Anda di halaman 1dari 14

JUMAT, 12 FEBRUARI 2010 PASUNGAN

Di sebuah rumah kecil tampak 2 orang pria dan wanita sedang bercakap-cakap. Si wanita dalam keadaaan yang sangat gelisah, sementara si pria kelihatan sangat pasrah.

Paramita : Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ibuku sudah mulai menyuruh orangorang suruhannya untuk menculikku. Tak bisakah kau berbuat sesuatu untuk itu? Narto : Aku pun tak tahu lagi apa yang harus dilakukan? Sudah semua usaha kulakukan untuk meluluhkan hati ibumu. Tapi tidak pernah berhasil. Paramita : Jadi kamu akan menyerah begitu saja?

Narto : Tolong berikan aku waktu berpikir. Kamu kira sejak dulu aku tidak memikirkan hal ini? Setiap saat, ketika melihat wajahmu, aku selalu teringat hal bodoh ini. Apa coba yang dipikirkan ibumu? Uang? Ia, uang? Dipikrannya pasti hanya uang, uang dan uang. Dia pikir uang bias dia bawa ke neraka apa. Paramita : Jaga bicaramu, walaupun begitu, dia adalah ibuku, ibu kita .

Narta : Apalah yang kau bilang. Sejak dulu dia selalu membuat masalah. Kalau bukan karna dirimu, aku tidak akan sudi punya mertua seperti dia. Selalu menekan. Dia pikir gampang apa cari uang. Paramita : Sudahlah, jangan selalu mengumpat ibuku. Ini juga demi kebaikan kita, demi

kebaikan bayi kita. Tolonglah, pikirkan cara agar ibu luluh hatinya. Narto : Ya satu satunya cara adalah dengan uang. Hanya uang yang bisa buat hati ibumu luluh. Bisa gila aku memikirkan ini. Iya kau tau ini demi bayi kita, tapi tidak dengan begitu cara ibumu menasihati kita. Ahh, sudahlah, aku mau pergi dulu

Dua orang suruhan sedang bercakap P1 P2 : Hei, tidak ada panggilan untuk kita? Minggu ini sepi sekali. : Tidak ada, benar benar sepi minggu ini. Mungkin orang orang sudah mulai tobat.

Hahaha P1 P2 : Tapi kalau begini terus, bagaimana kita bias hidup? : Ya sudah, kita bunuh saja orang lalu kita jambret barang barang nya.

Tiba tiba lewat di depan mereka P2 : Hei Narto, sini dulu, sini sini

Narto : eh abang, iya bang ada apa? P1 P2 : Kenapa wajahmu itu? Kusut sekali. : Hahaha, harusnya kamu lagi berbahagia, bukankah istrimu sedang hamil tua? Hhm, saya tau, pasti wajahmu cemberut karna sudah lama ngga dapet jatah ya? Sudah, kita cari saja di depan warung pak Karjo, disana banyak perawan perawan yang sudah siap untuk dikencani. Harganya murah lo. P1 : Kamu ada saja, dimana mana semua sudah tau, kalo pelacur pelacur yang ada di warung pak Karjo itu bekas semua. Saya juga udah pernah disana. Ya lumayan lah . Narto P1 : Bukan bang, bukan masalah itu. Saya juga sedang tidak ingin begituan . : Ah, kamu jangan mengelak, siapa juga yang tahan godaan gadis gadis warung pak karjo. Saya saja ketagihan . P2 : biar saya tebak. Pasti ini masalah dengan mertua mu ya? Siapa sih yang tidak tau ibu nya paramita. Satu kampung ngomongin dia. P1 Narto : Wah, kamu masalah gossip tau juga ya, : Benar bang, saya sekarang lagi bingung mikirin ibu nya paramita yang terus menekan saya untuk mencari uang. Saya bingung harus cari uang dimana dan dengan apa . mana anak kami sebentar lagi akan lahir. Semua itu membuat saya pusing memikirkan nya. Dan sampai sekarang saya tidak tau solusinya . P1 P2 : Jadi ini masalah uang? : Sudah saya duga. Biasalah, kebanyakan wanita memang tidak pernah bias lepas dari yang namanya gila harta. Segala sesuatunya diukur dari sebuah mata uang. Lihat saja , wanita wanita dikampung ini, setiap berkumpul pasti membicarakan kekayaan dan barang barang mewah yang mereka punya. Ingin rasanya saat mereka berkumpul dan memamerkan perhiasannya, aku jambret dan aku bunuh satu satu, tapi sebelumnya harus aku cicipi dalu mereka. Haha P1 Narto P1 P2 : Nah, itu dia jawabannya. : Jawaban apa bang? : Kita jambret perhiasan wanita wanita yang ada dikampung ini. : Ide yang bagus. Tapi, kalau kita merampok disekitar sini, itu akan sangat beresiko. Bagaimana kalau dikampung sebelah. Disana ada banyak rumah besar yang jarang ditempati oleh empunya. Narto : Apa abang yakin?

P1

: Tentu saja yakin, tenang saja, kita ini sudah berpengalaman. Tapi itu sih terserah kamu, kalau kamu mau ikut ya ikut, kalau tidak mau ya taka apa. Tapi yang perlu diingat, jika kita berhasil merampok di salah satu rumah gedong itu, kita pasti kaya mendadak. Apa kamu tak mau jadi kaya?

P2 Narto

: Pengen terus diceramahi nenek itu? : Taaatapi, hmm, baiklah.

pada malam hari,mereka bertiga beraksi. Namun apa daya , ternyata sial menjemput mereka. Mereka kepergok oleh warga yang sedang mengadakan jaga malam. Akhirnya mereka di jebloskan ke dalam sel

Di koridor ruang bersalin, seorang nenek keluar dari dalam ruang bersalin Nenek : Nampaknya masih belum ada tanda-tanda, masih satu atau dua hari lagi, aku begitu kwatir dengan kondisinya, tak ada semangat sama sekali. . melintas yem mengepel lantai koridor. Yem : permisi bu Nenek : aku hitung sudah empat kali hari ini kau mengepel lantai ini Yem : maaf kalau mnegganggu bu Nenek : sama sekali tidak, berapa lama kau bekerja disini Yem : delapan puluh persen masa hidup saya telah saya abdikan untuk menjadi seorang batur, sejak umur sepuluh tahun saya sudah ngabdi, dan sejak itu saya mulai melalang buana untuk menjalani profesi saya menjadi seorang batur, dari satu juragan ke juragan yang lain, lintas kota dalam kota lintas propinsi. Sedangkan dengan bu bidan saya sudah 10 tahun, dari evaluasi perjalanan karier saya, di tempat inilah saya merasa paling kerasan,bagaimana tidak kerasan bu, la majikan saya itu orangnya jempolan, baik hati .. Nenek : jawabanmu itu terlalu panjang, jawab saja 10 tahun, sudah ternyata kau terlalu cerewet Yem : eeee maaf, tapi .. menjadi batur bukan duit saja yang saya cari bu, tapi juga pengalaman hidup, saya tidak akan capek dan berhenti untuk terus belajar dan bekerja untuk menambah khasanah pengalaman hidup saya, menjadi batur salah satunya, dan saya tak ingin menyimpannya sendirian, saya kan senang untuk berbagi pengalaman pad orang lain

Nenek : sudah sudah sudah lanjutkan saja pekerjaanmu, bicaramu terlalu banyak dan ngelantur, aku sedang nyaman mendengar ocehan yang panjang Yem mengepel dengan kasar, lalu akan keluar . Nenek : eeeeeee . Dimana bu bidan? Eeehhh kamu .. Yem : bicara dengan saya? Saya juga punya nama, yem tapi kali ini saya sedang tak nyaman bicara dengan orang Yem exit Nenek : tak sopan, batur kurang ajar .. pikirannya sudah geser, tak punya sopan santun, memangnya dia pikir bicara dengan siapa? Baru kali ini bertemu dengan orang seperti itu. Tapi kerjanya cukup bagus, tak dibiarkannya debu menempel di tempat ini, lumayan untuk pelayanan prima sebuah rumah bersalin.

Masuk wardani Wardani : belum ada tanda-tanda nek? Nenek : lo jam segini kamu sudah pulang dari kantor? Wardani : hehe saya membolos nek, pikiran saya tertuju pada paramita terus. Bagaimana nek, ada perkembangan Nenek : belum juga .. Wardani : paramita tidur nek? Nenek : sudah dari sejak kemarin, tidak mau dia beranjak dari tempat tidur, barangkali beban yang ada dalam pikirannya yang membuatnya malas beranjak. Sebenarnya tak baik juga dengan proses melahirkannya nanti kalau dia seperti itu terus. Nenek jadi begitu kwatir padanya Wardani : dia mau makan nek? Nenek : harus dipaksakan Paramita : (dari dalam) nek . Nenek : paramita. Kenapa nduk? Dia terbangun, coba kau bujuk dia untuk bias bersemangat . Wardani ada disini nduk.. Wardani masuk dalam kamar Paramita : apa kabar? Nenek : semoga dia bisa membujuknya Wardani : (dari dalam) nek, bukankah tak baik terus-terusan tidur menjelang kelahiran?

Nenek : oh iya paramita.. menurutlah yang dikatakannya. Biar nanti dalam proses kelahiran lancer kamu harus banyak bergerak, toh ternyata masih belum akan melahirkan . Paramita : aku malas .. Wardani : tak boleh begitu . Ayo bangun .. Paramita : tapi dan . Wardani memapah paramita keluar Nenek : nah begitu .. dari kemarin nenek kan ingin kamu bisa bersemangat. Tenang saja , tak usah gelisah, sepertinya anakmu belum akan keluar hari ini, sepertinya besok . Wajar ketika kelahiran anak yang pertama ada semacam kecemasan dan ketakutan, tapi percayalah semua akan baik-baik saja.. justru kamu harus perbanyak untuk bergerak agar menambah lancar prosesnya nanti .. nenek juga sudah tiodak sabar menunggu kehadiran buyut pertama, ternyata aku sudah begitu tua, bersyukur sekali aku masih bisa diberi kesehatan untuk menimang buyutbuyutku .. Paramita : justru aku tak inginkan anakku ini lagir saat ini nek Nenek : paramita .. Wardani : lho tak boleh begitu mit .. Paramita : untuk apa? Siapa yang bangga dan senang? Aku sama sekali tak bangga dan senang dengan kelahiran anak ini . Siapa sebenarnya yang mempunyai kepentingan atas anak ini .. percuma Wardani : semua orang menginginkan bayi itu lahir . Paramita : siapa yang kau maksud? Aku sebagai orang tuanya saja belum siap menerimanya, karena aku tak inginkan bayi ini lahir tanpa kecupan dari ayahnya untuk pertama kali Nenek : mita.. ada nenek .. jangan berfikiran seperti itu Paramita : aku menginginkan ayah dari bayi ini Wardani : mita, semua akan baik-baik saja jalani dan hadapi saja dulu yang ada di depan mata, anakmu sekarang membutuhkan semangatmu. Dia punya hak untuk melihat dunia dengan penuh senyuman, jangan kau ambil haknya.. Paramita : lalu apakah aku tak mempunyai hak untuk menjadi seorang seorang ibu sekaligus menjadi seorang istri, tak punya juga hak kah suamiku untuk menyebutnya anak? Lalu apakah orang lain berhak untuk memisahkan kami?

Wardani : barangkali sekarang bukan waktunya untuk menuntut hakmu, kau akan capek dan kesakitan, carilah jalan lain, atau kau ikuti saja jalan yang diberikan oleh mereka. Sulit memang, namun percayalah, suatu saat kau akan bisa menyesuaikan dengan sendirinya Paramita : bagaimana kalau kau ada diposisiku? Wardani : Mita . Paramita : aku bakal tak sanggup untuk membesarkan anak ini nantinya, karena selalu aku akan teringat pada ayahnya, karena dia adalah monument cinta kami, dan akan lebih tak sanggup lagi kalau dia nantinya menanyakan dimana dan siapa ayahnya (Masuk ny. Sulastri dan yuwanita, sama suaminya yuwanita, pas ditengah suaminya pergi) Ny sulastri : katakana padanya, ayahnya lari dari tanggung jawab, dan tak pantas untuk di tiru, apa lagi menirunya, mengenalnya saja jangan ! Nenek : datang-datang langsung angkat bicara, tak tahu aturan . Paramita masuk, di susul oleh wardani Nenek : nduk, kenapa masuk lagi kekamar? Kamu harus banyak bergerak. Aaahhh semua ini gara-gara kalian, dia sudah mau untuk beranjak dari tempat tidur, di butuh olah raga, sebentar lagi dia dituntut dengan kondisi yang prima, kehadiran kalian malah mengacaukan semuanya, apa kalian mau bertanggung jawab apa bila terjadi sesuatu padanya? Ny sulastri : bu, aku ini ibunya, aku juga mempunyai tanggung jawab padanya, aku juga pernah melahirkan, dan aku tahu bu apa yang harus aku lakukan untuk anakku, ibu istirahat saja dulu, pulang ke rumah, biar nanti diantar oleh yuwanita. Yuwan, kemasi barang-barang nenekmu, lalu antar pulang Nenek : aku tak mau pulang. Eehhhh . Yuwan. Jangan masuk, kehadiran kalian bikin pikiran cucuku tak tenang saja, aku mau tetap disini menunggui cucuku, kalian saja yang pulang, paramita juga merasa tak nyaman dengan kalian Yuwanita : nek jangan memperuncing persoalan, kami masih memperhatikan paramita, kalau kami tidak memperhatikannya kenapa juga kami ada disini sekarang, nenek istirahat saja dulu. Nenek : jangan juga kalian mengaturku, cukup sudah kalian telah mengatur cucuku yang justru memporak porandakan kehidupan paramita, kau lebih tahu yang harus ku lakukan. Aku lebih duluan mengenal dunia ini dibandingkan kalian. Ny. Sulastri : bu, tolong hargai saya sebagai orang tuanya, seharusnya ibu juga mendukung kami, yang selama ini yang kami lakukan adalah demi paramita. Dengan

memisahkan dia dengan suaminya seperti saaat ini, maka ini akan membantunya keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Nenek : apa kau bisa mnejaminnya? Sedangkan yang terjadi selama ini justru keputusan keputusan dan perlakuanmu pada nya adalah salah. Ny. Sulastri : saya tahu apa yang harus saya lakukan bu . Nenek : ibu macam apa kamu Yuwanita akan menyusul masuk Nenek : eeehhhh.. kamu jangan ikut masuk. Tetap di luar, duduk ! Yuwanita : nenek itu bagaimana sih, seharusnya nenek dapat membantu membina kerukunan keluarga, tapi malah Nenek : eh eh eh . Jadi kamu menyalahkan nenekmu ini? Yuwanita : aaaaahhhhhh . Wardani : saya harus pamit dulu, harus pulang lagi kekantor . Ny sulastri : baiklah, hati-hati di jalan, salam untuk keluarga Nenek : eehhh kenap hanya sebentar, kalau ada waktu lagi tengoklah paramita ya Wardani : mungkin besok saya kemari lagi, semoga sudah bisa membopong keponakan Yuwanita : mampirlah juga kapan-kapan kerumah dan Wardani : ya, kapan-kapan mbak saya sempatkan, masih di tempat yang dulu kan? Yuwanita : iya, tapi kamu akan sedikit pangling, karena sudah direnovasi beberapa waktu lalu, sudah menjadi 2 lantai, pagar depanpun sudah tinggi. Wardani : iya. Wah jadi penasaran seperti apa sekarang rumahnya, sebelum direnovasi saja sudah luar biasa, apa lagi sekarang ya udah mari . Wardani exit Ny. Sulastri : sudah mapan dia sekarang.. nasibnya baik. Ahhhh harusnya paramita juga bisa seperti dia, kalau dia dulu nurut dengan orangtua, tentu saja orang tua tak menginginkan anaknya hidup sengsara. Nenek : sudah setiap manusia mmpunyai jalan hidup masing-masing. Ny. Sulastri : tapi tak boleh pasrah dengan nasib, kalau saja paramita mau nurut selama ini, kalau saja dia bisa membawa diri dengan baik . Paramita selama ini lebih pinter dari pada wardani, lebih cantik, dan bisa dikatakan juga lebih beruntung karena memiliki keluarga yang lebih dibandingkan dengan wardani, tapi akhirnya ??? apa kah dengan kondisi yang sekarang ini bisa dikatakan telah menjadi suratan takdirnya ini semua tak akan terjadi kalau dia tidak melakukan kebodohan-kebodohan sebelumnya .

Nenek : jangan hanya melihat sisi kesalahannya saja, lihat juga dirimu, kamu juga mempunyai andil dengan keadaannya sekarang. Ny Sulastri : sama sekali saya tak memiliki bayangan kalau hidup paramita seperti sekarang ini, ini adalah mimpi buruk .. saya mempunyai cita-cita besar pada semua anak-anak saya bu. Dan lelaki itu yang yang telah menghancurkan semuanya, berandalan itu itu bu. Kenapa paramita harus kenal dengan lelaki itu . Semoa orang tua yang memiliki anak gadis pasti tidak rela kalau anaknya bersuamikan laki-laki yang tak jelas masa depannya dan semrawut. Saya bisa mencarikan laki-laki lain meski dia sudah janda sekalipun, pasti ada yang masih mau pada paramita dan pasti lebih baik dari si rukmo suaminya. Nenek : lastri Masuk maharani dengan kursi roda di dorong oleh pembantunya Maharani : nenek Ny. Sulastri : lihat bu, anak-anakku yang sudah nurut denganku, nasibnya beda dengan paramita sekarang. Maharani : ada apa ini bu, nek Nenek : ibumu sedang berkotbah mengenai hidup Ny sulastri : bu . Nenek : sudah aku tak ingin berdebat Nenek duduk disudut ruang Yuwanita : mbak, mas darman tidak ikut? Maharani : biasanya juga begitu, tak usah kau tanyakan dia Yuwanita : memang kaum laki-laki, super sibuk, sedang ada proyek besar rupanya. Maharani : aahhh .. Ny. Sulastri : sudah jangan berdebat dengan nenekmu Yem : wah hari ini keren, rumah bersaln ini banyak kedatangan tamu bermobil, top top lagi mobilnya, wah dulu aku juga mempunyai cita-cita untuk jadi orang kaya, mudahmudahan setelah jadi pembantu dirumah sakit bersalin ini, aku bisa jadi bidan Masuk janah dan rini dengan menjinjing plastic kresek Janah : permisi mbak . Yuwanita : mau apa kalian kemari? Nenek : yuwan, tak sopan dengan orang tua.. Janah : nek, saya ingin ketemu paramita menantu saya nek . Nenek : sebaiknya jangan dulu, jangan sekarang..

Janah : kenapa nek, kami kangen dengannya, sekaligus kami juga ingin menengok cucu kami.. Yuwanita : buat apa? Tak perlu ditengok, sudah ada keluarganya yang menjagainya dan lebih menjamin . Janah : tolonglahlah mbak .. Yuwanita : kehadiran kalian tak dibutuhkan disini, pergi saja ! Rini : jangan kasar mbak dengan orang tua mbak! Yuwanita : lalu kenapa, tak terima?! Keluar sulastri. Ny. Sulastri : kenapa berisik ooohhada kalian rupanya?! Kenapa lagi? Mau mengganggu ketenangan keluarga kami? Janah : maafkan kalo saya berani lancang, tapi kali ini saya memberanikan diri untuk mendapatkan hak saya, ijinkan kami dapatkan pengganti dari anak kami yang telah hilang, kami berjanji akan merawat cucu kami dengan baik, tidak akan kelaparan. Dia telah menjadi bagian dari hidup kami, tolong kami mohon Ny. Sulastri : apa? Tak salah dengar aku? Berani sekali.. malapetaka apa lagi yang akan mereka berikan pada keluargaku tolong, sebelum kesabaranku habis, pergi kalian dari tempat ini, dan biarkan keluarga kami tenang tanpa gangguan dari kalian lagi Janah : maaf kalau kami mengganggu, tapi apa salahnya kami mempunyai keinginan semacam itu, cucu kami adalah juga darah daging kami Ny. Sulastri : semoga cucuku nanti tak memiliki darah kotor keturunan kalian, dan menjauhlah juga dari kehidupan anak dan cucuku Janah : sehina itukah kami dimata kalian? Keluar dari kamar paramita disusul Maharani Paramita : ibu.. Ny. Sulastri : paramita masuk ! Janah : apa kabar nduk Ny. Sulastri : dia anakku, tak boleh ada orang yeng memanggilnya sembarangan! Janah : tapi dia juga menantu saya, sama halnya dengan anak saya, apa salahnya kalau . Ny. Sulastri : tinggalkan tempat ini, tak ada yang bisa sembarangan lagi dengan keluargaku ! Rini : kita pergi mak, percuma bicara dengan orang-orang berhati batu seperti mereka Yuwanita : nah nakamu saja tahu apa yang terbaik harus dilakukan Rini : kami juga terpaksa datang ketempat ini, kami juga muak dengan keluarga kalian !

Janah : rin Yuwanita : dasar gembel tak pantas kamu bicara seperti itu Paramita : kalian sama sekali tak pernah menghargaiku, dia juga keluargaku Ny. Sulastri : keluarga ? aku malu mempunyai hubungan kerabat dengan mereka, paramita, cukup sudah kesalahan masa lalumu . Nenek : ini dirumah bersalin, jangan sembarangan kalian mengeluarkan suara kalian, jangan ada umpatan-umpatan, tak baik bagi perkembangan mental bila didengar oleh jabang bayi Janah : kami hanya minta yang juga menjadi hak kami nek . Ny. Sulastri : kamu tak mempunyai hak apa-apa dengan anakku, juga cucuku nanti kalianlah yang telah menghancurkan kebahagiannya, sekarang kalian minta hak kalian, sekarang kalian hanya berhak untuk diam dan mempunyai kewajiban untuk tidak lagi mengganggu keluarga kami Rini : kalian yang justru telah mengahncurkan hidup keluarga kakakku, teganya kalian merampas kebahagian mereka, begitu kejam telah membuat anaknya sendiri menjadi janda.. orang tua macam apa anda ini? Belum cukup juga telah mengakibatkan mas narto masuk bui Yuwanita : memang bajingan itu pantesnya masuk bui ! Paramita : mbak jangan sebut suamiku bajingan!, dia tetap suamiku dan bapak dari anakku. Ny. Sulastri : dia bukan lagi suamimu, sebentar lagi perceraian kalian akan selesai diurus, dan anakmu nanti tak akan memilki ayah yang seorang penjahat. Paramita : ibu (menangis) tak kan aku biarkan seperti itu, aku tak mau, bagaimanapun dia tetap suamiku, aku yakin mas narto tak bersalah, barangkali dia di jebak, dia bukan lagi penipu dia telah berusaha menjadi orang baik, demi aku dia telah merubah hidupnya . Bu (pada janah) tolong katakana pada mereka, bahwa suamiku sudah mulai berubah.. Janah : semoga kau baik-baik saja nduk, jaga kesehatan, dan jaga juga cucu ibu kita pulang rin Paramita : bu. Mas narto anak ibu bukan orang jahat, dia sudah berusaha menjadi orang baik dia sudah buktikan padaku dengan banyak hal . Nenek : ini tempat bersalin, tak bisa sembarangan kalian teriak-teriak Ny. Sulastri : nyatanya dia tetap saja seorang bajingan, penjahat, tidak bisa membuktikan bahwa ada niatan untuk berubah, bukankah ibu telah juga berikan kesempatan padanya ibu punya harapan besar pada anak-anak ibu, aku ingin anakku

malanjutkan kewibawaan keluarga. Sungguh tak enak menjadi orang miskin. Apakah salah cita-cita ibumu ini. Dan ibu sungguh kecewa denganmu Nenek : kebahagiaan tidak dapat diukur dengan harta . Ny. Sulastri : itu teori dari orang yang tak mampu meraihnya. Hanya untuk menghibur diri saja. Nyatanya, anakku yang lain mengerti benar tentang kebahagiaan yang kongkrit. Nenek : suaramu makin tidak enak di dengarkan, . Sulastri, kau pikir siapa dirimu? Kau lihat ulang latar belakangmu. Lihat aku. Siapa aku? Apa kau telah lupa juga siapa aku? Atau aku yang telah lupa pada diriku sendiri, yang aku ingat dulu aku ini juga orang miskin, yang kemudian mendapatkan keberuntungan dengan dinikahinya anakku oleh seorang raden, lalu ikutlah wanita ini menjadi keluarga ningrat. Sulastri, apa benar ingatanku ini? Sekarang anakku yang istri seorang raden itu kemudian benar-benar lupa daratan dan mabuk dengan apa yang diperolehnya. Aku sungguh kecewa denganmu sulastri. Ny. Sualstri : kita tidak akan maju apabila hanya selalu flashback ke masa lalu, biar masa lalu itu tetap menjadi masa lalu,bukan menjadi batu sandungan untuk masa depan. Bu, bukankah dulu juga ibu selalu menginginkan aku sebagai anakmu dapat menjadi lebih baik daripada ibu, apa salah kemudian kalau aku menjadi istri dari keluarga ningrat? Apa salah kemudaian kalau aku juga menginginkan anak-anakku juga bisa bernasib sepertiku? Nenek : tidak salah, memang harus demikian. Namun perlakuanmu pada sulastri adalah salah, kau telah memasung dia, menyiksa hidupnya, dia memiliki konsep hidup dan memandang kebahagiaan dari sisi yang berbeda. Sulastri : tahu apa dia tentang hidup, aku, ibunya yang lebih tahu dan memang harus dipaksakan. Ini semua sekali lagi adalah demi kebaikannya ibu tak perlu kawatir, aku yang bertanggung jawab pada semua yang terjadi pada anak-anakku. Nenek : mereka juga menjadi tanggung jawabku .. Suasana diam Maharani : (dari dalam) paramita. Jangan nekad Keluar paramita dari kamar bersalin dengan menjinjing tas besar Nenek : looo mau kemana kamu nduk? Ny. Sulastri : paramita .. Menahan paramita Ny. Sulastri : kebodohan apa lagi yang kamu perbuat? Mau kemana kamu?

Paramita : yang pasti keluar dari tempat ini.. tak perlu dicari, karena aku hanya menjadi beban dan mencemari keluarga. Ny. Sulastri : kamu tak sadar dengan kondisimu. Kamu sudah akan melahirkan. Paramita : tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku bisa menjaga diriku sendiri, dan calon bayi dalam kandunganku aku ingin dengan iklas melahirkan bayi ini.. maka bukan ditempat ini, juga tanpa kalian .. bayi ini tidak boleh dilahirkan diantara kebencian-kebencian terhadap ayahnya. Aku telah capek dengan kondisi ini, namun demikian aku memang harus memberikan kesempatan pada anakku untuk dapat melihat dunia dan tanpa hasutan atau kabar buruk tentang ayahnya. Aku kecewa dengan kalian Ny. Sulastri : paramita ! jangan lakukan kebodohan lagi ..! Paramita : biarkan aku pergi . Ny. Sulastri : kamu akan melahirkan ! Yuwanita : . Jangan ngawur. ! Terjadi keributan, semua mencegah paramita Paramita : aku mohon .. biarkan kali ini aku menentukan jalan hidupku sendiri, aku tak menuntut banyak kali ini. Anggap semua yang selama ini terjadi adalah memang salahku.. dan aku yang akan menanggung semua akibatnya. Yang sekarang ini aku alami adalah memang sebagai dampak dari keputusan-keputusanku yang lalu.. tapi tolong ijinkan aku kali ini untuk menjalani hidup dengan caraku sendiri Nenek : sudah puas kamu sekarang sulastri . Sama sekali aku tidak pernah menyalahkan keinginan-keinginanmu pada anak2mu .. tapi cara yang kamu tempuh itu salah segeralah menyadari kesalahan itu . Paramita lari, beberapa langkah terhenti, kesakitan Nenek : paramita. Eh cepat kalian tolong dia, papah dia Semua ribut, paramita dipapah kedalam kamar.. Ny. Sulastri : yuwan panggilkan bu bidan Suasana gelisah Maharani : seharusnya semua ini tidak terjadi apa yang disampaikan nenek ada benarnya bu Ny. Sulastri : tidak usah dibahas lagi! Lagian seharusnya kamu tak berkata seperti itu. Kamu kan juga merasakan manfaatnya sekarang .. kamu tidak akan seperti

sekarang ini kalau tidak nurut dengan ibu.. kamu bahagiakan dengan kondisi saat ini? Maharani : kondisi yang bagaimana bu? Ny. Sulastri : kondisi yang bagaimana? Ya dengan kemewahanmu, kesejahteraan kebahagiaan .. Maharani : juga dengan kelumpuhanku ini? Ny. Sulastri : itu musibah .. tak bisa kita hindari musibah .. Maharani : selama ini banyak hal yang aku sembunyikan, apakah bahagia apabila selama bertahun-tahun hidup diatas kursi roda? Apakah bahagia kalian setiap hari, setiap menit, setiap detik mengalami ketakutan dan kekalutan? Hampir setiap malam datang mimpi-mimpi buruk. Yang menyedihkan, siksaan itu ada karena berasal dari orang yang seharusnya memberikan perlindungan dan kebahagian padaku Suamiku . Dia beda dengan yang kalian lihat dan pikirkan selama ini .. Ny. Sulastri : maksudmu ? Maharani : kelumpuhan ini bukan karena sebuah kecelakaan. Tapi .. Ny. Sulastri : tapi apa ran? Maharani : memang sengaja aku tutupi kondisiku selama ini pada ibu dan keluarga, karena aku begitu menghormati mas darman, biarlah mas darman selalu baik di depan keluarga, karena pikirku tak perlu seluruh keluarga ikut sedih dengan melihat kondisiku. Ny. Sulastri : apa yang dilakukan darman padamu ran?! Maharani : menjadi istri keduanya pada awalnya tidak menjadi masalah bagiku, karena memang diawal pengakuan mas darman kepada kita istrinya yang memeng brengsek meninggalkannya, selingkuh dengan lelaki lain aku tidak menyalakan ibu yang sangat getol menjodohkan aku dengannya, karena memang kita ternyata sama-sama tertipu, ternyata istri pertamanya meninggalkan mas darman karena memang sifatnya yang .. yang seperti binatang.. ringan tangan .. dan pola seks yang menyimpang.. maniak .. dia akan puas kalau istrinya ketakutan oleh karenanya setiap hari perlakuan kasar menimpa padaku .. lumpuhku bukan karena jatuh dikamar mandi.. tapi karena .. Ny. Sulastri : kenapa baru sekarang kamu katakan semua ini ? kenapa ran? Yuwanita : Mbak kenapa tak laporkan saja ke polisi .. Ny. Sulastri beranjak

Maharani : mau kemana bu? Ny. Sulastri : melaporkan bajingan itu! Maharani : bukan niatku menceritakan ini semua agar ibu membenci mas darman atau kemudian menyeretnya ke penjara, tapi setidaknya biar ibu tahu bahwa semua yang ibu lihat dan nilai itu benar. Ibu salah menilai mas darman, bisa jadi ibu juga salah menilai narto, suami paramita. Ny. Sulastri : tapi dia seorang perampok .. kurang bukti apa lagi untuk menunjukan kebusukannya Suasana hening, ny. sulastri terduduk di kursi. Beberapa saat bu bidan masuk kamar bersalin Suara bayi Paramita menggendong bayi Paramita : kamu harus bersabar nak, itu ujianmu diawal tarikan nafasmu di dunia, bersabar mendapatkan kecupan dan kasih sayang dari ayahmu. Yakinlah, ayahmu sebentar lagi akan bersama-sama kita. Jangan dengarkan kata orang, tapi dengarkanlah selalu ibu, ayahmu bukan orang jahat, dia telah menunjukan niat kerasnya untuk memiliki ibumu ini dan menjadi ayahmu sepenuhnya. Untuk mendapakan pengakuan itu lalu dia harus merampok. Kamu boleh persalahkan ayahmu dengan tindakan salahnya itu, tapi jangan kurang kadar kecintaan dan hormatmu pada ayahmu nanti . Fade out SELESAI Gepeng Nugroho, 2010