Anda di halaman 1dari 18

Peter Garlans Sina 2011

Keuangan Berbasis Perilaku (Behavioral Finance)


Abstraksi Cara berpikir investor menentukan keputusan yang dibuat. Dalam konteks itulah maka investor seringkali menngalami bias, dan keuangan berbasis perilaku merupakan salah satu studi yang menjelaskan mengapa investor mengalami bias. paper ini bertujuan untuk memperkenalkan bahwa faktor psikologi merupakan salah satu penentu pembuatan keputusan keuangan sehingga investor mampu meningkatkan peluang mengurangi mengalami bias. Lebih lanjut, dalam paper ini hanya memfokuskan pada tujuh jenis bias yang diadopsi dari berbagai penelitian. Pada tahapan akhir diberikan solusi bagi investor untuk mengurangi mengalami bias dan bukan untuk mengeliminasi bias-bias tersebut. Kata kunci : keuangan berbasis perilaku, excessive optimism, overconfidence, representativeness bias, availability bias, cognitive dissonance, mental accounting, regreat aversion.

Pendahuluan
Keuangan konvensional berasumsi bahwa pelaku ekonomi mampu melakukan penyesuaian keyakinannya ketika menerima informasi, dan berdasarkan keyakinan hasil penyesuaian maka pelaku ekonomi akan membuat keputusan keuangan. berpijak pada asumsi tersebut tampak bahwa tidak ada pelaku ekonomi yang akan gagal atau mengalami penyimpangan ketika membuat keputusan keuangan (Barberis & Thaler 2003). Implikasi teoritisnya adalah keuangan konvensional berasumsi bahwa pasar adalah efisien. Dalam arti bahwa informasi tersedia bagi semua investor sehingga tidak ada investor yang akan memperoleh return abnormal. Selain itu juga, didorong oleh meratanya perolehan informasi maka akan ada mekanisme pasar yang akan menyeimbangkan harga sehingga harga tidak akan kembali normal. Dengan demikian, harga merupakan cerminan dari informasi (Hirschey & Nofsinger 2008). Namun pada kenyataannya investor tidak berperilaku serasional yang diasumsikan keuangan konvensional, dan hal ini membawa konsekwensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Dengan mengalami penyimpangan maka investor secara eksplisit meningkatkan peluang mengalami kesulitan keuangan. ulasan sebelumnya tampak seperti tekanan dari sisi eksternal membuat Indeks Harga Saham Gabungan tumbang cukup tajam, hampir 3 persen, Selasa (18/10). Para investor melepas saham-saham mereka setelah pesimisme kembali muncul atas rencana penyelesaian krisis utang Eropa. Tekanan bertambah saat muncul data
1

Peter Garlans Sina 2011

pelambatan ekonomi China pada kuartal ketiga tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 3.622,027, melorot 106,988 poin (2,87 persen). Indeks LQ45 turun 19,932 poin (3,01 persen) ke level 641,238, sedangkan Indeks Kompas100 melemah 25,910 poin (3,05 persen) ke level 823,027 (Kompas, 19 Oktober 2011). Fenomena lainnya tampak dari serangan panik kembali menghampiri pasar modal Indonesia. Rupiah yang menyentuh level level Rp9.100 per USD membuat investor panik sehingga membuka perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level 3.500-an. Meski hari ini Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi terhadap pergerakan rupiah sehingga rupiah bisa menguat tipis ke level Rp8.950-an, namun hal tersebut menimbulkan sejumlah ekspektasi dikalangan investor bila ekonomi Indonesia menjadi tidak stabil. Belum lagi, IMF, merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 6,4 persen tahun ini dan 6,3 persen pada 2012. Proyeksi sebelumnya menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menyentuh level 6,5 persen di tahun ini dan tahun depan. Laporan IMF tersebut, menjelaskan perekonomian global saat ini berada dalam fase baru yang berbahaya. Pelemahan aktivitas ekonomi global yang semakin merata dan anjloknya kepercayaan masyarakat dunia pun memunculkan risiko penurunan (OkeZone, 22 September 2011). Lainnya adalah bursa saham Amerika Serikat dan Eropa ditutup menguat. Indeks dollar AS bergerak menguat, sementara Euro terlihat melemah terhadap mata uang utama lainnya. Harga emas berbalik arah menguat lagi. Pasar masih terlihat bias, antara yakin dan tidak yakin atas penyelesaian krisis utang Eropa. Analis HP Sekuritas, Yanuar Pribadi, di Jakarta, Selasa (27/9/2011) menyatakan, penguatan bursa AS sejalan dengan adanya harapan terhadap perkembangan kondisi Eropa serta laporan keuangan korporasi AS, window dressing akhir triwulan ketiga . Penguatan bursa AS dibantu oleh penguatan tajam bursa Eropa, didorong oleh ekspektasi perpanjangan program bailout serta potensi penurunan suku bunga. Pasar mengharapkan Bank Central Eropa ( ECB) akan segera menurunkan suku bunga acuan, namun demikian segera berakhirnya jabatan Jean-Claude Trichet sebagai Presiden ECB, serta keputusan ECB mena ikan suku bunga acuan sebanyak dua kali tahun ini membatasi peluang penurunan suku bunga pada pertemuan ECB 6 Oktober mendatang (Kompas, 27 September 2011). Fenomena serupa dapat dilihat juga dari pemerintah menilai kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi tahun ini terlalu berlebihan menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 3,6% menjadi 3.501,66 pada pekan lalu. Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo memahami sikap investor tersebut jika melihat kondisi pasar global. Namun, sebenarnya fenomena yang terjadi
2

Peter Garlans Sina 2011

di dunia internasional tidak terlalu berpengaruh terhadap kelangsungan ekonomi di dalam negeri. . Kalau (IHSG melemah) kemarin, karena market mungkin menduga bahwa potensi inflasi agak cukup tinggi di Indonesia. Namun, kalai melihat core inflation kan masih di 4,2% dan kalau seandaianya BI menetapkan tingka suku bunga 6,5% pasti yang dirujuk adalah core inflation-nya (Kompas, 10 januari 2011). Berpijak pada fenomena-fenomena di atas terindikasi bahwa investor relatif mengalami bias ketika membuat keputusan keuangan (transaction), dan hal inilah yang menjadi alasan peneliti untuk mengeksplorasi secara mendalam. Adapun tujuan dari paper ini yaitu ingin memberi kesadaran tentang bagaimana faktor-faktor psikologi turut mempengaruhi keputusan keliru yang dibuat oleh investor dan berdampak pada perolehan risiko.

Keuangan Berbasis Perilaku


Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan atas sumber daya yang langka dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian, munculnya ilmu ekonomi didasarkan kepada jumlah sumber daya yang terbatas dengan kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas. Fenomena keterbatasan tersebut melahirkan suatu kondisi yang disebut kelangkaan (scarcity). Munculnya kelangkaan mendorong berbagai permasalahan dalam memilih secara tepat untuk mencapai suatu tujuan yang dinamakan kesejahteraan (McEachern 2001). Terkait dengan penjelasan sebelumnya, menurut Neumann dan Oskar (1944 dalam Enawati 2008) mengungkapkan bahwa perilaku rasional adalah pemilihan alternatif terbaik dari sekumpulan alternatif yang ada berdasarkan sekumpulan kriteria yang sudah ditetapkan oleh pengambil keputusan. Rasionalitas dalam menentukan pilihan masih menjadi pegangan bagi akademisi dan praktisi bidang pengambilan keputusan. Seseorang dikatakan rasional bila bersandar pada axioms of rational choice dalam menentukan pilihan. Terdapat dua aksioma yang harus dipegang untuk menjadi rasional, antara lain: Pertama, transitivity yaitu bila seseorang lebih memilih alternatif A dibanding alternatif B dan lebih memilih alternatif B dibanding alternatif C, sehingga alternatif A yang dipilih dibanding alternatif C. Kedua, monotonicity yaitu bila ada dua alternatif (A dan B) yang masing-masing memiliki kualitas Q1 dan Q2, yang menurut persepsi seseorang ternyata kualitas Q1 lebih penting dibanding Q2, alternatif A akan dipilih apabila memiliki probabilitas lebih besar dari alternatif B untuk merealisasi kualitas Q1 yang dimilikinya.

Peter Garlans Sina 2011

Oleh karena itu, didasari penjelasan diatas maka seseorang akan bertindak dalam melakukan pilihan yaitu dalam bentuk pengambilan keputusan rasional berdasarkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang meminimalkan kerugian, namun mampu memberikan hasil yang optimal. Berdasarkan ekspektasi yang mungkin akan terjadi itulah seseorang akan membuat keputusan dan bertindak dengan pihak lainnya. Peneliti lain, Nofsinger (2005 dalam Putlia 2008) menyatakan bahwa dalam pengambilan keputusan, pendekatan keuangan konvensional menggunakan dua asumsi, yaitu individu akan membuat keputusan yang rasional dan tidak mengalami bias akan prediksi tentang masa depan. Dengan dua asumsi inilah diciptakan alat-alat yang dapat digunakan untuk membuat keputusan keuangan yang akan memaksimalkan imbal hasil atau return yang diharapkan dan meminimalkan penyimpangan atau risiko yang di tanggung. Tidak jauh berbeda, Barberis dan Thaler (2003) menyatakan bahwa ilmu keuangan konvensional berasumsi bahwa agen ekonomi akan berperilaku rasional. Adapun maksud dari rasional adalah pertama, ketika individu menerima informasi baru maka individu akan memperbarui keyakinan dengan tepat. Kedua, didasarkan keyakinan baru tersebut maka individu akan membuat keputusan yang tepat. Didasari asumsi tersebut diketahui bahwa setiap individu memiliki kemampuan berpikir (cognitive resources to analyze) yang baik untuk membuat keputusan keuangan sehingga tidak akan terjadi berbagai kesalahan (biases). Akan tetapi dalam prakteknya, asumsi bahwa individu akan berperilaku rasional tidak sepenuhnya terjadi karena adanya keterbatasan kemampuan berpikir (bounded rationality), dan menjadi alasan munculnya ilmu keuangan berbasis perilaku. Ilmu ini menurut Hirschey dan Nofsinger (2008) diartikan sebagai studi tentang kesalahan berpikir dan emosional dalam pembuatan keputusan keuangan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa ilmu keuangan berbasis perilaku merupakan kajian tentang bagaimana seseorang secara aktual berperilaku (positive approach), sedangkan ilmu keuangan konvensional lebih menekankan pada bagaimana seharusnya berperilaku (normative approach). Disebabkan pendekatan yang digunakan, diketahui bahwa ilmu keuangan berbasis perilaku menggunakan ilmu psikologi, tepatnya psikologi kognitif dalam menjelaskan perilaku yang bias, sehingga sinergis antara kedua disiplin ilmu yaitu ilmu keuangan serta psikologi kognitif dapat membuktikan bahwa perilaku seseorang dapat menyimpang dari standar normatif (Shefrin 2007 dalam Supramono et al 2010). Ricciardi dan Simon (2000 dalam Ivada 2010) juga menyatakan hal serupa bahwa behavioral finance berusaha untuk menjelaskan dan meningkatkan pemahaman mengenai perilaku investor, melibatkan proses-proses emosional dan hal
4

Peter Garlans Sina 2011

tersebut mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Secara esensial, ilmu keuangan berbasis perilaku (behavioral finance) mencoba untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana dalam bidang keuangan dan investasi berdasarkan perspektif manusia (human perspective). Sejalan dengan hal di atas, dalam ilmu psikologi kognitif (cognitive psychology) diketahui bahwa pengambilan keputusan tidak terlepas dari kebutuhan akan informasi, namun dalam memproses informasi seseorang tidak sepenuhnya rasional (behavioral bias). Lebih lanjut, bahwa kehadiran keuangan berbasis perilaku merupakan salah satu terobosan yang esensial karena sebelumnya studi keuangan konvensional mengesampingkan perilaku keuangan dari sudut pandang psikologi. Tanpa diabaikan faktor psikologi dari individu dapat diketahui penyebab dari perilaku bias yaitu adanya keterbatasan pada kemampuan berpikir serta kelemahan emosional yang dapat mengarahkan pada perilaku tidak rasional. Lebih lanjut, disebabkan adanya dua keterbatasan tersebut menyebabkan seseorang dalam pembuatan keputusan keuangan cenderung menggunakan rules of thumbs. Heuristic dapat diartikan sebagai cara dalam memproses informasi untuk mendapatkan keputusan yang cepat tetapi belum tentu mendatangkan hasil yang optimal, sehingga ada kecenderungan menggunakan jalan pintas dalam mengolah informasi yang begitu banyak tetapi dapat mengarah pada penarikan kesimpulan yang salah (Shefrin 2007 dalam Supramono et al 2010). Pernyataan lain, Suharnan (2005 dalam Enawati 2008) bahwa heuristic merupakan suatu pendekatan yang cenderung menghasilkan keputusan yang tidak menjamin ketepatan secara mutlak. Sebagai konsekuensinya, seseorang memiliki kemungkinan untuk membuat keputusan yang salah atau perkiraan yang melenceng akibat kelemahan dari pemakaian heuristic. Lebih lanjut, pendekatan heuristic tersebut mengakibatkan pengambilan keputusan lebih dikarenakan oleh faktor psikologis seperti intuisi daripada faktor rasio atau dengan kata lain, bertindak tanpa logika. Sumber berbeda, Zweigh (2009) bahwa heuristic dapat menghasilkan pertimbangan yang cepat dan akurat, tapi hanya dibawah syarat-syarat yang tepat. Maksudnya yaitu saat aturan-aturan untuk mencapai keputusan yang bagus cukup sederhana dan stabil, akan tetapi pada kenyataannya pilihan-pilihan jarang ada yang sederhana, dan kunci menuju keberhasilan keuangan, paling tidak dalam jangka pendek dapat menjadi sangat tidak stabil. Tambahan, heuristic juga dapat mendorong untuk memiliki penilaian yang dirasa benar, sehingga biasanya keyakinan tersebut akan menuntun pada hasil yang bias, terkususnya pada saat memprediksi. Tambahan, Kadir (2001 dalam Enawati 2008) menambahkan bahwa berperilaku irasional (biases) biasanya bertindak tanpa logika dan dimungkinkan sebagian besar oleh
5

Peter Garlans Sina 2011

suatu respon emosional. Kondisi ini membahayakan karena semuanya tidak dapat dilihat dan terkait langsung dengan proses pikiran atau keyakinan dan preferensi seseorang, dan hal ini yang membuat seseorang gagal dalam memahaminya, meskipun pada saat itu berada di dalamnya.

Faktor-Faktor Psikologi
Shefrin (2007) membagi bias-bias yang dialami investor menjadi sepuluh, sedangkan Baker dan Nofsinger (2002) mengkategori bias menjadi dua bagian utama yaitu bagaimana investor berpikir dan bagaimana investor merasa. Peneliti lain yaitu Pompian (2006) membagi behavioral finance menjadi dua bagian. Tepatnya yaitu behavioral finance micro yang menguji perilaku-perilaku atau bias-bias dari individual investor yang membedakannya dari perilaku rasional yang dikemukakan oleh teori ekonomi klasik. Sedangkan behavioral finance macro mendeteksi dan mendeskripsikan anomali-anomali dalam hipotesis pasar efisien yang mungkin dapat dijelaskan dengan model behavioral finance. Oleh karena itu dalam paper ini akan mencoba membahas bias-bias seperti excessive optimism, overconfidence, representativeness bias, availability bias, cognitive dissonance, mental accounting dan regreat aversion. Excessive optimism Menaksir terlalu tinggi seberapa sering mendapatkan hasil yang baik dan menaksir terlalu rendah seberapa sering mendapatkan hasil yang buruk. Optimis merupakan sikap yang diharapkan dimiliki oleh semua investor disebabkan pengaruhnya terhadap perilaku yang selalu berusaha mencapai hasil yang ditargetkan, namun apabila optimis menjadi berlebihan maka akan membuat investor menjadi tidak realistis dengan keadaan rill yang dihadapi atau menyepelekan risiko yang akan terjadi (Bratvold, Begg & Campbell, 2005). Baker dan Nofsinger (2002) menyatakan bahwa suasana hati (mood) mempengaruhi cara investor menganalisis dan membuat pertimbangan. Seseorang yang dalam keadaan suasana hati baik (good mood) akan menjadi lebih optimis ketika membuat keputusan keuangan daripada yang suasana hati buruk (bad mood). Ketika bad mood maka individu akan lebih kritis, hal ini akan membantu individu menggunakan analisis yang lebih mentail, sebaliknya adalah seseorang yang sedang good mood cenderung kurang kritis ketika mengolah informasi. Lanjut bahwa mood ini akan berpengaruh secara relatif ketika investor menimbang informasi yang kurang dapat dipercaya atau tidak akurat. Tentu saja situasi ini menggambarkan lingkungan investasi. Bad mood menyebabkan investor
6

Peter Garlans Sina 2011

lebih kritis menganalisis pasar saham dan sebaliknya good mood menyebabkan investor relatif tidak menggunakan analisis informasi yang lebih tepat. Oleh karena itu, pembuatan keputusan investasi saat dalam kondisi bad mood menyebabkan investor membeli saham tanpa melakasanakan analisis yang memadai, dan berakibat lanjutan pada penyesalan di masa mendatang. Masih dari sumber yang sama dijelaskan bahwa efek mood pada keputusana dapat menjadi dramatik. Tetapi hal tersebut mempengaruhi keputusan investor. para psikolog telah melaksanakan eksperiment bahwa pengaruh mood/optimis dan perilaku investor akan cukup sulit untuk dilakukan pada ekonomi keuangan. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi mood dan tingkatan optimisadalah efek kegembiraan (sunshine). Beberapa dekade yang lalu, para psikolog telah mendokumentasikan bagaimana efek kegembiraan pada keputsuan yang dibuat. Kegembiraan mempengaruhi mood dan optimis, yang mana mempengaruhi keputusan. Jika investor dalam keadaan gembira, investor akan menjadi lebih optimis tentang prospek masa depan. Oleh karena itu, investor akan lebih mungkin membeli saham daripada investor menjual saham. Jika tendensi untuk membeli saham lebih daripada membeli mempengaruhi investor, maka hal ini juga memiliki pengaruh pada pasa saham. Kahneman dan Riepe (1998) memperkuat bahwa investor yang optimis akan underestimasi peluang mengalami hasil yang buruk yang mana sebenarnya berada diluar kontrol mereka. Germain, Rousseau dan Vanhems (2006) memperkuat dengan menyatakan bahwa investor yang tidak realistik dapat menjadi tidak realistik mengenai return aset dan mempercayai bahwa harapan untuk mendapatkan return akan tercapai. Lanjut bahwa investor yang optimis percaya akan memperoleh hasil positif dan sebaliknya investor yang pesimis akan mempercayai memperoleh hasil negatif. Selain itu, investor yang optimis akan meyakini volatilitas return aset lebih daripada informasi privat yang bias. Karamanou (2011) menyatakan bahwa optimis yang berlebihan menyebabkan investor mengabaikan informasi keuangan yang tidak disenangi dan begitu juga sebaliknya. Hal ini akan menyebabkan investor menggunakan informasi yang terpisah atau kadangkala tidak relevan untuk membuat keputusan transaksi. Selain itu juga investor bertendensi membuat ramalan yang bias serta tidak mampu melakukan penyesuaian yang tepat ketika menerima informasi. Nalarnya adalah investor yang optmis relatif menyepelekan informasi karena adanya dorongan rasa kegembiraan yang pada kenyataannya adalah semu atau sementara. Dengan menyepelekan informasi maka investor akan kurang menggunakan logikanya ketika membuat keputusan keuangan. Tanpa penggunaan maka investor akan meningkatkan peluang mengalami kerugian (risk).
7

Peter Garlans Sina 2011

Overconfidence Kesalahan prediksi mengenai seberapa baik seseorang memahami kemapuannya dan batas pengetahuannya, seseorang membuat kesalahan lebih sering dari yang mereka percayai dan melihat diri mereka lebih baik dari rata-rata. Penyebab dari overconfidence yaitu kepercayaan diri yang berlebihan bahwa informasi yang diperoleh mampu dimanfaatkan dengan baik karena memiliki kemampuan analisis yang akurat dan tepat, namun hal ini sebenarnya merupakan suatu ilusi pengetahuan dan kemampuan dikarenakan adanya beberapa alasan seperti pengalaman yang kurang dan keterbatasan keahlian mengintepretasi informasi (Baker & Nofsinger 2002). Sumber berbeda, Glaser dan Weber (2003) mengatakan bahwa ada tiga aspek/elemen dari overconfidence yaitu : Pertama, miscalibration yaitu probabilitas subyektif akan lebih tepat daripada probabilitas yang sesungguhnya. Kedua, betterthan-average effect yaitu orang cenderung berpikir bahwa dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata. Ketiga, illusion-of-control yaitu suatu keyakinan yang lebih dalam hal kemampuan untuk memprediksi atau hasil yang lebih memuaskan ketika seseorang memiliki keterlibatan yang lebih di dalamnya. Menurut Suharnan (2005) sebagaiman dikutip Enawati (2008) bahwa overconfidence adalah kepercayaan yang berlebihan terhadap akurasi keputusankeputusan yang dibuat. Alasan-alasan yang membuat seseorang memiliki kepercayaan yang berlebihan, antara lain: hasil perhitungan statistik, keahlian yang telah dikuasai, permasalahan yang terjadi saat ini mempunyai kesamaan ciri-ciri pokok dengan permasalahan sebelumnya, pengalaman keberhasilan, sesuai dengan hipotesis yang telah ada dalam pikiran, dapat mengendalikan sepenuhnya terhadap situasi. Nofsinger (2005) sebagaimana dikutip Iramani dan Bagus (2008) menyatakan bahwa faktor kepercayaan diri berkaitan dengan rasa percaya diri yang ditujukkan oleh investor dalam transaksi jual beli saham di bursa. Rasa percaya diri yang berlebihan menyebabkan investor menaksir terlalu tinggi terhadap pengetahuan yang dimiliki, menaksir terlalu rendah terhadap risiko dan melebih-lebihkan kemampuan dalam hal melakukan kontrol atas apa yang terjadi. Selain itu, investor dapat menjadi overconfidence terhadap kemampuan, pengetahuan dan kemungkinan di masa yang akan datang. Rasa percaya diri yang berlebihan dapat menyebabkan investor melakukan perdagangan yang berlebihan yang berakibat pada rendahnya return portofolio yang didapat. Overconfidence juga dapat menyebabkan investor menanggung risiko yang lebih besar. Hasil penelitian Barber dan Odean (2001) serta Bhandari dan Deaves (2006) juga menemukan hasil bahwa investor yang overconfidence bertendensi melakukan
8

Peter Garlans Sina 2011

transaksi yang berlebihan. Terjadinya transaksi yang berlebihan menyebabkan investor tidak mengkalkulasi biaya-biaya transaksi sehingga mengurangi perolehan imbal hasil. Lebih jauh, penelitian tersebut juga menemukan bahwa laki-laki cenderung lebih mengalami overconfidence dibandingkan perempuan. Hal ini terjadi karena perempuan tidak terlalu banyak bertransaksi daripada perempuan sehingga perempuan akan relatif lebih tinggi memperoleh return. Chen, Kim dan Nofsinger (2007) juga menemukan hasil serupa bahwa investor akan cenderung melakukan transaksi yang tidak rasional. Mengapa tidak rasional karena pada saat melakukan transaksi seharusnya investor mengkalkulasi secara tepat atas informasi namun dnegan tendensi overconfidence maka investor hanya akan merasa pintar walaupun pada kenyataannya tidaklah demikian. Representativeness Bias Representativeness bias diartikan sebagai stereotip yang bias, dan menyebabkan investor membuat keputusan keuangan yang keliru. Maksud dari keputusan yang bias yaitu pembuatan keputusan keuangan yang mengabaikan nilai fundamental (fundamental value) suatu saham, sehingga membalikkan prinsip beli murah dan jual mahal (buy low-sell high). Lebih lanjut, akibat dari pembalikan prinsip tersebut adalah memaksimalkan risiko dan meminimalkan return. Tanpa perolehan return maka investor akan mengalami pencapaian kesejahteraan yang bias (Hirschey & Nofsinger 2008). Kahneman dan Riepe (1998) juga menyatakan hal yang tidak jauh berbeda bahwa investor yang mengalami representativeness bias cenderung bereaksi berlebihan pada saat memproses informasi untuk membuat keputusan transaksi. Penjelasannya, ketika investor menerima informasi, dan informasi tersebut sesuai dengan gambaran mentalnya maka investor akan bereakasi tidak normal dan memicu munculnya fenomena anomaly winner-looser, yaitu fenomena terjadi pembalikan harga saham yang tinggi menjadi rendah, dan begitu juga yang terjadi pada sahamsaham yang menunjukkan trend penurunan. Lebih lanjut, fenomena di atas akan membuat investor mengalami kerugian karena menjual saham dengan harga yang lebih murah. Bukti lain yaitu Lakonishok, Shleifer, dan Vishny (1994) membuktikan bahwa cara berpikir representativeness bias yang menyebabkan investor salah dengan menyangka jika perusahaan bagus selalu menjadi investasi bagus. Lebih lanjut, akan berefek domino pada perilaku investor untuk melakukan ekstrapolasi kinerja masa lalu terhadap kinerja dimasa mendatang. Selain itu, ketiga peneliti juga menemukan bahwa strategi berbasis nilai atau strategi kontrarian akan lebih menguntungkan investor daripada strategi investasi berbasis pertumbuhan. Riset
9

Peter Garlans Sina 2011

sebelumnya didukung juga oleh Marsden, Veeraraghavan dan Ye (2008) yang membuktikan bahwa analist pasar saham di Australia memiliki tendensi mengalami representativeness bias dalam pembuatan keputusan keuangan sehingga memicu munculnya perilaku overreaction terhadap informasi. Sumber berbeda, Kaestner (2005) bahwa perilaku harga saham yang terjabarkan melalui fenomena overreaction disebabkan oleh representativeness bias atau lebih spesifiknya yaitu investor melakukan ekstrapolasi pengumuman pembagian pendapatan yang baru saja terjadi sebagai sinyal kemasa yang akan datang bahwa kinerja tersebut akan terulang lagi dan menyebabkan perilaku overreaction yang terkristalkan dalam harga saham. Bukti serupa, Franses (2007) bahwa perilaku penasihat keuangan dalam upaya meramalkan harga saham seperti melakukan penjudian karena mendasarkan peramalan pada kesuksesan yang baru dialami sebagai dasar pengambilan keputusan dengan harapan akan terulang lagi dan bertendensi terjadinya bias return. Hal senanda juga ditemukan oleh Dhar dan Kumar (2001) dalam Baker dan Nofsinger (2002) bahwa investor dalam membuat keputusan pembelian hanya pada saham-saham yang menunjukkan trend meningkat pada masa lalu seperti 0,6% pada periode seminggu sebelum pembelian, 1,2% periode dua minggu sebelum pembelian, 2,2% periode satu bulan sebelum pembelian dan 7,3% periode tiga bulan sebelum pembelian. Dengan demikian, perilaku ini mencerminkan bahwa investor akan menjadi optimis akan masa depan jika trend harga menunjukkan kenaikkan dan menjadi optimis jika trend harga menunjukkan penurunan, sehingga secara eksplisit investor telah mengabaikan adanya faktor ketidakpastian dalam pasar saham. Tidak jauh berbeda, Baquero dan Verbeek (2006) juga menemukan hasil serupa dalam pola pengambilan keputusan keuangan bahwa terdapat suatu pola penilaian akan kinerja di masa yang akan datang. Maksudnya, investor memiliki kesadaran akan isi dari informasi kinerja masa lalu, apabila pola aliran dana positif maka investor akan cendrungan percaya bahwa pola tersebut akan berkelanjutan di masa yang akan datang dan begitu juga sebaliknya. Riset lainnya, Iramani dan Bagus (2008) menemukan hasil bahwa tidak ditemukan adanya perbedaan yang siginifikan antara laki-laki dan perempuan untuk menggunakan cara berpikir representativeness bias dalam membuat keputusan keuangan. Bukti tambahan, Chen et al (2007) melalui risetnya tentang kinerja perdagangan, disposition effect, overconfidence, representativeness bias, dan pengalaman investor pada pasar yang baru didirikan. Lebih jauh, hasil riset ketiga peneliti sebelumnya menemukan bahwa variabel-variabel demografi seperti investor setengah baya, investor yang aktif, investor yang berpendapatan lebih, pengalaman investor, serta investor yang bertempat tinggal di kota kosmopolitan menunjukkan
10

Peter Garlans Sina 2011

kecenderungan terjadinya kesalahan berpikir (cognitive bias) dalam pembuatan keputusan investasi atau lebih tepatnya mengalami bias-bias (disposition effect, overconfidence, representativeness bias) dalam proses pembuatan keputusan keuangan. Availability Bias Shefrin (2007) menyatakan bahwa availability bias menunjukkan adanya kecenderungan seseorang dalam pengambilan keputusan lebih mengandalkan informasi yang ada dalam memorinya. Padahal memorinya atau daya ingat seseorang terbatas sehingga ada kecenderungan pengambilan keputusan menjadi bias. hal tersebut disebabkan informasi yang mudah diingat oleh seseorag antara lain peristiwa yang baru saja terjadi (recency), lebih familiar (familiarity), kejelasan informasi dan mempunyai ikatan emosi yang kuat. dengan availability bias kemungkinan pengambilan keputusan yang dilakukan kemungkinan bersifat spontan, kurang fokus disebabkan pikiran seseorang sedang tercurah pada masalah tertentu dan cenderung memilih investasi keputusan yang dianggapnya sudah familiar. Rubaltelli (2001) memperkuat dengan menjelaskan bahwa availability yang diartikan sebagai mendasarkan pada informasi yang lebih tersedia dan relatif berintuisi terhadap informasi yang utama dan lebih abstrak. Implikasi dari aspek ini adalah individu akan menggunakan pengalaman masa lalunya yang tersimpan dalam memorinya untuk mengambil suatu keputusan sehingga keputusan yang diambil akan sangat dipengaruhi oleh kapasitas memori atau kemampuan mengingat kembali, namun hal ini akan mengakibatkan ketidakoptimalan dalam efektifitas keputusan disebabkan pengalaman dalam mengambil keputusan oleh individu tersebut juga dipengaruhi oleh faktor emosional sehingga kemungkinan kesalahan berpikir bertendensi terjadi. Tidak jauh berbeda, Baker dan Nofsinger (2002) menjelaskan bahwa seseorang sering lebih menyukai sesuatu yang telah familiar bagi mereka. Konsekwensinya, investor cenderung terlalu mempercayai saham-saham yang familiar. Sebab saham-saham tersebut familiar, investor cenderung percaya bahwa saham yang dipilih lebih rendah risikonya daripada saham-saham yang tidak familiar dan lebih baik untuk dimasukkan ke dalam kebijakan diversifikasi portofolio. Dampak lainnya dari bias ini adalah investor cenderung akan memilih saham-saham dari perusahaan yang berada dalam negeri daripada yang berada di luar negeri (home bias). Barber dan Odean (2007) membuktikan bahwa ketika hendak membeli atau menjual saham, investor cenderung hanya mempertimbangkan saham-saham yang baru saja menarik perhatian mereka, seperti saham yang baru saja diberitakan,
11

Peter Garlans Sina 2011

pengalaman saham yang memiliki volume perdagangan yang tidak normal, saham dengan pengalaman ekstrim yang terdeskripsikan dalam return harian. Selain itu juga bahwa bias ini dapat mengakibatkan investor optimis yang keliru karena menyangka saham dari perusahaan yang mereka bekerja sedang menunjukkan kenaikkan maka investor akan semakin yakin bahwa saham yang mereka kenal merupakan sahamsaham yang berkualitas, walaupun pada kenyataannya tidak senantiasa demikian. Cognitive Dissonance Salah satu alasan bahwa belajar dari kesalahan masa lalu itu sulit disebabkan otak (brain) memfilter memori. Untuk menghindari ketidaksesuaian antara dua hal, otak memfilter informasi yang berkorelasi dengan memori. Cognitive dissonance adalah ketidakkonsistenan gambaran mental yang mendahului proses penyesuaian. Yaitu, orang cenderung mengabaikan, menolak, atau meminimalisasi berbagai informasi yang tidak sesuai (conflicts) dengan fakta-fakta atau pun keteranganketerangan. Cognitive dissonance menyebabkan investor menghindari atau mengurangi keyakinan-keyakinan yang tidak sesuai dan mencari dukungan dengan informasi yang disukai (Baker & Nofsinger 2002). Lanjut, otak investor akan mengurangi gambaran psikologis dengan menyesuaikan keyakinan tentang kesuksesan pilihan masa lalu. Yaitu, investor akan mengingat kinerja masa lalu mereka lebih daripada yang sebenarnya. Widyastuti memperjelas bahwa contoh dari ketidakberaturan kognitif keuangan (financial cognitive dissonant) adalah saat investor mengubah gaya/ keyakinan investasi untuk mendukung keputusan keuanganya. Misalnya investor yang mengikuti gaya investasi tradisional (penganut analisis fundamental) dengan mengevaluasi perusahaan dengan menggunakan kriteria-kriteria keuangan, seperti price earnings ratio, yang mulai mengubah keyakinan investasinya (misalnya pada investor yang membeli saham-saham berbasis internet padahal ukuran keuangan tidak dapat diterapkan pada perusahaan jenis ini karena tidak ada/kurangnya sejarah keuangan, pendapatan yang relative rendah, serta masih banyak yang merugi). Contoh lainnya dari mengalami cognitive dissonance adalah investor sulit belajar dari kesalahan masa lalu. Hal ini terjadi karena investor lebih melihat kesalahan masa lalu sebagai ketidakberuntungan sehingga tidak melakukan kalkulasi probability lagi. tanpa mengkalkulasi probability maka investor secara eksplisit mengabaikan pelajaran berharga dari masa lalu, atau dengan kata lain investor condong akan tidak melakukan penyesuaian keyakinan lagi untuk membuat keputusan keuangan di masa depan (Pompian 2006). Masih dari sumber yang sama dijelaskan juga bahwa cognitive dissonance menyebabkan investor menahan sekuritas yang seharusnya dijual karena investor meau menghidari rasa penyesalahan
12

Peter Garlans Sina 2011

yang dihubungkan dengan keputusan buruk yang dibuat. Kedua adalah cognitive dissonance dapat menyebabkan investor melanjutkan investasi dalam sekuritas yang telah dimiliki walaupun saham tersebut sedang terus menurun karena berusaha menghindari konflik dengan keyakinannya. Ketiga adalah dapat menyebabkan investor ikut-ikutan investor lainnya, yaitu investor yang menghindari informasi yang berseberangan dengan keyakinan awal (earlier decision). Dengan kata lain investor lebih mempercayai infomasi dari investor lainnya sehingga menolak menerima dan mengalisis informasi yang seharusnya diikuti. Keempat adalah investor akan membeli saham yang sedang keadaan tinggi karena meyakini akan memperoleh return yang abnormal, walaupun pada kenyataannya investor tidak menyadari bahwa membeli saham dengan harga tinggi tidak selalu akan memberi return. Hal ini terjadi karena investor menolak informasi yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Mental Accounting Thaler (1990) menyatakan bahwa dalam pengelolaan pembelanjaan, seseorang seringkali mengalami kesulitan untuk bertindak rasional. Hal ini didasari alasan bahwa ada keterbatasan pada kemampuan kognitif. Keterbatasan ini menyebabkan seseorang menyimpang dari prinsip fungibility. Maksudnya adalah seseorang seringkali tidak menganggap uang memiliki nilai yang sama. terkait mental accounting yang pertama kali di gagas oleh Richard Thaler, profesor dari School of Business Chicago. Menurut Thaler, mental accounting is the set of cognitive operation use by individuals and household to code, catagorize and evaluate financial activities. Jadi, menurutnya, mental accounting itu merupakan suatu rangkain operasi kognitif yang dipergunakan oleh individu maupun rumah tangga dalam mengkode, membuat kategori, dan mengevaluasi aktivitas finansialnya. Mental accounting berfokus pada bagaimana seyogianya seseorang menyikapi dan mengevaluasi suatu situasi saat terdapat dua atau lebih kemungkinan hasil, khususnya bagaimana mengkombinasikan kemungkinan-kemungkinan hasil tersebut (Suweca 2010). Tidak jauh berbeda, Antonides (2010) juga menyatakan bahwa pada umumnya pengelolaan keuangan, seseorang seringkali berperilaku tidak rasional, dan hal ini mengakibatkan penyimpangan ketika membuat keputusan keuangan. Sumber lainnya, Davis (2003) sebagaimana dikutip Supramono dan Damayanti (2011) juga menyatakan bahwa mengapa seseorang menggunakan mental accounting? Karena memungkinkan transaksi akan dievaluasi secara terpisah dari transaksi lainnya. Hal ini akan mengurangi beban kognitif pengambil keputusan sehingga pengambilan keputusan akan lebih mudah. Peneliti lain yaitu Widyastuti bahwa mental accounting merujuk pada
13

kecenderungan

investor

untuk

Peter Garlans Sina 2011

mengelompokkan keuangan mereka pada rekening yang berbeda-beda didasarkan pada kriteria-kriteria yang subjektif, seperti sumber pendanaan dan maksud pemanfaatan penghasilan. Pengalokasian fungsi yang berbeda pada setiap rekening ini seringkali menyebabkan dampak irasional pada keputusan keuangan yang diambil (baik dalam hal pembelanjaan maupun tabungan), yang menyimpang dari konsep ekonomi konvensional. Ilustrasi permasalahan ini adalah investor yang memiliki alokasi dana untuk berinvestasi dan untuk konsumsi. Dana yang dialokasikan untuk investasi (misalkan dengan tujuan biaya pendidikan di masa yang akan datang) diperlakukan secara berbeda dengan dana yang dipergunakan untuk membayar hutang (misalnya dana yang dipergunakan untuk menyicil kendaraan pribadi), dengan tidak memperhatikan kenyataan bahwa mengalihkan dana yang digunakan untuk membayar hutang menjadi dana untuk investasi berpotensi untuk meningkatkan pembayaran bunga hutang yang pada akhirnya akan mengurangi kekayaan bersih investor yang bersangkutan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bukan merupakan hal yang logis apabila investor memiliki simpanan dengan tingkat pengembalian 10% per tahun, sementara investor tersebut harus membayar bunga kartu kredit sebesar 20% per tahun. Dimana dalam kasus ini, tindakan yang paling logis yang dilakukan oleh investor adalah menggunakan dana yang tersedia untuk membayar hutang. Perilaku yang tidak rasional ini didasari pada persepsi nilai yang ditempatkan oleh masing masing individu pada asset-asset yang dimilikinya. Sebagai contoh, beberapa orang mungkin merasa bahwa menyisihkan dana untuk membeli rumah atau dana pendidikan putra/ putrinya bahkan alokasi dana liburan merupakan hal wajib yang sangat penting. Sehingga pengalokasian dana untuk keperluan ini tidak dapat diganggu gugat, untuk keperluan apapun, termasuk keperluan yang dapat mendatangkan manfaat keuangan. Penyimpangan mental accounting prilaku ekonomi yang disebutkan diatas juga dapat dianalogikan dengan seluruh populasi dan pasar keuangan, yang dapat membantu untuk menjelaskan pandangan yang berbeda terhadap uang, dimana sebagian asset yang dimiliki diperlakukan sebagai safety capital yang diinvestasikan pada investasi-investasi yang memiliki tingkat resiko yang rendah (dan tingkat pengembalian yang rendah) sementara pada waktu yang bersamaan sebagian asset lain diperlakukan sebagai risk capital yang memiliki resiko tinggi, yang berbeda dengan cara pandang ekonomi konvensional. Sebagai contoh, beberapa investor membagi investasinya menjadi investasi portofolio yang aman (safe investment) dan juga investasi yang bersifat spekulatif dalam rangka mencegah tingkat kerugian yang mungkin terjadi. Hal yang menjadi perhatian adalah investasi yang terbagi dalam beberapa jenis portofolio ini, akan memberikan
14

Peter Garlans Sina 2011

pertambahan nilai yang sama pada investor apabila dia memiliki satu jenis portofolio yang besar dalam investasinya. Regret Aversion Regret aversion adalah keputusan untuk bertindak menghindari kesalahan keputusan yang sama karena adanya rasa takut menghadapi kerugian yang sama di dalam diri seseorang. Pompian (2006) sebagaimana dikutip Yohnson menjelaskan bahwa regret aversion menunjukkan tindakan menghindari konsekuensi sama secara tegas karena ada perasaan takut. Pada dasarnya, jenis bias ini berusaha mencegah rasa sakit dari penyesalan yang dihubungkan dengan kesalahan keputusan. Regret aversion juga membuat orang terlalu kuatir tentang perubahan di pasar keuangan yang akhirakhir ini yang menghasilkan kerugian. Ketika orang mengalami hasil investasi yang negatif, secara naluri mereka merasa didorong untuk konservatif dan mundur. Bagaimanapun juga periode terjadinya harga turun sering menjadi peluang yang baik untuk membeli. Masih dari sumber yang sama dijelaskan bahwa regret aversion tidak terjadi hanya pada saat mengalami kerugian tetapi juga pada saat seseorang mengalami keuntungan. Regret aversion Investor biasanya menjadi reluctant seperti contoh untuk menjual saham yang nilainya naik terus dari indikator menunjukkan dengan tegas harus jual. Sebaliknya, regret averse berpegang teguh pada posisi tersebut dimana seharusnya dia jual. Lanjut bahwa regret aversion bias diatas menyebabkan investor menjadi terlalu konservatif, terlalu antipati terhadap pasar karena pasar turun terus, investor pada posisi rugi yang cukup lama, muncul herding behavior pada investor, investor menyukai good companies, investor menunggu jual saham-saham yang sudah bagus. Kristianti (2008) menambahkan dengan menyatakan bahwa regret aversion juga menjadi alasan mengapa orang cenderung memilih cash dividend dibandingkan stock dividend. Bandingkan dua kasus ini. Pertama, anda memperoleh $600 dari dividend, dan menggunakannya untuk membeli televise (cash dividend). Kedua adalah anda menjual saham yang berharga $600, dan memakai uang untuk membeli televise (stock dividen). Lanjut bahwa setelah itu tiba-tiba harga saham meningkat tajam. Dikasus mana anda akan merasa menyesal? Investor akan mengalami penyesalahn lebih dalam pada kondisi kedua, jika dia menjual sahamnya kemudian mengalami kenaikkan. Hal ini berbeda jika investor membelanjakan uang dari hasil dividen, kemudian harga sahamnya naik. Investor tersebut selain menikmati dividen juga masih dapat menikmati capital gain dari kenaikkan harga saham tersebut. Senada Yahyazadehfar, Ghayekhloo dan Sadeghi menyatakan bahwa orang yang mengalami penyesalan ketika mereka melihat keputusan mereka telah saham
15

Peter Garlans Sina 2011

bahkan telah dianalisis menggunakan informasi baru. Regret aversion muncul dari hasrat investor untuk menghindari dari penyesalan akibat keputusan investasi yang salah. Bias ini mendorong investor untuk menahan saham yang berkinerja buruk untuk dijual supaya terhindar dari kerugian. Sebaliknya regret aversion dapat terjadi ketika investor menjual saham yang dalam trend menurun. Nalarnya adalah ketika menjual saham tersebut dan secara mengejutkan harga saham tersebut meningkat lagi maka investor akan menyesali keputusan transaksinya tersebut sehingga pada keputusan-keputusan keuangan di masa mendatang, investor akan berupaya untuk menghindari penyesalan tersebut.

Penutup
Kehadiran keuangan berbasis perilaku merupakan terobosan penting karena membuka fakta dan memberi penjelasan mengapa investor menyimpang dari standar normati. Lanjut, hal ini merupakan suatu kemajuan yang berarti seperti yang diungkapkan oleh Nofsinger (2005) sebagaimana dikutip Putlia (2008) bahwa kesalahan investor yang cenderung bias membuat keputusan keuangan mulai perlahan-lahan terpecahkan. Nalarnya adalah dengan memahami berbagai bias-bias, investor telah satu langkah maju untuk membuat keputusan transasksi yang berpeluang tepat. Dalam arti kata bahwa investor dapat secara sadar menganalisis apakah keputusan keuangan yang telah dibuat terindikasi mengalami bias ataukah tidak. Terkait kesadaran investor, kehadiran keuangan berbasis perilaku mengarahkan investor untuk berusaha menajamkan logikanya sehingga tidak terjerumus kedalam permainan bias. Hal ini perlu diperhatikan karena seperti yang diungkapkan oleh Baker dan Nofsinger (2002) bahwa jika bias-bias tersebut terindikasi ada korelasi, maka investor yang mengalami salah satu bias akan berpeluang juga mengalami bias yang lain dan hal ini akan meningkatkan peluang perolehan risiko dari keputusan keuangan yang dibuat sebelumnya. Ditujukan untuk mempertajam ulasan di atas, dalam paper ini mencoba memberikan solusi yaitu ketika investor akan membuat keputusan keuangan, sebaiknya investor tidak secara terburu-buru melainkan dipikirkan secara tepat. Dengan kata lain, investor jangan membuat keputusan keuangan yang terlalu cepat tanpa didahului pertimabangan yang tepat sasaran, seperti yang diungkapkan oleh Graham (2008) bahwa investor perlu melakukan berpikir dua kali (think twice) sebelum bertransaksi saham.

16

Peter Garlans Sina 2011

Daftar Pustaka
Baker, K. H. & Nofsinger, R. J. 2002. Psychological biases of investors. Financial services review 11 (2002) 97-116 Baquero, G. & Verbeek, M. 2006. Do sophiscated investor believe in the law of small number?, http://www. Google.com- the Law of Small Numbers. Diunduh 22 januari 2010 Barber, B. M. & Odean, T. 2001. Boy will be boys: gender, overconfidence, and common stock investment. The Quarterly Journal of Economics, February 2001 Barberis, N. & Thaler, R. 2003. A survey of behavioral finance. Handbook of the Economics of Finance 2003 Elsevier Science B.V Barber, Brad M. and Terrance Odean, 2007, All that Glitters: The Effect of Attention and News on the Buying behavior of Individual and Institutional Investors, Review of Financial Studies, Access published online on December 24, 2007 Bhandari, G. & Deaves, R. 2006. The Demographics of Overconfidence. The Journal Of Behavioral Finance 2006, Vol 7, No. 1, 5-11 Bratvold, B, R, Begg, H, S and Campbell, M, J. Decision-making under uncertainty. Heiristics and biases in reasoning. Revised January 2005 Chen, G, Kim, K. A. & Nofsinger, J. R. 2007. Trading Performance, Disposition Effect, Overconfidence, Representativeness Bias, and Experience of Emerging Market Investors. Journal of Behavioral Decision Making J. Behav. Dec. Making, 20: 425451 (2007) Published online 9 February 2007 in Wiley InterScience (www.interscience.wiley.com) DOI: 10.1002/bdm.561 Enawati, M. 2008. Pendekatan heuristik dalam pengambilan keputusan Keuangan Survey Pada Manajer UKM Rokok Di Kudus. Tesis Program S2 Magister Manajmen Universitas Kristen Satya Wacana (tidak dipublikasikan). Franses, P. H. 2007. Experts adjusting model-based forecast and the Law of Small Numbers. Econometric Institute Report 2007-4 Glaser, M. &. Weber, M. 2003. Overconfidence and Trading volume, Working Paper, Universitt Mannheim. Graham, B. 2008. The Intelligent Investor. Serambi. Jakarta Hirschey, M. & Nofsinger R. J. 2008. Invesment; Analysis and behavioral. McGraw-Hill/Irwin. New York-America, 10020 Iramani, R. & Bagus, D. 2008. Faktor-faktor penentu perilaku investor dalam transaksi saham di Surabaya. Jurnal Aplikasi Manajemen volume 3 desember 2008 Ivada, W. 2010. Pengaruh kompetensi investor dan overconfidence terhadap frekuensi perdagangan. Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (dipublikasikan). Kompas. 2011. Eropa dan China menekan IHSG. Edisi 19 Oktober 2011 Kompas. 2011. Investor Masih Bias Tanggapi Eropa. Edisi 27 September 2011 Kompas. 2011. Kekhawatiran investor atas inflasi dinilai terlalu berlebihan. edisi 10 januari 2011 Kaestner, M. 2005. Anomalous Price Behavior Following Earnings Surprises: Does Representativeness Cause Overreaction?. Universite Montpellier II Kahneman, D. & Riepe, M. W.1998. Aspects of Investor Psychology: Beliefs, preferences, and biases investment advisors should know about. Reprinted with permission from Journal of Portfolio Management, Vol. 24 No. 4, Summer 1998, copyright Institutional Investor, Inc. Karamanou, I. 2011. On the Determinants of Optimism in Financial Analyst Earnings Forecasts: The Effect of the Markets Ability to Adjust for the Bias. ABACUS, Vol. 47, No. 1, 2011 Kristianti, R. A. 2008. Preferensi investor terhadap cash dividend atau stock dividend. Usahawan NO 06 TH XXXVII 45 Lakonishok, J, Shleifer, A. & Vishny, R. W. 1994. Contrarian investment, extrapolation and risk. The journal of finance Vol XLIX, No 5 Marsden, A, Veeraraghavan, M. & Ye. M. 2008. Heuristics of Representativeness, Anchoring and Adjustment, and Leniency: Impact on Earnings: Forecasts by Australian Analysts. Quarterly Journal of Finance and Accounting, Vol. 47, No. 2 McEachern, W. A. 2001. Ekonomi Mikro. Penerbit Salemba Empat. Jakarta OkeZone. 2011. IHSG Jeblok, Investor Terlalu Berlebihan. ihsg-jeblok-investor-terlaluberlebihan.htm Pompian, M. M. 2006. Behavioral Finance and Wealth Management. New York: John Wiley & Sons, Inc, 2006

17

Peter Garlans Sina 2011

Putlia, P. 2008. Persepsi dan aspek psikologis dalam pengambilan keputusan hutang studi pada home industry. Tesis Program S2 Magister Manajmen Universitas Kristen Satya Wacana (tidak dipublikasikan). Rubaltelli, E. Psychology of financial markets: cognitive biases, risk perception, and collective/social behaviors. Psychology of financial markets. 2001 Shefrin , H. 2007. Behavioral corporate finance: decision that create value. McGraw-Hill/Irwin Supramono dan DamayantiT, W. 2011. Realitas mental accounting : studi pada perlakuan pendpatan ekstra. Manajemen Usahawan Indonesia Vol 40 No 2 Thaler, R. H. 1990. Saving, fungibility and metal accounts. Journal of economic perpective , 4, 193205 Widyastuti, A. Behavioural Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan. Dipresentasikan di LMFE UNPAD Yahyazadehfar, M, Ghayekhloo, S. & Sadeghi, T. The Influence of Investor Psychology On Regret Aversion. Yohnson. (2008). Regreat aversion bias dan risk tolerance investor muda Jakarta dan Surabaya. http://www. Bias perilaku.com. 14 maret 2008. Zweig, J. 2009. Cara kerja menakjubkan neuroekonomi. Garailmu, Yogyakarta

18