Anda di halaman 1dari 5

3.

Memahami dan Menjelaskan Rujukan


Batasan konsultasi tidaklah sama dengan rujukan. Konsultasi menunjukkan adanya upaya memintakan bantuan profesional penanganan kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter pada dokter lain yang lebih ahli. Sedangkan rujukan menunjukkan pada upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan suatu kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter pada dokter lainnya yang sesuai. Konsultasi pengaturannnya lebih banyak bersifat kesejawatan sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kode etik profesi, pengaturan rujukan sering dituangkan dalam peraturan perundang undangan. Untuk Indonesia pengaturannya pada surat keputusan Menteri Kesehatan RI No. 032/Birhup/72 tahun 1972. Penjabaran lebih lanjut dari rujukan ini dapat dilihat pada Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Disebutkan bahwa rujukan di Indonesia dibedakan atas 2 macam, yakni: 1. Rujukan Medis Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang dilakukan pada rujukan medis adalah masalah kedokteran. Tujuan utamanya adalah untuk menyembuhkan penyakit dan atau memulihkan status kesehatan pasien. Rujuuakan medis dibagi atas 3 macam, yakni:
a. Rujukan pasien (transfer of patient)

Pelimpahan wewenang dan taggung jawab penatalaksanaan pasien dari satu strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata pelayanan kesehatan yang lebih sempurna untuk pelayanan tindak lanjut diperlukan.
b. Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)

Pengiriman dokter atau tenaga kesehatan lain yang lebih ahli dari satu strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk melaksanakan bimbingan dan diskusi untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan.
c. Rujukan bahan pemeriksaan laboratorium (transfer of specimens)

Pengiriman bahan bahan pemeriksaan pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu untuk pemeriksaan bahan laboratorium untuk pelayanan tindak lanjur yang diperlukan. 2. Rujukan Kesehatan Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang dilakukan pada rujukan kesehatan adalah untuk masalah kesehatan masyarakat. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan ataupun mencegah penyakit yang ada d imasyarakat. Rujukan kesehatan juga dibedakan atas 3 macam, yakni: a. Rujukan tenaga

Pengiriman dokter atau tenaga kesehatan dari satu strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk menaggulagi masalah kesehatan masyarakat yang ditemukan untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan. b. Rujukan sarana Pengiriman berbagai peralatan medis dan non medis kesehatan dari satu strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk menaggulagi masalah kesehatan masyarakat yag ditemukan untuk pelayanan tindak lanjut yang diperlukan. c. Rujukan operasional Pelimpahan wewenag dan tanggung jawab penagggulangan masalah kesehatan masyarakat pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata pelayanan kesehatan yang lebih mampu untuk pelayanan tindak lanjut yang diperlukan. Sebagaimana rujukan dalam SKN, terlihat bahwa rujukan dokter keluarga tidak termasuk dalam kelompok rujukan kesehatan, melainkan kelompok rujukan medis. Sasaran utama pelayanan dokter keluarga adalah masalah kedokteran dan penyakit yang ditemukan pada anggota keluarga. Rujukan pada pelayanan kedokteran keluarga mempunyai beberapa kriteria khusus yaitu: 1. Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab pada rujukan pelayanan dokter keluarga tidak bersifat total, melainkan hanya untuk masalah penyakit yang sedang ditanggulagi saja. Sedangkan penyakit lainnya atau kesehatan pasien secara keseluruhan, tetap berada ditangan dokter keluarga. 2. Dalam melakukan rujukan pasien dalam pelayanan dokter keluarga, pertimbangan tidak hanya atas dasar keadaan penyakit pasien saja, melainkan keadaan sosial ekonomi keluarga secara keseluruhan. 3. Tujuan rujukan pada pelayanan kedokteran keluarga tidak terbatas hanya pada penyembuhan penyakit dan ataupun pemilihan status kesehatan saja melainkan juga peningkatan derajat kesehatan derajat kesehatan dan ataupun pencegahan penyakit.

KARAKTERISTIK Konsultasi dan rujukan memiliki beberapa karakteristik tersendiri. Karakteristik yang dimaksud adalah: 1. Ditinjau dari ruang lingkup kegiatan

Ruang lingkup kegiatan utama pada konsultasi adalah memintakan bantuan profesional dari pihak ketiga. Sedangkan pada rujukan adalah melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang sedang dihadapi kepada pihak ketiga. 2. Ditinjau dari kemampuan dokter Pada konsultasi, karena luang lingkup kegiatannya adalah untuk memintakan bantuan profesional, maka konsultasi pada umumnya ditujukan pada dokter lain yang lebih berpengalaman dan atau lebih ahli . sedangkan rujukan , kelebihan pengalaman dan atau keahlian tersebut tidak bersifat mutlak. 3. Ditinjau dari wewenang dan tanggung jawab Pada konsultasi, karena ruang lingkup kegiatannya adalah memintakan bantuan profesional, bukan melimpahkan wewenang dan tanggung jawab, menyebabkan wewenang serta tanggung jawab penanganan kasus penyakit tetap berada ditangan dokter yang melakukan konsultasi. Sedangkan pada rujukan, karena karena tujuannya adalah melimpahkan wewenang dan tanggung jawab, menyebabkan wewenang dan tanggungjawab penanganan kasuus penyakit tidak lagi berada ditangan dokter yang merujuk, melainkan telah dilimpahkan kepada dokter yang menerima rujukan.

Alasan Diperlukan Konsultasi dan Rujukan 1. Karena pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran Pada saat ini, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran berjalan pesat sekali, dan karena telah tidak mungkin lagi semuanya oleh setiap dokter.Untuk keberhasilan pelayanan kedokteran, perlu digalang kerjasama antara dokter itu, antara lain melalui konsultasi dan rujukan. 2. Karena makin bervariasinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan keluarga

3. Karena keterbatasan kemampuan dokter keluarga

Manfaat Konsulasi dan Rujukan 1. Pengetahuan dan keterampilan dokter keluarga akan lebih meningkat 2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan akan lebih terpengaruhi

Masalah Konsultasi dan Rujukan

1. Apabila konsultasi dan atau rujukan itu dilakukan atas inisiatif dokter serta penjelasan yang dilakukan tidak dapat meyakinkan pasien, maka menimbulkan rasa kurang percaya pasien terhadap dokter. 2. Apabila konsultasi dan atau rujukan itu dilakukan atas permintaan pasien, dapat menimbulkan rasa kurang senang pada diri dokter. 3. Apabila dokter dimintakan konsultasi tidak memberikan jawaban, melainkan mengambil alih wewenang dan tanggung jawab penanganan pasien, atau dokter tempat rujukan tidak merujuk kembali pasien tersebut setelah satu tindakan kedokteran selesai dilakukan.
4. Apabila dokter yang melakukan konsultasi dan atau rujukan tidak sependapat dengan saraan

atau tindakan dokter konsultan (second opinion). 5. Apabila ada pembatas dalam melakukan konsultasi dan ataupun rujukan. 6. Apabila pasien tidak bersedia untuk dikonsultasikan danataupun dirujuk.

Tata cara Konsultasi dan Rujukan


1. Apabila para dokter masih mematuhi kode etik profesi serta subsistem pembiayaaan

kesehatan bersifat tunai (fee for service)


2. Apabila dokter telah tidak mematuhi kode etik profesi serta subsistem pembiyaan bersifat

tunai (fee for service)


3. Apabila para dokter masih mematuhi kode etik profesi tetapi subsistem pembiayaan telah

menerapkan prinsip pra upaya (pre payment)


4. Apabila para dokter telah tidak memenuhi kode etik profesi serta subsistem pembiyaan telah

menerapkan prinsip pra upaya (pre payment)

Suatu konsultasi dan atau rujukan yang baik harus mengikuti tata caara tertentu. Tata cara yang dimaksud ialah: 1. Konsultasi Seorang dokter keluarga berkonsultasi dengan doketr keluarga lainnya yang lebih berpengalaman atau dengan dokter ahli lain, dapat dilakukan secara formal ataupun secara informal. Sebaiknya dokter keluarga lebih mengutamakan cara konsultasi informal. Tata Cara melakukan konsultasi formal: a. Alasan dilakukan konsultasi harus dijelaskan selengkap-lengkapnya kepada pasien b. Dokter yang melakukan konsultasi harus berkomunikasi secara langsung dengan dokter tempat konsultasi. Biasanya komunikasi dilakukan secara tertulis.

c. Keterangan tentang pasien disampaikan harus lengkap tetapi tidak berlebihan dan harus disesuaikan dengan tujuan konsultasi. d. Sesuai dengan ketertentu, dan selamam jangka waktu tersebut, dokter keluarga tidak ikut menangani tentuan kode etik profesi, dokter yang dimintakan konsultasi bersedia memberikan bantuan profesional yang sesuai. 2. Rujukan Pembagian wewenang dan tanggung jawab antara keluarga dan dokter konsultan banyak macamnya, yakni:. a. Dokter keluarga menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu dan selama jangka waktu tersebut dokter keluarga tidak ikut menangani
b. Dokter keluarga menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita

hanya untuk 1 masalah kedokteran khusus saja c. Dokter keluarga menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita sepenuuhnya kepada dokter lain untuk selamanya d. Dokter keluarga, sesuai dengan masalah kesehatan yang ditangani, menyerahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan penderita sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, selama itu dokter keluarga tidak ikut campur dalam penanganan. Tata cara melakukan rujukan pada dasarnya adalah sama dengan tata cara konsultasi.