Anda di halaman 1dari 2

Lagi-lagi menyoroti soal kemiskinan di Indonesia, sebenarnya sudah dituliskan di Undang-Undang Dasar 1945 FAKIR MISKIN DAN ANAK-ANAK

TERLANTAR DIPELIHARA OLEH NEGARA Ya, alangkah lucunya negeri ini jika berkaca pada pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945. Negara, dalam hal ini direpresentasikan oleh para pemimpin di pemerintahan, mulai bingung dalam merealisasikan pasal ini. Bagaimana memelihara fakir miskin dan anak terlantar yang jutaan banyaknya? Bahkan saat BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau raskin (Beras Untuk Rakyat Miskin) akan dibagikan, angka kemiskinan di negeri ini malah bertambah. Banyak orang yang mampu secara ekonomi, menjadi mengaku miskin. Ya, memang alangkah lucunya negeri ini. Di satu sisi, banyak kaum intelegensia yang berteriak, "kejarlah mimpimu." Tapi di sisi lain, banyak anak-anak, generasi potensial yang busung lapar, homeless, tidur beratapkan langit atau di bawah jembatan, hingga yang nasibnya diperjual belikan. Mereka, yang tiap hari bingung mau makan apa hari ini (bukan mau makan dimana hari ini), yang tiap hari bingung mau tidur dimana saat malam hari, yang tiap hari belum tentu bisa makan nasi (tidak lagi berpikir nasi baru atau basi), apakah impian mereka? Mimpi mereka hanya sederhana: makan tiap hari, tidur di kasur, dan selalu ada tempat untuk berteduh dari panas dan hujan. Itu saja. Orang seperti mereka, boro-boro mimpi punya mobil atau apartemen, jadi dokter atau pengacara. Impian mereka adalah hanya bisa tetap bertahan hidup. Otak mereka tidak sampai, jika membicarakan impian yang terlalu tinggi. Film "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)", sedikit banyak menyinggung soal fenomena ini. Soal satpol PP yang suka melakukan penertiban sewenangwenang pada para pedagang, menangkapi penjaja asongan, hingga para pengamen jalanan. Saat saya melihat kejadian-kejadian itu di TV, saya hanya berpikir, "sama-sama cari makan kok diributkan? Bukankah lebih baik jadi pengasong, buka lapak dagangan, dan jadi pengamen bukan? Daripada jadi garong, copet, dan pekerjaan sejenis yang sebenarnya lebih meresahkan." Tapi itulah realita di negeri ini. Jika dulu pernah ada tayangan, "Hanya Ada di Indonesia", yang meliput hal-hal "lucu" yang hanya terjadi di Indonesia, sekarang hal ini lebih dibuat fokus dalam film durasi 90 menitan. Tapi apakah sindiran dan pesan moral film itu sampai ke mata hati dan telinga para pemimpin negara? Mungkin saja. Tapi sampai hari ini, belum pernah diberitakan, presiden kita membuat acara "nonton bareng" bersama para staf menteri dan koleganya, untuk menonton film ini. Setahu saya, pak Beye dan koleganya hanya nonton bareng film KCB, Ayat-Ayat Cinta, dan Laskar Pelangi. Malah istri wapres kita dan beberapa menteri lainnya, secara terang-terangan (karena diliput wartawan), nonton bareng film "Eat, Pray, Love." Tidak salah memang. Tapi jika karya anak bangsa tidak diapresiasi, jangan salahkan jika banyak yang hijrah ke luar negeri. Sekali lagi, alangkah lucunya negeri ini, jika lakon dagelan yang terjadi di media malah para pejabat tinggi negara.

Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh karakter moral masyarakatnya serta prinsip-prinsip yang melandasi kehidupan pribadi masing-masing anggota masyarakat tersebut. (Edwin Louis Cole)