Anda di halaman 1dari 20

Disusun Oleh : Noerhafni 110.2007.

193
Pembimbing : Dr.Dicky Hilarius Kambey, Sp.M

Pendahuluan
Buta warna adalah suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga warna obyek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya. Buta warna sebagian adalah kelainan penglihatan dimana hanya satu atau dua jenis sel konus yang jumlahnya kurang atau tidak ada. Buta warna merah-hijau merupakan bentuk yang sering ditemukan (hampir mencapai 99%) tetapi buta warna yang didapat atau sekunder biasanya biru-kuning, hanya l%. Buta warna terdapat lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan dengan perbandingan 20 : 1. Walaupun jumlah penderita buta warna tidak diketahui secara pasti, namun kira-kira 5% 8% laki-laki dan 0,5% perempuan di dunia lahir dengan buta warna. Dengan risiko tertinggi 1 dan 12 laki-laki dan 1 dan 200 perempuan.

Anatomi dan Fisiologi Retina

Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola mata. Retina memiliki tebal 0,1 mm pada ora serata dan 0,23 mm pada kutub posterior. 7, 15

Retina terdiri atas lapisan-lapisan : 5 1. Lapisan epitel pigmen retina 2. Lapisan fotoreseptor, merupakan lapisan terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping dan sel kerucut. 3. Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi 4. Lapisan nukleus luar, merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batang. Ketiga lapisan di atas avaskular dan mendapat metabolism dari kapiler koroid 5. Lapisan pleksiform luar, merupakan lapisan aselular dan merupakan tempat sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal 6. Lapisan nukleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar , sel horizontal dan sel muller lapisan ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral. 7. Lapisan pleksiform dalam, merupakan lapisan aselular dengan sebagai sinapsis sel bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion. 8. Lapisan sel ganglion yang merupakan lapisan badan sel dari pada neuron kedua 9. Lapisan sel saraf, merupakan lapisan akson sel ganglion menuju kea rah saraf optic dan di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina. 10.Membran limitan interna, merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca.

Peran Sel Batang dan Kerucut dalam Penglihatan Warna

Retina terdiri dari sel batang dan sel kerucut. Sel kerucut terletak di makula masing-masing berisi pigmen peka cahaya yang sensitif pada rentang panjang gelombang (setiap warna adalah berbeda panjang gelombang dari 400 sampai 700 nm). Gen mengandung coding instruksi untuk pigmen ini dan jika instruksi pengkodean salah, maka pigmen yang diproduksi akan salah dan sel kerucut akan peka terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda (yang mengakibatkan kekurangan dalam persepsi warna).

Merah, hijau dan biru disebut warna-warna primer. Hitam ialah sensasi yang timbul karena tidak adanya cahaya. Menurut Young-Helmoltz memiliki karakterisasi tentang penglihatan warna bahwa setiap pigmen warna memiliki penyerapan spektrum yang berbeda, yaitu : 11, 8 Pigmen warna merah dan erythrolabe atau disebut juga long waves length sensitive (LWS) memiliki daya serap spectrum 565 mm. Pigmen warna hijau atau chorolabe atau disebut juga medium waves length sensitive (MWS) memiliki daya serap spektrum 535 mm. Pigmen warna biru atau cyanolabe atau disebut juga short waves length sensitive (SWS) memiliki daya serap spectrum 440 mm. 9

Penglihatan Warna

Definisi Buta Warna

Buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan ketidakmampuan selsel kerucut pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga warna obyek yang terlihat bukan warna yang sebenarnya. 7

Klasifikasi Buta Warna

Ada dua jenis utama dari buta warna :


Buta warna total (monokromat) Monokromasi ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya semua penglihatan warna, sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada jenis typical dan sedikit warna pada jenis atypical. Buta warna parsial Buta warna parsial yaitu buta warna yang tidak dapat membedakan warna-warna tertentu.

BUTA WARNA PARSIAL

Definisi Buta Warna Parsial

Buta warna parsial yaitu buta warna yang tidak dapat membedakan warna-warna tertentu. Terutama warna merah, biru atau hijau. 5 Buta warna merupakan kelainan penglihatan yang terjadi jika hanya satu atau dua jenis sel konus yang jumlahnya kurang atau tidak ada. Artinya, penderita masih mampu melihat warna tertentu. 3

Etiologi Buta Warna Parsial

Buta warna parsial (biasanya buta warna pada spektrum merah dan hijau) adalah kelainan genetik yang terkait dengan salah satu kromosom sex, yaitu kromosom X. Kerusakan pada 2 gen bertanggung jawab pada buta warna parsial ini, yaitu OPN1LW (yang mengkode pigmen merah) dan OPN1MW (yang mengkode pigmen hijau).

Lanjutan etiologi

Dikenal Hukum Kollner yang menyatakan cacat penglihatan warna merah-hijau merupakan lesi saraf optik ataupun jalur penglihatan, sedangkan cacat penglihatan biru-kuning diakibatkan kelainan pada epitel sensori retina atau lapis kerucut dan batang retina.

Terdapat pengecualian Hukum Kollner, yaitu: 11 Pada neuropati optik iskemik, atrofi optik pada glaukoma, atrofi optik diturunkan secara dominan, atrofi saraf optik tertentu memberikan cacat biru-kuning, Cacat merah-hijau yang terdapat pada degenerasi makula, mungkin akibat kerusakan retina yang terletak pada sel ganglionnya, Pada degenerasi makula juvenil terdapat buta biru-kuning, merah hijau ataupun buta warna total. Sedang degenerasi makulaStardgart dan fundus flavimakulatus mengakibatkan gangguan pada warna merah-hijau, Cacat warna biru dapat pula terjadi pada peningkatan tekanan intraokuler. Gangguan biru-kuning terdapat pada glaukoma, ablasi retina, degenerasi pigmen retina, degenerasi makula senil dini, miopia, korioretinis, oklusi pembuluh darah retina, retinopat idiabetik dan hipertensi, papiledema dan keracunan metil alkohol. Dapat pula terlihat pada kelainan media penglihatan pada penambahan usia.

Pemeriksaan Buta Warna Parsial

Tes Ishihara Pseudoisochochromatic Plate test Color Pencil Discrimination Anomaloscope Holmgren-thompson wool test for color blindness Tes Farnsworth-Munsell

Tata Laksana Buta Warna Parsial

Untuk penanganan buta warna, sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya.

Lanjutan tata laksana

Cara tersebut antara lain adalah : 3 Belajar untuk mengenal warna melalui kecerahan dan lokasi. Menggunakan kacamata lensa warna Menggunakan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau Terapi gen

Prognosis Buta Warna Parsial

Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia bukan penyakit melainkan cacat mata. 3

KESIMPULAN

Orang yang mengalami buta warna tidak hanya melihat warna hitam-putih saja, tetapi yang terjadi adalah kelemahan/penurunan pada penglihatan warna-warna tertentu misalnya kelemahan pada warna merah, hijau, kuning dan biru. Untuk penanganan buta warna, sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya. Cara tersebut antara lain adalah : terapi mengenal warna dalam arti yang berbeda, menggunakan kacamata lensa warna, menggunakan kacamata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau dan terapi gen. Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia bukan penyakit melainkan cacat mata.

DAFTAR PUSTAKA
C. A. Heywood, R. W. Achromatopsia, Color Vision and Cortex. Neurol Clin N Am 21 . Kentridge. (2003) 483-500. Deeb, S.S. and Motulsky, A. G. 2005. Red-green color vision defects. In GeneREVIEWS, September 19, 2005. http://www.scribd.com/doc/54183465/Color-Blind diunduh tanggal 13 September 2011. Ilyas, Sidarta, Prof.dr.H.SpM. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2009. Ilyas, Sidarta, Prof.dr.H.SpM. Ilmu Penyakit Mata. Ed. ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2006. Ilyas, Sidarta, Prof.dr.H.SpM. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta : Sagung Seto. 1987 Ilyas, Sidarta. Mailangkay. Taim, Hilman. dkk. Ilmu Penyakit Mata. Ed. kedua. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. 2010. J. Ellis Jennings, MD. Color Vision and Color Blindness. A Practical Manual for Color Vision and Color Blindness. A Practical Manual for Railroad Surgeons. Second Edition. 1996. Jill, Sardegna, et al. Blindness and Vision Imparment. Ed. II. 2002. Hal : 44-45. Junqueira, Luis Carlos. Histologi Dasar Teks dan Atlas. Ed. 10. Jakarta : EGC. 2007 Khurama, A. K. Comprehensive Ophtamology. Fourth Edition. India. 2003. Hal : 303-306. Neitz, Maureen E., PhD. Severity of Colorblindness Varies. Medical College of Wisconsin. Retrieved 2007-04-05. Paul S. Hoffman. Accommodating Color Blindness (PDF). Retrieved 2009-07-01. Spring, Kenneth R.; Matthew J. Parry-Hill; Thomas J. Fellers; Michael W. Davidson. Human Vision and Color Perception. Florida State University. Retrieved 2007-04-05. Vaughan and Asbury. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta : EGC. 2009.