Anda di halaman 1dari 7

R

am

Amerika

rusia

rrc

perancis

inggris

biru: keamanan dan kestabilan, 10 tangkai padi: yang merupakan perwakilan cita-cita tokoh pembentuk asean yaitu kesatuan dan persahabatan yang erat bagi Negara-negara di Asia Tenggara. Bulatan: kesatuan asean merah: semangat & dinamisme putih identik: unsure keuletan. Lambang ASEAN adalah seikat batang padi yang berjumlah sepuluh batang sesuai dengan jumlah anggotanya. Lambang tersebut menggambarkan solidaritas dan kesepakatan ASEAN serta melambangkan adanya ikatan kerja sama untuk mencapai kemakmuran rakyatnya.

a. Sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)


Seusai Perang Dunia I, dunia mengalami kerusakan yang sangat parah. Puluhan negara hancur. Jutaan nyawa manusia menjadi korban. Oleh karena itu, beberapa negara kemudian menggagas sebuah organisasi antarnegara yang bisa mencegah timbulnya peperangan kembali. Maka, didirikanlah sebuah organisasi yang bernama Liga Bangsa-Bangsa (LBB) atau League of Nations (LN). Keberadaan LBB mendapat sambutan baik dari banyak negara. Dalam waktu cepat LBB memiliki 63 negara anggota. Beberapa anggota LBB adalah negara besar, yaitu Prancis, Inggris, Italia, Jerman, dan Jepang. Namun sayang, LBB gagal menciptakan perdamaian dunia. Pada akhir tahun 1930-an, perang kembali terjadi di mana-mana. Perang yang berlangsung jauh lebih besar dan mengerikan. Sebab, wilayah peperangan semakin luas. Negara-negara yang terlibat perang pun jauh lebih banyak. Korban manusia juga lebih banyak. Itulah yang dikenal dengan sebutan Perang Dunia II. Dengan meletusnya Perang Dunia II, LBB dianggap telah gagal. Ketika Perang Dunia II berakhir, beberapa negara besar melakukan pertemuan. Negara-negara itu adalah Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, dan Cina. Tujuan pertemuan itu adalah untuk mendirikan organisasi pengganti LBB. Cita-citanya sama, yaitu menciptakan perdamaian di dunia. Pada pertemuan di San Fransisco, Amerika Serikat, tanggal 26 Juni 1945, 50 negara sepakat untuk membubarkan LBB. Pertemuan tersebut mencetuskan sebuah organisasi baru antarnegara yang menggantikan LBB. Nama organisasi itu adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN). PBB secara resmi berdiri pada tanggal 24 Oktober 1945. Markas besar PBB ditetapkan di kota New York, Amerika Serikat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) adalah organisasi yang menghimpun negara-negara di dunia. Tujuannya adalah untuk mewujudkan perdamaian dunia dan kerja sama antarnegara anggota. PBB didirikan pada 28 Juni 1945, tidak lama setelah Perang Dunia II berakhir. PBB didirikan oleh empat negara besar, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, dan Cina. PBB dibentuk untuk membuat tatanan dunia menjadi lebih baik dan lebih damai, terbebas dari peperangan dan permusuhan. Organisasi ini bermarkas di kota New York, Amerika Serikat.

Walaupun didirikan oleh negara-negara besar, keanggotaan PBB terbuka bagi semua negara di dunia. Sampai saat ini, anggota PBB berjumlah 191 negara. Jadi, hampir seluruh negara di dunia telah menjadi anggota PBB. Semua negara yang menjadi anggota PBB memiliki kedudukan yang sama. Negara besar maupun kecil, baik kaya atau miskin, semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama bagi terciptanya perdamaian dunia.

Hak Veto , Duri Dalam Daging PBB


Hak veto merupakan hak khusus bagi pemegangnya untuk membatalkan suatu rancangan / draf peraturan maupun resolusi di dalam Dewan Keamanan PBB , hak ini terkesan sewenang - wenang dan dapat dengan mudah disalahgunakan . Dan hal ini memang benar adanya , seringkali PBB tak mampu berbuat banyak dalam menangani suatu konflik antar-negara karena ia dibungkam oleh hak

veto . Hak veto di PBB dimiliki oleh 5 negara , yaitu : Amerika Serikat , Rusia ( Pengganti Uni Soviet ) , RRC ( Pengganti Republik China ) , Inggris , Perancis . Kelima negara ini diberi hak veto karena merupakan 5 negara tetap dewan keamanan . Hak veto bukanlah merupakan hal baru dalam sejarah perpolitikan , hak veto pertama kali dikembangkan pada masa Romawi Kuno ( 6 SM ) , yaitu pada Konsul Roma dan Tribun . Hak veto diciptakan untuk melindungi Kaum Pleb ( Rakyat jelata ) dari pengaruh dan

kesewenang - wenangan Kaum Patricia ( Bangsawan ) setelah adanya ancaman pemberontakan dari Kaum Pleb . Kalau dilihat dari masa berlaku dan zamannya , maka bisa disimpulkan bahwa Hak Veto sudah tidak memenuhi tuntutan zaman lagi . Karena secara tak langsung hak veto memberikan suatu kekuasaan yang besar bagi pemakainya , sedangkan pola perpolitikan internasional zaman ini mengadopsi asas persamaan hak dan martabat . Seharusnya diadakan pemungutan suara ( Voting ) yang

lebih demokratis dibandingkan dengan pemberian hak veto , karena sejarah membuktikan bahwa hak veto selalu membawa pengaruh buruk . Tentu masih segar dalam pikiran kita mengenai serangan Israel ke Gaza (2008-2009) yang dibiarkan begitu saja oleh PBB karena adanya veto dari AS , padahal secara jelas Israel melanggar kedaulatan negara lain dan melakukan kejahatan kemanusiaan . Demikian juga saat Syria melakukan kejahatan kemanusiaan dengan membantai rakyatnya yang sedang berdemonstrasi menentang presiden Baashar Al Assad (2011 -2012) , Rusia dan Cina memveto resolusi dari DK PBB yang ingin menggunak opsi intervensi militer seperti yang dilakukan kepada Libya . Kemudian keinginan Palestina untuk diakui sebagai negara merdeka dan diterima sebagai anggota PBB yang selalu diveto oleh AS dan sekutu - sekutunya , padahal secara jelas tertulis di Piagam Atlantik bahwa setiap negara berhak untuk menentukan pemerintahannya dan nasibnya sendiri . Hak veto secara jelas sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan karena hanya menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lainnya , padahal PBB dibentuk untuk menciptakan

kesederajatan dan kesamaan dalam hubungan antar bangsa . PBB seharusnya menerapkan sistem yang lebih demokrasi lagi seperti Sistem Voting karena lebih mencerminkan keinginan dan aspirasi dari anggota PBB itu sendiri . Dengan semakin kompleks nya kondisi dan masalah internasional , maka dibutuhkan suatu sistem yang terpadu dan mampu mendukung fungsi PBB secara maksimal . Dan secara jelas hak veto sudah tak mampu mendukung fungsi PBB sebagai organisasi perdamaian dunia , hak veto bagaikan suatu alat untuk mendiskriminasi negara - negara lain . Oleh karena itu sudah sepantasnya diganti oleh sistem baru yang lebih demokratis dan lebih mampu mendukung fungsi PBB .

Sejarah Gerakan Non-Blok


Setelah Perang Dunia II berakhir dunia terbagi menjadi dua blok, yakni Blok Barat dan Blok Timur. Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika berpaham Liberal. Sementara Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet berpaham Komunis. Kedua blok tersebut saling berlawanan karena perbedaan paham

tersebut. Agar menjadi semakin kuat, tiap-tiap blok mencari sekutu sebanyakbanyaknya. Negara-negara yang baru merdeka diajak untuk menjadi sekutu. Meskipun demikian, tidak semua negara bersedia mengikuti salah satu blok tersebut. Ada negara-negara yang memilih bersikap netral. Negaranegara tersebut tidak mau memihak salah satu blok. Di antara negaranegara netral ini adalah Indonesia, India, Mesir, Ghana, serta Yugoslavia. Atas inisiatif pemimpin lima negara ini terbentuklah sebuah organisasi yang disebut Gerakan Non-Blok (GNB) atau Non-Aligned Movement (NAM). Pemimpin kelima negara tersebut antara lain Soekarno (Presiden Indonesia), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Gamal Abdel Naser (Presiden Mesir), Josep Broz Tito (Presiden Yugoslavia), dan Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gerakan Non-Blok didirikan pada tanggal 1 September 1961. Gerakan ini diilhami oleh Dasasila Bandung yang disepakati pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Daftar Sekretaris Jenderal PBB No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Trygve Lie Dag Hammarskjold U Thant Kurt Waldheim Javier Prez de Cuellar Boutros Boutros-Ghali Kofi Annan Ban Ki-moon Asal Negara Norwegia Swedia Burma Austria Peru Mesir Ghana Korea Selatan Mulai menjabat 2 Februari 1946 10 April 1953 30 November 1961 1 Januari 1972 1 Januari 1982 1 Januari 1992 1 Januari 1997 1 Januari 2007

Riwayat Sekretaris Jenderal PBB 1. Trygve Lie

2. Dag Hammarskjold

4. Kurt Waldheim

6. Boutros Boutros Ghali

3. U Thant

5. Javier Perez de Cuellar

7. Kofi Annan

8. Ban Ki-moon

Josip Broz Tito

Jawaharlal Nehru

Gamal Abdul Nasir

Daftar Sekretaris Jenderal ASEAN


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Berikut adalah daftar diplomat yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN:

No.

Nama

Negara

Dari

Sampai 18 Februari 1978

1. H.R. Darsono 2. Umarjadi Notowijono 3. Datuk Ali Bin Abdullah 4. Narciso G. Reyes 5. Chan Kai Yau 6. Phan Wannamethee 7. Roderick Yong 8. Rusli Noor 9. Dato Ajit Singh 10. Rodolfo C. Severino Jr. 11. Ong Keng Yong 12. Surin Pitsuwan

Indonesia 7 Juni 1976

Indonesia 19 Februari 1978 30 Juni 1978 Malaysia 10 Juli 1978 Filipina 1 Juli 1980 30 Juni 1980 1 Juli 1982 15 Juli 1984 15 Juli 1986 16 Juli 1989 1 Januari 1993 31 Desember 1997 31 Desember 2002 31 Desember 2007 sekarang

Singapura 18 Juli 1982 Thailand 16 Juli 1984 Brunei 16 Juli 1986

Indonesia 17 Juli 1989 Malaysia 1 Januari 1993 Filipina 1 Januari 1998

Singapura 1 Januari 2003 Thailand 1 Januari 2008