Anda di halaman 1dari 79
REPUBLIC OF INDONESIA MINISTRY OF PUBLIC WORKS DIRECTORATE GENERAL OF HIGHWAYS DIRECTORATE OF PLANNING i.
REPUBLIC OF INDONESIA
MINISTRY OF PUBLIC WORKS
DIRECTORATE GENERAL OF HIGHWAYS
DIRECTORATE OF PLANNING
i.
````
EAST
KALIMANTAN
NORTH
SUMATERA
WEST
SULAWESI
KALIMANTAN
WEST
NORTH
CENTRAL
CENTRAL
IRIAN
WEST
MALUKU
KALIMANTAN
SULAWESI
SULAWESI
SOUTH
``
SOUT EAST
KALI MANTAN
PAPUA
SULAWESI
MALUKU
SOUTH
SULAWESI
JAKARTA
NTB
BALI
NTT
LEGEND:
: Provincial Project Location
LAPORAN FINAL STUDI ANDAS
SUB PROYEK NDUARIA – WARUNDARI DAN
NUANILU - HANGALANDE (EIB-115)
TECHNICAL ASSISTANCE FOR
SUPPORT OF THE PROJECT MANAGEMENT UNIT
SECOND EASTERN INDONESIA REGION TRANSPORT PROJECT (EIRTP-2)
CORE TEAM CONSULTANT (CTC)
Under IBRD Loan No. 4744-IND
Report No.170
13 October 2006
SMEC International Pty Ltd
In sub-consultancy with:
PT. Wahana Mitra Amerta
PT. Perentjana Djaja
PT. Tribina Matra Çarya Cipta
PT. Lenggogeni

Daftar Isi – Garis Besar

Judul

Isi

 

1.1

Latar Belakang menggambarkan dengan ringkas lokasi proyek, masyarakat yang bermukim di sekitar proyek, dan keperluan ANDAS menurut ketentuan

EIRTP-2.

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Maksud dan Tujuan

1.2

Maksud dan Tujuan menyebutkan garis besar tujuan ANDAS.

Keluaran Studi menggambarkan beberapa keluaran yang diharapkan sebagai hasil studi.

1.3 Keluaran Studi

1.3

1.4 Sistematika

Penyajian

1.4

Sistematika Penyajian menggambarkan isi yang tercakup dalam tiap-tiap bagian Laporan Studi.

2. Metodologi

 

2.1 Pemahaman Terhadap Masyarakat Adat

2.1

Pemahaman Terhadap Masyarakat Adat menggambarkan penerapan terminologi termasuk aspek hukum.

2.2

Logika Pendekatan menggambarkan langkah- langkah yang akan diikuti di studi ANDAS.

2.2 Logika Pendekatan

2.3 Pendekatan untuk Analisa Kerentanan

2.3

Pendekatan untuk Analisa Kerentanan menggambarkan metodologi yang akan diterapkan untuk menentukan apakah suatu masyarakat adat tergolong rentan atau tidak rentan terhadap dampak negatif pembangunan jalan.

2.4 Pendekatan untuk Masyarakat Adat yang Rentan (IVP)

3. Keadaan Lapangan

2.4

Pendekatan untuk Masyarakat Adat yang Rentan (IVP) menggambarkan metodologi yang akan diterapkan apabila ditemukannya komunitas terpencil yang rentan terhadap dampak negatif.

3.1 Usulan Pekerjaan

3.2 Kondisi Sosio-

3.1

Usulan Pekerjaan menggambarkan pekerjaan sipil, desa yang dilalui, dan status persiapan proyek.

Kondisi Sosio-Ekonomi menggambarkan komunitas masyarakat terpencil di daerah sekitar jalan.

Ekonomi

3.2

3.3 Aspek Budaya

3.3

Aspek Budaya menggambarkan ciri-ciri budaya

3.4

Kerentanan Masyarakat Adat menjelaskan kenapa komunitas diklasifikasikan sebagai rentan atau tidak rentan terhadap dampak negatif proyek jalan.

3.4 Kerentanan Masyarakat Adat

4. Rencana Kerja

4.1 Analisa Dampak

4.1

Analisa Dampak menggambarkan dampak positif dan dampak negatif yang teridentifikasi serta cara penanganannya

Prakarsa Setempat menggambarkan usulan prakarsa yang lain dari Pemda atau LSM untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.

4.2 Prakarsa Setempat

4.2

untuk Komunitas Adat

4.3 Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat

4.4 Draft SK Bupati

4.3

4.4

Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat menggambarkan isi usulan rencana untuk masyarakat ybs, termasuk biaya.

4.5 Kesimpulan

Draft SK Bupati adalah usulan isi Surat Keptusuan Bupati yang mencakup hal-hal yang memerlukan dasar hukum untuk memperlancar pelaksanaannya

4.5

Kesimpulan menggambarkan temuan utama dari Studi Analisa Dampak Sosial tentang Kerentanan dan dampak pada Desain Jalan

Daftar Isi - Terinci

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Maksud dan Tujuan

1.3. Keluaran Studi

1.4. Sistematika Penyajian

2. Metodologi

2.1. Pemahaman Terhadap Masyarakat Adat

2.1.1. Sumber Rujukan

2.1.2. Hukum dan Panduan Operasional

2.1.3. Persandingan Rujukan

2.2. Logika Pendekatan

2.2.1. Hubungan ANDAS dengan Siklus Pembangunan

2.2.2. Tolok Ukur untuk Masyarakat Rentan (Vulnerable)

2.2.3. Analisa Dampak dan Penanganannya

2.2.4. Hubungan Studi ANDAS dengan Studi LARAP

2.3. Pendekatan untuk Analisa Kerentanan

2.3.1. Keterikatan yang kuat atas tanah leluhur dan sumber daya alam

2.3.2. Identifikasi sebagai kelompok yang berbeda budaya

2.3.3. Memiliki bahasa asli yang berbeda dari bahasa nasional

2.3.4. Adanya lembaga adat sosial dan politik

2.3.5. Produksi terutama untuk kebutuhan sendiri (subsisten)

2.4. Pendekatan untuk Masyarakat Adat (Indigenous Vulnerable Peoples)

2.4.1. Penafsiran Kerangka Acuan Kerja

2.4.2. Pendekatan Aktual

2.4.3. Bentuk Rencana Tindakan

2.4.4. Bentuk Legalisasi

3. Kondisi Lapangan

3.1. Usulan Pekerjaan

3.1.1. Lokasi Proyek EIB-115

3.1.2. Kondisi Geografis

3.1.3. Iklim

3.2. Kondisi Sosio-Ekonomi

3.2.1. Kependudukan

3.2.2. Pendidikan

3.2.3. Mata Pencaharian

3.2.4. Identitas Responden Survey

3.2.5. Tingkat Ekonomi Responden

3.2.6. Kondisi Lahan Responden

3.2.7. Persepsi Terhadap Rencana Proyek

3.3. Aspek Budaya

3.3.1. Ciri-Ciri Khas Masyarakat Tradisional di EIB-115

3.3.2. Sebaran Komunitas Adat Terpencil

3.4. Kerentanan Masyarakat Adat

4.

Rencana Kerja

4.1.

Analisa Dampak

4.1.1. Dampak Positif

4.1.2. Dampak Negatif dan Mitigasinya

4.2.

Prakarsa Setempat untuk Komunitas Adat

4.3.

Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat

4.4.

Draft SK Bupati

4.5.

Kesimpulan

Lampiran

1.

Rencana Tindakan sesuai Standard Operating Procedures

2.

Rencana Tindakan sesuai Hasil Analisa Dampak Sosial

3.

Contoh Tindakan apabila Hasil ANDAS menunjukkan Kerentanan

4.

Rencana Tindakan berdasarkan Prakarsa Setempat (Fisik)

5.

Rencana Tindakan berdasarkan Prakarsa Setempat (Studi & Kelembagaan)

6.

Draft SK Bupati

Kotak

2.1.

Pengertian Komunitas Adat Terpencil Menurut Pemerintah

2.2.

Pengertian Masyarakat Adat Menurut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

2.3.

Pengertian Masyarakat Adat Menurut Bank Dunia

Bagan

2.1.

Diagram Metodologi untuk Analisa Dampak Sosial (ANDAS)

2.2.

Jadwal Kerja Pelaksananaan Penyusunan ANDAS EIB-115 di Kab. Ende

3.1.

Jenis Kelamin Responden (%)

3.2.

Usia Responden (tahun)

3.3.

Jumlah Anggota Keluarga Responden (orang)

3.4.

Tingkat Pendidikan Responden (%)

3.5.

Daerah Asal Responden (%)

3.6.

Lama Tinggal Responden (tahun)

3.7.

Pekerjaan Responden (%)

3.8.

Tingkat Pengeluaran Responden (Rp./bln)

3.9.

Tingkat Pendapatan Responden (Rp./bln)

3.10.

Pola Mendapat Sumber Makanan (%)

3.11.

Pola Makan Sehari-hari (%)

3.12.

Status Tanah Responden (%)

3.13.

Jenis Pemanfaatan Lahan Responden (%)

3.14.

Kondisi Bangunan Rumah (%)

3.15.

Tingkat Pengetahuan Warga Terhadap Rencana Jalan

3.16.

Pelaksanaan Sosialisasi Rencana Jalan

3.17.

Musyawarah Rencana Jalan

3.18.

Kerugian Warga Akibat Rencana Jalan

Peta

1.1.

Peta Program EIRTP-2 di Provinsi Nusa Tenggara Timur

3.1.

Peta Bahasa di Nusa Tenggara – dari Ethnologue.com

Gambar

3.1.

Kondisi Lokasi Proyek

4.1.

Dokumentasi Lokakarya Lapangan

Tabel

2.1.

Perbandingan Rujukan Mengenai Masyarakat Adat

2.2.

Bentuk Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat

3.1.

Jumlah Penduduk Masyarakat Adat di EIB-115

3.2.

Status Pendidikan Masyarakat Adat di EIB-115

3.3.

Penilaian Kerentanan Komunitas di EIB-115

11 11

LLaattaarr BBeellaakkaanngg

BBaabb 11 PP ee nn dd aa hh uu ll uu aa nn

1 1 P P e e n n d d a a h h u u

Penyelenggaraan sistem jaringan jalan, tidak hanya untuk melayani lalu- lintas, tetapi juga harus menampung kepentingan masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Dengan demikian dalam perencanaan sistem jaringan jalan harus mencerminkan keputusan yang dapat diterima semua pihak meskipun memiliki cara pandang yang berbeda, dengan mempertimbangkan dampak dan manfaat yang beragam, termasuk disini menghargai hak–hak masyarakat adat yang mungkin akan terkena dampak karena pembangunan jalan.

Sesuai dokumen pinjaman (Loan Agreement) No. 4744-IND yang disetujui oleh Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia bahwa Pemerintah Indonesia akan memperhatikan dan mempelajari dampak-dampak subproyek terhadap masyarakat adat sesuai dengan kebijakan pengamanan Bank Dunia bagi masyarkat adat yang tertulis dalam O.P. 4.30 dan diterjemahkan sesuai dengan kondisi Indonesia dalam Annex 13 PAD (Project Appraisal Document) untuk Second Eastern Indonesia Region Transport Project

(EIRTP-2).

Dengan demikian, diharapkan dengan adanya pembangunan jalan di daerah masyarakat adat tidak menimbulkan dampak negatif terhadap aspek sosial budaya masyarakat dengan masuknya inovasi teknologi. Seperti kita ketahui bahwa karakteristik masyarakat Indonesia adalah majemuk. Kemajemukan masyarakatnya berbentuk ganda yaitu Kemajemukan horizontal meliputi aneka macam suku, bahasa, adat, kebiasaan (tradisi), agama, falsafah hidup; dan kemajemukan vertikal meliputi jenjang pendidikan, status ekonomi dan strata sosial. Di sisi lain kurang disadari juga bahwa kemajemukan itu bukan hanya meliputi perbedaan kesukuan, bahasa, adat istiadat dan faktor sosial, ekonomi melainkan perkembangan masing-masing suku belum sama. Hal ini disebabkan oleh berbagai aspek kehidupan dan penghidupan.

Berdasarkan uraian di atas, maka perhatian secara khusus diberikan jika ada diantara rencana sebaran lokasi pembangunan jalan terdapat masyarakat adat yang menghadapi berbagai ketertinggalan dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia. Ketertinggalan tersebut terjadi akibat keberadaan mereka yang secara geografis sangat sulit dijangkau dan secara sosial budaya terasing sehingga kurang terjadi interaksi sosial antara mereka dengan kelompok masyarakat luar yang lebih maju. Jika ternyata menimbulkan dampak negatif dan tidak dapat dihindari melalui desain proyek/sub proyek, maka perlu disusun rencana tindakan untuk meminalisir dampak tersebut. Penyusunan rencana tindakan inilah yang dilakukan melalui sebuah kegiatan yang sistematis dan terencana dalam bentuk Studi Analisa Dampak Sosial terhadap keberadaan Komunitas Adat Terpencil (KAT).

Rencana Peningkatan Jalan Kabupaten Nuanilu – Hangalande dan Ruas Nduari – Warundari melewati 7 (tujuh) desa dan 3 (tiga) Kecamatan.

Termasuk dalam rencana pembangunan jalan di lokasi ini yang terdapat masyarakat adat, menurut definisi DepSos, diperkuat dengan kunjungan ke lapangan oleh planner CTC pada Desember 2004.

Kondisi perkampungan/desa yang melintasi rencana jalan sangat memprihatinkan, untuk memenuhi kebutuhan akan hidup, mereka harus beradaptasi dengan kegelapan karena belum masuknya penerangan/listrik, pengambilan air untuk mereka minum harus berjalan 1 km dari perkampungan, sarana kesehatanpun tidak ada sering terjadi jika ada komunitas yang sakit ditengah jalan meninggal ini dikarenakan jarak sarana kesehatan sangat jauh dan harus menempuh jarak 23 km.

11

22

MMaakkssuudd ddaann TTuujjuuaann

Maksud dan tujuan Studi Analisa Dampak Sosial (ANDAS) adalah sebagai berikut:

a. Memastikan apakah masyarakat adat yang tinggal di sekitar lokasi proyek/subproyek mempunyai ciri rentan atau tidak rentan terhadap pembangunan jalan.

b. Menghindari atau meminimalkan dampak negatif yang sangat potensial merugikan masyarakat adat akibat rencana pelaksanaan proyek/subproyek.

c. Merencanakan upaya pengelolaan dampak dan pemantauan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Upaya yang berisi sejumlah alternatif kegiatan ini harus disusun secara partisipatif.

11

33

KKeelluuaarraann//HHaassiill SSttuuddii

Ada 3 (tiga) keluaran atau hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan ini, yaitu :

a. Penjelasan metodologi yang diikuti dalam Analisa Dampak Sosial yang menjabarkan makna istilah yang digunakan, kriteria yang digunakan untuk mengambil kesimpulan, format untuk presentasi hasil, dengan bagan alir logika kegiatan dan hubungannya dengan kegiatan lainnya yang terkait dengan persiapan proyek jalan.

b. Karakteristik Sosial, Ekonomi dan Budaya Masyarakat Adat termasuk pola kepemilikan lahan. Identifikasi apakah KAT sepanjang sub-proyek bersifat rentan atau tidak rentan terhadap dampak negatif dari pembangunan jalan. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan analisis atas hasil temuan pemusatan dampak sosial penting yang harus ditangani, dengan cara yang partisipatif.

c. Rencana Pelaksanaan berupa Indigenous People Development Plan (IPDP). Rencana ini memuat apa, siapa, kapan dan sumber atau besaran pembiayaan, serta indikator untuk selesainya masing- masing kegiatan. IPDP dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:

o

Penjabaran upaya pengelolaan terhadap dampak sosial yang negatif dari pembangunan jalan yang lazim diterapkan pada semua proyek (standard operating procedures, SOP).

o

Penjabaran upaya khusus untuk penanganan dampak sosial yang negatif yang lainnya untuk proyek ini, sebagai hasil studi ini.

o

Penanganan lainnya yang diprakasai oleh masyarakat setempat maupun pemerintah daerah untuk meningkatkan kehidupan masyarakat adat di sekitar proyek. Sumber biaya yang dijanjikan oleh Pemerintah Daerah harus sudah mendapat legitimasi dan legalitas.

11

44

SSiisstteemmaattiikkaa PPeennyyaajjiiaann

Laporan Studi Andas ini terdiri atas 4 (empat) bab, yang secara garis besar membahas hal-hal sebagai berikut.

Bab I

:

Pendahuluan yang membahas latar belakang, maksud dan tujuan, dan sistematika penyajian laporan. Peta 1.1 menunjukkan lokasi proyek EIB-115 pada Peta program EIRTP-1 di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bab II

:

Metodologi yaitu pendekatan yang dipergunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Mulai dari asumsi teori yang dipergunakan sampai dengan tahapan kegiatan teknis yang dipergunakan dan format dari hasil studi.

Bab III

:

Kondisi Lapangan dengan gambaran tentang pekerjaan yang telah direncanakan, kondisi Fisik dan Sosial-Ekonomi yang berisikan informasi yang diperoleh dari hasil survai sosial-ekonomi terhadap komunitas adat, yang terdiri atas 1) jumlah KK/warga yang akan terkena proyek serta 2) kondisi sosial- ekonominya, 3) jumlah, jenis dan besaran usaha kegiatan ekonomi, 4) ketersediaan dan aksesibilitas prasarana dan sarana, serta 5) aturan-aturan hukum yang berlaku mengenai pembebasan tanah. Kesimpulan diambil tentang tingkat kerentanan dari masyarakat adat terhadap dampak negatif proyek jalan.

Bab IV : Rencana Kerja, berisikan analisa proses partisipatif tentang kemungkinan dampak yang merugikan masyarakat adat, persepsi dan aspirasi warga. Rencana Pemberdayaan Masyarakat Adat disajikan secara sistematis sebagai berikut:

a. Lokasi dan Jumlah Warga Sasaran

b. Kategori Rencana Tindak

c. Uraian Tindakan

d. Waktu Kegiatan

e. Perkiraan Biaya

f. Sumber Dana

g. Indikator Keberhasilan

h. Instansi Penanggung Jawab

BBaabb 22 MMeettooddoollooggii ddaann PPeennddeekkaattaann

22 11

PPeemmaahhaammaann TTeerrhhaaddaapp MMaassyyaarraakkaatt AAddaatt

2.1.1.

Sumber

Rujukan

a k k a a t t A A d d a a t t 2.1.1.

Ada 3 (tiga) rujukan yang akan digunakan untuk melakukan

pemahaman terhadap pengertian Komunitas Adat (diterjemahkan

umumnya sebagai Traditional Communities oleh karena di Indonesia

kebanyakan masyarakat, baik moderen maupun tradisional, dapat

disebut Indigenous atau berasal dari tanah air), yaitu menurut

Pemerintah, menurut LSM Kongres Masyarakat Adat Nusantara

(AMAN), dan menurut Bank Dunia.

1. Menurut Pemerintah

Pemerintah Republik Indonesia memberi batasan pengertian Komunitas Adat Terpencil adalah sebagai berikut :

Kotak 2.1. Pengertian Komunitas Adat Terpencil Menurut Pemerintah

Komunitas Adat Terpencil yang selama ini dikenal dengan sebutan masyarakat terasing adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi maupun politik.

Pasal 1 ayat (1) Keppres No. 111 Tahun 1999 tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil.

2. Menurut Kongres Masyarakat Adat Nusantara

Pada tahun 1999 telah dilakukan Kongres Masyarakat Adat

Nusantara (AMAN) yang bertempat di Jakarta yang menghasilkan

aliansi baru kelompok masyarakat adat. Kongres diikuti 123

perwakilan masyarakat adat dari berbagai kepulauan, dengan

sekitar 50 staf LSM yang mendampingi mereka. Menurut AMAN

masyarakat adat adalah:

Kotak 2.2. Pengertian Masyarakat Adat Menurut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Masyarakat adat adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal-usul secara turun-temurun di atas satu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial budaya yang diatur oleh hukum adat, dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Pandangan Dasar dari Kongres I Masyarakat Adat Nusantara 5 - 22 Maret

1999

3. Menurut Bank Dunia

Bank Dunia menyebut Komunitas Adat Terpencil (KAT) dengan

istilah Indigenous Vulnerable People (IVP) yang didefinisikan :

Kotak 2.3. Pengertian Masyarakat Adat Menurut Bank Dunia

….kelompok-kelompok yang memiliki identitas sosial dan budaya yang berbeda dari kelompok dominan dalam masyarakat dan
….kelompok-kelompok yang memiliki identitas sosial dan budaya yang
berbeda dari kelompok dominan dalam masyarakat dan menyebabkan
mereka rentan dirugikan dalam proses penanganan. ……
Panduan
Operasional
Bank
Dunia
OP
4.10,
September
1991
tentang
Masyarakat Adat.

Ada 2 (dua) point utama yang menunjukkan komunitas adat.

Pertama memiliki identitas sosial budaya berbeda (unique)

dibanding kelompok dominan masyarakat dan cenderung berada

dalam posisi dirugikan.

2.1.2.

Hukum dan Panduan Operasional

Karakteristik masyarakat adat menurut Pemerintah berdasarkan Pasal

1

Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil adalah :

a. Berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen

b. Pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan

c. Pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau

d. Pada umumnya hidup dengan ekonomi subsisten

e. Peralatan dan teknologinya sederhana

f. Ketergantungan kepada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat relatif tinggi

g. Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik.

tentang Pembinaan

ayat

(2)

Keppres

No.

111

Tahun

1999

Sementara itu AMAN memberikan batasan karakteristik masyarakat adat sebagai berikut :

a. Ketergantungan manusia dengan alam

b. Hak penguasaan dan/atau kepemilikan bersama komunitas (communal property resources) atau kolektif yang dikenal sebagai wilayah adat

c. Sistem dan struktur pengaturan berdasarkan kelembagaan adat memberikan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi;

d. Sistem alokasi dan penegakan hukum adat untuk mengamankan sumberdaya milik bersama dari penggunaan berlebihan, baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh orang luar komunitas;

e. Mekanisme pemerataan distribusi hasil panen sumberdaya alam milik bersama.

Menurut Bank Dunia dalam Panduan Operasional Bank Dunia OP 4.10, September 1991, dan Draft Panduan Operasional OP 4.10, Maret 2001, tentang

Masyarakat Adat, karakteristik yang diberikan bahwa kelompok

masyarakat dikatakan komunitas adat (indigenous) adalah sebagai berikut :

a. Keterikatan yang kuat atas tanah leluhur dan pada sumber daya alam

di area tersebut.

b. Mengidentifikasi diri sendiri dan diidentifikasi oleh lainnya sebagai

kelompok yang berbeda budaya.

c. Memiliki bahasa asli yang berbeda dari bahasa nasional

d. Adanya lembaga adat sosial dan politik

e. Produksi terutama untuk kebutuhan sendiri (subsisten)

2.1.3. Persandingan Rujukan

Jika pengertian tersebut disandingkan, maka terlihat sebagai berikut :

Tabel 2.1. Perbandingan Rujukan Mengenai Masyarakat Adat

   

Sumber Rujukan

 

Aspek

 

Pemerintah

 

AMAN

 

Bank Dunia OP 4.10

   

Turun Temurun

Memelihara Lembaga Adat

Lokal

Wilayah Adat

Berbeda Identitasnya

Ciri Khas

 

Terikat atas Tanah Leluhur

Terpencar

Kepemilikan

 
 

Kolektif

Bahasa Sendiri (yaitu Kelompok Minoritas)

Aksesibilitas

Terpencil, Kurang atau Belum Terlayani

-

-

Terbatas Jaringan Pelayanan Sosial, Ekonomi dan Politik

   

Berdaulat

 

Eksistensi

 

Hidup Subsisten (dan

-

Hukum dan

 
 

Lembaga Adat

 

Rentan Dirugikan)

Rujukan Pemerintah mengacu ke aspek aksesibilitas, sehingga

kelompok adat yang dikategorikan oleh Pemerintah dinamakan

Kelompok Adat Terpencil (KAT). Jelas bahwa kelompok tersebut

mendapat manfaat dari Penanganan jalan, yang fungsinya antara lain

adalah untuk membuka aksesibilitas guna memfasilitasi pelayanan

sektor lainnya (kesehatan, pendidikan, dll).

Rujukan AMAN dan Bank Dunia lebih mementingkan aspek ciri khas dan eksistensi dari masyarakat adat. Belum terlayani masyarakat tersebut tidak dianggap sebagai hal yang penting, boleh jadi agar masyarakat adat dapat dilindungi dari kehidupan moderen, dengan segala kekurangannya.

Oleh karena rujukan kelompok KAT agak berat sebelah (bias) menuju pembukaan isolasi sebagai obat keterbelakangan, maka rujukan itu sulit dikawinkan dengan rujukan yang bertujuan untuk menjaga harmonisnya kehidupan tradisional, demi mencegah kehancuran yang dapat terjadi apabila penanganan jalan membuka akses kepada kelompok yang rentan terhadap dampak negatif dunia moderen.

Maka untuk mengetahui apakah suatu masyarakat adat tergolong rentan atau tidak, yang tepat adalah rujukan AMAN atau Bank Dunia. Untuk mudahnya, dalam studi ini digunakan rujukan OP 4.10 sebagai kriteria acuan.

22 22

LLooggiikkaa PPeennddeekkaattaann

2.2.1. Hubungan ANDAS dengan Kegiatan Proyek

Sebagai kerangka analisa dampak jalan pada masyarakat adat, perlu diketahui proses untuk menyiapkan rencana jalan, supaya hasil Studi ANDAS lebih bermanfaat bagi masyarakat. Terdapat hubungan timbal balik antara penentuan rencana dan desain penanganan jalan dengan penentuan rencana untuk melindungi masyarakat di sekitarnya dari dampak sosial negatif penanganan jalan.

Tiga jurusan kegiatan dipersandingkan dalam Bagan 2.1. berikutnya, yaitu Persiapan Penanganan Jalan (sebelah kiri), Analisa Dampak Sosial (tengah halaman) dan Rencana Pengadaan Lahan dan

Pemukiman Kembali (sebelah kanan, disingkat LARAP). Kalau terdapat Kelompok Adat Terpencil pada suatu proyek yang memerlukan pengadaan tanah, ketiga unsur itu digunakan.

Bagan 2.1. mengandung logika urutan kegiatan dan keluaran mana yang digunakan oleh unsur yang lain sebagai masukan dan sebagai titik awal dan akhir. Sebelum ANDAS dan/atau LARAP dapat dimulai, perencanaan jalan harus maju sampai perencanaan teknis sementara (preliminary design), yang kemudian harus disesuaikan pada perencanaan teknis akhir (final engineering design) dengan hasil Studi ANDAS dan LARAP itu.

2.2.2. Tolok Ukur untuk Masyarakat Rentan (Vulnerable)

engineering design ) dengan hasil Studi ANDAS dan LARAP itu. 2.2.2. Tolok Ukur untuk Masyarakat Rentan

Mengingat beraneka ragamnya masyarakat adat di Indonesia, sebagian yang sudah mengalami proses modernisasi dan sebagian yang belum, perlu diakui kemungkinan bahwa suatu masyarakat yang digolongkan oleh Dep.Sos. sebagai kelompok adat terpencil (KAT) ternyata tidak begitu rentan terhadap dampak sosial negatif penanganan jalan, dibandingkan dengan masyarakat umum. Suatu langkah yang penting dalam studi Analisa Dampak Sosial adalah keputusan apakah masyarakat adat yang bermukim di sekitar jalan berada dalam keadaan rentan atau tidak (lihat kotak di tengah Bagan 2.1).

Perlu dicatat bahwa istilah “rentan” tersebut mengacu pada kelompok, bukan pada individu yang kebetulan berada dalam keadaan miskin, sakit, atau kerentanan pribadi yang lainnya. Kriteria yang dipilih, dan survei yang digunakan untuk mengklasifikasikan masyarakat, harus membedakan hal-hal yang berlaku pada masyarakat pada umumnya dari hal-hal yang berlaku pada individu. Demikian pula dengan ”dampak”. Jika satu orang merasa dirugikan karena (misalnya) pemandangan dari rumahnya diganggu, belum tentu dapat diartikan sebagai gangguan untuk adat-istiadat.

Mengacu ke kriteria OP 4.10 di atas sebagai tolok ukur masyarakat adat yang rentan terhadap dampak sosial negatif penanganan, perlu diuraikan hal-hal yang membedakan masyarakat adat dari masyarakat secara umum pada wilayah studi. Untuk itu, harus diketahui sebelumnya masyarakat mana yang merupakan masyarakat umum, yang akan dibandingkan ciri-cirinya dengan masyarakat adat menurut tolok ukur OP 4.10 tersebut.

Penggunaan beberapa tolok ukur membuka kemungkinan untuk mendapat beberapa kesimpulan tentang keputusan yang kunci ini.

Bagaimana kalau satu dua kriteria menunjukkan adanya masyarakat yang rentan padahal secara mayoritas, tidak demikian? Atau apakah hanya salah satu dari lima kriteria OP 4.10 sebaiknya digunakan sebagai satu-satunya indikator?

Mengingat salah satu tujuan Studi ANDAS adalah “Menghindari atau meminimalkan dampak sosial negatif yang sangat potensial merugikan masyarakat adat akibat rencana pelaksanaan proyek”, maka kalau ternyata hanya satu indikator saja menunjukkan bahwa masyarakat adat berada dalam keadaan rentan, mestinya sudah cukup untuk menyiapkan rencana untuk mencegahnya.

Pendekatan untuk analisa kerentanan dianalisa dalam Bagian 2.3, diikuti pada bagian 2.4. dengan metodologi studi pada masyarakat yang digolongkan sebagai rentan (Indigenous Vulnerable Peoples)

2.2.3. Analisa Dampak dan Penanganannya

Penanganan jalan mengakibatkan beberapa jenis gangguan, yang diakibatkan tahapan kegiatan, seperti Pra-Konstruksi, Konstruksi dan Pasca-Konstruksi. Masing-masing fase penanganan jalan perlu dilihat dampaknya terhadap masyarakat adat. Walaupun demikian, dampak yang penting dari segi kerentanan adalah dampak Pasca-Konstruksi, karena dampak tersebut berjangka panjang.

Baik untuk masyarakat adat yang tergolong rentan maupun untuk masyarakat adat yang tergolong tidak rentan, perlu dianalisa dalam Studi ANDAS kemungkinan dampak pada setiap tahap. Bedanya, untuk masyarakat yang dianggap rentan, setiap gangguan dipertimbangkan cara mencegahnya secara mendetail, sedangkan untuk masyarakat adat yang umum (KAT) yang tidak tergolong rentan

terhadap dampak sosial negatif, cukup dilakukan penanganan yang

bersifat umum, yang diterapkan untuk proyek jalan manapun,

dinamakan Prosedur Tetap (Standard Operating Procedures = SOP).

2.2.4. Hubungan Studi ANDAS dengan Studi LARAP

Apabila perencanaan teknis menunjukkan perlunya pembebasan lahan

ataupun pemukiman kembali, suatu studi LARAP harus dilakukan,

sesuai dengan jumlahnya keluarga yang terganggu. Sebaiknya studi

LARAP dikerjakan sekaligus dengan studi ANDAS karena obyek studi

kemungkinan adalah warga yang sama. Metodologi untuk Studi

LARAP tidak perlu diuraikan disini karena sudah baku. Apabila

digabung studinya, hasilnya sebaiknya disajikan dalam satu dokumen

(Studi ANDAS dan LARAP) dengan uraiannya masing-masing.

Sedangkan apabila studi ANDAS dan LARAP dilakukan pada waktu

yang berbeda (misalnya kalau perencanaan teknis dirubah sesudah

ANDAS, atau masing-masing studi dilakukan oleh pihak yang

berbeda), maka hasil studinya terpaksa dipisahkan.

22 33

PPeennddeekkaattaann uunnttuukk AAnnaalliissaa KKeerreennttaannaann

Analisa kerentanan suatu masyarakat adat termasuk perbandingan

dengan masyarakat umum di wilayah studi mengacu pada lima tolok

ukur OP 4.10. Dengan “masyarakat umum” dimaksud masyarakat lain

di kecamatan yang sama.

1. Keterikatan yang kuat atas tanah leluhur dan sumber daya alam Penanganan jalan dapat merusak keterikatan atas tanah leluhur

dan sumber daya alam apabila dibukanya jalan mendorong orang

luar untuk masuk, sekaligus memanfaatkan kelemahan masyarakat

adat karena tidak biasa terlibat dalam kegiatan ekonomi sehingga

mudah tertipu untuk menjual tanah atau sumber daya alam.

Pertanyaan yang relevan adalah:

1. Apakah masyarakat adat bersikap positif atau tidak (ragu-ragu

atau menantang) terhadap penanganan jalan?

2. Apakah sumber daya alam di sekitar masyarakat mempunyai

nilai ekonomis yang tinggi (hutan atau mineral)?

3. Apakah tanah di sekitar masyarakat sudah biasa diperjual-

belikan?

Kalau jawaban 3. adalah Tidak, apakah penjualan tanah kepada

orang luar dilarang menurut adat-istiadat?

Kesimpulan:

Masyarakat itu Rentan apabila :

1. = Tidak atau 2. = Ya atau 3. = Tidak+Tidak;

Masyarakat Tidak Rentan apabila :

1. = Ya dan 2. = Tidak dan 3. = Ya atau 3. = Tidak+Ya.

2. Diidentifikasi oleh diri dan oleh masyarakat lainnya sebagai kelompok yang berbeda budaya

Penanganan jalan dapat merusak identitas dan budaya yang khas

apabila budaya masyarakat adat belum terkontaminasi dengan

budaya moderen, dibandingkan dengan masyarakat umum. Sikap

terhadap hubungan seksual saat ini menjadi penting karena

ancaman dari HIV/Aids. Pertanyaan yang relevan adalah:

4. Apakah masyarakat adat menghindari hubungan sosial dengan

masyarakat umum di kecamatan, dengan alasan budaya?

5. Apakah masyarakat adat itu sudah menganut salah satu agama

yang diakui negara, yang diukur dengan terdapat rumah ibadah

di setiap desa?

6.

Apakah sikap masyarakat adat itu terhadap hubungan seksual

lebih lunak daripada sikap masyarakat umum?

Kesimpulan:

Masyarakat itu Rentan apabila : 4. = Ya atau 5. = Tidak atau 6. = Ya;

Masyarakat Tidak Rentan apabila : 4. = Tidak dan 5. = Ya dan 6. =

Tidak.

3. Memiliki bahasa asli yang berbeda dari bahasa nasional Bahasa yang langka dapat menjadi punah apabila bahasa itu adalah

khas masyarakat adat dibandingkan dengan bahasa masyarakat

sekitarnya, atau, penanganan jalan mengakibatkan bahasa daerah

diganti oleh bahasa nasional. Pertanyaan yang relevan adalah:

7. Apakah bahasa komunitas adat ini juga digunakan atau

dimengerti oleh masyarakat umum?

8. Apakah ada sekolah dasar negeri di setiap desa yang dilalui

jalan (sehingga Bahasa Indonesia sudah diajarkan kepada anak-

anak)?

Kesimpulan:

Masyarakat itu Rentan apabila : 7. = Tidak atau 8. = Tidak;

Masyarakat Tidak Rentan apabila : 7. = Ya dan 8. = Ya.

4. Adanya lembaga adat sosial dan politik Penanganan jalan dapat merusak tatanan sosial/politik apabila ada

adat sosial/politik yang begitu berbeda dari adat sosial/politik

yang ada pada masyarakat umum, dan hal itu akan diganggu oleh

penanganan jalan.

Pertanyaan yang relevan adalah:

9. Apakah sudah ada hubungan sosial masyarakat itu dengan

masyarakat umum?

10.

Apakah keikutsertaan masyarakat adat itu dalam kegiatan

politik berbeda dari keikutsertaan masyarakat umum, diukur

dari partisipasi dalam pemilihan umum terakhir ini?

Kesimpulan:

Masyarakat itu Rentan apabila : 9. = Tidak atau 10. = Ya;

Masyarakat Tidak Rentan : apabila 9. = Ya dan 10. = Tidak.

5. Produksi terutama untuk kebutuhan sendiri (subsisten) Penanganan jalan dapat mengancam kehidupan ekonomi maupun

kesehatan masyarakat apabila pembukaan jalan akan merubah pola

pertanian dan pola makan.

Pertanyaan yang relevan adalah:

11. Apakah tanaman utama masyarakat itu berbeda dengan

tanaman masyarakat umum?

12. Apakah makanan utama masyarakat itu berbeda dengan

makanan masyarakat umum?

Kesimpulan:

Masyarakat itu Rentan apabila : 11. = Ya atau 12. = Ya;

Masyarakat Tidak Rentan apabila : 11. = Tidak dan 12. = Tidak.

Dengan demikian, suatu masyarakat harus memenuhi duabelas (12)

kriteria sebelum dapat dikatakan Tidak Rentan Secara Umum, dan

apabila hanya satu dari 12 kriteria itu tidak dipenuhi, maka masyarakat

itu digolongkan sebagai Rentan (sesuai pepatah setitik nila merusak susu

sebelanga). Syarat itu jelas mengidentifikasi masyarakat adat dimana

dampak sosial negatif dapat terjadi, sesuai dengan amanat OP 4.10 Bank

Dunia.

Hal ini tentunya tidak berarti bahwa tidak ada dampak sosial negatif yang spesifik yang perlu ditangani, dan tidak berarti bahwa safeguards tidak perlu diterapkan. Untuk menangani dampak bagi masyarakat tersebut, bentuk Rencana Tindakan diuraikan pada Bagian 2.4.3.

22 44

PPeennddeekkaattaann uunnttuukk MMaassyyaarraakkaatt AAddaatt yyaanngg RReennttaann ((IInnddiiggeennoouuss VVuullnneerraabbllee PPeeoopplleess))

Studi ANDAS paket EIB-115 di Kabupaten Ende berdasarkan asumsi awal bahwa masyarakat adat itu termasuk golongan Rentan (sebelum survey lapangan dan dikembangkan metodologi di Bagian 2.3). Bagian 2.4 ini menjelaskan metodologi survey yang telah digunakan, diawali dengan komentar tentang penafsiran Kerangka Acuan Kerja (Terms of Reference), diikuti dengan uraian langkah-langkah praktis yang telah diambil.

Diuraikan langkah yang akan dilakukan selama studi di Kabupaten Ende supaya proses pengembangan Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat (Indigenous Peoples’ Development Plan) menjadi jelas.

2.4.1. Penafsiran Kerangka Acuan Kerja

Menurut Kerangka Acuan (KAK) Studi ANDAS (awal tahun 2005) “metodologi dan pendekatan yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah [penelitian tindakan (action research) yang menggabungkan antara] 1 pendekatan [saintifik (logika sains] etnometodologis) dengan pendekatan partisipatif”.

Sebenarnya penelitian partisipatif merupakan sejenis penelitian tindakan, dan tidak bisa digabung dengan pendekatan saintifik/ etnometodologis karena kedua jenis pendekatan itu berlawanan.

1 Kata-kata […] dikutip dari KAK Bahasa Indonesia yang digunakan oleh peneliti, dan tidak ditemukan dalam terjemahan ToR ke dalam Bahasa Inggeris.

Konsultan memilih pendekatan partisipatif karena pengalaman menunjukkan adanya kelemahan dalam penelitian dengan menggunakan pendekatan yang dinamakan ”saintifik” antara lain:

(1) menghasilkan pengetahuan empiris-analitis, dan cenderung tidak mendatangkan manfaat bagi obyek (masyarakat lokal);

(2) banyak bermuatan kepentingan untuk melakukan rekayasa sosial (social engineering);

(3) memungkinkan terjadinya "pencurian" terhadap kekayaan pengetahuan lokal oleh peneliti (orang luar) sehingga sangat berpotensi untuk menyebabkan penindasan terhadap masyarakat.

Sementara pendekatan etno-metodologis, meskipun berusaha memahami kehidupan sehari-hari masyarakat, mencoba menghasilkan pengetahuan yang bersifat historis-hermeneutik, dan meyakini adanya makna di balik fenomena sosial, juga memiliki kelemahan. Yakni kecenderungannya untuk menghasilkan pengetahuan yang hanya bisa memaafkan realita.

Penelitian tindakan/partisipatif dilakukan apabila orang yang akan melakukan tindakan terlibat penuh dalam proses penelitian ini sejak awal. Dengan demikian dapat disadari perlunya melaksanakan program tindakan tertentu dan yang bersangkutan mampu menghayatinya dengan baik. Tanpa kolaborasi seperti ini, maka diagnosis dan rekomendasi tindakan untuk mengubah situasi sesuai dengan tujuan studi tidak mungkin mampu mendorong adanya perubahan yang diharapkan.

2.4.2. Pendekatan Aktual

Studi ANDAS dimulai sesudah penyaringan Draft Program di meja yang menggunakan data DepSos pada bulan Juni 2004, kemudian hasil penyaringan di lapangan pada bulan Desember 2004 memberi konfirmasi bahwa masyarakat adat memang tinggal kurang dari 10 km

dari proyek tersebut (lihat Dalam kegiatan Studi ANDAS ini ada 15 (limabelas) tahapan proses). Jadwal pelaksanaan aktual dituangkan pada Bagan 2.2. yang dapat dipersandingkan dengan perkiraan waktu total 4 bulan per ANDAS.

1. Tahap Persiapan Keluaran atau hasil yang ingin dicapai pada tahap ini ada 5 (lima). Pertama, terkumpulnya informasi umum yang berkaitan dengan usulan kegiatan ANDAS. Kedua, berdasarkan data dan informasi tersebut, maka CTC menyusun metode dan pendekatan serta jadual kegiatan yang kesemuanya tertuang dalam bentuk Pedoman Rencana Kerja termasuk tersusunnya media sosialisasi dan diseminasi yang akan digunakan di lapangan. Ketiga, melakukan konsultansi tentang pemahaman konsep yang dilakukan dengan pihak Bank Dunia dan dengan Departemen Sosial. Keempat, CTC melakukan Konsolidasi Tim guna menyusun penyempurnaan rencana kerja detail yang akan dilakukan di lapangan. Terakhir, kelima, melakukan koordinasi persiapan akhir dengan pihak DitJen Bina Marga (SubDit Lingkungan), PMU EIRTP-2 dan Bank Dunia, surat perkenalan disiapkan oleh DitJen Bina Marga, lalu dana untuk survei lapangan disiapkan oleh CTC. Tahap persiapan memerlukan waktu 3 (tiga) bulan (Mei – Juli 2005).

2. Koordinasi Dinas PU/Bina Marga dan Instansi Terkait Tahap awal di lapangan yang harus dilakukan CTC adalah melakukan koordinasi dengan pihak Dinas PU/Bina Marga. Tujuannya adalah untuk menyamakan persepsi dan tersosialisasi rencana kerja yang

akan dilakukan CTC di lapangan. Selain itu juga diperoleh data dan informasi proyek/subproyek secara detail dan juga lahir kesepakatan dukungan teknis atas implementasi rencana kerja tersebut. Atas fasilitasi dari Dinas PU/Bina Marga, maka dilakukanlah koordinasi dengan Dinas/Instansi terkait, terutama dengan Dinas Sosial. Termasuk jika memungkinkan dengan Gubernur. Kegiatan dilakukan di provinsi, selama waktu seminggu pada awal bulan Agustus 2005.

3. Identifikasi Kelembagaan Lokal Mengidentifikasi kelembagaan lokal yang terkait dan atau memiliki program pemberdayaan bagi masyarakat adat (KAT). Kelembagaan tersebut bisa berasal dari Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi keagamaan dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk menggali informasi tentang programnya, lokasi sebaran KAT, karakteristik dan informasi relevan lainnya. Selain itu, pada tahap ini juga sudah diperoleh komitmen dari kelembagaan tersebut untuk menghadiri acara Lokakarya Tingkat Provinsi nanti pada saatnya. Kegiatan ini dilakukan di provinsi selama waktu seminggu sejajar dengan kegiatan 2.

4. Survai Awal Pemahaman Lapangan Berdasarkan informasi awal yang telah diperoleh, maka CTC kemudian melakukan survai pendahuluan untuk dapat melakukan pemahaman awal. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran umum karakteristik KAT yang kemudian dipergunakan sebagai bahan yang akan disajikan pada saat Lokakarya Tingkat Provinsi. Hal ini dianggap sangat penting sehingga CTC dapat berperan optimal ketika melakukan fasilitasi penentuan KAT pada proyek/subproyek yang ada. Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek waktu, biaya dan tenaga. Kegiatan ini dilakukan pada minggu kedua bulan Agustus 2005.

5. Persiapan Lokakarya Penapisan Tingkat Provinsi Setelah Survai Pendahuluan dan sesudah bahan-bahan untuk lokakarya telah siap, termasuk dana, maka CTC melakukan persiapan teknis lokakarya. Kegiatan ini bertujuan agar semua keperluan baik itu menyangkut waktu, tempat, peralatan dan hal lainnya yang bersifat teknis. Peserta lokakarya harus diyakinkan untuk bisa hadir, untuk itu maka CTC harus mendatangi kembali seluruh kelembagaan lokal untuk menyerahkan undangan berikut dengan bahan atau materi yang akan dibahas pada saat Lokakarya. Kegiatan ini dimulai di provinsi pada minggu kedua bulan September 2005.

6. Pelaksanaan Lokakarya Penapisan Tingkat Provinsi Lokakarya diadakan pada tanggal 21 September 2005 di Kupang. Tujuan atau hasil utama yang diharapkan dari kegiatan lokakarya adalah tercapainya kesepakatan mana saja lokasi proyek/subproyek yang terdapat KAT (dengan ketentuan berjarak maksimal 10 Km dari jalan). Ketika ditemukan adanya lokasi proyek/subproyek yang terdapat KAT, maka mulailah disaring prakiraan dampak. Mengingat keterbatasan waktu, maka untuk lokasi KAT yang tidak tertulis dalam dokumen penyaringan CTC 2 dilakukan analisa melalui kelembagaan lokal. Kepada peserta (terutama dari pihak LSM atau organisasi keagamaan) yang terdekat dengan lokasi KAT terkena dampak oleh CTC diberi form analisa (yang telah disusun) dengan kesepakatan waktu sekitar 2 (dua) minggu, dan CTC akan kembali ke lembaga tersebut untuk melakukan kajian bersama. Lokakarya diakhiri dengan mengeluarkan rekomendasi yang disepakati seluruh peserta.

7. Assessment/Rapid Appraisal Penialaian KAT terkena dampak di lokasi yang tertulis dalam dokumen penyaringan CTC tersebut dilakukan langsung oleh CTC di Kabupaten Ende dalam waktu 3 (tiga) minggu pada bulan

2 Preparation of AWP-2, EIRTP-2: Kabupaten Field Visit Report: Ende, CTC, 27 December 2004

Agustus/September 2005. Metode yang dipergunakan adalah Rapid Rural Appraisal (RRA) dengan menggunakan acuan RRA yang telah disusun oleh CTC pada tahap persiapan. Untuk menghindari timbulnya masalah komunikasi, maka CTC merekrut fasilitator lokal yang menguasai bahasa setempat. Survai juga dilakukan dengan melakukan penyebaran dan pengisian kuisioner dengan metode terpilih sesuai dengan kondisi lapangan. Tujuan dari kegiatan ini adalah diperolehnya data dasar yang berkaitan dengan karakteristik sosial-ekonomi KAT termasuk usulan dari KAT.

8. Forum Rembug Komunitas Adat Bisa jadi pada saat lokakarya terinventarisasi adanya proyek/sub proyek yang berdekatan dengan KAT. Ternyata, setelah dilakukan survai tidak memiliki dampak apa pun. Hasil berupa penapisan lokasi inilah yang kemudian mulai diinventarisasi dampak apa saja yang kemungkinan timbul dari proyek/ sub proyek. Komponen dampak inilah yang kemudian harus dikemas sedemikian rupa oleh Konsultan dalam bentuk media penggerak diskusi yang nantinya dibawa dalam forum Rembug Komunitas Adat. Hasil dari Rembug Komunitas Adat lebih bertujuan untuk mengakomodasi keinginan dan usulan masyarakat berkaitan dengan rencana Penanganan jalan mulai dari tahap perencanaan sampai dengan monitoring dan evaluasi. Langkah ini memerlukan waktu 2 (dua) minggu mulai akhir bulan Sept 2005.

9. Identifikasi Kegiatan untuk IPDP Tujuan atau keluaran dari tahap ini adalah terinventarisasi dan teridentifikasi kegiatan yang akan dilakukan dalam IPDP baik yang merupakan hasil usulan masyarakat dan fungsionalisasi program yang dilakukan oleh Dinas/Badan/Lembaga terkait. Untuk sampai dapat mengeluarkan draft IPDP maka CTC harus melakukan identifikasi yang terdiri dari 3 (tiga) kegiatan di lapangan selama 4 (empat) minggu. Pertama, melakukan identifikasi program terkait dari

Dinas/Instansi dan kelembagaan lokal. Biasanya dapat diperoleh melalui dokumen semacam Propeda atau semacamnya yang berisi rencana program Penanganan Pemerintah yang telah disetujui, bentuk kegiatan, lembaga pelaksana, besarnya anggaran dan sumber pembiayaan. Kedua, CTC melakukan Rembug Komunitas Adat yang bertujuan melakukan pemantapan apresiasi dan aspirasi KAT atas rencana kegiatan Penanganan jalan. Ketiga, dilakukan analisa bauran antara program yang telah direncanakan dengan usulan dari KAT. Dari sinilah dapat diperoleh muatan kegiatan IPDP.

10. Draft IPDP Muatan kegiatan IPDP ini kemudian oleh CTC dilakukan sistematisasi dengan hasil keluarnya draft IPDP. Termasuk disini adalah penyusunan model atau format IPDP. Keluaran dari tahap ini adalah adanya dokumen Draft IPDP. Baik itu kegiatannya maupun aspek hukum dari IPDP. Untuk itu maka CTC juga sudah harus menyusun draft legalisasi IPDP. Keseluruhan proses ini harus dilakukan dengan berkonsultansi dengan pihak Subdit Bina Lingkungan dan Prasarana Departemen Pekerjaan Umum dan PMU EIRTP-2. Langkah ini memerlukan waktu 3 (tiga) minggu sampai akhir Nopember 2005.

11. Lokakarya/Pleno IPDP Diawali dengan kegiatan penyiapan pelaksanaan Lokakarya, memastikan berbagai pihak yang diundang untuk dapat hadir. Jika memungkinkan pada tahap ini juga diundang anggota DPRD Tingkat I. Sama halnya dengan pelaksanaan Lokakarya Penapisan, bahan lokakarya berupa draft IPDP tersebut sudah harus diterima oleh berbagai pihak yang diundang sebelum pelaksanaan lokakarya. Walaupun draftnya sudah dibahas, perlu diundang pihak KAT untuk menghadiri Pleno untuk mengukuhkan hasil studi. Tujuan dari kegiatan ini supaya lahir kesepakatan atas pembahasan draft IPDP tersebut untuk dilaksanakan. Kegiatan seluruhnya memerlukan 2

(dua) minggu, sampai diadakan Pleno di Kota Ende pada tanggal 17 Desember 2005.

12. Legalisasi IPDP Berdasarkan hasil Lokakarya tersebut maka CTC kemudian melakukan koordinasi dengan Bagian Hukum dari Pemerintah Provinsi (atau pihak lain yang disepakati oleh Lokakarya IPDP) dengan menyerahkan Draft Legalisasi IPDP yang telah disusun oleh CTC pada tahap sebelumnya. Keluaran yang ingin dicapai pada tahap ini minimal adalah tersusunnya Aspek Legal IPDP sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku di daerah. Jika memungkinkan sampai keluarnya Aspek Legal dalam bentuk SK Gubernur dan atau Peraturan Daerah. Kegiatan yang dilakukan di daerah ini memakan waktu 3 (tiga) hari kerja.

13. Analisa Hasil dan Penyusunan Draft Laporan Atas keseluruhan proses dilakukan analisa oleh CTC. Tujuannya ada dua. Pertama, adalah untuk menentukan apakah dibutuhkan adanya IPDP atau tidak. Kedua, untuk penyusunan Draft Laporan. Untuk yang pertama maka CTC harus melakukan konsultansi dengan berbagai pihak, terutama dengan Bank Dunia. Jika memang tidak perlu adanya IPDP maka proses analisa dianggap selesai. Sebaliknya, proses analisa masih akan berlanjut jika dibutuhkan adanya IPDP. Ternyata hasil keluaran yang kedua harus sudah dibuat sebelum dijawab pertanyaan pertama. Draft pertama dari laporan ini akhirnya disampaikan kepada Departemen Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Januari 2006, berikut Rencana Pengembangan Masyarakat Adat yang sederhana sesuai keinginan daerah dan masyarakat adat sendiri.

14. Penjabaran Metodologi, Penyiapan Laporan Akhir

Berdasarkan

masukan

yang

diterima

tentang

draft

pertama

dari

laporan

ini,

dan

supaya

hasilnya

diberikan

dalam

bentuk

Pilot

Metodologi untuk Analisa Dampak Sosial Masyarakat Adat yang

Rentan, maka konsep IPDP dipertajam, dengan metodologi yang dimuat pada bagian sebelumnya dan bagian akhir dari Bab 2 ini, kemudian IPDP dirubah seperti di Bagian 4, dan laporan ditulis kembali dalam Bahasa Inggeris. Laporan Akhir ini disampaikan sesudah CTC bekerja 4 bulan lagi (Februari s/d Mei 2006).

Perlu dicatat bahwa Bank Dunia memandang perlu untuk mendapat masukan dari pihak World Wildlife Fund (WWF) mengenai kemungkinan terjadi illegal logging atau dampak lainnya. Masukan tersebut belum terima. Tidak jelas pada saat mana langkah tersebut dianggap perlu ditempuh, kiranya menjadi jelas sebelum diadakan Studi ANDAS lainnya. Diharapkan diatur kembali jadwalnya agar tidak mementahkan hasil studi sebelumnya.

2.4.3. Bentuk Rencana Tindakan

Keluaran utama dari Studi ANDAS adalah berupa Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat (Indigenous Peoples’ Development Plan, IPDP) baik untuk masyarakat yang rentan maupun untuk masyarakat yang tidak rentan. Isinya rencana tersebut disesuaikan dengan tingkat kerentanan masyarakat.

a. Bentuk Rencana Tindakan : Masyarakat yang Rentan

Apabila hasil Studi ANDAS menunjukkan bahwa masyarakat kemungkinan rentan terhadap Penanganan jalan, maka Rencana Tindakan terdiri dari (1) Prosedur Tetap (SOP) dan (2) tindakan lain yang perlu untuk mengatasi dampak sosial negatif serta untuk (3) mengembangkan komunitas adat. Rencana tersebut bisa saja mencakup hal-hal yang tidak terkait langsung dengan Penanganan jalan, baik tindakan fisik maupun tindakan studi dan kelembagaan. Sebagai bentuk presentasi ringkasan Rencana, digunakan format matriks. Fokus analisa adalah Isu/Permasalahan/Dampak yang kiranya terjadi (kolom paling kiri dalam matriks). Untuk setiap

Isu/Permasalahan/Dampak (satu baris dalam matriks), diuraikan tentang hal-hal sebagai berikut (masing-masing dengan satu kolom dalam matriks) :

Lokasi dan Jumlah Warga Sasaran, yang diperkirakan kena masalah ybs termasuk kelompoknya, misalnya 25 pedagang di desa X, 300 petani, 10 nelayan (bukan jumlah KK) – kalau nama desa tidak disebut, dimaksud semua desa yang ada di Wilayah Studi (dilengkapi peta);

Rencana Tindak, yaitu program atau singkatan dari penanganan yang diusulkan, misalnya Pembangunan Rumah, Sosialisasi Masalah Aids/HIV, dll, berikut uraian tindakan, membagi kegiatan menurut langkah yang nyata (misalnya mengukur lahan disaksikan oleh warga dan BPN) atau menurut pelaku (misalnya menyediakan beasiswa oleh Diknas);

Waktu Kegiatan, yaitu bulan dan tahun awal dan akhir dari setiap Rencana Tindak;

Perkiraan Biaya dan Sumber Dana, termasuk cara perkiraan (misalnya 2 rumah x Rp. 25 juta = Rp. 50 juta); sumber daya menurut instansi atau donatur, dengan pembagian yang jelas kalau ada kerjasama;

Indikator Keberhasilan, menggambarkan tolok ukur keluaran atau keadaan yang diharapkan sebagai akibat dari Uraian Tindakan masing-masing (misalnya Jumlah rumah yang dibangun);

Instansi Penanggung Jawab untuk setiap kegiatan;

Pengawas/Pemantau, selama dan pasca-kegiatan.

Lampiran 3 laporan ini memberi Contoh Tindakan apabila Hasil ANDAS mengindikasikan Kerentanan pada suatu masyarakat adat.

b. Bentuk Rencana Tindakan : Masyarakat yang Non-Rentan

Apabila hasil Studi ANDAS menunjukkan bahwa masyarakat

belum tentu rentan secara umum terhadap Penanganan jalan, maka

Rencana Tindakan terdiri dari (1) Prosedur Tetap (SOP) dan (2)

tindakan lain yang perlu untuk mengatasi dampak sosial negatif

serta untuk (3) mengembangkan komunitas adat bila dianggap

perlu menurut Pemerintah Daerah atau LSM setempat. Rencana

tersebut bisa saja mencakup hal-hal yang tidak terkait dengan

Penanganan jalan, baik tindakan fisik maupun tindakan studi dan

kelembagaan.

Sebagai bentuk presentasi Rencana, digunakan format matriks yang

sama dengan yang diuraikan di atas untuk masyarakat yang

Rentan. Contohnya diberikan pada bagian 4 laporan ini.

Secara ringkas, Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat harus

terdiri dari:

Tabel 2.2. Bentuk Rencana Kerja Pemberdayaan Masyarakat Adat

Tindakan untuk Masyarakat Adat yang Rentan (Indigenous Vulnerable Peoples):

Tindakan untuk Masyarakat Adat yang Tidak Rentan (Indigenous Peoples):

(1) Standard Operating Procedures

(1) Standard Operating Procedures

(2) Tindakan untuk mengatasi dampak sosial negatif (bila ada): fisik/studi

(2) Tindakan untuk mengatasi dampak sosial negatif (bila ada): fisik/studi

(3) Tindakan

untuk

mengembangkan

(3) Tindakan

untuk

mengembangkan

Komunitas Adat (wajib)

Komunitas Adat (fakultatif)

2.4.4. Bentuk Legalisasi

Guna menjamin bahwa bagian IPDP yang dibiatai secara lokal betul-

betul akan dilaksanakan oleh para institusi terkait, maka suatu produk

hukum perlu ditetapkan. Produk Peraturan Daerah merupakan

produk hukum tertinggi di Kabupaten Ende, namun demikian khusus

untuk IPDP ini akan diterbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati yang

isinya bahwa IPDP tersebut betul-betul akan dilaksanakan oleh instansi terkait sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Garis besar dari SK tersebut berisi antara lain :

Menimbang : berisi pertimbangan-pertimbangan mengapa SK tersebut perlu diterbitkan / disusun, isinya bersifat kontekstual

Mengingat : berisi produk-produk hukum (diatasnya) yang menjadi konsideran SK tersebut ini. Suatu penelitian hukum perlu dilakukan guna menjamin bahwa SK yang diterbitkan tidak bertentangan dengan produk-produk hukum diatasnya.

Memperhatikan : berisi referensi-referensi penting sebelum SK tersebut diterbitkan.

Memutuskan : Berisi penetapan dari Bupati bahwa IPDP (1) betul- betul akan dilaksanakan oleh institusi yang terkait (2) penetapan sumber dananya (3) dan mekanisme monitoringnya.

Lampiran : yaitu dokumen IPDP yang sudah disetujui oleh semua stakeholder.

33 11

BBaabb 33 KKeeaaddaaaann LLaappaannggaann

UUssuullaann PPeekkeerrjjaaaann

3.1.1. Lokasi Proyek

EIB-115

e k k e e r r j j a a a a n n 3.1.1.

Rencana Peningkatan Jalan Ruas Nuanilu-Hangalande dan Ruas Nduari – Warundari dengan Panjang Jalan yaitu 18 Km dan melewati 7 (tujuh) desa, yaitu Desa Wologai Timur, Desa Nduari, Desa Nggumbalaka, Desa Wuru, Desa Ndenggarongge, Desa Tana Langi, dan Desa Tani Woda dan 3 (tiga) Kecamatan yaitu Kecamatan Detusoko, Kelimutu, dan Kota Baru Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Proyek peningkatan Jalan terbagi menjadi 2 (dua) Ruas yaitu ruas Nuanilu – Hangalande mempunyai panjang 12,7 km, melewati 4 (empat) desa yaitu desa Wologai Timur Kecamatan Detusoko (Sta 00+000/ Titik Awal), desa Nduaria Kecamatan Kelimutu, desa Ndengga Rongge Kecamatan Kelimutu, desa Tana Langi kecamatan Kota Baru dan desa Tani Woda Kecamatan Kota baru (Sta 18+000/Titik Akhir) dan untuk Ruas Nduari-Warundari mempunyai panjang 5,3 Km, melawati 3 (tiga) desa yaitu desa Nduari Kecamatan Kelimutu, Desa Nggumbelaka Kecamatan Detusoko, dan desa Kuru

Kecamatan Kelimutu. Secara geografis rencana peningkatan jalan terletak pada dataran tinggi yaitu jalan perbukitan atau pegunungan.

Kondisi Jalan Ruas Nuanilu – Hangalande berupa tanah dan bebatuan dengan lebar jalan/badan jalan 3 m sampai 6 m, dan untuk ruas Nduari – Warundari kondisi jalan tersebut berupa jalan aspal yang sudah rusak dengan lebar/badan jalannya 3 m. Pada Rencana Teknik Peningkatan Jalan Ruas Nuanilu – Hangalande dan Ruas Nduari – Warundari tidak ada pembebasan lahan.

Jalan tersebut dibuka pada tahun 1996 dengan lebar jalan 3 meter sampai 6 meter. Fungsi jalan tersebut bagi komunitas adat terpencil adalah sebagai moda transportasi untuk menjual hasil komoditinya dan selama ini untuk menjual hasil komoditi mereka harus berjalan kaki dengan jarak 3 to 5 km. Moda transportasi yang ada hanya kendaraan roda dua (motor).

3.1.2. Kondisi Geografis

Secara geografis Kabupaten Ende merupakan gugusan perbukitan dengan ketinggian wilayah studi berkisar 800-1200 mdl. Kondisi tersebut dalam pembangunan harus didukung oleh sistem transportasi yang terpadu antara darat, laut dan udara. Keberadaan ruas jalan Nuanilu–Hangalande dan ruas Nduari–Warundari berada pada dataran tinggi. Kemiringan tanah berkisar antara 0 % sampai dengan 30 % (sebelah timur jurang dan sebelah utara punggung bukit).

Prasarana jalan sepanjang 18 Km (ruas Nuanilu-Hangalande dan Nduari- Warundari) dapat dikatakan hanya mengandalkan jalan desa yang saat ini akan ditingkatkan melalui EIRTP-2, sedangkan jalan tersebut menghubungkan antara jalan kabupaten dengan jalan negara.

3.1.3.

Iklim

Musim hujan rata-rata selama 5 bulan (November–Maret), sedangkan

kemarau Juni-September, dengan suhu rata-rata 25-30 derajat Celcius.

33 22

KKoonnddiissii SSoossiioo--EEkkoonnoommii

Dengan menggunakan teknis stratified random sampling, dimana

jumlah responden yang diambil adalah 200 KK, maka diperoleh

gambaran kondisi masyarakat adat sebagai berikut untuk EIB-115:

3.2.1 Kependudukan

Jumlah penduduk yang bermukim di sepanjang jalan ruas Nuanilu-

Hangalande, Desa Wologai Timur 85 KK/430 Jiwa, Desa Ndengga

Rongge 126 KK/731 jiwa, Desa Tana Langi 235 KK/809 jiwa dan Desa

Tani Woda 187 KK/611 jiwa.

Untuk Ruas Nduari-Warundari Desa Nggumbelaka 101 KK/ 363 jiwa,

desa Kuru 190 KK/738 jiwa. Untuk mengetahui lebih rinci sebaran

Komunitas Adat Terpencil di masing-masing desa dapat dilihat sbb:

Tabel 3.1. Jumlah Penduduk Masyarakat Adat di EIB-115

No

Desa

Kecamatan

Jumlah KK

Jumlah Jiwa

Ruas Nuanilu – Hangulande

 

1.

Wologai Timur

Detusoko

85

430

2.

Ndengga Rongge

Kelimutu

126

731

3

Tana Langi

Kota baru

235

809

4

Tani Woda

Kota baru

187

611

No

Desa

Kecamatan

Jumlah KK

Jumlah Jiwa

Ruas Nduari – Warundari

 
 

1. Nduari

Kelimutu

-

-

 

2. Nggumbelaka

Detusoko

101

363

 

3. Kuru

Kelimutu

190

738

 

Jumlah

924

3.682

Sumber : Data Kecamatan tahun 2004

3.2.2 Pendidikan

Gambaran tingkat pendidikan Komunitas Adat Terpencil yang

bermukim sepanjang ruas Nuanilu-Hangulande dan ruas Nduari-

Warundari dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3.2.

Status Pendidikan Masyarakat Adat di EIB-115

     

Pendidikan Tertinggi*

 

Jumlah

No.

Desa

BS

SD

SLTP

SLTA

TS(7-45 th )

Jiwa

Ruas Nuanilu – Hangulande

 

1.

Wologai Timur

57

288

33

17

35

429

2.

Ndengga Rongge

96

244

89

76

196

701

3.

Tana Langi

-

-

-

-

-

-

4.

Tani Woda

75

190

30

50

150

495

Ruas Nduari – Warundari

 
 

1. Nduari

-

-

-

-

-

-

 

2. Nggumbelaka

53

33

6

27

12

131

 

3. Kuru

129

352

40

15

137

673

 

Jumlah

410

1107

198

185

529

 

* BS: Belum Sekolah; SD:sekolah dasar; SLTP: lanjutan pertama ; SLTA: lanjutan atas

TS (7-45 th ): Berumur antara 7 dan 45, tidak pernah bersekolah

Sumber : Data Kecamatan tahun 2004

3.2.3

Mata Pencaharian

Penduduk yang bermukim sepanjang Ruas Nuanilu-Hangulande dan

Nduari-Warundari mayoritas bekerja sebagai petani, dengan komoditi

yang dihasilkan yaitu jagung, kacang tanah, padi, ladang, ubi kayu, ubi

jalar, cabe, bawang putih, bawang merah, tomat, kentang, buncis, kopi,

jeruk, alpukat, dan mangga.

Komoditas yang merupakan makanan utama adalah jagung, sedangkan

komoditas yang ditanam hanya untuk dijual adalah kopi dan jeruk. Tidak

terdapat data mengenai jumlah dari masing-masing komoditas yang

dihasilkan, maupun uang yang dihasilkan dari pertanian.

3.2.4 Identitas Responden Survey

Bagan 3.1. Jenis Kelamin Responden (%) Jenis Kelamin Responden Per empuan 9% Laki-laki 91%
Bagan 3.1.
Jenis Kelamin Responden (%)
Jenis Kelamin Responden
Per empuan
9%
Laki-laki
91%
(%) Jenis Kelamin Responden Per empuan 9% Laki-laki 91% Jenis kelamin warga yang dijadikan responden 91%

Jenis kelamin warga yang dijadikan responden 91% adalah lelaki dan 9%

adalah perempuan. Awalnya Tim berusaha untuk menyeimbangkan

jumlah ini. Tetapi kondisi lapangan belum memungkinkan. Angka ini

setidaknya memberi gambaran belum terjadinya kesetaraan gender. Dari

sisi usia responden, yang terbanyak adalah pada usia 30 sampai dengan 40

tahun (57%), ini menunjukkan usia produktif di lokasi ini lebih dominan,

sebagaimana terlihat pada bagan berikut :

Bagan 3.2. Usia Responden (tahun)
Bagan 3.2.
Usia Responden (tahun)

Usia Responden

14%

57%

29%

< 30 thn 30 - 40 thn 41 - 50 thn

< 30 thn

< 30 thn 30 - 40 thn 41 - 50 thn

30 - 40 thn

< 30 thn 30 - 40 thn 41 - 50 thn

41 - 50 thn

Usia produktif yang menjadi Kepala Keluarga ini kebanyakan

memiliki anggota keluarga 3-5 orang (51%) dan di atas 5 orang (49%).

Ini menunjukkan tidak ada satu pun responden yang belum memiliki

anak atau anggota keluarga lainnya. Data selengkapnya terlihat pada

bagan berikut :

Bagan 3.3. Jumlah Anggota Keluarga Responden (orang)

JumlahKeluarga

49%

JumlahKeluarga 49% 0% 51% >3Jiwa 3-5Jiwa <5Jiwa

0%

JumlahKeluarga 49% 0% 51% >3Jiwa 3-5Jiwa <5Jiwa

51%

>3Jiwa 3-5Jiwa <5Jiwa

>3Jiwa

>3Jiwa 3-5Jiwa <5Jiwa

3-5Jiwa

>3Jiwa 3-5Jiwa <5Jiwa

<5Jiwa

Temuan yang menarik walaupun masuk dalam kategori Kelompok

Adat Terpencil oleh DepSos, tetapi ternyata tidak ada satu pun

responden yang tidak bersekolah. Bahkan ada 6% responden yang

sampai jenjang pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan responden

adalah sebagai berikut :

Bagan 3.4. Tingkat Pendidikan Responden (%)

Pendidikan Responden

D3

SMA 6% 9% SMP 6%
SMA
6%
9%
SMP
6%

SD

79%

Keseluruhan responden adalah penduduk asli yang telah lama tinggal

di lokasi ini sebagaimana disajikan secara berturut-turut pada bagan

berikut ini :

Bagan 3.5. Daerah Asal Responden (%)

Daerah Asal Responden

0% 0% 100% NTB NTT Lainnya
0%
0%
100%
NTB
NTT
Lainnya
Daerah Asal Responden 0% 0% 100% NTB NTT Lainnya

Bagan 3.6. Lama Tinggal Responden (tahun)

Lama Tinggal Responden

0%

9% 29% 62% < 30 thn 30 - 40 thn 41 - 50 thn >
9%
29%
62%
< 30 thn
30 - 40 thn
41 - 50 thn
> 50 Thn

3.2.5

Tingkat Ekonomi Responden

Pekerjaan utama responden kebanyakan (86%) adalah petani, hal ini

menunjukkan pola hidup subsisten yang masih mendominasi. Walau

demikian, ternyata selebihnya telah bekerja di sektor formal,

sebagaimana terlihat pada bagan ini :

Bagan 3.7. Pekerjaan Responden (%)

Pekerjaan Responden

6% 3% 3% 85%
6%
3%
3%
85%

3%

Pegaw ai Negeri PNS BPD Petani Kepala Dusun

Pegaw ai Negeri

Pegaw ai Negeri PNS BPD Petani Kepala Dusun

PNS

Pegaw ai Negeri PNS BPD Petani Kepala Dusun

BPD

Pegaw ai Negeri PNS BPD Petani Kepala Dusun

Petani

Pegaw ai Negeri PNS BPD Petani Kepala Dusun

Kepala Dusun

Informasi menarik yang patut dicermati, bahwa tingkat pendapatan

dan pengeluaran responden ternyata sebagian besar yang dibawah Rp.

1 juta per bulan. Bahkan sebagian besar (94%) memiliki pengeluaran di

bawah Rp. 1 juta. Pengeluaran tersebut memang sebanding dengan

pendapatan. Ternyata 77% responden memiliki pendapatan di bawah

Rp. 1 juta. Setidaknya ini menunjukkan adanya tingkat kesulitan

ekonomi, khususnya karena angka ini mewakili pendapatan dan

pengeluaran keluarga. Apalagi dari sisi lokasi memang terlihat harga-

harga kebutuhan pokok sangat tinggi, hal ini terjadi mengingat

sulitnya akses barang. Kesulitan ini ditambah lagi tidak adanya

sumber pendapatan lainnya. Uraian ini dapat dipertegas melalui bagan

yang disajikan secara berurutan berikut ini :

Bagan 3.8. Tingkat Pengeluaran Responden (Rp./bln)

Pengeluaran Responden

0% 6%
0%
6%

94%

> Rp.1.000.000,- Rp.1.000.000, - Rp. 1.500.000,- < Rp.1.500.000,-

> Rp.1.000.000,-

Rp.1.000.000, - Rp. 1.500.000,-> Rp.1.000.000,- < Rp.1.500.000,-

> Rp.1.000.000,- Rp.1.000.000, - Rp. 1.500.000,- < Rp.1.500.000,-

< Rp.1.500.000,-

Bagan 3.9. Tingkat Pendapatan Responden (Rp./bln)

Pendapatan Responden

23%

0%
0%

77%

> Rp.1.000.000,- Rp.1.000.000, - Rp. 1.500.000,- < Rp.1.500.000,-

> Rp.1.000.000,-

Rp.1.000.000, - Rp. 1.500.000,-> Rp.1.000.000,- < Rp.1.500.000,-

> Rp.1.000.000,- Rp.1.000.000, - Rp. 1.500.000,- < Rp.1.500.000,-

< Rp.1.500.000,-

Kondisi ekonomi ini masih termasuk ”diuntungkan” dengan pola

hidup yang subsisten, sebagian besar (94%) mendapatkan sumber

makanan dari kebun. Selebihnya 6% mendapatkannya dengan cara

membeli. Hal ini ada kesesuaian dengan jenis mata pencaharian

masyarakat secara umum.

Bagan 3.10. Pola Mendapat Sumber Makanan Pola MendapatkanSumber MakananResponden 0% 6% 94% Dari Kebun Membeli
Bagan 3.10.
Pola Mendapat Sumber Makanan
Pola MendapatkanSumber MakananResponden
0%
6%
94%
Dari Kebun
Membeli
Lainnya

Sementara itu, sebanyak 77% responden menggunakan pola makan

sehari tiga kali, selebihnya 23% responden menggunakan pola makan

sehari dua kali, sebagaimana terlihat pada bagan berikut ini :

Bagan 3.11. Pola Makan sehari-hari

Pola Makan Sehari-hari Responden

0% 23%
0%
23%

77%

3 kali sehari 2 kali sehari Lainnya

3 kali sehari

3 kali sehari 2 kali sehari Lainnya

2 kali sehari

3 kali sehari 2 kali sehari Lainnya

Lainnya

3.2.6 Kondisi Lahan Responden

Status kepemilikan lahan responden secara keseluruhan adalah Tanah

Adat yang tercatat secara resmi di Pemerintah Desa, dan diakui status

hukumnya oleh Pemerintah Kabupaten. Tidak ada tanah yang diakui

sebagai hak milik atau hak girik, maupun tanah wakaf.

Lahan yang ada oleh responden secara keseluruhan dipergunakan

untuk kebun atau ladang. Uraian ini sebagaimana terlihat pada bagan

berikut ini :

Uraian in i sebagaimana terlihat pada bagan berikut ini : Bagan 3.12. Status Tanah Responden (%)

Bagan 3.12. Status Tanah Responden (%)

Status Tanah

0% 0%

0%

Status Tanah 0% 0% 0% 100% Girik/ Letter-C Hak Milik Tanah Wakaf Lainnya, Tanah Adat
100% Girik/ Letter-C
100%
Girik/ Letter-C
Hak Milik Tanah Wakaf Lainnya, Tanah Adat

Hak Milik

Hak Milik Tanah Wakaf Lainnya, Tanah Adat

Tanah Wakaf

Hak Milik Tanah Wakaf Lainnya, Tanah Adat

Lainnya, Tanah Adat

Bagan 3.13. Jenis Pemanfaatan Lahan Responden (%)

Jenis Pemanfaatan

0% 0%
0%
0%
100% Peternakan
100%
Peternakan
Kebun/ladang Lainnya

Kebun/ladang

Kebun/ladang Lainnya

Lainnya

Permasalahan utama yang dialami oleh responden adalah terletak

pada masalah perumahan. Kebanyakan responden (66%) menempati

rumah dalam kondisi semi-permanen, bahkan 23% responden

memiliki rumah dalam kondisi darurat. Hanya 11% responden yang

memiliki rumah permanen.

Bagan 3.14. Kondisi Bangunan Rumah (%)

Kondisi BangunanResponden

11% 23% 66% Permanen Semi Permanen Darurat
11%
23%
66%
Permanen
Semi Permanen
Darurat

3.2.7 Persepsi Terhadap Rencana Proyek

Ada 3 (tiga) hal penting yang dipertanyakan kepada responden, yaitu

tingkat pengetahuan, sosialisasi dan musyawarah. Ini berkaitan

dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Ternyata

keseluruhan responden telah mengetahui adanya rencana proyek ini

dan itu sudah lama sejak tahun 1995.

Bagan 3.15. Tingkat Pengetahuan Warga Terhadap Rencana Jalan

Apakah Bpk/ Ibu Mengetahui Rencana Jalan

0% 0%
0%
0%

100%

Ya Tidak Tidak Jaw ab

Ya

Ya Tidak Tidak Jaw ab

Tidak

Tidak Jaw abYa Tidak

Bagan 3.16. Pelaksanaan Sosialisasi Rencana Jalan

Apakah Pemerintah Sudah Melakukan Sosialisasi

0% 0%
0%
0%

100%

Sudah Belum Tidak Jawab

Sudah

Sudah Belum Tidak Jawab

Belum

Sudah Belum Tidak Jawab

Tidak Jawab

Bagan 3.17. Musyawarah Rencana Jalan

Apakah Pemerintah Sudah Melakukan Musyawarah

0% 0%
0%
0%
100% Sudah Belum Tidak Jawab
100%
Sudah
Belum
Tidak Jawab

Pertanyaan kunci yang kemudian diberikan kepada responden

apakah ada kerugian yang dialami warga akibat rencana

pembangunan jalan. Keseluruhan responden menyatakan tidak ada.

Bagan 3.18. Kerugian Warga Akibat Rencana Jalan

Apakah Ada Kerugian dari Pembangunan Jalan

0%

100%

0%

Ada Tidak Ada Tidak Jawab

Ada

Tidak Ada

Tidak Jawab

okt 06
okt 06

Studi Andas EIRTP-2 Kabupaten Ende, NTT

Bab 3 - 13

Kesimpulannya tidak terdapat persepsi maupun kesan negatif terhadap proyek pada para responden.

3.3. AAssppeekk BBuuddaayyaa

3.3.1. Ciri-Ciri Khas Masyarakat Tradisional di EIB-115

Desa-desa yang berada sepanjang ruas Nuanilu-Hangulande dan ruas Nduari-Warundari merupakan wilayah permukiman Komunitas Adat Terpencil yang memiliki adat istiadat yang sangat kuat, dimana setiap kebijakan pembangunan diambil dari rapat musyawarah antara pemangku adat atau yang lebih dikenal dengan sebutan kepala suku atau desa dengan masyarakat. hasil keputusan rapat musyawarah selalu mengedepankan pelestarian nilai-nilai adat dan kepentingan masyarakat yang lebih akomodatif.

Komunitas adat terpencil yang ada dilokasi proyek hidup berdasarkan asal-usul secara turun temurun diatas satu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam yang diatur oleh hukum adat, dan pengelolaannya diatur oleh kepala suku. Komunitas inilah disebut dengan anak negeri yang memiliki dan berhak atas tanah yang ada di wilayah tersebut. Hak memiliki tanah atau penguasa ulayat/persekutuan biasa disebut “Mosalaki”, diatur oleh kepala suku dan tidak diperbolehkan untuk diperjual belikan dan jika diperjualbelikan harus persetujuan tokoh-tokoh adat, kepala suku.

Dalam membahas permasalahan adat menggunakan Rumah Adat biasa disebut “Saong Goa” atau “Kuwu”. Saong goa atau Kuwu biasanya digunakan untuk membahas dan memecahkan permasalahan adat selain itu juga digunakan untuk menyimpan hasil panen, dan dalam pembagian hasil panen yang berhak memutuskan adalah kepala

suku bersama-sama dengan tokoh adat setelah diputuskan barulah diadakan “upacara Poo” atau upacara inti, yaitu upacara pembagian hasil panen dan penolakan hama. Hukum adat atau denda adat biasanya dilakukan jika ada komunitas adat yang melanggar adat, misalkan dalam mengingkari janji tidak tepat waktu dan denda adat atau hukum adat yang berlaku ada 3 persyaratan atau sanksi yang harus di bawa yaitu pertama membawa “Wawi Ngii”, yaitu membawa babi besar sebanyak 4 pikul, Kedua “Are Bote” yaitu membawa beras 30 kg atau 1 gentung, ketiga “Moke Kumba” yaitu Membawa Arak 1 bambu atau 20 botol, dan sanksi ini wajib dibawa pada saat “Upacara Poo”.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penguasaan atas wilayah adat atau tanah ulayat tertentu bersifat eksklusif sebagai hak penguasa dan /atau kepemilikan bersama komunitas, sehingga mengikat semua warga untuk menjaga dan mengelolanya untuk keadilan dan kesejahteraan bersama serta mengamankannya dari eksploritas pihak luar. Sementara dalam pengambilan keputusan tentang permasalahan adat masih di pegang oleh Kepala suku dan warga hanya dapat mengikuti apa yang telah diputuskan oleh kepala suku.

3.3.2. Sebaran Komunitas Adat Terpencil

Uraian sebaran Kelompok Adat Terpencil untuk kabupaten Ende kecamatan Kota Baru sebagaimana dicantumkan pada tabel berikut ini:

PETA SEBARAN KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) KECAMATAN KOTA BARU KABUPATEN ENDE PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

         

Jarak

Klasifikasi KAT

 

Jumlah Penduduk

 

No

Desa

Lokasi

Nama Suku

Ke Desa

Ke Kec

Ke Kab

Pedalaman

Pegunu

Laki-laki

Perempuan

KK

Total

ngan

1.

Niopanda

a. Niopanda

a.

Lekowondo

-

23

117

V

V

297

385

180

682

b. Wolonaka

b.

Lekowondo

6

29

123

v

v

1231

1354

317

2585

2.

Tani Woda

Ratenggoji

Ana Mbete

-

38

67

v

v

303

308

187

611

3.

Tiwosera

Tiwusora

Ata Kune

-

21

148

v

v

182

199

94

381

4.

Tanalangi

Paubewa

Ana Mbete

-

41

55

-

V

399

410

236

809

5.

Detuara

Detuara

Ata Kune

-

31

74

V

V

155

170

346

325

6.

Hangalande

hangalande

Ata Henda, Tu, Kune

-

14

140

v

v

358

401

165

759

Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Ende

Gambar 3.1. Kondisi Lokasi Proyek

Gambar 3.1. Kondisi Lokasi Proyek Titik Awal Rencana Proyek Perkampungan Adat

Titik Awal Rencana Proyek

Gambar 3.1. Kondisi Lokasi Proyek Titik Awal Rencana Proyek Perkampungan Adat

Perkampungan Adat

33

44

KKeerreennttaannaann MMaassyyaarraakkaatt AAddaatt

Metodologi pada Bab 2 Bagian 2.3 dimaksud untuk mengetahui sejauh

mana masyarakat Komunitas Adat Terpencil di sekitar proyek

merupakan masyarakat yang Rentan terhadap kemungkinan dampak

negatif suatu proyek. Bagian ini kembali menganalisa masyarakat

dengan ciri-ciri tersebut di atas berkaitan dengan usulan proyek EIB-

115.

Dari ciri-ciri masyarakat adat, dari data responden dan analisa hasil

pertanyaan, konsultan mendapat kesimpulan berikut ini tentang

kerentanan Komunitas Adat Terpencil di sekitar EIB-115:

Tabel 3.3. Penilaian Kerentanan Komunitas di EIB-115

Pertanyaan

Hasil Respon/Pengamatan

Rentan?

Keterikatan yang kuat atas tanah leluhur dan pada sumber daya alam

 

1. Apakah masyarakat seluruhnya bersikap positif terhadap peningkatan jalan?

Keseluruhan responden menyatakan