Anda di halaman 1dari 9

BAB II PEMBAHASAN

1. Cabai Rawit Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan (solanaceae.)yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakan cili padi, di Filipina siling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. Di Kerala, India, terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau birds eye chili pepper. Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada varitas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena kepedasannya mencapai 50.000 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya. Cabai rawit dapat tumbuh baik didataran tinggi , maupu di dataran rendah . bertanam cabai rawit dapat memberikan nila ekonomi yang cukup tinggi apabila diusahakan dengan sungguh sungguh .Satu hektar tanaman cabai rawit mampu menghasilkan 8 ton buah cabai rawit karena tanaman cabai rawit dapat kita usahakan selama dua sampai dua setengah tahun selama musim tanam . Tanaman cabai rawit menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Perdu setahun, percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal atau 23 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu. Buahnya buah buni, tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing, panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masa.k berwarna merah terang. Bijinya banyak, bulat pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabai rawit terdiri dari tiga varietas, yaitu cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya; cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi jingga; dan ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah. Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun muda dapat dikukus untuk lalap.Cabal rawit dapat diperbanyak dengan biji. 2. Klasifikasi Tanaman Cabai Rawit 2

Cabai rawit merupakan tanaman dikotil yang masih berkerabat dengan tumbuhan terungterungan sepert terung, tomat dan kentang. Tanaman ini termasuk ke dalam genus yang sama dengan cabai merah dan paprika, yaitu Capsium. Klasifikasi tanaman cabai rawit adalah sebagai berikut : Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (tumbuhan berkeping dua) : Solanes : Solanaceae : Capsicum : Capsicum frutescens L.

3. Akar Cabai Rawit Ciri utama dari cabe rawit adalah buahnya yang kecil tapi rasanya pedas sekali. Buahnya yang berwarna hijau pada saat muda dan berubah menjadi merah pada saat tua itu berdiri tegak pada ketiak daun dan berukuran pendek. Tanaman ini tumbuh menahun dan bercabang lebar dengan tinggi mencapai 1 2.5m. Akarnya berupa akar tunggang dengan banyak akar samping yang dangkal, sedang daunnya tersebar. Seperti cabai merah, bunga cabai rawit berbentuk terompet kecil dan umumnya berwarna putih. Tanaman ini dapat berbuah lebat dan mampu berbuah sepanjang tahun. Ada tiga jenis cabai rawit, yaitu: (1) cengek leutik, dengan buah yang kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya; (2) cengek domba (cengek bodas), dengan buah yang relatif lebih besar dibanding cengek leutik, berwarna putih pada waktu muda dan berubah menjadi jingga pada saat tua; dan (3) ceplik, dengan buah besar berwarna hijau pada waktu muda dan merah pada waktu tua. Cabai Rawit diketahui banyak mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid, resin, minyak asiri, serta vitamin A dan C. Dengan kandungannya tersebut, Cabai Rawit berkhasiat untuk membantu menambah nafsu makan, menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas, meredakan batuk berdahak, melegakan hidung tersumbat pada sinusitus, serta migrain.

Gambar 2.1 Akar tumbuhan cabai rawit

4. Daun Cabai Rawit

Daun cabai rawit berukuran kecil dengan ujung yang meruncing. Ada yang berbentuk bulat telur dan ada pula yang berbentuk spiral. Permukaannya berbulu halus. Daun merupakan daun tunggal yang bertangkai. Letaknya berselingan pada batang dan membentuk pola spiral.

Gambar 2.2 Daun tumbuhan cabai rawit

5. Bunga Cabai Rawit Bunga cabai rawit keluar dari ketiak daun. Warnanya putih atau putih kehijauan, ada juga yang berwarna ungu. Mahkota bunga berjumlah 4-7 helai dan berbentuk bintang. Bunga dapat berupa bunga tunggal atau 2-3 letaknya berdekatan. Bunga cabai rawit ini bersifat hermafrodit (berkelamin ganda).

Gambar 2.3 Bunga tumbuhan cabai rawit

6. Buah Cabai Rawit Buah cabai rawit tumbuh tegak mengarah keatas. Ujungnya melancip sehingga menyerupai taji ayam jago. Ada juga yang berbentuk elips mirip lonceng dan menyerupai tanduk kerbau. Buah yang masih muda berwarna putih kehijauan atau hijau tua. Ketika sudah tua menjadi hijau kekuningan, jingga, atau merah menyala. Ukurannya kecil dan ramping.

7. Hama Cabai Rawit Organisme yang tergolong hama biasanya adalah hewan makroskopis yang dapat dilihat secara kasat mata seperti serangga dan cacing nematoda.

a. Thrips Thrips merupakan serangga bersayap terkecil dan memiliki tubuh yang ramping dengan panjang 0,5-14 milimeter. Hama thrips yang sering ditemukan dalam tanaman cabai rawit adalah Thrips parvispinus. Hama ini gemar menghisap dedaunan tanaman cabai, terutama daun pucuk dan daun bagian atas. Pada siang hari, thrips biasanya beristirahat didalam bunga untuk berlindung dari musuh alami dan cuaca yang panas. Sementara pada malam hari, thrips akan kembali aktif untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan cara mengisap cairan dari dedaunan. b. Ulat Grayak Ciri khas ulat grayak adalah memiliki garis-garis kuning yang dihiasi bintik-bintik hitam berbentuk segitiga pada sisi tubuhnya. Hama ini adalah salah satu hama dominan yang menyerang tanaman cabai, termasuk cabai rawit. Hama ini juga bersifat polifag (memakan daun berbagai jenis tumbuhan). Ulat ini biasanya menyerang secara bergerombol sehingga dijuluki ulat tentara (army worm). Ulat grayak aktif pada malam hari dan berlindung pada siang hari ditempat teduh seperti dibawah permukaan daun. Jika serangan parah, satu hamparan tanaman cabai dapat habis dalam waktu semalam saja. Hama ulat grayak biasanya lebih banyak ditemukan pada musim kemarau. Telur ulat grayak berwarna cokelat kekuningan. Berbentuk hampir bulat dengan bagian dasar melekat pada daun. Telur diletakkan berkelompok dalam jumlah 25-500 butir. Kadangkadang tersusun dua lapis. Kelompok telur ini ditutupi oleh bulu-bulu berwarna kuning kecokelatan serupa beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh bagian ngengat betina. Serangga dewasa berupa ngengat yang berwarna cokelat dengan garis-garis putih pada sayap depan. Ngengat ini juga aktif beterbangan pada malam hari. Pengendalian hama ulat grayak dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain sebagai berikut : Menjaga kebersihan lahan dari gulma-gulma untuk mencegah munculnya hama-hama pengganggu. Memusnahkan telur dan larva ulat dengan cara membakarnya. Menggunakan agen hayati. Penyemprotan insektisidan dapat membunuh Bt (Bacillus thuringiensis) yang ada didalam agen hayati, maka keduanya tidak boleh juga bersamaan. c. Kutu Daun Hijau Kutu daun hijau (Myzus persicae) disebut juga kutu daun persik. Kutu ini berwarna hijau muda atau putih. Kutu daun memiliki alat hisap yang dapat ditusukkan ketanaman inang untuk mengisap cairan sel tanaman inangnya. Hama ini menyerang tanaman cabai dengan cara mengisap cairan pada daun, pucuk tanaman, tangkai bunga dan bagian tanaman lainnya. Selain berkembang biak dengan cara kawin, kutu daun juga berkembang biak secara partenogenesis. Sel telur tidak dibuahi oleh sperma pejantan. 5

Pengendalian hama kutu daun dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Secara teknis caranya adalah dengan menanam tanaman perangkap disekitar kebun cabai. Contoh tanaman perangkap ini adalah jagung dan kubis. Tanaman perangkap ini menjadi tumbal sehingga kutu daun lebih tertarik untuk menyerang tanaman tersebut dibandingkan dengan tanaman yang sedang dibudidayakan. macan. Jika ditemukan lebih dari 7 ekor nimfa/daun dapat dilakukan pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida. d. Kutu Daun Kapas Selain kutu daun hijau, ada juga kutu daun kapas (Aphis gossypii). Seperti namanya, warna kutu ini sewaktu muda berwarna putih seperti kapas. Setelah dewasa, warna kutu daun menjadil hijau kehitaman. Sementara itu, nimfanya berwarna hijau kekuningan. Sebagaimana halnya thrips dan kutu daun hijau, kutu daun kapas juga merupakan vektor penyakit yang disebabkan oleh virus tanaman. Kutu daun kapas, seperti halnya kutu daun hijau, juga mengeluarkan embun madu yang menjadi media tumbuhnya embun jelaga yang dapat menutupi permukaan daun dan menghalango proses fotosintesis. Dibeberapa tempat kutu daun kapas kebanyakan adalah betina, sehingga proses perkembangbiakannya terjadi secara partenogenesis. Kutu daun kapas juga bersifat polifag alias menyerang berbagai jenis tanaman, seperti cabai, paprika, mentimun, semangka, melon, kubis dan kailan. Pengendalian hama kutu daun kapas dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain sebagai berikut : Menggunakan insektisida nabati, seperti bawang putih dan kecubung. Adapun cara mengolah bawang putih untuk menjadi insektisida nabati adalah dengan memformulasikan 100 gram bawang putih kedalam 0,5 liter air, yang ditambah dengan 10 gram sabun dan 2 sendok teh minyak mineral (seperti minyak tanah). Sementara untuk kecubung dengan formulasi 1 ember (1 kg) daun pucuk kecubung segar (beserta bunga dan bijinya) dihancurkan, kemudian direndam dalam 10 liter air, ditambah 2 sendok makan minyak tanah dan 50 gram sabun. Formula direndam selama sedikitnya 3 jam, lalu disaring dan digunakan. Menggunakan insektisida Curacron 500 EC atau Pegasus 500 SC sesuai dosis yang tertera pada kemasannya. e. Tungau Teh Kuning 6 Pengendalian juga dapat dilakukan dengan memasang perangkap kuning (Insect Secara biologis, pengendalian kutu daun hijau dapat menggunakan musuh alami Adhesif Trap Paper yang berwana kuning). kutu daun tersebut. Musuh alami kutu daun bisa berupa predator, misalnya kumbang

Tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus) merupakan sejenis Arachnida yang berukuran sangat kecil. Arachnida adalah kelas hewan yang mencakup laba-laba, tungau dan kalajengking. Betina dewasanya saja tidak sampai 1 mm. Meskipun kecil, hewan ini juga bersifat polifag alias menyerang berbagai jenis tanaman. Di Indonesia saja, tungau teh kuning ditemukan pada lebih dari 57 jenis tanaman inang yang berbeda, antara lain tomat, karet, teh, kacang panjang, tembakau, jeruk, dan cabai. Bahkan, tungau ini juga menggigit manusia dan menyebabkan rasa gatal bagi para petani dan peneliti yang didekat tanaman inangnya. Siklus hidup tungau ini berkisar 11-15 hari. Tungau teh kuning melewati 4 tahap dalam siklus hidupnya, yaitu telur, larva, nimfa dan imago (dewasa). Penyebaran tungau ini terjadi melalu berbagai cara, mereka berpidah tempat dalam jarak yang dekat dengan cara berjalan. Namun, untuk jarak jauh dapat melalui hembusan angin. Aktifitas manusia dan alat-alat pertanian juga memungkinkan penyebaran hama superkecil ini. Pengendalian hama tungau teh kuning dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut : Pengendalian tungau teh kuning dengan menggunakan metisida kimia sangat sulit dilakukan. Metisida adalah pestisida yang digunakan untuk megendalikan hama tungau (mite). Hal ini disebabkan tungau biasanya berlindung dibalik daun yang menggulung atau keriting. Di Cina, pengendalian tungau teh kuning pada cabai hijau dirumah kaca dilakukan dengan cara menggunakan antibiotik liuyangmycin yang diisolasi dari Strepromyces griseolus. Pengendalian dengan antibiotik ini terbukti lebih efektif dan lebih murah daripada pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan metisida. Selain dengan menggunakan pestisida dan antibiotika, pengendalian tungau teh kuning juga bisa dilakukan dengan menggunakan musuh alami tungau itu sendiri. Pengendalian hayati juga dapat dilakukan dengan menggunakan cendawan entomopatogen seperti Hirsutella sp. dan Chrysopidae. f. Lalat Penggorok Daun Lalat penggorok daun (liriomyza huidorensis) juga bersifat polifag. Hama ini menyerang tanaman sawi, seledri, cabai, paprika, mawar, kentang dan daun bawang. Siklus serangga ini terdiri atas telur larva-pupa-imago, namun tingkat yang bersifat hama hanya larva atau ulatnya saja. Tingkat imagonya tidak menimbulkan kerusakana pada tanaman. Meskipun demikian, keberadaan imago liriomyza tetap perlu diwaspadai, karena serangga dewasa ini meletakkan telur-telurnya pada daun tanaman. Pengendalian hama penggorok daun ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut : 7

Pembudidayaan tanaman yang sehat, pengairan yang cukup, pemupukan yang seimbang, dan penyiangan gulma. Tanaman yang tumbuh subur dan sehat lebih toleran terhadap serangan hama.

Memetik daun yang terserang larva penggorok daun, kemudian dikumpulkan dan dibakar. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan memasang perangkap kuning. Secara hayati, pengendalian dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alaminya. Seperti parasitoid Asecodes sp., Phigilia sp. dan Quadrastichus sp.

g. Lalat Buah Lalat buah (Bactrocera dorsalis) menyerang buah cabai dengan cara menusukkan ovipositornya kedalam buah, kemudian meletakkan telur-telurnya. Ovopositor adalah organ yang terdapat pada ujung belakang perut serangga betina dan berfungsi untuk meletakkan telurtelurnya. Organi ini seringkali berbentuk panjang dan mampu menembus tempat-tempat yang sulit dijangkau, seperti tubuh tumbuhan dan hewan. Dua hari kemudian, telur-telur ini menetas menjadi larva. Larva inilah yang memakan daging buah dari dalam. Apabila larva sudah dewasa, larva akan keluar dari buah dan jatuh ketanah. Larva ini kemudian bermetamorfosis menjadi kepompong. Empat sampai sepuluh hari kemudian, pupa atau kepompong ini keluar menjadi lalat dewasa (imago) yang berwarna merah kecokelatan. Pengendalian hama lalat buah termasuk sulit karena hama ini menyerang dari dalam buah. Pengendalian hama lalat buah dapat dilakukan dengan berbagai hama lalat buah dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain sebagai berikut : Petani dapat melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan merupakan inang lalat buah. Contohnya, tanaman jeruk. Hal ini akan memperkecil resiko kehadiran hama lalat buah ini. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan buah-buah cabai yang Pengendalian dapat juga dilakukan dengan memasang perangkap kuning seperti terserang lalat buah, lalu memusnahkannya. halnya pada hama thrips. Hal ini disebabkan serangga-serangga ini menyukai warna yang mencolok. Secara kimiawi, dapat menggunakan insektisida Curacron 500 EC dengan konsentrasi 2 ml/liter air. Atau menggunakan insektisida semprot seperti Buldok, Lannate dan Tamaron.

8. Penyakit Cabai Rawit Penyakit biasanya disebabkan oleh organisme mikroskopis, seperti bakteri, jamur atau virus. Penyakit juga bisa disebabkan oleh gangguan fisiologis. Beberapa penyakit yang bisa menyerang cabai rawit adalah sebagai berikut : a. Busuk Buah Atau Antraknosa Penyakit busuk buah ini disebabkan oleh cendawan Gloesporium piperatum dan Colletotrichum capsici. Cendawan-cendawan ini umumnya lebih sering menyerang pada musim hujan. Penyakit busuk buah disebut juga antraknosa. Petani-petani umumnya menyebut penyait ini dengan nama patek. Pengendalian penyakit busuk buah ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain sebagai berikut : Untuk mencegah buah terserang penyakit busuk buah, ada baiknya ketika sebelum disemai, benih cabai direndam terlebih dahulu didalam larutan fungisida yang mengandung bahan aktif benomyl atau thiram. Misalnya, Benlate dengan konsentrasi 0,5 ml/liter air, Benih sebaiknya direndam selama 4-8 jam. Secara kultur teknis, pengendalian dilakukan dengan membersihkan media tanam dengan cara menyangi gulma yang tumbuh di permukaannya. Gulma seringkali menjadi sarang hama dan penyakit tumbuhan. Buah cabai yang terserang penyakit ini sebaiknya dikumpulkan kemudian dibakar. Secara kimiawi pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan fungisida yang efektif terhadap penyakit busuk buah.

b. Bercak Daun Bercak daun ini disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici. Serangan cendawan ini ditemukan hampir diseluruh dunia, terutama didaerah tropis dan subtropis yang iklimnya hangat dan basah. Pengendalian penyakit bercak daun ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain sebagai berikut : Memelihara sanitasi lingkungan. Cara yang dapat dilakukan adalah Menggunakan benih yang berasal dari tanaman yang tida terinfeksi bercak menyiangi gulma yang tumbuh dimedia tanaman. daun. Rendam benih tersebut didalam air hangat yang bersuhu 520 C selama 30 menit. Jika terpaksa menggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi, benih tersebut harus direndam terlebih dahulu dengan desinfektan khusus untuk benih. penyakit. 9 Menyingkirkan tanaman yang terinfeksi bersifat tanaman yang berada disebelahnya yang sudah terinfeksi meskipun belum menunjukkan gejala serangan

c. Layu Bakteri

Semprotkan fungisida, seperti Topsin, Velimek dan Benlate. Penyakit layu bakteri dapat menular dari tanaman sakit ke tanaman tersebut.

Penularan dapat terjadi melalui serangga, cacing nematoda, dan alat-alat pertanian. Penyebaran penyakit ini terjadi lebih cepat pada musim hujan dibandingkan pada musim kemarau. Meskipun penyakit layu bakteri ditemukan pada cabai tanaman cabai disemua tingkatan umur, namun fase yang paling rentan adalah pada saat tanaman masih muda atau menjelang fase berbunga dan berbuah. Pengendalian penyakit layu bakteri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah sebagai berikut : sehat. Pemberian bakterisida Agrimycin atau Agrept dilakukan dengan cara disemprotkan atau dikocorkan disekitar batang tanaman cabai yang diperkirakan terserang jenis bakteri ini. d. Layu Fusarium Penyakit layu ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium. Cendawan patogen ini menyerang akar tanaman dan pembuluh xilem sehingga menyebabkan transportasi air menjadi terganggu. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya sebagai berikut : tergenang. Menyiram larutan fungisida sistemik seperti Derosal, Anvil, Previcur N dan Topsin disekitar batang tanaman cabai yang diduga terserang cendawan. Tanaman yang sakit dicabut dan dimusnahkan agar tidak menular pada Mengatur drainase pada media penanaman agar aliran air lancar dan tidak tanaman yang sehat. Media penanaman dijaga agar tidak becek, apalagi tergenang air dengan Tanaman yang sakit segera dimusnahkan agar tidak menular pada tanaman membuat sistem pengairan yang baik di dalam polybag.

10