Anda di halaman 1dari 16

KS ANEKA yang praktis tentang kitab suci by Wim

INFO PRAKTIS TENTANG KITAB SUCI BUKU PALING BANYAK DICETAK, PALING LARIS SEDUNIA

I. ISTILAH. ALKITAB. Istilah ini berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia berarti Sang Kitab atau Kitab yang unggul. Unggul karena ditulis oleh manusia yang diilhami Allah. KITAB SUCI. Istilah 'suci' membawa gambaran manusiawi namun sekaligus ilahi. Kitab Suci bersaksi tentang pengalaman pergaulan Allah dengan manusia. Pengarangnya adalah Allah dan manusia. Maka disebut Kitab Suci. PERJANJIAN LAMA - PERJANJIAN BARU: Disebut Perjanjian karena memberi kesaksian tentang Perjanjian Antara Allah dengan manusia. Perjanjian Lama terlaksana sebelum kedatangan Yesus, Perjanjian Baru terlaksana dengan kedatangan Yesus INJIL. Asal katanya dari bahasa Yunani euaggelion yang artinya Kabar Baik. Sebagai istilah khusus isi Kabar Baik itu adalah karya penyelamatan Allah. Maka sebenarnya menunjuk kepada seluruh Alkitab. Namun, dalam pemakaian praktis, seringkali istilah ini hanya diterapkan pada Perjanjian Baru. Tidak heran, sebab Perjanjian Baru memberi kesaksian tentang Yesus Sang Kabar Baik. Malah lebih khusus lagi, istilah ini dipakai

untuk tulisan-tulisan Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes yang memang secara khusus memberi kesaksian tentang hidup dan pribadi Yesus Sang Kabar Baik. II. PENGARANG & PENULIS KITAB SUCI Buku-buku dalam Alkitab tersusun sebagai suatu proses bertahap dari tradisi lesan, tulisantulisan kecil, kemudian disatukan menjadi satu buku. Prosesnya cukup ruwet. Di samping itu jaman itu ada kebiasaan seorang penulis menggunakan nama orang yang berwibawa untuk tulisannya (supaya dibaca orang). Maka, seringkali harus dikatakan: "Kiranya ditulis oleh....". Hal ini cukup banyak berlaku bagi buku-buku Perjanjian Lama. Kitab Kejadian, misalnya: ditulis oleh begitu banyak orang, berdasarkan tradisi lesan yang sudah berlangsung sekitar 5 abad. Buku-buku Perjanjian Barupun cukup banyak yang mengalami proses penulisan seperti Perjanjian Lama. Ada yang kiranya sudah cukup mantap penulisnya, misalnya beberapa surat rasul Paulus. Namun ada juga yang masih mendapat sisipan-sisipan: misalnya, Injil Yohanes bab terakhir, diperkirakan merupakan tambahan dari salah seorang muridnya. Mengenai pengarang Kitab Suci, Gereja mengajarkan bahwa pengarang manusia tidak hanya bekerja sendiri. Pengarang manusia mendapat inspirasi dari Allah untuk hanya menulis yang dikehendaki Allah. Namun tidak berarti Allah mendikte: sebab yang ditulis sungguh muncul dari pengalaman iman yang sejati yang dengan bebas diungkapkan oleh pengarang manusiawi. Oleh karena itu Gereja mengajarkan bahwa pengarangnya sekaligus Allah dan manusia. III. WAKTU PENULISAN Sekitar abad 13 sebelum Masehi sampai awal abad 2 Masehi. (+ 1200 tahun) Buku-buku dalam Alkitab tersusun dalam suatu proses bertahap dalam kurun waktu yang panjang: Sekitar abad 13 sebelum Masehi sampai awal abad 2 Masehi. (+ 1200 tahun) Proses penyusunannyapun seringkali ruwet. Sehingga tidak mudah menentukan kapan persisnya ditulis, hanya bisa disampaikan ancar-ancarnya saja. ABAD KITAB . 13 Musa: awal kesusasteraan Taurat . Yosua: tradisi-tradisi ttg. penaklukan Kanaan 12/11 Hakim-hakim: tradisi-tradisi ttg .para Hakim . Daud: awal penyusunan mazmur-mazmur. . 10 Salomo: 2 SAMUEL 9-20; 1 Raja 1-2; Tradisi Yahwista . Awal penyusunan tulisan-tulisan hikmat. . 9 Tradisi-tradisi 1 RAJA 17 - 2 RAJA 13; . Tradisi Elohista . ABAD KITAB . 8 Redaksi definitip kitab hukum ULANGAN; YESAYA 1-39; . MIKHA; sejumlah besar mazmur . 7 HIZKIA: Yahwista gabung Elohista (Taurat)

AMOS; HOSEA;

. 6

. 5

. 4 . 3 1

Yosia: terbitan pertama ULANGAN 5-20; Terbitan pertama YOSUA; HAKIM-2; SAMUEL; RAJA-RAJA ZEFANYA; NAHUM; HABAKUK . Seb pembuanganYEREMIA; YEHEZKIEL Pembuangan: RATAPAN; terbitan kedua ULANGAN 5-20 Terbitan definitip YOSUA; HAKIM-2; SAMUEL; RAJA2; YESAYA 40-55; HAGAI T.Imam: ZAKHARIA 1-8; YESAYA 1-39 Terbitan resmi Taurat: KEJADIAN; KELUARAN; IMAMAT; BILANGAN; ULANGAN; YESAYA 34-35; 24-27; MALEAKHI; OBAJA AMSAL; AYUB; RUT; YUNUS; TOBIT . TAWARIKH, EZRA, NEHEMIA; YOEL; MAZMUR; KIDUNG AGUNG . PENGKOTBAH;DANIEL; ESTER .

ZAKHARIA;

1 MAKABE; KEBIJAKSANAAN; YUDIT. IV. TEMPAT PENULISAN. Tempat penulisannyapun lalu seringkali sulit ditentukan. Hanya diperkirakan (perkiraan sejauh dapat dipertanggungjawabkan) di satu dua tempat. Perjanjian Lama sebagian besar di Palestina. Beberapa kemungkinan dibuat di Mesir (Sinai) dan di pembuangan (Babilon/Siria). V. JUMLAH KITAB (+DEUTEROKANONIKA) PERJANJIAN LAMA 45 KITAB PERJANJIAN BARU 27 KITAB VI. JUDUL, BAB DAN AYAT Teks Kitab Suci aslinya tidak memiliki judul-judul kecil, bab dan ayat. Pembuatan juduljudul dalam Alkitab terjadi setelah adanya pembagian teks Kitab Suci atas bab-bab dan ayat-ayat. PEMBAGIAN TEKS KITAB SUCI ATAS BAB-BAB dikerjakan oleh ETIENNE LANGDON, mahaguru di Universitas Paris, awal abad XIII Masehi. PEMBAGIAN TEKS KITAB SUCI ATAS AYAT-AYAT dikerjakan oleh ROBERT ESTIENNE, seorang penerbit buku Alkitab pada tahun 1550. VII. JUMLAH AYAT DALAM ALKITAB

PERJANJIAN LAMA : 27.592 ayat PERJANJIAN BARU : 7.958 ayat Jumlah 35.550 ayat VIII. KITAB YANG PALING: TEBAL MAZMUR YESAYA YEREMIA YEHESKIEL SIRAKH TIPIS 2 YOHANES 3 YOHANES FILEMON YUDAS OBAJA

IX. APAKAH TULISAN YANG ASLI MASIH ADA? Naskah-naskah asli ditulis atas semacam kertas yang dibuat dari sejenis gelagah dan disebut PAPIRUS yang agak kasar, rapuh dan kaku. Naskah-naskah lain memakai kulit (halus) binatang yang diolah dan disebut PERKAMEN. Buku-buku berbentuk lembarlembar papirus atau perkamen panjang, lembar yang satu dilekatkan dengan lembar yang lain, bisa beberapa meter. Lembar-lembar itu digulung dengan pertolongan satu atau dua tongkat pada ujungnya. Gulungan itu disebut VOLUMEN. Ketika sudah berbentuk buku disebut CODEX. Naskahnaskah asli yang masih ditulis tangan sudah lenyap ditelan jaman. (Pengantar P.L., C.Groenen) NASKAH TERTUA yang masih ada adalah CODEX VATICANUS yang ditulis tahun 350 SM disimpan di Museum Vatikan Roma. (Guinnes Book of World Record, 1990,hlm 193) ALKITAB GUTENBERG yang dicetak di Mainz Jerman tahun 1454 merupakan buku yang paling pertama dicetak dengan mesin cetak. (Guinnes World of Record 1990 halaman 190). Yang kita terima sekarang adalah salinan dari salinan dari salinan. X. BAHASA ASLI ALKITAB IBRANI. Berasal dari bahasa Kanaan yang sudah dipakai oleh Abraham sejak menetap di Kanaan. Abad 5 sebelum masehi di sebut Bahasa Yahudi. Abad 2 SM disebut bahasa Ibrani. ARAM. Merupakan semacam bahasa internasional dalam abad 8 SM. Mirip dengan bahasa Ibrani kuno. Orang-orang jaman Yesus memakai bahasa ini. YUNANI. Yang dipakai dalam Alkitab adalah bahasa Yunani Helenis (koine) yang tersebar luas sejak Alexander Agung menaklukkan Laut Tengah. Bahasa koine ini

merupakan bahasa rakyat, bahasa percakapan sehari-hari. Kitab-kitab Deuterokanonika dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa ini. XI. KANON: (=ukuran atau pedoman) Kumpulan lengkap Kitab-kitab yang memuat wahyu resmi dan bersama-sama membentuk Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. KITAB-KITAB KANONIK Kitab yang oleh Gereja diterima sebagai pedoman normatif bagi iman dan kehidupan Kristen, karena diilhami oleh Roh Allah maka termasuk kanon Kitab Suci. Sudah menjelang kelahiran Yesus, bangsa Yahudi memiliki dua macam Alkitab: yaitu Alkitab yang disebut IBRANI, dalam bahasa Ibrani kuno (dengan beberapa karangan dalam bahasa Aram), dan Alkitab yang disebut YUNANI atau SEPTUAGINTA, dalam bahasa Yunani. Septuaginta adalah terjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani yang dikerjakan oleh sejumlah ahli di Mesir antara abad III sampai abad I SM. Dalam Alkitab Yunani atau Septuaginta terdapat sejumlah kitab yang tidak ada dalam Alkitab Ibrani. Para rasul maupun umat Kristen abad-abad pertama hampir selalu dalam pemberitaan Injil dan dalam karya lainnya menggunakan Alkitab Yunani. Sebab pada umumnya mereka berkarya di antara orang-orang yang berbahasa Yunani. Mereka mengutip nas-nas suci dari seluruh Septuaginta, bukan dari kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab Ibrani saja. ALKITAB IBRANI disebut PROTOKANONIKA karena langsung diterima baik oleh Yahudi, Kristen dan Katolik. Beberapa Kitab dalam ALKITAB YUNANI yang tak ada dalam ALKITAB IBRANI baru kemudian diterima sebagai Kitab Suci oleh Katolik. Maka disebut DEUTEROKANONIKA (Deutero = yang ke dua). Nama ini berasal dari Sixtus dari Siena (abad 16 M). Dalam Konsili Trente (abad 16) Gereja Katolik menegaskan kembali bahwa semua kitab Deutero-kanonika adalah Kitab Suci dan tidak sedikitpun kurang bernilai dari kitab-kitab Protokanonika. Deutero-kanonika meliputi: Kitab Yudit, Tobit, 1 Makabe, 2 Makabe, Kebijaksanaan, Sirakh, Barukh, beberapa tambahan dari Ester dan Daniel. APOKRIP: buku-buku yang seringkali penuh legenda/dongeng dan menjiplak Kitab Kitab asli yang termasuk Kitab Suci. Seringkali diberi nama seorang tokoh Perjanjian Lama atau nama seorang Rasul. Gereja sejak semula menolak buku-buku apokrif itu antara lain: Kitab Henoh, Mazmur Salomo; Injil Tomas, Surat Barnabas, Apokalipsis Petrus dan lain sebagainya. Buku-buku ini oleh ahli Alkitab Protestan disebut pseudepigraf artinya buku dengan judul keliru. XII. ALKITAB YANG MANA? Ada banyak terbitan Alkitab dalam bahasa Indonesia. Untuk umat Katolik, mana yang sebaiknya dibeli?

Secara Umum: Alkitab yang disertai DEUTEROKANONIKA Catatan: a. Bagi mereka yang mau mempelajari Alkitab secara teliti bisa menggunakan Alkitab dengan catatan kaki yang di terbitkan sebagai edisi PELITA. b. Bagi mereka yang mau menggunakan Alkitab secara umum bisa menggunakan: 1. Alkitab dengan Deuterokanonika terbitan LAI yang disyahkan oleh Konperensi Wali Gereja Indonesia. 2. Alkitab dalam Bahasa Indonesia sehari-hari c.Untuk Anak-anak bisa menggunakan berbagai terbitan Alkitab untuk anak baik yang disertai gambar maupun tidak XIII. PENYEBARAN ALKITAB: DATA tahun 1965 menyebutkan: Sekitar 50 juta Alkitab tersebar di seluruh dunia dalam sekitar 600 bahasa dan sekitar 680 dialek. (The Catholic Encyclopedia for School & Home, 1965). DATA tahun 1970 menyebutkan: Alkitab tersebar sekitar dua milyar eksemplar dan sudah diterjemahkan kurang lebih dalam seribu bahasa (J. Sutopo SJ, Mysterium Christi, 1970). DATA tahun 1983 Menurut catatan terakhir dari United Bibles Societies, Alkitab dan bagian-bagiannya telah diterbitkan dan diterjemahkan dalam 1763 bahasa/dialek: Alkitab 279 bahasa, bagian-bagiannya - 551 bahasa, kutipan-kutipan 933 bahasa. Di antara terbitan-terbitan yang baru dikeluarkan selama tahun 1982 terdapat Alkitab dalam 2 bahasa, yaitu INCHINAMWANGA (Zambia-Afrika) dan LUN BAWANG (Brunei). Selain itu terdapat 34 Perjanjian Baru dan 20 bagian-bagian Alkitab yang pertamakali diterbitkan, seperti Perjanjian Baru bahasa JJU (Nigeria), NAGA KHIAMNGAN (India), TIJEBARA (Pantai Gading Afrika). Sedang bagian-bagian Alkitab diterbitkan dalam bahasa GARI (kepulauan Salomo), KRIOL (Australia), MANDILI (India), SUPORA (Mali) dan CUAIQUER (Columbia). Karena catatan ini dibuat oleh kalangan Protestan, tidak jelas berapa bahasa yang telah memiliki Alkitab Lengkap ( + Deuterokanonika). (World Report, Maret 1983). ALKITAB DALAM BAHASA DAERAH DI INDONESIA: (Yang pernah terbit) Jawa: B. Baku, B. sehari-hari, tulisan Jawa, B. Sunda; Bahasa Bali, Sumatera: B. Batak Toba, B. Batak Simalungun, B. Batak Karo; Kalimantan: B. DAYAK NGAJU [SURAT BARASIH]; Flores: B. Sikka [NAROEK IWA EI TESTAMENTUM (AMAPOE SOERAT NIMOENG) WAROEN TONENG ATA]; Irian: B. DANI BARAT, B. YALI ANGGURUK, B, EKARI, Sulawesi: B. Toraja [SURA'MADATU], B. Tetun (Bugis, Makasar/Ujungpandang), XIV. DATA PENERJEMAHAN ALKITAB: (Data 1986 dari Lembaga Alkitab Indonesia) a. ALKITAB:

Sumatera: Batak Karo, Batak simalungun, Batak Toba, Nias; Sulawesi: Makasar, Toraja, Bugis; Kalimantan: Dayak Ngaju,; Indonesia; Jawa; Sunda, b. PERJANJIAN BARU: Bali; Sumatera: Batak Angkola, Batak Karo (sehari-hari); Kalimantan: Dayak Maanyan; Kambera; Madura; Mori; Napu; Ndugwa; Pamona; Sangir, Sulawesi; Sawi, Siau/Sunda (sehari-hari); Timor; Irian; Ekari, Dani Barat, Iban, Yali Abenago,. c. BAGIAN/KUTIPAN: Aceh; Bada; Balantian; Batak Pakpak, Sumatera; Batu; Biak (seharihari)Minangkabau/sehari-hari; Bima; Bolaang; Damal; Galela; Hatam; Hmanggona; KimYal; Kim-Yal Korupun; Kaili; Kulawi; Laki; Loloda/Maanyan sehari-hari; Manikion; Mautembu; Masarete; Moni/Napu; Mongondow; Ngalum/Ngaju (sehari-hari); Roti; Sasak, Lombok; Sawu; Sentani; Sigi; Sihong; Silimo; Tobaro; Tobelo; Tombulu; Tousawang; Toutemboan; Ut Danum (sehari-hari); Wajewa; Wano; Waropen; Wandamen; Irian: Asmat, Dani Atas, Dani Tengah, Dani Bawah, Yali Angguruk. d. KUTIPAN UNTUK ANAK-ANAK Batak Toba, Laboya, Biak, Indonesia, Jawa, Kambera, Kodi, Mentawai, Nias, Wajewa, Sawu (Sabu) XV. LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA Dimulai oleh imam-2 Fransiskan mengusahakan penerjemahan dan penerbitan Kitab Suci dan buku-buku Alkitab sejak 1956. Pada tahun 1971 menjadi lembaga MAWI untuk mengembangkan publikasi-2 di bidang K.Suci, kerjasama dengan World Catholic Federation for Biblical Apostolate (di Jerman) dan dengan LAI (=Lembaga Alkitab Indonesia ; milik Gereja Kristen) dalam usaha menerjemahkan, mengelola dan mendistribusikan Kitab Suci Sekretariat LBI dibuka thn 1973 di Jln Kramat Jkt XVI. LAMBANG-LAMBANG PENGINJIL MATEUS dilambangkan dengan MANUSIA YANG BERSAYAP sebab Mateus membuka Injilnya dengan silsilah Kristus serta menekankan sifat kemanusiaan dan kemuliaanNya sebagai raja. MARKUS dilambangkan dengan SEEKOR SINGA sebab Markus memulai Injilnya dengan menceriterakan Yohanes Pembaptis yang diutus menyiapkan jalan pewartaan dan penebusan Sang Mesias. Yoahanes Pembaptis disebutnya sebagai suara yang berseru di padang gurun LUKAS dilambangkan dengan SAPI JANTAN BERSAYAP sebab ia mengawali Injilnya dengan kisah Zakharias yang sedang mempersembahkan korban di Baitullah dan menekankan imamat Kristus di dunia. YOHANES dilambangkan dengan BURUNG RAJAWALI sebab sejak awal Injilnya seakan-akan melayang tinggi di atas hal-hal duniawi dan banyak menguraikan asal dan sifat keilahian Yesus. XVII. MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

Ditetapkan oleh para Bapa Waligereja Indonesia pada tahun 1977 setiap Minggu pertama bulan September. Dalam perjalanan waktu, berkembang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional. TEMA-TEMA MINGGU KITAB SUCI NASIONAL 1977 FIRMAN TUHAN BAGI SEMUA ORANG 1978 FIRMAN TUHAN SUMBER DAYA HIDUP 1979 FIRMAN TUHAN MEMPERSATUKAN 1980 FIRMAN TUHAN MEMBAWA DAMAI SEJAHTERA 1981 FIRMAN TUHAN MENDEWASAKAN 1982 FIRMAN TUHAN dalam PERTEMUAN UMAT 1983 FIRMAN TUHAN dalam KELUARGA 1984 FIRMAN TUHAN dalam HIDUP PRIBADI 1985 INJIL MARKUS: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" 1986 INJIL LUKAS: "Kabar Baik bagi orang miskin." 1987 INJIL MATEUS: "Aku ada di tengah kamu" 1988 INJIL YOHANES: "Perkataan Tuhan memberi hidup sejati." 1989 KISAH (1): "Kamu adalah saksiKu." 1990 KISAH (2): "Paulus rasul bangsa-bangsa." 1991 MENANGGAPI SAPAAN TUHAN 1992 ROMA dan GALATIA: "HIDUP dalam ROH YANG MEMBEBASKAN" 1993 EVANGELISASI BARU 1994 KELUARGA DAN EVANGELISASI BARU

YANG PRAKTIS SEKITAR MEMBACA KITAB SUCI

7 SIKAP DASAR MEMBACA KITAB SUCI 1. Membaca Kitab Suci untuk membangun hubungan dengan Tuhan bukan: menambah pengetahuan. 2. Kitab Suci itu benar sejauh menyangkut keselamatan manusia. Membuat manusia dapat bertemu dengan Tuhan yang benar dan berrelasi secara benar denganNya. 3. Dalam usaha memahami maksud penulis/pewartaan perlu situasi waktu penulisan, penulisnya, cara-cara penulisan dan seluruh latarbelakang yang mendasarinya. 4. Percaya akan Allah yang mewahyukan Diri sebagai Tritunggal Mahakudus yang mengasihi manusia sampai mengutus PuteraNya Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia dan Roh Kudus untuk menerangi jalan hidup manusia. 5. Hati yang terbuka untuk menyadari diri sebagai manusia yang dikasihi oleh Allah namun juga sekaligus lemah. 6. Dalam membaca Perjanjian Lama, selalu menyadari dan menerima bahwa Perjanjian Lama adalah persiapan untuk Perjanjian Baru. 7. Dalam penafsiran Kitab Suci, selalu rendah hati, dan terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam perjalanan hidup Gereja. Tafsiran yang bertentangan dengan yang diajarkan oleh Gereja harus berani ditinggalkan. YANG DAPAT DIGALI DARI KITAB SUCI Siapa sebenarnya Allah Siapa sebenarnya manusia Bagaimana Allah berbicara kepada manusia Bagaimana seharusnya menjawab SabdaNya. Bagaimana seharusnya hidup. Bagaimana seharusnya berkarya. Bagaimana memaklumkan keagungan Tuhan dengan menyelamatkan sesama. Ringkasnya: BAGAIMANA DAPAT HIDUP INTIM DENGAN TUHAN.

HAL-HAL YANG PERLU DIMILIKI UNTUK MEMBACA KITAB SUCI A. KECAKAPAN MEMBACA BEBERAPA ISTILAH UNTUK KETRAMPILAN MEMBACA 1. Membaca: Bisa mengeja huruf-huruf yang tertulis dalam Kitab Suci 2. Memahami/mengerti: Bisa meng-arti-kan setiap kata/kalimat; bisa menghubunghubungkan kata/kalimat yang satu dengan kata/kalimat yang lain; bisa membuat kesimpulan dari bacaan. 3. Merenungkan: Langkah 1: a. Satu kata/kalimat dipikirkan/diucapkan berulang-ulang sampai menjadi hafal. b. Satu pengertian dipikirkan/diucapkan berulang-ulang sampai menjadi hafal. Langkah 2: Mencari hubungan kata/kalimat/pengertian yang dihafal tadi dengan hidup yang nyata; sampai pada pengertian yang baru mengenai hidup. 4. Meresapkan: Memikirkan cara yang nyata agar hasil renungan bisa menjadi pegangan hidup; bisa ikut membentuk hidup pribadi. Memikirkan cara konkret untuk melaksanakannya dalam hidup pribadi/bersama. 5. Melaksanakan: Membuat hasil 'meresapkan' menjadi kegiatan sehari-hari. B. UNTUK HIDUP Mengerti banyak hal tentang kitab suci memang baik, tetapi bukan tujuan utama. Membaca Kitab Suci baru akan menarik kalau pembacanya sungguh terlibat dengan hidupnya sendiri, mau maju dalam hidupnya; khususnya mau semakin mengatur hidup sesuai dengan kehendak Allah dan bersama Allah. C. BEBERAPA PETUNJUK PRAKTIS WAKTU dan TEMPAT Sediakanlah waktu khusus yang tertentu setiap hari, umpamanya 10 menit, 15 menit atau lebih. Supaya dapat berhasil pilihlah waktu yang segar dengan kondisi yang tepat dan cari lingkungan dengan suasana tenang; misalnya pagi hari atau malam hari sekalian. SIKAP BADAN: Carilah sikap badan yang sesuai; agar dapat bertahan dalam membaca.

SARANA PENDUKUNG: a. Peta Alkitab b. Pengantar untuk masing-masing/keseluruhan kitab dalam Kitab Suci c. Uraian tentang latarbelakang sejarah - budaya Kitab Suci. NB: Sarana pendukung ini bisa berbentuk brosur, buku, casette suara, video casette. DARI MANA HARUS MULAI a. Mulai dengan Kitab Tertentu b. Mulai dengan Tema-Tema tertentu c. Mengikuti penanggalan Liturgi Gereja. BAGAIMANA MEMBACANYA: Prinsip Dasar: Mulailah membaca; pakailah hati dan daya khayal/fantasi, jangan terpancang untuk mengerti sesuatu. PRAKTISNYA: a. Membaca dengan membuat ikhtisar b. Membaca dengan menggarisbawahi c. Membaca sambil bersuara. d. Membaca sambil menggambar e. Membaca dengan nyanyian/mendaraskan KALAU ADA YANG TIDAK DIMENGERTI: a. Catatlah yang tidak dimengerti b. Cari jawabannya dalam: buku tafsir, atau tanyakan kepada yang kiranya mampu menjawab. Pelayanan Kerasulan Kitab Suci Kevikepan/Keuskupan bersedia menjawab pertanyaan anda. D. SIKAP BATIN YANG SESUAI: a. Terarah kepada Tuhan b. Percaya dan taat c. Rasa hormat dan khidmat d. Tekun, tabah, tidak mudah putus asa. e. Terbuka untuk mendengarkan dan menerima; juga yang tidak mengenakkan bagi diri kita. f. Mencari penerapan dalam hidup. g. Siap melaksanakan.

SEBAIKNYA TIDAK!!! * Mengutip satu kalimat lepas dan dipakai sebagai kunci pemecahan kesukaran hidup. Sikap ini menjadikan kitab Suci <<rumus Toto Koni>> * Melewati salah satu fasal dengan mengatakan: bagian ini sudah saya kenal'. Ini melihat Kitab Suci sebagai semacam dongeng anak-anak. * Mengira bahwa setiap kalimat dari Kitab Suci berisi tuntutan moril dan rohani. Seluruh Kitab Suci merupakan kesaksian tentang keterlibatan Allah dalam hidup manusia. * Mengambil teks sebagai jawab atau bukti untuk suatu persoalan sekarang. * Tergesa-gesa: ingin tahu segala sesuatu tentang Kitab Suci dan secepat mungkin. Kita harus berani bergaul dengan Kitab Suci, dan ini membutuhkan waktu. * Mencoba mengerti tanpa menghayatinya dalam hidup. Bisa jadi orang yang tahu banyak tapi tak bisa berbuat apa-apa.

BERDOA DENGAN KITAB SUCI? Kalau kita melatih diri membaca Kitab Suci hingga menjadi kebiasaan, dan lebih lagi kalau sikap yang tepat sudah dipakai, niscaya <<membaca Kitab Suci>> akan menjadi semacam <<berdoa dengan Kitab Suci>>. Memang, bagi banyak orang modern, 'berdoa' itu rasanya sukar. Ada macam-macam alasan, yang sebagian besar terletak di luar doa itu sendiri. a. ARTI DOA BAGI KITA Doa adalah pengggerak dinamika pengharapan serta pertemuan dengan Allah dalam Yesus Kristus. Yang dimaksud "penggerak dinamika pengharapan" adalah: Dalam doa orang dipenuhi dengan kenyataan-kenyataan Kerajaan Allah dan tidak akan berdiam diri lagi. Sedangkan "pertemuan dengan Allah dalam Yesus Kristus" merupakan inti iman. Jelaslah, bahwa doa ini adalah karya Roh Allah dalam diri manusia. Demikianlah Allah mengaruniakan RohNya tanpa batas (Yohanes 3:34) dan "Ia tidak jauh dari masing-masing kita" (Kisah 17:27). Oleh karena itu kita dapat berwawancara dengan Dia dalam setiap keadaan dan dimanapun, sehingga kita selalu berkesempatan untuk berhubungan intim dengan Dia yang berkenan hidup dalam diri kita dan untuk Siapa kita juga hidup. b. PERANAN KITAB SUCI DALAM DOA KITA.

Segi utama doa adalah: Menghadapkan diri kita sedemikian rupa kepada Tuhan, sehingga diri kita dapat dihidupkan dan dipenuhi Sabda Tuhan. Dalam situasi bagaimanapun, pertemuan kita dengan Allah yang intim tidak pernah terjadi di luar atau tanpa Kristus. "Karena Allah adalah Esa, Esa pula pengantara antara Allah dan manusia, ialah Yesus Kristus" (1 Timotius 2:5). Dialah Sabda Allah: dalam bentuk yang paling konkrit: Seorang manusia, sedarah dengan kita semua. Sedang Kitab Suci merupakan Sabda Tuhan dalam bentuk dokumen manusiawi, agar tetap memelihara kemurnian hubungan kita dengan Allah. Karena itu Kitab Suci bagi kita lebih penting dari buku-buku yang lain. Kitab Suci membimbing kita belajar berdoa, menjadi pedoman untuk menguji doa dan karya kita, memberi isi yang pantas dan arti mendalam bagi keduanya. Namun "berdoa dengan Kitab Suci" masih cukup asing bagi beberapa diantara kita. Karena itu beberapa petunjuk ini mungkin dapat membantu: 1. Semua yang dimaksudkan dengan <<Sikap yang tepat>> untuk membaca Kitab Suci perlu mendasari pembacaan Kitab Suci. 2. Seperti dalam segala bidang: Orang hanya dapat berhasil dan mencapai sesuatu yang berharga kalau tabah, sabar, tekun bertahun-tahun lamanya; demikian juga dalam hal doa. 3. Untuk menolong agar dapat 'berdoa dengan Sabda Allah" dipakai cara yang biasa dipergunakan bila ingin mengambil hati orang lain: Meninggalkan segala kepentingan sendiri untuk memperhatikan secara penuh kepentingan-kepentingan Dia. Artinya: menempatkan diri dalam situasi Sabda Allah dan menghadap Allah sebagai 'putera Bapa', dengan membawa segala yang bergerak dalam hati kita, sama seperti Yesus ketika berdoa di taman Getsemani. Tuhan akan menghantar kita ke dalam dunia dengan cara yang seringkali tidak kita sangka-sangka. Hati kita akan diubah, diselaraskan dengan SabdaNya, atau juga menerima kenyataan yang mungkin sudah selaras, sebagaimana adanya. 4. Sebelum mulai berdoa, perlu mengatur diri terlebih dahulu. Mengambil sikap badan yang sesuai, menyenangkan hati, menyadarkan diri di hadapan hadirat Tuhan, mohon agar Ia sudi bersabda. 5. Satu cara yang sederhana, ialah membaca sebuah bab dengan perlahan-lahan dan khidmat. Bila menemukan perkataan yang mengesan kita berhenti sebentar untuk dipikirkan dan diresapkan. Kemudian kalimat ini kita ulangi, atau kita lanjutkan pembacaan tadi. Cara ini cocok terutama bagi Mazmur-mazmur, madah-madah, amanatamanat Yesus (misalnya sebagaimana terdapat dalam Injil Yohanes). 6. Cara lain ialah membaca dengan berirama. Setiap kali kita menarik atau melepaskan nafas, kita dapat berdoa dalam hati dengan mengucapkan sepatah kata saja. Jadi, antara tarikan nafas yang satu dengan yang berikutnya diresapkan arti kata itu dalam hati sanubari. Kemudian memandang Dia yang bersabda, atau kepada Siapa kita berbicara. Cara berdoa dengan irama ini ternyata tepat bagi semua doa yang terdapat dalam Kitab Suci, seperti Bapa Kami, doa Yesus sebagai Imam Agung, dsb. Dapat juga dengan memakai kata-kata mutiara dari buku tulis yang mungkin sudah disusun. Dan apabila orang sudah maju serta setiap kali mempersiapkan lahir dan batinnya, mungkin suatu ketika ia dapat berdoa hanya dengan mengulangi satu patah kata saja, seperti: "Ya Bapa", "damai", "bahagia", dsb. Kiranya untuk mencapai kecakapan doa yang demikian diperlukan ketekunan yang tinggi.

7. Dapat terjadi, bahwa orang menyelami suatu kejadian atau suatu perumpamaan tidak hanya dengan pikiran saja, tetapi dengan seluruh pribadinya, dengan panca indera lahir dan batin, sehingga pribadinya dipenuhi oleh makna kejadian itu. Allah mulai berbicara kepadanya, bukan lagi dengan kata saja, melainkan juga dalam seluruh kejadian seharihari. Lama-kelamaan orang yang tekun dalam hal ini akan mengalami, bahwa sebenarnya seluruh dunia dan segala apa saja yang ada, berbicara tentang Dia yang hadir dan berkarya di mana-mana. Orang tak akan mengeluh lagi, bahwa ia memang kerapkali berdoa kepada Tuhan, tetapi tidak pernah sampai terdengar jawaban apapun. Orang akan dapat mendengarkan Sabda Tuhan di mana-mana. Berkat Sabda Tuhan, ia akan mulai <<hidup dalam hadirat Tuhan>>. Dalam semua usaha seperti itu Kitab Suci adalah pembimbing, pedoman dan isi doa kita.. Untuk maju seringkali dibutuhkan pertolongan dan bimbingan dari seorang bapa rohani yang cakap dan berpengalaman. MEMPERSIAPKAN HOMILI I. ANJURAN KONSILI VATIKAN II. Dalam dekrit 'Optatam Totius' mengenai pendidikan calon imam, Konsili mengharap agar para calon pewarta sabda Allah dengan seksama dilatih dalam metode penafsiran Kitab Suci, mempelajari bagaimana mengalirkan kekayaan keselamatan dari sumber-sumber ke dalam kebutuhan hidup sehari-hari dengan membaca serta merenungkan sabda Tuhan. Dengan demikian mereka akan mempersiapkan diri untuk dapat melayani umat dengan rejeki sabda Kehidupan Tuhan (no 16-21). Sehubungan dengan hal ini, kini diutarakan suatu petunjuk untuk masa persiapan yang mungkin dapat berguna juga bagi para calon katekis, pengajar agama, pro diakon, dsb. II. JANGAN JADI TUKANG OMONG KOSONG. Persiapan untuk ber-homili dan ber-katekese seharusnya termasuk jadwal seluruh pendidikan kita. Memang, keperluan ini kerapkali tidak dipahami, terutama karena orang sering merasa sudah terlalu mudah untuk berpidato. Namun jangan lupa, dengan tajam kita diperingatkan "janganlah menjadi pewarta lahir sabda Allah yang hampa, yang tidak mendengarkanNya sendiri dalam batin" (DV 25). Lagipula, karena tujuan kita bukanlah untuk menjadi pewarta untuk diri sendiri, melainkan untuk melayani umat dalam segala kepentingannya, maka seluruh masa pembinaan dimaksudkan juga sebagai masa persiapan untuk melayani umat. Bila orang tidak berusaha untuk membiasakan diri setiap hari dengan tekun dan rajin menimba air dari sumber Sabda Kehidupan, ia akan tinggal kosong dan kering; dan bila di kemudian hari tenggelam dalam macam-macam kesibukan, ia akan menjadi sama seperti "gong yang bergaung atau canang yang bergemerincing." (1 Korintus 13:1). c. ARTI 'HOMILI'. Sejak dahulu kala 'homilein' (bahasa Yunani) diartikan sebagai "berwawancara dengan Sabda Tuhan". Terlaksananya terutama, bila dengan membaca Kitab Suci kita merenungkan serta meresapkan sabda Tuhan sedemikian rupa dalam diri kita sehingga dengan spontan kita mulai berdoa denanNya. Karena itu, disamping pelajaran Kitab Suci

yang harus bersifat teologis, <<berdoa dengan Sabda Allah>> merupakan persiapan pokok, baik jangka panjang maupun jangka pendek, untuk berhomili serta berkatekese. III. PERLU DITERAPKAN. Jaman kita ini, sabda Tuhan, sebagaimana tertera di dalam Kitab Suci harus diterapkan ('diterjemahkan') ke dalam bahasa, situasi, alam kehidupan, gambaran-gambaran, perumpamaan-perumpamaan, simbol-simbol, persoalan-persoalan, pendek kata: Lingkungan hidup konkrit umat setempat. Kecakapan untuk menerapkannya perlu dibina. Asal seluruh persiapan kita arahkan kepada pelayanan umat "berdoa dengan Kitab Suci" di dalam kamar akan erat berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan umat yang akan mendengarkan homili kita. Umat yang harus kita layani, tidak akan jatuh dari langit, melainkan merupakan kelangsungan dari umat yang ada sekarang. Kesulitan-kesulitan yang nanti harus kita hadapi tak lain daripada kelanjutan dari kesulitan-kesulitan dan kesalahan-kesalahan yang terjadi sekarang. Adapun sabda Allah mengandung juga penyelesaian bagi persoalan-persoalan yang akan muncul di kemudian hari. IV. TINDAKAN KONKRET 1. Dengan membuat semacam "buku harian apostolis". Dalam buku itu dicatat persoalanpersoalan Gereja dan masyarakat pada umumnya sekarang ini, dan bagaimana kiranya jawaban Tuhan terhadapnya. Hendaklah dibuat secara konkret dan obyektif. Buku harian ini juga dapat dipergunakan untuk bermeditasi sambil menulis (misalnya bila mengantuk). Hasil yang bermanfaat yang akan diperoleh dari usaha semacam ini adalah: Tahap demi tahap kita akan sanggup melihat <<tanda-tanda jaman>>. 2. Dengan membuat semacam kartutik (Kotak dibuat dari kardus atau kayu). Bila selama mempelajari atau berdoa dengan Kitab Suci menemukan sesuatu yang dapat dipergunakan untuk pengetrapan konkrit suatu teks Kitab Suci ke dalam alam kehidupan sekarang, kita catat. Demikian juga suatu ceritera atau suatu simbol yang langsung akan dapat dipahami oleh para pendengar, serta cocok untuk merumuskan kutipan tertentu Kitab Suci ke dalam bahasa hidup sehari-hari kita sendiri. Semua itu kita masukkan dulu ke dalam kotak tersebut; dan sesudah agak banyak diadakan pemilihan: yang berguna, diatur menurut suatu skema yang dapat ditentukan sendiri; misalnya tema-tema pokok atau menurut masingmasing kitab. Yang dianggap tidak berguna, silahkan dibuang. PENGANTAR Kitab Suci, buku yang sangat kaya dapat dilihat dari aneka segi. Aneka usaha untuk membuatnya berdayaguna; dengan penjelasan yang mendalam sudah banyak dapat ditemukan. Namun, seringkali kurang ada kesempatan untuk memperoleh pedoman yang praktis, yang singkat. Memang, yang serba praktis dan singkat seringkali tidak mengena (karena kurang mendalam). Oleh karena itu, buku ini dibuat lebih sebagai salah satu usaha untuk merangsang kerinduan akan pemahaman yang lebih mendalam. Buku ini sendiri kiranya dapat memberi petunjuk praktis, namun masih cukup miskin. Maka perlulah langkah-langkah lebih lanjut. Kiranya bisa menjadi awal usaha untuk mencintai Kitab Suci.

- Rm. Willem Pr. "Tole, Lege" (Ambil, Bacalah) Santo Agustinus.