Anda di halaman 1dari 83

EDISI 35/2011

FREE

EDISI XXXV / 2011

www.thelightmagz.com

THEEDITORIAL

THEEDITORIAL

Dunia berpihak kepada yang muda


Dalam banyak bidang, senioritas, jam terbang dan pengalaman menjadi satu hal yang menjadi alasan bagi kita untuk berguru pada seseorang. Memang pengalaman bisa mengajarkan banyak hal.

COVER BY: SUTRISNO

Namun, harus disadari bahwa di mana pun di seluruh dunia, tidak pernah terjadi situasi yang sama dan berulang. Hal yang pernah terjadi memang ditakdirkan untuk terjadi pada saat itu, dan tidak akan terjadi dengan kondisi yang 100% sama di masa yang akan datang. Kesadaran akan hal ini selayaknya membawa kita untuk tidak hanya melihat kepada para senior, para pendahulu yang sudah membuktikan diri dan menempatkan diri mereka sebagai Tuhan, namun lebih sebagai sebuah referensi untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, lebih sesuai dengan kondisi masa kini.

PT Imajinasia Indonesia,
www.thelightmagz.com

PEMIMPIN PERUSAHAAN:
Ignatius Untung,

CHIEF PHOTOGRAPHY:
Ully Zoelkarnain

Jawaban akan semua masalah di masa kini dan masa depan ada pada kita generasi muda, bukan di mereka yang pernah muda. Fotografi yang harus bertahta di hari ini dan hari esok adalah fotografi kita kaum muda. Rony Zakaria, Sutrisno, Luki Ali adalah 3 sosok kaum muda yang mungkin akan bertahta di hari esok. Pemikiran, semangat dan perjuangannya luar biasa. Pencapaiannya pun hampir bisa disejajarkan dengan mereka yang sudah lebih senior, walaupun usia mereka belum sampai 35 tahun. Mudah-mudahan kehadiran mereka dalam edisi ini menyemangati kita yang muda untuk lebih berani dan lebih baik dalam berkarya. Selamat membaca Ignatius Untung

KONTRIBUTOR:
Rony Zakaria, Sutrisno, Luki Ali

WEBMASTER:
Budi Santoso

IKLAN & KERJASAMA:


Linda Tatang

LAYOUT & GRAPHIC:


Imagine Asia Indonesia
Hak cipta semua foto dalam majalah ini milik fotografer yang bersangkutan dan pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatannya, serta dilindungi oleh Undang-undang. Penggunaan foto-foto dalam majalah ini sudah seijin fotografernya. Dilarang menggunakan foto dalam majalah ini dalam bentuk / keperluan apapun tanpa ijin tertulis pemiliknya.

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

THEEDITORIAL

THEEDITORIAL

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

RONY ZAKARIA, FOTOGRAFI DARI HATI


Saya lebih tertarik mengerjakan sesuatu yang butuh waktu panjang dan bisa saya rasakan. Saya suka prosesnya. Kalau butuh waktu 6 bulan ya memang harus 6 bulan. Nggak bisa dipercepat.
Regenerasi fotografi Indonesia mulai bergulir lebih cepat seiring dengan tumbuhnya industri fotografi, media massa fotografi dan juga lembagalembaga pendidikan fotografi. Salah satu output dari lembaga pendidikan fotografi yang diyakini memiliki potensi di masa yang akan datang adalah Rony Zakaria. Rony mulai mengenal fotografi pada tahun 2004 ketika ia dibelikan sebuah kamera poket oleh ibunya. Mulai saat itu Rony mulai menyibukkan diri dengan fotografi. Mulai dari mencoba-coba memotret hingga pada usaha pencarian literature dan referensi fotografi dunia. Tahun 2006 Rony memutuskan untuk memerdalam kemampuan fotografinya dengan berguru di lembaga pendidikan GFJA (Antara-red) Jakarta. Di antara saya punya banyak teman berdiskusi, membangun network tegasnya. Rony merasa melalui diskusi-diskusi tersebutlah ia banyak mendapat pengetahuan dan wawasan baru. Di Antara ia merasa berhutang pada Oscar Motuloh dan Rully Kesuma, dua orang mentornya. Di tahun 2007 Rony berangkat ke Angkor Photo Workshop. Di sana saya melihat opsi lain. Kita dibukakan matanya bahwa jurnalistik bukan sebatas pada kerja di media. Tapi ada banyak opsi lain yang bisa kita ciptakan sendiri. Ungkapnya. Wawasan dan pola pikir seperti itulah yang pada akhirnya menjadi modal Rony untuk terus berkarya dan bertahan sebagai seorang fotografer jurnalistik freelance. Berbicara mengenai subject fotografi yang menarik bagi Rony, ia menEDISI XXXV / 2011

Di sana saya melihat opsi lain. Kita dibukakan matanya bahwa jurnalistik bukan sebatas pada kerja di media. Tapi ada banyak opsi lain yang bisa kita ciptakan sendiri.

EDISI XXXV / 2011

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY
gatakan bahwa ia tidak terlalu tertarik pada hard news. Saya lebih tertarik mengerjakan sesuatu yang butuh waktu panjang dan bisa saya rasakan. Saya suka prosesnya. Kalau butuh waktu 6 bulan ya memang harus 6 bulan. Nggak bisa dipercepat. Tegasnya. Dan itulah mungkin yang membuat Rony belum menemukan tawaran untuk bekerja tetap di media massa yang sesuai. Di media saya takut jadi bosan. Karena setiap harinya seolah-olah kita dipaksa untuk bikin foto beberapa peristiwa. Padahal saya suka yang perlu proses. Untuk itu saya takut saya jadi bosan dan pada akhirnya nanti bisa berhenti. Itu saya tidak mau. Tegasnya. Ketika banyak fotografer yang berpikir dan bekerja dengan mempertimbangkan selera pasar Rony justru sebaliknya. Saya motret bukan apa yang saya pikir bisa dijual. Tapi apa yang menurut saya menarik. Tegasnya lagi. Setelah banyak mencari dan mengamati pemikiran-pemikiran menarik para fotografer besar dunia, Rony tertarik pada sosok Henri Cartier Bresson dan Robert Frank. saya tertarik apa yang dikatakan Garry Winogard, I photograph to see how things looks like photographed Ungkapnya. karena itu saya suka tema yang bisa saya rasakan ketika memotretnya. Bukan cuma sekedar obyek tapi waktu saya ke sana saya merasakan apa. Lanjutnya. Berbicara mengenai jurnalis Indonesia, Rony merasa bahwa seharusnya kita bisa melihat opsi-opsi yang ada. Jangan cuma berani di kompetisi local, tapi juga berani ke luar. Tegasnya. Harus berani ikut event luar. Walaupun mungkin workshop tidak meningkatkan skill secara langsung, tapi percaya diri, network dan inspirasi pasti bertambah. Lanjutnya. Dalam berkarya Rony termasuk orang yang tidak suka ikut arus. Saya nggak mau ikut-ikutan orang lain. Kalau orang bikin karya ke sana, saya nggak mau ikut berkarya ke sana. Walaupun kalau sekedar ikut bisa saja, tapi saya nggak yakin itu akan membuat karya kita diingat. Tegasnya. Namun begitu Rony mengaku bahwa memilih untuk tidak mengikuti arus juga bukanlah sesuatu yang mudah. Yang penting siap dengan resikonya. Lanjutnya. Untuk hal yang satu ini, Rony teringat kata-kata Erik Prasetya yang mengatakan bahwa yang terpenting adalah untuk mempertahankan nyala api di dalam hati. Sehingga apapun

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

Saya motret bukan apa yang saya pikir bisa dijual. Tapi apa yang menurut saya menarik.

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY
kondisinya akan tetap jalan. Dalam memotret, Rony melihat pentingnya kita untuk bisa mencari dan melihat dari angle lain. Ketika kita suka objectnya, bukan sekedar kita potret. Tapi kita perlu berpikir, anglenya, approachnya. Dan itu semua perlu waktu. Jadi nggak bisa buruburu. Tegasnya. Rony terkesan dengan foto-foto Mohammad Iqbal tentang Tsunami yang bertema Raut Pusaran, Raut Hayat di mana ketika banyak fotografer memotret dengan pendekatan yang sama yaitu bencana, namun ia memotret orang-orang yang selamat dari Tsunami. Yang terlihat adalah harapan, semangat di situ. Kenangnya sambil menunjukkan link foto tersebut (http://www.noorderlicht.com/en/archive/mohamed-iqbal/) Perjalanan yang belum terlalu lama di bidang fotografi diakui Rony sebagai perjalanan yang tidak mudah. Menjadi fotografer memang berat dan banyak challenge. Beberapa juga mengatakan nggak ada duitnya. Tapi dari awal kan sudah tahu, jadi jangan mengeluh. Tegasnya. Soal bayaran, jika dirasa masih minim. Atau ketidakadilan lain, saya rasa kita semua harus bersatu. Karena tanpa bersatu kita tidak bisa berbuat apa-apa. Lanjutnya lagi. Satu hal yang disanyangkan oleh Rony dari Negara ini adalah kurangnya budaya untuk mendokumentasi. Kita tidak punya budaya mendokumentasi. Sehingga kita tidak punya banyak referensi dan sejarah untuk diturunkan. Akhirnya banyak dapat dar luar. Jadi memang harus dimulai. Ungkapnya. Hal ini pula yang membuat Indonesia dan Negara-negara asia tenggara lain masih berusaha menemukan identitas fotografinya. Kita masih tertinggal dari Negara-negara asia lain seperti Cina dan Jepang. Mereka sudah menemukan gayanya sendiri yang tidak kalah dibanding Eropa. Lanjutnya. Satu hal yang dilihat Rony sebagai perbedaan yang menghambat adalah kurangnya etos kerja yang baik. Penting sekali konsistensi dan kesaradan. Bahwa semua itu butuh proses, bukan sekadar instan. Karena saya pikir, terutama saya dan kawankawan yang muda ini, gampang stress karena mengharapkan cepat tercapai.. Tegasnya. Untuk melatih etos kerja Rony berpendapat bahwa seharusnya kita bisa memulai dari sesuatu yang seder-

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

Penting sekali konsistensi dan kesaradan. Bahwa semua itu butuh proses, bukan sekadar instan. Karena saya pikir, terutama saya dan kawan-kawan yang muda ini, gampang stress karena mengharapkan cepat tercapai..
10
EDISI XXXV / 2011

karena itu saya suka tema yang bisa saya rasakan ketika memotretnya. Bukan cuma sekedar obyek tapi waktu saya ke sana saya merasakan apa.
hana. Belajar disiplin, tidak harus dari motret. Tapi dari apapun. Belajarlah untuk commit dengan diri sendiri. Mulai dari hal yang sepele. Misalnya commitmen untuk berolahraga. Tegasnya. Olahraga dilakukan Rony untuk membuang efek samping dari pekerjaan. Bekerja freelance terkadang juga menyebabkan stress. Dan kalau sudah stress banyak hal negatif muncul di pikiran. Olangraha bisa jadi cara yang baik untuk membuang pikiran-pikiran negatif itu. Tutupnya. EDISI XXXV / 2011

11

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

12

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

13

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

14

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

15

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

16

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

17

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

18

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

19

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

20

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

21

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

22

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

23

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

24

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

25

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

26

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

27

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

28

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

29

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

30

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

31

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

32

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

33

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

34

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

35

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

36

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

37

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

38

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

39

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

40

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

41

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

42

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

43

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

44

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

45

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

46

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

47

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

48

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

49

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

50

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

51

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

52

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

53

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

DOCUMENTARYPHOTOGRAPHY

54

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

55

THELEPASAN

THELEPASAN
atas, blok bawah, dll. Hipotesa saya terhadap kondisi ini adalah teladan yang kurang terpuji yang dilakukan oleh banyak tokoh fotografi. Tokoh di sini dalam arti orang ataupun sosok figure perusahaan yang bermain di situ. Lihatlah betapa merk-merk besar di fotografi Indonesia seolah-olah menajiskan komunitas yang sudah terlanjur dekat dengan pesaingnya sehingga menutup pintu pertemanan dengannya. Sebaliknya hukum enemy of my enemy berlaku. Artinya, ketika kita menemukan sosok yang juga merupakan musuh dari musuh kita, artinya kita berteman. Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah dimintai pertolongan untuk membantu merumuskan asosiasi fotografer professional. Sejak awal saya melihat masalah terbesarnya adalah tidak adanya kepercayaan di antara mereka. Sesi brainstorming yang dihadiri oleh lebih dari 20 fotografer professional terlihat hangat dengan canda gurau namun terasa dingin. Beberapa (tidak semua) tampak begitu akrab bercanda dan saling puji, namun di belakang, saya mendengar info akan kecurigaan yang mengarah kepada saling menjatuhkan di antara mereka dari teman-

MENANTI KOALISI FOTOGRAFI INDONESIA


Berbagai hobby telah menyambungkan tali pertemanan banyak orang yang memiliki kesamaan hobby. Basket, otomotif, golf, musik, dan berbagai hobby lainnya seolah-olah hadir sebagai alasan tak terbantahkan mengapa mereka nyambung dan berteman. Hebatnya bahkan hobby mempertemukan orang-orang yang berbeda kubu pada sisi lain kehidupan mereka menjadi satu ketika memiliki persamaan hobby. Bagaimana dengan fotografi? Persinggahan saya yang baru layak dikatakan sejenak di lingkungan fotografi membawa saya pada hipotesa yang beragam. Pada lingkup-lingkup kecil, layaknya sebuah hobby, fotografi juga sudah berjasa dalam mempertemukan banyak orang yang sama-sama menganutnya sebagai pengisi waktu luang. Banyak orang yang menjadi berteman karena fotografi. Kelompokkelompok komunitas fotografi dalam lingkup kecil muncul dan eksis di setiap kota, kampus, sekolah dan bahkan perkantoran. Tapi situasi yang berbeda saya temui pada lingkup yang lebih besar. Seolah-olah kita tidak memiliki satu persaudaraan antara komunitas yang kecil-kecil itu sehingga kita punya persaudaraan yang lebih besar lagi tanpa memandang perbedaan dan tanpa mengurangi sikap kritis kita. Lihatlah bagaimana terjadi blok kanan, blok kiri, blok tengah, blok

56

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

57

THELEPASAN
teman saya pekerja iklan yang menjadi klien mereka. Keteladanan untuk begitu takutnya bersaing dan seolah-olah Tuhan tidak pernah mengatur rejeki para fotografer mungkin saja menjadi satu contoh yang akhirnya disikapi secara sama oleh kita para pelaku fotografi yang lebih muda. Distributor produk-produk fotografi yang membawa persaingan menjadi masalah personal juga makin memperkeruh suasana. Padahal dalam membesarkan pasar, kompetitor adalah partner sejati. Bayangkan bagaimana sebuah produk dengan gelontoran dana yang relatif terbatas harus membiayai pembukaan pasar baru sebelum akhirnya menikmatinya. Dengan adanya persaingan bisnis di antara mereka, artinya uang yang digelontorkan lebih besar, promosi, event dan kegiatan marketing lainnya yang memang sejatinya dapat memperluas pasar dan membuka pasar-pasar baru lebih mudah dan murah. Berbagai bidang industri lain sudah saling berhubungan, berkoordinasi, bahu membahu sekaligus juga bersaing dalam membesarkan pasar. Asosiasi-asosiasi penyedia jasa internet, pengusaha komputer, real estate, oto-

THELEPASAN
nected, tidak membedakan kelompok, merk kamera, subject fotografi untuk sama-sama menikmati fotografi apa adanya, tanpa harus kehilangan daya saing, sikap kritis akan sesama. Sejak awal didirikan the Light berusaha menjalin hubungan dengan komunitaskomunitas foto baik online maupun offline, distributor dan pemilik merk fotografi, dll. Tapi sayangnya memang tidak semua bersedia menjalin hubungan itu. Sebagian merespons dengan baik, sebagian menolak, sebagian lagi bahkan terlalu sibuk untuk merespons tawaran persahabatan ini. Tapi sebenarnya impian untuk bisa duduk satu meja, bertukar pikiran bersama dengan semua distributor dan pemilik merk fotografi, fotografer professional, amatir, komunitas, dan semua pelaku fotografi untuk membuat sesuatu yang besar untuk fotografi Indonesia. Menarik lebih banyak lagi orang untuk berfotografi, belajar, berevolusi dan meningkatkan apresiasi terhadap fotografi. Apakah bisa dan kapan waktunya? Jawabannya ada di tangan kita semua.

motive, electronic, dan lain sebagainya duduk bersama membahas kode etik, evaluasi bisnis secara keseluruhan dan juga spesifik pada kategori tersebut, walaupun esok harinya mereka kembali bersaing untuk menggemukkan bisnisnya masing-masing, namun sudah di dalam koridor kode etik, aturan main dan persahabatan serta kesadaran akan posisi saling membutuhkan. Perseteruan terbuka antara para distributor dan pemilik merk dan juga perseteruan terselubung antara para fotografer professional mungkin saja menjadi inspirasi bagi kita yang masih lebih pendek jam terbangnya. Ketidakdewasaan kita dalam menyikapi kritik yang muncul juga telah memunculkan api permusuhan. Kritik yang sebenarnya bertujuan sebagai saran untuk direnungkan dan disikapi secara proporsional seringkali dianggap sebagai penghambat persahabatan. Kami di the light sejak awal memimpikan sebuah kondisi di mana semua pelaku fotografi bisa berteman, con-

58

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

59

THELEPASAN

THELEPASAN

60

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

61

THEINSPIRATION

THEINSPIRATION

Sekarang Anda dapat menciptakan warna-warna seperti aslinya yang begitu akurat, sesuai keinginan, dan mudah dilakukan lewat 1 kali pengaturan saja. Lihat apa lagi yang bisa Anda dapatkan:
Milyaran warna memukau
Pilihan warna yang tidak terbatas (64 kali lebih canggih daripada LCD biasa). Memiliki performa terbaik off-axis di kelasnya, termasuk ultra low chrominance shift dan degradasi kontras. Tearing-free film and 50/60 Hz video playback.

Kendali warna yang menakjubkan

Menampilkan warna-warna yang 'tajam' CRT-class black dan putih yang dapat di program. Membagikan proyek dan mencocokkan warna yang rumit. Warna yang tepat dan kolaborasi karya yang mudah dengan mudah dengan media cetak, film dan lainnya.

Konsistensi tidak tertandingi

Pada tahap final, Anda bisa mencocokkan monitor dengan hasil akhir, memakai color space support yang luas dan HP DreamColor Engine. Memastikan akurasi warna dan pengaturan yang mudah dengan HP DreamColor Engine. Mengatur warna dengan gamut, gamma white-point, cahaya dan kalibrasi dengan konsistensi yang tahan lama.

Cari tahu lebih banyak tentang HP DreamColor LP 2480zx Professional LCD Display di HP Workstation Elite Partner terdekat dan gunakan sekarang juga.

HP Workstation Elite Partners: Sentra Grafika Kompumedia, PT 30020505; Primatech Computama Infomatindo 3914980/3907659/3914983; Panca Putra Solusindo, PT 62313100; Mitra Integrasi Informatika, PT 2511360; Microreksa Infonet 6327988; Karlin Mastrindo 5324990/5349380; Indocom Niaga 56944121/56944122; Berca Hardayaperkasa, PT 3800902/3455880; Alphacipta Computindo 3848481 2010 Hewlett-Packard Development Company, L.P. All rights reserved.

62

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

63

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

THE ONE AWARD, PHOTOGRAPHY BENCHMARK REDEFINED


Fotografi erat hubungannya dengan trend dan perubahan. Esensi fotografi sebagai media perekam kehidupan tentunya juga bergantung pada kehidupan yang terus berubah itu sendiri. Ketika object foto selalu bergerak mengikuti berubahnya kehidupan, trend dan gaya hidup maka gaya fotografi pun sangat berubah. Jika kita buka-buka buku yang mengisahkan sejarah fotografi, maka terlihat jelas betapa gaya berfotografi pun terus berkembang, walaupun terkadang masih ada pengaruh dari gaya yang terdahulu. Segala sesuatunya mungkin memang harus berubah. Ilmuwan-ilmuwan dunia mulai dari bidang teknologi informasi, biologi, kimia, ekonomi, bisnis, marketing, komunikasi sepakat bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan oleh siapapun, dan pastinya juga bagi fotografi. Yang menyedihkan adalah ketika kita melihat bakat-bakat muda yang tidak

memiliki identitas. Pola pikirnya adalah pola pikir tua. Mentalitasnya adalah mentalitas post power sindrom, hanya penampilannya saja yang muda. Bagaikan sebuah produk elektronik rekondisi, barang bekas yang didandani agar terlihat muda dan baru. Indonesia sebagai Negara yang tradisi dan sejarah fotografi yang belum panjang, dan semakin tidak panjang ketika budaya mendokumentasikan sejarah tidak diberdayakan, menjadi ladang di mana regenerasi berjalan secara semu. Manusia-manusia muda dengan keter-

Yang menyedihkan adalah ketika kita melihat bakat-bakat muda yang tidak memiliki identitas. Pola pikirnya adalah pola pikir tua. Mentalitasnya adalah mentalitas post power sindrom, hanya penampilannya saja yang muda.

64

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

65

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA
tarikan terhadap fotografi masih minim untuk bersuara dan menunjukkan warna dan identitasnya. Banyak dari kaum muda kita yang berdiri di bawah ketiak senior kita, mendewakannya, menjadikannya panutan dan sayangnya terlalu banyak mengekor padanya. Akhirnya seperti barang rekondisi, wajah-wajah muda dengan penampilan masa kini namun selera berfotografi yang begitu tua. Melihat foto-foto karya fotografer muda yang bisa ditemui di blog, situs jejaring social, serta pameran-pameran foto bagaikan melihat album foto usang di mana foto-foto yang terpajang masih kental oleh warna dan gaya berfotografi mereka yang sudah tua, yang sudah purnabakti. Sebagian memilih untuk maklum, karena sejarah fotografi Indonesia yang masih pendek, masih pagi. Sehingga kaum muda yang berani melakukan pemberontakan dengan suara dan nafas segar kaum muda belum nampak. Sebagian besar dari kita yang muda masih begitu takjub, terinspirasi dan sayangnya terjebak untuk menjadi foto copy dari mereka yang lebih senior dari kita. Akhirnya sepi darahdarah muda yang bergairah. Apresiasi terhadap bakat-bakat muda fotografi Indonesia yang berjuang dan berhasil menunjukkan warnanya sendiri, menampilkan fotografi yang sama baik atau lebih baik dari pendahulunya namun dengan warna dan gaya muda masih begitu minim. Jika berkaca pada dunia musik, mereka yang sudah senior dan makan asam garam tersingkirkan oleh nafas-nafas baru yang lebih up to date, dan lebih masa kini , dunia fotografi Indonesia sepertinya belum menyediakan tempat yang layak untuk fotografer-fotografer muda yang punya warna sendiri, warna yang bukan melunturkan atau menghapus warna pendahulunya, tapi yang memperkaya. Menyedihkan ketika lembaga pendidikan fotografi, lombalomba foto, seminar dan workshop begitu didominasi oleh nama-nama lama, seolah memaksa bakat-bakat muda untuk dihembusi nafas tua. Menyedihkan melihat bakat-bakat muda mempraktikan dan menghasilkan foto yang gayanya sama dengan gaya berfotografi seniornya yang 30-40 tahun lebih tua darinya. Sementara bakatbakat muda yang berhasil menunjukan eksistensi dan hasil dari perjuangannya seolah-olah belum mendapat tempat yang leluasa. Tongkat estafet sudah disodorkan kepada penerus muda,

dunia fotografi Indonesia sepertinya belum menyediakan tempat yang layak untuk fotografer-fotografer muda yang punya warna sendiri, warna yang bukan melunturkan atau menghapus warna pendahulunya, tapi yang memperkaya.

Menyedihkan ketika lembaga pendidikan fotografi, lomba-lomba foto, seminar dan workshop begitu didominasi oleh nama-nama lama, seolah memaksa bakatbakat muda untuk dihembusi nafas tua.

66

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

67

LIPUTANUTAMA
namun fotografer tua yang menyodorkannya belum mau melepaskannya. Mereka memilih untuk berlari bersama yang muda, menuntun mereka dan membuat yang muda tidak bisa berlari kencang dan harus berlari bersama dengan ritme sang tetua. Menyadari kondisi ini, The Light Magazine, School of Light dan TheCreativeshowoff mengajak kita semua untuk memberi ruang lebih banyak lagi bagi para fotografer muda, terutama yang sudah berjuang, bertarung, bergumul, hingga berpeluh untuk menancapkan benderanya, mengibarkan warna mudanya dan bersanding, berdampingan, bertarung dan bersaing dengan mereka yang jauh lebih senior dalam usia yang masih sangat muda. The one Award adalah penghargaan fotografi yang diberikan kepada fotografer jurnalis, fashion dan iklan yang dalam usia di bawah 35 tahun mampu melakukan pencapaian yang luar biasa. Membawa warnanya sendiri, warna yang unik, orisinil dan memperkaya. Penghargaan bagi mereka yang dalam usia yang begitu muda telah membuka mata Indonesia, mata para pendahulunya, dan mata para penerusnya bahwa masa depan fotografi Indonesia terus

LIPUTANUTAMA

Kita masih mengisi otak kita dengan nama-nama lama. Tidak heran jika fotografer-fotografer muda punya gaya yang begitu tua.

bergulir dengan cerah dan penuh harapan. Ignatius Untung, founder The Light Magazine dan School of Light yang juga penggagas event ini mengatakan betapa pentingnya ruang dan support bagi mereka yang muda dan berprestasi. Kalau kita lihat di Negara-negara maju, bakat-bakat muda dari bidang apapun bisa bersanding atau bahkan menyusul pencapaian seniornya. Setiap harinya artis musik baru lahir, group band baru mencetak hitsnya, fotografer baru menghias media massa dengan foto-fotonya. Namun di Indonesia, khususnya di fotografi bakat-bakat muda belum mendapat tempat yang cukup untuk mereka tinggal landas. Ungkapnya. Kita masih mengisi otak kita dengan nama-nama lama. Tidak heran jika fotografer-fotografer muda punya gaya yang begitu tua. Lanjutnya. Untung juga berpendapat bahwa sudah saatnya bagi yang muda untuk menarik gerbong fotografi Indonesia dengan warna baru dan tenaga baru yang bisa berlari lebih cepat. Jika kita diminta untuk menuliskan 10 orang fotografer favorit kita maka lebih dari 70%nya berusia di atas 35 tahun. Atau

Ini bukan masalah melengserkan yang senior, tapi kita semua harus sama-sama sadar bahwa mereka yang muda seharusnya tidak dilunturkan identitasnya. Salah satu caranya adalah dengan memberi tempat bagi fotograferfotografer muda di hati mereka.
EDISI XXXV / 2011

68

EDISI XXXV / 2011

69

LIPUTANUTAMA
adalah dengan memberi tempat bagi fotografer-fotografer muda di hati mereka. Tegasnya. Fotografi erat hubungannya dengan trend. Setiap masa ada trendnya. Ini berhubungan dengan usia dan gaya hidup. Setiap orang muda punya warna dan idealisme sendiri. Kadang terlihat memberontak. Namun Pemberontakan dalam arti yang positif ini jangan justru dilupakan dan dihancurkan dengan tidak adanya benchmark dan panutan yang usianya tidak terlalu jauh dengan mereka. Lanjutnya. Mengapa perlu benchmark yang muda? Sepele saja. Setiap orang pastinya lebih nyambung dengan kakaknya, atau temannya dibandbahkan ada yang menulis kesemuanya di atas 50 tahun. Ungkapnya. Apa jadinya jika mereka yang masih berusia 20-30an awal berkiblat hanya pada mereka yang berusia 50-60 tahun. Akhirnya orang-orang muda ini punya gaya berfotografi yang begitu tua. Lanjutnya lagi. Namun begitu Untung menolak jika dikatakan kurang ajar terhadap mereka yang tua. Ini bukan masalah melengserkan yang senior, tapi kita semua harus sama-sama sadar bahwa mereka yang muda seharusnya tidak dilunturkan identitasnya. Salah satu caranya ing dengan orang tua atau kakeknya kan? Dengan bergaul dengan kakak/ temannya, mereka bisa mengembangkan warna mereka karena memiliki kesenjangan yang lebih sempit dibandingkan dengan orang tua. Begitu juga dengan fotografi, kalau yang sedang belajar ini nggak punya preferensi yang bisa mengerti gaya dan warna mereka, maka warna mereka akan luntur dan pudar. Tegasnya lagi. Semangat untuk memberi tempat dan support bagi mereka yang muda melalui the one award ini rupanya juga menjadi spirit yang diusung the light

LIPUTANUTAMA
magazine dan school of light di tahun 2011 ini. Sudah 4 tahun kami di The Light menghadirkan benchmark yang relatif senior. Mereka adalah guru yang baik. Tapi pada akhirnya kami sadar bahwa mereka yang muda juga tidak boleh kehilangan warna hanya karena perbedaan warna akibat kesenjangan usia dan gaya hidup dengan yang senior. Untuk itu, kami bertekad untuk memberikan porsi lebih luas lagi bagi mereka yang muda dan berprestasi untuk eksis dan mensupport sesama kaum muda. Tegasnya. Hal yang sama juga kami terapkan di School of Light. Ketika kami mendirikan School of Light kami berangkat pada sebuah finding

70

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

71

LIPUTANUTAMA
bahwa institusi pendidikan fotografi di Indonesia masih didominasi oleh nama-nama senior. Lagi-lagi mereka adalah guru yang baik dengan pengalaman mumpuni. Tapi murid-murid kami adalah kaum muda, mereka butuh sparing partner yang lebih mengerti warna dan selera mereka tanpa meninggalkan kaidah dan esensi fotografi. Untuk itu School of Light banyak didominasi oleh insturktur muda, namun mud yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lanjutnya. The One Award sendiri memiliki beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap promosi. Di situ team pelaksana akan merekomendasikan beberapa nama yang memenuhi syarat untuk dinominasikan dalam penghargaan ini. Pada tahap ini audiens juga diberi kesempatan untuk merekomendasikan mereka yang dianggap layak menjadi nominator kepada team pelaksana. Jika setelah diteliti dan dipelajari dianggap layak, maka rekomendasi tersebut akan dikabulkan, dan orang yang direkomendasikan akan masuk dalam list nominator. Tahap kedua adalah masa voting. Pada masa ini, seluruh nominator akan dipilih oleh dewan juri. Dewan Juri tiap kategori terdiri dari 9 orang. Karena ada 3 kategori maka aka nada 27 juri. Kategori jurnalistik, dewan jurinya adalah 9 orang fotografer, dan chief editor media massa dan kantor berita. Untuk kategori fashion dewan jurinya adalah 9 orang chief photography fashion magazine dan fashion stylist. Sementara untuk kategori iklan dewan jurinya adalah 9 orang art director dan creative director perusahaan periklanan. Pada tahap kedua ini, akan diadakan pula seri seminar, diskusi, talk show yang akan menghadirkan para nominator. Tahap ketiga adalah pengumuman. Setelah juri memutuskan pemenang melalui vote, maka akan diadakan pameran dan pengumuman pemenang. Pemenang The One award tidak boleh dinominasikan kembali pada tahun berikutnya. Mereka yang sudah pernah memenangkan penghargaan ini pada suatu kategori, tidak bisa memenangkannya lagi untuk kategori yang sama. The One award akan mulai digulirkan sejak awal maret dan akan berakhir pada bulan Juni 2011.

LIPUTANUTAMA

72

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

73

LIPUTANUTAMA

LIPUTANUTAMA

74

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

75

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

SUTRISNO, PEMULUNG SENI


Banyak fotografer dengan karya-karya fine art di bidang fotografi diciptakan oleh fotografer-fotografer dengan pendidikan dan wawasan seni yang luas. Pendidikan seni, wawasan yang bisa didapat dari diskusi-diskusi di kalangan seniman diyakini menjadi modal untuk berkiprah di dunia seni. Walaupun begitu, ternyata hal-hal tersebut bukanlah satu-satunya jalan untuk berkiprah di fine art photography. Setidaknya ini yang bisa disimpulkan team kami ketika bertemu dengan Sutrisno, seorang fotografer jurnalis yang secara konsisten membuat project-project fine art hampir tanpa latar belakang pendidikan dan wawasan seni. Perjalanan Trisno di bidang fotorgafi berawal ketika pada tahun 1999. Selepas pendidikan SMU, Trisno bekerja sebagai staf keamanan di Harian Warta Kota. Saya sempat disekolahkan di kursus security. Kenangnya. Ketika bekerja sebagai staf keamanan, Trisno banyak mengisi waktu luang dengan melihat-lihat foto di Koran. Rupanya ketertarikan Trisno sudah dimulai di situ. Menjalani profesi sebagai staf keamanan selama beberapa tahun, pada tahun 2001 Trisno dipromosikan menjadi kurir dan debt collector di kantor yang sama. Kepenatan dan rasa pegal yang dialaminya setiap hari karena harus duduk di atas motor berkeliling-keliling membawanya ke fotografi. Saya di atas motor berjam-jam setiap harinya. Sampai pantat sakit karena ambeien. Akhirnya saya menemukan pelarian dari rasa sakit itu dengan mengamati foto-foto dan object foto yang menarik yang saya temui di jalan. Kenangnya. Ketertarikan Trisno pada fotografi pun

Saya di atas motor berjam-jam setiap harinya. Sampai pantat sakit karena ambeien. Akhirnya saya menemukan pelarian dari rasa sakit itu dengan mengamati foto-foto dan object foto yang menarik yang saya temui di jalan.
EDISI XXXV / 2011

76

EDISI XXXV / 2011

77

FINEARTPHOTOGRAPHY
seolah-olah diberi jalan oleh Tuhan. Adik Trisno dihadiahi kamera poket oleh atasannya yang segera dipinjam oleh Trisno. Berbekal film sisa dari para fotografer warta kota Trisno pun mulai berlatih memotret. Dan secara perlahan-lahan karya foto Trisno diterbitkan di Warta Kota. Merasa cintanya di fotografi berbalas, Sutrisno pun menyisihkan gajinya untuk mendaftarkan diri di kursus fotografi Jurnalistik GFJA. Mulai saat itu, Trisno lebih sering lagi memotret. Setiap harinya saya berjam-jam berada di jalan. Bekerja sebagai kurir, debt collector sekaligus mencari object foto yang menarik. Kenangnya. Dari situ pulalah inspirasi untuk membuat foto dari sobekan kertas berawal. Saat itu ketika sedang penat, saya secara nggak sengaja berdiri di dekat tumpukan sampah dimana ada bekas bungkus indomie di sana. Karena tertarik dengan motif yang diciptakan lipatan dan sobekan bungkus itu, saya pun mencoba memotretnya. Sejak saat itu saya tertarik untuk memotret sampah dan terutama sobekan kertas. Lanjutnya. Tahun 2004 Trisno memberanikan diri untuk meminjam uang dari koperasi tempatnya bekerja untuk membeli

FINEARTPHOTOGRAPHY

Setiap harinya saya berjamjam berada di jalan. Bekerja sebagai kurir, debt collector sekaligus mencari object foto yang menarik.

kamera. Proses pembelajaran fotografinya pun semakin intens. Perjalanan Trisno di fotografi pun masih berlanjut ketika pada tahun 2007 ia ikut kelas pagi Anton Ismael. Di kelas pagi Anton Ismael, Trisno banyak mendapat pengetahuan fotografi yang berbeda dari yang pernah ia pelajari sebelumnya. Hal ini karena ilmu yang diajarkan di sana berbeda subject dengan yang ia pelajari di Antara. Pada suatu hari, ketertarikan Trisno di fotografi harus ia hentikan karena ada permasalahan keluarga. Ayahnya yang bekerja sebagai tukang ojeg dan ibunya yang bekerja sebagai penjual kentang terkena masalah hingga harus menjual rumah yang sudah ditinggalinya dari kecil. Sebagai gantinya sang orang tua harus pindah dan mengontrak rumah kecil di Tangerang. Sementara sehari-harinya sang ayah masih harus tetap memacu motornya untuk bekerja sebagai tukang ojeg di kawasan Palmerah. Hati Trisno tergerak untuk membantu kedua orang tuanya. Ia pun tidak ingin membebani kedua orang tuanya dan memilih untuk mengontrak rumah kardus di tengah kawasan tempat tinggal pemulung di palmerah dan mengajak ayahnya untuk tinggal bersamanya agar tidak

Kalau mau focus dan hidup di sini ya nggak bisa gitu terus. Portfolio sudah cukup. Kalau nggak dibayar terus kapan bisa hidup dari sini.

78

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

79

FINEARTPHOTOGRAPHY
perlu bolak-balik dengan sepeda motor ke tangerang. Trisno pun menerima pekerjaan apapun. Mulai dari bekerja sebagai staf art di berbagai production house, membuat video clip hingga akhirnya menjadi DOP (Director of photography) walaupun tanpa dibayar. Trisno percaya bahwa itu adalah waktu untuk belajar. Walaupun begitu setelah kurang lebih 2 tahun Trisno mengerjakan video clip dan masih tidak dibayar, ia pun mulai menolak. Kalau mau focus dan hidup di sini ya nggak bisa gitu terus. Portfolio sudah cukup. Kalau nggak dibayar terus kapan bisa hidup dari sini. Tegasnya. Trisno juga sempat ikut bekerja pada seorang fotografer wedding. Saya mau mengerjakan apa saja, mulai dari belajar foto, angkat-angkat kabel sampai disuruh ke sana ke sini ambil macammacam. Tegasnya. Trisno juga ternyata pernah ikut bekerja dengan Heret Frasthio. Heret adalah teman saya dari dulu. Ketika Heret belum terkenal seperti sekarang, saya banyak menemani dia memotret ke sana ke mari. Namun setelah ia sukses di fotografi, mungkin ia kasihan dengan saya karena masih belum berproses seperti dia dan untuk itu ia

FINEARTPHOTOGRAPHY
mengajak saya untuk bekerja dengannya. Kenangnya.

Saya mau mengerjakan apa saja, mulai dari belajar foto, angkat-angkat kabel sampai disuruh ke sana ke sini ambil macam-macam.

Saya sadar bahwa hidup itu harus pintar. Untuk bisa buat project idealis perlu biaya. Dan kalau kita tidak bekerja, jangankan membiayai project idealis kita, untuk hidup saja sudah cukup pusing.

Trisno pun merasa banyak terbantu oleh Heret. Namun ternyata itu tidak membuatnya berhenti di situ. Trisno terus berevolusi. Setelah ia berhasil menyewa rumah kontrakan yang lebih baik, Trisno pun bekerja sebagai pewarta foto di harian Merdeka. Walaupun minatnya banyak ke arah foto fine art, namun Trisno pun tetap menjalani profesinya secara professional. Saya sadar bahwa hidup itu harus pintar. Untuk bisa buat project idealis perlu biaya. Dan kalau kita tidak bekerja, jangankan membiayai project idealis kita, untuk hidup saja sudah cukup pusing. Tegasnya. Trisno yang pernah menunjukkan fotonya kepada fotografer fine art kenamaan dan diminta untuk total malah memilih untuk berpikir lebih realistis. Bahwa semua harus seimbang. Di tengah perjalanan Trisno di fotografi, Trisno pun sempat membelot dan bekerja sebagai tukang sita di perusahaan pembiayaan kredit motor. Jadi setiap hari kerjanya menghapal plat nomor yang bermasalah dari daftar yang diberikan kantor. Lalu setiap saat kita menemukannya di jalan kita hampiri. Di situ saya merasa seperti

80

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

81

FINEARTPHOTOGRAPHY
berapa kali. Sempat sekali waktu Trisno membantu memotret liputan tunangan temannya SMAnya. Namun sial film yang ia gunakan tidak nyangkut sehingga tidak ada satupun foto yang jadi. Ia pun pernah kehilangan uang Rp.1.500.000,- yang rencananya akan digunakan untuk membeli kamera. Tapi berbagai kesialan di fotografi tersebut tidak membuatnya membenci dan meninggalkan fotografi. fotografi ada di hati saya, bukan di kamera. Tegasnya. Kini Sutrisno bekerja sebagai fotografer freelance yang mengerjakan apapun. Saya mau ngerjain apa saja, mulai dari jurnalis, wedding, liputan, fine art, video clip. Apa saja. Tegasnya. Bagi saya fotografi seharusnya jangan dikotakkotakan. Jangan dibikin sempit. Foto ya foto saja. Tutupnya.

FINEARTPHOTOGRAPHY

fotografi ada di hati saya, bukan di kamera.


mendapat therapy terhadap otak saya. Kenangnya. Beberapa tahun bekerja sebagai jurnalis di harian Merdeka, Trisno harus mengubur mimpinya bersama kantor tempatnya bekerja ketika harian tersebut gulung tikar. Gajinya selama 2 bulan pun masih belum diterima. Seorang senior di kantornya menyarankannya untuk pergi dan membawa kamera kantor yang sehari-hari ia pakai sebagai ganti gajinya yang belum dibayarkan. Tapi ia menolak. Saya belajar foto bukan untuk jadi orang jahat, jadi saya memilih untuk mengembalikan kamera itu. Kenangnya waktu itu. Trisno memilih untuk tetap waras bahkan ketika ditimpa kesialan be-

82

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

83

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

84

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

85

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

86

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

87

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

88

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

89

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

90

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

91

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

92

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

93

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

94

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

95

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

96

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

97

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

98

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

99

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

100

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

101

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

102

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

103

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

104

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

105

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

106

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

107

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

108

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

109

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

110

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

111

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

112

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

113

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

114

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

115

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

116

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

117

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

118

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

119

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

120

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

121

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

122

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

123

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

124

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

125

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

126

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

127

FINEARTPHOTOGRAPHY

FINEARTPHOTOGRAPHY

128

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

129

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

LUKI ALI, FASHION PHOTOGRAPHY YANG SEBENARNYA


Salah satu subject dalam fotografi yang tergolong banyak peminatnya adalah fashion photography. Kesan glamour & prestise yang seringkali melekat pada profesi fashion photographer seringkali menjadi magnet yang kuat dalam menarik peminat. Tapi apakah itu baik atau tidak, perdebatannya masih belum berakhir. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami menghadirkan seorang Luki Ali. Fashion photographer yang belakangan menjadi satu nama yang sangat diperhitungkan di bidangnya ini ternyata memiliki pemikiran dan spirit yang luar biasa matang. Pada awalnya Luki hanyalah seorang pemuda yang senang mencari media untuk mengeluarkan unek-unek. Saya suka nulis, musik, painting. Intinya cari cara untuk nuangin unek-unek. Ungkapnya. Ia merasa perjalanannya di fotografi mungkin hanya jadi satu bagian dari proses eksplorasi yang masih terus dilakukannya. Perkenalannya dengan fotografi terjadi ketika ia mendapat hadiah ulang tahun berupa kamera poket pada tahun 2005. Iseng-iseng memotret hal-hal sederhana malah berujung pada tawaran memotret untuk majalah. saya sangat beruntung karena hampir nggak ada usaha untuk masuk majalah. Tapi kesempatannya malah datang. Tegasnya. Tahun 2007 Luki Ali belajar fashion photography selama 2 bulan di Italy. di sana saya belajar sejarah, teknis, fashion, make up, hair style, branding, dan macam-macam. Kenangnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya Luki kembali ke Indonesia dan mulai merintis karirnya sebagai fashion

Bukan masalah style. Produk yang sama bisa aja gayanya berbeda di market yang berbeda. Untuk itu fashion photographer nggak boleh egois.

130

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

131

FASHIONPHOTOGRAPHY
photographer dan mendirikan majalah fashion photography DEW. Fashion photography menurut Luki adalah tentang menjual produk. Penting sekali bagaimana seorang fashion photographer mengerti produk, market dan harga dan bagaimana cara menjual produk yang ia foto. Tegasnya. Bukan masalah style. Produk yang sama bisa aja gayanya berbeda di market yang berbeda. Untuk itu fashion photographer nggak boleh egois. Lanjutnya. Kita ini bukan artis. Kita hanyalah fashion worker tegasnya lagi. Sayangnya Luki melihat banyak yang masih belum mengerti perbedaan mendasar antara fashion worker dan fashion people. Banyak yang photographer artinya harus up to date. Setiap tahun label mengeluarkan baju baru 4 kali. Itu baru dari 1 brand. Belum lagi termasuk make up, rambut yang juga ada trend yang terus berkembang. Jadi benar-benar melelahkan untuk keep up to datenya. Tegasnya. Masih berbicara mengenai fashion photo, Luki beranggapan bahwa pemahaman seorang fotografer terhadap produk yang difoto adalah harga mati. picture harus telling a story tentang siapa yang pakai. Jadi bukan sekedar apa yang kita suka, tapi seperti apa penggunanya. Ungkapnya. Fotografer fashion nggak bisa memaksakan stylenya pada fotonya. Bisa jadi

FASHIONPHOTOGRAPHY

Kita ini bukan artis. Kita hanyalah fashion worker


merasa being a fashion photographer is cool. Padahal enggak. Its not cool at all. Tegasnya. Mungkin mereka merasa keren karena fashion photographer dapat undangan di mana-mana. Mulai dari fashion show sampai gathering lingkungan fashion. Padahal sebenarnya capek. Sambungnya lagi. Luki beranggapan bahwa banyak orang tertarik menjadi fashion photography karena hanya melihat hasil dalam framenya saja. Tapi mereka tidak melihat prosesnya. Persiapannya. Di luar framenya yang begitu berantakan dan melelahkan. Being a fashion

picture harus telling a story tentang siapa yang pakai. Jadi bukan sekedar apa yang kita suka, tapi seperti apa penggunanya.
foto bagus tapi produknya nggak laku karena fotonya tidak sesuai dengan marketnya. Sambungnya. Setiap negara juga punya ciri khas dan karakter fashion fotonya masingmasing. New York kesannya dinamis, London lebih kea rah street, Paris mewah tapi sedikit urakan. Tegasnya. Luki melihat penting bagi Indonesia untuk menemukan karakternya. Yang harus diperhatikan adalah jangan terlalu local karena jadi sulit dicerna market international. Jadi terkadang harus di-blend dengan bahasa universal. Sambungnya.

132

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

133

FASHIONPHOTOGRAPHY
Photographer yang terlalu memaksakan style dan egonya juga bisa merusak pasar. tiap majalah, tiap brand punya market dan gayanya sendiri-sendiri. Jangan dipaksa, nanti produknya nggak laku. Dan kalau produknya nggak laku, industrinya mati fotorgafernya mau motret apa? tegasnya. Untuk itu Luki melihat pengetahuan tentang fashion justru menjadi harga mati bagi seorang fashion photographer. Motret itu justru urusan paling terakhir. Cara dia kerja, jual diri, trend dan pengetahuan tentang fashion itu jauh lebih awal. Tegasnya lagi. Luki beranggapan bahwa pengetahuan fashion seorang fashion photography nggak boleh ketinggalan dan kurang. Prosesnya selalu mulai dari produk. Pemahaman produk itu paling awal. Setelah itu baru penggunaan teknis untuk menterjemahkan konsep. Sambungnya lagi. Dalam bekerja, Luki tidak pernah memperdulikan stylenya. Saya nggak pernah peduli style. Kalau suka pasti datang dari dalam hati. Dan kalau dari dalam hati pasti jujur dan apa adanya. Jadi jangan ngomong style kamu seperti apa. Biar orang lain yang menilai. Tegasnya.

FASHIONPHOTOGRAPHY

Fotografer fashion nggak bisa memaksakan stylenya pada fotonya. Bisa jadi foto bagus tapi produknya nggak laku karena fotonya tidak sesuai dengan marketnya.

Berbicara mengenai kontribusi fashion stylist dalam sebuah pemotretan fashion Luki beranggapan bahwa porsinya harus seimbang. Dan untuk bisa seimbang pengetahuan fashion sang photographer juga harus kuat, karena seorang fashion stylist pada umumnya memiliki wawasan fashion yang sangat baik dan up to date. Dunia fashion terkadang kejam. Kalau sudah keluar omongan: ini bajunya last season banget ya? Wah bahaya sekali. Tegasnya. Berbicara mengenai cara jualan ke majalah, Luki melihat ada dua cara yang bisa dilakukan. Pilih majalah yang kita suka, pelajari gayanya seperti apa. lalu bikin yang seperti itu, lalu approach ke sana. Tegasnya. cara lain adalah berangkat dari apa yang kita suka. Bikin saja apa yang kita suka dan coba tawarkan ke majalah. Lanjutnya. Namun begitu buat mereka yang sudah establish kadang terjadi yang disebut product come to them, artinya product yang menyesuaikan gaya sang fotografer. Anggapan beberapa pihak bahwa fashion photography Luki kurang sepakat. Fashion photography ada uangnya asal jangan dihancurkan. Jangan sampai yang tidak cari uang di situ isengiseng masuk dengan harga cincai.

Kasihan yang hidup di situ. Tegasnya. Kalau kita nurut dengan ladang masing-masing jadi tidak berantakan. Jangan lompat pagar dan ngacak-acak lading orang. Tegasnya lagi. Dimintai sarannya untuk fotografer yang masih berjuang untuk masuk ke lingkaran fashion photographer Luki menyarankan pemanfaatan blog dan web. Teknologi harus dimanfaatkan untuk bisa showcasing. Saya pun dapat kerjaan dari luar negeri melalui blog. Tutupnya.

Saya nggak pernah peduli style. Kalau suka pasti datang dari dalam hati. Dan kalau dari dalam hati pasti jujur dan apa adanya. Jadi jangan ngomong style kamu seperti apa. Biar orang lain yang menilai.
EDISI XXXV / 2011

134

EDISI XXXV / 2011

135

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

136

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

137

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

138

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

139

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

140

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

141

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

142

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

143

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

144

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

145

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

146

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

147

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

148

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

149

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

150

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

151

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

152

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

153

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

154

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

155

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

156

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

157

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

158

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

159

FASHIONPHOTOGRAPHY

FASHIONPHOTOGRAPHY

160

EDISI XXXV / 2011

EDISI XXXV / 2011

161

WHERETOFIND
JAKARTA Telefikom Fotografi Universitas Prof. Dr. Moestopo (B) Jalan Hang Lekir I, JakSel; Indonesia Photographer Organization (IPO) Studio 35, Rumah Samsara, Jl.Bunga Mawar, no. 27, Jakarta Selatan 12410; Unit Seni Fotografi IPEBI (USFIPEBI) Komplek Perkantoran BankIndonesia, Menara SjafruddinPrawiranegara lantai 4, Jl.MH.Thamrin No.2, Jakarta; UKM mahasiswa IBII, Fotografi Institut Bisnis Indonesia (FOBI) Kampus STIE-IBII, Jl Yos SudarsoKav 87, Sunter, Jakarta Utara; Perhimpunan Penggemar Fotografi Garuda Indonesia(PPFGA) PPFGA, Jl. Medan Merdeka SelatanNo.13, Gedung Garuda Indonesia Lt.18 ; Komunitas Fotografi Psikologi Atma Jaya, JKT Jl. Jendral Sudirman 51, Jakarta.Sekretariat Bersama Fakultas Psikologi Atma Jaya Ruang G. 100; Studio 51 Unversitas Atma Jaya, Jl. Jendral Sudirman 51, Jakarta; Perhimpunan Fotografi Tarumanegara Kampus I UNTAR Blok M Lt. 7 Ruang PFT. Jl. Letjen S. Parman I JakBar; Pt. Komatsu Indonesia Jl. Raya Cakung Cilincing Km. 4 Jakarta Utara 14140; LFCN (Lembaga Fotografi Candra Naya) Komplek Green Ville -AW / 58-59, Jakarta Barat 11510; HSBC Photo Club Menara Mulia Lt. 22, Jl. Jendral Gatoto Subroto Kav. 9-11, JakSel 12930; XL Photograph Jl. Mega Kuningan Kav. E4-7 No. 1 JakSel; FreePhot (Freeport Jakarta Photography Community) PT Freeport Indonesia Plaza 89, 1st Floor Jl. Rasuna Said Kav X-7 No. 6 PSFN Nothofagus (Perhimpunan Seni Fotografi PT Freeport Indonesia) PT Freeport Indonesia Plaza 89, 1st Floor Jl Rasuna Said Kav X-7 No. 6; CybiLens PT Cyberindo Aditama, Manggala Wanabakti IV, 6th floor. Jl.Gatot Subroto, jakarta 10270; \ FSRD Trisakti, Kampus A. Jl. Kyai Tapa, Grogol. Surat menyurat: jl.Dr. Susilo 2B/ 30, Grogol, Jakbar; SKRAF (Seputar Kamera Fikom) Universitas SAHID Jl. Prof. Dr.Soepomo, SH No. 84, JakSel 12870 One Shoot Photography FIKOM UPI YAI jl. Diponegoro no.74, JakPus Lasalle College Sahid Office Boutique Unit D-E-F\ (komp. Hotel Sahid Jaya). Jl. Jend Sudirman Kav. 86, Jakarta 1220 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Al-Azhar Indonesia Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran baru, Jak-Sel, 12110; LSPR Photography Club London School of Public Relation Campus B (Sudirman Park Office Complex) Jl. KH Mas Mansyur Kav 35 Jakarta Pusat 10220 FOCUS NUSANTARA Jl. KH Hasyim Ashari No. 18, Jakarta; e-Studio Wisma Starpage, Salemba Tengah No. 5, JKT 10440; Roxy Square Lt. 1 Blok B2 28-29, Jkt; Neeps Art Institute Jl. Cideng Barat 12BB, Jakarta ; POIsongraphy ConocoPhillips d/a Ratu Prabu 2 Jl.TB.Simatupang kav 18 Jakarta 12560; BANDUNG PAF Bandung Kompleks Banceuy Permai Kav A-17,Bandung 40111; Jepret Sekretariat Jepret Lt. Basement Labtek IXB Arsitektur ITB, Jl Ganesha 10, Bandung Spektrum (Perkumpulan Unit Fotografi Unpad) jl. Raya Jatinangor Km 21 Sumedang, Satyabodhi Kampus Universitas Pasundan Jl. Setiabudi No 190, Bandung Air Photography Communications Jalan Taman Pramuka 181 Bandung 40114 PURWOKERTO ECOLENS Sekretariat Bersama FE UNSOED, Jl HR Bunyamin No.708 Purwokerto 53122 SEMARANG

WHERETOFIND

PRISMA (UNDIP) PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) Joglo Jl. Imam Bardjo SH No. 1 Semarang 50243 MATA Semarang Photography Club FISIP UNDIP Jl. Imam Bardjo SH. No.1, Semarang; DIGIMAGE STUDIO Jl. Setyabui 86A, Semarang Jl. Pleburan VIII No.2, Semarang 50243 SOLO HSB (Himpunan Seni Bengawan) Jl. Tejomoyo No. 33 Rt. 03/ 011, Solo 57156; Lembaga pendidikan seni dan design visimedia college Jl. Bhayangkara 72 Solo, FISIP Fotografi Club (FFC) UKM FFC Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Jl Ir Sutami 36A 57126 Solo, Jawa Tengah YOGYAKARTA Atmajaya Photography club Gedung PUSGIWA kampus 3 UAJY, jl. babarsari no. 007 yogyakarta; UKM MATA Akademi Seni Rupa dan Desain MSD Jalan Taman Siswa 164 Yogyakarta 55151; Unif Fotografi UGM (UFO)Gelanggang mahasiswa UGM,Bulaksumur, Yogya; Fotografi Jurnalistik Club Kampus 4 FISIP UAJY Jl Babarsari EDISI XXXV / 2011

162

EDISI XXXV / 2011

163

WHERETOFIND
Yogyakarta; FOTKOM 401 gedung Ahmad Yani Lt.1 Kampus FISIPOL UPN Veteran Jl Babasari No.1, Tambakbayan, Yogyakarta, 55281; Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Jl. Parangtritis Km. 6,5 Yogyakarta Kotak Pos 1210; UKM Fotografi Lens Club Universitas Sanata Dharma Mrican Tromol Pos 29 Yogyakarta 55281 SURABAYA Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi (HIMMARFI) Jl. Rungkut Harapan K / 4, Surabaya; AR TU PIC; UNIVERSITAS CIPUTRA Waterpark Boulevard, Citra Raya. Surabaya 60219; FISIP UNAIR JL. Airlangga 4-6, Surabaya; Perkumpulan Senifoto Surabaya (PSS), jln Basuki Rahmat 42 Surabaya. MALANG MPC (Malang Photo Club) Jl. Pahlawan Trip No. 25 Malang JUFOC (Jurnalistik Fotografi Club) student Centre Lt. 2 Universitas Muhammadiyah Malang. Jl. Raya Tlogomas No. 246 malang, 65144; UKM KOMPENI (Komunitas Mahasiswa Pecinta Seni) kampus STIKI (Sekolah Tinggi Informatika Indonesia) Malang, PADANG Jl. Raya Tidar 100 JEMBER UFO (United Fotografer Club) Perum taman kampus A1/16 Jember 68126, Jawa Timur;Univeritas Jember (UKPKM Tegalboto) Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Universitas Jember jl. Kalimantan 1 no 35 komlek ged. PKM Universitas Jember 68121 BALI Magic Wave Kubu Arcade at Kuta Bungalows Bloc A3/A5/A6 Jl. Benesari, Legian-kuta MEDAN Medan Photo Club Jl. Dolok Sanggul Ujung No. 4 Samping Kolam Paradiso Medan, Sumatra Utara 20213 UKM FOTOGRAFI USU Jl. Perpustakaan no.2 Kampus USU Medan 20155 BATAM Batam Photo Club METEOR Photo Panbil Commercial Area Ruko Blok E no.1, lt. 3 Batam 29436 KOMUNITAS FOTOGRAFI SINKRO Jl. Komplek Monang B/16 Lubuk Buaya Padang - Sumatra Barat PEKANBARU CCC (Caltex Camera Club) PT. Chevron Pasific Indonesia, SCMPlanning, Main Office 229, Rumbai, Pekanbaru 28271 LAMPUNG Malahayati Photography Club Jl. Pramuka No. 27, Kemiling, Bandar Lampung, 35153. Lampung-Indonesia. Telp. (0721) 271114 BALIKPAPAN Total Photography Club (TPC). ORSOSBUD - Seksi Budaya Total E&P Indonesie Jl. Yos Sudorso Balikpapan KALTIM Badak Photographer Club (BPC) ICS Department, System Support Section, PT BADAK NGL, Bontang, Kaltim, 75324; KPC Click Club/PT Kaltim Prima Coal Supply Department (M7 Buliding), PT Kaltim Prima Coal, Sangatta SAMARINDA MANGGIS-55 STUDIO (Samarinda Photographers Community) Jl. Manggis No. 55 Voorfo, Samarinda Kaltim SOROWAKO

WHERETOFIND

Sorowako Photographers Society General Facilities & Serv. Dept - DP. 27, (Town Maintenance) - Jl. Sumantri Brojonegoro, SOROWAKO 91984 - LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN GORONTALO Masyarakat Fotografi Gorontalo Graha Permai Blok B-18, Jl.Rambutan, Huangobotu,Dungingi, Kota Gorontalo AMBON Performa (Perkumpulan Fotografer Maluku) jl. A.M. Sangadji No. 57 Ambon.(Depan Kantor Gapensi kota Ambon/ Vivi Salon) ONLINE PICK UP POINTS:

www.thelightmagz.com www.ayofoto.com www.estudio.co.id http://charly.silaban.net/; www.studiox-one.com ; http://www.focusnusantara. com/articles/thelightmag.php MAILING LIST: thelightmagz-subscriber@ yahoogroups.com
EDISI XXXV / 2011

164

EDISI XXXV / 2011

165