Anda di halaman 1dari 7

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 6 No.

September 2010 ; 86-90

PENGARUH PERUBAHAAN SUHU TERHADAP TEGANGAN TEMBUS PADA MINYAK TRAFO MURNI BEKAS DAN TERKONTAMINASI 10 % AIR
Wahyono Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H.Sudarto,SH Tembalang Kotak Pos 6199 / Sms, Semarang 50329 Telp.7473417,7499585, 7499586 (Hanting) , Fax. 7472396 Abstrak Isolasi merupakan masalah yang penting dalam system tenaga listrik. Bahan isolasi akan mengalami pelepasan yang merupakan bentuk kegagalan listrik apabila tegangan yang diterapan melampaui kekuatan isolasinya. Kegagalan yang terjadi pada saat peralatan sedang beropesibisa menyebabkan kerusakan alat sehingga kontinuitas system terganggu. Bahan isolasi cair banyak digunakan terutama sebagai isolasi dan pendingin pada trafo karena mempunyai kekuatan yang lebih tinggi dari pada udara. Dengan melakukan pengujian dua bahan untuk mengetehui perangaruh tegangan tembus terhadap perubahan temperatur dan perbedaannya. Hasil pengujian menunjukan nilai tegangan tembus yang terjadi pada minyak trafo murni dan minyak trafo yang terkontaminasi air 10% cenderung meningkat seiring dengan kenaikan temperature. Hasil pengujian menunjukan tegangan tembus pada minyak trafo murni lebih tinggi dari pada minyak yang terkontaminasi air. Katakunci : tegangan tembus , isolasi cair

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Setiap pealatan listrik memerlukan isolasi yang baik, untuk menjaga keamanan manusia dan peralatan listrik pada saat beroperasi sehari-hari. System tegangan listrik pada tegangan tinggi maupun tegangan menengah pada gardu induk dan gargu distribusi terdapat komponen yang disebut transformator atau trafo. Trafo ada isolasi zat cair yang disebut minyak trofo. Minyak trafo ini selain sebagai isolasi juga sebagai pendingin kumparan pada trafo tersebut. Pemakaian minyak trafo agar berfungsi dengan baik dan tetap efektik , maka dilakukan pengecekan ketahananya terhadap tegangan tembus dengan jarak tertentu. Tujuan melakukan pengujian minyak trafo terhadap variasi temperature untuk mengetahui bagaiamana karakteristik hubungan antara perubahan temperatur dan tegangan tembus. Diharapkan penelitian ini diketahui sifat yang dimaksud sehingga dengan mempertimbangkan fator-faktor lain, dipakai sebagai bahan isolasi dan pendingin untuk transformator. 1.2 Tinjauan Pustaka

Muhammad khoiri,dkk melakukan tentang penelitian tegangan dadal pada minyak trafo merk DIALA-B dengan variasi jarak elektroda setengah bola diameter 8 mm pada kondisi temperature 29,5 derajat dan kelembaban udara 74 % Alfian Junaidi, 2008 melakukan penelitian tentang perbandingan minyak trafo jenis Diala-B dengan minyak mesran super SAE 40 ditinjau dari perubahan suhunya. Ternyata minyak trafo jenis Diala-B lebih baik mutunya ( nilai tegangan tembusnya lebih tinggi ) dibanding minyak mesran super SAE 40. 1.3 Landasan Teori

86

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 6 No. 3

September 2010 ; 86-90

Isolator cair memiliki dua fungsi yaitu sebagai pemisah antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan dan juga sebagai pendingin sehingga banyak dipakai pada peralatan seperti transformator, pemutus tenaga, switch gear dan lain-lain. ( Alfian Junaidi ) Isolasi cair yang dimaksud adalah minyak trafo. Agar minyak trafo berfungsi dengan baik dan kualitas minyak terjamin, maka sebalum dipakai harus memenuhi standar kebutuhan yang dijinkan seperti standar SPLN 49-1, dengan metode uji IEC 296 seperti ditunjukan pada tabel 1 dibawah. Tabel 1. Standar minyak trafo SPLN 49-1 No. Sifat Minyak 1 2 3 4 5 6 Satuan Standar < 25 130 < < 0.40 120< Tidak ada <0,10

harus selalu dipantau/diuji secara berkala untuk menjaga supaya tetap dalam kondisi yang memenuhi syarat. 1.4 Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair Ada beberapa teori kegagalan isolasi zat cair namun masih sedikit disbanding dengan kegagalan pada gas atau udara. Kedua isolasi cair akan mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi dan secara serentak melalui proses konversi menghilangkan panas yang timbul akibat rugi energi. Ketiga isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing) jika terjadi pelepasan muatan (discharge). Namun kekurangan utama isolasi cair adalah mudah terkontaminasi. Kegagalan pada zat cair ini antara lain : a. Kegagalan Elektronik, teori ini merupakan perluasan dari teori kegagalan dalam gas ( Arismunandar,A , 1983 ) artinya proses kegagalan yang terjadi pada zat cair serupa dengan proses terjadinya kegagalan pada gas. b. Kegagalan Gelembung, kegagalan ini juga disebut kavitasi merupakan bentuk kegagalan pada zat cair yang disebabkan oleh gelembung gelembung gas didalamnya. c. Kegagalan Bola cair, suatu isolasi mengandung bola cair dari jenis cairan lain, maka akan terjadi kegagalan akibat ketidakstabilan tersebut dalam medan listrik. d. Kegagalan tak murnian padat, jenis kegagalan yang disebabkan oleh adanya butiran zat padat. Beberapa macam factor yang diperkirakan mempengaruhi ketembusan minyak transformator seperti luas daerah elektroda, jarak celah (gap spacing), pendinginan, perawatan sebelum pemakaian (elektroda dan minyak), pengaruh kekuatan dielektrik dari minyak transformator yang diukur serta kondisi pengujian atau minyak itu sendiri juga
87

Viskositas 200C Cst Titik Nyala Kadar Asam Tegangan Tembus Korosi Belerang Kotoran
0

Mg KOH/g KV / cm %

Tagangan tembus adalah tegangan yang mampu menembus kekuatan dielektrikum isolasor dari suatu bahan isolasi. Apabila suatu bahan peralatan listrik dikenakan tegangan tinggiyang dinaikan terus-menerus, maka pada suatu saat isolator alat tersebut akan mengalami pelepasan muatan listrik ( Arismunandar,A, 2004 ). Dalam hal yang demikian isolator tersebut mengalami kegagalan dielektriknya, kegagalan ini menyebabkan kehilangan tegangan dan malirnya arus. Daya delektrikum minyak trafo akan selalu berubah dengan adanya perubahan suhu dan akan lebih cepat rusak apabila teroksidasi oleh udara (Arismunandar, A, 1984). Oleh karena itu daya delektrikum minyak trafo

Pengaruh perubahan suhu terhadap tegangan tembus pada minyak trafo .... (Wahyono)

mempengaruhi kekuatan dielektrik minyak transformator. Ketembuasan isolasi (insulation breakdown, insulation failure) disebabkan karena beberapa hal antara lain isolasi tersebut sudah lama dipakai, berkurangnya kekuatan dielektrik dank arena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih. Pada prinsipnya tegangan pada isolator merupakan suatu tarikan atau tekanan (stress) yang harus dilawan oleh gaya dalam isolator itu sendiri supaya isolator tidak tembus. Dalam struktur molekul material isolasi, electron-elektron terikat erat pada molekulnya, dan ikatan ini megadakan perlawanan terhadap tekanan yang disebabkan oleh tegangan. Bila ikatan ini putus pada suatu tempat maka isolasi pada tempat itu hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan tegangan akan terjadi perpindahan electron-elektron dari suatu molekul ke molekul lainnya sehingga timbul arus konduksi atau arus bocor. Karakteristik isolator akan berubah bial material tersebut kemasukan suatu ketidakmurnian (impurity) seperti adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat menurunkan tegangan tembus.
c.

78 untuk frekuensi 50 Hz, namun hanya memiliki permitivitas 5 untuk gelombang mikro. Faktro daya: Faktor dissipasi daya dari minyak di bawah tekanan bolak balik dan tinggi akan menentukan unjuk kerjanya karena dalam kondisi berbeban terdapat sejumlah rugi rugi dielektrik. Faktor dissipasi sebagai ukuran rugi rugi daya merupakan parameter yang penting bagi kabel dan kapasitor. Minyak transformator murni memiliki factor dissipasi yang bervariasi antara 10-4 pada 20 oC dan 10 -3 pada 90 oC pada frekuensi 50 Hz. suatu cairan dapat digolongkan sebagai isolasi cair bila resisivitasnya lebih besar dari 109 W-m. pada system tegangan tinggi resisivitasnya yang diperlukan untuk material isolasi adalah 1016 W-m atau lebih (W=ohm).

d. Resisivitas:

2. Metode penelitian 2. 1 Bahan Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik dari minyak trafo bekas yang dipengaruhi oleh perubahan temperatur dari 20 derajat C sampai 60 derajat C. Tegangan tembus bahan cair yang divariasi temperature ini akan diketahui seberapa besar pengaruhnya. 2. 2 Peralatan Pengujian
1. Satu set pembangkit tegangan tinggi

1.5 Sifat-sifat Listrik Cair Isolasi Sifat-sifat listrik yang menentukan unjuk kerja cairan sebagai isolasi adalah :
a.

Withstand Breakdown kemampuan untuk tidak mengalami ketembusan dalam kondisi tekanan listrik (electric stress) yang tinggi. Kapasitas listrik per unit volume yang menentukan permitivitas relatifnya. Minyak petroleum merupakan subtansi nonpolar yang efektif karena merupakan campuran cairan hidrokarbon. Minyak ini mempunyai permitivitas kira-kira 2 atau 2.5. Ketidakbergantungan permitivitas subtansi nonpolar pada frekuensi membuat bahan ini lebih banyak dipakai dibandingkan dengan bahan yang bersifat polar. Misalnya air memiliki permitivitas

b.

impuls. Alat ini terdiri dari komponen-komponen antara lain : a. Trafo uji sebagai penaik tegangan AC. Tegangan primer bisa divariasi dari 0 sampai 220 volt dan tegangan skunder 0 sampai 100 kilovolt.

88

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 6 No. 3

September 2010 ; 86-90

b. Regulatot, yaitu alat untuk mengatur besar kecilnya tegangan keluaran dari trafo uji tersebut. c. Voltmeter, yaitu alat untuk mengukur besarnya tegangan effektif keluaran trafo uji dengan satuan kilovolt. d. Resistor peredam, digunakan untuk melindungi transformator dari arus yang besar saat terjadi tegangan tembus dan membatasi arus lucutan bila terjadi tegangan gagal atau tembus. Hambatan pada resistor peredam ini ditentukan dengan dasar : Rd = Vtt / I Dimana : Rd = resistor peredam (ohm) Vtt = tegangan tinggi yang dikenakan (KV) I = arus lucutan yang diijinkan (mA)
1. Tabung penguji, untuk menguji bahan

c.

Untuk memanaskan bahan uji pada tabung pengujian digunakan heater, dan untuk mengetahui suhu sesuai yang dikehendaki dengan thermometer.

3. Hasil dan pembahasan 3.1 Hasil Hasil pengukuran ini telah di koreksi dengan tekanan barometer dan temperatur setempat. Tabel 2. Hasil pengujian minyak trafo murni No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 T (oC) 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 Vk (kv) 8,77 8.36 9.05 12.54 15.65 19,78 24,50 28,60 33,90 37,10

terhadap kemampuannya menahan tegangan baik AC maupun impuls. Pada tabung terdapat 2 elekroda dengan jarak 2.5mm dan diameter 12.5 mm. Bahan tabung terbuat dari fiber glass. 2. Barometer dan Higrometer untuk mengukur tekanan dan kelembaban udara. 3. Thermometer, untuk mengukur suhu pada minyak trafo. 2. 3 Prosedur Penelitian a. Bahan penguji ditempatkan pada tabung pengujian. bahan yang akan diuji sesuai yang diharapkan (dirubah dari suhu kamar sampai 100 oC dengan perubahan 10 oC).

Tabel 3. Hasil pengujian minyak trafo terkontaminasi 10% air No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 T (oC) 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 Vk (kv) 5.94 6,89 7,66 9,58 10,67 9,92 12,78 14,23 15,87 19,22

3.2 Pembahasan Dari hasil pengujian terlihat bahwa untuk kenaikan temperature dengan selang 5 derajat Celsius, tegangan tembus antara elektroda cendung naik walaupun pada level temperature tertentu menunjukan karakteristik bahan menurun seiring dengan kenaikan temperature. Secara umum kenaikan
89

b. Perubahan suhu akan diberikan pada

Pengaruh perubahan suhu terhadap tegangan tembus pada minyak trafo .... (Wahyono)

temperature seiring dengan kenaikan tegangan tembus pada sela elektroda. Dari data hasil pengujian bahan yang terdapat dalam tabel 2, kenaikan temperature dari 20 derajat Celsius ke 25 derajat Celsius terjadi penurunan tegangan tembusn sebesar 0,41 kilovolt, namun setelah temperature 25 derajat Celsius keatas selalu berbanding lurus. Artinya setiap temperaturnya naik, maka tegangan tembus juga naik. Hasil pengujian yang terdapat pada tabel tiga , temperature 40 derajat Celsius naik menjadi 45 derajat Celsius ada penurunan tegangan tembus pada elektroda yang ada dalam minyak trafo yang terkontaminasi air 10%. Numun secara keseluruhan kenaikan temperature diikuti dengan kenaikan tegangan tembus pada elektroda tersebut. 4. Kesimpulan 1. Tegangan tembus pada minyak trafo cenderung meningkat seiring dengan kenaikan temperature yang divariasi baik yang murni maupun yang dicampuri dengan air.
2. Tegangan tembus pada minyak trafo

Trafo Dengan Perubahan Temperature, Politeknik Negeri Semarang. Alfian Junaidi, 2008, perbandingan tegangan tembus antara isolasi minyak trafo dengan isolasi minyak pelumas mesin SAE, dan variasi temperature, Majalah Teknoin, Vol. 13,Desember Djulil Amri,Fali Oklilas,2003, Kekuatan Dan Rugi-Rugi Dielektrik Pada Minyak Transfomator Yang Dipengaruhi Oleh Kontaminasi Air Dan Kenaikan Temperature, Seminar Nasional, Teknik Elektro Kind,D,1993, pengantar teknik eksperimental tegangan tinggi, ITB, Bandung.

bekas lebih besar dari pada tegangan tembus pada minyak trafo yang terkontaminasi air 10% . 3. Bahan minyak trafo murni mutunya masih lebih baik dari pada minyak terkontaminasi air, sehingga minyak trafo harus tidak boleh kecampuran apapun.

5.Daftar Pustaka Arismunandar,A,1983, Teknik Tegangan Tinggi Suplemen , Ghalia Indonesia, Jakarta. Arismunandar,A, 2003 Teknik Tegangan Tinggi Suplemen , Pratnya Paramita, Jakarta. Ali Junaidi, Dkk. 2006, Pengujian Tegangan Tembus Pada Minyak
90

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 6 No. 3

September 2010 ; 86-90

91