Anda di halaman 1dari 18

Sekadar sebuah weblog Blog UIN MALIKI MALANG lainnya

RSS

Home Perihal

Search...

PERANAN GURU DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM Jun 10 ana suryaningsihTak Berkategori No Comments A. Latar Belakang Kurikulum memegang peranan penting dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Seiring dengan perkembangan jaman dan tuntutan dari masyarakat, maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan. Inovasi pendidikan akan berjalan dan mencapai sasarannya jika progam pendidikan tersebut dirancang dan di implementasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman. Sebagai implikasi dari pentingnya inovasi pendidikan menuntut kesadaran tentang peranan guru. Seabagai tenaga professional, guru merupakan pintu gerbang inovasi sekaligus gerbang menuju pembangunan yang terintegrasi. Hal ini dikarenakan pembangunan dapat terlaksana jika dimulai dari membangun manusianya terlebih dahulu. Tanpa manusia yang cakap, terampil, berpengetahuan, cerdas, kreatif dan bertanggung jawab maka pembangunan yang terintegrasi tidak akan dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, setiap guru dan tenaga kependidikan lain harus memahami kurikulum dengan sebaik- baiknya. Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif. Persoalan tentang bagaimana mengembangkan suatu kurikulum, ternyata bukanlah hal yang mudah, serta tidak sesederhana yang kita bayangkan. Dalam skala makro, kurikulum berfungsi sebagai suatu alat dan pedoman untuk mengantar peserta didik sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat. Oleh karena itu, proses mendesain dan merancang suatu kurikulum mesti memerhatikan sistem nilai (value system) yang berlaku beserta perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat itu. kurikulum berfungsi mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya. Oleh karena itu, proses pengembangannya juga harus memperhatikan segala

aspek yang terdapat pada peserta didik. Persoalan-persoalan tersebut yang mendorong begitu kompleksnya proses pengembangan kurikulum. Kurikulum harus secara terus menerus dievaluasi dan dikembangkan agar isi dan muatannya selalu relevan dengan tuntutan masyarakat yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. B. Definisi dari Pengembangan Kurikulum Pada dasarnya pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karana adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik.[1] Definisi lain menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur pengembanagn kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber unit, rencana unit, dan garis pelajaran kurikulum lainnya untuk memudahkan proses belajar mengajar.[2] Berikut ini adalah beberapa karakteristik dalam pengembangan kurikulum: 1. Rencana kurikulum harus dikembangkan dengan tujuan (goals dan general objectifes) yang jelas. 2. Suatu progam atau kegiatan yang dilaksanakan di sekolah merupakan bagian dari kurikulum yang dirancang selaras dengan prosedur pengembangan kurikulum. 3. Rencana kurikulum yang baik dapat menghasilkan terjadinya proses belajar yang baik karena berdasarkan kebutuhan dan minat siswa. 4. Rencana kurikulum harus mengenalkan dan mendorong difersitas diantara para pelajar. 5. Rencana kurikulum harus menyiapkan semua aspek situasi belajar mengajar, seperti tujuan konten, aktifitas, sumber, alat pengukuran, penjadwalan, dan fasilitas yang menunjang. 6. Rencana kurikulum harus dikembangkan dengan karakteristik siswa pengguna. 7. The subject Arm Approach adalah pendekatan kurikulum yang banyak di gunakan di sekolah. 8. Rencana kurikulum harus memberikan fleksibilitas untuk memungkinkan terjadinya perencanaan guru siswa .

9. Rencana kurikulum harus memberikan fleksibilitas yang memungkinkan masuknya ideide spontan selama terjadinya interaksi antara guru dan siswa dalam situasi belajar yang khusus. 10. Rencana kurikulum sebaiknya merefleksikan keseimbangan antara kognitif, afektif, dan psikomotorik.[3] Beauchamp mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan teori kurikulum yaitu, ( Ibrahim, 2006 ) : 1. Setiap teori kurikulum harus dimulai dengn perumusan tentang rangkaian kejadian yang dicakupnya. 2. Setiap teori kurikulum harus mempunyai kejelasan tentang nilai nilai dan sumbersumber yang menjadi titik tolaknya. 3. Setiap teori kurikulum perlu menjelaskan karakteristik desain kurikulumnya. 4. Setiap teori kurikulum harus menggambarkan proses-proses penentuan kurikulum serta interaksi diantara proses tersebut. 5. Setiap teori kurikulum hendaknya mempersiapkan ruang untuk dilakukannya proses penyempurnaan. Pada akhirnya, berbagai factor di atas mempunyai factor yang signifikan terhadap pembuatan keputusan kurikulum. C. Kerangka Pengembangan Kurikulum Pengembanagnn kurikulum harus mengacu pada sebuah kerangka umum, yang berisikan hal hal yang diperlukan dalam pembuatan keputusan. [4] 1. Asumsi Asumsi yang digunakan dalam pengembangan kurikulum ini menekankan pada keharusan pengembangan kurikulum yang telah terkonsep dan diinterpretasikan dengan cermat, sehingga upaya-upaya yang terbatas dalam reformasi pendidikan, kurikulum yang tidak berimbang, daninovasi jangka pendek dapat di hindarkan. Dalam konteks ini, kurikulum didefisinisikan sebagai suatu rencana untuk mencapai hasil- hasil yang diharapkan, atau dengan kata lain suatu rencana mengenai tujuan, hal yang dipelajari, dan hasil pembelajaran. Dengan demikian, kurikulum teridiri atas beberapa komponen, yaitu hasil belajar dan struktur ( sekuens berbagai kegiatan belajar ). 1. Tujuan pengembangan kurikulum

Istilah yang digunakan untuk menyatakan tujuan pengembangan kurikulum adalah goals dan objectives. Tujuan sebagai goals dinyatakan dalam rumusan yang lebih abstrak dan bersifat umum, dan pencapaianya relative dalam jangka panjang. Adapun tujuan sebagai objectives lebih bersifat khusus, operasional, dan pencapaianya dalam jangka pendek. Aspek tujuan, baik yang dinyatakan dalam goals maupun objectives memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Tujuan berfungsi untuk menentukan arah seluruh upaya kependidikan sekolah sekaligus menstimulasi kualitas yang diharapkan. Tujuan pendidikan pada umumnya berdasarkan pada filsafat yang dianut atau yang mendasari pendidikan tersebut. 1. Penilaian kebutuhan Kebutuhan merupakan hal yang pokok dalam perencanaan ( Unruh dan Unruh, 1984 ). Dalam kaitanya dengan pengembangan kurikulum dan pembelajaran, kebutuhan didefinisikan sebagai perbedaan antara keadaan actual dan keadaan ideal yang dicita-citakan. Penilaian kebutuhan adalah prosedur, baik secara terstruktur maupun informal, untuk mengidentifikasi kesenjangan antara situasi di sini dan sekarang dengan tujuan yang di harapkan. 1. Konten kurikulum Berkaitan dengan konten kurikulum ini, Unruh (1984) hanya membahas enam bidang konten kurikulum akademik untuk jenjang pendidikan dasar, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Sains (IPA), Studi Sosial (IPS), Bahasa Asing dan Seni. Meskipun demikian, hendaknya kurikulum juga memberikan ruang bagi pelajaran lain selain keenam bidang konten tersebut antara lain pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan agama dan berbagai pelajaran keterampilan lain yang dibutuhkan siswa. 1. Sumber materi kurikulum Materi kurikulum dapat diperoleh dari buku-buku teks, buku petunjuk bagi guru, pusat pendidikan guru, kantor konsultan kurikulum, departemen pendidikan dan agen pelayanan pendidikan lainnya. 1. Implementasi kurikulum Sebuah kurikulum yang telah dikembangkan tidak akan berarti jika tidak diimplementasikan, dalam arti digunakan di sekolah dan di kelas. Keberhasilan implementasi terutama ditentukan oleh aspek perencanaan dan strategi implementasinya. Pada prinsipnya, implementasi ini mengintegrasikan aspek-aspek filosofis, tujuan, subject matter, strategi mengajar dan kegiatan belajar, serta evaluasi dan feedback. 1. Evaluasi kurikulum

Evaluasi adalah suatu proses interaksi, deskripsi dan pertimbangan (judgment) untuk menemukan hakikat dan nilai dari suatu hal yang dievaluasi, dalam hal ini yaitu kurikulum. Evaluasi kurikulum sebenarnya dimaksudkan untuk memperbaiki substansi kurikulum, prosedur implementasi, metode instruksional, serta pengaruhnya pada belajar dan perilaku siswa. 1. Keadaan di masa mendatang Pesatnya perubahan dalam kehidupan social, ekonomi, teknologi, politik serta berbagai peristiwa lainnya memaksa kita semua berfikir dan merespon setiap perubahan yang terjadi. Dalam pemngembangan kurikulum, pandangan dan kecenderungan pada kehidupan masa datang sudah menjadi hal yang urgen. Setiap rencana pengembangan kurikulum harus memasukkan pertimbangan kehidupan di masa depan, serta implikasinya pada perencanaan kurikulum. D. Sumber Daya Manusia Pengembangan Kurikulum Sumber Daya Manusia (SDM) pengembangan kurikulum adalah kemampuan terpadu dari daya piker dan daya fisik yang dimiliki oleh setiap pengembang kurikulum dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Sumber daya manusia tersebut terdiri atas berbagai pakar ilmu pendidikan, administrator pendidikan, guru, ilmuwan, orang tua, siswa, dan tokoh masyarakat.[5] Unsur ketenagaan tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu tenaga professional dan tenaga dari masyarakat. Tenaga professional meliputi tenaga kependidikan guru, tenaga kependidikan non-guru dan organisasi professional. Adapun tenaga dari masyarakat meliputi tokoh masyarakat, orang tua, komite sekolah atau dewan sekolah, pihak industry dan bisnis, lembaga social masyarakat, instansi pemerintah atau departemen dan non-departemen, serta unsur-unsur masyarakat yang berkepentingan terhadap pendidikan. [6] Dalam proses pengembangan kurikulum, keterlibatan unsur-unsur ketenagaan tersebut sangat penting, karena keberhasilan suatu system dan tujuan pendidikan merupakan tanggungjawab bersama pada semua tahapan kurikulum. Berikut ini adalah deskripsi tugas dan wewenang pihak-pihak yang terkait dalam pengembangan kurikulum. 1. Pakar-pakar ilmu pendidikan Spesialis para pengembang kurikulum bertugas untuk: 1. Duduk sebagai anggota panitia atau sponsor. 2. Mengajukan gagasan dan berbagai masukan yang diperlukan oleh panitia pengembang kurikulum. 3. Melakukan penelitian dalam bidang pengembangan kurikulum. 4. Menyusun buku sumber yang dibutuhkan sesuai dengan kurikulum yang dikembangkan.

5. Memberikan pelatihan dan konsultasi bagi para pengembang kurikulum. 6. Administrator pendidikan Administrator pendidikan merupakan sumber daya manusia yang berada pada tingkat pusat, propinsi, kota atau kabupaten dan juga kepala sekolah. 1. Administrator di tingkat pusat memiliki wewenang dan kepemimpinan untuk mengarahkan orang serta bertanggungjawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai tujuan yaitu dalam penyusunan kerangka kurikulum, dasar hokum dan program inti yang selanjutnya dapat ditetapkan jenis dan jumlah mata pelajaran minimal yang diperlukan. Administrator di tingkat pusat bekerja sama dengan para pakar dari perguruan tinggi untuk merumuskan isi dan materi kurikulum sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing. 2. Administrator di tingkat daerah bertugas berdasarkan kerangka dasar dan program inti dari tingkat pusat. Mereka kemudian melakukan pengembangan sesuai dengan kebutuhannya. Administrator tingkat daerah memiliki wewenang merumuskan system operasional pendidikan bagi sekolahnya. Mereka berkewajiban mendorong dan mengimplementasikan kurikulum pada setiap sekolah. Selanjutnya bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru-guru dalam pengembangan kurikulum di sekolah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, melakukan sosialisasi dan melaksanakan kurikulum di sekolah tersebut. 1. Kepala sekolah dan guru memegang peranan yang sangat besar dan merupakan kunci keberhasilan pengembangan kurikulum karena mereka berkaitan langsung dengan implementasi kurikulum. 2. Guru Guru merupakan titik sentral dalam pengembangan kurikulum karena guru sebagai ujung tombak pelaksanaan di lapangan. Pengembangan kurikulum bertolak dari kelas. Oleh karena itu, guru hendaknya memiliki gagasan kreatif dan melakukan uji coba kurikulum di kelasnya sebagai fase penting dan sebagai unsur penunjang administrasi secara keseluruhan. 1. Orang tua Sebagai stakeholder dalam penyusunan kurikulum, hanya beberapa saja dari orang tua yang dilibatkan yaitu mereka yang memiliki latar belakang memadai. Mengingat sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, maka sangat diperlukan adanya kerjasama yang erat antara guru atau sekolah dengan orang tua siswa. 1. Siswa

Siswa sebagai obyek dari penerapan kurikulum hendaknya selalu diberi motivasi dalam belajar dan dibimbing dalam berpartisipasi melalui kegiatan ekstra di sekolah untuk meningkatkan kualitas siswa. E. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum Kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya yakni kurikulum sebagai dokumen dan kurikulum sebagai implementasinya. Sebagai sebuah dokumen kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan kurikulum sebagai implementasi adalah realisasi dari pedoman tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kurikulum. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tanpa kurikulum sebagai pedoman tidak akan efektif. Dengan demikian peran guru dalam hal ini adalah sebagai posisi kunci dan dalam pengembangnnya guru lebih berperan banyak dalam tataran kelas. Murray Printr mencatat peran guru dalam level ini adalah sebagai berikut[7] : Pertama, sebagai implementers, guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah ada. Dalam melaksanakan perannya guru hanya menerima berbagai kebijakan perumus kurikulum.dalam pengembangan kurikulum guru dianggap sebagai tenaga teknis yang hanya bertanggung jawab dalam mengimplementasikan berbagai ketentuan yang ada. Akibatnya kurikulum bersifat seragam antar daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu guru hanya sekadar pelaksana kurikulum, maka tingkat kreatifitas dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran sangat lemah. Guru tidak terpacu untuk melakukan berbagai pembaruan. Mengajar dianggapnya bukan sebagai pekerjaan profesional, tetapi sebagai tugas rutin atau tugas keseharian. Kedua, peran guru sebagai adapters, lebih dari hanya sebagai pelaksana kurikulum, akan tetapi juga sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik dan kebutuhan siswa dan kebutuhan daerah. Guru diberi kewenangan untuk menyesuaikan kurikulum yang sudah ada dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan lokal. Hal ini sangat tepat dengan kebijakan KTSP dimana para perancang kurikulum hanya menentukan standat isi sebagai standar minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktu pelaksanaannya, dan hal-hal teknis lainnya seluruhnya ditentukan oleh guru. Dengan demikian, peran guru sebagai adapters lebih luas dibandingkan dengan peran guru sebagai implementers. Ketiga, peran sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenganan dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru bukan saja dapat menentukan tujuan dan isi pelajaran yang disampaikan, akan tetapi juga dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan serta bagaimana mengukur keberhasilannya. Sebagai pengembang kurikulum sepenuhnya guru dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, visi dan misi sekolah, serta sesuai dengan pengalaman belajar yang dibutuhkan siswa.

Keempat, adalah peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher). Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas profesional guru yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru. Dalam melaksanakan perannya sebagai peneliti, guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan-bahan kurikulum, menguji efektifitas program, menguji strategi dan model pembelajaran dan lain sebagainya termasuk mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai target kurikulum. Metode yang digunakan oleh guru dalam meneliti kurikulum adalah PTK dan Lesson Study. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah metode penelitian yang berangkat dari masalah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum. Melalui PTK, guru berinisiatif melakukan penelitian sekaligus melaksanakan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, dengan PTK bukan saja dapat menambah wawasan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya, akan tetapi secara terus menerus guru dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. Sedangkan lesson study adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru/ sekelompok guru yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama/guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainya), merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan yang baru saja dilakukan. (Ridwan Johawarman, dalam Sumardi, 2009). Dilihat dari segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi, desentralisasi, sentral desentral[8] : 1. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum yang Bersifat Sentralisasi Dalam kurikulum yang bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai peranan dan evaluasi kurikulum yang bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulum makro disusun oleh tim khusus yang terdiri atas para ahli. Penyusunan kurikulum mikro dijabarkan dari kurikulum makro. Guru menyusun kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester, beberapa minggu, atau beberapa hari saja. Kurikulum untuk satu tahun disebut prota, dan kurikulum untuk satu semester disebut dengan promes. Sedangkan kurikulum untuk beberapa minggu, beberapa hari disebut Rencana Pembelajaran. Program tahunan, program semester ataupun rencana pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama yaitu tujuan, bahan pelajaran, metode dan media pembelajaran dan evaluasi hanya keluasan dan kedalamannya berbeda-beda. Tugas guru adalah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat memilih dan menyusun bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak, memilih metode dan media mengajar yang bervariasi serta menyusun metode dan alat yang tepat. Suatu kurikulum yang tersusun secara sistematis dan rinci akan sangat memudahkan guru dalam implementasinya.

Walaupun kurikulum sudah tersusun dengan terstruktur, tapi guru masih mempunyai tugas untuk mengadakan penyempurnaan dan penyesuaian-penyesuaian. Implementasi kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada kreatifitas, kecakapan, kesungguhan dan ketekunan guru. Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan kepada para siswanya tentang apa yang akan dicapai dengan pengajarannya, membangkitkan motivasi belajar, menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif serta memberikan pengarahan dan bimbingan. 2. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum yang Bersifat Desentralisasi kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini diperuntukan bagi suatu sekolah ataupun lingkungan wilayah tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan oleh atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian, isi daripada kurikulum sangat beragam, tiap sekolah atau wilayah mempunyai kurikulum sendiri tetapi kurikulum ini cukup realistis. Bentuk kurikulum ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain : pertama, kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat. Kedua, kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah baik kemampuan profesional, finansial dan manajerial. Ketiga, disusun oleh guru-guru sendiri dengan demikian sangat memudahkan dalam pelaksanaannya. Keempat, ada motivasi kepada sekolah (kepala sekolah, guru), untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan kurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi dalam pengembangan kurikulum. Beberapa kelemahan kurikulum ini adalah: 1) tidak adanya keseragaman untuk situasi yang membutuhkan keseragaman demi persatuan dan kesatuan nasional, bentuk ini kurang tepat. 2) tidak adanya standart penilaian yang sama sehingga sukar untuk diperbandingkannya keadaan dan kemajuan suatu sekolah/ wilayah dengan sekolah/ wilayah lainnya. 3) adanya kesulitan bila terjadi perpindahan siswa kesekolah/ wilayah lain. 4) sukar untuk mengadakan pegelolaan dan penilaian secara nasional.5) belum semua sekolah/ daerah mempunyai kesiapan untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri. 3. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum yang Bersifat Sentral- Desentral Untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk kurikulum tersebut, bentuk campuran antara keduanya dapat digunakan yaitu bentuk sentral-desentral. Dalam kurikulum yang dikelola secara sentralisasi-desentralisasi mempunyai batas-batas tertentu juga, peranan guru dalam dalam pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan dengan yang dikelola secara sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaraban kurikulum induk ke dalam program tahunan/ semester/ atau rencana pembelajaran, tetapi juga di dalam menyusun kurikulum yang menyeluruh untuk sekolahnya. Guru-guru turut memberi andil dalm merumuskan dalam setiap komponen dan unsur dari kurikulum. Dalam kegiatan yang seperti itu,

mereka mempunyai perasaan turut memilki kurikulum dan terdorong untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam pengembangan kurikulum. Karena guru-guru sejak awal penyusunan kurikulum telah diikutsertakan, mereka memahami dan benar-benar menguasai kurikulumnya, dengan demikian pelaksanaan kurikulum di dalam kelas akan lebih tepat dan lancar. Guru bukan hanya berperan sebagi pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun, pengembang dan juga pelaksana dan evaluator kurikulum. KESIMPULAN Pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karana adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik. Pengembanagnn kurikulum harus mengacu pada sebuah kerangka umum, yang berisikan hal hal yang diperlukan dalam pembuatan keputusan yang meliputi asumsi, tujuan pengembangan kurikulum, penilaian kebutuhan, konten kurikulum, sumber materi kurikulum, implementasi kurikulum, evaluasi kurikulum dan keadaan di masa mendatang. Sumber Daya Manusia (SDM) pengembangan kurikulum adalah kemampuan terpadu dari daya piker dan daya fisik yang dimiliki oleh setiap pengembang kurikulum dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. Sumber daya manusia tersebut terdiri atas berbagai pakar ilmu pendidikan, administrator pendidikan, guru, ilmuwan, orang tua, siswa, dan tokoh masyarakat. Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kurikulum. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tanpa kurikulum sebagai pedoman tidak akan efektif. Dari uraian makalah di atas, telah memberikan gambaran kepada kita bahwa guru memegang peranan yang penting dalam pengembangan kurikulum

ISU DAN MASALAH PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN MEMBACA DI SEKOLAH-SEKOLAH DAN INSTITUSI PENGAJIAN TINGGI DI MALAYSIA oleh HJ. ABD. RAZAK DALI, P.K.T., ED.D., M.A. , Cert. Ed. Bukit Jambul

Pulau Pinang Membaca merupakan satu topik yang sentiasa mendapat perhatian serius daripada semua peringkat masyarakat di nergara ini. Sungguhpun kita prihatin terhadap pelbagai isu dan masalah yang diutarakan tentang tajuk ini, namun sehingga hari ini belum nampak sebarang penyelesaian berkesan dilakukan terhadapnya. Mungkin kita tidak nampak isu dan masalah yang sebenar berkaitan dengan ilmu, pengajaran dan pembelajaran membaca? salah satu masalah yang kita akui sebagai yang paling serius ialah kurangnya minat dan tabiat membaca dan ini berlaku di kalangan semua lapisan masyarakat Malaysia. Kerajaan dan pelbagai pihak telah dan sedang berusaha untuk meningkatkan tabiat dan minat membaca. Perkara ini sentiasa dipandang serius oleh semua pihak kerana negara ini sedang menuju ke arah menjadi sebuah negara membangun yang rakyatnya mesti boleh dan dapat bertanding dalam semua aspek kehidupan dengan negara lain. Di sekolah rendah dan sekolah menengah membaca masih lagi menjadi perkara penting dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kelemahan membaca dipandang sebagai penghalang kepada usaha untuk menjadikan anak-anak kita sebagai pelajar berpengetahuan dan cemerlang dan masyarakat kita sebagai masyarakat yang berilmu dan maju. Kalau dilihat pada dasar pendidikan, kurikulum, dan silibus pengajaran membaca tidak ada cacatnya. Semua sudut tentang membaca telah diajar di sekolah-sekolah. Malangnya isu dan masalah yang sama dibangkitkan setiap tahun. "Pelajar tidak suka membaca." "Pelajar tidak berminat membaca." "Pelajart tidak mahu membaca." "Pelajar malas membaca." Tetapi ramai yang tidak mahu mengakui hakikat yang sebenarnya bahawa setelah tamat pengajian SRP, SPM, STPM, Ijazah sarjana muda, ijazah sarjana, dan kedoktoran pelajarpelajar di Malaysia masih tidak TAHU membaca. Sebenarnya banyak perkara yang menyumbang kepada masalah pembacaan tetapi yang dilaung-laungkan kerap berfokus kepada masalah minat dan tabiat membaca sahaja. Kita perlu tahu bahawa kebolehan dan kemahiran membaca tidak berteraskan kepada minat dan tabiat membaca sahaja. Untuk menjadikan seseorang itu berminat serta mempunyai tabiat membaca yang positif kita perlu pertimbangkan faktor-faktor lain yang berkaitan dengannya sama seriusnya dengan minat dan tabiat membaca mereka. MEMECAH TRADISI PENGAJARAN MEMBACA

Setiap kali proses pengajaran membaca berlaku di dalam bilik darjah sama ada di sekolah rendah, menengah atau di intitusi pengajian tinggi ia perlu dipandang sebagai satu pengajaran ilmu yang baru yang dapat diterima oleh pelajar. Kita berusaha mengajar dengan gigih supaya pelajar dapat menerima apa yang diajar itu dengan penuh kesedaran, dengan sikap yang positif, dan dapat menggunakan hasil pengalaman pembacaan itu untuk tujuan yang sebenar. Malangnya ramai guru hari ini menitikberatkan elemen-elemen proses membaca yang tidak jelas dan tidak bermakna kepada pelajar. Ada guru yang memburukkan lagi proses pengajaran membaca dengan mendekatinya pula mekanikal. Ini kerap berlaku kerana ada banyak kekangan keadaan dan halangan yang berlaku proses mengajar membaca. Ilmu membaca perlu dititikberatkan bukannya proses membaca. Kekangan dan halangan yang wujud itu kerap kali tidak mendapat perhatian guru kerana ramai yang tidak tahu yang ianya wujud. Proses pengajaran membaca di dalam bilik darjah adalah refleksi kepada amalan bagaimana buku harus dibaca di sekolah semasa guru mempelarainya di sekolah dahulu. Amalan pengajaran ini telah menyebabkan guru bertindak dengan mengajar secara teknikal tanpa berani membuat keputusan bagaimana hendak mengubahsuaikannya Untuk mengelakkan guru daripada menjadi sebagai seorang juruteknik membaca, mereka harus boleh dan tahu mempelbagaikan kaedah pengajaran dengan membuat keputusan sendiri berpandukan kepada apa yang ada di hadapan mereka (pelajar, bahan, tujuan, kaedah dan diri mereka sendiri). Keupayaan berbuat demikian adalah satu langkah ke arah menjadi seorang guru membaca yang profesional. Guru membaca yang sebenar ialah mereka yang mendapat pendidikan dalam ilmu membaca dan ilmu pengajaran membaca (yang dimaksudkan di sini ialah semua guru dan tidak terhad kepada guru yang mengajar subjek bahasa sahaja).

Sebagai satu contoh ilmu membaca yang dimaksudkan ialah apabila kita membaca kita perlu tahu bahawa tujuan penulis menulis teks ialah untuk berkongsi maklumat dengan pembacanya dan pembaca pula akan membentuk semula isi teks supaya mereka dapat menerima dan memahami maklumatnya. Pada asasnya untuk mendapatkan maklumat daripada teks pembaca harus boleh mengcam, menggunakan dan mencantumkan petanda dan petunjuk yang disediakan oleh penulis dengan maklumat daripada pengalaman lalu tentang tajuk yang dibacanya, dan dengan pengetahuan tentang proses membaca. Pembaca juga harus boleh membuat inferens kepada makna yang dibuat oleh penulis. Antara faktor utama yang boleh memungkinkan proses pembacaan itu menjadi satu aktiviti yang berjaya ialah pembaca harus mempunyai sikap yang positif. Kedua, pembacaan yang dilakukan itu perlulah berasaskan kepada kefahaman tentang konsep pemerosesan mental. Pemprosesan konsep ini boleh dilakukan oleh seorang pembaca yang cekap ketika dia berusaha membentuk makna; dan jika dilakukan dengan mahir dia boleh memahami

keseluruhan teks yang dibacanya itu dengan berkesan (proses metakognisyen). Ketiga, guru perlu mempunyai pengetahuan dan kebolehan untuk melaksanakan pengajaran dan pembelajaran membaca yang sebenarnya.

Bila kita mengajar membaca sebenarnya kita mengajar bagaimana pelajar dapat membentuk sikap terhadap isi kandungan yang ditulis oleh penulis. Guru harus dapat menumpukan perhatian pembaca kepada bagaimana penulis meluahkan pengalaman, pengetahuan dan pendapatnya ke dalam bukunya. Penulis mempunyai perhubungan yang rapat dengan pembaca kerana kedua-dua mempunyai pandangan dan sikapyang sama pengalaman, pemprosesan maklumat, pembinaan isi kandungan, tujuan membaca kemahiran menulis dan membaca. Kesemua ini saling terikat dalam usaha membina pengalaman dan kemahiran yang berkesan dan berjaya dalam pembacaan.

Pelajar perlu diberi motivasi melalui pengajaran yang terancang dan tersusun. Guru memotivasikan pelajar dengan memberikan tugasan yang berjaya dilaksanakan oleh pelajar secara mengintegrasikan apa yang hendak dipelajarinya itu dengan aktiviti yang sebenar. Kelemahan yang berlaku ialah semasa di sekolah rendah guru merancang pengajaran membaca berpandukan kepada pembacaan satu teks asas sepanjang tahun melalui kelas bahasa. Di situlah fokus pembelajaran membaca tanpa pelajar berpeluang meluaskan kemahiran kepada bentuk bahan bacaan yang bebeza.

Pelajar tidak akan dapat menguasai kemahiran membaca jika mereka mempunyai sikap negatif terhadap peroses pembelajaran dan bahan yang dibacanya itu. Sikap positif terhadap membaca banyak bergantung pada pelajar mempunyai kesedaran metakognitif tentang konsep seperti: a) "Apakah itu membaca?", dan b) tentang penyertaan mereka dalam aktiviti membaca. Untuk menimbulkan semua ini teknik utama ialah mewujudkan satu suasana keliling yang literat yang membolehkan pelajar membina konsep yang tepat dan perasaan yang selesa dalam aktiviti membaca dan menulis yang bermakna. Menyeru dan menyuruh pelajar membina sikap postif secara lisan akan menghasilkan kesan yang minima, yang pentingnya ialah penyertaan dalam aktiviti membaca yang sebenar dengan panduan dan tunjuk ajar yang berkesan. Semua pelajar akan melalui proses peningkatan darjah, oleh itu fokus pengajaran juga harus turut berubah daripada satu konsep yang mudah kepada yang lebih sukar iaitu dari keseronokan membaca cerita beralih kepada konsep tentang fungsi membaca dan pelbagai reaksi yang mereka ketemui dalam sesuatu bahan bacaan (Lihat Rajah 5).

Matlamat membaca ialah untuk membolehkan palajar memahami mesej di dalam teks. Keupayaan untuk memahami kandungan di dalam teks bergantung pada pengalaman latar yang ada pada pelajar tentang tajuk yang dibaca, jenis bahan bacaan dan apa tujuan dia membacanya. Pada umumnya apabila kita mengajar membaca tumpuan kita ialah pelajar. Tujuan guru biasanya untuk membolehkan pembaca mengeluarkan isi kandungan teks yang dibacanya tetapi pengajaran begini tidak menjamin pelajar tahu bagaimana maklumat dapat diproses dalam situasi bacaan yang berbeza. Ini berlaku kerana guru kurang peka dan tidak memberi tumpuan kepada kemahiran-kemahiran kognitif bagaimana maklumat dapat diterbitkan dari teks. Semua Pusat Sumber Sekolah perlu menyediakan KLINIK MEMBACA. Cara pembacaan di ajar ia itu cara membaca yang berkesan dengan mengetahui kepentingan bahagian-bahagian buku. MEMBANTU PELAJAR MENGGUNAKAN STRATEGI MEMAHAMI TEKS Sesuatu proses kefahaman teks bacaan yang berkesan berfokus pada cara-cara dan penaakulan yang digunakan untuk mengeluarkan maklumat, dan bukannya pandangan pembaca terhadap isi kandungan teks. Tujuan perlakuan kefahaman ialah untuk membolehkan pembaca sedar tentang cara membaca dan penaakulan yang digunakan itu di bawah kawalannya sendiri. Kita mahu pelajar tahu bagaimana untuk menggunakan pengetahuan latar dan membuat telahan dan inferens semasa mereka membaca. Kita juga mahu pembaca boleh dan tahu memantau pembacaan mereka dan menggunakan strategi yang dapat memecah halangan terhadap pembinaan makna semasa mereka membaca. Kita juga mahu pembaca menyusun dan menilai hasil daripada apa yang telah mereka baca. Peranan guru dalam pengajaran strategi ialah untuk mewujudkan satu suasana pengajaran yang menegaskan bahawa dalam pembacaan teks yang bersambungan penggunaan strategi membaca yang tepat adalah langkah yang penting. Guru dapat mengukuhkan proses kefahaman membaca seseorang pelajar itu dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana strategi yang sama juga digunakan oleh penulis semasa mereka menulis teks. Pengajaran dalam proses kefahaman membaca bermula dengan kefahaman mendengar pada peringkat permulaan literasi dan meningkat sedikit demi sedikit kepada proses-proses yang lebih kompleks dan jenis bahan bacacan yang lebih tinggi. PEMBACA HARI INI Sikap dan kesedaran keperluan membaca di kalangan ramai pelajar kita di semua peringkat pengajian adalah terlalu rendah, mudah dan cetek. Pengetahuan dan kemahiran yang telah diperolehi, sungguhpun mereka telah berada di menara gading, hanya yang asas sahaja. Kebolehan membaca rata-rata terhad kepada bahan bukan ilmiah dan berbentuk naratif. Penguasaan dan kelancaran bahasa mereka tidak mendalam kerana ramai yang masih lagi tidak berupaya untuk berfungsi dalam bahasa akademik, bahasa sains dan bahasa teknologi. Kelemahan ini bertambah apabila pembaca mempunyai pengetahuan am yang terlalu sempit dan ini menyebabkan mereka tidak berupaya untuk berinteraksi dengan

penulis. Semua ini disebabkan pelajar terlalu bergantung pada nota-nota guru dan buku ulangkaji dan mereka enggan membaca buku-buku ilmiah yang boleh didapati dalam jumlah yang besar di perpustakaan di seluruh negara. GURU HARI INI Tanggungjawab guru dalam proses pengajaran dan pembelajaran sememangnya berat kerana guru bukan sahaja bertanggungjawab memberi pengalaman kepada pelajar dalam bidang mata pelajaran yang diajar tetapi ia juga bertujuan membentuk pelajar menjadi seorang pelajar yang cemerlang. Kalau itu tidak mencukupi banyak lagi tugas dan tanggungjawab guru yang ditanggungnya di luar proses pengajaran. Tugas guru bukannya mudah kerana ada banyak perkara lain yang dianggap seseorang guru harus boleh lakukan sungguhpun guru itu tidak mendapat latihan khusus dalam bidang itu. (Lihat Rajah 6). Tanggungjawab dalam bidang pengajaran dan pembelajaran membaca bukannya terhad pada seseorang guru sahaja. Untuk setiap mata pelajaran disediakkan buku teks. Ini bererti setiap guru mata pelajaran juga harus menjadi seorang guru bacaan. Kalau ditanya kepada guru, ramai akan mengatakan bahawa buku teks digunakan sebagai rujukan atau untuk memberi latihan kepada pelajar. Persoalannya ialah bilakah pelajar betul-betul berpeluang untuk diberi kemahiran membaca dalam erti kata membaca dengan penuh perhatian. Begitulah juga keadaannya di dalam kelas bahasa, membaca tidak begitu penting, yang penting ialah menjawab soalan kefahaman. Lalu kita akan bertanya - tanggungjawab siapakah untuk mengajar membaca. Latihan yang diterima oleh guru dalam bidang membaca terlalu minima dan ada guru yang tidak pernah menerima sebarang pendedahan tentang pengajaran membaca dan ilmu membaca terutamanya guru mata pelajaran. Kefahaman tentang ilmu membaca terlalu penting untuk diabaikan dalam proses pendidikan guru. Sekurang-kurangnya apabila seorang guru itu tamat pengajiannya dia telah pun menerima pendedahan dalam bidang ilmu membaca dan pengajaran membaca. Dengan ilmu yang ada mereka berupaya memberi penjelasan dan penerangan yang betul kepada soalan-soalan seperti ini: a. Apakah definisi membaca? b. Apakah faktor yang mempengaruhi membaca? c. Bagaimana proses membaca itu berlaku? d. Apakah erti kefahaman dalam pembacaan dan perbezaannya dengan proses membaca? e. Apakah kemahiran dan strategi yang perlu diajar bagi pelajar yang mempunyai latar belakang, kebolehan, pengetahuan, dan matlamat membaca yang berbeza? PENGAJARAN MEMBACA HARI INI

Di mana dan bila harus dimulakan pengajaran membaca? Perlukah pengajaran membaca itu diasingkan dari pengajaran bahasa? Bagaimanakah dapat dibezakan pengajaran membaca dengan pembacaan bahan ilmiah? Ini adalah antara persoalan yang perlu diberi perhatian dalam pengajaran membaca. Kita percaya bahawa sistem pendidikan di sekolah rendah telah berjaya melengkapi pelajar dengan kemahiran mekanis membaca. Oleh itu di mana salahnya kita? Mungkin apabila pelajar meningkat ke sekolah menengah pengajaran membaca masih lagi tertumpu kepada kemahiran yang dipelajari di sekolah rendah. Apabila tiba pada satu tahap, sudah pasti kemahiran membaca yang lebih kompleks perlu diajar dan dipraktikkan kerana inilah caranya untuk membolehkan pelajar membaca dengan berkesan dan berjaya. Mereka tidak akan berasa takut untuk menghadapi buku-buku ilmiah yang lebih kompleks dan padat dengan maklumat. RUMUSAN Kalau guru tidak tahu dan tidak mahu membaca maka lebih ramai pelajar yang tidak mahu dan tidak tahu membaca. Pelajar tidak mahu membaca kerana membaca buku teks itu selalu dianggap susah. Mereka tidak mahu membaca kerana mereka tidak kenal buku, dan mereka juga tidak mahu membaca kerana penguasaan bahasa Melayu dan Inggeris mereka lemah (Lihat Rajah 7). Pelajar lebih mementingkan bacaan nota yang guru sediakan atau nota komersial. Kepada mereka, ini boleh menjamin kelulusan peperiksaan yang cemerlang dan inilah yang sangat digalakkan oleh guru, ibu dan bapa. Pelajar di Malaysia rata-rata tidak diberi tunjuk ajar tentang kemahiran membaca pada tahap yang tinggi dan lebih kompleks dan berkesan untuk membaca buku-buku teks dan buku ilmiah iaitu menggunakan petunjuk, tanda-tanda, ciri-ciri dan sifat-sifat yang disediakan di dalam buku. Buku ulang kaji dan nota guru tidak mempunyai sifat-sifat dan bahagian seperti yang terdapat dalam buku teks dan buku ilmiah. Membaca buku ulang kaji dan nota guru tidak boleh digolongkan sebagai latihan kemahiran membaca buku kerana ia bukanya buku dalam erti kata sebenar. Buku teks dan buku ilmiah yang sempurna banyak memberi petujuk kepada pembaca untuk membaca secara kritikal.

Kita harus percaya sehingga hari ini ramai guru mempunyai pengetahuan yang samar-samar tentang membaca kerana sebilangan besarnya tidak pernah mengikuti kursus tentang ilmu membaca dan pengajaran membaca. Program pendidikan guru di peringkat diploma, sarjana muda tidak mewajibkan guru mengambil kursus-kursus dalam bidang ini. Yang dikesalkan di IPTA dan di maktab-maktab perguruan tidak ditawarkan bidang Pengkhususan Ilmu Membaca dan Pengajaran Membaca. Pelajar-pelajar program Diploma Pendidikan di maktab perguruan menerima pengetahuan asas tentang membaca melalui kursus bahasa Melayu atau bahasa Inggeris. Yang lebih serius ialah guru-guru yang pengkhususan mereka mata pelajaran sains, teknikal, perdagangan dan kejuruteraan tidak menerima sebarang pendedehan tentang ilmu membaca dan pengajaran membaca. Inilah situasi yang ada pada hari ini tentang Ilmu Membaca. Ciri

Guru Pendidikan

Pemulihan Khas
Posted: May 20, 2009 by Cikgu Fais in Pemulihan Khas Tags: Pemulihan Khas

5 Pengenalan Pendidikan Pemulihan adalah satu cabang pendidikan khusus bagi mengatasi serba sedikit tentang masalah pendidikan yang timbul pada masa kini, khasnya bagi kanakkanak yang nyata sekali menghadapi masalah pembelajaran serta tecicir dan ketinggalan dalam alam pendidikan jika dibandingkan dengan tingkat kebolehan lahiriah mereka Ciri-Ciri Guru Pendidikan Pemulihan Khas 1. Boleh mengesan masalah pembelajaran pelajar sepanjang masa, merancang pelbagai alat dan bahan bantu mengajar serta pelbagai kaedah dan teknik pengajaran dan pembelajaran (P&P). 2. Komitmen yang menyeluruh 3. Mudah didekati, mesra dan mampu menyelesaikan masalah. 4. Berjumpa dan berbincang dengan guru asas, ibu bapa dan pihak berkaitan untuk mendapatkan maklumat lanjut tentang kelakuan, tabiat, kesihatan. 5. Melaksanakan penilaian berterusan untuk mengetahui kemajuan murid. Peranan Guru Pendidikan Pemulihan Khas

Guru Pendidikan Pemulihan memainkan 5 perkara penting iaitu : 1. Peranan Sebagai Penilai (An Assessment Role) - Menyedia dan menjalankan ujian saringan untuk mengenal pasti murid-murid yang memerlukan pemulihan khas. - Menjalankan Ujian Diagnostik untuk mengenal pasti masalah pembelajaran yang khusus yang dihadapi oleh murid-murid. - Menjalankan penilaian berterusan dan merekodkannya dengan rapi dan tersusun. 2. Preskriptif (Prescriptive Role) - Merancang dan menyelia serta melaksanakan program individu bagi kanak-kanak yang mempunyai masalah pembelajaran yang tertentu. - Mengadakan bengkel atau demonstrasi pengajaran pemulihan di mana keadaan memerlukan. 3. Peranan Pengajaran (A Teaching Therapentic) - Mengajar dan membantu murid-murid yang lambat dan menghadapi masalah kemahiran asas 3M. - Mengajar bersama-sama dengan guru mata pelajaran sebagai team teaching / guru pendamping sekiranya perlu. 4. Peranan Khidmat Bantu (A Supportive Role) - Membantu guru-guru merancang dan penambahbaikkan aktiviti-aktiviti dan bahanbahan pengajaran dan pembelajaran. - Membimbing guru-guru melaksanakan teknik dan kaedah mengajar murid-murid yang menghadapi masalah 3M. 5. Peranan Perhubungan (A Liaison Role) - Berbincang dengan ibu bapa atau penjaga murid untuk mendapatkan maklumat dan latar belakang murid. - Mengajukan cadangan-cadangan kepada ibu bapa bagaimana mereka membantu demi kepentingan pembelajaran anak-anak mereka.

Like this:
Like Be the first to like this post.