Anda di halaman 1dari 12

Tugas Individu

Blok VIII Unit Pembelajaran 4 SAPI PERAH YANG KURUS DAN KOTOR

Nama NIM

: Andreas Bandang Hardian : 10/300017/KH/06598

Kelompok : 16

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2011
Learning Objective I. Apa Saja Peraturan Perundang-Undangan (Legislasi) Veteriner di Indonesia yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Hewan? II. Apa Dasar Agama yang Melandasi Profesi Dokter Hewan?

I. Apa Saja Peraturan Perundang-Undangan (Legislasi) Veteriner di Indonesia yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Hewan? Pengelolaan tumbuhan dan satwa liar merupakan rangkaian dari kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berazaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati secara serasi dan seimbang yang dilakukan melalui kegiatan : 1. perlindungan sistem ekologis penting penyangga kehidupan; 2. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; 3. pemanfaatan secara lestari sumber dalam alam hayati. Pengelolaan tumbuhan dan satwa liar sebagai suatu sumber daya alam hayati tersebut tersebar di berbagai tipe habitat yang terdapat di dalam wilayah Indonesia, didasarkan kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, beserta peraturan pelaksanaannya, khususnya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999, jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dimanfaatkan untuk keperluan: 1. Pengkajian, penelitian dan pengembangan; 2. Penangkaran; 3. Perburuan; 4. Perdagangan; 5. Peragaan; 6. Pertukaran; 7. Budidaya tanaman obat-obatan, dan

8. Pemeliharaan untuk kesenangan. Selanjutnya, pengaturan kegiatan pemanfaatan lebih lanjut telah ditetapkan berbagai Keputusan Menteri Kehutanan. Berdasarkan pasal 65 Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 1999, Departemen yang bertanggungjawab di bidang kehutanan ditetapkan sebagai Otoritas Pengelola (Management Authority) konservasi tumbuhan dan satwa liar. Dengan demikian pelaksanaan konservasi tumbuhan dan satwa liar dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan. Selanjutnya melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 104/Kpts-II/2003 (sebagai pengganti Keputusan Menteri Kehutanan No.36/Kpts-II/1996), Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam telah ditunjuk sebagai pelaksana Otoritas Pengelola (Management Authority) CITES di Indonesia. Beberapa legislasi yang berhubungan dengan pemanfaatan hewan antara lain: A. Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tersebut yang terdiri 15 Bab dan 99 Pasal. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1. Arti beberapa istilah BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 s/d Pasal 3 BAB III SUMBER DAYA a. Bagian Kesatu : Lahan Pasal 4 s/d Pasal 6 b. Bagian Kedua : Air Pasal 7 c. Bagian Ketiga : Sumber daya genetik Pasal 8 s/d Pasal 12 BAB IV PETERNAKAN a. Bagian Kesatu : Benih, Bibit, dan Bakalan Pasal 13 s/d Pasal 18 b. Bagian Kedua : Pakan Pasal 19 s/d Pasal 23 c. Bagian Ketiga : Alat dan Mesin Peternakan Pasal 24 s/d Pasal 26 d. Bagian Keempat : Budi Daya Pasal 27 s/d Pasal 33 e. Bagian Kelima : Panen, Pasca Panen, Pemasaran, dan Industri Pengolahan Hasil Peternakan Pasal 34 s/d Pasal 38 BAB V KESEHATAN HEWAN a. Bagian Kesatu : Pengendalian & Penanggulangan Peny. Hewan Pasal 39 s/d Pasal 48

b. Bagian Kedua : Obat Hewan Pasal 49 s.d Pasal 54 c. Bagian Ketiga : Alat dan Mesin Kesehatan Hewan Pasal 55 BAB VI KESMAVET DAN KESRAWAN a. Bagian Kesatu : Kesmavet Pasal 56 s/d Pasal 65 b. Bagian Kedua : Kesrawan Pasal 66 s/d Pasal 67 BAB VII OTORITAS VETERINER Pasal 68 s/d Pasal 75 BAB VIII PEMBERDAYAAN PETERNAK & USAHA DI BIDANG PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Pasal 76 s/d Pasal 77 BAB IX PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA Pasal 78 BAB X PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BAB XI PENYIDIKAN Pasal 84 BAB XII SANKSI ADMINISTRATIF BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN BAB XV KETENTUAN PENUTUP B. Tindakan karantina dilakukan oleh petugas karantina, berupa : 1. pemeriksaan; untuk mengetahui kelengkapan dan kebenaran isi dokumen serta untuk mendeteksi hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. 2. pengasingan; untuk mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang karena sifatnya memerlukan waktu lama, sarana, dan kondisi khusus. 3. pengamatan; untuk mengamati ada tidaknya hewan yang : a. tertular atau diduga tertular hama dan penyakit hewan karantina atau hama dan penyakit ikan karantina, atau; b. tidak bebas atau diduga tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina. Pasal 85 Pasal 94 BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 86 s/d Pasal 93 Pasal 95 s/d Pasal 99 (Anonim3, 2011). Pasal 79 s/d Pasal 83

4. perlakuan; media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina diberikan perlakuan untuk membebaskan atau menyucihamakan media pembawa tersebut. 5. penahanan; apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata persyaratan karantina untuk pemasukan ke dalam atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia belum seluruhnya dipenuhi. 6. penolakan; diakukan bila: a. setelah dilakukan pemeriksaan, pengamatan, dan perlakuan tertular atau diduga tertular hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina b. persyaratan tidak seluruhnya dipenuhi, atau c. setelah dilakukan penahanan, keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi, atau d. setelah diberi perlakuan di atas alat angkut, tidak dapat disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan karantina, atau hama dan penyakit ikan karantina, atau tidak dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan karantina. 7. pemusnahan; dilakukan pemusnahan apabila ternyata : a. setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksaan, tertular hama dan penyakit hewan karantina, atau hama dan penyakit ikan karantina, atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau busuk, atau rusak, atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya, atau b. setelah dilakukan penolakan, media pembawa yang bersangkutan tidak segera dibawa ke luar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan, atau c. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan, tertular hama dan penyakit hewan karantina, atau hama dan penyakit ikan karantina, atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau d. setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakukan, tidak dapat disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan

karantina, atau hama dan penyakit ikan karantina, atau tidak dapat dibebaskan dari organisme penganggu tumbuhan karantina. 8. pembebasan. setelah dilakukan pemeriksaan, pengamatan, dan perlakuan tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina (Anonim4, 2011). C. Aturan Perundangan Zaman Hindia Belanda Yang Masih Diberlakukan (Psl. II Aturan Peralihan UUD 1945) 1.Staatsblad no. 432 tahun 1912 tentang campur tangan pemerintah dalam urusan kehewanan 2.Staatsblad no. 614 tahun 1936 tentang larangan penyembelihan ternak besar bertanduk yang betina: 3.Staatsblad no. 715 tahun 1936 tentang ternak yang tidak berguna lagi bagi peternakan 4.Staatsblad no. 733 tahun 1939 tentang perburuan binatang di Jawa dan Madura. D. Undang-undang Kesehatan Hewan 1.UU no. 6 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok peternakan dan kesehatan hewan 2.UU no. 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan 3.UU obat keras (staatsblad no. 419 tanggal 22 Desember 1949) E. Peraturan pemerintah dalam bidang kesehatan hewan 1.PP no. 15 tahun 1977 tentang penolakan, pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan. 2.PP no. 22 tahun 1983 tentang kesmavet 3.PP no. 78 tahun 1992 tentang obat hewan 4.PP no. 82 tahun 2000 tentang karantina hewan F. Surat keputusan bersama menteri Surat keputusan bersama menteri pertanian, menteri dalam negeri no. 690/kpts /TN.510/ 10/93-no. 88 tahun 1993. tentang pos kesehatan hewan.

Agama adalah berbicara tentang kepercayaan-kepercayaan tentang penciptaan, tujuan, nasib, hidup dan cinta. Apa yang orang percayai dan tidak percayai mengenai Tuhan dan dunia mempengaruhi semua aspek dari diri mereka termasuk perilaku sehari hari. Gerakan perlindungan hewan berbicara tentang pengubahan dan pembentukan system kepercayaan orang mengenai hewan. Agama dapat mempengaruhi sikap terhadap hewan, dan cara perlakuan hewan baik secara positif maupun negatif. Agama dapat menjadi hal yang penting untuk gerakan perlindungan hewan dengan cara yang berbeda: 1. Pertama: dapat digunakan untuk mendukung pentingnya gerakan perlindungan hewan. Dengan alasan ini akan sangat berguna dan kuat, terbukti bahwa di negara-negara di mana agama adalah penting dan berpengaruh. 2. Kedua, agama kadang-kadang digunakan untuk membenarkan adanya perlakuan kejam dan bahkan pengorbanan terhadap hewan. Namun beberapa aktivis perlindungan hewan melakukan perlawanan atas dasar nama agama juga. Sikap Positif Terhadap Hewan Semua agama besar didunia memuji penciptaan dan mengakui bahwa manusia bergantung pada alam untuk tetap hidup. Mereka juga mengajarkan belas kasihan dan cinta terhadap makhluk hidup. Hampir semua agama mengakui nilai hakiki dari hidup hewan and perlunya menghindari penyiksaan hewan. Sikap positif yang mungkin dihasilkan dari dua faktor utama: 1.Pertama karena sikap yang demikian tercantum dalam teks agama dan kitab suci 2.Kedua karena orang yang perduli dan penuh belas kasihan dihormati sebagai pemimpin agama mengakui secara konsisten bahwa Tuhan yang penuh kasih dan belas kasihan memperdulikan makhluk yang ingin hidup dan dapat mengalami rasa sakit dan kesenangan. Hanya tuhan yang kejam saja yang menginginkan makhluk yang seperti ini menderita dan mati ditangan manusia. Orang semacam ini ada dalam agama dan mengungkapkan belas kasihan terhadap hewan. A. Hindu Bagi kaum agamawan timur, Hindu dan Budha, alam dianggap suci dan manusia tidak lebih penting dari pada hal lain. Ini sangat berbeda dengan Judaism, Islam dan

Kristen yang adalah agama berpusat pada manusia. Bagi seorang yang beragama hindu, jiwa hewan sama dengan jiwa manusia semakin berkembang ke cara ekspresi kesadaran yang lebih tinggi dari setiap kehidupan. Agama Hindu mengajarkan bahwa setiap yang bernyawa memiliki kehidupan dengan alasan tertentu dan membunuh seekor hewan menghentikan perkembangan jiwa sehingga menyebabkan penderitaan yang besar. Agama Hindu mengajarkan untuk tidak melukai, kejujuran, kebebasan dari pencurian, hawa nafsu, kemarahan, keserakahan dan melakukan yang berguna bagi semua makhluk. Prinsip agama Hindu adalah Ahimsa (tanpa melukai) dan di India ini bahkan dimasukan dalam undang undang. Pengikut agama Hindu yang ketat adalah vegetarian B. Budha Agama Budha didasarkan atas ide universal belas kasihan terhadap semua kehidupan. Seseorang yang suci jika memiliki belas kasihan pada makhluk hidup. Makan daging tidak diperbolehkan bagi pengikut yang setia. Kepercayaan agama Budha mengajarkan bahwa makhluk yang berperasaan akan dilahirkan kembali sebagai makhluk berperasaan lainya dan hati nurani tidak dapat dibunuh. Dengan demikian ada keterkaitan antara semua makhluk. 5 Dhama adalah landasan perilaku etika Budha yaitu tidak melukai makhluk berperasaan. C. Islam Meskipun adanya upacara agama Islam yang melibatkan hewan, penelitian Islam juga memperlihatkan pemberian perbuatan baik kepada semua makhluk hidup. Alquran, Hadis dan sejarah peradaban Islam memberikan banyak contoh mengenai perbuatan baik, belas kasihan kepada hewan. Isalam mengajarkan bahwa hewan harus diberi perlakuan yang sama seperti manusia. Nabi Muhammad SAW mengatakan: seharusnya anda memperlakukan hewan dengan lembut. Allah SWT menciptakan manusia sebagai pemimpin (Khalifah) di bumi (QS. 2:30) dan Allah menciptakan semua makhluk hidup dan isinya untuk kepentingan manusia (QS. 2: 164) Ternak diciptakan Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia, seperti yang tercantum dalam surat An Nahl 5, yang artinya:

... dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada bulu yang menghangatkan dan berbagai manfaat dan sebagainya kamu makan. Dan QS 16:7 yang artinya: ... Ia memikul beban beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup memikulnya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran yang memayahkan diri. Dalam memanfaatkannya dan mengeksploitasi ternak yang tercantum dalam Al quran surat An-Anaam 6:38 ... Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melaikan ummat-ummat seperti kamu juga. Dari uraian di atas, Tuhan lah yang menciptakan semua makluk hidup yang ada di bumi dan manusia diberi keleluasaan untuk megelola alam semesta termasuk ternak untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. Namun demikian tidak berarti bahwa manusia dapat mengeksploitasi dan memanfaatkan alam sekitarnya termasuk ternak dengan sekehendak hatinya, karena justru hal tersebut akan merugikan manusia itu sendiri. Oleh karena itu manusia harus mengelola alam dengan sebaik-baiknya termasuk mensejahterakan ternaknya. D. Agama Kristen Kekristenan menafsirkanya sebagai perintah untuk menghargai alam dan penduduknya. Perasaan ini tercermin dari pelayanan Yesus. Yang menekankan kasih dan damai. Menyadari hal ini, banyak orang Kristen yang saleh menjadi pemimpin gerakan perlindungan hewan, lingkungan dan perdamaian. Contohnya, Santo Francis Assisi dan Albert Schweitzer mendorong orang untuk menghargai dan menghormati semua kehidupan. Bukti keperdulian terhadap hewan dapat ditemukan dalam Alkitab contoh Bagi mereka tak ada bedanya: mengurbankan sapi jantan dan mengurbankan manusia (Yesaya 66:3) Janganlah, karena soal makanan, merusak apa yang sudah dikerjakan oleh Allah ( Roma 14:19-21) Orang baik memperhatikan ternaknya; tapi orang jahat menyiksanya. ( Amsal 12:10)

Katekisasi Katolik Roma (teks Code dari pandangan Katolik Roma yang dominan) berisis pengajaran positif mengenai hewan mencakup fakta bahwa hewan adalah makhluk Tuhan mengacu pada Integritas penciptaan. Tetapi, juga menguatkan konsep penguasaan dan penggunaan hewan yang sesuai termasuk pangan, pakaian, pekerjaan menjinakan, percobaan ilmiah dan medis, juga menentang pemborosan uang untuk hewan yang semestinya masih bisa di gunakan untuk meringankan penderitaan manusia dan memberikan kasih sayang kepada hewan sewajarnya terlebih pada manusia (Anonim2, 2011). Katekismus Gereja Katolik (KGK) perihal menghormati integritas ciptaan Tuhan yang lain (termasuk hewan dan tumbuhan), demikian: KGK 2415 Perintah ketujuh juga menuntut agar keutuhan ciptaan diperhatikan. Binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk tak bernyawa, dari kodratnya ditentukan untuk kesejahteraan bersama umat manusia yang kemarin, hari ini, dan esok (bdk. Kej 1:28-31). Kekayaan alam, tumbuh-tumbuhan, dan hewan dunia ini, tidak boleh dimanfaatkan tanpa memperhatikan tuntutan moral. Kekuasaan alas dunia yang hidup dan tidak hidup, yang Pencipta anugerahkan kepada manusia, tidak absolut sifatnya; ia diukur menurut usaha mempertahankan kualitas hidup sesama, termasuk pula generasi yang akan datang; ia menuntut penghormatan kepada keutuhan ciptaan (Bdk. Centessimus Annus 37-38). KGK 2416 Binatang adalah makhluk-makhluk Allah dan berada di bawah penyelenggaraan ilahi (Bdk. Mat 6:26). Hanya dengan keberadaannya saja mereka memuji dan memuliakan Allah (Bdk. Dan 3:57-58). Karena itu manusia juga harus memberikan kebaikan hati kepada mereka. Kita perhatikan saja, dengan perasaan halus betapa besar para kudus, umpamanya santo Fransiskus dari Assisi dan Filipus Neri, memperlakukan binatang. KGK 2417 Allah menempatkan binatang di bawah kekuasaan manusia, yang telah Ia ciptakan menurut citra-Nya sendiri (Bdk. Kej 2:19-20;9:1-14). Dengan demikian orang dapat memanfaatkan binatang sebagai makanan dan untuk pembuatan pakaian. Orang dapat menjinakkan mereka, supaya dapat melayani manusia dalam pekerjaannya dan dalam waktu senggangnya. Eksperimen dengan binatang demi kepentingan kesehatan dan ilmu pengetahuan dalam batas-batas yang wajar, dapat diterima secara moral, karena mereka dapat menyumbang untuk menyembuhkan dan menyelamatkan manusia.

10

KGK 2418

Bertentangan dengan martabat manusia ialah menyiksa binatang dan

membunuhnya dengan cara yang tidak wajar. Juga tidak layak, kalau manusia mengeluarkan uang untuk binatang, yang pada tempat pertama harus meringankan penderitaan manusia. Orang dapat memiliki hewan, tetapi tidak boleh mencintai mereka sebagaimana layaknya hanya berlaku untuk manusia (Anonim1, 2011).

Daftar Pustaka

11

Anonim1.2011. Desember 2011.

Membunuh

Binatang

Dosakah.

http://katolisitas.org/2011/09/30/membunuh-binatang-dosakah/ Diakses tanggal 7 Anonim2.2011.Ringkasan Singkat dari Berbagai Agama dan Sikap Mereka terhadap Hewan. http://www.sac-ina.org/id/pendidikan/seputar-kesejahteraan-hewan/peranagama/agama-dan-sikapnya-terhadap-hewan. Diakses tanggal 7 Desember 2011. Anonim3.2011.Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Anonim4.2011.Undang-Undang No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina.

12