Anda di halaman 1dari 3

Alternatif studi pra tesis : Ada 3 area studi pra-tesis yang menarik bagi saya untuk diamati, yang

sampai sekarang belum bisa saya putuskan, yaitu : 1. Ruang kontemplasi seni dan budaya China Awalnya Seni dan budaya etnis China yang sudah mulai diakui dan berkembang di Indonesia memerlukan dukungan yang lebih lanjut dengan memberikan fasilitas kontemplasi seni dan budayanya. Dilain pihak beberapa kota tua yang mempunyai sejarah kota yang notabene kepemilikan lahan dan gedung-gedungnya dikuasai etnis China, mulai banyak ditinggalkan dan difungsikan sebagai gudang, rumah walet ataupun fasilitas lain yang tidak relevan lagi dengan sejarah kejayaan kota tersebut. Hal ini mendasari pemikiran bagaimana menghidupkan kembali kota tersebut dengan menyuntikkan fasilitas/bangunan/arsitektur yang mampu mengembalikan geliat kehidupan kawasan tersebut. Sebagai studi kasus dari kajian tersebut adalah sebuah kota tua di Teluk Betung, Bandar Lampung, yang dulunya merupakan kota pelabuhan yang cukup berperan bagi perkembangan Kota Bandar Lampung. Kondisi saat ini bangunan-bangunan di kota tersebut sebagian telah menjadi gudang, rumah walet, toko grosir, dan sebagian lagi menjadi rumah tinggal yang sebagaian besar juga dimiliki oleh etnis China. Berdasarkan pertimbangan tersebut saya mencoba untuk melakukan kajian bagaimana fasilitas kontemplasi seni dan budaya China yang tepat sebagai generator untuk mengembalikan kejayaan kota tersebut. Akhirnya Dari studi dan inventarisasi bangunan kuno di Teluk Betung Utara yang telah saya lakukan, saya melihat kecenderungan perubahan fungsi di bangunan maupun aktifitas yang ada menjadi lebih buruk dikarenakan perubahan fungsi yang tidak mendukung aktifitas kota. Dan dikarenakan banyak pula gedung dan lahan yang dibangun sebagai rumah tinggal oleh etnis China, saya melihat peluang fasilitas kontemplasi seni dan budaya China di daerah tersebut.

2. Fasilitas pamer untuk seni instalasi Awalnya Di era yang kontemporer ini, karya seni kontemporerpun berkembang dengan pesatnya, termasuk karya seni rupa instalasi yang juga berkembang namun belum ada tempat yang tepat untuk mengapresiasikan karya seni rupa tersebut. Karya seni rupa instalasi yang mempunyai beragam bentuk, dimensi dan cara menikmatinya memerlukan ruang pamer yang fleksibel untuk dapat mewadahi karya seni tersebut. Produk karya seni instalasi yang demensinya terkadang sangat kecil ataupun terkadang besar bahkan dapat bergerak menjadikan produk karya seni instalasi tidak dapat diwadahi oleh ruang pamer konvensional. Akhirnya Galeri alternatif seni rupa kontemporer yang dalam hal ini juga dapat mewadahi karya seni rupa instalasi merupakan fasilitas yang cukup menarik untuk dikaji demi mendapatkan ruang yang ideal untuk produk karya seni tersebut, baik dari volume ruang, besaran ruang maupun teknologi ruang yang diciptakan. 3. Peran ruang untuk pasien ketergantungan NAPZA Awalnya Beberapa Rumah Sakit Jiwa di Indonesia telah menyediakan fasilitas pelayanan bagi penderita ketergantungan terhadap narkotika dan psikotropika lainnya (NAPZA). Di beberapa rumah sakit tersebut telah memberikan programprogram dan pelayanan yang cukup baik untuk pasien dengan tidak mempertimbangkan aspek ruang dan arsitektur yang mendukung program-program tersebut. Namun dirasa hasilnya kurang efektif karena pasien tersebut cenderung kembali lagi menjadi pasien. Permasalahan yang timbul sebagian besar di rumah sakit tersebut adalah masih adanya celah peredaran narkotika dan sejenisnya yang dilakukan oleh orang luar ataupun orang dalam, dan juga hubungan antara pasien pria dan wanita yang membuat mereka semakin terjerumus ke-permasalahan lainnya (HIV).

Akhirnya Dalam studi Master Plan dan Pra Design Rumah Sakit Jiwa di Bandar Lampung yang telah saya lakukan, terdapat beberapa hal yang dapat dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan ruang perawatan yang ideal bagi pasien yeng memiliki ketergantungan terhadap narkotika dan psikotropika lainnya.