaksanya untuk keluar melalui katup paru ke arteri paru-paru (1). 14. Mitral Valve Katup mitral memisahkan atrium kiri dari ventrikel kiri. Ini membuka untuk memungkinkan darah beroksigen dikumpulkan di atrium kiri mengalir ke ventrikel kiri. Ini menutup sebagai kontrak ventrikel kiri, mencegah darah dari kembali ke atrium kiri; demikian, memaksanya untuk keluar melalui katup aorta ke dalam aorta (1).

15. Pulmonary Valve Katup paru memisahkan ventrikel kanan dari arteri paru-paru. Sebagai kontrak ventrikel, ini akan membuka untuk membiarkan darah de-oksigen dikumpulkan di ventrikel kanan mengalir ke paru-paru. Ini menutup sebagai ventrikel santai, mencegah darah kembali ke jantung (1). 16. Katu aorta Katup aorta memisahkan ventrikel kiri dari aorta. Sebagai kontrak ventrikel, ini akan membuka untuk membiarkan darah beroksigen

dikumpulkan di ventrikel kiri mengalir ke seluruh tubuh. Ini menutup sebagai ventrikel santai, mencegah darah kembali ke jantung (1). g. Kelainan Fungsi Jantung Salah satu penyakit akibat kelainan fungsi jantung yaitu gagal jantung. Gagal jantung merupakan sindroma klinis kompleks yang disebabkan gangguan struktur dan fungsi jantung sehingga mempengaruhi kemampuan jantung untuk memompakan darah sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kondisi ini ditandai dengan gangguan hemodinamik berupa penurunan curah jantung dan peningkatan tekanan pengisian ventrikel. Gagal jantung sekarang ini dibagi menjadi Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung memompa sehingga curah jantung menurun (LVEF < 50%) dan Gagal jantung diastolik adalah penurunan distensibilitas ventrikel kiri yang disebabkan oleh proses menua hipertensi, kardiomeopati hipertropik serta restriktif (LVEF masih normal / sedikit menurun 50%) (2).

Penyebab tersering terjadinya gagal jantung adalah gangguan atau kerusakan fungsi miokard ventrikel kiri disamping adanya penyakit pada pericardium, miokardium, endokardium ataupun pembuluh darah besar. Penurunan fungsi ventrikel kiri mengakibatkan terjadinya penurunan curah jantung yang selanjutnya menyebabkan teraktivasinya mekanisme

kompensasi neurohormonal yang bertujuan mengembalikan kinerja jantung dalam memenuhi kebutuhan jaringan. Aktivasi sistem simpatis menimbulkan peningkatan denyut jantung dan vasokontriksi perifer sehingga curah jantung dapat meningkat kembali. Aktivasi Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS) menyebabkan vasokontriksi (angiotensin) dan peningkatan volume darah melalui retensi air dan natrium (aldosteron). Mekanisme kompensasi yang terus berlangsung ini akan menyebabkan stress pada miokardium sehingga menyebabkan terjadinya remodeling yang progresif, dan pada akhirnya dengan mekanisme kompensasipun jantung tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan jaringan (dekompensasi) (2). Sebagai kompensasi dari berkurangnya kekuatan pompa jantung, ventrikel akan membesar untuk meningkatkan regangan dan kontraksi sehingga dapat memompa darah lebih banyak. Akibatnya, otot jantung akan menebal untuk membantu meningkatkan kekuatan pompa. Hal tersebut membutuhkan semakin banyak suplai darah dan arteri koronaria yang menyebabkan jantung juga akan berdenyut lebih cepat untuk memompa lebih sering lagi. Pada keadaan ini, kadar hormon yang menstimulasi jantung akan

meningkat. Manifestasi klinis yang timbul menunjukkan adanya tanda-tanda kegagalan jantung kongestif yaitu dispnu dan fatiq yang dapat menghambat toleransi latihan dan retensi cairan yang dapat menimbulkan kongesti paru dan edema perifer. Kedua abnormalitas tersebut akan mengurangi kapasitas fungsional dan kualitas hidup (2). B. Pemeriksaan Kreatin Kinase Kreatin kinase (CK) atau juga dikenal dengan nama kreatin fosfokinase (CPK) merupakan enzim yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada otot jantung dan otot rangka, dan dalam konsentrasi rendah pada jaringan otak (3). CK adalah suatu molekul dimerik yang terdiri dari sepasang monomer berbeda yang disebut M (berkaitan dengan otot), dan B (berkaitan dengan otak), sehingga terdapat tiga isoenzim yang dapat terbentuk : CK1 (BB), CK2 (MB), dan CK3 (MM). Isoenaim-isoenzim tersebut dibedakan dengan proses elektroforesis, kromatografi pertukaran ion, dan presipitasi imunokimia. Distribusi isoenzim CK relatif spesifik jaringan. Sumber jaringan utama CK adalah otak dan otot polos (BB), otot jantung (MB dan MM), dan otot rangka (MM; otot rangka normal juga memiliki sejumlah kecul MB, kurang dari 1%). Pemakaian utama CK untuk kepentingan klinis adalah untuk mendeteksi infark miokardium akut (MCI). Distribusi CK dalam miokardium adalah sekitar 80% MM dan 20 % MB, sedangkan isoenzim di otot rangka hampir seluruhnya adalah MM. Dengan demikian kemunculan mendadak

CK-MB dalam serum mengisyaratkan asal dari miokardium, terutama pada situasi klinis yang pasiennya mengalami nyeri dada dan perubahan elektrokardiogram. CK dan CK-MB serum meningkat dalam 4 6 jam setelah MCI akut, mencapai puncaknya dalam 18 24 jam (> 6 kali kadar normalnya) dan kembali normal dalam 3 4 hari, kecuali jika terjadi perluasan infark atau reinfark (3). Sensitivitas CK-MB sangat baik (hampir 100%) dengan spesifisitas agak rendah. Peningkatan CK-MB isoenzim dapat menandakan terjadinya kerusakan otot jantung. CK-MB juga dapat meninggi pada kasus-kasus

bukan MCI atau non-coronary obstructive myocardial necrosis, seperti peradangan, trauma, degenerasi (3). Untuk meningkatkan ketelitian penentuan diagnosis MCI dapat digunakan rasio antara CK-MB dengan CK total. Apabila kadar CK-MB dalm serum melebihi 6 10 % dari CK total, dan tes-tes tersebut diperiksa selama 36 jam pertama setelah onset penyakit, maka diagnosis MCI dapat dianggap hampir pasti (3). 1. Metabolisme Kreatin Kreatinin kinase adalah suatu enzim yang dilepaskan saat terjadi cederaotot dan memliki tiga fraksi isoenzim: CK-MM, CK-BB, dan CK-MB. CK-BB paling banyak terdapat dalam jaringan otak dan biasanya tidak terdapat dalam serum. CK-MM dijumpai dalam otot skelet dan merupakan CK yang paling banyak terdapat dalam sirkulasi cedera otot (misalnya jatuh,

suntikan intramuscular, atau penyakit tertentu seperti distrofia otot) menyebabkan peningkatan CK dan CK-MM. CK-MB paling banyak terdapat dalam miokardium; namun juga terdapat dlam jumlah yang sedikit di otot skelet. Peningkatan dan penururnan CK dan CK-MB merupakan penanda cedera otot yang paling spesifik seperti pada infark miokardium (4). Setelah infark miokardium akut, CK dan CK-MB meningkat dalam waktu 4 hingga 6 jamdengan kadar puncak dalam 8 hingga 24 jam, dan kembali menurun hingga normal setelah 2 hingga 3 hari. CK-MB juga terdapat pada otot skelet sehingga penegakan diagnosis cedera miokardium didasarkan pada pola peningkatan dan penurunan (4). Kreatinin adalah hasil akhir dari pembentukan kreatinin saat energy dilepaskan dari fosfokreatin, penyimpanan energi selama metabolisme otot rangka. Rata-rata pembentukkan kreatinin berbanding langsung dengan total massa otot. Kreatinin dibersihkan dari aliran darah oleh ginjal dan diekskresi di urin sebanding dengan pembentukannya. Ekskresi kreatinin dikarenakan juga oleh refleks total massa otot. Pada atropi otot rangka karena malnutrisi dapat menurunkan ekskresi kreatinin. Pengukuran kreatinin urin dengan pengumpulan urin 24 jam. Standar ekskresi kreatinin dipengaruhi oleh jenis kelamin dan TB (4). Standar ekskresi kreatinin ini digunakan dengan pengukuran kreatinin untuk menentukan Creatinin Height Index (CHI) dalam persen.Contoh: CHI =

70 % artinya massa otot rangka klien kira-kira 70 %diharapkan pada orang dengan ukuran tubuh yang sama . Kreatin fosfat adalah simpanan energi pertama yang digunakan pada awalaktivitas kontraktil. Seperti ATP, kratin fosfat mengandung sebuah gugus fosfat berenergi tinggi, yang dapat diberikan secara langsung ke ADP untuk membentuk ATP. Seperti terjadinya pelepasan energi sewaktu ikatan fosfat terminal di ATP diputuskan, energi juga dibebaskan ketika ikatan fosfat dan kreatin diputuskan. Energi yang dibebaskan dari hidrolisis kreatin fosfat,bersama dengan fosfatnya, dapat diberikan secara langsung ke ADP untuk membentuk ATP. Reaksi ini, yang dikatalisis oleh enzim sel otot keratin kinase bersifat reversibel; energi dan fosfat dari ATP dapat dipindahkan ke kreatin untuk membentuk kreatin fosfat (4). Ketika cadangan energi bertambah pada otot yang beristirahat, peningkatan konsentrasi ATP cenderung menyebabkan pemindahan gugus fosfat berenergi tinggi ke kreatin fosfat, sesuai dengan hukum aksi massa. Dengan demikian, sebagian besar energi di dalam otot tersimpan dalambentuk kreatin fosfat (4). Meskipun jalur metabolisme kreatin tampak sederhana, tetapi sebenarnya pada sebagian besar jaringan mengalami kekurangan enzim yang diperlukan, sehingga mengharuskan pengangkutan antar jaringan melalui darah untuk memungkinkan seluruh kaskade reaksi untuk

melanjutkan. Pada mamalia,misalnya, siklus urea lengkap beroperasi aktif

hanya dalam hati. Tempat utama biosintesis Arg untuk jaringan tubuh lainnya, di ginjal. Citrulline,disintesis dalam hati atau usus kecil dan diangkut melalui darah, diambil olehginjal dan dikonversi menjadi Arg terutama oleh tubulus nefronproksimal. Arg terbentuk di dalam ginjal lalu dilepaskan ke dalam darah danjuga dikonsumsi oleh jaringan lain atau digunakan di dalam ginjal itu sendiriuntuk sintesis guanidinoacetate (4).

Gambar 10. Metabolisme kreatin

Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin. Kreatin sebagian besar ditemukan di otot rangka, tempat zat ini terlibat dalam penyimpanan

energi sebagai kreatin fosfat. Dalam sintesis ATP dari ADP, kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalasi enzim kreatin kinase. Reaksi ini berlanjut seiring dengan pemakaian energi sehingga dihasilkan kreatin fosfat. Dalam prosesnya, sejumlah kecil kreatin diubah secara ireversibel menjadi kreatinin, yang dikeluarkan dari sirkulasi oleh ginjal. Jumlah kreatinin yang dihasilkan setara dengan massa otot rangka yang dimilikinya (4). 2. Sintesis Kreatin Kreatinin dibentuk di otot dari kreatin fosfat melalui dehidrasinon enzimatik irreversible dan pengeluaran fosfat . Sintesis kreatin dalam tubuh diawali dengan pembentukan guanidinoasetat di tubulus proksimal ginjal dari arginin dan glisin, dengan bantuan enzim L-arginin:glisin amidinotransferase (AGAT) Selanjutnya di hati,guanidinoasetat akan menjalani proses berikutnya menjadi kreatin dengan penambahan satu gugus metil dari S-adenosil-Lmetionin yang dikatalisis olehenzim S-adenosil-L-metionin:N-guanidinoasetat metil transferase(GAMT). Kreatin yang telah terbentuk kemudian masuk ke sirkulasi danjaringan yang memerlukannya dengan bantuan creatine transporter (pengangkut kreatin) (4). Di jaringan, sebagian kreatin akan mengalamidegradasi menjadi kreatinin dan kemudian diekskresikan melalui ginjal.Sebagai perkiraan, orang dengan berat badan 70 kg akan memiliki 120 gram kreatin (bentuk bebas dan bentuk fosfat), dan 2 gram/haridari kreatin tersebut diubah menjadi kreatinin. Degradasi sebanyak 2gram/hari ini harus digantikan melalui makanan sehari-hari.

Sebagian besar (90%) kreatin dalam tubuh disimpan di otot, 40% di antaranya dalambentuk kreatin bebas dan 60% dalam bentuk kreatin fosfat. Apabila ototberkontraksi dimana diperlukan energi yang siap pakai dalam waktucepat, kreatin fosfat akan mengalami defosforilasimenjadi kreatin dan fosfat berenergi tinggi untuk menghasilkan ATP.Sebagian kreatin akan mengalami refosforilasi kembali menjadikreatin fosfat dan sebagian lagi akan mengalami degradasi menjadi kreatinin (4). 3. Spesimen Spesimen yang digunakan untuk uji CK dan CK-MB adalah serum atau plasma heparin dari darah vena. Pengambilan darah untuk uji CK dan CK-MB sebaiknya dilakukan sebelum dilakukan injeksi intra muscular (IM). Sampel serum atau plasma harus bebas dari hemolisis (untuk mencegah pencemaran oleh adenilat kinase) dan disimpan dalam keadaan beku apabila tidak langsung diperiksa. Serum atau plasma dapat digunakan untuk imunoassay CK-MB; antigen stabil pada suhu kamar selama beberap jam sampai beberapa hari, walaupun anlisis harus segera dilakukan untuk menghasilkan informasi yang signifikan secara klinis (3). 4. Nilai Rujukan DEWASA a. Pria : 5 35 g/ml, 30 180 IU/l, 55 170 U/l pada suhu 37oC (satuan SI)

b. Wanita : 5 25 g/ml, 25 150 IU/l, 30 135 U/l pada suhu 37oC (satuan SI) ANAK a. Neonatus : 65 580 IU/l pada suhu 30oC, b. Anak laki-laki : 0 70 IU/l pada suhu 30oC, c. Anak perempuan : 0 50 IU/l pada suhu 30oC (3). 5. Masalah Klinis Keadaan yang mempengaruhi peningkatan kadar kreatin kinase : a. Peningkatan Besar (Lebih dari 5 kali Normal) : Distrofi otot Duchenne, polimiositis, dermatomiositis, infark miokardium akut (MCI akut) b. Peningkatan Ringan Sedang (2-4 kali Normal) : Infark miokardium akut (MCI akut), cedera iskemik berat; olah raga berat, taruma, cedera serebrovaskuler (CVA), tindakan bedah; delirium tremens, miopatik alkoholik; infark paru; edema paru (beberapa pasien); hipotiroidisme; psikosis agitatif akut. Pengaruh obat : Injeksi IM, deksametason (Decadron), furosemid (lasix), aspirin (dosis tinggi), ampisilin, karbenisilin, klofibrat (3). c. CK isoenzim : 1. CK-MM : Distrofi muskular, delirium tremens, cedera/trauma remuk, status bedah dan pasca bedah, aktifitas berat, injeksi IM, hipokalemia, hemofilia, hipotiroidisme.

2. CK-MB : MCI akut, angina pektoris berat, bedah jantung, iskemia jantung, miokarditis, hipokalemia, defibrilasi jantung. 3. CK-BB : CVA, perdarahan subaraknoid, kanker pada otak, cedera otak akut, sindrom Reye, embolisme dan infark paru, kejang (3). Faktor yang Mempengaruhi Temuan Laboratorium a. Injeksi IM dapat menyebabkan peningkatan kadar CK/CPK total. b. Hemolisis pada sampel c. Atifitas berat dapat menyebabkan peningkatan kadar. d. Trauma dan tindakan bedah dapat meningkatkan kadar (3). C. Pemeriksaan Kolesterol Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris: waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon (5). Kolesterol merupakan unsur makanan yang banyak dijumpai dalam bahan makanan sehari-hari yang berasal dari tumbuhan maupun dari produk hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan khususnya yang berasal dari produk hewan bervariasi tergantung jenis dan macam produk hewan. Kandungan kadar kolesterol pada setiap bagian tubuh hewan berbeda, ada bagian yang sangat banyak mengandung kolesterol dan

bagian lain sebaliknya. Sebagai contoh pada otak, hati dan kuning telur memiliki kadar kolesterol yang sangat tinggi. Kolesterol secara fisiologi penting bagi tubuh, karena merupakan bahan untuk membangun membran sel dan hormon-hormon yang memiliki peranan vital khususnya kelompok hormon steroid (5). Tubuh manusia dan hewan yang normal akan berusaha memelihara konsentrasi plasma kolesterol dengan cara mengatur sintesis dan ekskresi kolesterol. Kolesterol yang melebihi kebutuhan tubuh akan dieliminir melalui empedu, tetapi walapun begitu jika pasok kolesterol dari makanan berlebih yang akhirnya melebihi kebutuhan tubuh, maka akan berakibat kurang baik bagi tubuh dan dapat menimbulkan berbagai gangguan fisiologi seeperti artheroskerosis yang manifestasinya dapat menjadi penyakit jantung koroner atau stroke. Kolesterol merupakan substansi lemah, oleh karena itu kolesterol tidak larut dalam air, dapat diekstraksi dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena, dan alkohol panas (5). Kolesterol merupakan sterol yang paling banyak terdapat dalam badan manusia, terutama pada otak, jaringan syaraf, cairan empedu dan darah. Senyawa ini merupakan penyusun utama batu empedu. Kolestrol banyak dijumpai pada lemak binatang, tetapi tidak pernah ditemukan pada lemak tumbuhan. Tumbuhan mempunyai sterol yang disebut fitosterol (5). Kolesterol merupakan senyawa yang memiliki inti empat cincin siklopentano fenantren. Termasuk lemak dengan daya larut yang sangat

kecil dalam air. Kadarnya dalam plasma darah 150-200mg/ml, sekitar 2x kadar glukosa darah. Dalam plasma darah 30% berikatan dengan lipoprotein yang mampu menambah daya larutnya dalam darah. Sebanyak 70% lagi kolesterol darah berada berupa kolesterol ester. Kolesterol juga banyak terdapat dalam empedu, dengan kadar 390mg/100ml (5). Kolesterol tidak larut dalam air tetapi dapat diekstraksi dari jaringan dengan kloroform, eter, benzena dan alkohol panas. Kolesterol termasuk senyawa steroida dengan rumus C27H45OH. Kebanyakan kolesterol diet ada dalam bentuk teresterkan.

Esterkolesterol yang ada ditemukan oleh empedu lalu dihidrolisis oleh esterase kolesterol pankreas (5).

Ester kolesterol + H2O

kolesterol + asam lemak

Secara umum kolesterol merupakan derivate lemak yang banyak dijumpai dalam bahan makanan khususnya yang berasal dari hewan. Kadar kolesterol dalam setiap jenis bahan makanan cukup bervariasi tergantung pada jenis dan macam produknya, bahkan kandungan kolesterol pada setiap bagian/organ tubuh hewan pun berbeda- beda. Secara fisiologi kolesterol penting bagi tubuh, karena merupakan bahan penyusun membran sel, sintesis garam empedu dan prasat (precursor) hormon khususnya kelompok hormon steroid. Namun demikian, kelebihan kolesterol dapat menyebabkan

timbulnya

berbagai

gangguan

kesehatan,

salah

satunya

adalah

atherosclerosis yaitu timbunan kolesterol pada pembuluh darah khususnya pada tunica media arteri. Atherosklerosis merupakan predisposisi infark

miokard, stroke, trombosis otak dan penyakit serius lainnya (5). 1. Jenis Kolesterol Setiap orang memiliki kolesterol di dalam darahnya, di mana 80% diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan. Kolesterol yang diproduksi terdiri atas 2 jenis yaitu : a. Kolesterol LDL, adalah kolesterol jahat, yang bila jumlahnya berlebih di dalam darah akan diendapkan pada dinding pembuluh darah membentuk bekuan yang dapat menyumbat pembulun darah. b. Kolesterol HDL, adalah kolesterol baik, yang mempunyai fungsi membersihkan pembuluh darah dari kolesterol LDL yang berlebihan. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan suatu tanda yang baik sepanjang kolesterol LDL kurang dari 150 mg/dl. Selain itu ada juga Trigliserida. Lemak ini terbentuk sebagai hasil dari metabolisme makanan, bukan saja yang berbentuk lemak tetapi juga makanan yang berbentuk karbohidrat dan protein yang berlebihan, yang tidak seluruhnya dibutuhkan sebagai sumber energi. Kadar trigliserida ini akan meningkat bila kita mengkonsumsi kalori berlebihan, lebih besar daripada kebutuhan kita (5).

Kolesterol LDL sering disebut dengan kolesterol jahat, karena peningkatan kadar kolesterol ini dalam darah dihubungkan dengan peningkatan resiko penyakit jantung koroner. Kolesterol LDL akan

berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit. Proses ini dikenal dengan nama atherosklerosis. Kolesterol HDL sebaliknya sering disebut dengan kolesterol baik karena kolesterol HDL mencegah terjadinya atherosklerosis dengan cara mengeluarkan kolesterol jahat dari dinding arteri dan mengirimkannya ke hati. Jadi, bila kadar kolesterol LDL tinggi sedangkan kadar kolesterol HDL rendah maka merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis. Sebaliknya yang diharapkan adalah kadar kolesterol LDL rendah dan kadar kolesterol HDL yang tinggi (5). Kadar kolesterol baik LDL maupun HDL juga dipengaruhi oleh faktor herediter atau keturunan. Pada pasien dengan familial hypercholesterolemia (FH), terdapat pengurangan jumlah yang signifikan dari reseptor kolesterol LDL dalam hatinya.Pasien ini juga akan rentan menderita atherosklerosis dan serangan jantung pada usia muda. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Lemak dibagi menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh berdasarkan pada struktur kimianya. Lemak jenuh terutama berasal dari daging dan produk olahan susu yang akan meningkatkan kadar kolesterol darah (5).

Beberapa minyak tumbuhan yang dibuat dari buah kelapa, sawit, dan cokelat juga tinggi kadar lemak jenuhnya. Menurunkan kadar kolesterol LDL saat ini merupakan fokus utama dalam mencegah atherosklerosis dan serangan jantung. Beberapa dokter dan ahli percaya bahwa keuntungan menurunkan kadar kolesterol LDL antara lain : a. Mengurangi dan menghentikan pembentukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah. b. Memperlebar rongga arteri. c. Mencegah pecahnya plak kolesterol yang mempunyai resiko membentuk gumpalan darah/trombus (faktor resiko stroke) d. Menurunkan resiko serangan jantung. e. Menurunkan resiko stroke (5) 2. Metabolisme Kolesterol Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita disamping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Disamping sebagai salah satu sumber

energi, sebenarnya lemak atau khususnya kolesterol memang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormon-hormon steroid. Tetapi bila kolesterol dalam tubuh berlebih akan

tertimbun didalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan suatu kondisi yang disebut aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung dan stroke (5). Lipid adalah senyawa yang mengandung karbon dan hidrogen yang tidak larut dalam air (hidrofobik) tetapi larut dalam pelarut organik. Komponen lipid utama yang dapat dijumpai dalam plasma adalah trigliserida, kolesterol dan fosfolipid (5). Trigliserida merupakan asam lemak yang dibentuk dari esterifikasi tiga molekul asam lemak menjadi satu molekul gliserol. Jaringan adiposa memiliki simpanan trigliserid yang berfungsi sebagai gudang lemak yang segera dapat digunakan. Dengan masuk dan keluar dari molekul trigliserida di jaringan adiposa, asam-asam lemak merupakan bahan untuk konversi menjadi glukosa (glukoneogenesis) serta untuk pembakaran langsung untuk menghasilkan energy (5). Asam lemak dapat berasal dari makanan, tetapi juga berasal dari kelebihan glukosa yang diubah oleh hati dan jaringan lemak menjadi energi yang dapat disimpan. Lebih dari 95% lemak yang berasal dari makanan adalah trigliserida. Proses pencernaan trigliserida dari asam lemak dalam diet (eksogenus), dan diantarkan ke aliran darah sebagai kilomikron (droplet lemak kecil yang diselubungi protein), yang memberikan tampilan seperti

susu atau krim pada serum setelah mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan lemaknya (5). Kolesterol berasal dari makanan dan sintesis endogen di dalam tubuh. Sumber kolesterol dalam makanan seperti kuning telur, susu, daging, lemak (gajih), dan sebaginya terutama dalam keadaan ester. Dalam usus, ester tersebut kemudian dihidrolisis oleh kolesterol esterase yang berasal dari pankreas dan kolesterol bebas yang terbentuk diserap oleh mukosa usus dengan kilomikron sebagai alat transport ke sistem limfatik dan akhirnya ke sirkulasi vena. Kira-kira 70% kolesterol yang diesterifikasi (dikombinasikan dengan asam lemak), serta 30% dalam bentuk bebas (5). Kolesterol disintesis di hati dan usus serta ditemukan dalam eritrosit, membran sel, dan otot. Sebagian besar kolesterol yang dibutuhkan tubuh disintesis dari asetil koenzim A melalui betahidroksi-betametil glutamil KoA. Kolesterol penting dalam struktur dinding sel dan dalam bahan yang membuat kulit kedap air. Kolesterol digunakan tubuh untuk membentuk garam empedu sebagai fasilitator untuk pencernaan lemak dan untuk pembentukan hormon steroid (misal kortisol, estrogen, androgen) oleh kalenjar adrenal, ovarium, dan testis. Fosfolipid, lesitin, sfingomielin, dan sefalin merupakan komponen utama pada membrane sel dan juga bekerja dalam larutan untuk mengubah tegangan permukaan cairan (misal aktifitas surfaktan cairan di paru) (5).

Fosfolipid dalam darah berasal dari hati dan usus, serta dalam jumlah kecil sintesis di berbagai jaringan. Fosfolipid dalam darah dapat ikut serta dalam metabolisme sel dan juga dalam koagulasi darah (5). Karena lipid tidak dapat larut dalam air, maka itu memerlukan suatu pengangkut agar bisa masuk dalam sirkulasi darah. Pengangkut itu adalah suatu protein yang dinamakan lipoprotein. Lipoprotein dalam sirkulasi terdiri dari partikel berbagai ukuran yang juga mengandung kolesterol, trigliserida, fosfolipid, protein dalam jumlah berbeda sehingga masing-masing lipoprotein memiliki karakteristik densitas yang berbeda. Lipoprotein terbesar dan paling rendah densitasnya adalah kilomikron, diikuti oleh lipoprotein densitas sangat rendah (very low density lipoprotein, VLDL), lipoprotein densitas rendah (low density lipoprotein, LDL), lipoprotein densitas sedang (intermediate density lipoprotein, IDL), dan lipoprotein densitas tinggi (high density lipoprotein, HDL) (5). Sebagian besar trigliserida pada plasma tidak dalam keadaan puasa terdapat dalam bentuk kilomikron, sedangkan pada sampel plasma puasa, trigliserida terutama terdapat dalam bentuk VLDL. Sebagian kolesterol plasma terkandung dalam LDL. Sebagian kecil (15-25%) kolesterol berada dalam HDL (5). Jalur eksogen atau makanan pengangkutan lemak melibatkan penyerapan trigliserida dan kolesterol melalui usus, disertai pembentukan dan pembebasan kilomikron ke dalam limfe dan ke aliran darah melalui

duktur torasikus. Kilomikron membebaskan trigliserida ke jaringan adiposa sewaktu beredar dalam sirkulasi. Selain itu, juga mengaktifkan lipoprotein lipase yang dapat melepaskan asam lemak bebas dari trigliserida sehingga ukuran kilomikron berkurang menjadi sisa yang akhirnya diserap oleh hati. Asam-asam lemak yang dikeluarkan pada gilirannya diserap oleh sel otot dan adipose (5). VLDL terutama dibentuk oleh sel hati, sebagian oleh usus. VLDL terutama terdiri dari trigliserida endogen yang dibentuk oleh sel hati dari karbohidrat. yang bertugas membawa kolesterol yang dikeluarkan dari hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai cadangan energi (5). LDL berasal dari katabolisme VLDL, bertugas mengangkut kolesterol dalam plasma darah ke jaringan perifer untuk keperluan pertukaran zat. LDL mengandung 45% kolesterol. LDL ini mudah sekali menempel pada dinding pembuluh koroner sehingga menimbulkan kerak kolesterol (plak). Itu sebabnya LDL sering disebut sebagai kolesterol jahat (5). HDL dibentuk oleh sel hati dan usus, bertugas menyedot timbunan kolesterol di jaringan tersebut, lalu mengangkutnya ke hati dan selanjutnya membuangnya ke dalam empedu. Karena itu maka HDL disebut sebagai kolesterol baik. Bila HDL rendah, maka kolesterol akan dideposit pada jaringan arteri (5). Kolesterol yang kita butuhkan tersebut, secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat

jumlahnya karena makanan ekstern yang berasal dari lemak hewani, telur dan yang disebut sebagai makanan sampah (junkfood) (5). Di dalam tubuh unsur-unsur lemak dalam darah terdiri atas kolesterol, trigliserida, fosfolipid dan asam lemak bebas. Hanya seperempat dari kolesterol yang terkandung dalam darah berasal langsung dari saluran pencernaan yang diserap dari makanan, sisanya merupakan hasil produksi tubuh sendiri oleh sel-sel hati (5). Lemak yang terdapat dalam makanan akan diuraikan menjadi kolesterol, trigliserida, fosfolipid dan asam lemak bebas pada saat dicerna dalam usus. Keempat unsur lemak ini akan diserap dari usus dan masuk kedalam darah. Kolesterol dan unsur lemak lain tidak larut dalam darah. Agar dapat diangkut dalam aliran darah, kolesterol bersama dengan lemak-lemak lain (trigliserida dan fosfolipid) harus berikatan dengan protein untuk membentuk senyawa yang larut dan disebut dengan lipoprotein (5). Kilomikron merupakan liprotein yang mengangkut lemak menuju ke hati. Dalam hati, ikatan lemak tersebut akan diuraikan sehingga terbentuk kembali keempat unsur lemak tersebut, dan asam lemak yang terbentuk akan dipakai sebagai sumber energi atau bila jumlahnya berlebih akan disimpan dalam jaringan lemak. Bila asupan kolesterol tidak mencukupi, sel hati akan memproduksinya. Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL ( Low Density Lipoprotein ) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang

memerlukan termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya (5). Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL ( High Density Lipoprotein ) untuk dibawa kehati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam ( cairan ) empedu (5). LDL mengandung lebih banyak lemak daripada LDL sehingga ia akan mengambang di dlam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang jahat karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya HDL disebut sebagai lemak yang baik karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi atau lebih berat (5). Kolesterol dapat menyebabkan sumbatan pada pembuluh darah Kolesterol yang berlebihan dalam darah akan mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah. Selanjutnya, LDL akan menembus dinding pembuluh darah melalui lapisan sel endotel, masuk ke lapisan dinding pembuluh darah yang lebih dalam yaitu intima. Makin kecil ukuran LDL atau makin tinggi kepadatannya makin mudah pula LDL tersebut menyusup ke dalam Iintima. LDL demikian disebut LDL kecil padat (5).

LDL yang telah menyusup ke dalam intima akan mengalami oksidasi tahap pertama sehingga terbentuk LDL yang teroksidasi. LDL-teroksidasi akan memacu terbentuknya zat yang dpat melekatkan dan menarik monosit (salah satu jenis sel darah putih) menembus lapisan endotel dan masuk ke dalam intima disamping itu LDL-teroksidasi juga menghasilkan zat yang dapat mengubah monosit yang telah masuk ke dalam intima menjadi makrofag (5). Sementara itu LDL-teroksidasi akan mengalami oksidasi tahap kedua menjadi LDL yang teroksidasi sempurna yang dapat mengubah makrofag menjadi sel busa. Sel busa yang terbentuk akan saling berikatan membentuk gumpalan yang makin lama makin besar sehingga membentuk benjolan yang mengakibatkan penyempitan lumen pembuluh darah (5). Keadaan ini akan semakin memburuk karena LDL akan teroksidasi sempurna juga merangsang sel-sel otot pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam (media) untuk masuk ke lapisan intima dan kemudian akan membelah-belah diri sehingga jumlahnya semakin banyak (5). Uraian tersebut diatas menunjukan bahwa terjadinya sumbatan pada pembuluh darah tidak semudah yang kita bayangkan. Kadar kolesterol yang tinggi perlu diwaspadai karena merupakan cikal bakal proses penyumbatan pembuluh darah, terlebih lagi bila yang meninggi adalah kadar kolesterol LDL, yang kita kenal sebagai lemak jahat. Kalau kita lihat mekanisme pembentukan sumbatan pembuluh darah diatas, LDL semakin berbahaya bila

mempunyai ukuran kecil dengan kepadatan tinggi atau yang kita kenal sebagai LDL-kecil-padat (5). 3. Cara Sel Sel Tubuh Mengambil Kolesterol Dari LDL Pada permukaan molekul LDL terdapat protein yang disebut Apolipoprotein B- 100 dan Apolipoprotein E. Hampir semua sel sel tubuh memiliki reseptor. Sel liver memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein E Yang terdapat dipermukaan LDL. Sel sel yang lain (selain sel liver) memiliki reseptor yang dapat mengikat Apolipoprotein B-100 yang terdapat dipermukaan LDL. Ikatan antara reseptor sel dan Apolipoprotein LDL akan membentuk suatu kompleks ( LDL + Reseptor sel ) yang kernudian akan masuk ke dalam sel (internalisasi) dengan cara endositosis, yaitu membran plasma sel akan melekuk ke dalam sehingga kompleks (LDL + Reseptor sel) ini akan masuk kernudian menyatu membentuk suatu vesikel endositik (5). Vesikel vesilkel yang mengandung LDL ini kemudian akan berfusi (menyatu) dengan lisosom (yang mengangkut bermacan-macam enzim pencernaan). Kompleks (LDL + reseptor) ini akan diurai oleh enzim enzim pencernaan yang terdapat dalam lisosom ini, antara lain : a. Protein LDL akan diurai menjadi asam arnino bebas b. Ester kolesterol akan diurai nenjadi kolestrol bebas dan asam lemak linoleat (5).

Reseptor sel biasanya utuh kembali ke membran plasma sel. Waktu perputaran (turn over) reseptor sel adalah kira-kira 10 menit, sehingga dalam 1 hari reseptor sel ini akan membawa 144 partikel LDL ke dalam sel. Kolesterol bebas kemudian dipakai untuk sintesis membrane sel sebagian juga mengalami esterifikasi dengan asam lemak oleat atau palmitoleat (asarn lemak tak jenuh tunggal) untuk disimpan di dalam sel. Asam lemak ester kolesterol di LDL biasanya adalah linoleat (asam lemak tak jenuh ganda) (5). 4. Cara Tubuh Membuang Kolesterol Jaringan mamalia tidak memiliki enzim vang mampu mengkatabolis inti kolesterol, sehingga kolesterol tidak dapat dirusak oleh oksidasi menjadi karbon dioksida dan air. Oleh sebab itu kolesterol hanya dapat dibuang dari tubuh melaui sintesis asam ernpedu yang banyak, karena sebagian besar bahan dasar asam empedu adalah kolesterol. Untuk mensintesis asam empedu yang banyak, berarti asam empedu yang terdapat di kantong, empedu harus dikosongkan terus menerus, yakni dibuang melalui tinja (5). 5. Fungsi Kolesterol Tubuh kita menggunakan kolesterol untuk membuat: a. Hormon seks, sangat penting bagi perkembangan dan fungsi organ seksual. b. Hormon korteks adrenal,memegang peranan penting untuk metabolisme dan keseimbangan garam dalam tubuh. c. Vitamin D, penting dalam penyerapan Ca.

d. Garam empedu, membantu usus menyerap lemak. e. Membran sel dan lapisan luar lipoprotein (5). D. Parameter Lain Pemeriksaan Uji fungsi Jantung 1. Myoglobin Mioglobin adalah protein pada manusia yang dikodekan oleh gen MB. Mioglobin adalah satu-bulat rantai protein dari 153 asam amino, yang mengandung heme (besi yang mengandung porfirin) kelompok prostetik di tengah sekitar yang apoprotein lipatan yang tersisa. Memiliki delapan alfa heliks dan inti hidrofobik. Ini memiliki berat molekul 16.700 daltons, dan merupakan dasar pigmen mengangkut oksigen dari jaringan otot. Tidak seperti yang bertalian darah hemoglobin, yang secara struktural terkait itu, protein ini tidak menunjukkan adalah kooperatif mengikat oksigen protein karena saja.

cooperativity

positif

milik

multimerik/oligomeric

Sebaliknya, pengikatan oksigen oleh mioglobin tidak dipengaruhi oleh tekanan oksigen di jaringan sekitarnya. Mioglobin sering dikutip sebagai memiliki "mengikat instan kegigihan" untuk oksigen, mengingat hiperbolik kurva disosiasi oksigen. Konsentrasi tinggi mioglobin dalam sel otot memungkinkan organisme untuk menahan napas lagi (6). Pada tahun 1958, John Kendrew dan rekan berhasil menentukan struktur mioglobin dengan resolusi tinggi kristalografi sinar-X. Untuk penemuan ini, John Kendrew bersama dengan Max F. Perutz, 1962 mendapatkan Hadiah Nobel di bidang kimia. Meskipun menjadi salah satu

protein yang paling banyak dipelajari dalam biologi, yang sebenarnya fungsi fisiologis belum konklusif didirikan: tikus yang direkayasa secara genetis kurang mioglobin yang layak, namun menunjukkan 30% penurunan output jantung sistolik. Mereka beradaptasi dengan kekurangan ini melalui mekanisme genetik hipoksia dan peningkatan vasodilasi (6). Mioglobin ditemukan terutama di jantung dan otot rangka merah, fungsi dalam penyimpanan oksigen dan memfasilitasi transportasi oksigen ke mitokondria untuk oksidatif mioglobin phosphorylation. Sebuah cadangan oksigen yang terletak di serat otot phasic lambat, mioglobin terdiri dari satu rantai polipeptida dari sekitar 153 amino acids.3-5 Molekul berisi sekitar 1200 atom (kecuali hidrogen). Sekitar 70% dari rantai utama dilipat ke dalam delapan besar, kidal a-heliks (diidentifikasi sebagai segmen H dengan sisasisa pertama segmen A menjadi A1, dll) Sebagian besar dari sisa bentuk rantai heliks bergantian antara tanpa simetri. Empat dari heliks yang diakhiri dengan residu prolin, yang lima cincin Anggota tidak sesuai lurus dari a-heliks; sehingga mengganggu helix6. Kapasitas mioglobin mengikat oksigen tergantung pada heme. Sebuah heme adalah grup prostetik nonpolypeptide terdiri dari protoporphyrin dan pusat atom besi. Dalam larutan, kelompok heme ini, mioglobin memberikan rona merah yang khas. Protein seperti mioglobin memerlukan terikat erat, nonpolypeptide spesifik unit, disebut kelompok prostetik, untuk kegiatan biologis. Dalam

apomyoglobin, yang kelompok heme tidak hadir dalam struktur (6).

Dalam mioglobin, terdiri dari heme bagian organik dan bagian besi. Bagian organik, protoporphyrin, terdiri dari empat Pirola cincin methene dihubungkan oleh jembatan untuk membentuk sebuah cincin tetrapyrrole. Atom besi dalam heme mengikat keempat atom nitrogen di tengah protoporphyrin cincin. Besi dapat membentuk dua ikatan tambahan di kedua sisi pesawat heme. Posisi ikatan ini disebut kelima dan keenam posisi koordinasi (6). 2. Enzim Laktat dehidrogenase (LDH atau LD) Dalam kedokteran, LDH sering digunakan sebagai penanda kerusakan jaringan. LDH yang melimpah dalam sel darah merah dan dapat berfungsi sebagai penanda untuk hemolisis. Juga dapat digunakan sebagai penanda infark miokard. Setelah infark miokard, tingkat LDH puncak pada 3-4 hari dan tetap meningkat hingga 10 hari. Dengan cara ini, peningkatan kadar LDH (di mana tingkat LDH1 adalah lebih tinggi dari LDH2) dapat bermanfaat untuk menentukan apakah pasien memiliki infark miokard, jika mereka datang ke dokter beberapa hari setelah sebuah episode nyeri dada. Kegunaan lain adalah penilaian kerusakan jaringan secara umum, hal ini mungkin jika tidak ada indikator lain hemolisis. Hal ini digunakan untuk menindaklanjuti kanker (terutama limfoma) pasien. Sel-sel kanker memiliki tingkat tinggi dengan pergantian sel-sel rusak yang mengarah ke aktivitas LDH yang tinggi (2). Enzim isoform : 1. LDH-1 (4H) - di jantung

2. LDH-2 (3H1M) - dalam sistem reticuloendothelial 3. LDH-3 (2H2M) - di paru-paru 4. LDH-4 (1H3M) - pada ginjal 5. LDH-5 (4M) - di hati dan otot lurik Mengukur LDH dalam cairan disedot dari efusi pleura (atau perikardial efusi) dapat membantu dalam perbedaan antara exudates (cairan disekresi secara aktif, misalnya karena peradangan) atau transudates (cairan yang dikeluarkan secara pasif, karena tekanan hidrostatik tinggi atau tekanan rendah oncotic) . LDH yang tinggi (> 200 U / l) dalam eksudat dan rendah dalam transudate. Pada empiema, pada umumnya tingkat LDH akan melebihi 1000U/l. Enzim juga ditemukan dalam cairan cerebrospinal di mana tingkat tinggi dehidrogenase laktat dalam cairan serebrospinal sering dikaitkan dengan bakteri meningitis. Tingkat tinggi enzim juga dapat ditemukan dalam kasus-kasus meningitis virus, umumnya menunjukkan adanya ensefalitis dan prognosis buruk. LDH sering diukur pada pasien HIV sebagai penanda nonspesifik untuk radang paru-paru akibat pneumonia jiroveci (PCP). Peningkatan LDH dalam pengaturan pernapasan atas gejala pada pasien HIV menunjukkan, tetapi tidak diagnostik untuk, PCP. Namun, pada pasien HIV-positif dengan gejala-gejala pernapasan, yang sangat tinggi tingkat LDH (> 600 IU / L) menunjukkan histoplasmosis (9,33 lebih mungkin) dalam sebuah studi sebesar 120 PCP dan 30 histoplasmosis pasien. Seperti sel mati, LDH mereka dilepaskan dan menemukan jalan ke dalam darah.

Tingkat LDH normal bervariasi dengan usia, yang lebih tinggi di masa kanakkanak karena pertumbuhan tulang (6). Analisis LDH belum standar dan normal sangat bervariasi berkisar antara laboratorium. Umumnya, batas atas normal untuk orang dewasa adalah pada kisaran 200unit/liter. Hampir setiap jenis kanker, dan juga banyak penyakit lainnya, dapat menyebabkan tingkat LDH menjadi meningkat. Oleh karena itu, tanda ini tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis kanker jenis tertentu. Tingkat LDH dapat digunakan untuk memantau pengobatan beberapa jenis kanker, termasuk kanker testis, Ewing's sarcoma, non-Hodgkin, dan beberapa jenis leukemia. Peningkatan tingkat LDH dapat disebabkan oleh beberapa kondisi noncancerous, termasuk gagal jantung, hypothyroidism, anemia, dan paru-paru atau penyakit hati (6). 3. Troponin Troponin adalah kompleks tiga peraturan protein yang merupakan bagian integral otot kontraksi dalam kerangka dan otot jantung, tetapi bukan otot polos. Diskusi dari troponin sering berhubungan dengan karakteristik fungsionalnya dan atau kegunaannya sebagai penanda diagnostik untuk berbagai penyakit jantung (2) (6). Fungsi Troponin melekat ke protein tropomyosin dan terletak dalam sulkus antara filamen aktin dalam jaringan otot. Dalam otot santai, lampiran tropomyosin blok situs untuk myosin crossbridge, sehingga dapat mencegah

kontraksi. Ketika sel otot dirangsang untuk kontrak oleh potensial aksi, kalsium saluran terbuka di sarcoplasmic retikulum dan melepaskan kalsium ke dalam sarcoplasm. Beberapa kalsium ini melekat pada troponin, menyebabkan perubahan konformasi yang bergerak tropomyosin keluar dari rupa sehingga salib bridge dapat melampirkan untuk aktin dan menghasilkan kontraksi otot (2) (6). Troponin ditemukan baik otot rangka dan otot jantung, tetapi versi khusus troponin berbeda antara jenis otot. Perbedaan utama adalah bahwa TNC subunit dari troponin dalam otot rangka memiliki empat situs mengikat ion kalsium, sedangkan pada otot jantung hanya ada tiga. Fisiologi baik otot jantung dan tulang dikendalikan oleh perubahan dalam konsentrasi kalsium intrasel. Ketika kalsium meningkat, otot kontrak, dan ketika jatuh kalsium otot rileks (2) (6). Troponin adalah komponen filamen tipis (bersama dengan aktin dan tropomyosin), dan merupakan protein yang mengikat kalsium untuk menyelesaikan peraturan ini. Troponin memiliki tiga subunit, TNC, TNI, dan TNT. Ketika kalsium terikat untuk situs spesifik pada TNC, tropomyosin gulungan keluar dari jalan filamen aktin situs aktif, sehingga myosin (motor molekul otot diatur dalam filamen tebal) dapat melampirkan filamen yang tipis dan menghasilkan kekuatan dan / atau gerakan. Dalam ketiadaan kalsium, tropomyosin mengganggu dengan tindakan ini myosin, dan karena itu otot

tetap santai. Troponin I juga telah terbukti menghambat angiogenesis in vivo dan in vitro. Masing-masing subunit melayani fungsi yang berbeda: 1. Troponin C mengikat kalsium ion untuk menghasilkan perubahan konformasi TNI 2. Troponin T tropomyosin mengikat, saling mereka untuk membentuk kompleks troponin-tropomyosin 3. Troponin I mengikat aktin tipis myofilaments untuk memegang kompleks troponin-tropomyosin di tempat (2) (6). Otot polos tidak memiliki troponin. Tingkat troponin dapat digunakan sebagai ujian dari beberapa kelainan jantung yang berbeda, termasuk infark miokard (2) (6). Troponin T kardiak, suatu polipeptida yang berlokasi pada filamen tipis merupakan protein kontraktil regular, paa orang sehat TnT tidak dapat dideteksi atau terdeteksi dalam kadar yang sangat rendah, tetapi terdapat dalam sitoplasma miosit jantung sebanyak 6% dan dalam bentuk ikatan sebanyak 94%. Troponin T lokasinya intraseluler, terikat pada kompleks troponin dan untaian molekul tropomision. Kompleks troponin merupakan suatu protein yang mengatur interaksi aktin dan miosin bersama-sama dengan kadar kalsium intra seluler (2) (6). Pada otot jantung manusia, diperkirakan 6% dari total TnT miokardial ditemukan sebagai larutan pada sitoplasmik (fraksi bebas), yang mungkin berfungsi sebagai prekursor untuk sintesis kompleks troponin. TnT yang larut

dalam cairan sitosol akan mencapai sirkulasi darah dengan cepat bila terjadi kerusakan miokard, sedangkan TnT yang terikat secara struktural sirkulasi darah lebih lambat karena harus memisahkan lebih dahulu ( degradasi proteolitik) dari jaringan kontraktil. Karena pelepasan TnT terjadi dalam 2 tahap, maka perubahan kadar TnT serum pada IMA mempunyai 2 puncak (bifasik) (2) (5). Puncak pertama disebabkan oleh pelepasan TnT dari cairan sitosol dan puncak kedua karena pelepasan TnT yang terikat secara struktural. Sehingga pada kasus IMA, TnT kardiak akan masuk lebih dini kedalam sirkulasi darah dari pada CK-MB sehingga dalam waktu singkat kadarnya dalam darah sudah dapat diukur, sedangkan puncak kedua pelepasan TnT ini berlangsung lebih lama dibanding dengan CK-MB, sehingga disebut jendela diagnostik yang lebih besar dibanding dengan petanda jantung lainnya. Tampaknya pelepasan troponin T beberapa jam setelah infark miokard adalah berasal dari sitoplasma, sehingga akan mencapai sirkulasi darah dengan cepat. Sedangkan pelepasan yang berkepanjangan akibat dari kerusakan struktur apparatus, sehingga untuk mencapai sirkulasi darah lebih lambat karena harus memisahkan lebih dahulu ( degradasi proteolitik) dari jaringan kontraktil. troponin T kardiak terdeteksi setelah 3-4 jam sesudah kerusakan miokard dan masih tinggi dalam serum selama 1-2 minggu. Dilaporkan troponin T merupakan pemeriksaan yang sangat

bermanfaat terutama bila penderita IMA yang disertai dengan kerusakan otot

skelet. Pelepasan troponin T sitolitik juga sensitif terhadap perubahan perfusi arteri koroner dan dapat digunakan dalam menilai keberhasilan terapi reperfusi. TnT kardiak merupakan protein spesifik miokard dan dapat dibedakan dari isoformnya yang terdapat pada otot lurik dengan teknik imunologi (2) (5). Oleh karena itu TnT kardiak dapat digunakan untuk mendeteksi adanya nekrosis miokard pada keadaan dimana terdapat peningkatan CK non kardiak pada cedera lurik (2) (5). 4. proBNP proBNP digunakan sebai alat Bantu diagnosa pasien yang diduga mengalami gagal jantung kongestif, pada monitoring pasien dengan difungsi ventrikel kiri terkompensasi, serta untuk stratifikasi risiko pasien dengan ssindrom koroner akut. Pada 25 tahun yang lalu, sejumlah penelitian telah mengevaluasi peranan natriuretic peptide tipe B (BNP) dalam penyakit jantung. Meningkatnya pengalaman dengan BNP pada penyakit jantung

anak telah menimbulkan minat yang lebih besar pada protein ini sebagai penanda yang potensial untuk penyakit jantung pada anak. BNP merupakan salah satu keluarga natriuretic peptide yang mempengaruhi sistem kardiovaskuler (6). Natriuretic peptide dihasilkan terutama oleh otot jantung sebagai respon terhadap tekanan dinding jantung, tonus vaskuler yang berubah dan

homestasis volume. BNP mengaktivasi guanyl atecyclase-A receptor terikat membran, dengan hasil sifat relaksasi miosit jantung dan otot polos jantung. Pada orang dewasa, penggunaan BNP telah ditunjukkan sebagai penanda penyakit jantung dan bisa menguntungkan dalam membedakan penyakit pulmoner dengan penyakit jantung pada kondisi layanan kesehatan akut. Sejumlah penelitian menunjukkan meningkatnya BNP dan NT pro BNP pada berbagai jenis penyakit jantung anak (6). Diagnosis penyakit jantung yang benar pada anak mungkin akan meningkatkan keluaran akibat pembedahan dengan trauma organ akhir yang menjadi faktor resiko untuk mortalitas pembedahan. Di samping itu, infan dengan penyakit jantung kongenital bisa memiliki abnormalitas neurologis pada saat datang sebelum pembedahan, tentu saja instabilitas hemodinamik yang terjadi pada populasi ini, khususnya pada mereka dengan sirkulasi sistemtik yang tergantung pada patensi duktus arteriosus, bisa mengalami gangguan aliran darah serebral dan perfusi miokardial. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada saat pertama kadar BNP serum memiliki sensitivitas yang sangat tinggi (100%) untuk prediksi penyebab jantung pada penyakit klinis yang relevan di IGD dengan menggunakan nilai cut off 100 pg/ml. Pemeriksaan serum ini bisa secepatnya dan murah mengidentifikasi pasien tersebut di IGD, dengan kemungkinan menghindari terlambatnya diagnosis dan terapi (6).

BAB III METODE PERCOBAAN

III. 1. Alat dan Bahan III. 1.1. Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spoit 3 cc, tabung sentriguge, rak tabung, torniquet, sentrifuge, alat humalyzer, kuvet, mikropipet 10 l, 40 l dan 1000 l. III. 1. 2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah kapas alkohol, sampel serum, reagen kolesterol (buffer fosfat pH 6,5,

4-aminophenazone,

phenol,

peroksidase,

cholesterolesterase,

cholesteroloxidase, natrium azida) dan reagen CK (buffer imidazole pH 6,5, glukosa, mg-asetat, EDTA, AMP, N-acetylcysteine, diadenosine pentafosfat, NADP, HK, SH-stabiliser, natrium azida, ADP, G6p-DH, kreatin fosfat dan natrium azida). III. 2. Cara Kerja III. 2. 1. Pengambilan darah Vena Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan. Kemudian dipasang tourniquet dan pembuluh darah vena diraba dengan pengepalan tangan probandus jika pembuluh darah vena belum terlihat, lengan tempat penusukan berlangsung didesinfeksi dengan kapas alkohol. kemudian

dilakukan penusukan sampai terlihat darah keluar dari spoit tersebut dan tourniquet dilepas. Toraks pada spoit ditarik keatas sampai volume darah mencapai 3 cc. Setelah darah didapatkan kemudian dimasukkan kedalam tabung sentrifuge dan dibiarkan sampai membeku (sekitar 30 menit) kemudian di lakukan sentrifugasi terhadap sampel darah tersebut dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. III. 2. 2. Pemeriksaan Kreatin Kinase (CK) Alat serta bahan yang akan digunakan disiapkan, kemudian dipipet kedalam kuvet serum sebanyak 25 l kemudian ditambahkan reagen 1 sebanyak 1000 l, dan dihomogenkan dengan baik kemudian diinkubasi selama 3 menit. Kemudian ditambahkan reagen 2 sebanyak 250 l dan dimasukkan kedalam kuvet yang berisi sampel setelah itu larutan dihomogenkan dengan menggunakan mikropipet kemudian di inkubasi selama 3 menit menit pada suhu 370c. Kemudian hasilnya dibaca pada alat humalyzer dengan panjang gelombang 334 nm III. 2. 3. Pemeriksaan Kolesterol Alat serta bahan yang akan digunakan disiapkan, kemudian dipipet kedalam kuvet serum sebanyak 10 l kemudian ditambahkan reagen sebanyak 1000 l, dan dihomogenkan dengan baik dengan menggunakan mikropipet. Kemudian di inkubasi selama 5 menit pada suhu 370c dan hasilnya dibaca pada alat humalyzer dengan panjang gelombang 334 nm

BAB IV HASIL PENGAMATAN

IV.I Tabel Pengamatan

Kelompok 1 2 3 4 5 6 7

Kadar Kolesterol 271.9 mg/dl 229.3 mg/dl 232.6 mg/dl 396.4 mg/dl 291.6 mg/dl 363.7 mg/dl 374 mg/dl

Kadar CK 3.2 mg/dl 0 mg/dl 6.5mg/dl Out of range 3.2 mg/dl 0 mg/dl 6.5 mg/dl

Nilai Rujukan Kadar serum mg/dl Pemeriksaan Wanita Laki-laki Kolesterol < 200 mg/dl < 200 mg/dl CK 5 25 g/ml 5 - 35 g/ml

IV. 3. Reaksi a. Pemeriksaan Kolesterol CHE Cholesterolester + H20 CHO Cholesterol + O2 cholestene-3-one + H2O2 POD 2H2O2+ 4-aminophenazone +phenol quinoneimine + 4H2O cholesterol + asam lemak

b. Pemeriksaan CK CK Creatine phosphate creatine + ATP

HK Glucose + ATP glucose-6-phosphate + ADP

Glucose-6-p + NADP

gluconate-6-p + NADPH + H+

BAB V PEMBAHASAN

Pengukuran kolesterol dan keratin kinase (CK) dalam serum merupakan prosedur yang relatif sederhana dilakukan di laboratorium, dan sering digunakan sebagai indikator yang peka untuk mengetahui adanya gangguan fungsi jantung. Pada praktikum kali ini, dilakukan pemeriksaan fungsi jantung yaitu pemeriksaan kolesterol dan pemeriksaan kreatini kinase yang masing masingnya menggunakan sampel serum yang diperiksa secara fotometrik menggunakan humalyzer dengan prinsip reaksi enzimatis. a. Pemeriksaan Kolesterol Pada pemeriksaan kadar Kolesterol hal pertama yang dilakukan adalah pada proses pra analitik dengan menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan serta cara pengambilan sampel darah dengan teknik flebotomi yang baik dan benar untuk menghindari hemolisis untuk mengukur kadar kolesterol diperlukan sampel serum atau plasma heparin dan hindari hemolisis pada eritrosit agar tidak mengganggu pemeriksaan. Kemudian

dilakukan sentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm guna memperoleh serum yang akan digunakan sebagai sampel pemeriksaan. Dimana tujuan dari sentrifugasi adalah untuk mengendapakan analit

tertentu, menempatkan partikel dan medium suspensinya dalam suatu medan gaya sentrifugasi. Medan sentrifugasi menyebabkan partikel

bermigrasi lebih cepat ke arah luar dari sumbu rotasi sehingga terjadi pemisahan sedimen dan suspensinya yang dilakukan dengan kecepatan 3000 rpm sehinnga digunakan sebagai sampel pemeriksaan. Sampel tersebut terlebih dahulu dipipet ke dalam kuvet sebanyak 10 l dengan menggunakan mikropipet 1000 l yang telah dipasangi dengan yellow tip pada ujung mikropipet, fungsi dari yellow tip sebagai tempat larutan yang tertampung maka dengan sendirinya mikropipet ini akan mengisap sesuai dengan jumlah volume yang diinginkan. Kemudian sampel tersebut ditambahkan dengan reagen kolesterol (mengandung pereaksi Buffer fosfat, 4-aminophenazone, phenol, peroxidase, cholesterolesterase, selama 15 menit

diperoleh serum yang akan

cholesteroloxidase, dan natrium azida) yang berfungsi agar terbentuk zat Quinoneimine yang dibentuk dari hydrogen peroksida dan 4-amino phenazone dalam phenol dengan bantuan enzim peroksidase. Kemudian sampel di inkubasi selama 5 menit pada suhu ruang (370c) agar reagen dan sampel dapat berekasi sempurna. Suhu pemeriksaan harus konstan selama tes dilakukan agar tidak mengganggu stabilitas reagen dan alat yang akan digunakan. Dan diperiksa kadarnya dengan alat humalizer. Dari hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan hasil yang diperoleh pada pameriksaan kolesterol adalah 291.6 mg/dl Hasil yang diperoleh yaitu terjadi peningkatan karena tidak sesuai dengan nilai normal

yaitu nilai kolesterol tinggi diatas 260 mg/dl. yang dapat diinterpretasikan hasilnya adanya gangguan fungsi jantung. Kolesterol adalah suatu molekul lemak di dalam sel dibagi menjadi LDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida. Kolesterol sebenarnya merupakan salah satu komponen lemak. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita disamping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Disamping sebagai salah satu sumber energi, sebenarnya lemak atau khususnya kolesterol memang merupakan zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita terutama untuk membentuk dinding sel-sel dalam tubuh. Kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan hormonhormon steroid. Kolesterol yang kita butuhkan tersebut, secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat jumlahnya karena asupan makanan yang berasal dari lemak hewani, telur dan yang disebut sebagai makanan sampah (junkfood). Kolesterol dalam tubuh yang berlebihan akan tertimbun di dalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan suatu kondisi yang disebut aterosklerosis yaitu penyempitan atau pengerasan pembuluh darah. Kondisi ini merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung dan stroke. Dari hati, kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (Low Density Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan,

termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B (apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang "jahat" karena dapat menyebabkan

penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang "baik" karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah Apo-A (apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat. Penyebab kolesterol adalah jika mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak dan sumber kolesterol (seperti makanan berminyak, bersantan, makanan fast food) , alkohol dan gula yang berlebihan. b. Pemeriksaan Kreatinin Kinase Dalam pemeriksaan Kreatinin kinase yang perlu diperhatikan pada saat pengambilan darah untuk sampel kreatinin kinase adalah menghindari terjadinya hemolisis pada eritrosit kemudian dilakukan sentrifugasi selama 15

menit dengan kecepatan 3000 rpm guna memperoleh serum yang akan digunakan sebagai sampel pemeriksaan. Sampel serum dipipet kedalam kuvet secara hati-hati dengan menggunakan mikropipet 20 l yang telah dipasangi dengan yellow tip pada ujung mikropipet, fungsi dari yellow tip sebagai tempat larutan yang tertampung maka dengan sendirinya mikropipet ini akan mengisap sesuai dengan jumlah volume yang diinginkan. Sampel tersebut ditambahkan dengan reagen enzim (mengandung pereaksi buffer imidazole, glukosa, MGasetat, EDTA, Natrium azida) yang dicampur dengan 3 ml larutan buffer (yang mengndung ADP, AMP, diadenodine pentafosfat, NADP, kreatine pospat, G6P-DH, N-acetylcysteine) sebanyak 1000 l yang berfungsi agar terbentuk zat 6-phospho-D-glucono-lactone dari glucose-6-P dan NADP dengan bantuan enzim glikosa 6-phospat-dehidrogenase menghasilkan glikonate-6-P. Setelah itu diinkubasi selama 2 menit agar reagen yang telah dicampurkan betul-betul stabil dan homegen pada suhu ruang (370c) suhu pemeriksaan harus konstan selama tes dilakukan agar tidak mengganggu stabilitas reagen dan alat yang akan digunakan. Dan diperiksa dengan alat humalizer. Hasil yang diperoleh adalah terjadi penurunan dari nilai rujukan yaitu 3.2 mg/dl dengan nilai rujukan kratinin kinase pada laki-laki adalah 5-35

mg/dl. yang dapat diinterpretasikan bahwa tidak adanya kelainan dari fungsi janung. Peningkatan dan penururnan CK merupakan penanda cedera otot yang

paling spesifik seperti pada infark miokardium. Kadar yang tinggi dari CK merupakan indikasi kerusakan otot. Oleh karena itu menunjukkan cedera, rhabdomyolysis, infark miokard, distrofi otot, myositis, miokarditis, hipertermia ganas, dan neuroleptic sindrom ganas. Hal ini juga dilihat di McLeod sindrom dan hipotiroidisme. Penggunaan obat statin, yang umumnya digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol serum, dapat berhubungan dengan ketinggian dari tingkat CPK di sekitar 1% dari pasien yang memakai obat ini, dan dengan sebenarnya kerusakan otot dalam proporsi yang jauh lebih kecil. Menurunkan CK bisa menjadi indikasi dari penyakit hati alkoholik dan rheumatoid arthritis. dan dengan sebenarnya kerusakan otot dalam proporsi yang jauh lebih kecil. Faktor-faktor kesalahan yang dapat terjadi pada saat praktikum 1. Menggunakan alat yang terkontaminasi seperti kuvet yang digunakan terkontaminasi dengan zat lain sehingga reaksi yang terjadi tidak sempurna 2. Cara pemipetan sampel dan reagen yang tidak teliti sehingga kadar dalam sampel yamg diserap tidak sesuai.

BAB V PENUTUP

V. 1. Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan percobaan yang dilakukan dapat disimpulka bahwa : a. Pada pemeriksaan kolesterol serum diperoleh hasil yaitu : 291.6 mg/dl yang dapat diinterpretasikan nilainya diatas kadar kolesterol yaitu 200 mg/dl. b. Pada pemeriksaan kreatinin kinase (CK) diperoleh hasil yaitu : 3.2 mg/dl yang hasilnya dibawah nilai rujukan untuk kadar CK pada laki-laki yaitu 5-35 mg/dl.

V. 2. Saran Diharapkan alat-alat laboratorium di lengkapi lagi guna memperlancar proses praktikum dan juga persiapan praktikum pada alat yang akan digunakan agar lebih diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sinau. Biologi. Anatomi Jantung Manusia. Jakarta. 2009. Pdf. Diakses tanggal 09 April 2011 hal 1-25 2. Tarigan. Hubungan Kadar Troponin-T Dengan Gambaran Klinis Penderita Sindroma Koroner Akut. Dalam Usu Digital Library. 2003. Diakses tanggal 10 april 2011 hal 1-5 3. Riswanto. Laboratorium Kesehatan. Pemeriksaan Kreatin Kinase. 2010. Pdf. Diakses tanggal 09 April 2011 hal 1-5 4. Yuni Hanifah. Pengukuran aktivitas ck nac metode optimasi uv test (dgkc). Laporan biokimia kedokteran. Universitas jenderal soedirman fakultas

kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan jurusan kedokteran purwokerto. 2010. Pdf diakses tanggal 09 April 2011 hal 1-5 5. Wulaniriky. Pengukuran kadar kolesterol (metode lieberman-

burchards). Jakarta. 2011. Diakses tanggal 09 april 2011 hal 1-10 6. Persatuan perawat nasional Indonesia kabupaten karangasem. Patologi klinik. 2010. Diakses tanggal 10 april 2011 hal 1-6 7. Dirjen. POM. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen kesehatan RI. Jakarta. 1979 hal 96; 268; 642; 484; 702 8. Dirjen. POM. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen kesehatan RI. Jakarta. 1995 hal 1181

LABORATORIUM KIMIA FARMASI TEKNOLOGI LABORATORIUM KESEHATAN FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK 1 PEMERIKSAAN UJI FUNGSI JANTUNG (CK, CK-MB DAN KOLESTEROL)

OLEH :

NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN

: FITRA DIANA DEWI : N 121 09 557 : V (LIMA) : THEOSHOBIA GRACE ORNO

MAKASSAR

2011